[FREELANCE] Moonlight (Chapter 9)

051615_1028_FREELANCEMo1.jpg

[Freelance] Moonlight Chapter 9

Author: Alicya V Haiyeon

Rating: PG-16

Lenght: Multichapter

Genre: School Life, Romance, Family

Main Cast: Kim Taeyeon

Xi Luhan

Support Cast: Temukan sendiri.

Disclaimer:

This is just a FanFiction. All the cast it’s belong to God, them selves and the parents.

Please, don’t be a Plagiator.

Author Note:

Jika ada kesalahan, mohon komentarnya. Karna komentar anda semua yang bisa menentukan

FF ini dilanjut atau berhenti di tengah jalan. Typo dimana-mana. Thankyou.

Preview: Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5, Chapter 6, Chapter 7, Chapter 8

***

Pria dengan wajah kusut itu kembali mendudukkan bokongnya di atas bangku di kelasnya. Matanya melirik, menelisir kelas yang sudah ia tempati beberapa bulan belakangan ini. Tak ada siapapun disini. Hanya ia dan kesendirian. Helaan nafas berat keluar, meluncur dengan bebasnya dari mulutnya. Ini sudah seminggu lebih sejak terakhir kali ia berbicara dengan taeyeon. Layaknya pria bodoh yang mengikuti kemauan taeyeon untuk menjauhinya.

Lagi, Luhan kembali menghela nafasnya. Ia lelah, dan mengantuk di saat yang bersamaan. Jangan heran jika Luhan masih mengantuk, ini masih pagi. Tentu saja. Jam dinding di atas papan tulis di depan sana menunjukkan angka jam 7 pagi sementara kelas akan di mulai pukul 8. Bukankah ini terlalu cepat untuk Luhan yang selalu menjadi langganan bermain kejar kejaran dengan song seongsamnim saat ia terlambat?

“aigooo!!!”

Luhan memekik kesal menendang meja di depannya dengan kesal. Jangan khawatir, tak ada siapapun di kelasnya, jadi tak masalah jika Luhan sedikit berteriak pagi ini. Dengan pelan ia menghela nafasnya kembali, menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya lewat mulut. Luhan terus mengulangi kegiatan bernafasnya untuk mengatur emosinya dan memilih merebahkan kepalanya di atas meja. Mencoba menutup matanya dengan pelan. Percayalah, tak mudah bagi seorang Luhan untuk bangun dan berangkat sangat pagi ke sekolah, dan itulah yang ia lakukan setiap pagi selama seminggu ini, semenjak taeyeon menjauhinya. Ia rasa dunianya mulai berjungkir balik. Semuanya terasa asing dan Luhan selalu meyakinkan dirinya, ‘ini kehidupan yang selalu aku jalani, kenapa sekarang terasa aneh?’

Baru saja mimpi hendak menyapanya namun gagal saat suara pintu terbuka kasar membuatnya mendengus kesal. Oh ayolah, ia akan berhasil menjangkau alam mimpinya, namun dengan seketika di tarik begitu saja kembali ke kenyataan.

“woahhh daebak, kau benar-benar di sekolah eoh!”

Luhan sangat hafal suara itu, yah suara siapa lagi kalau bukan tiang listrik berjalan itu. Dari nada suaranya Luhan berani taruhan bahwa pria itu baru saja berlari dari parkiran karna saat ia kerumah menjemput Luhan pagi ini, Luhan tak ada di rumah. ‘abaikan saja pria tiang itu Luhan’ luhan terus mengulangi kalimat itu dalam hatinya dan kembali menuju alam mimpinya, namun naas, Chanyeol sudah duduk dengan rapinya di bangku sampingnya dan menguncang tubuh Luhan.

“kau kenapa?” ujar Chanyeol kesal, yah ia sedikit kesal dengan sikap Luhan. Sikap Luhan kembali ke sifat awalnya, sangat menyebalkan dan selalu saja tidur saat melihat meja di kelas, saat dimana Luhan sebelum bertemu taeyeon. Jika ia sudah bertemu taeyeon, Luhan lebih ceria dan yah… Chanyeol yang memang tukang rumpi mendapatkan tempat untuk berbagi gosip yang ia dapat dan dengan tenangnya Luhan akan mendengarkannya dan memberi tanggapan saat mereka tengah melewati waktu luang di kelas, karna diluar jam kelas, kalian pasti tahu apa yang di lakukan Xi Luhan di luar sana, tentu saja menemani Kim Taeyeon.

“yah jangan berisik, aku mengantuk” luhan menjawab dengan sekenanya pertanyaan Chanyeol, masih dengan posisi yang sama tanpa bergerak sedikitpun.

“YAH!!! Dengarkan aku!”

“mwo? Aku mendengarkanmu, bicara dengan cepat dan langsung pada point saja, aku benar-benar mengantuk”

“aku melihat taeyeon”

“oedi? Dikelasnya? Tentu saja”

“woahhhhh! Apa lagi yang terjadi pada kalian? Kau masih menjauhinya?” Chanyeol yang entah kenapa selalu saja penasaran dengan kehidupan Luhan dan Taeyeon pun menduduki dirinya di bangku tepat di sebelah Luhan, karna memang itu adalah tempat duduknya. “mwoya? Ayolah, ceritakan padaku eoh? Siapa tau aku bisa membantu?”

Luhan meringis kecil dalam tidurnya. Membantu apanya? Yang ada malah cahnyeol membuatnya kembali mengingat luka lama, yah taeyeon yang menganggapnya beban entah kenapa membuat nyeri ulu hati Luhan dan sepertinya ulu hatinya itu terluka. Dan sekarang dengan polosnya Park Chanyeol ingin ia menyentuh luka itu kembali? Yang benar saja!

“jangan membuatku merasakan perasaan itu!”

Chanyeol mendengus kesal dan memukul pelan lengan Luhan. Mencoba membangunkan Luhan yang ia tau hanya pura pura tidur. Entah dapat bisikan dari mana, tiba tiba saja Chanyeol ingin mengerjai Luhan “arraseo, kau tak usah cerita apa apa padaku…”

“akan ku tanyakan pada taeyeon saja kalau begitu” sambung Chanyeol dengan senyum miringnya

Taeyeon? Pria tiang ini akan berbicara dengan taeyeon? Ah yang benar saja! Dengan sekali sentakan, Luhan membuka matanya dan mendudukkan dirinya dengan tegang di bangkunya, menatap masam wajah Chanyeol yang tengah tersenyum menang. Bodoh! Luhan bodoh! Chanyeol hanya mengerjainya saja, apa lagi yang ia harapkan?

“YAK!!!” pekiknya kasar, Luhan hendak memukul Chanyeol saat kelas yang semula masih sepi sekarang sudah mulai ramai dengan masuknya 5 orang yang Luhan yakini berteman dekat itu. Mambatalkan niat busuknya untuk membunuh pria yang tengah tertawa terbahak bahak itu. “mereka semua menyelamatkanmu!” usai mengeluarkan suara nya yang terdengar lelah itu, pria dengan marga Xi itu hendak menjatuhkan kepalanya lagi dan mengunjungi mimpinya kembali, dan gagal di saat itu juga, saat dengan tampang tanpa dosa yang membuat Luhan ingin muntah darah kepunyaan Chanyeol itu menghalangi mejanya dengan tangan kurusnya yang panjangnya melebihi tangan Luhan.

“bagaimana dengan bermain basket pulang sekolah nanti?”

Luhan menggeleng menolak ajaran Chanyeol. Yah ia memang suka bermain basket. Tapi seperti yang kalian semua ketahui, Chanyeol itu lumayan terkenal di sekolahnya, belum lagi anggota Club basketnya dan Luhan tak mau ambil resiko bermain basket dengan mereka karna sudah di pastikan, pemuja pemuja mereka yang terbilang genit itu berdiri di samping lapangan, membuat lapangan mendadak menjadi lautan manusia. Percayalah bahwa Luhan sama sekali tak bercanda. Teman se Club Chanyeol dan juga yah Luhan menganggap mereka teman juga tentunya itu sangat terkenal di kalangan siswi di sekolah menengah atas, tidak hanya di sekolahnya saja, tapi di sekolah lain di luar sana. Luhan bahkan sempat heran, mengapa mereka bisa seterkenal itu padahal mereka bukanlah idol? Jawaban singkat dan langsung membuat Luhan ingin memukul kepala Chanyeol, dengan tampang masih sok polosnya itu chanyeol bergumam “berapa usiamu? Apa kau tak tau media sosial? tentu saja mereka tau dari media sosial. Dan heol? Kita ini sering ikut pertandingan antar sekolah, dan kau tau? Wanita di sekolah yang kita kunjungi jadi mendukung tim kita bukannya tim satu sekolah dengannya, karna apa… karna ada Park Chanyeol yang tampan disni” dan usai berbicara demikian, Luhan merasa di detik berikutnya ia menyesal telah bertanya hal sseperti itu kepada Chanyeol, sungguh!

“yah, kau melamun lagi eooh?”

Lagi lagi, Luhan ditarik ke realita kehidupan. Membuatnya mau tak mau menatap Chanyeol malas “biarkan aku melamun agar aku lupa dengan dunia nyata!”

“kenapa kau mau melupakan dunia nyata? Ayolah, di dunia nyata ada kim taeyeon” goda Chanyeol, entahlah. Ia jadi lebih bersemangat menggoda Luhan. Hanya dengan menyebut nama Luhan saja berhasil mempengaruhi ekspresi di wajah Luhan.

“aku benar benar ingin membunuhmu jika kau menyebut nama taeyeon sekali lagi”

“keundae waeyeo?” Rasa penasaran Chanyeol sudah sampai tahap yang mengkhawatirkan. Sungguh! Bagaimana bisa seorang Xi Luhan yang sangat tergila gila, dan bahkan Chanyeol yakin 100% bahwa ada perasaan di hati Luhan untuk taeyeon itu mendadak merubah ekspresinya murung hanya karna nama itu. Apa mereka bertengkar? Dan setau Chanyeol, Luhan lebih sering mengabiskan waktunya berdiam diri di atap saat jam makan siang dan menghilang entah kemana di menit lainnya.

“jebal! Jangan tanyakan hal itu!”

Chanyeol menyerah. Sepertinya Luhan belum siap berbagi cerita dengannya. Baiklah. Chanyeol paham Luhan dan ia tau suatu saat nanti Luhan akan berbagi dengannya “arraseo, biarkan aku menghiburmu, datanglah ke lapangan basket indoor nanti sepulang sekolah”

“shire…”

“aniya, tak akan ramai, hanya ada aku dan anggota Club lainnya, tanpa fans fans ku yang manis itu”

Luhan lagi lagi menghela nafas, dan menyingkirkan tangan chanyeol dari mejanya, mengeluarkan kamus besar bahasa inggris di dalam tasnya dan menjatuhkan kepalanya di atas sana. Sebelum telinganya mendengar keluhan kesal yang keluar dari mulut chanyeol.

“yah!! Kau akan ikut kan? YAK XI LUHAN!!!” terik Chanyeol

“arra arra, sekarang kau diam karna seongsamnim setengah menit lagi akan masuk ke kelas, dan jangan ganggu tidurku!” balas Luhan, masih dengan posisi yang sama dan tanpa membuka matanya sedikitpun. Kantuk kembali mendera Luhan, dan mimpi akan kembali menariknya, namun sayup sayup suara chanyeol memasuki gendang telinganya lgi.

“woah daebak, apa kau berbakat jadi cenayang?”

Chanyeol mengalihkan kepalanya, menatap pintu dan mulai berhitung sesuai dengan perkataan Luhan, melanjutkan hitungannya hingga di hitungan terakhir matanya terbelalak melihat guru yang akan mengajarkan sejarah korea itu memasuki kelas dengan tatapan sangarnya.

“kau benar-benar cenayang kurasa!”

***

Taeyeon terus saja merutuki kebodohan terkonyol dalam hidupnya. Bahkan rutukan yang keluar dari mulutnya terdengar sangat geram dan kesal, oh ayolah. Jika setiap yeojja berseragam sekolah menengah atas se-angkatan dengannya justru akan terlihat imut dan lucu ketika melakukannya, berbeda dengan taeyeon yang terlihat sangat dingin dengan ekspresi datar di wajahnya. Baiklah, berhenti mengkritik ekspresi taeyeon.

Badan mungilnya tengah terduduk dengan sangat tidak nyaman di atas Closet yang tertutup di salah satu bilik kamar mandi. Seperti biasa, taeyeon menyantap sarapan siangnya di toilet karna tak mau mendengar ocehan bahkan ejekan orang di luar sana, sudah beberapa hari ini ia sering duduk di bilik paling ujung di toilet ini. Roti dan sekotak susu yang ia bawa dari luar pun tak ia sentuh sedikitpun. Entahlah, selera makannya menghilang. Tadi pagi ia berangkat ke sekolah tanpa menyantap sarapannya. Yah taeyeon mengejar bus pagi yang akan mengantarnya ke sekolah. Jangan kaget jika taeyeon yang selalu menaiki bus terakhir di pagi hari itu ke sekolahnya mendadak memilih bus awal, apalagi kalau bukan untuk menjauhi Luhan. Berhasil, karna sejak terakhir kali ia berpapasan dengan Luhan beberapa hari yang lalu ia tak pernah melihat wajah pria itu lagi. Rindu? Tentu saja taeyeon sangat merindukannya. Saat pria itu merajuk, menutut ini dan itu yang bahkan hanya hal sederhana saja seperti makan siang di kantin bersamanya, berangkat bersama dan selalu mengangkat telponnya. Semua terasa asing bagi taeyeon, saat ia memutuskan untuk menjauhi Luhan. Percayalah bahwa menjauhi seseorang yang tak melakukan hal yang salah pada nya sangat susah.

Taeyeon melirik sekilas jam tangan yang terpasang dengan pasnya di tangan kiri taeyeon. Jam itu menunjukkan angka 6 tepat. Itu berarti sudah lebih dari 6 jam taeyeon terduduk di dalam bilik toilet ini. Sejak jam istirahat hingga malam mulai menjelang taeyeon masih saja berdiam diri di dalam sana menatap dengan jengah bilik toilet berukuran sedang ini. Ia bukanlah yeojja bodoh yang akan berdiam diri selama itu di toilet, tidak tidak. Taeyeon di kurung di toilet ini, dan pelakunya yaitu Bung soo. Pria dengan badan gembulnya itu. Taeyeon bahkan heran dengan pria itu, bagaimana dengan bodohnya ia masuk ke toilet wanita, mengunci pintunya dan berbicara dengan taeyeon dari luar. Taeyeon tidak asal menuduh bungso, karna memang pria itu berbicara dengannya dan bilang bahwa namanya bungsoo. Bodoh bukan? Bukannya tidak ada maling yang mengaku maling? Kenapa bungso se bodoh itu?

Dan sepertinya yang bodoh disini tidak hanya bungsoo, karna taeyeon sendiri juga mengakui kebodohannya. Bagaimana bisa ia tidak berbicara, berteriak atau meminta bantuan saat ada yeojja yang masuk ke toilet ini? Baiklah, rasa tak percaya diri bahwa akan ada seorang yeojja baik yang mau membukakan pintunya membuat taeyeon memilih bungkam. Bukankah sejauh ini yeojja yeojja diluar sana selalu membicarakannya di toilet ini? Dan berkata bahwa mereka tak sudi satu sekolah dengan anak haram? Ahhh taeyeon yakin tak akan ada yang membukakan pintu untuknya.

Untuk mengeluarkan dirinya dari sini bisa saja ia menelpon oppanya kan? Atau nana? Siapa tau yeojja itu disapa malaikat di luar sana untuk membukakan pintu untuknya? Dan bodohnya lagi, taeyeon meninggalkan benda persegi bernama ponsel itu di dalam kelasnya, tepatnya di dalam tas ransel berwarna putihnya itu.

Penderitaan taeyeon bertambah saat ia menyadari ada yang tak beres dengan rok belakangnya. Ada noda merah di roknya. Bagaimana bisa tamu bulanan itu ikut menambah deritanya? Oh Tuhan! Bagaimana pun caranya, bantulah Kim Taeyeon agar bisa keluar dari sini secepatnya. Setidaknya taeyeon masih bersykur karna bungsoo tak menyiramnya dengan air, seperti di drama pembulian di sekolah sekolah itu.

Dengusan kesal keluar dari mulutnya saat lampu toilet dimatikan, dan mendadak semuanya jadi gelap. Sepertinya ini sudah malam dan sudah tak ada siapapun di sekolah saat ini. Lampu sekolah memang di padamkan secara keseluruhan dan secara otomatis dari ruang pengaturan oleh penjaga sekolah ah tidak, ada beberapa lampu untuk menerangi koridor, sekalipun disini ada saklar yang bisa menghidupakn lampu itu kembali, tentu saja. Saklar yang tergeletak dengan manisnya di samping pintu masuk toilet pun tak bisa taeyeon jangkau, karna ia terkurung di bilik kamar.

Baiklah, taeyeon rasa ia harus menyiapkan dirinya untuk menginap dadakan yang akan ia lakukan di bilik kamar ini sampai besok lusa, karna memang besok hari libur sekolah. atau mungkin sampai oppanya menemukannya?

Sayup sayup terdengar langkah cepat dari luar sana. Lambat laun suara derap lari seseorang di luar sana semakin keras menyapa gendang telinga taeyeon, membuat taeyeon melebarkan matanya terkejut. Keterkejutan taeyeon bertambah saat pintu toilet terbuka dan lampu di toilet kembali menyala.

“apa bungsoo kembali?” batin taeyeon ragu. Yah ia hanya berharap siapa tau pria itu dapat bisikan untuk membebaskan taeyeon. Dan batin taeyeon meringis kecil saat mendadak ia yakin kalau yang baru saja memasuki toilet ini bukanlah bungsoo. Yah, seseorang yang baru saja masuk mendobrak setiap bilik di toilet itu dengan kasar. Sebelum akhirnya bilik tempat taeyeon terduduk diam pun terdorong dan terbuka.

“neo pabbonya?”

Lega, bagaimana bisa ia lega hanya dengan melihat seseorang yang baru saja membuka pintu itu. Nafas nya terdengar tak beraturan dan tatapan ke-khawatiran dan marah tercatak jelas dari wajahnya. Pria itu…

Pria yang taeyeon rindukan…

***

“kau pulang bersamaku kan?”

Luhan hanya mengangguk singkat menjawab pertanyaan Chanyeol, kembali meneguk air mineralnya yang sempat ia abaikan karna menjawab pertanyaan Chanyeol dan mulai mengumpulkan beberapa handuk dan botol mineralnya ke dalam tas. Yah, Luhan baru saja selesai bermain basket dengan Chanyeol, dan juga anggota Club mereka lainnya. Sesuai dengan janji Chanyeol, lapangan benar benar kosong tanpa adanya penggemar dari Club basket. Luhan yang memang tak berminat main pun akhirnya luluh melihat upaya Chanyeol mengosongkan lapangan.

Jaket tebal berwarna putihnya pun ia lampirkan menutupi tubuhnya yang hanya menggunakan baju kaus berwarna hitam. Seragam? Tentu saja benda itu sudah di lepas Luhan dan di masukkan ke dalam loker saat ia akan bermain dengan Chanyeol. Ayolah, ia tak mau oemmanya memarahinya karna mengotori seragam sekolah putihnya sekalipun yang mencuci baju itu bukanlah oemmanya melainnya hwang ahjumma.

Luhan menyampirkan tas nya ke bahu dan menepuk pelan pundak Chanyeol “tunggu aku di parkiran”

Chanyeol mendelik bingung menunggu jawaban lebih dari Luhan, namun sepertinya Luhan terus saja berjalan, hingga akhirnya Chanyeol angkat suara “neo eodiga? Yah katchiga!!!”

Luhan meringis, dan berhenti berjalan. Bagaimana bisa Chanyeol berubah sangat posesif padanya belakangan ini? Apa kepalanya baru saja terbentur? “yah! Aku akan mengambil seragamku di dalam loker, apa kau mulai mencintaiku eoh? Kau sangat posesif belakangan ini”

“kau membuatku menyesal bertanya padamu! Arraseo, palli kka!!!”

Luhan tersenyum menang dan kembali melanjutkan langkah menuju barisan rapi loker di ujung koridor sana. Awalnya Luhan kira hanya dirinya yang akan membuka lokernya di sore menjelang malam ini, namun dugaan salah saat 2 orang yeojja tengah membuka loker di ujung sana, menutupnya dan tertawa terpingkal pingkal saat mulai melangkah, berjalan melewati Luhan, dan Luhan rasa telinganya masih dalam keadaan normal saat mendengar yeojja itu menyebut nama seseorang yang Luhan kenal.

Loker yang baru saja ia bukak ia tinggalkan begitu saja dan menghampiri kedua yeojja yang tengah menatap Luhan bingung. “taeyeon?”

“mwoya? Kau kenapa Luhan-ssi?” tanya yeojja dengan rambut sebahunya.

“kurasa tadi kau menyebut nama taeyeon, musun suriya eoh?” mendadak saja jantung Luhan rasanya berhenti berdetak. Ingatan nya tentang taeyeon yang ingin menjatuhkan diri ke lantai dasar rumah sakit masih terekam jelas di otaknya. Dan Luhan sangat sangat berharap bahwa taeyeon tak melakukan hal gila itu lagi.

“wae? Kenapa kau memperdulikan anak haram itu? Apa kalian berpacaran?” tanya yeojja dengan rambut kucir kudanya, bahkan senyuman mengejek tercetak jelas di wajahnya dan Luhan berani berataruh bahwa itu ia tujukan untukknya.

“apa pedulimu, cepat katakan ada apa dengan kim taeyeon!!!” mendapat herdikan yang sedikit keras dari Luhan pun membuat kedua nyali yeojja itu menciut. Belum sempat yeojja itu berkata, mendadak lampu di koridor mati.

“ah sudah saatnya kita pulang yeong….”

“tidak ada yang akan pulang sebelum kalian memberitahuku apa yang tadi kalian bicarakan!”

Dingin, sumpah demi apapun. Nada suara Luhan terdengar sangat dingin dan menusuk. Lagi, nyali kedua yeojja itu menciut jauh lebih kecil. Mata Luhan yang menatap mereka dengan tatapan marah.

“arraseo, kudengar taeyeon di kunci di toilet wanita oleh bung soo”

Tanpa menunggu kalimat selanjutnya dari kedua yeojja yang tengah menatap ngeri dirinya pun, Luhan langsung berlari melupakan seragam yang harusnya ia ambil, dan loker yang seharusnya ia kunci, menuju kamar mandi. Dan hal pertama yang Luhan sadari saat pertama kali membuka dan masuk ke dalam toilet wanita pun adalah gelap. Benar benar gelap. Hanya ada beberapa cahaya dari ventilasi kecil di sudut sana, dan heol dingin. Apa di kamar mandi ini pemanas ruangannya dimatikan?

Baiklah, lupakan soal kegelapan yang melanda karna Luhan sudah berhasil menemukan saklar lampu dan menghidupkan lampu toilet ini hingga terangg. Dan tanpa banyak bicara Luhan menobrak setiap bilik kamar mandi, mencari dimana Taeyeon berada hingga sampai di sudut sana. Dengan cepat, pintu bilik terakhir di kamar mandi itu ia dobrak.

Dan benar, taeyeon berada di dalam sana. Dengan wajah pucat dan kagetnya menatap Luhan. Mendadak semua rasa khawatir Luhan melebur. Luhan benar benar sangat lega saat tau yeojja itu masih dalam kata aman. Hingga kalimat yang pertama kali meluncur dari mulutnya membuatnya merutuki mulut nya di detik berikutnya.

“neo pabbonya?”

Taeyeon hanya diam, mulai menundukkan wajahnya. Tak sanggup menatap wajah Luhan yang entah kenapa membuat hatinya sakit. Bukan buka, taeyeon sama sekali tak tersinggung dengan kalimat Luhan yang baru saja ia lontarkan, dari awal taeyeon memang sudah mengakui kebodohannya. Yang membuatnya hati sakit, Luhan masih peduli padanya. Yah sebenarnya drama apa yang tengah mereka perankan? Kenapa terdengar sangat berlebihan dan sedikit membingungkan?

“mianhae taeyeon-ah” bisikan lembut dari Luhan berhasil membuat taeyeon mengangkat wajahnya. Ah ia sangat merindukan suara itu. Nada itu. Dan panggilan akrab untuknya yang keluar dari mulut Luhan. Taeyeon menatap Luhan dengan tatapan kosongnya, bukan tatapan dingin yang akhir akhir ia tujuka untuk seorang XI Luhan, Bukan.

“wae?” tanya taeyeon lirih, ia sendiri tak yakin apa yang baru saja ia ucapkan.

Luhan menatap taeyeon dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa taeyeon berfikir ia akan membiarkan yeojja itu tidur diam disini sampai lusa? Dan bisakah taeyeon tak mengungkap kembali kalimat yang pernah ia lontarkan untuk Luhan di saat seperti ini? Apa salahnya? Kenapa taeyeon berubah? Dan jujur saja, Luhan selalu bertanya pada dirinya setiap malam, apa salahnya dan bagaimana bisa ia menjadi beban untuk Kim Taeyeon, Luhan bahkan selalu memukul tangannya dengan kesal tatkala tangannya meraih ponsel dan hampir saja menghubungi taeyeon. Percayalah, Luhan bukan tipikal pria yang suka memaksa seseorang untuk berteman dengannya. Taeyeon berbeda. Taeyeon berubah saat Luhan mulai menaruh perasaan padanya. Dan bahkan sampai detik ini Luhan tak tau dimana letak salahnya.

“palli, jibi kajja” baiklah, sekarang bukan saat yang tepat untuk mendebat Kim Taeyeon Xi Luhan. Dengan cekatan, luhan meraih tangan taeyeon yang dingin itu dan menuntun yeojja itu untuk berdiri, sebelum akhirnya Luhan menyadari Taeyeon melepas genggaman tangannya dan kembali duduk.

“aku tidak bisa”

“wae? Kau ingin tidur disini eoh? Kau ini bodoh atau apa?”

“ani! Ada sesuatu di rok ku” ujar taeyeon pelan, sangat pelan. Bahkan nyaris seperti bisikan, membuat Luhan mengerutkan dahinya tak mengerti? Ada apa di roknya? Apa rok taeyeon sobek?

“mworagu?”

Taeyeon menggeleng dan menghela nafas pasrah, apa ia harus memberitahu pria ini? Ah ini sangat memalukan!

“ada darah di rokku”

Luhan meleberakan matanya kaget. “darah? Apa yang terjadi?”

Taeyeon melupakan satu hal, Luhan sangat tak suka pelajaran biologi. Dan kemungkinan untuk luhan tau tentang tamu bulanannya ini sangat rendah. “aku menstruasi”

“men.. men.. apa?”

“yah! Rok ku berdarah Xi Luhan! Aku menstruasi, bagaimana bisa aku keluar dari sini? Aku tak mau jika orang di luar sana melihatnya” tercetak jelas di pipi pucatnya rona merah yang mulai menampilkan dririnya, menambah kesan imut untuk seorang Kim Taeyeon

Astaga, Luhan sangat ingin tertawa melihat tampang kesal Taeyeon yang baru saja ia lihat. Taeyeon yang ia kenal kembali. Dan jujur, Luhan berbohong jika ia tak tau apa itu menstruasi, yah Luhan memang tak suka dengan pelajaran biologi, tapi satu hal. Luhan sangat hafal pelajaran tentang sistem reproduksi yang berada di bab 10 halaman 258 bukunya itu. Karna menurutnya, pelajaran tentang sistem reproduksi akan berguna untuk masa depannya sekalipun ia tak akan menjadi seorang dokter.

Dengan pelan, pria itu melepas jaket putih yang baru beberapa menit yang lalu ia gunakan, memajukan langkahnya dan berjongkok tepat di hadapan taeyeon. Melilitkan jaketnya ke belakang hingga menutupi bekas noda merah yang lumayan jelas dari rok berwarna cream seragam sekolah taeyeon. Luhan kembali berdiri dan meraih tangan taeyeon untuk segera keluar dari toilet ini, namun lagi lagi gagal karna taeyeon menahan tangannya membuat Luhan menatap taeyeon dengan pandangan ada-apa?

“jaket ini berwarna putih”

“aku yakin seratus persen bahwa jaket itu berwarna putih dan aku… tidak buta warna kim taeyeon, kajja!”

“jaket ini akan kotor nantinya”

“jangan mengira dirumah ku tak ada alat yang bernama mesin cuci taeyeon”

***

“woah, aku kira profesiku berganti jadi supir pribadinya Xi Luhan!”

Chanyeol berkali kali melirik Luhan yang tengah terduduk diam di bangku belakang mobil BMWnya dengan taeyeon di sebelahnya. Pria dengan tinggi melebihi rata rata ini bahkan hampir saja jantungan di saat yang bersamaan saat Luhan kembali dengan taeyeon yang berdiri di sampingnya, wajahnya pucatnya dan eoh jaket Luhan menutupi rok yeojja itu. Otak kotor Chanyeol berfikir bahwa Luhan baru saja melakukan hal tak senonoh dengan yeojja yang membuat Luhan uring uringan akhir akhir ini. Namun segera ia tepis melihat betapa khawatirnya wajah Luhan.

“diam, dan konsetrasi pada jalanan di depan sana” sahut Luhan dingin. Suasana sudah terlanjur kaku dengan taeyeon yang hanya berdiam diri saat Luhan akan mengajaknya berbicara, seperti ‘apa ada yang sakit?’ ‘kau tak apa?’ dan lain sebagainya. Taeyeon hanya menggeleng pelan tanpa adanya satu katapun yang meluncur dari bibir pucat pasi itu. Taeyeon menyebalkan itu kembali. Luhan bahkan berdebat dengan pikirannya apa taeyeon menderita DID?

“wae? Yah kenapa kau selalu melampiaskannya padaku? Aku heran, kalian seperti sepasang kekasih yang saling bertengkar. Apa kalian putus? Orang tua kalian tidak merestui? Atau apa?”

Jika saja Luhan punya saput tangan di dalam saku celananya dan ia rela melepaskan nyawa saat ini juga, dan menganggu konsentrasi mengemudi Chanyeol. Ia rela membungkam mulut park Chanyeol. “Park Chanyeol” geram Luhan. Matanya mendelik merah menatap jalanan yang dipenuhi lampu jalanan.

“arra arra, keundae taeyeon-ssi, rumahmu dimana?”

Belum sempat taeyeon menjawab pertanyaan Chanyeol, Luhan langsung angkat suara menjawab pertanyaan Chanyeol “di perumaha elite dekat halte bus 2 km lagi dari sini”

Taeyeon menatap Luhan sekilas. Pikirannya berkelana, bagaimana bisa pria ini mengetahui dimana rumahnya? Bukankah Luhan tak pernah ia ajak ke rumah?

“kau orang kaya? Woahhhhh” tak bisa dipungkiri, mata Chanyeol berbinar binar menatap Taeyeon lewat kaca spionnya. Melihat tampilan taeyeon yang sangat jauh dari kata kaya dan yah Chanyeol tau kalau taeyeon sering naik bus ke sekolah membuat Chanyeol sedikit kagum dengannya.

“PARK CHANYEOL!!!” Luhan kembali geram melihat tingkah Chanyeol. Pria konyol ini bodoh atau apa? apa ia tak sadar jika kini ia dan taeyeon dalam keadaan canggung?

“WAE? KAU CEMBURU EOH?”

***

Kibum memasuki kamar dengan aksen warna hitam putih yang terkesan rapi dan sedikit remang karna memang lampu yang dihidupkan hanya lampu di samping nakas. Dengan santainya ia berjalan memasuki kamar itu seolah memang sudah terbiasa dengan ruangan ini. Ini bukan runagan Kibum, tentu saja. Mana mungkin ruangan dengan ranjang berwarna putih serta seprai dan selimut tebal itu, boneka beruang besar yang duduk di pojok sana seolah tak tersentuh oleh yang punya kamar, lemari pakaian yang berjejer, dan yah seekor anjing yang tengah menatap diam ke arah kibum. Anjing dengan bulu hitam itu menatapnya dari ranjang anjing tempat ia berbaring, tepat di bawah ranjang sang pemilik kamar. Anjing itu hendak menggongong namun berhasil di gagalkan oleh tangan yang terletak di depan mulut Kim Kibum. Ia sudah hafal semuanya, semua yang ada di ruangan ini, tentu saja.

Tak lama, kakinya sudah sampai tepat di samping ranjang, menduduki dirinya di samping ranjang itu dan menatap pemilik kamar yang tengah terlelap dalam tidurnya. Malam sudah larut, dan sudah seharusnya semua orang beranjak tidur, tapi tidak dengan kibum, ia tak bisa tidur tanpa melihat yeojja ini. Yeojja yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Ah jangan anggap kibum menyukai adiknya, tidak. Kibum tak akan terlibat cinta terlarang sekalipun yeojja yang tengah menyelimuti seluruh badannya dan hanya menyisakan kepalanya saja ini hanya adik tirinya.

Kibum baru saja pulang dari kantornya karna seperti biasanya, rapat mendadak sialan yang memang selalu mengambil separuh jam pulangnya itu. Ingin rasanya ia kabur dari rapat malam tadi dan pergi memeriksa adiknya. Memeriksa? Yah, kibum mendapat berita dari heechul yang entah sejak kapan berubah menjadi mata matanya memberitahu bahwa taeyeon pulang terlambat dari jadwal dan belum lagi taeyeon yang di antar pria cantik yang Kibum yakini itu pasti Luhan, siapa lagi pria cantik yang kenal taeyeon? Hanya Luhan.

Jujur, kibum tidak setega itu meminta adiknya menjauhi Luhan, yah ia tahu Luhan sangat baik terhadap taeyeon, bahkan dengan beraninya ia membela taeyeon saat taeyeon tak masuk ke kelas waktu itu, berbeda dengan Kim Kibum yang memang seroang pengecut. Jika saja Luhan tak ada hubungannya dengan Xi Jeung Lie, dan balas dendam yang akan dilakukan oleh adiknya Xi Jeung Lie, mungkin saja kibum akan membiarkan mereka tetap berteman baik.

Kibum bahkan sadar perubahan yang terjadi pada taeyeon saat ia mulai menjauhi Luhan. Mulai dari berangkat sangat awal dan pulang juga sangat awal. Taeyeon yang selalu menatap layar ponselnya bahkan saat tengah menikmati makan malam dengan kibum, berharap seseorang menghubunginya atau apapun itu dan tersenyum miris saat Kibum bertanya ‘menunggu telpon seseorang?’ yang kemudian di jawab dengan gelengan pasrah taeyeon. Kibum tau ia pasti menuggu telpon Luhan.

“dunia sangat kejam pada adikku ini”

Kibum bertutur kata lirih seraya mengelus pelan rambut hitam legam adiknya, sangat halus dan wangi buah buahan berhasil menyapa hidungnya sekalipun jaraknya sangat jauh.

“maafkan op…”

Kibum terdiam kaget saat taeyeon mendadak bergerak gelisah dalam tidurnya, hingga keringat kecil mulai tampil di dahinya. Dengan cekatan kibum memegang kedua pipi adiknya dan mendekatkan bibirnya ke telinga taeyeon.

“seburuk apapun mimpimu, jangan takut… oppa ada disisimu, sampai kapanpun”

Taeyeon kembali tenang dalam tidurnya, hingga akhirnya kibum memutuskan untuk menjauhi kepalanya dari telinga taeyeon. Kembali menatap wajah adiknya yang memang selalu terlihat pucat itu. Yah sudah semakin larut, tak mungkin kibum berlama lama disini dan menganggu tidur adiknya, sudah saat nya ia pergi dari kamar ini.

Belum sempat kibum melangkah dan berdiri dari ranjang taeyeon, tiba tiba saja taeyeon membuka matanya dan langsung mendudukkan dirinya. “wae? Mimpi buruk?”

Taeyeon hanya diam dan mengangguk pasrah, menyandarkan dirinya kebelakang. Menarik nafas dalam dalam. Entahlah taeyeon heran apa yang terjadi padanya. Yang ia ingat, ia bermimpi Luhan membenci dirinya dan benar benar menjauhinya setelah tau bahwa pembunuh ayahnya adalah ayah kandung taeyeon. Ia takut, benar benar takut. Bagaimana jika mimpinya kenyataan? Bagaimana jika Luhan benar benar membencinya? Dan kenapa Taeyeon sangat takut Luhan membencinya? Kenapa? Dadanya terasa sesak hanya membayangkan Luhan menatapnya dengan tatapan benci yang belum pernah ia berikan pada taeyeon?

“aku takut” lirih taeyeon pelan, matanya mulai berair. Dan tanpa permisi, air yang menumpuk di matanya mulai berjatuh tetes demi tetes.

“wae?” dengan cepat, kibum merentangkan tangannya dan memeluk taeyeon erat. Menyandarkan yeojja yang tengah menangis pelan itu ke dalam dekapannya. Badannya sedikit bergetar, tanpa suara. Kibum kembali merapatkan pelukannya, masa bodoh dengan piyama tidur yang baru saja ia tukar akan basah, ia bisa menukarnya lagi nanti.

“ada apa eoh? Apa seburuk itu mimpimu?” kibum kembali mengelus pelan punggung taeyeon, berharap bisa meredakan sedikit kesedihan adikknya dan kibum dapat merasakan taeyeon yang sedikit mengangguk di dalam pelukannya.

Taeyeon tertegun, ini pelukan ke 3 yang ia terima dari oppanya dalam 1 bulan ini, pelukan yang hangat, nyaman dan menenangkan. Ia bahagia, oppanya sudah kembali. Ah ia bahkan sudah tak pernah mendapatkan tatapan benci yang dulu sering oppanya berikan, sekarang hanya perhatian yang selalu pria berusia hampir 30 tahun itu yang ia dapat. Entah kenapa pelukan kali ini berbeda. Hangat dan nyaman, tapi entah kenapa tak mampu membuatnya tenang, percayalah bahwa taeyeon benar benar takut jika mimpinya menjadi kenyataan.

***

“luhannie, ayolah, ajak jakkie jalan jalan eoh?”

Yeojja paruh baya itu terus menatap anaknya yang terlihat tak peduli dan masih saja sibuk dengan drama tv yang tengah ia tonton, ia bahkan heran dengan sikap putranya yang semakin hari semakin aneh ini. Bayangkan saja, jika setiap nonton drama dengan nya Luhan –putranya- akan selalu menyelinginya dengan berbagai cerita atau saran untuk drama yang tengah ia tonton, tapi sudah lebih dari 7 jam terhitung sejak Luhan membuka matanya dari tidurnya pukul 12 siang itu, Luhan tetap duduk diam di tv, sesekali beranjak hanya jika ia perintahkan untuk makan siang dan makan malam, lalu Luhan akan kembali duduk diam di atas sofa di ruang tv. Entah sudah berapa buah jenis drama yang ia tonton 1 episodenya hari ini. Yang membuat Young Ji heran, Luhan menatap televisi itu dengan tatapan kosong, seolah tengah memikirkan sesuatu.

Jengah,youngji memukul pelan bahu Luhan, hingga membuat namja itu tersadar dan menatap oemmanya dengan pandangan bertanya –ada-apa-oemma?

“Luhan, oemma berbicara denganmu dari tadi, apa yang kau pikirkan eoh?”

“aniya, aku hanya tidak enak badan hari ini, gwenchana oemma”

“jinjja? Oedi appo eoh? Perlu oemma panggilakan dok….”

Luhan tersenyum dan menggeleng singkat “gwenchana, apa yang oemma bicarakan tadi?”

“oemma menyuruhmu bawa jakkie jalan jalan”

“anjing kecil itu? Ah shireo aku lelah” Luhan mematikan televisinya dan mulai melangkah menjauhi eommanya sebelum oemmanya memintanya untuk membawa anjing pudel usia 2 tahun itu keluar di malam yang dingin ini.

“seharian hanya duduk diam diatas sofa dan apa? uri Luhannie lelah? Geotjimal! Palliwa, jakkie belum keluar beberapa hari ini karna oemma sibuk”

Luhan heran dengan oemmanya itu. Sungguh. Apa rumahnya tempat penitipan anjing? Kenapa semua orang yang ia kenal dengan gampangnya menitipkan hewan peliharaannya itu kerumah Luhan? Tak masalah jika hanya beberapa orang saja yang menitipkan, tapi bayangkan saja, jakkie anjing ke 34 yang di titipkan dirumah ini. Dan yang selalu tersiksa itu Luhan, ia harus membawa anjing itu jalan jalan setiap malam di hari minggu. Luhan yang sangat malas keluar malam pun dengan terpaksa membawa anjing anjing titipan itu berjalan jalan sampai ke taman beberapa km dari sini. Luhan bukanlah tipikal pria yang hobi jogging atau apapun itu, bisa dilihat dari ototmya yang tak terlihat besar itu.

Satu lagi permasalahan Luhan dengan anjing, akan beruntung baginya jika anjing yang ia bawa jalan jalan anjing berusia tua, karna larinya tidak akan cepat. Jakkie berusia 2 tahun, tentu saja anjing kecil itu mempunyai kemampuan lari yang luar biasa. Tidak tidak.

“oemma… aku me…”

“tidak, kau harus membawa jakkie jalan jalan, bukankah terakhir kali kau mengajak anjing kris jalan jalan kau mulai berteman dengan anjing eoh? Kau bahkan membawa anjing itu tidur bersama dan cemberut saat kris membawa anjingnya pulang”

“onje? Na anieyeo, ah aku tak suka dengan anjing kris hyung!”

“jangan mengelak lagi Xi Luhan, cepat keluar dan bawa jakkie jalan jalan atau…”

Luhan menghela nafas pasrah, selalu seperti ini, ia benar benar tak bisa menolak perintah oemmanya. Semuanya selalu berakhir seperti ini.

“arraseo oemma”

***

“jakkie-ah! Ah jinjja, kenapa larimu sangat cepat eoh?”

Luhan menatap kesal anjing kecil yang terdiam tepat di samping Luhan. Menatap dengan tatapan polosnya seolah olah ia sama sekali tak melakukan kesalah. Bagaimana bisa anjing itu membuat Luhan yang seharusnya berjalan santai ke taman ini yang memerlukan waktu 1 jam bahkan lebih menjadi setengah jam? Ini gila, Luhan berlari mengikuti betapa kencangnya anjing kecil itu.

“ah jinjja! Jangan menatap ku begitu” dengan cepat, Luhan meraih kantung plastik di saku jaketnya dan mengelurakan makanan anjing itu, menaruh di tangan kanannya dan memberikannya ke hadapan jakkie yang dengan senag hati melahap bahkan menjilat tangan Luhan.

“jangan menjilat tanganku, kau terlihat seperti tak makan selama setahun eoh!” Luhan tertawa geli saat dengan cepatnya anjing itu menjilati tangannya hingga makanan di tangan Luhan lenyap “woah daebak! Kau memang tak makan berapa hari eoh?”

Anjing itu hanya menggonggong seolah menjawab pertanyaan Luhan, Luhan tertawa singkat dan mengelus pelan kepala anjing itu hingga terdengar gonggongan lagi di telinga Luhan. Dan luhan sangat yakin bahwa matanya belum rusak, ia sama sekali tak melihat jakkie membuka mulutnya. Lalu dari mana asal suara itu?

Apa ada hantu anjing? Luhan meringis dan menelisir setiap sudut sepi di taman, sebelum akhirnya matanya menatap tepat kearah anjing dengan bulu hitam yang terlihat familiar dengan matanya. Anjing itu menggunakan tali, dan tali itu dipegang oleh seseorang. Luhan menaikkan bola matanya, menatap ke depan, tepat di hadapannya. Kira kira 8 meter di hadapannya…

Taeyeon tengah berdiri dan menatapnya dengan tatapan bingung dan sedikit terkejut tercetak jelas dimatanya, bukan tatapan itu yang menjadi fokus Luhan pada yeojja dengan rambut kucir kuda, celana training panjang itu, melainkan jaket putih yang digunakannya. Jaket yang kemarin Luhan pinjamkan untuk menutupi noda merah di rok taeyeon melekat walaupun terlihat kebesaran itu di badan taeyeon. Tentu saja, Luhan yakin jaket itu sudah Taeyeon cuci. Entahlah, mendadak Luhan merasa terbang dan kupu kupu kecil ikut ambil alih tubuhnya membuatnya melayang dan bahagia di saat bersamaan.

Jika taeyeon mengangkap Luhan beban, tentu saja taeyeon tak akan menggunakan barang barang yang berhubungan dengan luhan? Setidaknya begitulah analisa singkat Luhan. Dan sepertinya malam ini ia akan tidur dengan jakkie yang sudah membuatnya bahagia di malam yang dingin ini.

“na kanda, an…”

Baru beberapa saat Luhan terbang melayang, namun dengan gampangnya taeyeon menjatuhkannya kembali dan membuatnya tersadar bahwa analisanya salah, bisa jadi taeyeon terburu buru dan hanya melihat jaketnya.

“masih menjauhiku?”

Taeyeon yang hendak berbalik mendadak membatalkan langkahnya, menatap Luhan yang tengah tersenyum miring menatap taeyeon.

“apa salahku?” akhirnya. Kalimat yang selama ini ingin di ucapkan Luhan mengalir dengan sendirinya dari mulutnya, dingiring dengan tatapan luka yang ia tujukan untuk kim taeyeon. “kenapa kau membuat ku menjadi seperti ini?” Luhan menjeda kalimatnya, menatap taeyeon dalam. “kau bilang aku beban untukmu? Bagaima…” nafas berat ia keluarkan diikuti setetes air mata yang entah kenapa mengalir begitu saja dari pipi Luhan. Dan dengan kasar ia menghapus air matanya. “aku menyukaimu, sangat! Entahlah, dan sekarang kau memintaku menjauhimu tanpa alasan yang jelas? Kau berubah”

Jangan tanya bagaimana perasaan taeyeon saat ini. Sekalipun ia berdiri di jarak yang tidak bisa dibilang dekat itu, ia masih bisa melihat air mata Luhan. Luhan menangis? Apa ini? Apa taeyeon sekejam itu? Bagaimana bisa? Jangan!

“kau berubah taeyeon-ah, kau tau… bahkan seorang power ranger pun mempunyai alasan untuk berubah, kau kenapa? Apa aku membuatmu kecewa? Apa salahku? Marebha!”

Taeyeon hanya diam, menatap lurus kedalam mata Luhan. Bibirnya seakan kelu hanya sekedar mengeluarkan suara deruan nafas, apalagi untuk memberi tahu alasan kenapa ia berubah kepada Luhan, tidak tidak! Ia tidak mau.

“wae? Woah… aku merasa seperti pria yang baru saja di campakkan! Bukankah kemarin kita baru saja bertemu?”

“luhan-ssi” percayalah, hatinya bahkan perih hanya untuk mengucapkan nama Luhan dengan embel embel seperti itu, dan taeyeon sangat tahu bahwa Luhan sama sekali tak menyukainya

“luhan-ssi? Woah daebak! Kau benar benar menganggapku orang asing sekarang?”

“gomawo sudah mengantarku pulang semalam, dan jaket ini…” Taeyeon menggegam erat tali anjingnya membuat anjing itu pasrah dan harus mengikuti kemana langkah taeyeon. Hingga ia berdiri 2 meter di hadapan Luhan, taeyeon membuka jaket putih yang ia kenakan, memperlihatkan kulit putihnya yang hanya menggunakan baju kaus hitam dengan lengan pendek itu. Bahkan hawa dingin mulai menyapa pucatnya kulit taeyeon.

Taeyeon mengulurkan tangannya, memberikan jaket itu tepat di depan Luhan. Namun selang beberapa dekit, Luhan hanya terdiam menatap taeyeon kosong tanpa menerima jaket itu sama sekali.

“apa kau gila? Pakai jaket itu sekarang!” Luhan yang menggukan jaket hitam tebal saja masih merasakan dinginnya angin musim gugur yang akan berganti beberapa bulan lagi dengan angin dingin musim salju. Bagaimana bisa taeyeon melepaskan jaket itu sekarang?

“aniya, igeo! Khamsamida Luh….”

Belum sempat taeyeon melanjutkan kalimatnya, Luhan segera menarik jaket itu, tidak tidak. Tidak hanya jaket putih punya nya saja yang ia tarik. Taeyeon yang memegang jaket itu juga ikut ia tarik, merapatkan jarak antara mereka. Luhan bahkan bisa melihat raut wajah kaget tergambar di wajah taeyeon saat wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Bahkan taeyeon bisa mencium bau mint yang keluar dari mulut Luhan.

“apa yang ka….”

Lagi, taeyeon terbelalak kaget saat dengan cepatnya luhan meraih tengkuk taeyeon dan mendaratkan bibirnya tepat di depan bibir taeyeon. Taeyeon bahkan melihat dengan mata kepalanya sendiri saat mata Luhan perlahan memejam. Menyisakan taeyeon yang masih terkejut dengan situasi yang ada. Luhan menciumnya?

Jantung taeyeon berdegup cepat sangat cepat. Bahkan ia bisa merasakan kupu kupu yang melayang mengelilingi isi perutnya saat ini. Tak jauh berbeda dari taeyeon, Luhan bahkan merasakan hal sama.

Jeda beberapa detik, sebelum akhirnya Luhan mulai menggerakkan bibirnya. Mulai membuka bibirnya dan melumat dengan sangat pelan, sarat akan perasaan bibir atas taeyeon. Hingga akhirnya taeyeon menyerah dan mulai dengan perlahan menutup matannya.

“aku menyukaimu… ani aku mencintaimu”

-Xi Luhan-

“izinkan aku egois, hanya untuk malam ini!”

-Kim Taeyeon-

***To Be Continued***

ahhh ff macam apa ini? Kenapa jadi alay binti lebay gini nih ff? Jujur aja part 8 sama 9 udah beberapa kali aku rombak, jadi kalau feelnya ga dapet maafkan-_- chap 10nya belum tahap proses, lay oppa beneran akan muncul di chapter berikutnya hahah mian oppa. keknya bakalan ending beberapa chapter lagi, sad kah? Atau happy kah? Dan sekedar informsi aku suka sesuatu yang berbau sad ending #ketawa evil *aneh lu *tabok ae *bacot lu -–V dan typo juga masih berteman baik dengan ff ini-____- well, buat next chap? Gatau kapan mo di post. Bayangin, besok mau uas kerjaan aku malah bikin ff:’ ampuni dosa mahasiswi songong ini, doain uasnya lancar biar cahp 10 cepet di post eaaa L *BOW *KISSKISS *HUG

Advertisements

54 comments on “[FREELANCE] Moonlight (Chapter 9)

  1. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  2. happy end please ..hehehe
    ceritanya bikin gregetan banget..sukaraja
    dipersatukan putra jeball..

    bye author fighting and keep writing,update soon please,cant wait for your story

  3. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s