I. LOVE. YOU.

img_20160517_215029

Bina Ferina Storyline

Kwon Jiyong (GD BigBang), Kim Taeyeon (GG) || Romance|| Rated 18

 

Warning!

VERY LONG STORY EVER AND I BET YOU’LL BE BORING SO MUCH!!! BUT, PLEASE READ CAREFULLY. DON’T MISS ANY WORD!

“I. LOVE. YOU.”

A/N     : This is a req. enjoy it^^

Loveyousomuch~

 

~~~

Kwon Jiyong, 28, Director of Kwon’s Corp.

Kim Taeyeon, 27, Secretary of Kwon Director.

Kwon Young Hwan, CEO of Kwon’s Corp.

Lee Chaerin, 25, General Manager

Choi Seunghyun, 29, Manager Choi

Im Yoon Ah, 26, Secretary of Kwon’s CEO

“Pukul satu siang ini akan ada rapat besar bersama Presdir Kwon dan seluruh pegawai sampai pukul 3 siang, dilanjutkan lagi dengan menghadiri talkshow seputar design and designer sampai pukul 5 sore. Lalu, Presdir Kwon secara pribadi mengundang anda untuk makan malam setelah jam kerja selesai. Itu adalah jadwal hari ini, Direktur. Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanya Sekretaris Kim, yang bernama lengkap Kim Taeyeon pada atasannya, Direktur muda Kwon Jiyong.

“Mwo? Bahkan makan malam dengan ayah sendiri juga ada jadwalnya? Makan malam yang menyangkut bisniskah?” tanya Direktur muda itu sambil meletakkan kembali dokumen-dokumen perusahaan yang sedari tadi dibacanya.

“Mungkin, sir. Atau mau saya tanyakan lebih lanjut?” tawar Taeyeon dengan sopan.

“Tidak perlu,” jawab Jiyong ketus. Ia membenarkan posisi duduk serta jasnya dan kembali sibuk membuka-buka berkas-berkas yang menumpuk di atas mejanya. “Hari ini pekerjaanku banyak dan aku harus lembur,”

“Tapi…,”

“Tidak ada tapi-tapi, Ms. Kim,” sela Jiyong tajam. “Kembali ke mejamu,”

Tanpa ingin memperpanjang masalah dengan Direktur muda yang menyebalkan dan keras kepala itu, Taeyeon mengangguk patuh dan membungkukkan badannya sebelum pergi keluar dari ruangannya.

“Dia benar-benar menyeramkan sekali,” gerutu Taeyeon pelan setelah dirinya keluar dari ruangan Jiyong dan duduk di meja kerjanya, kembali pada aktifitasnya yang biasa sebagai seorang sekretaris dari Direktur Kwon Jiyong.

“Siapa yang menyeramkan, Taeyeonnie?” tanya seorang wanita yang mendadak memunculkan dirinya di depan meja Taeyeon, membuat gadis itu tersentak kaget.

“Ah, annyeonghaseyo ahgassi. Tidak, tidak ada yang menyeramkan sama sekali, tidak ada,” jawab Taeyeon cepat seraya berdiri untuk membungkukkan tubuh mungilnya kepada wanita itu, yang diketahui bernama Kwon Dami.

“Kau membicarakan Direktur sok keren itu, ‘kan? Dia memang sedang dalam kondisi yang kurang menyenangkan sejak kemarin malam. Apa ada korban pagi ini sebelum kau diusir dari ruangannya?” tanya Dami. “Keurigo, berhenti memanggilku ahgassi, sayang. Jangan terlalu formal,”

“Eung…,” Taeyeon tampak berfikir keras mengingat kejadian tadi pagi saat Direkturnya itu baru menampakkan batang hidungnya. “Dia memecat tiga cleaning service hari ini karena mereka tidak mengganti gorden jendela kantornya dan lupa membuang sampah di keranjang sampahnya. Lalu Manajer Park dipindahkan ke divisi II karena tugasnya terlambat diberikan. Dan ada beberapa pegawai yang ia bentak baru saja sebelum aku masuk ke dalam ruangannya,”

“Tsk, dasar iblis,” desis Dami sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tapi kurasa kau tidak akan dipecat atau dibuangnya. Mana mungkin dia mau membuang kucing kecilnya yang cantik dan menggemaskan sepertimu?”

“Eonni,” tegur Taeyeon pelan dengan semburat merah yang muncul di kedua pipinya, yang semakin mempercantik wajah dari sekretaris Direktur muda itu. “Memangnya apa yang terjadi, eonni? Kenapa dia bertingkah menyeramkan seperti itu?”

“Nado molla. Kau saja yang tanya sendiri padanya. Seperti biasa, mungkin urusan perusahaan. Mungkin sedang bertengkar dengan ayahnya,” jawab Dami.

“Ah, begitu,” gumam Taeyeon. “Lalu, eonni datang ke mari mau bertemu dengan Jiyong, ‘kan? Masuk saja,”

“Ani, kau saja yang memberikan ini padanya,” tolak Dami sembari menyerahkan sebuah buku sketsa besar pada Taeyeon. “Katakan padanya untuk melihat-lihat hasil design dari para designer-ku yang baru sebelum menghadiri acara talkshow siang ini. Setidaknya dia harus tahu kemampuan staff-nya sebelum dia mencampakkan mereka, ‘kan?”

“Apa bisa kuserahkan nanti saja?” tanya Taeyeon cemas, yang baru sadar akan berhadapan dengan siapa dia. “Ani, ani, ani. Eonni, kau saja,”

“Tidak bisa, Taeyeonnie. Talkshow-nya dimulai siang ini,” jawab Dami. “Sudah kukatakan dia tidak akan mencampakkanmu. Mungkin sedikit menggigit iya,”

“Eonni!” tegur Taeyeon lagi sedikit lebih keras dan wajahnya juga semakin merona merah, membuat Dami tertawa puas melihat gadis kecil mungil yang ada di depannya ini tersipu malu. Ia memang suka sekali menggoda sekretaris Kim tersebut, apalagi jika itu menyangkut Jiyong.

“Baiklah, aku percaya padamu, Taeyeonnie. Sampai nanti,” pamit Dami dan ia berbalik untuk pergi dari hadapan Taeyeon.

Setelah kepergian Dami, Taeyeon bangkit berdiri dan bergegas masuk kembali ke dalam ruangan Jiyong. Direktur muda itu masih sama, masih diam terpaku membaca berkas-berkas perusahaannya dengan dahi berkerut, dan itu semakin menambah kesan menyeramkan dari dirinya. Meskipun begitu, Direktur muda Kwon Jiyong adalah laki-laki paling tampan yang ada di perusahaan ini. Walaupun kadang emosinya sering meluap-luap dan lebih banyak membentak daripada tersenyum, kadar ketampanannya tidak berkurang sama sekali.

Bahkan pernah ada yang sampai rela dimarahi dan dibentak berkali-kali oleh Jiyong demi berlama-lama di dalam ruangannya. Kalau itu Taeyeon, dia lebih memilih bekerja lembur seminggu full daripada kena serangan jantung mendadak.

“Ada apa lagi?” tanya Jiyong tanpa menolehkan wajahnya dari berkas-berkas itu.

“Dami ahgassi menyuruh saya untuk meminta anda melihat-lihat hasil design dari para designer-nya yang baru sebelum acara talkshow dimulai siang ini, sir,” jawab Taeyeon cepat. “Sebelum anda mendepak mereka di acara tersebut,”

“Daripada itu… Apakah kau sudah memberitahu Presdir kalau aku tidak bisa mengikuti acara makan malamnya?” tanya Jiyong. Ia menutup berkasnya dan mencampakkannya di seberang meja kantornya. Taeyeon tahu itu. Itu artinya berkas tersebut tidak terlalu penting dan sebentar lagi pasti ia akan menyuruh sekretarisnya untuk membuangnya.

“Eh?” Taeyeon balik bertanya, bingung. “Anda ingin membatalkannya?”

“Bukankah aku sudah mengatakannya tadi? Kau tidak dengar atau tidak mencerna ucapanku? Aku sudah bilang pekerjaanku banyak dan tidak punya waktu untuk sekedar makan malam dengan ayah sendiri yang bisa kulakukan hampir tiap hari kalau aku mau. Sekarang, lakukan itu. Jangan sampai aku menyuruhmu untuk yang ketiga kalinya, Sekretaris Kim. Kau tahu aku paling tidak suka bicara dua kali,” cecar Jiyong. Ia kembali mencampakkan beberapa berkas ke seberang mejanya sambil menatap Taeyeon sekilas.

“Ah, ye. Saya mengerti, sir. Joseonghamnida,” ujar Taeyeon sambil membungkukkan tubuhnya minta maaf.

“Buang berkas ini,” perintah Jiyong, lagi-lagi tanpa memandang ke arah Taeyeon.

Taeyeon mengangguk. Ia segera mengambil tumpukan berkas itu dan ingin segera menghilang dari hadapan bos sexy-nya ini secepat mungkin.

“Sekretaris Kim,” panggil Jiyong saat Taeyeon sudah membalikkan tubuhnya untuk keluar dari ruangan itu.

“Ye, sir?” sahut Taeyeon dengan senyuman manisnya yang terpaksa ia kembangkan. Ia sudah tidak kuat lagi menahan beban berkas yang ia pegang itu.

“Kau tidak berencana untuk membuat Dami noona kecewa pada kualitas bekerjamu, ‘kan? Kenapa kau tidak meletakkan apa yang disuruh olehnya di atas mejaku?” tanya Jiyong.

“Jeongmal joseonghamnida, sir. Saya lupa,” gumam Taeyeon. Ia meletakkan buku sketsa besar berwarna gold itu di atas meja Jiyong.

“Terakhir,” ujar Jiyong lagi, sebelum Taeyeon benar-benar membalikkan tubuhnya. Jika orang yang ada di hadapannya ini bukan atasannya yang paling ia kagumi, Taeyeon pasti akan melepas high heels-nya dan memukul dahinya kuat-kuat. “Jangan ikat rambutmu. Geraikan saja. Setidaknya kau tidak tampak berantakan seperti sekarang ini,”

Taeyeon membelalakkan kedua matanya dan ia hanya bisa mengangguk tanpa bisa bertanya lebih lanjut, takut lupa apa yang sudah diperintahkan Jiyong untuknya.

~~~

“Presdir sedang keluar sebentar katanya. Mungkin akan kembali setelah beberapa menit lagi,” ujar Yoona pada Taeyeon saat dirinya ingin masuk ke ruangan Presdir. “Kenapa eonni ingin bertemu dengan Presdir? Perintah dari si tampan yang mengerikan Kwon Jiyong?”

“Yeah, itu,” jawab Taeyeon seadanya. Otaknya sibuk berfikir bagaimana bisa melaporkan secepatnya pada Presdir soal ketidakhadiran Jiyong pada makan malam nanti. “Aku ingin bilang kalau Direktur tidak bisa ikut makan malam dengan Presdir,”

“Kalau soal itu, Presdir sudah tahu,” ujar Yoona tenang. “Direktur sudah menghubungi Presdir duluan sebelum ia keluar entah ke mana. Kenapa eonni baru datang sekarang?”

“Sudah?” Taeyeon balik bertanya, terkejut bukan main. “Dia pasti akan marah lagi padaku. Dia pasti akan bilang kalau kerjaku tidak becus dan lain-lain. Dia juga kurang waras! Membuang berkas sebanyak itu di lantai 15 bukanlah hal yang mudah! Apa dia tidak lihat badanku yang kecil ini? Seharusnya dia tahu dan memaklumi aku kalau aku baru sampai sekarang di kantor Presdir,”

“Kurasa dia tahu dan memaklumimu, eonni. Itu sebabnya dia sendiri yang menghubungi Presdir, ‘kan? Tenang saja, dia tidak akan marah. Jangan memperlihatkan wajah bersalahmu,” hibur Yoona sambil mengedipkan sebelah matanya.

Taeyeon menganggukkan wajahnya pelan pada Yoona, sekretaris Presdir yang cantik dan bertubuh ideal. Memang sudah sewajarnya seorang sekretaris perusahaan secantik, selangsing, dan setinggi Im Yoonah. Bukan sekecil dan semungil Taeyeon. Wajahnya memang cantik dan dapat memikat siapa saja. Tapi, tubuhnya tidak bisa dikatakan proporsional seperti kebanyakan sekretaris di perusahaan ini.

“Apa kau tahu kenapa Presdir tiba-tiba saja ingin makan malam secara pribadi pada Direktur? Mereka bisa makan malam di rumah dengan keluarga yang lain, ‘kan? Ini pasti menyangkut bisnis,” cetus Taeyeon.

“Kurasa,” jawab Yoona. “Mungkin ini menyangkut posisi GM yang sudah kosong selama sebulan terakhir ini. Presdir benar-benar kewalahan semenjak posisi GM itu kosong,”

“Jadi, intinya hanya untuk memperkenalkan si GM baru pada Direktur? Sampai makan malam segala? Sepertinya bukan,” ucap Taeyeon. “Sespecial apa dia sampai-sampai Presdir mengadakan makan malam pribadi?”

“Mungkin GM yang baru ini punya lading bisnis besar di bagian fashion. “Tidak tahu juga. Itu bukan menjadi bagian pekerjaanku. Oh, ya. Kenapa kau melepas ikatan rambutmu, eonni? Ini pertama kalinya kau menggerainya,”

“Direktur itu yang menyuruhnya. Dia bilang aku tampak sangat berantakan dengan mengikat rambutku,” jawab Taeyeon malas.

“Ah, begitu,” ujar Yoona. “Apa yang dikatakan Direktur memang benar,”

“Ya,” sentak Taeyeon, membuat Yoona tertawa geli.

~~~

Taeyeon mengecek kembali arlojinya entah untuk keberapa kalinya malam ini. Pukul 22.00 KST. Ia menghela nafas panjang dan hanya bisa mengetuk-ngetuk kelima jari kanannya sambil menopang dagunya dengan telapak tangan kiri, tampak bosan sekali. Seperti menunggu sesuatu.

Dia memang sedang menunggu seseorang. Di meja kerjanya. Sendiri. Pegawai, staff, dan sekretaris yang lain sudah pulang dari pukul 6 sore tadi, tentu saja. Direkturnya memang benar-benar kejam sekali. Dia lembur, sekretarisnya juga ikut-ikutan lembur. Ada kalanya Taeyeon menyesal telah memilih menjadi sekretaris pribadi laki-laki garang itu.

Kalau tidak, dia pasti sudah tidur nyenyak di rumahnya. Atau paling tidak dia bisa menonton drama-drama dan film kesukaannya sambil memakan makanan ringan. Atau dia bisa bermain dengan anjing kesayangannya, poodle-nya, Ginger.

Semua fantasi-fantasi menyenangkan itu buyar seketika saat didengarnya pintu kantor Direktur muda Kwon Jiyong terbuka, menampilkan sosok tampan, dengan bahu yang lebar keluar dari ruangan tersebut.

Entah kenapa semakin larut Direkturnya itu semakin sexy saja. Membayangkannya saja membuat kedua pipi Taeyeon bersemu merah.

“Kajja,” ajak Jiyong pelan pada Taeyeon. Ia melangkah menuju lift untuk segera keluar dari perusahaan itu, keluar dari neraka dunia.

Taeyeon bangkit dari kursinya dan dengan cepat mengambil tasnya lalu mengikuti Jiyong menuju lift dari belakang. Selama perjalanan keluar dari perusahaan, mereka berdua diam saja, tidak ada yang membuka mulut dan berinisiatif untuk bicara. Tapi Taeyeon tidak mempermasalahkan itu sama sekali. Memang belum saatnya dia bicara.

Jiyong membuka pintu mobilnya dan langsung masuk ke dalam saat mobilnya sudah berada di hadapannya. Buru-buru Taeyeon memperpanjang langkahnya yang memang ketinggalan jauh di belakang Jiyong tadi untuk ikut masuk ke dalam mobil laki-laki tersebut.

“Sudah?” tanya Jiyong lembut saat Taeyeon selesai memasang seatbelt-nya.

“Eung,” jawab Taeyeon. Mobil mewah laki-laki itu, pun segera meluncur pergi dari perusahaan dengan kecepatan sedang.

Dan gadis itu, Kim Taeyeon, kini bisa menghirup oksigen dalam-dalam ketika sudah keluar dari lingkup perusahaan. Ia merasa aman dan nyaman berada di samping Kwon Jiyong jika mereka berdua tidak sedang dalam ‘work mode on’. Kwon Jiyong akan jadi singa jantan yang jinak sekali seperti sekarang ini.

“Kau mau makan apa?” tanya Jiyong pada Taeyeon. Tapi kedua pandangannya masih fokus pada jalanan.

“Apa saja. Aku juga sudah cukup kenyang,” jawab Taeyeon. “Bagaimana kalau kita pulang?”

Jiyong memanyunkan bibirnya, kecewa mendengar jawaban Taeyeon. “Wae? Makan malam tadi pukul delapan, ‘kan? Apa kau tidak merasa lapar lagi? Padahal aku berniat ingin berlama-lama denganmu malam ini,”

“Ini sudah larut malam, oppa,” Taeyeon memperingati laki-laki yang ada di sampingnya dengan pelan. “Lagipula kau harus cepat-cepat pulang, minta maaf pada paman soal makan malam dengannya. Dia mengajakmu pasti karena ada urusan bisnis,”

“Ani,” jawab Jiyong. “Hanya makan malam biasa dengan GM kita yang baru. Untuk apa? Lebih baik aku cepat menyelesaikan pekerjaanku, ‘kan? Aku bosan seminggu ini lembur terus. Waktu kencan kita jadi sangat terbatas. Inilah alasan sebenarnya kenapa aku tidak mau diangkat jadi Direktur. Bapak tua itu sengaja. Dia ingin aku banyak kerjaan, menghabiskan seluruh waktuku di perusahaan untuk memisahkan kita. Menyebalkan,”

“Paman seperti itu juga karena dia tidak ingin aku tersakiti karena anaknya yang super playboy dan dikelilingi banyak perempuan cantik, sexy, dan tinggi seperti model,” jawab Taeyeon sambil terkikik kecil.

“Kita sudah enam bulan berkencan. Kenapa dia masih tidak percaya juga kalau aku benar-benar sangat mencintai perempuan pendek, mungil, dan cengeng yang sekarang duduk di sampingku? Harus dibuktikan dengan apa lagi agar dia percaya? Setidaknya aku tidak akan pernah membiarkan dirimu menangis terluka oleh apapun seperti mantanmu yang sebelumnya,” ujar Jiyong sedikit kesal. “Sepertinya ayahku lebih menyayangimu daripada anaknya sendiri,”

“Pembuktian oppa masih kurang sedikit lagi,” imbuh Taeyeon.

“Apa lagi?” tanya Jiyong. “Bahkan aku sampai merubah tipe wanita idealku,”

“Jadi kau menyesal?” tanya Taeyeon, sedikit tersinggung. “Mianhae kalau aku tidak tinggi dan  fashionable seperti wanitamu sebelumnya. Tapi oppa juga harus menghargaiku yang rela memotong rambut kesayanganku demi menunjukkan pada semua orang kalau kau itu milikku,”

“Ssshh, my baby kenapa kau jadi kesal?” tanya Jiyong sambil tertawa kecil. “Sudahlah, lupakan masa lalu kita. Tidak ada lagi siapa-siapa di antara kita, eoh? Hanya kau dan aku. Selesai,”

Jiyong meraih pergelangan tangan kiri Taeyeon lalu mencium punggung tangannya dengan kecupan mesra selama beberapa detik. Setelah itu, ia menggenggam tangan mungil gadisnya erat-erat tanpa berniat melepaskannya. Hal itu cukup membuat Taeyeon tersenyum kecil dan tak ingin melanjutkan obrolan mereka.

“Tapi, Taeyeonnie,” panggil Jiyong. “Berjanjilah padaku untuk tetap menjadi dirimu yang sebenarnya. Dirimu yang apa adanya. Kau tidak perlu bersusah payah untuk menjadi wanita idamanku. Kalau kau melakukan itu, aku merasa sangat kejam. Ketahuilah, aku mencintaimu karena kau seorang Kim Taeyeon,”

“Arraseo, oppa,” jawab Taeyeon pelan. “Tidak apa-apa kalau sekali-sekali, ‘kan? Maksudku, aku mengikuti style-mu atau berusaha tampil seperti tipe idealmu juga karena aku suka melakukannya. Aku ingin coba saja. Kalau aku nyaman, aku akan seperti itu terus dan kalau tidak, aku akan menghentikannya,”

Jiyong mengalihkan pandangannya pada Taeyeon sambil tersenyum menggoda dan ia mengerlingkan sebelah matanya pada gadis itu. “Aku ingin menciummu. Sudah lama,”

“Ya, oppa! Fokuslah pada jalanan depan!” sembur Taeyeon. Ia kembali menghadapkan wajahnya ke jendela dan lebih memilih memandangi pemandangan luar. Jiyong terkekeh geli melihat reaksi spontan dari gadis mungil itu jika sedang salah tingkah dan ia kembali mengeratkan genggamannya.

Beginilah mereka yang sebenarnya. Jika sedang bekerja dan dalam situasi pekerjaan, Jiyong dan Taeyeon akan berperan layaknya seorang Direktur dan Sekretaris, atasan dan bawahan. Jiyong bahkan tidak akan sungkan bersikap sama kerasnya, sama galaknya, sama garangnya dengan Taeyeon seperti ia biasa dengan para pegawai dan staff-nya. Jiyong akan sampai hati memarahi Taeyeon jika gadisnya itu melakukan kesalahan.

Taeyeon juga sama seperti itu. Ia tidak merasa keberatan jika Jiyong memarahi, membentak, dan meneriakinya kalau ia melakukan salah. Taeyeon akan mengenyampingkan perasaan pribadinya bila mereka berdua sedang berada di tempat kerja. Ia juga akan melupakan status hubungannya dengan Jiyong. Demi sebuah profesionalitas.

Tidak sedikit orang di perusahaan yang mengetahui kalau Jiyong dan Taeyeon memiliki sebuah hubungan special. Mereka memang tidak berniat main belakang atau main hati-hati. Jiyong akan dengan senang hati menunjukkan kemesraannya dengan Taeyeon di hadapan umum bila mereka sedang off bekerja. Dan tidak jarang para pegawai perempuan akan berdesis cemburu, iri, dan kesal melihat dua sejoli itu.

Hubungan mereka mulai merebak luas ketika Jiyong memilih sendiri sekretarisnya, bukan berdasarkan pilihan sang Presdir. Jika mereka berdua tidak berkencan, Taeyeon sama sekali tidak akan dilirik oleh perusahaan itu karena body­-nya yang seperti anak remaja. Belum lagi baby face-nya. Perusahaan itu pasti dicurigai sebagai tempat pengeksploitasian anak. Itu sebabnya orang-orang di perusahaan itu heran sekaligus bingung kenapa Jiyong bisa memilih Taeyeon sebagai sekretaris pribadinya.

Sedangkan Presdir Kwon bersikap biasa dan santai saja. Awalnya ia melarang Jiyong meminta Taeyeon untuk jadi sekretarisnya karena takut anaknya itu akan mementingkan perasaannya daripada pekerjaannya. Tapi Jiyong keras kepala. Mereka berdebat selama berhari-hari dan akhirnya Presdir Kwon mengalah. Ia memilih untuk memercayai profesionalitas Jiyong dan Taeyeon.

Ketika diberi jabatan sebagai Direktur, Jiyong tahu ayahnya itu sengaja melakukannya agar Jiyong jarang menghabiskan waktu bersama Taeyeon dan lebih cepat berpisah. Itu dilakukan karena Presdir Kwon sangat sayang pada Taeyeon seperti anaknya sendiri, karena ia dan ayah Taeyeon adalah teman dekat sejak sekolah menengah pertama.

Dan Presdir Kwon juga tahu kalau Jiyong pernah berpacaran dengan seorang model selama kurang lebih 4 tahun. Jiyong begitu depresi saat kehilangan kekasihnya itu. Presdir Kwon sangat tahu bagaimana rasa cinta Jiyong pada mantan kekasihnya tersebut. Sangat besar. Dan tiba-tiba saja dia berkencan dengan seorang gadis yang tidak lain adalah Kim Taeyeon? Sosok gadis yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam fikiran Presdir Kwon.

Gadis yang jauh berbeda dari tipe ideal seorang Kwon Jiyong selama ia mengenal anaknya tersebut. Gadis yang tidak pernah masuk ke dalam list ‘wanita’nya Jiyong. Gadis yang, menurut orang lain sama sekali tidak cocok bersanding dengan seorang pangeran seperti Jiyong. Itu yang membuat Presdir Kwon panas dingin saat ia mengetahui kabar tersebut. Ia takut Jiyong hanya melampiaskan kekecewaannya dan menganggap Taeyeon sebagai pelarian.

Jika orang mengira Taeyeon sama sekali tidak masuk ke dalam perempuan yang diidam-idamkan Jiyong, lain lagi dengan Presdir Kwon. Presdir Kwon menganggap Jiyong sama sekali tidak pantas dengan Taeyeon. Taeyeon gadis yang baik, anak rumahan―istilahnya, pure, dan penurut. Berbanding terbalik dengan Jiyong yang hobi hura-hura dengan teman-temannya juga si penggila party.

Namun, ekspektasi dan kenyataan selalu berbanding terbalik. Walaupun banyak yang berspekulasi jika pasangan Jiyong dan Taeyeon itu adalah hal yang mustahil dan tidak masuk akal, kenyataannya tidak begitu. Justru, di kedua mata Presdir Kwon, mereka berdua saling melengkapi dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mereka berdua punya sisi-sisi yang berseberangan, yang anehnya malah membuat mereka terlihat serasi.

Mereka memiliki vocal yang berbeda. Tapi Presdir Kwon takkan menampik kalau hal yang berbeda itu justru berperan menutupi kekurangan masing-masing.

Sejauh yang Presdir Kwon lihat, Jiyong jadi sering tersenyum, kembali bersemangat karena menemukan ‘cinta’ barunya khas anak-anak muda sedang jatuh cinta, dan tampak serius menjaga dan melindungi kekasihnya. Hal itu terlihat dari gaya berpacaran Jiyong dan Taeyeon.

Mereka berhubungan layaknya seperti sepasang kekasih pada umumnya. Bertemu sehabis kerja, makan malam, mengobrol dan setelah itu pulang ke rumah masing-masing. Jika keduanya lembur, mereka hanya mengobrol singkat di dalam mobil dan pulang. Tidak jauh beda dengan weekend. Sebagai seorang Direktur tentu saja hari libur pun pasti masih saja ada tugas, seperti rapat. Dan setelah rapat selesai mereka menghabiskan waktu berdua selayaknya pasangan baru.

Tak jarang Dami dan suaminya juga ikut menemani mereka. Tidak ketinggalan juga Jiwoong dan Hayeon, kakak dan adik Taeyeon.

Masalah skinship―seperti ciuman misalnya― juga jarang dilakukan Jiyong dan Taeyeon kecuali ciuman di pipi dan dahi. Ciuman di bibir hanya sesekali dilakukan Jiyong ketika ia sudah sangat gemas pada kekasih mungilnya itu. Itu juga hanya sekilas, tidak terlalu dalam. Jiyong memang tidak ingin melakukan lebih, dia benar-benar menjaga Taeyeon dan mencintainya setulus hati.

Melihat hubungan harmonis yang jarang dihampiri cobaan, membuat Presdir Kwon cukup yakin dan percaya jika hubungan anaknya ini tulus dan jauh dari pelarian, bisa bersikap professional, dan mampu menahan perasaan dan ego masing-masing. Sehingga mau tak mau Presdir Kwon berhenti untuk terus merecoki anaknya dengan berbagai tugas yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tugas seorang Direktur.

Ia berharap hubungan keduanya bisa berjalan lancar dan mulus sampai maut yang benar-benar memisahkan mereka. Ia begitu menyayangi keduanya.

“Aku ingin makan di apartemenmu,” cetus Jiyong.

“Kau belum kenyang, oppa?” tanya Taeyeon heran. Ia melepas genggaman Jiyong agar laki-laki itu bisa konsen menyetir.

Jiyong terdiam. “Asal bisa bersamamu walau sebentar tidak apa-apa. Poin pentingnya aku punya alasan ke apartemenmu, ‘kan? Satu minggu penuh lembur terus dan hanya berbicara di mobil selama sepuluh menit tidak mengobati rasa rinduku,”

Taeyeon tersenyum kecil sambil memandangi Jiyong. “Baiklah, mau makan apa?”

Jiyong tersenyum lebar dan ia melirik Taeyeon sekilas. “Apa saja yang mudah kau masak dan bahannya juga ada di apartemenmu,”

“Kalau begitu apa kau mau kimchi pancake?” tawar Taeyeon.

“Apa saja,” jawab Jiyong mantap. Sedetik kemudian ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar lebih cepat sampai ke apartemen gadisnya.

~~~

“Oppa, memasak telur seharusnya letakkan minyak dulu supaya tidak kering. Sekarang, lihatlah apa yang sudah kau lakukan ini,” sembur Taeyeon yang melihat telur mata sapi yang dikerjakan Jiyong selama lima menit penuh hancur menjadi telur orak-arik dan sedikit gosong. Benar-benar hasil yang mengerikan. Dengan santainya, Jiyong meletakkan telur ciptaannya di atas piring makannya.

Sedikit menyesal juga gadis itu membiarkan Jiyong ikut andil dalam memasak. Niatan laki-laki itu cukup baik karena Taeyeon juga tidak begitu pandai memasak. Sambil mencubit pelan batang hidung Taeyeon, Jiyong menawarkan dirinya untuk membantu. Alhasil, telur yang hancur berkeping-keping seraya kimchi yang super pedas adalah hasil karya dari tangan sang pangeran.

“Emmm,” ringis Taeyeon ketika ia mencicipi telur buatan Jiyong. “Asin,”

“Jinjja?” tanya Jiyong tak percaya. Ia ikut mencicipinya dan wajahnya langsung mengerut. “Kukira tadi takarannya sudah pas,”

“Oh, yeah. Sudah pas memang. Oppa menaburi garamnya menggunakan sendok makan, bukan sendok kecil. Hebat,” sindir Taeyeon. Ia melepas apronnya dan meletakkan kimchi pancake itu di atas meja makan.

“Tapi dengan memasak berdua begini bukankah lebih menyenangkan? Asin dan pedas, pun terasa manis,” rayu Jiyong sambil mencium pipi kanan Taeyeon dengan cepat. Taeyeon hanya memutar kedua bola matanya.

“Ppali, oppa. Makanlah,” ajak Taeyeon. Ia menarik pergelangan tangan Jiyong untuk duduk di sampingnya.

“Makan dengan tangan orang lain akan terasa lebih enak, apalagi jika itu tanganmu. Aaaa,” ujar Jiyong sambil membuka mulutnya lebar-lebar agar Taeyeon mau menyuapinya.

“Aigoo, makanlah yang banyak uri Yongie~,” balas Taeyeon. Ia mencuil kimchi pancake itu dan menyuapinya ke dalam mulut Jiyong dengan hati-hati.

“Benar, ‘kan terasa enak,” ucap Jiyong. Ia juga mengambil telur yang dibuatnya tadi dan menyatukannya dengan kimchi pancake lalu menyuapinya ke dalam mulut Taeyeon.

“Kenapa jadi terasa manis, eoh? Wuah, daebak,” sindir Taeyeon dengan sangat halus dan itu membuat Jiyong tertawa keras.

“Kalau begitu, makan banyak-banyak, ne? Buka mulutmu, chagi~,” celetuk Jiyong. Ia mengarahkan satu sendok penuh berisi telur buatan dirinya sendiri dan memaksa Taeyeon untuk membuka mulutnya.

“Aniyo! Kenapa bukan kau saja yang makan? Sini, biar aku yang suapi,” tolak Taeyeon. Ia merebut sendok itu dan mengarahkannya ke mulut Jiyong.

“Hargailah usaha kekasihmu ini, chagiya~,” sahut Jiyong.

Dengan cepat ia mengambil sendoknya dan dengan liciknya ia menggelitik pinggang Taeyeon. Taeyeon sedikit menjerit karena kaget. Melihat kesempatan itu, sendok yang diperebutkan tadi langsung masuk ke dalam rongga mulut Taeyeon. Dengan puas Jiyong tertawa kencang dan kembali memakan makanannya, dengan Taeyeon yang memanyunkan bibirnya sambil mengunyah pelan-pelan telur menakjubkan ciptaan Jiyong.

Selesai makan malam berdua, Jiyong memilih untuk memutar film Harry Potter sambil minum cola dan memakan makanan ringan yang sengaja Taeyeon simpan untuknya sendiri kalau ia sedang merasa bosan. Tapi sepertinya itu rencana yang sia-sia saja melihat Jiyong menghabiskan semuanya tanpa dosa.

Ketika semuanya habis, barulah ia merangkul Taeyeon dan membenamkan sebagian tubuh gadis mungil itu dalam pelukannya, sambil masih menonton.

“Hari ini, di kantor tadi, apa aku menyakitimu?” tanya Jiyong pelan seraya mengelus rambut Taeyeon penuh sayang.

“Aniya,” jawab Taeyeon. Kedua matanya masih fokus pada televisi yang ada di hadapannya. “Bukankah kau seperti itu setiap hari? Kenapa baru sekarang minta maaf?”

Jiyong tertawa kecil. “Jinjja? Tapi ini kesepakatan kita bersama, ‘kan? Professional. Tapi… Mood-ku memang benar-benar tidak baik di kantor tadi. Jika aku keterlaluan padamu, aku sangat menyesal. Mianhae,”

“Katakanlah itu pada orang-orang yang kau pecat hari ini,” ujar Taeyeon.

“Kalau kau ingin mempekerjakan mereka lagi, aku akan menghubungi mereka,” kata Jiyong.

“Jeongmalyo? Kalau begitu lakukanlah besok,”

“Arra,” jawab Jiyong. Ia mengecupi ubun-ubun kepala Taeyeon.

“Ada apa denganmu hari ini, oppa? Kenapa mood-mu tidak enak? Ada masalah lagi dengan paman?” tanya Taeyeon setelah mereka cukup lama terdiam.

“Heum… hanya berdebat kecil dengannya,” jawab Jiyong setengah hati. Ia malas jika membicarakan hal itu sekarang pada Taeyeon.

“Waeyo? Kau tidak mau mengatakannya?” tanya Taeyeon.

Jiyong menghela nafas pendek sebelum menjawab. “Masalah GM,”

“GM baru?”

“Taeyeonnie,” sela Jiyong. Ia menegakkan tubuhnya dan melepas rangkulannya pada tubuh Taeyeon. Taeyeon juga ikut duduk tegak dan bersandar pada sofa seraya memandangi Jiyong dengan tatapan penuh tanda tanya. “Kita sedang quality time yang super singkat malam ini. Jebal, jangan bawa-bawa masalah pekerjaan di saat-saat seperti ini. Kita hanya boleh bicara masalah kau dan aku, ne?”

“Tapi, kau sedang bermasalah dengan paman, oppa. Itu juga termasuk masalahmu. Aku hanya khawatir. Kau terlihat kesal sekali, belum pernah seperti ini rasa marahmu pada paman,” ujar Taeyeon pelan.

“Gwanchannayo, percayalah. Jangan khawatir. Jangan dibawa fikiran. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Hanya perdebatan seperti biasanya masalah pemilihan GM. Menurutku, ayah terlalu memaksakan GM yang baru ini,” jelas Jiyong. Ia mendekatkan tubuhnya pada Taeyeon dan mengelusi pipi kanan Taeyeon dengan ibu jarinya. “Aku kesal karena dia tidak tanya pendapatku. Bagaimanapun juga, aku akan bekerja sama dengan GM itu. Seharusnya dia tanya pendapatku,”

“Apa kau mengenalnya? Kalau paman langsung pilih tanpa bertanya apa-apa padamu itu artinya dia sudah mengenalnya. Dan itu juga artinya kau mengenalnya, ‘kan oppa? Siapa? Apa itu orang yang tidak kau sukai waktu sekolah?” tanya Taeyeon penasaran.

“Aku mengenalnya dengan sangat baik, begitu juga ayah dan dia adalah teman masa kecilku. Dia orang yang sangat bertalenta di bidang GM, sebenarnya. Hanya saja… Aku kurang sependapat,” jawab Jiyong. “Sudahlah, kau juga akan lihat orangnya besok. Tidak perlu dibahas sekarang,”

Taeyeon mengangguk mengerti dan ia kembali mengarahkan perhatiannya pada film Harry Potter, menyudahi pembahasan mereka. Meskipun dalam hati kecilnya ia masih bertanya-tanya kenapa Jiyong bersikeras tidak setuju dengan GM baru pilihan Presdir Kwon. Dan Taeyeon juga merasakan ada sedikit kegundahan dalam wajah Jiyong ketika membicarakannya. Taeyeon ingin bertanya, tapi dia paham kalau laki-laki itu sedang tidak ingin bicara masalah pekerjaan.

“Sini,” ujar Jiyong. Ia menarik tubuh Taeyeon untuk kembali didekapnya dengan hangat dan lagi-lagi laki-laki itu mengelusi rambut Taeyeon.

Begitu terus sampai film itu selesai dan Jiyong memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Awalnya Jiyong berniat untuk tinggal di apartemen Taeyeon malam ini, tapi Taeyeon melarangnya karena khawatir Presdir Kwon pasti tidak akan mengizinkannya.

“Hati-hati, okay?” ujar Taeyeon pelan sambil tersenyum manis pada Jiyong, yang hendak masuk ke dalam mobilnya.

“Jaljayo, mimpi indah,” pamit Jiyong. Ia mendaratkan kecupan singkat di bibir Taeyeon secara tiba-tiba dan segera masuk ke dalam mobil.

Sebelum benar-benar meninggalkan halaman apartemen Taeyeon, Jiyong membunyikan klakson mobilnya dan Taeyeon hanya melambaikan tangannya riang pada mobil Jiyong yang makin lama makin menjauh dari pandangannya.

Gadis itu masih berdiri di tempatnya, bahkan mobil Jiyong sudah tak tampak lagi. Entahlah, tapi Taeyeon merasa ada yang mengganjal di hatinya. Buru-buru ditepisnya perasaan tidak mengenakkan itu dan ia segera masuk kembali ke apartemennya di lantai tiga.

~~~

“Jinjjayo? Ani, apa kau serius? Dia datang? Jadi GM baru? Jadi… Jadi dia yang akan ada di posisi…,”

“Apa aku tidak salah dengar? Gadis itu? Aigoo, dia akan bekerja langsung di bawah Direktur! Dia akan berada di samping Direktur terus!”

“Rasanya ingin menyerah saja, aish! Kalau seperti ini, aku yakin tidak bisa meluluhkan hati Direktur Kwon dan menggantikan posisi Sekretaris Kim! Gadis itu pasti yang akan menggeser posisi si Kim,”

Taeyeon menghentikan langkahnya ketika namanya disebut-sebut oleh beberapa pegawai perempuan yang sibuk menggosip dan mengobrol sana-sini dengan beberapa temannya. Gadis mungil itu baru saja datang ke kantor dan langsung disambut oleh tatapan menghina, meremehkan, dan tatapan kasihan oleh pegawai-pegawai perempuan itu. Hal itu memang sudah biasa ia dapatkan dari gadis-gadis yang jatuh hati pada Jiyong. Tapi kali ini ada yang berbeda. Mereka menyebut-nyebut GM baru.

GM baru yang ternyata adalah seorang gadis.

Berusaha bersikap acuh tak acuh, Taeyeon meneruskan langkahnya dan pergi menuju meja kantornya. Pemandangan pertama kali yang ia dapat adalah seorang gadis bertubuh sexy, tidak terlalu tinggi dan tidak bisa dikatakan pendek juga, fashionable, dan berambut pirang panjang tengah berdiri di depan meja Taeyeon.

“Hai,” sapa gadis itu riang. “Kau…”

“Kim Taeyeon imnida, ahgassi. Sekretaris dari Direktur Kwon Jiyong,” jawab Taeyeon sambil tersenyum manis.

“Ah, halo Sekretaris Kim. Perkenalkan, aku Lee Chaerin. GM baru yang mulai bekerja hari ini,” sapa gadis yang bernama Chaerin itu.

“Jadi GM baru itu ahgassi? Annyeonghaseyo, ahgassi. Senang bisa bertemu denganmu,” balas Taeyeon ramah sambil membungkukkan badannya.

“Tidak perlu terlalu formal seperti itu, Ms. Kim,” ujar Chaerin sambil tertawa renyah. “Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik, eoh?”

“Ne, ahgassi,” jawab Taeyeon. “Ah, ada perlu dengan Direktur Kwon?”

“Eum,” jawab Chaerin. “Tapi sepertinya dia belum…,”

Sebelum Chaerin sempat menyelesaikan kalimatnya, suara sepasang sepatu yang sudah biasa Taeyeon dengar, datang mendekat dan beberapa detik kemudian sosok tampan Kwon Jiyong muncul di hadapan mereka.

Wajah Jiyong yang semula datar dan dingin, berubah menjadi keterkejutan yang amat sangat, yang begitu kentara saat dilihatnya Taeyeon dan Chaerin ada di depan matanya.

Taeyeon membungkukkan badannya, memberi salam dan hormat pada Direktur mudanya―sekaligus Direktur kesayangannya―tersebut. Sedangkan Chaerin tanpa disangka-sangka langsung menghampiri Jiyong dan memeluk laki-laki itu tanpa merasa canggung, seakan-akan mereka sudah kenal lama sekali. Bahkan kedua lengan Chaerin mengalung indah di leher Jiyong.

Melihat pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya di kantor, Taeyeon mengalihkan wajahnya dengan cepat. Ia memilih untuk menundukkan wajahnya. Sedikit ada rasa nyeri di ulu hatinya melihat seorang perempuan untuk pertama kalinya memeluk kekasihnya dengan begitu mesra.

“Bogoshippeoyo, oppa~,” seru Chaerin sambil masih memeluk erat Jiyong.

“Chaerin-ah, lepaskan aku,” desis Jiyong. Ia melepaskan lengan Chaerin dari lehernya dan membenarkan dasinya yang sedikit berantakan akibat pelukan tiba-tiba gadis itu.

Bahkan Jiyong memanggil gadis itu dengan panggilan informal. Benar dugaan Taeyeon, Jiyong sangat mengenal GM baru itu.

“Wae? Kau tidak rindu padaku, oppa? Kajja, aku ingin lihat-lihat ruanganmu,” ajak Chaerin senang. Ia langsung bergelayut manja di lengan kiri Jiyong.

“Chaerin-ah,” tegur Jiyong. Ia sedikit panik, bukan. Dia sangat panik. Ada Taeyeon di dekatnya dan dia tidak bisa menatap gadis itu saat Chaerin dengan manjanya memeluk serta menggandeng lengannya. “Bersikap selayaknya atasan dan bawahan, okay? Jangan bawa-bawa masalah pribadi saat kita sedang bekerja. Dan panggil aku Direktur,”

“Aigoo, Yongie oppa sejak kapan berubah seperti ini?” tanya Chaerin sambil merengut kesal. “Andwae, aku tidak mau formal sekali seperti itu. Aku akan tetap memanggilmu ‘oppa’ apapun yang terjadi. Aku tidak biasa jaga jarak denganmu, oppa! Jangan paksa aku, eoh? Tapi aku janji akan bekerja dengan baik,”

“Sifat Amerika-mu tidak berubah sama sekali,” gumam Jiyong kesal.

“Kau sangat tahu, oppa,” sahut Chaerin senang. “Kajja, kita ke kantormu,”

Sambil kembali bergelayut di lengan kiri Jiyong, Chaerin menarik laki-laki itu untuk masuk ke dalam ruangannya. Dengan terpaksa Jiyong menuruti kemauan GM baru itu. Ia sudah hafal betul sifat pemaksa Chaerin.

“Ms, Kim,” panggil Jiyong sebelum ia dan Chaerin masuk ke ruangan. “Berikan berkas kemarin pada Manajer Choi,”

“Ye, Direktur,” jawab Taeyeon tanpa memandang ke arah Jiyong. Terkesan sangat tidak sopan, Taeyeon tahu itu. Dan ia akan rela menerima segala cacian dan bentakan dari mulut Jiyong, seperti biasa. Namun, Jiyong tidak berkata apa-apa.

Jiyong hanya menghela nafas berat dan ia kembali melangkah menuju ruangannya. Setelah pintu kantornya tertutup, barulah Taeyeon menengadahkan wajahnya menatap pintu ruangan Direktur muda tersebut.

“Ms, Kim,” panggil seorang laki-laki dengan suara beratnya, yang tiba-tiba saja sudah berada di depan meja kerja Taeyeon, membuyarkan lamunan panjang gadis itu.

“Ah, ne. Annyeonghaseyo, Mr. Choi,” sapa Taeyeon. “Berkas, eoh? Akan saya ambilkan,”

“Tidak biasanya kau melamun sambil menatapi pintu kantor Jiyong. Ada apa? Apa karena Chaerin baru saja masuk bersamanya?” tanya Choi Seunghyun, salah satu manajer di perusahaan tersebut sekaligus sahabat dekat Jiyong.

“Animnida, sir,” jawab Taeyeon pelan.

“Sekarang hanya ada kau dan aku di sini, Taeyeonnie. It’s okay. Beritahu saja aku apapun itu yang ada di dalam hati dan benakmu,” ujar Seunghyun sambil tersenyum kecil menatap Taeyeon.

Taeyeon menyerahkan berkas yang diperintahkan Jiyong tadi pada Seunghyun sembari menarik nafas dalam-dalam. “Siapa gadis yang bernama Lee Chaerin itu?”

“Eung… Teman masa kecil kami berdua,” jawab Seunghyun.

“Oh, pantas saja mereka sangat akrab sekali,” timpal Taeyeon sambil mengangguk-anggukkan wajahnya.

“Tentu saja,” sambung Seunghyun santai. “Chaerin adalah satu-satunya perempuan yang dari dulu sangat dekat dengan Jiyong. Jiyong selalu melindunginya, menjaganya, dan menganggapnya sebagai sosok yang berharga. Jiyong banyak dikelilingi perempuan, tapi sebatas teman main dan teman tapi mesra saja. Setelah itu jika bosan akan dia tinggalkan. Berbeda dengan Chaerin. Mereka berdua tidak pernah terpisahkan. Berpisah sebentar beberapa tahun karena Chaerin memilih melanjutkan studinya di Amerika. Dan kembali lagi karena dia begitu merindukan Jiyong,”

“Begitu,” respon Taeyeon. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Entah apa yang kini dirasakannya. Tapi sebagai kekasih, mana mungkin Taeyeon berhak merasa cemburu pada teman masa kecil yang sangat dekat dengan Jiyong. “Gomawoyo, oppa,”

Seunghyun diam memandangi gadis mungil itu lekat-lekat. Ia tampak berfikir keras sebelum akhirnya bicara, “Mau makan siang bersama?”

“Eh? Wae…?”

“Melihat situasi ini kemungkinan membuatmu sedih itu 80 persen. Sebelum kau dengar yang aneh-aneh dari orang lain, bagaimana kalau kuceritakan saja kisah mereka berdua sebelum kau menjadi kekasih pangeran itu? Sambil makan siang nanti, tentu saja,” jelas Seunghyun.

Taeyeon diam. Ia memutar otaknya dengan kencang dan beberapa detik kemudian mengangguk setuju.

“Gadis pintar,” ujar Seunghyun pelan. Ia mengacak-acak ubun-ubun kepala Taeyeon dengan lembut sambil tersenyum sangat manis, sebelum ia meninggalkan meja kerja gadis itu.

Ya, sebelum gadis manis itu tersakiti dengan pemberitaan miring yang menimpa sahabatnya, Seunghyun berencana ingin meluruskan dan meyakini Taeyeon dengan kejadian yang sebenarnya. Manajer keren itu tidak ingin dan tidak mau melihat Taeyeon terpuruk dan terpukul. Ia menyayangi Taeyeon seperti adiknya sendiri, bahkan sebelum Jiyong mengenal gadis itu.

Lagipula, Seunghyun akan sangat merasa bersalah jika Taeyeon meneteskan air matanya karena Jiyong. Dirinyalah yang pertama kali mengenalkan mereka berdua, hingga mereka bisa saling jatuh cinta dan menjalin hubungan yang lebih serius.

~~~

“Aku tidak akan berada di ruangan selama dua jam setelah makan siang, Ms. Kim. Jika ada yang mencari aku dan bertanya aku di mana, katakan saja aku sedang pergi keluar dan kau tidak tahu. Tanya keperluan mereka apa jika mereka mau,” ujar Jiyong pelan pada Taeyeon.

Taeyeon menganggukkan kepalanya sambil sibuk menulis di memonya. Sedangkan Jiyong masih betah berdiri di depan meja gadis itu. Ia bimbang. Sebaiknya bicara sekarang atau…

“Oppa!” panggil seorang gadis yang mampu memecah konsentrasi Jiyong dalam berfikir.

Chaerin.

Taeyeon melirik Jiyong sekilas sambil menempelkan memonya di atas meja kerjanya lalu merapikan meja itu dengan cepat untuk pergi makan siang.

“Kajja,” ajak Chaerin pada Jiyong.

“Aigoo, Chaerin-ah. Jika kau seperti ini terus, pegawai yang lain akan patah hati,” canda Seunghyun yang berada tepat di belakang Chaerin.

Kebetulan yang pas. Setidaknya Taeyeon tidak perlu merasa canggung jika ada Jiyong dan Chaerin secara bersamaan di hadapannya.

“Oppa naekkoya,” ujar Chaerin asal.

“Kau ini,” tegur Jiyong kesal. Ia pusing sekali berada di posisi seperti ini. Itulah sebabnya kenapa ia marah sekali pada Presdir Kwon. “Hyung, kenapa kau kemari?”

“Menjemput Taeyeonnie, ani, Ms. Kim maksudku,” jawab Seunghyun santai.

“Untuk?” tanya Jiyong cepat dan penuh curiga.

“Makan siang. Apalagi?” Seunghyun balik bertanya.

“Mwo? Ah, jadi ini yang kau maksud, oppa? Gadis yang tengah kau kencani adalah Sekretaris Kim? Tsk, dasar,” goda Chaerin dan ia menyenggol pelan dada Seunghyun.

Taeyeon membulatkan kedua matanya, ingin membantah. Tapi Jiyong lebih dulu bicara sebelum dirinya sempat membuka mulut.

“Tidak ada yang bisa mengencani sekretaris pribadiku, Chaerin-ah. Siapapun itu,” tegas Jiyong penuh dengan penekanan di setiap kata-katanya dan itu sukses membuat Taeyeon sedikit merinding. Nada Jiyong juga terkesan sangat dingin dan emosional.

Chaerin juga terdiam memandangi Jiyong dengan pandangan heran.

“Kenapa kau serius sekali, Jiyong-ah?” tanya Seunghyun sambil tertawa. “Nah, kenapa kalian tidak pergi makan siang sekarang? Bukankah sehabis ini kalian berencana pergi?”

“Ne. Kami akan pergi membeli hadiah untuk orang tua Jiyong oppa. Hadiah ucapan ‘halo’ istilahnya,” jawab Chaerin dengan semangat.

“Aku juga titip salam pada Kwon eomma kalau begitu. Kajja, Taeyeon-ssi,” ajak Seunghyun sambil menarik pergelangan tangan kanan Taeyeon dengan lembut tapi agak sedikit ada paksaan.

“Y… Ye,” jawab Taeyeon.

“Kami duluan,” pamit Seunghyun riang.

Have fun!” seru Chaerin, yang sama sekali tidak sadar ada aura panas di sisi kanannya.

Direktur muda itu memang tidak mudah cemburu jika kekasihnya dekat dengan siapa saja yang dia suka. Hanya saja kalau dengan Seunghyun entah kenapa Jiyong sama sekali tidak suka. Ia akan mudah terbakar api cemburu jika Seunghyun ada di dekat Taeyeon. Padahal laki-laki itu lebih dulu dekat dengan Taeyeon sebelum Jiyong. Padahal Seunghyun yang mengenalkan mereka berdua dan berharap mereka bisa menjalin hubungan serius waktu itu.

Entahlah, mungkin saja karena waktu itu Seunghyun pernah menyatakan sesuatu tentang Taeyeon yang menyebabkan Jiyong kena serangan jantung mendadak.

~~~

“Hahaha, kau tidak lihat ekspresi si Jiyong bodoh itu, Taeyeonnie? Daebak, wajahnya benar-benar mengatakan ingin memukulku sampai mati. Kurasa jika itu tidak di dalam kantor, dia akan mewujudkannya detik itu juga,” kekeh Seunghyun sambil melahap ramyun panasnya dengan wajah merah akibat terus tertawa dari awal perjalanan mereka ke kedai ramyun sampai sekarang.

“Oppa, pelan-pelan,” tegur Taeyeon. Terlambat, Seunghyun terbatuk-batuk karena tersedak ramyun panasnya sendiri.

“Ah, ini pasti ulah Jiyong. Dia pasti mengutukku habis-habisan,” sembur Seunghyun. Ia mengambil gelas mineralnya dan menggaknya sampai habis.

“Akan aku ambilkan lagi, oppa,” tawar Taeyeon.

“Makan saja dulu. Nanti ramyunmu dingin,” sergah Seunghyun.

Taeyeon mengangguk dan ia mengambil sumpitnya untuk ikut melahap ramyun seafood-nya.

“Kau tahu mereka akan pergi setelah makan siang ini?” tanya Seunghyun.

“Aku hanya tahu kalau dia tidak akan ada di ruangan selama dua jam sehabis makan siang. Aku baru tahu kalau dia berencana pergi dengan Chaerin,” jawab Taeyeon jujur.

“Jangan kesal jika Chaerin sudah lebih dulu akrab dengan kedua orang tua Jiyong,” ujar Seunghyun. “Kedua orangtuanya sudah menganggap Chaerin sebagai anak mereka juga. Bahkan, sebelum kalian berpacaran dan setelah Jiyong putus dengan mantannya itu… paman dan bibi Kwon berencana menjodohkan Jiyong dan Chaerin,”

Giliran Taeyeon yang kini tersedak dengan ramyunnya. Dengan cepat ia meminum mineralnya dan Seunghyun mengelus-elus lembut punggung Taeyeon agar batuk gadis itu cepat hilang.

“Dijodohkan?” tanya Taeyeon.

“Jiyong begitu terpuruk waktu itu, ‘kan? Dia memang orang yang sangat sungguh-sungguh dengan cintanya dan belum merelakan hubungannya yang telah kandas dengan Kiko waktu itu. Satu-satunya cara adalah membuatnya move on. Aku tidak tahu kalau paman menjodohkan Jiyong dan Chaerin saat itu. Dan tepat saat kalian berdua sudah saling mengenal dan jatuh cinta, paman sudah mengabarkan Chaerin untuk pulang ke Korea dan menjadi pendamping hidup Jiyong.

“Chaerin bingung kenapa tiba-tiba begitu? Dia juga tahu kalau Jiyong sudah punya pacar dan terkejut ketika dia dan pacarnya sudah putus. Chaerin bilang dia akan pulang tujuh bulan lagi dan siap menjadi pengganti Kiko. Chaerin langsung setuju karena… Yah karena dia sendiri, pun menyukai Jiyong dari dulu, mengagumi Jiyong layaknya Jiyong adalah ksatrianya. Chaerin pernah bilang begitu pada kami tapi dia berjanji akan menghentikan perasaannya sebelum terlalu dalam.

“Dan alasan kenapa paman memilih Chaerin adalah karena selama ini dia lihat Jiyong sangat nyaman dengan Chaerin, hanya Chaerin satu-satunya perempuan yang tidak Jiyong tinggalkan seperti perempuan-perempuan mainan Jiyong yang dulu-dulu, hanya Chaerin satu-satunya perempuan yang Jiyong lindungi dengan setulus hati. Paman mengira dengan adanya Chaerin dan mempersatukan mereka, Jiyong akan mengalihkan hatinya pada gadis itu. Ternyata, hati Jiyong sudah terlanjur jatuh padamu. Sejak itu aku sangat merasa bersalah pada paman Kwon,”

“Apa Jiyong oppa sudah tahu dia akan dijodohkan?” tanya Taeyeon pelan.

“Tahu, paman yang memberitahukannya dan menyuruh kalian berpisah sebelum terlambat. Di satu sisi, paman tidak ingin kau mendapat laki-laki brengsek yang suka hura-hura seperti Jiyong dan di sisi lain dia sudah terlanjur bicara dengan Chaerin. Semuanya serba salah ketika Jiyong mati-matian mempertahankan hubungan kalian sampai-sampai ia mampu melewati cobaan berat dari ayahnya sendiri dengan menjadi Direktur muda di kantor. Kau tentu sudah tahu tentang ini. Yang paling penting, paman sudah merestui kalian dan melihat betapa gigihnya Jiyong demi dirimu,” jelas Seunghyun.

“Kenapa paman bersikeras agar Chaerin menjadi GM baru di kantor tanpa berunding dengan Jiyong oppa?” tanya Taeyeon pelan. Ada getar di dalam suaranya dan ia berusaha untuk menyembunyikannya. Dan Seunghyun tahu itu.

“Sampai sekarang aku juga belum tahu jawabannya,” jawab Seunghyun jujur.

“Apa ini jadi cara paman untuk memisahkan kami lagi?” tanya Taeyeon. “Aku tidak tahu seburuk apa Jiyong oppa sehingga paman tidak mengizinkan aku berkencan dengannya. Aku tahu paman sayang padaku, tapi dia juga tahu aku sangat mencintai Jiyong oppa, begitu juga sebaliknya. Atau aku yang tidak pantas untuk Jiyong oppa? Gadis yang tertutup dan cenderung berdiam diri di rumah, berbeda sekali dengan Chaerin yang periang dan lincah,”

“Sshh, tidak seperti itu,” potong Seunghyun. Ia membelai sayang belakang kepala Taeyeon saat dilihatnya Taeyeon sudah menitikkan air matanya. “Kita semua tahu paman sudah merestui kalian, bahkan bibi sangat menyukaimu. Kita hanya tidak tahu alasan paman apa, ‘kan? Sebaiknya jangan ambil kesimpulan sendiri,”

Taeyeon menganggukkan kepalanya seraya tersenyum sedih pada Seunghyun.

“Setidaknya kita lihat saja siapa yang lebih diprioritaskan Jiyongie,” gumam Seunghyun pelan, sehingga Taeyeon tidak bisa mendengarnya.

~~~

“Sekretaris Kim di mana?!” tanya Jiyong galak pada Sekretaris Im. Ia sangat kesal, tentu saja. Bagaimana tidak kesal, sekretarisnya pulang begitu saja tanpa mengatakan apapun padanya, pada atasannya.

Sebenarnya ini bukan salah Taeyeon sepenuhnya. Sama sekali. Ini sudah pukul enam sore, waktunya para pegawai, staff dan seluruh orang yang bekerja di perusahaan itu pulang. Dan lagi, Jiyong sama sekali tidak punya jadwal lembur hari ini. Otomatis sekretarisnya itu bisa pulang tepat waktu.

Hal yang membuat Jiyong heran sampai marah-marah pada sekretaris ayahnya sendiri adalah gadis itu tidak bilang apa-apa padanya, langsung pulang. Biasanya gadis itu akan menunggu Jiyong untuk pulang bersama. Kenapa hari ini dia langsung pergi?

Karena Yoona adalah sahabat dekat Taeyeon, maka Jiyong langsung memanggilnya dan menginterogasinya di ruangan.

“Ms. Kim sudah pulang, sir,” jawab Sekretaris Im gugup. Gugup karena takut lihat betapa emosinya wajah Jiyong.

“Kenapa dia bisa pulang tanpa memberitahuku?! Apa dia sudah membangkang sekarang?!” bentak Jiyong.

“Eung… joseonghamnida, sir. Dia bilang dia sudah memberitahu anda dan anda memperbolehkannya,” jawab Yoona sabar.

“Mwo? Sejak kapan…,”

“Oppa, wae geurae? Suaramu keras sekali sampai kedengaran di luar,” potong Chaerin yang tiba-tiba masuk ke ruangan Jiyong. “Kenapa kau marah-marah pada Sekretaris Im?”

“Aku hanya tanya keberadaan sekretaris-ku,” jawab Jiyong ketus.

“Ms. Kim sudah pulang,” jawab Chaerin heran. “Dia memberitahumu lewat chat jam enam sore tadi. Kau sedang berada di kasir dan aku yang berinisiatif membalasnya, membolehkan dia pulang,”

“Mwo?!” seru Jiyong. “Wae… Kau tidak seharusnya membalasnya, Chaerin-ah!”

“Memangnya kenapa? Jam enam adalah waktu pulang kantor, ‘kan? Kau juga tidak ada lembur hari ini, oppa. Kasihan gadis itu kalau harus menunggumu pulang dari mall,” ujar Chaerin membela diri. Ia kaget sekali melihat kemarahan di diri Jiyong padanya, yang untuk pertama kali dilihatnya selama mereka berteman.

“Dia memang setiap hari menungguku pulang meskipun aku tidak berada di kantor!” sela Jiyong. “Jangan pernah sekali-kali menyentuh ponselku dan membalas sembarangan chat yang masuk, Lee Chaerin. Terlebih jika chat itu dari sekretaris-ku,”

Chaerin hendak membuka mulutnya tapi ia memilih bungkam. Ia bingung, heran, sakit hati sekaligus tersinggung dengan sikap Jiyong saat ini. Ini pertama kalinya Jiyong membentaknya dan marah-marah padanya. Hanya karena sekretarisnya itu pulang terlebih dulu.

“Pulang dengan siapa dia, Ms. Im?” tanya Jiyong. Kedua mata elangnya menatap Yoona.

“Eung… Eumm… Mr. Choi Seunghyun, sir,” cicit Yoona.

F*ck!” seru Jiyong. Ia melepas jas serta dasinya dan mengambil tasnya seraya pergi keluar dari ruangannya, tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.

“Saya permisi ahgassi,” pamit Yoona setelah keheningan serta kecanggungan menerpa mereka berdua di ruang kerja Jiyong.

“Ms. Im,” panggil Chaerin tiba-tiba.

“Ye, ahgassi?” sahut Yoona.

“Apa hubungan antara Jiyong dan Ms. Kim yang sebenarnya? Kau pasti tahu, ‘kan?” tanya Chaerin datar pada Yoona. Ini pertama kalinya senyuman riang dan manis milik Chaerin tidak muncul di wajahnya.

“Ah? Eh… Itu… Hubungan mereka hanya sekedar bos dan sekretarisnya, ahgassi,” jawab Yoona. Ia membungkukkan badannya untuk kembali pamit pada Chaerin.

Chaerin tersenyum kecil, lebih tepatnya tersenyum masam pada sosok Yoona yang sudah keluar dari ruangan Jiyong.

“Jinjjayo?”

~~~

“Kenapa kau langsung pulang duluan tadi?” tanya Jiyong dingin pada Taeyeon sesampainya ia di apartemen gadis itu.

Setelah marah-marah pada Yoona dan Chaerin di kantor, Jiyong langsung melesat pergi menuju apartemen kekasihnya dan masuk tanpa mengetuk terlebih dulu. Tentu saja, laki-laki itu sudah tahu password apartemen gadisnya. Ia tidak perlu susah-susah mengetuk pintu atau menunggu Taeyeon membukakan pintu. Mulutnya sudah gatal sekali ingin bicara dengan Taeyeon.

“Eh?” Taeyeon balik bertanya. Ia ternganga. Terkejut sekaligus heran bukan main.

“Kenapa kau tidak menungguku seperti biasanya?” tanya Jiyong lagi, kali ini suaranya lebih keras.

“Itu… Aku kira oppa akan pulang dengan Chaerin. Lagipula, dia juga sekalian mau mampir ke rumahmu, ‘kan? Ah, kenapa Chaerin tidak ada?”

“Dia memang akan mampir ke rumahku. Tapi dia punya mobil sendiri untuk pergi ke sana, ‘kan? Aku sudah pernah bilang kalau kau harus selalu menungguku untuk pulang bersama. Di manapun aku berada,” jawab Jiyong, kali ini emosinya sudah mereda. “Jangan pernah ambil kesimpulan untuk pulang sendiri,”

“Tapi kau membalas chat-ku…,”

“Itu bukan aku,” potong Jiyong. “Chaerin membalasnya karena dia fikir sudah seharusnya pegawai pulang, dan aku juga tidak ada lembur,”

“Jadi ponselmu ada padanya?” tanya Taeyeon, sedikit cemburu. Ia mengalihkan wajahnya dari Jiyong dan lebih memilih menatap lantai. “Kalau begitu, ini seratus persen bukan salahku. Kau mengizinkanku pulang lewat tangan Chaerin yang memang tidak tahu apa-apa. Seharusnya kau tidak mengizinkan siapapun melihat ponselmu meskipun dia adalah teman masa kecilmu, ‘kan?”

“Aku tahu,” ujar Jiyong mengalah. “Mian, aku terlalu khawatir tadi begitu tahu kau langsung pulang. Ah, apa maksudmu pulang bersama Seunghyun hyung?”

“Dia hanya mengantarku sampai halte,” jawab Taeyeon singkat. “Dia tahu kalau dari sini ke halte sering macet,”

“Mianhae. Lain kali aku tidak akan membiarkan Chaerin memegang ponselku lagi. Aku juga sudah memarahinya tadi,” ujar Jiyong.

Taeyeon terbelalak kaget dan ia menolehkan wajahnya pada Jiyong. “Oppa, kau marah padanya? Kau membentaknya?”

Taeyeon tahu betul bagaimana Jiyong kalau sudah marah pada orang, apalagi jika itu di perusahaan. Dia tidak akan pandang bulu siapa yang ia marahi. Dan tidak peduli orang itu sakit hati atau tidak dengan kata-katanya yang selalu menyakitkan.

“Memangnya kenapa? Aku kesal sekali,”

“Tapi dia adalah teman perempuanmu satu-satunya dari kecil. Dia tidak pernah kau marahi atau dibentak sekalipun, ‘kan? Kau selalu menjaganya dan sekarang kau memarahinya hanya karena aku? Dia bahkan tidak tahu apa-apa. Kenapa kau selalu marah-marah tanpa berfikir logis, eoh?” tanya Taeyeon kesal. Ia takut Chaerin akan salah paham padanya mengenai perubahan sikap Jiyong.

“Bagaimana kau bisa tahu? Seunghyun hyung yang menceritakannya padamu?” tanya Jiyong pelan. “Dia cerita apa saja?”

“Hanya itu,” jawab Taeyeon. Ia kembali menunduk, tak berani menatap wajah Jiyong ketika ia berbohong.

“Benarkah?” tanya Jiyong, sedikit curiga.

“Aku tidak bohong, kok,” jawab Taeyeon lagi, kali ini suaranya lebih kuat. “Lain kali jangan bersikap seperti itu padanya hanya karena aku, okay? Aku jadi tidak enak. Bagaimana kalau dia menganggap kau berubah semenjak berkencan denganku? Dia pasti membenciku,”

“Kau gadisku, apa salahnya aku bersikap seperti itu demi kekasihku sendiri?” tanya Jiyong dengan nada dingin.

“Terserah saja,” jawab Taeyeon acuh tak acuh.

Ia membalikkan tubuhnya untuk membuka kulkas dan mengeluarkan dua botol cola lalu diletakkannya di atas meja makan.

“Mau minum, oppa?” tawar Taeyeon, terkesan basa-basi. Ia bahkan tidak memandangi wajah Jiyong.

“Ani,” tolak Jiyong cepat. Ia menghela nafas kasar dan mengacak-acak rambutnya. “Aku akan pulang,”

“Hati-hati,” ujar Taeyeon.

Jiyong melangkahkan kakinya menuju ke arah Taeyeon dan menarik belakang leher gadis itu dengan kasar untuk mempertemukan bibir mereka. Benturan yang keras ketika bibirnya menyatu dengan bibir Jiyong cukup menyakitkan dan membuat Taeyeon meringis kesakitan, bahkan ia mendorong dada bidang laki-laki itu saking terkejutnya.

Jiyong tidak peduli. Ia tetap memagut dan melumat bibir Taeyeon dengan penuh emosional, seakan-akan ingin menyalurkan perasaan marahnya pada ciuman mereka tersebut. Ini kali pertama Jiyong menciumnya dalam dan kasar. Bibirnya menari-nari di atas bibir Taeyeon yang tidak merespon. Ditekannya kuat belakang leher Taeyeon agar semakin memperdalam ciuman mereka. Jiyong benar-benar seperti ingin memakan bibir gadis itu. Ia tidak peduli Taeyeon sudah membutuhkan oksigen dalam paru-parunya.

Ketika Taeyeon sudah tidak sanggup lagi menahan nafasnya selama beberapa menit karena ciuman panjang Jiyong yang liar tidak mau berhenti, Taeyeon menginjak kaki laki-laki itu hingga bibir mereka lepas, menimbulkan suara decakan yang cukup kuat. Taeyeon terengah-engah dan dihirupnya udara di sekitar dengan rakus.

Sedangkan Jiyong hanya membersihkan saliva di sekitar bibirnya dengan punggung tangan kanannya, tidak merasa kehabisan udara.

“Ada apa denganmu?” tanya Taeyeon kesal setelah ia mendapatkan kembali nafasnya.

“Pamit,” jawab Jiyong santai tanpa ada beban.

“Kau membuatku kaget,” gumam Taeyeon. “Kalau begitu, pulanglah,”

“Aku akan pulang. Tapi sebelumnya, jangan berpakaian seperti itu lagi di depanku, atau aku akan benar-benar memakanmu tanpa memedulikan teriakan minta ampunmu,” bisik Jiyong sambil mengecup pipi kanan Taeyeon dan pergi dari hadapan gadis itu, yang masih terpaku mendengar penuturan kekasihnya.

Begitu Jiyong keluar dari apartemen gadis itu, Jiyong mengeluarkan smirk andalannya saat membayangkan wajah Taeyeon yang akan memerah semerah tomat dan mungkin juga akan mengamuk seperti induk gorilla.

Beberapa detik kemudian, Taeyeon baru sadar kalau dia hanya memakai hotpants dan… bra?!!! Ya, Taeyeon memang selalu berpakaian mini setiap kali sendirian di apartemen. Dan kedatangan Jiyong yang tiba-tiba dengan raut wajah penuh amarah membuat gadis mungil itu lupa dengan keadaannya sendiri.

“Kwon Jiyong!!! Neottaemune!!!”

~~~

“Apa masalahmu dengan Sekretaris Im dan Lee Chaerin, Kwon Jiyong? Kenapa kau berani membentak sekretaris dan GM-ku?” tanya Presdir Kwon tajam sesampainya Jiyong di rumah.

Begitu kakinya melangkah memasuki kediamannya sendiri, kedua mata Jiyong menangkap Chaerin yang sedang mengobrol akrab dengan ibunya, seperti anak yang sudah lama tidak bertemu dengan ibu kandung sendiri. Tanpa menyapa Mrs. Kwon dan Chaerin, Jiyong langsung naik hendak menuju kamarnya. Tak disangka Presdir Kwon juga baru keluar dari kamar dan mau turun.

Melihat Jiyong dengan tampang tidak menyenangkannya, Presdir Kwon batal turun dan mengajak Jiyong bicara empat mata sebelum anak laki-lakinya itu masuk dalam kamar.

“Aku hanya bertanya di mana sekretaris-ku,” jawab Jiyong acuh tak acuh.

“Kau bertanya di mana dia sedangkan kau tahu itu adalah jadwal pulang para pegawai?” Presdir Kwon balik bertanya.

“Abeoji, berhenti berpura-pura tidak tahu. Aku tahu kau sudah tahu dari Chaerin, ‘kan?” elak Jiyong.

“Kau membawa masalah pribadi dalam urusan pekerjaan, Kwon Jiyong. Kau melanggar kesepakatan kita. Kenapa aku harus terkejut saat mendengar kejadian ini? Seharusnya dari dulu aku memang tidak pernah membiarkanmu seenaknya mengangkat Taeyeon jadi sekretaris-mu. Kalau kau seperti ini terus, apa kau tahu jadinya perusahaan kita nanti jika kau lebih mementingkan perasaan dan urusan pribadimu?” cecar Presdir Kwon.

Okay, aku mengaku salah, abeoji. Aku kelepasan bicara pada Sekretaris Im. Tapi aku tidak akan pernah merasa bersalah sudah membentak Chaerin di ruanganku. Karena apa? Karena dia sudah berani menyentuh dan ikut campur urusan pribadiku. Jadi, dari awal aku minta maaf padamu itu murni karena aku merasa bersalah pada Im Yoon Ah,” jelas Jiyong.

“Lee Chaerin adalah sahabatmu dari kecil, dan dia membalas pesanmu karena kalian sedang berada di luar perusahaan,” ujar Presdir Kwon, masih dalam suaranya yang pelan dan tajam.

“Di luar perusahaan dan di jam kerja,” sela Jiyong cepat, tampak frustrasi. “Aku dan Taeyeon tidak bisa bebas berhubungan saat masih jam kerja walaupun itu di luar perusahaan, tidak bisa bersama-sama sebagai sepasang kekasih ketika kami sedang bekerja walaupun itu bukan jam kerja. Lalu, kenapa kau terlihat berbeda dengan Lee Chaerin?

“Chaerin dan aku memang bersahabat sejak kecil, tapi tidak sepantasnya dia memanggilku oppa ketika kami sedang bekerja. Dia GM dan aku Direktur. Coba aboji check, di perusahaan mana seorang GM memanggil Direkturnya sendiri dengan sebutan oppa? Eobseo. Dan abeoji hanya diam, seolah-olah buta dengan keadaan saat dia menggandengku dan berperilaku tidak professional.

“Dia adalah GM, bawahanmu dan hanya bekerja sama denganku. Jika dia bebas melakukan apapun dan memanggilku dengan panggilan seperti kami biasanya, kenapa aku dan sekretaris-ku tidak bisa melakukannya juga?! Kenapa kau selalu berkoar-koar masalah profesionalitas sedangkan di depan matamu ada GM yang tidak professional denganku? Apa bedanya dia dan Taeyeon? Ah, mereka berbeda. Chaerin adalah sahabatku dan Taeyeon adalah orang yang aku cintai. Jika Chaerin bisa berbuat seenaknya padaku di kantor, aku juga bisa berbuat sesuka hatiku pada Taeyeon. Mereka berdua berbeda, dan bagiku tahta yang paling tinggi yang ada di hatiku adalah Taeyeon, jadi tidak masalah jika aku juga melanggar kesepakatan itu,”

Jiyong dan Presdir Kwon sama-sama terdiam beberapa saat. Mereka hanya saling pandang dengan tatapan tajam, tidak ada yang mau mengalah untuk sekedar melepaskan pandangan satu sama lain. Keduanya memang keras kepala, tapi Jiyong tidak mau kebahagiaannya kali ini dirampas oleh hal kecil yang seharusnya tidak pantas mengganggu hubungannya dengan Taeyeon.

“Kwon Jiyong…,”

“Aku mencintai Kim Taeyeon, abeoji,” potong Jiyong, suaranya lebih pelan dari tadi dan tampaknya ia ingin menyudahi perdebatan sekaligus perang dingin yang terjadi pada keduanya beberapa minggu terakhir ini. “Aku sangat mencintainya. Aku tahu kau begitu keras pada hubungan kami karena tidak ingin menyakiti perasaan Taeyeon. Aku tahu kau begitu karena takut suatu saat nanti aku membuatnya menangis. Aku tahu kau juga begitu menyayanginya.

“Tapi, apakah aboji tahu apa yang aboji lakukan kali ini justru membuat Taeyeon tersakiti? Kau membedakan mereka berdua seakan-akan kau lebih menyetujui aku dengan Chaerin. Seakan-akan kau belum puas melakukan apapun untuk memisahkan kami. Seakan-akan kau memang sangat berniat untuk menjauhkan kami. Bukankah kau sudah lihat bahwa aku bersungguh-sungguh, bahwa Taeyeon juga sangat mencintaiku? Bukankah kau sudah menyetujui hubungan kami?

“Jika memang benar ini adalah salah satu caramu untuk memisahkanku dengan Taeyeon, aku akan mengundurkan diri. Walaupun abeoji menolaknya, aku tidak peduli. Aku tidak peduli kau akan mengusirku keluar dari rumah ini karena sudah membangkang. Jujur, aku sanggup melalui apapun cara dan upayamu untuk membuat aku dan Taeyeon berpisah. Tapi aku tidak sanggup melihat air mata keluar dari kedua mata orang yang aku cintai, abeoji. Aku bisa membentak dan memberikan surat peringatan pada Chaerin karena sudah bertindak semena-mena pada atasan dan menghentikan ulahnya. Tapi, dia adalah sahabatku, bukan begitu? Aku tidak bisa menyakiti keduanya di saat bersamaan, aboji. Namun, jika kau memaksaku untuk memilih, aku akan lebih memilih menyakiti sahabatku,”

“Apa maksudmu? Taeyeon sudah tahu awal rencanaku sebelum kalian berhubungan?” tanya Presdir Kwon.

“Kurasa. Dinding bisa berbicara, Presdir Kwon. Tidak heran kalau Taeyeon mendengar semuanya, bahkan mungkin mendengar apa yang dilebih-lebihkan orang lain,” jawab Jiyong ketus dan ia segera melewati tubuh tegap ayahnya untuk masuk ke dalam kamar.

Presdir Kwon tidak berbalik untuk menghajar putranya yang sudah kurang ajar. Tidak. Dia masih shock dengan semua penjelasan yang keluar dari mulut Jiyong. Dan fikirannya sibuk bekerja, memutar otak dengan keras untuk menyelesaikan masalah yang tanpa sengaja ia buat.

~~~

“Kau telat, Ms. Kim?” tanya Lena, salah satu karyawan perempuan yang ada di perusahaan itu saat Taeyeon baru saja melangkah masuk ke dalam lift, menuju ruang kerjanya. Di dalam lift itu ada tiga orang karyawan perempuan. Mereka semua tinggi dan cantik, tentu saja. Dan tiga-tiganya amat sangat mengagumi Jiyong.

Pertanyaan Lena lebih kepada menyindir, dan Taeyeon hanya mengangguk sambil tersenyum manis. “Aku terlambat bangun,”

“Waeyo? Tidak seperti biasanya,” sela Lena lagi. “Apa kau memikirkan sesuatu tadi malam? Memikirkan hal yang membuatmu cemas?”

“Ms. Kim,” panggil Yoojung. “Kudengar kemarin kau tidak pulang dengan Direktur, eoh? Apa benar?”

“Tentu saja benar,” timpal Sojin senang. “Direktur Kwon sedang ‘berkencan’ dengan sahabat kecilnya, Ms. Lee Chaerin. Direktur pastinya memilih gadis masa kecilnya yang jauh lebih pantas menjadi pendampingnya,”

“Benar begitu, Ms. Kim? Itu sebabnya kau pulang bersama Manajer Choi?” tanya Lena. “Kau itu hebat, eoh? Tidak dapat Direktur, Manajer hot Choi Seunghyun, pun kau ambil. Tsk, dasar rubah licik,”

“Satu lagi,” sambung Yoojung. “Kau sudah tahu mengenai perjodohan antara Direktur dan Ms. Lee, Kim Taeyeon? Sudah tahu? Presdir Kwon yang berada di balik rencana perjodohan itu, apa kau tahu? Pastinya kau sudah tahu. Itu artinya Presdir Kwon ingin hubungan kalian dihentikan sekarang juga, Ms. Kim. Menyerahlah, kau tidak pantas menjadi pendamping ‘raja’ kami,”

“Ms. Lee kembali karena ingin dipersatukan dengan Direktur oleh Presdir Kwon, Ms. Kim. Rencana itu ada sebelum kau menjadi penghalangnya. Sekarang, berhentilah menjadi wanita pengganggu dan berhentilah jadi sekretaris Direktur Kwon. Apa kau belum menangkap maksud Presdir Kwon juga? Dia ingin mengusirmu secara perlahan,”

Taeyeon mengepalkan kedua telapak tangannya, berusaha tenang dan mengontrol emosinya agar jangan terpancing. Ia harus bisa menyingkirkan perasaannya sendiri, mengenyampingkan semuanya, dan bersikap professional. Ia tidak boleh termakan dengan omongan bulshit seperti yang baru saja didengarnya sekarang.

Ia percaya Presdir Kwon tidak akan seperti itu.

Beruntung, pintu lift segera terbuka dan Taeyeon langsung keluar dari dalam neraka itu. Dengan langkah cepat ia menuju meja kerjanya dan akan langsung minta maaf pada Direktur karena sudah terlambat.

Namun, rencana untuk minta maaf langsung sirna begitu saja saat dilihatnya Chaerin keluar dari ruangan Jiyong dengan wajah berseri-seri. Langkah Taeyeon langsung terhenti dan ia membungkukkan badannya memberi hormat pada Chaerin yang sudah berada di hadapannya.

“Eoh? Kau terlambat, Ms. Kim? Tidak seperti biasanya,” ujar Chaerin dengan senyuman riangnya seperti biasa.

“Joseonghamnida, Ms. Lee,” ujar Taeyeon.

“Tidak perlu minta maaf kepadaku. Minta maaflah pada Direktur. Dia tadi mencarimu,” ucap Chaerin.

“Ye, Ms. Lee,” jawab Taeyeon.

Chaerin mengangguk dan ia melengos pergi dari hadapan Taeyeon. Sedangkan Taeyeon meletakkan tas dan mantelnya di atas meja kantornya lalu langsung masuk ke dalam ruangan Jiyong.

“Jo…,”

“Kenapa kau terlambat?” tanya Jiyong, menyela permintaan maaf dari Taeyeon. Wajahnya datar dan kaku saat menatap Taeyeon. “Tidakkah kau tahu pekerjaan menumpuk sedangkan aku sebentar lagi ada meeting?”

“Joseonghamnida, sir, joseonghamnida. Saya…,”

“Kembali ke mejamu,” perintah Jiyong. Ia mengeluarkan laptopnya dan menyalakannya.

“Ada yang bisa saya kerjakan, sir?” tanya Taeyeon gugup.

“Eobseo. Semua sudah ditangani Ms. Lee Chaerin,” jawab Jiyong tanpa memandang Taeyeon. “Sudah kubilang kembali ke mejamu,”

Taeyeon tersentak mendengar jawaban Jiyong. Ia hanya bisa mengangguk dan membungkukkan badannya sebelum keluar dari ruangan Jiyong.

Taeyeon tidak benar-benar menuruti Jiyong kali ini. Ia tidak kembali ke mejanya, melainkan pergi menuju meja kerja Yoona. Gadis itu tampak serius membaca suatu dokumen penting dan mengetiknya di laptop.

“Kau sedang sibuk?” tanya Taeyeon pelan.

“Eoh, eonni,” sapa Yoona. Ia melepas kacamatanya dan menutup dokumen itu.

“Kalau kau sedang sibuk tidak apa-apa, lanjutkan saja,” ujar Taeyeon.

“Aniyo, kerjaan ini paling lambat disiapkan lusa. Sudah hampir selesai,” jawab Yoona. “Eonni, waeyo? Kau kelihatan tidak baik-baik saja,”

Bad mood,” jawab Taeyeon singkat.

“Pasti gosip-gosip aneh tentang Direktur. Bukankah sudah kubilang untuk tidak mendengarkannya?”

“Tapi kurasa kali ini benar, Yoong,” ujar Taeyeon sambil merenung. “Mereka dijodohkan oleh Presdir Kwon sebelum aku berhubungan dengan Jiyong. Karena ada aku, perjodohan dibatalkan dan semua rencana itu rusak,”

“Karena Jiyong lebih memilihmu, arraseo? Lagipula Presdir Kwon juga sudah merestui kalian, jadi sah-sah saja kalau perjodohan itu batal,” bisik Yoona.

Mereka berdua memang sering saling adu keluh kesah di ruangan Presdir Kwon. Karena meja kerja Yoona tertutup dan tidak ada yang  bisa sembarang masuk. Ditambah lagi dengan adanya alat pengedap suara. Orang lain tidak akan bisa dengar apa yang tengah mereka bicarakan.

“Kedatangan Lee Chaerin-lah yang membuatku yakin Presdir Kwon benar-benar belum bisa merestui kami, Yoong. Buat apa Chaerin datang lagi ke sini dan dituntut jadi GM oleh Presdir sendiri selain untuk mendekatkan anaknya dengan Chaerin? Tentu saja untuk menyingkirkanku secara halus,” jelas Taeyeon dan ia tersenyum pahit. “Aku memang berbeda 180 derajat dari Chaerin, Yoong. Dia cantik, sexy, tubuhnya bagus, cocok untuk Direktur Kwon. Sedangkan aku? Like a child, bertingkah tidak dewasa dan labil,”

“Kenapa kau jadi pesimis begini? Kau ingin menyerah di tengah jalan begini?” tanya Yoona kesal. “Dengar, eonni. Presdir Kwon bukanlah orang yang akan menarik ucapannya dan dia juga bukan orang yang tanpa pegangan sepertimu! Sekali dia bilang ‘ya’, dia akan selalu bilang ‘ya’. Artinya, dia tidak akan pernah meragukan cinta kalian. Lagipula, Kwon Jiyong tidak akan menganggap Chaerin lebih dari teman,”

“Lalu apa alasan Presdir menyuruh Chaerin pulang ke Korea dan memaksanya untuk jadi GM, yang bahkan Jiyong pun tidak tahu apa-apa sampai ayahnya secara resmi mengumumkan,” ujar Taeyeon. “Kalau dari awal aku tahu akan begini jadinya, aku tidak perlu berjuang terlalu keras demi hubungan kami ini. Kau benar, Yoong. Aku terlalu memaksakan diri menjadi seseorang yang pantas untuk Jiyong. Dan sekarang, yang benar-benar pantas sudah ada di depan mata,”

“Sekretaris Im,” panggil seseorang dengan suara baritone yang sangat tidak asing di telinga Taeyeon dan Yoona.

Presdir Kwon.

“Eoh, ada Ms. Kim?” tanya Presdir Kwon, sedikit terkejut.

“Annyeonghaseyo, sajangnim,” sapa Taeyeon dan ia membungkukkan tubuhnya, tanpa memandang sang Presdir.

Presdir Kwon tersenyum manis dan ia menyerahkan sebuah undangan pada Yoona. “Bisa serahkan ini pada Lee Chaerin, Ms Im? Ini adalah undangan dari Jeju untuk dia dan… Kebetulan sekali ada Ms. Kim di sini. Direktur Kwon juga dapat undangan,”

Presdir Kwon menyerahkan undangan berwarna gold itu pada Taeyeon. Taeyeon menerimanya dan membaca undangan tersebut. Hatinya mencelos dan tubuhnya serasa ingin tenggelam dari tempat itu juga.

“Ini adalah undangan khusus dari Mŏnsant Café untuk Direktur dan GM kita. Ada acara design baju pengantin di sana dan penyelenggaranya adalah salah satu teman dekat mereka berdua. Serahkan pada mereka berdua, arraseo?” jelas Presdir Kwon pada Taeyeon dan Yoona.

Yoona hanya mengangguk ragu sambil melirik Taeyeon sekilas, yang belum berkata apa-apa perihal undangan tersebut.

“Kudengar kau telat hari ini? Wae?” tanya Presdir Kwon.

“Saya bangun agak terlambat pagi ini, sajangnim. Joseonghamnida,” jawab Taeyeon.

Presdir Kwon tertawa pelan. “Kau pasti lelah akhir-akhir ini. Kenapa tidak minta izin pada Direktur untuk libur sehari saja?”

“Tidak perlu, sajangnim. Saya baik-baik saja,” tolak Taeyeon dengan halus. “Kalau begitu saya permisi, sir,”

Presdir Kwon mengangguk dan ia membiarkan tubuh mungil Taeyeon keluar dari ruang kerja Yoona. Yoona menatap punggung Taeyeon yang makin lama makin jauh dengan pandangan khawatir dan cemas, dan Presdir Kwon dapat melihat itu.

~~~

Taeyeon mengetuk pintu ruangan Jiyong tiga kali tanpa ada niat sedikit, pun. Menginjakkan kaki di ruangannya saja Taeyeon malas. Ia benar-benar tidak ingin melihat wajah Jiyong saat ini. Ia tahu ini salah, mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan bukanlah hal yang sepatutnya dilakukan. Tapi, siapa yang tahan jika sudah sampai tahap ini?

Seminggu penuh di Jeju untuk menghadiri acara design baju pengantin dan acara tersebut sangatlah terbatas, hanya orang-orang yang memiliki undangan saja yang bisa masuk. Bisa dikatakan Taeyeon tidak bisa diajak Jiyong.

Kenapa harus dengan GM? Bukankah selama ini Direktur selalu pergi bersama Presdir? Apakah alasannya karena yang menyelenggarakan adalah sahabat dari Jiyong dan Chaerin? Atau ada alasan lain?

“Masuk saja,” terdengar perintah dari dalam ruangan, suara Jiyong.

Taeyeon membuka pintunya dan mendapati Jiyong dan juga Chaerin sedang duduk berhadapan di sofa ruangan tersebut. Keduanya tampak mengobrol asyik dan Taeyeon bingung harus melakukan apa. Ia ingin segera pergi saja dari ruangan itu.

“Ada apa, Ms. Kim?” tanya Jiyong.

“Ada undangan,” jawab Taeyeon pelan. “Sir,

Taeyeon menyerahkannya dan Jiyong mengambilnya. Ia membaca undangan tersebut dengan cepat lalu menghembuskan nafas panjang.

“Minggu depan pekerjaanku benar-benar menumpuk,” ujar Jiyong. Chaerin mengambil undangan itu dan membacanya.

“Tidak bisa begitu, Direktur. Kau harus ikut juga. Ini, ‘kan acara pentingmu,” protes Chaerin sambil mengerling ke arah Jiyong. “Kurasa undanganku ada pada Presdir,”

“Kalau begitu kau persiapkan saja semua keperluan untuk ke sana,” ujar Jiyong datar. “Ah, ya Ms. Kim. Hari ini tidak ada lembur atau rapat apapun itu. Jika kau ingin pulang, tunggu sampai aku keluar dari ruangan ini,”

Taeyeon diam tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia kembali membungkuk untuk permisi keluar dari kantor Direkturnya, membuat dahi Jiyong berkerut, heran.

“Apa aku mengucapkan hal yang menyinggung perasaannya?” tanya Jiyong pada Chaerin.

“Pabo,” gumam Chaerin. “Baiklah, bisa aku pergi sekarang, Direktur? Keperluanku cukup banyak untuk di bawa ke Jeju. Ah, apakah aku boleh menginap di Dolce Vita, sir?”

“Kau bertanya apa mengejekku? Keluarlah!” seru Jiyong kesal dan ia kembali menghadap laptop serta dokumen-dokumen menumpuknya. Chaerin hanya tertawa renyah melihat hal itu.

~~~

“Satu minggu di Jeju? Kufikir Presdir Kwon tidak mengirimkan mereka ke sana untuk pekerjaan,”

“Ne, aku juga berfikir begitu. Kenapa harus Direktur dan GM, eoh? Baju pengantin, lagi. Ada hal lain yang akan mereka lakukan selama seminggu di Jeju,”

“Taruhan, pasti pernikahan,”

“Kenapa kita bisa punya pemikiran yang sama?”

Semua orang pasti berfikir begitu,”

“Dan apakah sekretaris itu juga berfikir hal yang sama?”

“Kalau iya, dia akan segera hengkang dari perusahaan ini dan tidak akan berani menampakkan wajah baby-nya di depan kita walaupun Presdir Kwon sangat menyayanginya. Tapi kalau tidak, itu artinya dia punya wajah tembok dan tidak punya malu sama sekali,”

Yoona menatap tajam ke arah para pegawai perempuan yang duduknya tidak jauh dari dia dan Taeyeon. Saat ini sedang makan siang. Awalnya Taeyeon sama sekali tidak berminat untuk makan apapun sampai akhirnya Yoona datang dan memaksanya untuk makan bersama di cafeteria. Karena Taeyeon tahu, ia akan mendengar hal-hal seperti yang ia dengar sekarang ini.

“Tidak usah dengarkan mereka,” bisik Yoona pada Taeyeon setelah para pegawai perempuan itu pergi karena mendapat tatapan intimidasi dari sekretaris-nya Presdir Kwon.

“Aku tidak apa-apa mendengar cemoohan mereka, sebenarnya,” ungkap Taeyeon dengan wajah muram. “Tapi aku tidak bisa mendengar pendapat mereka yang mengatakan kalau Direktur dan GM tidak hanya akan menghadiri acara design itu. Aku memang tidak percaya, tapi tahukah kau kalau pendapat mereka ada benarnya juga? Masalah pernikahan itu,”

“Oh, ayolah eonni. Jangan pernah dengarkan ucapan mereka kalau kau belum mendengar langsung dari bibir Jiyong, okay?” bisik Yoona dengan segala penekanan di kalimatnya.

“Aku tidak mendengar apa-apa dari Jiyong mengenai GM baru,” ungkap Taeyeon. “Aku tidak dengar apa-apa karena Jiyong tidak tahu. Presdir Kwon main sendiri. Bagaimana kalau hal itu terjadi lagi untuk kedua kalinya? Yoona-ah, kau mungkin tidak mengerti. Tapi berada di posisiku sekarang ini seakan-akan akulah orang ketiganya, seakan-akan aku yang menghalangi mereka berdua untuk bersatu. Yoona-ah, kau tidak harus mengerti karena aku harap kau tidak akan pernah merasakannya. Tapi, ini luar biasa sakit dan untuk pertama kalinya aku merasa ingin menyerah,”

Yoona terdiam lama sambil memandangi Taeyeon dengan pandangan campur aduk. Ia menggigit bibirnya lalu menunduk untuk kembali memakan makanannya. Dia sama sekali tidak berselera setelah mendengar ungkapan hati seorang Kim Taeyeon, yang selama ini Yoona ketahui pandai sekali menyimpan rahasia dan menyembunyikan perasaannya sendiri.

~~~

“Sekretaris-mu sudah pulang?” tanya Presdir Kwon pada Jiyong yang tengah bersiap-siap untuk pergi menghadiri rapat dadakan antar petinggi-petinggi di perusahaan itu.

“Apa?” tanya Jiyong, antara kaget dan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

“Sekretaris Kim,” ulang Presdir Kwon. “Kulihat dia sudah tidak ada di mejanya. Dia pulang?”

“Dia pulang?” ulang Jiyong, nada suaranya sedikit meninggi. “Bukankah tadi aku sudah memberitahukannya kalau ada rapat dadakan? Kenapa dia bisa pulang begitu saja tanpa izin dariku?”

“Apa dia sedang sakit? Tadi pagi aku melihatnya tampak sangat murung. Dan dia bilang kurang enak badan. Mungkin dia sangat kesakitan sampai-sampai tidak bisa minta izin lagi darimu,” ujar Presdir Kwon, yang lebih kepada dirinya sendiri. Raut wajahnya sangat cemas dan ia tidak bisa menyembunyikannya.

“Sakit? Kemarin dia kelihatan baik-baik saja. Tidak hanya kemarin, bahkan hari ini dan baru sejam yang lalu aku lihat tidak ada apa-apa yang terjadi pada dirinya,” cetus Jiyong, frustrasi. Ke mana lagi perginya sekretarisnya ini?

Chaerin yang kebetulan memang ada di situ dan mendengar semua percakapan antar ayah dan anak tersebut memandangi raut wajah cemas sang Presdir. Presdir Kwon memang terkenal dengan sifat penyayang dan perhatiannya. Tapi Chaerin akui, selama ia bekerja di perusahaan ini baru Kim Taeyeon-lah satu-satunya pegawai yang amat sangat diperhatikan Presdir, yang lebih diutamakan Presdir, dan rasa sayangnya lebih kepada anak sendiri daripada seorang pegawai.

Jujur saja, Chaerin yang mengenal Presdir Kwon lebih lama tidak pernah dapat perlakuan seperti itu dari Presdir. Meskipun Presdir Kwon bukan orang yang pilih kasih, tapi Chaerin dapat melihat pancaran itu setiap kali Presdir Kwon menatap Taeyeon.

Chaerin tersenyum kecil. Bagaimana bisa seorang Kim Taeyeon bisa mengubah dua orang sekaligus dalam waktu bersamaan? Gadis kecil mungil itu punya daya tarik yang sangat luar biasa tanpa diduga-duga.

“Sebenarnya dia tidak sakit secara fisik,” ungkap Chaerin pelan.

“Apa maksudmu?” tanya Jiyong langsung.

“Kau tidak dengar desas-desus tentang kita sepanjang hari ini? Ani, selama aku bekerja di perusahaan ini,”

“Aku tahu,” jawab Jiyong tak sabaran. “Aku dengar dan aku tahu Taeyeon takkan pernah termakan omongan mereka,”

“Tapi desas-desus hari ini adalah puncak dari semuanya. Kurasa kesabaran Taeyeon sudah lebih dari cukup setelah dia dengar hal-hal aneh dari para fans-mu,” lanjut Chaerin.

“Masalah undangan ke Jeju itu, kah? Yang mengatakan kalau aku berencana menikahkan kalian di sana?” sambar Presdir Kwon dan Chaerin mengangguk.

“Dia tampak murung satu harian ini setelah menyerahkan undangan itu pada Jiyong. Dan lagi, mungkin dia sudah tahu kalau… Kau dan aku awalnya dijodohkan sebelum kalian berkencan,” sambung Chaerin. “Dia pasti berfikir telah menjadi orang ketiga di antara kita. Dia pasti mengira ahjussi belum benar-benar merestui kalian. Dia pasti berfikir aneh-aneh dan memutuskan untuk menyerah,”

“Mwo?!” seru Presdir Kwon dan Jiyong bersamaan.

“Ini semua salahmu, Yongie oppa,” ujar Chaerin. “Salahmu yang sama sekali tidak pernah mau menjelaskan dari awal tentang hubungan kita. Dia tahu kita adalah sahabat kecil dari bibirmu dan tahu perjodohan kita dari orang lain, yang pastinya ditambahi dengan bumbu-bumbu di dalamnya. Kau tidak jujur dan akhirnya dia mendapat info dari mulut ke mulut,”

“Dan semuanya salah paham,” ujar Presdir Kwon. “Bahkan kemarin kau salah paham denganku! Aku seperti orang bodoh yang dimarahi anak sendiri kemarin malam, tsk!”

“Aku salah paham karena ayah tidak pernah mengatakan dari awal padaku,” bela Jiyong. “Ayah bergerak sendiri, seakan-akan rencana yang ada di fikiranku benar-benar akan kau laksanakan. Itu sebabnya aku tidak pernah berani untuk jujur pada Taeyeon. Aku takut dia akan… Jadi seperti ini,”

“Dia seperti ini karena kau tidak jujur. Oppa pernah bilang dia adalah perempuan kuat yang membuatmu terkesima, otomatis dia akan menerima apapun penjelasanmu sebelum mendengarnya dari orang lain. Sekarang, setelah semuanya terkuak dan sebagian kecil bukan faktanya, kurasa dia akan berfikir kau akan mencari alasan pembenar untuk membela dirimu,” sambar Chaerin.

“Baiklah,” potong Presdir Kwon sebelum Jiyong membuka suara. “Aku tidak tahu siapa yang salah di sini atau memang semua ini berawal dari kebodohanku. Sekarang Jiyongie, cari Taeyeon dan jelaskan semuanya. Rapat hari ini dibatalkan,”

“Dia tahu ini semua kesalahannya. Kalau tidak, mana mungkin dia mau membatalkan rapat penting ini,” gumam Jiyong kesal saat Presdir Kwon sudah keluar dari ruangan Jiyong.

“Presdir Kwon, ayahmu itu begitu mencemaskan Taeyeonnie, oppa. Karena dialah akar dari semua masalah ini. Taeyeonnie lebih penting saat ini daripada rapat. Aku yakin, dia akan duduk di kantornya sepanjang malam sebelum akhirnya mendapat kabar kalau gadismu baik-baik saja,” ucap Chaerin sambil tersenyum lembut. “Kau tahu, oppa? Selama apapun aku mengenalmu dan Presdir Kwon, aku tidak akan pernah bisa mendapatkan hati dan perhatian kalian berdua seperti Taeyeon, dan hal itu membuatku cukup… tersinggung. Karena dia adalah sosok yang paling berharga dan jauh dari kriteriamu yang sebelumnya, jagalah dia dengan baik, oppa. Lindungi seakan-akan kau akan kehilangan dia hari ini,”

“Kalau itu, aku sudah melakukannya dari awal, Chaerin-ah. Lagipula, kau juga sudah mendapatkan hati dan perhatian dari keluargaku, bahkan aku sendiri. Hanya saja di posisi yang berbeda dari Taeyeon. Jadi, maafkan aku jika aku mengutamakan dia selalu untuk saat ini dan seterusnya,” jawab Jiyong.

“Arrayo,” ujar Chaerin sambil mengangguk. “Kalau begitu, tunggu apalagi? Cepat carilah gadismu dan hubungi Seunghyun oppa. Mungkin saja dia tahu di mana Taeyeon,”

“Ah, laki-laki itu. Aku akan menghubunginya,”

~~~

“Katakan saja kalau kau tidak melihat keberadaanku, oppa. Jebal,” pinta Taeyeon dengan suara lirihnya pada Seunghyun saat ponsel laki-laki tersebut berbunyi, menandakan ada telepon dan itu dari Jiyong. “Dia pasti bertanya aku ada di mana dan apakah kau bertemu denganku. Untuk saat ini, aku sama sekali tidak ingin mendengar apapun tentang dia dan tidak mau lihat sosoknya,”

Seunghyun terdiam mendengar ucapan dari gadis mungil yang ada di hadapannya ini. Seunghyun tampak iba. Wajah cantik gadis itu begitu lesu, seperti tidak ada semangatnya sama sekali, dan yang terpenting tampak sangat terpukul. Gadis ini begitu tertekan dengan semua yang terjadi hari ini, dan Seunghyun tahu itu karena semua pegawai membicarakannya.

Kisah cinta antara Taeyeon-Jiyong-Chaerin.

Dan di tengah jalan inilah Seunghyun bertemu dengan Taeyeon. Ia sedang jalan sendirian di trotoar menuju apartemennya yang beratus-ratus kilometer jaraknya dari kantor. Melihat wajah murung dan blank-nya, Seunghyun tahu gadis itu kabur lagi dari Jiyong.

Seunghyun menyimpan ponselnya dan membiarkan ia berdering sampai ribuan kali sampai Direktur itu menyerah. Lalu, Taeyeon berbalik dan kembali melangkahkan kakinya.

“Kau mau ke mana?” tanya Seunghyun. Ia menangkap lengan kanan Taeyeon dan menghadap gadis itu. “Pulang?”

“Aniyo,” jawab Taeyeon. “Jiyong oppa pasti akan ke apartemenku. Aku mau ke mana saja asal dia tidak bisa menemukanku,”

“Sudah mau hujan begini kau tidak tahu mau ke mana?” tanya Seunghyun heran. Bagaimana kalau ada apa-apa dengannya? Gadis ini begitu lugu dan polos untuk dibiarkan begitu saja di tengah jalan yang belum tentu dipenuhi oleh orang-orang berhati mulia. “Kalau begitu, ikut aku saja. Kita makan ramyun kesukaanmu bermangkuk-mangkuk dan aku akan traktir. Tempat makan ramyun kita tidak diketahui Jiyong, ‘kan? Lagipula cuaca mendung begini pasti enak makan ramyun,”

Taeyeon tampak berfikir panjang. Itu bukan ide yang buruk. Akhirnya, ia tersenyum kecil dan mengangguk semangat pada Seunghyun.

Seunghyun menyimpan ponselnya dan membiarkan ia berdering sampai ribuan kali sampai Direktur itu menyerah. Lalu, Taeyeon berbalik dan kembali melangkahkan kakinya.

“Kau mau ke mana?” tanya Seunghyun. Ia menangkap lengan kanan Taeyeon dan menghadap gadis itu. “Pulang?”

“Aniyo,” jawab Taeyeon. “Jiyong oppa pasti akan ke apartemenku. Aku mau ke mana saja asal dia tidak bisa menemukanku,”

“Sudah mau hujan begini kau tidak tahu mau ke mana?” tanya Seunghyun heran. Bagaimana kalau ada apa-apa dengannya? Gadis ini begitu lugu dan polos untuk dibiarkan begitu saja di tengah jalan yang belum tentu dipenuhi oleh orang-orang berhati mulia. “Kalau begitu, ikut aku saja. Kita makan ramyun kesukaanmu bermangkuk-mangkuk dan aku akan traktir. Tempat makan ramyun kita tidak diketahui Jiyong, ‘kan? Lagipula cuaca mendung begini pasti enak makan ramyun,”

Taeyeon tampak berfikir panjang. Itu bukan ide yang buruk. Akhirnya, ia tersenyum kecil dan mengangguk semangat pada Seunghyun.

Pukul 19.00 KST, Seunghyun dan Taeyeon sampai di tempat ramyun langganan mereka berdua. Tepat saat itu, hujan sudah mengguyur kota Seoul dengan derasnya sampai pukul 22.00 KST. Selama tiga jam lamanya di tempat makan ramyun itu, Seunghyun dan Taeyeon tampak saling bercanda tawa dan berbagi cerita, hingga membuat Taeyeon tertawa ceria kembali seperti semula dan Seunghyun sama sekali tidak membawa-bawa nama Jiyong. Untunglah laki-laki itu mengajaknya pergi, setidaknya otak Taeyeon tidak terlalu kusut lagi seperti sekarang.

“Sepertinya kita harus pulang sekarang. Hujannya sudah berhenti,” ajak Seunghyun. “Dan Kwon Jiyong sudah menghubungiku ratusan kali,”

“Aku juga,” gumam Taeyeon. Ia menghidupkan ponselnya dan melihat begitu banyak notification dari Jiyong.

“Apa mungkin dia menunggu di apartemenmu?” tanya Seunghyun.

“Tidak mungkin. Dia mungkin sudah pulang ke rumah,” jawab Taeyeon asal.

“Bagaimana kalau dia menunggumu pulang di depan gedung apartemen?” tanya Seunghyun.

“Hujan deras, oppa. Jiyong tidak akan sebodoh itu,” jawab Taeyeon lagi, kali ini ada nada ragu dalam suaranya.

“Dia akan berubah menjadi orang paling idiot sekalipun jika itu menyangkut dirimu,”

Taeyeon diam mendengar penuturan dari Seunghyun. Benarkah? Dan kenapa perasaannya jadi tidak enak begini?

Sedangkan Jiyong, yang tidak mendapat kabar apapun dari Seunghyun dan ponsel Taeyeon juga mati saat dia mencoba menghubungi gadis itu, memilih duduk di halte bus dekat apartemen Taeyeon, menunggu gadis itu pulang. Jiyong tahu gadis itu pasti akan selalu lewat halte itu setiap bepergian ke manapun tanpa dirinya.

Sebelumnya, ia juga berkeliling-keliling mencari tempat-tempat di mana Taeyeon sering berkunjung, setahunya. Tempat-tempat di mana Taeyeon kemungkinan mampir di sana. Dan semuanya nihil.

Jiyong menunggu selama hampir 4 jam lamanya. Saat Seunghyun tidak menjawab teleponnya, Jiyong langsung melesat menuju apartemen Taeyeon. Sesuai dugaannya, gadis itu tidak ada di apartemen. Dan di tengah-tengah hujan deras begini, pun Jiyong masih duduk manis menunggu gadisnya pulang.

Dia sangat menyesal, benar-benar sangat menyesal. Karena dirinyalah pertahanan di hati Taeyeon perlahan runtuh, karena dirinya yang tidak jujur dari awal.

Dia ingin membuktikan pada Taeyeon saat ini juga, kalau dirinya benar-benar mencintai gadis itu. Sepenuh jiwa. Setulus hati.

Beberapa menit kemudian, Jiyong melihat sebuah mobil yang sangat dikenalnya melintas di hadapannya. Mobil Seunghyun. Mobil itu melesat dan berhenti di depan gedung apartemen Taeyeon.

Jiyong bangkit berdiri. Tubuh serta urat nadinya serasa tegang dan darahnya mengalir sangat deras, membuat suhu tubuhnya mendadak naik sampai ubun-ubun kepala saat dilihatnya gadis yang ia tunggu-tunggu daritadi keluar dari dalam mobil Seunghyun. Seunghyun, pun ikut keluar dan tersenyum manis sekali pada Taeyeon, seperti sepasang kekasih yang tengah mengucapkan selamat malam dan mimpi indah.

Dengan langkah berat Jiyong melangkahkan kakinya menuju sepasang manusia itu. Wajahnya kaku dan tampak sangat menyeramkan. Auranya seperti seorang pembunuh berdarah dingin yang siap menghabisi nyawa siapapun saat itu juga.

Begitu langkahnya mendekat, Seunghyun menoleh ke arah Jiyong dan kedua matanya langsung melebar, terperangah juga shock.

“Jiyong-ah?” sapa Seunghyun, yang lebih kepada ‘kau-ada-di-sini?’

Jiyong berhenti tepat di samping tubuh Taeyeon, yang ikut-ikutan membeku saat kedua matanya menangkap sosok mengerikan Jiyong. Ia hanya bisa menunduk dalam dan diam seribu bahasa.

“Gomawo karena sudah mengantar kekasihku pulang, hyung. Sekarang, istirahatlah dan sampai nanti,” ujar Jiyong datar.

Kedua mata hazel milik Jiyong langsung mengarah pada Taeyeon, yang juga sedang balas menatapnya. Tanpa diduga Taeyeon, Jiyong menarik kasar pergelangan tangan kanan gadis itu dan membawanya paksa ke dalam apartemen. Taeyeon tersentak kaget, tak tahu akan mendapat perlakuan seperti ini oleh Jiyong.

Gadis itu akhirnya meronta minta lepas saat mereka berada di dalam lift. Seakan-akan tuli, Jiyong sama sekali tidak melepaskan genggamannya yang begitu kuat, membuat Taeyeon meringis kesakitan.

Hingga akhirnya mereka sampai di dalam apartemen Taeyeon dan Jiyong langsung mencampakkan gadis itu. Untung saja Taeyeon punya keseimbangan yang cukup saat itu, sehingga tubuhnya tidak terpelanting jatuh ke lantai.

“Ada apa denganmu, eoh?!” seru Taeyeon kesal. Wajahnya menyiratkan kesakitan pada pergelangan tangan kanannya. “Kau menyakitiku,”

“Aku menyakitimu?” tanya Jiyong pelan, tertawa remeh. “Aku yang lebih sakit, Kim Taeyeon! Kau fikir aku senang melihatmu selama berjam-jam penuh menghabiskan waktu bersama dengan laki-laki lain?! Seharusnya aku yang marah padamu tapi kenapa aku malah merasa sangat bersalah?!”

Bentakan yang keluar dari bibir Jiyong menyentak ulu hati Taeyeon. Ia belum pernah melihat Jiyong semurka ini, bahkan di kantor sekalipun. Benar-benar seperti iblis, monster, apapun itu yang membuat Taeyeon ketakutan setengah mati.

“Buat apa kau merasa sakit hati? Kau akan menikah dengan Lee Chaerin, ‘kan? Undangan itu hanya fiktif, ‘kan? Ayahmu akan menikahkan kalian dan buat apa lagi aku ada di hidupmu? Bukankah sebaiknya aku harus cari laki-laki yang lain agar tidak mengganggu hidupmu? Aku… Aku adalah orang ketiga di sini. Aku benar-benar merusak hubungan kalian dari dulu. Seharusnya kau katakan dari awal sebelum kita berhubungan,” tutur Taeyeon dengan sedikit gagap. Ia tidak berani menatap Jiyong.

“Tutup mulutmu,” bentak Jiyong pelan. “Menikah? Dengan Lee Chaerin? Dengan sahabatku sendiri? Kenapa kau bisa begitu mudahnya termakan omongan orang lain, eoh?! Aku tahu ini salahku yang tidak pernah jujur padamu dari awal. Aku tahu seharusnya aku katakan lebih awal sehingga kau tidak perlu mendengar hal-hal aneh dari orang lain. Tapi setidaknya kau bertanya padaku, ‘kan? Kau bertanya kebenarannya padaku dan menuntut penjelasanku. Kenapa kau malah diam saja dan menelan semua perkataan bullshit itu?! Kau takut jika itu benar? Kau takut kalau ayahku akan melakukan itu?! Bukankah itu artinya kau meragukanku?!”

“Kenapa kau malah menyalahkanku?!” seru Taeyeon. Ia sedikit terisak mendengar kata-kata Jiyong. “Aku diam karena aku ingin mendengar penjelasanmu. Aku diam karena aku menghargai Chaerin sebagai sahabatmu. Aku diam karena aku tidak ingin kau menganggap aku cemburu buta hanya karena dia menjadi seorang GM sehingga kau pasti akan menganggapku tidak professional. Aku diam karena Chaerin dulunya akan dijodohkan denganmu. Aku diam karena aku merasa bersalah. Aku diam justru karena aku ingin memercayaimu! Aku ingin kau datang dan berkata kalau semua itu bohong, mengatakan kalau semuanya tidak seperti yang orang katakan. Tapi semuanya berubah saat kulihat undangan itu dan kau tidak mengatakan apa-apa padaku,”

“Kim Taeyeon,” lirih Jiyong. Suaranya melemah dan Taeyeon menyadari itu.

Detik berikutnya, tubuh Jiyong sedikit limbung dan jika Taeyeon tidak cepat menangkap tubuh tegap laki-laki itu, Jiyong akan tersungkur ke lantai.

“Jiyong oppa!” panggil Taeyeon panik. “Ada apa denganmu? Badanmu panas sekali,”

“Kau tahu? Aku menunggumu selama 4 jam di halte dan apa yang kulihat? Kau keluar dari mobil si bangsat itu dengan wajah riang tanpa tahu betapa cemasnya aku?” bisik Jiyong.

“Pabo,” gumam Taeyeon. “Kau benar-benar…,”

“Mencintaimu,” sambung Jiyong cepat.

Taeyeon terdiam. Walaupun air matanya masih mengalir ia berhenti terisak dan kini ia sibuk mengangkat tubuh Jiyong yang dua kali lebih besar darinya menuju kamar tidurnya. Sesampainya di dalam kamar, Taeyeon langsung merebahkan tubuh lemas Jiyong ke atas tempat tidur.

“Oppa, aku akan mencari obat dulu. Jangan pergi ke mana-mana, eoh?” ujar Taeyeon.

Sebelum sempat berbalik, Jiyong segera menangkap pergelangan tangan kiri Taeyeon dan menariknya gadis itu kuat hingga tubuh mungilnya jatuh menimpa tubuh Jiyong. Taeyeon tersentak kaget dan sebelum ia memarahi Jiyong atas tindakannya yang tiba-tiba, Jiyong mengecupi seluruh wajah Taeyeon berkali-kali.

Taeyeon mengerang saat Jiyong menyerang bibir mungil Taeyeon dengan kecupan-kecupan singkatnya yang memabukkan. Laki-laki itu menahan kepala dan leher Taeyeon agar gadis itu tidak menghindar dari kecupannya yang bertubi-tubi.

“Enggh,” erang Taeyeon lagi ketika tangan Jiyong meraba-raba tubuh bagian belakangnya dengan begitu sensual dan menekan kuat pinggul gadis itu dan menggesekkannya ke selangkangan Jiyong, membuat Taeyeon pusing seketika. Jantungnya berdebar kencang saat dirasakannya milik Jiyong yang mengeras.

Dengan perlahan, Jiyong membalikkan posisi mereka berdua sehingga tubuhnyalah yang menimpa tubuh kecil gadis itu. Ia sedikit memberi jarak hanya untuk menatap wajah merah padam milik Taeyeon.

“Kim Taeyeon, dengarlah,” bisik Jiyong, dengan suaranya yang serak, membuatnya semakin sexy di mata Taeyeon. “Aku mencintaimu. Percayalah padaku, saat aku mengatakan aku cinta, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Jangan pernah ragukan itu, jebal. Aku mencintaimu dan seterusnya akan begitu selamanya. Aku mencintaimu hingga rasanya sakit sekali ketika sedetik saja kau mempertanyakannya.

“Aku tidak pernah bilang apa-apa padamu tentang Chaerin karena takut kehilanganmu, takut kau akan seperti ini. Itu sebabnya aku menyembunyikannya. Aku tahu itu adalah salahku, salah besar. Aku dan Chaerin memang dijodohkan, tapi saat ayah tahu aku begitu mencintaimu dan lulus setiap kali dia memberi cobaan untuk kita, ayah membatalkannya. Tapi Chaerin sudah keburu kembali ke Korea, meninggalkan sekolahnya. Karena ayah tidak tega dan merasa bersalah, akhirnya ia mendapat posisi GM itu tanpa sepengetahuanku, membuatku ikut salah paham juga sepertimu.

“Chaerin tahu perjodohan kami dibatalkan tapi dia tidak tahu aku sudah memilikimu, sehingga dia tidak masalah menempel dan manja padaku. Aku, yang tidak tahu maksud baik ayah, memarahi ayah hingga ayah menjelaskannya padaku baik-baik. Pada Chaerin ia mengatakan kalau aku sudah punya kekasih yang sangat aku cintai. Chaerin merasa bersalah dan ia memutuskan untuk menjaga sikapnya padaku di kantor. Dan…,”

“Sshh,” potong Taeyeon. “Aku sudah sangat mengerti, oppa. Cukup. Sekarang kau butuh istirahat dan aku akan mengambilkan obat,”

“Aku tidak butuh,” tolak Jiyong cepat dan ia tidak mengizinkan Taeyeon untuk bergerak sedikit pun di bawah kungkungannya. “Obatku itu dirimu,”

“Jangan bercanda, oppa,” ujar Taeyeon kesal.

“Aku tidak bercanda sama sekali, Taeyeonnie,” bisik Jiyong di telinga kanan Taeyeon. “Setelah ini aku pastikan kau tidak akan pernah lagi kabur dariku. Tidak akan,”

Selesai berkata seperti itu, tanpa aba-aba Jiyong langsung mencium bibir softpink Taeyeon dan memagutnya kasar. Laki-laki itu mengulum kedua bibir Taeyeon secara bergantian dengan penuh cinta dan gairah nafsu yang sudah tidak dapat dibendung lagi. Tampaknya Jiyong tidak ingin membiarkan Taeyeon mengambil nafas sebentar saja, padahl paru-paru gadis itu sudah meledak minta diisi oksigen.

Walaupun kepala Jiyong rasanya berat sekali, tapi ia tidak menghentikan aktifitasnya ini. Selesai mencium bibir Taeyeon sampai membengkak dan berdarah, ciuman laki-laki itu turun sampai ke leher jenjang dan putih milik gadis itu. Taeyeon, yang sibuk mengambil nafas kembali mengerang hebat saat lidah dan gigi Jiyong ikut berpartisipasi membuat kissmarks di setiap sudut lehernya. Tidak pernah Jiyong seliar dan seintim ini dengannya. Tidak pernah. Dan ini kali pertama untuk Taeyeon.

Desahan dari mulut Taeyeon tidak pernah berhenti keluar ketika gigi-gigi Jiyong menggoda seluruh permukaan leher Taeyeon lalu menjilati dan menciuminya dengan sangat perlahan sekaligus tidak sabaran. Begitu liar, hingga Taeyeon kehilangan akal sehatnya. Tak lupa tangan kanan Jiyong meremas kuat dada kiri Taeyeon dan tangan kanannya sibuk menarik-narik kaus gadis itu.

Setelah kausnya lepas, Jiyong mencampakkannya asal dan membuka pengait bra ungu Taeyeon. Sambil membukanya, Jiyong menciumi dada atas gadis itu dengan rakus dan kembali membuang bra itu ke asal tempat.

“Aahh!!” seru Taeyeon ketika Jiyong langsung melahap dada kanan Taeyeon dengan mulutnya dan tangan kanannya sibuk meremas dada kiri gadis itu. Taeyeon tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya mengeluarkan desahannya tanpa berusaha mehanannya. Ia tidak menghentikan aksi Jiyong, yang seperti seorang bayi kehausan. Terus melahap dan mengulum dada kanannya. Taeyeon bahkan menahan kepala Jiyong dan menariknya semakin menempel pada tubuhnya yang sudah panas dingin.

“Taeyeon,” bisik Jiyong dengan suaranya yang menggoda sambil masih mengerjai kedua dada gadis itu. Jiyong benar-benar bermain buas malam itu.

“Ji…Yong… oppa,” rintih Taeyeon kesakitan saat Jiyong sudah membuka pertahanan terakhir mereka dan melepaskan kebanggannya, miliknya. Melepasnya masuk ke dalam Taeyeon.

Seperti ada tembok kuat yang menghalangi perjalanan milik Jiyong, Jiyong mengeluarkan miliknya dan sekali lagi menghentaknya dengan kuat sehingga tembok itu hancur seketika, membuat darah mengalir deras dari dalam milik Taeyeon.

Taeyeon menjerit kencang. Ia sangat kesakitan dan Jiyong tahu itu. Ini adalah pengalaman pertama dan dirinya membiarkan Taeyeon untuk tenang sebentar sambil kembali mencium lembut bibir bengkak gadis itu. Kedua tangannya pun tak tinggal diam dan bermain-main di seluruh tubuhnya.

Hingga Jiyong tidak sanggup lagi menahan gelora hasratnya yang membara kala miliknya dijepit kuat oleh milik Taeyeon. Kuat sekali sehingga Jiyong menggerakkan miliknya tanpa memperdulikan erangan kesakitan Taeyeon lagi. Namun, lama-kelamaan gerakan Jiyong yang teratur membuat sensasi tersendiri untuk Taeyeon. Ia tidak merasakan sakit lagi, melainkan rasa yang lebih dari sekadar ini. Ia ingin Jiyong bergerak lebih cepat lagi.

“Yong… oppa,” gumam Taeyeon di sela-sela ciuman mereka.

“Eung?” tanya Jiyong.

“Ah… Aku…,”

“Apa, sayang?” tanya Jiyong, lebih tepatnya menggoda. Ciuman mereka lepas dan Jiyong memperlambat gerakannya. Walaupun sebenarnya dia tidak tahan, tapi Jiyong ingin mendengar keinginan gadis itu.

Taeyeon menggigit bibirnya, bingung memintanya bagaimana. “Bisakah… Kau lebih… cepat?”

“Cium aku dulu,” tuntut Jiyong. Damn! Wajah gadisnya ini begitu menggoda karena memerah dengan kedua mata sayunya.

Taeyeon mencium bibir Jiyong dengan malu-malu. Jiyong langsung merampas bibir itu dan kembali melumatnya kasar. Gerakannya juga semakin cepat, menghentakkan miliknya lebih dalam lagi ke dalam milik Taeyeon. Hentakan itu semakin menggila sehingga ciuman mereka lepas. Bunyi decit tempat tidur Taeyeon semakin lama semakin kuat di saat Jiyong mempercepat laju gerakannya.

Taeyeon mendesah kencang saat ia sudah mencapai klimaksnya yang entah sudah keberapa kalinya akibat perbuatan Jiyong. Namun, Jiyong belum sampai. Ia semakin tak sabaran dengan gerakannya untuk segera menuntaskan gejolak dan hasrat dalam dirinya. Hentakan itu semakin lama semakin cepat, semakin tak beraturan karena Jiyong makin liar. Sampai Taeyeon hampir tak sadarkan diri.

Dan Jiyong menyemburkan benihnya di dalam rahim Taeyeon. Semburan itu begitu banyak dan tak kunjung berhenti menyerang rahim Taeyeon. Detik berikutnya keduanya ambruk sambil menghirup nafas dalam-dalam dengan keadaan yang masih terkontak.

Jiyong tak berminat melepas kontak mereka. Karena detik berikutnya, ketika ia kembali menciumi dan memberikan banyak kissmark di dada Taeyeon, miliknya mengeras dengan sempurna di dalam Taeyeon. Lagi, Jiyong menggerakkan miliknya dengan cepat tanpa memperdulikan protes dari mulut Taeyeon. Ia sudah sangat lelah.

“Oppa… Cukup,” rintih Taeyeon saat Jiyong menciumi leher Taeyeon sedangkan pinggulnya masih bergerak liar di dalam liang Taeyeon. Benih Jiyong kembali menyembur saat keduanya sama-sama klimaks.

Jiyong melepas ikatan mereka. Akhirnya, Taeyeon bisa bernafas lega dan istirahat sejenak, walau sebenarnya dia sangat suka. Sayang, Jiyong ternyata masih ingin bermain. Sebagai ganti miliknya, lidah Jiyonglah yang keluar masuk ke dalam milik Taeyeon yang sangat basah itu.

Sensasi yang luar biasa ketika Jiyong menggigit klitorisnya dengan gemas. Cairan bening dari dalam milik Taeyeon langsung keluar dengan derasnya. Tanpa ada rasa jijik, Jiyong meminum semua cairan itu sampai habis, seolah-olah laki-laki itu begitu kehausan.

Dan Taeyeon hanya bisa melenguh panjang sambil menekan kepala Jiyong dalam-dalam agar lidah Jiyong tidak meninggalkan tempat basah dan hangat milik Taeyeon. Taeyeon merasa ia sudah gila, dan ia memang gila akibat perlakuan laki-laki  yang tengah kembali memakannya. Lagi dan lagi sampai Taeyeon mengira cairan miliknya akan segera habis malam itu juga.

“Taeyeonnie,” bisik Jiyong dengan suara terengah-engah. “Ayo, ke kamar mandi. Sekarang giliranmu, chagi-ah,”

Taeyeon tidak bisa menolak. Bahkan kalaupun dia menolak, Jiyong akan tetap memaksanya. Gadis itu juga tidak tahu seberapa lama mereka di dalam kamar mandi. Yang Taeyeon ketahui, Jiyong klimaks sebanyak lima kali di kamar mandi karena tangan lihai Taeyeon dan dirinya jatuh terlelap di pundak Jiyong saat laki-laki itu kembali mengerjai liang Taeyeon dengan menghentakkan miliknya dengan cepat.

~~~

Ya, Kwon Jiyong! Cepat pulang atau aku bisa menyeretmu keluar dari apartemen Taeyeon sekarang juga! Aku tahu apa yang kau dan otak pervert-mu itu lakukan pada gadis lugu itu! Kau benar-benar tidak akan kulepaskan kali ini, Jiyong-ah!” seru Presdir Kwon lewat sambungan teleponnya pada Jiyong, yang baru saja terbangun karena deringan ponselnya yang tidak kunjung berhenti sebanyak 26 kali.

“Arrayo, aku akan pulang sekarang juga,” jawab Jiyong malas-malasan. “Lagipula, kemarin malam aku menjelaskan semua kebenarannya pada Taeyeon sampai tidak pulang ke rumah,”

Aku tidak mau dengar alasanmu. Jangan sampai pagi ini, pun kau meminta padanya untuk melanjutkan aksi bejatmu seperti kemarin malam. Aku tunggu selama satu jam, kalau kau tidak muncul di kantor aku akan membunuhmu!” sembur Presdir Kwon lagi dan sambungan teleponnya segera diputus.

“Ada apa, oppa?” tanya Taeyeon dengan suara kantuknya. Sepertinya ia merasa terganggu dengan obrolan Jiyong dan ayahnya sehingga terbangun. “Paman memarahimu? Sebaiknya kau cepat berbenah dan segera ke kantor. Kebetulan aku ada setelan jas milikmu di lemariku,”

“Tidakkah kau ingin melanjutkan yang tadi malam, babe?” rayu Jiyong sambil memeluk tubuh hangat dan lembut milik kekasihnya. Melihat tubuh polos gadis itu membuat Jiyong lupa akan semua peringatan sang Presdir.

“Paman akan membunuhmu,” tolak Taeyeon. “Sudahlah, cepat mandi sana!”

Let’s take a bath together,” ajak Jiyong penuh harap.

“Dalam mimpimu,” tolak Taeyeon lagi. “Dan aku akan minta izin pada Presdir kalau aku tidak bisa datang ke kantor hari ini,”

“Wae?!” tanya Jiyong, kaget sekali. Bagaimana bisa dia bekerja tanpa ada Taeyeon?

“Neottaemune!” seru Taeyeon kesal. “Aku tidak bisa jalan untuk sekarang ini, pabo! Rasanya masih sakit sekali,”

“Jinjjayo? Mianhaeyo, Taeyeonnie. Aku benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyakitimu, tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah tidak tahan. Aku sangat frustrasi karena tingkahmu dan satu-satunya cara melampiaskannya adalah making love with you. Tapi tidak kusangkah aku sangat menikmatinya,” ujar Jiyong diselingi nada suara yang menggoda.

“Diamlah, oppa. Padahal kau cukup melakukannya sekali, tapi tidak kusangka kau begitu mengerikan,” gerutu Taeyeon dan hal itu membuat Jiyong tertawa.

“Baiklah, selesai aku mandi aku akan memandikanmu. Otte?” tawar Jiyong.

“Tidak usah repot-repot. Aku hanya ingin tidur seharian hari ini,” tolak Taeyeon lagi.

“Tsk, pekerjaan sialan!” umpatnya. “Kalau tahu begini aku juga akan ikut tidur denganmu seharian!”

“Bagaimana dengan demammu, oppa?” tanya Taeyeon. Ia meletakkan punggung tangannya di dahi Jiyong. Tidak panas lagi.

“Kau tidak tahu kalau bercinta bisa menurunkan panas tubuh karena demam?” tanya Jiyong. “Itu sebabnya aku bilang kau adalah obatku,”

“Sudahlah, cepat mandi! Jangan bicara yang aneh-aneh lagi!” seru Taeyeon kesal.

“Ne, nae yeojachingu,” jawab Jiyong cepat dan ia segera turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.

~~~

“Apa aku harus minum pil anti kehamilan? Kalau iya, aku akan membelinya nanti,” ujar Taeyeon saat ia tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk Jiyong. Sedangkan Jiyong sibuk memakai jas kerjanya.

“Untuk apa? Kau takut hamil?” tanya Jiyong heran.

“Kurasa sekarang adalah masa suburku. Hebat sekali,”

“Tidak perlu,” sergah Jiyong cepat. Ia memeluk tubuh Taeyeon dari belakang dan menyesap leher jenjang gadis itu dalam-dalam. Walaupun masih merasa sakit sekali di bagian daerah intimnya, tapi Taeyeon tidak bisa membiarkan Jiyong pergi tanpa sarapan.

“Waeyo?” tanya Taeyeon pelan. “Aku, ‘kan tidak mau hamil sebelum menikah,”

“Kita akan segera menikah, nae nabi,” bisik Jiyong.

“Mwo?”

“Alasan aku dan Chaerin menghadiri acara design baju pengantin di Jeju adalah karena aku meminta Chaerin untuk membuat baju pengantin untuk kita berdua. Aku percaya pada selera fashion-nya dan ia juga sangat mengenalku, pasti taste-nya sama sekali tidak buruk. Dan ia mau membantuku karena selama ini merasa bersalah karena tanpa sengaja ia menyakiti perasaanmu yang sehalus sutra,” jelas Jiyong panjang lebar. “Jadi, jangan cemburu lagi, okay?”

“Oppa, bagaimana bisa kau merencanakan sebuah pernikahan tanpa memberitahuku? Bukankah ini terlalu mendadak?” tanya Taeyeon. Ia membalikkan tubuhnya dan mengahadap Jiyong.

“Aku sudah katakan hal ini pada kedua orang tuamu terlebih dahulu sekitar sebulan yang lalu. Mereka mengizinkan, tentu saja. Lalu, setelah aku dan ayahku menyelesaikan kesalahpahaman kami kemarin, aku juga sudah memberitahunya. Dia sama sekali tidak ragu padaku, aku tahu itu. Dia bangga karena akhirnya aku bisa melangkah ke arah yang lebih serius. Dan dia bahagia karena wanita yang kupilih adalah dirimu,” jelas Jiyong lembut sambil mengelus pipi kanan Taeyeon yang sedikit merona.

“Aku…,”

“Aku tidak ingin kau lari lagi dariku, Taeyeonnie,” sela Jiyong. “Aku tahu kau tidak pernah ragu. Aku tahu kau percaya sekali padaku, begitupun sebaliknya. Itu sebabnya hal-hal kecil seperti kejadian kemarin itu tidak ingin kuulangi lagi jika kita bisa terikat secara resmi dan selamanya. Jadi, kita juga tidak perlu mendapat cemoohan orang-orang yang mengatakan kita tidak pantas sama sekali untuk bersanding. Kau tahu, chagi? Bukan hanya dirimu, tapi aku juga di cemooh karena dianggap tidak pantas mendampingimu. Mereka bilang aku bermimpi mendapatkan peri cantik sepertimu, tapi aku akan tunjukkan pada mereka kalau aku akan menikahi peri cantik itu dalam keadaan sadar dan dengan kedua mata yang terbuka. Dan mulut-mulut merekalah yang akan langsung tertutup,”

Taeyeon tersenyum kecil mendengar penuturan Jiyong yang menyentuh hati nuraninya. Selama berbulan-bulan berkencan sekaligus menyelami karakter masing-masing, Taeyeon tahu ia pantas memercayai dan memberikannya sepenuh hatinya untuk laki-laki yang ada di hadapannya sekarang ini. Semakin mengenal Jiyong, Taeyeon semakin jatuh cinta padanya, seakan-akan ia jatuh cinta setiap hari. Dan Taeyeon merasa tepat jika hatinya ia labuhkan untuk yang terakhir kalinya pada sosok Kwon Jiyong.

“Sekarang ini, aku pasti menjadi wanita paling bahagia di muka bumi,” gumam Taeyeon pelan, dan Jiyong berusaha mendengarnya dengan baik. “Karena aku akan jadi seseorang yang pertama kali Kwon Jiyong lihat saat ia membuka kedua matanya dan menjadi orang terakhir yang Kwon Jiyong lihat saat ia menutup kedua matanya,”

Jiyong tersenyum lebar dan ia langsung merengkuh tubuh mungil kekasihnya itu lalu mendekapnya erat penuh kasih sayang. Sesekali diciuminya puncak kepala Taeyeon.

“Tapi,” sambung Taeyeon setelah beberapa puluh detik berpelukan mesra dengan Jiyong. Ia meregangkan dekapannya dan menatap Jiyong dengan pandangan kecewa. “Apakah ini artinya aku sedang dilamar?”

“Maksudmu?” tanya Jiyong tak mengerti.

“Kalau memang ini adalah lamaran darimu, oppa aku benar-benar kecewa. Sama sekali tidak romantis, tidak ada cincin, bunga, atau apapun itu,” ungkap Taeyeon sambil merengut.

Jiyong terkekeh pelan. “Aku sudah memberikannya, Taeyeonnie. Bahkan jauh lebih indah dari cincin maupun bunga sekalipun,”

“Apa itu? Tidak ada,”

“Yang tadi malam itu,” bisik Jiyong dengan nada seduktif, membuat Taeyeon membulatkan kedua matanya dan memukul dada Jiyong agak kuat.

“Ya, oppa!”

Jiyong tertawa keras. Ia menangkupkan kedua tangannya di wajah Taeyeon dan mencium bibir gadis itu dengan lembut. “Dengan begini Seunghyun hyung biadab itu tidak akan sering mendekatimu,”

“Kenapa kau cemburu padanya?” tanya Taeyeon heran.

“Setelah kau dan aku resmi berkencan, ia mengaku padaku kalau ia menyukaimu. Si brengsek itu membuatku kebakaran jenggot setiap kali ia ada di dekatmu,” jawab Jiyong dengan kilatan marah di kedua mata cokelatnya.

“Oppa, paboya,” ejek Taeyeon sambil tertawa. “Dia itu sudah lama pacaran dengan Yoona. Tentu saja tidak ada yang tahu kecuali aku dan Presdir Kwon. Mereka benar-benar sangat professional, sehingga tidak ada satupun yang curiga. Tapi setiap minggu mereka pasti keluar untuk jalan-jalan. Yoona bahkan pernah bercerita kalau Seunghyun oppa adalah sosok romantis yang dingin, humoris, membuat mereka jarang bertengkar,”

“Jinjjayo? Jadi, apa maksud pengakuannya kemarin?” tanya Jiyong, shock.

“Seunghyun oppa sudah menganggapku adik sejak dulu, wajar dia menyukaiku, ‘kan? Wajar dia akan selalu ada untukku ketika aku merasa sedih,” ujar Taeyeon.

“Tidak untuk sekarang dan selamanya, sayang. Kalau ada apa-apa, kau harus lari padaku dan menceritakannya padaku semuanya. Aku tidak mau lagi kau memendam apapun, hal kecil sekalipun. Kau mengerti, Kim Taeyeon?” tanya Jiyong sungguh-sungguh.

Taeyeon tersenyum kecil. Ia sedikit berjinjit dan mengecup bibir sexy Jiyong. “Ne,”

“Kau mulai berani sekarang,” bisik Jiyong. Smirk-nya muncul dan tatapannya menggelap, membuat Taeyeon sedikit merinding. “Jangan menggodaku, atau kau tidak akan selamat satu hari ini,”

“Oppa, kau tidak ingat kalau harus bekerja? Kau bisa dibunuh oleh paman,” Taeyeon memperingati Jiyong dengan terbata-bata dan mulai menjauhi tubuh laki-laki itu. Namun, Jiyong pura-pura tuli. Ia terus mendekati Taeyeon dan tidak melepaskan tatapan ‘lapar’nya dari gadis itu. “Oppa, kalau kau terus mendekat, aku akan lemparkan apa saja yang ada di sini,”

“Jangan lari-lari, chagi-ah~. Kau belum bisa jalan dengan benar. Sini, biar aku yang menggendongmu dan membawamu ke manapun kau mau,” tawar Jiyong dengan ajakan penuh sesat.

Benar saja, saat Taeyeon mulai melangkah lebar-lebar, selangkangannya yang bisa dipastikan sedang lecet, kembali terasa nyeri dan menyebabkan gadis itu kehilangan keseimbangannya. Dengan gerakan cepat, Jiyong menangkap dan mengangkat ala bridal style tubuh mungil gadisnya. Tanpa melewatkan waktu sedetik saja, Jiyong melangkah menuju kamar.

“Oppa, turunkan aku! Paman bisa saja datang ke sini dan membunuhmu! Pergilah bekerja!” pinta Taeyeon sambil meronta minta diturunkan.

“Bukankah ini juga termasuk ‘bekerja’? ‘Bekerja’ memberikan cucu pada keluarga Kwon dan Kim,” jawab Jiyong dengan santai dan ia tidak memedulikan pekikan Taeyeon saat Jiyong merebahkan tubuh mungil itu di atas tempat tidur dan kembali mengulang indahnya cinta yang mereka rajut seperti kemarin malam.

~~~

Kwon’s Corporation

“Joseonghamnida, Presdir. Direktur Kwon memberitahukan saya kalau dia tidak bisa datang ke kantor dan menghadiri rapat besar hari ini dikarenakan ada urusan lain yang lebih mendadak. Beliau minta maaf dengan sebesar-besarnya kepada seluruh dewan yang sudah hadir hari ini dan mempersilakan kita semua untuk rapat tanpa dirinya,” lapor Sekretaris Im pada Presdir Kwon dan seluruh orang yang ada di dalam ruang rapat tersebut.

Presdir Kwon diam sejenak. Kedua matanya berkilat-kilat marah. Rahangnya menegang dan ia mengetuk-ketuk meja rapat dengan kelima jari tangan kanannya, berusaha untuk tidak meluapkan amarah pada sang anak di depan umum.

“Kwon Jiyong,” gumam Presdir Kwon setelah ia membaca pesan yang ada di dalam ponselnya.

Pesan tersebut dari sang putra, Jiyong,

 

From : Kwon Jiyong

Abeoji, hari ini aku dan Taeyeon izin libur, okay? Aku sedang ada tugas mendadak, yaitu tugas memberikanmu banyak cucu yang imut-imut seperti yang selama ini kau impikan. Dan Taeyeon sedang sakit karena tidak bisa berjalan dengan benar. Kau tahu maksudku apa. Jadi, sampai jumpa besok~

Ppay^^

 

“Kau benar-benar akan kubunuh kalau sampai menyakiti uri Taeyeonnie,” lanjut Presdir Kwon pelan, dan hanya dia yang bisa mendengarnya.

Mendengar laporan itu, Seunghyun tertawa kecil. Ia melirik Yoona sambil mengedipkan sebelah matanya genit dan menolehkan wajahnya pada Chaerin seraya berbisik, “Kurasa Jiyong benar-benar sangat marah padaku sehingga tak ada habisnya menghukum gadis tak bersalah itu tanpa ampun,”

“Kau yakin Taeyeon masih gadis?” tanya Chaerin dengan berbisik dan mereka berdua terkikik kecil. “Tapi, hebat juga si naga brengsek itu tidak mendengar omongan Presdir,”

“Kalau kerjaannya tidak melanggar aturan dan bersikap seenaknya, bukan Kwon Jiyong namanya, Chaerin-ah,” balas Seunghyun. “Yang terpenting adalah aku akan mendapatkan banyak keponakan lucu-lucu sebentar lagi. Jadi, kirimkan pesan pada laki-laki mesum itu untuk tidak berhati-hati melakukannya,”

 

 

 

 

 

-The End-

Annyeong^^ mianhae, belum sempet lanjut TLS dikarenakan dikejer deadline tugas dan ini-itu. Ini adalah ff req yang udah lama dibuat serta berkolaborasi dengan salah satu temen saya yang bertugas buat smut kkkkk~ walaupun rada aneh but, enjoy it dan ditunggu ya TLS-nya. *bow*

 

Advertisements

58 comments on “I. LOVE. YOU.

  1. Wah… Daebak! Jjang! Keren! Bagus! Feel-nya dapat!
    Author, aku baper 🙂
    Kirain Chaerin bakal fitting baju dengan Jiyong untuk pernikahan mereka, ‘kan kasihan Taeyein-nya tapi ternyata untuk Jiyong-Taeyeon 🙂
    Jiyong gak khawatir Taeyeon berisi karena sebentar lagi juga mereka akan menikah: D
    Ayahnya sampai hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan puteranya 😀
    Biasanya anak sendiri yang dibela tapi di sini ayah Jiyong justru membela Taeyeon karena khawatir Taeyeon terluka karena puteranya 🙂 😀 Bagus Author bagus idemu.
    Author Bina Ferina, sebenarnya apa jurusan kuliahmu? 🙂 😀

  2. Keren, Ayahnya Jiyong lebih sayang sama Taeyeon deh dari pada sama Jiyong anaknya sendiri, dia ngak mau Taeyeon terluka karna Jiyong. Jiyong berani bangetnya ngak nurutin perintah ayahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s