OH MY BOY ! (ONESHOOT)

oh my boy.jpg

Nia M Storyline

Main Cast : Taeyeon -G Dragon(Kwon Jiyong) || Genre : Romance, School life, Comedy|| Lenght : oneshoot || Author : Yeon Ji Min

Note : Happy Reading !! Don’t be silent reader !! Jangan lupa klik bintang/suka + comment ya.. hargai kerja author^^

Typo bertebaran dimana-mana…

***

With your soft voice, please tell me you love me

Dengan suara lembutmu, katakan kau menyukaiku

***

 

Seoul, 13 Maret 2016

Taeyeon POV

Siang hari yang cukup panas di kota Seoul. Mataku tak sedetikpun beralih memperhatikan jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tanganku. Entah kenapa pelajaran guru Gong kali ini terasa sangat panjang. Kusandarkan kepalaku di meja karena bosan sedangkan teman-temanku yang lain malah sibuk dengan urusannya masing-masing. Mengecat kuku, berdandan dan bahkan bergosip hal-hal yang bukan menjadi urusan mereka. Aku tak peduli berita apapun yang mereka bicarakan, tak jarang mereka juga menggosipkanku di belakang. Bagiku hidupku adalah urusanku, aku sendiri bahkan belum pernah merasa tersinggung dengan mereka bicarakan karna semuanya memang benar adanya. Mataku tak sengaja menangkap bayangan lelaki yang melintas di depan kelasku. Aku mencoba meyakinkan kembali dan memang benar dia itu Kwon Ji Yong, murid dari kelas sebelah yang cukup terkenal di sekolahku karena ketampanannya dan prestasinya di bidang basket membuatnya menjadi idola semua perempuan di sekolahku tak terkecuali aku. Meskipun aku sudah mengenalnya lebih dari 9 tahun, karna sejak kecil kita selalu bersekolah di sekolah yang sama. Meskipun begitu sikapnya itu sedingin es di kutub antartika padaku, aku pun juga tak tau kenapa. Telambat bagiku untuk keluar, Guru Gong sudah mengawasi gerak-gerikku yang bersiap keluar. Pada akhirnya, akupun gagal membuntuti Jiyong.

Jiyong POV

Melihat kedatangan Guru Ahn ke ruang kelas membuat kepalaku penat. Dengan segera kulangkahkan kakiku keluar kelas. Langkahku berhenti saat melihat kelas sebelah. Tanpa ada yang melihat kehadiran ku, akan ku lihat bagaimana keadaan kelas yang berpenghuni siswa dengan otak tinggi.

“ada apalagi dengannya, shh dasar.” Ucapku saat melihat Taeyeon di kelas. Aku pun segera berlari saat melihat salah satu siswi mengetahui keberadaanku. Jika siswi itu memberitahu Taeyeon pasti ia akan mengekor di belakangku seperti biasanya.

 

Author POV

Taeyeon terkejut saat melihat keadaan gudang olahraga. Yang benar saja, Guru Gong menghukumnya untuk merapikan semua peralatan olahraga yang tak beraturan . Melihat alat-alat olahraga yang berserakan membuatnya frustasi. Dengan terpaksa iapun mulai merapikan alat-alat yang jatuh dilantai. Ia cukup terkejut saat melihat beberapa bekas putung rokok yang sudah dipakai. Belum sempat memungutnya, terdengar pantulan bola yang mengenai ring basket. Ia pun mengendap-endap untuk melihat siapa orang yang bermain basket di saat jam pelajaran berlangsung. Dilihatnya Jiyong yang terlalu bersemangat memainkan bola, menurutnya lebih terlihat seperti orang yang sedang meluapkan amarahnya. Merasa lelah Jiyong merentangkan badannya di tengah lapangan basket yang gelap dan memejamkan matanya. Taeyeon menghampiri Jiyong yang tertidur pulas.

“moodmu sedang buruk sekali. Apa yang terjadi ?” ucap Taeyeon pelan, tangannya mengelus rambut yang menutupi kening Jiyong. Cukup lama Taeyeon terdiam memandangi Jiyong yang tertidur.

“manis sekali.” Puji Taeyeon, tanpa pikir panjang ia mencium pipi kanan Jiyong lalu berlalu keluar dari gedung olahraga. Mendengar suara pintu tertutup, Jiyongmulai membuka matanya. Sejak tadi Jiyong bahkan tak tertidur, ia hanya memejamkan matanya. Kini matanya menatap kearah bayangan Taeyeon yang berjalan menjauh. Bibirnya mengembangkan senyum kecil mengetahui sikap Taeyeon kepadanya tadi.

Bel pulang sekolah berbunyi. Dengan segera Jiyong berjalankembali ke kelasnya. Jiyong merasa ada yang salah dengan dirinya karna sejak ia berjalan pasti sepasang mata pasti menatapnya dengan pandangan aneh. Terlebih-lebih para gadis yang berteriak histeris. Jiyong kebingungan dengan apa yang terjadi.

“ Jiyong oppa, ada apa di pipi kananmu itu ?” sorak salah satu hobae padanya. Ia pun langsung berlari menuju kedepan cermin yang berada tepat didepan kelasnya. Ia terkejut mendapati bekas bibir Taeyeon yang tadi mencium pipinya. Para gadispun tertawa mendapati ekspresi Jiyong yang terkejut. Dari kejauhan Taeyeon memperhatikan Jiyong yang dikerubungi beberapa gadis. Ia pun bertanya pada hobae yang berjalan melewatinya. Mendengar jawaban dari hobaenya tersebut, Taeyeon mematung karena panik apalagi melihat Jiyong yang berjalan ke arahnya. Ia bertambah panik dengan ekspresi Jiyong yang terlihat seperti akan menerkamnya habis-habis. Cepat-cepat ia membalikkan badannya lalu berjalan menjauh. Belum sempat berjalan, Hyera memanggilnya.

“Hei Kim Taeyeon, kau tak kesini. Lihatlah pangeranmu baru saja dicium oleh seorang gadis.” Teriak Hyera histeris. Dengan terpaksa Taeyeon membalikkan badannya kembali.

“lain kali saja. Aku ada urusan.” Jawab Taeyeon lalu berlari keluar secepat mungkin mengira Jiyong akan menghampirinya. Sedangkan Hyera dan yang lainnya heran dengan sikap Taeyeon yang biasanya paling bersemangat jika mengenai Jiyong. Karena lelah berlari, Taeyeon duduk tak berdaya bersandar tembok. Dari kejauhan ia menangkap bayangan Jiyong yang sedang berlari kearahnya.

“apa dia tau ? Kenapa dia mengikutiku kesini. Mati kau Kim Taeyeon.” Gerutu Taeyeon pasrah karena ia sudah tak kuat untuk berlari lagi.

“dia sudah datang. Aku akan menyiapkan diriku.” Gumam Taeyeon pasrah. Tapi dugaannya salah, Jiyong bahkan sama sekali tak menatap dirinya. Jiyong ternyata berlari ke toilet yang tepat berada di samping Taeyeon duduk.Taeyeon menghela nafas lega.

Seoul, 14 Maret 2016

Taeyeon POV

Jam weker kembali berdering tepat di sampingku. Bunyi yang setiap pagi membuatku mengutukinya. Benar-benar hari yang berat bagiku, harus kembali berhadapan dengan Jiyong. Sinar matahari menembus kaca jendela kamarku yang gelap. Akupun mendekat ke sumber cahaya dan mulai membuat berbagai bentuk bayangan indah dengan kedua tanganku. Deringan ponselku mengganggu kegiatanku. Siapa yang menelponku sepagi ini ?. terpampang nama Soyeon di layar ponselku. Pasti ada berita menggemparkan di sekolah, karna hanya itulah alasannya ia biasanya menelponku sepagi ini.

“Apa yang kau katakan itu ? berita busuk macam apa itu, yaa ! mana mungkin. Aku mengenalnya dengan baik. Katakan pada yang lain untuk menutup mulutnya atau akan ku hadapi satu persatu.” Bentakku pada Soyeon yang mengabari gosip yang membuatku ingin mencekik lehernya. Dengan kecepatanku aku bahkan mampu mandi dalam waktu 10 menit. Dan dalam waktu 20 menit, aku sudah siap pergi kesekolah untuk menghajar para gadis yang sedang menggosip. Bak kilat menyambar, aku berlari penuh amarah sampai melupakan bekal sarapanku yang sudah disiapkan oleh mamaku di meja makan.

Jiyong POV

Senyumku kembali merekah di pagi hari mengingat kejadian kemarin siang. Tawaku pecah saat mengingat ekspresi Taeyeon yang panik dan takut saat mengira aku mengetahui kelakuan bodohnya itu. Menatap bayangan ku di cermin benar-benar membuatku sadar akan pesona yang ku miliki. Dan hanya karna pesonaku ini yang membuatku bisa melihat tingkah unik dari seorang gadis bernama KimTaeyeon. Akupun kembali meraba pipi kananku mengingat bekas bibir Taeyeon yang kemarin membuatku malu setengah mati.

“aku kemarin mencium bau buah strawberry dari bekas bibirnya itu. Apakah dia menggunakan lipstick rasa buah. Lucu sekali. Ku yakin dia kali ini akan ganti lipstick, apakah ganti warna orange rasa jeruk. Kelakuanku sangat buruk Kim Taeyeon.” Celotehku sambil bersiap berangkat ke sekolah. Ku lirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7.00 pagi.

“ dia biasanya berangkat pukul 7.30. jadi aku harus berangkat 15 menit lagi agar dia tak mengekor di belakangku.” Ucapku disela-sela sarapan.

Author POV

Sampai di sekolah, Taeyeon bergegas menuju kekelasnya. Dugaannya benar, semua gadis sudah berkumpul dan menggosip. Tak tanggung-tanggung lagi, Taeyeon membentak semuanya untuk diam dan tutup mulut. Usahanya sia-sia, dia hanya seorang diri, sedangkan yang lain sudah bak pasukan tentara yang akan berperang.

“lihatlah ke papan pengumuman. Kau kan tau semuanya.” Saran Soyeon yang baru saja memasuki kelas. Taeyeonbergegas menuju papan pengumuman yang sudah di kerubungi banyak murid seakan lebah yang berebut madu. Mata Taeyeon melotot setelah mendapati berita yang terpajang.

“ Kwon Jiyong si atlit basket adalah perokok. Kwon Jiyong bersikap tak sopan pada Guru Ahn, keluar kelas saat pelajaran akan dimulai. Kwon Jiyong melakukan hal tak patut saat di sekolah. Berpacaran dan bahkan berciuman di sekolah. Sumber terpercaya.” Taeyeon membaca headline berita dengan tatapan tajam. Wajahnya penuh kemarahan pada semua orang. Tangannya dengan segera merobek poster-poster berita tentang Jiyong yang memenuhi papan pengumuman.

“Yaa ! Kim Taeyeon ! Apa yang kau lakukan ?” sorak murid-murid lain yang tengah mengerubungi poster tersebut.

“apa kalian percaya dengan berita bohongan seperti itu ? bukankah kalian juga menyukainya?” Ujar Taeyeon kepada para gadis yang lain. Semuanya terdiam tak menjawab. Air mata Taeyeon jatuh dengan sendirinya. Ia menangis sesenggukan.

“Taeyeon-ah. kenapa kau menangis. Kau bukan yang diberitakan.” Tanya salah seorang temannya.

“ mana tau aku. Aku menangis dengan sendirinya. Ya kalian semua, Jiyong bukanlah orang seperti tu. Ku peringatkan kalian semua.” Teriak Taeyeon keras. Teman-temannya hanya menatap kelakuan Taeyeonpenuh kebingungan.

“berhentiah akting, disini bukan tempat untuk syuting drama.” Sela seorang temannya sinis melihat kelakuan Taeyeon.

“Jiyong bukanlah seorang yang baik. Kau kira dia tak akan pernah melakukan hal buruk. Menyerah saja padanya, sudahilah mimpi indahmu itu.” Tambah yang lainnya. Kini keadaan berbalik menyerang Taeyeon. Ia tak menyangka reaksi teman-temannya seperti itu. Ia semakin terpojok ketakutan dengan ocehan teman-temannya membahas keburukan Jiyong. Taeyeon tak kuat mendengarnya. Ia mencoba berteriak sekeras mungkin tapi tak ada yang mengiraukannya. Tiba-tiba pandangannya berubah menjadi gelap. Brukkkk !!!. tubuh Taeyeon terjatuh ke lantai. Jiyong berlari menghampiri Taeyeon yang tergeletak di lantai. Kwon Jiyong yang sedari tadi melihat semuanya yang terjadi dari kejauhan langsung membawaTaeyeonke UKS.

Jiyong menemani Taeyeon yang belum sadarkan diri di UKS. Terlihat kekhawatiran diwajahnya pada keadaan Taeyeon. Tangannya menggenggam hangat tangan Taeyeon, wajahnya dipenuhi penyesalan dan kekesalan. Tak lama kemudian Taeyeon terbangun dan dengan cepat ia melepaskan genggamannya. Taeyeon bingung dengan apa yang terjadi, ia hanya mengamati Jiyong dan ruangan sekitartanpa bicara.

“Ya ! Kim Taeyeon.” Panggil Jiyong melihat sikap Taeyeon yang aneh seperti orang linglung. Taeyeon memandangi Jiyong lama dengan tatapan kosong.

“Kim Taeyeon, kau baik-baik saja ?” tanya Jiyong yang hanya kembali dibalas Taeyeon dengan terdiam.

“jawablah. Kau ingat namamu kan ?” Jiyong semakin panik. Ia lalu memanggil guru kesehatan untuk menanyakan keadaan Taeyeon. Dokter Seo memeriksa keadaan Taeyeon sedangkan Jiyong berdiri didekat pintu khawatir. Taeyeon berbisik kepada sang dokter yang memang dekat dengannya jika ia baik-baik saja. Dokter Seo pun mengerti maksud Jiyong. Dokter Seo menatap sekilas kearahJiyong lalu keluar tanpa mengatakan apapun. Taeyeon pun menjadi semakin khawatir dan bingung. Sesekali ia menatap Taeyeon yang tengah terdiam di ranjang UKS. Akhirnya ia pun kembali mendekati Taeyeon dan duduk di kursi yang berada di samping ranjang tempat Taeyeon terbaring.

“Ya Kim Taeyeon. Kau ingat namamu kan ? namamu Kim Taeyeon. Kau murid dari kelas unggulan. Kelasmu ada di sebelahku. Kau masih ingat dirimukan ? Uh bodohnya aku ini. Apa yang ku katakan padanya. Bisa saja tejadi sesuatu pada kepalanya itu. Apa yang harus ku lakukan sekarang ini ?” oceh Jiyong pada Taeyeon yang terdiam memperhatikannya.

“Kim Taeyeon. Kau ingat nama orang tuamu ?” Jiyong bertanya tapi Taeyeon tetap terdiam.

“Kim Taeyeon. Kau ingat dimana kau sekolah saat ini ?” Taeyeon tetap tidak menjawab.

“Kim Taeyeon. Kau ingat namaku ? apa kau ingat siapa aku ?apa yang harus kukatakan lagi.” Tanya Jiyong kesekian kalinya. Taeyeon menatap pekat Jiyong yang sedang menyandarkan kepalanya di ranjang sambil memejamkan matanya. Taeyeon tersenyum haru melihat sikap Jiyong kepadanya.

“pabo-ya. Aku ingat namaku, orang tuaku, sekolahku dan aku sangat mengingatmu. Namamu Kwon Jiyong. Atlit basket kebanggaan sekolah. Ia selalu bersekolah di sekolah yang sama denganku. Lahir tanggal 18 Agustus.. Wajah dan bakatnya sangat baik tapi dalam pelajaran ia cukup buruk. Sikapnya sedingin es padaku. “ jawab Taeyeon lirih. Jiyong menoleh kearah Taeyeon tak percaya. Ia kembali mengamati Taeyeon dan memastikan pendengarannya. Kini bergantiJiyong yang diam terpaku. Ia mengela nafas lega mengetahui keadaan Taeyeon yang baik-baik saja.

“kau tak apa ?” tanya Jiyong singkat. Taeyeon mengangguk mengiyakan pertanyaan Jiyong tersebut.

“apa kau tak apa?” tanya Taeyeon balik. Jiyong menatapnya heran.

“kau baru saja membuatku panik. Dan kau bertanya seperti itu ?” desah Jiyong kesal.

“maksudku bukan yang ini. Apa kau tak apa dengan berita itu ?” tanya Taeyeon lirih.

“apa pedulimu. Jika itu benar memang kenapa ? aku berpacaran dengan seorang gadis dan gadis itu lah yang mencium pipiku kemarin.” Ucap Jiyong pura-pura berbohong. Taeyeon yang mengira Jiyong berbohongpun geli dengan ucapan Jiyong barusan.

“jangan bohong. Aku tau kau tak punya pacar. Kau tak merokok. Dan soal Guru Ahn aku sangat mengerti dirimu.” Jelas Taeyeon percaya diri.

“kau mengetahui semua tentang diriku karna kau selalu mengikutiku dimanapun aku berada. Ah mungkin saja kau lahir ke dunia ini karna kau tau aku akan lahir. Aku ini hebat sekali.” Puji Jiyong pada dirinya sendiri.

“berhentilah bicara tentangku.” Sahut Taeyeon cepat karna tak tahan dengan celotehan Jiyong.

“sekarang aku bisa pergi. Kau baik-baik saja.” Ujar Jiyong bersiap pergi. Langkahnya terhenti ketika tangan Taeyeon menarik tangannya. Jiyong menoleh ke arah Taeyeon yang sedang menatapnya.

“apa lagi ?” tanya Jiyong dingin. Tangan Taeyeon mengisyaratkan Jiyong untuk duduk kembali. Tak seperti biasanya, Jiyong menurut saja dengan permintaan Taeyeon tersebut.

“kau tahu hari ini aku sangat bahagia. Kwon Jiyong menolongku.” Ucap Taeyeon tulus.

“aku menolongmu dengan alasan kau jatuh karna aku. Kau berteriak seperti orang gila karna aku. Mana mungkin aku tak menolongmu. Kau kira aku patung ?” Jiyong memotong perkataan Taeyeon. Dilihatnya kini Taeyeon meneteskan air matanya, itu membuatnya diam terpaku.

“jangan memotong perkataanku dan dengarkanlah aku. Hari ini aku melihat Kwon Jiyong mengkhawatirkanku. Aku senang ketika dia panik karena aku. Ketika ia bertingkah bodoh di hadapanku. Ketika ia menanyakan padaku ‘kau tak apa ?’ beberapa kali. Kau mau bicara denganku untuk selama ini. Kau sadar, kau sudah memanggil nama Kim Taeyeon 6 kali. Kau memanggilnya dengan sangat indah. Aku menyukai itu. Terima kasih sudah menolongku. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Dan terima kasih untuk panggilan itu. Aku pergi dulu.” Ucapan Taeyeon benar-benar membuat Jiyong. Jiyong menatap punggung Taeyeon yang menjauh perg keluar dari ruangan.

“apa maksud dari ucapannya itu.” Gerutu Jiyong yang kebingungan. Ia kemudian ikut keluar menuju kekelasnya. Saat melewati kelas unggulan, kelas Taeyeon, ia melihat Taeyeon yang tertunduk lesu sambil memegangi perutnya. Kelas Taeyeon begitu riuh karna guru tak datang mengajar atau biasa dibilang jam kosong. Para muridpun kembali membicarakan berita Jiyong. Taeyeon menutup kedua telinganya agar tak mendengar ucapan teman-temannya. Soyeon menghampiri Taeyeon karena khawatir.

“kau pasti lupa sarapan karna berita itu. Oh Tuhan, sembuhkan dia dari kegilaannya pada Jiyong. Melihatmu seperti ini membuatku terluka.” Omel Soyeon yang membuat kepala Taeyeon bertambah penuh. Soyeon menunjuk ke luar. Taeyeon mengikut arah yang ditunjuk temannya itu. Ia mendapati Jiyong tengah berdiri di depan kelasnya dan sedang memandanginya. Tentunya hal tersebut membuat Taeyeon salah tingkah. Jiyong yang tertangkap basah sedang memandangi Taeyeon pun berlalu pergi ke kelasnya. Taeyeon mengusap dadanya yang berdegup kencang. Sedangkan Soyeon mendengus kesal melihat tingkahlaku Taeyeon.

Bel istirahat telah berbunyi. Soyeon langsung menarik paksa Taeyeon ke kantin. Keduanya pun langsing duduk di bangku terdekat. Soyeon memesan makanan untuk keduanya sedangkan Taeyeon hanya duduk lemas dengan kepala yang ia sandarkan di meja seperti biasanya. Dari kejauhan Jiyong melihat Taeyeon di kantin dan di tangannya sudah memegang 2 buah mangkuk bubur. Jiyongpun bergegas menghampirinyasebelum Soyeon datang. Jiyong pun menyodorkan satu mangkuk bawaannya untuk Taeyeon. Jiyong hanya diam menunggu reaksi Taeyeon. Sedangkan Taeyeon mengira itu adalah Soyeon.

“Soyeon-ah , bukankan aku sudah bilang jika aku sedang tidak nafsu makan.” Ucap Taeyeon tak melihat kedatangan Jiyong.

“Makanlah ini.” Perintah Jiyong singkat lalu duduk di kursi di depannya. Mendengar suara Jiyong yang sangat dekat membuat Taeyeon segera bangun dan menegakkan badanya. Taeyeon terkejut menemukan Jiyong yang sudah duduk di hadapannya.

“Taeyeon -na ini pesa..” terikan Soyeon terhenti ketika melihat Taeyeon sedang bersama Jiyong. Taeyeon pun cepat-cepat menyuruh Soyeon untuk pergi berpindah tempat. Jiyong diam-diam tersenyum melihat kelakuan Taeyeon yang begitu bersemangat.

“hmm hmm.” Ucap Taeyeon canggung. Jiyong pun semakin heran dengan sikap gadis dihadapannya ini.

“makanlah itu. Kau pasti lupa sarapan karena aku.” Jawab Jiyong sambil melahap bubur miliknya.

“wow daebak. Tunggu bagaimana kau bisa tau ?” ucap Taeyeon kaget mendengar perkataan Jiyong yang tepat.

“kau punya kekuatan lain ?” tanya Taeyeon polos. Tangannya pun mengganggu pandangan depan wajah Jiyong. Melihat kepolosan Taeyeon, Jiyong menahan tawanya.

“turunkan tanganmu itu.” Perintah Jiyong pelan. Taeyeon kembali melahap bubur didepannya.

“ Kau bahkan pernah berangkat ke sekolah tanpa mandi hanya karna mendengar aku jatuh di depan toilet sekolah .” ucapJiyong singkat. Taeyeon yang sedang menikmati buburnya tiba – tiba saja tersedak setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Jiyong baru saja.

“Oh. Aku sangat panik.” Taeyeon tertunduk malu. Ia pun kembali memakan buburnya setelah Jiyong menyuruhnya.

“jangan terlalu memikirkan aku. Jaga saja tubuhmu itu. Kau sangat mudah jatuh sakit.” Saran Jiyong penuh perhatian. Dan hal itu membuat jantung Taeyeon berdegup lebih kencang. Ia tak bisa menahan rasa bahagianya karna bisa menjadi dekat dengan Jiyong.

“ne.” jawab Taeyeon gugup. Jiyong sudah tak bisa menahan tawanya. Alhasil keduanya menjadi pusat perhatian di kantin karena suara tawa Jiyong yang cukup keras sudah mengisi seluruh penjuru kantin. Taeyeon yang salah tingkah memilih untuk melanjutkan makannya gugup. Para siswa lainpun bergosip tentang kedekatan keduanya.

“apa yang kau tertawakan ? makanlah buburmu kembali.” gumamTaeyeon pelan.

“tingkahmu itu lucu sekali. Aku sudah selesai. Lanjutkan saja makanmu.” Balas Jiyong singkat. Duarr !! Taeyeon merasakan jantungnya yang berdegup keras dan kencang. Ia juga tak bisa menyembunyikan pipinya yang merah karena pujian yang dilontarkan Jiyong kepadanya.

“apa kau yakin kau tak nafsu makan ?” bisikJiyong lalu berjalan pergi. Taeyeon sediri terkejut melihat mangkuk buburnya sudah tak berisi lagi.

Jiyong memasuki kelas, ia tak sadar guru yang berdiri di depan adalah Guru Ahn. Ia terpaku setelah menatap pekat wanita yang kini juga memandanginya dengan begitu intens.

“kembalilah ke kursimu.” Perintah Guru Ahn melihat Jiyong yang sudah bersiap bergegas untuk keluar ruangan. Jiyong menoleh kea rah Guru Ahn yang memandanginya serius. Ia pun kembal duduk dilihatnya semua pasang mata kini tengan memperhatikan tingkah aneh antara dirinya dan Guru Ahn.

“Kenapa kau selalu keluar saat pelajaranku ?” tanya Guru Ahn sabar. Matanya tak sedetikpun beralih memperhatikan Jiyong.

“bukankah anda sudah tau ? kenapa bertanya padaku jika jawabannya sudah anda ketahui bukan ?” jawab Jiyong enteng. Semua teman-temannya bingung dengan sikap buruk Jiyong pada Guru Ahn sedangkan pada Guru yang lain ia tak pernah bersikap seperti itu.

“pergilah. Aku mengijinkanmu.” Ucap lirih Guru Ahn yang membuat murid-murid lainnya terkejut. Jiyong tersenyum sinis mendengar ucapan Guru Ahn.

“daebak. Oh bolehkah aku ikut keluar guru ?” sorak beberapa murid yang iri terhadap Jiyong yang bisa membolos pelajaran.

“semuanya duduk kembali. Dan kau Jiyong, temui aku saat istirahat kedua.” Tambah Guru Ahn kemudian kembali melanjutkan jam pelajarannya.

Seoul, 20 Maret 2016 pukul 10.00 KST

“Ya! Kim Taeyeon. Kenapa kau tak bisa-bisa ? tak ada bola yang masuk satupun. Dari jarak dekat saja kau tak bisa. Kau mau nilai berapa ha ?” bentak Guru Kim yang frustasi karena Taeyeon yang tak bisa memasukkan bola ke ring basket.

“Guru Kim, maaf aku sedang sakit. Bisakah kau memakluminya ?” Rayu Taeyeon pada Guru Kim.

“hmm kau sakit. Baiklah minggu depan kau harus mengulangi ini lagi. Siapkan dirimu. Ku harap Tuhan meyembuhkan sakit muridku yang satu ini.” Gurau Guru Kim. Taeyeon menyesal telah mengatakan itu pada Guru Kim yang mengakibatkan ia harus melakukan praktik basket khusus untuknya.

“Jjinja ? oh Guru Kim, ku mohon jangan seperti itu pada muridmu ini.” Taeyeon memohon. Guru Kim berlalu tak menanggapi perkataan Taeyeon yang terus merengek. Semua murid kembali kekelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.

“bitch !” umpat Taeyeon meluapkan kekesalannya. Tak lama kemudian ia teringat Taeyeon. Jam Guru Ahn. Ia sudah menduga Baekhyun tidak akan ada di kelasnya saat pelajaran Guru Ahn dimulai.

“Dimana dia sekarang ? apa aku harus mencarinya. Kim Taeyeon, julukan permen karet sangat cocok denganmu.” Gumam Taeyeon seraya berjalan keluar gedung.

“prukkk.” Sebuah botol terlempar tepat di depan Taeyeon berjalan. Taeyeon berhenti dan menoleh ke sumber lemparan. Ia dikejutkan dengan adanya Jiyong yang duduk santai di tribun penonton yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Tak butuh waktu yang lama, Taeyeon langsung menghampiri Jiyong dengan senyuman yang memenuhi wajahnya.

“kau di sini ?” ucap Taeyeon membuka percakapan. Diliriknya kini Jiyong yang tengah fokus dengan buku di tangannya.

“hm.” Balas Jiyong singkat. Sikap kembali berubah dingin terhadap Taeyeon.

“lihatlah sikapmu sekarang. Kau yang mengundangku kesini. Dan ini balasannya ?”Jiyong menoleh ke arah Taeyeon yang baru saja merebut buku dari genggamannnya.

“apa aku memanggilmu ? kenapa kau kesini ?” ucap Jiyong mengelak.

“omo. Kau yang melempar botolmu ke arahku. Apa itu bukan berarti menyuruhku datang?cih, pake ngelawan lagi.” Balas Taeyeon tak terima meski diam-diam ia tersenyum di belakang Jiyong.

“aku tadi membuang botol.” Ucap Jiyong singkat. Ia kembali mengambil bukunya. Keadaan berubah menjadi hening dan canggung tanpa sebab. Taeyeon sesekali melirik Jiyong yang masih fokus membaca.

“untuk apa kau keluar kelas, kau disini juga belajar. Kembalilah kekelas atau bicaralah denganku. Kenapa bersikap bodoh, bagaimanapun ia kan ibumu.” Seru Taeyeon tanpa berhenti. Tanpa berkata apapun ia sandarkan kepalanya sejenak di bahu Jiyong. Jiyong terdiam mendapati perkataan Taeyeon kepadanya dan juga tingkah Taeyeon yang tanpa malu menempel pada dirinya bagaikan permen karet.

“pergilah. Aku juga kan pergi.” Ucap Jiyong dingin. Ia pun segera bangkit dari duduknya dan mulai berjalan keluar.

“kemana ?” teriak Taeyeon pada Jiyong belum terlalu jauh.

“bukan urusanmu juga.” Balas Jiyong singkat. Jiyong tersenyum mendapati sikap Taeyeon padanya. Ia tetap berjalan menghiraukan teriakan Taeyeon yang terus bertanya pada dirinya.

Pukul 14.00 KST

Bel pulang sekolah baru saja terdengar. Taeyeon berlari keluar kelas tanpa memperdulikan tasnya yang sudah menyenggol beberapa murid lainnya. Ia tersenyum senang setelah melihat Jiyong yang berjalan menuju ke gedung olahraga seperti biasanya. Taeyeon pun segera berlari mendahului Jiyong. Ia berlari menuju gedung agar kedatangannya nanti tak di ketahui olehJiyong yang masih berjalan di belakangnya.

Jiyong memasuki gedung tanpa mengetahui Taeyeon yang sudah di dalam bersembunyi di antara kursi tribun penonton cukup belakang. Tak seperti dugaan Taeyeon sebelumnya, Jiyong kini duduk termenung di tengah arena. Taeyeon mulai berjalan mendekati Jiyong . Entah apa yang dipikiran Jiyong membuatnya tak menyadari Taeyeon yang berada di samping memperhatikan nya yang terlihat murung. Perlahan ia memejamkan matanya dan menjatuhkan tubuhnya dengan posisi terlentang. 10 menit berlalu dengan hening. Jiyong terbangun dan dilhatnya kini Taeyeon yang tengah duduk memperhatikannya dari samping.

“sejak kapan kau di sini ?” tanya Jiyong dingin. Taeyeon diam tak menjawab. Jiyong menoleh kearah Taeyeon yang terdiam. Ia menoleh pada Taeyeon yang terdiam tanpa sepatah katapun.

“kenapa diam. Sejak tadi kah ?” tanya Jiyong yang kembali tak mendapat tanggapan dari Taeyeon. Jiyong mengerutkan keningnya bingung dengan sikap Taeyeon yang aneh. Kini dipandanginya mata Taeyeon yang menatap tajam ke arahnya. Tentu saja Jiyong bingung dengan tatapan tersebut. Tapi perlahan tatapan itu mulai memudar berganti dengan tatapan matanya yang sudah berkaca-kaca. Jiyong tersadar surat miliknya sudah berada digenggaman Taeyeon. Surat perintah pemindahan murid. Ia berusaha merebut kembali surat itu dari genggaman Taeyeon. Belum sempat ia menarik surat itu, Taeyeon sudah menangis tersedu di dekapannya. Ia terpaku mendapati jarak diantara keduanya yang begitu dekat. Jiyong berusaha melepaskan pelukan tersebut, tapi di rasakannya kedua tangan Taeyeon yang bergetar memegang erat baju seragam yang ia kenakan. Jiyong akhirnya membiarkan Taeyeon menangis di dekapannya. Ia sangat mengerti apa yang Taeyeon rasakan karna itulah yang sedang ia rasakan. Ia mengusap kepala Taeyeon untuk menenangkannya.

“pabo-ya.” Umpat Taeyeon seraya melepaskan pelukannya.

“hmm.” Jawab Jiyong tertunduk tak menatap Taeyeon.

“apa mereka percaya dengan bualan itu. Benar-benar tak bisa di percaya. Kau tak merokok. Kau juga tak pacaran di sekolah. Dan kau bersikap seperti itu karna kau pasti tak nyaman. Ya kan ?” ucap Taeyeon lirih.

“kenapa kau yakin jika aku tak merokok?” tanya Jiyong serius.

“aku tau bukan kau yang merokok hari itu. Aku tau ada bekas putung rokok di gudang tapi bukan kau. Karna kau tidur saat itu ?” jelas Taeyeon panjang lebar.

“kau tau aku tidur ?” tanya Jiyong berbohong.

“ne. tapi aku melihat Minho-sunbae masuk ke gedung ini bersama dua temannya saat pulang sekolah. Entah kenapa aku curiga pada Minho-subae jadi aku mengikutinya dan pa kau tau yang kau dapatkan ? ia menangkap basah diriku yang sedang membuntutinya. Jadi rencanaku gagal.” Taeyeon bercerita penuh semangat.

“apa aku menyuruhmu untuk mendongeng, kau berkata sangat lama dan hanya itu pada akhirnya. Memalukan.” Ejek Jiyong pada Taeyeon yangtersenyum jail padanya.

“aku tau Minho yang merokok. Dan dialah yang membuat gossip itu.” Ucap Jiyong pelan. Taeyeon terkejut mendengar perkataan Jiyong.

“ya. Kau tak bilang padaku. Tunggu, kenapa Minho-sunbae seperti itu ?” tanya Taeyeon penuh semangat.

“karna dia menyukai mu.” Jawab singkat Jiyong. Taeyeon terbatuk mendengar jawaban Jiyong tersebut.

“mwo ?” teriak Taeyeon terkejut.

“berhentilah membohongi dirimu sendiri. Kau sudah tau itu dari dulu.” Ucap Jiyong ringan. Taeyeon terdiam memikirkan perkataan Jiyong.

“hentikan. Kenapa kau mendapat surat pindah ini ?” Taeyeon mengubah topik pembicaraan.

“Guru Ahn yang mengajukannya.” Jawab Jiyong jujur. Taeyeon tercengang mendengar perkataan Jiyong. Guru Ahn yang juga ibu tiri Jiyong mencoba mendepak anaknya sendiri dari sekolahan.

“kurasa ada baiknya jika pindah. Aku tak akan melihat wajahnya 24 jam.” Ujar Jiyong tersenyum hangat. Ia menangkap basah Taeyeon yang tengah memandanginya.

“kau senang jika harus pindah. Bagaimana dengan pacarmu itu ?” tanya Taeyeon berbohong sedangakan ia sendiri belum menyadari Jiyong yang sudah tau hal itu.

“pacar apa yang kau bicarakan. Aku tak punya pacar, tapi aku sudah punya gadis yang kusukai. Jangan salah paham.” Jiyong mencoba menjelaskan. Raut wajah Taeyeon seketika berubah menjadi muram. Ia hanya mampu menunduk untuk menutupi kekecewaannya. Jiyong sangat paham dengan sikap Taeyeon tersebut.

“oh. Apa dia cantik ?” Taeyeon memberanikan diri menatap Jiyong kembali. Jiyong menatap mata Taeyeon yang berkaca-kaca menahan tangisnya agar tidak pecah.

“cantik.” Jiyong tersenyum ringan. Kepala Taeyeon terasa seperti akan meledak karena ucapan dan senyuman Jiyong yang barusan ditujukan kepadanya. Taeyeon sadar akan ucapan Jiyong yang seakan menyuruhnya untuk menyerah karena ia telah ditolak.

“apa aku mengenalnya ? seberapa lama kau mengenalnya ?” suara Taeyeon terdengar samar.

“mungkin kau kenal. Aku sudah memperhatikannya dari beberapa tahun yang lalu.” Jelas Jiyong singkat. Pandangannya dari tadi hanya terfokus padaTaeyeon yang tertunduk.

“hmm. Bisakah kau tak pergi ? kenapa tak bicara pada Guru Ahn ? ku akin dia punya alasan tersendiri.” Taeyeon mengalihkan pembicaraan karna sudah tak tahan dengan perasaannya sendiri.

“Guru Ahn sebenarnya adalah seorang guru yang buruk. Tapi ia adalah seorang ibu yang sangat baik.” Jiyong seraya tersenyum.

“ kenapa kau dari dulu bersikap sangat dinginpadaku ?” tanya Taeyeon tiba-tiba. Jiyong pun dibuat bingung dengan pertanyaan Taeyeon tersebut

“ kau tau kenapa aku menjauhimu ? karna kau selalu mengekoriku. Kau tau kenapa aku bersikap dingin padamu ? karna kau satu-staunya orang yang melihat bagaimana aku hancur saat ayahku memutuskan untuk kembali menikah. Dan kau tau kenapa aku mengabaikannmu ? karna aku takut aku akan membuat satu harapan kosong padamu. Kau tau.” Balas Jiyong panjang lebar. Pertahanan Taeyeon pun runtuh. Air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Suara tangisannya terdengar memilukan. Jiyong menatap Taeyeon dengan penuh penyesalan. Beberapa kali Jiyong mengucapkan kata maaf dari dalam hati maupun secara langsung pada Taeyeon. Tangan Jiyong dengan perlahan mengusap punggung Taeyeon mencoba menenangkan. Taeyeon bangkit berdiri dan berjalan keluar dari gedung tanpa menatap kearah Jiyong yang menatapnya khawatir. Mata Jiyong memandangi punggung Taeyeon yang pergi menjauh.

“mian Taeyeon -na. tapi kurasa aku harus pergi. Kim Taeyeon, kau tau kenapa aku bersikap seperti ini ? karna aku menyukaimu. Akau tak kan membuat satu harapan yang hanya membuatmu terluka karna mungkn aku tak akan bertemu denganmu kembali.” ungkap Jiyong pada dirinya sendiri setelah bayangan Taeyeon tak terlihat lagi

Seoul, 21 Maret 2016Pukul 07.00 KST

Hari yang berat bagi Taeyeon setelah apa yang dialaminya kemarin. Matanya yang bengkak karena menangis semalaman mengharuskannya memakai kacamata kemana saja, tak terkecuali ke sekolah.

Taeyeon memasuki ruang kelasnya dengan hati-hati agar tak ada seorangpun yang memperhatikan penampilannya yang aneh. Taeyeon berjalan tanpa bersuara dan hanya menunduk berharap teman-temannya tak menertawainya, tapi ulahnya tersebut malah membuatnya menubruk bangku di depannya. Semua pasang mata memandanginya heran. Keadaan hening sejenak sebelum terjadi ledakan tawa di ruang kelasnya.

“ya Kim Taeyeon, apa kau ada jadwal photoshoot di sekolah ? Taeyeon sekarang jadi model ?” ujar So yeon seraya tertawa lepas. Taeyeon meletakkan kepalanya diatas mejanya, menahan malu pada dirinya sendiri.

“Kwon Jiyong,kau sudah membuatku untuk mempermalukan diriku sendiri.” Gumam Taeyeon yang terdengar samar karena pengaruh tawa yang masih terdengar keras di kelasnya.

Pukul 10.00 KST

Keadaan menjadi kelas hening seketika saat seseorang berjalan masuk menuju kearah Taeyeon yang masih tertunduk di dalam kelasnya. Jiyong ? tidak. Minho lah yang mendatangi Taeyeon kedalam kelas. Taeyeon menyadari suasana yang berubah menjadi mencurigakan, ia pun mendongakkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi. Taeyeon terkesiap melihat Minho yang sudah berdiri tepat di hadapannya. Tubuh Taeyeon terpaku tak bergerak. Tatapan mata Minho membuat Taeyeon salah tingkah. Taeyeon berjalan keluar dari kelas, tubuhnya seakan tak ingin beranjak dari kursi yang didudukinya tapi kedua kakinya memaksa untuk pergi meninggalkan kelas yang ramai dengan sorakan histeris dari teman-temannya.Taeyeon mempercepat langkahnya tanpa memperdulikan tempat Minho yang mengejarnya dari belakang. Terlihat kepanikan dari dalam diri Taeyeon yang bahkan tak menyadari tempat yang ia masuki. Gedung olahraga. Taeyeon mendengus kesal pada dirinya sendiri setelah menyadari dirinya berada di dalam gedung yang dianggapnya sebagai gedung kutukan. Taeyeon terdiam menyadari ia berdiri tepat di tempat kemarin saat ia bersama Jiyong. tanpa disadari air matanya berjatuhan. Beruntung di sana takada seorangpun kecuali Taeyeon sendiri. Minho berhasil menyusul ke dalam gedung dan didapatinya Taeyeon terisak sendirian. Mendengar suara isakan Taeyeon yang memilukan membuat Minho memejamkan matanya mencoba untuk mengabaikan suara tersebut. Tak lama Minho membuka matanya kembali dan terkejut melihat Taeyeon yang duduk berjongkok menangis membelakanginya sambil memegang erat kedua kakinya. Tak tahan dengan keadaan Taeyeon yang kacau, Minho mulai menarik Taeyeon untuk berdiri. Minho membiarkan Taeyeon menangis di hadapannnya. Minho dapat melihat air mata yang keluar dari mata Taeyeon cukup banyak meski Taeyeon masih menutupi matanya dengan kacamatanya. Minho menatap Taeyeon dengan penuh penyesalan. Perlahan Minho berjalan mendekati Taeyeon yang masih tertunduk. Kini keduanya hanya berjarak beberapa senti. Taeyeon mencoba melangkah mundur menjauhi Minho saat menyadari jarak yang terlalu dekat tapi tiba-tiba tangan Minho menariknya. Tubuh Taeyeon sudah berada dalam pelukan Minho. Taeyeon mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan Minho. Semakin Taeyeon meronta semakin erat Minho mendekapnya. Taeyeon akhirnya diam membiarkan Minho bicara padanya.

“mian.” Bisik Minho setelah beberapa lama. Taeyeon terdiam. Minho kembali mengucapkan maaf.

“Sunbae..” panggil Taeyeon lirih. Minho perlahan melepaskan pelukannya. Taeyeon dapat menghirup oksigen dengan bebas kembali. Minho memandangi Taeyeon dalam dalam yang membuat Taeyeon menundukkan kepalanya kembali.

“mian untuk semuanya Kim Taeyeon. Aku tau jika aku bukanlah orang yang pantas untukmu. Tapi bisakah kau menatap ke arahku sekali saja ? tatap mataku sekarang.” Pinta Minho pelan. Taeyeon pun menuruti perkataan Sunbaenya tersebut, ia perlahan menatap mata Minho. Dengan mata kepalanya sendiri, Taeyeon melihat Minho meneteskan air matanya. Minho tersenyum getir. Taeyeon terdiam.

“hanya karna sebuah tatapan kau membuat lelaki dewasa di depanmu ini menangis Kim Taeyeon.” Ucap Minho sambil mengusap beberapa tetes air mata yang berada di kedua pipinya. Mendengar ucapan Minho membuat Taeyeon terguncang. Ia dapat merasakan bagaimana perasaan Minho saat ini. Sama seperti yang ia rasakan kemarin.

“Minho sunbae. Apa kau pernah merasa goyah saat menunggu seseorang untuk waktu yang lama ?” tanya Taeyeon dengan suara parau.

“jika aku jujur maka jawabannya tidak. Aku tak pernah goyah sekalipun. Banyak gadis yang lebih cantik dan lebih menerimaku daripada kau.” Tutur Minho jujur tanpa dibuat-buat. Taeyeon tersenyum kecil.

“kau sangatlah hebat. Aku sendiri pernah merasa goyah. Ketika seseorang menatapku dengan tatapan tulusnya, saat itulah aku mulai goyah. Seseorang yang pernah membuatku goyah adalah Minho Sunbae.” Balas Taeyeon seraya memandangi wajah Minho mantab. Raut wajah Minho tampak sedikit kaget mendengar perkataan Taeyeon.

“ Terima kasih telah menatapku. Terima kasih telah datang di hidupku. Dan maaf untuk semuanya.” Ucap Minho lalu mengecup kening Taeyeon lembut. Taeyeon sedikit terkejut merasakan kecupan tersebut tapi ia hanya diam dan membiarkan Minho. Taeyeon meneteskan air matanya karena terhanyut suasana.

“selamat tinggal untuk rasaku pada Kim Taeyeon.” Bisik Minho setelah mengakhiri kecupannya di kening Taeyeon. Ia lalu beranjak pergi keluar gedung meninggalkan Taeyeon sendirian.

Flasback

Pukul 10.00 KST

Jiyong sekilas melihat Taeyeon berlari yang di kejar oleh Minho. Jiyong mencoba memastikannya kembali dengan mencari Taeyeon di kelasnya.

“dimana Taeyeon?” tanya Jiyong terdengar seperti teriakan. Semua diam tak berani menjawab, kecuali So yeon yang memang dikenal paling dekat dengan Taeyeon.

“tadi Minho sunbae datang. Keduanya pergi entah kemana ?” jawab So yeon yang kebingungan dengan tingkah Jiyong yang seperti kebakaran jenggot.

Jiyong berlari mencari keberadaan keduanya. Membutuhkan waktu yang cukup lama dan tenaga yang ekstra untuk sekedar mengitari sekolah. Jiyong berdiri sejenak untuk mengatur nafasnya. Satu tempat yang tiba-tiba terbesit di kepalanya. Gedung Olahraga. Ia pun berlari menuju ke gedung. Langkah Jiyong memasuki gedung terhenti. Dari ambang pintu, Jiyong melihat pemandangan yang sangat mengejutkan. Kenapa dia menangis di depan Minho ? pertanyaan tersebut muncul di benak Jiyong. Perlahan, Jiyong memberanikan dirinya untuk memasuki gedung. Ia melangkahkan kakinya menuju salah satu bangku di tribun penonton yang tak jauh dari keduanya.

“apa yang sedang mereka bicarakan hingga tak menyadari keberadaanku.” Gumam Jiyong dalam hati. Matanya tak pernah beralih memandangi dua orang yang berada tak jauh dari tempatnya duduk.

Minho sunbae. Apa kau pernah merasa goyah saat menunggu seseorang untuk waktu yang lama ?

kenapa Taeyeon bertanya seperti itu,” komentar Jiyong

jika aku jujur maka jawabannya tidak. Aku tak pernah goyah sekalipun. Banyak gadis yang lebih cantik dan lebih menerimaku daripada kau.

“kau sendiri apa pernah goyah menungguku,Kim Taeyeon ?” tanya Jiyong dalam hati.

kau sangatlah hebat. Aku sendiri pernah merasa goyah. Ketika seseorang menatapku dengan tatapan tulusnya, saat itulah aku mulai goyah. Seseorang yang pernah membuatku goyah adalah Minho Sunbae. Ucapan Taeyeon seolah menjawab pertanyaan Jiyong. Jiyong terperanjat melihat adegan di depannya itu. Tangannya mengepal erat menahan amarahnya saat melihat Minho mengecup kening Taeyeon. Beberapa kali terucap kata-kata kasar yang ditujukan untuk Minho. Jiyong sendiri bingung dengan Taeyeon yang tak menolak kecupan tersebut.

Saat Minho akan keluar, matanya tak sengaja melihat Jiyong yang tengah duduk di antara kursi penonton.Keduanya seakan saling bicara melewati tatapan mata. Tentu saja Minho akan bilang, kau menang. Dan Jiyong dengan tatapannya mengatakan, apa yang kau lakukan pada nya?.

Flashback end

Taeyeon merasa kakinya sudah tak kuat untuk menopang badannya. Pikirannya sangat kacau dan tubuhnya terasa lemas. Ia berjalan menuju kursi di dekatnya. Matanya tak sengaja menangkap bayangnJiyong yang tengah duduk menatapnya. Posisi keduanya yang duduk di tempat yang berlawanan dan berhadapan membuat Taeyeon semakin canggung. Terasa jantungnya berdetak lebih cepat saat ia menyadari Jiyong yang berjalan kearahnya. Sangat terlihat kepanikan dari tingkah Taeyeon. Jiyong duduk tepat disampingnya. Taeyeon tak berani memperlihatkan wajahnya di hadapan Jiyong. keadaan menjadi begitu canggung ketika keduanya saling diam.

“bukankah itu tadi Minho sunbae ?” Jiyong membuka obrolan canggung.

“sejak kapan kau disana ?” Taeyeon balik bertanya dengan nada ketus. Jiyong menyadari nada bicara Taeyeon yang berubah 180 pada nya.

“saat kau berada di pelukannya.” Jiyong menekankan kata ‘pelukan’.

“apa kau menguping ?” Taeyeonberkata dingin.

“aniyo. aku tak bermaksud seperti itu.” Ucap Jiyong berbohong. Ia jelas-jelas menguping keduanya.

“apa kau menghindariku ?” tanya Jiyong seraya membalikkan tubuh Taeyeonmenghadapnya.

“jika aku jujur maka jawabannya aku memang menghindarimu.” Ungkap Taeyeonlirih. Jiyongsadar akan ucapan Taeyeonyang meniru kata-kata Minho tadi. Hal itupun semakin membuatnya kesal. Jiyong melepaskan kacamata Taeyeon. Ditatapnya kini mata Taeyeonyang berkaca-kaca. Taeyeonmerebut kacamtanya dan memakainya kembali.

“kenapa matamu terlihat bengkak? Seberapa banyak air mata yang kau tumpahkan. Haa?” tanya Jiyong perhatian. Pertahanan Taeyeonruntuh kembali. Tangisnya kembali tumpah saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Jiyong. Sikap dinginnya seakan menghilang seketika dan sikap yang biasa Taeyeonmuncul kembali.

“aku tidak mengisimu kau tau. Aku tak tidur semalaman jadi mataku bengkak.” Bantah Taeyeonyang jelas-jelas berbohong. Jiyong menahan tawa melihat perubahan sikap Taeyeonyang sudah kembali seperti semula.

“kau jelas-jelas menangis.” Komentar Jiyong sambil tersenyum. Ia mengambil seusuatu dari dalam saku jasnya. Ia menyodorkan selembar undangan pada Taeyeon.

“mwo nde ? Party ? apa kaua mau merayakan kepergianmu pabo-ya ?” ucap Taeyeonblak blakan.Jiyong mengangkat kedua alisnya tanpa memberi Taeyeonpenjelasan.

“baiklah Taeyeondari kelompok otak tinggi. Kau harus tau ak..” perkataan Jiyong terhenti.

“pergilah. Aku ingin sendiri.” Potong Taeyeon. Jiyong tersenyum tipis mendengar ucapan Taeyeon.

“oh. Kau mengusirku. Baiklah aku akan pergi.”ucap Jiyongseraya berdiri. Ia menundukkan kepalanya dan mencium kening Taeyeon. Berusaha menggoda Taeyeonyang tengah menangis. Taeyeonterpaku mendapat kembali kecupan dikeningnya. Taeyeonmenatap ke arah Jiyong seolah meminta penjelasan akan perbuatan yang baru saja Jiyong lakukan.

“aku hanya meniru Minho sunbae.” Ungkap Jiyong lalu membalikkan badannya dan berjalan keluar dari gedung.

“kenapa hari ini keningku dicium dua lelaki brengsek seperti kalian. Ada banyak lelaki selain kalian. Bukankah aku ini pantasnya dicium Kai EXO, Sehun Exo, Jimin BTS ataupun yang lainnya. Kenapa harus dua laki-laki brengsek yang mengacaukan ketenangan hidupku ini haaa?” teriak Taeyeonkeras pada Jiyong yang berada di ambang pintu. Taeyeondiam diam tersenyum setelah melihat Jiyong keluar dari dalam gedung. Ia tak percaya pada apa yang barusan Jiyong lakukan.

“omo omo. Dia menciumku ? bagaimana ini, wajahku terasa panas dan tubuhku terasa terbang di udara. Siapapun itu, bangunkan aku dari mimpiku.” Racau Taeyeon sendirian. Jiyong mengintip tingkah Taeyeondari balik pintu.Jiyong tersenyum bahagia melihat kelakuan gadis yang kini ia pandangi itu.

Flashback

Seoul, 21 Maret 2016

Rapat Guru pukul 08.00

Jiyong duduk di antara beberapa guru yang kini sedang berdebat perihal masalah yang dialami Jiyong. Guru Ahn yang duduk tepat di depan Jiyong memandangi anaknya kini sedang berperang melawan beberapa guru yang ingin mendepaknya dari sekolah ini. Tatapan khawatir terpancar jelas di kedua bola mata Guru Ahn, meskipun Jiyong bukanlah anak kandungnya ia tetap menyayangi Jiyong dengan segenap hatinya.

“Kwon Jiyong, aku bertanya untuk kesekian kalinya. Apa kau merokok ?” Jiyong diam tak menjawab pertanyaan dari guru kesiswaan.

“apa kau berpacaran di sekolah ?” Jiyong kembali diam. Amarah dari beberapa gurupun meledak karena Jiyong yang sedari tadi hanyaa diam.

“apa karena kau atlit kebanggaan kau bisa bertindak seenaknya ?”

“kau itu bisu, tuli atau apa ha ? jawablah.” Kicauan para guru membuat kepala Jiyong penuh.

“permisi.” Semuanya terkejut melihat kedatangan Minho ke dalam ruang rapat.

“kenapa kau kemari ?” tegur salah satu guru. Minho menunduk memberi salama kepa semua yang ada. Ia berjalan dan ikut duduk di kursi rapat.

“Minho-ya. Kenapa kau ikut-ikutan kemari ?” sapa Guru Ahn lembut. Minho berdiri memberi penjelasannya.

“Maaf untuk semuanya. Aku akan membuat pengakuan. Jiyong tidak merokok. Itu adalah perbuatanku, aku hanya menjebaknya. Akulah yang menyebarkan berita Jiyong berpacaran. Semua itu yang kukatakan ini adalah benar. Jadi bisakah anda menghukum saya ?” perkataan Minho membuat semua guru terkejut. Jiyonghanya terdiam

“aku melakukan semua itu hanya karena masalah pribadi. Jadi biarkan Jiyong bebas dari tuduhan ini.” Tambahnya lagi.

“tapi kudengar Jiyong sering membolos pelajaran Guru Ahn. Apa itu benar ?”

“untuk itu aku tak tau. Aku hanya dengar dari beberapa murid saja.” Jawab Minho jujur.

“itu sepenuhnya bukan kesalahannya. Aku juga salah dalam hal ini.” Potong Guru Ahn cepat. Jiyong dan para guru menatap kearah Guru Ahn.

“aku yang kurang memahami kondisi dan perasaannya. Aku mungkin hanya membuat tekanan baginya.” Tambah Guru Ahn. Jiyong menatap kearahnya tak percaya dengan apa yang akan Guru Ahn ungkap.

“kenapa kau bicara seakan kau adalah ibunya.” Komentar guru yang berada didekatnya.

“karna aku memang ibunya. Guru Ahn adalah ibu dari siswa bernama Kwon Jiyong. Minho ikut terkejut mendengar penjelasan Guru Ahn barusan. Jiyong menghela nafas sambil menatap mata ibu tirinya itu.

“baiklah ini mungkin urusan keluarga. Kita tak akan ikut campur. Jiyong kau pergilah, urusanmu selesai. Dan kau Minho, ikut keruanganku sekarang.” Perintah Kepala Sekolah tegas. Rapat selesai.

Flashback end

Seoul, 21 Maret 2016 pukul 20.00 KST

Taeyeon menjatuhkan tubuhya di ranjang miliknya. Tumpukan bantal dan beberapa buku yang tergeletak di sampingnya mau menemani malam penuh bintang. Terbayang kembali saat saat ia bersama Jiyong tadi siang. Tanpa sadar ia senyumnya mengembang di kedua sudut bibirnya. Tangannya tak sengaja menyentuh kertas yang ada di sakunya. Ia teringat dengan undangan yang tadi diberikan oleh Jiyong padanya.

“Party ? di rumahnya ? semua temannya ?” teriak Taeyeon membaca undangan yang tengah di genggamnya.

“bukankah dia harus pergi, tapi kenapa party ? omo ! apa dia akan menunjukkan siapa gadisnya itu ? aku bisa gila saat ini. Apa yanga harus aku lakukan.” Taeyeongelisah. Pikirannya seakan bercabang ke segala arah.

“apa aku harus mengajak Minho sunbae. Ahh, itu terlalu kejam.”

“Jiyong , kau tak pernah membuat hidupku tenang sedikitpun.”

Seoul, 25 Maret 2016 pukul 19.00 KST

Party Time

Lampu menghiasi ruangan di setiap sudutnya. Meja besar yang penuh makanan juga telah di siapkan. Terlihat Jiyong bersama seorang gadis menemaninya berdiri menyambut kedatangan teman-temannya penuh kegembiraan.sedangkan Taeyeon tengah gelisah di depan rumahnya. Ia ragu untuk berangkat menuju pesta meskipun ia telah berdandan rapi.

Jiyong khawatir dengan Taeyeon yang sedari tadi belum terlihat.Ia mencoba menghubungi Taeyeon tapi terputus. Sesekali ia memandangi liontin yang ia genggam. Taeyeon belum juga sampai. Ia mencoba menanyakan pada So yeon, tapi So yeon sendiri tak tau keberadaan Taeyeon

“Oppa, apa itu orangnya ?” panggil gadis yang sedari tadi menemaninya. Jiyong menyembunyikan senyumannya saat melihat Taeyeon yang baru saja tiba. “Hana-ya bagaimana kau tau ?” jawab Jiyong pada gadis yang ia biasa panggil Hana itu. Keduanyapun segera menyambut kedatangan Taeyeon.

Melihat Jiyong bersama seorang gadis membuat tubuhnya seakan terbanting dari ketinggian. Matanya tak bisa beralih memandangi keduanya yang sedang tersenyum padanya. Pikirannya kacau tak karuan bersamaan dengan hatinya yang yang berkecamuk melihat lelaki pujaannhya sedang bergandengan dengan seorang gadis tepat di hadapannya. Kedatangan Jiyong dan Hana menyadarkannya dari pikirannya sendiri. Taeyeon membalas senyuman deangan canggung.

“kenalkan dia Hana. Dan Hana, kenalkan dia Taeyeon.” Jiyong mengenalkan satu sama lain. Taeyeon membalas jabatan tangan Hana dengan gugup. Bahkan ia sama sekali tak berani menatap wajah Jiyong.

“Hana adal..” Jiyong belum sempat melanjutkan perkataannya karena teriakan Taeyeon

“Ohh, So yeon kau sudah datang.” Seru Taeyeon mengalih pembicaraannya. Ia lalu bergabung bersama teman-temannya. Jiyong menghela nafasnya seraya menatap punggung Taeyeon yang menjauh.

Taeyeon bergabung dengan teman-temannya yang sedang menikmati hidangan. Teman –temannya yanag langsung paham dengan keadaan Taeyeon setelah melihat mata Taeyeon yang mulai berkaca-kaca.

“makanlah ini. Apa yang bisa kau lakukan hanyalah menangis ?” goda So yeon pelan sedangkan yang lainnya memandang Taeyeon prihatin.

“tatapan kalian menyakitiku. Apa aku begitu menyedihkan.” Ucap Taeyeon ketus lalu berjalan meninggalkan teman-temannya yang terbengong mendengar perkataannya. Taeyeon berjalan menyendiri menuju tempat yang jauh dari keramaian pesta. Ia cukup mengenal rumah Jiyong, sehingga ia tak akan tersesat disana. Ia menemukan tempat tujuannya. Taman yang cukup sepi di samping rumah Jiyong. Taeyeon menenangkan pikirannya yang sedang kacau. Menatap langit malam yang begitu cerah sedikit memperbaiki moodnya.

“Ya Kwon Jiyong, orang macam apa kau ini haa ? kau menyakitiku lagi.” Terdengar suara Taeyeon gemetar. Ia meluapkan seluruh kesedihannya di hadapan bintang dan bulan yang bersinar di atasnya. Tangisnya kembali pecah. Taeyeon jongkok meringkuk sambil memegang erat kedua kakinya. Tak lama isakannya berhenti. Suasana hatinya perlahan membaik. Terdengar suara langkah kaki mendekatinya. Tersadar, Taeyeon segera mengusap sisa air matanya.

“apa kebiasanmu menangis sambil berjongkok sejak kecil belum hilang ?” suara yang sangat familiar di telinga Taeyeon.

“aniyo. aku tak menangis. Apa yang kau bicarakan ?” elak Taeyeon. Ia memilih tetap berdiri membelakangi Jiyong.

“lalu apa yang kau lakukan di sini sendirian ?” pertanyaan Jiyong benar-benar membuat Taeyeon kehilangan akal.

“aku kehilangan sesuatu.” Jawab Taeyeon asal.Jiyong mendekati Taeyeon dan menyodorkan liontin yang sejak tadi ia genggam.

“apa ini milikmu ?” tanya Jiyong berbohong. Karena liontin itu jelas-jelas miliknya sendiri.

“ku rasa begitu.” Jawab Taeyeon gugup. Jiyong tersenyum tipis mendengar jawaban Taeyeon. Ia lalu mengalungkan kalung miliknya ke leher Taeyeon dari belakang.

“waeyo ?” tanya Taeyeon gugup. Ia tak mengira Jiyong Jiyong akan percaya pada perkataannya. Tiba-tiba ia merasakan kedua tangan Jiyong melingkar di pinggangnya dan melihat Jiyong yang menyandarkan kepalanya tepat di bahunya. Jantung Taeyeon mendadak berdetak sangat cepat. Kini dirasakannya pelukan hangat Jiyong di seluruh tubuhnya.

“malam ini sangatlah dingin. Sehingga aku tak bisa menahan diriku sendiri.” Ucap Jiyong lembut.

“biarkan aku memelukmu seperti ini. Bisakah ?” ucapannya kembali membuat perasaan Taeyeon tak karuan.

“hem.” Taeyeon mengangguk pelan. Ia sendiri merasa tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Apa ini hanya sekedar imajinasi. Atau kah nyata. Taeyeon terdiam. Ia dapat merasakan hembusan nafas Jiyong di bahunya. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Jiyong semakin mempererat pelukannya dari belakang.

“kau menangis ? mian” ucap Jiyong pelan. Jiyong melepaskan pelukannya. kedua tangannya membalikkan tubuh Taeyeon agar mengahadap ke arahnya. Di tatapnya kini gadis di hadapannya dalam-dalam.

“apa yang sedang kau pandangi ?” tanya Taeyeon ragu.

“kau.” Jawaban Jiyong membuat Taeyeon tercengang.

“jangan salah paham. Hana adalah sepupuku. Kau pasti menangisi itu.” Tebakan Jiyong sangat tepat. Diliriknya raut wajah Taeyeon yang menahan malu.

“aku tak akan pindah. Minho sunbae menyerahkan dirinya sendiri. Happy Party.” Jelas Jiyong lantang.

“oh. Begitukah.” Balas Taeyeon terdengar bersemangat. Jiyong tiba-tiba membuka liontin yang melingkar di leher Jiyong.

“apa kau terkejut ?” tanya Jiyong seraya tersenyum. Taeyeon masih memandangi isi liontin tak percaya. Foto ? Taeyeon – Jiyong. satu foto setiap sisinya.

“dari mana fotoku ini ?” tanya Taeyeon sambil mengecup liontinnya.

“itu ada di album fotoku. kau jauh lebih baik saat kecil dulu.” goda Jiyong yang membuat suasana menjadi canggung. Hening dan tenang. Jiyong mendekatkan wajahnya kearah Taeyeon. Perlahan ia memejamkan matanya. Diciumnya bibir Taeyeon lembut. Tanpa perlawanan, Taeyeon ikut memejamkan matanya menikmati setiap lumatan bibir Jiyong di bibirnya. Jiyong melepaskan ciumannya sejenak agar Taeyeon dapat kembali bernafas. Taeyeon tersenyum bahagia. Jiyong kembali mencium bibir Taeyeon. Perlahan ia menarik tengkuk Taeyeon untuk memperdalam ciumannya. Kedua tangan Taeyeon mengalung indah di leher Jiyong.

“Saranghae.”

“Nado.”

Bisik keduanya di tengah romantika mereka. Angin berhembus pelan. Bintang dan bulan menjadi saksi mata keduanya.

The End

gimana ? jelekkah ? mian, ini ff oneshoot pertamaku..

menurutku buat ff oneshoot lebih susah dari pada yang chaptered..

jadi kalo banyak typo nya harap dimaklumi ya ^^

Aku juga post ff baru, Featuring Love (Chapter 1) & All Of A Sudden (Chapter 2) !!! dan yang pasti Gtae ff lagi. Soalnya author yg atu ini Gtae shiper. #ROYALISTDREAMER nama fan Gtae ship.

follow akun wattpad ku@niamr95 disana aku juga update gtae ff

follow juga akun ig @niamr95  #numpang promo hahahha.. ^^

Jangan lupa comment & klik bintangnya !! Don’t be silent reader ^^ terima kritik dan saran nya.

Advertisements

32 comments on “OH MY BOY ! (ONESHOOT)

  1. aku tadi bingung saat tiba” di tengah cerita ada nama Baekhyun. tapi tak apa lah. aku suka ceritanya. sweet banget.

    • Itu typo..maaf ya
      Soalnya ff ini sebenernya aku buat untuk Baekhyun ama OC tapi aku edit jadi Gtae ff..😁😁

  2. Gue tadinya mau belok ke taeyeon-minho thor mereka cocok juga njirr,, tapi gd tetep paling oke dehh. Mau juga dong dicium kim taeyeon #padahalguecewek #dicekiktantepatini wkwkkk buat ff gtae yg married life dong thor.

  3. keren authornim !! walaupun ada typo dikit gapapa lah ya :v typo bagi author itu kan wajar :v okelah, banyakin ff GTAE yaa kak !! #ROYALISTDREAMER

  4. Ahhh akhirnya jiyong mengakui jg klo dy suka ama taetae stlh ngeliat pengorbanan dan airmata taetae.
    Akhir yg romantis….

  5. Berkaca-kaca bacanya.
    Bagus ceritanya 🙂
    Lucu ya Taeyeon selalu mengekor Jiyong sampai Jiyong ada titik jengah. Menghindar tapi menyukai Taeyeon 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s