All Of A Sudden (Chapter 2)

all

Nia M Storyline

Main Cast : Taeyeon -G Dragon(Kwon Jiyong) || Genre : Romance, Comedy || Lenght : multichapter || Author : Yeon Ji Min

Note : ini posternya aku ganti biar tambah okee ^^

kayaknya akan banyak adegan yg gimana gitu ^^ jadi ff ini hanya buat 15+ !!!

Jangan lupa klik bintang/suka + comment ya.. hargai kerja author^^

Typo bertebaran dimana-mana…

***

Love which came late always side by side with the great happines

Cinta yang datang terlambat selalu didampingi dengan kebahagiaan yang besar

**

3 weeks later…..

Gangnam, 22 Mei 2016

Asian Fashion Weeks 2016

Pukul 19.00 KST

 

Dengan dress merah tua yang ia kenakan, Taeyeon berjalan menghampiri Tiffany yang sudah menunggu di depan gedung apartemennya.

“mari.” Tiffany langsung menarik tangan Taeyeon untuk masuk mobil.

“Mobil siapa ini ? Apa kau yang akan mengemudi ? “ ucap Taeyeon dan duduk dikursi depan.

“tentu saja tidak. Aku menumpang mobil Jiyong oppa.” Jelas Tiffany. Tangannya sibuk membolak-balikkan ponselnya resah. Tiba-tiba Jiyong membuka pintu mobil dan membuat Taeyeon terlonjak kaget. Jiyong sendiri bingung melihat kehadiran Taeyeon di dalam.

“Maaf aku tak bilang pada kalian. Jiyong oppa, aku juga membawa Taeyeon. Dan Taeyeon unni, maaf aku tak mengatakan jika aku akan menumpang mobil Jiyong oppa. Kalian berdua pasti terkejut.” Tiffany menatap keduanya yang duduk didepan. Ia kembali menatap ponselnya resah.

“ada apa dengan mu ? Apa kau menunggu pesan dari seseorang ?” Taeyeon menghadap kebelakang memperhatikan tingkah laku Tiffany.

“Ah tidak.” Bantah Tiffany pelan. Jiyong melihat ekspresi Tiffany dari kaca mobil.

“Ponselnya ketinggalan diapartemenku semalam.” Jiyong menunjukkan ponsel hitam kehadapan Tiffany. Taeyeon hanya memperhatikan keduanya bergantian, tak tau apa yang mereka berdua bicarakan.

“kenapa memberitahuku.” Elak Tifany yang dibalas tawa kecil oleh Jiyong.

“heii itu terlihat sekali diwajahmu. Kau menunggu pesannya bukan. Kau ingin dia mengucapkan apa padamu ? Mari bertemu, selamat berjuang, kau tampak cantik atau gaunmu indah sekali ? Seperti itu ?” Jiyong menggoda Tiffany yang tertunduk di belakang. Tak tahan dengan ucapan Jiyong, Tiffany menendang kursi duduk Jiyong dari belakang.

“ ahh, kau sangat mengharapkan Seunghyun kembali padamu kan ?” Jiyong semakin senang menggoda Tiffany yang wajahnya sudah merona karena malu.

“Kau pernah berhubungan dengan Seunghyun oppa ?” ucap Taeyeon tampak terjut. Dari raut wajah dan nada bicaranya sangat tampak rasa kecewanya pada Tiffany. Jiyong melirik kearah Taeyeon singkat.

“Taeyeon unni, kau marah padaku ?” Tiffany kembali menendang kursi Jiyong dengan satu kaki.

“Tidak. Itu urusan pribadimu, jadi aku tak perlu ikut campur.” Taeyeon tersenyum lebar kearah Tiffany. Matanya tak sengaja menangkap bayangan Jiyong yang memandanginya. Ia langsung mengalihkan pandangannya kedepan saat merasakan kedua pipinya yg memanas.

“rupanya kau sudah benar-benar dewasa. Sangat berbeda dengan seseorang yang kukenal.” Jiyong menoleh kearah belakang, menyindir Tiffany yang melototkan matanya kearah Jiyong.

“Tapi kenapa kau tak memberitahuku tentang hubunganmu dan Kiko unni yang sudah berakhir tiga minggu yang lalu. Sangat menyebalkan.” Balas Tiffany ketus. Jiyong kembali diam. Taeyeon menatap Jiyong merasa bersalah dengan ucapannya tadi pagi itu.

“Kenapa aku harus mengatakan padamu ? Waktu itu kau juga tak mengatakan padaku jika kau putus dengan Nickhun.” Jiyong membela diri. Taeyeon hanya menatap kelakuan konyol keduanya yang bertingkah seperti anak kecil yang sedang bertengkar.

“Tapi aku memberitahumu saat bertemu.” Bantah Tiffany tak terima dengan tuduhan Jiyong padanya.

“Benarkah ? Kalau begitu aku lupa.” Jiyong tertawa kecil melihat reaksi Tiffany dari kaca mobil.

“Hentikan mobilnya. Aku akan membeli minuman. Tunggu aku.” Tiffany menunjuk kedai kopi di seberang jalan. Jiyongpun langsung menghentikan mobilnya.

“Belikan aku juga.” Tutur Jiyong keras agar Tiffany mendengarnya dengan sangat jelas.

“aku ikut denganmu.” Sela Taeyeon cepat. Jiyong dan Tiffany sama-sama menoleh kearah Taeyeon.

“mari.” Tiffany mengulurkan tangannya membantu Taeyeon keluar dari mobil. Baru satu langkah dari mobil, higheels hitam miliknya patah. Taeyeon menjerit kesakitan karena kakinya terkilir. Ia harus kembali kemobil bersama dengan Jiyong sedangkan Tiffany tetap pergi membeli kopi.

“Apa sangat sakit ?” Jiyong memperhatikan ekspresi Taeyeon yang merintih kesakitan.

“Tidak begitu juga.” Elak Taeyeon meski sangat ketara ia berbohong dihadapan Jiyong.

“Biar kulihat. Setidaknya aku sedikit tau tentang itu. Biar ku pijat.” Jiyong tak tega melihat Taeyeon merintih kesakitan. Taeyeon yang mengetahui itu malah ea r. Tapi ia tetap menyodorkan kakinya kehadapan Jiyong yang sudah bersiap memijat. Jiyong memegang kaki Taeyeon perlahan, tapi jeritan Taeyeon kembali terdengar. Jiyong pun menelpon Tiffany untuk membeli minyak urut di apotek yang tepat berada di samping kedai kopi yang Tiffany datangi. Karna Tiffany tak kunjung datang membuat keadaan sangat canggung bagi Jiyong dan Taeyeon yang kembali diam.

“Musik akan mencairkan keadaan.” Jiyong memencet tombol play di mobilnya. Awalnya Taeyeon begitu terhibur dengan lagu milik Pink Toniq OST drama Playfull Kiss. Hingga terdengar lirik ‘ my love kiss kiss kiss..dugeundugeun nae-ge..so sweet sweet sweet tal-komha-ge bu-reowah..na hanaman sarang-haejwo..wanna kiss me kiss me’ Taeyeon langsung memencet tombol ganti. Lagu yang muncul selanjutnya adalah milik Ed Sheeran-Thinking Out Loud. Taeyeon beralasan lagu barat lebih cocok diputar. Jiyong hanya mengangguk menyetujui. Taeyeon memejamkan matanya menikmati lagu.

Take me into your loving arms

Kiss me under the light of a thousand stars

Place your head on my beating heart

Lirik kembali mengusik pikiran Taeyeon. Jari tangannya langsung memencet tombol stop. Jiyong melirik Taeyeon kesal.

“Memutar radio lebih menyenangkan.” Taeyeon berusaha menjelaskan. Jiyong kembali mengangguk menyetujui perkataan Taeyeon meski ia menganggap tingkah Taeyeon sedikit aneh.

Para pendengar setia, di ea rahi kita akan membuka layanan via telepon bagi siapa aja yang mau curhat ataupun sharing.

Penyiar : Halo selamat malam, dengan siapa dan dimana ?

Penelpon : dengan Daeyeon di Anyang. Kakak apa yang harus kulakukan saat tiba-tiba seorang pria menciumku ?

Penyiar : memangnya siapa dia ? Apa yang salah dengannya ?

Penelpon : pria itu bernama Leeyong. Dia bahkan tak ingat apa yang ia perbuat padaku. Karna saat itu dia mabuk. Apa saran kakak ?

Penyiar : agar dia ingat, cobalah berciuman dengannya sekali lagi. Biasanya dengan begitu ia kan ingat semuanya yang ia lupakan.

Taeyeon menjadi sangat pani setelah menyadari kisah Daeyeon yang sama dengannya. Bukan hanya cerita saja, nama Daeyeon terdengar mirip dengan Taeyeon. Sedangkan Leeyong juga hampir sama dengan Jiyong. Taeyeon berusaha mematikan radionya tapi tetap saja ia tak bisa. Ia merasakan tangan Jiyong menahan pergelangan tangannya erat. Taeyeon bergerak refleks langsung menarik tangannya dari genggaman Jiyong.

“Kau ini kenapa ? Lagu kau matikan dan sekarang radio yang ingin kau matikan.” Jiyong akhirnya melepaskan genggamannya

“Obrolannya membosankan.” Taeyeon mengelak. Jiyong mendengus kesal mendengar alasan yang digunakan Taeyeon.

“Kau pasti punya pengalaman seperti penelpon tadi.” Tebakan Jiyong sangat akurat. Taeyeon bahkan langsung membungkam mulutnya agar tak berteriak. Dan setelah melihat reaksi Taeyeon barusan, Jiyong semakin yakin dengan tebakannya.

“aniyo aniyo aniyo.” Taeyeon membantah keras.

“Itu sangat jelas. Kau punya cerita seperti itu? Nama kalian mirip, Daeyeon dan Taeyeon. Lalu siapa pria yang menciummu ? Namanya pasti juga mirip dengan Leeyong” Jiyong tetap menggoda Taeyeon yang wajahnya sudah memerah karna ea r. Jiyong tersadar akan sesuatu. Nama Leeyong terdengar mirip dengan namanya sendiri, Jiyong.

“Pria itu bukan aku kan ? Bukan Jiyong tentu.” Jiyong bertanya pada Taeyeon. Mendengar itu membuat Taeyeon semakin ea r. Tiffany membuka pintu mobil. Keduanya kaget dengan kedatangan Tiffany yang tiba-tiba.

“apa ada yang tak kuketahui tentang kalian ?” Tiffany curiga dengan reaksi Jiyong dan Taeyeon.

“apa yang kau bicarakan ? Mana minyaknya. Dan kau yang menyetir mobil karna aku akan mengobati kakinya.” Jiyong pindah ke bangku belakang. Ia lalu menyuruh Taeyeon untuk ikut pindah ke belakang. Taeyeon pun mengikuti ucapan Jiyong.

Mobil kembali dikendarai Jiyong sudah sampai di depan gedung yang sudah dipenuhi reporter dan wartawan. Tiffany menyodorkan flatshoes miliknya kehadapan Taeyeon. Tak memungkinkan bagi Taeyeon untuk menggunakan highheels lagi mengingat keadaan kakinya yang baru saja terkilir.

“Bantu dia jalan dan genggam tangannya.” Ucap Jiyong yang masih di dalam mobil pada Tiffany. Taeyeon tersontak mendengar perkataan Jiyong. Tiffany ikut melotot ea rah Jiyong.

“Apa kita sepasang kekasih ? Kau gila.” Tiffany mengomeli Jiyong layaknya orang tua yang memarahi anaknya.

“Aku bisa sendiri. Kau duluan sana masuk. Aku baik-baik saja. Aku segera menyusulmu.” Taeyeon tersenyum manis. Jiyong keluar mobil dan membukakan pintu untuk Tiffany. Kilatan cahanya kamera langsung menyambut kedatangan Tiffany. Taeyeon masih berada di dalam mobil sedang memakai flatshoes yang tadi Tiffany pinjamkan. Pintu mobilnya di sampingnya terbuka, Jiyong membukakan pintu untuknya. Awalnya Taeyeon merasa canggung tapi ia tetap berusaha untuk tampil sempurna di hadapan kamera. Taeyeon keluar dari mobil dengan hati-hati. Tapi rasa sakit kembali menyerang kakinya. Jiyong yang mengetahui itu langsung memegangi tubuh Taeyeon yang mulai limbung. Taeyeon menatap Jiyong yang juga sedang menatapnya.

“Kau bilang kau baik-baik saja. Tapi kau sangat tidak baik-baik saja.” Jiyong berbisik di dekat Taeyeon. Jiyong mengulurkan tangannya ke hadapan Taeyeon.

“Sepertinya kau membutuhkan tanganku kembali.” gumam Jiyong pelan. Ia menatap ea rah Taeyeon yang tak segera meraih genggamannya. Menyadari itu, Taeyeon langsung menyambut tangan Jiyong dengan sangat kaku. Keduanya berjalan masuk bersama dengan tangan yang saling menggenggam. Baru berjalan tiga langkah, kaki Taeyeon tak kuat menopang tubuh Taeyeon yang hampir saja jatuh jika saja Jiyong tak refleks memegang pinggangnya. Keduanya berjalan bersama memasuki gedung. Dengan posisi salah satu tangan Jiyong melingkar di pinggang kecil Taeyeon. Kedatangan keduanya langsung di sambut heboh ratusan kamera yang langsung mengabadikan moment tersebut. Seperti yang keduanya duga sebelumnya, pasti sebentar lagi akan muncul ratusan artikel yang membahas kedekatan mereka. Taeyeon hanya diam tak berkomentar ketika para reporter mengajukan pertanyaan mengenai hubungan dekatnya dengan Jiyong. Sedangkan Jiyong sendiri menanggapinya hanya dengan senyuman di wajahnya.

***

Keduanya tiba di dalam gedung. Acara akan segara di mulai. Jiyong melirik sekitar untuk mencari tempat duduk yang pas dengan Taeyeon. Matanya tertuju pada bangku kosong yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Jiyong menuntun Taeyeon ke bangku tersebut. Tak sengaja keduanya bertemu Kiko yang juga tengah berjalan menuju bangku tersebut. Jiyong dan Kiko sama-sama terkejut dengan kehadiran masing-masing. Taeyeon hanya menunduk kebawah menyadari keadaan yang sedang tak baik baginya.

Kedatangan Tiffany menjadi penyelamat bagi Taeyeon yang terjebak di tengah keadaan yang tak menyenangkan.

“Taeyeon unni, ayo ikut denganku. Duduk di sebelahku saja.” Tiffany menarik tangan Taeyeon hati-hati untuk menyelamatkannya.

“Anyeong.” Taeyeon membungkukkan badannya di depan Kiko lalu berjalan pergi bersama Tiffany. Hanya tinggal Jiyong dan Kiko yang saling bertatapan.

“Secepat itukah kau melupakanku ?” Kiko tersenyum tipis di hadapan Jiyong.

“Ini yang kau mau. Mari berhenti menghubungi satu sama lain.” Jiyong memandangi wajah Kiko intens menunggu untuk melihat reaksi Kiko.

“Aku hampir lupa jika kita sudah berpisah.” Kiko berjalan pergi meninggalkan Jiyong yang terdiam di tempat. Jiyong menghela nafas berat lalu berjalan ke tempat dimana Tiffany dan Taeyeon berada.

***

Deringan ponsel membangunkan Taeyeon dari tidurnya. Taeyeon meraba-raba mencari keberadaan ponselnya. Matanya masih terpejam saat mengangkat panggilan dari Tiffany. Taeyeon melirik jam tangan yang masih menunjukkan pukul 23.00 KST. Taeyeon tersentak kaget mendengar ucapan Tiffany dari seberang telepon. Taeyeon menatap sekitarnya menyadari ia berada di tempat yang begitu asing baginya. Taeyeon langsung menutup panggilan Tiffany. Matanya beralih kearah Jiyong yang tengah duduk menatapnya dari sofa yang tak jauh dari tempat Taeyeon tertidur, lebih tepatnya pingsan. Begitu banyak pertanyaan yang muncul dikepala Taeyeon. Ia mencoba mengingat kejadian terakhir sebelum ia jatuh pingsan. Bayangan dirinya saat meneguk wine terlintas dikepalanya. Tapi hanya itu yang ia ingat. Pandangannya menangkap sosok Jiyong yang berjalan mendekat kearahnya. Ia semakin dibuat bingung dengan kehadiran Jiyong di dekatnya.

“Akhirnya kau bangun. Kau tau kekacauan apa yang baru saja kau buat ?” Jiyong melipat kedua tangannya di depan dada. Sorotan matanya menatap lurus kearah Taeyeon.

“Apa yang terjadi padaku ? Dan ini ada dimana ?” Taeyeon bangkit dari tidurnya dan duduk tegak berhadapan dengan Jiyong.

“Kau tak ingat ? Kau mabuk berat dan terus menerus menyebut nama Leetuk di sana. Tiffany jatuh sakit. Aku yang harus mengurus semuanya. Dan kau sekarang berada di apartemen Bigbang .” jelas Jiyong panjang lebar.

” kenapa tak membawaku ke apartemenku ? Ada Tiffany.” Taeyeon menatap Jiyong penuh kecurigaaan. Dan Jiyong paham sekali apa yang ada dikepala Taeyeon.

“Tiffany yang menyuruhku untuk membawamu karna dia tak tau password yang kau ubah sebelum berangkat pergi tadi. Rencananya aku akan mengantarmu pulang setelah kau bangun. Tapi reporter bergerak lebih cepat daripada kau.” jelas Jiyong panjang lebar.

“Antar aku pulang.” Taeyeon berjalan dengan langkah pelan. Tas yang ia pegang seketika jatuh saat matanya melihat keadaan di luar apartemen dari kamera yang terpasang di samping pintu. Puluhan repoter telah menanti di luar. Taeyeon mengurungkan niatnya untuk keluar dan memilih kembali menghampiri Jiyong yang duduk santai di depan tv.

“Apa yang harus kulakukan sekarang ini ? Aku terjebak dan tak bisa pulang. Seseorang tolonglah aku, siapapun itu tolonglah aku.” Ucap Taeyeon frustasi.

“Reporter bergerak lebih cepat dari yang kuduga. Mereka sudah datang sebelum kau terbangun. Tidurlah kembali ,ini sudah malam. Pikirkan semuanya besok saja.” Jiyong bergegas masuk ke kamarnya.

“Dimana aku harus tidur ?” pertanyaan Taeyeon menghentikan langkah Jiyong. Ia berbalik menoleh ke arah Taeyeon. Ia pun kembali berjalan mendekati Taeyeon.

“Aku punya satu kamar tak terpakai. Kau bisa tidur di sana.” Jiyong menunjuk ruangan yang berada di sampingnya. Ia lalu berjalan pergi dan masuk ke kamarnya. Begitu juga dengan Taeyeon yang masuk ke dalam ruang yang tadi Jiyong tunjuk.

***

 

Taeyeon terduduk di atas ranjang. Setelah melepas kedua sepatunya ia langsung membaringkan tubuhnya yang kelelahan. Bruukkkk..Ranjang yang ia tiduri roboh. Teriakan keras keluar dari mulutnya saat merasakan seluruh badannya terhempas ke lantai. Jiyong datang melihat keadaan Taeyeon. Betapa terkejutnya saat ia mendapati Taeyeon yang merintih kesakitan di lantai. Ia teringat akan sesuatu, Seunghyun pernah merusakkan salah satu kaki ranjang yang baru saja Taeyeon tempati. Ia menghampiri Taeyeon khawatir. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengangkat tubuh Taeyeon dan membawa ke dalam kamarnya. Ia membaringkan tubuh Taeyeon pelan di atas ranjang di kamarnya. Ia mendekat dan bertanya keadaan Taeyeon, apa sudah membaik.Taeyeon mengiyakan perkataan Jiyong. Ia mengatakan jika ia hanya terkejut dan sedikit sakit di punggungnya. Jiyong meminta maaf karna lupa mengatakan jika ranjang itu rusak dan Taeyeon mengangguk mengerti. Jiyong beranjak keluar dari kamarnya.

“Kau akan tidur dimana ?”Jiyong menoleh kearah Taeyeon.

“Entahlah. Mungkin di sofa jika aku bisa.” ucap Jiyong singkat lalu keluar setelah menutup pintu.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 00.30 KST tapi Jiyong belum juga tidur. Berbagai posisi sudah ia coba tapi tetap saja ia tak bisa tidur. Untuk pertama kalinya ia harus tidur di atas sofa. Jiyong mulai gusar, ia pun bangkit duduk. Tiba-tiba saja terdengar suara aneh dari dalam kamar. Tak butuh waktu lama, Jiyong sudah berada di dalam kamarnya dan mendapati Taeyeon yang mengigau. Tapi semakin lama igauan Taeyeon berubah kepanikan. Jiyong berusaha membangunkan Taeyeon dari mimpi buruk.

“Eomma..eomma..manager Park..manager Park kau dimana ?” Taeyeon ketakutan dalam igauannya. Jiyong menggoyang-goyangkan tubuh Taeyeon, tapi Taeyeon malah menjadi semakin panik dan ketakutan. Air mata keluar dari kedua pelupuk mata Taeyeon yang masih terpejam. Isakannya perlahan semakin mengeras bersamaan dengan erangan tubuhnya.

“Berhenti..berhentikan ini..kenapa kalian seperti ini? tolong aku.. Jiyong-ssi.” Taeyeon meronta-ronta seakan ada seseorang yang tengah memegangi tubuhnya. Jiyong sedikit terkejut saat ia mendengar Taeyeon menyebut namanya. Tapi Jiyong menganggap jika ia salah dengar. Bagaimana mungkin dirinya bisa masuk ke dalam mimpi Taeyeon.

“Kau dimana Jiyong-ssi..Jiyong-ssi..Jiyong-ssi.” Taeyeon masih saja meronta-ronta. Dari suara Taeyeon, sangat terlihat jika Taeyeon sedang ketakutan. Taeyeon kembali menyebut nama Jiyong-ssi yang langsung membuat Jiyong kebingungan.

“Bangunlah, ini hanya mimpi buruk. Hanya mimpi buruk. Bangunlah Taeyeon-ssi.” ucap Jiyong lembut. Ia lalu mengenggam erat tangan Taeyeon untuk menenangkannya saja. Dan usaha Jiyong berhasil, Taeyeon langsung tersentak dari tidurnya dan membuka mata. Jiyong tampak lega melihat Taeyeon yang sudah sadar dari mimpinya. Ia langsung menarik tangannya yang sejak tadi menggenggam tangan Taeyeon.

“Apa kau sakit ? Dingin sekali.” Jiyong menaruh tangannya di kening Taeyeon untuk mengecek suhu tubuh Taeyeon.

“Aku baik-baik saja. Maaf membuatmu terbangun dari tidurmu.” Ucap Taeyeon dengan tenang. Tapi lingkaran hitam di sekitar mata Jiyong terlihat begitu jelas di hadapan Taeyeon.

“Apa sedari tadi kau belum bisa tidur ?” tebak Taeyeon.

“Wow, bagaimana bisa kau tau ? Apa kau punya kemampuan seperti itu ?” Jiyong terperangah dengan ucapan Taeyeon.

“Lingkaran hitam di sekitar mata sangat jelas.” Taeyeoj menunjuk kearah wajah Jiyong dengan jari telunjuknya.

“Hmm.” Jiyong berbalik dan akan berjalan keluar. Tapi Taeyeon menarik tangannya. Jiyong bertanya apa yang Taeyeon lakukan.

“Kau bisa tidur di sini.” ucap Taeyeon ragu. Jiyong terkejut mendengar penuturan dari mulut Taeyeon.

“Apa kau ingin tidur bersamaku ? Hei, aku ini bukanlah lelaki gampangan yang akan luluh hanya dengan kecantikanmu. Kau tau.”

“Sayang sekali aku tak punya pikiran sepertimu. Dasar mesum.” gerutu Taeyeon kesal dengan tuduhan Jiyong padanya.

“Kau bisa tidur di sini. Anggap kita hanyalah sepasang benda mati. Kita tak akan terganggu dengan kehadiran satu sama lain.” jelas Taeyeon panjang lebar. Jiyong setuju dengan pemikiran Taeyeon. Ia pun sudah berbaringkan tubuhnya di atas ranjang. Keduanya mencoba memejamkan matanya dan meyakinkan satu sama lain, jika mereka hanyalah sepasang benda. “Ya kita hanya sepasang benda mati.” Dan keduanya berbaring dengan posisi saling membelakangi. Tapi hingga 30 menit kemudian, keduanya masih terjaga dengan pikirannya masing-masing. Jiyong membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Taeyeon dan tanpa ia ketahui, Taeyeon juga berbalik menghadap ke arahnya. Semuanya berubah canggung karna keduanya berbaring berhadapan. Jiyong dan Taeyeon saling bertatapan cukup lama hingga Jiyong sadar dengan suasana.

“Aku tidur di sana saja.” Jiyong segera bangkit berdiri. Kedua tangannya mengusap wajahnya yang mulai terasa panas.

“Kau benda mati. Tapi kau merasa tak nyaman, apa kau punya perasaan padaku ?” Taeyeon mengangkat kepalanya untuk bisa melihat Jiyong.

“Tentu saja tidak.” bantah Jiyong.

“Aku juga sama. Jadi sepasang benda tak akan merasakan sesuatu.” Taeyeon tersenyum tipis. Jiyong kembali ke posisinya semula. Ia merasa heran sekaligus penasaran pada Taeyeon yang tak merasakan apapun disaat ada lelaki yang tidur di sampingnya.

***

“Jiyong-ssi bangunlah.” Taeyeon menggoyang-goyangkan tubuh Jiyong pelan. Jiyong membuka kelopak matanya perlahan. Ketika sudah membuka dengan sempurna, matanya menangkap wajah Taeyeon di depannya. Sangat natural dan cantik. Kalimat itu yang ada dipikiran Jiyong pertama kali saat melihat penampilan Taeyeon.

“Hmm.” Jiyong mengalihkan pandangannya. Ia melirik jam di meja yang sudah menunjukkan pukul 08.00 KST.

“Daebak. Kenapa aku bisa bangun jam 8?” gumam Jiyong terheran-heran dengab kelakuannya. Untuk pertama kalinya ia bangun sesiang ini.

“Kau terlalu nyenyak karna kau tidur di sampingku.” puji Taeyeon pada dirinya sendiri.

“Kau tidak punya pengaruh apapun. Karna kau adalah benda mati.” balas Jiyong singkat. Deringan ponsel menghentikan percakapan keduanya. Panggilan video call dari Yang Hyun Suk, CEO YG ent yang merupakan entertaiment yang dinaungi Jiyong.

“Kau dimana ?”

“Di apartemen Bigbang .”

“Jangan keluar dari sana. Semua paparazi sedang mencari keberadaanmu dan Kim Taeyeon. Apa kau tau kemana perginya Taeyeon ? Pihak SM ent belum menemukan keberadaannya.”

Mendengar namanya disebut, Taeyeon langsung mendekat kelayar ponsel.

“Dia di sini.” ucap Jiyong lalu menjauhkan kepala Taeyeon yang berada di depan layar.

“Jadi kalian benar-benar pacaran ? Heii, kalian mempermainkan kami semua.”

“Tidak. Apanya yang pacaran !” bantah Jiyong cepat. Taeyeon menganggukan kepalanya, setuju dengan bantahan Jiyong.

“Lelaki dan seorang gadis tidur bersama hingga pagi hari, apa itu bukan pacaran namanya !”

“Kita hanyalah sepasang benda mati.” ucap Jiyong sambil melirik ke arah Taeyeon.

“Karna kalian benda mati, maka bertahanlah di sana beberapa bulan. Jangan sekali-kali keluar dari apartemen. Untuk semua keperluan kalian akan kami urus.” jelas Yang Hyun Suk cepat. Setelah itu panggilan terputus. Jiyong mendengus kesal. Taeyeon melakukan hal yang sama. Jiyong bangkit dari ranjang dan berdiri.

“Aku bisa meminjam tanganmu lagi ?” ucap Taeyeon yang membuat Jiyong bingung.

“Punggungku masih belum pulih. Bisakah kau memijatnya sebentar ? Hanya punggung saja. Sungguh hanya punggung. Punggungku rasanya mau patah saat bergerak.” Taeyeon memohon. Jiyong membelalakkan matanya setelah mendengar permintaan Taeyeon.

“Bagaimana bisa kau mengatakannya padaku ? Kau bahkan sama sekali tak canggung saat mengatakannya.” ucap Jiyong panik.

“Kenapa aku harus canggung? Ini keadaan darurat. Sebentar saja. Ini benar-benar sakit.” Taeyeon tetap membujuk Jiyong.

“Kau membuatku gila.” Jiyong mengacak-acak tatanan rambutnya karna frustasi.

“Balikkan tubuhmu. Akan ku ambilkan minyaknya.” Jiyong berjalan keluar kamar dengan kesal. Ia bertanya pada dirinya sendiri yang tak bisa menolak permintaan Taeyeon. Ia menjadi semakin kesal. Taeyeon tersenyum karna Jiyong mau menuruti permintaannya.

***

Pintu kamar berderik pelan. Jiyong berjalan memasuki kamarnya. Matanya terbelalak lebar saat melihat punggung Taeyeon di antara selimut. Jiyong berjalan mendekat meski canggung dengan keadaan. Ia menarik kursi dan duduk di samping ranjang dimana Taeyeon sudah berbaring tengkurap. Ia ragu untuk menyentuh punggung Taeyeon.

“Aku tak bisa.” Jiyong kembali menarik tangannya yang hampir bersentuhan dengan kulit mulus Taeyeon.

“Tolong aku…Jiyong-ssi.” ucap Taeyeon memohon. Cara dan nada bicaranya mengingatkan Jiyong mengenai kejadian tadi malam saat Taeyeon bermimpi dan menyebut namanya.

“Tadi malam bermimpi buruk ?” tanya Jiyong tiba-tiba. Taeyeon terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Jiyong.

“Kau tau.” jawab Taeyeon pelan. Jiyong semakin penasaran.

“Mimpi apa ?”

“Apa pedulimu ?” jawab Taeyeon ketus. Ia bingung kenapa Jiyong penasaran dengan dengan mimpinya.

“Kau akan menceritakannya ? Jika tidak aku iuga tidak akan memijat punggungmu.” Jiyong kembali menarik tangannya lebih jauh dengan Taeyeon.

“Aku sendiri tak tau apa yang ku impikan. Dan entah kenapa kau sangat penasaran. Tapi akan ku ceritakan. Dengarkan baik-baik.”

Aku berjalan sendirian di jalan yang sangat gelap. Tiba-tiba seseorang menggandeng erat tanganku. Dan saat itulah semuanya berubah menjadi sangat terang. Bulan purnama bersinar begitu terang, bintang-bintang bertebaran dan lampu-lampu berkelap-kelip sangat indah. Aku menoleh kearah seseorang itu, tapi ia tiba-tiba menghilang. Rasanya sangat menakutkan. Setelah itu menjadi gelap.

Aku berdiri di panggung yang begitu megah. Aku tersenyum dan mulai bernyanyi. Awalnya begitu menyenangkan, semua orang ikut bernyanyi dan bersorak ria. Tapi semakin lama sorakan bahagia itu berubah menjadi sorakan kemarahan. Mereka melempariku dengan apapun. Suasana menjadi sangat kacau. Tubuhku gemetar saking takutnya. Saat itu datanglah dua orang tak kukenal membungkam wajahku. Aku menjerit sangat keras tapi tak ada satupun yang mau mendengarkanku. Semakin lama aku sulit bernafas. Aku mencoba bertahan sekuat mungkin hingga seseorang itu kembali meraih tanganku. Terasa begitu hangat. Seseorang itu menggenggam tanganku erat. Aku kembali mencoba melihat wajahnya, tapi ia memelukku. Seketika itu aku merasakan ketenangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Dan setelah itu aku terbangun dari mimpiku.

Taeyeon berhenti bercerita dan mengamati wajah Jiyong penuh kecurigaan.

“Hanya itu saja ? Apa kau tau seseorang itu ?” tanya Jiyong penasaran. Masih melekat dibenaknya saat Taeyeon tidur sambil menyebutkan namanya berkali-kali.

“Hanya itu yang kuingat. Aku tak tau siapa orang itu. Aku menjadi penasaran. Tapi kenapa kau sangat tertarik dengan mimpiku ?” Taeyeon kembali memandangi raut muka Jiyong yang mengalami perubahan.

“Tak ada.” balas Jiyong cepat. Meski rasa penasaran masih mengusik pikirannya ia tetap merahasiakan tentang Taeyeon yang menyebut namanya.

“Itu semakin membuatku penasaran.” gumam Taeyeon pelan

“Tepati janjimu. Pijat punggungku.” seru Taeyeon. Jiyong menatapnya kesal.

***

Taeyeon berdiri di depan pintu. Matanya memperhatikan setiap gerak-gerik para repoter diluar melalui kamera yang dipasang di samping pintu. Ia heran dengan pertahanan para reporter yang masih bersikukuh menunggu meski wajah mereka sudah terlihat seperti vampire karna kurang tidur.

“Kesini dan sarapan.” panggil Jiyong cukup keras. Kedua tangannya lihai menyiapkan pancake cokelat di meja makan.

“Apa sarapan pagi ini ?” ucap Taeyeon lirih. Raut mukanya berubah begitu melihat dari kejauhan pancake yang sudah tersaji rapi di atas meja. Dengan penuh semangat ia menghampiri Jiyong yang sudah duluan duduk di ruang makan.

“Kelihatannya lezat sekali.” Taeyeon tersenyum sumringah.

“Duduk dan makanlah.” ucap Jiyong terdengar seperti perintah. Taeyeon menanggapi itu dengan satu anggukan kepala.

“Ini benar-benar lezat.” gumam Taeyeon bersamaan saat melahap pancake cokelat di mulutnya. Jiyong menoleh kearah Taeyeon. Cokelat melumuri di sekitar mulut Taeyeon.

“Kau begitu menikmatinya.” balas Jiyong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah gadis di depannya itu. Taeyeon tersenyum menanggapi perkataan Jiyong, lalu kembali melanjutkan makannya. Ponsel Taeyeon berdering, panggilan video call dari Manager Park.

“Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja ?” Manager Park membuka pembicaraan.

“Seperti yang terlihat. Aku baik-baik saja.”

“Kau makan cokelat ?”

“Bagaimana kau tau ?”

“Lihatlah wajahmu yang sudah dipenuhi dengan coretan cokelat. Makanan apa ? Kau tetap harus menjaga pola makanmu. Jangan sampai kau nanti kelebihan berat.”

“Ini hanya sepotong pancake cokelat.”

“Kau beruntung ada disanan. Tapi apa kau yang membuatnya ?”

“Manager Park, apa kau pernah melihatku memasak? Tidakkan. Jiyong yang membuatnya”

“Pasti enak sekali. Apa direktur sudah bicara padamu ?”

“Belum. Memangnya ada apa ?”

“Kau akan tau nanti. Apa saja yang kau butuhkan ? Akan kusiapkan.”

“Banyak yang kubutuhkan. Nanti ku kirim daftarnya. Tapi kenapa kau menyiapkannya ? Apa benar aku harus disini untuk waktu yang lama ?”

“Kau akan tau nanti.”

Manager Park memutuskan panggilan. Taeyeon mendecak kesal dengan sikap Managernya yang mematikan panggilan tiba-tiba sebelum ia mengucapkan salam. Ia kembali menaruh poselnya dimeja dan akan melanjutkan makannya. Tapi ia baru menyadari pancake miliknya sudah habis dan hanya menyisakan piring kosong di meja. Jiyong menyodorkan kotak tisu ke hadapannya. Taeyeon menyadari sejak tadi ia belum membersihkan wajahnya yang kotor berlumuran cokelat. Ia menahan malu di hadapan Jiyong. Dengan gerak cepat, ia langsung mengusap wajahnya dengan tisu hingga bekas cokelat tak terlihat sedikitpun.

“Kau bisa memasak ?” pertanyaan itu muncul dengan sendirinya dari mulut Taeyeon.

“Tidak juga. Aku terbiasa membuat pancake cokelat. Saat Bigbang masih tinggal di dorm dan diatur oleh agensi, kita biasanya memakan ini setelah latihan.” jelas Jiyong. Taeyeon sekali lagi menganggukan kepalanya.

“Aku jadi iri padamu. Dulu kau masih bisa makan yang seperti ini, sedangkan aku harus puas hanya dengan makan wortel dan mentimun. Persis seperti kelinci.” ucap Taeyeon apa adanya. Jiyong menatap Taeyeon lama dan setelah itu ia hanya menghela nafas.

“Apa ada berita terbaru dari agensimu ?” Taeyeon mengalihkan pembicaraan saat menyadari suasana yang tak nyaman bagi keduanya.

“Aku hiatus untuk beberapa saat. Hanya itu saja. Mereka tak memberikan penjelasan mendetail pada reporter. Kau sendiri ?” Jiyong menganggukan kepalanya pelan menunggu balasan Taeyeon.

“Belum ada. Sepertinya mereka mulai melupakanku.” Taeyeon berlagak marah. Jiyong tertawa kecil melihat tingkah konyol gadis di depannya itu.

“Kau tertawa ?” Taeyeon menatap Jiyong serius.

“Tidak. Hanya tersenyum.” Jiyong mengembangkan senyum manis di bibirnya. Melihat itu Taeyeon tak percaya. Begitu juga matanya yang tak bisa beralih memandangi Jiyong yang masih tersenyum lepas.

“Apa ? Apa ada yang salah di wajahku ?” Jiyong mengusap wajahnya. Ia menyadari Taeyeon yang sedari tadi memandangi wajahnya.

“Aah tidak, bukan itu. Baru kali ini kau tersenyum lepas bersamaku dalam keadaan sepenuhnya sadar.” Taeyeon mengingat malam dimana ia dan Jiyong berciuman. Sebelumnya Jiyong tersenyum padanya sambil merapikan tatanan rambutnya. Meski kejadian itu sangat memalukan baginya Taeyeon tetap tersenyum kecil.

“Apa? Kau tadi mengatakan sepenuhnya sadar? Apa aku pernah tersenyum saat tak sadar ?” Jiyong merasa aneh dengan perkataan Taeyeon.

“Kupikir tidak. Dimana kamar mandinya? Aku mau mandi dulu.” Taeyeon kembali mengubah topik pembicaraan.

“Di sana. Tapi saluran airnya mati.” Jiyong menunjukkan arah jalan kamar mandi yang berada di sebelah kiri dapur.

“Yang benar saja. Kau mau aku mengalami kejadian tak menyenangkan untuk ketiga kalinya karna kau ?” Taeyeon mendecak kesal.

“Tiga kali ? Aku rasa baru satu kali melakukan kesalahan.” elak Jiyong.

“Terserah. Apartemen semewah ini ternyata banyak kerusakan.” cibir Taeyeon pelan.

“Ini karna kita jarang memakainya.” Jiyong membela diri.

“Lalu kenapa reporter bisa menemukan keberadaan apartemen ini ?” selidik Taeyeon.

“Karna mereka reporter.” Jiyong berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Taeyeon.

“Hei apa ada kamar mandi yang lainnya ?” teriak Taeyeon cukup keras yang menghentikan langkah Jiyong.

“Ada di kamarku.” balas Jiyong ragu. “Kalau mau pancake lagi, ada di kulkas. Makan saja sepuasmu.” tambahnya lalu kembali berjalan.Taeyeon tersenyum ceria setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Jiyong. Tak butuh waktu yang lama, sepiring pancake dingin sudah berada di atas meja siap untuk ia lahap.

***

-To Be Continued-

Yeyeyye…balik lagi dengan Gtae ff. Mian update Chap 2 nya kelamaan, karna author harus ngejar project ff yang lainnya dan masih on di wattpad, jadinya sedikit sibuk. *author alay

Aku juga post ff baru, 2 sekaligus!! Featuring Love & Oh My Boy !!! dan yang pasti Gtae ff lagi. Soalnya author yg atu ini Gtae shiper. #ROYALISTDREAMER nama fan Gtae ship.

follow akun wattpad ku@niamr95 disana aku juga update gtae ff

follow juga akun ig @niamr95  #numpang promo hahahha.. ^^

Jangan lupa comment & klik bintangnya !! Don’t be silent reader ^^ terima kritik dan saran nya.

Bye bye !!! see u in chap 3 ^^

-Spoiler Chapter 3-

 

Tutt..tuutt…tuuutt..tuttt….Deringan ponsel Jiyong mengagetkan keduanya. Taeyeon dan Jiyong membuka matanya bersamaan. Keduanya sama-sama membelalakkan matanya. Seketika itu juga keduanya terlonjak menjauh karna menyadari bibir mereka yang masih menempel satu sama lain. Taeyeon langsung bangkit berdiri, begitu juga dengan Jiyong.

“Aaaaaaa….” pekik Taeyeon keras. Jiyong menyentuh bibirnya dengan tangan kanannya.

“Apa yang baru saja kita lakukan ?” ucap Jiyong tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Taeyeon langsung berhambur menuju kamar mandi. Sedangkan Jiyong masih terpaku ditempat ia berdiri.

***

“Apa dia tidur nyenyak ?” gumam Jiyong pada dirinya sendiri.

“Apa dia tak kedinginan ?” Jiyong mengusap kepalanya kesal. Pikirannya berputar hanya dusekitar Taeyeon, dan itu membuatnya kesal.

“Ahh aku tak peduli dengannya.” Jiyong bangkit duduk. Berbeda dengan perkataannya, Jiyong malah berjalan keluar sambil menenteng selimut tebal.

***

Advertisements

48 comments on “All Of A Sudden (Chapter 2)

  1. Kenapa Taeyeon yang mabuk bisa sampai di apartemen bigbang? Apa yang Taeyeon dan Jiyong lakukan saat di fashion week itu? pasti ada sesuatu di Flashback kin dong..

  2. Apa cuma aku yang baca dari chapter 1 lagi supaya inget jalan ceritanya? Haha
    Semangaat thor ditunggu next chapnya,, GTAE support daebak,,
    Chapter ke dua aja udah banyak moment romantis gtae, di tunggu moment moment gate selanjutnya thornim,, hwaighting ^^

  3. wah spoiler chap 3 bkin penasaran…
    ciuman k2 mreka…
    aaaaaaaa…
    jgn2 lam2 ya saeng…
    #ROYALISTDREAMER #GTAE
    Fightaeng!!!!

  4. Gueee jugaa gtae shipper thor tapi gue tetep taeny shipper wakaka #curhat cepetan ya update nya keburu lupa jalan ceritanya wkwkkk

  5. Wahhh udah lama jga nih ff nya aku jdi penasaran sma kelanjutannff nya. GTae lucu bgt sih jdi gemes sendiri baca nya thor. Aku tunggu next chapter ya thor. Fighting 😘😘😘😘

  6. Aaaaaaa GTae moment, ya ampun thor saranghae…..
    Makin gag sabar nunggu chap.3 nya apalagi.itu ada previewnya….

    Fighting

  7. Ff ya GTae keren banget 👍 dtunggu chapter 3 jngan kelamaan ya thor post ya trus dtmbah sweet moment GTae ya 😀

  8. Authornim! Annyeong! Keren banget thor! Aku juga royalistdreamer! Selama ini nyari ff gtae indonesia susah amat, di aff nyaris gak ada malah huuh.. Eh, anyway cuma mau koreksi aja thor, Kiko itu kelahiran 91 jadi lebih muda dari TaeNy.. Update soon! 😉

  9. Pingback: All Of A Sudden (Chapter 3) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Pingback: GTAE CHAT ROOM | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Pingback: All Of A Sudden (Chapter 4) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s