[FREELANCE] Moonlight (Chapter 11)

moonlight

[Freelance] Moonlight Chapter 11

Author: Alicya V Haiyeon

Rating: PG-16

Lenght: Multichapter

Genre: School Life, Romance, Family

Main Cast: Kim Taeyeon

Xi Luhan

Support Cast: Temukan sendiri.

Disclaimer:

This is just a FanFiction. All the cast it’s belong to God, them selves and the parents.

Please, don’t be a Plagiator.

Author Note:

Jika ada kesalahan, mohon komentarnya. Karna komentar anda semua yang bisa menentukan

FF ini dilanjut atau berhenti di tengah jalan. Typo dimana-mana. Thankyou.

Preview: Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5, Chapter 6, Chapter 7, Chapter 8, Chapter 9, Chapter 10

***

“kau tak suka aku mengajakmu kesini? Hanya ini satu satunya tempat yang tak ramai di hari minggu”

Taeyeon menatap Luhan yang duduk tepat di sebelahnya yang balas menatap taeyeon dengan tatapan kecewa saat taeyeon memutuskan untuk diam dan tak menjawab pria di sampingnya. Bodoh, bagaimana bisa ia berfikir taeyeon tak menyukai tempat sebagus ini? Dan taeyeon bahkan baru tau jika di kota Seoul ada tempat seperti ini. Bukankah di kebanyakan kota hanya ada jalanan, gedung menjulang tinggi, kendaraan yang tiada batas ditambah dengan ramainya orang di luar sana yang berlalu lalang menikmati hari mereka.

Takjub, sungguh hanya ini yang bisa Taeyeon lakukan saat ini. Bahkan untuk menjawab pertanyaan Luhan saja ia memerlukan waktu lebih agar bisa mengeluarkan suaranya. Bibirnya terasa kelu hanya untuk sekedar mejawab pertanyaan, bahkan sekedar untuk menyampaikan betapa indahnya tempat ini taeyeon tak bisa. Selain karna matanya yang masih terpaku dengan apa yang ia lihat, kepribadian taeyeon yang memang sedikit tertutup membuatnya tak bisa bertingkah layaknya yeoja di luar sana, bersorak gembira atau bahkan memuji dengan mata berbinar binar betapa indahnya tempat ini.

Dalam hitungan menit taeyeon benar benar merasa tak berguna jadi manusia selama ini. Ayolah, apa saja yang ia lakukan sehingga ia tak tau bahwa pantai sungguh indah. Ah taeyeon ingat, ia selalu terkurung di rumah mewahnya itu dulu, hingga ia tak sadar ada dunia di luar sana yang menantinya. Yah, tempat indah yang menarik semua perhatian taeyeon adalah pantai. Dengan semua pasir yang terbentang luas di hadapannya, dan dengan semua air laut dengan ombak tenang. Suara ombak yang memecah pantai pun membuat telinga siapa saja yang mendengarnya merasa tengah dimanjakan.

“taeyeon-ah, kau benar benar tak suka tempat ini? Ah sudah kuduga tak ada yang mau datang ketempat seolah olah tak ada penghuninya ini, dan heol kenapa aku berfikir mengajakmu ke pantai saat musim dingin?” Luhan terus saja menyalahkan dirinya sendiri saat beberapa menit yang lalu mereka menduduki dirinya di pinggir pantai dengan pasir sebagai alas tanpa adanya kain atau persiapan apapun. “kajja, kita ketempat lain sa…”

“aniya, disini saja” gumam taeyeon tanpa mengalihkan tatapannya ke arah Luhan sedikitpun. Dan Luhan sedikit mendengus tatkala taeyeon menatap lautan seolah olah Luhan tak ada di sampingnya. “yah lihat aku jika berbicara dengan ku!”

Taeyeon yang merasa sedikit terganggu dengan protes yang di alamat kepadanya mendelikkan matanya dan menatap Luhan memintanya untuk melanjutkan kalimatnya. “wae?”

“aku mau kau menatapku… hanya itu! bogoshipeo… jeong… ah apa yang aku bicarakan! Sudahlah lupakan saja”

Taeyeon menarik sudut bibirnya melengkung ke atas sedikit, yah hanya sedikit tapi berhasil membuat sesuatu yang bernama jantung kepunyaan Luhan berdebar dengan keras. Astaga, apa ini? Hanya melihat senyum taeyeon, Luhan seakan kaku tak bisa berkutik dalam hitungan detik.

Luhan berdeham sekilas, mencoba meredam debaran jantungnya dan kembali mengembalikan dirinya yang sedikit kaku. “kau tak pernah ke pantai? Aku tau pantai ini tak sebagus pantai di jeju ataupun pantai lainnya, tapi kenapa kau menatapnya seolah olah ini pantai terindah yang pernah kau lihat eoh?”

“ini memang pantai terindah yang pernah ku lihat”

Bolehkan Luhan membelalakkan matanya kaget? Apa taeyeon benar benar bisa melihatnya? Bagaimana bisa ia bilang pantai yang tak bisa dikatakan terlalu indah itu seperti ini? Pantai yang terletak di dekat bandara incheon ini sepi dan tak ada siapun yang berminat untuk berlama disini.

“mwoya? Kau tak pernah ke pantai? Ah jinjja harusnya aku mengajakmu ke pantai yang indah dari ini, bagaimana ini? Ayahku sangat suka pantai, tapi sayangnya aku tak bisa pergi berlibur lagi dengannya, Bagaimana kalau sesudah hari kelulusan kita ke pantai? Otte? Kau mau? Tenang saja, aku yang akan membayar semuanya. Kita berlibur ke jeju, atau kalau kau mau kita bisa ke jepang seperti di drama drama romance itu, ah aku benar benar ingin melakukanny….”

“luhan-ah” panggil taeyeon pelan, sangat pelan. Tapi berhasil membuat Luhan membungkam mulutnya yang entah kenapa selalu menyusun kalimat kalimat yang membuat taeyeon tak mampu untuk mendengarnya. Ayah Luhan? Ah pria itu tentu saja merindukan ayahnya, Jangan katakan apapun selain hari ini, jebal!

“wae? Apa kau lelah?” baiklah, perjalan dari seoul ke sini memerlukan waktu yang lumayan lama, sekitar satu jam penuh hingga jam di pergelangan tangan Luhan menunjukkan angka 3, ah apa yang mereka lakukan, jam 11 saat biskop buka mereka sudah nonton sepagi itu dan di cuaca sedingin ini mereka sudah terduduk diam di pantai.

Taeyeon mengangguk singkat tanpa menatap Luhan. Perlahan matanya meredup. Tatapan memuja yang ia tujukan untuk pantai itu berkurang. Tak ada lagi binar binar bahagia di mata yang entah kenapa membuat Luhan merasa ada sesuatu yang di sembunyikan taeyeon darinya. Luhan sangat ingin bertanya, kenapa taeyeon menjauhinya belakangan ini dan berkata bahwa ia adalah.. ehmm beban untuknya. Jujur saja, Luhan sangat ingin tau. Bahkan pikirannya sudah merancang sekian banyak alasan yang ia anggap logis sampai yang tak bisa di terima oleh akalnya. Mulai dari Nana yang mengancam taeyeon untuk tidak berteman dengannya karna sepertinya Nana menyukai Luhan sampai taeyeon yang sudah mempunyai pacar membuatnya harus menjauhi Luhan. Yah sejauh ini hanya 2 alasan yang di anggap logis oleh luhan. Bukankah itu yang sering terjadi di drama yang ia tonton? Tapi percayalah Luhan mati matian menolak alasan kedua yang selalu muncul di otaknya dan membuat darah seakan naik ke atas kepalanya. Tanpa sebab ia akan marah hanya karna pikirannya berbicara tentang alasan kedua itu.

“gomawo Xi Luhan” ujarnya, nyaris seperti bisikan namun berhasil menarik Luhan yang dari tadi sibuk berkelana seenaknya. “kau sudah mau menjadi temanku, dan mianhae… jeongmal mianhae”

“yah yah, neo waegeurae huh? Kau sedikit berbeda dari biasanya, ada apa? apa kau ada masalah? Bicaralah dengan ku, kau tau aku memang tak bisa memberi saran yang baik tapi aku akan berusaha dan siap mendengarkan, sekali pun aku bukan pendengar yang baik”

Oh Tuhan, taeyeon mohon! Kenapa semua jadi serumit ini? Dan kenapa ia menjadi seperti seseorang yang sangat berlebihan. Ia hanya akan kembali ke kehidupannya semula, tanpa pria di sampingnya. Entah kenapa hanya dengan memikirnya masih saja membuat sesak dadanya. Apa yang terjadi padanya? Ia takut Luhan membenci hanya karna ia terlibat dalam kecelakan itu? Ayolah taeyeon terus berfikir apa salahnya? Ia hanya salah satu korban di sana, dan kenapa harus ayah Luhan yang dibunuh ayahnya?

“Kim taeyeon, kau melamun?” Luhan meletakkan tangannya di bahu taeyeon, mencoba menyadarkan yeojja itu dari pikirannya. Taeyeon benar benar sangat aneh. Luhan tau jika taeyeon memang pendiam dan sangat dingin, tapi yang ada di hadapannya ini terlihat jauh lebih aneh dan… terlihat sangat rapuh. “perlu pelukan?”

Mendengar tawaran Luhan membuat taeyeon mendelikkan matanya “aku serius, aku tak akan berbuat macam macam padamu, atau aku tak akan menggodamu lagi, jinjja! hanya saja aku rasa kau memerlukan pe…”

Lagi, ucapan Luhan terpotong begitu saja, tidak dengan ucapan taeyeon. Melainkan dengan tindakan yeojja itu. Ia mendekatkan dirinya dan menyelipkan tangannya menelusuri pinggang Luhan dan menyandarkan kepalanya tepat ke dada pria itu. Membuat Luhan bungkam seribu bahasa.

Dengan cepat, luhan mengangkat tangannya, membalas pelukan yeojja itu. Dan detik berikutnya, Luhan merasa bahwa sesuatu yang tengah ia peluk sedikit bergetar, dan jaketnya yang ia rasa sedikit basah, yah jaket Luhan sangat tebal, bagaimana bisa kulitnya di dalam sana merasakan aliran air? Apa yeojja ini menagis?

Debaran yang semula mengambil alih jantung Luhan mendadak berubah menjadi denyutan perih dan lagi lagi Luhan tak mengerti dengan tindakan jantungnya yang bertindak sesukanya. Kenapa berdenyut sangat perih seolah olah hal yang paling menyedihkan akan terjadi. “neo gwenchana?” lagi, Luhan bertanya dengan mata masih menatap Lurus kedepan. Tentu saja, ia tak bisa melihat yeojja yang tengah menyembunyikan wajahnya di dadanya itu. Dan Luhan sangat yakin jika taeyeon dalam keadaan yang tidak bisa dikatakan baik “apa bungsoo membulimu lagi? Ah lain kali dia akan kupukul lebih keras lagi membuat yeoja ku menangis”

Yeoja-ku? Hanya dengan kata itu saja berhasil membuat tangisan taeyeon semakin deras.apa Luhan akan tetap memanggilnya seperti itu jika ia tau kenyataannya? Kenapa taeyeon merasa ia akan berpisah dengan kekasihnya padahal Luhan bukanlah kekasihnya, dan kenapa semuanya terasa sangat menyakitkan, hingga taeyeon rasanya tak sanggup meredam kembali suara tangis yang mati matian ia tahan “maafka… hiks….lu…hiks” getaran di tubuh Luhan semakin menjadi membuat Luhan mau tak mau semakin cemas, ini pertama kalinya ia melihat taeyeon menangis seperti ini. Ada sesuatu yang tak beres dengannya.

“yaahhhh, neo waeguerae huh? Ceritalah hmm!” Luhan melepaskan pelukannya dan menatap wajah taeyeon dalam. Wajahnya memerah dan penuh dengan air mata. Dan tangan Luhan langsung menangkup kedua pipi itu, perlahan mencoba menghapus air mata taeyeon yang semakin deras itu. Bodohnya Luhan, ia baru merasa jika taeyeon terlihat semakin kurus, dengan pipinya yang sudah tak se cubby saat terakhir ia lihat.

“lu…. hiks…. hiks… Luhan… hiks”

Apa yang kau lakukan Kim Taeyeon? Kenapa kau menangis? Taeyeon terus saja berusaha berperang dengan hatinya alasan kenapa ia menangis, ia tak tau alasan yang tepat apa yang membuat dirinya takut selama ini hanya karna Luhan akan membencinya kelak, tapi hari ini ia menemukan alasannya, alasan yang membuat dadanya semakin perih, alasan yang membuatnya akan semakin sulit melepaskan pria ini, alasan atas semua tingkahnya belakangan ini, dan alasan itu adalah, “aku mencintai pria ini, Tuhan”

“menangislah, jangan di tahan, aku disini” baiklah, Luhan menyerah. Ia tak akan pernah tau alasan taeyeon menangis, tapi setidaknya ia harus membiarkan yeoja itu melepas bebannya yang terlihat sangat berat. Dibalik tampang dingin dan sulit tersentuhnya, yeoja ini benar benar sangat rapuh. Bagaimana bisa? Taeyeon bahkan bilang dulu ia lupa caranya menangis sekarang menangis tersedu sedu di depannya. Ada apa? kata itu selalu berputar di dalam benaknya.

“jangan menangis di hadapan pria lain, jika kau butuh sandaran carilah aku! Biar aku yang akan……” ucapan Luhan lagi lagi terputus saat air mata yang ia hapus dengan kedua jempolnya kembali mengalir dengan derasnya, mata taeyeon hanya menunduk menatap ke bawah, membuat Luhan mau tak mau menaikkan wajah yeoja itu hingga akhirnya mata mereka bertemu.

“kau kenapa? Uljima… jebal!”

“mi..an…jinjja m-mianhae” ujarnya sesegukan “jangan membenciku, kumohon” sambung taeyeon dalam hati

Ingin rasanya Luhan bisa memiliki kekuatan supranatural yang bisa membaca fikiran seseorang untuk saat ini, agar ia bisa tau fikiran taeyeon tanpa bertanya pada yeoja itu. Dan apa? kenapa ia selalu berucap kata maaf padanya? Apa taeyeon baru saja melakukan kesalah padanya?

“jangan meminta maaf padaku, kau tak salah apapun padaku”

“mian…m-mianhae…” taeyeon menutup rapat matanya, mencoba menahan air mata yang entah kenapa masih saja sulit untuk ia kendalikan, nafasnya mulai memburu dan sesegukan mulai menghampirinya saat ia masih berusaha untuk meredam tangisannya. Tapi semua terasa sangat sia sia. Saat seluruh kendali di otak dan hatinya tidak sejalan. Ia ingin meredakan sakit dan nyeri di hatinya, dan otaknya selalu menolak membuatnya tak bisa berbuat banyak selain mencoba menahannya dengan air mata yang masih merembes keluar. Dan jangan lupakan tangan luhan yang masih betah menghapus air mata yang keluar dari sana.

Tak salah apapun? Apa taeyeon masih bisa mendengar kata itu keluar dari mulut Luhan saat Luhan tau bahwa ia anak seorang pembunuh yang membunuh ayah yang sangat ia cintai? Bayangan Luhan yang pada malam itu menangis di hadapan taeyeon karna tak rela ayahnya meninggalpun kembali mengahantuinya.

Taeyeon bahkan heran dengan dirinya, kenapa ia berucap kata maaf kepada Luhan, mungkin saja ia ingin Luhan memaafkannya atas kesalahan yang sama sekali tak ia buat? atau taeyeon hanya ingin terlalu berharap?

***

“yah bro, apa yang kau lakukan di kantor hari minggu? Pantas saja kau melajang di umur yang hampir 30 tahun ini!”

Kibum yang tengah terduduk di depan meja di ruangan khusus kepunyaannya di kantor hanya melirik sekilas heechul yang baru saja secara tak langsung menghinanya sebagai ‘bujangan-lapuk’. Matanya kembali melirik kertas kertas dengan berebagai macam isi yang berbeda dan kembali menarik salah satu dan membacanya dengan serius. Ini hari terakhirnya disini sebelum ia kembali ke China dan memberikan perusahaan ini kepada orang kepercayaannya, tentu saja kibum harus memeriksa semuanya.

“apa yang kau lakukan?”

“tentu saja mengunjungi temanku yang akan pergi ke China besok”

“kau yakin hanya itu?”

Heechul menyeringai pelan, yah kibum masih mengenal dirinya dengan baik, tentu saja alasan heechul mengunjungi seseorang tidak hanya satu alasan, biasanya ia membawa dua alasan yang satu logis dan yang satu lagi tidak logis jika ia akan berkunjung. Dan heechul sedikit bangga bahwa kibum masih tau tentangnya sekalipun masalah yang menimpanya tiada henti.

“yah kau membuatku terharu kibum-ah”

“aku benar?” liriknya singkat dan kembali memfokuskan dirinya ke kertas yang ada di tangannya.

“aku dapat sesuatu yang bisa merubah takdir adikmu, kurasa..”

“takdir taeyeon?” dengan cepat kibum mengumpulkan semua kertasnya dan berjalan mendekati heechul dengan tatapan penuh tanya “apa maksudmu?”

“hei, kau tak lupa kau menyuruhku untuk mencari informasi tentang Park MyungSoo keparat itu kan?”

Ah benar. Kibum memang menyuruh pria yang tak ada pekerjaan ini untuk mencari informasi tentang pria itu, dan heol ternyata pria yang di asumsikan kebanyakan orang bahwa ia pemalas ini membuat kibum bertepuk tangan singkat sekedar memberi penghargaan kepadanya yang mau melaksanakan pekerjaan yang sama sekali tak ada untungnya untuknya.

“kau tau, alasan myungsoo ingin membunuh taeyeon dari dulu?” baiklah, kibum memang tak tau alasan apa yang menyebabkan pria yang hampir seumuran dengan ayahnya itu ingin membunuh taeyeon, karna memang tak ada alasan untuk seolah ayah ingin membunuh anaknya sendiri, binatang bahkan tak tega melakukannya.

Kibum menggeleng lemah “apa perlu alasan? Tentu saja karna dia gila!”

“aniya, awalnya aku fikir begitu, ternyata tidak” heechul menghela nafas pelan, tangannya yang semula berada di saku celannya perlahan keluar dan menepuk bahu kibum mencoba menengakannya yang terlihat akan segera naik darah itu. “dia ada alasan tertentu melakukannya”

“mwo? Aku tak peduli dengan alasannya, yang aku mau membawa adik ku pergi dari sini dan menjauhinya, sekarang juga!”

“karna taeyeon bukan anaknya, pabboya!”

***

Taeyeon hanya bisa diam membantu menatap ke sebuah mini market kecil yang berdiri dengan kokohnya di seberang jalan sana. Dirinya sudah menduduki bangku yang terletak di depan mini market ini, tepatnya di sebuah pemberhentian bus yang akan membawanya pulang kembali ke Seoul. Ingin rasanya taeyeon mencoba menahan waktu dan membiarkannya menghabiskan waktu lebih lama dengan Luhan. Apa dunia sekejam itu padanya? Kenapa jam sangat cepat berjalan saat ia menghabiskan waktu berharganya dengan pria di sampingnya ini? Apa yang salah dengan nya? Ia hanya ingin waktu berjalan lebih alot dari biasanya, hanya itu.

Matanya terus menatap ke arah mini market itu dengan diam, ini sudah terlalu lama untuknya di tinggal sendirian oleh Luhan yang berpamitan akan membelikannya ice cream di sana. Ayolah, apa membeli ice cream membutuhkan waktu hampir satu jam penuh?

Deringan ponselnya membuat taeyeon mau tak mau mengalihkan tatapannya melirik sekilas benda segi empat yang dari tadi ia genggam, nama Kibum Oppa tertera dengan jelas di benda itu. hingga akhirnya taeyeon mengangkat panggilannya.

“yeoboseo?” sapanya pelan

“chigeum eodiya?”

“na? Incheon, aku akan pulang sebenar lagi!”

“apa yang kau lakukan disana? Cepat pulang! Ini sudah hampir jam 8 taeyeon-ah!”

“ah ne arraseoyeo oppa, keundae wae?”

“ah aniya, perasaan oppa tidak enak saja, cepat pulang hmm”

“n….”

Belum sempat taeyeon membalas ucapannya, ponsel berwarna putih yang sebelumnya ia genggam itu terlepas dari tangannya, beralih tanganya tepat ke seorang pria paruh baya yang taeyeon tak sadari sudah duduk di sampingnya beberapa detik yang lalu. Mengangkat ponselnya dan meletakkannya tepat di telingnya dengan mata masih menatap taeyeon yang hanya bisa terdiam dengan tatapan kaget dan bingungnya, ah jangan lupakan perasaan takut yang entah sejak kapan mulai menghampirinya.

“oeh kibum-ah! Terima kasih sudah menjaga uri taeyeonie eoh? Sekarang aku akan merawat anakku dengan baik, ne! Dan ehkm… sepertinya kau menikmati peranmu sebagai kakak yang baik buat anakku, gomawo ne, annyeong”

Anakku? Taeyeon perlahan memundurkan posisi duduknya menatap pria paruh baya yang baru saja memutuskan panggilannya dan melempar ponsel taeyeon dengan ringannya ke arah jalanan sana, dengan senyum manis yang lagi lagi membuat tubuh taeyeon bergetar di tempat. Apa dia ayah taeyeon? Dan taeyeon takut setengah mati hanya dengan melihatnya? Bukankah ia harusnya bahagia akhirnya bisa bertemu dengan ayah kandungnya? Lalu apa ini? Kenapa ia bisa setakut ini? Fakta bahwa ayahnya pembunuhlah taeyeon rasa berhasil membuat jantungnya bergetar takut, ah Luhan… di dalam sana… bagaimana jika pria itu keluar dan mengenali pembunuh ayahnya disini?

“wae? Kenapa menatap mini market itu setakut itu? kau takut Xi Luhan, mengetahui bahwa kau anakku? Pembunuh ayahnya?” tanya myungsoo ringan, seolah olah hal yang baru saja ia ingin tanyakan adalah hal yang normal.

“ayah? Aku bahkan tak yakin kau ayahku!” dan detik berikutnya taeyeon menyumpahi mulutnya yang seenak hatinya berbicara sehingga membuat ekspresi pria itu semakin menggerikan di hadapannya. Astaga apa yang harus taeyeon lakukan? Lari?

“mulutmu benar benar! Kau mau ikut dengan ku? Menunggu oppamu yang akan menjadi hero itu datang menjemputmu dengan baik baik atau kau mau dengan cara kekerasan? Kau tak lupa bahwa aku seorang pembunuh bayaran yang handal bukan?”

Ingin rasanya taeyeon segera melenyapkan dirinya di dalam bumi untuk sekarang. Apa ia benar benar akan mati di tangan ayahnya sendiri? Apa tak ada hal yang lebih menyedihkan di dunia ini selain ini? Apa sekejam ini?

“shireo!”

Myungsoo tersenyum sinis dan bertepuk tangan ringan menatap taeyeon yang duduk tak kurang dari 1 meternya darinya, yeojja ini sangat keras kepala, sama dengan Shin Min Ji, ibunya “aku tau kau akan menolak, makanya aku menyiapkan hadiah istimewa untukmu, ah anggap saja ini hadiah sebelum kau pulang ke China”

Tak selang beberapa lama, kumpulan pria baru saja keluar dari dalam mini market di depan sana. Pria dengan badan kekar dan tatto yang memenuhi tubuhnya yang berjumlah 4 orang itu memapah seseorang belakangnya. Mata taeyeon terbelalak kanget saat matanya melihat Luhan yang terlihat tak sadarkan diri dengan luka memar memenuhi badannya. Ah jangan lupakan darah yang mengalir melalui mulutnya yang terkunci rapat ini.

“APA YANG KAU LAKUKAN!!!” bentak taeyeon keras. Ia tak peduli jika sesudah ini ialah yang akan mati, ia hanya tak ingin pria yang berstatus sebagai ayahnya ini membunuh Luhan! “jangan lakukan apapun padanya!”

Myungsoo tertawa lebar membuat siapapun yang mendengarnya mungkin akan segera menutup telinganya. Rencanya berhasil. Ia akan segera membawa taeyeon dari sini, menyiksa batinnya dan membongkar rahasia yang tak sepenuhnya benar itu di depan taeyeon dan juga pria yang pingsan di seberang sana. Ia sangat berterima kasih dengan suasana yang sepi tanpa orang berlalu lalang disini dan juga ke 4 temannya di sudutnya. “keurae, masuk ke mobilku dan kita lihat, apa yang akan terjadi, uri taeyeonnie”

***

“ANDWE!!! MYUNGSOO!!! BAJINGAN!!!”

“wae wae wae? Musun suriya eoh?”

Kibum membanting ponselnya keras dan langsung berlarian keluar rumahnya tanpa menjawab pertanyaan Heechul, jangankan untuk menjawab pertanyaan heechul, untuk sekedar bernafas saja rasanya kibum tak sanggup. Nafas kibum benar-benar sesak. Harapannya untuk tidur memulihkan tenaganya untuk kembali ke China besok kandas saat ia menelpon taeyeon dan pria yang bernama Park Myungsoo itu menjawabnya.

“APA YANG KAU LAKUKAN PABOYA! MINGGIR SEBELUM AKU MENABRAKMU, KIM HEECHUL!!!” bentaknya kasar, ia baru saja akan mencapkan pedal gas mobilnya dengan kecepatan tinggi sebelum heechul berdiri merentangkan kedua tangannya di depan sana.

“kau gila! Turun dari mobilnya!”

“MINGGIR ATAU AKU AKA….”

“KAU TAK AKAN BISA MENEMUKAN TAEYEON JIKA KEADAANMU SEKALUT INI!!! TURUN DAN BIAR AKU YANG AKAN MENYETIR!”

Kibum mengusap kasar wajahnya dan menarik rambutnya jengah “heechul-ah, jebal! Adikku dalam bahaya!”

Heechul berjalan menuju bangku kemudi, membuka dan menyuruh kibum keluar dengan sedikit pukulan, tepat disudut bibirnya “aku tak tau apa yang terjadi, jika kau seperti ini, kau akan tewas di jalan sebelum berhasil menemukan adikmu!”

“taeye…” kibum merasakan sesuatu yang bernama air mata mengalir keluar dari sudut matanya, dan dalam waktu singkat matanya memerah, emosi yang sebelumnya meluap luap ingin segera menemui adiknya dan membunuh Myungsoo dengan kedua tangannya sendiri berubah menjadi rasa takut, tangannya bergetar dan air matanya jatuh memenuhi pipinya. Ia bahkan tak bisa menahan rasa takutnya. Takut kehilangan adiknya itu, ia takut kehilangan taeyeon.

“u…uri… tae…yeo hahh andwe adikku dalam bahaya” persetan dengan imagenya yang akan rusak di depan heechul, hatinya sakit memikirkan ia akan hidup tanpa taeyeon, tanpa adiknya. Tidak tidak, ia tak mau jika ia kehilangan taeyeon dengan cara menjijikan seperti ini! Adiknya tak boleh mati.

“minggir, pindah dan masuk ke bangku penumpang, biar aku yang menyetir!” heechul langsung saja menarik kasar lengan kibum keluar dan memasuki mobil dengan kibum yang sudah terduduk dengan tatapan kosong tepat di sebelahnya.

“dimana?”

Seakan tau apa maksud pertanyaan heechul, kibum menarik nafas dalam, menstabilkan emosi dan melirik heechul yang terlihat tengah menahan emosinya “incheon”

Dan dalam hitungan detik, mobil berjalan dengan kecepatan diatas rata rata dengan heechul, pria yang sebelumnya memikirkan tentang nyawanya membawa mobil dengan kecepatan bak orang gila. “heechul-ah, pela…”

“tidak, biar aku yang akan membunuh pria itu!”

“mwo?”

“karna dia sudah berani membuat Kim Kibum… sahabatku, pria yang selama ini dingin dan kaku menangis di depan mataku sendiri!”

***

Myungsoo menghela nafas berat. Ia sudah selesai dengan semua tugasnya. Mengikat kedua namja dan yeoja itu berhadapan disebuah kursi. Hanya tinggal satu tugas saja, memberitahu Luhan tentang fakta yang akan ia tambah dengan sedikit bumbu yang pastinya akan membuat Luhan membenci taeyeon. Dan sialnya, pria itu belum juga bangun dari tidur nya semenjak dipukul sejak setengah jam yang lalu sebelum mereka sampai ke ruang bawah tanah tempatnya menyekap kedua manusia itu.

“yah, apa pria itu selemah itu?” tanyanya kasar

Sementara taeyeon, hanya terdiam di tempatnya dengan mata fokus menatap Luhan, persetan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, taeyeon mohon, semoga Luhan baik baik saja sekalipun kondisinya sedikit mengkhawatirkan. “lepaskan dia, kumohon!” baiklah, lupakan semua harga diri taeyeon saat ini, jauh dalam hatinya. Ia hanya ingin Luhan tetap hidup dan tidak merasakan sesuatu yang bernama sakit itu. tak ada salahnya taeyeon mencoba untuk memohon sekalipun ia tau semuanya akan berakhir dengan penolakan.

“ini bukan saatnya kau mengkhawatirkannya, bodoh!” myungsoo yang semula duduk sangat jauh dari posisi taeyeon dan Luhan mulai berjalan mendekati taeyeon, dan menjambak rambut yeoja itu, awalnya sedikit pelan, namun perlahan ia mulai menarik kasar rambut itu. dan sepertinya kepuasaan myungsoo untuk menyiksa taeyeon tak berhasil karna yeoja itu hanya diam dan tak meringis sedikitpun dengan mata yang masih menatap ke arah Luhan.

“dia bahkan hanya pingsan saat 4 temanku memukulnya, dan kau tau? Kurasa dia tak selemah ucapanku karna faktanya salah satu temanku sama parah nya dengannya” myungsoo baru saja menerima pesan dari rekannya, bahwa salah satu dianatara mereka ada yang pingsan dan parahnya, rahangnya patah dan bibirnya sobek, myungsoo rasa pria yang tengah terduduk dengan tangan terikat di depannya ini tak selemah yang ia fikirkan. Jika mereka melawannya satu satu kemungkinan akan menang mungkin hanya beberapa persen saja, tapi jika mereka melawan bersama, bisa dilihat, Luhan langsung tak berdaya. Ayolah, siapa yang bisa melawan semuanya sekaligus? Hal seperti itu hanya ada di dunia drama.

“kau bodoh atau apa? paman pria itu menyewa ku untuk membunuhmu, dan kau masih saja peduli padanya?” baiklah, myungsoo akan memulai semuanya, membuat taeyeon sakit hati dan berniat membunuh dirinya sendiri, bukankah itu lebih baik dari pada ia yang harus membunuhnya?

Taeyeon terdiam, matanya perlahan memerah. Jantungnya berdebar nyeri di dalam sana. Sebegitu tak sukakah pama luhan padanya? Benarkah? Paman Luhan ingin membunuhnya? Bagaimana dengan oemma Luhan? Apa mereka sudah tau bahwa taeyeon terlibat dalam kecelakaan itu? dan kenapa mereka malah menyewa pria ini? Pria inilah penyebab kecelakaan itu, bukan taeyeon! Taeyeon hanya kebetulan terlibat dalam takdir mengerikan ini.

“kurasa kau belum tau apapun, kau benar benar bodoh, seperti oemmamu!”

“jangan menyebut nama oemmaku dengan mulut kotormu!” ujar taeyeon sarkatis.

PLAK!

Tamparan yang lumayan keras menyapa pipi taeyeon panas. Ah ini penyiksaan pertama yang dilakukan myungsoo padanya semenjak ia berhasil diikat secara sukarela disini. Taeyeon tersenyum sinis dan mengalihkan tatapannya menatap Myungsoo tajam. Tatapan tertajam yang ia punya. Apa pedulinya jika pria ini kembali menyiksanya? Tak masalah jika ia disiksa dan kemudian taeyeon akan mati tanpa perlu merasa sakit di hatinya, mendengar ayah kandungnya menghina ibu kandungnya sendiri, dan Luhan, ia akan segera sadar dan akan mengetahui faktanya, bukankah bagus jika taeyeon mati sekarang?

“mulutmu sangat berbahaya taeyeonie, dasar anak haram!”

“anak haram? Hah bukankah aku anak penjahat sepertimu? Dan jika aku boleh memilih, aku lebih suka menjadi anak haram dari pada anak penjahat sepe….”

PLAK

Tamparan kembali mendarat dengan mulusnya dipipi taeyeon. Membuat taeyeon kembali meringis dan kembali tersenyum di detik berikutnya, membuat myungsoo kesal setengah mati. Niatnya yang ingin menyiksa taeyeon saja perlahan berganti dengan ingin melenyapkan yeoja ini hingga ia tak bisa lagi tersenyum merendahkannya seperti ini.

“huh, pilihamu tepat! Karna kau memang anak haram! Kau anak shin min ji dengan mantan kekasihnya itu!!! kau pikir kenapa margamu Kim? Apa kau benar benar berharap bahwa Kim Jae Myung ayahmu? Jangan berharap karna Jae Myung, tak akan pernah berpaling dari istrinya. Dan Shin Minji!!!! IBUMU YANG JAL*ANG ITU! IA TIDUR DENGAN MANTAN KEKASIHNYA SEBELUM MEMUTUSKAN HUBUNGAN DENGAN PRIA ITU DAN MENIKAH DENGAN KU! APA INI? IA BAHKAN TAK PERNAH BILANG BAHWA ANAK YANG IA KANDUNG ITU, KAU!!! KAU BUKAN ANAKKU! KARNA KAU ANAK KIM… KIM JUN! YAH JUN! AYAHMU JUN! AYAH KANDUNGMU JUN! BUKAN AKU!” Myungsoo tertawa untuk kesekian kalinya, dan menatap wajah taeyeon dalam, taeyeon yang terlihat syok dengan kenyataan yang ada pun hanya terdiam dengan mata berkaca kaca. Oh Tuhan, fakta apa lagi ini?

“APA? KAU MENYESAL TELAH LAHIR? DAN KAU BERNIAT MENCARI AYAHMU? HAHAHAHAHAHA JANGAN BERMIMPI ANAK MANIS, AYAHMU, KORBAN PERTAMA PEMBUNUHANKU, AKU MEMBUNUH PRIA YANG SAMPAI DI AKHIR HAYATNYA MASIH MENCINTAI OEMMAMU YANG JALANG ITU, IA MENCINTAI ISTRIKU YANG SAMA SEKALI TAK MENCINTAIKU! APA? YAH KAMI MENIKAH BUKAN KARNA SALING SUKA, KARNA PERJODOHAN GILA YANG BERAKHIR DENGAN AKU YANG MENYUKAINYA DAN TEROBSESI DENGAN SHIN MIN JI YANG TAK PERNAH MENCINTAIKU WALAUPUN SEDETIK, lalu kenapa? Kenapa? KENAPA IA MENIKAHIKU? KARNA IA PENGECUT YANG Tak bisa melawan ayahnya yang sekarat untuk menikahi pria kaya sepertiku agar hidup nya terjamin, karna jun, pria miskin, ayahmu itu sangat miskin! MISKIN!” beber Myungsoo dengan emosi yang sudah meletup letup, apa pedulinya jika Luhan mendengarnya dan ia tak jadi membuat Luhan salah paham, toh pria itu belum sadar, jadi tak masalah untuknya. Ia muak, semua orang berbicara seolah olah yang salah disini adalah Myungsoo, padahal ia juga sudah menderita selama ini. Bayangkan saat kau belum pernah melakukan apapun dengan istrimu dan kemudian kau melihat testpack di dalam kamar mandi saat bangun tidur, saat usia pernikahan mu masih terlalu dini, bahwa istrinya tengah hamil. Dan bodohnya lagi, sampai akhir hayatnya, shin min ji tidak pernah mengaku ayah dari anak yang ia kandung. Min ji selalu bilang bahwa ialah, myungsoo ayahnya. Sampai ke titik dimana myungsoo tak sanggup lagi menahan sakit hatinya, dan berakhir dengan membunuh jun, pria yang ia ketahui mantan pacar istrinya, dan dengan bangganya jun berkata bahwa ia adalah ayah dari bayi yang di kandung min ji, membuat myungsoo berubah jadi pria kejam dan sadis dengan membunuh jun 2 hari setelah pengakuan jun, dan menjadi pembunuh bayaran sesaat sesudahnya karna mengetahui bahwa perusahaan yang ditinggalkan ayahnya gulung tikar.

Dan tentu saja, semua balas dendam myungsoo hampir selesai dengan matinya semua keluarga Kim Jae Myung dan istrinya, semua akan selesai jika saja ia berhasil menyiksa taeyeon dan membuat yeoja itu mati perlahan, karna ialah biang masalahnya. Andai saja Min Ji, tidak mengandung taeyeon, tentu semuanya tak akan sekejam ini, semuanya tak akan berakhir seperti ini. Myungsoo akan tetap menjadi suami min Ji, hidup bahagia tanpa tau apapun yang terjadi, termasuk permasalah percintaan antar Min Ji dan Jun.

Status pernikahan Min Ji dan Myungsoo yang resmi di mata hukum membuat Myungsoo merencanakan dengan matang semua balas dendam nya untuk taeyeon saat tau yeoja itu dekat dengan putra Xi Jeung Lie, pengusaha kaya yang ia bunuh dengan jeniusnya dan terlibat dengan Kim Jae Myung. Saat ia akan membunuh taeyeon waktu itu. dan ia berniat akan membuat Luhan, membenci taeyeon atau bahkan ingin balas dendam membunuh taeyeon karna tau Myungsoo adalah ayah kandung Taeyeon di mata hukum, untuk membalas kematian ayahnya. Bukankah itu ide yang bagus? Ia tak perlu lagi menggunakan tangannya untuk membunuh anak kotor itu, kan?

“hahhhh, percuma kurasa. Karna tak ada yang tau, hanya kau dan aku yang tersisa disini. Aku hanya ingin menambah bumbu penyedap untuk penderitaanmu taeyeon-ah, membunuh mu? Tentu saja, tapi aku rasa pria di depanmu yang akan membunuhmu nanti, kita tu…” perkataan Myungsoo terputus saat dengan jelinya matanya menangkap pergerakan dari tubuh Luhan, hingga akhirnya namja itu menggerang di tempatnya, mengangkat kepalanya.

Taeyeon masih betah dalam diamnya, mencerna semua kata kata Myungsoo dengan baik. Dan membuat hatinya semakin sakit, dan semua nyeri di hatinya semakin nyeri saat Luhan menatapnya nanar, tatapan khawatir itu masih saja tertuju pada taeyeon. apa beberapa menit lagi tatapan itu masih untuknya?

“ah teman anakku sudah sadar rupanya, welcome Xi Luhan-ssi” sambut Myungsoo disertai dengan tepuk tangan meriahnya sendiri. “apa aku harus memanggilmu Luhannie?”

“annyeonghaseo.. ah…cih” Luhan meludahkan darah yang masih saja betah bersarang di bibirnya. Ini sangat sakit sekali, pukulan pria berbadan besar itu benar benar membuat Luhan meringis tiap detiknya merasakan sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya. “ah..jussi…” bahkan untuk sekedar berucap saja benar benar membuat bibirnya yang sobek semakin sobek. “keundae, apa ini yang dilakukan ayah kepada anaknya? Kenapa kau mengikat taeyeon!”

“woah woah woah, tentu saja aku harus mengikatnya, karna aku sangat menyayanginya, bukankah begitu taeyeonnie?”

“gwencahana?” tanya taeyeon pelan, sorot mata taeyeon menunjukkan ke khawatiran yang sangat dalam. Luhan baru saja sadar, dan itu membuat taeyeon sedikit lega karna pria itu masih hidup dan bernafas, untuk apa yang akan di lakukan myungsoo setelahnya, taeyeon mencoba untuk tak memperdulikannya lagi.

“heiii apa yang kalian lakukan? Ayolah jangan mengkhawatirkan diri orang lain, khawatirkan saja diri kalian sendiri, ah Luhannie, perkenal sekali lagi, aku… pria yang merencanakan kematian ayahmu” dan di detik berikutnya, myungsoo tersenyum sinis saat menyadari perubahan raut wajah Luhan dengan tubuh bergetar, dan myungsoo yakin, tangan pria itu yang terikat di belakang sana mulai terkepal erat. “ah yak yak yak, jangan marah dulu. Aku hanya merencanakannya dan jae myung yang melakukannya. Aku hanya membuat rem jae myung rusak, dan aku berhasil membuatnya tidak sengaja menabrak mobil ayahmu. See? Jangan marah padaku! Dan yeoja yang menjadi temanmu ini, ia juga terlibat di dalam sana, kau tau? Bahkan tim medis yang seharusnya menyelamatkan ayahmu malah menolong yeoja ini, anakku! Anak seseorang yang membunuh ayahmu!”

Mata Luhan menggelap, tatapan tajam ia layangkan menatap Myungsoo penuh dengan kebencian. Yah pria ini mengaku bahwa ia membunuh ayah Luhan! Pria ini pembunuh!!!

“dimana polisi? Bagaimana sistem kepolisian di negara ini? Membiarkan pembunuh mengaku dengan sendirinya dan berkeliaran di luar?”

“luhannie, mulutmu sama saja dengan anakku, kuarasa kalian cocok, tapi ternyata… kau tak mungkin mau dengan anak seorang pembunuh bukan? Benarkah? Ah maaf aku tak sengaja membunuh ayahmu, bayaran dari kolega bisnis ayahmu yang bangkrut karna perusahaan ayahmu itu, membayarku dengan bayaran yang lumayan untuk menampung hidupku, jadi yah… aku membunuh ayahmu! Anggap saja bertahan hidup”

“LEPAS! KENAPA KAU SANGAT PENGECUT? KAU MENGIKATKU!!! BIARKAN AKU MEMBUNUH KALIAN SEMUA!!! BAJINGAN!”

Membunuh kalian semua? Membunuh kalian semua? Membunuh kalian semua?

DEG.

DEG.

DEG.

Dan di detik berikutnya, air mata mengalir tanpa perintah menuruni pipi taeyeon yang merah akibat tamparan dari myungsoo tadi. Sakitnya bekas tamparan dipipinya sama sekali tak terasa. Akhirnya, apa yang taeyeon pikirkan selama ini terjadi. Tatapan penuh benci Luhan! Sekalipun Luhan masih menatap lekat pria yang tersenyum sinis itu, tapi mendengar kalimat Luhan yang seakan akan melibatkannya pun membuat Taeyeon tersenyum miris. Semua sudah terjadi taeyeon. dan lagi, air mata taeyeon mengalir tanpa ada isakan tangis yang keluar dari bibirnya. Tanpa di perintah, otaknya kembali memutar ulang semua kenangan yang ia lakukan bersama Luhan, layaknya sebuah mimpi indah yang berakhir dengan keyataan pahit. Dan ia rasa Luhan tak akan percaya dengannya sekalipun taeyeon memberikan alasan bahwa taeyeon, bukan anak pembunuh ini, taeyeon bukanlah anak pria ini!

“kau boleh membunuhku, setelah kau membunuh anak ini!” Myungsoo berjalan mendekati taeyeon dan menjambak rambut taeyeon kasar.

Taeyeon hanya diam dengan mata memejam erat, sungguh ia tak sanggup jika Luhan menatapnya dengan tatapan benci yang beberapa detik yang lalu ia lihat! Sungguh ia sama sekali tak mempunyai nyali sebesar itu sekalipun orang selalu menatapnya dengan tatapan benci, dan taeyeon tak akan sanggup jika tatapan itu tertuju padanya dari Luhan, pria yang ia cintai. Ah taeyeon semakin bodoh saja, bagaimana bisa kau mengatakan cinta di saat pria yang kau cintai akan membencimu sampai akhir hayatmu?

“ooo ooo, kenapa dengan tatapan mu Luhannie? Kau pasti sangat ingin membunuh yeoja ini, matcho? Ahh baiklah akan kulepaskan ikatanmu dan kau bisa membunuhnya se….”

BRAK

“tidak akan ada siapapun yang bisa membunuh adikku sebelum melangkahi mayatku!!!”

Myungsoo mengalihkan tatapannya, menatap kearah pintu yang baru saja di dobrak oleh seseorang yang tak lain dan tak bukan ialah kim Kibum beserta pria yang Myungsoo tak ketahui namanya.

“apa tak cukup kau menjadi hero sendiri? Kenapa membawa temanmu?”

“jauhkan tanganmu dari adikku!!!” “JAUHKAN TANGAN BUSUKMU ITU BRENGSEK!”

Dengan gerakan cepat, Kibum memukul keras kepala Myungsoo hingga pria itu tersungkur ke bawah, memukulnya lagi hingga pria itu terkapar di bawah, dan suara heechul berhasil menyadarkan kibum.

“apa yang kau lakukan? Biarkan polisi yang akan menuntaskannya, cepat bebaskan taeyeon!”

Kibum melepaskan cengkramannya pada bahu pria tua itu dan bergegas menghampiri taeyeon, taeyeon yang tengah menutup matanya rapat dengan air mata yang mengalir pelan di kedua matanya, dan jangan lupakan pipinya yang memerah itu.

“taeyeon-ah, gwencahan? Maafkan oppa terlambat huh” ujarnya pelan dan melepaskan semua yang mengikat taeyeon, mulai dari tangannya hingga kakinya. Sedangkan heechul, melakukan hal yang sama dengan Luhan. Ia melepaskan Luhan dan membantu pria itu untuk berdiri karna bisa dilihat, Luhan lebih parah lukanya jika dibandingkan dengan taeyeon.

“taeyeon-ah buka matamu, oppa disini! Taeyeon-ah! KIM TAEYEON!!!”

Yeoja itu hanya diam dengan mata terpejamnya, badannya bergetar kuat. Berusaha meredam semua kesakitan yang ia rasakan. Taeyeon bahkan merasa ia benar benar sampah tak berguna.

“KIM TAEYEON! PABBOYA! JANGAN LAKUKAN INI PADA OPPA! JANGAN MENYIKSA DIRIMU LAGI, KIM TAEYEON!!!”

Sementara kibum terus menggoyangkan badan adiknya yang masih saja terdiam layaknya mayat hidup. Hatinya sakit, melihat taeyeon yang terlihat sangat menyedihkan. Apa yang dilakukan pria tua itu pada adiknya? Dan kibum bersumpah bahwa ini yang terakhir kalinya ia melihat adiknya seperti ini!

DOR!

DOR!

“andwe, o..o…hiks oppa…hiks… oppa… ANDWE OPPA!”

Taeyeon membuka matanya saat tubuhnya terpental jauh kebelakang, ia mendapati Kibum yang tadi meneriakinya tengah terduduk dengan memegang dadanya, dan mata taeyeon tak buta, ia melihat darah mengalir dari kemeja putih oppanya itu, sebelum akhirnya ia berteriak histeris, membuat heechul yang baru saja akan membawa Luhan keluar kembali dan melepaskan Luhan yang kembali terduduk dengan mata tak lepas dari taeyeon, seberapa menyedihkannya dirinya saat ini, ia bahkan tak mampus berjalan mendekat dan membantu yeoja yang tengah berjalan pelan dengan air mata dan tubuh bergetarnya itu mendekati kibum yang baru saja di tembak oleh myungsoo.

Myungsoo diam diam menyimpan pistol di dalam sakunya, dan bodohnya Kim Kibum menyadari saat dirinya akan menembak taeyeon dengan cara mendorong yeoja itu ke pinggir dan membiarkan dirinya tertembak begitu saja.

“KAU AKAN MATI DI TANGANKU BAJINGAN!!!”

Heechul langsung berlari ke arah myungsoo merebut pistol myungsoo dan melemparnya ke sudut ruangan, memukul pria itu dengan emosi di atas kepala! Heechul tak peduli jika ia akan kembali berurusan dengan polisi karna menghabisi nyawa pria ini dengan tangannya sendiri, sebelum sebuah teriakan mengintrupsi heechul membuat pria itu berheti.

Luhan yang masih betah menatap taeyeon yang tengah menangis memeluk erat tubuh kibum pun hanya terdiam di tempat karna badannya tak bisa bergerak sedikitpun, sebelum mata Luhan menangkap kerumunan polisi memasuki ruangan itu dengan suara yang berhasil mengintrupsi semua yang ada di dalam sana, sebelum akhirnya Luhan kembali menutup matanya dan kesadaranya terengut perlahan.

***

“istirahatlah, taeyeon-ah! Biar aku yang menjaga oppamu!”

Heechul heran dengan kedua kakak beradik ini, tingkahnya benar benar sama. Dan jangan lupakan tingkat ke keraskepala an mereka yang 100% sangat sama. Heechul bahkan masih ingat saat taeyeon sakit perut waktu itu, kibum menungguinya dengan menggenggam erat tangan taeyeon, tak jauh berbeda dengan yang taeyeon lakukan saat ini. Bahkan kedua kakak beradik ini sama sekali tak mendengarkan sarannya untuk beristirahat.

Heechul rasa, jiwa taeyeon sedikit terguncang dengan kejadian yang baru saja ia alami. Terlihat jelas dengan tatapan kosong yang tercetak jelas di wajah taeyeon. raganya memang disini, menemani kibum yang belum juga sadarkan diri beberapa jam yang lalu setelah di operasi. Yah hampir saja pria itu meninggalkan dunia ini, meninggalkan yeoja yang tengah terdiam disana dengan wajah lebam yang enggan untuk diobati itu. dan kenyataan baru yang beberapa menit yang lalu menghadapi taeyeon.

Kibum, akan menghadapi masa koma yang panjang. Setidaknya itulah satu satunya perkataan dokter yang melekat kuat di benak heechul. Selanjutnya perkataan yang membuat heechul ingin segera menenggelamkan dirinya di dasar jurang saat mendengar bahwa kibum, pria itu sering mengonsumsi obat anti depresi. Entah sejak kapan pria itu mengonsumsinya, yang jelas obat itu sedikit berpengaruh pada sistem kerja otaknya.

“yah, kenapa kalian berdua sangat menyebalkan! Apa aku ini boneka? Kenapa kalian tak ada yang mau mendengarkanku?!”

Taeyeon mendelikkan matanya, memutar kepalanya menghadap heechul yang tengah duduk kesal menatap taeyeon di sudut sofa di ruangan itu. “arraseo, aku lapar. Aku akan ca…”

“tunggulah disini, biar aku carikan makanan untukmu” pabboya heechul. Sekarang sudah hampir subuh dan ia tak membeli makanan apapun untuk taeyeon, astaga! Tentu saja ia kehilangan banyak energinya.

“ani, biar… aku…” ujarnya terbata bata, heechul yang tak sanggup menunggu taeyeon yang berbicara sangat lamban pun duduk dari posisinya dan menghampiri ranjang kibum dengan taeyeon yang terduduk diam di sampingnya, menyentuh pelan pundah yeojja itu dan mengangguk paham. Ia tau, taeyeon tak akan pergi membeli makanan, ia hanya ingin keluar dari sini, menarik nafas panjang dan mungkin saja ia akan menangis, tapi apa yang bisa heechul lakukan? Ia tak mungkin menahan taeyeon lebih lama dari ini, dan membiarkannya menjadi mayat hidup tanpa ekspresi dalam waktu dekat.

“kau akan keluar benar? Baiklah, pergilah… aku yang akan menemani bujangan lapuk ini!” baiklah, biarkan heechul sedikit berusaha untuk melucu sekalipun taeyeon sama sekali tak mengubrisnya dan memilih keluar dari ruangan.

Kakinya terus berjalan melewati lorong rumah sakit yang terlihat sangat sepi itu, siapa yang akan berlalu lalang di subuh hari? Hingga akhirnya taeyeon sampai di sebuah taman rumah sakit, ah taman yang terletak di atap rumah sakit ini sama sekali tak jauh berbeda dengan lorong tadi, sama sepi. Dan sama sama membuat taeyeon merasa hampa.

Matanya mulai berair, dan akhirnya air mata itu jatuh lagi. Jatuh mengalir begitu saja sebelum taeyeon mendudukan dirinya di bangku taman itu. kakinya bahkan tak sanggup menahan berat badannya lagi. Ia benar benar terlihat menyedihkan saat ini.

Karna kebodohan taeyeon, ia hampir saja kehilangan pria itu, pria yang telah menyelamatkannya dari tembakan pistol yang sebelumnya di arahkan untuk membunuh taeyeon. dan kenyataan bahwa pria itu mengonsumsi obat depresi membuat taeyeon terisak dalam diamnya. Apa yang ia lakukan selama ini? Kenapa ia sama sekali tak memperhatikan pria itu? pria yang diam diam selalu menjaga itu? pria yang sangat menyayanginya itu? ia bahkan tak bisa menghibur pria itu saat pria itu depresi. Apa ini? Kenapa semua ini terjadi padanya. Kenapa harus taeyeon yang menghadapi semuanya. Apa benar benar dunia sekejam ini padanya? Apa dikehidupan sebelumnya taeyeon seorang penghianat negara? Hingga takdirnya sangat menyedihkan seperti sekarang?

Semua ini salahnya! Harusnya ia tak melarikan diri ke korea. Harusnya ia tetap diam di rumah, tetap di China dengan oppanya. Pria itu hampir merengut nyawanya karna taeyeon, semuanya salah taeyeon! taeyeon lah yang harusnya terbaring di ranjang rumah sakit itu! taeyeon! bukan pria baik hati yang ia panggil oppa itu! Ini semua salah nya! Dan jika terjadi sesuatu pada pria itu, taeyeon berjanji akan mengakhiri hidupnya di detik itu juga. Toh tak ada gunanya ia hidup.

“taeyeon…”

Mendengarnya namanya di panggil, membuat taeyeon semakin menyembunyikan wajahnya di celah celah kakinya agar pria yang langsung saja berlari ke arahnya itu tak melihat wajahnya yang terlihat menggerikan itu.

“apa yang kau lakukan disini? Diluar dingin taeyeon, kajja…”

Pria berlesung pipit itu langsung saja memapah tubuh taeyeon untuk berdiri, dan menyampirkan jaket kulit hitamnya ke punggung yeoja itu. “kajja”

Namun taeyeon sama sekali tak bergerak, ia hanya berdiri dari duduknya “aku mau disini, sebentar lagi”

“eoh? Baiklah, tapi duduk disana? Arraseo?” tanpa menunggu balasan dari taeyeon pria itu menuntun taeyeon hingga ia sampai di bangku taman yang terlihat sedikit lembap itu. ah mungkin saja selaman gerimis.

Tak ada satupun yang bersuara sebelum akhirnya taeyeon teringat akan sesuatu, Luhan!

“lay, bagaimana keadaan luhan?”

Pria bernama lay itu tersenyum tipis, akhirnya taeyeon berbicara dengannya. Jujur saja, lay sempat khawatir jika taeyeon kembali menjadi taeyeon yang kaku bak mayat hidup saat pertama kali ia mengenal taeyeon. ia belum siap menerima kenyataan itu saat ia baru saja menginjakkan kakinya di korea. Yah, lay baru saja sampai beberapa jam yang lalu dengan pesawat pribadi keluarga Kim dengan ayahnya yang akan mengurus semua kepindahan taeyeon dan juga kibum. Belum lagi mendengar bahwa ada kejadian buruk yang menimpa keduanya, membuat keberangkatan mereka dipercepat, hingga ia sudah menginjakkan kakinya di korea.

Lay yang baru saja tiba, disuruh heechul untuk menemani Luhan karna belum ada keluarganya yang datang. Dan lay sangat yakin jika tak ada satu orang pun disini yang menelpon keluarga Luhan, dan lay tak tau alasan kenapa heechul, belum juga menelpon keluarga Luhan, mungkin ada alasan tersendiri yang membuat lay hanya diam dan duduk di kamar inap luhan.

“masih belum sadarkan diri, kurasa lukanya sedikit parah”

“keluarganya? Belum datang?”

“kurasa belum, bolehkah aku bertanya sekarang?”

Taeyeon terdiam, dan mengangguk setelahnya. Lay belum mengatakan sesuatu sejak ia sampai kesini dan alasan kedatangannya, dan tentu saja, taeyeon tak bodoh untuk menebak alasan lay kesini. Untuk memindahkan oppanya ke rumah sakit China dan ia akan menetap selamanya disana bukan? Mungkin saja lay akan bertanya jam berapa mereka akan kembali? Namun ternyata pertanyaan yang dilontarkan lay berbanding terbalik dengan apa yang ada di pikiran taeyeon.

“bagaimana keadaanmu? Bolehkah aku memelukmu?”

Lay langsung merentangkan tangannya, dan tanpa mendengar jawaban taeyeon, ia merengkuh erat tubuh mungil yeoja itu. Merengkuh dinginya tubuh yeojja itu ke dalam dekapannya. Menyandarkan dagunya tepat ke bahu taeyeon. Apa pedulinya jika taeyeon akan memukulnya dan menyumpahinya seperti waktu itu saat lay yang secara tiba tiba memeluknya dan membuat taeyeon mendiaminya selama 2 minggu. Dan apa pedulinya jika taeyeon kembali mendiaminya? Karna sepenglihatannya, yeoja itu benar benar terlihat sangat rapuh hari ini dari biasanya. Dimana kim taeyeon yang keras dan dingin yang ia tau? Dimana taeyeon yang kuat yang selama ini tahan banting itu?

“semua sudah aman sekarang, hebat! Kau hebat! Kau yeoja terhebat yang pernah ku kenal! Menangislah! Kumohon menangislah!” lay menepuk lembut bahu itu, ah lay baru sadar jika taeyeon terlihat semakin kurus. Bahkan lay bisa merasakan tulang tulang kecil taeyeon. kemana semua daging yeoja ini? Kenapa ia sangat kurus? Layaknya tulang berbalut kulit. Dan kulit yang membalutpun terlihat pucat.

Akhirnya, tangis taeyeon pecah. Lay berhasil megucapkan kata sandi yang meruntuhkan semua dinding kaku yang taeyeon coba bangun untuk menyembunyikan semua kesedihannya. Air mata yang awalnya hanya mengalir tanpa isak tangis pun berubah dengan suara tangisan menyayat hati. Taeyeon bahkan heran dengan dirinya, kenapa ia jadi yeoja yang penuh dengan drama dari kemarin?

Bolehkah aku meminta?

Kumohon, jangan tinggalkan aku…

Dan kau, jangan membenciku…

Aku…

*

*

*

*

*

*

*

*

-END-

*

*

*

*

*

*

*

*

***To Be Continued***

Ahahahaha ada yang kaget liat tulisan end? #gaada! okeTT. Wussssshh kepanjangan yah ffnya? Adudu sorry u,u Ffnya kenapa jadi kek gini? Ahhhhh maaf again, btw tiap author note aku minta maaf mulu yah-_- kalo ga dapat feelnya aku mah bisa apa, pdahal aku yang nulisnya udh mewek beberapa kali pas ngetik, lucu yah yg bikin malah mewek yg baca enggak T-T *lap ingus* baru sadar kenapa aku sekejam itu sama taeyeon yah disini? #abaikan. Nana udh lama ga muncul yah? Munculin lagi ato kagak? 😀 Yeayyy akhirnya lay muncul, yuhuuuuu *jogetjoget* Taeyeon ama lay aja? Gimana gimana? Luhan sama author aja biar happy ending, mwehehehe:D #bacotaelu! Btw kalo masih ada yang ga ngerti boleh deh nanya di kolom komentar, kalo author lagi waras entar di bales deh, itupun kalo aku ngerti yah, jujur aja aku kadang ga ngerti ama ni ff maunya apa-____- Mungkin 2 ato 3 chap lagi end! Yeayyy. Dan sekali lagi, makasih buat yang komen, aduh jadi terharu di ff sebelah ada yang tau nama aku, padahal cuman nyebut judul moonlight doang loh^^v aku tau nama kalian juga kok, tenang aja:* :* :* dan yg blg ff sebelah sogokan karna ff ini bakalan sad ending bisa jadi juga sih hahahaJ #licikluthor #thenextmyungsoolu!

Oke sekian cuap cuap nya,ah ya, buat FCIL masih proses, seketika ide buat lanjutinnya menghilang begitu saja, satu lagi, nulis ff ga gampang loh, I swear-_- Waduh curcolnya kepanjangan lagi. Next chap mungkin, yah mungkin bakalan lama^^ Selamat berlebaran Semuaaaaaa, aku sayang Luhan eh sayang kalian semua maksudnya *BOW *KISSKISS *HUG

Advertisements

58 comments on “[FREELANCE] Moonlight (Chapter 11)

  1. FF taeyeon yg pertama kali aku baca. favorite😍 aku udah baca 2kali wkwk tapi baru sekarang komen😂 masih terhura aku bacanya, sedih :”), kapan update thor? huehee😂😭 penasaran endingnya😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s