Twinkle [Chap16]

Twinkle

Title : Twinkle
Author : Mellyan
Ranting : T
Length : Multi-Chapter
Genre : Drama, Romance, Social-life
Main Cast : Kim Taeyeon, Byun Baekhyun, Lee Taemin
Support Cast : Other

|Chap1|Chap2|Chapter3|Chap4|Chap5|Chap6|Chap7|Chap8|Chap9|Chap10|Chap11|
|Chap12|Chap13|Chap14|Chap15|

[Remember Me]

Naeun menghampiri Taemin yang sedang tertidur di tempat duduknya, selama perlajaran yang diterangkan dosen tadi Naeun selalu memperhatikan Taemin yang terlihat aneh hari ini biasanya Taemin akan serius memperhatikan pelajaran namun tidak dengan hari ini.

“Chagiya, kau tidak apa-apa?” Naeun membungkukkan badannya sehingga saat Taemin menoleh wajah mereka menjadi sejajar, Taemin tidak menjawab pertanyaan gadis itu ia hanya melemparkan sebuah senyuman manis kemudian menyenderkan keningnya pada lengannya lagi berniat untuk tidur.

“Apa kau sakit?” gadis itu bertanya lagi sambil menghelus-helus rambut Taemin.

Taemin merejap-rejapkan matanya dalam persembunyian lengannya itu, ‘Apa benar gadis yang di sampingku ini adalah Yeojachinguku? Tapi kenapa yang terus ku pikirkan hanya wajah Taeyeon nuna?’ Taemin menegakan tubuhnya dengan cepat membuat Naeun terkejut lalu  Namja itu memiringkan posisi duduknya sehingga menghadap Naeun.

“Kemarilah,” Taemin menuntun Naeun untuk berdiri lebih dekat lagi menghadapnya lalu Taemin melingkarkan tangannya memeluk pinggang Naeun sambil menatap iris kecoklatan gadis itu dalam-dalam.

“Kau kenpa, eum?”

“Tidak apa-apa aku hanya merindukanmu,” jawabnnya sembari menarik tubuh Naeun kedalam pelukannya, Naeun melirik-lirik kesekitar khawatir jika ada yang melihat mereka sedang bermesraan seperti itu karna Naeun adalah tipe gadis yang tidak suka mengumbar kemesraan di depan umum.

“Te-Taemin jangan seperti ini kita masih di dalam kelas.”

“Aku tidak peduli, lagi pula yang lain sudah pulang hanya tinggal kita disini,” Taemin menjawabnya dengan santai, perlahan ia melepaskan pelukaannya lalu menyelipkan rambut Naeun kedaur telinganya agar wajah cantik Naeun dapat terlihat dengan jelas.

Tolong buat aku melupakannya’ Taemin bergumam dalam hati sebelum ia mendaratkan satu kecupan pada bibir cherry gadis itu, Naeun yang awalnya terjekut mulai menikmati posisi mereka saat ini, tidak ada perlawanan dari gadis itu tapi ciuman mereka tidak berlangsung lama Taemin melepaskan kontak mereka lalu ia bersandar pada dada Naeun sambil mendekapnya lagi kali ini dengan sangat erat. Dengan posisi seperti ini Taemin dapat dengan jelas merasakan detak jantung Naeun yang berdetak begitu kencang.

“Omo!”

Naeun sontak mendorong tubuh Taemin agar terlepas dari dekapannya saat mendengar suara yang berasal dari ambang pintu.

Hyung.”

“Maaf aku mengganggu,” Baekhyun yang berdiri di ambang pintu itu terkekeh kecil sambil mengusap-usap tengkuknya, ia merasa tidak enak karna mengganggu dua insan yang sedang bermesraan itu. Baekhyun berjalan mendekat kearah Taemin dan Naeun, Taemin tampak biasa saja berbeda dengan Naeun yang sedang berusaha menyembunyikan wajah merahnya karna menahan malu.

“Lain kali jika kau mau melakukannya cari tempat yang lebih baik,” Baekhyun berbisik di telinga adiknya tapi suara bisikan itu masih dapat sampai ke gendang telinga Naeun yang sedang berdiri di samping mereka.

“Kami tidak melakukan apapun,” Naeun sontak memberikan pembelaan diri dan Baekhyun hanya tertawa kecil karnanya.

“Ada apa Hyung, tumben kau datang ke kelasku?”

“Aku ingin mengajakmu pulang bersama.”

Taemin mengerutkan keningnya, tumben-tumbennya Hyung-nya ini mengajaknya untuk pulang bersama. “Tapi bagaimana dengan mobilku? Lagipula aku akan pulang bersama Naeun.”

“Ah ya aku lupa, kalau begitu Naeun aku saja yang mengantarmu pulang.”

“Ehh?” Naeun yang mendengarnya sontak terkejut.

“Sudahlah nanti akan ku beritahu, aku pinjam gadismu hari ini,” tampa menunggu jawaban dari keduanya, Baekhyun dengan cepat menarik tangan Naeun menuju parkiran sedangkkan Taemin masih tidak bergeming dari tempatnya.
Setengah perjalanan di koridor kampus Baekhyun melepaskan tangan Naeun dan tetap membiarkan mereka jalan beriringan, tepat sebelum melewati kelasnya Baekhyun melihat Soojung yang sedang menunggunya di depan kelas.

“Jangan mengatakan apapun, iyakan saja perkataanku nanti,” Baekhyun berbisik pada Naeun sambil tetap melangkahkan kakinya. Saat mendekati kelasnya Baekhyun dapat melihat dengan jelas pandangan Soojung yang melihatnya bingung.

“Baekhyun ini-”

“Soojung maaf hari ini aku harus menemani Naeun mencari barang-”

Soojung melekatkan pandangannya pada gadis yang di samping Baekhyun dengan cepat iapun memotong pembicaraan Baekhyun. “Siapa gadis ini?” tanyanya dengan nada yang berusaha dihaluskan.

“Dia ini pacar adikku, Taemin. karna hari ini dia tidak bisa menemani Naeun jadi aku yang menggantikannya.”

“Eum,” Naeun mengeluarkan suaranya.

“Baiklah kami duluan, eoh,” Baekhyunpun melangkahkan kakinya diiringi Naeun meninggalkan tempat Soojung berdecak sebal.

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Siapa gadis tadi?” Naeun bertanya saat ia sudah duduk di kursi kemudi di samping Baekhyun yang sedang fokus menyetir.

“Aku tahu pasti dia ingin mengunjungi rumahku hari ini, sebenarnya aku tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini gadis itu mendekatiku tapi aku ingin memberi jarak dengannya agar tidak terjadi kesalahpahaman,” Jawab Baekhyun sambil sesekali menoleh pada Naeun.

“Kalau begitu kau harus dengan tegas menolaknya.”

“Itu tidak mungkin, sebelum dia mengatakan apa tujuannya sebenarnya.”

“Kalau begitu kau yang harus menanyakannya terlebih dahulu.”

Taemin sedang melajukan mobilnya sambil menentukan kemana arah tujuannya sekarang, ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu tapi bukan tentang Hyung-nya yang menarik Naeun begitu saja melainkan Taeyeon, –hubungan apa yang sebenarnya terjadi diantara kami– itulah yang terus ia pikirkan. Taeminpun memutuskan untuk menuju tempat dimana Taeyeon bekerja, ia hanya sebatas memarkirkan mobilnya di pinggir jalanan sebrang bank itu tampa keluar dari mobilnya ia terus menunggu di dalam mobil walau sesungguhnya dia tidak tahu apa yang ia tunggu.

Setelah mengantarkan Naeun, Baekhyun langsung menacap gas melaju pulang menuju kediamannya bagaimanapun juga ia harus melakukan rutinitas kesehariannya yaitu menyelesaikan pekerjaannya. Baekhyun memarkirkan mobil Aston Martin DSB-nya di lahan khusus untuk parkir mobil kediam Byun, saat beberapa langkah memasuki rumah megahnya Baekhyun dapat mendengar samar-samar suara perempuan yang sedang berbincang ria dari arah dapur iapun berusaha mengabaikannya dan terus melangkah menuju tangga.

Oppa!

Baekhyun menghentikan langkahnya saat mendengarkan teriakan adiknya itu, Baekhyun sempat merejapkan matanya kuat hingga kerutan daerah matanyapun timbul sebelum ia membalikan badanya, dan Bingo! Gadis yang sedang di samping adiknya adalah Soojung.

“Kau tidak jadi menemani Yeojachingu adikmu mencari barang?”

“Ah itu, dia mengatakan akan mencari barangnya besok.”

Kau mencoba untuk menghindariku, eoh?” Soojung menyembunyikan umpatan hatinya dengan senyuman manis.

Oppa ayo sini makan bersama,” Seolhyun menarik Baekhyun yang sedari tadi tidak bergeming dari tempatnya, iapun terpaksa harus makan semeja dengan gadis yang sudah susah payah ia hindari tadi.

“Kenapa kau bisa disini?” tanya Baekhyun sambil melahap santapan di depannya.

“Tadi aku yang memaksa Soojung Eonni untuk mampir. Oppa,” Seolhyun dengan cepat menjawab pertanyaan yang sebenarnya terlontar untuk Soojung, Baekhyunpun hanya dapat mengangguk-angguk cuek seolah ia tidak masalah dengan jawaban Seolhyun.

~Twinkle~

Hari meranjak sore, seharusnya saat ini cahaya orange yang terpancar karna Matahari yang hampir menenggelamkan dirinya dapat menghangatkan kota-kota di sekitar Seoul namun karna kabut hitam yang datang membuat langit semakin gelap sebelum waktunya dan anginpun semakin kecang berhembus.

“Sepertinya sebentar lagi akan hujan, aish aku tidak membawa payung hari ini,” Taeyeon bergumam kecil saat melihat cuaca dari balik kaca besar itu dari tempat duduknya. Dugaannya benar tidak berselang lama hujan lebatpun turun padahal hanya tinggal beberapa menit lagi jam pulang bahkan rekan kerja lainnya sudah merapihkan barang-barang mereka.

“Taeyeon-ssi kau tidak pulang?” tanya rekan yang duduk tepat di samping Taeyeon sebelum ia meranjak dari tempat itu.

“Aku tidak membawa payung, jadi mungkin aku akan menunggu hujannya sedikit reda.”

“Ah bagaimana kau ikut denganku aku bisa mengantarkanmu sampai Halte, kurasa hujannya akan berlangsung lama.”

“Trimakasih, tapi aku tidak ingin merepotkanmu lagipula ku rasa payung itu tidak cukup untuk kita berdua kau duluan saja tidak perlu mencemaskanku,” Jawab Taeyeon diiringi senyuman, ia tidak ingin rekannya itu malah ikut basah jika dipaksakan sepayung karna payung yang ia bawa hanya cukup untuk satu orang.

“Sungguh tidak apa kau sendirian menunggu hujan berhenti?”

“Eum, kau tenang saja tidak mungkin ada hantu yang akan menerkamku disini,” Jawab Taeyeon mengundang tawa di antara mereka.

“Kalau begitu aku duluan,” Perempuan itupun melempar senyuman pada Taeyeon sebelum meninggalkan tempat kerjanya.

Tak berselang lama Taeyeon memutuskan untuk menunggu di luar karna pasti sebentar lagi lampu akan dipadamkan dan petugas akan mengunci pintu Bank itu. Di seberang jalan sana Taemin masih setia menunggu iapun memfokuskan pandangannya untuk meyakinkan bahwa gadis yang sedang berdiri di depan pintu Bank itu adalah Taeyeon karna hujan yang sangat deras membuat seluruh pandangan menjadi abu-abu hingga sulit untuk melihatnya.

“Apa dia tidak membawa payung?”

Taemin melajukan mobilnya untuk menjemput Taeyeon.

Drett.. drett..

Taeyeon mengambil Handphone-nya saat merasakan beda itu bergetar tanda panggilan masuk dari seseorang.

Yeoboseyo, Sica-ya?”

Taenggu-ya hujannya deras sekali apa kita mengganti jadwal untuk nonton bersama besok saja?

“Eum, kurasa itu lebih baik.”

Baiklah aku akan memberitahu Sunny terlebih dahulu jika begitu.

Baekhyun mencari handphone-nya ia takut jika gadisnya tidak bisa pulang karna hujan yang deras  ini, tapi saat ia mencoba untuk menghubungi Taeyeon yang terdengar hanya suara operator yang mengatakan nomor yang ia tuju sedang sibuk, Baekhyunpun memutuskan untuk menunggu beberapa saat.

Tak lama setelah memutuskan panggilannya dengan Jessica, sebuah mobil berhenti tepat di depan Taeyeon membuat ia mengerutkan kening karna bingung, Taeminpun menekan tombol di sampingnya agar kaca kursi penumpang di sampingnya terbuka.

Nuna ayo masuk aku akan mengatarmu pulang,” Taemin sedikit menaikan volume suaranya untuk menyaingi suara yang ditimbulkan dari air hujan yang memukul bumi itu.

“Eo- eoh baiklah,” Taeyeonpun membuka pintu mobil dan memasukinya walaupun dia agak ragu namun setelah ia pikir apa salahnya menerima ajakan dari adiknya sendiri lagipula dia sudah mulai bosan menunggu hujan itu berhenti.

Tidak ada suara yang muncul di antara mereka selama perjalanan sampai Handphone Taeyeon kembali bergetar lagi menandakan panggilan masuk dari Baekhyun.

Taeng-ah apa kau masih di tempat kerja? Aku akan menjemputmu sekarang.

“Tidak perlu Baekie, aku sekarang sedang diperjalanan pulang,” jawabnya sambil tersenyum sendiri karna mendengar nada bicara Baekhyun yang terdengar khawatir.

Benar kau bisa pulang sendiri dalam keadaan seperti ini?

“Aku bukan anak kecil lagi, jangan berkata seolah aku ini anak kecil,” Taeyeon memasang mimik seolah ia sedang berpura-pura marah walaupun Baekhyun tentunya tidak dapat melihat itu, namun karna kepolosan itu malah menarik pandangan Taemin yang disampingnya.

“Aku sekarang berada di mobil Taemin ia mengantarkanku pulang,” ucapnya sambil menoleh kearah Taemin, Namja itu terkejut saat mata mereka bertemu sontak Taemin langsung menoleh kembali kejalanan walau sedikit salah tingkah.

Eoh, baiklah kalau begitu kabari aku jika kau sudah sampai.

“Eum,” Taeyeon tersenyum sejenak sebelum mengakhiri panggilan mereka.

Nuna, arahkan jalan rumahmu.”

“Ah maaf aku lupa,” Taeyeon tertawa kaku sebelum ia mengarahi Taemin hingga sampai di rumahnya.

Gomawo Taemin-ah” ucap Taeyeon saat ia sudah benar-benar sampai di depan rumahnya, Taemin mengentikan tangan Taeyeon saat ia hendak membuka pintu Taeyeonpun bingung sekaligus sedikit terkejut dan menatap Taemin dengan tatapan ‘Kenapa?’

“Kau tidak menawarkan ku untuk masuk?”

Taeyeon tertawa kecil, “Baiklah, ayo mampir dulu.”

Merekapun masuk kerumah kecil itu walau harus sedikit berlari dari mobil Taemin hingga ambang pintu utama rumah Taeyeon, agar tidak terlalu basah karna air hujan. Taeyeon menurunkan gagang pintu namun pintu itu terkunci iapun mencari kunci di dalam tasnya.

“Ayo masuk,” ucap Taeyeon saat ia berhasil membuka pintu itu, Taemin sempat terhentak karna lamunannya buyar. Dia merasa tempat ini tidak asing untuknya, Taeminpun mengekori Taeyeon masuk kedalam rumah, baru beberapa langkah ia terhenyak kembali karna perasaan aneh melanda dirinya.

“Sepertinya Appa masih di rumah temannya,” Taeyeon berbicara pada dirinya sendiri.

“Taemin-ah kau tunggu sini aku akan mengambilkan handuk untukmu.”

Taeminpun duduk di sofa ruang tengah itu menunggu Taeyeon, tampa menunggu waktu lama Taeyeon sudah kembali dengan membawakannya handuk kecil Taeminpun menerimanya lalu mengeringkan rambutnya yang sedikit basah.

“Aku buatan teh dulu,” Taeyeon meranjak menuju dapur, sambil menunggu Taeyeon mata Taemin disibukan untuk menelusuri tiap sudut rumah itu satu persatu kenanganpun melintas dalam ingatannya. Taemin mengusap kulit sofa yang sedang ia duduki itu dengan halus bayangan dua anak kecil yang sedang bermain di sofa itupun muncul dalam pikirannya, sekarang kepalanya mulai berdenyut sakit karna bayangan itu.

Taemin beranjak dari tempatnya dan melangkahkan kakinya pelan kesetiap sudut rumah itu, ia mendapati sebuah lemari kayu yang besar tempat di mana saat ia memperebutkan mainan yang membuatnya menabrak lemari itu dan kemudian vas besar yang terjatuh dari atas lemari itu menghantam pundaknya, matanya tertuju pada tangga yang tak jauh dari tempat ia berdiri iapun seolah dapat melihat dengan jelas kejadian seorang gadis kecil terjatuh di tangga itu yang ia yakini adalah Taeyeon.

“Arrgh!” Taemin meremas kuat rambutnya agar mengurangi rasa sakit, Taeyeonpun segera menghampiri Taemin setelah mendengar teriakannya.

“Taemin-ah kau kenapa?”

Namja yang dilontari pertanyaan itu tidak menjawab dan hanya meringis kesakitan, Taeyeon mengambil tindakan dengan membopong tubuh Taemin menuju kamarnya karna kamar Appa-nya pasti terkunci mengingat Appa-nya yang sedang di rumah temannya. Taeyeon membaringkan tubuh Taemin di ranjang lalu ia segera mencari obat sakit kepala di laci kamarnya.

Taemin mengingat pertama kali ia mencium Taeyeon saat nuna-nya terkujur lemah di ranjang itu karna demam tinggi, dari tempat ia berbaring ia menemukan benda yang tak asing untuknya di atas nakas sebelah ranjang yang ia tiduri itu, Taeminpun mengambil kalung yang ia lihat tadi.

Kalung ini adalah pasangan dari yang ‘ku punya,” gumamnya dalam hati.

“Ah! di mana obat itu berada,” Taeyeon berdecak frustasi karna tidak menemukan obat itu, Taeyeon pun memutuskan untuk mencarinya di kotak P3K yang terdapat di lantai dasar. Taemin seakan tidak mendengar suara Taeyeon karna ia sedang terfokus dengan benda yang ada di tangannya itu.

Kalung ini melambangkan ikatan yang tidak dapat hancur.” – “Twin Soul.

Taemin mulai mengingat kalimat itu, Taemin mengambil satu lagi benda yang menarik perhatiaannya, sebuah kotak musik. Ia pun memutar kunci ‘S’ kotak tersebut, saat alunan musik itu memasuki pendengarannya Taemin merasa dirinya seperti sedang bernostalgia.

Taemin lihat bukankah ini lucu? Aku ingin memilikinya, Taemin-ah apa kau ingin memberikannya padaku?” ia teringat saat Taeyeon benar-benar ingin memiliki kotak musik itu, ia teringat saat ia meranjak dewasa teman-teman di kelasnya sedang berkumpul sambil berbincang.

Hey, kau tahu anak baru di kelas sebelah sangat cantik.

Benar, aku sangat iri dengan mereka karna bisa sekelas dengan gadis itu.

Kenapa dia tidak masuk ke kelas ini saja.

Aku rasa akan banyak siswa yang mengutarakan cinta padanya nanti.

Disaat yang lain sedang asik memuja-muja gadis itu Taemin hanya mendengarkan teman-temannya tampa berucap apapun karna ia tidak tertarik sedikitpun dengan gadis itu.

Taemin-ah kau diam saja dari tadi, apa kau tidak tertarik dengan gadis itu?” Seorang gadis yang berada di antara kerumunan itu bertanya dan Taemin hanya menggelengkan kepalanya.

Woah, apa dia bukan tipemu? Lalu tipe gadis yang kau suka seperti apa?

Aku menyukai gadis yang seperti diriku,” Jawabnya enteng.

Hah? Kau ini aneh sekali kalau begitu pacari saja dirimu sendiri,” ucap seseorang di antara mereka sambil tertawa, “Ah atau jangan-jangan gadis yang kau maksud adalah Taeyeon kembaranmu?

Taemin melempari temannya itu dengan sebuah buku yang mengundang tawa di antara teman-temannya.

Jangan sembarang kalau bicara,” elaknya, ia hanya takut jika teman-temannya menyadari perasaanya pada Nuna-nya sendiri.

Ah ya, kalau tidak salah besok Yeojachingu-mu itu ulangtahunkan?” Taemin mendengar kedua teman kelasnya yang sedang mengobrol di luar dari perkumpulan mereka.

Eum, sebenarnya aku bingung hadiah apa yang harus ku berikan.

Hey, kau ini Namja-nya tapi tidak tahu apa yang dia suka. Kau harus mencari tahu apa benda yang sangat ia inginkan sekarang ini pasti dia akan sangat bahagia karna Namja-nya mengetahui keinginnya.

Mendengar percakapan itu membuat Taemin berniat untuk memberi Taeyeon kotak musik yang mereka lihat sewaktu kecil karna ia yakin pasti Taeyeon akan sangat bahagia sesuai dengan ucapan temannya. Beberapa hari menjelang ulangtahun mereka Taemin kembali ke toko tua yang menjual kotak musik tersebut tapi karna barang itu sudah lama tidak terjual jadi pemilik toko itu menyimpannya di gudang, karna terlalu antusias Taemin pun memaksa pemilik toko itu untuk mencarinya bersama walaupun sedikit sulit menemukannya karna barang-barang di gudang itu cukup banyak dan pemilik toko yang berjaga sudah ganti sehingga pemilik toko yang sekarang tidak mengetahui dengan pasti barang yang dimaksudkan Taemin. Mereka terus mencari hingga pada akhirnya Taemin pun menemukannya. Ingatan dalam kepalanya pun mulai beruntun.

Taemin seakan tidak kuat lagi menahan sakit kepalanya, ia membiarkan dirinya jatuh terduduk di lantai kamar Taeyeon ia meringis sambil meremas-remas rambutnya, sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi bahkan sekarang ia mulai menangis.

Nuna. Yeon-na,” Taemin bergumam disela isakannya.

Taeyeon memasuki kamarnya dan terkejut melihat keadaan Taemin ia pun dengan cepat menghampiri Taemin, Taeyeon panik karna tidak menemukan obat, ia berkali-kali mengusap pundak Taemin ketakutan.

Aku benar-benar tidak ingin menjadi adikmu, aku benci dilahirkan sebagai kembaranmu.

Saranghae Nuna.

Kalimat itu terngiang, sekarang ia mengerti jalan kehidupannya yang dulu mengapa Taeyeon yang adalah Nuna-nya bisa menjadi Yeojachingu-nya, ia juga mengingat hari dimana ia hampir meniduri Nuna-nya sendiri dan juga mengingat betapa Eomma-nya marah saat ia mengetahui hubungan mereka ini.

Apa ini alasan Naeun menolak perjodohan kalian?!

“Naeun?” Taemin menyebut nama itu, Taeyeon yang mendengarnya berfikir jika Taemin ingin kehadiran gadis itu disampingnya iapun dengan cepat mencari Handphone-nya dan mengubungi Naeun.

Taemin duduk memeluk lututnya sambil menumpukan kepala pada lututnya, ia teringat posisi ini sama persis seperti saat Eomma mengurungnya di kamar, hingga puncaknya ia teringat saat terakhir kali jalan bersama Taeyeon.

Aku ingin kita mengakhirinya.

Taemin-ah kau tidak tahu apa yang aku takutkan setiap harinya? Aku ingin selalu menjadi Nuna-mu, Taemin-ah aku tidak ingin seperti ini.

Taemin sangat mengingat betapa hatinya hancur, bukan karna ucapan Taeyeon saat itu melainkan karna pertama kalinya ia melihat Taeyeon menangis seperti itu karna dirinya.

Menjadi Yeojachingu-mu adalah masa tersulit dalam hidupku.

Taemin mengingat setelah Taeyeon pergi meninggalkannya ia melihat Seolhyun dan berusaha mengejar gadis yang ia kenal sebagai adiknya saat ini yang berlari sambil menangis, dan terakhir yang ia lihat adalah cahaya terang yang semakin dekat dengannya dan sesuatu menghantamnya dengan keras.

Jika suatu saat kita harus berpisah dan aku tidak bisa merasakan apapun lagi, sejujurnya aku masih ingin merasakan semua ini,” kalimat yang ada dalam benak Taemin sebelum semua menjadi gelap.

~Twinkle~

Taemin merejap-rejapkan matanya, kepalanya sudah tidak sesakit tadi. Pandangan yang pertama ia lihat adalah Naeun yang sedang berbicara dengan Dokter dari cela pintu kamarnya, Dokter itu menundukan badannya dengan diikuti Naeun lalu berlalu pergi.

“Taemin-ah, kau sudah sadar?”

Naeun mendekati Taemin dengan wajah berseri, tapi Namja yang yang masih terbaring lemah itu membuang mukanya membuat Naeun mengerutkan kening.

“Aku akan membuatkanmu makanan, tunggu sebenar.”

“Tidak perlu,” ucap Taemin cepat, “Kau pulanglah aku ingin sendirian saat ini.”

“Ba-baiklah,” Naeun melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu, ia sangat khawatir dan ingin merawat Taemin tapi apa boleh buat pria itu sudah mengusirnya secara halus. Tiba-tiba Naeun menghentikan langkahnya saat terpikirkan sesuatu.

Apa dia sudah mengingat yang sebenarnya?

Naeun menggelengkan kepalanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri dan berfikiran optimis lalu melanjutkan langkahnya untuk pulang dari kediaman Byun. Di kamarnya Taemin menangis dalam diam, dia sakit mengetahui semua orang di sekelilingnya ternyata telah membohongi dirinya selama ini.

Eomma aku tahu kau menginginkan kehidupan barumu dengan pria itu tapi kenapa kau harus membuat skenario seperti ini, apa aku tidak penting untukmu?” Taemin bergumam kecil dalam isakannya.

“Naeun, ku fikir kau gadis baik dan lugu ternyata kau juga mendukung skenario yang telah dibuat eomma. Aku membenci kalian semua,” kalimat kebencian itu keluar dengan halus memlalui bibir Namja itu.

Taemin bertingkah seperti ia tidak mengetahui apa-apa, Taemin sarapan pagi bersama keluarga bahagia itu—terkecuali dirinya—dia sudah memikirkan semuanya semalaman penuh, meskipun ia tersakiti dengan kenyataan ini tapi mungkin ini merupakan keputusan terbaik dengan mengikuti ‘permainan’ eomma-nya karna ia tidak ingin semua rasa sakitnya terulang kembali ditambah mengingat dulu ia telah membuat Taeyeon menderita.

Tapi mungkin dia tidak bisa bersikap semanis dulu saat ingatannya belum kembali kepada orang-orang di sekitarnya.

Soojung dan grombolannya menghabiskan jam istirahat bersama di kantin, mereka hanya membeli makanan ringan sambil mengobrol ria, teman-temannya sesekali menggoda Soojung karna dia semakin dekat dengan Baekhyun.

“Ku rasa dia mulai menjaga jarak denganku.”

Mwo? Apa kau bercanda, ada pria di dunia ini yang tidak tertarik denganmu?”

“Aku serius,” jawab Soojung dengan malasnya

“Hey, menurutku Baekhyun itu adalah Namja yang baik dan ramah tidak susah untuk mendekatinya,” ucap salah satu gadis di antara mereka, “Aku tahu cara agar dia tidak menjauhimu lagi.”

Soojung menjadi excited mendengar ucapan temannya, matanya seperti berkata ‘Apa? Apa? Cepat katakan padaku!

“Kau harus membuatnya berutang budi padamu atau setidaknya membuat dia merasa bersalah untuk melepaskanmu begitu saja,” Soojung mengangguk-anggkuan kepalanya sambil mengulas senyuman ‘Devil’ setelah mendengar saran dari temannya itu, sekarang dia tahu apa yang harus ia lakukan agar Baekhyun tidak dapat menjauhinya lagi.

-TBC-

Annyeong readers-nim, aku sedih banget seharusnya chapter ini bisa aku post lebih cepat tapi karna laptopku dipinjam jadi apa daya diriku ini :’
Aku juga minta maap karna chapter kali ini lebih pendek dari chapter-chapter sebelumnya itu semua karna aku terjangkit WB (Read:WriterBlock) karna laptop yang dipinjam tadi, jadi mohon dimaklumi kalau critanya jadi rada absurd .__.

Sama aku juga mau ucapin ‘selamat menunaikan ibadah puasa’ bagi yang menjalankan /Serius ini telat banget/–bhaks :v
harusnya aku ucapin ini pas di chapter sebelumnya tapi aku ga ngeh kalau ternyata hari itu pas hari pertama memasuki bulan puasa jadinya telat begini deh ‘-‘

Sekian dari Author nyan-nyan xD
Gomawo untuk yang masih nungguin FF ini dan yang selalu setia mengomentari aku dan juga memberikan like :* jujur aku seneng banget walaupun yang baca/komen/like semakin berkurang tapi setidaknya masih ada yang meninggalkang jejak :’)

-BigThanksFromNyan- -MianForTypo- Babaiinyan~

Advertisements

33 comments on “Twinkle [Chap16]

  1. Duh smakin ngeri gua ama soojung, pst dy bkal usaha berbuat apa ja utk buat baek-taeng putus, ahhh andwae…
    Wlau ingatan taemin sdh kembali, smg dy bs nerima keadaan yg ada skrg…

  2. next… akhirny taemin mengingat semua ny.. semoga taemin mengakui klw di sdh igt semuanya.. jgn lma lama y klnjutany.. kan lgi liburan jga

  3. Pingback: Twinkle [Chap17] | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s