Who You ? (Chapter 1)

who you oke.jpg

Nia M Storyline

Main Cast: Taeyeon ­– Gdragon (Kwon Jiyong) || Genre: Romance,Psikology, Mystery || Lenght :multichapter ||Author : Yeon Ji Min

Bukankah kau yang mengajakku kesini ?

Atau kau yang membawaku dari sana ?

Bukankah kau yang mengajakku pergi ?

Atau kau yang membawaku kembali ?

Hentikan ini ! Siapa kau yang sebenarnya ?

Dia atau Dia ?

***

Seoul, 17.00 KST

Rintikan air hujan tiba-tiba membasahi seluruh penjuru kota Seoul. Petir menyambar seakan membelah langit dengan kilatannya. Begitu juga dengan suara gemuruh yang tercipta di antara awan-awan hitam yang tengah memenuhi pandangan langit.

Sebagian orang memilih untuk berteduh menunggu hujan reda. Berbeda dari yang lainnya, Kim Taeyeon, wanita berumur 26 tahun itu keluar dari kantor dan berjalan tanpa memperdulikan air hujan yang mulai membasahi badannya. Kakinya terus melangkah maju meski wajahnya sudah membiru. Kulit putihnya memucat karna suhu dingin yang sudah menembus hingga ke dalam. Bibir mungilnya mengatup menahan agar air tak masuk kedalam mulutnya. Setelah berjalan cukup jauh, ia berhenti tepat didepan toko bunga bercat putih dan masuk kedalamnya.

“Kau hujan-hujan lagi ?” suara seorang pria menyambut kedatangannya. Taeyeon sempat menoleh kearah pria tersebut lalu membuang muka. Taeyeon melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi yang tak jauh dari tempat ia berdiri.

“Hei gadis tengik ! Aku tak mau merawatmu jika kau jatuh sakit lagi.” bentak Kim Heechul, satu-satunya kakak laki-laki yang Taeyeon miliki. Heechul menggedor pelan pintu kamar mandi dimana ada Taeyeon didalamnya.

“Aku lapar sekali.” pintu kamar mandi terbuka, Taeyeon berjalan melewati Heechul yang berdiri tepat disamping pintu.

“Kakak aku lapar sekaliiii.” suara teriakan Taeyeon mengharuskan Heechul mendekat. Dengan penuh ketenangan, Heechul meladeninya. Semangkuk ramen sudah tersedia dihadapan Taeyeon.

“Perbaiki sikapmu itu !” satu ketukan sendok mendarat tepat ke dahi mulus Taeyeon. Sorot mata penuh kekesalan terpancarkan dari kedua mata Taeyeon.

“Aargh..baiklah. Tapi biarkan adikmu yang kelaparan ini untuk makan dulu.” perhatian Taeyeon kembali terfokuskan pada mangkuk di depannya.

“Ada satu pesanan bunga malam ini. Kau yang antar karna semuanya sudah kusuruh balik.” ucapan Heechul menghentikan gerakan mulut Taeyeon yang sedang mengunyah ramen pedas didalamnya.

“Iyaaaa aku tau itu. Pulang saja sana.” bibir Taeyeon mengerucut kecil karna rasa pedas dimulutnya ditambah dengan rasa kesal pada kakaknya sudah memenuhi ubun-ubun kepalanya.

“Keringkan rambutmu. Jangan sampai sakit karna kedinginan.” kalimat itu terlontar tepat sebelum Heechul keluar toko.

“Kakak yang baik.” Taeyeon menatap punggung Heechul yang mulai menjauh. Mengerti dengan kekhawatiran kakaknya itu, Taeyeon segera mengambil handuk dan membelitkan kekepalanya. Hanya tinggal dia seorang diri di toko dan hanya bertemankan bunga-bunga yang hampir menghiasi seisi tokonya.

***

Seoul, 19.00 KST

Tampak seorang lelaki dengan kemeja putih berdiri didepan cermin. Kwon Jiyong, nama yang tak asing bagi masyarakat Korea berekonomi menengah keatas. Pewaris Hansim Grup, perusahaan besar yang berdiri di tengah keramaian ibu kota. Kekuasaannya tak perlu diperhitungkan kembali, Hansim Grup sudah membuka cabang disegala bidang kehidupan. Dalam cabang kesehatan sudah berdiri RS Hansim di pusat kota Gangnam, cabang pendidikan berdiri sekolah elit Hansim Internasional School di kota Daegu dan Hansim Art School di kota Busan. Di cabang perdagangan Hansim Grup mendirikan pusat perbelanjaan terbesar di kota Osaka, Jepang. Meski ia belum resmi diangkat secara sah, tapi jabatan sebagai direktur utama sekaligus pewaris utama Hansim Grup yang akan melekat pada dirinya sudah memberi beban yang besar. Sedikit kesalahannya akan berdampak besar bagi ratusan bahkan ribuan pekerjanya. Belum lagi harus menghadapi para dewan ataupun saingannya yang seakan seperti anjing menggonggong dan bersiap menerkam mangsanya diwaktu yang tepat. Semua itu mengharuskan Jiyong untuk bertahan meski disaat ia sendiri dipenuhi dengan tekanan.

Jiyong memperhatikan bayangan dirinya yang terpantul dari cermin didepannya. Senyumnya mengembang dikala mengingat apa yang akan terjadi malam nanti. Sebuah kotak kecil berisikan cincin tampak berada didalam genggamannya. Raut wajahnya sama sekali tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.

“Dara nonna..lama tak bertemu. Aku merindukanmu.” ucap Jiyong sambil menyipitkan aalah satu matanya.

“Ahh tidak tidak. Itu berlebihan sekali. Dara nonna… kau cantik sekali.” Jiyong tersenyum manis pada bayangannya sendiri.

“Itu juga tidak. Bagaimana aku menyapanya ? Dara nonna…senang bertemu denganmu kembali.” Jiyong mendecak kesal. Bingung apa yang harus ia katakan pada Dara, eanita yang ia sukai sejak 2 tahun yang lalu. Kotak kecil yang sedari tadi ia genggam hampir saja terjatuh sebelum tangan cekatannya menangkap.

“Cincin ini cantik sekali. Sama sepertimu.” senyumnya merekah bersamaan dengan jarinya yang mengusap cincin mewah dihadapannya itu. Suara dering ponsel mengacaukan kegiatan singkatnya itu. Panggilan dari nomor tak dikenal, ia langsung menjawabnya.

“Selamat malam. Kami dari toko bunga Buyong, apa benar anda Tuan Kwon Jiyong ?” terdengar suara lembut seorang wanita dari balik ponsel yang tak lain adalah Taeyeon.

“Ya benar.”

“Anda tadi memesan bunga lili putih  ditoko tapi anda belum mengisi alamat tujuannya.”

“Baiklah, kirim saja ke club Hansim di samping taman. Kau tau tempatnya ?”

“Club Hansim ?” Taeyeon menahan rasa keterkejutannya.

“Benar. Kau tau ?”

“Saya tau. Akan kami usahakan sebaik mungkin. Selamat malam.” terdengar suara panggilan sudah terputus.

Tangannya langsung memasukkan kotak kecil tadi kedalam sakunya. Jiyong meraih jaket dark blue dan memakainya sebelum keluar dari ruang pakaiannya. Langkah kakinya membawa Jiyong menuju kedalam mobilnya yang berada di basement. Ia masuk dan langsung menjalankan lamborgini hitamnya menuju club Hansim dimana akan ada acara dengan teman-temannya.

***

Seorang lelaki dengan leher bertato memasuki club mewah Hansim yang tak lain adalah Jiyong. Tak sengaja seorang ajhusi menyenggol bahunya dan menumpahkan sedikit wine di pakaiannya. Jiyong tak mempermasalahkannya dan langsung menuju ke arah Seungri dkk.

“Oppa..aku sangat merindukanmu ! Sudah tiga bulan kita tak bertemu.” Yuri langsung berhambur menuju Jiyong yang sudah merentangkan tangannya menyambut Yuri.

“Aku juga.” senyum merekah di wajah tampannya. Jiyong mengelus punggung adik perempuannya itu. Kwon Yuri, adik tiri Jiyong dari istri kedua ayahnya.

“Kau jarang sekali pulang kerumah.” Yuri melepaskan pelukannya dan memukul dada Jiyong pelan.

“Kau ini !” Jiyong terkekeh melihat tingkah imut adik kecilnya yang kini sudah tumbuh menjadi gadis cantik. Yuri kembali duduk bersama Dara yang juga sudah menantikan kehadiran Jiyong.

“Kalian masih sama saja.” gumam Jiyong pelan lalu meraih satu gelas kecil berisi wone yang sudah tersedia didepannya. Youngba e(Taeyang) menatap lurus tepat ke matanya. Seperti menyadari sesuatu Jiyong langsung meletakkan gelas berisi wine tsb kembali ke atas meja.

“Aku tak akan minum malam ini. Setidaknya untuk kalian yang sudah menyambut kembalinya aku ke korea.” jelas Jiyong canggung. Tak lama berselang terdengar suara tawa khas teman-temannya yang menertawakan ucapannya barusan.

“Hyung, aku sangat terharu.” celetuk Seungri sambil mengusap kedua matanya seakan menangis. Jiyong langsung menjitak dahi Seungri yang berani menggoda hyungnya itu. Pandangan Jiyong beralih pada Dara yang ada dihadapannya.

“Dara nonna, terimakasih sudah datang.” kalimat singkat tapi sangat tulus keluar dari mulut Jiyong. Dara tersenyum lebar sambil memandangi Jiyong intens.

“Kau tak rindu padaku ?” Jiyong menggodanta dengan merentangkan kedua tangannya seperti yang tadi ia lakukan pada Yuri. Dara terkekeh melihat aksi konyol yang diperbuat laki-laki tampan yang didepannya itu.

“Aku merindukanmu. Tapi tak ada pelukan gratis untukmu.” ucap Dara sambil menjulurkan lidahnya.

“Oppa aku merindukanmu !!” goda Daesung sambil memasang pose imutnya. Dan tak butuh waktu lama, satu ketukan mendarat kekepalanya seperti halnya yang tadi Seungri alami.

“Ugh..dimana princess Tiffany Hwang ?” Jiyong menoleh kearah Seunghyun dan Mino yang ada disampingnya.

“Kalian bertengkar lagi ?” tebak Jiyong yang langsung dibalas anggukan kepala oleh yang lainnya, kecuali Seunghyun yang hanya mengedarkan tatapan kesal.

“Yuri-ah, suruh dia datang kesini ! Tak akan lengkap tanpa kehadiran princess kesayanganku itu.” Jiyong langsung diserang dengan tatapan mistis Seunghyun yang notabene nya sebagai kekasih Tiffany.

“Siapa yang princess kesayanganmu itu ? Haa,” cibir Seunghyun kesal. Jiyong tertawa cukup lebar karna berhasil menjaili hyung tertuanya itu.

“Bertengkar sudah bukan hal yang asing.” komentar Yuri dengan polosnya serasa tanpa dosa. Seungri dan Daesung berusaha keras menahan tawanya.

“Mereka bertengkar tiga kali sehari. Sudah menjadi tradisi.” tambah Mino enteng. Seunghyun langsung menyenggol pundak adik lelaki Tiffany yang duduk disampingnya.

Jiyong menggenggam kotak kecil yang ada di dalam saku. Sorot matanya memandangi Dara penuh arti. Ia tersenyum tipis ketika melihat Dara menoleh kearahnya.

“Kau senang ?” Suara Jiyong kembali terdengar. Matanya menatap pekat kearah Dara menandakan pertanyaannya itu ditujukan oada Dara.

“Aku senang bisa kembali seperti ini.” senyum mengembang dikedua sudut bibir Dara, wanita yang berusia 4 tahun lebih tua daripada Jiyong.

“Kau senang karna ada Donghae oppa bersamamu, unni ?” kalimat kramat keluar begitu saja dari mulut Yuri membuat suasana berubah dalam sekejap. Yongbae dan Seunghyun menatap tajam pada Yuri yang masih dikejutkan dengan ucapannya sendiri. Daesung mengusap kepalanya kesal, sedangkan Seungri hanya bisa menundukkan kepalanya menahan kekesalan pada gadis pujaannya itu. Raut muka Jiyong seketika mengeras. Ucapan Yuri bagaikan bom yang meledak tepat di dalam jantungnya. Kotak kecil di sakunya terlepas dari genggamannya.

“Itu salah satu alasannya.” balas Dara sedikit ragu. Pandangannya tak lepas dari wajah Jiyong yang berusaha keras menyembunyikan rasa kecewa.

“Apa kalian juga sering bertengkar ?” ujar Jiyong mencairkan suasana.

“Ahh tidak. Dia lelaki yang baik.” Dara hanya menundukkan kepalanya menahan agar bulir air matanya tak berjatuhan.

“Heii kenapa malah membicarakan hal ini ? Ganti topik saja.” sela Seunghyun cepat menghindari keadaan yang lebih buruk.

“Aku mau minum saja.” Yuri meraih botol wine lalu meminumnya dalam sekali tegukan.

“Yaaaa hentikan !” Seungri langsung merebut botol wine dari pegangan Yuri. Semua menatap keduanya penuh curiga.

“Kalian berkencan ?” selidik Youngbae to the point.

“Aniyo.” elak Seungri dan Yuri bersamaan.

“Mengaku saja jika memang berkencan ? Apa sudahnya mengatakan itu ? Jika kau suka pada orang lain katakan saja, kenapa bertingkah seakan akan kau saling menyukai.” kata Jiyong cukup keras. Ucapannya bukan ditujukan pada Seungri ataupun Yuri  melainkan untuk Dara nonnanya, dan semuanya tau itu. Suasana canggung untuk sesaat hingga perkataan Seungri memecahkan keheningan.

“Kami memang berkencan.” Seungri mengatakan pengakuan yang disusul dengan anggukan kepala Yuri.

“Apaaaa ?!?” pekik Seunghyun, Youngbae dan Daesung serentak.

“Kalian ku restui.” ucap Jiyong tiba-tiba seraya tersenyum tipis yang membiat tiga orang tadi krmbali mengeluarkan pekikannya. Jiyong memcengkeram erat bawahan jaketnya dengan kedua tangannya tanpa ada satupun yang menyadarinya.

“Apaa !?!!” teriakan yang hampir saja membuat dengungan di gendang telinga siapa saja yang mendengarnya.

“Jinjja, hyung ?” Seungri menyeringai penuh kemenangan.

“Tentu. Tapi kau harus berjanji selalu menjaga dan menemaninya baik suka maupun duka. Kau akan selalu ada disampingnya, menjadi sandaran ketika ia dalam masalah, menjadi pegangan saat ia kehilangan arah, menjadi teman saat ia kesepian, menjadi obat saat ia terluka, dan menjadi tameng saat seseorang akan melukainya. Kau paham ?” perkataan Jiyong membuat semuanya bungkam tak menyangka kalimat seperti itu bisa keluar dari mulut seorang Kwon Ji Yong yang terkenal dengan sikap acuhnya pada setiap orang. Seungri tersenyum manis lalu memberikan anggikan kepalanya pada calon kakak iparnya itu. Memang sedikit berlebihan, tapi bagi orang yang sudah mengenal Jiyong dengan baik hal ini bukanlah hal asing lagi. Siapapun yang sudah memiliki sumpah, janji atau ikatan bersama Jiyong, maka orang itu bukanlah sembarang orang. Jiyong hanya akan percaya pada orang yang benar-benar ia percayai.

“Oppaaa… Gomawo.” ucap Yuri terdengar begitu tulus. Perkataan Jiyong seakan menghipnotis setiap orang yang mendengarnya.

“Setelah 3 tahun aku akhirnya bisa kembali merasakan jika aku punya seorang kakak. Terima kasih kakak sudah kembali. Saranghae oppa.” tambah Yuri dengan mata berkaca-kaca menatap wajah kakak laki-lakinya itu.

“Jangan menangis disini. Dasar cengeng !” cibir Jiyong sambil mengeluarkan senyum termanisnya. Dibalik senyum yang ia tampilkan, kedua tangannya masih berkecamuk dengan jaketnya. Semakin lama semakin erat ia menggenggam seakan menahan sesuatu untuk ia luapkan. Tak ada yang menyadari bibirnya yang sedikit bergetar dan juga giginya saling menggertak kuat.

“Aku ke kamar mandi dulu.” Jiyong segera melangkah pergi setelah pamit dengan teman-temannya yang tengah asik mengobrol.

***

Satu rangkaian indah bunga terlihat bersama dengan gadis cantik berambut pendek dan juga tubuh yang mungil. Hujan sudah mereda malam ini, tapi langit masih tetap terselimuti dengan awan hitam. Kim Taeyeon, gadis mungil dengan kaos putih, jaket merah tua dan juga celana jeans yang membalut tubuhnya keluar dari taksi lalu berjalan menuju Hansim Club yang berjarak beberapa langkah dari tempat ia berdiri.

“Apa yang harus kulakukan dengan bunga ini ? Yang benar saja, apa aku akan masuk ketempat seperti itu. Menjijikkan sekali.” gerutu Taeyeon kesal. Kakinya menendang kerikil-kerikil kecil yang menghalangi jalannya. Perhatiannya tertuju pada lambang Hansim Grup yang terpasang di dinding atap club. Untuk sesaat ia tenggelam bersama dengan lamunannya. Entah apa yang ia pikirkan hingga membuat matanya berkaca-kaca dan tak sekalipun berkedip. Kedua tangannya langsung memegangi kepalanya yang tiba-tiba merasakan sakit seperti terkena hantaman. Taeyeon tersentak cukup keras lalu setelahnya rasa sakit itu berkurang. Taeyeon menyadari dirinya yang sejak tadi masih berdiri di tempatnya dan tak beralih sedikitpun. Ia mulai melangkahkan kakinya ragu menuju kedalam club. Bau wine sudah tercium dari luar ruangana yang membuat Taeyeon langsung menutup hidung dengan tangannya. Belum genap 15 detik berlalu Taeyeon sudah berlari menjauhi club. Bau alkohol dan rokok sama sekali tak bisa diterima oleh hidung, otak dan tubuhnya. Taeyeon mendengus kesal saat menyadari rangkaian bunga yang harus ia antarkan. Sebersit ide terlintas di pikirannya. Taeyeon merogoh ponsel di saku celananya dan menekan tombol call.

“Annyeong, selamat malam. Saya dari toko bunga Buyong.”

***

Jiyong berjalan terhuyung-huyung menuju kamar mandi dengan susah payah. Ia masuk kedalam salah satu ruang dan mengunci pintu agar tak ada orang yang bisa masuk dan melihat keadaanmya. Keringat dingin mengucur disekitar keningnya. Wajahnua berubah pucat payau dan bibirnya sudah membiru. Jiyong mengeluarkan sumpah serapahnya untuk meluapkan rasa yang ia alami. Tangannya tak berhenti untuk bergetar. Matanya melirik kesekitarnya, cemas akan kedatangan seseorang.

“Shit, hentikan ini !” desah Jiyong sambil memegangi kepalanya cukup hebat. Matanya terpejam erat. Tiba-tiba rasa sesak menyerang dadanya, sulit sekali bagi Jiyong untuk bisa bernafas dengan leluasa. Tubuhnya dihinggapi rasa dingin yang menjalar dari kaki hingga kepalanya.

“Brengsekkk, kau akan datang lagi !” Jiyong tersenyum pahit. Dengan susah payah ia mencoba meraih ponsel dan menghubungi Sekertaris Park.

“Sekertaris Park, cepat datanglah ke club Hansim. Kurasa dia akan muncul. Aku di kamar mandi. Cepatlah datang.” ucap Jiyong dengan nafas terengah-engah.

“Aku segera kesana. Bertahanlah.” Sekertaris Park memutuskan panggilannya. Ponsel Jiyong jatuh kelantai karna tangannya tak kuat menahannya.

Deringan ponsel kembali terdengar. Jiyong mencoba mengambil kekbali ponselnya yang ada dilantai. Panggilan dari nomor tak di kenal.

“Yoboseo ?” ucap Jiyong sambil mencoba mengatur nafasnya.

“Anyeong, selamat malam. Kami dari toko bunga Buyong.” terdengar suara lembut seorang gadis dari balik ponsel.

“Uh. Ada apa ?”

“Maaf, saya tak bisa masuk kedalam club. Saya masih dibawah umur.” ucap gadis yang tak lain adalah Taeyeon. Ia berbohong pada Jiyong karna sebenarnya ia tak bisa masuk karna tak tahan dengan bau alkohol bukan karna masih di bawah umur.

“Taruh saja bunganya di cab depan mobilku. Platnya KS 1808 JY. Aku juga tak bisa keluar sekarang ini.” jawab Jiyong susah payah.

“Baiklah. Selamat malam.” Terdengar bunyi bep pertanda panggilan terputus.

Jiyong kembali beradu dengan rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya. Ia memejamkan matanya erat hingga beberapa detik betikutnya ia membuka mata dengan tiba-tiba. Aura wajahnya berganti. Leeyong muncul. Kepribadian lain yang tumbuh dalam diri Jiyong. Ia tersenyum sinis lalu berusaha berdiri tegak.

“Kukira aku tak akan bisa muncul kembali. Tapi dugaanku salah, hatimu kembali terluka. Aku datang untuk meringankan lukamu itu.” Leeyong tertawa getir. Tangannya merapikan tatanan baju dan rambutnya yang berantakan. Ia menggigit pelan bibir bawahnya untuk beberapa kali. Mungkin itu sudah menjadi kebiasaannya. Leeyong keluar dari kamar mandi dengan santai dan berjalan menuju parkiran.

***

Taeyeon tersenyum bahagia bisa menemukan mobil yang ia cari sejak tadi. Ia segera menaruh rangkaian bunga di atas cab mobil.

“Pekerjaanku selesai.” ujar Taeyeon sambil tersenyum lebar. Ia segera melangkahkan kaki pergi karna mulai merasakan sakit dikakinya uang sejak tadi berkeliling menggunakan higheels. Suara gemuruh kembali terdengar, Taeyeon mempercepat langkahnya.

***

Gadis berbalut t-shirt lengan panjang dengan warna merah muda dan berpadu jeans hitam pekat tampak berdiri didekat club Hansim. Ia Tiffany Hwang, kekasih Seunghyun sekaligus nonna dari Mino. Ponselnya kembali bergetar, pesan dari Yuri.

20:51

Eonni ! Jiyong oppa mencarimu, dia ingin bertemu dengan princess kesayangannya. Pali pali !!!!

20:55

Bibirku terus saja bicara. Terlambat sudah, kalimat itu muncul dengan sendirinya.Nyawaku sedang diambang kematian. Mereka akan menerkamku setelah acara ini. Datang dan temani aku. Kumohon, Eonni datanglah kesini.

20:59

Minum adalah cara satu-satunya.

21:00

Matilah aku! Semuanya sudah mengetahui hubunganku dengan Seungri.

21:02

Kakakku sudah menyelamatkan hidupku. Apa kau benar-benar tak datang ?

21:05

Seunghyun oppa bermesraan dengan Jessica.

21:05

Mereka duduk dan bercanda bersama. Kau tak kesini ?

21:05

Cepatlah kesini ! Mereka akan melakukan love shot. Belum terlambat, cepat datang dan tangkaplah mereka berdua.

21:06

Kau yakin tak akan kemari ? Kurasa kau akan menyesalinya.

Tiffany menahan kekesalannya saat membaca pesan-pesan Yuri. Ia mencoba mengecek pesan dari Seunghyun. Tapi nihil, Seunghyun tak mengirimkan pesan padanya.

21:06

Aku sudah ada didepan club. Berhenti mengirim pesan dan tunggulah aku.

Tiffany kembali menaruh ponsel kedalam tasnya setelah membalas pesan Yuri. Matanya tak sengaja menangkap seseorang yang tak asing baginya baru saja keluar daru club, yaitu Sekertaris Park. Dari kejauhan Tiffany memperhatikan tingkah Sekertaris Park yang berlalu lalang didepan club seperti mencari sesuatu. Belum sempat Tiffany menghampirinya, Sekertaris Park sudah pergi. Tiffany pun memutuskan masuk kedalam club.

***

“Tiffany nonna.” ucap Mino saat melihat kakak perempuannya melangkahkan kaki mendekat. Mendengar itu, Seunghyunpun menoleh mengikuti arah mata Mino. Yuri diam diam tersenyum melihat kedatangan Tiffany.

“Tiffany nonna, kau kemari ? Waeyo ?” ujar Mino yang masih tak percaya.

“Terimakasih atas sambutanmu..” balas Tiffany dengan senyum kecut. Yuri langsung menarik tangan Tiffany untuk duduk bersama mereka, tentu saja disamping Seunghyun.

“Dimana Jessica ?” ucap Tiffany tanpa keraguan.

“Jessica ?” gumam Youngbae pelan. Tiffany menganggukkan kepala mengiyakan perkataan Youngbae. Yang lainnya tak mengerti maksud pertanyaan Tiffany, kecuali Yuri.

“Jessica tak kemari. Kenapa ?” sela Seunghyun. Tiffany menatap kearah Yuri penuh kekesalan.

“Mian.” bisik Yuri sambil tersenyum puas karna bisa mengerjai Tiffany.

“Ahh jinjja.” gerutu Tiffany yang merasa terhasut dengan pesan Yuri.

“Kau tertipu untuk kesekian kalinya. Dasar.” komentar Seunghyun pelan.

“Aku kesini karna Jiyong oppa mencariku.” bantah Tiffany. Semuanya menatap tak percaya kearahnya, tak terkecuali dengan Mino dan Seinghyun yang sangat mengenal kepribadian Tiffany.

“Masih mengelak lagi.” cibir Mino pada kakak perempuannya. Tiffany hanya bisa diam karna memang yang dikatakan Mino benar.

“Dimana Jiyong oppa ?” Tiffany merubah topik.

“Di toilet. Tapi kenapa lama sekali ?” balas Yuri sambil melirik jam tangannya. Dara sedari tadi hanya diam memperhatikan yang lainnya.

“Apa tadi Sekertaris Park juga bergabung ?” ucap Tiffany penasaran.

“Tidak.” balas Seunghyun yang ada disampingnya.

“Tapi aku tadi melihatnya keluar dari club.” ujar Tiffany bingung.

“Mungkin Jiyong hyung pergi dengannya.” sela Seungri dan diiyakan dengan anggukan kepala Youngbae. Semuanya seakan paham apa yang sedang terjadi, kecuali Dara dan Tiffany yang tak mengetahui Jiyong mengalami kepribadian ganda.

***

Leeyong menyeringai senang sambil menyetir mobil mewah milik Jiyong. Jalanan cukup sepi karna hujan turun menghentikan beberapa aktivitas. Suara rintikan hujan sama sekali tak mengusiknya. Roda mobil terhenti saat kaki Leeyong menginjak rem mendadak. Dari kaca jendela mobilnya ia bisa melihat dengan jelas gadis yang berdiri di seberang jalan. Jiyong segera menepikan mobilnya mendekati sosok yang berdiri dihalte bus. Tanpa menghiraukan air yang mulai membasahi pakaiannya Jiyong segera turun dari mobil dan berlari kearah gadis penuh semangat. Bus datang, gadis itu mulai melangkahkan kakinya menuju bus yang baru saja tiba. Tapi niatannya terhenti ketika tangannya ditarik oleh tangan kekar Leeyong dengan susah layah. Tak salah lagi, gadis itu adalah Taeyeon, gadis pengantar bunga pesanan Jiyong. Taeyeon menatap Leeyong penuh keheranan. Matanya tak lepas memperhatikan lelaki didepannya yang tiba-tiba saja menghalangi langkahnya masuk kedalam bus.

“Maaf ?!” ucap Taeyeon ragu tak mengerti siapa dan apa yang dimaksud lelaki yang sedari tadi tak melepaskan pandangan dari wajahnya. Bus kembali berlalu, Taeyeon mencoba menghentikan dengan teriakannya agar bus berhenti, tapi nihil, usahanya isa-sia.

“Kim Taeyeon.” panggil Leeyong seraya tersenyum lebar. Tangannya menyentuh wajah Taeyeon yang tengah menoleh kebelakang. Suara itu, nada dingin dan lembut bersatu. Seakan terhipnotis, Taeyeon langsung menoleh kearah Leeyong dengan tatapan misterius.

“Kau mengenalku?” balasTaeyeon sedikit ragu. Belum sempat pertanyaannya terjawab, tubuhnya merasakan dekapan hangat yang menjalar keseluruh tubuhnya. Ya yang benar saja, lelaki yang baru saja menarik tangannya kini tengah memeluknya.

“Yaa !! Lepaskan aku. Siapa kau ?” Taeyeon meronta dari dekapan Leeyong.

“Kim Taeyeon ? Benarkan ?” Leeyong akhirnya melepaskan pelukan eratnya untuk memberi ruang bagi Taeyeon untuk bernafas dengan leluasa.

“Heol, kau tau namaku ?” Taeyeon menatap tak percaya pada lelaki yang tenagh brrdiri tepat dihadapannya.

“Lama tak jumpa. Sulit sekali untuk bertemu denganmu kembali.” Leeyong mengembangkan senyum manisnya.

“Kita saling kenal ?” ujar Taeyeon hati-hati. Sesekali ia mencoba untuk mengingat wajah lelaki ini, tapi nihil, ia tak mengingat apapun.

“Kau lupa padaku ? Hei, aku Leeyong. Leeyong. Kau tak ingat ?” Diusapnya kepala Taeyeon lembut.

“Aku tak mengingatmu. Leeyong ?” balas Taeyeon apa adanya.

 

Ini aneh. Kenapa kau tak ingat padaku ?

 

“Kita saling kenal 3 tahun yang lalu.” Leeyong kembali memancing ingatan Taeyeon tentangnya.

“Itu sudah lama sekali. Mungkin aku lupa.” Taeyeon tersenyum kaku.

“Benar, mungkin kau lupa. Itu sudah 3 tahun yang lalu.” Leeyong menatap kecewa pada Taeyeon.

 

Meski sudah 10 tahun atau 30 tahun berlalu, kau tak akan melupakanku. Tapi, bagaimana bisa kau melupakanku hanya dalam kurun waktu 3 tahun ? Tak masuk akal ? Ya. Ada yang aneh dari dalam dirimu

***

Entah apa yang terjadi, Taeyeon sudah duduk berdampingan dengan Leeyong yang sedang mengemudi.

“kau mau membawaku kemana, Leeyong-ssi ?” selidik Taeyeon was-was.

“kau yang pertama.” Balas Leeyong singkat.

“ndee ??” ucap Taeyeon tak mengerti.

“kau yang pertama memanggilku seperti itu, Leeyong-ssi. Leeyong-ssi. Leeyong-ssi. Leeyong-ssi. Indah sekali.” Perkataan Leeyong kembali membuat Taeyeon bingung.

“ndeee ??” hanya itu yang mampu Taeyeon ucapkan lagi dan lagi.

“kau wanita pertama yang berkencan denganmu. Dan sekarang kita berkencan.” Kali ini, ucapan Leeyng benar-benar sukses membuat Taeyeon ternganga.

“ige mwoya ? apa yang kau bicarakan aku sungguh tak mengerti. Berhentilah mengatakan halhal seperti itu karna akan membuatku mual.” Oceh Taeyeon panjang lebar. Lalu Leeyong ? dia hanya diam tersenyum sambal mendengar ocehan Taeyeon.

“Ya Leeyong-ssi turunkan aku. Aku harus pulang sebelum kakakku membunuhku. Ini sudah cukup malam, aku tak bisa menemanimu. Turunkan aku atau antar saja aku ke..” Leeyong segera menginjak rem dan mengentikan laju mobil.

Cupp..

Ciuman singkat Leeyong menghentikan bibir Taeyeon yang terus saja bicara.

“Kau terkejut ?” ujar Leeyong tanpa rasa bersalah setelah mencuri ciuman dari bibir Taeyeon. Sedangkan Taeyeon sendiri masih terdiam, mungkin karna cukup terkejut.

Cupp..

Leeyong melancarkan aksinya untuk yang kedua kalinya. Taeyeon masih terpaku diam tak bergeming setelah mendapat sentuhan bibir Leeyong.

“persis seperti yang kuduga. Ekspresimu.. reaksimu.. dan.. tatapanmu. Aku tau akan seperti itu.” Bisik Leeyong seraya menatap wajah Taeyeon denga jarak yang cukup dekat, bahkan sangat dekat, mungkin hanya sejengkal. Dan perlahan Leeyong mulai mengurangi jarak antara bibirnya dengan bibir Taeyeon. Ciuman ? tentu saja.

“Changkkaman.” Taeyeon segera menahan gerakan tubuh Leeyong yang mendekat kearahnya.

“Changkkaman-yo… kenapa kau menciumku ?” ucap Taeyen to the point.

“karna kau milikku.” Ucap Leeyong serius yang tiba-tiba saja mampu membuat bulu kuduk Taeyeon berdiri.

“wae ? waeyo ? aku milikmu ?” ucap Taeyeon terbata-bata sambil menundukkan kepalanya karna tak sanggup untuk melihat tatapan mata Leeyong yang entah mengapa membuatnya khawatir dan juga gelisah.

Tanpa menunggu aba-aba Leeyong langsung menyapu bibir Taeyeon dengan ciumannya. Dipagutnya bibir mungil Taeyeon dengan perlahan. Taeyeon meronta untuk bisa terlepas dari ciuman itu. Didorongnya tubuh Leeyong menjauh, tapi itu malah membuat Leeyong semakin ganas melumat seluruh bibir Taeyeon. Bukannya menjauh, Leeyong malah semakin dekat, bahkan tanpa jarak. Terlambat sudah, Taeyeon hanya bisa pasrah dengan perlakuan Leeyong. Ia sudah tak bisa mengelak ataupun melepaskan diri karena tenaganya yang tak sebanding yang Leeyong miliki.

Ciuman yang Leeyong lakukan semakin liar. Tanpa ragu ia menyelipkan lidahnya kedalam mulut Taeyeon. Disentuhnya lidah Taeyeon penuh kelembutan. Mata Taeyeon membulat seketika menyadari lidahnya yang sudah bergelut dengan lidah Leeyong didalam sana. Kedua tangan Taeyeon  menepuk punggung Leeyong karna ciuman yang Leeyong lakukan sudah membuatnya kehabisan nafas.

“wae ?” ucap Leeyong singkat setelah melepaskan tautan bibirnya.

“huuuhh…huuhh.. aku tak bisa bernafas.” Balas Taeyeon susah payah karna nafasnya yang tak teratur. Leeyong tertawa kecil melihat tingkah Taeyeon yang menurutnya begitu menggemaskan.

“wae ?” ucap Leeyong untuk kali keduanya. Ia menatap Taeyeon yang sedang memandang sekitarnya penuh was-was.

“di sini sepi. Beruntunglah kita.” Balas Taeyeon tanpa memandang Leeyong, matanya masih melirik kanan-kirinya berharap tak ada yang melihat kejadian yang baru saja terjadi.\

***

“Leeyong-ssi, ayo pulang !” Taeyeon bangkt dari bangku panjang yang sedari tadi ia duduki bersama Leeyng di sampingnya.

“disini saja. Sebentar.” Leeyng menarik pergelangan Taeyeon untuk kesekian kalinya. Memaksa agar Taeyeon tetap menemaninya disana.

“Ah, laki-laki ini benar-benar..” umpat Taeyeon pelan.

“woahh, apa ini ?!” Leeyong mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Tampak sebuah kotak kecil berwarna hitam.

“cincin.” Leeyong tersenyum tipis melihat sepasang cincin yang terdapat didalam kotak kecil tersebut.

“dasarr…” luap rasa kekesalan Taeyeon pada seseorang yang sedari tadi menahannya, Leeyong.

“sini !” tiba-tiba Leeyong menarik tangan kanan Taeyeon dan melingkarkan satu cincin indah di jari mulus Taeyeon.

“Yaa ! apa ini ?!” dan untuk kesekian kalinya Taeyeon mengeluarkan suara aslinya.

“cincin.” Jawab Leeyong enteng hingga membuat Taeyen ingin mencekik lehernya.

“aku tau ini cincin. Tapi kenapa kau memasangkanya dijari ku ?”

“aku memberikannya padaku.” Leeyong melemparkan senyum termanisnya pada sosok gadis disampingnya itu.

“wae ? wae ? wae ?” dari nada bicaranya saja sudah terlihat jika Taeyeon bosan mengahdapi kelakuan Leeyong yang mirip dengan anak kecil.

“aku menyukaimu..Kim Taeyeon.”

Kalimat itu, kalimat yang baru saja keluar dari mulut Leeyong sukses membuat Taeyeon tercengang. Apakah ini kegilaan ?

“Jika suatu saat aku bertemu denganmu, kau harus memakai cincin ini dijarimu. Jika tidak, berarti kau harus menjadi pacarku.” Perkataan Leeyong kembali membuat Taeyeon ternganga.

“kapan kau menemuiku ?”

“aku tak tau benar kapan itu.” Balas Leeyong enteng.

“yaa ! itu tak adil. Jika tiba-tiba aku bertemu denganmu dijalan, dan aku tak memakai cincn dijariku, apa aku akan menjadi pacarmu ? begitu, “

“kau sudah tau.” Jawaban apapun yang Leeyong berikan membuat Taeyeon ingin menendang wajah Leeyong dengan kedua kakinya, saking keselnya.

“maksudmu, aku harus memakai cincin ini kapan saja jika aku tak ingin menjadi pacarmu.” Tebakan Taeyeon sudah jelas apa jawabannya.

“tentu saja.”

“aahh, aku akan gila.”

***

“apa ini rumahmu ?” ujar Leeyong setelah menghentikan mobilnya di tepi jalan.

“ini toko bunga kakakku.” Taeyeon membuka pintu mobil dan beranjak keluar. Tepat sebelum itu, pergelangan tangannya kembali ditarik oleh orang yang sama,Leeyong.

“kenapa lagi ?”

“Mungkin sebentar lagi aku akan menghilang.” Leeyong tiba-tiba tertunduk. Taeyeon menatap kebingungan.

“Hal yang kutakuti adalah waktu yang berlalu dengan sendirinya. Tapi ini sudah berakhir. Aku mungkin tiba-tiba pergi menghilang dan tak tau kapan kembali. Hal terberat bagiku, adalah meninggalkanmu.” air mata jatuh dari kedua pelupuk mata Leeyong. Taeyeon hanya diam mematung.

“Maukah kau berjanji padaku ? Jangan bersama pria lain selain aku. Karna aku sangat menyukaimu.” Taeyeon memandangi Leeyong berkaca-kaca. Untuk pertamakalinya, Taeyeon mendengar pengakuan seorang lelaki yang begitu tulus.

Satu detik..dua detik…tiga detik..

“Yaa !!!! itu tak lucu sama sekali. Kau tak bisa membohongiku.” Ekspresi yang muncul dari wajah Taeyeon langsung berubah 180ᵒ , tampak senang penuh kemenangan.

“aku serius.” Nada dingin itu, suara itu, yang baru saja membuat Taeyeon terbungkam sendirinya.

“kau serius ?” balas Taeyeon ragu.

“aku serius.” Sorot mata tajam yang beberapa detik yang lalu terlihat kini berubah seketika. Mata Leeyong tiba-tiba memerah hingga bulir air keluar dan mengalir dipipinya.

“kenapa kau..” tanpa sadar, Taeyeon bergerak mendekat pada Leeyong yang saat itu menatapnya kosong.

“jangan bertanya apapun.” Ujar Leeyong pelan tapi cukup jelas terdengar di telinga Taeyeon. Dengan sigap, Leeyong menarik tubuh Taeyeon kepelukannya. Taeyeon hanya berdiam diri membiarkan Leeyong menangis di bahunya.

“menangislah..” bisik Taeyeon pelan. Suara isakan semakin terdengar, bukan Leeyng yang mengeluarkan suara isakannya, melainkan Taeyeon sendiri yang terhanyut dalam suasana.

Leeyong melepaskan pelukannya dan menatap lekat manik mata Taeyeon.

“Kenapa kau menangis ?” Leeyong mengusap air mata yang membasahi pipi Taeyeon.

“Aku sendiri tak tau kenapa aku menangisimu. Tapi aku merasa kehilangan sesuatu.” Ucapan Taeyeon begitu mengena di hati Leeyong, tapi ia masih berusaha menutupinya

“Jangan membuatku merasa bersalah.” Leeyong meraih tangan Taeyeon dan menggenggamnya hangat.

“Kau ini ! Aku menyesal karna sudah mengeluarkan air mataku untukmu. Lupakan saja kejadian beberapa saat yang lalu.” Taeyeon menarik tangannya dan tak sengaja pandangannya terarah pada cincin yang melingkar dijarinya. Ia terhenyak untuk beberapa saat tanpa ia tau alasannya.

“Terserah kau saja. Aku tak memaksamu untuk menangisiku.” Leeyong menyenggol bahu Taeyeon hanya dengan satu jari. Satu ketukan mendarat ke kening Leeyong. Taeyeon membalas penuh dengan kekesalan.

“masuklah.”

“aku juga tak tahan bersamamu.” Rasa kekesalan Taeyeon rupanya belum hilang.

***

Udara pagi kembali menyapa. Seseorang masih terlelap diatas ranjang tidurnya yang terblang cukup mewah.

Kriinnngggg….

Suara alarm kecilnya tiba-tiba mengema di seluruh penjuru kamar yang memaksanya untuk bangun. Dan perlahan-lahan ia membuka kelopak mata hingga matanya terbuka sempurna. Leeyong ? Bukan.Jiyong yang terbangun tepat diatas ranjangnya. Jiyong menatap sekitarnya seperti orang linglung. Ia sendiri bingung kenapa ia bisa tidur dikamarnya, yang ia ingat terakhir kali jika ia tengah berkumpul di club.

Tidak mungkin.

 

Jiyong langsung berlari kedepan cermin. Matanya menatap tak percaya.

 

Leeyong kembali lagi.

 

Kalimat itu langsung muncul dikepala Jiyong. Tanpa menunggu lama ia meraih sakunya mencari keberadaan ponselnya. Ketika ponsel mewahnya sudah ada digenggamannya, satu hal yang kembali mengusik pikirannya.

Dimana kotak cincinnya. Cincin untuk Dara nonna.

 

To Be Continued

Masih inget ama yang ini ? maap ye, ini postnya lama bgttt karna harus ngurusin ff yg lain hingga lupa ama yang ini. hehhehhe…

Mungkin di awal-awal ini rada ngebingungin ama ceritanya, karna ini masih tahap pengenalan. Ya seperti itulah..

Okee… tunggu aja Chap selanjutnya

Jangan lupa klik suka nya.. dan juga ditunggu komentarnya !! yang pasti setiap komentar pasti aku baca kok..

Bye bye !!! See u in next chapter !!!!

Ig : @niamr95

Wattpad : @niamr95

 

Yeon Ji Min.

 

Advertisements

43 comments on “Who You ? (Chapter 1)

  1. Kepribadian ganda….
    Leeyong suka ama taetae, emang apa yg pernh terjadi antara mreka berdua, kok taetae kgak inget ama leeyong???

  2. Ahhhhhh gtae!!! Ceritanya masih samarsamar nih keren, masih bingung ada hubungan apa sama leeyong yg di awal kayaknya langsung agressive gitu ke taeyeon. Ditunggu chap selanjutnya. Fighting^^

  3. Daebak thor
    Ceritanya rada-rada kayak drama kill me heal me yang pas tentang penyakitnya yang kepribadian ganda deh rasanya thor
    Next chapter ditunggu thornim
    Fighting

  4. Daebak thorrrnim ini keren, ff gtae memang keren,, author2nya keren luar biasaaa😊😊😘😘
    Penasaaran sm next chapnya thor, ditunggu next chapnya thorr pallijuseoyoo thornim😊
    Penasaran sm jalan ceritanya, hwaighting thor 😊

  5. Lha leeyong kenal ama taeyeon???
    Berarti antara taeyeon ama jiyong dulu pernah ketemu dong? #hehehe sok tahu….
    Next thor ditunggu lanjutannya…..

    Fighting

  6. Woaahh daebaak dua kepribadian.. .
    Yang bikin penasaran gimana ceritanya leyoung kenal tae taee… Nanti kalo taetae kenal jiiyong dijalan gimana trus liat cincinnya dipake taetae bakaln heboh tuuu.. .. Next chap dtunggu semangat yaaa…

  7. waitt. kok leeyoung kayak kenal bgt sn tae? tp tae nya kok kayak asing gitu ya? hmm blm bs nebak deh. next thor. ditunggu hehe

  8. wah ceritanya misterius banget sih…tapi kok leeyong nya kayak kenal ama taeng..and taeyeon sebaliknya sih…wah next chap nya ditunggu ya…Fighting!!

  9. Daebak thor!!^^
    Jiyong punya kepribadian ganda? jiyong suka dara, Leeyong suka taeyeon?.-.
    Next thor!!^^ Penasaran sama chap selanjutnya!! Fighting!!^^

  10. Next ya… 😉
    Aku juga waktu nonton Kill Me, Heal Me suka membayangkan kalau yang jadi cast-nya G-Dragon-Taeyeon, beneran. Ternyata ada Author Yeon Ji Min buat juga. Suka deh 🙂 Terima kasih Author 🙂 Lanjut, ya? 😀
    #GTAE #ROYALISTDREAMER #LEADERCOUPLE
    Next chapter… See you 😉 HWAITING All! 😀 HWAITING Author-nim! 😀

  11. WOwwwww terbaik lah tak sabar nak tunggu kelanjutannya semua yang ff yang saya baca semuanya terbaik. Hwaiting!!!! :):):)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s