The Leader’s Secret (Chapter 9)

wpid-wp-1440532290100

Bina Ferina Storyline

Kwon Jiyong (GD BigBang), Kim Taeyeon (GG) || Romance, Fantasy || PG 18

 

“The Leader’s Secret”

A/N     : Dear, ATSIT’s readers. Thank you so much karena udah support FF ini, yaaaa^^ baca comment  kalian semua jadi semangat buat lanjutin chap 9 ini hehehee.

Loveyousomuch~

 

Preview :

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8

Warning : 18+

~~~

“Karena aku lapar,” jawab Jiyong pelan. Detik itu juga, Taeyeon merasa jantungnya sudah tidak berada di tempatnya lagi.

Kedua kakinya mendadak lumpuh dan tubuhnya seperti disihir untuk tidak diperbolehkan bergerak sesenti saja ketika Jiyong dengan santainya melangkah mendekati gadis itu, menghapus jarak di antara mereka. Dan gadis itu semakin merasa terjun bebas saat jemari Jiyong mengelus wajah mulus dan beningnya.

“N… ne?” sentak Taeyeon. Gadis ini yakin sekali kalau Jiyong bisa merasakan panas di pipi kanannya yang tengah disentuh laki-laki itu.

“Mian,” ujar Jiyong, tangannya tidak lagi mengelus lembut pipi kanan Taeyeon yang ia rasa hangat. “Aku membohongimu dengan mengatakan kalau kami sudah sampai di apartemen lewat pesan Yuri di ponselmu. Sebenarnya mereka semua masih menikmati after party di hotel,”

“Mwo? Kenapa kau melakukan itu?” tanya Taeyeon gusar. Bagaimana tidak gusar, ia juga ingin sekali berada di pesta itu, berbaur dan menikmati pesta bersama dengan crew Bigbang dan YG yang lain.

“Agar kau cepat pulang,” jawab Jiyong santai dan tanpa merasa bersalah. “Aku tidak bermaksud mengganggu kencanmu dengan laki-laki itu, tapi aku merasa lapar. Jadi, bisakah kau menelepon salah satu gadis yang ada di list ini? Selagi menunggu kedatangannya, aku akan kembali lagi ke hotel dan menjemput Dara noona. Ah, mungkin semuanya juga akan ikut pulang saat aku kembali. Jadi, jika gadis itu sudah datang, suruh saja dia masuk ke dalam kamarku,”

Jiyong menyerahkan list yang ia maksud kepada Taeyeon yang daritadi diam saja mendengar penjelasan Jiyong. Dan gadis itu tidak bergerak untuk mengambil list-nya. Bahkan ia tampak tidak ingin mengambilnya. Ia hanya diam saja sambil memandangi list itu, membuat Jiyong mengernyitkan dahinya.

“Wae? Kau kesal karena aku sudah merusak malam indahmu bersama laki-laki itu?” tanya Jiyong.

“Jaehyun. Ahn Jaehyun namanya,” ujar Taeyeon cepat dan terkesan dingin. “Kenapa tidak kau saja yang menelepon?”

“Bukankah tugas seorang manager seperti itu? Atau apa aku sudah salah kembali percaya padamu? Sudahlah, cepat telepon. Aku akan kembali 20 menit lagi,”

Selesai Jiyong berkata seperti itu, Taeyeon mengambil list itu dan memerhatikan nama-nama yang ada di dalamnya tanpa minat. Dan setelah itu juga, Jiyong membalikkan tubuhnya dan segera menghilang dari apartemen Yuri.

Kenapa gadis itu merasakan sakit di dadanya ketika Jiyong masih memintanya untuk menghubungi gadis-gadis club yang bisa ia minum darahnya? Bukankah darah gadis manapun yang akan ia minum tetap saja rasanya sama dengan darah hewan saat ia sudah mencicipi darah manis milik Taeyeon? Jujur saja, gadis itu sudah berharap kalau Jiyong tadi meminta untuk meminum darahnya. Tentu ia tidak akan menyesal pulang lebih awal.

Namun, nyatanya? Ia akan meminum darah dari salah satu gadis yang ada di list ini. Untuk apa lagi list itu? Taeyeon sudah memberikannya dengan sukarela, lalu apalagi yang kurang? Apakah darah gadis-gadis yang ada di list ini jauh lebih manis dari miliknya? Mungkin saja begitu, itu sebabnya Jiyong menyingkirkannya dan menyuruhnya menghubungi mereka.

Taeyeon tersenyum kecut dan ia meremas kuat list yang ada dalam genggamannya dan membuangnya ke dalam keranjang sampah. Ia tidak peduli jika laki-laki itu marah besar padanya.

~~~

Selama dalam perjalanan menuju hotel, fikiran Jiyong tidak fokus pada jalanan yang ada di hadapannya. Fikirannya melayang-layang mengingat kejadian yang baru saja terjadi antara dia dan Taeyeon. Jiyong tahu gadis itu pasti marah sekali. Mengirimnya pesan lewat ponsel Yuri untuk menyuruhnya pulang saat ia tengah berkencan dengan Jaehyun.

Awalnya Jiyong mengirim pesan seperti itu untuk menyuruhnya pulang lebih cepat sebelum members Bigbang dan Yuri pulang. Ia merasa ‘lapar’ dan berniat meminum darah Taeyeon sesampainya gadis itu di apartemen. Tapi begitu ia melihat kebahagiaan di wajah Taeyeon sebelum berpisah dengan Jaehyun membuat Jiyong kehilangan mood-nya.

Fikiran Jiyong langsung melintas mengingat senyuman yang diberikan Taeyeon untuk Jaehyun saat mereka sudah sampai di apartemen. Tidak akan pernah Jiyong lupakan senyuman gadis itu. Sangat manis. Benar-benar senyuman tulus penuh cinta yang tidak pernah dilihat Jiyong sebelumnya. Selama ini gadis itu selalu tersenyum sewajarnya, bahkan lebih sering memperlihatkan wajah kesal pada Jiyong. Terang saja, gadis itu pasti masih mencintai mantan kekasihnya.

G-Dragon memang dikenal sebagai seorang ‘bad boy’ di luar sana, tapi jika itu menyangkut perasaan dan kebahagiaan seseorang, dia tidak akan pernah berani mengambilnya apalagi menghancurkannya hanya karena egonya sendiri. Apalagi seseorang ini adalah orang yang perlahan-lahan menyusup ke dalam hidupnya dan menghangatkan relung hatinya yang kosong.

Jiyong tersenyum kecut dan ia langsung membanting kemudi mobilnya ke arah kanan begitu ia sampai di depan hotel tempat terselenggaranya after party Bigbang.

Ia tidak peduli jika malam ini rasa laparnya tidak terpenuhi secara wajar. Ia tidak peduli jika darah yang ia minum malam ini bukanlah darah manis dari seorang Kim Taeyeon. Biarlah. Asalkan ia tidak menyakiti gadis itu lagi.

~~~

“Taeyeon-ah~ kami sudah pulang,” sapa Yuri dengan sedikit berteriak saat ia dan Seunghyun juga Daesung sudah berada di dalam apartemen.

Mendengar sapaan sekaligus pintu apartemen yang berbunyi, Taeyeon langsung keluar dari kamar Yuri dan betapa terperanjatnya ia melihat kondisi sahabatnya itu yang tengah dibopong oleh Seunghyun. Cegukan kecil terdengar dari mulut Yuri dan kedua matanya terpejam. Rambutnya yang hitam panjang tergerai menutupi sebagian wajah cantiknya.

“Yuri-ah, kau mabuk?” tanya Taeyeon khawatir. Ia mendekati gadis berkulit eksotis itu dan menyibakkan rambutnya dengan lembut.

“Dia melarang kami minum banyak tapi dengan bodohnya dia bermain taruhan dengan Dara noona. Hukumannya minum Bruichladdich X4 Quadrupled Whiskey jika kalah. Dan lihat saja keadaan mereka berdua sekarang. Sekarat,” jelas Seunghyun sambil menunjuk Yuri dengan dagunya.

Tepat saat itu Jiyong, Youngbae, dan Seungri masuk ke dalam apartemen sembari membawa tas yang berisi perlengkapan mereka, kecuali Jiyong. Tentu saja, dia sudah membawa pulang terlebih dulu perlengkapannya. Sebagai gantinya, ia menggendong Dara yang sedang tertidur pulas di punggungnya.

Taeyeon ingin sekali melihat keadaan Dara. Namun, saat kedua mata Jiyong tengah memandang ke arahnya, gadis itu buru-buru mengalihkan wajahnya dan lebih memilih mundur merapat ke dinding apartemen agar memberi jalan pada yang lain menuju kamar masing-masing.

“Bawa saja langsung ke kamar,” usul Youngbae. Ia melangkah menuju kamar Yuri dan membukakan pintunya agar Seunghyun dan Jiyong bisa masuk ke dalam. Ekor mata Taeyeon mengikuti langkah Jiyong yang menggendong Dara dengan begitu protective-nya.

“Benar-benar menyenangkan malam ini, ‘kan Taeng eomma?” ujar Seungri sambil tersenyum lebar. “Lebih menyenangkan kalau kau ada,”

“Sepertinya begitu,” jawab Taeyeon ambigu. “Kalau begitu istirahatlah, kita harus kembali besok, ‘kan? Atau mau aku buatkan sesuatu?”

“Tidak perlu, eomma. Kau juga harus istirahat, eoh? Jalja,” pamit Seungri sembari melangkah menuju kamarnya.

Beberapa detik kemudian, Seunghyun, Jiyong, dan Youngbae keluar dari kamar Yuri sambil berbincang. Menyadari kalau dirinya sama sekali tidak menghubungi perempuan yang ada di dalam list Jiyong dan malah membuangnya ke keranjang sampah, gadis itu buru-buru pergi bersembunyi ke dalam kamar Jiyong.

“Apa yang harus aku katakan padanya?” gumam Taeyeon sesampainya ia di dalam kamar leader Bigbang itu. Ia tidak tahu lagi harus bersembunyi di mana. Tidak mungkin dia menyelinap masuk ke dalam kamar Seunghyun atau Youngbae, jelas terlihat jika dia melakukan kesalahan. Dan ia tidak mau mengakui kesalahannya di depan members Bigbang lain. Biarkan dirinya sendiri yang mengatakan di hadapan Jiyong dengan alasan apapun itu.

Tidak berapa lama kemudian, pintu kamar Jiyong terbuka. Taeyeon langsung bangkit berdiri dari kursi meja rias yang daritadi ia duduki. Dapat dilihatnya ekspresi terkejut sekaligus heran di wajah laki-laki itu saat ia justru mendapati Kim Taeyeon yang berada di dalam kamarnya, bukan salah satu perempuan yang ada di dalam list-nya.

“Aku tahu kau bingung,” ujar Taeyeon cepat sebelum Jiyong membuka mulutnya. “Mian, aku…,”

“Kau tidak menghubungi salah satu dari mereka?” sela Jiyong.

Taeyeon diam sejenak sebelum ia menjawab, “Ne. Aku tidak menghubungi mereka. Aku membuang list-mu,”

“Mworago?” tanya Jiyong terkejut.

“Kau benar-benar membuatku kesal, eoh?! Kau pernah bilang mencari seorang gadis berdarah manis itu sangat langka, tapi nyatanya kau bisa menemukan mereka dengan mudah. Kenapa baru sekarang kau berhasil menemukan mereka? Kenapa setelah aku menawari darahku padamu dengan sukarela? Seharusnya kau bergerak lebih cepat agar aku merasa tidak tersisihkan!” jelas Taeyeon dengan intonasi suaranya yang ia tekankan meski dengan nada rendah.

Jiyong tercengang selama beberapa detik sebelum akhirnya ia mengalihkan wajahnya ke arah lain, berusaha menyembunyikan tawanya yang akan meledak. Melihat itu, Taeyeon hanya mengernyitkan dahinya. Namun, ia tetap tidak bergeming dari tempatnya walaupun ada sesuatu yang tidak beres dengan perkataannya barusan.

“Mereka sama sekali bukan perempuan yang darahnya menggiurkan seperti dirimu. Aku bahkan tidak mencium aroma darah manis yang menyegarkan dari tubuh mereka seperti yang selama ini aku cium jika aku berada di dekatmu. Darah mereka rasanya masih sama saja dengan darah yang selama ini aku cicipi sebelum bertemu denganmu,” jawab Jiyong tenang. Kedua matanya menatap iris mata Taeyeon dari jarak jauh dengan pandangan yang menurut Taeyeon lembut.

“Jadi… Kenapa kau…? Bukannya kau yang bilang darah mereka akan terasa hambar jika sudah mencicipi darah manis? Kenapa kau tetap memaksakan akan meminum darah mereka kalau ujung-ujungnya hal itu percuma?” tanya Taeyeon.

“Apa karena itu kau kesal padaku sampai membuang list-nya? Karena kau merasa aku sisihkan dan lebih memilih mereka?” Jiyong balik bertanya dan pertanyaan itu sukses membuat Taeyeon tertohok.

“Aku hanya… Hanya… Kenapa kau balik bertanya padaku?” tanya Taeyeon kesal. Ia mengalihkan pandangannya dari Jiyong untuk menyembunyikan rona merah di kedua pipinya yang pasti kentara sekali.

“Aku masih merasa bersalah pada mantan kekasihmu itu,” jawab Jiyong dengan suara rendah. Taeyeon kembali memandang Jiyong saat ia mendengar nama Jaehyun disebut secara tidak langsung. “Aku sudah merusak malam kalian dengan membohongimu dan menyuruhmu kembali. Dan jika dia sampai tahu aku meminum darah orang yang paling dia cintai terus-menerus, dia pasti akan memukulku sampai mati. Aku tahu perasaan cemburu seperti itu. Kalau hubungan kalian sampai hancur, bukankah itu karena aku? Kau menunggu dia sampai bertahun-tahun dan hanya karena seorang G-Dragon dia pergi lagi. Aku tidak ingin kau mengalami hal menyakitkan seperti itu lagi,”

Taeyeon tertegun. Sangat tertegun. Hanya karena memikirkan perasaannya laki-laki yang ada di hadapannya ini mengenyampingkan kebutuhannya. Semua yang dikatakan Jiyong benar adanya. Kalau Jaehyun mengetahui hal ini, dia pasti akan berfikiran aneh dan pergi meninggalkan Taeyeon.

Permasalahannya adalah kalau memang Jiyong menyuruhnya pulang untuk meminum darahnya, ia merasa tidak apa-apa berpisah dengan Jaehyun lebih cepat, bahkan gadis itu juga tidak mempermasalahkan jika seandainya Jaehyun memang benar-benar pergi lagi darinya. Jaehyun dan Taeyeon tidak memiliki hubungan khusus lagi saat ini. Jadi tidak ada masalah sama sekali kalau Taeyeon ingin dekat dan bebas berhubungan dengan siapa saja.

Setidaknya malam ini Taeyeon menyadari satu hal penting dalam hidupnya : Hatinya sudah melupakan rasa cintanya yang besar pada Ahn Jaehyun, meskipun ia sendiri tidak tahu kapan pastinya perasaan itu hilang.

“Kenapa kau sangat keras kepala sekali? Bagus, ‘kan kalau aku tidak terus bergantung padamu? Kau juga tidak akan selamanya menjadi manager Bigbang. Kau akan kembali ke duniamu dan menjadi lebih sibuk. Aku tidak mungkin terus mengusik hidupmu,” lanjut Jiyong. “Kau keluarlah sebentar, aku mau mandi. Setelah itu kau boleh tidur di sini,”

“Kalau kau mau mati kelaparan, terserah saja,” cetus Taeyeon asal. “Aku melakukan ini karena aku tidak ingin mendengar kabar aneh lagi tentangmu di luar sana setelah tugasku ini selesai. Seperti tentang Marijuana itu. Kau sudah menjelaskan panjang lebar kisah sebenarnya bagaimana, ‘kan? Tapi telingaku tetap mendengar kau seorang druggie. Aku tidak mau ada kabar berhembus kau seorang player yang hobi gonta-ganti perempuan di club untuk kau pakai. Bagaimana kau akan menjelaskannya soal itu?”

Taeyeon menghela nafas panjang sambil menatap tajam Jiyong, yang juga sedang memandang gadis itu tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa.

Kesal karena Jiyong belum menangkap maksud dari ucapannya, Taeyeon melangkahkan kedua kakinya untuk keluar dari kamar tersebut sambil berujar, “Aku hanya ingin kau meminta darah padaku saja mulai sekarang, tidak pada yang lain lagi. Bahkan jika aku tidak ada di dekatmu, kau harus menungguku, bukannya membuat list tidak berguna itu,”

Belum sempat Taeyeon menyentuhkan tangannya pada kenop pintu, pinggangnya yang ramping ditarik dari belakang dan Taeyeon dapat merasakan tubuhnya yang mungil tenggelam dalam pelukan seorang Kwon Jiyong. Kejadiannya begitu cepat hingga Taeyeon yakin ia lupa untuk mengambil nafas sejenak.

Wangi tubuh Jiyong yang khas langsung masuk ke dalam indera penciuman gadis itu. Punggungnya dapat merasakan debaran jantung sang leader. Dan nafasnya yang hangat menerpa lembut permukaan leher jenjang Taeyeon, membuat tubuhnya refleks panas dingin dan menegang di saat yang bersamaan.

Jiyong semakin mengurung gadis mungil itu dalam kungkungannya dengan mengalungkan lengan kanannya di leher Taeyeon. Ia tahu gadis itu membulatkan kedua matanya, terkejut. Ia dapat merasakan suhu tubuh Taeyeon meningkat sepuluh kali lebih cepat dan detakan jantungnya yang sama sekali tidak normal. Berdebar begitu kencang. Hingga rasanya akan keluar.

“Kalau kau memang ingin membantuku, seharusnya jangan setengah-setengah, ‘kan? ” bisik Jiyong. Terdengar sangat seksi di telinga kanan Taeyeon, apalagi laki-laki itu menciumi belakang telinganya sampai dengan belakang lehernya.

Sekuat tenaga Taeyeon mempertahankan tubuhnya agar tidak limbung seketika. Jujur saja, bagaimanapun juga setiap kali bibir sensual milik Kwon Jiyong menyentuh kulitnya, seluruh organ dalam tubuhnya mendadak turn off. Mau tidak mau, Taeyeon harus mengakui kalau sebenarnya ia suka dengan sentuhan lembut seperti itu.

Jiyong membalikkan tubuh Taeyeon secara perlahan dan dengan kelembutan yang tidak bisa dideskripsikan. Kedua mata mereka bertemu dan saling menyelam satu sama lain. Jiyong dapat melihat dengan jelas wajah merah padam gadis itu, membuat bibirnya gatal ingin dia ciumi.

Sedangkan Taeyeon hanya bisa menurut seperti sebelum-sebelumnya. Anehnya, ia tidak mendapati sorot mata kelaparan laki-laki itu seperti biasa. Kali ini tatapan matanya lebih menunjukkan rasa… kasih sayang?

“Karena aku masih menjadi manager kalian, mintalah hanya padaku dan jangan coba-coba membuat list itu lagi,” gumam Taeyeon saat kedua tangan Jiyong secara hati-hati sekaligus tidak sabaran membuka tiga kancing kemejanya. “Sementara aku masih di sini, coba carilah gadis yang berdarah manis sepertiku juga, yang mencintaimu setulus hati, begitupun kau,”

Jiyong menghentikan aktifitasnya saat ia mendengar penuturan Taeyeon. Taeyeon, yang menundukkan wajahnya karena malu saat tangan Jiyong melepas kancing kemejanya, merasa heran karena laki-laki itu mendadak diam. Diangkatnya wajahnya dengan berani dan detik itu juga bibir Jiyong langsung meraup bibir mungil yang sedari tadi terus mengganggu akal sehatnya.

Taeyeon sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika tubuhnya terangkat begitu saja dalam dekapan Jiyong dan terhempas di atas tempat tidur king size­-nya.

~~~

“Sementara aku masih di sini, coba carilah gadis yang berdarah manis sepertiku juga, yang mencintaimu setulus hati, begitupun kau,”

Kedua mata Jiyong kembali terbuka untuk kesekian kalinya malam itu. Ucapan Taeyeon benar-benat membuat fikirannya terusik. Ia tidak bisa tidur terlelap meski itu hanya lime menit saja. Lain halnya dengan Taeyeon, gadis itu sudah terbang ke alam bawah sadarnya setelah Jiyong selesai meminum darahnya. Nafasnya yang teratur menandakan bahwa gadis itu begitu lelap.

Jiyong membalikkan tubuhnya dan menghadap Taeyeon, yang posisi tidurnya juga sedang menghadap laki-laki itu. Wajahnya yang damai dan layaknya seorang bayi itu membuat Jiyong tersenyum kecil. Ia harus akui, ia paling suka melihat gadis itu tertidur. Ingin diciuminya wajah gadis itu, tapi Jiyong berusaha keras untuk tidak melakukannya, bahkan saat pertama kali ia meminum darahnya.

“Oi, Kim,” panggil Jiyong lembut, yang otomatis tidak akan didengar oleh sleeping baby Kim Taeyeon. “Kenapa bukan kau saja gadis pertama yang kutemui? Kenapa aku baru menemukanmu sekarang? Kenapa bukan aku laki-laki yang bersarang di hatimu selama bertahun-tahun? Yang sanggup kau tunggu sampai detik ini,”

Jiyong menyingkirkan beberapa helai rambut Taeyeon yang menutupi wajah cantiknya. Lama ia pandangi dan kagumi wajah porselen itu.

“Kau polos atau bodoh?” bisik Jiyong lagi. Bermonolog pada dirinya sendiri tentang gadis itu membuatnya seperti orang gila, tapi ia suka. “Kupikir kau sudah membaca semua isi buku Vampire Academy itu. Kau memang benar-benar tidak tahu apa-apa, ya?”

‘Ketika sosok vampire sudah merasakan darah seseorang yang begitu manis untuknya, begitu istimewa, vampire itu tidak akan bisa lepas dari orang itu. Sebuah benang tak terlihat akan terus mengikat mereka berdua. Tidak ada yang tahu apakah ini merupakan sebuah benang takdir ataukah sebuah kesalahan besar. Hanya ada dua kemungkinan, dan itu merupakan kemungkinan yang paling baik dan juga paling buruk’

“Tidak akan mungkin aku bisa melepasmu dan mencari yang lain begitu mudahnya,” lanjut Jiyong.

Dengan penuh kehati-hatian, Jiyong lebih mendekatkan tubuhnya pada Taeyeon dan membelai lembut pipi kanannya. Dielusnya penuh sayang sampai jari-jemari laki-laki itu mengusap ujung bibir atas Taeyeon. Darah Jiyong meletup-letup tak karuan ketika dirinya semakin menghapus jarak di antara mereka. Ia tidak bisa menahannya lagi. Gejolak aneh ini. Gejolak yang sulit Jiyong artikan sebagai apa. Gejolak yang mulai sering ia rasakan setiap dirinya berada di dekat gadis mungil itu.

Dan sekarang ia tidak mampu mengontrolnya lagi.

Detik berikutnya, bibir hangat Jiyong berhasil mendarat di atas bibir tipis milik Taeyeon. Sambil menutup kedua matanya Jiyong dapat merasakan bibir gadis ini begitu dingin. Mungkin karena cuaca dan suhu di dalam kamar ini.

Lama ia menempelkan bibir mereka berdua satu sama lain. Desiran halus yang melanda diri Jiyong membuat akalnya tidak bisa berjalan dengan benar. Gejolak gila itu semakin membesar dan membuat Jiyong tersiksa. Apalagi harum tubuh Taeyeon yang menggelitik perutnya.

Monster dalam dirinya terbangun lagi dan membisikkan bahwa inilah saat yang paling tepat untuk menuntaskan gejolak―atau lebih tepatnya hasratnya yang begitu menggebu-gebu.

Tanpa berfikir panjang lagi, bibir Jiyong yang daritadi diam saja memilih untuk melumat pelan bibir softpink Taeyeon. Tubuhnya bergerak naik ke atas tubuh Taeyeon dengan menahan kedua lengannya di samping kepala gadis itu. Bibirnya bergerak lincah menarik dan menggigiti bibir bawah dan atas Taeyeon secara tidak sabaran dan berganti-gantian, membuat Taeyeon melenguh pelan dalam tidurnya.

Mendengar lenguhan itu tidak membuat akal Jiyong kembali sehat. Bagaimana tidak, bibir gadis itu terbuka dan tanpa membuang waktu sedikit saja lidah Jiyong langsung melesak masuk, mengeksplorasi apa yang ada di dalam mulut Taeyeon. Tangan kanan Jiyong menarik tengkuk Taeyeon sembari memperdalam ciuman sepihak mereka.

Merasa terganggu dan kehabisan nafas, kedua mata Taeyeon mulai bergerak terbuka. Kesadarannya masih berada jauh dari dirinya tapi ia dapat merasakan seseorang menindih tubuhnya dan lidahnya yang tampak menyatu dengan lidah orang itu.

“Hmpth…,” desah Taeyeon saat dirasakannya bibir orang itu mulai menjelajahi leher jenjangnya dengan ciuman serta kulumannya. “Nggh… ah!”

Desahan Taeyeon makin kuat ketika orang itu menggigit kuat leher kanannya. Antara gemas dan… Tunggu. Dia mendesah?

Kedua mata Taeyeon langsung terbelalak kaget. Ia sudah sadar sepenuhnya. Jantungnya berdebar kencang dan ketakutan mulai menyelimuti dirinya. Ia tahu betul siapa yang sedang berada di atas tubuhnya dan menjamah lehernya begitu agresif. Ia tahu betul wangi khas tubuh laki-laki itu. Dan ia ingat alasan kenapa dirinya tidur di samping laki-laki itu. Apakah ia haus kembali? Tidak mungkin, ‘kan?

“Ji… ngh!” panggil Taeyeon diiringi desah nafasnya. Jiyong baru saja mengulum kuat leher kirinya sehingga Taeyeon yakin seratus persen lehernya akan menimbulkan bercak kemerahan.

Mendengar suara Taeyeon yang memanggil namanya, Jiyong menghentikan aktifitasnya dan menengadahkan wajahnya untuk menatap Taeyeon. Taeyeon membalas tatapan datar Jiyong dengan pandangan bingung dan bimbang. Bingung kenapa warna mata laki-laki itu berubah warna kembali menjadi kuning keemasan.

“Apa… yang sedang kau lakukan?” tanya Taeyeon. Suaranya tercekat karena mendadak telapak tangan Jiyong membelai sisi tubuh kanan gadis itu. Dan Taeyeon cukup yakin ia dalam situasi yang tidak diharapkan.

Bukannya menjawab, Jiyong kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir Taeyeon. Dengan liar Jiyong menggerakkan bibirnya untuk menunjukkan jawaban atas apa yang tengah ia lakukan pada Taeyeon saat ini. Pergerakan yang tidak sabaran dan sedikit kasar di bibir Taeyeon membuat gadis itu mengerang sakit. Tak tanggung, Jiyong mengarahkan tangan kanannya secara naluriah untuk meremas dada kiri gadis itu dengan lembut, yang semakin lama belaian indah itu semakin terasa kuat sebagaimana hasrat Jiyong yang sudah di ubun-ubun.

Tangan Taeyeon memegang kedua pundak Jiyong dan berusaha mendorongnya menjauh. Tentu saja tidak berhasil. Tenaga Jiyong lebih besar, apalagi malam ini dia baru saja meminum darah gadis itu. Tidak hilang akal, Taeyeon menggeser kepalanya ke kiri dengan kuat agar ciuman itu lepas. Ciuman itu memang lepas. Namun, belum puas Taeyeon menarik nafas dalam-dalam, Jiyong menarik dagu gadis itu untuk menghadapnya dan kembali mencium bibir mungilnya.

“Hmpth… Eungh!” pekik Taeyeon di sela-sela ciuman mereka yang makin lama makin intens dan di luar kendali.

Taeyeon dapat merasakan tangan Jiyong sudah mulai bergerilya di bagian pahanya. Laki-laki itu mengelus bagian selangkangan Taeyeon yang masih di balut celana jeans dengan lembut. Meskipun tidak bersentuhan langsung dengan kulit Jiyong, tubuh Taeyeon menggelinjang merasakan sensasi aneh yang mengaduk-aduk perutnya, terasa geli, dan sedikit aneh. Membuatnya mendesah kembali dan agak lebih keras.

Mendengar desahan dan melihat respon Taeyeon yang menurut Jiyong sangat seksi, laki-laki itu mulai berani membuka semua kancing kemeja Taeyeon yang awalnya hanya terbuka tiga kancing saja. Begitu semua kancing kemeja itu lepas dari pengaitnya, Jiyong menghentikan ciuman panas mereka dan kedua matanya memandang tubuh mungil Taeyeon dengan bra ungu muda menutupi kedua dadanya yang naik turun karena gadis itu kehabisan nafas.

“Andwaeyo,” lirih Taeyeon. Ia menutupi dadanya dari tatapan buas Jiyong menggunakan kedua lengannya. “Ada apa denganmu?”

“Tidak ada, aku hanya… Menginginkanmu,” jawab Jiyong dengan suara yang amat pelan. Ia membelai lembut rambut dan wajah Taeyeon. “Jadi, sssh. Tenanglah. Aku tidak akan membuatmu kesakitan terlalu lama,”

Mendengar penuturan Jiyong yang terkesan sangat lembut membuat Taeyeon terhanyut. Ia suka perpaduan antara kelembutan dan keliaran seorang Jiyong yang kini tengah dirasakannya. Seakan-akan laki-laki itu tidak sabar untuk segera menuntaskan hasratnya yang menggebu-gebu tapi tidak melupakan kalau Taeyeon adalah seorang perempuan yang mudah rapuh.

Menunjukkan bahwa laki-laki ini memang menginginkannya.

Menginginkannya? Tunggu, Taeyeon ingin menyela ucapan laki-laki itu tapi Jiyong kembali meletakkan bibirnya di perpotongan leher Taeyeon lalu menjelajahi seluruh permukaan kulit itu dengan sesekali menciumi, mengulumnya dan menggigitnya kuat hingga Taeyeon tidak mampu menahan desahannya lebih lama. Bahkan kali ini lebih keras. Ia bisa gila kalau ia tidak mengeluarkan desahannya.

Ciuman itu turun perlahan hingga ke dada Taeyeon. Desiran hebat melanda jiwa Taeyeon dan perutnya mencelos begitu saja ketika Jiyong memberikan kiss mark di atas dan belahan dadanya. Ia menyusupkan tangannya ke punggung Taeyeon dan mencari-cari pengait bra itu dengan perlahan sembari dirinya yang masih rakus menciumi tubuh gadis itu.

Kedua mata Taeyeon terbelalak seperti seseorang yang baru saja menerima tamparan saat milik Jiyong yang sudah mengeras dan menyentuh di selangkangannya, minta dikasihani. Taeyeon bimbang. Benar-benar di ambang kebingungan. Ia tidak mengerti kenapa laki-laki ini begini dan ia harus cepat memutuskannya. Apalagi pengait bra ungu mudanya sudah terlepas.

Tinggal satu langkah lagi, dan Taeyeon tidak yakin jika ini adalah langkah yang bagus.

Sebelum Jiyong membuang bra milik gadis itu, Taeyeon dengan sisa tenaganya bangkit sambil mengalungkan kedua lengannya di leher Jiyong. Sedangkan Jiyong yang tidak tahu akan tindakan tiba-tiba dari Taeyeon, hanya bisa tercengang dan tubuhnya terduduk di atas tempat tidur, dengan Taeyeon yang berada di pangkuannya.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Taeyeon. Ia menyandarkan kepalanya di atas bahu kiri Jiyong.

“Kau tidak membaca buku itu sampai habis, ‘kan?” Jiyong balik bertanya dengan suara tercekat. Gairahnya sudah di ubun-ubun dan gadis itu dengan mudahnya mengajaknya mengobrol. Jiyong merutuk dalam hati. “Ada saat-saat di mana para vampires tidak bisa menahan gejolak alami mereka untuk melakukan ‘penyatuan’ dengan lawan jenisnya. Dan kurasa ini puncaknya,”

“Aku sudah baca,” sela Taeyeon cepat. “Kalian tidak melampiaskan hal itu secara random. Aku tahu kalian tidak bisa menahannya terlalu lama, tapi kalian tidak bisa juga melampiaskannya dengan siapapun yang kalian mau. Aku tahu bangsa wampires punya rules yang tidak boleh dilanggar. Termasuk dalam masalah ini. Kalian tidak bisa melakukannya dengan sembarang orang,”

Jiyong menjauhkan wajahnya dari tubuh Taeyeon untuk menatap gadis yang ada di pangkuannya itu. Taeyeon juga ikut melonggarkan kedua lengannya di leher Jiyong dan menatap laki-laki itu dengan pandangan mata sendu.

Taeyeon tahu masalah yang sedang dihadapi Jiyong saat ini. Tapi ia juga tahu mereka tidak bisa sembarangan melakukannya. Ia pernah baca. Sayangnya, gadis itu tidak membacanya sampai habis. Ia merasa itu tidak akan mengganggunya. Nyatanya? Dan ia juga cukup merasa menyesal karena ada satu rule yang amat sangat penting untuk kaum vampires mengenai hasrat dan gejolak mereka untuk berkembang biak.

Jiyong juga tahu itu. Bahkan ibunya, Mrs. Kwon, selalu mengingatkannya masalah itu. Membuatnya malas untuk pulang ke rumah.

Jiyong tahu. Dan ada sedikit rasa penyesalan. Kepada siapa Jiyong juga tidak tahu.

“Waeyo?” tanya Taeyeon pelan, menyadarkan Jiyong dari lamunan panjangnya. Kedua mata cokelat Jiyong menatap intens gadis mungil itu. Ya, mata itu sudah berubah warna kembali. Agaknya dia sudah sadar dengan apa yang telah dilakukannya. “Kenapa justru aku?”

Pertanyaan gadis itu membuat ubun-ubun kepala Jiyong pusing sekali. Daritadi pertanyaan seperti itu yang sama sekali tidak ingin difikirkannya dan dihindarinya.

Karena bagi Jiyong, jawabannya sudah jelas sekali. Dan itu akan membuat ibunya marah besar. Tidak, bahkan kaum vampires, pun juga akan mengejarnya sampai dia berhasil dibunuh hidup-hidup.

“Jika kau mencium darah yang aromanya lebih manis daripada darah yang lain, berhati-hatilah. Kalau kau sampai terikat dengannya, ada dua pilihan. Itu takdir atau bencana besar,”

Sebelum fikirannya kembali kusut dengan memikirkan perkataan ibunya, Jiyong menangkupkan kedua tangannya di wajah merona Taeyeon dan menariknya mendekat pada wajahnya. Kembali diciuminya bibir merah itu tanpa memedulikan erangan protes kecil yang keluar dari bibir gadis itu. Kali ini ciuman yang diberikan Jiyong berbeda. Pagutannya penuh kehati-hatian, penuh kelembutan, dan penuh perasaan.

Menyadari hal itu, Taeyeon membiarkannya. Membiarkan bibir laki-laki itu kembali bergerak di bibirnya yang pasif. Tubuhnya gemetar pelan. Dan jika dari awal Jiyong melakukannya dengan penuh perasaan seperti ini, kemungkinan besar Taeyeon tidak akan pernah merasa keberatan.

Entah sudah berapa lama Jiyong memagut bibir manis itu, yang jelas paru-paru gadis itu sudah sesak minta diisi oksigen, terlihat dari deru nafas Taeyeon yang mulai menggebu. Diakhirinya ciuman itu dengan setengah hati dan dibaringkannya tubuh mungil Taeyeon ke atas tempat tidur. Tidak lupa, Jiyong menarik bed cover tempat tidurnya untuk menyelimuti Taeyeon. Tubuh gadis itu masih memperlihatkan lekuknya yang indah, dan ia tidak ingin monster buas itu bangun lagi.

Karena ia merasa, jika ada kesempatan seperti ini lagi datang padanya, ia tidak yakin monster dalam dirinya akan membiarkannya lepas begitu saja seperti ini.

Begitu Jiyong ingin membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, ponselnya berdering kencang menandakan ada panggilan masuk. Dan ia hafal sekali dengan dering khusus ini.

Mrs. Kwon.

Habislah Kwon Jiyong malam ini.

“Tidurlah, aku akan tidur di luar,” ujar Jiyong pelan. “Eung, mian. Aku tidak bisa memasang kembali pengait bramu,”

Baik wajah Taeyeon maupun Jiyong, keduanya sama-sama berubah merah padam. Tapi Jiyong langsung mengalihkan wajahnya dan buru-buru mengambil ponselnya.

Tanpa sekatah katapun lagi, leader Bigbang itu membuka pintu kamarnya dan pergi keluar, meninggalkan Taeyeon yang masih bergelut dengan fikirannya dan perasaannya sendiri.

~~~

“Ibu tidak mau tahu, kau harus kembali ke rumah setelah pulang dari Thailand, eoh?”

“Aku tahu, eomma. Aku pasti pulang ke rumah. Tapi aku harus mampir dulu ke Jepang,” tolak Jiyong dengan suara rendah.

“Untuk apa kau ke sana? Dami bilang kau tidak ada jadwal tour di sana?” tanya Mrs. Kwon lagi dengan penuh penekanan. Ia curiga anaknya akan kembali menemui mantan kekasihnya yang berada di Jepang.

Photoshoot, eomma. Tidak seperti yang kau fikirkan, tenang saja. Aku sudah janji dengan pihak Nylon Japan Magazine-nya,” jelas Jiyong lagi. Ia benar-benar harus berkepala dingin menghadapi ibunya yang kelewat cerewet dengan kehidupan asmaranya, walaupun selama ini beliau memang tidak pernah menentangnya berhubungan dengan siapa saja.

“Tidak bisa pulang sehari saja? Ibu ini khawatir sekali, apa kau tahu? Kalau saja kau ada di hadapanku sekarang, aku tidak akan segan mematahkan lehermu detik ini juga. Kenapa fikiranmu pendek sekali untuk menyerang seorang gadis yang belum tentu adalah mate-mu? Aigoo, ini semua salah Hyun-suk! Tidak seharusnya dia menyarankan gadis itu agar mengorbankan darahnya padamu! Aku sudah tahu begini jadinya!”

“Jeongmal jeoseonghamnida, eomma. Ini akan jadi hal yang pertama dan terakhir kalinya. Aku tidak akan menyentuhnya lagi,” ujar Jiyong, berusaha meyakinkan ibunya, walaupun dirinya juga tidak yakin.

“Jiyong-ah. Kau tahu risiko yang akan kau―bukan, kita terima, ‘kan jika kau tidur dengan orang yang belum tentu mate-mu? Ibu tidak pernah melarangmu melakukan apa saja yang kau sukai, tapi peraturan turun-temurun kita, tolong jangan langgar itu. Tolong jangan membuat situasi yang akan menyusahkan keluarga kita nantinya. Kita tidak tahu, ‘kan kalau ternyata gadis itu sudah memiliki mate-nya sendiri?”

Mendengar penuturan ibunya, fikiran Jiyong langsung terlintas ke Jaehyun. Apakah maksud ibunya itu adalah Ahn Jaehyun itu?

“Dari mana ibu tahu kalau orang itu adalah mate kita?” tanya Jiyong dingin.

“Dan untuk itulah aku menyuruhmu pulang, bodoh. Setelah photoshoot dengan Nylon Magazine, kembali ke rumah atau aku yang menarikmu dari Bigbang!”

Sebelum Jiyong berkomentar atau menyela, ibunya sudah memutuskan sambungan telepon mereka. Jiyong memandangi ponselnya dengan pandangan kosong sambil memikirkan ucapan ibunya barusan.

Lagi. Ia harus kembali merasakan denyutan menyakitkan di ulu hatinya. Sama seperti dulu. Saat ia kehilangan Jinah. Saat ia kehilangan Kiko.

Bahkan kali ini lebih sakit. Kenapa rasanya pilu sekali? Ia tidak diizinkan mengenyam rasa cinta yang bahkan belum dimulainya sama sekali.

~~~

Jaehyun memutar-mutar gelas birnya di atas bar dengan wajah tertunduk lesu. Ini adalah gelas keduapuluhnya dan ia sama sekali tidak berniat untuk berhenti. Ia tidak berniat berhenti sebelum laki-laki brengsek yang sudah menyentuh gadisnya berhenti mendekati orang yang ia cintai.

Jaehyun tertawa kecil. Wajah dan perawakannya yang bagaikan ‘good boy’ harus hancur malam ini. Hanya malam ini saja. Sekali ini saja. Ia ingin sekali menumpahkan rasa kecewa, marah, dan bencinya dengan membunuh seseorang tanpa harus terlibat hukum.

“Satu gelas lagi,” perintahnya pada barista yang ada di hadapannya. Barista itu mengangguk dan dengan terpaksa ia kembali menuangkan gelas ke-21 untuk Jaehyun.

Dengan sekali teguk, Jaehyun menghabiskan bir itu. Kedua matanya terpejam rapat dan ia kembali teringat dengan percakapannya di telepon dengan G-Dragon pada hari pertama Taeyeon sampai di Thailand.

-Flashback on-

“Tangie-ah,” sapa Jaehyun dengan nada ceria.

“Ada perlu apa?” tanya seorang laki-laki di seberang telepon sana. Suaranya dingin dan datar.

“Nuguseyo? Aku yakin sekali ini ponsel Kim Taeyeon,” ujar Jaehyun bingung.

“Ini memang ponselnya. Tapi ponselnya terjatuh di mobil dan dia tidak tahu sama sekali. Ada perlu apa dengannya?”

“Kau Kwon Jiyong?” tanya Jaehyun pelan. Mood laki-laki itu langsung turun drastis.

“Ne,” jawab Jiyong singkat.

“Kembalikan ponselnya. Aku ingin bicara padanya,” ujar Jaehyun.

“Kalau kau hanya sekedar ingin tahu apakah dia sampai dengan selamat di apartemen Yuri, ne. Dia sampai dengan selamat. Kalau kau hanya ingin berbasa-basi dengannya, hentikanlah. Jangan membuang-buang waktunya. Dia datang ke sini bukan untuk berkomunikasi denganmu, melainkan bekerja. Bekerja untukku. Aku tidak ingin kau merusak profesionalitasnya,” tukas Jiyong cepat.

“Kau bicara profesionalitas, Jiyong-ssi? Apakah menyentuh dia seenaknya sedangkan dia hanya manager Bigbang juga merupakan profesionalitas? Tidak bisakah kau bedakan para perempuanmu itu dengan manager?” tanya Jaehyun, emosinya sudah meledak-ledak di kepalanya.

“Kau tahu?” tanya Jiyong dengan rasa kaget yang dibuat-buat. “Kurasa kau masih menggunakan kekuatan istimewa vampire, eoh? Seharusnya kau tahu, kalau manusia tidak bisa memiliki kekuatan seperti itu,”

Jaehyun merasa tersindir, tentu saja. Jiyong mengatakan hal semacam itu penuh penekanan, seolah-olah tengah menghakiminya. Dan itu membuatnya diam seribu bahasa.

“Aku melakukannya demi melindungi gadisku. Aku sudah mencium gelagat tidak beres sejak tahu dia akan menjadi manager Bigbang. Dugaanku sama sekali tidak meleset,”

“Kalau kau tahu, ke mana saja kau, hah?! Kalau kau tahu kenapa diam saja? Kenapa tidak segera mendatanginya dan melarangnya? Kau lebih memilih meninggalkannya dan berdiam diri di rumah sakit daripada mendatanginya? Kau tahu apa? Persetan dengan semua itu!” seru Jiyong. Entah kenapa ia merasa sangat marah sekali pada laki-laki itu. Laki-laki yang sampai hati membuat Taeyeon menunggu selama enam tahun.

“Bukankah kau juga menginginkannya? Kau juga ingin merubah identitasmu juga, ‘kan sebelum berpisah dari gadis jepang itu? Cinta kita sama-sama besar untuk mereka. Kau tahu itu,” ujar Jaehyun.

“Ne, aku juga ingin sepertimu dulu. Awalnya. Sebelum bertemu dengan Kim Taeyeon,” lirih Jiyong, membuat jantung Jaehyun berdenyut.

“Apa maksudmu?” tanya Jaehyun pelan.

“Seperti yang sudah kau ketahui, aku sudah meminum darahnya. Darah yang selama ini kau jaga, ‘kan? Terima kasih banyak, karena aku orang pertama yang merasakannya. Dan  karena itulah untuk pertama kalinya, aku merasa beruntung dan bersyukur menjadi seorang vampire,” desis Jiyong.

“Kau tahu peraturan kaum kita, Jiyong-ssi. Walaupun aku sudah rehabilitasi, aku masih tetap jadi bagian dari vampire. Kau tidak akan mungkin memilih mati dan menyusahkan keluargamu, ‘kan? Itu sebabnya, jauhi Kim Taeyeon dan jangan pernah menyentuhnya lagi. Aku sudah cukup baik untuk memaafkanmu kali ini,”

“Jangan pernah memerintahku,” ujar Jiyong pelan, sarat dengan amarah. “Kau fikirkan saja dirimu bagaimana caranya untuk jujur pada gadis itu. Kau tahu, seorang gadis tidak akan suka dibohongi,”

-Flashback off-

Jaehyun mengeratkan pegangan gelasnya dengan amat sangat kencang sampai jari-jarinya memucat. Wajahnya memerah antara karena alkohol dengan emosinya yang sudah meluap-luap.

Ini memang murni kesalahannya. Memang dari awal sudah salahnya. Ia meninggalkan Taeyeon tanpa alasan jelas karena ia sangat mencintai gadis itu. Dan dari awal ia juga berbohong padanya, menyembunyikan fakta bahwa dia juga termasuk dari salah satu kaum vampire yang tidak hidup di Rumania, di kastil mereka sendiri.

Jaehyun menyangka kalau Taeyeon akan lari darinya setelah mengetahui siapa sebenarnya dirinya, mengingat gadis itu sangat tidak suka dengan monster dan sejenisnya. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri dan memutuskan untuk rehabilitasi agar hidup dengan Taeyeon terasa lebih mudah. Setidaknya dengan rehabilitasi, ia tidak akan terusik dengan darah manusia dan bisa mengonsumsi makanan manusia walaupun sedikit.

Setidaknya Taeyeon akan lebih tenang setelah mengetahui kebenarannya sepulang dia rehabilitasi.

Namun, apa yang selama ini dibayangkannya jauh dari kenyataan. Taeyeon bahkan berada di samping seorang vampire yang masih haus akan darah. Gadis itu bahkan tahu, dan tidak takut sama sekali. Ia juga tetap berada di sisi laki-laki itu dan memperhatikannya, menjaganya. Membuat Jaehyun cemburu setengah mati.

Siapa lagi yang patut disalahkan?

Dan menyadari selama ini Taeyeon masih belum menjawab pernyataannya, Jaehyun curiga perasaan gadis itu sudah tidak sama lagi padanya.

Menyesal. Kecewa. Itulah yang dirasakan Jaehyun. Seakan-akan pengorbanannya selama ini hanya dianggap main-main saja.

Demi gadis itu. Semuanya hanya untuk Taeyeon. Ia hanya ingin gadis itu yang menjadi mate-nya. Selamanya. Jaehyun memang belum tahu bagaimana ciri-ciri orang yang sudah menemukan mate mereka, tapi dengan kecintaannya yang luar biasa pada Taeyeon bukankah sudah cukup jadi alat bukti?

Dan lagi, selama tiga tahun lamanya dia menjaga gadis itu agar tidak dilukai siapapun. Darahnya yang manis, yang bisa tercium dari jarak jauh membuat Jaehyun kapan saja hilang kendali. Tapi laki-laki itu tetap menahannya. Ia tidak ingin gadisnya terluka. Hingga ia memilih rehabilitasi. Ia sudah lelah bertahan. Tidak mudah berdiri di samping gadis itu.

Sekarang? Si keparat Kwon Jiyong dengan seenaknya merasakan darah manis itu. Dan Jaehyun tidak bisa mengampuni laki-laki itu maupun dirinya sendiri.

Tanpa berfikir panjang lagi, Jaehyun merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Ia mencari-cari sebuah nama di dalam kontaknya dan segera menghubungi orang itu.

Go Hyesun.

Ia akan menceritakan semua rasa pedih dan penyesalannya ini. Lalu meminta saran dari orang yang sudah dia anggap sebagai kakak sekaligus sahabatnya ini. Mungkin inilah langkah pertama yang akan ia tapaki untuk merebut kembali gadis yang dicintainya.

~~~

“Seharusnya kau pending saja tawaran Nylon Magazine itu, oppa. Imo bahkan sudah meneriakiku untuk membawamu pulang sehabis MADE Tour di Thailand ini,” rutuk Yuri pada Jiyong saat ia tengah mempersiapkan sarapan untuk members Bigbang. Setelah sarapan ini, mereka akan langsung ke bandara dan pulang ke Seoul.

Kecuali Jiyong.

“Aku sudah bicara pada ibuku. Dan dia baik-baik saja dengan itu,” jawab Jiyong acuh tak acuh.

“Apa ada yang terjadi?” tanya Seunghyun pada Yuri dan Jiyong.

“Laki-laki ini,” jawab Yuri cepat. “Hampir saja melanggar aturan bangsanya dan merampas… Aw!”

Dengan cepat dan gesit Jiyong menendang tulang kering kaki kanan Yuri di bawah meja makan sambil mendelik untuk memperingatkan gadis itu agar dia diam saja. Melihat gelagat mencurigakan itu Seunghyun sudah cukup paham jawabannya.

“Ah, jadi soal itu. Mau bagaimana lagi? Memang cepat atau lambat kau tidak hanya akan haus pada darahnya. Akan ada rasa ‘lapar’ yang lain, yang membuatmu ingin mencicipi yang lain,” goda Seunghyun dengan smirk khasnya. “Pandai-pandailah untuk bertahan,”

“Kenapa pagi-pagi sudah ribut?” tanya Youngbae. Ia, Seungri, dan Daesung baru keluar dari dalam kamar dan langsung mencomot pancake cokelat Yuri.

“Taeyeon dan Dara noona di mana?” tanya Daesung.

“Dara eonni masih tidur dan Taeyeon…,”

“Di sini,” sela seseorang cepat di depan pintu kamar Jiyong.

Dengan rambut yang sedikit berantakan, Taeyeon mengambil kursi di sebelah Daesung, yang tentu saja lumayan jauh dari tempat duduk Jiyong. Setidaknya menu sarapannya kali ini ia tidak melihat wajah laki-laki itu dulu.

“Ah, noona. Kau belum mandi? Kita akan pulang pagi ini,” ujar Daesung.

“Kau tidak mencium bau apa-apa, ‘kan?” canda Taeyeon.

“Hng? Eum… Aku mencium wangi parfum Jiyong hyung,” jawab Daesung polos.

Ucapan Daesung yang polos membuat Taeyeon langsung tersedak susu yang sedang diminumnya itu. Wajahnya merona hebat dan ia tidak bisa menyembunyikannya.

“Sepertinya kau demam, Taeyeon-ah,” ujar Seunghyun sambil tersenyum mengejek.

Jiyong diam saja di ujung meja makan. Sedangkan Yuri melayangkan tatapan membunuh pada kakak sepupunya itu.

~~~

“Kau tidak akan pulang ke Korea? Kenapa?” tanya Taeyeon pada Jiyong setibanya mereka di bandara.

“Tidak. Ada photoshoot di Jepang,” jawab Jiyong singkat.

Taeyeon menghela nafas pendek dan memandang Jiyong dengan pandangan yang sulit dimengerti.

“Kita pisah di sini,” ujar Jiyong pada Taeyeon dan Yuri, sedangkan members Bigbang yang lain dan Dara sedang membeli makanan.

“Aku ikut,” cetus Taeyeon cepat.

Baik Jiyong maupun Yuri menatap Taeyeon dengan pandangan tidak percaya. Apalagi Yuri.

“Eonni,” panggil Yuri.

“Kau pulang saja,” tolak Jiyong.

“Aku juga menjadi asistenmu, ingat? Bukankah itu juga salah satu perjanjian awal kita, Yuri-ah?” tanya Taeyeon sambil memandang Yuri, minta dukungan.

“Eonni,” gumam Yuri. Ia menarik pergelangan tangan kanan Taeyeon untuk sedikit memberi ruang privasi dari Jiyong. “Aku sudah tahu apa yang terjadi kemarin malam dan aku luar biasa cemas padamu, tidak. Pada kalian berdua,”

“Itu tidak perlu difikirkan. Aku tahu dia terlalu terbawa suasana. Dan aku yakin itu tidak akan terulang lagi,” ujar Taeyeon.

“Ada yang kau tidak tahu, eonni. Dan aku juga harus menjelaskan sesuatu padamu,” pinta Yuri.

“Aku akan dengarkan setelah pulang dari Jepang, Yuri-ah,” ujar Taeyeon sambil sesekali melirik Jiyong yang masih menunggu perbincangan mereka. “Aku harus ikut dia,”

“Kalau sudah seperti ini kau tidak boleh lagi mengizinkan dia meminum darahmu,” ungkap Yuri. “Sekali saja tidak apa-apa, meskipun lebih baik jangan. Tapi kalau berkali-kali tidak bisa, eonni. Aku tidak menyangka kalau dia akan bertindak sejauh itu. Maksudku… mereka punya peraturannya,”

“Yuri-ah, aku… akan mendengar penjelasannya setelah pulang, okay?”

“Ne, setelah pulang dari Jepang,” ucap Yuri dengan nada pasrah. “Kalau kau memang ingin ikut, pergilah. Aku tahu kau punya alasannya. Kabari aku kalau kau sudah pulang. Sampai nanti, eonni. Take care,

Taeyeon mengangguk dan ia melambaikan tangannya pada Yuri sembari menghampiri Jiyong. Jiyong menatap perpisahan antara mereka berdua yang meyakinkan dirinya kalau gadis itu memang benar-benar berniat ikut.

“Kau ternyata sangat keras kepala,” gumam Jiyong.

“Ingat perkataanku kemarin malam?” tanya Taeyeon. “Aku sungguh-sungguh,”

“Terserahmu,” cetus Jiyong.

Selesai berkata seperti itu, Taeyeon langsung membuka ponselnya dan memberitahu members yang lain kalau dirinya akan ikut dengan Jiyong. Mereka jalan beriringan menuju meja check-in dikawal oleh beberapa orang bodyguard.

“Dengan siapa kau photoshoot kali ini?” tanya Taeyeon pada Jiyong saat mereka sedang menunggu penerbangan. Jiyong sama sekali tidak membuka pembicaraan, walaupun itu sekedar basa-basi saja. Ia malah lebih memilih memainkan ponselnya.

“Komatsu Nana,” jawab Jiyong pelan. Kedua mata cokelatnya menatap ke arah Taeyeon. “Kau tahu siapa dia?”

“Aniyo,” jawab Taeyeon pelan.

“Kalau begitu jangan tanya,” ujar Jiyong pendek.

“Tsk, geu namja,” batin Taeyeon. Ia membalikkan tubuhnya dan membelakangi laki-laki itu. Tanpa disangka, Jiyong hanya tersenyum geli melihat kelakuan gadis mungil itu.

“Hoi,” panggil Jiyong pelan.

Taeyeon tidak menjawab, ia sibuk membaca sesuatu dalam ponselnya.

“Ya,” panggil Jiyong lagi, kali ini ia menggunakan sikunya untuk menyikut punggung gadis itu.

“Mwo?” tanya Taeyeon kesal.

“Mianhae untuk yang tadi malam. Seharusnya aku lebih menahan diriku. Aku tidak akan mengulanginya lagi,” ujar Jiyong.

Taeyeon hanya diam untuk beberapa saat. Ia bingung mau menjawab apa. Ia hanya tidak menyangka laki-laki itu kembali mengungkitnya.

“Tidak masalah,” jawab Taeyeon pelan. “Ah, ternyata gadis Komatsu ini masih muda, ya? Kenapa dia mau menerima tawaran photoshoot dengan ahjussi sepertimu? Dia lebih cocok dengan Yamazaki Kento atau Ryusei Ryo. Sebaiknya kau jangan menggodanya atau terlalu dekat dengannya, bisa-bisa kau disangka pedofil,”

Jiyong mengalihkan pandangan matanya ke arah Taeyeon yang sibuk membaca-baca artikel mengenai Komatsu Nana, partner Jiyong nantinya di Nylon Magazine. Senyum tipis mengembang di wajah tampan laki-laki itu saat mendengar ucapan Taeyeon barusan. Entah kenapa ia merasa―atau mungkin kepercayaan dirinya yang tinggi―kalau gadis itu memang benar-benar tidak ingin dirinya terlalu dekat dengan partner-nya nanti.

Cemburukah?

Apa boleh Jiyong berharap seperti itu?

 

 

 

 

-To Be Continued-

 

 

Annyeong^^

Maaf telat update hehe (kebiasaan). Setelah chap ini, janji deh ngga akan lama lagi, karena toh tinggal beberapa chap lagi juga bakalan abis. Dan itu semua tergantung readers yang comment kekekeke~
sorry, ya kalo comeback kali ini kurang gimana gitu :””

 

 

 

-Preview-

“Daripada kau menyakiti dirimu lagi, sebelum kau benar-benar jatuh cinta padanya, jauhi dia,”

 

“Kau sudah tahu kuncinya, ‘kan? Cinta dan pengorbanan. Apapun itu, aku mendukungmu, adikku,”

 

“Aku melakukan semua ini, karena ingin mencintaimu tanpa ada beban apapun, Taeyeon-ah. Karena aku benar-benar mencintaimu. Karena kau adalah mate-ku,”

 

“Oppa, pecatlah Taeyeon eonni. Manager kalian sudah kembali,”

 

“Kau tidak bisa meninggalkan laki-laki itu, eh?”

“Ne, aku tidak bisa meninggalkan Jaehyun oppa,”

“Kalau begitu pergilah dan jangan kembali lagi. Meskipun aku mengemis padamu, jangan pernah kembali,”

 

“Karena aku suka… pada oni-san,”

“Aku juga suka… pada Nana-chan,”

Advertisements

137 comments on “The Leader’s Secret (Chapter 9)

  1. Akhirnyaa update juga
    Seruu thorr
    Konflik nya semakin banyak
    Pliss next chap jngn update lama2 ya thorr
    FIGHTING

  2. daebak thor jangan lama lama update nya. plisssss. salah satu ff yang bikin aku gimanaaa gitu mbacanya.hihihi

  3. best GTae ff everrr!!!
    suka bgtt pkonyaa sama ff ini..
    gatau semangat aja klo ada adegan hot GTae hahaha *byuntae mode on*
    Bisa jadi Taeyeon memang mate nya Jiyong kan..
    nampaknya mereka udah sama2 saling cinta hehehe
    ditunggu selalu lanjuttannya, semangattttt!!

  4. keren thor.. nunggu ff ini smpe lumutan dan akhirnya update juga, hasilnya nggak mengecewakan eon.. wah masih complicated ya.. kirain abis ini mereka jadian.. ternyata masih harus nunggu lagi.. gpp deh, keep writing authornim.

  5. Aduhh thor kok belum update2? 😐 Ga sabar pengin baca kelanjutannya, :> Apa lagi adegan romance & hotnya GTae *byuntae kumat* hahha 😀
    Next cepet thor 😉 😀

  6. Woaaaaa FINALLEHHH UPDATE!! Bagus kok thor as always♥Bulak balik liat blog ini demi FF The Leader’s Secret udah update atau belum. 나 진짜 너무너무좋아요♥♡♥ DITUNGGU YA NEXT CHAP!!!

  7. Arrgggghhh apa ituu teasernya astaga baper chinguuu … baper TT
    duhh kenapa malah jdi rumit gtuu ? Taeng itu mate nya siapaa ??
    O.o kepada Nana Komatsu suka bkn berrti cinta kan ? HAHA
    jaehyun si suami orang .. hm … leh ugha pengorbanannya hihhi
    Nexi ditungguuuuuuu plz jgn kelamaan chinguuuu ^^

  8. Keren bangeeeeeeeeet 😭😭😭 suka bgt sm gtae couple asli.. Segera update thor, selalu dinanti ini ff nya hehee.. Tp please itu knp ada nana nana segala huhuu jgn pisahkan gtae pokoknyaa.. Fighting author!! ^^

  9. yakin ini nunggu sampe lumutan thor 😂😂😂 DUHH TAPI PUAS BANGET NGET DAHH SAMA CHAPTER INI, blushing sendiri. gajelas lah saya ini. duh jiyong 😍 yakin saya terpesona banget ini gara-gara cara author bikin imagenya jiyong yang bad boy tapi gentle nya minta ampun DUH 😍😍😍 taeyeon juga unyu2 gitu. btw itu teasernya bikin deg deg ser ya ini apa ya 😂 au ah thor saya cuman berharap semoga gtae moments nya numpuk terus cute2 semua dah, udah gitu aja kali 😂 update really soon thor, ditunggu bangettt ngett nih!! Keep writing and hwaiting law 🙌

  10. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  11. DABESTT😍😍 Hai kak hehe buka newreader tapi baru komen😂 *maafkun btw BENERAN SUKA BAT CHAP INI 😭😭 tiap hari ngecek kali aja udh update dan AKHIRNYAAA😍 gtae you two so😘😘😘 complicated but sweet ottokhae😂😂 pokoknya next chapnya Kasih banyak momen gtae ya kakk 😂😂

  12. keren thor.. nunggu ff ini dan akhirnya update juga
    semoga Taeyeon matenya Jiyoung
    uh baca preview nya kok baper ya,
    thor jangan pisahin Taeyeon sama Jiyoung thor
    ff nya keren thor bagus lagi
    next thor ditunggu

  13. • Bohong? kekeke, apa Taeyeon cemburu saat Jiyong bersama gadis-gadis itu?
    • Sesuai sifat aslinya, egois. Jiyong mau melindungi Tae untuk tidak minum darah Tae lagi, tapi wah sekarang Tae yang merasa egois & lebih dari vampir, haha…
    • Perkembangan ceritanya terasa banget.
    • Tuh ‘kan… Siapa lagi kalau bukan Jiyong yang gendong Dara?
    • Awas Tae nanti dimakan Jiyong kalau sembunyi di kamarnya.
    • Tae mengungkapkan secara tidak langsung sampai Jiyong mau ketawa yang meledak.
    • Pasti kejadian deh minum darah Tae & Tae dibuat tidur. Kalau ingat itu ‘kan kasihan tidak bisa tidur gara-gara ingat proses Jiyong minum darah, kekeke….
    • Taeyeon pada Jiyong… Bukan polos bukan bodoh, melainkan suka 😉
    • Benar, ada kiss sepihak dalam tidurnya Tae, tapi berujung lama kukira cuma 1 detik.
    • Bolehkah aku komentar panjang? Mianhaeyo… 🙂
    • Kejadian ini yang minum darah, Taeyeon terlihat dewasa & Jiyong seperti anak-anak, kekeke… Mengingat penjelasannya pada Jiyong yang sudah tidak bisa dibendung lagi. 😉
    • Lihat previewnya:
    1. Haaa… Tuh ‘kan ada Nana di photoshoot, udah curiga waktu tertulis ‘Nylon Japan Magazine’, gak relaa… Tapi, kwaenchana, biar berwarna. So,… Slow aja. Aku terlalu baper. Toh author pasti dibuat seru saat memasukkan karakter Nana. 🙂 😦
    2. Itu preview Jiyong-eomma ‘kah?
    Preview yang bikin dag dig dug der, apalagi yang paling terakhir, kembali jadi baper, seperti GD oppa, baperan. 😀
    #gtae #royalistdreamer #leadercouple
    #Next chapter… See you. HWAITING All! 😀 HWAITING Author-nim 🙂
    Terima Kasih 🙂

  14. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  15. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

  16. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 13) | All The Stories Is Taeyeon's

  17. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 14) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s