EDM [2A]

img_20160514_182052.jpg

Romance, AU

Kim Taeyeon, Kim Jong In

Tiffany Hwang, Bae Joo Hyun, Jessica Jung

Poster by rosaliaaocha

Ternyata benar, Kai lebih keras kepala dari yang Taeyeon bayangkan. Bukannya menjauh, lelaki itu malah muncul setiap hari di hadapan Taeyeon. Kai selalu datang untuk memberikan Taeyeon sesuatu, entah itu coklat, bunga mawar, cake, bekal makanan, dan lain-lain. Namun sayangnya Taeyeon selalu membuang semua pemberian Kai atau memberikannya kepada teman-temannya.

Kejam?

Gadis itu tidak peduli. Yang terpenting adalah Kai pergi dari hidupnya. Dia tidak bisa terus begini. Sahabatnya sangat menyukai Kai, sementara lelaki itu terus mendekatinya. Jika Tiffany tahu, dia pasti sangat marah karena telah merasa dibohongi. Salah Taeyeon juga yang tidak bercerita tentang Kai sejak awal.

Siang ini, seperti biasa Kai menghampiri Taeyeon dengan sebuah ice cream ditangannya. Kai menyodorkan ice cream itu pada Taeyeon.

“Berhentilah menghabiskan uangmu untuk hal seperti ini,” ucap Taeyeon ketus. Gadis itu berjalan tanpa mempedulikan Kai.

“Tak masalah selama kau menerimanya. Ini makanlah sebelum meleleh,” kata Kai seraya mengejar langkah Taeyeon. Gadis itu berhenti, lalu menatap Kai sejenak.

“Benar aku selalu menerima pemberianmu.” Taeyeon mengambil ice cream dari tangan Kai lalu berjalan ke arah tong sampah yang berada dekat dengan mereka. “Tapi semuanya selalu berakhir seperti ini.” Gadis itu menjatuhkan ice cream-nya kesana.

Kai tersenyum kecut. Ia tak tahu jika selama ini Taeyeon melakukan itu. Hatinya sedikit tergores dengan kenyataan ini. Kenyataan jika Taeyeon sangat tidak menginginkan dirinya.

“Ah. ternyata seperti itu. Baiklah, aku tidak akan memberikan apapun lagi padamu.” Terdengar nada kekecewaan dan kepedihan, Taeyeon bisa merasakan itu. Lantas Kai berjalan memunggungi Taeyeon yang masih berdiri di samping tempat sampah.

*

Entah ada apa dengan hari ini, tapi Taeyeon benar-benar merasa sangat malas. Ia ingin segera membaringkan diri di atas kasur empuknya. Padahal hari ini adalah jadwalnya untuk berkumpul bersama ketiga sahabatnya. Absen ke pertemuan rutin tidak akan membuat Taeyeon kehilangan ketiga sahabatnya. Jadilah Taeyeon sekarang terburu-buru berjalan ke arah rumahmya setelah menghadiri perkuliahan.

Saking terburu-burunya, gadis itu tidak sadar ada sebuah lubang kecil berjarak beberapa senti darinya. Dan heels setinggi tiga sentimeter itu terjerumus dalam lubang, menghentikan langkah gadis mungil itu. Taeyeon berusaha mengangkat kakinya dan mengeluarkan heels-nya dari lubang itu. Namun itu tak semudah yang ia pikirkan. Lantas dia mengeluarkan kakinya dari sepatu itu, kemudian membungkuk untuk menarik sepatunya dengan tangan.

“Lubang sialan! Kenapa sulit sekali dikeluarkan?!” umpatnya setelah mencoba menarik sepatu itu.

Taeyeon tidak menyerah, ia mengulangi aksinya lagi. Tak peduli dengan fakta bahwa dirinya mulai menjadi perhatian orang-orang yang berlalu lalang. Mereka menertawakan Taeyeon. Dan Taeyeon gagal lagi dalam percobaan keduanya.

“Perempuan lemah, minggir biar aku yang menariknya.”

Siapa lagi yang berani berkata seperti itu selain Kai. Taeyeon mendengus, namun juga menuruti perkataan Kai untuk minggir. Memberi kesempatan kepada lelaki itu untuk membantunya.

“Coba saja, ini tak semudah yang kau bayangkan.”

Kai mengambil posisi, lalu menariknya dengan satu hentakan. “Ini sangat mudah, lihat,” ucap lelaki itu sambil menjinjing sepatu Taeyeon dengan jari telunjuknya. Baiklah sekarang Taeyeon terlihat seperti orang yang sangat lemah.

“Kau kan laki-laki, sudah pasti tenagamu lebih besar. Sekarang kembalikan sepatuku.”

Lelaki itu berdehem. “Kau mau sepatumu kembali? Kalau begitu ambilah sendiri.” Kai malah berjalan dengan santainya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Membuat sang gadis yang ditinggalkannya harus menghela napasnya karena kesal. Kai memasuki mobil itu. Tak ada pilihan lain bagi Taeyeon selain membuntuti Kai. Ia tak tega jika kakinya harus terluka lantaran berjalan beratus-ratus meter dengan kaki telanjang.

Taeyeon mengetuk kaca mobil Kai. Tanpa berkata pun Kai sudah mengerti bahwa gadis itu menanyakan keberadaan sepatunya dan meminta lelaki itu untuk segera mengembalikan barang itu.

“Masuk dan ambilah sendiri.”

Sepatu itu tergeletak di atas dashboard mobil. Dan terpaksa Taeyeon harus masuk untuk mengambilnya. Saat Taeyeon masuk, Kai segera keluar untuk menutup pintu mobil kemudian bergegas masuk ke dalam kursi kemudi lagi.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Taeyeon sebal. Sementara lelaki disampingnya hanya tersenyum penuh arti namun terlihat menakutkan di mata Taeyeon.

“Mengantarmu pulang.” Tanpa menunggu respon Taeyeon, Kai segera menyalakan mesin mobilnya dan mengemudikannya dengan kecepatan yang cukup pelan.

Sementara Taeyeon tidak memiliki pilihan lain selain menuruti lelaki disampingnya. Ia tahu sekeras apapun dirinya menolak untuk diantar pulang, Kai tidak akan menanggapinya. “Mau aku belikan kopi dulu? Atau makanan ringan?” tanya Kai sambil sesekali menolehkan wajahnya untuk melihat Taeyeon.

“Aniya, tidak perlu. Antarkan aku pulang saja,” balas Taeyeon lemah.

“Kau tidak apa-apa? Kuperhatikan hari ini kau terlihat tidak semangat.”

“Aku tidak apa-apa.”

“Kau yakin?”

Taeyeon melemparkan tatapannya pada Kai. Matanya menyipit tajam kala menatap Kai. “Jangan banyak bicara.”
Beberapa saat kemudian, mobil milik Kai sudah berhenti di depan rumah Taeyeon. Gadis itu segera membuka pintu mobil dan hendak keluar jika saja tangan Kai tidak menghalanginya.

“Ah, aku lupa. Terimakasih,” ucap Taeyeon. Ia berusaha melepaskan tangan Kai. Namun, lelaki itu sangat erat menggenggam lengan Taeyeon.

“Dengarkan aku baik-baik.”

Taeyeon terdiam, bersiap mendengarkan perkataan Kai selanjutnya.

“Aku benar-benar mencintaimu. Aku belum pernah merasa mencintai seseorang setulus ini.”

Kai menghembuskan napasnya. Lantas ia melepaskan kepalan tangannya. Suasana menjadi lebih kikuk sekarang. Taeyeon masih tetap dalam posisinya. Belum pernah sebelumnya Taeyeon melihat wajah Kai seperti itu. Serius dan sangat berkharisma. Jangan lupakan kata tampan, karena sejak lahir Kai memang sudah tampan. Namun keadaan fisik bukan sesuatu yang membuat Taeyeon jatuh cinta. Lagi pula, gadis itu tidak boleh jatuh cinta.

Suara kelakson mobil di belakang sana memecahkan suasana kikuk yang menyelimuti mereka. Taeyeon mengedipkan matanya berkali-kali menyadari apa yang baru saja terjadi. “Terimakasih sudah mengantarku.”

“Taeyeon-ah, kau pulang bersama Kai?” seorang pria paruh baya tiba-tiba muncul ketika Taeyeon baru saja turun dari mobil.

“Annyeong hasseyo!” sapa Kai.

“Masuklah dulu, kita minum teh bersama.”

“Aku sangat ingin. Tapi aku harus pergi sekarang karena ada urusan. Mungkin nanti di lain waktu, terimakasih ajakannya,” ucap Kai sambil tersenyum tak enak karena menolak ajakan calon mertuanya itu.

“Oh baiklah. Hati-hati dalam perjalanan, ne?”

“Ne, kalau begitu aku pergi dulu.”

*

Malam telah tiba, seperti biasa Kai mendatangi sebuah klub malam yang menjadi tempatnya bekerja. Namun, kali ini tidak seperti malam-malam biasanya. Ia tak datang untuk menjadi seorang DJ. Melainkan untuk melupakan sejenak sesak di hatinya juga beban pikirannya. Ini sudah botol yang ketiga dan kesadaran Kai sedikit demi sedikit mulai menghilang. Kai hanya duduk sendiri sampai akhirnya Oh Sehun datang. Lelaki itu adalah teman dekatnya walaupun belakangan ini mereka jarang bertemu.

“Wah, lihatlah siapa yang sedang mabuk sekarang?” ucap Sehun sambil berkacak pinggang. Seingat Sehun, Kai tidak pernah minum-minum sampai mabuk seperti ini, kecuali saat dia benar-benar tidak tahu lagi cara mengatasi masalah yang sedang dia hadapi. Sehun menyimpan bokongnya di tempat duduk yang berhadapan dengan Kai. “Jadi, apa yang membuatmu mabuk?” tanya lelaki berambut pirang itu.

“Dia…, gadis itu tidak menyukai kehadiranku di hidupnya. Dia terus-terusan menyuruhku pergi dan membuang semua pemberianku. Dan kau tahu apa yang paling menyedihkan? Dia sama sekali tidak menanggapi saat aku mengatakan perasaanku dengan tulus,” ucap Kai sempoyongan.

Sehun hanya berperan sebagai pendengar setia. Lagi pula jika dia menasehati sahabat karibnya itu sekarang, saat sadar Kai tidak akan ingat apapun. Jadi percuma saja.

“Apa aku harus menculiknya? lalu memaksanya menikah denganku?” racau Kai.

“Kau gila!”

“Kim Taeyeon aku mencintaimu, maukah kau menjadi pacarku? Ah ani, ani, maukah kau menemaniku selamanya? Kau pasti tidak mau, ya? Padahal aku sudah mati-matian menolak perjodohan yang dilakukan oleh orang tuaku dan mengatakan bahwa aku akan menikah denganmu, dengan Kim Taeyeon.”

Kepala Kai terjatuh ke atas meja. Lelaki itu sepertinya sudah benar-benar kehilangan kesadarannya.

*

“Kim Taeyeon!”

Langkah Taeyeon terhenti, namun gadis itu enggan membalikkan tubuhnya.

“Kenapa kau tidak pernah melihatku? Kenapa kau tidak pernah menyukaiku? Jika alasanmu karena aku adalah seorang DJ dan penyuka musik EDM, kau sungguh keterlaluan. Aku memintamu untuk menyukaiku, menyukai Kim Jong In, bukan memaksamu untuk menyukai pekerjaanku sebagai DJ dan juga musik EDM.”

Taeyeon hanya terdiam.

“Tidakkah semua yang aku lakukan selama ini membuat hatimu tersentuh?”
Gadis itu memutar, menatap Kai yang berjarak beberapa meter darinya.

“Ya, kau benar aku sudah keterlaluan. Memang itu alasanku tidak pernah menyukaimu dan aku tidak pernah merasa tersentuh atas apa yang kau lakukan selama ini!”

*

Sore ini mereka tak sengaja bertemu. Tetapi berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kali ini Kai bahkan tidak menyapa Taeyeon. Mereka bertingkah seolah-olah mereka tidak saling mengenal. Mungkin Kai sudah merasa lelah dan akhirnya memutuskan untuk menjauhi Taeyeon?

Jika benar begitu, Taeyeon menang.

*

Keesokan harinya Taeyeon termenung di taman depan universitas tempatnya menimba ilmu. Joohyun, Tiffany, dan Jessica sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Taeyeon tidak tega jika harus memaksa mereka menemani dirinya yang sedang kesepian.

Disaat-saat seperti ini biasanya Kai tiba-tiba muncul memberinya sebatang coklat atau ice cream dan berceloteh tentang apapun sehingga kesepian Taeyeon hilang, namun gadis itu mendadak menjadi kesal. Dan sekarang Taeyeon mulai bertanya-tanya apa yang dilakukan Kai saat ini? Dua hari tanpa Kai benar-benar terasa berbeda, Taeyeon merasa kesepian, bosan, dan kesal.

Aneh, padahal dia juga benci dan kesal jika Kai muncul dihadapannya. Dan dia juga merasa kesal saat Kai tidak ada.

*

Matanya menatap nanar benda berbentuk persegi panjang yang tergeletak di meja. Benda yang selalu ia singkirkan begitu malam hari datang, kini malah menjadi benda yang paling dia perhatikan. Biasanya benda itu banyak mengeluarkan bunyi pada jam-jam ini. Tetapi malam ini tidak. Taeyeon merasa sedikit kesepian dan kehilangan, mungkin.

Kenapa Taeyeon jadi begini? Bukankah ini memang keinginannya sejak dulu, dan sekarang keinginannya itu sudah terjadi. Seharusnya Taeyeon merasa senang bukannya kehilangan sosok Kai seperti sekarang ini. Ia merasa jahat kepada Tiffany. Namun tidak bisa dipungkiri, perlahan-lahan Taeyeon mulai menyukai Kai. Walaupun perlakuan gadis itu sangat kejam pada Kai. Hal itu semata-mata agar ia juga terus membenci Kai dan membuatnya jauh seperti sekarang. Agar rasa bersalahnya pada Tiffany hilang.

Sementara yang terjadi sekarang benar-benar diluar dugaan Taeyeon. Gadis ini bahkan melupakan Byun Baekhyun—teman masa kecilnya—yang dia cintai. Dan juga janji bersamanya untuk tidak mencintai orang lain. Sampai sekarng Taeyeon tidak mengetahui keberadaan Baekhyun yang tiba-tiba pergi saat mereka berada di Junior High School. Yang ada di hatinya saat ini hanyalah Kai dan rasa bersalah yang besar pada Tiffany.

“Taeyeon-ah! Belikan obat untuk appamu!” teriak eommanya dari luar kamar Taeyeon. Sejak tadi pagi appanya terserang flu. Taeyeon segera keluar dari rumah untuk membeli obat.

Apotiknya cukup jauh dari rumah, terlebih Taeyeon hanya berjalan kaki. Ia menggenggam ponselnya, menunggu sebuah notifikasi masuk. Taeyeon masih berharap Kai akan menghubunginya saat ini. Sayangnya ponsel itu tidak menunjukkan notifikasi sama sekali. Taeyeon berusaha mengabaikan rasa rindunya pada Kai dan berjalan semakin cepat menuju apotik.

Tak jauh dari tempat Taeyeon, seorang lelaki sedang berdiri di depan mesin minuman, menunggu minumannya keluar. Taeyeon langsung mengenali lelaki itu. Tanpa sadar, dia melenceng dari jalan yang seharusnya dia tempuh dan berbelok mendekati lelaki itu. Gadis itu terdiam mematung tepat dua meter dari tempat lelaki itu berdiri.

Setelah mendapatkan minuman yang dia mau, Kai berbalik dan melihat Taeyeon berdiri disana. Ia hanya melihatnya sekilas lalu bergegas melewati tubuh gadis itu. Hati Taeyeon mencelos, bahkan air matanya hampir menetes. Dirinya bertanya-tanya mengapa dia baru menyadari hal ini saat Kai menjauhinya? Bodoh! Dan dia sangat memikirkan kebahagiaan Tiffany daripada kebahagiaannya sendiri. Taeyeon mengepalkan telapak tangannya.

Ia berlari mengejar Kai lalu menarik lengan lelaki itu hingga akhirnya mereka berhadapan. Taeyeon berjinjit dan menempelkan bibir pinknya pada bibir lelaki itu. Kejadian ini terjadi begitu cepat. Kai membelak kaget. Ia merasakan emosi yang menggebu dari Taeyeon saat ini. Tanpa perlu dijelaskan Taeyeon, Kai mengerti bagaimana perasaan gadis itu.

Kai memeluk Taeyeon erat, melepaskan rasa rindunya pada gadis pujaannya itu. Sebenarnya ia tak sanggup mengabaikan Taeyeon. Hatinya masih tetap menginginkan Taeyeon meskipun ia mencoba menjauh darinya.

“Kenapa kau menyerah setelah kau hampir berhasil meruntuhkan pertahananku?”

“Aku tidak bermaksud begitu, tapi sepertinya kau sangat tidak menyukai kehadiranku.”

“Bodoh! Jangan menjauh lagi!”

Lelaki itu semakin mengeratkan pelukkannya.

*

Taeyeon memasuki pintu café dengan raut tak ceria. Adiknya membuat masalah lagi, dan kali ini ia merusak salah satu komputer. Mau tidak mau Taeyeon harus menggantinya dengan uang tabungan yang sudah ia kumpulkan selama hampir satu tahun.

Gadis itu menghampiri kawan-kawannya yang sudah lebih dulu duduk manis di sudut café. Kedatangan Taeyeon dengan raut wajah seperti itu tentu saja menimbulkan pertanyaan dibenak mereka.

“Ada masalah apa? Nilaimu turun?” tanya Joohyun. Taeyeon menggeleng lemah. “Aku kehilangan uang tabunganku.”

“Kau dirampok?” Tiffany mulai heboh. Dan lagi, Taeyeon menggeleng lemah. “Adikku merusak komputer orang lain, aku harus menggantinya.”

“Aish, anak itu tidak pernah berubah, selalu saja membuat masalah,” ujar Jessica.

Taeyeon mengangkat tangannya sambil memanggil seorang waiter. Pemuda berbadan tegap berseragam pelayan itu menghampiri Taeyeon untuk menerima pesanan. Setelah selesai menuliskan pesanan Taeyeon, iya kembali ke tempatnya semula dan meminta rekannya untuk membuatkan pesanan.

Hanya butuh waktu beberapa menit, pesanan Taeyeon datang. Taeyeon menyesap aroma kopi yang ia pesan, lalu meminumnya sedikit demi sedikit.

“Hmm, aku ingin…,” ucap Taeyeon terhenti karena Tiffany juga tiba-tiba berbicara.

“Kemarin siang aku tak sengaja melihat Kai berada di perpustakaan, dia sangat tampan seperti biasanya. Aku harus mendapatkannya!” ujar Tiffany begitu bersemangat.

Taeyeon yang berniat menceritakan tentang hubungannya dengan Kai, merasa ragu dengan tingkah Tiffany. Sahabatnya itu benar-benar menyukai Kai. Dan Taeyeon tidak bisa melihat sahabatnya kecewa. Mungkin suatu hari nanti akan ada kesempatan bagi Taeyeon untuk menceritakan semuanya, cerita tentang dirinya dan Kai.

“Jangan terlalu fanatik seperti itu, jika Kai memiliki kekasih kau akan merasa lebih sakit,” ucap Joohyun memberi nasihat. Namun sepertinya Tiffany tidak peduli dengan nasihat Joohyun itu.

“Kau ingin apa Taeyeon?” tanya Jessica.

“A-aku, ah aku ingin pesan waffle apa kalian mau?” Sepertinya Taeyeon harus merahasiakan semuanya sampai dia menemukan waktu yang tepat untuk bercerita.

TBC

Hallo, maaf aku baru sempat posting lanjutannya sekarang. Karena ff ini hanya aku bikin twoshot sedangkan part ke 2 nya panjang banget. Jadi aku bikin part 2A dan 2B.

Advertisements

34 comments on “EDM [2A]

  1. YUHUUU akhirnya dilanjut juga, wah kai ciee cintanya terbalas tinggal tunggu kapan taeng nerima Cinta nya kai terus pacaran ><

  2. Akhirnya taeng jujur juga sama perasaannya. Dikira dia gak bakal nerima kai setelah semua yg dilakuin sama kai.
    Semoga aja tiffany gak marah ya sama taeng,dan si baekhyun itu gak muncul lagi.
    Next chp dtunggu^^

  3. Taeyeon hrus rela merasakan sakit karna t ingin orang lain skit.
    Gmn lok fanny tau hubungan taeyeon ama kai yah.

  4. Seharusnya sih taeyeon berterus terang tapi waktu g memihak sma dia trs wk,duhh makin greget nih ceritanya apa lg ini perasaan kai udh di bales sma taeyeon,tapii ini si baekhyun kayanya bakal muncul nihh ,gmn yaa sma taeyeon bimbang krn sahabat nya ,duh penasaran nihh ,di tunggu part 2B nya,keep writing & imagine! FIGHTING!!

  5. Wah Daebakk , suka bgt sama ff ini seruuu
    KaiYeon jarang bgt ya . Taeng dilema tuh kasian sam Tiffany
    Keep writing and Fighting!!!

  6. Ala bisa karena terbiasa. Terbiasa di temani, akan merase kehilangan saat ia menjauh.
    Daebak
    Fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s