Rain; Baekhyun Ver. (Oneshot)

rain-santiiang

Rain; Baekhyun Ver.

SantiiAng Storyline
Starring by Byun Baekhyun x Kim Taeyeon
AU, Sad, Hurt, Romance
PG-16

Taeyeon Ver.
Poster by ALKINDI

A/N: Sebagian umur saya manipulasi. Terimakasih~

Im broken.
Do you hear me?
Im blinded
Cause you are everything I see

 

“Biarkan dia tetap membencimu.” Lagi-lagi kuhembuskan napas berat. Aku bingung harus menjawab apa. Hatiku menolak, ia terus meronta agar aku berkata tidak. Tapi, mulutku terlalu kaku barang membuka pun aku tidak bisa. Kalimat itu sudah menyita semua tenagaku.

“Aku tidak mau melihat dia menangisimu Byun Baekhyun. Sudah cukup.” Lanjutnya, dengan berat hati aku menganggukkan kepalaku dan pergi dari hadapannya.

“Tunggu! Jangan pernah kau hubungi dia lagi. Dan aku ingin kau tetap menjalin hubungan dengan Irene. Dengan begitu Taeyeon akan mudah melupakanmu.” Kupejamkan kedua mataku sesaat. Tidak terasa aku mengepal kedua tanganku dan berbalik, berjalan tergesa-gesa kepada si pemilik suara dan menjawab semua perkataannya dengan satu buah pukulan mentah di wajahnya.

Ia tersungkur. Darah segar sedikit keluar dari ujung bibirnya. Ia melihatku dengan tatapan tajamnya dan tersenyum penuh amarah. “Dengar ini Hyung. Sampai kapanpun aku akan terus mencoba membersihkan nama baikku di hadapan Taeyeon! Aku mencintainya! Sampai kapanpun!”

“Beri dia sedikit pelajaran.” Sekitar tiga orang berbadan besar dan berwajah sangar mendekatiku dan menghadiahi beberapa pukulan di sekujur tubuhku. Ia tersenyum melihatku seperti ini. Aku meronta mencoba melawan mereka tapi sayang, tenaga mereka begitu besar. Aku tersungkur begitu jauh, badanku menghantam beberapa tumpukan kotak dan semuanya menjadi gelap.

“Stop! Sudah cukup untuk hari ini. Jika ia melanggar semua perintahku. Bunuh saja dia jika perlu.”

.
.
.

“Maafkan aku, aku tidak bisa ke apartementmu.” Aku mendengar ia menggumam, aku tahu pasti ia sangat sedih sekarang.

Setelah kejadian itu. Aku harus terbiasa tidak mengunjungi Taeyeon. Pria itu telah membuat perjanjian yang begitu merugikan bagiku. Mulai hari ini, beberapa bodyguard berjaga di sekitar apartement milik Taeyeon. Aku tahu, Taeyeon tidak tahu ini semua. Dia memang sangat rapih jika menyusun rencana. Dia selalu bisa membuat Taeyeon percaya akan setiap kata-katanya. Mau sampai kapan ia terus membenciku? Ini sudah hampir tujuh tahun dan ia masih mengingat itu semua. Saat itu aku dijebak. Oleh sahabatku sendiri. Kau dengar? Sahabat!

“Apa yang sedang kau lakukan sekarang Tae? Aku merindukanmu. Sungguh.” Aku mengaktifkan ponselku dan memperhatikan beberapa foto yang tampil di sana. Aku rindu saat kami bernyayi bersama di taman. Kalian harus tahu, aku dan Taeyeon memiliki suara yang tidak kalah bagusnya dengan penyanyi luar negeri. Macam Ariana Grande, Charlie Puth, dan sebagainya. Aku tidak sombong tapi itu memang fakta.

“Bae Irene. Untuk apa dia menelphoneku.” Mimik wajahku langsung berubah ketika melihat satu panggilan masuk. Untuk apa gadis ini terus menghubungiku? Dia kan tahu aku sudah memiliki kekasih tapi dia terus saja menhubungiku.

Dengan malas kutempelkan ponselku di telinga dan segera menancap gas, mereka sudah menyadari keberadaanku. “Apa? Aku sedang tidak ingin diganggu Bae Irene. Berhentilah.”

Oppa! Segera pulang, Adikmu, HwanHee!”

“Ada apa dengannya?!” Rasanya kepalaku akan pecah sekarang. Masalah apa lagi yang sudah bocah tengik itu perbuat?! Tanpa berpikira panjang, kubawa mobilku secepat mungkit. Masa bodoh dengan peraturan jalan. Semua masalah ini membuatku tidak bisa berfikir jernih.

I’m dancing alone
I’m praying
That your heart will just turn around

“Ayolah, Baekhyun. Apa kau tidak bosan berdiam diri di kantor? Setidaknya kau keluar untuk membeli tiket Bioskop. Aku dengar ada film romantis baru dan penjualannya langsung melejit. Aku yakin Taeyeon akan setuju jika kau ajak untuk menonton.” Chanyeol merengek seperti anak kecil. Kadang aku aneh padanya. Dia selalu ingin aku mengikuti semua permintaannya.

“Baiklah, Hyung. Aku akan ke sana.” Sebenarnya aku punya firasat yang jelek dengan usulan Chanyeol. Hatiku seperti berkata: tetaplah di sini. Masalah besar akan datang!

Chanyeol hanya tersenyum dan pergi mendahuluiku. Dia bilang, biarkan dia yang bawa mobilku. Aku tidak bisa menolak. Lagi pula aku sedang malas menyetir. Sesampainya di sana, Chanyeol menunjukkan film yang ia sebut-sebut tadi. Memang benar. Panjang sekali antrian untuk film itu.

Senyumku langsung mengembang ketika melihat pemeran utama film itu. Baiklah, untuk sekarang aku mengucapkan banyak terimakasih untuk Chanyeol. Idenya tidak buruk. Dengan semangat aku melangkahkan kaki menuju tempat pembelian tiket. Film itu akan diputar tiga jam lagi. Aku masih ada waktu untuk memberitahu Taeyon, kan?

Oppa!” Ah tidak, aku mendengar suara Irene. Kenapa dia bisa ada di sini? Dan kenapa ia selalu berada di sekitarku? Kenapa dia selalu tahu jadwalku? Bahkan ini jadwal yang baru dibuat tadi.

“Irene!” Chanyeol melambaikan tangannya dan tersenyum begitu ceria. Irene sedikit berlari dan langsung berdiri di sebelahku. Ingin sekali aku bekata menjauhlah dariku kau bau! Sayangnya aku tidak bisa melakukan semua itu.

Irene tersenyum manis kepadaku. Maaf, senyum Taeyeon lebih manis darimu. Dan aku tidak akan pernah menyukaimu. Tidak ada ruang untuk gadis lain, ruang hatiku hanya untuk Taeyeon. Apalagi untukmu, si Gadis Bau!

“Kita akan menonton film terbaru, Irene.” Chanyeol kembali membuka mulutnya.

“Maaf, kalian duluan saja. Aku akan menonton bersama kekasihku.” Aku berlalu begitu saja ketika dua tiket berada dalam genggamanku. Aku simpan tiket itu baik-baik dalam saku jas. Dengan tergesa-gesa aku menuju mobil dan langsung menancap gas. Ini masih sore dan biasanya Taeyeon akan menghabiskan waktu di taman. Hanya sekedar melepas kepenatan atau berlari sore. Jika hari minggu kami selalu menghabiskan waktu kami di sana.

Taman begitu sepi hari ini. Tidak seperti biasanya. “Taeyeon-ah, kenapa kau menangis?”

Kakiku berhenti melangkah, kenapa Taeyeon menangis. Siapa yang sudah melakukan itu semua? Dan kenapa harus ada Changmin di sana. Jika ada dia di sana. Aku tidak bisa menemui Taeyeonku.

“Sudah jangan menangis. Semakin deras air matamu keluar. Semakin jelas dirinya tampak dan berputar-putar di kepalamu. Aku tahu kau menangisi si Baekhyun itu.” Menangisiku? Apa yang sudah aku lakukan hingga Taeyeon seperti itu. “Ceritakan padaku.” Lanjutnya.

“Aku melihat Baekhyun bersama Irene di Bioskop.” Taeyeon menarik napasnya dan kembali menitikkan air mata. Ingin rasanya aku yang berada di sana. Akan kuhapus air matanya dan menceritakan yang sebenarnya.

“Mereka pasti akan menonton, dan aku melihat Chanyeol. Mana mungkin Baekhyun akan menonton film bersamanya. Sudah pasti dengan gadis itu. Changmin Hyung. Kenapa bisa Baekhyun melakukan itu semua? Padahal aku berencana mengajaknya menonton malam ini.”

Kakiku tiba-tiba melemas. Perlahan aku mengeluarkan tiket tadi dan memandanginya, “akupun berencana mengajakmu menonton Tae.” Gumamku. Mataku mulai memanas sekarang, kutengadahkan kepalaku ke atas dan menghirup udara secara perlahan.

“Lebih baik kita pulang. Aku menginap di apartmentmu malam ini.” Taeyeon menganggukkan kepalanya dan menuruti perkataan Changmin. Mereka berlalu dengan cepat.

“Firasatku memang benar. Untuk apa aku menuruti perkataan Chanyeol?! Ah dan kenapa dia tidak memberi tahuku kalau ada Taeyeon?” Hembusan napas kembali kukeluarkan dengan kasar. Kakiku melangkah dengan gontai menuju mobilku. Kupukul klakson mobil sekeras-kerasnya. Sehingga menimbulkan suara yang lumayan keras. Anjing yang sedang bersantai di dekat mobilku berlari terbirit-birit saking kagetnya.

“Ah! Gadis itu memang membawa masalah dalam hidupku!” Sejenak aku kembali menutup kedua mataku dan mencoba menjernihkan pikiranku. Sekarang aku harus pergi menemui Taeyeon. Jika aku diam, masalah ini akan tambah menjadi besar dan merambat. Aku tidak mau hubunganku dengan Taeyeon kandas di tengah jalan. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri.

Hyung aku mohon, biarkan aku menemui Taeyon.” Aku mencoba meyakinkan Changmin, walaupun bisa aku tebak dari mimik mukanya. Ia akan menolak mentah-mentah.

Ia menggeleng, wajahku begitu memelas sekarang. Aku tidak peduli dengan padangan orang-orang yang melihat kami. Aku tidak peduli derajatku di depan Changmin. Yang aku pedulikan sekarang adalah hubungaku dengan Taeyeon, hanya itu saja. “Aku mohon Hyung. Dia sudah salah paham.”

“Salah paham kau bilang? Sudah jelas-jelas ia melihat kau bersama Irene berada di Bioskop! Hubungan apa yang terjalin jika melihat wanita dan pria berdua di Bioskop selain sepasang kekasih! Byun Baekhyun!” Changmin menaikkan intonasinya. Dan urat-urat di kepalanya perlahan muncul. Aku menggelengkan kepalaku dengan kuat untuk meyakinkannya.

“Tidak Hyung di sana ada Chanyeol. Kau salah paham. Saat aku mau membeli tiket untukku dan Taeyeon tiba-tiba dia datang. Aku yakin Irene datang karena ada Chanyeol. Percayalah sekali saja padaku Hyung.” Aku segera menunjukkan tiket yang tadi aku beli,”lihatlah Hyung. Ini tiketnya. Jika aku menonton bersama Irene. Tiket ini tidak pada tanganku Hyung.”

Changmin mendorongku hingga aku tersungkur ke tanah. “Dengarkan aku Byun Baekhyun. Aku tahu kau itu licik. Bisa saja kau membeli tiket lebih dari dua. Kau memperlihatkannya padaku, supaya aku percaya padamu. Aku tidak sebodoh itu Baekhyun. Lebih baik kau pulang saja. Jangan pernah berani-berani kau menemui Taeyeon. Sudah cukup dia menangis karenamu. Dan sudah cukup gadis yang aku cintai jatuh ke dalam sihir cintaumu!”

“Tidak Hyung kau salah. Aku tidak berbohong! Aku membeli tiket hanya dua. Dan itu hanya untukku dan Taeyeon.” Aku segera bangkit dan berlari, mencoba meraih tangan Changmin yang bergegas masuk ke dalam apartement milik Taeyeon. Namun sayang, pergerakanku terlalu lambat. Changmin kembali menyuguhiku tatapan tajamnya dari balik jendela. Lagi-lagi dengan berat hati kakiku melangkah pergi dan mengendari mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi menuju sebuah tempat.

Eomma. Kau tahu? Sekarang hubunganku dengan Taeyeon sedikit merenggang. Changmin Hyung orang terdekatnya selalu mencoba menjauhkanku dengannya. Aku tidak tahu alasannya. Kenapa dia begitu membenciku? Dan kenapa harus ada gadis itu Eomma?” Kuelus perlahan batu nisan makam ibuku. Aku menjadi seorang yatim piatu sejak umurku lima belas tahun, dan sejak itu aku mulai belajar memegang perusahaan. Untungnya ada Manager Kim: seorang pegawai setia ibu dan ayahku. Dia dengan setia mengurus aku dan adikku sampai sekarang. Dan bagiku, dia adalah orang tua keduaku.

“Kenapa rasanya kebahagian tidak pernah mau berlama-lama dalam kisah hidupku Eomma?” Aku, Byun Baekhyun memang cengeng, punya hati yang lemah. Aku selalu menangis jika mengingat setiap masalah yang kudapat.

Pria itu pantang menangis. Persetan dengan semua itu! Pria juga manusia. Untuk apa aku memiliki air mata, jika tidak aku gunakan. Aku juga memiliki hati. Hati siapa yang tidak sakit ketika melihat orang yang paling ia sayang jauh dari dirinya bahkan sebentar lagi akan membencinya? Aku berani bertaruh. Jika ada pria yang tidak merasakan hal seperti itu. Hidupnya akan penuh dengan kekosongan, dia akan hidup sengsara. Seorang penjahat pun memiliki hati yang sangat sensitif jika berkaitan dengan orang yang ia sayang.

“Karena, kau tidak bisa mensyukuri semua itu Byun Baekhyun dan kau terlalu terlena dengan masalah yang kau dapat.” Aku tersenyum masam. Aku tidak bisa merasakan kedatangannya.

“Sejak kapan kau ada di situ, Kai?” Mataku terus menatap makam ibuku. Malas aku membalikkan badan, melirik dia pun aku enggan. Seharusnya dia tidak berada di sini.

“Aku mengikutimu.” Ia menjawab dengan asal. Secara perlahan ia menghampiriku, “sudah lama aku tidak datang kemari.”

“Pulanglah Kai. Aku tidak ingin dia tahu kalau kau adalah temanku.”

Kai menatapku penuh iba, “tenang Baekhyun. Dia tidak tahu. Ia terlalu mengkhawatirkan Taeyeon.” Ia tersenyum dan mengelus batu nisan ibuku. Sebenarnya Kai sudah kuanggap seperti keluarga sendiri. Dan bagi ibuku, Kai adalah anaknya juga. Dulu, Kai selalu menginap di rumah kami. Karena kedua orang tuanya selalu sibuk dengan pertengkaran yang mereka buat. Tapi, setelah aku tahu Kai bekerja di perusahaan Changmin. Aku sengaja menyuruhnya untuk pura-pura tidak mengenalku. Aku tidak ingin karena ulahku Kai kehilangan pekerjaannya. Apalagi Kai adalah orang terpecaya di sana.

“Kenapa bisa terjadi?” Kai kembali membuka mulutnya.

“Dia salah paham Kai, dia beranggapan jika aku akan menonton bersama Irene, mantan kekasihnya.” Kutarik napasku dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. “Sampai sekarang aku masih bingung, siapa orang yang telah melakukan ini semua. Aku tahu, Changmin Hyung tambah marah ketika mengetahui Irene sering mendatangiku —lagi dan memberiku beberapa hadiah.”

“Oh astaga,” Kai menepuk bahuku. “Kau tenang saja, secara diam-diam aku akan membantumu.” Kai menganggukkan kepalanya mencoba meyakinkanku dan kembali mengelus batu nisan ibuku.

And there’s a walk up to your door
My eye turns to face the floor
Cause I can’t look you in the eyes and say

Oppa, ayo antar aku berbelanja. Chanyeol Oppa bilang kau pintar memilihkan baju untuk wanita.” Irene, mengguncang-guncangkan lenganku dan menggelayutkan lengannya di sana dengan manja. Ada apa dengan anak ini sebenarnya?

Aku mulai geram, hampir sepuluh menit ia mengoceh hal yang sama. “Aku sedang sibuk, dan aku bukan kekasihmu Irene, berani sekali kau melakukan ini semua padaku. Kau tidak punya malu hah?” Aku sedikit membentaknya, aku sedikit tercengang, dia sama sekali tidak merespon berlebihan, ia malah tersenyum dan kembali pada perkerjaannya.

“Oh tuhan, ada apa denganmu Bae Irene?! Tidak cukup kau membuatku dalam ambang masalah, hah?!” Kutepis lengannya dengan kasar dan menatapnya penuh kebencian. “Sekarang pergi dari ruanganku!”

“Kau tidak boleh kasar pada wanita.” Chanyeol tiba-tiba muncul dari balik pintu dan tersenyum pada kami berdua, “temanilah dia sebentar Baekhyun, dia hanya ingin membeli baju.” Chanyeol kembali tersenyum padaku —manis, tapi aku benci senyum itu.

“Tapi, Hyung.” Aku menggelengkan kepalaku dan kembali mengecek beberapa berkas. Dengan cepat Chanyeol mengambil berkas itu, “berikan padaku. Perkerjaanku masih banyak dan aku ada meeting beberapa jam lagi. Tidak bisakah kalian berdua tidak mengangguku barang satu menit saja?!” Ku gebrak meja sekuat tenaga dan meraih semua berkas itu dengan kasar.

“Kalian bisa keluar sekarang,” Lanjutku sedingin mungkin, “pergilah sejauh mungkin.”

“Ayolah Baekhyun,” Chanyeol menggertakan giginya dan rahangnya sedikit terlihat. “Jika kau tidak menuruti kemauannya jangan harap kau bisa duduk di kursi ini lagi.” Ia berbisik padaku. Mataku memutar dengan perlahan, menatapnya dan penuh amarah dan mengangkat bokongku dengan enggan.

“Tidak lebih dari satu jam.” Irene melompat-lompat kegirangan, dengan lancangnya ia kembali menggelayutkan tangannya di tanganku. “Aku mohon, ini kantor.” Bisikku padanya, tapi ia tidak peduli.

Selama perjalanan ia terus saja mengoceh tentang kisahnya yang menurutku, sama sekali tidak penting. “Oppa, sebentar lagi aku akan debut menjadi seorang penyanyi, ah kau belum pernah mendengarkan suaraku ya?”

“Tidak usah, aku lebih senang berkonsentrasi dengan jalanan.” Irene menghembuskan napas dengan kasar, aku dapat merasakan kalau dia sedikit kecewa, tapi setelah itu. Ia kembali tersenyum dan membagi kisahnya. Omong-omong, bukankah seharusnya jika seseorang akan debut, ia akan sibuk. Mana mungkin dia bisa meluangkan waktu hanya untuk membeli baju?

Oppa, merah muda atau kuning.” Irene menunjukkan dua baju tepat di hadapanku. Dengan asal aku menjawab dua-duanya. Siapa sangka, ia malah memilih warna biru yang tergantung di sebelahnya. Memang benar ia, si Gadis Bau.

Aku mulai bosan dengan semua ini, selama dia asyik mengganti baju. Aku dengan cepat memilihkan dress merah muda pendek untuk Taeyeon, dia pasti pantas mengenakan baju ini. Jika boleh jujur, Chanyeol benar. Aku memang pintar dalam hal memilih baju wanita, dan kebanyakan baju yang Taeyeon kenakan adalah usulan dan hadiah dariku. Ia terlalu malas berlama-lama di dalam toko baju. Aku tidak sabar melihat Taeyeon mengenakan baju ini.

.
.
.

“Kai!” Aku sedikit berteriak ketika melihat Kai keluar dari apartemen Taeyeon, ia mengangkat alisnya dan pergi menuju ke mobilnya yang terparkir agak jauh dari sana. Matanya mengisyaratkan agar aku mengikutinya.

“Ada apa?” Kai mulai membuka mulutnya ketika aku dengan mulus mendarat di kursi mobil bagian belakang.

“Aku titip surat ini, serahkan kepada Taeyeon.” Aku tersenyum, “aku mohon. Aku harus bertemu dengan Taeyeon, Kai. Terlalu banyak kesalahpahaman di sini.”
Kai mengangguk, “dengan senang hati aku akan melakukan ini semua.”

Setelah jawaban itu, aku mengangguk dan membuka pintu mobil. “Tunggu dulu, Taeyeon tadi pergi ke club malam. Dan ia lumayan mabuk, dia terus saja melamun di sana. Ia hampir saja menangis. Tapi, ketika aku datang, air matanya menghilang. Aku sungguh kasihan padanya.”

“Hah? Dia pergi ke sana?” Aku terkejut. Taeyeon tidak tahan dengan alkohol dan kami sudah berjanji. “Bagaimana bisa?”
“Aku juga belum tahu. Sebelum aku sempat bertanya ia sudah terlebih dahulu tumbang.”

“Terimakasih atas informasi yang kau berikan. Kau memang teman terbaikku.” Kai kembali mengangguk dan aku memilih keluar dari mobilnya.

If I’m louder
Would you see me?
Would you lay down in my arms and rescue me?

“Sudah kukatakan bukan? Jauhilah Taeyeon dan kau bersama Irene!” Chanyeol dan beberapa orangnya menatapku dengan penuh kemarahan dan kebencian.

“Apa perlu aku, ah tidak maksdumu mereka,” Ia melirik ke belakang. “untuk kembali menghadiahi beberapa pukulan padamu?” Ia tersenyum sinis padaku.

“Kau ini kenapa Park Chanyeol?! Apa yang kau inginkan hah?” Aku mulai kehilangan kesabaran, aku bukanlah bonekanyanya.

“Kau tidak bisa mencerna setiap perkataanku tadi dan waktu itu?” Ia memiringkan kepalanya dan melangkah mendekatiku. Aku menggeleng dan menatapnya penuh kebencian. Tatapanku lebih menyeramkan Park Chanyeol!

“Hah,” dia kembali menarik ujung bibirnya. “sekarang aku memberikan dua pilihan untukmu. Kau membuat hati Taeyeon remuk dan hancur atau jabatanmu di perusahaanmu sendiri akan rusak. Aku sangat senang jika kau memilih yang pertama. Maka dengan demikian perusahaan itu akan menjadi milikku.”

Sungguh, si picik Chanyeol. Aku memandangnya lekat-lekat dan bersiap-siap untuk mengahajarnya. Tanganku sudah gatal. “Simpan semua tenagamu. Byun Baekhyun.” Ia menujuk kedua lenganku yang mengepal dengan dagunya.

“Lebih baik kau ikuti perintahku dan semuanya akan baik-baik saja. Perusahaanmu akan kembali seperti semula jika kau bersedia menjadi kekasih sekaligus calon suami Bae Irene.”

Aku tersenyum meremehkannya, “itu tidak akan pernah terjadi Park Chanyeol. Sudah terlalu lama aku menjadi bonekamu.” Aku berjalan menjauh darinya. Satu jam lagi aku akan bertemu dengan Taeyeon.

“Kau ingin perusahaanmu hancur karena cinta?” Chanyeol menepuk bahuku secara perlahan. “Kau memang bodoh. Kalau bukan karena aku, perusahaanmu tidak akan pernah maju Baekhyun. Akulah yang seharusnya berada di posisimu. Menjadi seorang Presiden Perusahaan yang terkenal. Dan kau seharusnya berada di jalanan mengemis untuk meminta belas kasihan semua orang.” Ia berbisik tepat di telingaku dan melangkah maju sehingga kami sejajar sekarang.

Ia melirikku dengan tajam, “katakan pada Irene kalau kau mencintainya ketika Taeyeon melihat kelian berdua. Dengan begitu perusahaanmu akan aman dan kau bisa kembali duduk tenang di kursi kesayangamu itu. Tuan Byun Baekhyun.” Sekarang, Chanyeol benar-benar melangkah pergi.

“Sekarang apa yang harus aku lakukan?” Aku mengacak-acak rambutku dan berteriak. Ini semua membuatku frustasi. Apa yang harus aku prioritaskan sekarang? Cinta atau perusahaan? Jika aku kehilangan perusahaanku maka aku akan kehilangan segalanya. Tapi jika aku kehilangan cinta? Apa bisa aku melanjutkan segalanya?

“Lebih baik kau turuti apa kemauannya.” Aku berbalik saat mendengar suara seorang pria tua. “Untuk sekarang ini, kau harus fokus dulu pada perusahaanmu. Agar kau bisa menyingkirkan dia. Bukankah dulu akau sudah mengatakan padamu? Berhati-hatilah dengan orang bernama Park Chanyeol.”

Aku mengangguk dengan lesu. “Kau benar Manager Kim, aku memang bodoh. Tapi, bagaimana dengan Taeyeon?”

Manager Kim tersenyum dan mengelus bahuku. “Jika dia memang mencintaimu dan kalian memang berjodoh. Maka kalian akan bersatu kembali. Yang terpenting sekarang, tendang dia sejauh-jauhnya Baekhyun.” Ia terpaku melihat ke arah perginya Chanyeol.

.
.
.

Taeyeon sudah terlihat, apa harus aku melakukan semua ini. Secara bergantian aku memperhatikan Taeyeon dan Irene. Sungguh, Park Chanyeol akan kubalas kau!

Perlahan kupegang tangan Irene, ia sedikit tersentak ““Aku harus segera pergi Byun,”

“Jangan, aku mohon. Aku akan menjelaskan semuanya padanya.” Aku mencoba melihat Irene sebagai Taeyeon, dengan mantap aku menatapnya penuh cinta dan ketulusan. Oh tuhan, ini begitu sulit. Aku sudah tidak kuat Taeyeon.

“Kau benar Baek, malam ini akan menjadi sangat dingin. Harusnya aku ke sini memakai selimut paling tebal bukan jaket. Hahaha.” Kenapa ia malah tertawa?

“Tae-Taeyeon. Sejak kapan kau berada di sana?” Suaraku bergetar. Aku tidak bermaksud melakukan semua ini Taeyeon. Aku mohon tolong maafkan aku.

“Kenapa kalian berhenti. Ayolah aku ingin melihat adegan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ayo lanjutkan Byun Baekhyun.” Kau tidak bisa membohongiku Kim Taeyeon. Kau berusaha tersenyum setulus mungkin dan menganggap semuanya baik-baik saja. Tapi, matamu tidak bisa. Aku bisa melihat kekecawan besar yang kau simpan di sana. Sekali lagi maafkan aku.

“Tidak Tae,” Kutundukkan kepalaku, aku sudah tidak melihat matanya. Sudah terlalu banyak goresan yang aku buat di hatinya. Taeyeon meraih kedua tanganku dan meletakkan sebuah kotak berwarna putih.

“Selamat ulang tahun Byun Baekhyun.” Aku tercengang dengan semua ini. Hari ini hari ulang tahunku? “Maaf aku tidak bisa memberi hadiah yang besar untukmu. Seperti dia.” Kau salah paham Taeyeon. Tangaku bergetar hebat dengan cepat aku meraihnya dalam pelukkanku, mungkin ini akan menjadi pelukkan terakhir untuk kita berdua.

“Sudah cukup Baekhyun. Ayo kita akhiri semuanya, kau terlihat lebih cocok bersanding dengannya dibanding diriku.” Ia berbisik, ia berkata sangat tenang. Apa ini benar Taeyeonku? Perlahan aku melepaskan pelukanku dan menatapnya.

“Aku tidak mau Taeyeon.” Aku menggelengkan kepalaku.

Sudah cukup dengan senyuman itu Kim Taeyeon. Aku sangat tersiksa! “Jangan kecewakan dia seperti kau mengecewakanku, oke?”

Jangan lakukan semua ini Taeyeon. Aku mohon.

“Kita datang di waktu yang tepat Kai.” Changmin tiba-tiba datang. Kai kau memang teman terbaikku. Sudah cukup, aku tidak kuat untuk menahan air mataku lagi.

“Jangan pernah egois Baekhyun. Pilihlah satu, yang paling prioritas bagimu.” Kai menatapku dengan amarahnya. Aku tahu dia pintar sekali bersandiwara dan ia pintar meniru amarah Changmin. Dan aku tidak peduli dengan tatapan Kai. Ia menyemangatiku. Aku tahu.

“Aku memilihmu Taeyeon.” Aku berjalan mendekati Taeyeon dan mencoba kembali meraihnya dalam dekapanku. Tapi Changmin mengahalangiku. Dasar Tiang listrik.

“Tapi aku tidak memilihmu.” Aku kembali terkejut dengan kalimat yang Taeyeon lontarkan. Aku memilih mundur satu langkah dan menatapnya lekat-lekat. Matanya sudah dipenuhi kekecewaan. Kau memang hebat Byun Baekhyun. Kekasihmu sekarang begitu marah, benci, dan kecewa padamu. Dan sekarang dia pergi meninggalkanku yang masih kaku di taman.

“Sekecewa itukah kau padaku Taeyeon?” Aku melihat ke arah perginya mereka dengan air mata yang berlinang dan sebentar lagi air terjun akan tercipta.

OOppa.” Irene mencoba memegang pundakku tapi aku menepisnya —lebih tepatnya, mendorongnya dengan kasar. Hingga ia terjatuh.

“Kau sudah puas membuat hidupku hancur Bae Irene? Tidak bisakah kau menghilang dari kehidupanku hah?!” Aku menarik napas dalam-dalam dan menunjuk Irene dengan penuh kebencian. “Karenamu! Changmin Hyung dan Taeyeon membenciku! Aku tidak akan pernah menyukaimu barang sedikitpun Gadis Bau! Kalau bukan Chanyeol Hyung aku tidak akan melakukan semua ini! Karena pria bodoh itu! Aku harus kehilangan gadis yang aku sayang!”

Aku tersengal-sengal. Irene tercengang dengan semua perkataanku. Sudah sejak lama aku ingin memanggilnya gadis bau dan sekarang terbayar. Dengan amarah yang masih memuncak aku pergi dari taman. Aku tidak peduli dengan Gadis Bau itu. Mari kita lihat besok. Apakah ia masih mau mendekatiku?

Again,
Would you lay down in my arms and rescue me?

“Bagaimana kabarmu?”
“Baik, selalu baik.”
“Bolehkan aku bermain ke apartmentmu?”
“Maafkan aku, aku tidak tinggal lagi di sana. Baek.”
“Kenapa? Sekarang kau tinggal di mana?”
“Berhentilah kau mencoba kembali dan peduli padaku Baek.”
“Aku sudah tidak bersama Irene lagi. Aku lebih memilihmu Tae.”
“Jika aku boleh egois, aku juga ingin bersamamu. Tapi, aku tidak bisa.”
“Aku mohon, beri aku kesempatan Tae.”
“Sudah terlalu banyak kesempatan yang aku berikan dan kau tidak pernah sadar akan itu semua. Aku selama ini diam, berharap kau sadar. Tapi nyatanya tidak.”
“Tae..”
“Aku tidak mau terjebak di lubang yang sama dan menggali lebih dalam. Atau menggali kembali lubang yang telah aku timbun, Baek.”
“Tapi.”
“Berhentilah. Semua sudah terlambat.”

End.

Yuhuuuu~ akhirnyaaa. Maaf kalau ga kena ya feelnya (_ _;) dan maaf buat Irene Eonni (T_T) aku sudah mendustakanmu. Anw thanks yg sudah mau menungguuuu~ /bow

Advertisements

24 comments on “Rain; Baekhyun Ver. (Oneshot)

  1. jadi disini yg evil itu chanyeol -_- rada kurang asem tuh chanyeol jahat amat — kasian baekyeon banyak salah paham yg membuat mereka pisah. ada sequel kah? hahaha

  2. Dasar Chanyeol jahat banget, ada sequel lagiblan thor, biar semua kejahatan chanyeol terungkap, dan baekyeon happy ending gitu. Kan kasian kalo pengorbanan mereka gak berbuah 😂

  3. Oh My ….
    Speechless gua, ahhh poor uri taetae…
    Smoga authornim diberikan ilham agar mau membuat sequel dr ff Rain ini, aamiin…

  4. please thor adain sekuel
    berasa sakit kalo tae tetep ga percaya sm baek
    yaelah chanyeol sm irene juga ngapain sih
    tapi feelnya dapet bikin bapeeer T_T

  5. Tetap berujung sad ending ya :’),biang nya si chanyeol nih -_- lgian irene juga g nyadar diri (?) Klo deket” in cowo org ,hedehhh itu keputusan taeyeon udh bulat ?sepertinya kita smua dan baekhyun butuh sequel wkk biar baekhyunnya balik sma taeyeon wk,di tunggu next projectnya ya,keep writing & imagine!fighting!

  6. Jadi Chanyeol yang kurang ajar disini..
    Uuh sebel banget sama Chanyeol dan Irene disini..
    Baekhyun ama Taeyeon sabar ya..
    Thor plis, sequel nya dong biar gak gantung ceritanya
    feelnya dapet banget thor..
    Lega jadinya kalau tau Baekhyun itu setia ama Taeyeon..
    Next sequel thor fighting

  7. Yahhh,kenapa gk bersatu aja mereka berdua hiks,kebawa baper sama alur ceritanya’ .ditunggu ff selanjutnya thor ~

  8. kandaslah hubyngan mereka , Yak park chanyeol mau mu apa huh? thor ini ada kelanjutannya nggak? kok main end aja sih.. kalo diterusin kan enak , kalo nggk ada juga nggkppa . ditunggu ff yg lain , semangat

  9. Pingback: Change Your Ticket (Introducing Cast) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. hwaaa… uda salah paham nih sama baekhyun… mianhae ne, baekhyun Oppa. uhhh, keren ceritanya. ditunggu ne sequelnya, mau tahu bagaimana reaksi Taeng mengetahui kebenarannya… fightig 🙂

  11. ntahlah menurutku ini keren tapi aku gagitu dapet feelsnyaaa, maaaaaff:(( tapi overall keren banget kok kak. semangat yaa:) aku tunggu karya baekyeon selanjutnya, semoga kakak gapindah dari nulis ff baekyeon ke deantaeng:”) fighting kakak!

  12. Ohh ternyata Baekhyun berbuat seperti itu karena diabterikat perjanjian dgn seseorang ya? Siapa yg buat Baekhyun melakukannya? Kejam banget. Dia merusak hubungan BaekYeon. Chanyeol nyebelin banget di sini. Geregetan banget aku sama Chanyeol. Sayang sekali BaekYeon harus pisah 😦

  13. huhuhu kasihan sekali
    huaaa jadi ini alasan baekhyun
    dasar chanyeol bodoh menjengkelkann
    kasihan kan bekhyunn bagaikan pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga pula”
    wkwkw keep support baekyeon

  14. Iiiiiiiih kok sad ending thooooorrrr
    Ih kurang suka taeyeonnya gapengertian/?
    Bingung siapa2 aja yg jahat ternyata makin kebawah makin jelas/?
    Nice story thorrr💕💕

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s