[FREELANCE] Falling Crazy In Love (Chapter 2)

clip_image002_thumb1

[Freelance] Falling Crazy In Love Chapter 2

Author: FIVE

Rating: PG-17

Lenght: Multichapter

Genre: Romance, Drama

Main Cast: Kim Taeyeon

Kwon Jiyong

Support Cast: Temukan sendiri.

Disclaimer:

This is just a FanFiction. All the cast it’s belong to God, them selves and the parents.

Please, don’t be a PLAGIATOR.

Author Note:

Ff ini terinspirasi dari lagu Jessica falling crazy in love.

Jika ada kesalahan, mohon komentarnya. Karna komentar anda semua yang bisa menentukan

FF ini dilanjut atau berhenti di tengah jalan. Typo dimana-mana. Thankyou.

Preview: Chapter 1

*

*

*

“HYUNG!!!”

Pagi indah yang sudah terbayang di benak jiyong sejak malam menghampiri, menunggu pagi yang seakan malas menyapanyapun membuat jiyong tak sabar untuk menghadapi pagi harinya yang cerah ini. Namun semua kandas saat seorang pria dengan rambut pirangnya itu memasuki kamarnya, membuat jiyong mendengus kesal dan menatap si pria yang hanya menyengir pelan melihat jiyong yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk bajunya.

“wahhh aku dapat pandangan indah pagi ini, harusnya aku lebih pagi lagi jadi aku bisa mengabsen semua tatto tatto di badanmu itu hyung” ujarnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Jiyong yang sudah pasrah dengan semua tingkah seungri, pria yang dengan lancangnya masuk ke kamarnya pun hanya bisa mengehela nafas pelan dan bergumam kata sabar dalam hatinya berulang kali.

“kenapa kau datang huh?”

Seungri yang semulanya tersenyum manis menatap jiyong, perlahan tergantikan dengan tatapan khawatirnya “aku mengkhawatirkan mu hyung, kemana kau semalam eoh? Kau kabur begitu saja dari Club bahkan tanpa membersihkan wajahmu dari wine”

Selamam? Hanya satu kata namun berhasil membuat senyum Jiyong kembang dengan indahnya. Mengingat dimana ia menghabiskan waktunya dengan taeyeon, ah bolehkan ia sebut menghabiskan waktu? Karna pada faktanya jiyong hanyalah mengantar taeyeon pulang kerumahnya, dan langsung pergi saat yeoja itu sudah turun dari mobilnya. Percayalah bahwa awalnya jiyong sangat ingin mampir dan masuk ke dalam rumah kecil itu, tapi apa daya jika seseorang yang berkuasa penuh atas rumah itu sama sekali tak mengajaknya untuk masuk.

Jiyong bahkan masih ingat wajah merona yeoja itu saat ia berniat menggodanya, dan jangan lupa, jiyong sangat ingat dengan bibir tipis pucat yang juga ambil andil balas menggoda jiyong untuk mengecupnya, ah sadarlah kwon jiyong! Ini masih pagi, apa yang kau fikirkan!

“hyung? Roh mu masih di dalam ragamu bukan?” Jiyong tersadar dari lamunannya dalam hitungan menit, berjalan menuju kamar mandinya dan keluar dengan kemeja lengkap dengan kaus hitam dan celana panjang yang melekat pas di badannya.

“Kau bawa sarapan untukku bukan?”

Oh tuhan, seungri rasa ia harus sering sering berdoa untuk kesembuhan jiyong yang terlihat semakin aneh belakangan ini. Jiyong merangkulnya menuruni tangga menuju lantai dasar tepatnya dapur, dan tepat dimeja makan dimana seungri meletakkan dengan asal asalan sarapan yang biasanya setiap pagi dilewatkan jiyong. Seungri hanya membawa 2 buah sandwich karna biasanya jiyong sama sekali tak pernah menyentuh sarapannya. Ah seungri bahkan melupakan sesuatu, sejak kapan jiyong bangun pagi? Dan mandi pagi? Bukankah jiyong akan memulai aktivitasnya saat siang menyapa? Ada apa dengan pria ini? Dan satu hal yang baru seungri sadari…

“hyung kau mau kemana?” tanyanya saat dirinya sudah menduduki kursi tepat di depan jiyong yang sibuk membongkar isi palstik yang ia bawa.

Jiyong melempar satu buah sandwich penuh itu untuk seungri dan langsung membuka punyanya, dan berjalan tanpa menghiraukan seungri yang masih saja menunggu jawaban dari jiyong. Sebelum akhirnya jiyong kembali dengan dua gelas air mineral di kedua tangannya. Tatapan intimidasi yang ia terima dari seungri pun membuat jiyong mengangkat satu alisnya heran “wae?”

“yah! Hyung kau mengabaikanku!!!”

Haruskah pagi ini jiyong menghadapi tingkah ke kanak-kanakan seungri? “waeyeo? Jangan merajuk padaku! Ini masih pagi!”

“apa kalau malam aku boleh merajuk padamu?” seungri berkedip manja berusaha meggoda jiyong yang langsung saja memberikan tatapan membunuh untuknya.

Seungri yang menerima tatapan tak mengenakkan pun, ah bahkan tatapan itu membuat bulu kuduknya seketika berdiri dan meremang di detik berikutnya pun hanya memilih menyengir tanpa dosa “hanya bercanda hyung! Kau akan kemana?”

Jiyong meletakkan sepotong sandwich yang baru saja ia kunyah ke atas piringnya, meminum air mineralnya dan meletakkan tangannya bertopang dagu menatap seungri.

Seungri yang baru saja menyadari sesuatu yang aneh lainnya terjadi pada jiyong pun membuat seungri menyipitkan matanya, meneliti tubuh jiyong yang berbalun baju handuk dari atas hingga bawah “hyung, mau kemana sepagi ini? Tak biasanya hyung mandi”

Jiyong mendengus kesal mendengar celotehan seungri, tak biasanya? Apa ia pikir jiyong tak pernah mandi? Heol tentu saja ia harus mandi pagi ini, yang benar saja. “apa ada larangan untukku mandi pagi? Aku akan ke studio pagi ini, dan aku rasa mulai sore ini aku tak akan ke Club lagi”

Air yang baru saja mereda rasa haus seungri pun mendadak mendesak ingin keluar hingga airnya tersembur kedepan mengenai wajah jiyong yang menatap seungri dengan tatapan kau-akan-mati. “yah yah hyung, chamkamman, kau mau kemana nanti sore?”

“jangan mengintrogasiku karna aku tak akan memberitahu mu, bilang saja pada oemmaku kalau aku ingin belajar mencari inspirasi untuk proyek baruku” jiyong langsung berdiri dari duduknya dan hendak kembali ke kamarnya sebelum lagi lagi pria yang dari tadi sibuk mencerna perkataan jiyong pun tersadar dan mulai angkat suara “hyung, kau belum minum obatmu!”

“jangan menyebut kata obat sembarang pabboya! Semua orang akan mengira aku pria penyakitan yang umurnya hanya tinggal hitungan bulan!!!”

Seungri menggerutu pelan, yah memang umur jiyong tak ditentukan dengan obat itu, tapi… ayolah kesehatan jiyong sangat bergantung dengan obat-obat itu “hyung… minumlah maka kau aku izinkan untuk mendekati taeyeon noona”

“sejak kapan dia jadi noonamu?”

“SEJAK KAU TERGILA-GILA PADANYA!!!”

***

“ahhh bagaimana aku bisa pulang? Bus lagi?”

Taeyeon, yeoja yang baru saja selesai dengan semua surat surat penting yang ia urus untuk keperluan penerbitan majalah tempat perusahan dimana ia bekerja pun hanya bisa merenggangkan kedua otot otot tangannya yang mendadak kaku saat ia tengah mengetik di depan komputernya beberapa detik yang lalu. Awalnya taeyeon berniat untuk menumpang bersama dengan rekan kerja yang lain, tiffany ataupun yuri, namun naasnya, kedua yeoja itu tak bisa di ganggu gugat jika esok adalah weekend. Yap kencan. Apa lagi yang akan di lakukan mereka berdua di hari libur jika tidak menghabiskan waktu mereka dengan pacar mereka. Dan tentu saja, hal itu membuat taeyeon mendengus kesal, dalam hati ia mengejek kedua temannya itu, mereka lebih mementingkan pacarnya dari pada bagaimana taeyeon pulang ke rumah kecilnya.

Dengusan kesal terus mengiringi taeyeon yang masih saja sibuk mengumpulkan semua peralatan kerjanya, tak banyak memang. Mematikan komputernya, mengumpulkan berkas yang akan ia berikan ke ‘pria tua’ itu dalam 3 hari ke depan, dan juga beberapa alat tulisnya. Taeyeon yang memang hanya membawa tas persegi panjang layaknya dompet ukuran jumbo tanpa tali itu tak memasukkan banyak barang kesana. Hanya ponselnya dan beberapa kertas yang ia lipat agar bisa masuk ke dalam sana, dan buku buku kecil yang nanti hanya bisa ia tenteng.

Jam menujukkan angka tepat pukul 6 sore, membuat taeyeon lagi lagi hanya bisa mendengus kesal. Itu tandanya, bus akan ramai dengan orang orang yang senasib dengannya, pulang dari kantor. Tak masalah jika ia masih punya dompetnya yang berharga yang tadi malam ia jatuhkan itu, namun semuanya berubah saat dompet yang bisa menjadi penyelamat taeyeon hari ini menghilang saat pencarian pria tua itu semalam. Semua uang dan kartu kartu taeyeon berada di dalam sana, dan juga foto masa kecilnya. Bisanya jika ia pulang kerja taeyeon akan menaiki taksi agar bisa cepat sampai dirumahnya, namun kali ini.. taeyeon sepertinya harus rela berdesak desakan dengan orang ramai di bus. Seperti tadi pagi saat berangkat ke kantor. Bukannya taeyeon malas atau apa, hanya saja. Postur tubuhnya yang kecil, terjepit di kerumunan orang dengan postur tubuh jauh di atasnya membuat nafas taeyeon sesak dan itu artinya di rumah ia harus menghirup tabung oksigen kecil yang biasanya digunakan untuk orang penyakit asma. Dan itu sangat melelahkan.

Belum lagi tenaga taeyeon yang saat ini hanya tinggal seperempatnya saja. Faktor karna pekerjaannya banyak tak hanya menjadi satu satunya alasan taeyeon kehilangan tenaganya. Faktor lainnya karna semalam ia kurang tidur. Matanya yang benar benar lelah mendadak tak bisa memejamkan matanya untuk jam jam berharga yang tersisa untuknya. Matanya lebih memilih berkompromi dengan otaknya untuk memikirkan pria gila itu.

“kau milikku…..”

Seketika, suara namja yang tadi malam mengantarnya pulang itupun mendadak memenuhi pikiran taeyeon. suaranya, mimik wajahnya, auranya, dan lebih gilanya lagi, taeyeon langsung ingat dengan aroma parfum pria itu yang entah sejak kapan bisa diingatnya mengingat taeyeon memiliki predikat dengan tingkat pelupa di atas rata-rata.

“aish tidak, tidak lupakan!” Baiklah, tak ada gunanya ia terus memikirnya pria itu, akan jauh lebih baik jika taeyeon bergegas untuk pulang kerumahnya dan menikmati hari weekendnya untuk tidur. Taeyeon meraih tasnya, menggengamnya dan melangkah gontai keluar dari ruangannya. Menaiki lift yang berisi 6 orang di dalamnya, dan lagi lagi taeyeon hanya bisa menghela nafas pasrah saat melihat muatan lift itu dan masuk ke dalamnya. Hingga beberapa menit berlalu taeyeon sudah menapakkan kakinya di lantai dasar gedung tempat ia bekerja.

“aku akan menjemputmu besok, dan jangan kabur dariku karna aku… bisa menemukanmu dimanapun kau berada”

Lagi lagi, suara pria bernama jiyong untuk memenuhi pikiran taeyeon, membuat taeyeon menghentikan langkahnya tepat di depan pintu keluar gedungnya. Ini gila! Bagaimana bisa pria itu berbicara seenak hatinya? Menemukan? Yang benar saja!

Taeyeon tertawa pelan, menertawakan kebodohannya yang mengira jika namja itu benar benar akan menjemputnya. Tidak mungkin bukan? Ia dan jiyong, ah biarkan taeyeon menyebut nama pria itu untuk saat ini, tidak saling kenal. Sekalipun mereka sudah berkenalan semalaman, ah tidak, hanya jiyong yang mengenalkan dirinya ke taeyeon, dan pria itu membuat taeyeon melongo karna ia tau semua biodata tentang taeyeon, dan taeyeon rasa ia sama sekali bukan idol atau seseorang dengan jabatan tinggi di kantornya yang menyebabkan identitas pribadinya akan terbongkar di hadapan orang banyak.

Dengan kepercayaan yang tinggi bahwa jiyong tak akan menemukan kantornya pun, taeyeon melanjutkan langkahnya keluar dari pintu gedungnya. Dan benar saja, tak ada mobil putih yang semalam taeyeon lihat. Taeyeon menghela nafas lega saat taeyeon matanya sama sekali tak menangkap sesuatu yang berbau jiyong di sana.

Taeyeon menghembuskan nafas leganya dan mulai berjalan kekanan jalanan, menelusuri trotoar di pinggir jalan, dan detik berikutnya, taeyeon menghentikan langkahnya dan melongo menatap ke arah depannya. Mata taeyeon membesar kaget. Ayolah, apa taeyeon baru saja mengkhayalkan sesuatu? Hingga ia melihat dengan jelas pria yang berdiri tepat di depannya ini? Atau ini hanya kerjaan otaknya yang ingin mengerjainya hanya karna taeyeon selalu memikirkan pria ini semenjak kejadian tadi malam.

Pria dengan topi yang menutupi rambut silver yang tadi malam taeyeon lihat pun sama sekali tak membuat taeyeon melupakan sedikitpun postur tubuhnya. Mendadak jantung taeyeon berdebar tak karuan, ayolah. Ia benar benar takut sekarang. Dan ia sangat yakin seribu persen jika yang tengah berdiri beberapa senti di depannya ini memanglah Kwon Jiyong. Pria yang mengantarnya pulang. Taeyeon yakin jika ia tidak sedang berkhayal atau taeyeon tengah dikerjai oleh sistem otaknya yang error. Pria ini nyata.

Taeyeon menghambuskan nafasnya pelan pelan, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang semakin lama semakin berlomba tak karuan. Taeyeon tak tau kenapa jantungnya memilih berdebar semakin keras dari detik ke detik. ‘tenang Kim Taeyeon, dia bukan pembunuh, kenapa aku malah takut padanya?’ dan lagi, yeoja dengan postur mungilnya itu kembali meyakinkan dirinya.

Apa yang bisa ia lakukan sekarang? Taeyeon benar benar bingung. Hari akan semakin sore dan tentu saja bus sialan itu akan semakin penuh. Dan lagi, jangan gila. Satu satunya jalan menuju halte bus terdekat yang melewati jalanan dimana pria itu berada. Jika taeyeon memilih belok kiri, tentu saja halte bus berada sangat jauh dari sini. Dan taeyeon hanya bisa kembali merutuki dompetnya yang hilang! Andai saja dompetnya masih berada di kedua tangannya yang tentu saja ia akan bisa melarikan diri dari jiyong dengan menaiki taksi yang entah kenapa hari ini banyak berlalu lalang di depannya.

Dengan pertimbangan yang cukup, taeyeon memutuskan untuk berbalik dan menempuh jalur kiri, yah lebih baik ia menghindari jalur kanan dengan jiyong yang masih berdiri di samping mobilnya dengan fikiran fokus ke arah pandang ponselnya. Yah taeyeon bisa memohon nanti pada heechul agarr mau menjemputnya dan taeyeon akan menggunakan berjuta cara agar pria pemarah dan pemalas seperti heechul mau menjemputnya.

Baru saja taeyeon membalikkan badannya dan hendak melangkah untuk kabur ah bukan, ia tak kabur, ia hanya ingin menghindar. Tidak salah bukan? Namun suara yang semalam menyapanya, suara yang selalu memenuhi gendang telinganya seharian ini membuat taeyeon menghentikan langkahnya dan berdiri kaku di tempat tanpa berani membalikkan badannya.

“jangan kabur dari ku, naik ke mobil ku dan kau tak akan menyesal dengan apa yang akan kuberikan padamu” jiyong tau, tentu saja. Jiyong tau jika taeyeon berdiri disana beberapa menit yang lalu dan yeoja itu menatapnya dengan tatapan ragu, bingung, kaget, dan… bolehkan jiyong tak menyebutkan alasan lainnya? Yah yeoja itu menatapnya dengan tatapan takut. Membuat ulu hatinya sedikit nyeri. Ayolah, sekalipun jiyong tak melihatnya karna jiyong hanya ingin taeyeon menghampirinya dengan sukarela dalam kata lain, jiyong tak menghampirinya, tetapi yeoja itu yang datang dengan sendirinya padanya, tapi ah sudahlah. Jiyong rasa ia terlalu berharap untuk itu, karna taeyeon tak akan pernah menghampirinya, dan dilihat dari sudut matanya, jiyong bahkan tau bahwa yeoja itu berusaha untuk menghindarinya.

“jangan gila! Aku tidak mengenalmu!” ujar taeyeon gugup, ah bahkan sekedar membalikkan badannya ia seakan akan tak punya tenaga.

Jiyong tersenyum tipis, yah alasan yang logis bukan untuk menghindari orang asing sepertinya yang tiba tiba saja datang dan bilang bahwa taeyeon adalah miliknya? Yah siapa yang tak takut dengan ucapan jiyong semalam. Untuk pria yang sama sekali tak dikenal taeyeon, jiyong termasuk dalam kategori kurang ajar, dan dalam hati jiyong membenarkan apa yang dibilang oleh kedua sahabatnya itu, kedua pria yang usianya tak jauh berbeda dengan jiyong. Kedua pria yang selalu memberinya saran, dan jiyong tak mendengarkan mereka untuk saran yang mereka berikan untuk tidak mendekati taeyeon terlalu terburu-buru. Jiyong tetaplah jiyong, karakternya yang sangat keras kepala itu tetap saja tak mau mengakuinya dan tetap mendekati taeyeon.

“bukankah sudah kubilang? Aku Kwon Jiyong. Cepat naik sebelum aku mengendongmu ke dalam mobilku”

“hahahahaha lakukan sesukamu! Aku tidak mau dan berhenti memerintahku!” taeyeon kembali melanjutkan langkahnya, tanpa memperdulikan jiyong yang mengikuti langkahnya di belakang sana dengan diam. Tangannya ia masukkan ke dalam sakunya untuk mempernyaman langkahnya mengikuti taeyeon yang sepertinya tak ambil pusing dengan jiyong di belakangnya, dan jiyong mendapatkan ide saat tangannya menyentuh benda bernama dompet yang ia sembunyikan di dalam sana, dompet. Ah dompet taeyeon.

“kau tak mau dompetmu kembali?”

Gotcha! Jiyong benar. Taeyeon langsung saja menghentikan langkahnya dan berbalik menatap jiyong dengan tatapan menyelidik. Jiyong tak masalah dengan tatapan itu, tapi jantungnya berbedar hanya karna tatapan yang biasa di layangnya seseorang kepada pencuri. Bukankah jantungnya terlalu berlebihan dalam bertindak? Jiyong tau jika taeyeon tengah menatapnya saat ini, tapi haruskan jantungnya sesenang ini hanya karna tatapan itu? bukankah ini sangat berlebihan?

“m…mwo?”

“baiklah aku buang saja kalau beg…” jiyong berbalik dan hendak meninggalkan taeyeon yang masih saja diam di tempatnya. Melanjutkan langkahnya dengan santai dan berpura pura tak peduli dengan taeyeon yang masih saja diam di tempatnya saat ini. Percayalah bahwa di dalam hati jiyong terus bergumam agar taeyeon mengikutinya.

“chamkamman!!!” dan sepertinya, jiyong beruntung untuk saat ini. Taeyeon mengikutinya dan berusaha keras menyamai langkahnya dengan jiyong. Bahkan taeyeon sudah berjalan mengikuti langkahnya di samping jiyong. Kakinya yang tak bisa dibilang panjang itu membuat jiyong sedikit memperlambat langkahnya agar taeyeon bisa menyamai langkahnya dan berjalan berdampingan dengan taeyeon di sebelahnya. Hanya hal kecil, hanya taeyeon yang berjalan di sampingnya dan hanya karna hal kecil ini membuat jiyong bahagia, sangat bahagia, sekalipun ekspresi bahagianya berhasil ia sembunyikan dengan rapi di dalam ekspresi datarnya.

“dimana dompetku?” tanya taeyeon. ayolah, taeyeon sudah berusaha untuk bersabar hingga ia mengikuti jiyong sampai di samping mobilnya yang masih terpakir di tempat awal, di pinggir trotoar dimana ia menyandarkan tubuhnya tadi di sana.

“didalam mobilku” sahut jiyong cuek, membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam. Membuka kaca mobilnya dan menatap taeyeon yang masih diam di depan pintu jiyong. Ayolah, ia tak akan meculik taeyeon, kenapa yeoja itu sangat takut padanya?

“kembalikan! Ahh atau kau akan kulaporkan karna kau sudah me..” ujarnya. Ia mencoba untuk tidak gugup, tapi tetap saja. Suara taeyeon terdegar sedikit gugup dan dengan tangannya yang menggenggam erat tas tangan yang ia jinjing dari tadi.

“tunggu, apa ada penculik yang mengembalikan barang yang ia curi?”

“kau akan menjadi orang satu satunya kurasa!” oh taeyeon. ia rasa otaknya tengah miring sekarang, bagaimana jika pria itu tak mau mengembalikan dompetnya? Astaga isi di dalam sana terlalu berharga untuknya. Bukan cuman uang dan beberapa kartunya, ah foto orang terdekatnya juga bersemayam di dalam sana. Dan taeyeon tak mau kehilangan benda benda itu.

“apa ini yang aku dapat setelah menyelamatkan dompet seseorang? Baiklah aku buang saja kalau begitu! Selama sore” baiklah, jiyong menyerah untuk hari ini. Matanya menagkap raut wajah ragu dan takut tercetak jelas di wajah yeoja ini. Dan ini sudah kedua kalinya ia melihat tatapan itu dilayangkan taeyeon untuknya dalam hari yang sama. Jiyong tak akan memaksa atau mengamcam taeyeon lagi. Dengan sedikit kecewa, jiyong menaikkan kaca mobilnya, belum sempat kaca itu menutup sepenuhnya, telinga jiyong mengangkap suara yang ia yakini keluar dari mulut taeyeon.

“ah tunggu, jiyong-ssi”

“wae? Mau dompetmu kembali? Kalau begitu naik kemobilku sebelum aku menjalankannya” tutur jiyong pelan, dan akhirnya kaca mobilnya kembali ia tutup.

Dan, oh Tuhan, bolehkan jiyong bersyukur untuk saat ini? Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri taeyeon yang berjalan dengan pelan mengitari mobilnya dan masuk dengan sendirinya ke tempat duduk di samping kemudi. Duduk diam dan memasang setbeltnya dalam diam. Jiyong berjanji jika ia sampai di apartemennya nanti ia akan menandai kalender hari ini sebagai hari terbahagia dalam hidupnya. Ah atau bolehkah jiyong berharap jika ini awal dari semua kebahagiaan yang akan menghampirinya? Jiyong sepertinya akan menyukai kalimat habis gelap terbitlah terang, mengingat hidup yang selama ini ia jalani sangat jauh dari kata terang atau kita singkat saja bahagia.ini kemajuan yang lumayan pesat. Taeyeon memasuki mobilnya sendiri tanpa jiyong tarik.

“dimana dompetku?” tanya taeyeon ketus, ah nada suaranya sangat jelas kentara jika ia benar benar kesal saat ini. Dan jiyong baru saja tersadar jika taeyeon memasuki mobilnya karna dompetnya, bukan dengan sendirinya, dan yah… jiyong tak akan menandai kalender di apartemennya hari ini.

Tenang jiyong, tenang. Dengan tarikan nafas panjang, jiyong mulai menjalankan mobilnya perlahan membelah jalanan kota Seoul di sore hari yang sangat padat ini. Yah ini jam pulang, tak ada yang bisa dilakukan oleh jiyong dengan mobil berkecepatan tingginya itu jika saja jalanan seramai ini “kau akan kemana setelah ini?” baiklah, tak ada salahnya jika jiyong mencoba untuk mencairkan suasana yang terkesan sangat diam dan canggung itu, bukan bukan. Jiyong sama sekali tidak canggung, hanya saja ia rasa yeoja yang duduk di sampingnya itu benar benar sangat canggung.

“tentu saja pulang, kembalikan dompetku! He..hei… kenapa kau megunci pintunya!” protes taeyeon. matanya yang dari tadi sibuk menatap jalanan ramai di luar sana mendadak kaget saat suara pintu terkunci otomatis yang berada di sebelahnya. Taeyeon menatap jiyong yang sibuk dengan stir kemudinya dengan tatapan penuh konsentrasi menatap jalanan. Tak ada yang istimewa yang dilakukan pria itu, ia sama sekali tak tersenyum atau menatap taeyeon, tapi entah kenapa lagi lagi jantungnya berdegup kencang. Oh ayolah apa taeyeon mendadak menderita penyakit jantung? Ada apa dengan jantungnya?

“kau mau kita mati? Aku sedang menyetir dompetmu ada di saku kananku, jika kau mau kau ambil saja sendiri!”

Blush. Pipi taeyeon mendadak memerah malu. Yang benar saja, pria itu menyuruhnya untuk mengambil sendiri di dalam saku celananya? Bukankah itu berarti taeyeon akan menyentuh pria itu? ah apa kata menyentuh pas untuk ia gunakan?

“kau membohongiku? Kau bilang tadi di dalam mobilmu! jangan gila! Mana mungkin aku menyentuhmu!” tanpa ada kompromi dari otaknya, taeyeon langsung saja bersuara dengan sangat lantang. Dan di detik berikutnya taeyeon merutuki mulutnya yang dengan seenak hatinya berucap kata yang menurut taeyeon, yeoja yang sama sekali belum pernah berpacaran atau melakukan skinsip atau apapun dengan pria lain di luar sana sangat sangat vulgar.

“jika tidak kau tak akan naik mobilku? Aku benarkan? Dan aku tak minta untuk kau sentuh taeyeon-ssi, tapi jika kau mau menyentuhku… tak masalah kuarasa” jawab jiyong datar, dan lagi lagi jiyong berhasil dengan sempurna menyembunyikan senyum merekahnya tatkala manik matanya melirik ke arah taeyeon, yah tepat di saat ia menggoda taeyeon dan pipinya yang pucat kembali berwarna, tepat saat kemarin malam. Saat jiyong mengelus pipi taeyeon, dan dengan bodohnya jiyong berpura pura tak tau bahwa yeoja itu malu dengan perlakuannya.

“byuntae!” sungut taeyeon. matanya kembali menatap jalanan yang semakin ramai itu, matahari yang sebelumnya meninggalkan warna orange bersinar sekarang mulai berganti warna. Saat malam mulai menyapa dan udara malam semakin mendingin, ah jangan lupa bahwa sepertinya musim dingin akan segera menyapa di bulan ini.

“shireo? Makanya diam saja dan aku nanti akan mengembalikan dompetmu itu!” jiyong kembali angkat suara saat beberapa menit berlalu dengan keterdiaman. Dan yang benar saja, usai berbicara, di menit berikutnya taeyeon benar benar diam dan tak mengeluh sekalipun. Membuat jiyong penasaran dan menatap sekilas yeoja yang terlihat sangat sibuk menatap jalanan sana, dan jiyong sangat yakin jika yeoja itu tengah memikirkan sesuatu, sesuatu yang jiyong rasa bukanlah hal yang menyenangkan yang akan membuat hati yeoja itu bahagia, tatapan matanya terlihat kosong, dan terbesit rasa kekecewaan di dalam manik mata coklatnya itu. dan yang pasti, jiyong sangat ingin mempunyai kemampuan untuk bisa menebak pikiran seseorang untuk saat ini, ah tidak semua orang. Ia hanya ingin kemampuan itu bisa ia pakai untuk menebak pikiran yeoja itu.

Bodoh memang, jika semalam taeyeon terus saja bergumam jika jiyong bisa membaca pikirannya. Karna pada faktanya jiyong sama sekali tak punya kemampuan itu, ia hanya bisa menebak sedikit apa yang dipikirkan yeoja itu melalui ekspresi wajahnya. Dan beruntungnya jiyong, apa yang ia tebak selalu benar.

Jiyong kembali fokus dengan jalanannya. Yah untuk sekedar mencairkan suasana. Tangan jiyong terulur menyentuh pemutar musik yang berada tak jauh dari jangkauan tangannya. Memutarnya dengan volume yang sedikit jiyong keraskan.

“bukankah ini lagu yang sering yuri putar? Judulnya apa? dan hei.. kenapa suaranya berbeda?” jiyong hampir saja berteriak kaget saat taeyeon tiba tiba saja bertanya tanpa henti padanya.

“yuri? Ah teman satu kantormu itu? kau menyukainya? Bukankah kau suka musik barat?” ayolah, setau jiyong taeyeon tidak terlalu tertarik dengan musik pop asal kota mereka, taeyeon lebih suka lagi yang berasal dari luar sana. Dan yah ada beberapa lagu korea yang taeyeon sukai, dan jiyong yakin 100% itu bukan lagu yang tengah ia putar ini.

“woah kau benar benar menggerikan jiyong-ssi, kau tau semuanya tentang ku? Tapi sepertinya kau salah kali ini, aku akhir akhir ini sangat menyukai lagu ini”

Menyukai lagu ini? Menyukai lagu ini? “jinjja?”

“wae? Kenapa kau terkejut?”

“keundae wae? Waeyeo? Bukankah kau suka lagu ba…”

“apa perlu alasan untuk menyukai lagu ini? Aku suka liriknya dan aku rasa penulis lagu ini benar…” astaga taeyeon, apa yang baru saja kau bicarakan? Taeyeon kembali merutuki mulutnya yang entah kenapa bisa berbicara panjang lebar pada pria di sampingnya ini. Jujur saja, biasanya taeyeon memerlukan waktu yang lama untuk mulai akrab dengan orang, tapi kenapa ia bisa ah biarkan taeyeon berkata bahwa mereka terlihat akrab saat ini. Bertengkar karna lagu, berdeba dan lainnya. Taeyeon rasa ada yang salah dengan sistem kerja otaknya.

“kenapa berhenti? Ada apa dengan penulisnya?” tanya jiyong, entahlah. Mendadak jiyong merasa sangat senang malam ini, ah karna yeoja ini mulai terbuka padanya? Ah apa boleh ia sebut ini perkembangan? Dan juga karna…

“ah molla! Aku menyukai penulis lagu ini”

“kau tau orangnya siapa?”

“tidak, hanya saja aku rasa penulisnya benar benar bagus dalam menulis lagu”

“apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan penulis lagu ini?”

Taeyeon bertanya dengan wajah bingungnya menatap jiyong yang masih saja fokus menyetir. Taeyeon yakin ini bukan arah kerumahnya, dan kenapa dengan bodohnya taeyeon baru saja menyadarinya? “kita akan kemana?”

“kemana lagi, tentu saja ke sungai han.. bukankah hari ini biasanya kau kesana sebelum pulang?”

“apa aku benar benar seorang artis? Bagaimana bisa aku mempunyai sesaeng fans seperti dirimu!!!”

Jiyong tersenyum, ah bukan taeyeon yakin jika itu bukan senyuman, melainkan sebuah smirk. Ah dan bodohnya taeyeon, ia sempat terlena dengan smirk yang dikeluarkan namja itu.

“aku anggap itu pujian, well… aku masih penasaran dengan apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan penulis lagu tadi”

Taeyeon menghela nafas kasar, percuma. Ia yakin semuanya akan percuma pada akhirnya. Ia tak mungkin bisa menghentikan pria yang taeyeon yakini sangat keras kepala, pemaksa, dan hei pria yang selalu saja membuat jantungnya berdebar bahkan tanpa ia melakukan apapun. Ini gila! Taeyeon tak mungkin menyukai pria yang baru semalam ia temui kan? Tak mungkin kan? Dan bukankah ia terlihat seperti gadis murahan? Dan hei… kenapa taeyeon baru menyadarinya sekarang? Kenapa ia dengan bodohnya mau mengikuti semua kemauan pria itu? dompet? Ah taeyeon bisa saja mendapatkan dompetnya jika ia mengadu pada polisi setempat.

“kau tau… aku baru saja menyadari sesuatu”

“mwondeyeo? ahh aku masih menunggu jawaban atas pertanyaan ku tadi” jiyong mengangkat bahunya acuh tak acuh, dan menghentikan mobilnya saat ia melihat lampu merah menghiasi palang rambu rambu di depan sana. Dan lagi lagi, jiyong untuk pertama kalinya tak mengumpat pada rambu rambu lalu lintas yang menghentikan laju langkahnya. Jiyong berubah secara instan hanya karna taeyeon yang duduk di sampingnya. Yah, jiyong bisa menatap yeoja itu untuk sesaat sebelum rambu rambu itu kembali berubah warna menjadi biru.

“bukankah aku terlihat seperti gadis murahan? Aku mengikuti orang yang tak kukenal, berada di mobil bersamanya dan dia membawaku entah kemana…”

Senyum jiyong mendadak pudar saat mendengar kata tak ‘kukenal’ yang kembali keluar dari mulut taeyeon. ah sadarlah kwon jiyong, tentu saja. Ia baru saja mengenalmu kemarin. Apa yang ia harapkan? Tapi jiyong sama sekali tak bisa mempungkiri bahwa ia merasa sakit saat taeyeon berucap kata itu padanya. Jiyong yang semula sangat bersemangat untuk mendengarkan jawaban taeyeon pun kembali menatap jalanan dengan pandangan kosong. “sudah ku bilang padamu, namaku kwon jiyong” jawab jiyong pelan, dan terkesan dingin. Ah jiyong sudah tak bisa lagi menyembunyikan ekspresinya dengan baik. Jika itu ekspresi bahagia, maka jiyong akan bisa menyembunyikannya, tapi tidak dengan kekecewaan. “apa sesulit itu menerima ku? Kau hanya perlu menerima kehadiranku, kau tak harus memahamiku, dan kau tak harus berfikir…”

Apa taeyeon salah bicara tadi? Kenapa pria itu mendadak berubah? Pria ini benar benar berubah. Dan taeyeon rasa ia benar benar salah bicara. Tapi dimana salahnya? Bukankah benar jika taeyeon tak kenal pria ini? Ah bodoh! Bukannya tak kenal, aku kenal dengannya hanya saja aku tak begitu mengenalnya.

“kau mau jawaban apa dari ku?” dan lagi lagi, taeyeon kembali merutuki mulutnya yang seenak nya sendiri berbicara tanpa membiarkan otaknya berfikir.

Jiyong terdiam beberapa detik, dan mulai tersadar saat bunyi klakson mobil yang berada di belakangnya berbunyi, membuat jiyong kembali menekan pedal gasnya. Tidak dengan pelan seperti semula, jalanan yang mulai sedikit lengang membuat jiyong bisa menekan dengan sedikit dalam hingga mobilnya berjalan lebih cepat dari tadi, tanpa menyadari bahwa taeyeon baru saja terkejut dengan kecepatan jiyong mengendarai.

Tak ada balasan dari jiyong dan sunyi kembali menyapa mobil itu. ah tidak tidak, musik disana masih terus berputar. Kali ini dengan lagu lama yang sama sekali tak taeyeon ketahui judulnya bahkan penyanyinya siapa, sebelum akhirnya mobil itu menepi di pinggir jalanan.

Taeyeon yang menyadari kemana pria itu membawanya pun kembali terdiam. Matanya menatap keluar mobil dengan pandangan bingung. Benar. Ia benar benar di tempat ini. Dan detik berikutnya taeyeon menatap jiyong yang sama sekali tak menatapnya dengan tatapan penuh arti.

“turunlah, jika kau mau aku mengantarmu pulang setengah jam lagi” jiyong mematikan mesin mobilnya, membuka topinya dan mulai membuka pintu mobilnya, melangkah keluar tanpa menoleh sedikitpun menatap taeyeon.

Taeyeon mulai menggerakkan tangannya yang entah sejak kapan kelu, bahkan sekedar untuk membuka pintu di depannya. Hingga akhirnya pintu mobil itu terbuka, dan taeyeon dengan tatapan kosongnya mulai melangkah menghampiri jiyong yang berdiri tepat di depan mobilnya. Dan taeyeon yang mulai diam setelah ia berdiri beberapa langkah di samping jiyong. Hanya beberapa langkah, tak begitu jauh dan tak begitu dekat.

Tempat ini… tempat ini berhasil membuat taeyeon diam terpaku dan tak sanggup untuk berucap. Hanya tempat sederhana yang siapa saja bisa berkunjung kesini, hanya saja.. tempat ini menyimpan kenangan untuk taeyeon, kenangannya dengan seseorang yang sangat sangat sangat ia sayangi dan ia cintai. Dan taeyeon ingat jika ia sudah tak kesini lagi semenjak 3 minggu yang lalu. Tempat yang jika ia tetap diam disini selama sejam lagi akan sangat indah dengan lampu lampu serta air air yang menari. Yah sungai Han.

“kau sudah jarang kesini”

Suara tenang jiyong menyapa indra pendengaran taeyeon, membuat taeyeon mau tak mau mengalihkan perhatiannya menatap jiyong yang masih saja menatap lurus kedepan. “apa ada hal yang tak kau ketahui tentang ku jiyong-ssi?”

Baiklah, taeyeon rasa jiyong benar benar sangat mengejutkan. Ia tau tempat ini dan tau jam berapa taeyeon akan mengunjungi tempat ini. Bahkan tiffany, yuri, dan heechul tak tau mengenai tempat ini. Ah bukan begitu. Hanya saja taeyeon selalu mengunjungi tempat ini dengan orang itu, orang yang sangat berharga baginya, dan orang yang tak akan bisa datang ke tempat ini lagi. Dan yang lebih mengejutkan lagi, jiyong tau bahwa taeyeon kesini untuk melihat keindahan sungai han, bukan untuk melihat lampu lampu menari yang beberapa jam lagi akan hidup.

“terkejut?”

“kau benar benar…”

“gila?” sambung jiyong dingin, ia menolehkan kepadanya menghadap taeyeon yang masih betah menatapnya. Sebelum akhirnya taeyeon berdeham pelan dan melepaskan tatapan matanya dari jiyong, menatap ke arah depan “aku tidak bilang kau gila”

“bukankah kau sering menyumpahiku gila di dalam hatimu?”

“kwon jiyong-ssi, aku benar benar penasaran… apa otakmu se transparan itu?”

“tidak, yah kau benar… kurasa aku benar benar gila… crazy

“maafkan aku, aku tidak bermaksud menyumpahimu, hanya saja kau benar benar membuatku bingung, kau tiba tiba datang, bilang bahwa aku milikmu” taeyeon menundukkan kepalanya, menatap sepatu kets putihnya yang semakin lusuh.

Something about how I’m feeling inside, There’s something about the way that you smile…” ujar jiyong pelan, sangat pelan bahkan nyaris seperti bisikan.

“ne?” ah taeyeon rasa ia baru saja mendengar jiyong mengucapkan sesuatu, hanya saja ia tak mendengarnya dengan baik kalimat itu. dan taeyeon berharap jiyong mau mengulangi kalimatnya. “kurasa kau baru saja berbicara pad…”

I’m falling…”jiyong menghela nafas berat, matanya mulai tak fokus. Dan jiyong rasa ada magnet yang melekat dan tersembunyi pada diri taeyeon hingga ia benar benar tak bisa untuk mengabaikan bahkan berusaha untuk tak melihat taeyeon gagal. Yah jiyong tak bisa melakukannya. “I’m falling for you…” sambung jiyong. Matanya mulai menatap mata coklat taeyeon yang juga balas menatapnya dalam. Degupan jantung mulai memenuhi rongga dada jiyong. Tidak. Jiyong tak boleh seperti ini. Ia harus segera menyelesaikan kalimatnya, ia berusaha tak peduli pada apapun yang akan terjadi setelahnya.

falling crazy in love…”

*

*

*

*TO BE CONTINUE*

Maaf atas keterlambatan publish ff ini. Ada satu hal yang terjadi yang membuat ku benar benar drop. Maaf membuat kalian menunggu (kalau ada yg nunggu). Dan terimakasih atas komentarnya di Chapter satu. Melebihi ekspetasi aku. Gomawo L *HUG* *KISSKISS* *BOW*

Advertisements

44 comments on “[FREELANCE] Falling Crazy In Love (Chapter 2)

  1. Kerrrrrreeeennnnn,
    emg taeyeon sering kesana ama siapa, dan kenapa jiyoung bisa tau semua ttg taeyeon..
    next chap jgn lama2 saeng, fightaeng!!!

  2. dihhh waeeee to be continue di waktu yang tidak tepattt arghhh …. aku sudah menunggu lama tapiii ff ini serasa sangat singkat.. i need more pleasseee !!!
    wo xihuan ni authornimmmmm kekekee

  3. Kecewa daku kecewa tbc memisahkan siapa yg menciptakan tbc aaaaa gagal fokus jadinya nggak harusnya ceritanya lanjut😭😭😭😭 udah mulai mendalami momentnya wat tbc memisahkan keren harus cepet apdetnyaa😂😂😂😂 semangaaat

  4. Akhirnya penantian ku buat ff ini tebayar
    Aaaaaaaaa itu tanggung tbc nya thorrrr
    Beneran itu tanggung ihhhh
    Huaaaa suka suka suka banget sama ff ini ya ampunnn
    Thor update nya jangan lama2 ya 😊
    Penasaran sumpah sumpah sama ff ini

  5. Penasaran apa sbnernya jiyong dan taetae itu prnh ada hubungan, atau emang murni krna jiyong suka ngestalk taetae jd jiji tau semua ttg taetae

  6. Wah keren thor tapi kasian gd kudu sakit muli gara-gara taeng kaga kenal sama dia
    btw udah ga sabar nunggi next chapnya hehe pokokmya ditunggu thor

  7. Daebak thor
    GD oppa kok bisa tahu semua tenteang tae eonni yha ? emang apa yang terjadi sama mereka dulunya ? GD oppa juga kasihan lihatnya gara-gara tae eonni nggak ingat dia 😦
    Next chapter ditunggu thornim
    Fighting 😀

  8. Sumpahyaa di sini banyak banget teka tekinya kan ku jdi penasaran kaka 😂😂 jiyoung apalagi sepertinya banyak lagi hal hal mengejutkan diri seorang kwon jiyoung😘😘 sua gregetan serius kenapa makin ke sini makin penasaran huhuhuhu ditunggu next part nyaa kaaa semangat terus yakk !!💪💪💪

  9. Daebak
    Bagus, bagus
    Suka,suka.
    Jiyong stalker bgtttttt, untung ganteng wkwk. Ganteng aja takut apalagi … ah sudah lah wkwk
    next, update soon. Fighting

  10. Arrghhhhh kezelllllllll
    kenapa harus tebece TT
    duh jiyong knapa tuh ? Knapa hrs minum obat sgala ?? Hmmm
    ayolah taenggg terbuka sedikit pls pada jiyongg u,u
    nexttttt

  11. penasaran kenapa jiyong bisa semua tentang taeyeon? apa jiyong ternyata pernah ada hubungan sama taeyeon di masa lalu? pokonya next chapter ditunggu 🙂

  12. Falling Crazy in Love. Oh, Jiyong kau benar-benar… 😀
    Apa Jiyong sakit? Sakit apa Jiyong jika ia benar sakit? Kenapa Jiyong mengikuti Taeyeon bahkan seperti stalker? Mereka saling kenal di kehidupan sebelumnya? Atau Jiyong saja yang benar-benar mengenal Taeyeon dari awal? Padahal Taeyen benar- benar gadis biasa tapi Jiyong sangat menyukainya, masih penasaran dengan alasannya. 🙂 😀
    Ayo next, Author. 🙂 FIGHTING 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s