The Leader’s Secret (Chapter 8)

wpid-wp-1440532290100

Bina Ferina Storyline

Kwon Jiyong (GD BigBang), Kim Taeyeon (GG) || Romance, Fantasy || PG 18

 

“The Leader’s Secret”

A/N     : Dear, ATSIT’s readers. Thank you so much karena udah support FF ini, yaaaa^^ baca comment  kalian semua jadi semangat buat lanjutin chap 8 ini hehehee.

Loveyousomuch~

 

 

Preview :

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7

 

~~~

“Eung…,” erang Taeyeon dalam tidurnya. Ia bergelung di dalam bedcover dan memutuskan untuk melelapkan dirinya kembali. Sayang, rasa kantuknya hilang begitu saja saat tenggorokannya terasa kering.

Karena tidak dapat menahan rasa dehidrasinya lebih lama lagi, Taeyeon menyingkap bedcover itu dan bangkit dari tempat tidur. Ia keluar dari kamar Jiyong dan berjalan menuju dapur. Belum sempat gadis itu membuka pintu kulkas, kedua matanya menangkap beberapa bungkusan tomato juice di dalam keranjang sampah. Bungkusan itu menarik perhatian Taeyeon karena ia masih sangat mengingatnya. Bungkusan yang pernah ia jadikan tempat untuk menyimpan darah hewan untuk Jiyong.

Taeyeon membatalkan niatnya untuk membasahi kerongkongannya dan lebih memilih mengambil bungkusan itu dari dalam keranjang sampah. Ia mencium baunya dan tidak salah lagi, bungkusan itu berisi darah hewan sebelum isinya diminum.

Dan siapa lagi yang meminum darah hewan di apartemen Yuri selain Kwon Jiyong?

Selama beberapa detik memandangi bungkusan itu, Taeyeon membuangnya kembali dan langsung keluar dari apartemen. Ia melesat menuju rooftop gedung apartemen tanpa banyak berfikir. Entahlah, tapi perasaannya berkata laki-laki itu tengah berada di sana.

Sesampainya di sana, Taeyeon membuka pintu rooftop dan ia bisa melihat dengan jelas laki-laki itu tengah tertidur pulas di atas kursi ayunan yang panjang. Secara perlahan, gadis mungil itu mendekati tubuh Jiyong dan berlutut di depan wajahnya sembari dipandanginya lekat-lekat. Wajah seorang G-Dragon begitu damai dan terlihat polos sekali saat tidur, membuat Taeyeon menyunggingkan senyum manisnya.

Angin berhembus cukup kencang menerpa tubuh mereka berdua tapi tidak membuat tidur Jiyong terganggu. Angin itu membuat tubuh Taeyeon sedikit kedinginan. Namun, ia tidak beranjak dari tempatnya dan memilih terus memandangi wajah damai Jiyong.

“Ternyata kau jauh lebih tampan kalau tidur seperti ini,” gumam Taeyeon. Jari telunjuknya hendak menyentuh beberapa helai rambut Jiyong yang menutupi mata kanannya tapi niat itu langsung sirna seketika.

Tepat saat itu, betapa kagetnya Taeyeon, kedua mata Jiyong terbuka. Kedua mata tajam itu menatap dalam-dalam manik mata Taeyeon sampai rasanya menusuk ulu hati gadis itu. Taeyeon terbelalak dan ia jatuh terduduk dengan wajah tercengangnya.

“K… Kau terbangun karena aku?” tanya Taeyeon gelagapan. Ia bangkit berdiri seraya dengan canggung membersihkan celananya yang sedikit kotor karena terduduk di lantai rooftop. Jiyong sudah mendudukkan dirinya di kursi ayunan itu dengan ekspresi yang sulit terbaca.

“Jeo… Jeoseonghamnida. Aku akan segera turun. Aku minta maaf kalau tidurmu terganggu,” pamit Taeyeon lagi tanpa bisa memandangi wajah Jiyong karena wajahnya sendiri sudah merah padam.

Sebelum Taeyeon sempat berbalik untuk pergi, Jiyong sudah menarik pergelangan tangan kanannya dan mendudukkan gadis itu tepat di sampingnya. Taeyeon terpekik kaget saat tubuhnya terhempas duduk di samping laki-laki itu. Mereka saling berpandangan satu sama lain, cukup lama, dengan Jiyong yang masih menggenggam erat tangan kanan Taeyeon.

Tatapan tajam yang mendalam dari Jiyong membuat siapa saja mati membeku, termasuk Taeyeon sendiri. Bahkan, gadis itu susah sekali menelan ludah saking terjebak dan terbawa terlalu dalam oleh tatapan menghipnotis laki-laki itu. Jantung Taeyeon sudah memompa sepuluh kali lebih cepat dari biasanya dan darahnya naik ke ubun-ubun tanpa bisa ia cegah, mengakibatkan rona merah yang ada di kedua pipinya tercetak dengan jelas.

Namun, entah kenapa suhu tubuh Taeyeon menjadi hangat dan terasa nyaman meskipun angin saat itu berhembus sangat kencang. Taeyeon merasa kehangatan itu menjalar dari genggaman tangan Jiyong, itu sebabnya ia merasa enggan melepaskannya. Dan Jiyong juga terlihat tidak mau melepaskan genggaman itu.

“Apa aku benar-benar tampan saat tertidur tadi?” tanya Jiyong tiba-tiba, setelah mereka cukup lama terdiam. Ia memberikan smirk pada Taeyeon.

Serasa jatuh dari tempat tinggi, Taeyeon tersadar dari lamunannya dan ia menolehkan wajahnya dari laki-laki itu dengan rona merah yang semakin terlihat di pipinya. “Jangan besar kepala, aku hanya bilang begitu ‘saat kau tertidur’,”

Jiyong mendengus tertawa. Ia memandang ke arah depan beberapa detik lalu kembali menoleh menatap Taeyeon. Saat Jiyong memandang ke depan, Taeyeon dengan takut-takut menatap ke arah laki-laki itu. Namun, setelah Jiyong kembali memandangnya, Taeyeon buru-buru membuang muka.

Tidak mau terlihat terlalu canggung dan salah tingkah, Taeyeon hendak melepas genggaman Jiyong. Tapi Jiyong menahannya, tidak mau melepasnya. Dan hal itu membuat jantung Taeyeon mencelos turun ke perutnya.

“Ada perlu apa kau mencariku sampai ke rooftop?” tanya Jiyong dengan lembut.

“Ah, ya,” ujar Taeyeon tiba-tiba. Ia teringat tujuan awalnya mencari laki-laki itu di rooftop. “Kau masih menyimpan darah hewan yang kuberikan padamu kemarin itu?”

“Eoh, ternyata kau sudah melihatnya. Lalu, untuk apa kau mencariku?” tanya Jiyong lagi.

“Kau lapar,” gumam Taeyeon. “Seharusnya kau bilang dari awal…,”

“Kalau aku mengatakannya, apa yang akan kau lakukan?” potong Jiyong cepat. Ia mengalihkan pandangannya pada Taeyeon, yang juga tengah memandangnya.

Staring game, lagi. Namun, kali ini Jiyong mematahkannya lebih dulu. Ia bahkan melepaskan genggaman tangannya dari Taeyeon. Dan entah kenapa, kehangatan yang sedari tadi menjalari tubuh gadis itu mendadak hilang. Ia merasa kosong dan baru menyadari udara di sekitarnya terasa dingin. Apakah ia mengatakan hal yang membuat Jiyong tersinggung?

“Kau ini benar-benar tidak paham, ya?” ujar Jiyong sembari tersenyum simpul. “Kau tidak akan bisa menyediakannya kalaupun kau mau. Dan melihatmu kewalahan, aku tidak sampai hati. Aku ini juga punya hati nurani meskipun bukan sepenuhnya manusia,”

“Aku bisa menelepon mereka,” sanggah Taeyeon. “Kau bilang tadi karena sudah larut malam? Bukannya mereka, para perempuan itu memang bekerja malam hari?”

Jiyong memandang wajah porselen Taeyeon dengan pandangan yang menyiratkan bahwa ia sedang malas menjelaskan hal itu pada Taeyeon. Namun, karena Taeyeon menatapnya dengan tajam, akhirnya laki-laki itu memilih mengalah.

“Aku sedang malas berurusan dengan mereka,” ungkap Jiyong pelan dan ia memilih memandangi langit malam. “Meminum darah mereka juga tidak memberiku kepuasan apa-apa. Jadi, lebih baik aku meminum darah hewan itu saja, ‘kan?”

“Aku tidak mengerti. Darah hewan dan manusia itu berbeda. Setiap vampire pasti setuju darah manusia, lah yang lebih lezat,” ujar Taeyeon.

“Aku pernah meminum darah manis sebelumnya. Sangat manis, harum, dan menjadi candu bagi siapapun yang meminumnya. Seperti obat-obatan terlarang, sekali meminumnya tidak akan bisa lepas sampai kapanpun. Itu sebabnya, darah manusia biasa akan terasa hambar seperti meminum darah hewan,” jelas Jiyong. Ia kembali menatap Taeyeon, yang langsung tersentak dan gugup seketika. Apakah darah manis itu darahnya? “Terkadang, aku menyesal juga mencicipi darah manis itu. Nafsu makanku menurun dan hanya darah itu yang aku inginkan,”

“Aku…,”

“Tidak perlu takut,” sela Jiyong. “Aku sudah berjanji tidak akan melakukan hal yang mengerikan itu lagi. Meskipun rasanya sangat sulit karena kau selalu di dekatku, aku akan berjuang untuk melawannya,”

Taeyeon terdiam mendengar penuturan Jiyong. Tertegun dan entah kenapa rasa simpatinya pada laki-laki itu semakin besar. Taeyeon bisa merasakan ketulusan dari ungkapan Jiyong. Laki-laki itu berjanji untuk tidak membuatnya takut, melawan gairahnya sendiri agar melindungi dirinya, membuat Taeyeon memutuskan suatu hal yang berada di luar akal sehat manusia pada umumnya.

“Aku tidak takut. Berapa kali aku harus mengatakannya padamu?” tanya Taeyeon pelan. Dengan berani ia menatap tajam dan lurus ke arah Jiyong, yang juga sedang menatapnya dalam. “Dan itu bukan hal yang mengerikan seperti yang kau ucapkan barusan. Naluri alamiah yang setiap vampire rasakan, benar, ‘kan? Jadi, kumohon jangan katakan kalau hal itu mengerikan. Dan…,”

Taeyeon menahan nafasnya sesaat sebelum ia melanjutkan perkataannya. Ia benar-benar gugup dan berharap apa yang dilakukannya ini benar. Jiyong dengan sabar mendengarkan semua perkataan gadis itu. Dari wajahnya, ia kelihatan terpana dan tertarik sekali.

“Karena aku… Karena aku menawarkan darahku kemarin… Seharusnya aku tidak menawarkannya. Kau tidak akan mengalami kesulitan seperti ini, pasti. Mianhaeyo. Aku benar-benar merasa menyesal,” lanjut Taeyeon dengan suara bergetar.

“Kau berusaha menolongku. Sudahlah, tidak perlu diungkit lagi,” jawab Jiyong. Ia bangkit dari kursi ayunan itu dan hendak keluar dari rooftop. Buru-buru Taeyeon bangkit juga dan menahan lengan kiri Jiyong.

“Tapi,” sahut Taeyeon. “Kau merasa tersiksa, ‘kan? Sekuat apapun vampire, ia tetap akan goyah hanya dengan mencium darah yang terasa wangi dan manis. Kalau kau tetap menahannya, apa kau tidak akan takut kalau suatu hari nanti kau mencium darah manis dan kalap detik itu juga? Vampire pasti juga butuh makanan yang sewajarnya seperti manusia,”

“Dia hanya akan tergoyah jika mencium darah manis yang pernah diminumnya. Dan tidak semua orang memiliki darah manis,” ujar Jiyong pelan.

“Eoh, jeongmalyo? Kalau begitu, karena aku masih tetap berada di dekatmu dan karena kau juga butuh tenaga, aku… aku…,” gumam Taeyeon. “Minum saja darahku kapanpun kau merasa membutuhkannya. Tentu saja aku memberikannya karena aku merasa menyesal, aku merasa ini semua salahku. Chakkaman, kalau waktu itu kau mendengar perkataanku, kau tidak akan sekarat sampai aku harus mendonorkan darahku. Berarti ini juga termasuk kesalahanmu. Tapi, tetap saja. Anggap saja ini rasa pertanggungjawabanku padamu… heuk,”

Bibir Taeyeon terbungkam begitu saja, kata-kata yang hendak dilontarkannya pada Jiyong lenyap dan tertelan di tengah tenggorokannya. Dan gadis itu hanya bisa membelalakkan kedua matanya, tubuhnya mematung. Namun, darah dalam tubuhnya mengalir deras dari atas ke bawah. Gadis itu shock setengah mati.

Bagaimana tidak? Bibirnya dibungkam oleh bibir lembut dan basah milik Jiyong. Ya, laki-laki itu menempelkan bibirnya tanpa aba-aba di bibir Taeyeon. Hanya beberapa detik, setelah itu Jiyong melepaskan bibirnya dan melihat reaksi Taeyeon yang masih tercengang.

Entah karena wajah Taeyeon terlihat menggemaskan atau karena ada alasan lain, Jiyong menarik belakang leher Taeyeon, menutup kedua matanya, dan kembali menempelkan bibirnya di bibir peach Taeyeon. Tidak tahu harus melakukan apa, Taeyeon hanya bisa memejamkan matanya dan membiarkan dirinya terbawa suasana hangat dan mendebarkan ini. Taeyeon juga tidak tahu, tapi nalurinya berkata untuk tetap diam dan menikmati setiap sentuhan Jiyong yang memabukkan.

Melihat tidak ada penolakan dari Taeyeon, Jiyong melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu dan memeluknya erat. Jiyong juga semakin memperdalam ciuman mereka, melumat setiap incinya dengan lembut dan menggigiti bibir bawah dan atas Taeyeon secara bergantian, secara tak sabaran namun penuh kelembutan, membuat Taeyeon melenguh dan mengerang dalam ciuman mereka.

Mendengar erangan yang tidak sengaja dikeluarkan Taeyeon, Jiyong langsung mengarahkan lidahnya masuk ke dalam rongga mulut Taeyeon, mengajak lidah pasif gadis itu untuk bergumul serta mengecap seluruh permukaan mulut Taeyeon. Manis, semuanya terasa manis. Dan semakin Jiyong merasakan rasa manis itu, semakin tinggi rasa penasarannya untuk mengecap gadis itu lebih dalam.

Kedua tangan Taeyeon yang bebas telah berada di atas pundak Jiyong untuk mendorong tubuh Jiyong menjauh tapi tubuh laki-laki itu terlalu kuat dan Taeyeon juga mendadak lemas, tubuhnya akan terjatuh kalau saja Jiyong tidak memeluk pinggangnya erat.

Jiyong merasakan dada Taeyeon naik turun karena kehabisan nafas dan membutuhkan oksigen, dan itu membuat akal sehat laki-laki itu semakin tidak berfungsi dengan baik. Namun, karena ia tahu Taeyeon benar-benar merasa sesak, dengan terpaksa Jiyong melepaskan tautan bibir mereka dan menciptakan bunyi kecupan di rooftop apartemen yang terlihat sunyi dan damai.

Wajah Taeyeon yang merah padam tertunduk malu, bingung, dan heran bercampur menjadi satu. Jantungnya berdebar kencang sampai menyesakkan dadanya. Sedangkan Jiyong tidak bergeming dari tempatnya. Ia tidak menjauhkan wajahnya dari wajah Taeyeon dan menatap intens gadis itu. Nafasnya juga ikut memburu. Jantungnya berdegup kencang tak terkendali.

Sembari terus memandangi gadis mungil itu, fikiran Jiyong terus berkecamuk. Ia mencari-cari alasan yang tepat untuk menjelaskan kepada Taeyeon mengapa ia mencium gadis itu secara tiba-tiba. Karena sejujurnya, ia sendiripun tidak tahu apa alasannya. Ia hanya mengikuti apa yang hatinya katakan. Dan ia tidak bisa menolak maupun menahannya lebih lama.

~~~

“Aw!”

“Yeobo, neo gwaenchanna?” tanya seorang laki-laki paruh baya, yang segera bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ke tempat istrinya, yang sedang menyisiri rambut pendeknya di depan meja rias.

“Gwaenchanna. Jariku tertusuk sesuatu,” jawab sang istri yang langsung menjilati darahnya dan jarinya secara otomatis langsung sembuh.

“Lain kali kau harus hati-hati, yeobo,” ujar sang suami. Ia mengecup ubun-ubun kepala istrinya dengan sayang.

“Aku merindukan anak kita. Sudah berapa bulan dia tidak pulang ke rumah? Ck, apa dia lupa punya orang tua di sini? Jangan karena dia sudah membelikan kita penthouse mahal ini, dia melupakan orang tuanya,” ujar sang istri muram.

“Bukankah Dami bilang dia sedang sibuk tour di Thailand? Saat dia pulang dari Thailand nanti, kita akan menyuruhnya untuk tidur di sini. Tenanglah, yeobo. Dia sangat baik-baik saja, pasti. Dia anak kita, dragon kita,” jawab si suami, yang tak lain adalah Mr. Kwon, ayah Jiyong.

“Aku tahu dia hebat dan kuat dan bukan fisiknya yang aku takutkan. Aku punya perasaan tidak enak,” gumam Mrs. Kwon. “Aku terus bertanya-tanya apakah ia sudah bertemu dengan mate-nya? Dia tidak tahu seperti apa ciri-ciri jika bangsa vampire sudah menemukan mate-nya dan apa yang harus dilakukan. Aku belum mengajarkannya banyak hal, yeobo. Aku takut dia melakukan tindakan bodoh pada mate yang seharusnya dilindunginya,”

“Ssshh,” bisik Mr. Kwon. Ia mengelus-elus punggung belakang istrinya untuk menenangkannya. “Kita akan mengajarkannya, tenang saja. Berdoa saja semoga dia belum bertemu dengan mate-nya. Setelah dia pulang dari Thailand, kita akan memberitahukan hal penting ini. Jangan khawatir, kalaupun dia sudah bertemu dengan mate-nya, dia tidak akan bertindak bodoh dengan menyakiti takdirnya sendiri. Dengan perempuan yang bukan merupakan mate-nya saja dia lindungi habis-habisan, benar, ‘kan?”

Mrs. Kwon menganggukkan kepalanya dan mulai merasa tenang. Setelah itu, Mr. Kwon mendekap erat Mrs. Kwon dan membawa istri tercintanya menuju tempat tidur.

~~~

“Eonni! Alarm-mu sudah berbunyi ratusan kali tapi kenapa kau belum mau bangkit juga dari tempat tidur? Oh, ayolah. Ayo kita habiskan satu hari ini bersama-sama, eonni. Tidak biasanya kau bangun kesiangan begini,” rewel Yuri sambil menarik bedcover yang menyembunyikan tubuh mungil Taeyeon.

Taeyeon buru-buru menutup mata dan wajahnya yang merona di balik bantal. Kalau tidak dia tutup, Yuri akan menyangka dirinya sedang demam. Suhu tubuhnya memang meningkat tajam sejak kemarin malam sampai sekarang ini.

“Aku akan bangun sebentar lagi. Pergilah ke bawah, Yul. Members Bigbang pasti sedang menahan lapar,” ujar Taeyeon, yang masih setia menyembunyikan wajahnya.

“Dara eonni sudah menyiapkan semuanya dan dia akan hang out bersama teman-temannya hari ini. Selagi members Bigbang itu latihan dan segala macamnya, aku ingin quality time denganmu, eonni. Aku tunggu selama satu jam, okay?” seru Yuri sambil keluar dari kamarnya.

Taeyeon mengangkat wajahnya dari bantal dan bangkit dari tempat tidur menuju meja rias milik Yuri. Ia memandangi dirinya sendiri di dalam cermin itu. Kedua matanya sedikit memerah karena satu menitpun ia tidak bisa memejamkan matanya pasca Jiyong menciumnya di rooftop. Ciuman bergairah kedua yang Taeyeon rasakan dengan Jiyong, dan itu membuat wajahnya kembali merona.

“Mian, apa aku terlalu lancang? Kau menawarkan dirimu lagi padaku meskipun itu tidak perlu. Kau begitu baik dan aku merasa berutang banyak sekali padamu, Taeyeon-ssi. Gomawoyo, jeongmal gomawoyo. Dan juga, kau tadi terlihat menggemaskan itu sebabnya aku… menciummu. Mianhae, kau pantas marah padaku,”

Itu adalah alasan yang Jiyong lontarkan setelah ia selesai mencium bibir Taeyeon. Mendengar itu, tentu saja perasaan Taeyeon ketar-ketir dan ia sama sekali tidak melontarkan cacian pada Jiyong.

Masih jelas terlihat bibir ranumnya yang bengkak dan Taeyeon sudah bersusah payah untuk mengembalikan bibirnya seperti sedia kala tapi tidak bisa. Bagaimana kalau sampai ada yang menyadarinya? Dia harus menjawab apa? Taeyeon hanya bisa menghela nafas panjang dan mencoba pasrah.

Dan ia juga mengecek permukaan lehernya. Jantungnya berdebar lagi tanpa ia pinta ketika dirinya kembali mengingat kejadian dini hari tadi, tepatnya setelah ia dan Jiyong berdua turun dari rooftop dan kembali ke apartemen Yuri. Taeyeon tahu sedari tadi Jiyong sebisa mungkin menyembunyikan dirinya yang tengah kelaparan. Dan sesuai janji, Taeyeon menawarkan darahnya.

Hal yang tidak bisa ditolak oleh Jiyong. Gairahnya sudah memuncak hebat dan ia langsung menarik tangan Taeyeon masuk ke dalam kamarnya dan meminum darah gadis itu seperti seekor hewan yang berhasil menangkap mangsanya. Selama hampir dua jam Taeyeon berada di dalam kamar Jiyong lalu ia pindah ke dalam kamar Yuri.

Di dalam kamar Yuri, bukannya tertidur pulas akibat ulah Jiyong, Taeyeon malah tidak bisa memejamkan kedua matanya dan terus terjaga sampai Yuri berteriak membangunkannya tadi.

“Aigoo, Taengoo-ah. Apa yang kau fikirkan?” rutuk Taeyeon pada dirinya sendiri. “Mungkin saja ciuman itu adalah bentuk rasa terima kasihnya karena kau sudah menyumbangkan darahmu secara gratis untuknya, ‘kan?”

Taeyeon menarik nafas dalam-dalam, membuangnya dengan kasar dari mulut dan langsung melesat ke dalam kamar mandi.

~~~

“Taeyeon-ah, bibirmu…,” tunjuk Dara pada bibir Taeyeon, ketika gadis itu tengah melahap sarapannya di meja makan berdua bersama Yuri. Dara datang dari ruang tengah berniat mengambil cokelat panas untuk members Bigbang, yang juga tengah asyik bermain kartu hwatu di ruang tengah.

Mendengar penuturan Dara, Taeyeon langsung terbatuk-batuk secara tiba-tiba. Makanan yang ia makan secara brutal melewati kerongkongannya tanpa proses mengunyah. Cepat-cepat ia ambil air minumnya dan ditenggaknya sampai habis. Members Bigbang yang menyadari ada keributan di dapur langsung berhenti bermain dan memandang ke arah dapur, tepatnya ke arah Taeyeon. Jiyong mengernyitkan dahinya, penasaran.

“Gwaenchannayo?” tanya Yuri heran.

“Eonni, ada apa dengan bibirku?” tanya Taeyeon gelagapan. Ia menggigit bibir bawahnya.

“Serpihan roti banyak tertinggal di bibir atas dan bawahmu, Taeyeon-ah. Apa kau panik karena itu?”

“Aniya, eonni. Aku hanya sedikit terkejut,” jawab Taeyeon malu.

“Apa kau panik karena ada sesuatu yang lain dari serpihan roti di bibirmu, eonni?” tambah Yuri, penasaran dan ia meneliti bibir Taeyeon. Refleks Taeyeon langsung menghindar.

“Eobseo,” sergah Taeyeon cepat. Ia kembali mengunyah sarapannya dengan wajah merah padam. Dan gadis itu berusaha menutupinya dengan berpura-pura membaca sebuah novel.

Di sisi lain, tepatnya di ruang tengah, Jiyong memerhatikan gerak-gerik Taeyeon dengan pandangan geli. Ia mati-matian menahan senyumnya agar tidak mengembang dan menimbulkan kecurigaan besar di antara members-nya. Gadis mungil itu kelewat polos dan lugu. Lucu sekali.

“Kurasa aku sudah tahu alasan kenapa Taeyeon noona menyembunyikan wajahnya dari tadi,” ujar Daesung dengan wajahnya yang dibuat-buat cool sambil memandangi kartu hwatunya.

“Dan kurasa aku juga sudah tahu kenapa bibir Taeyeon eomma yang awalnya mungil menjadi bengkak seperti itu,” sambung Seungri. Dia juga berpura-pura serius memandangi kartu hwatunya. “Kurasa kemarin ada kumbang sangar dan kelaparan yang menghinggapi bibirnya dan menghisapnya layaknya dia menghisap sari bunga,”

Semua members Bigbang kecuali Jiyong terkikik geli. Sepertinya mereka sudah tahu apa yang terjadi bahkan sebelum Jiyong membuka mulutnya. Laki-laki itu hanya mendengus kesal dan melemparkan bantal sofa ke wajah Seungri yang tertawanya paling besar.

~~~

“Yuri menyebalkan,” rutuk Taeyeon pelan sambil melangkahkan kakinya cepat menuju ruang ganti untuk members Bigbang dan membuka pintu itu dengan kasar. Bunyi keras langsung terdengar di belakang Taeyeon saat pintu itu menutup di belakangnya. “Hanya karena bertemu dengan model tampan itu dia langsung berubah fikiran? Awas saja gadis itu, aku akan mencincangnya hidup-hidup sewaktu dia pulang nanti…,”

“Kalau kau ingin merutuki sepupuku sepanjang hari, sebaiknya jangan di sini. Kau menggangguku,” potong seorang laki-laki dengan suara tercekatnya seperti orang yang baru bangun tidur.

Taeyeon tersentak kaget dan ia langsung mengarahkan pandangannya ke arah sofa panjang yang ada di ruang ganti itu. Jiyong menyibakkan selimut cokelat yang menutupi seluruh tubuhnya dan bangkit duduk. Ia menatap kesal pada Taeyeon dengan kedua mata merahnya.

“Baru satu menit penuh aku memejamkan mataku,” lanjut Jiyong sambil melirik arlojinya.

“Aku tidak tahu kau sedang tidur. Jeongmal mianhae,” lirih Taeyeon, wajahnya menyiratkan penyesalan sekaligus gugup. Jantungnya memang belum terbiasa jika ada laki-laki itu. “Aku akan pergi sebentar untuk berbelanja. Dan sementara aku pergi, kau bisa tidur lagi. Tapi setelah aku kembali, kau harus bangun dan latihan bersama dengan yang lain,”

“Belanja? Untuk apa?” tanya Jiyong. Ia bangkit dari sofa dan merapikan kaos putih juga rambut hitamnya yang acak-acakan.

After party,” jawab Taeyeon. “Aku curiga kalian akan after party ke club. Club di Thailand cukup popular dan aku akan melarangnya kali ini. Bukankah lebih baik after party di apartemen Yuri dan hanya ada kita?”

“Sendiri? Di mana Yuri?” tanya Jiyong.

“Bertemu dengan teman seprofesinya yang jauh lebih tampan dari aku dan melupakan semuanya, seakan-akan dunia ini milik mereka berdua,” jawab Taeyeon ketus dan ia mengerucutkan bibir peach-nya. “Padahal dia yang memaksaku tadi untuk quality time di Thailand,”

Jiyong menyunggingkan senyum manisnya. Bukan, dia tidak tersenyum mendengar keluh kesah gadis itu. Tapi melihat gadis cantik itu kesal dan mengerucutkan bibirnya seperti itu terlihat sangat menggemaskan bagi Jiyong. Laki-laki itu berjuang keras menahan dirinya untuk tidak mencubit kedua pipi Taeyeon.

“Kalau begitu, aku pergi,” pamit Taeyeon.

“Chakkaman!” sergah Jiyong.

Taeyeon membalikkan tubuhnya dan menatap Jiyong dengan pandangan ‘ada apa lagi?’

“Tunggulah di luar, aku akan bersiap-siap sebentar,” jawab Jiyong. “Aku ikut,”

~~~

“Tidak perlu takut, mereka tidak akan mengenaliku,” bisik Jiyong pada Taeyeon yang duduk di sampingnya. Taeyeon mengepalkan kedua tangannya di atas paha sambil sesekali melirik ke sekeliling, berjaga-jaga. Ia menggigit bibir bawahnya, takut.

“Bagaimana aku bisa tidak takut? Kau itu member Bigbang, dan tidak ada yang tidak mengenalimu, apalagi kau akan mengadakan MADE tour!” bentak Taeyeon dengan sebisa mungkin mengecilkan suaranya.

Bagaimana gadis itu tidak takut kalau sekarang ia membawa super idol, nation leader’s boy group dari Korea Selatan, Bigbang G-Dragon. Membawanya untuk berbelanja dengan naik angkutan umum, bus. Bus yang sekarang mereka naiki cukup padat dan banyak anak-anak gadis di dalamnya. Bagaimana kalau gadis-gadis belia itu tahu ada salah satu idol di dalam bus ini? Bagaimana kalau ada paparazzi yang memotret kebersamaan mereka dan menyebarkan gosip kalau mereka berdua sedang kencan? Karir Taeyeon akan hancur seketika.

Taeyeon sudah mati-matian bersikeras agar mereka naik mobil Yuri saja. Tapi laki-laki keras kepala yang ada di samping dirinya itu menuntut agar naik bus saja.

Jiyong memang sudah memakai wig panjang berwarna hitam yang diikat dua di samping kiri kanan kepalanya, kontak lensa warna hitam kelam, kemeja berwarna merah cerah ditambah dengan pita hitam manis, dan rok hitam pendek yang membuatnya terlihat seperti seorang gadis berumur 20-an. Saat pertama kali Jiyong keluar dari ruang ganti, Taeyeon hampir sama sekali tidak mengenalinya dan menyangka ia adalah salah satu sasaeng fans Bigbang. Dan ketika ia tahu kalau gadis jelmaan itu adalah Kwon Jiyong, Taeyeon tertawa terbahak-bahak selama kurang lebih lima menit.

“Kalau ada paparazzi bagaimana?” tanya Taeyeon lagi.

Jiyong menghela nafas, berusaha menahan kesal. Ia menatap tajam gadis itu dan menarik kepala Taeyeon ke dalam dekapannya, membuat kedua mata Taeyeon terbelalak kaget.

“Lebih baik kau diam saja sebelum kita benar-benar ketahuan,” bisik Jiyong di telinga kanan Taeyeon.

Melihat reaksi Taeyeon yang membeku, membuat senyum Jiyong mengembang dengan sempurna. Buru-buru Taeyeon melepaskan dirinya dari dekapan Jiyong sambil berdeham menyembunyikan rasa canggungnya.

Lima belas menit kemudian, mereka akhirnya sampai di Tops Supermarket. Taeyeon menyuruh Jiyong untuk memilih menu makanan apa yang mereka inginkan setelah tour nanti. Dan laki-laki itu, yang sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai makanan kecuali darah manusia, memasukkan semua bahan makanan ke dalam troli yang dibawa Taeyeon secara asal-asalan.

“Ya! Geumanhae!” seru Taeyeon kesal. Habis sudah kesabarannya saat Jiyong hendak mengambil sekotak susu domba besar. “Apa kau berniat meminum susu itu? Letakkan kembali,”

Jiyong mendengus kesal dan melipat kedua lengannya menatap Taeyeon, yang tengah sibuk mengeluarkan semua bahan makanan tidak masuk akal yang dipilih Jiyong sesuka hatinya. “Apa yang kau lakukan? Kalau tahu kau akan mengeluarkannya kembali, seharusnya kau tidak perlu menyuruhku. Kau hanya membuang-buang waktuku,”

“Aku menyesal memintamu,” jawab Taeyeon. “Aku lupa kau tidak tahu apa-apa mengenai makanan. Seharusnya aku mengajak Seunghyun oppa,”

“Dan seharusnya yang pergi berbelanja adalah Yuri. Aku berani bertaruh kau akan memilih bahan makanan yang tidak sesuai dengan selera kami. Kau hanya mengandalkan feeling dan otak kecilmu saja selama kau memasak untuk kami,” balas Jiyong sengit.

“Aku tidak mengajakmu ikut denganku! Kau benar-benar membuat wajahku terlihat semakin tua,”

“Kau memang tua, ahjumma,” ejek Jiyong. Ia menarik troli itu dari genggaman tangan Taeyeon dan membawanya pergi, meninggalkan Taeyeon yang masih tercengang dengan ucapan Jiyong.

“Ya!” panggil Taeyeon dan ia buru-buru mengikuti laki-laki itu sambil memilihkan bahan makanan yang akan hendak ia dan Yuri buat.

Tom Yum Goong, Gang Som Pak Ruam, Pad Thai, Gaeng Daeng, Geng Kheaw Wan Gai, Gang Keow Wan, Panang Gai, Som Tam, Gang Massaman, Gai Pad Pongali, Gang Jued, Jim Jum, Kao Na Phet, Kai Jiew Moo Saap, Kai Med Ma Muang. Aigoo eotteokae? Apa aku dan Yuri bisa memasak ini semua? Seharusnya aku juga mengajak Hyo,” gumam Taeyeon pelan sambil mengecek bahan kelima belas makanan itu di ponselnya.

“15 menu? Apa kau berencana makan makanan itu semua?” tanya Jiyong shock.

Mereka berdua berhenti di salah satu stand yang berisi tester makanan-makanan Thailand. Taeyeon mengambil salah satu makanan itu dan mencobanya. Rasanya lezat dan ia membaca nama makanan itu. Pad Thai.

“Kau mau mencoba? Aaah,” tawar Taeyeon dan ia mengulurkan lengannya untuk menyuapi Jiyong.

Jiyong membuka mulutnya lalu memakan makanan itu. Ia mengunyah sesaat sembari berfikir, “Lebih manis darahmu,”

Taeyeon membelalakkan kedua matanya dan wajahnya mendadak merah padam. Ia hendak mengeluarkan sumpah serapahnya kepada Jiyong. Namun, niatnya segera terhentikan karena Jiyong segera memasukkan kembali makanan Thailand itu ke dalam mulut Taeyeon sebanyak-banyaknya sampai mulut gadis itu terasa penuh.

“Heum… eumm… eummm?!” pekik Taeyeon tertahan sembari dengan susah payah mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.

“Sshh, habiskan dulu,” desis Jiyong. Dan ketika penjaga stand itu berdeham kecil, Jiyong buru-buru pergi sambil menarik lengan kanan Taeyeon. “Jadi, apa kau benar-benar akan memasak 15 menu makanan itu?”

“Ya, jangan gunakan suara aslimu!” lirih Taeyeon. “Kita semua kecuali dirimu akan memakan ini semua. Karena kita di Thailand, kita harus mencoba semua makanannya,”

“Kenapa kita tidak memesan di restaurant? Melihat dirimu masak membuatku takut,” ujar Jiyong, yang langsung diberi death glare oleh Taeyeon.

“Sekali lagi kau ucapkan hal itu, aku akan pastikan semua orang yang ada di supermarket ini tahu siapa dirimu sebenarnya,” ancam Taeyeon setengah serius, setengah bercanda.

“Cobalah. Kalau mereka tahu aku siapa, kau juga pasti terseret. ‘G-Dragon Bigbang tertangkap tengah berkencan dengan seorang gadis di Tops Supermarket’,” balas Jiyong.

“Kita tidak sedang berkencan,” ralat Taeyeon, wajahnya merona tanpa ia minta.

“Kalau orang tahu aku ini laki-laki, mereka akan beranggapan kita sedang di mabuk asmara dan berkencan di supermarket membeli bahan-bahan makanan untuk kita masak berdua dan membuat dinner romantis di rooftop,” ungkap Jiyong.

“Kalau begitu anggapan mereka salah besar,”

“Aku hanya bilang ‘kalau’, ‘seandainya’. Kenapa kau terlihat kesal sekali? Apa kau tidak suka jika dirumorkan denganku? Setidaknya nama mantan kekasihku tidak akan lagi di sebut di media,” ujar Jiyong sambil tertawa kecil.

“Posisiku pasti akan sulit jika dirumorkan denganmu. Dan aku tidak mau mati muda. Perjalanan hidupku masih panjang,” jawab Taeyeon sembari mengambil troli dari genggaman Jiyong dan membawanya berkeliling supermarket, mencari bahan-bahan makanan yang ia butuhkan.

“Kau belum mengenal Kwon Jiyong sepenuhnya,” gumam Jiyong, dan hal itu masih bisa didengar oleh Taeyeon. “Dia akan melindungi dirimu apapun yang terjadi, siapapun tidak akan pernah bisa menyakitimu seujung jaripun, dan meskipun kau akan dibenci oleh seluruh manusia di muka bumi ini karena mengencani seorang G-Dragon, dia akan tetap berdiri di depanmu, menyuarakan betapa besar cintanya padamu, dan menunjukkan pada dunia kalau dirimulah mutiara berharga bagi seorang G-Dragon,”

Mendengar kata-kata manis nan tulus yang keluar dari bibir Jiyong membuat Taeyeon tidak berkutik. Ia menatap Jiyong yang juga tengah menatapnya. Laki-laki itu tersenyum kecil dan mengalihkan pandangan dari gadis itu. Langkahnya sedikit dipercepat dan ia berada di depan Taeyeon, sedangkan Taeyeon menunduk sembari menggigit bibir bawahnya, salah tingkah dan entah kenapa jantungnya kembali berdebar.

“Taeyeon-ah?” panggil seorang perempuan yang berada di hadapan Jiyong dan Taeyeon.

Mereka berdua serempak menolehkan kepala ke asal suara. Seorang gadis bertubuh tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, serta berambut pendek sebahu datang menghampiri Jiyong dan Taeyeon. Senyumnya merekah indah menatap Taeyeon, yang juga ikut mendatangi gadis itu dengan senyuman manisnya.

“Soomi-ah,” sapa Taeyeon riang. “Sudah lama sekali, eoh?”

“Kenapa kau tidak bilang ada di Thailand? Kau ke sini ada perlu apa?” tanya Soomi.

“Ah, pekerjaan,” jawab Taeyeon singkat. “Sekalian ingin bertemu dengan Yuri,”

“Aku baru ingat,” celetuk Soomi. “Jaehyun oppa juga akan ke Thailand, ‘kan? Sore ini dia sampai, dan kalau tidak salah dia ada pekerjaan di sini. Apa kau juga akan sekalian bertemu dengannya?”

“Ne? Jaehyun oppa? Dia sampai sore ini?” tanya Taeyeon. “Aku tahu dia akan datang ke Thailand, tapi aku tidak tahu kalau dia sampai hari ini. Kenapa dia tidak ada menghubungiku?”

“Jinjjayo? Kalau begitu, kau bisa menjemputnya sore ini dan menghabiskan waktu bersamanya sebelum dia sibuk beraktivitas,” usul Soomi. “Tidak ada salahnya, ‘kan? Mungkin saja kalian bisa bersama-sama lagi. Kau tahu, Taeyeon-ah? Aku suka sekali melihat kalian bersama, serasi,”

Sebelum Taeyeon sempat berkomentar, seseorang di belakang Taeyeon terbatuk-batuk dengan sengaja. Taeyeon menolehkan wajahnya ke belakang dan melihat Jiyong yang sedang menyilangkan kedua lengannya di dada dan menatap Taeyeon dengan wajah cemberut.

“Siapa? Temanmu?” tanya Soomi, yang juga memandang ke arah Jiyong dengan intens. “Kalau dilihat-lihat dia mirip dengan…,”

“Soomi-ah, dia temanku. Teman dari kecil yang juga baru kutemui di sini. Kami berencana ingin jalan-jalan berdua mengitari kota ini sebelum aku pulang ke Korea. Itu sebabnya, kalau ada waktu, kita bisa berkumpul dan jalan-jalan juga,” potong Taeyeon cepat. Ia benar-benar panik jika Soomi tahu siapa ‘gadis’ yang berada di belakang dirinya.

“Begitukah? Arraseo, hubungi aku jika kau bermain-main kembali di Thailand. Ajak juga Jaehyun oppa. Aku akan mengajak kalian mengitari kota-kota indah di Thailand ini secara free,” ujar Soomi. “Dengan syarat kau harus kembali berhubungan dengan Jaehyun oppa,”

“Aigoo, kau ini. Kalau begitu, aku pergi. Sampai nanti, Soomi-ah,” pamit Taeyeon dan dengan cepat ia menarik pergelangan tangan kanan Jiyong beserta troli mereka.

Ketika Taeyeon merasa sudah memastikan kalau Soomi tidak akan mendengar percakapan mereka, ia mulai memperlambat langkahnya dan kembali mencari bahan makanan yang ia butuhkan. Diliriknya Jiyong yang mendadak diam saja sejak mereka bertemu dengan Soomi.

“Waeyo? Kau diam saja sejak kita bertemu dengan Soomi tadi. Kau cemas ia akan mengenalimu, ‘kan? Aku juga begitu. Dia memang menyukai Bigbang dari dulu dan kemungkinan besar dia akan mengenalimu kalau kita bertahan selama lebih dari lima menit saja,” ujar Taeyeon.

“Apa kau akan bertemu dengan mantan kekasihmu itu sore ini dan bertemu dengannya seperti yang temanmu tadi katakan?” tanya Jiyong tajam.

“Itu… Aku…,” ucap Taeyeon dengan terbata-bata. Ia menjadi gugup seperti ini bukan karena bingung mau menjawab apa. Tapi karena aura diri Jiyong yang mendadak dingin. “Mollayo. Jaehyun oppa juga tidak ada mengabariku. Kalau dia mengabariku mungkin aku akan bertemu dengannya,”

“Kau datang ke Thailand ini sebagai manajer Bigbang dan asistenku, bukan sebagai pelancong. Kau tahu malam ini adalah konser kami dan kau berencana pergi? Jangan membuatku menyesal karena sudah menggantikan Dara denganmu,” lirih Jiyong. Kata-katanya yang tajam tersebut benar-benar membuat Taeyeon tertohok.

Selesai berkata seperti itu, Jiyong langsung melangkah pergi menjauhi Taeyeon sambil membawa troli belanja mereka menuju kasir terdekat di supermarket itu.

Geez, ada apa dengannya?” rutuk Taeyeon pelan dan ia mengikuti laki-laki itu.

Selesai berbelanja dan keluar dari Tops Supermarket, Jiyong dan Taeyeon bersama-sama melangkah menuju halte dan menunggu sampai bus yang mereka tuju datang. Semua plastik belanjaan yang berisi bahan makanan dibawa oleh Jiyong dan laki-laki itu tidak membiarkan Taeyeon membawanya. Sehingga orang-orang yang ada di sekitar mereka memberi pandangan heran, takjub, dan terpana pada Jiyong.

“Apa aku terlihat aneh?” tanya Jiyong heran saat mereka berdua sudah naik ke dalam bus dan duduk dengan nyaman di dalamnya.

Taeyeon tertawa kecil. “Ani. Mereka hanya takjub karena seorang gadis cantik sepertimu mampu membawa belanjaan sebanyak ini,”

Jiyong diam tidak berkomentar. Matanya malah sibuk memerhatikan seorang laki-laki berumur sekitar 30-an yang ada di samping kiri bangku mereka berdua. Penasaran dengan apa yang diperhatikan Jiyong, Taeyeon juga ikut menolehkan wajahnya ke samping kiri dan mendapati laki-laki umur 30-an itu memandangi Taeyeon. Tentu saja pandangan laki-laki yang tengah ‘lapar’.

Namun, ketika Jiyong dan Taeyeon balik memandangnya, laki-laki itu langsung mengalihkan pandangannya. Dan Taeyeon hanya bisa menghela nafas panjang.

“Ayo tukar tempat,” ujar Jiyong pelan, yang matanya masih menatap tajam ke arah paman itu. Jiyong menyuruh Taeyeon untuk duduk di samping jendela dan ia duduk di bangku luar.

“Wae?” tanya Taeyeon heran.

“Apa kau mau dipandangi seperti orang yang tengah ditelanjangi oleh paman itu?” gertak Jiyong. “Aku tidak mau melawan paman-paman lagi untuk yang kedua kalinya. Cukup sekali saja di dalam pesawat,”

Taeyeon tersentak dan ia menggenggam ujung baju lengan kiri Jiyong. Pandangannya tajam dan penuh selidik. “Jujurlah padaku. Apa itu artinya aku tidak bermimpi? Aku tertidur di dalam pesawat dan kau di sampingku? Aku berfikir itu adalah mimpi, sampai aku mencium wangi khas parfummu dan kau yang mengucapkan, ‘Tidurlah’. Tapi aku kembali menggunakan logikaku saat kau meminjamkan pundakmu untuk Dara eonni. Jadi, aku memutuskan itu adalah mimpi. Tapi itu bukan mimpi, benarkan?”

“Ne, itu bukan mimpi. Aku yang membuatmu tertidur dan mengancam paman itu agar pindah ke bangku yang lain sebelum aku berteriak ‘byuntae’ di dalam pesawat. Semua yang kau katakan benar, itu bukan mimpi. Dan selama perjalanan kaulah yang meminjam pundakku, bukan Dara noona. Aku kembali ke bangkuku saat kau sudah terbangun,” jelas Jiyong. “Kau fikir orang lain tidak risih jika ada kejadian menjijikkan seperti itu? Kalau kau berharap aku diam saja waktu itu, kurasa kau akan memilih untuk bunuh diri sesampainya kita di Thailand,”

Jiyong bangkit berdiri dan menarik Taeyeon untuk pindah ke bangku yang berada di samping jendela. Taeyeon tidak memberi banyak komentar apa-apa dan hanya diam melihat tingkah laki-laki yang saat ini menjelma menjadi seorang gadis cantik itu.

“Jeongmal gomawoyo,” lirih Taeyeon tulus setelah lima menit penuh mereka saling diam. “Untuk yang di pesawat dan di bus ini. Aku benar-benar sangat berterima kasih,”

“Lain kali jagalah dirimu sendiri. Kau harus selalu waspada dan jangan pernah menurunkan tingkat kehati-hatianmu. Ini kedua kalinya kau bertingkah ceroboh seperti ini dan kuharap tidak ada yang ketiga kalinya,” tutur Jiyong serius sambil tetap menatap ke depan. “Aku tidak selamanya berada bersamamu atau di dekatmu. Kalau kau bertingkah seperti ini saat aku tidak ada dalam jangkauanmu, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi,”

Jiyong menoleh ke samping menatap Taeyeon yang juga tengah menatapnya. Taeyeon terpukau mendengar tuturan kata-kata Jiyong dan itu jelas sekali terlihat dalam caranya memandang kedua mata cokelat Jiyong. Ia memang tidak pernah mudah menerima dan percaya kata-kata manis dari seorang laki-laki, karena baginya itu hanya sampah. Namun, seorang Kwon Jiyong berbeda. Walaupun kata-kata manis seperti itu sering didengarnya, tapi yang membuat berbeda adalah ketulusan dan keseriusan yang mendalam setiap kata-kata itu meluncur keluar dari bibirnya.

Dan ini adalah kali keberapa Taeyeon merasa tersentuh mendengar ungkapan laki-laki itu.

Taeyeon menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil pada Jiyong. Setelah itu, ia mengarahkan pandangannya ke luar jendela dan membiarkan fikirannya terbang entah ke mana.

~~~

Gemuruh suasana di Impact Arena, Muang Thong Thani, Thailand, benar-benar sangat riuh. Crown lightstick berwarna kuning cerah menyinari seluruh arena. Trailer yang sedang berlangsung sebagai pembukaan konser MADE Tour ini membuat semua orang berteriak histeris dan menggemakan nama-nama personil Bigbang. Berbagai fan chants juga mulai bergemuruh.

Fighting!!!” seru Taeyeon pada members Bigbang yang mulai bersiap-siap untuk tampil di atas stage.

“Oppa, berikan fan service yang mematikan buat mereka,” ujar Yuri pada Jiyong. Jiyong merapikan jas hitamnya sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Yuri. “Begitu juga sudah mematikan buat Dragons,”

Fighting,” ujar Taeyeon pada Jiyong yang hendak melangkah ke atas stage. Mendengar dukungan pelan dari bibir Taeyeon membuat Jiyong mengeluarkan smirk andalannya dan ia memandang gadis itu beberapa detik sebelum akhirnya bergabung dengan members lain untuk muncul di atas stage. Dan lagi-lagi rona merah keluar dari kedua pipi Taeyeon.

“Wah, wah, wah. Sepertinya ada banyak hal yang kulewatkan selama kalian menghabiskan satu hari ini bersama-sama,” bisik Yuri dan ia mengerling nakal pada Taeyeon.

Sebelum Taeyeon menjawabnya, ponsel gadis itu berdering menandakan ada panggilan masuk di dalam saku celananya. Buru-buru Taeyeon mengambilnya.

Jaehyun oppa’.

“Yeoboseyo?” sapa Taeyeon.

Aku sudah sampai di Bangkok, Tangie-ah. Apa kita bisa bertemu malam ini? Aku akan menjemputmu di apartemen Yuri,” ujar Jaehyun di seberang telepon dengan nada yang sangat ceria. Dan Taeyeon mau tak mau tidak sampai hati mengecewakan orang yang selama ini menduduki peringkat teratas di hati Taeyeon.

“Oppa, aku sedang ada di konser MADE Tour Bigbang dan mengurusi kegiatan mereka. Kau tahu itu,” keluh Taeyeon. “Tapi, aku ada usul. Bagaimana kalau setelah konser ini kita bertemu? Kau istirahat saja dulu sejenak dan setelah itu kita bertemu. Aku akan traktir makan,”

“Jeongmalyo? Ya, kau tahu, ‘kan aku paling suka makanan Thailand dan tak akan berhenti makan sebelum perutku membludak? Apa tidak apa-apa?” tanya Jaehyun.

Taeyeon tertawa kecil. “Gwaenchannayo, oppa,”

“Baiklah~ Aku akan menjemputmu nanti. Pay pay, Taengie-ah. Jangan bekerja terlalu semangat, eoh?” tutup Jaehyun.

Taeyeon hanya mengatakan iya dan ia memutuskan sambungan teleponnya. Yuri menyipitkan kedua matanya memandang Taeyeon.

“Jangan bilang kau lupa kita akan mengadakan after party setelah ini, eonni,” tuding Yuri.

“Mianhaeyo, Yuri-ah. Aku sudah berjanji duluan pada Jaehyun oppa, ingat? Saat kita berada di mobil menuju apartemenmu,” ujar Taeyeon dan ia memasang wajah memelas. “Jebal, Yuri-ah. Aku sangat tidak enak hati jika menolaknya bertemu,”

“Arraseo, arraseo. Lalu, bagaimana dengan yang lain nanti? Apa yang akan aku katakan pada mereka?” tanya Yuri.

“Jujur saja aku pergi ke mana dan bertemu siapa. Mereka pasti mengerti,” jawab Taeyeon cepat. “Kalau begitu, kajja. Kita lihat penampilan mereka di tribun atas,”

~~~

“Gamsahamnida!!!” jerit Seungri di atas panggung saat mereka berlima masuk ke dalam sebuah pintu yang akan mengantarkan mereka menuju backstage.

Suara teriakan dan seruan dari Impact Arena benar-benar memekakkan telinga, sampai-sampai orang yang berada di luar area itu akan mengira terjadinya langit runtuh. Lampu-lampu di atas stage mulai padam tapi lampu dari crown lightstick Bigbang di seluruh bangku penonton masih bersinar dengan indahnya. Melihat itu, membuat Jiyong tersenyum kecil, tersentuh, saat ia dan members yang lain sudah berada di ruang ganti dan hendak mengganti pakaian mereka.

“Kajja, kita semua langsung menuju apartemenku,” ajak Yuri yang sangat bersemangat sekali.

“Kajja!” seru Seungri. “Ah, kenapa kita tidak menyewa ballroom hotel saja? Apa cukup di apartemenmu sebanyak ini?”

“Benar juga,” gumam Yuri. “Baiklah, aku akan booking dulu,”

“Yuri-ah, di mana uri Taeyeonnie?” tanya Seunghyun.

“Eh?” Yuri balik bertanya saat ia hendak mengetik nomor hotel di ponselnya. Wajahnya berubah menjadi salah tingkah dan Jiyong dapat melihatnya. Ia pun mulai mengalihkan perhatiannya pada sepupunya itu dari cermin saat ia mengenakan sebuah jas biru tua. “Ah, Taeyeon eonni? Dia akan datang terlambat, sepertinya,”

“Waeyo? Apa ada masalah?” tanya Daesung langsung.

“Aniya. Hanya saja Jaehyun oppa sudah sampai di Thailand dan ia menjemput Taeyeon eonni tadi untuk berkeliling-keliling di Bangkok ini,” jawab Yuri. “Berkeliling Thailand pada malam hari bukankah kesannya sangat romantis? Tapi Taeyeon eonni tidak akan lama. Dia akan segera menyusul kita,”

“Ne, sangat romantis,” sambung Seungri. “Cerdas juga Ahn Jaehyun itu,”

“Itu artinya mereka sudah berhubungan kembali, bukan?” tanya Daesung pada keempat members Bigbang saat Yuri permisi keluar untuk menghubungi hotel yang akan mereka pakai semalam untuk after party.

“Mollayo,” jawab Seunghyun sembari tersenyum tipis. Kedua ekor matanya melirik ke arah Jiyong. “Bagaimana pendapatmu Jiyongie? Bukankah kau orang yang berpengalaman dalam on-off-nya suatu hubungan?”

Jiyong menatap malas pada Seunghyun saat ia merapikan kerah jas birunya. Fikirannya tengah bergelut dan tidak sepenuhnya kembali fokus dengan pembicaraan members-nya saat ini. Dapat dilihat dari wajah Jiyong bahwa ia berusaha keras menahan emosinya yang bergemuruh di dalam dirinya. Wajahnya mengeras, berusaha untuk tidak melakukan apa-apa di luar akal sehatnya.

Sedangkan di lain pihak, Jaehyun dan Taeyeon, benar-benar menghabiskan waktu mereka berdua di kota Bangkok itu dengan berkeliling mencari makanan dan jajanan khas Thailand. Benar-benar seperti bernostalgia, dan Taeyeon menyadari hal itu. Dan ia juga menyadari ada yang kurang dengan kebersamaan mereka setelah enam tahun lamanya.

Ya, perasaan Taeyeon pada mantan kekasihnya tersebut.

Ia tidak merasa sebahagia dulu. Ia tidak merasa senyaman dulu. Lebih parahnya lagi, ia tidak merasakan jantung maupun jiwanya bergetar hebat seperti saat mereka berpacaran dulu. Selama tiga tahun bersama, Taeyeon akan merasakan desiran hebat saat menatap wajah Jaehyun. Sekarang? Kenapa seakan-akan ia merasa adalah orang yang mudah melanggar janji pada dirinya sendiri? Taeyeon merasa perjuangannya menunggu selama bertahun-tahun adalah hal sia-sia.

Apakah memang benar ia sudah tidak punya rasa apa-apa lagi pada Jaehyun?

Taeyeon menggelengkan kepalanya, mengusir pemikiran itu. Ia merasa sangat jahat sekali jika perasaannya benar-benar telah sirna. Jaehyun sudah kembali dan ingin memulai semuanya dari nol, walaupun Taeyeon masih belum tahu kenapa dia pergi seenaknya waktu itu.

Taeyeon menghela nafas panjang. Ia meyakinkan dirinya bahwa perasaannya pasti akan kembali seiring dengan berjalannya waktu. Ya, mungkin perasaannya perlahan memudar juga karena waktu.

“Waeyo?” tanya Jaehyun, memecahkan lamunan Taeyeon. “Kau lelah?”

Sebelum Taeyeon sempat menjawab, ponselnya bergetar menandakan ada chat masuk, dari Yuri. Taeyeon membukanya terlebih dulu dan membacanya.

From : Yul

Eonni, tidak perlu ke hotel, minta antar pulang langsung ke apartemenku saja pada Jae oppa. Kami semua sudah kembali.

“Ah, oppa. Kita kembali saja ke apartemen Yuri. Mereka semua sudah kembali,” ujar Taeyeon.

“Jinjja? After party-nya sudah selesai?” tanya Jaehyun, terkejut. “Apa Yuri dan yang lainnya marah?”

“Aniya, tentu saja tidak. Mereka semua, ‘kan sudah tahu? Kalaupun mereka kecewa, aku akan memasakkan masakan yang mereka inginkan besok. Apapun itu,” canda Taeyeon.

“Jangan membuat mereka semakin dikecewakan, Taengie-ah,” Jaehyun balik bercanda, yang membuatnya mendapatkan cubitan kecil di perut dari Taeyeon. “Ah, sepertinya aku tidak bisa bertamu di apartemen Yuri,”

“Wae?”

“Aku takut cemburu,” jawab Jaehyun singkat.

“Aku tidak mengerti. Kau cemburu pada siapa?”

“Sepertinya salah satu member Bigbang ada yang menaruh perhatian lebih padamu,” ungkap Jaehyun. “Seseorang yang melarangmu dengan keras pergi denganku malam ini,”

“Kwon Jiyong? Dia menaruh perhatian lebih padaku? Tch, karangan yang luar biasa, oppa. Kami bahkan sering bertengkar dan berbeda pandangan. Lebih tepatnya, dia tidak menyukaiku dan sering membuatku kesal,” jawab Taeyeon. Perlahan, ada rasa rindu yang menyusup di hati Taeyeon dengan lembut saat lidah tak bertulangnya menyebut nama ‘Kwon Jiyong’. “Dia seperti itu karena tidak ingin melihatku bahagia. Laki-laki keras kepala yang sangat egois,”

Jaehyun tertawa. “Melihatmu yang langsung kesal saat mendengar namanya membuatku yakin kau justru sayang padanya. Seorang Kim Taeyeon yang ku kenal tidak berubah,”

Taeyeon mengalihkan pandangannya menatap Jaehyun dengan wajah shock. Ia mengerjapkan kedua matanya dan kembali menatap ke depan, tidak berkomentar apa-apa atas pernyataan Jaehyun yang menohok perasaannya.

Tidak berapa lama kemudian mereka berdua telah sampai di depan gedung apartemen Yuri. Jaehyun keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Taeyeon. Taeyeon tersenyum lebar dan mengatakan itu tidak perlu pada Jaehyun. Mereka masih mengobrol beberapa hal di samping mobil Jaehyun, seolah-olah tidak ingin berpisah dan ingin waktu berhenti detik itu juga. Bahkan, terlihat wajah tersipu Taeyeon yang memancarkan senyuman manisnya pada Jaehyun.

tumblr_o205gc7dgj1u6uuxto1_400

“Apa kau sudah selesai, Taeyeon-ssi?”

Taeyeon tersentak kaget dan jantungnya berdebar sangat kencang secara mendadak. Suara baritone itu sangat dikenalnya. Gadis itu menolehkan wajahnya menatap sang empu suara. Dugaannya tidak meleset. Laki-laki itu berdiri tidak jauh darinya sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya dan memandang tajam ke arah Taeyeon. Ekspresinya sulit di baca, datar, dan tidak ada emosi apapun di sana.

“Jiyong-ssi,” gumam Taeyeon.

Gadis itu lalu memandang Jaehyun. “Oppa, kau bisa pulang sekarang,”

“Arra. Aku akan mengabarimu kalau sudah sampai di hotel,” jawab Jaehyun. Ia memandangi Jiyong dengan pandangan tajam yang sangat jarang sekali ia berikan ke orang lain, mengingat Jaehyun adalah sosok yang friendly. “Annyeonghaeyo, G-Dragon-ssi,”

“Tidak perlu terlalu formal begitu, Jae,” ujar Jiyong, smirk-nya keluar dan entah kenapa bulu kuduk Taeyeon meremang. “Aku tidak biasa mendengarnya. Seakan-akan kau dan aku tidak saling mengenal. Tch, itu membuatku sedikit terluka, bro,”

Taeyeon mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Jiyong yang terkesan manis dan dingin di saat yang bersamaan. Ada perasaan tidak suka saat Jiyong mengucapkan hal itu, dan Taeyeon bisa merasakannya.

“Melihat Taeyeon-ssi yang kebingungan, aku yakin kau belum memberitahu apa-apa padanya. Wae? Kau belum siap membeberkan semuanya? Atau… Kau takut?” tanya Jiyong. Setiap kata yang keluar dari bibirnya seperti panah yang bisa menancap dalam-dalam pada tubuh seekor binatang buas.

“Oppa?” panggil Taeyeon pada Jaehyun, tidak mengerti.

“Aku akan melakukannya pada saat yang tepat, G-Dragon-ssi. Gamsahamnida atas sarannya. Selamat malam dan selamat beristirahat,” jawab Jaehyun dengan senyuman manis yang mengembang sempurna di wajah tampannya. “Taeng, aku pulang ya,”

Taeyeon mengangguk kecil dan memandangi Jaehyun yang mulai memasuki mobilnya. Laki-laki itu melambaikan tangannya pada Taeyeon dan segera melesat pergi, meninggalkan Jiyong dan Taeyeon dalam keadaan canggung, lebih tepatnya Taeyeon-lah yang merasa canggung.

“Apa kau akan terus berdiri di situ?” tanya Jiyong tajam sembari berbalik untuk masuk ke dalam gedung apartemen.

Taeyeon menatap punggung laki-laki itu dengan kesal lalu mengikutinya masuk dari belakang. Sepanjang perjalanan mereka berdua diam saja, tidak ada mengatakan sepatah kata pun. Keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing, dan Taeyeon terlalu takut untuk buka suara lebih dulu.

“Bagaimana after party-nya?” tanya Taeyeon dengan suara tercekat saat mereka berada di dalam lift.

“Tidak seromantis acara kencanmu dengan orang itu tadi,” jawab Jiyong ketus. Taeyeon merasa tersindir sekali mendengarnya.

“Mianhae. Kufikir kalian mengerti dengan situasiku saat itu. Kurasa kau juga pernah mengalami kejadian seperti ini, saat kau masih bersama dengan mantan kekasihmu,” ujar Taeyeon, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Jiyong. “Aku ingin tanya sesuatu, Jiyong-ssi. Kau mengenal Jaehyun oppa? Maksudku, kalian seperti lebih dari sekedar ‘saling mengenal’,”

“Kau bisa tanya langsung padanya,” jawab Jiyong singkat.

Taeyeon hanya menganggukkan wajahnya, merasa malas untuk melanjutkan kembali perbincangan tentang Jaehyun berhubung mood-nya sedang tidak bagus.

Begitu mereka berdua sampai di apartemen Yuri, Taeyeon mendapati seluruh ruangan sudah gelap dan kamar masing-masing sudah terkunci rapat. Bahkan, kamar Yuri dan members Bigbang juga gelap, menandakan mereka semua sudah terjun ke dalam mimpi masing-masing.

“Apa mereka sangat lelah?” tanya Taeyeon penasaran.

“Mereka semua gila-gilaan di hotel untuk melepaskan semua penat. Ballroom hotel itu mereka gunakan sesuka hati mereka. Berbeda sekali dengan suasana romantis yang kau alami bersama mantan kekasihmu itu,” jawab Jiyong. Ia masih berdiri di depan pintu, tidak berniat untuk melangkah menuju kamarnya, satu-satunya penerang di apartemen Yuri.

“Bisakah kau tidak menyindirku seperti itu? Aku hanya melakukan kesalahan sekali dan aku pastikan aku tidak akan melakukannya,” ujar Taeyeon kesal. “Sepertinya hanya dirimu yang tidak melepaskan penat itu,”

Jiyong langsung mengarahkan kedua mata cokelat menawannya pada Taeyeon. Dipandanginya manik mata gadis itu dalam-dalam dan Taeyeon merasa canggung, salah tingkah, dan gugup.

“Karena aku lapar,” jawab Jiyong pelan. Detik itu juga, Taeyeon merasa jantungnya sudah tidak berada di tempatnya lagi.

Kedua kakinya mendadak lumpuh dan tubuhnya seperti disihir untuk tidak diperbolehkan bergerak sesenti saja ketika Jiyong dengan santainya melangkah mendekati gadis itu, menghapus jarak di antara mereka. Dan gadis itu semakin merasa terjun bebas saat jemari Jiyong mengelus wajah mulus dan beningnya.

 

 

 

 

-To Be Continued –

*no comments* kekekekeke, I know, it’s still not good yet~

Advertisements

179 comments on “The Leader’s Secret (Chapter 8)

  1. /nunggu next chapter/kehujanan/kepanasan/karatan/lumutan :v
    ga kok thor, becanda :v
    eh anu, kapan updatenya :v
    ditunggu nih thor :’)
    update soon ya thor :’)
    /nungguin ff update/

  2. 안녕하세요 여러분! aku pembaca baru disini ♥ Aku suka banget sama fanfict ini dan baca berulang ulang kali. Penuturan katanya efektif dan mudah dimengerti. I’m a hard shipper of G-Tae. Update lagi 주세요오~ udah ga sabar liat kelanjutannya. Have a nice day folks!♥♡♥

  3. ini kapaan di next lg nyaa ??? 😦 bolak balik kesini tp belum ada part selanjutnya 😦 penasaraaaan pen cepet cepet tau endingnya hihi ..

  4. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 9) | All The Stories Is Taeyeon's

  5. “Dia akan melindungi dirimu apapun yang terjadi, siapapun tidak akan pernah bisa menyakitimu seujung jaripun, dan meskipun kau akan dibenci oleh seluruh manusia di muka bumi ini karena mengencani seorang G-Dragon, dia akan tetap berdiri di depanmu, menyuarakan betapa besar cintanya padamu, dan menunjukkan pada dunia kalau dirimulah mutiara berharga bagi seorang G-Dragon,” klo diriku di posisi taeng beeuhhh lumaer ku rasa kaakk jiyoung romantis bangett 😍😍😍 and aahhahaha jiyoung cemburu sama taeng kan kesan nya jadinya ngakak😅😅😅 ku suka sifat jiyoung di sini dia sedikit terang2an kaaakk😂😂😂 ahh sebenarnya ku dh coment dipart ini tpi pas di cek kok namanku gak ada kaakk 😭😭😭😭 semanga terus kaakk binaaaaa !!!!

  6. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  7. Kukira yang di ayunan sudah pagi. Nafsu makan vampir turun, lucunya… Haha… Lanjut.
    • Ini romance chapter? 🙂
    • Pengertian mereka datang dari orang lain.
    • Yang di kamar kukira Taeyeon akan dimakan, senyum-senyum sendiri lihat rambut orange Jiyong & Taeyeon.
    • Suka karakter Jiyong jahat & cool super cool, cocok aja rasanya.
    • Penempatan plot yang bagus. Kata-kata & suasana romance-nya dapet banget.
    • Di depan lift saat Tae menyatakan semuanya & dia pingsan itu karena vampir? Ternyata iya, kekeke… Mungkin karena Jiyong kasihan pada Tae yang penuh berani mengatakan semua & Jiyong merasa lega, terpaku, terpana, tercengang & tertawa mendengar semua penuturan Taeyeon yang panjang lebar & sesuai perasaannya. Akhirnya… Yes.
    • Kupu-kupu dalam dada? Ada saja nih author.
    • Jiyooong… Lagi-lagi sifatnya bagus banget.
    • Benar ‘kan, ternyata menelepon Dami… Wah, bukan Dara & Tae berhasil cemburu. Dan… Dara lagi. Tapi, berhasilkah Tae mencegah Jiyong?
    • Suka karakter Seunghyun, pas.
    • Benar ‘kan pasti Jiyong yang menolong di pesawat. Senyum-senyum sendiri bayangin Jiyong menolong Tae dari ahjussi di pesawat, tapi belum benar-benar terungkap, akankah terungkap di chapter lanjut?
    • Setelah hal buruk terjadi hal baik datang beriringan, seperti di Marriage Not Dating.
    • Iya, pasti ada kiss di rooftop.

  8. G-Dragon naik bus? 😀
    • Itu G-Dragon menjelma jadi G-Raim, haha imutnya anak ini.
    • Tae dipanggil ahjumma oleh Jiyong? Poor Taeng-eomma.
    • Jadi ini belanja sambil kencan secara tidak langsung? 😀
    • Hmm… Penjaga berdeham karena makanannya takut kehabisan.
    • Coba aja ada scene GTAE bisa memasak walau dia vampir.
    • Kalau begitu ‘ayo lain kali kita seperti itu, belanja & dinner romantis di rooftop’ kekeke…
    • Cemburunya kelihatan banget waktu Soomi membicarakan Jaehyun, ah cie…
    • Gadis cantik & Jiyong yang imut, aduuh…
    • Terungkaplah penyelamat Taeyeon dari paman yang di pesawat.
    • Saat Jiyong memberikan smirk pada Jaehyun & kata-kata Jiyong untuk Jaehyun pantas banget sesuai karakternya, manis & dingin, ckckck
    • Mulai deh romance lagi di apartemen Yuri.
    • Itu makan karena lapar atau pernyataan cinta? 😉
    #gtae #royalistdreamer #leadercouple
    • Next chapter… See you. HWAITING All! 😀 HWAITING Author-nim! 😀

  9. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 13) | All The Stories Is Taeyeon's

  12. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 14) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s