The Leader’s Secret (Chapter 10)

wpid-wp-1440532290100

Bina Ferina Storyline

Kwon Jiyong (GD BigBang), Kim Taeyeon (GG) || Romance, Fantasy || PG 18

 

“The Leader’s Secret”

A/N     : Dear, ATSIT’s readers. Thank you so much karena udah support FF ini, yaaaa^^ bacacomment  kalian semua jadi semangat buat lanjutin chap 10 ini hehehee.

Loveyousomuch~

 

Preview :

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9

WARNING : VERY LONG STORY EVER AND I BET YOU’LL BE BORING SO MUCH!!! BUT, PLEASE READ CAREFULLY. DON’T MISS ANY WORD!

 

~~~

Tōkyō Kokusai Kūkō (Tokyo International Airport), Ōta, Tokyo, Japan.

Kepopuleran Kwon Jiyong, atau yang lebih dikenal G-Dragon di Negeri Sakura tersebut tidak perlu diragukan lagi. Kedatangan pelantun ‘Loser’ sekaligus mantan kekasih Mizuhara Kiko ke Jepang sudah tersebar luas sehingga baik citizens, paparazzi, dan journalists sudah memadati airport itu beberapa jam sebelum pesawat yang dinaiki Jiyong lepas landas. Kepadatan tersebut membuat pihak airport mengirim beberapa petugas ekstra kalau-kalau terjadi kericuhan. Bodyguards YG Ent., pun juga tengah berjaga di depan pintu keluar. Mobil yang akan digunakan untuk mengantar Jiyong ke hotel juga sudah stay di depan airport.

Dan ketika mereka mendengar kabar jika pesawat yang dinaiki Jiyong cs. sudah mendarat, semua orang yang menunggu kedatangannya langsung berebut untuk bersiap-siap mendapatkan foto dan video dari sang idol. Hati-hati jika ada sasaeng, sang idol-lah yang akan ia rebut dan ia culik.

Benar, saat pintu keluar airport sudah terbuka dan memperlihatkan sosok G-Dragon bersama para bodyguard dan crews-nya, kilatan cahaya kamera mulai bermunculan di mana-mana. Para fans perempuan memanggil-manggil namanya dan ada juga yang berusaha untuk meraih lengannya.

Jiyong hanya diam dan menundukkan wajahnya sedikit. Ia memakai topi sampai menutupi matanya, masker putih, dan jaket berbulu warna cokelat.

Di samping kirinya ada dua orang crew YG yang melindunginya dengan ketat dari beberapa fans yang hendak menyentuhnya. Dan di samping kanannya ada bodyguards

Tunggu, di mana manager mungilnya?

Jiyong mulai sadar jika Taeyeon tidak ada di sampingnya saat ekor matanya melirik ke sisi kanannya. Langkah kakinya mulai melambat tapi beberapa bodyguards dan crews-nya menyuruhnya untuk melangkah lebih cepat.

Jiyong tidak mendengarkan. Ia menoleh ke belakang dan mendapati gadis itu sedang berusaha menutupi wajahnya dengan passport yang digenggamnya erat dengan kedua tangannya. Jiyong dapat melihat ketakutan terpancar dari wajah dan mata gadis itu, membuat dirinya terhenyak dan jantungnya serasa berhenti berdetak.

Sontak ingatan Jiyong langsung berkelebat mengingat perkataan Taeyeon sebelum mereka take-off.

“Saat di airport nanti, bolehkah aku jalan di sampingmu?”

Pertanyaan aneh menurut Jiyong. Ia hanya mengangguk setuju tanpa tahu apa maknanya. Dan sekarang, baru beberapa jam yang lalu ia sudah melupakan janji itu?

Babo Jiyong.

Jiyong berbalik dan segera menyusul gadis itu. Digenggamnya tangan Taeyeon dan ditariknya cepat untuk berjalan di sampingnya. Sontak saja Taeyeon terkejut dengan tingkah dadakan laki-laki itu. Namun, karena tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi, Taeyeon hanya diam dan mengikuti arah langkah kaki Jiyong yang menuju mobil mereka.

Bahkan, gadis itu juga lebih memilih diam saja saat Jiyong merangkul tubuh kecilnya dan membawa kepala Taeyeon ke dadanya yang bidang. Taeyeon merasa… laki-laki itu sedang melindunginya.

Begitu mereka berdua sudah sampai di depan mobil, salah satu crew YG membukakan pintu mobil dan Jiyong langsung mendorong pelan tubuh Taeyeon masuk ke dalam, disusul dirinya sendiri. Setelah aman, bodyguards mereka menutup pintu dan mobil langsung melesat pergi menuju hotel yang telah dipersiapkan untuk Jiyong.

“Gomapta,” lirih Taeyeon pelan sekali pada Jiyong. Laki-laki itu sibuk membuka topi, masker putih, serta jaketnya dan menyimpannya di dalam tas ranselnya. Meskipun suara Taeyeon sangat kecil dan volume radio di dalam mobil cukup kuat, Taeyeon yakin Jiyong mendengarnya dengan jelas.

“Kau takut pada keramaian seperti itu?” tanya Jiyong, matanya sekilas menatap wajah gadis itu.

“Bisa dibilang aku tidak nyaman pada hal-hal seperti tadi. Bukan masalah ramai atau tidaknya. Mereka berkumpul seperti itu, mengejarmu, dan berusaha mendekatimu seolah-olah mereka bisa saja menyentuhmu dan menyakitimu tanpa mereka sadari. Kau seperti seorang buronan yang dikejar-kejar. Dan aku merasa akulah yang ada di posisimu,” jelas Taeyeon diiringi dengan tawa kecilnya.

“Terjadi juga beberapa kali dengan members yang lain pada waktu itu dan kau terlihat biasa saja,” ujar Jiyong.

“Aku berada di tengah-tengah Seunghyun dan Youngbae oppa. Mereka tidak tahu, akulah yang menyelinap,” jawab Taeyeon. Pembawaannya mulai santai dan warna wajahnya tidak sepucat tadi. “Kurasa kalau kau tidak menarikku tadi mungkin aku akan menangis,”

Jiyong menolehkan wajahnya menatap ke luar jendela, menerawang jauh ke depan. “Lain kali katakan saja. Kalau merasa takut, gelisah, atau apapun itu katakan saja terus terang. Aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi. Kalau aku terlambat sedikit saja, bagaimana?”

Taeyeon menatap Jiyong yang saat ini sudah memejamkan kedua matanya dan menyandarkan punggungnya dengan nyaman, bersiap untuk tidur. Ia ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi karena sudah melindunginya. Tapi semua itu tergantikan dengan senyuman manis dan lembut yang Taeyeon lemparkan diam-diam pada Jiyong. Hatinya menghangat dan berdesir hebat saat kedua matanya meneliti wajah damai Jiyong.

Entahlah, rasanya… ia ingin waktu berhenti detik itu juga. Sekilas ia merasa tidak rela jika momen seperti ini tidak akan pernah ia lalui lagi.

Bersama Kwon Jiyong.

Kenapa rasanya mendadak perih mengingat akan ada yang namanya perpisahan? Tempatnya dari awal memang bukan di sisi Kwon Jiyong maupun members Bigbang yang lain, jadi kenapa ia merasa tidak rela?

“Gomawo, Jiyong oppa,” bisik Taeyeon pelan sekali pada pantulan dirinya sendiri di kaca mobil.

Melihat Taeyeon yang tidak mengeluarkan sepatah katapun lagi, Jiyong membuka kedua kelopak matanya dan memandangi punggung gadis itu. Ia sedang menikmati pemandangan kota Tokyo dengan mata berbinar-binar dan senyum kecil yang sangat manis terbentuk begitu saja di wajah tampannya.

“Ahjussi,” panggil Taeyeon tiba-tiba pada supir di depannya, setelah beberapa menit lamanya suasana di dalam mobil itu hening. “Festival kembang api kapan diadakan di sini?”

“Belum pernah ke Jepang, ahgassi?” tanya ahjussi itu sambil tertawa kecil. “Orang yang pertama kali ke Jepang tentu saja akan menanyakan hal itu,”

“Sudah pernah, tapi aku belum sempat menyaksikannya,” jawab Taeyeon. “Kudengar sangat menarik sekali. Ribuan kembang api akan meledak di langit, membentuk bunga-bunga indah warna-warni. Ada juga toko-toko kecilnya, dan yang lebih menarik lagi, kita bisa melihatnya ramai-ramai,”

“Sangat menarik sekali, ahgassi. Itu pasti. Semua yang kau katakan benar, tapi ada satu hal yang kau lewatkan. Tidak begitu penting kita menontonnya ramai-ramai dengan seisi kota. Tapi, yang lebih penting dan mendebarkan adalah saat kita menontonnya bersama orang terkasih. Pacar, misalnya. Bergandengan tangan dan menatap ke langit bersama, mengagumi indahnya kembang api yang seakan-akan memancarkan perasaan cinta kita,” jelas ahjussi itu penuh semangat.

“Sepertinya kau sudah mengalami hal itu, ahjussi,” ujar Taeyeon minat.

“Tentu saja. Aku menyatakan perasaan pada istriku tepat saat kami sedang menonton festival kembang api itu,” jawab ahjussi itu dan ia tertawa keras.

“Aku jadi ingin melakukannya. Kencan di festival itu tidak begitu buruk,” ungkap Taeyeon.

“Apa kau ingin mengajak Jaehyun ke sini saat festival itu berlangsung?” sindir Jiyong, membuat Taeyeon tersentak kaget. Bukankah tadi dia sedang tidur?

“Kenapa harus Jaehyun oppa?” Taeyeon balik bertanya.

“Pacarmu, ahgassi? Ajak saja dia ke sini dan tonton festivalnya di bulan Agustus. Aku yakin cinta kalian akan abadi,” celetuk ahjussi itu.

“Aku tidak punya pacar, ahjussi,” jawab Taeyeon pelan. Ia melirik Jiyong, yang juga tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan.

“Kalau begitu tunggulah sampai kau punya pacar,”

“Aku ingin sekali menontonnya. Kenapa harus tunggu sampai punya pacar? Dengan ahjussi apa tidak bisa? Kau bawa saja istrimu, tidak apa. Aku hanya akan jadi penonton baik yang tidak mengganggu kemesraan kalian. Aku begitu penasaran,” ujar Taeyeon setengah bercanda, setengah serius.

“Untuk sekarang juga tidak akan ada, ahgassi. Belum ada. Bulan Juli dan Agustus. Kembali lagi saja di bulan itu. Pastikan kau sudah punya pacar,”

“Jinjjayo? Sekarang tidak ada?” tanya Taeyeon lagi.

Ahjussi itu hanya mengangguk dan tersenyum geli. “Ah, Jiyong sudah pernah menontonnya Berkali-kali. Aku ingat saat pertama kali kau berusaha pakai yukata hanya untuk tampil keren di depan Kiko. Kau bahkan membuatku pusing dengan pertanyaan-pertanyaanmu seputar festival itu. Lucu sekali. Kau seperti anak remaja yang dimabuk cinta. Kalau tidak salah itu kencan pertamamu, ‘kan di Jepang dengan Kiko?”

Mendengar nama Kiko disebut serta masa-masa indah mereka dulu, membuat Taeyeon mengalihkan pandangannya ke arah Jiyong, yang tampak biasa saja, seakan-akan tidak ada beban apa-apa. Ia bahkan tersenyum sangat manis, penuh makna saat ahjussi itu kembali mengingatkannya akan memori itu.

Apakah laki-laki itu sudah berhasil move on? Atau ia hanya sekedar acting saja agar tidak dikira laki-laki cengeng?

“Mana mungkin aku bisa melupakan hal itu, ahjussi? Aku tidak akan pernah lupa walaupun dia sudah melupakannya. Itu adalah harta yang paling berharga buatku,” jawab Jiyong tulus.

Taeyeon tidak tahu kenapa, tapi disini dialah yang sama sekali merasa tidak nyaman. Jantungnya berdenyut menyakitkan mendengar penuturan Jiyong. Telapak tangannya terkepal dan ia hanya mampu menatap pemandangan kota Jepang dari jendela, berusaha untuk tidak mendengarnya lagi. Namun, sia-sia.

“Kau ingat sudah berapa kali ke festival bersamanya?” tanya ahjussi itu.

“Sering, pastinya. Aku tidak menghitungnya karena kupikir hal itu bisa kami lakukan sesuka kami selamanya. Tapi kenyataannya berbanding terbalik dengan apa yang ada di benakku,” jawab Jiyong dan ia tertawa. “Tapi semuanya terasa menyenangkan, ahjussi. Setiap kencan dengannya. Aku melupakan waktuku, melupakan siapa diriku, melupakan semuanya. Aku merasa jika kami lebih dewasa waktu itu menyikapi apa yang terjadi dan berjuang bersama, aku yakin kami bisa melewati semuanya. Sampai detik ini. Sayang, dia lebih memilih menyerah, melepaskan tanganku, dan tidak memercayaiku,”

Ahjussi itu tersenyum sendu dan menatap Jiyong dari balik kaca mobilnya. “Kau pasti sangat merindukan dan mencintainya sampai saat ini. Tidak seharusnya kau ikut menyerah, ‘kan? Masih ada waktu untuk memenangkan cinta kalian,”

Jiyong menghela nafas panjang dan kembali menatap ke luar jendela. Ia berfikir sangat panjang sebelum memutuskan untuk menjawabnya. “Aku memang merindukannya saat ini. Aku tidak pernah menyerah. Tapi aku tidak bisa memperjuangkannya lagi kali ini,”

Kalimat dari Jiyong barusan mengakhiri perbincangan mereka di mobil selama beberapa menit ke depan. Sampai akhirnya mereka sampai di depan hotel yang dituju.

“Jiyong-ssi, kau bisa langsung istirahat di dalam kamar dan kami akan memanggilmu jika sudah tiba waktunya. Pemotretan akan berlangsung besok hari. Ada sedikit briefing dan pengenalan dengan para crew Nylon Japan Magazine dan Miss Komatsu sendiri. Jadi, tidur dan istirahatlah malam ini dengan nyaman, Jiyong-ssi,” ucap salah satu crew YG yang daritadi sudah menunggu kedatangan Jiyong dan lainnya di depan hotel.

“Ne, aku akan melakukannya. Tapi sebentar lagi,” jawab Jiyong. “Masuk duluan saja, lah,”

Crew itu mengangguk paham dan matanya menangkap sosok Taeyeon yang berdiri tak jauh dari sisi Jiyong. “Taeyeon-ssi, kau sepertinya juga lelah. Kajja, kita istirahat,”

“Kau duluan saja,” jawab Jiyong, yang membuat si crew itu, bahkan Taeyeon sendiri, terkejut.

“Ah, ye. Aku permisi,” ujar crew itu dan ia membungkuk sedikit memberi salam sebelum pergi dari hadapan Jiyong.

“Kau tidak ingin masuk ke dalam?” tanya Taeyeon heran. Ia berusaha, bahkan mati-matian agar jantungnya tidak berdebar secara brutal seperti sekarang ini. Dan hal itu mustahil. Jantungnya sudah mulai tak sehat setiap kali ia berada di dekat leader Bigbang itu.

“Kau tidak menghubungi oppa-mu?” tanya Jiyong, yang menghiraukan pertanyaan Taeyeon.

“Nugu?”

“Ahn Jaehyun. Jadi siapa lagi? Kau punya berapa oppa?”

“Kenapa aku harus menghubunginya?” Taeyeon balik bertanya, sedikit kesal dengan pertanyaan Jiyong barusan.

“Menyuruhnya ke Jepang. Bukankah kau ingin melihat festival kembang api? Suruh dan ajak dia buat festival itu khusus kalian berdua. Sesuai kata ahjussi tadi, itu sangat romantis,” jawab Jiyong. Ia melipat kedua lengannya di depan dada sambil menatap Taeyeon.

“Untuk apa aku melakukan hal bodoh itu, eoh? Jaehyun oppa sedang berada di Thailand dan aku menyuruhnya ke sini untuk… apa? Jangan berkata yang tidak-tidak, Jiyong-ssi,” tolak Taeyeon.

“Wae?” tanya Jiyong lagi. “Dia rela datang ke Thailand hanya untuk bertemu denganmu, ‘kan? Lalu, kenapa dia tidak bisa melakukan hal yang sama sekarang? Kalau kau menyuruhnya datang ke sini sekarang tidak masalah, tidak mengganggu pekerjaanmu. Tapi kalau dia tiba-tiba muncul sewaktu kau sedang kerja, aku tidak bisa menolerirnya. Jangan sampai kejadian di Thailand waktu itu terulang lagi,”

“Apa yang sedang berusaha kau katakan? Jaehyun oppa punya pekerjaan di Thailand, bukan semata-mata hanya ingin bertemu denganku. Jangan bicara yang tidak-tidak. Aku tahu kau masih kesal dengan kejadian after party Bigbang itu, tapi jangan menyinggungnya lagi untuk saat ini. Bukankah kau bilang kau menyesalinya karena sudah mengganggu acara kami kemarin?”

“Aku sama sekali tidak menyinggungmu. Aku hanya memperingatkanmu,” elak Jiyong. “Dan karena aku menyesalinya aku menyuruhmu menghubunginya, ‘kan?”

“Tidak perlu,” jawab Taeyeon cepat. “Itu tidak akan terjadi. Sudahlah, kau membuatku makin tidak mood saja. Aku sangat lelah dan mengantuk, jadi berhenti membuatku kesal. Apa kau fikir aku ini seperti dirimu? Memanfaatkan waktu meskipun sempit demi bertemu dengan kekasihmu dulu. Kenapa tidak kau saja yang menghubungi gadismu itu dan membuat festival kembang api sendiri?”

“Kenapa kau jadi bawa-bawa aku dan Kiko?” Jiyong balik bertanya.

“Bukankah kau merindukannya? Sebelum kau sibuk dengan pekerjaannya, hubungi dan suruhlah dia datang malam ini. Seharusnya aku yang bicara begitu padamu,” ujar Taeyeon ketus.

Jiyong diam sesaat, tampak sedang berfikir keras. Dan ketika Taeyeon sudah berbalik badan untuk masuk ke dalam hotel, laki-laki itu memutuskan untuk bicara.

“Baiklah, sepertinya itu ide bagus,” ungkap Jiyong, membuat langkah Taeyeon terhenti seketika. Tubuhnya mematung seperti dipahat dengan paksa. “Aku akan pergi sebentar. Kalau kau ingin istirahat duluan, jangan tunggu aku. Dan jika Hyun-suk hyung menelepon katakan saja aku sudah di kamar,”

“Ya! Kau mau ke mana?” tanya Taeyeon. Ia membalikkan tubuhnya lagi dan sedikit berlari untuk mendekati laki-laki itu. “Kau mau pergi ke mana?”

“Ke mana kakiku melangkah,” jawab Jiyong singkat. Ia melangkahkan kakinya menjauhi Taeyeon dan tidak berbalik walau gadis itu memanggil-manggil namanya.

“Paboya!” jerit Taeyeon kesal, setelah dilihatnya Jiyong sudah mulai menghilang dari pandangannya. “Aku benar-benar tidak akan peduli lagi. Aku akan mengatakan semuanya pada Hyun-suk ahjussi! Aku berharap kau tidak akan diberi kebebasan lagi!”

Taeyeon terengah dan ia memilih untuk diam. Ia juga tidak berani jika ada seseorang yang memearahinya karena terlalu berisik. Percuma saja ia menjerit memanggil laki-laki itu. Ia tidak akan berbalik dan mendatanginya. Laki-laki itu pasti punya tujuan yang membuat dirinya begitu nekat pergi malam-malam begini.

“Kau tidak akan pergi menemuinya, ‘kan?” rintih Taeyeon.

“Bukankah kau merindukannya? Sebelum kau sibuk dengan pekerjaannya, hubungi dan suruhlah dia datang malam ini. Seharusnya aku yang bicara begitu padamu,”

“Baiklah, sepertinya itu ide bagus,”

Untuk kali ini, Taeyeon merasa menyesal atas perkataannya. Dia tidak pernah mengharapkan hal itu. Tidak pernah. Mood-nya sudah turun sekali sejak mendengar percakapan Jiyong dengan supir mereka tadi.

Sambil menghela nafas panjang, Taeyeon membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam hotel dengan lesu.

~~~

“Kau hanya akan menikah dengan mate-mu, Ji. Jangan pernah berharap untuk menikahi gadis itu atau gadis-gadis lainnya jika itu bukan mate-mu,” ujar Mrs. Kwon dengan wajah sangat serius.

“Dan bisakah ibu tunjukkan padaku seperti apa mate-ku kelak? Aku bosan mendengar hal ini dan itu di antara kita berdua. Kenapa para vampire bisa begitu dikekang? Aku tidak mengerti, bu. Dan aku tidak akan pernah mau mengerti. Aku mencintai Kiko dan aku akan lakukan apapun hanya untuk bersamanya,” bantah Jiyong.

“Termasuk rehabilitasi?” tanya Mrs. Kwon dengan tatapan menyelidik. “Meskipun kau rehabilitasi, kau tetap vampire, Ji. Jangan pernah bertindak bodoh. Hargailah darah yang ada di dalam tubuhmu,”

“Aku tetap vampire, tapi aku bisa hidup sebagai manusia! Setidaknya aku tidak merasa seperti monster jika bersama Kiko. Bersama dengan gadis itu, aku merasa mencintai diriku sendiri, eomma. Bersama dengannya, aku melupakan darah vampire ini. Jika bersamanya aku pasti bisa jauh lebih bahagia,” ungkap Jiyong.

“Tch, apa kau bilang? Mencintai dirimu sendiri? Melupakan darah vampire-mu? Justru apa yang kau katakan itu bukanlah cinta yang sebenarnya, Ji. Orang yang benar mencintaimu adalah orang yang akan membuatmu nyaman seburuk apapun dirimu! Orang yang akan menerimamu meskipun kau adalah vampire. Dan itu adalah mate-mu. Jika kau belum menemukannya, aku akan selalu berharap hubunganmu dengan gadis itu tidak akan pernah berjalan mulus,”

Jiyong tersenyum sendu sambil membuang puntung rokoknya yang sudah memendek. Asap rokok keluar dari mulutnya secara perlahan saat ia menghela nafas panjang, mengingat ucapan ibunya beberapa tahun silam. Waktu itu dirinya memutuskan untuk cuti sebentar dari Bigbang dan jadwal-jadwal lainnya demi rehabilitasi. Demi Kiko.

Dan semenjak ibunya berkata seperti itu, seperti menyumpahinya, hubungannya dengan Kiko memang tidak pernah berjalan mulus. Ada saja hal-hal yang membuat mereka ribut. Dari hal kecil sampai besar. Dan karena ia ingin membuktikan pada ibunya kalau Kiko bisa menjadi mate yang dimaksudkan, ia terus mengalah. Hingga akhirnya ia lelah dengan sendirinya. Menyerah.

Mungkin perkataan ibunya benar. Mungkin perkataan dan alasan Hyun-suk selama ini tidak merestui hubungannya benar.

Mungkin dirinya dan Kiko memang ditakdirkan untuk memilih jalan masing-masing.

“Akan ada saat di mana kau menemukan seseorang yang benar-benar membuatmu mencintai dirimu sendiri, Ji. Bukan sebagai manusia, tapi dirimu yang sebagai vampire. Kau akan menemukannya. Walaupun kau merasa kau ini monster atau apapun itu, mate-mu akan menganggap hal itu sebagai suatu keajaiban,” ujar Hyun-suk.

“Kau seperti ibuku, hyung,” sela Jiyong.

“Kalau kau memang ingin rehabilitasi, apa darah vampire-mu akan hilang? Tidak. Kebutuhanmu akan darah juga tetap ada. Kau hanya akan merasa semakin tersiksa. Selama ini kau sudah menjalani cinta yang salah, Ji. Kau tidak mencintai dirimu apa adanya, kau mencintai dirimu apa yang selama ini Kiko lihat. Jangan seperti orang dungu, Kwon Jiyong. Jangan sampai kau menelantarkan mimpimu hanya karena angan  bodohmu itu,”

Selama ini apa yang ibu dan Hyun-suk katakan memang benar. Jiyong juga sudah menyadari hal itu. Ia memang down dan merasa terpuruk saat berpisah dari Kiko. Namun, semenjak kedatangan seseorang yang menghargai dirinya sebagai vampire dan bahkan melindunginya, membuat Jiyong melupakan luka batinnya.

Sejak pertama ia dilahirkan sebagai penerus ibunya, sebagai penyandang klan vampire, Jiyong merasa tertekan. Kakak, sepupu-sepupunya, dan saudara-saudaranya yang lain semuan normal. Manusia biasa. Semua orang di keluarganya memang menghiburnya, mengatakan kalau darah vampire adalah darah istimewa, darah yang menunjukkan cinta sejati. Tapi Jiyong tahu. Vampire termasuk ke dalam kamus ‘monster’.

Dan semua itu seketika berubah. Akhir-akhir ini ia merasa nyaman menjadi dirinya sendiri, menjadi salah seorang vampire. Baru kali ini ia merasa menghargai keturunannya sendiri, bersyukur memiliki darah special itu. Semenjak kedatangan manager barunya.

Ya, Kim Taeyeon.

Gadis yang awalnya benci dan takut padanya saat pertama kali bertemu, membuat Jiyong tidak menyukainya. Namun, apa yang terjadi? Gadis itu melindunginya, bahkan menghargai dirinya. Sedangkan dia? Addicted sekali dengan darah gadis itu.

Seolah-olah mereka memang saling melengkapi satu sama lain. Sehingga Jiyong sendiripun  berharap penantian akan mate yang selama ini ibunya ributkan berhenti di gadis kecil mungil itu.

Tapi bagaimana dengan Taeyeon sendiri? Bukankah ada Jaehyun? Mereka berdua saling mencintai, saling mengasihi. Sempurna. Salah satu ciri seorang vampire menemukan mate-nya.

Puncak masalahnya adalah, jika benar mate Jaehyun adalah Taeyeon sendiri, Jiyong berada di ambang kematiannya. Ia sudah mencicipi darah manis gadis itu. Tidak akan semudah itu seorang vampire melepaskan apa yang sudah ia rasakan, apalagi jika itu membuatnya ketagihan. Ia akan terus mencari darah gadis itu. Tidak akan berhenti mencari sampai gadis itu sudah benar-benar tidak ada.

Tidak mungkin ia sampai hati mengambil apa yang sudah dimiliki oleh orang lain, terlebih lagi Jaehyun adalah keluarganya. Mau tak mau perang antar vampire akan terjadi antara kubu Jiyong dengan kubu Jaehyun.

Lagi, Jiyong kembali mengabaikan perkataan ibunya. Seandainya saja ia mendengarkan, tidak akan ada masalah besar yang timbul seperti ini. Inilah bencana besar yang diwanti-wanti ibunya sedari dulu.

Karena Jiyong tidak pernah mendengar ada dua vampire yang mencintai satu orang wanita. Semuanya pasti ada mate-nya masing-masing. Jiyong adalah vampire pertama yang akan memecah belahkan keluarga vampire di muka bumi ini jika ia tetap mementingkan egonya.

Di saat ia sudah menemukan seseorang yang mengena di hati dan hidupnya, di saat jantungnya berdetak sepuluh kali lebih cepat terhadap seseorang itu, di saat darahnya mendesir hebat, di saat ia sudah mencintai siapa dirinya sendiri, di saat ia sudah memutuskan untuk menyerahkan seluruh hati, jiwa, dan hidupnya pada seseorang, apakah ia harus kembali mengalah?

Sampai kapan ia terus mengalah? Dan kali ini, bagi Jiyong sangat sulit sekali untuk mengalah.

Jiyong menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah dan mengusapnya sampai ke ubun-ubun kepalanya. Ia bingung sekali, marah dan kecewa di saat yang bersamaan.

Tepat saat itu, ponselnya berdering, menandakan ada telepon masuk. Jiyong mengambil ponselnya dari dalam saku dan melihat nama si pemanggil.

Seunghyun hyung.

“Yeoboseo, hyu…,”

“Neo eodisseoyo?” sela Seunghyun tanpa memberikan kesempatan pada Jiyong untuk menyapanya. “Kabur lagi dari hotel dan bepergian entah ke mana, ‘kan?”

“Darimana kau tahu?” Jiyong balik bertanya, heran.

“Tidak bisakah kau berhenti membuat cemas orang lain, eoh?!” seru Seunghyun.

“Kau mencemaskanku?” tanya Jiyong tak percaya dan shock setengah mati.

“Bukan aku, bodoh! Tapi Taeyeon!” jawab Seunghyun, membuat Jiyong terhenyak. “Gadis itu meneleponku dan bertanya di mana biasanya kau dan Kiko bertemu jika kalian sama-sama berada di Jepang. Tentu saja aku bingung kenapa dia bertanya seperti itu. Dan akhirnya dia mengatakan kalau kau pergi entah ke mana malam-malam begini. Dia curiga kau bertemu dengan Kiko,”

“Aish, perempuan itu,” rutuk Jiyong. “Aku hanya jalan-jalan saja. Kenapa fikirannya dangkal sekali?”

“Bukan fikirannya yang dangkal, idiot. Kekhawatirannya padamu yang terlalu besar. Kau pergi tapi tidak bilang ke mana. kalau sampai paparazzi atau media melihatmu bersama Kiko, yang repot siapa? Yang akan kena scandal lagi siapa? Dan lebih parahnya lagi, kau belum minum darah! Kau tidak tahu betapa cemasnya dia sekarang di hotel. Tiga jam lamanya kau pergi dan gadis itu masih menunggumu sampai sekarang. Setidaknya kau memberi kabar, dasar vampire bodoh!” caci Seunghyun penuh emosi.

Dia memang vampire bodoh. “Aku akan kembali sekarang,”

Jiyong memutus sambungan teleponnya dan segera kembali ke hotel. Benaknya dipenuhi oleh wajah panik gadis Kim itu.

~~~

Taeyeon menggigit-gigiti kuku jari kanannya sambil bolak-balik di dalam kamar hotelnya. Sesekali ia membuka gorden jendela dan mengecek apakah ada tanda-tanda kedatangan dari orang yang sejak tiga jam lalu ditunggunya.

Merasa bosan dan mengantuk, Taeyeon melangkah menuju meja riasnya dan mengambil salah satu buah apel yang terletak di piring buah-buahan di atas meja rias. Ia mengambil pisau untuk mengupas kulitnya. Fikirannya kembali tidak fokus, memikirkan keberadaan laki-laki bernama Kwon Jiyong yang siap akan dibunuhnya setelah dia muncul nanti.

Apa benar dia menemui Kiko lagi? Setelah bertemu, akan ada kesempatan untuk kembali bersama, ‘kan?

Taeyeon menahan nafasnya yang tercekat ketika bola matanya menangkap tetesan darah yang mencuat dari ujung jari telunjuk kanannya akibat salah potong. Ia kehilangan fokusnya sampai-sampai sulit membedakan mana buah dan mana jarinya sendiri. Rasa kantuknya juga tak tertahan lagi.

Bukannya segera mencari obat yang diperlukan, gadis itu malah asyik memandangi darahnya yang semakin lama semakin turun membasahi telapak tangannya. Sakit memang. Tapi Taeyeon merasa malas untuk bangkit karena rasa sesak di dadanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan darah itu.

“Darah ini… Seandainya kau tidak membuat laki-laki bodoh itu tergiur, aku tidak akan merasa sesakit ini jika mengetahui ia masih mencintai mantan kekasihnya itu,” gumam Taeyeon sembari tersenyum kecil.

Beberapa menit setelahnya, Taeyeon hendak bangkit dari tepi tempat tidurnya untuk mencari obat. Namun, pintu kamar hotelnya yang terbuka dan memperlihatkan kedatangan seseorang membuat tubuh Taeyeon mematung seketika.

Laki-laki yang dari tiga jam lalu ditunggunya ada di sana, di hadapannya, sedang menutup pintu kamar dan melangkah mendekatinya. Saking shock-nya, Taeyeon melupakan darah dan rasa sakit di ujung jari telunjuk kanannya.

“Kau dari mana saja?” tanya Taeyeon pelan. Ia bangkit dan memperhatikan wajah Jiyong.

Tidak menjawab pertanyaan Taeyeon, iris cokelat Jiyong terarah ke darah yang mengalir dari ujung jari gadis itu dan sebuah pisau juga buah apel yang terletak di atas piring meja riasnya. Perempuan ini pasti terluka lagi karena memikirkannya. Menyadari arah tatapan Jiyong, Taeyeon buru-buru menurunkan tangannya.

“Tidak ada media yang mengikutimu, ‘kan? Kau tidak melakukan sesuatu yang bodoh, ‘kan?” tanya Taeyeon bertubi-tubi.

“Kenapa kau bertanya yang aneh-aneh pada Seunghyun hyung? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk istirahat dan berhenti mencemaskan hal yang tidak perlu?” Jiyong balik bertanya. Wajahnya mengeras tapi tatapan matanya memperlihatkan kesedihan yang sulit Taeyeon deskripsikan. “Kalau kau tahu aku di mana, kau akan menyusulku begitu?”

“Setidaknya kau mengirimiku pesan kalau kau baik-baik saja. Seharusnya aku tahu kau tidak akan sempat melakukan apa-apa bahkan untuk sekedar mengecek ponselmu. Dan aku juga tidak akan menyusulmu meskipun aku tahu di mana dirimu. Aku tidak begitu bodoh untuk mengganggu pertemuanmu dengan Kiko,” jawab Taeyeon kesal.

Ia menyadari denyutan perih di ujung jarinya dan secara tidak sengaja meringis kesakitan. Oh, dia harus mencari obatnya.

“Tindakan bodoh apalagi yang kau buat?” tanya Jiyong, menahan pergelangan tangan kanan Taeyeon dan meneliti lukanya.

“Mengupas apel, ternyata yang tergores adalah jariku,” jawab Taeyeon pelan.

“Memakan apel sama sekali tidak menghilangkan rasa kantuk, ‘kan? Kau sangat keras kepala sekali. Tiga jam adalah waktu yang sangat panjang, yang bisa kau gunakan untuk tidur. Aku heran melihatmu, jinjja,” cecar Jiyong geram.

Taeyeon memilih tidak berkomentar apa-apa. Ia hanya sedikit menunduk dan tidak mau menatap wajah Jiyong. Bahkan pergelangan tangannya yang digenggam erat oleh laki-laki itu pun ia biarkan saja. Jika Taeyeon ikut membalas perkataan Jiyong malam ini, ia takut akan berkata yang tidak-tidak. Ia takut apa yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat akan keluar begitu saja.

Ia takut ia akan mengeluarkan semua yang ia rasakan pada laki-laki itu. Terlebih lagi, air matanya mulai menggenang. Jika dia mengangkat wajahnya dan bertemu dengan kedua mata cokelat itu, ia tidak akan mampu menahan air matanya lebih lama lagi.

Melihat reaksi Taeyeon yang diam saja membuat Jiyong tidak enak hati. Ia tahu Taeyeon melakukan hal itu karena khawatir dan cemas. Ia tahu gadis itu terlalu baik dan lembut hati sehingga mengenyampingkan urusannya sendiri. Terlebih lagi, sekarang ia terluka dan Jiyong bisa-bisanya menegurnya.

Dengan kelembutan yang dimilikinya, Jiyong menarik pelan pergelangan tangan kanan Taeyeon ke arahnya dan mendekap tubuh gadis itu penuh perasaan, seakan-akan tubuh yang sedang tenggelam di pelukannya ini akan rapuh seketika. Tanpa tahu apa alasan Jiyong memeluknya begitu lembut, air mata Taeyeon jatuh seketika. Ia menangis tanpa suara, berusaha keras agar laki-laki itu tidak menyadarinya.

Taeyeon diam tidak bereaksi ketika tubuhnya semakin dalam tenggelam di dada Jiyong, memperdengarkan detak jantung laki-laki itu yang lebih cepat dari debaran jantung orang normal pada umumnya. Mendengar irama jantungnya membuat darah Taeyeon berdesir hebat dan segala kegundahan hatinya sirna secara perlahan.

Ia merasa aman dan… dicintai?

“Aku tidak bertemu dengan Kiko tadi, berniat bertemu juga tidak. Aku hanya mengurusi sesuatu yang penting di sini, yang tidak bisa kulewatkan sedetik saja selama aku di Jepang saat ini. Aku juga tidak membuat masalah atau tertangkap basah dengan paparazzi seperti yang kau cemaskan sekarang. Semuanya aman. Mian, aku tidak menghubungimu. Aku fikir kau sudah terbang ke dunia Naverland-mu,” bisik Jiyong yang tanpa sadar membelai surai pirang milik Taeyeon.

“Syukurlah kalau begitu,” gumam Taeyeon. Suaranya tenggelam dan ia berharap Jiyong tidak mendengar ataupun merasakan dentuman jantungnya yang semakin di luar batas kontrol dirinya. Ia merasa terbang mendengar pengakuan dari Jiyong. Rasanya ingin dibalasnya pelukan laki-laki itu, menunjukkan betapa bahagianya dia.

Taeyeon tersenyum simpul dan air matanya sudah tidak mengalir lagi. Semuanya terasa melegakan. Namun, beberapa detik kemudian, senyuman manis itu hilang. Taeyeon melepaskan pelukan Jiyong secara perlahan dan menatap wajahnya dalam-dalam.

“Urusan penting apa? Kenapa harus kau kerjakan sekarang? Kau bisa datang lagi ke Jepang kapan-kapan, ‘kan?” tanya Taeyeon bingung.

“Kau akan tahu,” jawab Jiyong pelan. “Tapi nanti. Sekarang, kita obati dulu lukamu ini,”

“Ah, aku menyimpan obat…,”

“Tidak perlu,” sela Jiyong pelan. Ia kembali menarik pelan pergelangan tangan Taeyeon dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.

Melihat gelagat Jiyong, Taeyeon tahu apa yang akan terjadi. Seharusnya ia menutup matanya atau bahkan menghentikannya. Tapi yang terjadi adalah ia tetap bergeming di tempatnya, dengan mata yang terbelalak saat bibir lembut dan hangat Jiyong untuk yang kesekian kalinya menyapa bibirnya.

Entah kenapa Jiyong mulai suka menciumnya sebelum ia menghisap darahnya.

Jiyong mengecupi bibir ranum milik Kim Taeyeon beberapa kali hingga akhirnya ia memagut bibir itu dengan sedikit kasar, tak sabaran. Kali ini Taeyeon memutuskan untuk menutup matanya rapat-rapat. Pegangan Jiyong di pergelangan tangan Taeyeon terlepas, digantikan dengan pelukan posesif di pinggang gadis itu, membuat tubuh keduanya menempel erat dan sulit untuk dilepaskan.

Begitu lumatan bibir keduanya semakin lama semakin dalam dan intens, nafas Taeyeon yang sudah tersengal-sengal dan butuh sekali oksigen, Jiyong menggigit kuat bibir bawah gadis itu kemudian melepasnya pagutannya. Taeyeon melenguh antara rasa sakit di bibirnya dan hasratnya yang tiba-tiba muncul, membuat Jiyong menyeringai.

Sadar dengan tindakan konyolnya, wajah Taeyeon berubah merah padam dan ia tidak bisa menyembunyikannya, mengingat tubuhnya yang masih ditawan dengan kuat oleh kedua lengan Jiyong.

Jiyong tertawa kecil. Ia mengambil pergelangan tangan kanan Taeyeon lagi. Dengan hati-hati dijilatinya darah yang mengalir itu sampai ke ujung jari lalu di kulumnya lembut. Taeyeon terkesiap tapi ia tidak menarik lengannya sama sekali. Ia hanya bisa menunduk, salah tingkah dengan gerakan seksi dari leader Bigbang ini.

See? It’s healed,” ujar Jiyong dengan senyum manisnya.

“N… Ne,” jawab Taeyeon gugup.

Taeyeon menengadahkan wajahnya dan ia menyadari perubahan di mata Jiyong. Ia tahu, sekarang gilirannyalah untuk ‘mengobati’ laki-laki itu. Sedikit gemetar, Taeyeon membuka tiga atas kancing kemejanya, memperlihatkan leher jenjang putih mulusnya.

Detik berikutnya, Taeyeon merasa punggungnya sudah terhempas ke tempat tidur dan tindihan di atas tubuhnya. Kedua pergelangan tangan Taeyeon ditahan di atas kepalanya oleh Jiyong, yang mulai sibuk menggigiti setiap sisi leher mulusnya, membuatnya merasakan ekstasi menggairahkan yang membuatnya terus-menerus kecanduan tanpa ia sadari.

~~~

Dengkuran lembut yang terdengar di samping kiri Jiyong membuat laki-laki tersebut membuka kelopak matanya perlahan. Iris hazelnya menangkap sosok perempuan mungil yang tengah tertidur pulas dengan wajah damainya. Jiyong tersenyum kecil melihat pemandangan indah yang akhir-akhir ini memanjakan penglihatannya. Lengan kirinya digunakan gadis itu sebagai bantal. Sedikit keram, tapi Jiyong mengacuhkannya.

Tanpa berniat membangunkan gadis tersebut, Jiyong mengelus pipi meronanya penuh sayang. Ditatapnya dalam-dalam wajah porselen itu. Ada rasa perih yang kembali menggerogoti hatinya.

“Apa kau tahu yang kau lakukan ini salah?” ujar Jiyong pelan. “Lebih tepatnya akulah yang salah. Membiarkanmu melakukan semua ini tanpa tahu akibat ke depannya. Kau tidak bisa terus berada di sisiku dan aku juga tidak bisa terus bergantung padamu. Itu sebabnya, berhentilah. Berjanjilah ini untuk yang terakhir kalinya. Akan banyak orang yang tersakiti, termasuk orang yang selama ini kau cintai. Aku juga tidak bisa menyakiti saudaraku sendiri. Semakin lama aku membiarkan ini terjadi, semakin tidak bisa aku melepasmu. Bukan karena darahmu, tapi karena perasaanku.

“Mungkin kau tidak mengerti, tapi perasaan seperti ini pada seseorang yang belum tentu mate-nya adalah hal yang paling terlarang bagi bangsa kami. Sebelum aku jatuh terlalu dalam padamu, sebelum aku menjadi vampire paling jahat di muka bumi, dan sebelum semua orang yang kusayangi menjadi korban, mari hentikan semua ini. Tempatmu bukan di sisiku. Hal yang dipaksakan akan berakhir buruk, ‘kan? Aku tidak ingin membuatmu semakin terluka.

“Aku tidak tahu kapan tepatnya, tapi karena dirimu, tipe idealku dalam hal perempuan berubah 180 derajat. Karena dirimu, aku jadi lebih menghargai siapa diriku yang sebenarnya. Karena dirimu, sekarang aku mencintai darah vampire yang mengalir dalam diriku ini untuk pertama kalinya. Dan karena dirimu, lah aku belajar merelakan sesuatu yang tidak mungkin dengan mudah aku lepaskan.

“Kau tidak tahu, dan aku tidak akan pernah membiarkanmu tahu. Aku mencintaimu. Aku tidak ingin menyakitimu, melukaimu. Untunglah kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku, menyukaiku, pun tidak. Aku tidak ingin semua ini jadi beban yang lebih berat lagi,”

Pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara maupun gerakan yang membuat Taeyeon terbangun dari tidurnya, Jiyong menggantikan lengan kirinya dengan sebuah bantal hotel yang nyaman dan empuk lalu bangkit dari tempat tidur. Selama beberapa detik lamanya ia pandangi wajah Taeyeon dan membenarkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.

“Jalja,” bisik Jiyong. Dikecupnya bibir ranum Taeyeon dan dielusnya lembut ubun-ubun kepala Taeyeon sebelum ia keluar dari kamar gadis itu.

~~~

“Sedikit lagi, Jiyong-kun! Ah, sedikit lagi, lebih dekat lagi!” seru sang fotografer pada Jiyong sembari membidikkan kameranya ke arah Jiyong dan seorang gadis manis tahun kelahiran 1996, Komatsu Nana.

“Kau membuatnya lebih dekat seperti apa? Sampai benar-benar berciuman?” tanya Taeyeon, lebih tepatnya hardik. Taeyeon berdiri tepat di samping si fotografer dan mendelik ke arahnya.

“Ah, ya ya seperti itu juga boleh!” seru si fotografer, agak gugup karena dari awal sesi pemotretan gadis bermarga Kim yang diketahuinya sebagai manager Bigbang ini selalu melayangkan protes pada dirinya setiap kali ia mengarahkan Jiyong dan Nana untuk lebih intens lagi dalam hal skinship.

Ya, dari awal sekali sesi pemotretan, Taeyeon tidak pernah meninggalkan tempatnya sekarang, berdiri di samping si fotografer dan memperhatikan setiap photoshoot yang dilakukan oleh Jiyong dan Nana. Gadis itu juga tidak hanya sekali melakukan protes berat pada si fotografer jika ia menyuruh Jiyong untuk lebih mesra lagi pada Nana.

Hal itu membuat crew dari Nylon Japan Magazine tersenyum geli melihat kecekcokan kecil yang terjadi setiap menitnya pada Taeyeon dan fotografer mereka.

Jiyong tersenyum sedikit mendengar keributan itu―lagi―lalu ia kembali mendekatkan wajahnya pada Nana sambil menutup kedua matanya. Nana juga ikut menutup kedua matanya.

Selanjutnya sesi di mana Jiyong akan memeluk Nana dari belakang. Lagi, Taeyeon menyuarakan keberatannya pada si fotografer.

“Bukankah sesi foto seperti ini sudah dilakukan?” tanya Taeyeon.

“Sekali lagi, nee-chan. Okay? Tenang saja, ini yang terakhir,” jawab si fotografer sambil tersenyum lebar. Ia menghela nafas panjang-panjang lalu kembali lagi memusatkan perhatiannya pada Jiyong dan Nana. “Peluk dengan mesra Jiyong-kun!”

Taeyeon mengalihkan wajahnya ke samping kanan dan mengerucutkan bibirnya, kesal. Ia tidak ingin memandangi dua manusia yang berada di depannya untuk saat ini. Sudah banyak sesi foto yang ia lihat dan jujur saja, ia cemburu. Belum pernah ia merasa cemburu hanya karena masalah sepele seperti ini. Bahkan dengan Jaehyun juga tidak.

Mungkin karena dalam pandangan Taeyeon, photoshoot yang dijalani Jiyong bersama dengan Nana ini adalah photoshoot yang menampilkan kesan natural romantic, tidak dipaksakan, dan sangat indah. Taeyeon akui, Jiyong dan Nana memiliki chemistry kuat sehingga semua yang mereka lakukan terkesan indah.

Dan kali ini Taeyeon melihat sisi gentleman dari sosok Kwon Jiyong ketika ia memeluk Nana, menyalurkan seluruh kehangatannya untuk gadis itu lewat dekapannya. Itulah yang membuat Taeyeon cemburu. Yah, tidak dipungkiri. Semua sesi foto yang berlanjut membuatnya cemburu.

~~~

“Ini akan jadi photoshoot yang mengagumkan sekali. Tidak salah aku menyarankan mereka sebagai modelnya,” ungkap editor majalah Nylon Japan pada beberapa crew-nya saat ia sedang sibuk mengolah-olah setiap foto yang sudah diserahkan oleh fotografer.

“Mereka juga kelihatan cocok,” ungkap crew yang lainnya. “Bukannya Nana-chan memang mengagumi G-Dragon?”

“Benar sekali. Lihatlah ketika Jiyong-kun mengajaknya mengobrol. Wajahnya yang manis itu langsung tersipu malu,” lanjut yang lain sambil tersenyum-senyum penuh arti.

Taeyeon, yang saat itu sedang mengemasi barang-barang milik Jiyong di ruang ganti, tidak sengaja mendengar percakapan antar crew tersebut. Ia berhenti sesaat untuk mendengar lebih lanjut lagi, tapi mereka sudah mengganti topic pembicaraannya. Kesal, dengan asal Taeyeon memasukkan pakaian Jiyong ke dalam tas ranselnya tanpa peduli Jiyong akan marah mengenai betapa buruknya ia dalam hal kerapian.

Gadis Komatsu itu memang tampak menyukai Jiyong. Ia memang sedikit salah tingkah saat dipertemukan dengan Jiyong sebelum photoshoot mereka mulai.

Beberapa menit kemudian, Taeyeon belum juga mau keluar dari ruang ganti. Ia tahu saat ini Jiyong masih asyik bercanda tawa dengan beberapa crew dan mungkin Nana sendiri di lokasi syuting setelah mereka menyelesaikan sesi pemotretan. Taeyeon akan tetap berdiam diri di ruang ganti, menunggu Jiyong memanggilnya.

Tidak berapa lama, pintu ruang ganti terbuka dan menampilkan sosok Kwon Jiyong. Taeyeon yang sedang termenung, buru-buru bangkit dan mengambil tasnya.

“Kita kembali ke hotel?” tanya Taeyeon penuh harap.

“Tentu saja tidak,” jawab Jiyong. Ia mengambil dan memakai tas ranselnya. “Tim Nylon Japan Magazine mengajak kita makan malam bersama. Kau mau ikut?”

“Tumben sekali kau mengajakku,” gumam Taeyeon, yang dapat didengar Jiyong. “Selain crew?”

“Ada Nana-chan juga. Kalau kau tidak mau ikut, istirahat saja di hotel. Mungkin aku agak malam…,”

“Aniya, aku ikut,” sela Taeyeon cepat. “Apa aku perlu ganti pakaian?”

“Tidak perlu,” jawab Jiyong, heran mendengar keputusan Taeyeon yang tiba-tiba. “Kau sudah akrab dengan fotografer tadi, ‘kan? Ikut saja dengannya. Mereka mau pergi sekarang. Aku mungkin akan menyusul, mau bertemu dengan beberapa orang teman sebentar,”

“Arraseo,” jawab Taeyeon pelan. “Dan aku tidak akrab dengan fotografer menyebalkan itu,”

“Dia orang yang menyenangkan. Ah, Nana ingin berkenalan denganmu. Kau bisa bersama-sama dengannya sebelum aku datang,” usul Jiyong. Ia keluar dari ruang ganti dan Taeyeon buru-buru menyusulnya.

Keluar dari ruang ganti, Jiyong langsung mengantarkan Taeyeon kepada beberapa orang crew yang akan bersiap-siap untuk pergi. Tampak si fotografer di sana, sedang mengobrol seru dengan Nana.

“Jangan lama-lama, Jiyong-kun. Kebersamaan kita hanya tersisa malam ini, lho,” ujar si fotografer.

“Aku tidak akan lama, Renji” jawab Jiyong. “Manager-ku akan ikut. Tapi mereka ikut kalian. Aku titip dia, ya. Nana, bukankah kau ingin mengenalnya?”

“Nee-chan, kau tidak akan protes apa-apa padaku lagi, ‘kan? Aku tidak membawa kamera, kok saat makan malam kita. Sepertinya kau kesal sekali dengan kameraku,” canda si fotografer, yang diketahui bernama Renji dengan raut wajah serius, membuat Jiyong tertawa kecil.

“Ya, aku kesal padamu, bukan pada kameramu,” jawab Taeyeon setengah bercanda dan setengah jujur, tentu saja.

“Baiklah, aku pergi dulu,” pamit Jiyong.

“Nana-chan, ayo ucapkan ‘sampai jumpa’,” goda Renji. Taeyeon ingin sekali menjitak kepalanya.

Jiyong melirik Taeyeon sekilas dan ia tersenyum pada Nana seraya berkata, “Sampai nanti, Nana-chan,”

Laki-laki bedebah! Taeyeon memelototi punggung Jiyong yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya.

“Nee-chan,” suara lembut Nana menyadarkan Taeyeon.

“Ah, ya?” tanya Taeyeon.

“Senang bertemu denganmu,” ucap Nana. “Boleh, ‘kan aku panggil ‘nee-chan?’”

“Tentu saja boleh, Nana-chan,” jawab Taeyeon dan ia tersenyum lembut pada gadis belia yang masih lugu menurut pandangan Taeyeon tersebut.

~~~

“Nana-chan ini Jiyong-kun, benar-benar gembira saat ia tahu ia akan disandingkan denganmu di photoshoot ini. Gembira sekali sekaligus gugup. Kau tidak lihat ia begitu salah tingkah ketika berhadapan denganmu? Lucu sekali Nana-chan ini,” ungkap Renji sambil meneguk wine yang ada di hadapannya dengan sekali teguk.

“Aku tidak percaya,” ujar Jiyong. Ia menatap Nana yang berada berseberangan dengannya dan Renji bersamaan. “Mungkin saja Nana-chan salah tingkah karena tidak tahu harus bersikap apa di depan seorang bad boy dan druggie seperti G-Dragon ini. Setiap perempuan benci dengan itu,”

Taeyeon, yang lebih memilih diam sambil menikmati makanannya langsung mengarahkan tatapannya pada Jiyong, yang duduk di hadapannya. Dahinya mengernyit. Apa laki-laki itu menyindirnya?

“Tidak seperti itu, kok nii-chan,” sanggah Nana cepat. “Aku memang suka pada… Pada onii-chan,”

“Lihatlah pipi Nana-chan yang memerah itu, Jiyong-kun,” ujar Renji sambil menyenggol sikut Jiyong. “Manis sekali,”

“Aku juga suka pada Nana-chan,” jawab Jiyong.

Jawaban Jiyong membuat Taeyeon sukses menelan daging yang baru disuapinya ke dalam mulut bulat-bulat tanpa proses pengunyahan terlebih dahulu. Ia terbatuk-batuk dengan sangat hebat sampai wajahnya merah sekali, mengalahkan rona merah di wajah Nana.

“Nee-chan, minumlah,” Nana menawarkan air mineral miliknya pada Taeyeon. Air mineral milik gadis itu sendiri sudah habis.

“Arigatou, Nana-chan,” sengal Taeyeon.

“Nee-chan, mau kupotongkan dagingmu? Atau kau kelaparan sekali sampai-sampai tidak sempat mengunyah dagingnya?” tanya Renji.

“Aku memang sangat lapar sekali. Kalau boleh, apa kau mau menyumbangkan dagingmu padaku?” tanya Taeyeon ketus.

“Nee-chan kanibal,” pekik Renji, pura-pura memasang wajah ketakutan.

Jiyong hanya tersenyum kecil. “Ren, aku ke sana, ya?”

“Aku ikut, Jiyong-kun. Gadis-gadis, kami tinggal, ya? Nana-chan, berhati-hatilah,”

Sebelum Taeyeon sempat melempari Renji dengan daging yang sedang dilahapnya, Renji langsung menarik Jiyong untuk segera pergi dari hadapan mereka. Melihat itu Nana tertawa geli.

“Sepertinya aku akan jauh lebih menyukai nee-chan,” ungkap Nana dan ia tersenyum tulus.

“Apa-apaan kau ini,” ujar Taeyeon dan ia tertawa.

~~~

“Kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Taeyeon heran pada laki-laki yang berada tepat di sampingnya, Kwon Jiyong.

Setelah makan malam bersama dengan para crew dari Nylon Japan Magazine dan Nana, Jiyong langsung mengajak Taeyeon untuk pergi berdua dan tidak pulang bersama dengan yang lainnya atau meminta jemput pada salah seorang bodyguard YG. Jiyong lebih memilih memanggil taxi dan membawa mereka ke…

“Tokyo Station?” tanya Taeyeon lagi. “Kenapa kita ke…,”

“Pakailah,” Jiyong menyodorkan sebuah jaket berwarna abu-abu pada Taeyeon. Taeyeon tahu itu bukan jaketnya. “Kita akan melakukan perjalanan panjang malam ini sampai besok sore,”

“Mwo? Tapi… Kenapa? Dan kita akan ke mana?” tanya Taeyeon penuh tuntutan. Ia tidak mengerti arah fikiran laki-laki yang ada di depannya ini. “Aku bisa dimarahi oleh Hyun-suk ahjussi kalau seperti ini. Paparazzi akan melihatmu, media massa akan sibuk membicarakanmu jika kita ketahuan,”

“Kim Taeyeon,” panggil Jiyong dengan suara rendah. “Untuk sekali ini saja. Diamlah. Aku akan menjelaskannya ketika kita sudah berada di dalam kereta nanti,”

Taeyeon diam terhenyak mendengar penuturan Jiyong, yang lebih kepada membentak dirinya dengan cara sangat halus. Dan Taeyeon memilih diam saja selama mereka jalan beriringan menuju sebuah kereta yang sudah berhenti dan membuka pintu otomatisnya agar orang yang mau masuk dan keluar bisa melewatinya.

Taeyeon benar-benar khawatir saat ini. Bukan karena ini sudah pukul 12 malam dan belum sampai di hotel. Tapi karena seorang Kwon Jiyong berkeliaran di Tokyo Station, naik kereta entah mau pergi ke mana. Taeyeon takut ketahuan. Ia sangat takut posisi Jiyong akan terancam bahaya karena ketahuan naik kereta berduaan dengan seorang gadis tak dikenal.

Namun, kekhawatiran Taeyeon segera terkikis melihat tak ada yang peduli dengan keberadaan mereka, seolah-olah orang yang jalan dengan Taeyeon saat ini bukanlah seorang Hallyu star. Keadaan Tokyo Station memang terbilang sangat sepi. Hanya ada orang-orang yang telah berumur ataupun orang-orang yang tampaknya tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, orang-orang yang sibuk dengan urusannya sendiri.

Benar-benar sepi. Bahkan dalam kereta.

Saat mereka berdua sudah masuk ke dalam kereta, Jiyong langsung menuntun Taeyeon untuk duduk di bangku paling sudut. Taeyeon terima-terima saja ia ditarik sesuka hati oleh laki-laki yang sedang tidak waras tersebut.

Laki-laki itu tampaknya biasa saja dengan keberadaannya di dalam kereta. Ia juga tidak mengenakan maskernya. Hanya topi hitam yang menutupi kedua matanya. Tentu saja, yang berada di dalam kereta itu bisa dihitung pakai jari.

“Apa aku sudah boleh bicara?” tanya Taeyeon pelan, saat kereta perlahan-lahan sudah mulai bergerak.

“Baru saja kau melakukannya,” jawab Jiyong. Ia melepas topinya dan mengacak-acak rambutnya. Seketika Taeyeon terpesona. Yah, leader Bigbang itu memang sangat sexy sekali.

“Kenapa kau melepas topimu?!” pekik Taeyeon dengan suara tertahan.

God, Kim Taeyeon. Tenang, lah,” ujar Jiyong kesal.

“Bagaimana aku bisa tenang?! Kau benar-benar ingin aku mati secara menyakitkan?!”

“Kau sangat mengkhawatirkanku sampai rasanya menyakitkan, eoh?” goda Jiyong. Sejak kapan laki-laki itu bisa menggoda seseorang? Ah, menggoda Kim Taeyeon, lebih tepatnya.

“Ani… Ya! Jangan mengalihkan pembicaraan! Jelaskan apa maksud semua ini. Kita mau pergi ke mana dan kenapa dengan mudahnya kau melepas topimu?!” seru Taeyeon kesal. Ia berusaha menutupi rona merah di kedua pipinya.

Jiyong menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Ia menatap Taeyeon dengan begitu intens, sampai gadis tersebut salah tingkah dan wajahnya kembali merah padam. Tapi ia tidak berani mengalihkan pandangannya. Di matanya, Jiyong tampak sangat serius.

“Ini adalah permintaanku padamu untuk yang pertama dan terakhir kalinya, Taeyeon-ssi. Sejak aku kecil sampai sekarang aku tidak pernah merasa bebas pergi ke manapun aku mau. Selalu ada kamera, paparazzi, sasaeng fans, dan lain-lainnya yang mengikutiku. Aku tidak pernah merasakan seperti apa rasanya naik kereta, bus, atau kendaraan umum lainnya. Tidak pernah.

“Aku tidak pernah melakukan perjalanan panjang yang hanya aku sendiri yang mengetahuinya. Aku tidak pernah merasakan yang namanya menjelajah tanpa harus terusik dengan yang namanya dunia entertainment. Sekali ini saja, sekali dalam seumur hidupku, aku ingin lepas dari dunia itu. Sekali saja, aku ingin melupakan diriku sebagai seorang G-Dragon. Aku ingin pergi ke tempat di mana tidak ada seorang pun yang tahu aku ini siapa. Aku ingin sekali lepas dari dunia mengerikan itu untuk sekali ini.

“Inilah satu-satunya kesempatanku. Pergi dari kegelapan, hiruk-pikuk itu dan menghirup udara segar, dengan nama ‘Kwon Jiyong’. Jebal, jangan ingatkan aku apa-apa soal siapa diriku selain Kwon Jiyong. Mulai detik ini, hanya ada Kwon Jiyong dan Kim Taeyeon. Arraseo?” jelas Jiyong panjang lebar.

Taeyeon membelalakkan kedua matanya dan beberapa detik kemudian, tanpa sadar ia menganggukkan wajahnya, menuruti permintaan mustahil Jiyong. Bagaimana jika mereka ketahuan?

“Percayalah padaku,” bisik Jiyong, seperti mengerti arti kegundahan di wajah Taeyeon. “Kita tidak akan ketahuan. Aku jamin itu. Tidak akan ada yang berusaha menyakitimu. Percayalah, aku akan melindungimu. Kalau kau percaya padaku, semua ini akan terasa mudah,”

Taeyeon menganggukkan wajahnya kembali. Kata-kata Jiyong barusan benar-benar menggetarkan hati dan seluruh perasaannya. Kenapa ia jadi ingin menangis? Apa karena baru kali ini ia melihat sosok berbeda dari Kwon Jiyong yang sebenarnya? Atau… Karena ia terlampau bahagia?

Bahagia karena Jiyong memilih untuk kabur dari dunianya… Berdua bersama gadis itu. Walaupun hanya sesaat.

“Kenapa aku? Kenapa kau mengajakku?” tanya Taeyeon pelan.

Jiyong diam beberapa saat sebelum dia menjawab pertanyaan Taeyeon yang harus dijawab dengan kata-kata yang tepat. “Karena aku ingin. Karena aku… nyaman,”

Taeyeon diam dan memilih untuk tidak bersuara. Ia tidak ingin semakin mendengar kata-kata manis yang memabukkan dari laki-laki itu lagi. Ia takut sekali terbang terlalu tinggi, hingga ujung-ujungnya nantinya laki-laki ini akan mencampakkannya begitu saja. Tapi kenapa Taeyeon merasa laki-laki itu mengucapkannya dengan amat sangat jujur dan tulus? Kenapa rasanya ia ingin sekali percaya?

Kenapa harapannya semakin tinggi pada Jiyong? Bolehkah, walaupun itu tidak mungkin, untuk sekali ini saja, ia berharap lebih pada orang yang ada di hadapannya ini? Berharap ia juga memiliki perasaan yang sama dengan perasaan yang kini Taeyeon rasakan. Perasaan yang lebih dari sekadar ‘nyaman’.

“Kalau seperti ini jadinya… kita seperti sedang berkencan,” ujar Taeyeon tanpa sadar. Sedetik kemudian, ia langsung menyesal setengah mati. Dengan takut-takut ia memandangi Jiyong, melihat reaksinya.

“Kalau begitu…,” ujar Jiyong pelan. “Maukah kau menjadi teman kencanku selama kita kabur?”

“Boleh,” jawab Taeyeon tanpa ragu. Warna merah padam langsung menghiasi kedua pipinya, membuat Jiyong menahan dirinya mati-matian untuk tidak mencium bibir gadis itu.

“Mari kita lupakan…,”

“Tunggu,” sela Taeyeon cepat. “Orang-orang yang ada di kereta ini… tidak mengenalmu atau bagaimana?”

“Sejujurnya, aku menyewa kereta, bus, dan ferry yang akan kita gunakan selama perjalanan menyenangkan ini. Aku juga menyewa beberapa orang kepercayaanku, orang-orang yang bisa melindungi dan menjaga kita dengan mempertaruhkan nyawa mereka selama kita bersenang-senang. Yah, contohnya orang-orang yang ada di kereta ini sekaligus yang menjadi masinisnya. Mereka memakai pakaian yang tidak mencolok tapi tetap awas dengan keadaan sekitar,” jelas Jiyong, lebih kelihatan ceria dari biasanya.

“Jeongmalyo? Ani… Apakah itu semua mengeluarkan biaya yang sangat besar?” tanya Taeyeon, shock.

“Sangat,” jawab Jiyong enteng. “Untuk villa yang akan kita tempati terutama. Dengan keamanan extra dan sebagainya memang membuat dompetku tergali cukup dalam,”

“Kita akan ke mana? Villa? Kau tidak hanya menyewa villa saja, ‘kan? Aku tidak ingin mendengar hal-hal aneh darimu lagi,” ucap Taeyeon tak percaya.

“Kita akan ke Oki Islands, teman kencanku. Tempat yang sangat indah, yang takkan pernah kau lupakan. Kita akan melakukan banyak hal di sana. Bebas. Tak perlu takut apa-apa,” jawab Jiyong.

“Karena kau sudah menyewa semuanya? Jiyong-ssi, aku tahu kau sangat kaya, tapi… Menyewa pulau? Villa? Dan semua ini? Oki Island bukanlah pulau yang kecil!” pekik Taeyeon.

“Itu sebabnya butuh waktu lama untuk memohon pada pihak-pihak sana agar mereka mau ‘meminjamkan’ pulaunya dan segala pernak-perniknya. Butuh bujukan dan rayuan maut yang takkan bisa kau bayangkan agar semuanya bisa berjalan lancar. Kalau saja kemarin tidak ada seseorang yang menungguku selama tiga jam, mungkin aku bisa dapat lebih,” ungkap Jiyong.

“Kau gila,” tutur Taeyeon. “Sangat gila. Ini namanya bukan lari dari duniamu. Tetap saja kau mengandalkan hasil kerja keras G-Dragon,’kan?”

“Bukankah sudah kukatakan mulai detik ini hanya ada Kwon Jiyong dan Kim Taeyeon? Itu artinya kita berdua,” jawab Jiyong dengan penegasan di akhir kalimat. “Sebaiknya kau tidur. Perjalanan ini memakan waktu 12 jam,”

“Aku tidak mengantuk,” kilah Taeyeon. Mana mungkin ia bisa tertidur di saat-saat seperti ini? Tidak akan ada kesempatan kedua untuk melakukan perjalanan jauh kabur dari segala rutinitas bersama dengan Kwon Jiyong. Dan laki-laki tersebut mengatakan ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya.

Pertama dan terakhir?

“Gotjimal,” gumam Jiyong. “Berani bertaruh kau akan tidur beberapa saat lagi,”

“Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan,” ujar Taeyeon. Ia mendapati Jiyong sudah menutup kedua matanya. “Aish! Ternyata dia yang tidur duluan,”

Beberapa detik setelahnya, Taeyeon memutuskan untuk ikut memejamkan matanya, mungkin tidur sebentar akan menghilangkan rasa kantuk yang menderanya sejak makan malam tadi. Dan tidak sampai lima belas detik, Taeyeon langsung terlelap.

Tahu kalau ‘teman kencan sehari’nya sudah lelap, Jiyong membuka matanya dan menatap sendu ke arah gadis tersebut. Ia menyunggingkan senyum kecilnya dan merapikan sedikit anak rambut yang menempel di dahi Taeyeon.

“Aku tidak ingin kau bertanya apapun padaku. Aku tidak ingin kau tahu apa-apa. Kalau kau terus bertanya, kau akan tahu perasaanku,” bisik Jiyong lembut.

Ia menyandarkan kepala Taeyeon ke pundaknya dan membiarkan dirinya ikut terlelap juga. Dengan lengan kirinya yang memeluk erat tubuh mungil gadis itu.

Merasa baru sesaat ia memejamkan kedua matanya, tubuh Jiyong sudah diguncang-guncang oleh seseorang dan namanya dipanggil berulang kali. Dengan sangat terpaksa, laki-laki itu membuka matanya dan menatap sosok Taeyeon yang berada di sampingnya.

“Ada apa?” tanya Jiyong pelan.

“Kita sudah sampai,” gumam Taeyeon.

“Apa?”

Jiyong melebarkan iris matanya dan menyadari kalau sinar matahari sudah memperlihatkan sengatannya. Kereta yang sekarang ini sedang mereka naiki juga perlahan-lahan akan segera berhenti.

“Yonago Station, terdengar suara pengumuman seorang perempuan di dalam kereta.

“Ah, kau benar. Sudah sampai,” gumam Jiyong. Ia memakai kembali topi hitam serta ranselnya dan menarik pergelangan tangan kanan Taeyeon, menyuruhnya untuk ikut berdiri, bersiap-siap turun.

“Kau sudah makan?” tanya Taeyeon, yang masih memerhatikan Jiyong dalam-dalam. “Jangan bilang kalau tidur yang membuatmu kenyang. Baru kali ini kulihat kau tidur cukup pulas dan lama,”

“Bukankah kita sepakat untuk tidak akan membicarakannya?” tanya Jiyong.

“Mianhae,” bisik Taeyeon. Ia sedikit menunduk dan menggigiti bibir bawahnya, lupa. Dasar gadis ceroboh.

“Dan aku sudah makan. Kemarin malam, sebelum makan bersama dengan crew dari Nylon Japan Magazine. Untuk sekarang ini, aku tidak akan meminum darahmu, dan jangan memaksaku. Aku sudah banyak mengantongi darah rusa yang kuminta dari temanku dua hari yang lalu,” jelas Jiyong sambil menunjuk tas ranselnya.

“Waeyo?” tanya Taeyeon. “Apa ini termasuk dalam rencana pelarianmu?”

“Bisa dibilang seperti itu. Aku hanya tidak ingin melakukannya di saat-saat seperti ini. Berhentilah bertanya ‘kenapa’ padaku. Kau harus percaya aku akan baik-baik saja dengan meminum darah hewan ini. Meminum banyak-banyak lumayan memberiku banyak stamina,” ujar Jiyong. Ia mengeratkan genggamannya di dalam telapak tangan Taeyeon, untuk meyakinkan Taeyeon akan ucapannya. Ia benar-benar tidak ingin masuk ke dalam jurang yang bisa membahayakan dirinya dan juga Taeyeon.

“Arraseo,” jawab Taeyeon. Dadanya bergemuruh kencang. “Asalkan kau harus mengingatnya, Jiyong-ssi. Jangan pernah berusaha untuk menjadi manusia biasa. Jangan pernah berusaha untuk melupakan darah vampire yang ada dalam dirimu. Jika kau tidak bisa menahannya, katakan saja,”

Jiyong tersenyum kecil pada Taeyeon lalu ia segera membawa gadis itu turun dari kereta. Orang-orang yang berada di kereta itu juga ikut turun―semuanya melangkah mengelilingi Jiyong dengan trik yang cukup cerdik―membuat Taeyeon sedikit gugup. Namun, genggaman di tangannya ini, tangan Jiyong, mampu mengantarkan rasa nyaman yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.

Dan Taeyeon tahu laki-laki itu menjaganya, melindunginya dari semua rasa cemas, khawatir yang selalu menggerogoti perasaannya.

Taeyeon merasa tersentuh kecil dan ia mengeratkan pegangannya pada Jiyong.

Turun dari kereta, sebuah bus menunggu mereka. Bus itu juga sudah dipenuhi oleh beberapa orang, dan Taeyeon tidak perlu takut lagi orang-orang itu siapa. Mereka berdua duduk di bangku belakang, dengan Taeyeon yang berada di samping jendela. Semilir angin lembut dan segar khas Oki Island menyapa wajah cantiknya.

“Jangan terlalu puas dulu, masih ada kapal ferry yang menanti kita,” bisik Jiyong dengan senyuman manisnya.

“Kau tidak lelah?” tanya Taeyeon ketika bus mulai bergerak jalan.

“Tidur sambil memelukmu di kereta tadi sudah seperti tidur selama seminggu. Jadi, rasa lelah itu juga tidak ada, hilang tanpa bekas,” jawab Jiyong tanpa memandang ke arah Taeyeon.

Taeyeon tersenyum manis mendengar jawaban laki-laki yang ada di sampingnya itu. Memang benar ia tidur pulas sekali, tidak seperti biasanya. Dan Taeyeon hampir kena serangan jantung mendadak saat dirinya tahu tengah dipeluk begitu erat oleh Jiyong. Meskipun begitu tidak dapat ditampiknya kalau Taeyeon suka sekali dipeluk seperti itu. Kehangatan Jiyong seolah-olah menjadi selimut untuknya selama mereka tidur bersama akhir-akhir ini.

Jiyong menggerakkan ibu jarinya untuk mengelus kepalan tangan Taeyeon yang ada dalam genggamannya, menyadarkan gadis itu kalau tangan mereka masih saling bertautan sampai saat ini. Wajahnya kembali merah padam dan ia menatap tangan yang saling bertaut itu dengan penuh kebimbangan.

“Tidak nyaman, eh?” tanya Jiyong, yang sadar dari tadi Taeyeon terus memandangi tangan mereka.

“Eh? A…Ani… Aniya. Bukan seperti itu,” jawab Taeyeon gugup. “Jangan lepaskan. Aku suka, kok. Sangat nyaman,”

Jiyong mengangguk senang dan ia menunjuk beberapa bangunan yang ia kenal yang ada di samping kiri kanan mereka. Menceritakan setiap detailnya dan itu cukup membuat Taeyeon melupakan kegugupan dan kecanggungannya bersama Jiyong. Mereka mengobrol lepas sampai bus berhenti di Sakaiminato Port.

Dan sebuah ferry sudah muncul di hadapan mereka berdua saat mereka dan orang-orang dalam bus itu sudah turun. Ferry yang cukup besar, tidak. Sangat besar untuk seseorang yang menyewanya dalam sekali pakai saja.

Belum puas mengagumi indahnya Sakaiminato Port, ferry, serta angin segar yang kembali mendera tubuhnya, Jiyong kembali menarik tangan Taeyeon untuk segera masuk ke dalam ferry tersebut.

“Perjalanannya sekitar 2 jam lebih. Kau mau melakukan sesuatu?” tawar Jiyong pada Taeyeon.

Kapal ferry yang tengah mereka naiki kini sudah dalam perjalanannya menuju Oki Islands Port. Kini mereka berdua berdiri di bagian Oceanview Cabin. Angin yang cukup kencang menerpa wajah mereka berdua. Rambut indah Taeyeon terbang ke sana kemari dan itu membuatnya sibuk membenarkan rambutnya yang semakin acak-acakan. Namun, ia tidak bisa mengingkari betapa indahnya pemandangan yang terhampar di hadapannya ini.

“Tentu saja ada. Aku tidak mau melewatkan kesempatan emas yang hanya bisa kudapatkan sekali seumur hidup,” jawab Taeyeon. Ia merogoh tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah buku sketsa yang pernah dilihat Jiyong pertama kali mereka bertemu.

Ah, Jiyong tahu. Hobi Taeyeon mulai muncul kembali. Gadis itu memang tidak pernah sempat meluangkan waktunya untuk melukis atau menggambar apapun itu dikarenakan jadwal Bigbang yang makin hari makin padat.

“Rindu sekali. Melihat semua pemandangan indah ini, ide brilliant-ku keluar dan aku harus menuangkannya sebelum aku lupa. Dan aku memang suka membuat webtoon dengan cuaca seperti ini,” tutur Taeyeon penuh semangat. Ia duduk di salah satu bangku yang ada di sekitar situ dan mengeluarkan peralatan menggambarnya.

“Tidak sia-sia, ‘kan aku menyuruhmu bawa tas ransel besar kemarin,” sindir Jiyong. Ia melipat kedua lengannya di dada dan memerhatikan wajah lugu Taeyeon yang sedang menggambar.

“Ne, gomawo eoh? Mengerjakan pekerjaan lamaku seperti ini membuatku rindu juga pada Dami eonni. Orang yang tidak pernah lelah menceramahiku ini-itu,” ungkap Taeyeon sambil tertawa renyah.

Sudut bibir kanan Jiyong melengkung, tersenyum senang melihat gadis yang ada di hadapannya ini menunjukkan raut wajah bahagia. Ia pandangi gadis itu dalam-dalam, lama-lama. Ia tidak ingin melupakan wajah bersinar itu. Meskipun nantinya mereka akan berpisah cepat atau lambat dia ingin mengabadikan wajah cantik itu dalam memory­-nya.

Ah, memory ponselnya juga menginginkan hal yang sama.

Tanpa disadari Taeyeon yang benar-benar tenggelam dengan kegiatannya, Jiyong memotret gadis itu beberapa kali, dalam berbagai angle sampai dirinya puas dan merasa cukup. Ia kembali menyimpan ponselnya dan kini memandang hamparan pulau yang menyejukkan penglihatannya serta nalurinya, dengan sosok Kim Taeyeon yang ada di sampingnya.

Dan tanpa mereka berdua sadari, orang-orang yang ada di dalam kapal ferry itu, orang-orang kepercayaan Jiyong, melihat mereka berdua sambil senyum-senyum sendiri. Bukan apa, tapi Jiyong dan Taeyeon tampak seperti sepasang kekasih bahagia dimabuk cinta yang sedang memandangi pemandangan pulau bersama-sama, dengan Taeyeon yang sibuk menggambar dan Jiyong yang selalu di sisinya, menemani gadis itu, gadisnya.

~~~

“Waahhh, Oki Islands!!!” pekik Taeyeon senang setelah dirinya dengan begitu tergesa-gesa keluar dari kapal ferry dengan tas ransel besarnya ia jinjing di punggung.

Melihat pemandangan pulau dan pepohonan hijau yang luar biasa hebat dalam kedua matanya, Taeyeon seperti seorang anak kecil yang dibelikan sebungkus permen kesukaan oleh orang tuanya. Riang bukan main. Sampai-sampai gadis itu tidak menunggu Jiyong, yang masih mengobrol sebentar dengan teman-temannya di dalam ferry.

Jalan setapak yang Taeyeon turuni saat itu adalah jalan yang masih dipenuhi dengan kerikil-kerikil kecil dan cukup berbahaya. Apalagi di jalanan itu ada banyak kuda-kuda yang sedang menyantap makanan mereka yang berupa rumput segar di samping kanan-kiri jalan.

“Kalau kau tidak segera menyusul gadismu itu dan menyuruhnya berhati-hati, kemungkinan dia jatuh terjerembab akan mencapai 99,99 persen,” ujar salah satu teman Jiyong.

Jiyong menoleh ke belakang dan betapa terperanjatnya dia saat gadis yang dimaksud temannya ini adalah Taeyeon, yang berlari kencang menuruni jalan setapak. Karena jalannya yang menurun, larinya semakin kencang. Dan Jiyong semakin sakit kepala saat dilihatnya ada kumpulan kuda tak jauh dari sana.

“Terima kasih banyak. Aku akan mengabari kalian jika kami sudah mau pulang. sekali lagi terima kasih banyak. Aku pergi dulu,” pamit Jiyong dan ia menundukkan tubuhnya 90 derajat pada teman-temannya itu.

Begitu Jiyong berbalik badan, ia segera menyusul Taeyeon berlari menuruni jalan setapak, tentu saja dengan hati-hati.

“Ya! Kim Taeyeon! Jangan la…,”

“Kyaaaa!!!”

Mendengar jeritan memilukan dari mulut gadis itu, jantung Jiyong langsung jumpalitan tak tenang. Apalagi didengarnya ada suara pekikan kuda. Bagaimana kalau gadis itu menyebabkan kuda-kuda itu merasa sedang terancam bahaya? Tanpa fikir panjang, ia mempercepat larinya dan menemukan Taeyeon, yang benar-benar jatuh terjerembab di tengah kawanan kuda.

Kawanan kuda itu mengitari Taeyeon dan mengendus-endus wangi tubuh Taeyeon dengan hidung mereka. Dapat Jiyong lihat ada luka cukup serius di lutut kirinya, lecet mungkin. Ia sedikit meringis kesakitan dan tampaknya tidak memedulikan kuda-kuda itu.

Dengan perlahan-lahan agar tidak membuat para kuda itu curiga, Jiyong mendekati Taeyeon dan menarik gadis itu ke arahnya. Ia sedikit memapah tubuh mungil itu dan membawanya sedikit menjauh dari kawanan para kuda.

“Bukankah sudah kukatakan jangan lari?!” bentak Jiyong.

“Kau tidak mengatakannya!” bantah Taeyeon cepat.

“Aku mau mengatakannya tapi kau sudah jatuh duluan. Kenapa kau tidak menungguku?” tanya Jiyong lagi.

“Pulau ini sangat indah. Menunggumu terlalu lama. Rasanya sangat disayangkan jika belum berkeliling mengitari pulau indah ini. Apa nama pulaunya?” tanya Taeyeon dengan wajah berseri-seri.

Chiburi Village,” jawab Jiyong. “Acara kelilingnya nanti saja setelah kita ke villa dan berbenah. Kau tidak merasa risih satu harian belum mandi?”

Villa-nya di mana?” tanya Taeyeon. “Setelah mandi kita langsung keliling, eoh? Kalau kau tidak mau biar aku saja,”

Membayangkan Taeyeon berkeliling sendirian di pulau yang sama sekali baru didatanginya membuat Jiyong bergidik ngeri. Rencana awalnya untuk melakukan pelarian sepertinya gagal jika dirinya sibuk memantau dan menjaga gadis mungil tersebut.

“Arraseo, arraseo,” jawab Jiyong cepat. “Lagipula memang aku berniat untuk membawamu keliling hari ini sampai malam. Jangan khawatir,”

Taeyeon tersenyum dan mengangguk ceria. Lucu sekali. Lagi, Jiyong harus menahan dirinya untuk tidak mencubit kedua pipi gadis itu dengan gemas. Atau yang lebih parah, menciumnya.

“Kajja, kita jalan ke villa. Aku benar-benar ingin sekali jalan mengelilingi tempat ini. Mari kita buat kenangan indah banyak-banyak di tempat yang menakjubkan ini,” ujar Taeyeon sambil tersenyum manis. Ia melangkahkan kakinya dengan tertatih-tatih karena luka di lutut kirinya yang cukup dalam.

“Taeyeon-ssi,” panggil Jiyong pelan.

Taeyeon menolehkan wajahnya yang penuh keceriaan ke belakang dan menatap Jiyong dengan pandangan bertanya-tanya. Jiyong memerhatikan wajah bening itu dalam-dalam. Pancaran kebahagiaan jelas tertera di wajah itu.

Dan dirinya sama sekali tidak ingin meredupkan cahayanya. Jangan sampai. Jika itu terjadi, apalagi kalau itu semua karena dirinya, Jiyong mungkin akan menengelamkan dirinya sendiri di pulau Oki ini.

“Kita jalan bersama,” ujar Jiyong cepat. Ia mendekati Taeyeon dan menawarkan lengan kanannya pada gadis itu.

“Apa?” tanya Taeyeon heran.

“Gamit lenganku,” jawab Jiyong singkat tanpa menurunkan lengannya. Taeyeon terkejut dan kedua pipinya kembali dihiasi rona merah muda yang sangat kelihatan sekali.

Taeyeon mengangguk dan ia menggamit lengan kanan Jiyong dengan erat. Ia bahkan terkesan memeluk lengan itu. Jiyong tersenyum kecil dan mulai melangkahkan kakinya perlahan-lahan menuju villa. Sedangkan gadis itu, Taeyeon, jalannya jadi agak lebih mudah karena laki-laki tersebut membantunya. Ia tersenyum lembut dan semakin mempererat pegangannya di lengan Jiyong.

~~~

“Bukannya tadi dia yang minta cepat-cepat?” gumam Jiyong pada dirinya sendiri sambil sesekali mengecek arlojinya. Pukul 6 sore waktu setempat.

Ya, Jiyong sudah menunggu Taeyeon lebih dari satu jam sejak mereka sampai di villa dan membersihkan diri masing-masing sebelum pergi keluar mengelilingi pulau Oki itu. Ia menunggu Taeyeon di depan villa, dengan mengenakan kaos hitam dibalut dengan sweater berwarna hitam juga. Laki-laki itu tampak sangat rapi dan semakin tampan dengan membiarkan rambutnya sedikit berantakan.

Sebelum mereka pergi ke kamar masing-masing, Jiyong sudah berpesan pada Taeyeon kalau dia akan menunggu gadis itu di depan villa. Namun, sudah lebih dari satu jam dia berdiri menunggu dan gadis Kim itu belum menunjukkan batang hidungnya.

“Dia akan menyia-nyiakan hal ini,” rutuk Jiyong kesal.

Ia mengecek kembali arlojinya dan menghadapkan wajahnya ke atas, tepatnya ke arah balkon salah satu kamar yang diyakini Jiyong adalah kamar yang ditempati Taeyeon.

“Taeyeon-ssi! Kim Taeyeon!” seru Jiyong. Ia bermaksud memanggil Taeyeon dari luar saja. Pilihan buruk jika dia mendobrak pintu kamar gadis itu meskipun dia ingin.

Tidak butuh berapa waktu lama untuk pintu yang menuju balkon itu terbuka, dan sosok seorang perempuan bertubuh kecil mungil, kulitnya yang bak porselen, dengan rambutnya yang acak-acakan serta wajahnya yang kusut muncul di sana. Gadis itu baru bangun tidur dan Jiyong ingin mencekiknya sekarang juga.

“Kalau kau belum selesai dua puluh menit dari sekarang, aku akan mengunci dirimu di dalam villa sampai aku pulang,” ancam Jiyong.

Taeyeon terdiam mendengar kata-kata Jiyong. Kesadarannya belum benar-benar pulih. Otaknya masih berusaha mencerna apa yang dikatakan Jiyong dan di mana dia berada sekarang. Begitu kedua matanya menangkap pemandangan indah Oki Islands, Taeyeon terperanjat. Ia kembali memandang Jiyong.

Okay, dua puluh menit!” pekik Taeyeon sembari masuk kembali dalam kamar.

~~~

“Pelan-pelan saja apa tidak bisa?!” protes Taeyeon pada Jiyong dengan emosi yang sudah membakar ubun-ubun kepalanya.

“Tidak bisa,” jawab Jiyong singkat dan tidak peduli meskipun daritadi gadis yang ditarik-tariknya terus-menerus meringis kesakitan.

Jiyong tahu kalau Taeyeon belum mengobati luka di lututnya dan lebih memilih lelap di atas tempat tidur villa tadi. Itu sebabnya gadis tersebut merasa sangat kesakitan saat Jiyong menggenggam tangan mulusnya dan langsung menyeretnya untuk pergi ke suatu tempat dengan tergesa-gesa.

Jiyong tidak sampai hati sebenarnya, apalagi mendengar rintihan gadis itu. Ulu hatinya jadi sakit. tapi dia terpaksa melakukannya, sangat terpaksa. Dia tidak bisa lama-lama lagi. Waktu terus berjalan dan Jiyong sama sekali tidak ingin melewatkannya setelah mereka berdua sampai di tempat indah seperti ini. Mereka harus sampai di sana tepat waktu, harus melihatnya.

Jiyong berjanji dalam hati untuk gadis yang tengah meringis itu kalau sakitnya akan hilang setelah dia melihat apa yang akan diperlihatkan Jiyong.

“Bertahanlah sebentar lagi,” pinta Jiyong pelan.

“Ne, karena sebentar lagi mungkin kakiku akan patah,” jawab Taeyeon ketus.

Jiyong tersenyum menyeringai dan terus melangkahkan kakinya dengan cepat. Taeyeon kembali diam sambil terengah-engah. Memang sulit menyamai langkah laki-laki vampire bodoh yang ada di depannya ini. Sejujurnya ia penasaran sekali dengan apa yang ingin diperlihatkan Jiyong, sampai-sampai tega memberinya waktu 20 menit untuk mandi dan berias. Setiap perempuan pasti butuh waktu minimal 2 jam untuk tampil cantik!

“Kita sampai,” ujar Jiyong dengan nafas tersengal. Ia menoleh menatap Taeyeon dan tersenyum sangat lebar dan menarik gadis itu untuk berdiri tepat di sampingnya, dengan tangan mereka yang terus terpaut. “Oki Archipelago. Sea of Japan, salah satu spot yang sangat bagus untuk menikmati sunset,”

“Daebak!” seru Taeyeon tanpa bisa menahannya. Kedua matanya berbinar-binar tanpa bisa ia sembunyikan.

Perlahan rasa sakit dan lelah yang daritadi terus menderanya sirna begitu saja ketika ia memandang langit Jepang tersebut. Langit itu memamerkan warnanya yang bahkan sulit Taeyeon jelaskan dengan kata-kata. Dark blue, pearl white, chrome orange, semuanya bercampur menjadi satu, seperti tumpahan cat yang menodai langit berlatarbelakang laut dan pegunungan.

Menakjubkan. Jadi inikah alasannya Jiyong menariknya dengan paksa? Untuk memperlihatkannya sunset ini?

“Kalau begini, kau tidak akan marah, ‘kan?” bisik Jiyong, yang masih mendongak menatap langit menawan itu.

“Bayaran yang sangat setimpal,” jawab Taeyeon. Ia tersenyum lembut. Genggaman Jiyong semakin erat. “Kau tahu betul soal Jepang. Aku tidak akan ragu lagi kenapa kau bisa tahu sangat banyak seperti ini,”

“Kau menyindirku atau mengejekku?” tanya Jiyong dan Taeyeon hanya tertawa kecil.

Setelah itu keduanya sama-sama terdiam, sama-sama fokus menyelami pemandangan yang ada di hadapan mereka berdua. Pemandangan sekali seumur hidup Taeyeon, bersama dengan laki-laki itu. Keduanya sama-sama tenggelam dalam pemikiran mereka masing-masing.

Dan tanpa diketahui Jiyong, bahkan Taeyeon sendiri, setetes air mata jatuh begitu saja dari pelupuk mata gadis mungil itu. Ia bahagia, sangat bahagia. Ingin rasanya menghentikan waktu sekarang ini. Ia ingin terus seperti ini. Namun, hatinya kembali berdenyum menyakitkan ketika otaknya membisikkan sesuatu.

“Pertama dan terakhir,”

Kenapa rasanya momen-momen indah seperti ini bersama Jiyong takkan pernah terulang lagi? Dan hati kecilnya menjawab, ‘Ne, takkan pernah lagi,’.

Satu jam lamanya mereka memandangi sunset indah itu. Kini, keduanya kembali melangkah bersama ke suatu tempat. Kali ini Jiyong lebih perlahan membawa Taeyeon dalam genggamannya, tidak tergesa seperti tadi. Ya, tangan mereka masih menempel satu sama lain, seakan-akan tidak ingin lepas meskipun satu detik saja. Entahlah, tapi Taeyeon merasa sangat nyaman hanya dengan menggenggam tangannya.

Shima-umare Shima-sodachi Oki-gyu Mise. Daging sapi panggang terenak di Jepang. Kau lapar, ‘kan?” tanya Jiyong. Ia menatap Taeyeon dan langsung menarik gadis itu untuk masuk ke dalam.

“Selamat datang, Tuan dan Nona,” sapa salah seorang pelayan kedai tersebut dengan senyum sumringahnya. “Butuh berapa meja?”

“Satu saja,” jawab Jiyong. “Ruang pribadi,”

“Saya tunjukkan jalannya,” tawar si pelayan.

Pelayan itu membawa Jiyong dan Taeyeon ke salah satu ruang pribadi yang tadi dimaksudkan Jiyong. Pintu kayu khas Jepang itu digeser terbuka dan di dalam ruangan tersebut terdapat meja bundar di tengah-tengah dan ada dua bantal duduk saling berhadapan.

“Pesanannya Tuan?” tanya si pelayan begitu Jiyong dan Taeyeon sudah duduk manis di atas bantal nyaman tersebut.

Fillet dan daging panggang khas Oki-gyu saja. Dan untuk minumnya dua jus jeruk,” jawab Jiyong.

“Baik, tunggu sebentar Tuan dan Nona. Jika ada yang ingin dipesan lagi, panggil saja saya,” ujar si pelayan itu. “Dan malam ini, khusus malam ini ada gratis dua piring tanshio untuk pengantin baru. Saya akan menyiapkan tanshio-nya terlebih dulu,”

“Terima kasih banyak,” ucap Jiyong dengan senyuman lebarnya. Dan pelayan itu, pun pergi.

“Apa kita terlihat seperti pasangan pengantin baru?” tanya Taeyeon dengan wajah merona.

“Mungkin, buktinya kita dapat tanshio gratis,” jawab Jiyong. “Kebanyakan pengantin baru memang selalu melewatkan bulan madunya di Oki Islands. Jadi tidak heran kalau banyak yang menyangka dua pasang manusia sedang jalan bersama pada malam hari disangka pengantin baru,”

Taeyeon hanya menganggukkan kepalanya sambil melihat sekekeling, berusaha menyembunyikan sikap gugupnya yang sangat kentara sekali.

“Waeyo?” tanya Jiyong. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap gadis itu. “Kau tidak suka, ya orang-orang melihat kita seperti pengantin baru?”

“Kenapa kau bisa berfikir seperti itu?” Taeyeon balik bertanya.

“Sepertinya kau merasa keberatan,” jawab Jiyong santai.

“Aku sama sekali tidak merasa keberatan, apalagi tidak suka,” bantah Taeyeon cepat, tanpa bisa dicegahnya. Dan detik berikutnya, kedua matanya terbelalak, seperti baru sadar dengan apa yang dikatakannya.

Jiyong terdiam mendengar bantahan dari mulut Taeyeon yang keluar secara tiba-tiba itu. Ucapan yang keluar pertama kali tanpa disadari bukankah artinya kata-kata itu meluncur dari dalam hati nurani paling dalam?

Belum sempat Taeyeon berusaha untuk memperbaiki perkataannya, si pelayan yang tadi membuka pintu dan meletakkan dua piring yang berisi lidah sapi bakar dengan bumbu garam (tanshio) di hadapan Jiyong dan Taeyeon, tak lupa sebuah kompor arang untuk memanggang daging sapi nanti. Ia membungkuk sedikit sebelum keluar dari ruangan mereka.

Dengan kecanggungan luar biasa, Taeyeon meletakkan tanshio miliknya ke atas panggangan dan mulai sibuk memanggang, tanpa berani memandang Jiyong. Sedangkan Jiyong hanya tersenyum geli melihatnya.

“Sepertinya enak,” ucap Jiyong sembari memandangi fillet dan daging sapi yang sudah ada dalam pandangan matanya. Ekor matanya juga mengikuti gerak tangan Taeyeon yang sibuk memanggangi daging-daging menggiurkan itu.

“Kau bisa memakannya kalau kau mau,” ujar Taeyeon. “Kau bawa darahmu, ‘kan?”

“Bawa. Tapi aku sudah minum saat menunggumu mandi,” jawab Jiyong.

“Sini darahnya,” pinta Taeyeon.

“Untuk apa?” tanya Jiyong curiga. Tapi ia tetap mengeluarkan satu bungkus darah tersebut dan menyerahkannya pada Taeyeon.

Taeyeon menerimanya dengan senang hati. Lalu ia meletakkan daging sapi yang sudah ia panggang ke dalam piring Jiyong dan membuka bungkusan darah itu. Dengan hati-hati Taeyeon menuangkan satu bungkus darah tersebut ke atas daging sapi panggang untuk Jiyong.

“Makanlah, rasanya pasti enak,” tawar Taeyeon. Ia meletakkan piring yang berisi daging sapi panggang dengan lumeran darah itu di depan Jiyong. “Aku baca di buku kalian bisa memakannya seperti itu. Jadi, perutmu tidak akan menolak,”

Jiyong tersenyum mendengar perkataan Taeyeon barusan. Ia memandangi gadis itu dengan penuh takjub dan mulai memakan daging tersebut dengan penuh kehati-hatian. Sedangkan Taeyeon memakan daging itu dengan sangat lahap, seperti orang yang tidak pernah makan daging.

Setelah daging bercampur darah itu masuk ke dalam perut Jiyong, Jiyong mengangguk singkat dan mulai makan dagingnya dengan lahap juga, seperti Taeyeon. Melihat itu, Taeyeon tersenyum senang.

Setelah menikmati daging panggang Oki-gyu, Jiyong kembali mengajak Taeyeon pergi mengunjungi sebuah tempat yang menarik. Taeyeon menerima ajakannya dengan senang hati. Jalan ke mana, pun Jiyong ajak dia akan langsung menyetujuinya, walaupun rasa sakit di lutut kirinya semakin menjadi dan mendadak kaki kanan Taeyeon terasa ngilu, mungkin sedikit terkilir karena jatuh tadi. Rasa sakitnya datang terlambat, di saat yang tidak tepat.

Jiyong menyadari itu. Namun, ia diam saja dan dengan lembut kembali menggenggam tangan Taeyeon.

Ternyata Jiyong mengajak Taeyeon ke tempat di mana mereka melihat sunset tadi. Laki-laki itu duduk di atas rerumputan di bukit itu dan menyuruh Taeyeon untuk duduk di sampingnya. Taeyeon memandangi Jiyong dengan tatapan bingung.

“Kenapa kita ke sini lagi?” tanya Taeyeon heran.

Jiyong tampak berfikir sebelum menjawab, “Kau akan tahu beberapa saat lagi,”

Taeyeon hanya diam sambil memandangi langit malam dan hamparan pulau Oki di depan matanya. Malam hari, pun pulau itu tetap menakjubkan.

“Kau tidak menyesal, ‘kan ikut dalam pelarianku ini?” tanya Jiyong setelah mereka cukup lama terdiam.

“Sama sekali tidak. Justru aku harus berterima kasih banyak padamu. Sudah lama tidak liburan dan rasanya otakku benar-benar fresh sekarang,” jawab Taeyeon jujur. “Dan aku juga harus berterima kasih pada Kiko,”

“Kenapa harus dengannya juga?” tanya Jiyong bingung.

“Dia, ‘kan yang mengenalkanmu pada tempat seindah ini?” Taeyeon balik bertanya.

Jiyong tertawa pelan mendengar penuturan lugu Taeyeon. “Sama sekali tidak. Aku bahkan baru pertama kali datang ke sini, sama sepertimu. Mengenal seluk-beluk Jepang bukan berarti harus Kiko yang memberitahuku,”

“Kau baru pertama kali juga?” tanya Taeyeon kaget. “Lalu… Kenapa kau mengajakku? Tempat ini sangat indah, sangat romantis, yang seharusnya kau ajak itu adalah orang yang kau cintai, kekasihmu nanti,”

“Karena kaulah orang yang pertama kali membuatku sadar kalau menjadi sosok vampire itu bukanlah hal yang patut disesali, bukanlah hal yang seharusnya dilenyapkan. Seharusnya aku bangga memiliki darah bangsawan ini. Seharusnya aku bangga karena aku memiliki keturunan yang sangat special. Kebanggaanku baru muncul saat aku bertemu denganmu. Tepatnya saat aku meminum darahmu. Dengan cara yang mungkin tidak kau sadari, untuk pertama kalinya aku menghargai klan-ku sendiri, untuk pertama kalinya aku bangga siapa diriku yang sebenarnya.

“Alasan kenapa Hyun-suk hyung tidak menyetujui hubunganku dengan Kiko adalah karena aku ingin sekali melenyapkan darah keturunan vampire ini. Aku ingin rehab dan hidup sebagai manusia pada umumnya, meskipun aku masih seorang vampire. Aku sangat mencintai Kiko dan tahu dia benci dengan hal-hal yang berbau monster, sepertimu. Karena itulah aku ingin melepaskan karirku dan rehab selama lima tahun. Dan hal itu membuat Hyun-suk hyung murka. Ia mengataiku bodoh dan tak berperasaan meninggalkan Bigbang hanya karena mementingkan egoku.

“Dan akhirnya aku senang bisa bebas dari belenggu kebodohanku sendiri. Dan itu semua karena aku bertemu denganmu. Karena kau yang sangat membenci laki-laki sepertiku tapi tetap menghormati dan menghargaiku yang seorang vampire, bahkan melindungiku. Kau, yang membenci sosok monster saja bisa menghargai, melindungi dan menghormatiku. Kenapa aku yang memiliki darah ini sama sekali tidak?

“Dan dengan meminum darah manismu, aku baru sadar kalau kekuatan dan staminaku bertambah berkali-kali lipat daripada dengan meminum darah biasa. Itulah sebabnya kini aku lebih menghargai siapa diriku sebenarnya. Dan itulah alasannya kenapa aku merasa sangat nyaman denganmu, meskipun kau ini menyebalkan sekali. Bahkan, kau lebih dari sekadar ‘teman yang nyaman’,” ungkap Jiyong dengan pandangan sendu, yang berusaha ia sembunyikan.

Taeyeon menundukkan wajahnya mendengar pengakuan Jiyong yang menyentuh relung hatinya. Seakan-akan ada embun yang menetesi jiwa Taeyeon.

“Aku tidak membenci hal-hal yang berbau monster lagi,” ujar Taeyeon. “Sejak bertemu dan mengenal dirimu yang sesungguhnya. Aku bahkan… Mengagumimu. Itu sebabnya aku tidak pernah takut untuk menyerahkan darahku setiap kau perlu. Itu sebabnya aku sangat mengkhawatirkan apapun tentangmu. Aku tidak pernah takut. Aku hanya… Bimbang. Aku bimbang dengan perasaanku sendiri,”

Tangan Jiyong terkepal kuat mendengarnya. Jika ia tidak mengingat ibunya, mengingat Jaehyun, mungkin sekarang ini Jiyong akan benar-benar membawa kabur gadis itu. Menghilang dari dunia ini, dari pandangan Jaehyun.

“Tidak perlu lagi,” ujar Jiyong dengan suara seraknya. “Simpanlah darahmu mulai dari sekarang. Jangan pernah menyerahkannya lagi padaku. Jangan pernah,”

“Kena…,”

“Kau bukan mate-ku,” potong Jiyong cepat. “Kau bukan pasangan sejatiku. Hanya mate-ku lah yang pantas menyerahkan darah, diri, serta hatinya padaku seorang, tidak boleh ada yang lain. Mungkin kau tidak tahu, tapi di luar sana ada seseorang yang melakukan pengorbanan luar biasa karena sangat mencintaimu. Itulah orang yang harusnya kau lindungi, kau jaga, yang kau cemaskan, dan yang kau cintai sepenuh hati,”

Apakah ini artinya Taeyeon sudah ditolak mentah-mentah oleh Jiyong? Bahkan Taeyeon sama sekali belum mengatakannya. Ia belum memulai semuanya. Ia baru saja merasakan indahnya jatuh cinta sekali lagi dan harus ia buang sejauh-jauhnya hanya karena ia bukan mate laki-laki itu?

Kenapa dunia ini kejam sekali? Rasanya luar biasa sakit. Lebih sakit dari apapun.

“Kau sudah menemukan mate-mu? Bagaimana caranya kau tahu dia adalah mate-mu?” tanya Taeyeon, yang suaranya sudah tercekat menahan tangis.

“Aku belum menemukannya. Tapi aku yakin aku akan segera menemukannya. Kau juga mungkin sudah menemukan pasangan sejatimu tapi kau sama sekali tidak menyadarinya. Ah, mungkin saja kau sudah mencintainya,” jawab Jiyong. Perhatiannya ia pusatkan pada langit malam yang terbentang luas dalam pandangannya.

“Karena itulah Yuri tidak memperbolehkanku memberikan darah ini padamu? Karena aku bukan mate-mu?” tanya Taeyeon.

“Begitulah,” jawab Jiyong. “Itulah kenyataannya. Dan aku tidak ingin melukai pasanganku kelak, kau juga begitu, ‘kan?”

Taeyeon diam dan memilih untuk bungkam. Kedua matanya sudah memanas dan ia mati-matian untuk tidak menjatuhkan air matanya di depan Jiyong. Tidak, tidak boleh. Kalau dirinya sudah ditolak seperti ini, mengungkapkan perasaannya, pun tidak ada gunanya.

“Dan apakah nantinya pasanganku juga seorang vampire? Karena darah manisku yang langka? Yang hanya untuk vampire?” tanya Taeyeon lagi.

“Kau benar sekali,” jawab Jiyong. “Kenyataan yang pahit, ‘kan? Dan apakah kau tahu alasan sebenarnya kenapa aku mengajakmu dalam pelarian ini? Bukan hanya sekedar jenuh dengan dunia entertainment, tapi karena aku ingin lari dari kenyataan, sehari saja,”

Selesai berkata seperti itu, Taeyeon menolehkan wajahnya pada Jiyong, yang ternyata juga tengah memandanginya dalam-dalam. Kedua mata cokelat Jiyong menyiratkan kesedihan dan kekecewaan yang luar biasa.

SYIIUUUTTT… DUAAARRR!!! DUAAAARRRR!!!

Baik Taeyeon maupun Jiyong terlonjak kaget. Mereka langsung mengarahkan pandangan ke asal suara. Betapa takjubnya Taeyeon, kembang api raksasa muncul berkali-kali dan meledak indah di langit, di atas Oki Islands. Warnanya yang berbeda-beda membuat langit tampak semakin indah, pulaunya pun juga seperti ditumpahi cat warna. Kembang api raksasa itu terus bermunculan tanpa henti di depan mereka berdua.

“Festival kembang api seperti inilah rasanya, Kim Taeyeon. Akhirnya impianmu untuk melihatnya terwujud, eoh?” ujar Jiyong dengan senyuman manisnya, yang ia tujukan pada Taeyeon kala melihat gadis itu begitu terperangah dengan kembang api yang ada di depannya.

Taeyeon menelan ludahnya dengan susah payah. Perutnya mencelos. “Kau juga yang merencanakan ini?”

“Kau begitu ingin melihatnya, ‘kan?” Jiyong balik bertanya, menggantikan jawaban sesungguhnya. Dan Taeyeon tidak bodoh sama sekali mendengar jawaban itu.

Ia menangis. Ia tidak bisa menahannya lagi. Tidak bisa. Bahkan Jiyong sangat terkejut melihat air mata jatuh dengan derasnya di wajah Taeyeon.

“Kau kenapa? Ada apa?” tanya Jiyong panik.

“Kenapa kau melakukannya?” isak Taeyeon. “Seharusnya kau lakukan semua ini hanya untuk mate-mu! Hanya untuk pasangan sejatimu, bukan aku! Dan seharusnya aku menerima banyak kejutan ini dengan mate­-ku, bukan denganmu! Kenapa kau melakukannya jika hal ini akan menyakiti mate-mu kelak?”

Hati Jiyong ketar-ketir mendengar itu semua. Benar. Apa yang dikatakan Taeyeon benar sekali. Seharusnya seperti itu. Tapi bukankah mereka sedang dalam masa pelarian? Lari dari kenyataan.

Jiyong merengkuh tubuh rapuh Taeyeon dan mendekapnya sangat erat. Erat sekali sampai Taeyeon berhenti menangis. Apa lagi yang laki-laki ini lakukan?

“Kita sedang dalam masa pelarian, ‘kan? Aku sudah bilang aku melakukan ini denganmu karena aku ingin lari dari kenyataan. Kenyataan yang kuterima sangatlah pahit. Jadi, tolong bantu aku. Hanya malam ini saja, aku ingin melupakan semua kenyataan itu dan hidup dalam mimpi indah ini. Hanya malam ini. Malam ini sangatlah indah dan untuk pertama dan terakhir kalinya aku ingin hidup di dalamnya,” pinta Jiyong di telinga kanan gadis itu.

Jiyong melepas pelukan eratnya dari Taeyeon. Namun, ia tidak menghapus jarak mereka. Jiyong tetap mempertahankan posisi mereka yang sangat dekat ini lalu jari-jemarinya bergerak perlahan untuk menghapus air mata Taeyeon yang masih berderai di wajah beningnya.

Ya, lari dari kenyataan. Taeyeon juga ingin mengambil kesempatan malam ini dengan hidup dalam mimpi indahnya. Ia juga ingin lari dari kenyataan untuk pertama dan terakhir kalinya.

Maka dari itu, dengan air mata yang masih keluar dari dalam mata indahnya, Taeyeon memejamkan kedua kelopak matanya, meminta sesuatu dari Jiyong.

Jiyong bergetar. Nadinya bergemuruh begitu hebat melihat reaksi Taeyeon. Ia paham maksud gadis itu. Tapi yang tidak ia pahami adalah kenapa gadis itu memintanya?

“Aku juga ingin lari dari kenyataan dan hidup dalam mimpi indah ini untuk pertama dan terakhir kalinya. Hanya malam ini saja, benar ‘kan?” bisik Taeyeon. Ia masih memejamkan kedua matanya, dengan air mata yang terus berderai. Kembang api raksasa itu masih terus bergema di langit, tapi Jiyong dapat mendengar jelas bisikan Taeyeon.

Jiyong terkesiap. Gadis itu juga ingin lari? Gadis itu… Apakah…

Apakah perasaan mereka sama?

Tanpa berfikir panjang, Jiyong memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya dengan bibir lembut dan basah milik Taeyeon. Kedua tangan Taeyeon gemetar hebat. Ia meremas sweater hitam yang dikenakan Jiyong agar gemetarnya hilang. Jiyong semakin menempelkan tubuhnya dengan tubuh mungil gadis itu, memeluk pinggangnya erat. Melumat bibir Taeyeon dengan agak tergesa tapi terasa lembut. Menjamahi setiap sudutnya dengan sedikit liar.

Taeyeon membalas pagutan panas Jiyong untuk pertama kalinya setelah beberapa kali mereka berciuman selama ini. Meskipun susah mengimbangi keaktifan bibir Jiyong, Taeyeon tetap berusaha menyamai irama mereka.

Menyadari balasan dari Taeyeon, Jiyong semakin menekan belakang leher Taeyeon untuk memperdalam ciuman mereka. Lebih dalam, lebih intens. Mencicipi setiap rasa yang ada di dalam mulut masing-masing ketika kedua lidah mereka saling terikat dan bereksplorasi. Dan Jiyong semakin sulit untuk melepaskan kontak fisik mereka itu. Ia tidak ingin menyudahinya walaupun nafas Taeyeon semakin lama semakin menipis.

Taeyeon mengerang, meminta Jiyong untuk melepasnya karena kurangnya pasokan oksigen dalam paru-parunya. Dengan enggan Jiyong melepas ciuman mereka dan kini ia menciumi setiap lekuk wajah Taeyeon, terus turun sampai ke perpotongan leher gadis itu.

Nafas Taeyeon kembali tercekat. Ia mendesah ringan tanpa bisa ditahan saat gigi serta lidah Jiyong mulai bermain di lehernya. Jiyong menggeram frustrasi di leher jenjang itu dan semakin bernafsu menjamah seluruh permukaan leher Taeyeon sampai gadis itu mendesah hebat.

Tidak ingin melangkah terlalu jauh, tidak ingin menyakiti siapa-siapa, dan tidak ingin lebih dalam lagi melukai perasaan gadisnya, Jiyong mengarahkan ciumannya di dahi Taeyeon. Dikecupnya mesra dahi itu cukup lama.

“Aku mencintaimu,” gumam Taeyeon di sela-sela nafas terengahnya. Detik berikutnya, Taeyeon memejamkan kedua matanya dan jatuh dalam pelukan Jiyong. Tubuhnya terkulai lemas dan tak sadarkan diri.

Jika ulu hati seorang vampire bisa diperlihatkan secara nyata, ulu hati Jiyong sekarang ini pasti sudah berdarah-darah saking sakitnya. Sakitnya luar biasa. Lebih sakit dari apapun dan ini untuk pertama kalinya ia merasakan rasa sakit yang hebat seperti ini.

“Berjanjilah kau akan segera menghapus perasaan itu, Taeyeon-ah. Berjanjilah ini untuk yang terakhir kalinya kau mengatakan hal seperti itu. Berjanjilah, karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan aku akan menepatinya,”

Jiyong membawa tubuh Taeyeon yang lemas dalam dekapannya dan memeluknya dengan sangat erat, sekali lagi. Pelukan ini adalah pelukan terakhirnya untuk gadis itu. Pelukan yang bisa diartikan sebagai ucapan selamat tinggal. Dan ia berharap perasaan mereka berdua juga ikut melebur dalam pelukan itu. Melebur sampai lenyap tak bersisa.

Dan Jiyong bersumpah perasaan mereka tak akan pernah muncul ke permukaan lagi setelah malam ini meskipun itu hanya secuil.

Yah, mereka berdua sudah seharusnya bangun dari mimpi indah itu. Sudah seharusnya mimpi indah itu dihentikan. Karena mimpi tetaplah mimpi. Takkan pernah jadi kenyataan.

 

 

 

 

 

 

-To Be Continued-

You’re bored, right? Because I was hahahahaa

Sad/Happy ending?

Still confused~

Advertisements

231 comments on “The Leader’s Secret (Chapter 10)

  1. Authornim kapan udatenya TT
    udah nunggu lama banget hanya buat ff ijin detail hari selalu buka ATSIT buat lihat ff ini update apa ndak :(:(

    semangat ya kak. ditunggu updatenya
    fighting:)

  2. Kak Binaaaa~
    FF nya seru *-* terkesima aku ..
    sebenernya aku udah satu tahun hiatus baca FF
    tapi gak lama ini kepengen lagi baca FF dan pas ubek2/? :3 Nemu FF ini :3 Asli lgsung kepincut *-*
    Awalnya aku gak tertarik karna genre nya fantasy, tapi pas coba baca Chapter 1 ternyata beda dari yang di bayangkan *-* dan akhirnya aku lanjut baca sampe Chapter ini :3
    Beneran mainin perasaan yang baca ini mah kak *-*Keren pokonya *-*

    Maaf karna baru bisa komen di chapter ini :3 dan maaf karna jadi sider di chapter sebelumnya.
    Kak Bina .. tolong dilanjut ya :3 Ngegantung ceritanya kalo gak dilanjut *-* tar kepikiran terus kalo gak dilanjut. Di tunggu pokonya *-* jangan lama lama ya :v. FIGHTING !! *-*

  3. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  4. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 13) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Taeyeon ssking keselnya liat Jiyong sama Nana sampe marah” gitu sama Fotografernya. Ahh Jiyong so sweet banget ngerencanain kabur sama Taeyeon walopun cuman sehari

  7. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 14) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s