[FREELANCE] Important Sequence (Chapter 7)

important-sequence1_thumb1

Important Sequence

《 Change Part. 7 》

Author : YHighPi | Cast : Baekhyun (EXO), Taeyeon (SNSD), Tiffany (SNSD), and Jiyong (Bigbang) | Genre : Romance, Friendship | Lenght : Chaptered | Rating: Teen

Thanks to Veokim @ Poster Channel for the poster

Disclaimer:

Tokoh bukan milikku, aku hanya meminjam. Plot cerita murni dari kepalaku.

Preview: Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5, Chapter 6

 

Cukup dengan kalimat “aku menyukaimu” mampu membuat Taeyeon bangun tepat jam 6 pagi.

Mengapa Taeyeon bangun sepagi itu?

Untuk menghindari Byun Baekhyun.

Usai pernyataan yang kemarin di ucapkan Baekhyun, Taeyeon akan berusaha bagaimanpun caranya agar tak menemui lelaki itu. Mulai dari meminta tolong ke Hee Chul—Sahabat Taeyeon— untuk mengawasi Baekhyun agar tidak ke ruang latihan, pulang lebih awal, dan bangun lebih awal.

Baekhyun memang tidak menuntutnya untuk menjawab. Lelaki itu hanya menyatakan perasaan pribadinya lalu menyuruh Taeyeon masuk ke apartemen. Tapi, Taeyeon sangat enggan untuk menemui Baekhyun.

Apakah aku menyukainya?

Taeyeon tidak berani untuk menjawab pertanyaan yang muncul di benaknya. Ia belum yakin apa maksud fantasinya selama ini, entah suka terhadap lawan jenis atau lainnya. Sungguh, ia sendiri tidak tahu dan tidak mengerti.

Taeyeon buru-buru mengalihkan perhatiaannya ke tali sepatu yang harus ia ikat. Ia harus bergegas jika tidak ingin berpapasan dengan Baekhyun.

***

“Hari ini kalian akan latihan menggunakan high heels, hanya untuk memeriksa apakah high heelsnya nyaman atau tidak,” Jelas Jessica sembari mengeluarkan high heels model bloc kdari tempatnya.

Hyoyeon adalah anggota yang pertama maju dan mencoba high heels yang sempat menjadi percontohan. Ia mencoba beberapa gerakan dan tersenyum sembari mengacungkan jempol.

“Nyaman,” Komentar Hyoyeon.

“Coba kalian pakai dan menari dengan sepatu ini.” Jessica sibuk membagikan dan mengontrol anggota SNSD yang mulai memakai high heels, setengah mengabaikan Hyoyeon.

Semuanya mulai memakai sepatu dan menggerakkan kaki, memeriksa apakah high heelsitu benar-benar nyaman atau tidak. Kecuali satu orang.

Kim Taeyeon.

Jessica menatap aneh Taeyeon yang masih setia berdiri dan menatap jam dinding dengan tatapan kosong.

“Hei, sudah kukatakan aku akan bertindak profesional. Jadi, tak perlu takut padaku dan pakai ini.” Ucap Jessica sembari menyodorkan high heels ke Taeyeon.

“Apa?” Taeyeon yang baru terbangun dari khayalannya, menatap Jessica aneh. Dan Jessica dengan mudah menafsirkan tatapan Taeyeon, Sejak kapan dia ada di sini?

“Kau tak mendengarku dari tadi?” Jessica benar-benar heran sekarang. Bagaimana bisa Taeyeon terlihat sangat datar saat berhadapan dengannya? Biasanya Taeyeon akan menyembunyikan tangan ke balik punggung saat berbicara dengan Jessica karena tangannya akan bergetar. Dan apa ini?

Taeyeon menyengir lebar sembari menggaruk tengkuknya. “Maaf. Tapi, boleh kau ulangi apa yang kau bicarakan tadi? Aku janji akan mendengarnya,” Ucapnya.

Akhirnya Jessica mengulangi perintahnya dan ia bersyukur karena Taeyeon tidak mengabaikannya.

Tunggu sebentar…..

Kenapa pula Jessica harus bersyukur?

Lupakan saja.

Netra Jessica mengikuti gerakan anggota SNSD, sesekali ia menatap high heels yang digunakan untuk memastikan bahwa high heels itu layak pakai. Baru beberapa sekon dirinya berpikir high heels itu layak pakai tiba-tiba sebuah bunyi menginterupsi pikirannya.

Gedubrak!

“Aw!” Suara jatuh yang diiringi ringisan.

Lagu tetap berjalan tapi, formasinya berhamburan.

Taeyeon terjatuh karena hak pada high heelsnya patah. Terlihat cukup parah karena Taeyeon tidak bisa bangkit. Baru Jessica hendak menghampiri, pundaknya di tahan oleh Sooyoung.

“Kau sengaja?” Lontar Sooyoung dengan nada mengintimidasi. “Apanya sengaja? Aku tak mengerti Sooyoung,” Ujar Jessica datar. “Kotak high heels Taeyeon berbeda dari yang lain, kau sengaja ingin mencelakakannya, kan?” Kali ini Hyoyeon yang berbicara.

High heels kalian baru kuterima tadi pagi dari karyawanku, aku juga tidak tahu apa-apa, kenapa kalian menuduhku?” Jessica berusaha untuk terlihat tenang kendati hatinya telah dipenuhi kerisauan yang sangat. “Sederhana, kau membenci Taeyeon dan akan membalas dendam padanya,” Alis Jessica bertaut ketika mendengar ucapan Sunny.

Ia akui ia membenci Taeyeon tapi, ia sudah berjanji pada dirinya untuk bertindak profesional dan mengesampingkan perasaan ketika bekerja.

Jessica menatap satu per satu manik ke enam anggota SNSD di hadapannya, mengingat Taeyeon dipapah Tiffany menuju unit kesehatan mengurangi jumlah anggota SNSD di hadapan Jessica. “Terserah kalian saja.” Satu kalimat penutup dari Jessica sebelum ia beranjak pergi dari ruang latihan.

Tepat ketika Jessica keluar, Tiffany masuk kembali ke ruang latihan dan berpapasan dengan Jessica. Entah ia salah lihat atau memang kenyataan tapi, Tiffany menemukan dua hal ganjil di wajah Jessica.

Raut menyesal dan genangan air mata.

“Bagaimana kabar Taeyeon Eonni?” Seohyun yang pertama kali memecahkan keheningan, membuat Tiffany memfokuskan pikirannya.

“Ia tidak apa-apa, ototnya tegang karena tidak biasa menggunakan high heels sehari istirahat juga sembuh.” Tiffany mengulang ucapan penjaga unit kesehatan yang kemudian mendapat respon anggukkan dan helaan nafas lega dari seisi ruangan.

“Dan kata Taeyeon, ini salahnya. Jadi, jangan menyalahkan Jessica.”

***

Jessica menghembus nafas kasar, ia ragu untuk memasuki ruang kesehatan di hadapannya. Rasa gengsi merayapi hatinya sekarang. Akhirnya, ia memilih untuk berbalik dan mengabaikan Taeyeon. Toh, ia membenci perempuan bermarga Kim itu.

Baru dua langkah Jessica berjalan ia kembali berbalik dan menatap pintu ruang kesehatan. Dua sekon berikutnya ia terperanjat ketika pintu itu terbuka dan menampilkan wujud Taeyeon yang dipapah Hee Chul. Rasanya Jessica ingin pergi saat itu juga. Sayangnya tidak bisa karena Taeyeon lebih dahulu menyadari keberadaannya.

“Hei Sica, aku tidak apa-apa. Tenang saja, nanti aku jelaskan ke anggota yang lain agar mereka tidak salah paham.”

Jessica termenung kala Taeyeon mengucapkan kalimat itu lancar. Bahkan, ia membubuhkan senyum tulus untuk Jessica. Saat itu dinding benci di hati Jessica terkikis perlahan ketika ia melihat senyum tulus Taeyeon amat langka baginya.

Mungkin selama ini ia terlalu kekanak-kanakkan dalam menghadapi takdir. Tak pernah menerima ucapan jujur dari Taeyeon dan ia harus puas ketika mengingat bukan hanya Taeyeon yang membenci dirinya saat ini. Tapi, seluruh anggota SNSD. Jessica mendongak, mencoba menahan air mata yang hendak turun.

Ia tidak ingin dibenci,

ia masih ingin menjadi bagian dari SNSD,

ia merindukan segalanya yang berbau pertemanan.

***

Tiffany, mau kau menemuiku besok di kafetaria fakultas seni?
-Jessica

***

Kaki Tiffany mengantar pemiliknya menuju kafetaria. Ia memiliki janji bersama seseorang disana. Kala Tiffany sudah memasuki kafetaria tempatnya berjanji dengan seseorang,  ia mengedar pandang dan berhenti pada seorang perempuan berambut hitam. Tak perlu menunggu waktu lama bagi Tiffany untuk menghampiri perempuan itu dan duduk di hadapannya.

“Tumben sekali kau mau berbicara dengan anggota SNSD, ada apa?” Ujar Tiffany. Perempuan berambut hitam di hadapan Tiffany mengalihkan pandang dari ponsel ke Tiffany, ia segera menyimpan ponsel itu dan tersenyum ramah ke pemilik eye smile dihadapannya. Bukan senyum dibuat-buat tetapi, benar-benar senyum ramah.

Hal yang sangat jarang Jessica lakukan ke anggota SNSD usai ia dikeluarkan. Kecuali, jika ada keperluan.

Tiffany saja sampai terkesiap melihat senyum itu.

“Setidaknya kau bisa membuka percakapan kita dengan sapaan Tiff. Kau itu benar-benar to the point,” Belum selesai Jessica memberi kejutan ke Tiffany kali ini ia berucap dengan nada bersahabat.

“Oh baiklah, hai Jessica apa kabar?” Ujar Tiffany dengan nada anak kecil yang menjijikkan.

“Ya Tuhan, lebih baik langsung to the point saja, Tiff. Kau terlihat menjijikkan ketika bertingkah seperti itu.” Komentar Jessica, bercanda tentunya. Langsung saja Tiffany tertawa kecil usai mendengar komentar tersebut. Sudah lama sekali ia tidak mengobrol dengan Jessica, di lubuk hati ia merindukan temannya itu, tapi di satu sisi ia mencoba untuk waspada. Mengingat Jessica membenci Taeyeon dan selalu berusaha mencelakakan karibnya. Kejadian high heels 2 hari lalu masih terkenang di otaknya.

Tawa Tiffany terhenti ketika seorang pelayan menaruh segelas frappe dan eclair coklat. Pelayan itu tersenyum dan mengucapkan kalimat, “Selamat menikmati.” Sebelum pergi menyisakan dua perempuan berdarah half america.

“Sepertinya yang akan kita bicarakan panjang sampai kau memesan kudapan,” Ucapan Tiffany menjadi pemicu kekehan yang lahir dari mulut Jessica.

“Aku ingin membicarakan Taeyeon.” Penuh kalimat itu terucap Tiffany langsung tersedak. “Jangan katakan kau ingin mencelakainya lagi, kejadian high heels saat latihan 2 hari lalu masih membekas jelas di benak masing-masing orang yang melihatnya. Walaupun, kata Taeyeon itu salahnya.”

Jessica mendengus, ia juga masih teringat kejadian itu. sebenarnya memang salah Jessica karena lalai tidak memeriksa kualitas barang yang baru dikirim. Tapi, ia berani bersumpah kalau ia tidak berniat mencelakai Taeyeon. Kejadian itu juga membuat Jessica tidak bisa tidur karena mengingat tatapan anggota SNSD yang terlihat sangat membencinya.

“Aku tidak berniat mencelakainya untuk sekarang atau besok. Saat kejadian high heels pun aku tidak berniat mencelakai,” Tiffany menghela nafas lega ketika Jessica mematahkan pemikiran negatifnya. Perempuan Jung itu mengambil nafas sejenak sebelum kembali membuka mulut.

“Saat itu Taeyeon keluar dari unit kesehatan sembari dipapah Hee Chul sunbae. Awalnya aku berniat pergi setelah mengetahui keadaannya tidak parah tapi, dia menyapaku.”

“Hei Sica, aku tidak apa-apa. Tenang saja, nanti aku jelaskan ke anggota yang lain agar mereka tidak salah paham.” Jessica mengulangi sapaan Taeyeon 2 hari yang lalu. Baru kali ini ia merasa bersalah atas semua yang telah ia lakukan ke Taeyeon.

“Taeyeon yang menyapamu?” Tanya Tiffany tidak percaya. Sebuah senyuman terulas kembali di wajah Jessica. “Ya, dia menyapaku dan tersenyum tulus. Itu pertama kalinya ia tersenyum lagi padaku, biasanya Taeyeon akan lebih memilih untuk menghindariku karena kejahatanku yang membuatnya takut setengah mati. Lalu, dia juga berbaik hati untuk menjelaskan pada anggota lain bahwa aku tidak salah. Saat itu kurasa aku-”

“Mulai memaafkannya?” Tiffany lebih dulu menyelesaikan ucapan Jessica.

Jessica menggeleng. “Dia tidak salah bukan? Bukan hanya pendapatnya yang membuatku dikeluarkan, itu pendapat kalian semua dan tingkahku yang kurang ajar, aku bukan memaafkannya. Yang ada aku yang membutuhkan maafnya dan membutuhkan maaf dari kalian.” Nada Jessica merendah di ujung kalimat, ia tertawa kecil sembari menghapus air mata yang menggenang di ujung mata.

“Kita sudah memaafkanmu Sica, percaya padaku. Kita sudah memaafkanmu,”

Jessica tersenyum getir, ia mencoba menahan kestabilan suaranya agar tidak terlalu bergetar dan berujar pelan, “Mungkin kau. Tapi, aku tidak yakin untuk anggota-”

“Eonni aku merindukanmu kau tahu? Cepat selesaikan desain baju untuk kita ok?” Pertama, suara Seohyun yang menyela ucapan Jessica.

“Hana…Dul…Set… Jung So Yeon we love you soo much, maaf untuk yang kemarin lusa ya?” Di sekon berikutnya Hyoyeon, Yuri, dan Yoona menyahut.

“YA Jessica, kalau kau mau maafku beri aku kupon gratis di butikmu. Bercanda hehehhe, aku memaafkanmu asal kau memaafkanku.” Lalu Sunny mengikuti.

“Maaf karena sudah menuduhmu Sica, kau mendapat maafku jika kau menerima maafku.” Kemudian suara Sooyoung mengudara.

Ekspresi Jessica berubah, antara senang, terharu, dan kebingungan. Dari mana asal suara teman-temannya itu muncul?

Dan Tiffany menunjuk ponselnya. “Aku mengaktifkan panggilan sedari tadi, mereka mendengar apa yang kau katakan. Semuanya.” Ucap Tiffany menjelaskan.

Perasaan Jessica bercampur aduk saat ini. Ia mencoba untuk tidak meneteskan air mata yang nyaris membobol pertahanannya. Tapi, Jessica belum sepatutnya merasa lega. Masih ada satu orang yang belum berbicara.

“Sica, kau tak membutuhkan maafku?” Suara Taeyeon keluar dari speaker ponsel dan menabrak gendang telinga Jessica.

“Aku membutuhkannya leader. Sangat.”

“Kalau begitu kau mendapatkannya.”

Kali ini air mata Jessica benar-benar berhasil tumpah. Tiffany sigap menenangkan perempuan pemilik nama asli So Yeon itu.

“Terimakasih,” Lirih Jessica berucap. “Terimakasih karena kalian telah menjadi teman terbaikku.” Ucap Jessica di antara isakannya.

***

Usai melewati acara yang menguras air mata, pertemuan Jessica dan Tiffany belum benar-benar berakhir. Mereka membicarakan sebuah topik yang masih menyangkut Taeyeon.

Perihal hubungan Taeyeon dan Baekhyun.

Cinta tak memandang umur. Menurut Tiffany itu memang nyata. Ia tak pernah mempermasalahkan Baekhyun yang lebih muda tiga tahun dari Taeyeon. Toh, hak semua orang untuk menyukai siapa saja.

Tetapi, lain hal jika meminta pendapat ke fans Baekhyun.

Tiffany meringis, ia bahkan tidak tahu Baekhyun cukup populer hingga mahasiswa lain mau repot-repot mengurus urusan pribadinya.

“Kabar Baekhyun menyukai Taeyeon cukup menggemparkan kampus. Bahkan, di mading tiap fakultas ada artikel tentang mereka.” Ucapan Jessica terngiang kembali di otak Tiffany, membuat perempuan itu harus menahan rasa mual. Apalagi ketika maniknya menangkap artikel di mading fakultas seni tentang hubungan karibnya dan lelaki bermarga Byun itu. Rasanya Tiffany akan muntah di tempat.

Sayangnya manik Tiffany tidak hanya menangkap artikel laknat itu. Maniknya juga menangkap post it yang tertempel di sekitar artikel. Post it berisi komentar.

“Taeyeon? Bukannya perempuan itu lebih tua dari Baekhyun?”

Komentar pertama masih terdengar biasa.

“Mati saja dia !!! Baekhyun hanya milikku.”

Selanjutnya mengundang kerutan di dahi Tiffany. Orang yang menulis ini terlalu percaya diri, pikir Tiffany.

“Dasar perempuan sampah, jangan-jangan prestasi Baekhyun menurun karena kau.”

Dan itu merupakan komentar terakhir yang di baca Tiffany. Perempuan itu mencabut artikel berjudul “hubungan Baekhyun dan Kim Taeyeon” kasar beserta komentar-komentar negatif lalu membuangnya ke tong sampah terdekat.

“Aku khawatir fans Baekhyun menyerang Taeyeon dan kupikir Baekhyun tidak mengetahui umur asli Taeyeon. Bagaimana kalau lelaki itu mengetahuinya? Masihkah dia menyukainya? Bisakah dia melindungi Taeyeon?” Pertanyaan Jessica berputar-putar di otak Tiffany.

Tiffany harus berbicara dengan Baekhyun. Apalagi, lima hari yang lalu ia tidak sengaja mendengar pernyataan Baekhyun ke Taeyeon. Alasan kuat mengapa Taeyeon menjauhi Baekhyun lima hari belakangan ini.

.
.
.
Tbc.

Advertisements

18 comments on “[FREELANCE] Important Sequence (Chapter 7)

  1. Aigoo poor taenggo gak di dunia nyata gak di dunia ff masih aja kyaknya disumpah2in oleh fans nya baekhyun, duhhh nasibmu nak….

  2. akhirnya hubungan jessica sama snsd baikan dan semua masalah clear.
    baekhyun gak keluar di part ini hahaha moga aja baekhyun gak berubah pas tau umur taeyeon. next chapter ditunggu 🙂

  3. Pingback: [FREELANCE] Important Sequence (Chapter 9) | All The Stories Is Taeyeon's

  4. Pingback: [FREELANCE] Important Sequence (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Pingback: [FREELANCE] Important Sequence (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s