ZUIVER / Chapter 11 (Last)

zuiver

Tittle : ZUIVER (Last)
Cast : Kim Taeyeon , Oh Sehun , Xi Luhan
Other Cast : Lay , Tiffany , Jessica + Im Yoona
Genre : Romance , Marriage Life
Rate : PG 17
Lenght : Chapter , [ 38 Page , 8905 Word ]
Author : DorkySong

Preview →   (Chapter 1)      (Chapter 2)

  (Chapter 3)        (Chapter 4)

   (Chapter 5)    (Chapter 6)      (Chapter 7 A)

(Chapter 7 B)     (Chapter 8) 

(Chapter 9)  (Chapter 10)

⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓

Hai maaf lama update. saya sudah mulai sibuk dengan kuliah sebentar lagi juga sudah KKN. otomatis waktu luang udah jarang. T.T mohon maklum
Akhirnya ff ini berakhir di chapter yang terbilang pendek. hanya 11 chapter :v
saya mau mengucapkan banyak – banyak terimakasih karena banyak yang suka ff saya walau ceritanya absurd dan suka nyerong – nyerong :v . pokoknya terimakasih atas dukungan kalian dari chapter 1 sampai sekarang.

WARNING..!! TYPO BERTEBARAN ALUR CERITA RUMIT

DON’T BASH DON’T PLAGIARISME

∞∞∞∞∞∞ Ηα℘℘ϒ   ℜεαdιηg ∞∞∞∞∞∞

………………………

………………………

…………………..

………………….

Sehun beranjak keluar dari kamar, tentunya setelah memastikan sang istri telah terlelap. Sebelumnya ia terlalu asik melempar candaan yang tentunya diselingi dengan pertentangan yang cukup menyenangkan. Merogoh ponselnya kemudian mengirim pesan singkat pada seseorang.

 

 

 

Menyeringai Sehun berpura – pura mengabaikan sosok orang lain yang berdiri di belakangnya, sosok yang bersembunyi di balik tembok koridor Rumah Sakit yang menghubungkan ke lorong kamar Vip lain.

 

 

 

Ponselnya bergetar tak berselang lama, ia mengangkatnya dengan sengaja Sehun meninggikan nada suaranya. Itu telephone dari mertuanya.

 

 

 

“Taeyeon sudah tidur, Ayah tidak perlu khawatir.”

 

 

 

“Aku akan menjaganya, Ayah bisa melanjutkan pekerjaan Ayah di Beijing.”

 

 

 

“Jangan khawatir aku tidak akan mengizinkan seekor kecoakpun masuk menemui istriku, Iya baik… Selamat bekerja Ayah, nanti akan kusampaikan.”

 

 

 

Panggilan terputus, Sehun segera bergegas untuk menemui seseorang, dari sudut matanya ia melihat Lay – kakaknya masuk kedalam kamar Taeyeon. Sebelum ia berbelok di koridor Rumah Sakit, dua orang pria memakai jas serba hitam berdiri tegap memberi hormat pada Sehun.

 

 

 

“Awasi kakakku, jangan biarkan dia menyentuh istriku seujung rambutpun.” Perintahnya terdengar penuh ancaman.

 

 

 

“Baik Tuan.” Jawabnya sembari membungkuk

 

 

 

“Bagus, jangan sampai mengecewakanku, aku yakin kalian sudah tahu konsekuensinya.” Ancamnya lantas menepuk pundak salah satu pria itu.

 

 

 

“Baik Tuan, saya mengerti.”

 

 

 

Sehun terkekeh, kemudian berlalu pergi setelah memastikan Tuannya pergi kedua pria itu lantas memasang alat mirip aerphone di telinga, keduanya saling mengangguk kemudian melaksankan tugasnya untuk mengawasi orang yang sudah ditunjukkan oleh Sehun pada mereka.

 

 

 

Lay—

 

 

 

Mereka akan mengawasi pergerakan lelaki itu sampai batas yang ditentukan.

 

 

……………………….

 

 

Sehun memarkirkan mobil putih mewahnya pada halaman kantor Detektif yang sudah sering ia kunjungi. Begitu ia keluar matanya langsung menangkap satu mobil merah terparkir tak jauh dari dirinya dengan plat nomor yang sudah ia hafal milik siapa.

 

 

 

Rahangnya mengeras, Sehun siap meledak jika saja ia tidak ingat ini tempat seorang detektif mungkin ia sudah menghancurkan kantor beserta manusianya sekarang juga.

 

 

 

Mereka berdua pasti sedang ikut campur lagi!

 

 

 

Dan dugaan Sehun benar sekali, tubuhnya baru masuk suara Baekhyun dan Tiffany terdengar tajam masuk ketelinganya, begitu nama Lay di sebut – sebut tanpa sadar emosinya memuncak. Haruskah ia sobek – sobek mulut kedua mahluk yang suka sekali ikut campur seperti mereka itu?

 

 

 

“Aku jadi kasihan dengan Sehun, bagaimana reaksinya nanti bila mengetahui kakaknya yang berubah menjadi seorang bajingan?”

 

 

 

Baekhyun menggeleng “Aku tidak bisa membayangkannya. Asal kau tahu saja aku begitu menyayangi Sehun seperti adikku sendiri, aku yakin itu sangat melukai perasaannya.”

 

 

 

Rahang Sehun semakin mengeras, “Maka dari itu kalian berdua berhentilah dan diam ditempat kalian.”

 

 

 

Baekhyun serta Tiffany terkejut bukan main, mata mereka bahkan hampir melotot mendapati Sehun yang sedari tadi mereka bicarakan kini tengah berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan dilipat dan tatapan tajam menusuk.

 

 

 

“Tutup mulut kalian dan hiduplah dengan tenang.” Sahutnya semakin tajam, andai saja perkataan Sehun barusan berbentuk mungkin diibaratkan samurai yang siap membelah kedua tubuh manusia yang menurut Sehun memuakkan.

 

 

 

“Sehun.”

 

 

 

Tiffany gelagapan begitupun Baekhyun yang kebingungan harus melakukan atau mengatakan apa.

 

 

 

“Apa hak kalian mencampuri urusan keluargaku?” Tanyanya sinis

 

 

 

“Sehun dengarkan kami dulu, kami tidak bermaksud mencampuri urusan Keluargamu hanya saja kami ingin membantu—“

 

 

 

“Membantu?” sahutnya meremehkan, ia berdecih merasa semakin jijik dengan dua mahluk sok suci yang seakan – akan berusaha mengembalikan sang iblis kembali ke dalam Neraka padahal mereka saja belum tentu tak berdosa. Berlagak bagai malaikat padahal sama saja.

 

 

 

“Membantu apa jika yang kalian lakukan hanya berusaha menutup – nutupi kebenaran.”

 

 

 

Baekhyun menggeleng kemudian mendekat kearah Sehun yang jelas membuat nyalinya terasa makin ciut. “Sehun ini demi kebaikanmu, kami tidak mau kau terluka dan kecewa dengan kakakmu.” Jelasnya yang tidak mendapat respon berarti dari sang lawan.

 

 

 

“Oh.. demi kebaikanku? Kau bilang demi kebaikanku?”

 

 

 

Mata tajam Sehun semakin membuat Baekhyun tak berkutik. Disaat seperti ini menelan ludah sendiri saja bagaikan menelan bongkahan Es batu bulat – bulat.

 

 

 

“Demi kebaikan apa? Siapa yang kau bilang kebaikan? IBUKU MENINGGAL BANGSAT DAN KAU BILANG DEMI KEBAIKAN?” Tinju Sehun sudah melayang bersamaan dengan teriakan nyaring Tiffany yang terkejut dengan tubuh Baekhyun yang telah tersungkur di lantai. “KATAKAN PADAKU DIMANA KEBAIKAN YANG KAU MAKSUD? MENYEMBUNYIKAN FAKTA IBUKU MENINGGAL DAN MENIPUKU DENGAN BERBAGAI ALASAN BAHWA IBUKU TIDAK BISA DITEMUI? APA ITU KEBAIKAN YANG KAU KATAKAN PADAKU.. DASAR BAJINGAN”

 

 

 

Buuk

 

 

Baak

 

 

Buuk

 

 

 

“Sehun hentikan.” Tiffany otomatis berlari, menghampiri tubuh Baekhyun yang bersimbah darah di hidung dan bibir, pipinya bahkan membiru akibat pukulan Sehun yang secara bertubi – tubi.

 

 

 

“DAN KAU? HENTIKAN OTAK SOK INGIN TAHUMU ITU… INI URUSANKU DAN KELUARGAKU, BERHENTILAH MEMBUNTUTI KAKAKKU.” Ancamnya tak terkendali, matanya semakin nyalang menatap dua manusia dihadapannya, otaknya terasa meledak jantungnya bahkan berdegup tak karuan, ia sangat kecewa amat sangat kecewa dengan Kakaknya yang selama ini danggapnya baik hati dan Baekhyun yang selama ini ia percayai.

 

 

 

“Sehun maafkan aku, aku tidak bermaksud membohongimu, Aku sangat menyayangimu aku takut kau tidak siap dengan kematian ibumu.” Sahut Baekhyun ditengah kesakitan yang ia rasakan, sesekali ia terbatuk dan mencoba bangkit dengan dibantu Tiffany.

 

 

 

“Kau menyayangiku? Kalau begitu katakan padaku siapa pembunuh ibuku.”

 

 

 

Baekhyun menangis, ia terisak meratapi betapa tidak berdayanya ia dengan rasa bersalah yang membuncah, ia terlalu kasihan dan menganggap Sehun masih seperti adik kecilnya yang rapuh, nyatanya ia salah… ia salah… Sehun bukanlah manusia lemah yang bisa ia kasihani. Seharusnya ia mengasihani dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga kepercayaan Sehun padanya.

 

 

 

“KATAKAN PADAKU HYUNG, KATAKAN SIAPA YANG TELAH MEMBUNUH IBUKU.” Teriaknya frustasi, hatinya sudah amat sakit mengetahui kebenaran ibunya yang telah meninggal beberapa tahun lalu, Ia sangat merasa bersalah atas kematian ibu kandungnya yang bahkan tidak ia ketahui sedikitpun. Apa salahnya hingga semua orang membodohinya begini.

 

 

 

“Adik Luhan”

 

 

 

Sehun terdiam terpaku, kakinya lemas ia ambruk dengan tangis yang meledak kuat, dunia terasa kejam untuknya saat ini, hingga rasanya ia enggan untuk mengangkat kepala dan menghadapi kenyataan hidup yang terasa pahit.

 

 

 

“Maafkan Hyung Sehun, maaf..”

 

 

 

…………………………………..

 

 

 

Taeyeon merasakan tangan halus menggenggam tangannya, rasanya hangat dan ia cukup nyaman dengan itu, hanya saja ia bertanya – Tanya tangan siapakah ini? Jelas sekali itu bukan Sehun, tangan Sehun besar sekali dan ini terasa tak terlalu besar dan tak terlalu kecil pula. Ia ingin membuka mata namun efek obat yang ia minum seakan melarangnya bangun.

 

 

 

“Taeyeon aku sangat menyayangimu, kau tahu?”

 

 

 

Suara itu tentu Taeyeon kenal sekali, itu suara kakak iparnya – Lay – ia fikir orang asing yang masuk kedalam kamarnya, ternyata itu Lay ia jadi merasa lega. Lalu kemana Sehun, telinganya tidak mendengar suara lelaki itu sejak ia mulai tersadar dari tidur.

 

 

 

“Seandainya saja dulu ibu Luhan tidak datang mengacau mungkin yang bersanding denganmu sekarang bukanlah Sehun, tapi aku.”

 

 

 

Taeyeon terkejut, tentu saja! Ia ingin bangun namun lagi – lagi kelopak matanya terasa lengket, ia ingin membuka mata dan bertanya mengapa Lay menyebut nama Luhan dan ibunya. maka dengan itu ia memutuskan untuk mendengarkan kelanjutan apa yang akan dikatakan Kakak iparnya.

 

 

 

“Ayahmu juga tega sekali memutuskan pertunangan kita secara sepihak, kau tahu? Aku sangat terluka waktu itu. Aku sudah tertarik sejak pertama kali melihatmu.”

 

 

 

“Aku semakin sedih begitu kita bertemu kau sama sekali tak mengenaliku, yah aku masih maklum dengan itu karena kau masih kecil saat kita pertama kali bertemu.”

 

 

 

“Secara mengejutkan sekali ternyata kau malah menjadi istri adikku Hah.. dunia terasa makin kejam untukku.”

 

 

 

Lay terkekeh, ia mengusap pipi Taeyeon membuat sang empu memekik. Sebenarnya ia sudah tahu jika Taeyeon telah bangun dari tidurnya sejak ia berbicara. Hanya saja ia membiarkan agar Taeyeon mendengarkan keluhan hatinya.

 

 

 

“Jangan berpura – pura, aku tahu kau sudah bangun.”

 

 

 

Mampus…. Taeyeon ketangkap basah.

 

 

 

Perlahan Taeyeon membuka kedua matanya, ragu namun pada akhirnya tetap menatap pada sang kakak ipar yang duduk menatapnya dengan intens.

 

 

 

“Op—“

 

 

 

“Shuutt… Aku tahu kau pasti terkejut dengan ini.” Potongnya

 

 

 

Taeyeon menelan ludahnya dengan susah payah, suasana berubah hening itu sedikit membuat perasaan Taeyeon tak menentu, ditambah dengan tatapan intens dan tangannya yang masih digenggam Lay semakin memporak – porakkan hatinya. Jantung Taeyeon semakin berdebar kencang ketika Lay tiba – tiba mendekat padanya.

 

 

 

Refleks ia memejamkan mata, jauh didalam hati Taeyeon tiba – tiba merasa begitu takut dengan Lay, entah bagaimana ia harus bertindak sedangkan badannya saja serasa mati.

 

 

 

Jantung Taeyeon makin menjadi – jadi, aroma mint yang baru masuk kedalam penciumannya terasa asing, hangatnya nafas Lay bahkan terasa menusuk kedalam kulit wajahnya. Taeyeon takut, ingin menjerit tapi suaranya tak keluar.

 

 

 

‘Sehun’

 

 

‘Sehun’

 

 

Tolong aku

 

 

 

 

Tangan hangat Lay menari – nari, mengusap surai serta pipi Taeyeon seakan mengungkapkan sebuah kalimat tak tersirat “Kau itu milikku.”

 

 

 

“Oppa apa yang kau lakukan?” Tanyanya susah payah.

 

 

“Apa lagi?”

 

 

 

Jantung Taeyeon makin berdebar tak karuan, wajah Lay semakin mendekat bodohnya ia yang hanya diam tanpa melawan, Bukan…!! Tidak ada wanita yang mau dilecehkan terutama oleh kakak ipar yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri. hanya saja Taeyeon tidak tahu harus berbuat dan mengatakan apa. Mengingat ini untuk kali pertama terjadi dihidupnya.

 

 

 

Saat ini yang bisa ia lakukan hanya berdo’a semoga ada malaikat yang datang menyelamatkannya sekarang.

 

 

 

5 Detik

10 Detik

15 Detik

1 Menit

Hening……..

 

 

 

Memberanikan diri Taeyeon membuka matanya,

 

 

kosong………

 

 

 

Tidak ada siapapun bahkan sosok Lay pun lenyap tanpa sisa, Taeyeon mengerjap lantas mencari keberadaan Lay yang sayangnya Taeyeon tidak mengerti mengapa ia harus mencari Lay yang hampir menciumnya.

 

 

 

Kosong melompong…..

 

 

 

Nihil. Benar – benar tidak ada dimanapun, Kemana perginya?.

 

 

 

Sreek

 

 

 

Taeyeon memekik ketika pintu kamar terbuka, ia fikir Lay yang membuka pintu namun ternyata salah, yang ada didepan pintu adalah Sehun – suaminya.

 

 

 

“Sehun.”

 

 

 

Taeyeon hampir meloncat dan berlari kearah suaminya jika saja jarum infus itu tidak mencegahnya, pekikan kecil lolos dari bibirnya ketika jarum di balik kulitnya tak sengaja tersenggol.

 

 

 

“Bodoh, apa yang kau lakukan.” Sehun berlari dan menekan pergelangan istrinya yang mulai mengeluarkan darah. Sang pria mengumpat sembari berteriak keras memanggil perawat.

 

 

 

Beruntung, tak lama seorang perawat laki – laki datang dan segera melakukan penanganan.

 

 

 

Taeyeon hanya diam saja ketika perawat itu memasang kembali infus kepergelangan tangannya yang lain, merasa cukup menyesal karena begitu ceroboh hingga membuat suaminya begitu khawatir.

 

 

 

Setelah semua selesai perawat itu pamit keluar yang diangguki serta ucapan terimakasih dari Sehun.

 

 

 

“Sehun, aku minta maaf.” Gumamnya takut.

 

 

 

Sehun yang mendengarnya hanya mendesah, kejadian tadi sangat amat membuatnya khawatir, apalagi dengan banyaknya darah yang keluar akibat jarum yang tercabut paksa. Demi tuhan Sehun tidak bisa melihat wanitanya terluka. Bahkan ia bersumpah akan bunuh diri jika istrinya ini sampai terluka.

 

 

 

“Kau marah?” Tanya Taeyeon semakin merasa bersalah. Sehun yang diam dan tidak merespon ini justru sangat menakutkan, dari pada ketika setan mesumnya kambuh.

 

 

 

“Hmm.”

 

 

 

“Hmm? Hanya Hmm?” Mata taeyeon berkedip cepat, merasa aneh dengan jawaban Sehun yang kelewat cepat dari pada kereta express.

 

 

 

“Aku keluar dulu, ada obat yang harus ku tebus.” Pamitnya lantas pergi, mengacuhkan sang istri yang berteriak memanggil namanya.

 

 

.

.

.

 

 

 

“Sejak kapan kau tau?”

 

 

 

Sehun terhenti, dengan tangan yang masih menggenggam knop pintu. Air wajahnya begitu dingin seolah ada banyak bongkahan es batu disana.

 

 

 

“Sejak kau menyekap Jessica.” Jawabnya penuh seringai

 

 

 

“Pf.. Kau menyelidiku sejauh itu.. adikku.” Lay tertawa renyah, pandangannya tertuju pada dua orang berpakaian serba hitam di samping kiri kanannya. Berdecak seolah mengejek Lay mencoba melepaskan kedua lengannya yang masih dipegang.

 

 

 

“Lepaskan.. kalian terlalu banyak ikut campur.” Perintahnya tajam

 

 

 

Sehun memerintahkan dua lelaki itu umtuk melepaskan, sesaat keduanya Nampak saling menatap kemudian melepaskan lengan yang mereka cengkeram sejak tadi.

“Kalian hanya pegawai rendahan berani sekali menyentuhku.” Dengusnya disertai ekspresi jijik. Begitu kentara seolah dua manusia itu hanyalah gelandangan peminta makanan.

 

 

 

“Kau tau Hyung, ini sangat mengejutkanku.” Sehun berujar, menyandarkan tubuh tinggi tiangnya pada tembok. Elusan telapak tangan pada rambut hitam miliknya seolah menjadi tolak ukur akan beban hidup yang dideritanya.

 

 

 

Mendesah. Hanya itu yang terdengar begitu keheningan menguasai diantaranya, Sehun yang menjadi dalangpun hanya diam membisu dengan kepala tertunduk kebawah. Bagai ada batu besar yang bertumpu pada lehernya saat ini.

 

 

 

“Kau sudah tahu sekarang. Apa yang akan kau lakukan adikku?”

 

 

 

“Entahlah.”

 

 

 

Decakan kebodohan terdengar sahut, Lay menggeleng seakan tidak percaya. Musuh mana yang menangkap terdakwa tanpa perencanaan? Masih sama saja bodohnya ~ begitu yang terfikir pertama kali dibenak Lay. Jika ini drama action maka Sehun hanya tinggal nama saja. Bodoh

 

 

 

“Aku..” sengaja digantung, Sehun ingin menatap sekali lagi wajah Hyung kesayangannya ”Sangat mempercayaimu.” Sambungnya pilu. Tidak ada yang tahu betapa hancur lebur perasaan Sehun saat ini. “Kancil itu sangat cerdik hingga hewan lain mau menjadi pengikutnya, namun sayang… Kancil terlalu percaya bahwa dunia bisa ia genggam hanya dengan otak cerdiknya. Ia tidak tahu bahwa kesalahan kecilpun sanggup merobohkan tahtanya.”

 

 

 

Lay tak bereaksi. Air wajahnya begitu santai tanpa rasa bersalah.

 

 

 

Dengusan tertahan terdengar sayup. Sehun diam sejenak sebelum akhirnya mengambil ponsel yang ia letakkan pada saku jas.

 

 

 

“aku ingin bertanya untuk yang terakhir kali Hyung.”

 

 

 

Lay bersedekap “Tanyakan.”

 

 

 

“Sejak kapan kau membohongiku?” iris kecoklatan Sehun mengabut, bibirnya bergetar. Perasaannya begitu kalut. Kakaknya, Kakak laki – lakinya, Kakak satu – satunya kenapa berubah?

 

 

 

“Kau ingin tahu?”

 

 

 

“Tentu aku sangat ingin tahu, kenapa, mengapa dan apa yang membuatmu hingga seperti ini Hyung?”

 

 

 

“Sejak kau lahir dan merebut apa yang harusnya kumiliki.”

 

 

 

“Apa?”

 

 

 

“Kau pasti tidak menyangkanya?” Lay terkekeh

 

 

 

“Hyung.”

 

 

 

“Aku bukan lagi Hyungmu anak bodoh. Berhenti memanggilku seolah aku adalah Kakak yang baik.”

 

 

 

“Hyung.”

 

 

 

“Ku bilang hentikan bangsat.”

 

 

 

Bug

 

 

 

Lorong rumah sakit yang ramai menjadi semakin ramai, beberapa orang yang berada disana berbondong – bondong datang untuk melihat.

 

 

 

Suasana berubah kacau ketika Lay berusaha menghajar Sehun habis – habisan, siapa yang menyangka jika tubuh Lay yang kecil ternyata begitu kuat. Bahkan dua pria yang tadi sempat menyergapnya dibuat kualahan. Tangan dan Kaki Lay cukup gesit menghajar habis tubuh Sehun.

 

 

 

Sayangnya orang – orang disana terlihat enggan untuk melerai, hanya beberapa diantaranya seperti bertentangan ada yang menyuruh dan ada yang menolak. Semua kacau balau hingga akhirnya 5 security datang dengan peluit yang dibunyikan bersamaan.

 

 

 

********

Taeyeon mengerjap cepat. Ada apa diluar? Mengapa bising sekali. Taeyeon berniat tidur setelah Sehun keluar tergesa – gesa barusan. Namun niatan itu urung begitu saja. Di luar kamarnya terdengar sangat ramai. Entah sedang ada apa. Apakah ada yang meninggal? Atau pasien gawat darurat? Eh… ini kan ruang inap bukannya UGD. Lalu apa yang terjadi? Finalnya Taeyeon mendengar ada suara peluit yang suaranya luar biasa berisik. Heol.. ada apa gerangan?

 

 

 

Malas namun tetap dilakukan, Taeyeon memungut infuse yang tergantung di tiang khusus, membawanya dengan mengangkat tinggi ke atas. Setidaknya cairan di infuse itu harus tetap mengalir meski ia bergerak.

 

 

 

Begitu knop pintu terbuka yang ada di hadapannya adalah segerombolan orang yang berteriak menyuruh melerai dan memanggil polisi. Sepertinya ada perkelahian. Taeyeon mendengus bisa – bisanya ada orang berkelahi di rumah Sakit.

 

 

 

Sebenarnya Taeyeon enggan untuk bergabung dalam gerombolan itu, namun apa mau dikata jika rasa penasarannya jauh lebih besar.

 

 

 

Suara peluit berbunyi cukup nyaring, lima security berlarian sambil berteriak marah. Tiga security Menyuruh kerumunan bubar sedang sisanya melerai kedua pria yang tengah berkelahi.

 

 

 

Taeyeon tidak terlalu jelas dengan wajah keduanya, kerumunan didepannya berdesak –desakkan mundur menghindari tongkat hitam milik security yang di acungkan sebagai ancaman agar segera bubar.

 

 

 

Taeyeon mendengus lantas berbalik dan masuk kedalam kamar inapnya, mengacuhkan gerombolan orang yang masih saja riuh diluar kamar. Membanting pintu kamar kesal.

 

 

 

“Kenapa mereka semua berisik sekali sih, siapa pula dua berandalan yang bisa – bisanya berkelahi di rumah Sakit–”

 

 

 

Tunggu

 

 

 

Baju salah satu dari pria yang berkelahi tadi sepertinya ia kenal.

 

 

 

1 detik

2 Detik

3 Detik

Sehun.

Brakkk

 

 

 

Taeyeon membanting pintu sekuatnya, membuat beberapa orang yang masih saja bergerombol didepan kamarnya terkejut. Dengan membawa infusnya Taeyeon menerjang kerumunan dengan paksa. Tubuhnya yang mungil beberapa kali terdesak namun ia sudah tidak perduli.

 

 

 

Dan benar saja.

 

 

 

Sehun di bopong salah satu security dengan wajah memar dimana – mana, pekikan terdengar hingga Lay yang berada tak jauh dari posisi Taeyeon menyadari kedatangannya.

 

 

 

“Sehun.”

 

 

…………………………….

Baekhyun gelisah bukan main, ponsel yang ia genggam terus bergetar sejak beberapa menit yang lalu. Tiffany yang berada didalam ruang yang sama dengannya ikut gelisah.

 

 

 

Sesekali perempuan itu bertanya “Bagaimana?” atau “apakah sudah ada kabar?” . Namun lagi dan lagi Baekhyun hanya bisa merespon gelengan kepala sebagai jawaban atas ketidak tahuannya.

 

 

 

Sehun saat ini telah berada di Kantor Kepolisian pusat, Ia mendapat kabar jika Sehun telah melaporkan Lay atas tuduhan penculikan, penganiayaan dan pembunuhan.

 

 

 

Hingga kabar itu ia terima sampai sekarang belum ada kabar kelanjutan.

 

 

 

“Aku tidak menyangka Sehun mengetahui kejahatan Lay lebih banyak.” Seru Tiffany

 

 

 

Baekhyun mendesah “Aku pun tak menyangkanya.” Ia mengimbuh “Sekarang aku khawatir pada bocah itu.” Raut wajah Baekhyun berubah,

 

 

 

“Apa sebaiknya kita kesana saja?”

 

 

 

“Itu mungkin ide yang bagus, jika saja Sehun mengijinkan kita. Kau tahu sendiri Sehun tidak mau kita ikut campur.”

 

 

 

…………………………………..

 

Hatinya hancur bukan main, gundukan tanah besar dengan batu besar bertuliskan Oh Yang In terukir rapi disana. Gundukan itu telah banyak ditumbuhi rerumputan hijau. Nampak subur dengan tinggi setumit.

 

 

 

Sehun hanya diam memandangi kuburan ibunya yang baru ia ketahui, kuburan itu jelas telah berumur lebih dari 1 tahun. Tanahnya sudah mengering hampir coklat keputihan. Batu nisan berlapis keramik hitam itu terdapat tanah kering yang menempel lekat.

 

 

 

Berjalan lemah Sehun mendekati pemakaman sang ibu, menyentuh pusaran sang ibu penuh kesedihan. Penyesalan tiada tara menghantam hatinya hingga rasanya hancur. Bagaimana mungkin seorang anak tidak mengetahui kematian ibu kandungnya sendiri. Sehun menyesal… sangat menyesal mempercayai perkataan semua orang bahwa Ibunya baik – baik saja didalam penjara!

 

 

 

Ini memang salahnya! Karena ia sendiri memang tidak mau mengunjungi ibunya di penjara, sekedar mengunjungi atau mengobrolpun Sehun tidak pernah. Dia terlalu sibuk dengan dunianya. Menyusun pembalasan dendam yang pada akhirnya tidak ia lakukan.

 

 

 

Ia terlalu berambisi dengan hal konyol tentang Luhan.

 

 

 

Ia lupa jika Ibunya ada di balik jeruji dingin, menangis dan kesepian setiap malam. Ia lupa dengan tugasnya sebagai seorang anak yang seharusnya berbakti pada kedua orang tua.

 

 

 

Ia lupa

 

 

 

Sangat lupa

 

 

 

Karena hanya Kakaknya yang ia fikirkan!

 

 

 

Kakaknya yang ternyata lebih kejam dari pembunuh bayaran, lebih kejam dibanding seorang algojo. Dan kini Sehun terjebak dengannya.

Sehun menyesali segala perbuatannya.

 

 

 

“Ibu.” Suaranya bergetar parau, kabut tipis menghalau pandangannya. Tetes demi tetes air mata menghujam wajahnya. Semakin banyak dan tak terkendali.

 

 

 

Hatinya hancur bukan main, perasaannya kalut tak terbendung. Ribuan belati serasa menusuknya bertubi – tubi. Sakit sekali rasanya hingga ia tak sanggup menahannya.

 

 

 

“Ibu..Ibu..Ibu.”

 

 

 

Dia jatuh. Bersimpuh dengan kepala menunduk sesal. Air matanya jatuh membasahi tanah. Bibirnya bergetar kuat, suaranya tercekat sampai tenggorokan. Hanya tangisan pilu yang berhasil lolos.

 

 

 

Ada banyak pasang mata disana, Tuan dan Nyonya Kim, Taeyeon yang baru pulang dari rumah sakit dan Kai. Keempat orang itu terdiam tak sanggup bicara. Air muka mereka khawatir namun tak bisa melakukan apapun kecuali membiarkan Sehun tetap meraung meratapi ketidak tahuannya.

 

 

 

Taeyeon sebenarnya ingin memeluk tubuh suaminya sejak tadi, namun ibunya melarang. Dia memintanya untuk membiarkan Sehun sebentar saja.

 

 

 

Taeyeon menurut, ia hanya menatap tubuh suaminya yang bergetar menahan tangis, bahkan ketika tubuh suaminya ambruk bersimpuh pada pusaran ia tetap tak bisa melakukan apapun, ia hanya menutup mulutnya sendiri menahan tangisnya juga.

 

 

 

“Ibu maafkan aku ibu maafkan aku.”

 

 

 

Taeyeon menangis meraung, pertahanannya sudah jebol matanya memerah tak sanggup melihat kesedihan yang dirasakan suaminya. Ia tidak perduli lagi dengan larangan ibunya. Taeyeon berlari dan memeluk tubuh suaminya. Mengusap punggung suaminya yang bergetar hebat. Tangisannya semakin meledak.

 

 

 

Taeyeon tak sanggup melihatnya.

Ini benar – benar menyakitkan.

 

 

 

……………………………………..

Keadaan di penjara jelas jauh berbeda, Sehun berjalan gontai ditemani dengan dua polisi berbadan tegap dan besar. Matanya kosong menatap ruang demi ruang berbatang besi. Semua penghuni didalam sana memandang kedatangan Sehun dengan berbagai ekspresi.

 

 

 

Langkahnya berhenti di ruang nomor 108, dibalik jeruji besi itu kakaknya duduk diam tanpa suara, Sehun memandangi keseluruhan ruangan suasana di sana tampak tak layak dengan aroma makanan bercampur debu dan bau amis.

 

 

 

Sehun meringis melihat keadaan kakaknya yang jauh dari kata baik. Pakaiannya tampak lusuh rambutnya acak – acakan, bekas air mata jelas terlihat, tangan kanannya yang di borgol tampak lecet dengan darah yang mengering.

 

 

 

“Anda memiliki 10 menit sebelum terdakwa dipindahkan.” Salah satu polisi itu berucap kemudian pergi menjauh, mereka menunggu di pintu masuk ruang yang berjarak sekitar 15 meter dari posisi Sehun.

 

 

 

“Hyung.” Panggilnya parau

 

 

 

Hatinya serasa mencelos melihat kakaknya tak bergerak sedikitpun, keadaannya saat ini terlihat seperti mayat hidup ketimbang mahluk hidup, 2 hari lalu Sehun mendapat kabar jika kakaknya positif menderita gangguan jiwa dan akan segera dipindahkan ke Rumah Sakit jiwa hari ini.

 

 

 

Sehun membeku saat sepasang mata coklat kelam kini memandangnya lemah. Keringat membasahi poni – poni kakaknya yang panjang hingga penampilannya jauh lebih mengerikan.

 

 

 

“Hyung.” Tangisnya pecah, ia duduk bersimpuh saat Lay berdiri dan mendekat kearahnya, tubuhnya kurus dan kakinya bergetar seperti tanpa tulang. Bibirnya kering penuh luka sungguh Sehun tak sanggup melihatnya.

 

 

 

Kraakk

 

 

 

Bunyi besi yang tertarik terdengar nyaring, Lay terjatuh ketika besi ditangannya menggores kulitnya.

 

 

 

“Hyung. Hentikan kau melukai dirimu sendiri.” Serunya ketika Lay bangkit dan kembali berusaha mendekat kearahnya. Namun sayang tali rantai itu tak cukup panjang.

 

 

 

“Sehun Sehun Sehun.” Panggilnya

 

 

 

“Hyung hentikan.”

 

 

 

Sehun berteriak, menghantam pagar besi hingga menyebabkan keributan, beberapa penghuni penjara lain nampak terganggu dan mereka berteriak menyuruh Sehun diam.

 

 

 

Lay terus bangkit dan berusaha mendekat pada Sehun namun tali rantai itu kembali mengetat, menyebabkan Lay jatuh kembali dengan goresan luka yang semakin panjang.

Sehun emosi, wajahnya merah ia menatap pada dua polisi yang tak bergeming sedikitpun didepan pintu.

 

 

 

“Kalian bajingan, apa yang kalian lakukan pada kakakku, lepaskan rantai itu bangsat. Kalian meyakitinya.” Sehun uring – uringan, berlari dan menghajar dua polisi itu sekaligus, suara riuh para penghuni penjara menambah bising keadaan. Beberapa polisi datang membawa pistol dan memisahkan Sehun yang masih buas menghajar kedua polisi itu.

 

 

 

“LEPAS. KAKAKKU BUKAN BINATANG, DIA TAK PANTAS DIPERLAKUKAN SEPERTI ITU, LEPASKAN KAKAKKU , BAJINGAN KALIAN.”

 

 

 

…………………………………

 

Taeyeon menandatangani surat perintah pembebasan, setelah kejadian pemukulan Sehun tadi siang tentu saja dua polisi itu tidak akan membiarkannya lolos begitu saja, ketika Taeyeon mendapat panggilan jika Sehun ditahan buru – buru ia menghubungi Baekhyun meminta bantuan.

 

 

 

Bersyukurnya Baekhyun cukup membantu hingga permasalahan bisa diselesaikan dengan pihak korban memutuskan berdamai.

 

 

 

“Kau sudah selesai?” Baekhyun muncul dari ruangan kecil di samping administrasi, dua polisi yang wajahnya memar juga ikut keluar, untung saja memar itu tidak parah, jadi tidak sampai menyebabkan tuntutan.

 

 

 

“Iya aku sudah selesai.”

 

 

 

“Sebaiknya aku mengantar kalian pulang, tidak baik jika menyetir sendiri apalagi dengan keadaan Sehun yang seperti itu.”

 

 

 

Taeyeon berterimakash dan segera menuju ruangan dimana Sehun masih di sekap. Mengucapkan maaf berkali – kali pada dua polisi yang dihajar Sehun walau Taeyeon yakin kedua polisi itu masih belum mau memafkan suaminya.

 

 

 

……………………………………..

 

 

“Sebaiknya besok Sehun kau bawa ke Rumah Sakit.” Baekhyun memecah keheningan.

 

 

 

Taeyeon yang duduk di belakang hanya mengangguk “Apa menurutmu dia juga gila Baekhyun shi?” Tanyanya sembari mengusap kepala Sehun yang berada di pangkuannya.

 

 

 

“Bukan begitu maksudku. Aku hanya khawatir dia pasti sangat tertekan.”

 

 

 

“Aku tahu.”

 

 

 

Baekhyun mendesah berat, ia melirik sekilas pada dua orang dibelakang yang kembali membisu “Aku minta maaf karena aku telah berbohong pada Sehun.”

 

 

 

Taeyeon masih membisu. Dia memang mengetahui hal ini beberapa menit yang lalu. Sebelum pulang Baekhyun sempat bercerita mengenai permasalahan ini. Dan keterlibatan Tiffany juga. Jangan Tanya apakah Taeyeon terkejut karena jawabannya tentu saja bahkan nyaris jantungan. Bagaimana Tiffany terlibat dengan masalah Sehun, Luhan, Lay sekaligus Jessica. Astaga ia bahkan tidak bisa berfikir sekarang. Semua benar – benar tidak terduga.

 

 

 

“Aku tidak bermaksud, sungguh! Aku hanya ingin menutupinya sampai kebenaran terungkap.” Tambahnya

 

 

 

Taeyeon menatap punggung Baekhyun dari belakang. “Aku tahu itu demi kebaikan Sehun tapi menutupi kematian ibu kandungnya itu perbuatan yang tidak bisa dimaafkan.”

 

 

 

Baekhyun berdehem, melepas kecepatan laju mobil ketika lampu merah menyala “Aku hanya menuruti keinginan kakaknya, aku tahu meskipun itu permintaan Lay seharusnya aku tidak boleh menutupinya.”

 

 

 

“Sekarang aku baru menyesal, karena begitu percaya pada Lay.” Imbuhnya

 

 

 

“Semua sudah terjadi, penyesalan itu tidak berguna lagi untuk sekarang. Kuharap kau bisa membayar rasa sesalmu itu pada Sehun. Dia begitu terluka karena kebohongan kalian.”

 

 

 

“Maafkan aku, kupastikan aku akan menebus kesalahanku ini.”

 

 

 

Taeyeon mengangguk pasrah, membuang muka pada jalanan kota seoul yang dipenuhi lampu berwarna warni. Ia sungguh lelah hari ini.

 

 

 

…………………………

 

“Tidurlah, kau pasti lelah.” Taeyeon mengusap rambut suaminya sayang.

 

 

 

“Aku sangat lelah.” Gumamnya serak

 

 

 

Taeyeon tersenyum lantas mengusap pipi Sehun, jelas sekali ada jejak air mata yang telah mengering, semalaman suntuk Sehun menangis, untung saja kamar milik Taeyeon kedap suara.

 

 

 

“Aku tahu, tidurlah.”

 

 

 

Sehun meremas tangan Taeyeon, menggenggamnya semakin erat seolah takut kehilangan, dan Taeyeon tentu tidak keberatan sama sekali.

 

 

 

“Jangan pergi.”

 

 

 

Taeyeon mengangguk, membawa kepala Sehun kedalam dekapannya, kepala Sehun semakin tenggelam dalam ceruk lehernya, geli karena rambut Sehun yang langsung menyentuh kulitnya tidak begitu ia perdulikan, ia ingin melindungi suaminya, walau ia tahu perlindungannya tidak sekuat tameng superhero.

 

 

 

“Aku akan tetap disini. Tidurlah” Ucapnya, Kembali Taeyeon mengusap punggung suaminya, menepuk – nepuk pelan disana agar memberi ketenangan. Ia ingin Sehun segera tidur agar sejenak melupakan kejadian hari ini dan kemarin.

 

 

Ia tahu jika Sehun sangat lelah dengan kenyataan ini.

 

 

 

………………………………………

1 minggu kemudian………………………

 

 

Siang ini Sehun bersikeras mengunjungi kakaknya di Rumah Sakit Jiwa, walau sudah dilarang berkali – kali Sehun tetap kukuh ingin bertemu. Dia beralasan ingin melihat apakah pegawai Rumah Sakit memperlakukan Lay dengan baik atau tidak.

 

 

 

Taeyeon tidak bisa tinggal diam, ia pun ikut – ikutan bersikeras untuk ikut menemani sang suami.

 

 

 

“Aku akan menunggu disini, kau bisa masuk kesana Sehun.” Taeyeon menyuruh, ia membetulkan blazer Sehun yang sedikit berantakan. Dalam hati ia cukup terenyuh dengan suaminya saat ini. Sehun bahkan tidak mementingkan penampilannya jika saja Taeyeon tadi tidak memandikan dan menyiapkan segalanya mungkin Sehun terlihat tak jauh beda dengan para pasien Rumah Sakit ini.

 

 

 

“Jangan cemberut, wajahmu harus bersinar agar Kakakmu tidak khawatir.”

 

 

 

Sehun hanya mengangguk lemah, tanpa mengatakan apapun lagi Sehun berlalu, masuk kedalam ruangan yang dijaga ketat oleh 4 orang polisi.

 

 

 

Pemandangan didalam sesuai dengan harapannya, kakaknya tidur dengan nyaman diatas kasur, suasana disini jauh lebih bersih dan steril. Ruangan ini berukuran sedang, tidak besar tidak pula kecil, Cat dindingnya berwarna putih bersih, ada jendela kecil tepat disamping tempat tidurnya, jendela itu langsung menuju pada pemandangan taman Rumah sakit, cukup indah jika saja tidak ada besi yang terjejer rapi dari ujung keujung jendela hanya menyisakan sekat – sekat agar pasien tetap bisa melihat keluar jendela.

 

 

 

“Sehun.”

 

 

 

Lamunan Sehun buyar, lelaki itu tersenyum begitu kedua bola mata kecoklatan kakaknya terbuka.

 

 

 

“Ini aku Hyung.”

 

 

 

Sehun mendekat, duduk pada pinggiran kasur kemudian menggenggam erat tangan kakaknya yang teratung lemah, ia sakit! Sakit sekali melihat keadaan saudara kandungnya menderita penyakit kejiwaan.

 

 

 

Lay adalah sosok yang begitu ia sukai, gayanya, tutur katanya, kewibawaannya, kepintaran sekaligus kesabarannya. semua ia suka , Lay adalah idolanya yang nyata. Dia adalah panutannya.

 

 

 

Tapi………………

 

 

 

Kejadian itu benar – benar bencana. Perpecahan keluarganya adalah awalnya. Awal kehancuran dan perpecahan yang tak terduga. Ia sendiri tidak menyangka akan seperti ini masa depan keluarganya.

 

 

 

“Kau pasti kesal ya memiliki kakak sepertiku.”

 

 

 

Sehun berjengit, wajahnya terkejut. Ia hampir saja berdiri jika saja Lay tidak mencengkramnya kuat.

 

 

 

“Hyung.”

 

 

 

“Aku memang tak waras, tapi ingatanku tidak hilang.” Lay melepas cengkeramannya, ia mendengus lantas kembali memposisikan tubuhnya dengan nyaman. “Terimakasih, kau masih memikirkanku.”

 

 

 

Sehun mematung, tidak bicara juga tidak bergerak. Hanya manik matanya yang masih aktif merekam apapun yang dilakukan kakaknya.

 

 

 

“Kenapa kau diam?, kau menyesal telah mengkhawatirkanku?”

 

 

 

Mata Sehun mengabut, setetes air mata jatuh begitu saja tanpa ia suruh. “Maafkan aku Hyung, maaf.”

 

 

 

Lay bergerak dan memeluk tubuh bergetar adiknya, ia ragu namun tetap ia lakukan rasanya kali ini berbeda, padahal ia sudah sering memeluk adiknya tapi kali ini sensasinya berbeda, seperti ada rasa yang begitu nyaman sekaligus asing.

 

 

 

“Laki – Laki mana yang menangis saat semua orang memanggilnya manly?” Lay menepuk pelan punggung adiknya. Tanpa sadar air matanya juga ikut menetes, dengan kasar ia menghapusnya agar Sehun tdiak tahu.

 

 

 

“Hey.. laki – laki menangis itu banci namanya.”

 

 

 

Namun tangis Sehun semakin menjadi, ia bahkan meraung – raung menumpahkan semuanya dalam pelukan Lay.

 

 

 

“Yak.. sudah kubilang laki – laki tidak boleh menangis kau ingin kubunuh?”

 

 

 

Sehun tuli, dia tak perduli lagi, kesedihannya mencapai batas, ia sudah tak sanggup menahannya lebih lama. Hatinya terlalu sakit.

 

 

 

“Bodoh sudah kubilang berhenti menangis, istrimu sedang melihat.”

 

 

 

Taeyeon yang berada pada ujung pintu terkejut, matanya bertubrukan dengan mata Lay yang teduh, Taeyeon tahu ada banyak penyesalan disana, yang sepertinya tidak ditunjukkan.

Taeyeon tahu jika sebenarnya Lay juga amat sakit dengan keadaan yang seperti ini, tapi ia tidak bisa mengatakan apa – apa lagi, ditambah dengan Sehun yang masih menangis membuat otaknya beku untuk berfikir.

 

 

 

“Dengar, aku akan mengatakannya sekali saja.”

 

 

 

Sehun mendongak masih dengan banyak air mata, wajahnya merah, matanya semakin bengkak.

 

 

 

“Jangan menemui aku lagi.” Lay mendesah, kemudian mengusap kepala adiknya. Ia mengimbuh “Jangan datang lagi kemari, apapun alasannya.” Lay tersenyum kemudian meminta Taeyeon untuk membawa Sehun pulang.

 

 

 

Tentu saja Sehun tidak ikhlas namun apa yang bisa ia lakukan, kakaknya tidak mau ditemui lagi olehnya. Ia tidak boleh datang apapun lagi alasannya. Ia tidak boleh dan tidak akan pernah boleh ada disini. Sehun kosong, nyawanya seperti hilang entah kemana, tubuhnya bahkan pasrah saja ketika dibawa keluar.

 

 

 

“Aku bukan kakak terbaikmu Sehun, Aku tidak mau melihatmu lagi disini, aku membencimu Sehun, jangan ada dihadapanku lagi, jangan pernah muncul lagi didepanku, bahkan jika suatu hari nanti kita bertemu jangan menoleh dan menyapaku, aku memohon padamu. Melihat wajahmu itu menyakitkan Sehun. jadi jangan pernah datang lagi adikku sayang, my boo— maafkan aku.“

…………………………………

“Sehun sudah tidur?”

 

 

 

Nyonya Kim bertanya, perempuan paruh baya itu membawa senampan makanan dan obat.

 

 

 

“Dia sudah tidur.” Taeyeon menyahut pelan, menghampiri sang ibu dan mengambil alih nampan itu kemudian meletakkannya pada meja nakas disamping kepala Sehun.

 

 

 

“Pastikan dia makan, dia pucat sekali.”

 

 

 

“Iya.”

 

 

 

Ibunya mendesah “Kau minum obatmu, kau baru 2 minggu keluar dari Rumah Sakit, jangan sampai kau sakit lagi.” Imbuhnya kemudian keluar setelah mendapat anggukan dari Taeyeon.

 

 

 

Sepeninggal ibunya, Taeyeon memandangi Sehun dalam diam, ia mendekat dan menempati posisinya disamping Sehun. Mengusap rambut lembut suaminya pelan berharap kegiatannya tak mengganggu tidur nyenyaknya.

 

 

 

“Kau banyak menderita.” Bisiknya pelan.

 

 

 

Iris mata kelam itu terbuka, Taeyeon terdiam dengan posisi masih mengusapnya, Taeyeon berniat menurunkan tangannya namun ditahan. Prianya mengambil tangan sang wanita dan meletakkannya pada pipinya yang dingin.

 

 

 

“Aku kedinginan.” Serunya parau.

 

 

 

“Aku akan naikkan pemanas ruangannya.”

 

 

 

“Tidak perlu. Kau cukup berada disisiku saja.”

 

 

 

Taeyeon membisu, wajah Sehun jelas terasa begitu dingin, bahkan wajahnya juga pucat pasi. “Ibu membuatkanmu bubur, kau mau makan?”

 

 

 

Sehun menggeleng “Aku tidak lapar.”

 

 

 

“Tapi kau harus makan, perutmu belum terisi apap—“

 

 

 

“Maaf.” Potongnya, matanya memaku pada sang istri “Maafkan aku.” Imbuhnya, tangan istrinya ia turunkan kemudian ia genggam erat.

 

 

 

“Untuk apa?” Taeyeon bertanya “Kau tidak melakukan kesalahan apapun.”

 

 

 

Sehun menggeleng, air mukanya berubah murung. “Berjanjilah padaku.”

 

 

 

“Janji?” Taeyeon membeo

 

 

 

“Berjanjilah kau akan tetap disisiku.”

 

 

 

Taeyeon diam sesaat, ia tidak mengerti kenapa dan ada apa. “Aku berjanji padamu Sehun.” Ucapnya pada akhirnya.

 

 

 

Sehun tersenyum tulus, ia mendesah “Aku menemukan Luhan.”

 

 

 

Mata bulat Taeyeon melebar, iris matanya jelas begitu terkejut, mulutnya hendak berucap sebelum akhirnya jemari Sehun melarangnya berbicara.

 

 

 

“Dan aku bukanlah pria baik – baik seperti yang kau kira selama ini.”

 

 

 

Taeyeon membeku, matanya membulat nyaris tak berkedip. Bibirnya mengatup dan raut wajahnya berubah bingung.

 

 

 

“Aku dan Luhan adalah saudara kandung berbeda Ibu, Aku sangat membencinya karena ibunya yang telah membunuh ayahku. Ibuku masuk penjara sebab ia menyewa pembunuh untuk membunuh Luhan namun pembunuhan itu gagal karena Lay Hyung…”

 

 

 

Nyeri, Dada Sehun begitu nyeri menyebut nama kakaknya, kakak yang menjadi panutan dan seperti pahlawan baginya itu kini telah masuk Rumah Sakit jiwa karenanya.

 

 

 

Sehun mengusap air matanya dan kembali bercerita. “Lay Hyung menyelamatkan Luhan, kebencianku semakin dalam karena Luhan Kakakku terkapar di rumah sakit, dia mengalami koma selama berbulan – bulan dan ketika sadar ia menderita trauma luar biasa. Menyebabkannya menderita penyakit kejiwaan.”

 

 

 

“Umurku masih muda saat itu dan aku harus mati – matian menyelamatkan perusahaan Ayahku, dibantu oleh pamanku Tuan Xi.”

 

 

 

“Tuan Xi adalah orang tua angkat Luhan, aku semakin membencinya karena hidup seakan berpihak padanya.”

 

 

 

“Aku hanya anak kecil yang ingin bermain seperti anak seusiaku tapi aku dihadapkan dengan bisnis dan uang. Kepribadianku semakin berubah semenjak kesuksesan berada di tanganku.”

 

 

 

“Saat itu aku tidak pernah berfikir jika Luhan memiliki tunangan dan itu adalah dirimu, saat itu aku berfikir mengapa Luhan begitu mudah dan beruntung, ketika melihatmu untuk pertama kali aku begitu tertarik dan berencana—“

 

 

 

Sehun sengaja menjeda, sejenak ia melihat sang istri yang saat ini tidak bisa ia gambarkan bagaimana, apakah ia kecewa atau terluka Sehun tidak bisa menebaknya “membalaskan dendamku pada Luhan, aku mendekatimu bermaksud untuk menghancurkan Luhan, namun aku benar – benar jatuh kedalam pesonamu. Kau terlalu baik dan polos untuk dijadikan alat balas dendam.”

 

 

 

“Aku menyesali niatanku, dan aku—“

 

 

 

“Jadi kau hanya main – main Sehun?”

 

 

 

Deg

 

 

 

Sehun membisu, tubuhnya terasa makin dingin. “Aku—“

 

 

 

“Jadi begitu.”

 

 

 

“Aku sungguh tidak bermaksud menyakitimu.”

 

 

 

“Dan kau menyakitiku hari ini.”

 

 

 

Membeku. Darah Sehun seakan berhenti saat itu juga, suaranya menghilang bersamaan nyalinya yang menciut takut. Benar! Sekarang inilah yang ia takutkan, situasi dimana Taeyeon akan tersakiti oleh perbuatannya.

 

 

 

“Maafkan aku.”

 

 

 

“Kau tidak perlu meminta maaf, aku tau itu masa lalumu yang paling kau benci. Tapi bisakah kau tidak menjadikanku seperti boneka?” Dia mengimbuh “Kau datang kedalam hidupku, berpura – pura baik, datang disaat aku begitu hancur dan terluka, kau tahu Sehun? Aku dulu menganggapmu malaikatku. Aku percaya bahwa Tuhan mengirimmu untuk menjagaku, tapi—kau.“

 

 

 

“Cukup sudah, Kau terlalu mempermainkanku dan Luhan. Apa sekarang dendammu sudah terbalaskan? Apa kau puas?”

 

 

 

“Aku sungguh tidak bermaksud menyakitimu.”

 

 

 

Taeyeon membisu, sorot matanya jelas menunjukkan sebuah kekecewaan, Sehun menatapnya penuh sesal. Ini sudah saatnya ia bercerita, mengatakan semua yang ia sembunyikan cukup lama.

 

 

“Dan—“

 

 

 

“Ada lagi?” Potongnya dingin

 

 

 

“Kau hamil. Maaf menyembunyikan hal ini darimu.”

 

 

 

Raut wajah Taeyeon biasa saja, tidak ada keterkejutan dan kekecewaan disana, atau Sehun salah mengartikan ekspresinya. Jujur Sehun sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang ada di fikiran istrinya saat ini, wanitanya itu tak menunjukkan apapun lagi setelahnya.

 

 

 

Sunyi

 

 

 

Lama sekali, Taeyeon diam dengan tatapan sulit diarti dan Sehun menunduk tak berani menatap dua bola mata bening sang istri. Keduanya membisu seakan dikutuk, mereka saat ini tak lebihnya dari pada patung lilin yang dipajang di museum.

 

 

 

“Ada lagi?” Suara Taeyeon memecah keheningan.

 

 

 

Sehun mengangkat kepala, menatap dalam pada sang istri “Tidak ada lagi.” Jawabnya jujur.

 

 

 

“Kalau begitu tidurlah, ini sudah malam.” Perintahnya dan mengambil posisi nyaman di tempatnya. Ia mendongak menatap ubin kamar berwarna putih tulang, lampu krystal berukuran kecil menghias di atasnya. Lampunya padam namun krystal bening berwarna biru tosca masih jelas terlihat dengan cahaya minim dari lampu tidur dimeja nakas.

 

 

 

“Terimakasih.”

 

 

 

Sehun mengkerut, keningnya berlipat – lipat dengan alis saling bertaut heran, apa barusan telinganya tak salah dengar? Istrinya tadi mengatakan terimakasih? Atau ia memang salah dengar?

 

 

 

“Terimakasih.” Taeyeon mengulang, kepalanya masih lurus menatap keatas, matanya memejam dan helaan nafas terdengar setelahnya. Ia menambah “Terimakasih telah jujur padaku, berkatmu aku sadar bahwa membangun sebuah keluarga itu memang sangat sulit. Dulu ibuku pernah berkata bahwa Kejujuran adalah modal utama untuk membangun sebuah keluarga yang harmonis.”

Taeyeon berbalik dan kali ini menatap sang suami yang masih dengan ekspresi heran dan bodohnya “dan kau telah menunjukkannya padaku hari ini Sehun.”

 

 

 

“Aku tidak—“

 

 

 

“Aku tahu kau tidak bermaksud melakukannya, hanya saja aku masih tidak bisa menerima alasanmu memanfaatkanku.”

 

 

“Maaf.”

 

 

 

“Sepertinya Tuhan telah adil padamu sekarang Sehun.” Tangan Taeyeon terulur menyentuh pipi suaminya, “Aku sakit mendengar alasanmu mendekatiku. tapi –“ Sengaja menjeda, Taeyeon mengecup bibir Sehun lembut “Aku bersyukur kini kau mencintaiku dengan tulus. Terimakasih”

 

 

 

Sehun kehabisan kata – kata, hatinya berdetak tidak karuan, suhu tubuhnya memanas tanpa sebab. Wajahnya merah bukan main “Ka- Kau tidak marah?”

 

 

 

“Tidak.”

 

 

 

Apakah ini mimpi? Sehun menampar wajahnya sendiri, berharap bahwa kejadian sekarang ini bukanlah mimpi tidur sialan yang hanyalah sebuah harapan semu, Rasanya sulit ia terima namun ia sadar bahwa ini benar terjadi. Ini bukan mimpi!

 

 

“Bagaimana bisa?”

 

 

“Aku bukan Kim Taeyeon berumur 17 tahun lagi, aku bukan gadis labil yang harus berteriak keras karena pria yang dicintainya mengatakan tentang kebohongannya.”

 

 

 

“Walau kebohongamu tentang Luhan sangat menyakitkan dan meskipun aku ingin sekali membunuhmu sekarang aku tetap harus berfikir dewasa, menyaring maksud serta tujuan dari kebohongan – kebohonganmu.”

 

 

 

“Jika kupikir – pikir kebohonganmu tidak terlalu buruk juga. Tapi tunggu, kenapa kau tidak mengatakan padaku tentang kehamilan?”

 

 

Sehun mematung, “Ah itu..itu.. sebenarnya aku.. aku merasa belum siap saja, aku.. aku tidak pernah terfikir untuk memiliki momongan dan aku—“

 

 

PLAAK

 

 

Eh? Sehun diam dengan rasa nyeri serta panas di pipinya, ia berbalik dan menatap wajah istrinya menyesal. “Aku minta maaf.”

 

 

“Kau ini benar – benar.” Gigi Taeyeon gemeretak, matanya menyorot tajam hidungnya kembang kempis. “untuk apa melakukan itu jika kau tidak siap memiliki anak, dasar beruang kutub jelek, Oh Sehun Aku akan membunuhmu malam ini juga.”

 

 

 

……………………………………

 

 

Pagi menjelang, Taeyeon sudah berkutat di dapur dengan sang ibu. Makanan hasil olahan mereka telah tersaji di meja makan super besar. Beberapa pelayan yang biasanya sibuk ini itu didapur kali ini mereka terlihat jauh lebih sibuk lagi. Sibuk merayu nyonya dan nona muda mereka untuk meninggalkan dapur. Memasrahkan urusan masak memasak pada mereka yang memang adalah pekerjaan wajib mereka setiap hari.

 

 

 

Namun mereka tidak bisa melakukan apa – apa lagi begitu tawaran mereka ditolak mentah – mentah. Sesekali dari mereka akan berebut meletakkan piring atau membantu menuang hasil masakan, menghias meja, menyiapkan peralatan makan dan lain sebagainya.

 

 

 

Sehun turun dengan masih memakai kaos polos dan celana panjang, matanya masih menutup dan rambutnya acak – acakkan, wajahnya bengkak dengan memar merah di kedua pipi. Ada beberapa tanda bekas gigitan di lengan putihnya yang tak tertutup lengan kaos.

 

 

 

Pelayan disana semua kini menatap Sehun heran bukan main, tidak biasanya tuan muda mereka akan turun ke meja makan dengan keadaan berantakan seperti itu, walau mereka baru beberapa kali melihat Oh Sehun tinggal dirumah ini setelah menikah. Mereka selalu bertatap muka dengan Sehun yang sudah berubah bagai seorang model.

 

 

 

Tapi kali ini……

 

 

 

Tiba – tiba mereka cekikikan, otak mereka sepertinya sama – sama mengerti, apalagi setelah melihat ada warna merah bonus cap deretan gigi dilengan sang tuan muda.

 

 

 

“Apa yang kalian tertawakan.”

 

 

 

Hening seketika, mereka menunduk ketika Taeyeon bertanya dengan tatapan tajam menusuk, ditambah lagi ada pisau dapur di tangannya yang jelas seperti alat untuk mengeksekusi mati terpidana.

 

 

 

“Kembali bekerja dan kau Oh Sehun.” Pisau dapur itu mengacung pada Sehun yang baru saja menginjakkan kaki polosnya ke lantai bawah. “Mandi dan ganti pakaianmu.”

 

 

 

Sehun masih setengah sadar, karena semalam ia tidak bisa tidur akibat Taeyeon mengamuk, melemparinya dengan bantal menendang, memukul bahkan menggigitnya seperti predator. Sehun baru bisa bertemu mimpi pukul 3 dini hari, setelah Taeyeon mengusirnya dari tempat tidur. Dengan sadisnya Taeyeon menyuruhnya tidur dilantai dengan hanya beralaskan karpet yang ada di bawah televisi kamar. Tanpa bantal dan selimut.

 

 

 

“Baik.” Jawabnya dengan mata masih menutup

 

 

 

“Pintar.” Pujinya kemudian kembali berkutat didapur. Taeyeon berhenti sejenak ketika barisan pelayan tetap ditempat. “Apa yang kalian tunggu, cepat kembali bekerja.” Perintahnya dan semua langsung berhambur.

 

 

 

Sepertinya nona muda sedang datang bulan!

 

 

 

…………………………………

Sehun begitu tenang menikmati hasil masakan dua wanita berbeda usia pagi ini, pria lain yang duduk d kursi paling besar nampak menyuruh sang istri mengambilkan masakan ini dan itu.

 

 

 

“Cepatlah makan, kau terlalu banyak meminta.” Nyonya Kim mengeluh, ia meletakkan piring penuh makanan tepat didepan sang suami.

 

 

 

“Kau yakin mau bekerja? kau baik – baik saja” Tuan Kim mengabaikan omelan sang istri, sepertinya penampilan sang menantu yang telah rapi dan fashionable lebih menarik untuk di bahas.

 

 

 

“Iya Ayah aku sudah lebih baik, lagipula aku sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaanku.”

 

 

 

Taeyeon berdehem, suara sendok dan garpu bertabrakan dengan piring terdengar keras, sepertinya ia sengaja melakukannya.

 

 

 

“Kalian bertengkar?” Tuan Kim berbisik

 

 

 

“Yah.. sedikit Ayah.” Balasnya ikut berbisik

 

 

 

Tuan Kim mendesah lantas kembali berbisik “Hati – hati, saat marah dia lebih mirip predator dari pada manusia.”

 

 

 

“Aku mendengarmu AYAH.”

 

 

 

Tuan Kim langsung bersiul pura – pura tak tahu, sedang Sehun kembali melanjutkan santapannya.

 

 

 

Drrtt Drrttt Drrttt

 

 

 

Sehun ragu akan mengangkatnya disini atau pergi ke luar sebentar, ini adalah panggilan dari anak buahnya yang ia letakkan untuk mengawasi keadaan Luhan. Sehun menatap istrinya yang dibalas ekspresi garang seperti kata lainnya ‘APA LIHAT – LIHAT?’ dalam hal ini Ayah mertuanya benar.

 

 

 

Sehun memutuskan untuk menerimanya disini, toh Taeyeon sudah tahu jika ia dan Luhan adalah saudara. “Yah, ada apa?”

 

 

 

“……”

 

 

 

“Kapan?”

 

 

 

“………”

 

 

“Baiklah. Terimakasih, tetap jaga Luhan.”

 

 

 

Piip

 

 

 

Semua orang menata Sehun setelah nama orang yang sudah tak asing ia sebutkan. ‘Luhan’

 

 

 

Sehun meletakkan kembali ponselnya, ia mendesah kemudian meminum air putih disampingnya. Begitu habis ia mendesah lagi dan berucap “Luhan telah sadar dari koma.”

 

 

 

……………………………………

 

Atmosfir didalam ruangan ini berbeda dari biasanya, Yoona yang baru selesai mengganti infuse segera ijin keluar untuk mengambil jadwal terapi. Sejenak ia memandangi wanita yang ia ketahui sebagai istri Sehun. namanya Kim Taeyeon jika ia tidak salah ingat. Perempuan itu kini tampak kosong dengan mata berair menatap pada sosok diatas ranjang.

 

 

 

Luhan pun sama, pria itu terlihat tak jauh berbeda, sorot matanya begitu sedih dan putus asa, Yoona ingin bertanya namun ia merasa jika ini tak ada urusan dengannya.

 

 

 

“Aku akan keluar untuk mengambil jadwal.” Pamitnya pada Sehun yang berdiri diambang pintu.

 

 

 

“Baiklah, terimakasih kau sudah bekerja keras.”

 

 

 

“Tidak masalah, ini tugasku, seharusnya aku yang berterimakasih padamu.”

 

 

 

Sehun tersenyum. “Baiklah, aku akan membayar lebih untuk usaha kerasmu ini.”

 

 

 

Yoona tersenyum makin lebar. “Tentu saja. Kau harus”

 

 

 

Sosok Yoona menjauh, semakin menghilang saat melewati belokan, Sehun mendesah kemudian masuk kedalam ruangan.

 

 

 

“Bagaimana perasaanmu Luhan?” Sehun bertanya memecah keheningan antara istrinya dan Luhan. Jujur saja cara menatap Luhan pada Taeyeon sangat mengganggunya.

 

 

 

“Aku merasa kaku sekujur tubuh.” Keluhnya.

 

 

 

Sehun meringis, hatinya merasa aneh mendengar suara Luhan lagi setelah beberapa tahun tak pernah mendengarnya. Penampilan Luhan terlihat jauh berbeda dari terakhir kali ia bertemu, rambutnya agak sedikit panjang. Namun kulitnya terlihat tetap mulus sepeti biasanya.

 

 

 

“Kau akan segera sehat setelah melakukan beberapa terapi otot.”

 

 

 

Luhan mengangguk, tersenyum manis kemudian menatap pada gadis yang masih setia membisu disampingnya.

 

 

 

“Bagaimana kabarmu Taeyeon? Lama tidak bertemu.” Sapanya canggung.

 

 

 

Luhan kembali tersenyum, walau sebenarnya hati dan perasaannya sangat ingin memeluk tubuh gadis dihadapannya, ia sangat merindukannya bahkan rasanya ingin sekali segera bisa sehat untuk menemani hari – hari wanitanya. Ketika bangun untuk pertama kali ia mencari Taeyeon, namun yang ia dapati hanya sosok asing yang baru beberapa jam lalu ia ketahui bernama Im Yoona. Perempuan itu adalah perawatnya selama ia masih koma.

 

 

 

Taeyeon menangis, membuat Luhan sakit dibuatnya. Ia menyesal mengapa ia harus meninggalkan wanitanya dalam waktu yang cukup lama.

 

 

 

“Taeyeon.”

 

 

 

“Jahat, kau jahat Luhan, kenapa kau meninggalkanku tanpa pamit. Kau membuatku ingin segera mati menyusulmu, jahat , kau pria terjahat yang pernah kukenal Luhan.”

 

 

 

Luhan meringis sakit, ketika tubuhnya dipukul bertubi – tubi oleh Taeyeon, ia sebenanya ingin memeluknya namun ia tak bisa , tubuhnya benar – benar mati rasa, semua terasa kaku dan berat untuk digerakkan.

 

 

 

“Aku benar – benar benci padamu.”

 

 

 

Sehun segera bertindak. Ia tahu jika Luhan tidak bisa bergerak, akan sangat bahaya jika tubuh yang hampir lumpuh itu mendapat pukulan bertubi – tubi dari Taeyeon.

 

 

 

“Kau mau membunuhnya?” Sehun menarik Taeyeon dalam dekapannya, istrinya terus terisak sedang Luhan hanya bisa pasrah.

 

 

 

“Ya aku sangat  ingin membunuhnya, saudaramu benar – benar menyebalkan Sehun, aku ingin membunuhnya.”

 

 

 

Luhan mendelik, matanya menatap Sehun bingung. Dia tidak salah dengar bukan saat Taeyeon menyebut Luhan sebagai saudara Sehun?

 

 

 

Sehun menyeringai, ia kemudian memutar balik tubuh Taeyeon untuk menghadap ketubuhnya. Sehun memeluknya erat sedang Taeyeon terisak – isak didalam dekapan Sehun. “Tidak masalah bukan jika aku mengatakan hubungan kita? Lagi pula dia istriku.”

 

 

 

“APA?” Luhan mendelik dengan mulut menganga lebar.

 

 

 

Sehun kembali menyeringai. “Kurasa aku berhutang cerita padamu.”

 

 

 

………………………………….

 

“Dan akhirnya aku dengan Taeyeon menikah. Tamat.” Sehun mengakhiri ceritanya dengan dramatis, sedang Taeyeon disampingnya hanya menunduk tak sanggup bicara.

 

 

 

Luhan diam seribu bahasa, mata sayunya menatap dalam pada wanita disamping Sehun yang tak bersuara sedikitpun. Perasaannya campur aduk, antara senang, sakit, bahagia, tak rela dan tak percaya. Kali ini hatinya benar – benar berdenyut nyeri sekali. Sejenak ia merasa jika perasaannya dulu tidak dianggap penting bagi Taeyeon. Seharusnya jika memang Taeyeon mencintainya ia harusnya menunggu.

 

 

 

Namun sisi hatinya bertolak lagi ketika tahu betapa frustasi dan kehilangannya Taeyeon waktu itu, andai saja ia tidak mengalami kecelakaan dan berakhir koma mungkin saat ini Taeyeon sudah menyandang nama Nyonya Xi bukannya Nyonya Oh.

 

 

 

Hati Luhan bagai teriris, lukanya terlalu parah hingga rasanya Luhan ingin mati, penyesalannya kini tidak berguna lagi. Ia sudah terlambat, Taeyeon sudah bukan hak dan miliknya lagi, perempuan itu kini milik pria lain.

 

 

 

Apa lagi yang bisa dia harapkan sementara cincin ikatan telah melingkar di jari manisnya, cincin itu begitu kokoh dengan batu berlian terjejer membentuk huruf. Luhan meringis, mengulas senyum palsu.

 

 

 

“Kalau begitu selamat, maaf aku tidak datang di acara pernikahan kalian.” Luhan bersungguh – sungguh.

 

 

“Terimakasih kuharap kau tak menjadi bayang – bayang istriku.” Ucap Sehun blak – blakan.

 

 

 

Luhan berdecak “Tidak akan, aku cukup tahu diri Tuan Oh.” Balasnya sarkastik

 

 

 

“Baguslah kalau begitu.”

 

 

Luhan mendengus kemudian menatap Taeyeon, kemudian mengulurkan tangannya “Selamat.”

 

 

Taeyeon mendongak air mukanya datar, bibirnya mengatup hanya seulas senyum tipis yang ia berikan. “Terimakasih.” Jawabnya pelan.

 

 

 

Sehun berdehem. “Well.. aku akan bicara secara jelas mulai sekarang, Taeyeon adalah istriku dia telah mengandung anakku dan kau Xi Luhan jangan lagi mengharapkan apapun darinya. Paham.” Sehun memandang Taeyeon yang saat itu juga memandangnya.

 

 

 

“Dan untukmu istriku, kuharap kau sadar posisimu saat ini.” Sehun menjeda, menatap nyalang pada Luhan “Kuharap kau tidak kalah dengan perasaan lamamu pada pria lemah ini.” Lanjutnya tanpa menatap Taeyeon.

 

 

 

“Apa kalian berdua keberatan?” Tanyanya kembali namun kini beralih menatap Taeyeon secara langsung. Wajahnya benar – benar menahan emosi namun Sehun tetap menunjukkan sikap tenangnya.

 

 

 

“Aku tidak keberatan.” Taeyeon menyahut, mengulas senyum tulus.

 

 

 

“Bagus.” Sehun mengusap pelan kepala Taeyeon. “Sepertinya ada yang masih keberatan.” Sindirnya lantas menatap tajam pada Luhan.

 

 

 

“Aku tidak keberatan.” Sahut Luhan pada akhirnya, jujur sebenarnya ia masih sangat amat keberatan. Tapi apalagi yang bisa ia katakan? Semua jawabannya jelas mengarah pada sebuah keikhlasan hati untuk melepas. Dan Luhan harus rela melepaskan jantung hatinya.

 

 

 

“Aku rela melepasnya untukmu Sehun.”

 

 

 

Sehun tersenyum penuh kemenangan. “Baguslah, akhirnya kau bisa mengalah.”

 

 

 

“Bukankah aku memang selalu mengalah padamu?”

 

 

 

“Hey Tuan Xi apa otakmu mulai bermasalah? Sejak kapan kau mengalah padaku? Faktanya akulah yang lebih sering mengalah padamu.”

 

 

 

Luhan berdecak. “ya ya ya terserah, aku harus segera melakukan terapi kau pulanglah, aku mau melatih otot.” Usirnya ketika melihat sosok Yoona masuk dengan selembar kertas ditangannya.

 

 

 

“Ck.. Baiklah, cepatlah sembuh, kau merepotkan banyak orang.” Sehun pamit dan menarik Taeyeon keluar ruangan. Tentunya setelah berpamitan juga dengan Perawat Im.

 

 

 

Sepeninggal keduanya Luhan hanya diam membisu, tidak terlalu merespon apapun yang dikatakan perawat Im padanya, hanya sesekali Luhan menjawab itupun Cuma sekenanya saja.

 

 

 

“Dengar Xi Luhan, aku tidak tau menau apa masalah kalian, yang jelas sekarang ini yang kutahu kau harus melatih otot agar segera sehat dan aku bisa segera berlibur” Omel Yoona yang mulai jengah dengan sikap Luhan.

 

 

 

“Maaf aku tidak bermaksud mengabaikanmu.” Luhan menjawab menyesal

 

 

 

“Ya terserah, sekarang kita harus segera keruang terapi, Dokter sudah menunggu disana.” Ucapnya masih kesal.

 

 

 

“Maaf Nona Im, aku membuatmu marah.”

 

 

 

Yoona mendesah disela kegiatannya “Tidak apa, mungkin aku saja yang tidak mengerti situasi.”

 

 

 

“Maaf.”

 

 

 

Luhan benar – benar menyesal, ia kemudian hanya diam, tidak mengatakan sepatah katapun, sepanjang koridorpun keduanya diam membisu hingga sampai diruangan yang ditujunya.

 

………………………………………

Taeyeon hanya diam membisu, sejak keluar dari rumah sakit sampai sekarang gadis itu belum membuka mulut. Sehun mendesah menatap wajah Taeyeon yang melengos menatap jalanan. Hatinya serasa mencelos mendapati istrinya tidak berkomentar apapun.

 

 

 

Sebenarnya Sehun sangat penasaran apa yang saat ini difikirkan istrinya tentang Luhan, sedikit banyak ada rasa khawatir akan perasaan Taeyeon yang bisa saja tumbuh kembali setelah pertemuan dengan Luhan terjadi. Fakta itu terus membayang – bayangi Sehun bagai kaset rusak sejak tadi.

 

 

 

“Kau tetap tidak akan bicara?” nada Sehun jelas terdengar sangat kesal, namun Taeyeon hanya menjawab dengan gelengan kepalanya yang masih saja setia menatap jalanan kota.

 

 

 

Sehun menggeram, membanting setir kekanan jalan cukup keras. “Aku tidak menuntut apapun, katakan padaku apa yang akan terjadi setelah ini.” Geramnya marah.

 

 

 

Dada Taeyeon naik turun, jantungnya hampir saja copot ketika Sehun membanting setir kemudi, hingga tubuhnya ikut menyerong dan terbentur cukup keras.

 

 

 

“Jangan hanya diam, kenapa kau tidak mengatakan apapun setelah bertemu Luhan? Apa kau akan kembali padanya? Jawab aku.”

 

 

 

Iris mata Taeyeon membola, terkejut bukan main dengan pertanyaan Sehun yang dilayangkan padanya secara bertubi – tubi.

 

 

“Jawab aku? Apa susahnya? Iya atau tidak.”

 

 

 

“Untuk apa aku kembali padanya?” Taeyeon menyahut emosi “Aku tidak pernah berfikir untuk kembali, aku diam karena aku masih terkejut dengan kenyataan yang baru kuketahui. Apa susahnya bagimu membiarkan aku diam sebentar. Aku ingin membiasakan situasi ini. Ini sangat mengejutkan kau tahu itu.” Taeyeon mengakhirinya dengan nafas memburu, wajahnya merah bukan main.

 

 

 

“Aku bahkan ingin mati rasanya, kepalaku mau pecah memikirkan betapa besarnya dampak atas kebohonganmu padaku Sehun.” Imbuhnya

 

 

 

“Maafkan aku.”

 

 

 

“Aku sudah berusaha tidak memikirkan kebohonganmu, hanya saja kenapa kebohonganmu tentang Luhan dan Kehamilanku ini terasa begitu menyakitkan, kau tahu apa hah? Kau tahu apa dengan perasaanku sekarang?”

 

 

 

Sehun memeluk tubuh istrinya erat, ia sangat menyesal telah membohonginya selama ini ditambah lagi tadi ia yang membentak istrinya karena rasa cemburunya yang teramat tinggi.

 

 

 

“Aku wanita Sehun, aku wanita yang juga ingin bahagia saat suamiku mengatakan bahwa aku hamil, tapi apa yang kau lakukan? Kau tidak siap untuk menjadi seorang Ayah? Kau fikir bagaimana hatiku bisa bertahan mendengar alasanmu yang sangat konyol?”

 

 

 

“Kau kira bagaimana bisa aku memaafkan seorang lelaki yang tidak mau kedatangan seorang anak? Dia anakmu Sehun, kenapa kau tak mempercayainya?”

 

 

 

“Maafkan aku, aku menyesal, aku sangat menyesal, aku benar – benar menyesal. Maaf.”

 

 

 

“Kau benar –benar laki – laki brengsek.”

 

 

 

“Aku sungguh minta maaf.”

 

 

 

“Kau bajingan.”

 

 

 

Sehun tak membantah, hinaan – hinaan itu jelas pantas ia terima. “Pukul aku sampai kau puas.”

 

 

 

Taeyeon tak menggubris ia masih setia menangis didada bidang suaminya, meraung – raung menumpahkan kesedihan serta kekecewaan yang mendalam atas tindakan Sehun.

 

 

 

“Bunuh aku agar kau puas.”

 

 

 

Taeyeon langsung meninju perut Sehun hingga sang empu meringis kesakitan. dan detik itupun tangisnya berhenti tergantikan dengan sebuah tatapan tajam membunuh.

 

 

 

“BODOH! Kau fikir aku mau jadi janda dan masuk penjara karena membunuh suaminya sendiri. Kau kira aku mau menyia nyiakan wajah cantikku ini di penjara?”

 

 

 

Sehun melongo dengan rahangnya yang jatuh. “Apa—“

 

 

“Aku memang marah tapi bukan berarti aku akan membunuhmu. Bagaimanapun kau tetap suamiku, sebrengsek dan sebajingan apapun kau, kau tetap suamiku. Tadi itu aku hanya ingin menumpahkan kemarahnku hanya itu.”

 

 

 

“Eh?—“

 

 

 

“Sekarang aku sudah puas, sekarang cepat belikan aku makan, aku mulai lapar.”

 

 

 

Sehun masih mematung dengan beribu – ribu pertanyaan dengan sikap istrinya barusan yang aneh, menyebalkan, menakutkan sekaligus menjengkelkan.

 

 

 

“Kau baik – baik saja?”

 

 

 

Taeyeon menatap garang pada wajah Sehun. “Kau fikir aku kelainan jiwa, dasar otak udang cepat belikan aku makanan aku lapar.”

 

 

 

……………………………….

 

 

“Itu hal biasa Sehun, istrimu itu pasti sedang terkena mood swing.”

 

 

 

Sehun membeo “Mood Swing?”

 

 

 

Nyonya Kim mengangguk “Sifat yang berubah – ubah setiap waktu. Tergantung suasana hati dan perasaannya.”

 

 

 

Sehun mengangguk, beberapa jam lalu Sehun sudah mengabari tentang kehamilan Taeyeon, mertuanya itu langsung heboh mendengarnya, bahkan Tuan Kim membatalkan rapat pentingnya hanya untuk menemani Sehun mencari makanan yang diinginkan Taeyeon. Ayah mertuanya beralasan ingin memberi contoh sebab dulu Ibu mertuanya juga mengalami ngidam yang sangat aneh hampir sama dengan Taeyeon saat ini. Dengan kata lain Ayah mertuanya itu ingin memberi private khusus cara melayani permintaan istri yang sedang ngidam. Kreatif sekali bukan?

 

 

 

“Kurasa kau harus bersiap menghadapi mood istrimu yang berubah – ubah.”

 

 

 

“Yah.. agak menyusahkan tapi rasanya cukup menyenangkan.”

 

 

 

Tuan Kim tertawa mendengar penuturan Sehun. “Kau benar sekali, rasanya memang sangat merepotkan tapi juga sangat menyenangkan.”

 

 

 

Ketiganya tertawa kembali sampai pada akhirnya suara Taeyeon menggema dari lantai atas.

 

 

 

“OH SEHUN KAU APAKAN SOSISKU.”

 

 

 

Tuan Kim dan Sehun saling memandang, “Ayah kita tadi tidak salah membeli kan?” tanyanya ragu.

 

 

 

“Bukannya tadi istrimu meminta sosis asin?”

 

 

 

Sehun melongo “Ayah mati aku.” Bagaimana tidak? Taeyeon jelas menyuruhnya membeli sosis pedas manis tadi Sehun ingin membelinya sendiri sebelum Ayah mertuanya dengan yakinnya menuju meja kasir dan memesannya.

 

 

 

Nyonya Kim yang tidak paham langsung buka suara “Memangnya tadi siapa yang membeli sosisnya?”

 

 

 

“Ayah yang beli.”

 

 

 

Tuan Kim nyengir kuda sedang Sehun langsung berlari tunggang langgang ke lantai atas.

sepertinya cerita rumah tangga Sehun dan Taeyeon yang sebenarnya dimulai dari sekarang…..

 

 

 

……………………………………

 

Luhan tersenyum makin lebar, perawat pribadinya begitu asik berbincang dengan sahabatnya. Ada rasa hangat didalam hatinya begitu tawa perempuan itu terekam oleh retinanya.

 

 

 

Bahkan baru 3 hari ia mengenal perempuan itu sesuatu yang berdetak tak karuan disertai rasa aneh kembali ia rasakan.

 

 

 

Pada awalnya Luhan tidak berani mengambilnya sebagai sebuah rasa suka, namun semakin lama perasaan itu semakin menjadi tiap kali ia berhadapan langsung dengannya. secepat itukah hatinya melupakan Taeyeon? dan Luhan hanya menggeleng. ia pasrah dan menyerahkan jalannya pada sang pencipta.

 

 

 

Luhan mendesah, kemudian menyentuh lehernya yang terikat sebuah kalung dengan liontin mungil berbentuk huruf J . ini adalah kalung adiknya. Yah.. Jessica 2 hari lalu tiba – tiba muncul bersama dua orang polisi. Luhan yang jelas tidak tahu menahu hanya diam menatap adiknya yang menangis memohon maafnya.

 

 

 

Setelah salah satu polisi itu menjelaskan apa maksud dan tujuannya barulah Luhan mengerti, kasus kematian ibu kandung Sehun benar – benar mengejutkannya. Fakta yang terbaru bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya sendiri ternyata Jessicalah dalangnya.

 

 

 

Luhan benar – benar tidak tahu harus bersikap seperti apa, karena setelah pengobatan yang ia jalani selesai maka ia akan dijadikan saksi untuk memberi keterangan mengenai kecelakaan yang ia alami. Sekaligus diperiksa apakah ia terlibat atau tidak atas kematian Ibu Sehun.

 

 

 

Luhan mendesah.

 

 

 

Kepalanya terasa berdenyut setelah mengetahui hal yang jauh di luar akalnya. Tentang ‘LAY’ ia rasanya sungguh tak bisa mempercayai jika Lay sanggup melakukan hal – hal kejam seperti itu.

 

 

 

Membunuh Ibu kandung Luhan. Dan lebih kejamnya Lay pernah menjual ibu Luhan untuk menjadi seorang p****r tidak sampai disitu Jessica bahkan dijadikan sandera dan diperkosa berkali – kali. Luhan marah? Tentu saja bahkan ia ingin sekali membunuh Lay dengan tangannya sendiri

 

 

Sayang sekali Lay saat ini berada di Rumah Sakit Jiwa dia dinyatakan menderita gangguan kejiwaan parah. dan Luhan hanya bisa berpuas diri menahan semua rasa amarahnya didalam hati.

 

 

 

“Hah..” desahan itu keluar begitu pasrah.

Kenapa masalah ini begitu rumit dan menyakitkan. Apa memang begini takdir keluarganya dengan Keluarga Sehun.

 

 

 

“LUHAN.”

Lamunanya pecah, ia menoleh kearah pintu. Sosok manusia yang sangat ia hormati berdiri disana dengan senyum kebahagiaan terpatri diwajahnya. Dia adalah keluarganya, ayahnya . Tuan Xi

 

 

 

“Ayah.”

 

 

 

“Putraku.”

 

 

 

Kedua pria itu berpelukan sangat erat, tak lupa Nyonya Xi juga ikut memeluk sang putra kesayangannya yang menghilang cukup lama.

 

 

Hari itu Luhan menangis tanpa henti, perasaannya sungguh bahagia. Walau keluarganya baru datang setelah 3 hari Luhan sadar ia tak masalah, ia tahu jika keluarganya pasti baru mendengar kabar. Sehun mengatakn padanya kemarin jika ia baru bisa menghubungi Tuan Xi setelah mencoba berkali – kali. Ayah angkatnya itu baru kembali dari singapure kemarin.

 

 

Jika sudah begini bolehkan Luhan merasa dunia hanya miliknya? Semua begitu nyata dengan kebagiaan. Ia tidak perduli jika besok atau lusa kesedihan datang padanya secara bertubi – tubi. Saat ini ia hanya ingin merasakan kehangatan keluarganya. Hanya itu.

 

 

 

Masalahnya? Ia akan memikirkannya nanti……….

yang penting hari ini ia ingin menghabiskan waktunya bersama keluarga kecil tercintanya.

 

END

jangan tanya kenapa ff ini endingnya gantung kayak jemuran baju :v karena author sendiri tidak tahu jawabannya. emang sengaja dibikin begini :v . alasannya juga gak tahu :v lol
pokoknya tebak sendiri dah gimana akhirnya. karena udah ada bocorannya :v

nasib jessica? Hubungan Sehun dan Baekhyun atau Luhan dengan Yoona. kalian pasti sudah bisa menebaknya :v lol *ditimpukReader.

Sampai jumpa… terimakasih untuk dukungan kalian selama ini
Love You all…… ❤ ❤ ❤

Advertisements

78 comments on “ZUIVER / Chapter 11 (Last)

  1. Intinya sih selama endingnya huntae atau lutae saya sih fine fine aja wkqkwkqk.. Ganyangka bakalan end. Trimakasih thor zuiver masuk list ff favorite saya selama ini wkwk, ditunggu ff lainnya dengan karakter mereka bertig. Fighting^^

    • wah terimakasih kembali. ^^
      senangnya ff ku bisa masuk list faforitmu beb. :v
      btw.. terimakasih untuk selalu bersedia meluangkan waktu, membaca dan meninggalkan comment di ff ini . ^^

  2. Agak gk rela sih klo endingnya SeYeon, soalnya pengennya LuTae, kasian luhan, pdhl kyknya Luhan sm Tae masih punya perasaan 1 sm lain,,
    ya udh lah, ditunggu ff mu yg lainnya thor..
    Fighting

  3. Hahaha…. Entah kenapa rasanya pengen ngakak terus pas scene taeyeon sehun yg terakhir. Akhirnya semua udah terungkap meskipun berasa masih ada yg kurang, tapi makasih untuk author yg udah susah payah bikin cerita ini.. Ditunggu next ff nya

  4. wuaaaaaaa
    Daebakkkk
    ngga bisa berkata-kata
    cuma bisa melongoooo
    👍👍👍👍👍👍👍
    fighting

  5. wuaaaaaaa
    Daebakkkk
    ngga bisa berkata-kata
    cuma bisa melongoooo
    👍👍👍👍👍👍👍
    fightingggg

  6. kerennnnnn
    Makasih thor udh rela relain ngetik sepanjang iniiiiiii
    Favorite aku chapter ini dr semuachapteryg adaa
    Disini semua jadij jelas, hebat bgt taeyeon nyikapinnya dengan kedewasaan, wlaau ada mood swing ja
    Hohoo
    Good job thorrrr

  7. ff favorite sdh tamat😍😍😍😍😍😍
    Daebakk endingnyaaa 😂😂😂😂😂😂😂
    Jelass aku sukaaa wkwk
    SeYeon❤❤❤
    Ditunggu ff yg lainnya thorrr 😘😘😘😘😘😘😘

  8. eiyyyy kenapaaaa endingg gak relaaaaa … kan masih mau liat season masa ngidamnya taeyeon huhuhu jangan end duluuu sequellll juseyooooo… seyeon jjang 😍😍😍😍😍😍😍 author i love youuuu woaini 💝💝💝💝

  9. akhirnya semua berakhir bahagia /? walau rada gantung di akhir. ngakak pas scene seyeon kelakuan mereka gemesin banget ahaha dikira taeyeon bakal ninggalin sehun, ternyata masih setia hihi luhan sama yoona aja, cocok ko. need sequel buat rumah tangga seyeon sama anaknya nanti hihihi next ff ditunggu 🙂

    • squell nanti kupikir2 lagi ya beb ^^ rada’ nganu (?) mau ngetik lagi. :v
      terimakasih untuk selalu bersedia meluangkan waktu, membaca dan meninggalkan comment di ff ini . ^^

  10. agak ga rela gimana gitu ya jafi endingnya seyeon,soalnya dari awal sih bisa berharap lutae nnt dan luhan disini kaya cuma peran pembantu aja ya yg numpang nama doang soalnya munculnya cuma di awal” aja dan muncul lagi di akhir dengan keadaan fisik dan hati ga fit.. poor luhan kasian jadinya,.
    semangat athor kami tunggu ff kamu ya lainnya,.

    • hmm.. iya sih. saya kan cuma menuruti para reader. kemarin saya buat lutae ternyata banyak yg lebih pro ke setae. :v
      btw..terimakasih untuk selalu bersedia meluangkan waktu, membaca dan meninggalkan comment di ff ini . ^^

  11. apa uda end?????
    padahal masih berharap moment seyeon…
    ini keren bgd, wlopun sedikit gantung tapi seneng krn semua bahagia…
    seyeon dg kluarga kecil mreka, dan luhan yg kyaknya ada cinta baru am yoona..
    berharap author berbaik hati ngasih sequel…
    dtguu karya2 daebak lainnya saeng,,,
    fightaeng!!!!

    • squell biar difikir sambil makan ya entar beb :v lol.
      terimakasih untuk selalu bersedia meluangkan waktu, membaca dan meninggalkan comment di ff ini . ^^

    • eh? kecepetan? O.O dimananya kecepetan beb? .
      btw….terimakasih untuk selalu bersedia meluangkan waktu, membaca dan meninggalkan comment di ff ini . ^^

  12. syukur deh Sehun sm Taeyeon. sempet khawatir Taeyeon balik ke Luhan kan kasian sehuuuun
    keren kok thor.
    kalo berniat bikin sekuel boleh loh thor ^^

    • squelnya entar difikir sambil berjalan deh :v
      btw…terimakasih untuk selalu bersedia meluangkan waktu, membaca dan meninggalkan comment di ff ini . ^^

  13. boo?? panggilannya taeny thorr. Kasian sama luhan,, sehun agak nyebelin disini tapi daebakk thor, sehun hebat bisa bikin taeng hamil, kalo sehun belom siap jd ayah bayinya taeng saya siap thorr wkwkkk #digamparpany #fangirlgila wkwwwk

    • ya gpp lah beb. minjem beberapa detik doang :v lol *DihajarLs
      lol :v iya dah. entar gua yang buat akte kelahirannya :v lol
      btw….terimakasih untuk selalu bersedia meluangkan waktu, membaca dan meninggalkan comment di ff ini . ^^

  14. Aaahhh akhirnya happyyy ending jugaaa.
    Tapi sebelum happy ending lada dibuat baper dulu yaa,kekekeke.
    Apalgi pas luhan taeyeon sehun,sehun lay,adduuhh bikin mewek paraaahh ni.
    Sequel dong chingu^^

    • *sodorin tisu
      :v
      squel entar nunggu avatar berubah jadi dragon ball beb :v lol *bercanda
      iya entar ku fikir lagi. ^^
      btw…terimakasih untuk selalu bersedia meluangkan waktu, membaca dan meninggalkan comment di ff ini . ^^

  15. Sequel juseyooo
    Chapter ini banyak lucunyaa terutama pas sehun bilang mati aku ㅋㅋ
    Bikinin ff laen yg pairingnya SeYeon dong thor
    Bagus banget ff yang dibuat sama authornim
    Update soon thor
    Hwaitaeng!!

  16. hah baru liat kalo ff ini diupdate author dan yeah..ending. baekhyun merana bgt ya thor diawal begitu, kesian sehun ttg kenyatan pahit kakaknya. konfliknnnya cetar bgt thor, hehe luhan yg akhirnya ditemuin terus udh bangun dri koma, astagah itu akhirnya sama Yoona kan ya? hehe taeyeon berubah jadi ibu2 rempong deh haha ketawa aja gitu liat sehun haha. oke thor dinantikan lgi karya ff author yg lain, semangat buat tugas kuliahnya. FIGHTING!!

    • wkwkwk.. makasih ya beb. commentanmu termasuk paling panjang di chapter ini :V lol. hahahahaha *iniserius
      btw.. terimakasih untuk selalu bersedia meluangkan waktu, membaca dan meninggalkan comment di ff ini . ^^

  17. Sneng bgt smya berakhir dengan bhagia.
    Taeyeon akhirx tau lok dia lg hmil.
    Luhan yang ydah sadar dr tidur panjangx.
    Serta lay dan jessica yg hrus nerima kinsekuensi dr perbuatan mereka.

  18. Udah end? Sedih waktu dibagian lay masuk rsj dan sehun masih peduli ,thor gk niat bikin sequel nih? Dan akhirnya end nya itu HunTae dan happy ending>< ditungu karya selanjutnya thor Fightaeng!

    • gak ada niat beb *sumpah :V
      *becanda entar deh ya diriku fikirkan. :V
      btw..terimakasih untuk selalu bersedia meluangkan waktu, membaca dan meninggalkan comment di ff ini . ^^

  19. Gk tau harus bilang apa pokoknya ff nya keren bangetttt
    Akhirnya semua masalah sdh selesai
    Plisss thor buat Sequel ff nya soalnya pengen liat gimana kalo taeyeon ama sehun udh punya anak
    Ditunggu ff lainya
    Fighting thorr

    • di family perfection ada contohnya beb :V
      yah kurang lebih seperti itulah kalo mereka punya anak.
      btw..terimakasih untuk selalu bersedia meluangkan waktu, membaca dan meninggalkan comment di ff ini . ^^

  20. sedih ff ini harus berakhir..
    ini salah satu ff favorit aku..
    tp senang jg akhirnya ttp huntae..
    mgkn habis ini aku jd berfantasi sendiri gmna khdupan rumah tangga huntae, gmna luhan n yoona jadian..
    gmna dgn tiffany, baekhyun, jessica.. hehe
    Pokonya makasih banyak buat author nim, aku suka bgt pairingnya HunTae..
    Semangatt terus yaa thor!!
    next time mgkn bisa bkin sequel atau bkin ff huntae yg lain hehe
    Gomawoo!!

    • wahhh.. makasih ff absurdku masuk list faforitmu beb. :V
      squelnya entar aku pertimbangkan dulu beb :V *ceilehh
      btw..terimakasih untuk selalu bersedia meluangkan waktu, membaca dan meninggalkan comment di ff ini . ^^

  21. Akhirnya tamat juga,di kirain taeyeon bakal menjauhi sehun krn sehun bohong,pengen deh ad sequelnya soalnya kan taeyeon lg mengandung anaknya sehun wkwk jdi kayanya bagus deh klo ad seqeul nya btw di tunggu next project nya ,keep writing & imagine! FIGHTING!

    • wkwk… love you too berat (?) beb :V
      iya pasti itu :V tangan saya kan selalu gatel (?) kalo gak ngetik *abaikanIni
      btw..terimakasih untuk selalu bersedia meluangkan waktu, membaca dan meninggalkan comment di ff ini . ^^

  22. wihhhh daebak!!! keren thor!!!! udah lama nggk update
    cerita emang gantung tapi kayak nya happy ending walaupun ada kesedihan sedikit
    ditunggu karya yang lainnya thor!!! semangat

  23. Aaaaaaww seyeon so sweeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeettt;—;
    Taeng so sweet banget;-;
    Lay-jessica kalu diitung2 dosa nya banyak ya/?
    Kasian luhan ditinggal mantan nikah/?😂😂😂😂😂😂
    Aaaaaah sayang uda endd😭 padahal kayanya seru kalo liat sehun dikerjain taeyeon/?😂😂
    Great lah thorrrrr❤❤❤
    Ff lainnya ditungguuuu banget
    Keep writing ya, fightaeng💪💪

  24. waaaaaahhhhh…. sekian lama ga buka ff ini pas tau ternyata udah update ..
    its very very best story ever panjang dan keren banget deh ..
    hihi inginnya ada squel haha
    best best ganbate for new story ya ❤ ❤ gomawo

  25. Daebak banget thor!! ^^
    Akhirnya ff ini selesai..
    Mian baru sempet baca + comment.. Lagi sibuk juga:3
    Akhirnya mreka bahagia.. Wlau masalah belum slesai:3
    Dtnggu ff slanjutnya!! Fighting!!^^

  26. ngakak sumpah bas baca akhir ni cerita
    kasihan uri sehunie 😦
    tapi gapapa semua berakhir bahagia
    awalnya bingung lutae apa seyeon
    gak taunya seyeon wkwkwk
    di buati sequel dong eonni
    nanggung ni kasihan kisah cinta luhanie nggatung kayak jemuran 🙂
    ditunggu ff yang lain hwaiting !! 😀

  27. agak sedih sih Luhan ga sama Taeyeon,,
    Terimakasih Author telah membuat ff mengharukan ini.. Ceritanya bagus bgt bak drama korea.
    Nyesel deh ga dari dulu aja baca di ATSIT, (padahal fans hardcore Taeyeon) ceritanya bagus2. Biasanya baca AFF.
    Berharap author bikin sequel ni ff tp Lutae endingnya hehe..

  28. ALLHAMDULILAH AKHIRNYA KESAYANGAN KU, SEHUN TAEYEON MENYATU DI FF INI HEHEHE, BIKIN SEQUEL DONG THOR TENTANG RUMAH TANGGA SEHUN, ATAU BIKIN FF SEYEON LAGI,ZUIVER THE BEST DEH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s