[FREELANCE] Falling Crazy In Love (Chapter 1)

clip_image002

[Freelance] Falling Crazy In Love Chapter 1

Author: FIVE

Rating: PG-17

Lenght: Multichapter

Genre: Romance, Drama

Main Cast: Kim Taeyeon

Kwon Jiyong

Support Cast: Temukan sendiri.

Disclaimer:

This is just a FanFiction. All the cast it’s belong to God, them selves and the parents.

Please, don’t be a PLAGIATOR.

Author Note:

Jika ada kesalahan, mohon komentarnya. Karna komentar anda semua yang bisa menentukan

FF ini dilanjut atau berhenti di tengah jalan. Typo dimana-mana. Thankyou.

*

*

*

Jam dinding yang tengah tertempel dengan rapi dan nyamannya di dinding rumah kayu menunjukkan angka tepat jam 10 malam. Hujan yang baru saja mengguyur kota Seoul sekarang sudah berhenti meninggalkan kesan nyaman jika berada di pelukan hangat selimut tebal. Nyaman menyertai malam, hingga membuat seorang yeojja yang tengah terbaring dengan nyamannya di kasur yang bisa dikatakan empuk sekalipun hanya kasur tipis, tapi kasur itu berhasil membuat yeojja yang tengah terlelap di atas sana semakin melayang dan terbang menuju mimpinya. Badan mungilnya tak sepenuhnya tertutup rapat dibawah selimut.

clip_image004

Yeojja berusia 26 tahun itu terbangun saat deringan ponsel yang terletak di samping bantalnya. Nama yang tertera disana membuat yeojja itu meringis singkat. Baik, ia mengakui bahwa yeojja yang menelpon ini pasti tak akan membiarkannya kembali ke alam mimpinya, karna setiap ia menelpon, pasti akan ada selalu masalah yang menyertainya. Ia serius, pada nyatanya memang selalu seperti itu.

“yeoboseo…” ujar Taeyeon, yeojja yang baru saja akan mengunjungi mimpinya itu dengan suara parau, dan terkesan pelan dan lemah. Ayolah, taeyeon sangat berharap bahwa yeojja yang menelponnya ini sedikit peka dan bisa membuatnya kembali menuju alam mimpinya, setidaknya biarkan taeyeon berharap sejenak walau pada akhirnya ia tau apa yang akan terjadi.

“taenggo-ah, neo eodiga? Jangan berpura-pura sakit, aku tau kau baru saja tidur!”

Taeyeon mendelikkan matanya kesal, apa aktingnya terlalu buruk? Bahkan untuk membohongi seseorang yang tidak berada di hadapannya saja taeyeon tak bisa “baiklah, masalah apa lagi kali ini?” taeyeon pasrah, ia tau semua akan percuma pada akhirnya, lebih baik jika ia langsung to the point agar masalahnya cepat selesai dan taeyeon bisa kembali tidur bersama kasur dan selimutnya yang hangat itu.

“pria tua itu, bisakah kau membantuku? Aku benar-benar lelah menghadapi istrinya yang terus saja merengek dengan perut besarnya di kantor, aku heran bukankah ini sudah saatnya ia dirumah sakit untuk melahirkan? kau tau kan kalau besok akan ada persentasi penting? Dan aku tak bisa meninggalkan kantor begitu saja”

Pria tua itu? Pemimpin tim pemasaran tempat dimana Taeyeon dan Tiffany –si penelpon- ditempatkan disebuah perusahaan besar di Seoul. Ah sebenarnya tidak terlalu besar, hanya saja taeyeon merasa ia yang hanya lulusan S1 bisa bekerja di perusahaan majalah terbesar nomor tiga di Seoul sudah cukup membanggakan baginya yang memang benar-benar sangat membutuhkan sesuatu yang bernama uang kala itu. 1 tahun sudah taeyeon bekerja disana dan sudah selama itu juga ia selalu berurusan dengan masalah yang disebabkan oleh Pemimpin Tim nya. Selalu saja. Taeyeon menghela nafas kesal dan menatap kamar tidur kecil dengan tatapan nanar, yah sudah pasti taeyeon akan meninggalkan kamarnya untuk beberapa jam setelah ini. “arraseo, kali ini dimana lagi aku harus mencarinya? Atau menggantikannya ke pertemuan apa lagi ?” taeyeon tidak asal membual karna pada faktanya ini memang benar terjadi, terkadang ia harus duduk diam di saat rapat pemimpin kantor karna pemimpinya yang lalai itu, mencarinya ke taman saat ia tengah berselingkuh dan masih banyak lagi.

Terdengar tawa pelan Tiffany yang membuat Taeyeon semakin melipat wajahnya yang terlihat pucat itu, baru beberapa menit yang lalu ia melepaskan makeup tipisnya itu, dan itu berarti taeyeon harus kembali menggunakan makeupnya saat keluar rumah? Ayolah, taeyeon sangat malas dalam urusan dandan dandanan, bahkan saat kecil ia dan jiwoong oppa selalu bermain perang-perangan, bukan permainan merawat wanita perfect bernama barbie itu. Dan well, sepertinya taeyeon juga harus melepas pajamanya.

“Club The-A di gangnam”

Hanya beberapa suku kata yang baru saja diucapkan tiffany namun mampu membuat taeyeon membulatkan mata sipitnya yang terlihat mengantuk itu. “Club? Wahh apa kau gila? Jika pria tua itu berada di Club kau yang bilang bahwa kau yang akan menjemputnya, bukan aku!” Taeyeon hanya akan menyeret Pria tua yang ia panggil sanjangnim itu jika pria itu berada di apartemen, rumah, taman atau tempat umum lainnya, kecuali Club. Karna taeyeon dan Club tidak pernah bersahabat untuk selamanya.

“ayolah taeyeon-ah, hanya kali ini saja! Please help me!”

Taeyeon menghela nafas pasrah, ia hanya akan menyeret pria tua itu pulang kerumahnya karna istrinya yang tengah hamil tua itu selalu bersikap berlebihan saat suaminya yang genit itu tidak berada di sampingnya. Taeyeon bahkan salut dengan istri pemimpin timnya itu, bagaimana bisa ia betah menjadi istrinya sementara ia tau pria itu sering berselingkuh, dunia benar benar membuatnya geleng-geleng kepala karna heran.

“kirimkan alamatnya segera”

“kau akan pergi kan? Gomawo taeyeon-ah,taenggo the best! Aahh this is why I love you so much honey, thankyou!” taeyeon hanya diam dan hendak menutup ponselnya saat suara tiffany yang berteriak “yah yah jangan lupa payungmu eoh” membuat taeyeon terkikik geli.

Setidaknya tiffany tidak akan membuat taeyeon berada di tempat yang ia yakini bahaya. Taeyeon perlahan menggeser selimutnya dan langsung menuruni tangga yang berada beberapa langkah dari kakinya, jangan terkejut. Kamar taeyeon benar benar sangat kecil dan terkesan sempit, hanya ada kasur lantai, selimut dan bantal disana. Sekalipun rumah ini sempit, oh apa yang diharapkan? taeyeon hanya tinggal seorang diri. Ia rasa memiliki rumah sendiri saja sudah jauh membuatnya bahagia.

clip_image006

Dengan cepat taeyeon menukar asal bajunya dengan baju kaus dan celana jins, dan segera meraih sweter yang tergantung dengan pasrahnya dibawah tangga kecil rumahnya. Langsung saja taeyeon berlari keluar dari rumahnya, percayalah taeyeon tak bodoh tentu saja. Ia tahu bahwa hujan deras akan kembali mengguyur kota Seoul sebentar lagi, dan tentu saja taeyeon harus bergegas menemukan pria tua itu dan segera pulang kerumahnya, menikmati nyamannya pelukan hangat selimut dan menyapa mimpi yang akan menemani malamnya.

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke gangnam, daerah yang bisa dikatan elite yang berada di tengah kota Seoul itu, hanya perlu naik taksi dan cukup menyebutkan kata ganggam maka dalam waktu 30 menit taeyeon sudah berdiri dengan kakunya di depan sebuah Club. Jujur saja taeyeon sama sekali tak suka dengan Club, jika boleh memilih ia akan menyimpan uang yang dihamburkan orang orang di dalam sana hanya untuk minuman dengan harga menggila dan tubuh seseorang yeojja yang hanya mencari uang dengan cara yang terbilang muarahan itu untuk pergi berlibur ke belahan dunia manapun.

Tapi jika boleh jujur sekali lagi, Club yang berdiri dengan megah dan angkuhnya di hadapan taeyeon ini benar benar terlihat mewah dan berkelas, bak hotel berbintang lima, tak seperti Club murahan yang terpintas di otakknya saat menonton movie waktu itu, pantas saja tiffany dan yuri, kedua rekan dan juga sahabatnya itu sangat bersemangat jika menjemput pria tua itu kesini. Selain karna mereka memang suka ke Club, ternyata tempat ini juga sangat mewah.

Beberapa orang melewati taeyeon dengan cueknya, bahkan ada yang dengan sengaja menyenggol bahu taeyeon, hingga yeojja itu hampir saja berciuman dengan lantai, dan beruntungnya taeyeon karna first kiss seorang Kim Taeyeon bukanlah untuk lantai itu. Hingga taeyeon kembali berdiri dan menatap sengit yeojja dengan pakaian minim yang baru saja melewatinya dengan akuh itu. Mata taeyeon bergerak lincah menatap yeojja dengan pakaian minim terlihat kurang bahan, makeup tebal dan jangan lupakan sepatu dengan tinggi yang seolah oleh ingin menyamai tingginya jarak tiap tangga didepan Club ini. Baiklah, mendadak taeyeon tersadar dan menatap pantulan dirinya di depan pintu kaca Club itu.

clip_image008

“sweter lusuh, celana jins, wajah pucat, dan sepatu kets lusuh” taeyeon bergumam menatap pantulan dirinya. Taeyeon hendak merutuki ke bodohnya yang mendatangi Club dengan dandanan ala kadarnya dan membuat orang lain yang melihatnya tampak bodoh dan tak berkelas sama sekali. Deringan ponsel yang berada di genggamannya pun berdering, bukan sebuah panggilan, namun sebuah pesan yang membuat taeyeon bergegas memasuki Club itu. Pesan dari tiffany yang mengatakan bahwa sang istri dari pria tua yang tak tau diri di dalam sana akan segera melahirkan, dan supir pribadi keluarganya akan segera menjemput pria tua itu beberapa menit lagi, dan taeyeon harus segera menemukan pria tua itu.

“ah pria tua itu benar benar menyebalkan! Bukankah ini zaman modern? Kemana ponselnya? Apa aku harus mencarinya setiap saat agar menemui istrinya?” gumam taeyeon pelan dan mendengus kesal di detik berikutnya

Langkahnya terhenti saat seorang petugas keamanan mengahalangi langkahnya dan menatapnya dengan tatapan menyelidik penuh curiga, seolah olah taeyeon baru saja mencuri sesuatu dari sini. “chogieo, berapa usia mu?”

Taeyeon terdiam, apakah penjaga keamanan ini bertanya pada nya? Lelucon apa ini? Taeyeon sudah berusia 26 tahun dan kenapa pria ini bertanya padanya seolah-olah ia anak kecil yang kehilangan oemmanya. “jusueongmida, keundae, aku benar-benar tak punya waktu menjawab pertanyaan mu itu!”

“tak ada waktu? Apa semua bocah di kota Seoul ini sangat sibuk seperti mu?” tanya pria dengan badan kekar itu, taeyeon dapat melihat marga Lee terseman di dada kiri seragam pria itu. “mworago? Bocah? Aigoooo” taeyeon mengelus kasar lehernya yang tak gatal sama sekali dan menatap jengah pria itu “neo… aku ini yeojja berusia 26 tahun”

Terlihat bahwa pria bermarga Lee itu tersenyum mengejek menatap taeyeon “jinjja? Kalau begitu perlihatkan tanda pengenalmu maka aku akan percaya!”

Kesal, sungguh. Petugas keamanan ini benar-benar menghambat langkah taeyeon. Bagaimana bisa ia tak percaya jika taeyeon berusia 26 tahun? Ia tau jika wajahnya benar-benar terlihat seperti anak sekolah menengah atas, tapi ayolah, ia sudah tamat 8 tahun yang lalu dari sana. Kekesalannya semakin meningkat tatkala ia membuka tas dan mendapati bahwa ia tidak membawa kartu tanda pengenalnya. Sial. Dompet taeyeon, dimana benda persegi itu tersimpan? Ah sial dompetnya hilang. Taeyeon sangat yakin jika ia membawa dompet itu, walaupun uangnya tidak banyak tapi ada beberapa kartu penting dan foto berharganya di dalam sana. Tidak mungkin ia tak membawanya karna taeyeon ingat saat ia keluar dari taksi setelah membayar dengan uang didompetnya, lalu kemana dompet itu?

Taeyeon menatap petugas itu dengan wajah masamnya “dompetku hilang”

“kau bercanda? Sudah lebih dari 100 siswa yang di bawah umur seperti dirimu beralasan seperti itu, aku heran, apa kalian tak bisa mengingat jasa orang tua kalian saat menyekolahkan kalian?”

Percayalah, bahwa taeyeon sama sekali bukan siswa “woahhh, neo jinjja!” dengan kesal, taeyeon mencoba menerobos namun sialnya tangan mungilnya di genggam erat dan diseret beberapa meter dari pintu. Dingin, dan rintik rintik hujan sudah mulai berjatuhan, mengenai wajah taeyeon dan membuat wajahnya yang pucat menjadi lebih pucat “pria tua di dalam sana, dia bosku, dan kau tau? Istrinya akan melahirkan. Istrinya berteman dekat dengan istri CEO di kantorku, dan istrinya…” taeyeon menghela nafas panjang dan kembali melanjutkan kalimatnya “selalu mengancam akan memecatku jika aku tak bisa membawa pria tua, ah ani suami tercintanya itu ke hadapannya. Bagaimana bisa pria setua itu masih suka berkeliaran dan menjadi player hanya karna ia kaya? Dan apa kau akan bertanggung jawab jika aku dipecat?”

Petugas itu tertawa lepas, terlihat uap dingin keluar dari mulutnya yang terbuka lebar itu “apa ini cerita seri terbaru? Biasanya bocah-bocah kecil itu bilang bahwa ia kesini mencari ibunya yang seling…” oh Tuhan, ini pertama kalinya taeyeon mengutuk wajahnya yang babyface ini.

“AHJUSSI, AKU BUKAN BOCAH! KENAPA KAU TAK PERCAYA JUGA HUH?”

Emosi taeyeon memuncak, bagaimana bisa pria ini tak percaya padanya? Ia sudah sangat kedinginan disini, dan taeyeon baru ingat saat ia kesini ia lupa dengan sesuatu yang bernama makanan, yap taeyeon belum makan malam, dan sekarang sudah tengah malam, gerimis, dan dingin seakan menambah beban taeyeon.

“AHJUSSI? YAK BOCAH, MULUT MU BENAR-BE……” petugas itu hendak kembali mendorong taeyeon sebelum sebuah suara berhasil membuatnya terdiam kaku dan menatap kaku seseorang yang berdiri dengan tatapan dinginnya di belakang taeyeon.

“apa yang kau lakukan?” terdengar suara dingin dan tajam tepat di belakang tubuh taeyeon, well, sejak kapan ada pria di belakangnya?

“ju…ju…”

“minta maaf? Baiklah aku maafkan, biarkan yeojja ini masuk ke dalam Club” Pria itu menatap tajam petugas itu dan menggerakkan tangannya seperti seseorang yang terlihat menggolok leher.

Taeyeon yang merasa heran dengan petugas ini menatap ke belakang, senyuman hangat masuk ke retinanya. Pria yang taeyeon yakini berhasil meyakinkah si petugas ke aman dan membuatnya berhasil masuk ke Club ini sebentar lagi tersenyum singkat kearahnya, matanya menatap dalam ke dalam mata pria itu. Pria itu melakukan hal yang sama dengan taeyeon, seakan menyelami tatapan masing masing. Perlahan tatapan taeyeon berubah dengan tatapan bingung dan taeyeon melepaskan tatapannya.

“khamsamida” taeyeon membungkukkan badannya sopan, hanya sekilas sekilas dan ia hendak berbalik, namun niatnya gagal saat sebuah tangan dengan tatto smile di tangan kirinya memegang erat lengan taeyeon, membuat taeyeon terdiam dan kembali menatap pria itu.

“temui aku di basement saat urusanmu selesai, arraseo?”

Temui? Apa lagi sekarang? Astaga apa pria ini tak ikhlas membantunya? “mwoya? Kau mau apa? Mau bertanya tentang kartu pengenalku juga?”

Pria itu tertawa pelan, memperlihatkan gusi gusi merahnya dan giginya yang putih bersih itu, ahh aroma mint yang keluar dari mulut pria itu bahkan berhasil menggoda hidung taeyeon untuk mencium aromanya. Dan detik berikutnya taeyeon kembali merutuki kebodohnya. Bagaimana bisa ia terpaku pada seseorang hanya karne bau mulutnya yang harusm? Pabboya Kim Taeyeon.

“ani, kau berhutang padaku! Kau tau? Masuk ke dalam Club ini tak semudah yang kau bayangkan”

“tak mudah? Benarkah? Buktinya kau bisa membuat pria itu…” taeyeon menoleh kebelakang dan tak melihat petugas yang tadi berdebat dengannya berdiri disana kembali menatap pria itu “kemana dia? Apa dia takut padamu?” tanya taeyeon dengan tatapan bergindik menatap pria itu, mata taeyeon menatap pria itu dari atas hingga bawah, yah tak mungkin pria itu preman jahat dilihat dari cara pakaiannya yang terlihat sangat fashionable dan juga tatto yang terukir ditangan kirinya dan mengintip sekilas di leher bekalangnya.

Pria itu masih betah dengan senyum manisnya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah taeyeon, tangannya masih saja memegang lengan taeyeon erat ah tidak ini sangat erat, membuat taeyeon panik seketika namun entah kenapa ia seakan tak punya tenaga bahkan untuk mengambil langkah mundur satu sentipun. Badannya mendadak kaku karna tatapan pria itu. Hingga pria itu memajukan wajahnya dan mengarahkannya ke telinga taeyeon “kau tak mau menyeret pria tua itu? Selesaikan masalahmu dan temui aku di basement”

Suara bisikan itu makin membuat bulu kuduk taeyeon meremang seketika, badannya mendadak kaku dan tatapannya kosong. Hingga beberapa menit berlalu ia masih terdiam dan menyadari pria itu sudah berlalu dari hadapannya dan masuk ke dalam.

“arghhhhhh jam berapa sekarang?” taeyeon melirik sekilas jam di ponselnya dan segera berlari memasuki Club, tempat terkutuk menurut taeyeon.

Baru saja taeyeon berjalan beberapa langkah masuk kedalam, matanya kembali membulat sempurna, sungguh, didalam sini benar-benar sesak dan ramai. Dinginnya udara diluar seakan tak berminat untuk menyejukkan ruangan panas ini. Dentuman musik dengan irama menyentak semakin memekakkan telinga dan jangan lupakan lautan manusia yang menari di lantai bawah sana, taeyeon awalnya sangat heran, apa enaknya menari dengan orang seramai itu, apa mereka bisa bergerak dengan bebas?

clip_image010

Dan yang membuat taeyeon jengah, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, pria tua yang hendak ia seret ke luar dari sini tengah menari dengan wanita dengan pakaian yang sangat minim. Sepertinya pakaian minim sudah menjadi dresscode untuk masuk ke sini. Taeyeon mendengus kesal dan berlari menerobos kerumunan dilantai dasar yang seakan bisa membuat tubuh mungilnya menghilang di kerumunan.

Tabrakan dan cacian kian memenuhi gendang telinga taeyeon digiringi dentuman keras musik yang taeyeon anggap musik gila yang merusak telinganya, namun dengan cueknya taeyeon terus mencari pria tua itu hingga tangannya meraih tangan pria tua yang berusia 45 tahun itu, ah ia tak setua yang kalian fikirkan, hanya saja gayanya yang kuno dan sikapnya yang seperti kakek tua tak tau diri membuat nama pria tua melekat pada Pemimpin taeyeon itu. Sebenarnya hanya ia, tiffany dan Yuri saja yang memanggil pria tua kepada nya, ah hanya dibelakang saja, jika di depannya sudah dipastikan taeyeon tak akan makan beberapa bulan kemudian karna tak ada uang untuk membeli makanan, dalam kata singkat ia pasti akan dipecat karna tak sopan dengan pemimpinnya.

“sajangnim!”

Pria tua itu menoleh dan menatap taeyeon dengan pandangan malasnya “mau menyeretku lagi eoh? Dan heii, kau Kim Taeyeon? Bukankah yang biasanya menjemputku jika aku di Club itu Tiffany atau Yuri? Kemana Mereka?”

Dengan sabar taeyeon menarik lengan pria tua itu menjauhi kerumunan, namun sialnya yeojja yang tadi tengah menari dengannya menahan lengannya hingga terjadi tarik menarik ditengah lantai itu dengan orang-orang yang tengah menari tak menyadari keanehan mereka bertiga. Taeyeon langsung saja berbisik kepada Sung sajangnim dengan mata yang masih menatap tajam yeojja yang juga menatapnya tajam “sajangnim, istri anda akan segera melahirkan! Cepatlah keluar dari sini sebelum anda diceraikan!”

Wajah panik langsung saja mendominasi wajah pria itu, dan dengan cepat ia menghempaskan kedua tangan yeojja yang tadi menarik ulur tangannya, tangan taeyeon dan tangan yeojja yang mungkin saja akan menjadi pelayan nya malam ini. Pria itu berlalu begitu saja meninggalkan taeyeon yang menghela nafas lega “aku bisa pulang sekarang” batin taeyeon senang.

Baru beberapa langkah, yeojja itu langsung saja menarik kasar tangan taeyeon dan menatap taeyeon dengan tatapan penuh emosi “kau merebut pelanggan ku, jalang!” dengan kasar yeojja itu menjambak rambut hitam legam taeyeon. Taeyeon meringis kecil menahan perihnya tarikan yeojja ini pada rambutnya yang malang, namun entah orang disini bisu atau apa hingga tak ada satu orangpun yang peduli dan memperhatikan mereka.

Langsung saja taeyeon menggigit tangan yeojja itu keras hingga yeojja itu berteriak dan balas menampar pipi taeyeon keras, sangat keras hingga membuat bekas merah diwajah pucat taeyeon terlihat jelas sekalipun ruangan ini remang remang dengan lampu kerlap kelipnya.

“jaga kelakuanmu ahgassi, aku tidak merebut pelangganmu!” seru taeyeon tajam, ayolah ini salah paham, taeyeon merebut pelanggannya? Yang benar saja!

“jinjja? Lalu apa yang kau lakukan? Pria itu meninggalkanku tanpa uang sepersen pun!” teriak yeojja itu dengan wajah penuh emosinya, bisa dipastikan yeojja itu berusi 30 tahun, taeyeon tahu itu, wajahnya benar-benar tecover dengan baik oleh makeup tebalnya itu. “bit*h” tambah yeojja itu dan ia menatap taeyeon dengan pandangan murahan “wajah polos yang ada pada dirimu benar-benar menipu! Ternyata kau sama jalangnya denganku”

Apa jalang? Taeyeon? Ini benar benar sudah keterlaluan! Taeyeon hendak menampar dan menertibkan mulut kurang ajar yeojja itu namun niatnya terhenti saat yeojja itu melemparkan air yang ada di dalam gelasnya, bukan air, taeyeon yakin bahwa itu pasti saja minuman dengan kadar alkohol tinggi. Pasrah, taeyeon menutup matanya dan menunggu cairan itu mengenai wajahnya. Beberapa detik berlalu, ia tak merasakan ada air yang menyentuh wajahnya. Hingga taeyeon memilih untuk membuka matanya, dan melihat punggung kokoh, tengah berdiri dihadapannya. Punggung seorang pria dengan kemeja hitam memperlihatkan kerahnya dan sweater dengan motif berwarna gelap itu. Dan taeyeon merasa bahwa ia mengenali baju ini, dan suara itu…

Suara yang beberapa menit yang lalu memasuki gendang telinganya…

*

*

*

“kau mabuk? Kenapa kau tersenyum semenjak kau menginjakkan kakimu ke meja ini! Apa aku harus menelpon ibumu eoh?”

Pria yang mendapatkan pertanya dari pria yang duduk dihadapannya ini hanya mengangkat bahunya cuek dan meneguk minumannya dengan cepat. Ia harus bergegas, karna ia ada urusan dengan seseorang yang membuatnya tersenyum di harinya yang suram ini. Percayalah kalau sebelum sampai disini, ia bahkan sempat beradu mulut dengan seseorang yang ia panggil hyung di rumah sakit tempat pria itu bekerja.

“apa kau selalu meminum obatmu?” pertanyaan pria itu berubah dengan nada khawatirnya saat ia menatap pria dihadapannya itu masih saja tersenyum dengan manisnya. Pria itu sangat jarang tersenyum selebar itu, apa terjadi sesuatu dengan sarafnya? “kau sakit?”

Lagi, pria dihadapannya menggeleng cepat, masih dengan senyum manis dihadapannya “yak Kwon Jiyong, jangan membuatku takut”

“top hyung, aku baik baik saja dan berhenti mencemaskanku, aku memakan obatku yang pahit itu sekali sehari, dan aku tak sakit, aku bahkan baru pulang dari tempat hyung menyebalkan itu”

Seorang pria dengan kemeja putihnya berjalan mendekati meja Jiyong dan Top, membuat senyum jiyong semakin mengembang. Ia yakin bahwa pria yang baru saja datang itu membawa foto foto terbaru untuknya.

clip_image012

Dugaannya benar, saat pria yang bernama Seungri itu melemparkan amplop coklat kedepan jiyong, langsung saja jiyong membuka nya dan menemukan satu lembar kertas foto, kening jiyong berkerut kecewa saat mendapati satu kertas foto di dalam sana “hanya ada satu gambar saja?”

“yah hyung, bagaimana bisa aku selalu memata matainya? Apa kau gila? Aku hanya manusia biasa yang mempunyai kehidupan pribadi!”

“arraseo, gomawo seungri-ah” jiyoung menarik kertas foto itu dan menatap foto itu dengan senyum manis diwajahnya, membuat kedua orang pria yang duduk didepannya menatap jiyong aneh.

“aku tau kau selalu tersenyum jika melihat fotonya, tapi bagaimana bisa senyum mu berubah kali ini? Apa dosis obatmu hilang?”

Jiyong meringis kesal mendengar tutur kata yang keluar dari mulut TOP dan mengalihkan tatapannya menatap kedua pria dihadapannya dengan tatapan datarnya “bagaimana jika aku menemuinya?”

“ANDWE!” teriakan seungri masih mampu menusuk telinga jiyong ditengah kegaduhan Club malam hari ini “jangan gila! Kau belum sembuh hyung!”

“bagaimana jika ia yang menemuiku?” tanya jiyong pelan, penuh dengan senyuman manisnya yang entah kenapa terkesan sangat mencurigakan

“di…dia? bagaimana bisa?”

“aku melihatnya di depan Club” sambung Jiyong

Top yang baru saja mendengar sesuatu yang menurutnya langka itu menatap Jiyong dengan tatapan ragu “apa? Dia.. ke Club? Yah seungri-ah bukankah kau bilang dia tak suka ke Club?”

Seungri mengangguk setuju “aku yakin temannya itu bilang begitu! Percayalah!”

“apa kau berhalusinasi, jiyong-ah?”

“anieyeo, jinjjaru!” tegasnya.

*Flashback*

Jiyong yang baru saja mendapat telpon dari ‘Oemmanya’ mendengus kesal, dan langsung menekan pedal gas mobilnya dengan cepat. Ayolah oemmanya selalu saja takut dan khawatir saat jiyong terlambat meminum obatnya, dan seorang kwon Jiyong sama sekali tak suka jika seseorang khawatir padanya. Hingga ia sampai di basement parkiran Club The-A yang berada di daerah gangnam. Dengan cueknya, jiyong keluar dari mobil berwarna putih merk ternamanya itu dan langsung saja menutup pintunya dengan asal, berlalu keluar dari basement. Jiyong yang biasanya memilih lewat pintu belakang Club, entah kenapa berniat menghirup udara malam sebentar dan memasuki pintu depan Club. Beberapa menit ia terduduk dengan cueknya diujung tangga depan Club, matanya menyipit saat seorang yeojja turun dari taksi.

Rasa tak percaya dan kaget menghampiri jiyong dan langsung saja membuat jantung jiyong bergetar kaget. “apa yang ia lakukan malam-malam di Club? Apa aku berhalusinasi? Ini karna aku telat meminum o…”

Namun pikiran Jiyoung yang berkata bahwa itu hanya halusinasi, dan semua halusinasinya menghilang saat yeojja itu lewat dengan tatapan kagumnya menatap bangunan di depannya, bangunan dengan tulisan Club The-A. Jiyong tersadar saat dompet dengan merk yang tidak terkenal dan terkesan kecil itu jatuh tepat di depannya. Langsung saja Jiyong mengambilnya dan menyelipkannya ke dalam saku celana yang ia gunakan.

Jiyong hanya terdiam di tempat duduknya saat ia melihat yeojja yang bernama Taeyeon itu berdebat dengan sengitnya dengan petugas keamanan itu. Tentu, jiyong tahu dengan taeyeon, ia tahu segala tentang taeyeon, dan sedikit menyedihkan karna taeyeon tak tau apa apa tentang Jiyong. Sekilas, jiyong mendengar apa yang menjadi perdebatan taeyeon dengan namja itu, hingga senyum tersemat di wajahnya.

Jiyong berdiri cepat dari duduknya saat ia melihat taeyeon di dorong dengan kasarnya oleh petugas itu, dan langsung saja jiyong berdiri dibelakang taeyeon dan mengancam petugas itu, tentu petugas itu tak lupa jika jiyong adalah pengunjung VVIP di Club ini. Hingga ia menghilang dan meninggalkannya dengan taeyeon beserta tatapan bingung yeojja itu, Jiyoung benar bukan. Yeojja itu sama sekali tak mengenalnya.

“khamsamida” taeyeon membungkuk sopan dan sekilas padanya, langsung saja jiyong meraih lengannya, mencegah nya agar yeojja itu tak meninggalkannya sebelum ia sempat berbicara.

“temui aku di basement saat urusanmu selesai, arraseo?” baiklah, tetap tenang kwon jiyoung, kau hanya mengajaknya bertemu dan setelahnya akan segera berpisah. Dan entah kenapa sesuatu yang bersembunyi di dadanya terus berdebar tak karuan menghadapi fakta bahwa ia akan bertemu taeyeon nanti, hanya ia dan taeyeon.

“mwoya? Kau mau apa? Mau bertanya tentang kartu pengenalku?”

Kartu pengenal? Yang benar saja, jiyoung bahkan sudah tau segalanya tentang Kim Taeyeon, bahkan ukuran sepatu dan ekhm pakaian dalam taeyeon pun jiyong tau itu. “ani, kau berhutang padaku! Kau tau? Masuk ke dalam Club ini tak semudah yang kau bayangkan”

“tak mudah? Benarkah? Buktinya kau bisa membuat pria itu” taeyeon menoleh kebelakang dan kembali berucap “kemana dia? Apa dia takut padamu?”

Jiyong tersenyum lebar, entahlah ia tak bisa menahan senyumannya saat melihat wajah yeojja yang selama ini hanya ia lihat lewat fotonya saja berdiri tepat di hadapannya. Apa semalam ia bermimpi indah? Dan senyumnya semakin lebar tatkala yeojja itu menatapnya secara inci dari atas hingga bawah, membuat jiyoung bersyukur dalam hati, untung saja ia tak menggunakan baju tanpa lengan yang memperlihatkan tatto ditubuhnya dan membuat taeyeon takut padanya.

Ingatan Jiyong melayang dan ingat apa alasan taeyeon ke Club ini, yah ia mendengarnya saat ia berdebat tadi dan mendekatkan wajahnya ke telinga taeyeon “kau tak mau menyeret pria tua itu? Selesaikan masalahmu dan temui aku di basement”

*flashback off*

“benarkah? Kau yakin tidak berhalusinasi?”

Jiyong menatap jengah kedua temannya ini semenjak ia menginjakkan kakinya di bangku sekolah menengah pertamanya “apa aku terlihat seperti orang gila? Kenapa kalian selalu berbicara soal halusinasi eoh?” Jiyong mengelap kasar keningnya yang sama sekali tak berkeringat, bangkit dari duduknya dan meneliti setiap penjuru bar, ah ia berada di lantai dua, tempat orang-orang duduk sambil minum, bukan tempat dimana orang menari nari bak orang kesetanan di bawah sana karna itu sama sekali bukan style-nya. Jiyong ke Club hanya untuk bertemu sahabatnya ini. Senyuman kembali menghiasi wajahnya saat ia melihat Taeyeon tengah melakukan adegan tarik menarik dengan seorang yeojja memperbutkan seorang pria tua, membuat mood jiyong turun dan menghela nafas kesal “bahkan pria tua itu ia pegang, kenapa aku tak boleh berada di dekatnya?”

Top yang menyadari tatapan jiyong ke arah mana, segera melihat dengan teliti apa yang berhasil merubah ekspresi Jiyong dan kali ini keterkejutan kembali menyapanya “mannae, itu Kim Taeyeon, dan kwon jiyoung tidak berhalusinasi kali ini!”

“hyung, diam disini, dan jangan temui dia dulu hyung, kau masih belum sembuh!” sambung seungri tegas.

Jiyong hanya mengangguk pasrah, saat seungri memerintahkannya. Baiklah, jiyong tak ingin melakukan hal yang gegabah lagi yang bisa merusak semua rencananya, rencana untuk mendekati Kim Taeyeon. Namun, rencana yang sudah Jiyong susun bertahun-tahun belakangan akan segera runtuh. Rencana Jiyong runtuh saat ia melihat yeojja dengan pakaian minim itu menampar Taeyeon, dengan emosi yang meledak ia langsung berdiri dan berlari menuju lantai dasar.

“hyung! Jangan gila!”

“mwoya? Aku tidak suka jika sesuatu yang akan menjadi punyaku dirusak oleh orang lain!” ujarnya keras dan melepaskan genggaman seungri dan top yang berusaha mencegah nya agar tak bertatapan dengan taeyeon. Jiyong tau itu demi kebaikannya, tapi ayolah, taeyeon-nya tengah di tampar. Dan jiyong tak akan membiarkan apapun itu merusak ataupun menganggu taeyeon.

Tak butuh waktu lama jiyong sudah berdiri tepat dihadapan yeojja jalang itu, dan benar saja, jiyoung berhasil menyelamatkan taeyeon dari lemparan wine yang di alamatkan ke taeyeon. Helaan nafas kasar mengalun indah keluar dari mulut Jiyong saat aroma wine menyerbu hidungnya, dengan tatapan tajamnya ia menatap yeojja itu hingga membuatnya melangkah selangkah mundur.

“don’t touch her, don’t talk to her! Atau kau akan menyesal!” Suara jiyoung terdengar sangat dingin dan terkesan tajam itu membuat yeojja itu bergetar takut

“dia merebut pelangganku, gd-ssi!” bela nya.

“pelanggan? Pria tua itu? Kau kira ia gadis seperti mu? Dia bahkan jauh lebih baik dari mu! Dan kau tau? Ini pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di tempat ini!”

“gd-ssi, keu…”

“Jiyong-ah! Neo michoseo?” Top dan Seungri yang dari tadi mengejar jiyoung akhirnya sampai di depan namja itu, dan dugaannya benar. Jiyong membuat masalah lagi “ahh apalagi kali ini hyung?”

“dia menyentuh milikku!” ujarnya dalam dan sarat akan kepemilikan.

Taeyeon yang bingung dengan apa yang terjadi pun hanya diam dengan wajah bingungnya, apa ia bermimpi? Atau telinganya tengah rusak? Atau mimpi buruk lainnya kembali menghampirinya? Pelan, sangat pelan, taeyeon mulai berjalan mundur dan hendak menghindar dari beberapa orang yang tak ia kenal ini, ah salah ia mengenal satu orang. Orang yang baru saja membelanya dan mengatakan bahwa ia punya pria itu? Apa pria itu gila?

Taeyeon berhasil melangkah mundur hingga ia sampai di depan sebuah pintu lift, yeojja itu sedikit bersyukur bahwa Club ini benar benar bermusik keras hingga mereka tadi tak mejadi perhatian publik. Taeyeon menghela nafas lega saat lift tersebut sampai di lantai dasar. Mobil mewah dengan berbagai merk terparkir dengan rapinya disana.

“temui aku di basement saat urusanmu selesai, arraseo?”

kalimat yang baru beberapa jam yang lalu ia dengar mendadak terngiang ngiang ditelinganya, membuat bulu kuduk taeyeon merinding. Ah ia tak takut pada pria itu, hanya saja ia merasa sedikit risih saat pria itu bilang bahwa taeyeon punya nya? Yang benar saja.

Taeyeon kembali melangkah dan berhasil, ia berhasil keluar dari Club dengan aman dan ia tak perlu berurusan dengan namja itu lagi, siapa tadi namanya? GD? Jiyoung? Mana ada orang hidup dengan dua nama! Pria itu pasti benar-benar sinting.

Gerimis masih saja betah menghujani kota Seoul, membuat taeyeon menutup rapat sweaternya dan mulai berjalan dengan pelan menuju rumahnya. Kalian tak lupa kan jika dompet taeyeon hilang? Dan sialnya lagi, semua uangnya ada disana. Tak mungkin jika ia naik taksi namun tak ada uang? Mana ada supir taksi yang mau menerima penumpang sepertinya.

Dingin mulai menerpanya saat rambutnya yang semulanya kering, sekarang sudah terlihat separuh basah, membuat rambutnya lurus kebawah seperti habis keramas. Kesal, taeyeon menendang batu di trotoar dengan asal! “bagaimana bisa pria tua itu membuatku menjadi gelandangan di malam hari!!! Jika aku bisa aku akan mencari pekerjaan lain!!!”

Namun lagi-lagi, sebuah suara kembali terngiang ngiang diotakknya “ani, kau berhutang padaku! Kau tau? Masuk ke dalam Club ini tak semudah yang kau bayangkan”

Hutang? Cih yang benar saja, kau hanya membuatku masuk kedalam sana… dan kau juga sudah melindungiku… Astaga taeyeon.

Taeyeon berhenti melangkah saat sebuah mobil sport yang ia yakini berharga milyaran itu berhenti tepat di depannya. “baiklah, aku tak punya teman dengan mobil mewah!” dengan cueknya taeyeon kembali melanjutkan langkahnya, namun lagi lagi mobil itu berhenti tepat disebelahnya. Taeyeon yang berusaha berpura-pura tak pedulipun akhirnya menyerah saat lebih dari 15 menit mobil itu mengikutinya.

“ahjussi, apa kau ada perlu de….”

Belum sempat taeyeon melanjutkan kalimatnya, ia tertegun saat melihat pria dengan rambut berwarna silver dan wajah dengan noda bekas wine yang terlihat sedikit mengering itu terduduk dengan senyum manis menatapnya di balik kemudi. Bukankah mobil itu tadi tertutup rapat dengan atap? Dan pria bodoh apa ini yang membuka atap mobilnya saat hujan.

clip_image014

“aku tidak bodoh, kau yang bodoh!” ucapnya acuh tak acuh

“mwo? Bagaimana bisa aku bodoh? Yah kau membaca fikiranku?” woah? Apa pria ini benar benar bisa membaca pikiran ku? Aku rasa tak ada di dunia ini orang yang bisa? Atau mungkinkah aku tengah bertemu dengan seorang dracula? Ah bukan vampir?

“vampir? Apa aku sekeren itu sampai kau berfikir aku ini vampir? aku tidak membacanya. Hanya saja otakmu itu transparan! Cepatlah naik” ujar Jiyong. Jiyong bahkan sempat mencibir yeojja itu yang percaya bahwa ia membaca fikirannya? Jiyong tak membaca fikiran taeyeon, hanya saja semuanya tercetak jelas di wajah yeojja itu. Dan percayalah, jiyong sangat bahagia bisa melihat, menatap dan berbicara dengan taeyeon dengan langsung. Bukan dari foto yang selalu seungri berikan padanya.

Taeyeon mendengus kesal dan mendelikkan matanya menatap Jiyong penuh selidik “kau mengataiku? Naik? Kemana? Ke langit? Aku tidak bisa karna sekarang tengah gerimis, tinggalkan aku jika kau bukan dracula atau vampir berdarah dingin yang ingin menghisap darah ku!”

Jiyong yang merasa cukup sabar menghadapi kelakuakn taeyeon saat keluar dari Club tanpa berbicara padanya dan menganggapnya tidak ada saat mobilnya mengikutinya selama 15 menit menyerah, dan turun dari mobilnya. Meraih pergelangan lengan taeyeon dengan cepat dan menyeretnya masuk ke dalam mobil. “cobalah keluar dari mobilku, dan kita lihat apa yang akan kulakukan padamu” ancamnya.

Diam, yah taeyeon terdiam dan duduk tenang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dan yeojja itu mulai menyadari bahwa pria ini tak suka dibantah, dan bayangan kasur yang memanggilnya di rumah pun hanya menjadi angan angannya sekarang karna sepertinya ia akan pulang terlambat karna pria ini.

“kenapa kau menutup atapnya?”

“bukankah kau tadi bilang aku bodoh karna membuka atap mobilku saat gerimis?”

Taeyeon tertegun, Apa otaknya benar-benar transparan? “apa otakku benar-benar transparan?”

Jiyong tertawa lepas, baiklah iya bahkan hanya asal bicara dan ternyata benar, yeojja itu memikirkan hal yang ia bicarakan. “menurutmu?” jiyoung mendekatkan badannya kearah taeyeon, membuat taeyeon lagi lagi terdiam “apa…apa?” bahkan untuk menanyakan ‘apa-yang-kau-lakukan mulutnya kelu untuk berucap. Hingga wajah namja itu berada tepat beberapa centi didepannya. Bahkan bau wine yang dilempar yeojja di Club tadi masuk ke indra penciuman taeyeon, membuatnya merasakan getaran yang aneh di dalam dirinya.

“apa? Kisseu? Kau mau mencobanya?” entahlah jiyong benar-benar berniat menggoda yeojja ini, tapi saat ia sudah berada di depan wajahnya dan menatap wajah yeojja itu, ah bukan bibir pink pucat itu malah membuat dirinya tergoda untuk menyicipinya. Bagaimana bisa ia semesum ini? Ah tidak tidak! Ia akan menamparmu kalau begitu kwon jiyong!

“gd-ssi, apa yang kau lakukan?”

GD? Jiyoung tertegun, matanya yang semula menatap bibir taeyeon perlahan terangkat dan menatap mata taeyeon dalam, namun tiba tiba matanya kembali melirik ke arah pipi kanan taeyeon, sedikit memerah. “gd? Jangan memanggilku gd! Dari mana kau tau namaku?”

“yeojja tadi memanggilmu begitu”

Tangan jiyoung perlahan terulur dan menyentuh dengan pelan pipi kanan taeyeon, mengelusnya pelan dengan ibu jari tangannya, seolah olah benda itu akan hancur jika ia menyentuhnya sembarangan “appo?” jiyoung menatap taeyeon dengan tatapan seolah merah dipipinya adalah luka parah yang akan sulit disembuhkan.

Tubuh taeyeon menegang saat tangan itu mengelus pelan pipinya, dan entah kenapa jantungnya berdebar dengan sangat cepat. Baiklah. Taeyeon mengakui jika ia tidak pernah melakukan adegan skinsip dengan namja manapun, hanya dengan oppanya, ah kecuali heechul dan itu hanya sebatas mengacak rambutnya saja, dan status heechul yang ia anggap sebagai oppanya. Siapa pria ini? Kenapa dengan lancangnya ia menyentuh pipinya?

“a-ani, g-gwenchana” jawab taeyeon pelan, taeyeon tengah berusaha sekuat tenaga mengatur nada suaranya agar tak terkesan gugup, namun sialnya, sekuat apapun taeyeon mencoba, nada suaranya tetap terkesan gugup dan bahkan sedikit gagap.

Jiyoung masih saja betah dengan posisinya membuat lambat laun nafas taeyeon tersendat sendat. Ia gugup. Sangat. Posisi ini benar benar akan membunuh seorang Kim Taeyeon lambat laun. “jinjja? Kenapa sekarang jadi semakin merah? Keurigeo, igeo tto (ini juga)” jiyong menunjuk pipi sebelah kiri taeyeon.

Baiklah, apa pria ini bodoh? Ia malu. Dan jika ia malu pipinya tentu saja akan memerah! Bagaimana bisa pipinya menghitam saat malu? “Bodoh!”

“kau mengataiku?”

“ne!”

Smirk menghiasi wajah jiyong saat dengan lantangnya taeyeon menjawab pertanyaannya. Jiyong kembali mendekatkan kepalanya, membuat taeyeon yang mengira jiyong akan menciumnya pun menutup matanya dengan pasrah. Hingga Jiyoung tertawa pelan dan mengaitkan seatbelt taeyeon dan kembali keposisi awalnya.

Taeyeon yang mendadak merasa tak ada halangan dihadapannya pun membuka matanya saat suara tawa pria itu masuk ke gendang telinganya. Dan taeyeon menyadari kebodohannya, bagaimana bisa ia menutup matanya? Dan berharap namja ini menciumnya? Apa ia gila? Dan apa lagi sekarang? Kenapa jantungnya masih berdebar?

“neo…”

“wae? Kau mau aku benar-benar menciummu?” Jiyong menghentikan tawanya dan menatap wajah kusut taeyeon “woah apa kau benar benar ingin ku cium?”

“ani! Wajahmu bau wine! Hanya itu!”

“ada apa dengan wine? Ah kau tak suka wine?”

“ottokae arraseo?”

“otakmu transparan!” dengan cepat jiyong langsung tancam gas mobilnya dengan kecepatan sedang. Membawa mobilnya melaju membelah kota Seoul di malam hari, tak banyak mobil yang melaju di tengah malam begini, ah bukan ini sudah hampir jam 1 malam.

Taeyeon yang masih tak terima otaknya dikatai transparan pun hanya terdiam dan berusaha sibuk dengan ponselnya. Beberapa panggilan tak terjawab dan 2 buah pesan dari heechul dan tiffany. Mereka pasti mengkhawatirkan taeyeon.

Deringan ponsel taeyeon membuat taeyeon kaget dan segera mengangkat ponselnya. “oh oppa? Ah aku?” taeyeon menatap jiyong penuh harap, berharap pria itu mau menunjukkan di daerah mana mereka sekarang, jiyong yang menyadari taeyeon menatapnya menghela nafas kasar. Ia tahu, pasti heechul, teman yeojja itu menelponnya.

“20 menit lagi sampai dirumahmu!”

“rumahku?”

“taeyeon-ah, neo eodiga? Nugunde? Aku mendengar suara namja”

Jiyong lagi lagi benar, itu suara heechul. “ah oppa aku akan sampai sebentar lagi, ne annyeong”

“bagaimana kau tau rumahku?”

“sudah ku bilang otakmu itu transparan”

“jangan bercanda, aku bahkan tak mengenalmu gd-ssi!”

Dengan kesal, jiyong menginjak rem dengan kuat hingga mobilnya berhenti mendadak, membuat taeyeon dan jiyong sedikit terhentak kedepan. Jiyong terdiam, mengalihkan tatapannya keluar. Ah mereka tengah diatas jembatan sekarang. Lampu kerlap kerlip terlihat dengan jelas bahkan saat mereka tengah berada di dalam mobil. Jiyong sedikit tersinggung dengan kalimat terakhir taeyeon walaupun faktanya itu memang benar, taeyeon tak mengenalnya.

Jiyong dengan cepat merampas ponsel yang taeyeon pegang hingga yeojja itu tertegun “apa yang….”

“membuat mu mengenalku!”

Tangan lihai jiyong berhasil membuka ponsel taeyeon yang menggunakan sandi, taeyeon jadi semakin bergindik ngeri saat jiyong ternyata mengetahui password ponselnya. Jiyong mengklik voice record di ponsel taeyeon. Mengahadap kearah taeyeon, menatapnya dengan tatapan terdalam yang ia punya dan mulai memencet tombol dengan bulat merah itu.

Taeyeon yang heran dengan apa yang akan dilakukan jiyong pun hanya terdiam dan memandang penuh minat saat pria itu melirik sekilas jam tangannya. Jam tangan yang lagi lagi terlihat sangat mahal itu. “tepat pukul satu lewat 11 menit, 3 april 2016” jiyoung menghela nafas singkat “aku… Kwon Jiyong dan kau, Kim Taeyeon sudah saling mengenal! Dan tepat pada hari ini, kau menjadi milikku, Kwon Jiyong! Jangan berdekatan dengan namja bernama Kim Heechul itu dan jangan memanggilku dengan nama GD! Jangan biarkan seseorang menyentuhmu karna….”

“kau milikku…..”

*

*

*

*TO BE CONTINUE*

Hollaaaa^^ bukannya ngelarin ff yang lama eh malah bikin ff baru, castnya beda lagi! Maafkan authorT-T seketika otak ini memikirkan cerita baru, dan udh sempet mo lupain cerita dan ga buat ff yang baru dulu sebelum nyelesai in yang lama, tapi apalah daya, ide ini semakin membunuh ku! Sorry^^ hayoooo yang tau aku siapa dan nulis ff apa hayo? Moonlightnya Lutae #gaadaygtaufflu! Ahh syudahlah lupakanTT hanya ganti nama author aja, udh itu aja. Lagi mentok ide di ff sonooo, tapi tenang dalam proses kok^^ Ada yang ga suka GD disini? Kalo ada, yowes! Close tab aee. Btw, aku gtae hardshipper. Muahahahaha 😀 dan btw, ini ff udah lama cuman baru di rombak aja. Komen kalian nentuin ff ini bakal dilanjut ato ditinggal gitu aja, sekian. Gomawo L *HUG* *KISSKISS* *BOW*

Advertisements

81 comments on “[FREELANCE] Falling Crazy In Love (Chapter 1)

  1. Ada ff gdtae yg baru lagi nih….
    Wah…seu thor ceritanya, tp imi gd sakit apa ya….
    Ditunggu lanjutannya thor….

    Fighting

  2. jiyoung knpa tau smua tntang tae? woaaahhh pnasaran banget thor, lnjut trus, jan lama” updatena ya!!! fighting

  3. Omona !! Kerennnn !! Suka bngt sama karakter gd dsini karena nga terkesan bad boy tpi posesif gmana gtu hahaha ..
    lah brrti si gd udh lama ngestalk taeng ? Kekkekeek~ pnasaran bngt knapa gd bs knal dan suka bngt sama taeng … next dtunggu !!! 😊 fighting !

  4. late comment thor. ini aku masih bingung GD kenal dimana ya sama Taeyeon? haha Taeyeon dgn otak transparannya wkwk. oke next chapter ditunggu thor. FIGHTING!!

  5. aigoooo daebakkkkk gd ngikutin taeyeon kemana mana ya sampe tau rumahnya
    gd sakit apa sih thorr sampe harus minum obat terus penasarannnnnn
    lanjutkan thor fighthinggggg

    • Jiyoung sakit apa ya?smpe segitunya dia ,kenal taeyeon juga dri mana ??duh penasaran nihh wkwk,next chap ya thor !keep writing & imagine ! Fighting!

  6. Daebak banget thor!!^^
    Gd kelewat suka banget sama Taeyeon tapi Taeyeonnya bingung, kagak au apa apa, kagak kenal pula:g
    Gd kelewat stalker handal.. Mungkin klo rumah, hobi, kebiasaannya Taeyeon yg dia ketahui wajar.. Sampai sandi password hp Taeyeon aja dia ketahui? Daebakk!!:3
    Karakter Gd penyayang tpi posesif begitu.. Juga sifatnya agak badboy:3

    Ditunggu banget chap slanjutnya thor!! Fighting!!^^

  7. Please … To be countie penasaran karna aku juga GTAE shipper! 😭😭😭😭 cepet cepet post ya kalo bisa lebih panjang ceritanya dan jangan terlalu lama untuk cepat mempostinb kelanjutannya.

  8. wah Authornim nya GTAE HARF SHIPPER? samaan aku juga *high5 🙋Chapter 1 udah buat penasaran. Kira kira gimana caranya Gd kenal taeyeon? GD sakit apa? Dan kapan updatenya Authornim? 😂😂 Need more ff gtae 😢😢 Fighting Authornim, ditunggu kelanjutannya 💪💪

  9. Pingback: [FREELANCE] Falling Crazy In Love (Chapter 2) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Sampai pakaian dalam & password ponsel Taeyeon Jiyong mengetahuinya? ckckck
    Benar-benar Falling Crazy in Love 😀
    FIGHTING! 😀 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s