[FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 6)

abc poster

Title:

Wanna Be Yours

Author:

Unicorn

Length:

Chapter

Genre:

Romance – School life

Cast:

Kim Taeyeon [GG] – Xi Luhan [ex-EXO]

Poster: SelviakimPosterChannel

Disclaimer:

Story and poster are 100% mine! All main casts are belonging to god. Plagiarism and republish aren’t allowed. Please give your comment, do not be a silent reader.

Happy Reading~

Preview: Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4 A, Chapter 4 B, Chapter 5

 

CHAPTER 6

Luhan dan Taeyeon masih dalam posisi yang sama, berpelukan. Pria itu sama sekali tak mengerti kenapa gadis itu bisa sebegitu takutnya. Apa karena petir yang menyambar tadi? Tapi kenapa ia mesti menangis?. Luhan hanya diam dan membalas pelukan Taeyeon. Keberadaan gadis itu di pelukannya membuat dirinya yang sedari tadi menahan dingin seketika merasa suatu kehangatan menghampirinya. Hangat dan lembut. Dua hal itu yang dapat dikatakannya.

Namun ketika ia menikmati momen itu, lampu hijau menyala dan beberapa mobil di belakang mobilnya membunyikan klakson mobil mereka tidak sabaran. Luhan mendengus pelan lalu dengan sigap melepaskan pelukan Taeyeon dari dirinya yang dapat dikatakan sedikit sulit untuk ia lakukan karena gadis itu memeluknya dengan sangat erat. Luhan melajukan mobilnya dengan pelan, sepasang matanya masih sibuk memperhatikan Taeyeon.

Gadis itu mengangkat kakinya ke kursi dan memeluk kakinya dengan bibir yang mencium puncak lututnya. Gadis itu terisak, membuat Luhan semakin terbingung – bingung. Namun seketika, ucapan Kris teringat begitu saja di kepala Luhan.

“Taeyeon memiliki trauma yang didapatkannya saat masih kecil. Membuatnya menjadi seorang paranoid akan suara suara keras

Luhan ber ‘Ohh’ di dalam hatinya. Pantas saja tangisan Taeyeon terdengar begitu dalam, begitu pilu, begitu menyesakkan di telinga Luhan. Pria itu kembali meringis, ia benar benar tak tahan dengan suara tangisan itu. Bagaimanapun juga, hal ini membuatnya secara otomatis mengingat kejadian itu. Kejadian yang tidak seharusnya kembali ia ingat.

Luhan menepikan mobilnya tepat di depan sebuah minimarket. Dengan segala penjelasan rancu dari Kris dan air mata Taeyeon yang begitu deras sekarang ini, ia tidak bisa mengerti apapun dan hanya bisa menerka – nerka apa yang pernah terjadi dulu. Ia hanya ingin sekali lagi saja, sekali lagi saja mencampuri kehidupan orang lain yang tengah terpuruk. Setidaknya, dengan begitu, luka lama yang selama ini tidak pernah bisa sembuh dapat sedikit terobati.

“Hey,” Luhan mengangkat tangannya untuk menepuk lembut pucak kepala Taeyeon.

Taeyeon menatap Luhan dengan bingung, menunggu pria itu untuk kembali bersuara.

Tak!!

“Awww!” Taeyeon meringis saat Luhan dengan sedikit bertenaga menyentil dahinya. Gadis itu melayangkan tatapan protes tapi pria itu justru membalas memberikan senyuman lebar seolah sama sekali tidak bersalah.

“Apa – apaan kau ini!?” Tanya Taeyeon

“Ahh, akhirnya kau berhenti menangis. Apa kau tidak haus setelah menangis? Ayo kita beli minuman” ajak Luhan tanpa menunggu Taeyeon dan langsung keluar dari mobil.

Taeyeon yang masih bingung dan tidak terima dengan sikap Luhan, ikut menyusul pria itu.

“Ya!”

“Kau duduk saja disitu” ujar Luhan sambil menunjuk stand – stand berpayung yang berada di dekat mereka lalu masuk ke dalam minimarket.

Taeyeon mendengus kesal. Gadis itu duduk di salah satu kursi di sana dan dengan angkuh menumpu dagunya dengan tangan kanannya. Tak lama kemudian, Luhan keluar dari minimarket dengan membawa belanjaanya.

Taeyeon memalingkan wajahnya dari pandangan Luhan, tangannya terlipat dengan cepat dan menempel di depan dadanya. Luhan yang melihatnya dari jauh hanya terkekeh kecil.

“Kau marah karena hal tadi? Apa dahimu terluka? Apa berdarah? Baiklah, ayo kita pergi ke rumah sakit” ujar Luhan tak masuk akal sembari mencari – cari luka di dahi Taeyeon dengan tangannya. Gadis itu menepis tangan Luhan geram dan langsung mengambil sebotol minuman dan snack yang Luhan beli. Luhan tersenyum lalu meminum coke yang dibelinya.

“Aku hanya berusaha membuatmu berhenti menangis” ungkap Luhan santai tanpa menatap mata Taeyeon.

“Kris tidak akan melakukan hal semacam itu untuk membuatku berhenti menangis” gumam Taeyeon. Luhan melirik Taeyeon sebentar lalu kembali menatap jalanan Seoul yang ramai.

“Aku bukan Kris”

Taeyeon merotasikan matanya. “Kenapa?”

“Kenapa apanya?”

“Kenapa kau berusaha membuatku berhenti menangis?”

Kali ini sepasang bola mata Luhan benar – benar menatap lurus milik Taeyeon. Warna hazel yang lembut itu seolah olah menarik iris pekat miliknya. Luhan diam tak menjawab. Pertanyaan Taeyeon jauh lebih menguras otaknya untuk bekerja mencari jawaban dibandingkan pertanyaan – pertanyaan yang dilontarkan ibunya ketika ia pulang larut dari club malam.

“Itu karena.. suaramu yang sangat bising itu sungguh mengangguku menyetir. Bagaimana bisa suaramu senyaring itu ketika menangis?”

Taeyeon menatap Luhan dengan tatapan datar lalu berjalan dengan kesal menuju mobil.

“Jangan pernah menangis lagi!” seru Luhan membuat pergerakan Taeyeon terhenti.

“Suara nyaring yang kau keluarkan juga tubuhmu yang bergetar ketika menangis, membuatku merasakan rasa sakit yang sangat menganggu. Jika hal itu sungguh menyakitkan, setidaknya kau tidak membaginya kepada orang lain.”

Taeyeon terdiam sejenak, dadanya terasa begitu sesak. “Kalau begitu maafkan aku” ujar gadis itu lalu segera masuk ke dalam mobil.

Wanna Be Yours

Taeyeon’s home

“Membosankan” sungut Suho dengan wajah masam. Pria itu mengganti – ganti channel tv menggunakan remote di tangannya.

“Bagaimana kalau kita bermain saja?” usul Tiffany girang. Luhan yang mendengarnya langsung mendengus. Ia sama sekali tidak pernah berpikir jika Kris, Suho dan Tiffany akan berkunjung ke rumah Taeyeon dan bahkan dari apa yang didengarnya, mereka semua akan menginap di sini. Luhan membuang nafasnya kasar.

Ia hanya bertugas menjaga Taeyeon karena gadis itu hanya sendirian di rumah, tapi jika gadis itu tidak sendirian ia tidak seharusnya berada di rumah itu. Dari pada membuang waktu disana lebih baik ia pergi ke klub malam saja, benak Luhan. Tapi Kris justru melarangnya. Ahh Kris, sepupunya itu selalu saja merusak rencana Luhan.

“Hey ayolah, kita bermain saja. Truth or Dare saja bagaimana?” Tanya Tiffany mencoba menarik perhatian teman – temannya.

“Baiklah kawan ayo kita bermain” ujar Suho bersemangat. Dan mereka pun mulai membentuk lingkaran kecil, dengan letak posisi Taeyeon-Tiffany-Suho-Luhan-Kris.

“Baiklah, siapa yang ingin duluan?” Tanya Suho.

Tidak ada yang bersuara. Mereka memandang satu sama lain dengan tatapan bingung. Taeyeon menghela nafas pasrah dan akhirnya mengalah.

“Aku”

“Kalau begitu siapa yang ingin mengerjai Miss Kim malam ini?” Tanya Suho sambil cekikian tidak jelas.

“Aku saja” ujar Luhan cepat.

Taeyeon menatap Luhan yang berada di depannya dengan wajah penasaran.

“Truth or Dare?”

“Truth” jawab Taeyeon yakin.

Luhan tampak menimang – nimang pertanyaannya terlebih dahulu lalu dengan sedikit tidak percaya diri mengeluarkan pertanyaan itu. Pertanyaan yang sebetulnya telah membuatnya beberapa hari ini menjadi pusing.

“Apa hari itu saat di kamar mandi, kau dan Kris benar – benar berciuman?”

Taeyeon seketika – ah ralat, tapi semua orang di sana terkecuali Luhan dan Kris seketika membulatkan mata mereka terkejut.

“Astaga Taeng!!! Kau berciuman? Dengan Kris? Di kamar mandi? Apa yang sedang kalian lakukan?!!” pekik Tiffany.

“Kris, kau memang tidak akan pernah bisa move on” gumam Suho sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.

Taeyeon menatap Luhan dengan tatapan luar biasa terkejut. Sedangkan Kris hanya tersenyum mengejek.

“Jawab aku” ucap Luhan dengan wajah yang sulit diartkan.

“Ya! Aku dan Kris sama sekali tidak berciuman! Kris hanya memelukku saja. Apa – apaan pertanyaanmu itu? Dan.. tunggu! Jadi kau menyelinap masuk ke kamarku? Dasar penguntit!” sungut Taeyeon kesal.

Luhan mendengus. “Ah, aku hanya ingin berjaga – jaga, jika kalian sampai melakukan hal yang lebih berbahaya aku berniat akan menghentikan kalian berdua, tapi toh yang kulihat saat itu kalian hanya berciuman jadi kuurungkan niatku. Apa hal itu salah? baiklah jika bagimu itu salah aku meminta maaf. Lalu, sepertinya kau hampir berhasil ‘menyusul’-ku, pria nappeun seperti yang kau katakan” Ujar Luhan sinis.

Habis sudah kesabarannya, beban berat atas rasa penasaran dan kesal yang ditahannya belakangan ini sudah habis beriringan dengan setiap kata yang dilontarkannya.

Taeyeon dan yang lain terdiam. Gadis itu ingin mematahkan ucapan Luhan tapi lidahnya terasa kelu dan hatinya sudah terlanjur tergores dengan ucapan Luhan yang jelas – jelas memojokkannya hingga ia merasa sesak.

Mereka semua masih dalam keadaan yang sama yaitu diam hingga akhirnya Suho memilih untuk memecah keheningan.

“Ehm baiklah kalian berdua, apa kalian ini tidak terlalu kekanakan? Luhan, jika kau cemburu katakan saja cemburu dan kau Taengo, jika kau merasa tidak terima katakan padanya yang sebenarnya sehingga tidak ada salah paham diantara kalian”

Tiffany menganggukkan ucapan Suho.

“Kalian berdua terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar, memang enak untuk dipandang mata tapi tidak untuk didengar. Jadi berbaikanlah, okay?. Kalau begitu tidak jadi saja menginapnya, ayo Suho kita pulang” ujar Tiffany.

“Tapi untuk apa Taeyeon menjelaskan yang sebenarnya? Kenapa ia harus menjelaskan yang sebenarnya terjadi di kamar mandi agar Luhan tidak salah paham?. Apa kalian terikat dalam suatu hubungan yang mengharuskan hal itu? Tanya Kris tiba – tiba.

Niat Tiffany dan Suho untuk beranjak pergi batal ketika mendengar penuturan Kris. Tanpa pikir panjang, Luhan dengan percaya diri menjawab,

“Karena dia begitu mirip dengan cinta pertamaku”

. . .

“Karena dia begitu mirip dengan cinta pertamaku”

“Karena dia begitu mirip dengan gadis itu, sehingga aku tidak pernah bisa melepaskan mataku darinya. Aku selalu kawatir dengan tiap gerak dan kemana kakinya berjalan karena aku takut untuk kehilangan ‘duplikat’ dari gadisku. Aku tidak bisa menerima ketika kau menciumnya atau memeluknya seperti yang dia katakan, tidak, aku tidak bisa menerima ketika orang lain menyentuhnya. Karena dia adalah pemberian untuk kali kedua yang tak akan ‘ku sia – siakan lagi” ujar Luhan tegas dengan menatap lurus mata Kris.

“Itulah hubungan antara aku dan dia, apa kau puas?”

Mereka semua diam, ucapan Luhan sangat mengagetkan bahkan dapat dikatakan tidak masuk relung kewajaran logika. Tiffany dan Suho saling menatap dengan pandangan bingung. Atmosphere diantara mereka seketika menjadi sangat dingin.

Kris membalas Luhan dengan wajah menyeringai, “Aku sangat puas, mengingat kau mengatakannya tepat di depan orangnya”

Tatapan Luhan berpindah menuju Taeyeon yang dari tadi tengah menatapnya. Tatapan itu kembali merasuki jiwa Luhan. Ia tidak tahu apa arti tatapan itu, tapi ia sadar jika gadis itu sedang berbicara melalui tatapan yang diberikannya. Seolah bertanya – tanya atas apa yang dimaksud. Begitu jelas terasa pada Luhan. Membuat pria itu ragu menyebut Taeyeon sebagai ‘duplikat’ gadisnya karena ia merasa bukan seperti suatu yang lain, tapi begitu sama, begitu mirip. Seolah memang sejak awal tidak pernah pergi dan berubah, seperti suatu kesatuan yang sama. Adalah gadis itu.

Wanna Be Yours

Taeyeon berjalan dengan sumringah kearah kelasnya, ia tampak sangat bahagia hari ini. Dia bahkan tidak memperdulikan tatapan orang – orang di sekelilingnya yang mungkin beranggapan aneh tentangnya. Hal ini tak lain tak bukan akibat dari kejadian di parkiran barusan yang cukup membuat pagi di sekolahnya menjadi lebih menyenangkan.

Flashback on

“Kenapa kau tidak bisa bangun lebih pagi? Kau membuatku melupakan mantel ku, dasar bodoh!” seru Taeyeon kesal sembari menyilangkan tangannya di depan dadanya. Gadis itu menatap Luhan yang baru saja keluar dari mobil yang balik menatapnya dengan tatapan acuh tak acuh.

“Bukankah salahmu yang melupakan barangmu? Lagipula kita tidak terlambat, kau saja yang heboh ingin pergi ke sekolah saat penjaga sekolahpun belum ada yang datang” Sungut Luhan membela diri.

“Mwo? Ya! Aku ini wakil ketua OSIS, aku harus memeriksa pekerjaan anggotaku terlebih dahulu di pagi hari. Dan lihatlah, 10 menit lagi bel akan berbunyi aku tak akan sempat melakukan rutinitasku. Ini salahmu!” Sengit Taeyeon kesal.

“Ah jeongmal? Apa kau tahu? Aku merasa sangat mual sekarang. Dan ini karena menu sarapan yang sebetulnya lebih tepat disebut sampah yang kau buat tadi. Ini salahmu, bagaimana? kita impas ‘kan?” Ujar Luhan santai lalu berjalan meninggalkan Taeyeon menuju lobi.

Taeyeon mendengus kesal. “Pria itu… Ya Tuhan, kumohon berikan aku kesempatan untuk membunuhnya” gumam Taeyeon geram lalu menarik nafas panjang. Baru saja Taeyeon ingin melangkahkan kakinya untuk mengekori Luhan, tapi sebuah panggilan lebih dulu membatalkan geraknya.

“Taeyeon-ah”

Seketika Taeyeon membalikkan badannya untuk menatap sumber suara tersebut. Gadis itu tersenyum lebar ketika melihat siapa orang itu.

“Seongyeol-ah! Selamat pagi!” sapa Taeyeon dengan semangat. ia tersenyum lebar pada teman sekaligus ketua OSIS di SM High School yang bernama lengkap Lee Sungyeol itu.

“Ada apa Yeol-ah?” Tanya Taeyeon

Pria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu tersenyum tipis.

“Ada hal penting yang harus kusampaikan padamu” ungkap Sungyeol. Taeyeon hanya tersenyum dengan sedikit menaikkan alisnya.

“Kau tentu ingat dengan tanggal ulang tahun sekolah kita ‘kan?” Tanya Sungyeol. Taeyeon menganggukkan kepalanya cepat.

“Iya, itu pada bulan Februari. Astaga!!” pekik Taeyeon terkejut. “Sungyeol-ah, apa yang harus kita lakukan?” cemas Taeyeon.

“Pihak sekolah sedang menge-test ketelitian kita Taeyeon-ah. Mereka bahkan tidak meminta kita mencetak pamphlet seperti tahun – tahun sebelumnya. Lagipula siapa yang akan mengingat hari ulang tahun sekolah? Aku bahkan tidak mengingat hari ulang tahun adikku” ungkap Sungyeol lalu menghela nafas.

Taeyeon terkekeh sebentar lalu kembali memasang wajah serius.

“Apa yang harus kita lakukan? SM Party memang pasti akan dilaksanakan, tapi bagaimana dengan persiapannya? Kita harus mengadakan rapat secepatnya Yeol-ah” sungut Taeyeon

“Ne, aku juga sudah memikirkan itu. Tolong sampaikan pada yang lain Taeyeon-ah, sebagian sudah tahu karena aku mengontak mereka semalam. Maaf aku tidak memberimu kabar karena akun SNS ku disabled” ujar Seongyeol. Taeyeon mengangguk paham.

Seongyeol mengeluarkan tumpukan kertas dari dalam tasnya dan menyodorkannya pada Taeyeon.

“Ini, bagikan pada teman sekelasmu Taeyeon-ah”

Taeyeon mengangguk kembali. “Kau bekerja sangat cepat Lee Seongyeol” kagum Taeyeon saat menerima tumpukan kertas yang merupakan pamphlet SM’s Birthday mendatang.

“Baiklah kalau begitu mari kita pergi ke kelas, sebentar lagi bel berbunyi” ajak Seongyeol yang dibalas senyuman oleh Taeyeon

Flashback OFF

Taeyeon memasuki kelasnya yang sudah sangat ramai, ia berdiri di depan kelas dan dengan kuat memukul meja guru dengan penghapus papan tulis sehingga seisi kelas yang tengah ribut seketika diam memperhatikan Taeyeon.

“Waegeure?~” Tanya Suho yang sedari tadi sibuk menjahili murid perempuan.

“Teman – teman aku minta waktu kalian sebentar, karena Saem akan datang tak lama lagi, jadi aku akan menjelaskannya dengan cepat” Jelas Taeyeon.

“Sebentar lagi sekolah kita akan berulang tahun. Kalian tentu tahu tradisi yang selalu kita selenggarakan tiap tahunnya. Mungkin akan sedikit membosankan untuk para murid kelas 3, tapi mari kita ramaikan acara ulang tahun sekolah kita ini dengan ikut berpastisipasi dalam setiap bagian dari acaranya. Dengan begini kita dapat meninggalkan kenangan terakhir yang indah bersama sama” Terang Taeyeon yang langsung dapat sorakan gemuruh dari para murid.

“Ya! Siapa bilang itu membosankan? Kita harus me-refreshingkan otak kita dari jam tambahan persiapan ujian akhir! Guys, ayo kelas kita harus ikut serta. Tak ada alasan apapun, kalian semua harus ikut arraseo?! Ya ya ya Kris! Ayo kita persiapkan penampilan grup kita! Aigoo ini pasti akan sangat menyenangkan!” seru Suho dengan wajah berbinar – binar.

“Ya! Diamlah Kim Joonmyeon!!!” Seru Tiffany sambil menarik kuping Suho sehingga pria itu kembali terduduk di kursinya sambil mengaduh kesakitan.

“Jangan karena kau menjabat sebagai ketua kelas kau bisa memaksa seisi kelas. And what the freaking fuck! Kami akan menang melawan kalian, lihat saja nanti” ujar Tiffany angkuh.

Taeyeon yang melihatnya hanya menghela nafas. Ia membagikan kertas kertas itu pada barisan meja depan dan selanjutnya mereka membaginya kebelakang dan begitu seterusnya. Dan ketika baru saja Taeyeon duduk di kursinya, saat itu juga guru pelajaran etika datang, Guru Oh.

Wanna Be Yours

Bel berbunyi menandakan pergantian jam pelajaran selanjutnya. Guru Oh memberikan -salam dan pergi dari kelas. Para murid pun bergegas pergi ke ruang ganti untuk bersiap – siap memasuki jam olahraga.

` “Yeay! Hari ini pelajaran olahraga Taeyeon-ah!” Seru Tiffany girang sembari mengeluarkan tas pink kecil yang berisi seragam olahraga dari lokernya.

“Kenapa kau sangat menyukai pelajaran olahraga? Aku justru membencinya” gumam Taeyeon. Gadis itu baru memainkan handphone-nya sejenak sebelum Luhan membalik tubuhnya dan bersuara.

“Olahraga itu sangat bagus untuk pertumbuhan tulang yang baik” ujar Luhan. Nada suara pria itu terdengar biasa saja sebetulnya, tapi bagi Taeyeon, Luhan memiliki maksud tersendiri pada kalimatnya itu.

Taeyeon meletakkan handphone nya, berdeham, dan kemudian menatap Luhan dengan pandangan datar.

“Tanpa mengurangi rasa hormat Tuan Xi Luhan, tapi cobalah untuk berkaca walau hanya sebentar. Mungkin akan lebih baik untuk masa depan dan kesehatanmu” ungkap Taeyeon penuh dengan nada sinis yang tajam.

“Apa kau mencoba memulai lagi?” Tanya Luhan geram.

“Hanya perasaanmu saja” Ujar Taeyeon santai namun penuh penekanan.

“Ahh, aku pasti sudah membuat begitu banyak kesalahan sehingga dihukum dengan bertemu setan kecil sepertimu”

“M-mwo? Setan kecil???”

“Hmm. Kenapa? Apa pujianku mengena di hatimu? Maafkan aku, aku memang sangat romantis”

“YA! XI LUHAN!”

“HEOL!” Seru Tiffany.

“KALIAN ROMANTIS SEKALI!” Pekik Tiffany luar biasa heboh. Untungnya para

murid sudah tidak berada di kelas lagi. Hanya tersisa Taeyeon, Tiffany, Luhan dan Kris.

“Apa kalian sudah berbaikan?, ohh so sweet!”

Taeyeon merotasikan matanya sedangkan Luhan mendengus.

Kris yang melihat mereka hanya tersenyum tipis. Ia merasa bahagia dan sedikit cemburu di saat yang bersamaan. Ia berdiri dan menarik lengan Luhan untuk mengikutinya.

“Kajja! Kita bisa diberi hukuman jika terlambat”

Wanna Be Yours

“Bukankah sudahk kuperingatkan jangan pernah terlambat saat jam pelajaranku? Apa karena pelajaranku ini tidak akan dicatumkan dalam ujian akhir nanti jadi kalian bisa semena – mena kepadaku? Kalian ini sungguh tidak mencerminkan sosok siswa yang teladan!” Seru Jang Saem yang mengajar mata pelajaran olahraga. Taeyeon, Tiffany, Luhan dan Kris berdiri sedikit lebih maju dari barisan murid lain.

“Dan kau Kim Taeyeon, bukankah kau wakil ketua OSIS? Kenapa kau bertingkah seperti ini?! Aiss, kau membuatku malu saja” serunya lagi. Luhan menoleh kesamping mendapati Taeyeon yang hanya menunduk, pria itu mengernyitkan dahinya tidak setuju.

“Jang KiHan Seongsaengnim, apa anda tidak terlalu berlebihan? Kami hanya terlambat sebentar” ungkap Luhan. Ia merasa tak nyaman saat orang selain dirinya merendahkan Taeyeon.

“Apa? Hanya terlambat sebentar? Apa menurutmu 10 menit itu hanya sebentar?!” Seru pria paruh baya itu. Luhan merotasikan matanya geram.

“KALIAN BEREMPAT! LARI KELILING LAPANGAN 10 KALI!”

…….

“Hosh.. Hosh… guru gila itu! Aku benar benar sudah muak! Hoshh.. Hoshh” Geram Tiffany.

“Aku bisa mendengarmu Miss Hwang. 2 putaran lagi dan kau bisa istirahat” ujar Jang Saem. Entah kenapa tapi ia merasa begitu senang dengan tontonan di depannya sekarang ini. Merasa bahagia saat orang lain susah, Jang Saem memang tipe orang seperti itu. Tiffany mendengus kesal dan mempercepat larinya.

“Kris dan Luhan kalian tinggal 1 putaran lagi. Taeyeon-ssi, kau sepertinya tidak begitu semangat hari ini, 5 putaran lagi kau baru bisa istirahat”

Taeyeon hanya diam dan terus mencoba berlari. Sebetulnya semenjak pagi tadi ia sudah menyadari ada yang salah dengan perutnya, dan sekarang Taeyeon semakin yakin dengan hal itu. Perutnya sangat sakit, ia bahkan sedikit sulit bernafas. Dengan segenap tenaga, ia berusaha untuk terus berlari.

Luhan yang sedang berlari untuk menyelesaikan 1 putarannya lagi dan sedang bertemu di jalur yang sama dengan Taeyeon merasa bingung saat melihat tingkah gadis itu yang aneh. Ia memperlambat lajuannya, berusaha menyejajarkan dirinya dengan Taeyeon.

“Ya, gwaenchana?” tanya Luhan. Taeyeon mengangguk singkat mengiyakan.

“Kau nampak sangat pucat. Berhenti saja, aku akan beri tahu Saem” ujarnya mulai cemas saat melihat Taeyeon yang menggigit bibirnya dan keringat deras yang mencucur deras di keningnya.

“Aku tidak apa – apa, bodoh. Kenapa kau begitu kawatir? Apa gadis itu sosok yang lemah? Aku ini sangat kuat, jelas aku bukan ‘duplikat’ nya”

Luhan mendengus. “Dasar keras kepala!”. Pria itu menarik tangan kiri Taeyeon dan meletakkannya di samping pinggang kirinya.

“Ikuti langkahku, tidak usah terburu – buru. Jika kau sudah tidak tahan lagi, bilang saja langsung” ujar Luhan mantap. Setelah itu Luhan berlari, dengan Taeyeon yang berlari ringan disampingnya.

Taeyeon tidak begitu merasa kesusahan karena tangannya yang berada di tubuh Luhan membuat dirinya sedikit melayang dan mempermudah larinya. Dan Luhan… Luhan? Pria itu harus mengulang larinya lagi untuk menemani Taeyeon. Dari 10 putaran, ia justru berlari sebanyak 15 putaran.

Tapi anehnya, ia sama sekali tidak merasa lelah. Genggaman tangan mungil Taeyeon di pinggangnya justru seakan memberikannya kekuatan untuk berlari 100 putaran saat itu dan membuat senyum tulus yang entah sejak kapan tidak pernah ditampilkannya kini terukir dengan manis di wajah pria bermarga Xi itu.

Wanna Be Yours

Taeyeon, Tiffany, Luhan dan Kris sudah kembali dari lapangan sepak bola. Mereka kembali masuk ke barisan murid kelas yang sedang mengantri untuk mendribble bola basket. Taeyeon menarik nafas panjang, ia sangat lelah. Gadis itu mengusap perutnya yang terasa sangat sakit. Bukannya berkurang, rasa nyeri itu semakin lama semakin menjadi – jadi. Taeyeon berjalan meninggalkan barisan mendekati Jang Saem.

“Saem, bisakah aku duduk di sana? aku meriang” ujar Taeyeon.

“Baiklah, hati – hati”

Taeyeon membungkukkan tubuhnya lalu berjalan menuju kursi kursi batu di taman dekat lapangan basket.

“Taeng-ah! Apa kau baik – baik saja?” tanya Tiffany cemas, ia berlari mendekati Taeyeon

“Hmm, nan gwaenchana. Kau kembali saja Fany-ah, saat istirahat temui aku di sana okay?” ujar Taeyeon memaksakan tersenyum. Tiffany mempoutkan bibirnya.

“Arraseo”

Luhan terus mengamati Taeyeon hingga gadis itu duduk di sana. Pria itu mengeram kesal menatap Jang Saem.

Ini semua karenamu monster tua!”

“Tiffany” panggil Luhan sedikit berbisik. Tiffany berbalik dan memajukan dagunya seolah menjawab ‘ada apa’.

“Em.. itu.. bisakah saat istirahat nanti…”

Tiffany mengerutkan keningnya sebentar lalu lambat laun gadis itu tersenyum lebar, menunjukkan eyesmile nya yang sangat cantik.

“Ah! Aku mengerti! Silahkan saja” ujar Tiffany sambil senyum senyum semacam tak karuan. Luhan tersenyum puas, “Gomapta, tapi ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku hanya..” ujar Luhan terpotong.

Tiffany – menepuk pundak Luhan kuat. “Himnae!”

Luhan tersenyum tipis, merasa sangat bersyukur karena Tiffany ternyata sosok yang sangat peka, sehingga ia tak perlu sulit – sulit merangkai kalimat untuk mengatakannya. Ia menoleh kembali ke arah Taeyeon yang masih nampak kesakitan. Senyumnya pudar dan raut wajah cemas lah yang tampak. Ia sebetulnya merasa kesal dan bingung mendapati dirinya yang uring – uringan seperti ini hanya karena seorang Kim Taeyeon. Ia bahkan tidak pernah merasa dirinya mengalami situasi ‘berbahaya’ seperti sekarang ini. Tapi… ‘bahaya’ seperti ini… tidak buruk juga bukan?, pikir Luhan.

Wanna Be Yours

Jam istirahat. Para murid kelas XII-A berbondong bondong pergi dari lapangan untuk ke kantin, ada juga beberapa dari mereka yang memilih untuk berganti baju terlebih dahulu.

“Apa Taeyeon sudah baik – baik saja?” tanya Kris kepada Tiffany.

“Aku pergi dulu” ujar Luhan cepat dan segera berlari ke arah taman, dimana Taeyeon berada. Kris yang hendak mengikuti Luhan segera ditahan oleh Tiffany.

“Biarkan dia saja” ujar Tiffany pelan.

Kris hanya diam, ia menatap kepergian Luhan dengan wajah datar. Ia berbalik dan pergi dari sana diikuti Tiffany yang ikut berjalan di sampingnya.

“Kau cemburu?”

Kris mengehela nafas. “Naega wae?”

Tiffany hanya tersenyum tipis, ia membiarkan Kris berjalan sendiri. Ia berpikir, setidaknya dirinya yang terkenal dengan ke-easygoing-an dan kekonyolannya itu ternyata lebih peka dari seorang Kim Taeyeon yang terkenal dengan kecerdasannya itu.

“Kim Taeyeon pabbo, bisakah kau sekali saja peka dengan orang disekelilingmu?”

Tiffany mengambil handphone dari tas pink kecilnya, ia sangat terkejut ketika membuka pesan pada benda tipis itu.

From: Bunny

Hey, aku sudah sangat tidak tahan ingin bertemu denganmu.

Ada begitu banyak hal yang ingin kuceritakan ^^

Wanna Be Yours

Taeyeon mengusap perutnya yang sangat sakit, ia mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan untuk meredakan rasa sakitnya. Taeyeon berdiri dari duduknya untuk merapikan bajunya yang sedikit kusut, setelah ia merapikannya dan hendak duduk kembali, niatnya batal akibat suatu pemandangan ‘asing’ yang seharusnya tidak berada disana, di kursi batu itu.

“D-darah?”

“Hey pendek!”

Taeyeon yang mendengar suara teriakan dari jauh langsung duduk kembali, menutupi ‘hal’ itu.

“Ini” ujar Luhan sambil menyodorkan sebotol air mineral. Taeyeon memperhatikan Luhan dengan saksama, Luhan yang merasa dicurigai pun langsung membuang nafasnya kasar. Hal ini terjadi lagi, sepertinya Taeyeon memang tidak akan pernah mempercayainya.

“Ya! Aku tidak memasukkan apapun ke dalam ini” sungutnya, dengan sigap Luhan membuka tutup botol itu dan meminum sedikit air di dalamnya lalu menyodorkannya kembali kepada Taeyeon.

“Itu bekas mulutmu”

Luhan meremas botol air mineral itu geram. “Aiss! Yasudah!” sungut Luhan kesal, pria itu meletakkan pantatnya di kursi batu disamping Taeyeon.

Gadis itu tertawa di dalam hati, jika dipikir – pikir ternyata Xi Luhan itu sosok pria yang lumayan manis. Ia menggeleng – gelengkan kepalanya cepat saat pikiran aneh itu mendatanginya.

“Sini” ujar Taeyeon, ia meminum air itu dan memberikan sisanya kepada Luhan. Luhan yang memperhatikan Taeyeon tak dapat menahan munculnya semburat merah di wajahnya.

“Bukankah barusan kami telah berciuman secara tak langsung” batinnya

“Akhhhh” rintih Taeyeon kesatikan menghentikan pemikiran Luhan yang entah sejak kapan telah menjadi liar.

“Kenapa? Ada apa? Dimana yang sakit?” Tanya Luhan layaknya seorang ibu. Taeyeon menggeleng pelan dengan wajah yang sudah semerah buah tomat. Ia tidak bisa memikirkan bagaimana jika Luhan sampai tahu jika ia mengalami hal memalukan seperti ini.

“Jangan bercanda! Kau terlihat sangat kesakitan, apa perutmu yang sakit?” tanya Luhan semakin cemas. Taeyeon hanya mengangguk.

“Kita harus segera ke UKS” ajak Luhan sambil mencoba menarik tangan Taeyeon, tapi dengan sigap gadis itu menghempaskan tangan Luhan.

“Aku tidak mau. Pergilah!” tolak Taeyeon.

Luhan mengernyitkan dahinya, “Ada apa denganmu? Bagaimana jika kau sampai pingsan disini?” Tanya Luhan dengan sorot mata yang menunjukkan jika sekarang ia benar – benar sedang serius.

Melihat Taeyeon yang hanya diam menunduk, Luhan kembali mencoba menarik pelan tangan Taeyeon untuk membantunya berdiri namun kali ini Taeyeon melepas pelan tangan Luhan darinya, membuat Luhan diam 1000 bahasa.

“Sudahlah, kau pergi saja.” Gadis itu bergumam pelan. Luhan membuang nafas pelan, ia berjongkok tepat di depan Taeyeon.

“Sebenarnya kau kenapa? Katakan saja padaku” Ujar Luhan lembut. Taeyeon mengangkat kepalanya yang mendunduk untuk menatap Luhan lalu kembali menunduk ketika ia mendapati Luhan yang sedang menatapnya dengan intens.

“… A-aku… s-s-sebetulnya..”

“Kau sebetulnya apa?”

“D-darah…”

Luhan semakin bertambah bingung. “Kau sebetulnya darah? Apa maksudmu?”

Taeyeon memejamkan matanya singkat lalu membukanya kembali. Ia berani bersumpah jika ia sekarang sangat malu. Mungkin jika itu adalah Kris, ia tak akan semalu ini. Tapi mengingat yang sekarang tengah berdiri di depannya ini ialah Xi Luhan, maka ceritanya akan lain.

“A-aku berdarah..”

“B-berdarah? Kau terluka? Di bagian mana?” tanya Luhan beruntun.

“B-bukan, aku b-berdarah. A-aku.. ini perempuan, apa kau tidak mengerti?” Ujar Taeyeon.

Kali ini Taeyeon benar – benar ingin membunuh dirinya sendiri karena terlewat malu. Ekspresi Luhan yang hanya diam justru membuatnya semakin risih dan malu.

“Tunggu saja, dalam hitungan ketiga, dia pasti akan menertawakanku.

“satu..”

“dua…”

“tiga!”

“Ah, begitu” ujar Luhan santai. Taeyeon yang sedari tadi menunduk seketika menatap lurus mata Luhan didepannya.

“N-ne?”

“Kau ini, kenapa tidak bilang dari tadi hmm? Akan mudah jika kau langsung memberitahuku” ungkap Luhan sembari membuka jaket olahraga yang dikenakannya.

“Berdirilah”

Taeyeon menggeleng dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus. Luhan menghela nafas. “Apa kau akan terus duduk disitu hingga besok? Berdirilah” perintah Luhan. Taeyeon yang merasa tak ada pilihan lain akhirnya berdiri.

Dan Luhan tanpa disangka – sangka, dengan sangat gentle-nya mengikatkan jaketnya tersebut di pinggang Taeyeon. Gerakannya membuat gadis yang sedang dalam masa periode itu terkejut bukan main. Dan tiba tiba saja, air mata Taeyeon menetes. Entah mengapa cairan itu bisa mengalir ketika empunya saja tidak tahu alasannya. Taeyeon menundukkan kepalanya dalam – dalam menghindari tatapan Luhan.

Luhan tersenyum. “Kau ini benar – benar manis ya” ungkapnya sembari mengacak pelan rambut Taeyeon. Gadis itu menjauhkan kepalanya dari tangan Luhan,

“Bodoh! Ini sangat memalukan!” serunya.

Luhan hanya terkekeh geli melihat tingkah Taeyeon lalu dengan sigap pria itu berbalik dan berjongkok, tangannya ia siapkan di belakang seolah meminta Taeyeon untuk segera naik ke atas gendongannya.

“Naiklah, dasar cengeng”

Dan yang menjadi hal pertama kali Taeyeon rasakan ialah, rasa yang cukup aneh untuk dikatakan. Mengingat mereka yang baru saling mengenal beberapa hari belakangan ini. Adalah rasa familiar. Rasa yang tidak seharusnya Taeyeon rasakan saat ini.

Wanna Be Yours

“Ini kejadian yang normal terjadi pada semua wanita. Rasa sakit yang berlebihan di perutnya itu karena selain sedang dalam masa suburnya, maag yang dideritanya juga tengah kambuh. Jika terlambat sedikit saja, ia bisa saja pingsan” terang Choi Saem, guru biologi juga guru yang bertugas di unit kesehatan sekolah.

“Ah begitu, pantas saja” ujar Luhan sambil menggaruk tengkuknya.

“Mengenai itu, apa kalian berdua sedang menjalin hubungan?” tanya Choi saem dengan wajah penasaran.

Luhan membelalakkan matanya lalu menggeleng kuat.

“Tidak saem! Aku membantunya karena dia adalah teman sekelasku” bela Luhan tidak terima.

Choi saem hanya tersenyum lalu menepuk pundak Luhan.

“Himnae, asal kau tahu saja, Taeyeon memiliki banyak penggemar” ujar Choi Saem sambil mengedipkan mata kirinya lalu bergegas pergi sembari melambaikan tangannya. Luhan melongo tidak mengerti.

“Apa-apaan guru itu?” sungut nya sambil menggelengkan kepala lalu membuka tirai disampingnya yang menutupi ranjang Taeyeon berada.

“Hey” panggil Luhan sambil mendekat dan duduk disamping ranjang Taeyeon sesaat ia melihat gadis itu tengah berbaring sembari mengusap perutnya.

“Kejadian hari ini, aku berterima kasih padamu” ungkapn Taeyeon tanpa menatap mata Luhan. Gadis itu berbicara dengan memandang tirai berwarna orange di depannya.

Luhan terdiam untuk beberapa saat memikirkan ucapan Taeyeon. Ia merasa ‘lumayan’ tidak puas dengan sikap Taeyeon saat ini. Bukan ucapan terima kasih yang ia inginkan, ia ingin Taeyeon yang seperti biasa. Gadis menyebalkan yang memiliki mulut tajam. Luhan merasa tidak puas, ia seolah ingin dan terus ingin membuat Taeyeon memekik frustasi dan mendengus kesal karena tindakannya.

“Mwo?” Tanya Luhan

Taeyeon tetap memilih untuk tidak menatap Luhan,

“Terima kasih, yang tadi itu sangat memalukan. Aku tidak bisa membayangkan jika kau tidak membantuku”

“Heol, jangan salah paham. Aku hanya tidak bisa diam saja melihat perempuan yang sedang terluka. Aku baru tahu jika darah yang kau maksud adalah darah dari bagian yang itu” ujar Luhan, pria itu tertawa di akhir kalimatnya.

Bukannya langsung mengatakan Luhan ‘nappeun’ seperti biasanya, Taeyeon justru hanya diam dan tetap berfokus pada tirai di depannya.

Luhan menatap sepasang mata Taeyeon dengan intens. Mereka terdiam tanpa alasan yang tak jelas. Bukan semacam suasana yang canggung, tapi seperti perasaan ‘hampa’ lebih mendominasi keduanya. Jika situasi mendukung, Luhan benar – benar ingin berteriak jika dirinya tidak menyukai percakapan yang tidak seperti biasanya ini, dia tidak menyukai suasana aneh seperti ini, dan dia juga tidak menyukai sikap dingin Taeyeon yang tidak seperti biasanya.

“Taeyeon-ah” panggil Luhan dengan suara pelan.

Gadis itu membalas dengan memajukan sedikit dagunya.

“Hey Kim Taeyeon” panggil Luhan kali ini dengan nada suara yang lebih tinggi.

“Wae?” tanya Taeyeon – tetap – tidak menatap Luhan

“Ya!!!” seru Luhan kuat

“Aisss waeyo?!!!” Balas Taeyeon yang mulai tersulut emosi, gadis itu menolehkan kepalanya ke kanan untuk melihat Luhan, dan saat itu juga Luhan mendekatkan wajahnya dengan pelan tepat ke depan wajah Taeyeon sehingga jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa inci.

Taeyeon membulatkan matanya terkejut sementara Luhan membalasnya dengan senyum polos miliknya.

“Lain kali ketika berbicara lihatlah mata lawan bicaramu. Dasar bodoh, entah aku sudah salah paham atau tidak denganmu.”

“Aiss! Apa kau sebodoh itu? Aku sangat malu sekarang ini! dasar bodoh!!”

Luhan tertawa sejenak.

“Karena hal tadi? Sudahlah itu bukan hal yang memalukan. Lagi pula bagaimana bisa kau melupakan tanggal yang setiap bulan selalu mendatangimu?” Luhan tersenyum tipis, membuat Taeyeon langsung mengalihkan wajahnya agar Luhan tidak melihat semburat merah di wajahnya.

“Entahlah, aku mungkin bisa mati karena menahan malu di depanmu” Sungut Taeyeon sambil mengerucutkan bibirnya yang langsung dibalas dengan tawa Luhan yang menggema ke seluruh ruangan UKS.

“Aiss, berhentilah menertawakanku!” Geram Taeyeon sembari mencoba memukul Luhan.

“Arraseo arraso.. aku juga tidak mau mati karena kau terkam di sini” ujar Luhan diselingi dengan tawa renyah.

Taeyeon mengembungkan pipinya kesal. Luhan yang melihatnya hanya tersenyum senyum sendiri.

“Apa perutmu masih sakit?” Tanya Luhan

Taeyeon mempoutkan bibirnya lucu, “Tentu saja”

Luhan yang melihatnya langsung terkekeh geli.

“Kau belum makan dari tadi pagi, bagaimana kalau kita ke cafetaria sekarang?” usul Luhan. Taeyeon menggelengkan kepalanya pelan.

“Aku tidak nafsu untuk makan sekarang. Lagi pula jika sedang kambuh seperti ini, makanan yang masuk ke perutku hanya membuat sakit perutku semakin parah” ungkap Taeyeon dengan wajah lesu.

“Tapi obat yang kau minum menganjurkan untuk segera mengisi perut setelah 30 menit diminum” terang Luhan. Taeyeon kembali menggeleng.

“Tidak mau. Kalau kau ingin makan pergi saja sendiri”

Luhan mengerutkan keningnya, pria itu mulai kesal.

“Obat yang tidak diiringi dengan makanan tidak akan bekerja dengan baik ditubuhmu. Ketika perutmu kosong, selain menyembuhkan, obat justru dapat membuat tubuhmu semakin lemah karena obat dan tubuhmu sedang bekerja sama untuk memperbaiki yang rusak di dalam sana. Jangan pernah menganggap remeh sekecil apapun penyakit yang kau derita, karena hal sepele lah yang sebenarnya sangatlah penting”

Taeyeon terkesima. Untuk sesaat ia merasa tersanjung akan rasa cemas yang ditunjukkan Luhan, meski ia tidak begitu terkejut lagi mengingat Luhan merupakan pria yang sangat ekspresif. Tapi, apa Luhan tidak terlalu berlebihan dengannya?

“Kau tahu? Aku seperti sedang berkonsultasi dengan dokter.”

Luhan hanya diam, seolah ia tahu jika gadis itu akan melanjutkan kalimatnya.

“Kau berubah sejak kita pertama kali bertemu. Kenapa kau menjadi mengkhawatirkan-ku? Apakah itu hanya manner? atau kau memang mencemaskanku? Kenapa? Apa karena aku adalah ‘duplikat’-nya? Si kesempatan kedua yang tidak akan kau sia-siakan lagi”

To Be Continued.

©Unicorn

Advertisements

53 comments on “[FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 6)

  1. Kyaa manis banget si Luhan.. Oh ya, perkenalkan thor aku reader baru hehe:)
    Walaupun belum baca dari pertama tapi suka banget^_^
    Semangat thor untuk ff selanjutnya fighting!!!
    (Jangan lama-lama chap selanjutnya ya):*

  2. OMG ini ff setelah sekian abad baru muncul lagii…. heol 😫
    kyaaaa ya ampyunnn betapa kangen nya diriku pengen baca ff inii… author kemana aja sihh kok baru nongol … saya nungguinnya seperti lumut yang berjamur *wow 😁😒😲
    ikhhh si tom n jerry read taengxLu nya sekarang udh rada2 akuur uhhh so sweet kekeke
    duhh luhan jealousnya udah naik level ye…
    tapi kris juga ikut jealous … coz moment taengxLu full pisan disini 😍😍😍
    lanjut lanjut donk jeballyoooo

  3. AAAAAAAAAAAAAkhrirnya dilanjutt jugaa

    Lutae makin sweet aja , butuh cast tambahan ga thor😂😂 kalo butuh gue aja ga papa dari pada Kris dianggurin Taeng gitu 😂😂😂😂

    Lanjut nya jangan lama lama thor fighting

  4. please lutae jadian kris jgn sendirian 😫

    btw ini udah lma bget sjak terakhir update.. smoga next chapter lbih cepet and thanks ya thor ini puanjangggg bgt
    fighting!~

  5. Waw waw, moment yg sangat romantis aned thorr..
    Sweet ah ada gula”nya :v
    next, sangat” ditunggu..
    Fighting..

  6. Duhhh…. kenapa pendek bgt ya?? Pdhl udah lama nunggu trs lagi seru2nya baca trnyata udah TBC aja
    Luhan makin kode nih ke Taeyeon . Kenapa Taeyeon ga peka? Apa dia marah di sebut ‘duplikat’ ????
    ayolaahhh jangan update lama2 thoorrrr~
    ditunggu loh lanjutannya
    semoga lebih panjang dan LuTae Momentnya di banyakin yaaa

  7. wahhhhh, akhirnya diupdate juga.
    aaaaa, qeren ceritanyaaa
    kalo bisa dipanjangin lagi next chapternyaa.heehe
    fighting

  8. Wah akhiirnya update juga nih ff….
    Tambah penasaran nih, apalagi luhan bilang kalau taeyeon gadia duplikat yg disukainya. Benaran taeyeon nih?
    Next ya thor ditunggu lanjutannya….

    Fighting

  9. asli conversation antara lutae lucu ahaha gemesin banget pas mereka sering adu argumen tapi disisi lain juga kelatan sweet and romantic. sebenernya taeyeon emang anak dari masa lalu luhan apa gimana? penasaran. next chap ditunggu 🙂

  10. wohooo sampe lupa chap 5 nya thor,, itu sebenernya maksud luhan apa?? kenapa taeng dibilang duplikat gadisnya?? nggak pahamm. next

  11. Waaaahhh,akhirnyaa dinext juga setelah sekian lama.
    Cinta pertama luhan? Knpa luhan ngomong gitu ketaeyeon? Semoga aja taeyeon gak tersinggung sama perkataan luhan.
    Apa kris masih ada perasaan sma taeyeon? Apa dia rela ngelepas taeyeon buat luhan?
    Ciiee yg makin deket aja,hhmmm. Jgn sampe ada yg ngerusak hubungan taeyeon luhan dehh.
    Next chp ditunggu^^

  12. akhitnya diupdate juga udh lama sejak terakhit baca ff ini,. semakin seru n menarik ceritanya buat moment lutaenya makin di banyakin ya athor,. next chaptnya please updatesoon

  13. Daebak
    Makin seruuuuuuu
    Walaupun lama bgt update nya, nevermind yg penting dilanjut dan semngat authornim, semngat semngat
    Suka bgt dgn karakter luhan, suka, suka
    PPerhatian bgt, so sweetttttt
    Aaaaaaaaaa, suka luhan. Tp, kasian sama kris.
    Update soon ya, FIGHTING, FIGHTING

  14. setelah sekian lama nunggu akhnya update jg…
    moment lutaenya sweet bgd..
    dtggu next chaonya…
    fightaeng!!!!

  15. Aaaaaaa uda lama bangettttt skrg baru update thorr😂😂😂😂
    Untung masih inget ceritanya😂😂😂
    So sweet bgt luhannn😭
    Kris kasian😂
    Great laaaah, ngakak pas bagian bocor/?😂😂😂
    Next ditunggu bgt ya thorrrrrr♥♥♥♥

  16. Author dari mana ajaa? Aku kangen.. Makin seru aja nihh, haha tingkah taeyeon konyol :v
    next ya thor, jangan lama lama thor. Semangat!!

  17. Yee akhirnya setelah lama nunggu ada lanjutanya, tapi sayang kependekan thor, namun kata daebak nggak ketinggalan thor
    Next chapter ditunggu thor
    Fighting

  18. Kaya nya Taeyeon emang bagian dri masa lalu nya Luhan deh. Hmm jdi makin penasaran sma kelanjutan nya nih thorr. Aku tunggu next chapter ya thor. Hwaiting !!! 😄😄😄😄

  19. next… kok lma bgt ya..
    chap selanjutny d tunggu… klw bisa jgn lama… ini kan lgi liburan jg 😊😊😊

  20. setelah sekian abad akhirnya update juga-___-maaf author aku rada lupa sama chapter trakhirnya seperti apa. fiuh siapa sih masa lalunya luhan sampek2 taeyeon dibilang itu duplikatnya. ayolah taeyeon luhan kalian itu saling suka wkwkwk *maksa* oke next chapter ditunggu author!! fighting!! request yah kalo bisa mah bkin ff yg cast cowoknya si back dancer taeyeon si kasper hahaha gaktau kenapa jdi nge-ship mereka juga wkwkk

  21. Yaampun yaampun.. Udh lama ini ff ga muncul, eh pas muncul bikin penasaran tingkat dewa… Penasaran sama masa lalunya.. Dan lagi kalo bener masa lalu itu taeyeon, kenapa si taeyeon bisa lupa?!! Huhu penasaran berat aku :((
    Yok thor dilanjut, jan lama” ya hehe.. Semangat!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s