[FREELANCE] Moonlight (Chapter 8)

moonlight

[Freelance] Moonlight Chapter 8

Author: Alicya V Haiyeon

Rating: PG-16

Lenght: Multichapter

Genre: School Life, Romance, Family

Main Cast: Kim Taeyeon

Xi Luhan

Support Cast: Temukan sendiri.

Disclaimer:

This is just a FanFiction. All the cast it’s belong to God, them selves and the parents.

Please, don’t be a Plagiator.

Author Note:

Jika ada kesalahan, mohon komentarnya. Karna komentar anda semua yang bisa menentukan

FF ini dilanjut atau berhenti di tengah jalan. Typo dimana-mana. Thankyou.

Preview: Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5, Chapter 6, Chapter 7

***

 

Pagi menjelang, kembali menyapa hangatnya peraduan bumi dan matahari. Musim gugur masih saja enggan meninggalkan kota Seoul, entahlah, sepertinya musim gugur sangat menyukai kota itu sampai saat ini, musim itu masih saja sibuk mendinginkan kota Seoul. Pukul 7 pagi dengan matahari yang berusaha muncul dan menjalankan tugasnya pun sama sekali tak membuat hangat dan enggan menyapa yeojja yang tengah terdiam menatap gazeboo kamarnya. Terlihat jelas bahwa pikirannya berkelana meninggalkan raganya, yeojja itu sibuk dengan pandangan kosong mengarah kedepan.

Hingga helaan nafas berat mengalun keluar dari mulutnya, ini hari kedua. Sudah dua hari ia berada di rumah dan itu tandanya sudah 2 hari pula ia meninggalkan rumah sakit. Taeyeon, yah yeojja dengan sweter putih nya itu terus terdiam bak patung selama 2 hari ini. Mencerna dengan jelas apa yang baru saja ia alami. Bagaimana bisa semua terasa bagai mimpi di malam yang panjang baginya? Ah ayolah taeyeon, kau sepenuhnya sadar, berhenti menyalahkan mimpi.

4 hari berlalu semenjak terakhir kali ia bertemu Luhan, pertemuan terakhir dengan Luhan saat ia akan mencoba bunuh diri. Hati nyeri dan mengahangat seketika ketika menyadari Luhan lah yang membatalkan niatnya, dan nyeri saat sadar ia bunuh diri karna takut di benci luhan. Terdengar melakonis bukan?

Taeyeon terus meyakinkan dirinya jika ia tidak salah, dan yang menabrak mobil itu appa tirinya, bukan appa kandungnya dan itu kecelakaan. Bagaimana bisa Luhan membencinya hanya karna lelucon menggerikan itu? Berpuluh kali taeyeon meyakinkah diri, berpuluh kali pula bayangan tentang ia yang merengek mengajak ayahnya untuk pergi ke bukit perbatasan kota untuk melihat bulan hingga mobil yang ia tumpangi menabrak mobil yang oppanya bilang ayahnya luhan, taeyeon bahkan tak tau jika yang ada di dalam mobil itu ayahnya Luhan, dan berpuluh kali pula bayangan luhan yang menangis malam itu karna masih tak rela appanya pergi meninggalkannya menyapa ingatan taeyeon.

Sampai 2 hari yang lalu taeyeon masih meyakinkan dirinya jika ia tak bersalah, yang menabrak itu ayahnya kibum oppa bukan ayah kandungnya dan ia tak tau soal ayah luhan. Jadi kemungkinan besar Luhan tak akan membencinya, namun nyatanya. Semuanya berbalik saat ia baru saja menginjakkan kakinya di rumahnya yang besar ini, tepat 2 hari yang lalu. Hari terburuk di kehidupan taeyeon, ah bukan hari pertama dimulainya kembali kehidupan dingin dan kaku seorang kim taeyeon…

 

*flashback*

 

“turunlah taeyeon-ssi, kibum sudah menunggu mu kurasa!”

Taeyeon hanya mengangguk pelan dan melepas setbelt nya tanpa banyak berbicara. Bahkan pria yang berada di sampingnya pun hanya menghela nafas pelan berusaha untuk memahami sikap taeyeon, yah siapa lagi kalau bukan Kim Heechul.

Percayalah bahwa sepanjang jalan Heechul merasa bahwa ia tengah berjalan dan sampai di kuburan, dimana tak ada siapapun yang berbicara dengannya, sangat sunyi, dan detik berikutnya ia merasa telah sampai di kutub utara saat beberapa pertanyaan ringan seperti ‘apa kabarmu?’ ‘bagaimana harimu?’ ‘kau berharap oppamu yang datang’ dijawab dengan sangat dingin oleh taeyeon. Seperti ‘kau bertanya kabar pada seseorang yang baru saja keluar dari rumah sakit’ ‘kau tak bisa melihat raut wajahku?’ dan yang terakhir ‘aku lebih suka diam di rumah sakit lebih lama lagi’ membuat heechul menutup rapat mulutnya hingga sampai di depan rumah kedua kakak beradik itu.

Jika heechul bukan sahabat yang baik kibum ia sudah yakin bahwa taeyeon akan ia turunkan di jalanan karna membuat emosi nya hampir saja meledak. Dan lagi, kenapa harus ia yang menjemput taeyeon? Kenapa kibum selalu sibuk dengan meeting dadakan kantor yang tak bisa ia tinggalkan itu? Ah ini benar benar membuatnya gila. Kalau tau menjadi pengangguran bebas sepertinya akan jadi sopir dadakan sahabatnya, jauh lebih baik jika ia menerima tawaran appanya untuk bekerja menjadi CEO.

Heechul mencoba memapah taeyeon saat dengan pelannya tangan heechul yang hendak merangkulnya, ah ayolah… taeyeon masih lemah sekarang, berusaha meraih bahu taeyeon ditolak dengan mentah mentah oleh taeyeon.

“arraseo arrseo, lakukan apapun yang kau mau! Aku bosan! Kenapa kalian begitu mirip? Ahh na jinjja michigettta!!!”

Dengan kesal, heechul melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah itu berjalan dengan santainya ke dalam ruangan yang terletak di sudut sana, tentu saja ia hapal ruangan itu sangat hafal malah. Dan langsung membuka pintunya tanpa menutup rapat pintu itu dengan wajah cemberutnya.

“woahhh daebak! Aku hampir saja menelantarkan adik kesayangan mu itu” celotehnya saat ia melihat wajah kusut Kibum di balik meja kerjanya.

“apa taeyeon baik-baik saja?”

Seketika wajah heechul kembali berubah masam saat ingat jawaban dingin taeyeon “ah molla, kau tanya saja padanya! Bukankah kau belum menemuinya? Aku rasa kau terakhir kali menemuinya beberapa hari yang lalu, saat kau bilang untuk menjauhi pria cantik itu”

Kibum menatap heechul lelah, dan membalikkan kertas yang baru saja ia bukak “aku takut ia semakin membenciku! Kau tau, sikapku padanya saat itu benar benar membuat luka yang dalam padanya kuarasa, hingga ia tak percaya bahwa….”

“pria bodoh di hadapanku ini menyangi adiknya yang juga sama bodohnya itu melebihi apapun di dunia ini tapi karna permintaan ayahmu yang menyuruhmu berbuat jahat padanya agar semua orang di dunia percaya kalau taeyeon yang bukan anak haram keluarga kim itu, benar benar anak haramnya agar ayah kandung taeyeon yang jahat itu, yang membunuh ibunya dan juga ibumu itu, tidak mencari taeyeon untuk dibunuh juga dan ternyata, usaha mu berbuat jahat padanya gagal karna pada akhirnya ayahnya yang jahat itu mengetahui keberadaannya, belum lagi……” ucapan panjang lebar heechul berhenti saat kibum memotongnya dengan tatapan lelah dan suara yang nyaris terdengar seperti lirihan

“keumanhae heechul-ah”

Heechul tersenyum sinis dan tertawa pelan di detik berikutnya “keumanhae? Yah kau takut adik kesayangan mu itu mendengarnya? Percayalah bahwa kau terlihat benar benar menyedihkan saat ini Kim Kibum, apanya? Ahh belum lagi dengan kecelakaan itu. Isi kertas yang baru saja kau baca itu soal kecelakaan itu, benar? Penyebabnya bukanlah ayah kandung mu melainkan ayah taeyeon. Ayah taeyeon ingin membunuh ayahmu dan juga taeyeon dengan cara merusak rem mobil saat sebelum mereka menaikinya. Dan dengan ide briliant pria picik itu…” heechul menghembuskan nafas dan kembali berucap dengan nada santainya seolah kata yang keluar dari mulutnya bagaikan drama atau movie yang baru saja ia tonton tadi malam. “ia berhasil menggunakan pribahasa sambil menyelam minum air, yah ia menjalankan misinya untuk membunuh tuan Xi yang disuruh oleh kolega bisnisnya dan kolega bisnis sialan itu menyewanya untuk membunuh tuan Xi, dengan kebetulan yang malang itu tengah berada disana, hingga ia tak perlu berurusan dengan polisi lagi karna telah melakukan pembunuhan berencana dan membuat tragedi itu bagaikan kecelakaan yang wajar, namun ternyata… ia berhasil mengelabui polisi dan membuat polisi berfikir buruk soal ayahmu yang sengaja membunuh tuan Xi. Dan membuat adiknya tuan Xi ingin balas dendam dengan menyewa pria bangsat itu lagi untuk membunuh taeyeon, karna saat itu taeyeon satu satunya korban yang selamat. Ini terdengar agak gila dan membosankan, bagaimana bisa ia balas dendam hanya karna taeyeon berada disana sementara ia meminta pembunuh yang membunuh tuan Xi sendiri untuk membunuh taeyeon” heechul bertepuk tangan pelan “woah kurasa jika ini dijadikan bahan cerita akan membuat para pembaca bingung dan memilih tak usah membaca cerita melakonis yang terkesan seolah olah dunia itu sempit, bagaimana bisa semua pemeran di dalam cerita saling berkaitan?”

“YAH KIM HEECHUL!!!”

“kenapa kau tak memberi tahu taeyeon semuanya? Semua akan berakhir jika ia tahu ini, kau terlalu takut ia terluka sementara kau selalu saja melukainya”

“neo… aku tak mau membuat taeyeon semakin menderita, aku akan berubah dan kau tau itu heechul-ah, tidak tidak taeyeon tak boleh tau jika ayah kandungnya akan membunuhnya, tidak dia adikku, dia harta ku yang paling berharga, kau tau itu, berhentilah memojokkanku, kim heechul”

“MWO? Ahhh aku sudah muak dengan hidupmu brother, kapan kau akan menikmati hidupmu? Kembali yakinkan taeyeon untuk kembali ke china dan mulai hidup tenang kalian disana, tanpa pria brengsek yang akan membunuhnya karna ia sudah di cekal di bandara china karna ketahuan membawa narkoba ke sana beberapa tahun yang lalu dan adiknya tuan xi? Kuarasa ia tak akan mengtori tangannya dengan membunuh taeyeon saat ia di china, masalahnya saat ini. Taeyeon tak mau ke china apalagi menajuhi pria cantik itu…”

“biarkan aku menyelesaikan sekolah ku 1 bulan lagi hingga tamat dan kita akan pergi ke China…. oppa”

Kibum dan Heechul menegang di saat yang bersamaan. Baiklah. Kalimat yang baru saja mereka dengar tidak keluar dari mulut heechul maupun kibum. Tidak. Mereka masih setia menatap kerah pintu yang memang sedikit terbuka lalu perlahan terbuka lebar. Memperlihatkan seorang yeojja dengan rambut panjang dan poni yang hampir menutupi wajah pucat dan terlihat syok itu. Bahkan heechul berani bertaruh jika nada suara yang baru saja ia dengar itu terdengar gemetar.

“taeyeon-ah”

“taeyeon-ssi”

Ujar kibum dan heechul bersamaan, mereka layaknya robot rusak yang tak bisa bergerak di saat itu juga. Namun kibum berhasil menetralisir kembali ke adaan dengan berdeham pelan.

“taeyeon-ah, mworago?” kibum tertawa pelan sarat akan nada canggung di dalamnya. “pria ini tengah mabuk, jangan dengarkan bualannya” sambung kibum seraya menunjuk heechul yang menatapnya dengan tatapan tak percaya. Ayolah, anggap saja mereka baru saja membicarakan movie yang mereka tonton “ah benarkan heechul-ah! Kita hanya membual” Tuhan, kibum sangat berharap bahwa taeyeon tak mendengar apa yang baru saja mereka bicarakan. Percayalah bahwa heechul tak ingin menambah beban adiknya itu, ia akan semakin menderita lagi, mendengar kenyataan bahwa ia anak haram saja sudah membuat adik nya itu bagaikan es batu berjalan selama ini, apalagi dengan kenyataan bahwa ayahnya pembunuh dan ingin membunuhnya? Jangan biarkan dunia melukai taeyeon lagi, Tuhan! Hukum saja Kim Kibum!

Heechul tertawa dan bertepuk tangan sekilas, baiklah ini saatnya mengakiri kebodohan ini “geotjimal!”

“KIM HEECHUL!” bentak kibum, baiklah untuk saat saat seperti ini ia menyesal memberi tahu heechul semua bebannya selama ini, ia sering lupa jika pria itu terlalu jujur dan yah sangat jujur hingga berbohong sedikit saja sangat tak bisa, tak cukupkah ia menghadapi sikap forntal heechul?

“aku muak! Selesaikan saat ini juga! Na kalke, annyeong”

Kim Heechul beranjak dari tempatnya, melangkah keluar. Namun sampai di ujung pintu ruangan ia berpapasan dengan taeyeon, matanya menatap dalam sekilas ke dalam mata itu, gelap. Sungguh sangat gelap. Namun heechul menyadari satu hal, tubuh taeyeon sedikit bergetar dan tangannya terkepal erat. Matanya memandang lurus ke hadapan kibum, matanya dipenuh dengan bening bening air yang hendak turun, tapi entahlah. Beberapa menit heechul terdiam disana, air mata itu tak kunjung jatuh hingga ia memutuskan untuk benar benar keluar dan pergi dari rumah itu, namun sebuah kalimat bisikan memasuki pendengaran taeyeon seiring dengan kepergian heechul.

“jangan menahannya, kau sudah cukup kuat sampai saat ini”

Taeyeon membeku, tubuhnya semakin bergetar dan air mata jatuh pelan dipipinya. Tidak tidak, ia tak boleh menagis, karna Luhan bilang ia jelek jika menangis. Dengan cepat taeyeon mengahapus air matanya dan mendengus kesal sesaat sesudahnya, bagaimana bisa ia mengingat Luhan di saat yang tidak tepat.

Taeyeon hanya mengikuti heechul hingga ia mendengar semua kenyataan yang membuat nyeri di hatinya ah kenapa ruangan ini begitu sering membuat nyeri di ulu hatinya? anak pembunuh, ingin membunuhnya? Paman luhan? Kibum sangat sangat menyanginya? Apalagi yang taeyeon lewatkan? Ingin rasanya ia berteriak di saat ini juga, namun lagi lagi. Taeyeon batalkan karna gengsi masih menyertainya. Percayalah! Bahkan dari awal ia mendengar pembicaraan kedua pria itu tubuhnya masih saja bergetar, tak tahu apa ia harus menangis tersedu-sedu atau bahagia? Oppa yang ia sayangi menyayanginya dan sampai memikirkan kehidupannya saja? Taeyeon bodoh karna terlalu membenci oppanya selama ini.

Tersadar dari lamunannya taeyeon tersenyum miris sekilas “aku akan ke kemar, selamat malam, oppa”

Kibum hanya terdiam melihat taeyeon menutup pintu ruangannya. Ia tak tahu harus berbuat apa, akan jauh lebih baik jika ia membiarkan taeyeon menenangkan dirinya saat ini juga, yah heechul rasa itu benar. Namun bayangan taeyeon yang tadi menitikkan air matanya pun membuatnya tertegun, dengan cepat ia berlari menyusul taeyeon naik ke lantai 2, dimana kamar taeyeon berada.

Taeyeon yang baru saja memasuki kamarnya, menutup mulutnya pelan saat isakan dan desakan dari matanya untuk menangis keluar begitu saja. Tangisnya pecah di detik berikutnya. Ia tak sekuat yang orang pikirkan, yah walaupun jarang menangis, taeyeon memang sering berdiam diri saat merasakan sedih. Tak seperti kebanyakan perempuan yang sangat mudah menangis, dengan ceritas picisan murahan seperti cerita hidupnya pun akan membuat kebanyakan perempuan di luar sana menangis, bahkan mungkin penulis cerita yang menceritakan seberapa menyedihkannya kehidupannya pun ikut menangis. Taeyeon tau itu.

Tangisan pilu mulai memenuhi ruangannya, persetan dengan siapa yang akan mendengarnya kali ini, taeyeon percaya bahwa kamarnya ini kendap suara, yah taeyeon yakin itu. Tangisannya semakin keras dan kakinya tak bisa menompang ringannya tubuhnya yang kecil kurus itu. Hingga ia terperosot terduduk di lantai dan merasakan dinginnya lantai kamarnya. Ah penghangat ruangannya belum ia hidupkan.

Taeyeon harus bagaimana? Bahagia karna oppanya sangat menyayanginya? Tentu saja. Taeyeon sangat bahagia dan bahkan ingin memeluk erat pria itu di saat itu juga karna mendengarnya sangat peduli pada taeyeon. Sikap jahatnya yang ternyata itu semua demi kebaikan taeyeon, ia adik yang jahat yang selalu berburuk sangka pada oppanya itu. Iya, rasa bersalah mulai menghantui taeyeon, belum lagi ayahnya? Apa dunia sekejam itu padanya? Mana ada orang tua kandung ingin membunuh anaknya? Kenapa ayahnya begitu jahat? Dan sebegitu tak berarti kah kehadirannya? Kecelakaan? Astaga Tuhan, bolehkah taeyeon mencabut kembali takdir yang ada, bolehkah ia tak terlibat dalam kecelakaan yang merengut ayah Luhan, Luhan…

Ponsel yang berada di tas kecil sampingnya bergetar kembali. Yah sejujurnya ponsel itu terus bergetar semenjak ia menginjakkan kakinya di rumahnya, taeyeon tak berminat melihatnya. Namun mendadak ia berdiri, dan dengan kasar ia kembali menghapus air matanya dan mengeluarkan ponselnya.

Ponsel itu menggelap, sepertinya sambungan terlponnya telah terputus. Taeyeon menggeser layar ponsel itu. 15 panggilan tak terjawab dan 9 pesan diterima. Mata taeyeon kembali berair saat nama yang tertera di semua panggilan dan pesan yang ia terima dari orang yang sama…

“taeyeon-ah, neo ediga? Kau sudah pulang ke rumah? Ah bodohnya aku yang tak tau alamat rumahmu!”

“taeyeon-ah, neo gwenchana? Jangan berpikiran bodoh lagi!”

“yah! Tak bisakah kau menjawab panggilanku?”

“mianhae! Jangan diamkan aku begini!”

“kau baik-baik sajakan taeyeon? Ayolah aku benar benar khawatir padamu!”

“taeyeon-ah, jangan lakukan ini padaku, aku takut kehilanganmu”

“ah suster itu benar benar tak mau memberitahuku dimana alamatmu”

“aku harap kau baik-baik saja”

“aku merindukanmu!”

Taeyeon tersenyum miris saat membaca pesan dari pria itu. Bayangan pria itu yang tengah merajuk terbayang di benaknya, dan wajah paniknya saat mencarinya di rumah sakit saat itu. Pria yang entah sejak kapan berhasil mengahncurkan dinginnya es yang taeyeon bangun. Pria hangat yang entah sejak kapan berhasil membuat sesuatu di dalam dadanya berdebar tak karuan. Pria baik yang tak tau apa apa. apa ia aka bersikap seperti ini saat ia tau semuanya? Pria dengan nama…

Xi Luhan calling…

Getaran ponselnya berhasil menarik perhatian taeyeon, air matanya jatuh lagi saat nama yang tertera di sana sama dengan nama yang baru saja menelpon dan memberikan pesan yang banyak. Sebegitu pedulinya kah Xi Luhan padanya? Sekalipun ayahnya yang membunuh ayah Luhan?

Air matanya jatuh lagi, dan isakah keluar lagi dari mulutnya. Sejak kapan taeyeon jadi se melow ini? Apa karna drama yang pernah ia tonton itu? Baiklah terserah, yang jelas hatinya benar benar seakan tak berbentuk lagi. Sangat sakit membayangkan Luhan yang akan menajuhinya. Hingga akhirnya layar ponsel yang ia genggam itu kembali menggelap, sambungan terputus lagi.

 

“Luhan-ah, jalmotaseo, mianhae!”

 

Kibum yang baru saja memasuki kamar taeyeon terkaget saat mendapati taeyeon tengah terduduk tak berdaya di lantai dengan tangan memukul pelan dadanya. Dan air mata beserta tangisan pilu menyapa dengan sakitnya telinga kibum hingga menghantam hatinya. Dengan cepat kibum menghampiri taeyeon dan memeluk erat adiknya itu.

“uljimayeo! Mianhae… oppa nappeun namja yah! Oppaya! Mianhaeyeo taeyeon-ah! Jebal uljimayeo!”

“ani.. oppa… hiks…. ah mwo..ya… appoyeo…hiks”

“eodi appo?” Kibum melonggarkan pelukannya dan menatap taeyeon sekujur tubuh, memastikan dimana Luka yang taeyeon maksud. Namun kibum meringis saat taeyeon menunjuk dadanya, yah hatinya. “maafkan oppa”

“aniya, oppa! Aku yang salah! Haruskan aku tak pergi ke korea, harusnya aku diam dan mengikuti perintah oppa”

Kibum kembali memeluk erat taeyeon, ah lemahnya wanita yang dibeada di pelukannya ini. “ani… oppa jahat padamu selama ini”

“kajja, china kajja hmm. Selesaikan ujian kelulusan mu disini sebulan lagi dan kita pergi…”

“arraseo” lirih taeyeon pelan, sangat pelan. Tangisannya sudah lenyap. Tergantikan dengan hangatnya pelukan hangat pria di hadapannya ini. Hangat dan nyaman, namun sekan kembali ke realita hidupnya, taeyeon terkekat di saat yang bersamaan.

 

 

“oppa mohon, jauhi Xi Luhan…”

 

 

*flashback off*

 

Deringan ponselnya lagi lagi membuatnya tertarik dari lamuan kemabali ke kenyataan. Ia lelah dengan hidup. Sangat lelah. Bagaimana jika ada yang tertarik membuat cerita hidupnya menjadi karangan fiksi? Apakah seseorang yang membacanya akan mengira bahwa taeyeon adalah orang yang benar-benar menyedihkan? Dan bagaimana dengan penulisan ceritanya nanti? Akankah penulisan merasa mengetik susah payah untuk cerita murahan seperti kehidupannya? Siapa yang akan membaca cerita murahan hidupnya ini?

Lagi lagi nama Luhan tertera di layar sana. Entahlah. Sudah 2 hari ini ia mengabaikan semua telpon dan tetap membaca pesan Luhan dengan inti yang sama tanpa berniat membalasnya. Benar benar jahat. Bagaimanapun ia harus menjauhi Luhan sebelum Luhan tau bahwa ayahnya… ah sudahlah. Taeyeon mulai muak dengan kalimat itu.

“taeyeon-ah kajja… eoh? Kau belum menganti seragammu?”

Astaga, taeyeon melupakan sesuatu, ia harus berangkat sekolah sekarang. Dengan senyum tipis, ia berjalan memasuki kamarnya. Mulai hari ini, kehidupannya akan berubah, tanpa Luhan.

Aahhh terdengar bagaikan seorang yeojja yang patah hati dan terkesan berlebihan lagi bukan? Tapi percayalah, menurut taeyeon, Luhan adalah segalanya… temannya satu satunya di sekolah… dan pria yang berhasil menyelip masuk ke hatinya.

 

 

Yah Pria dengan marga Xi itu berhasil memasuki hatinya.

 

 

***

 

Pria dengan wajah kusut itu menjatuhkan kepalanya di atas meja sebagai alasnya. Terlihat jelas bahwa ia kurang tidur, lihatlah kantung mata hitam di bawah matanya. Dengan kasar ia duduk, bergumam tak jelas dan merongoh ponsel di dalam tasnya menatap layar ponsel itu datar dan kembali menajatuhkan wajahnya.

“wae tto?”

Chanyeol yang duduk di sebelahnya mulai jengah dengan sikap Luhan belakangan ini dan memilih untuk bertanya, yah walaupun jawaban yang pasti belum tentu ia dapatkan. Percayalah pria di sampingnya ini berubah menjadi pria melakonis belakangan ini.

“aku rasa ponselku rusak”

Dengan kesal Chanyeol meraih ponselnya dan menelpon ponsel Luhan. Masuk. Hingga Luhan mendengus kesal. Ah tak cukupkah ia lelah menunggu kedatangan taeyeon di halte dan mencari taeyeon ke kelasnya beberapa hari ini saja sudah membuat kesal.

“aku benci padamu, park chanyeol!”

“kau benci padaku hanya karna aku menelponmu?”

Yah Luhan benci padanya. Bukan bukan. Hanya saja, kenapa panggilan dari chanyeol bisa masuk ke dalam ponselnya, kenapa tidak taeyeon? Yeojja itu bagaikan menghilang di telan bumi. Sudah beberapa hari ini ia tak bertemu ataupun berkomunikasi dengan taeyeon. Luhan bahkan sering kerumah sakit, membujuk suster galak itu agar mau memberikan alamat rumah taeyeon, namun naas. Semuanya berakhir dengan kata nihil.

“ah aku harus beli ponsel baru!”

“ponsel baru apanya? Kau itu gaptek atau apa? Ponselmu itu sudah keluaran terbaru Xi Luhan, bahkan belum banyak yang memakainya selain aku dan beberapa orang disini”

“OPPA!!”

Luhan yang mengenali pekikan suara itu menutup matanya dan masih menggenggam erat ponselnya, ia berpura pura tidur karna Luhan sangat malas berdebat dengan Soojung saat ini.

“masih berpacaran dengan ponselmu eoh?”

Soojung yang baru saja masuk langsung menghampiri meja Luhan dan Chanyeol pun tersenyum mengejek saat Luhan masih saja menggengam ponselnya bahkan saat ia tidur. Soojung tahu bahwa Luhan bukanlah maniak ponsel seperti kebanyakan orang diluar sana. “aku heran dengan nya oppa, bukankah oppa bilang dia menyukai Kim Taeyeon? Tapi kenapa yang kulihat ia sepertiya menyukai ponselnya?”

“jangan begitu, ia tengah patah hati ditinggal taeyeon, mungkin saja ditolak” jawab chanyeol acuh tak acuh. Baiklah, Luhan mecoba untuk membuntukan lubang telinga saat ini, namun niatnya di batalakan saat soojung kembali berbicara dengan nada santainya.

“mwoya? Ditinggal kemana? Baru saja aku melihat taeyeon unnie berjalan ke kelasnya”

Mendengar nama taeyeon, Luhan langsung saja mendudukkan dirinya dari tidurnya. Ada perasaan senang yang tak terbentung dan tercetak jelas di wajah Luhan hingga ia langsung berdiri, melepaskan ponselnya dan berlari keluar kelas, menyisakan Chanyeol dan Soojung yang menatap kepergiannya dengan tatapan aneh.

 

***

 

“TAEYEON-AH!”

Taeyeon yang baru saja memasuki kelasnya mengangkat wajahnya saat suara yang ia rindukan masuk menayapa gendang telinganya. Baiklah jangan menjawab taeyeon dan tetap berjalan menuju bangku mu disudut sana, bukankah kau akan menjauhi Luhan mulai hari ini?

Tatapan panjang para penghuni kelas turut andil menemani taeyeon hingga ia duduk di bangkunya. Bukan tatapan suka bahwa ia telah kembali ke kelasnya, melainkan tatapan benci dan yah, sangat tak suka melihatnya kembali ke kelas.

“yah, kau kemana saja eoh?”

Taeyeon hanya diam dan tak sekalipun menatap Luhan yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Oh Tuhan, bantu taeyeon! “kkayeo!”

Baiklah, luhan akui. Semenjak melihat taeyeon melangkah masuk ke dalam kelasnya ia melihat sesuatu yang beda dari taeyeon, seperti terlihat tengah menjauhinya. Bagaimana pun itu terlihat sangat kentara. Dan tatapan penghuni kelas lainnya? Apa ini yang di lalui taeyeon setiap pagi di kelasnya?

“kalian putus eoh? Woahhh daebak! Kau sudah susah susah membelanya hingga di skor dan sekarang yeojja tak tau diri itu mencampakkanmu!”

“PARK BUNG SOO! DIAM ATAU KU PUKUL KAU SEKALI LAGI!” geram Luhan, dan dengan cepat ia kembali menatap taeyeon “kajja, kita harus bicara! Atap sekolah! S.e.k.a.r.a.n.g”

Luhan berlalu begitu saja meninggalkan taeyeon dan memilih menuju ke atap seorang diri dan menunggu taeyeon disana. Luhan sudah menghitungnya, ada 20 menit lagi waktu sebelum jam pertama dimulai. Itu waktu yang sangat berharga baginya. Luhan sudah mulai gila belakangan ini karna tak melihatnya, bahkan oemmanya pun mengira bahwa ia patah hati hanya karna di tinggal taeyeon, bayangkan saja betapa menyedihkannya Luhan menjalani kehidupannya tanpa taeyeon, sering terlambat lagi. Kejar kejaran dengan song seongsamnin, dan yah berakhir dengan sumpah serapah yang sudah beberapa bulan ini tak Luhan dengar. Semuanya berubah saat taeyeon menghilang. Ayolah jikapun ia sakit ia masih bisa menjawab panggilannya. Jangan buat Luhan merasa tak berguna hanya karna ia tak tau alamat taeyeon.

Taeyeon masih saja terdiam di tempat duduknya, ingin rasanya ia tau apa yang terjadi antara Luhan dan Bung soo, tapi percayalah sekalipun taeyeon bertanya tak akan ada satupun orang di kelas ini yang akan menjawabnya nantinya.

“yah kim taeyeon, kau tak akan menyusul pangeranmu itu eoh?”

Bung soo berjalan mendekati taeyeon dan menendang meja yang berada di sebelah taeyeon, taeyeon yang sudah tau gerakan cepat Bung soo tak terlalu terkejut dan bahkan masih memakai wajah datar tanpa minatnya ke arah buku novel yang ia pegang dan baru ia sadari, itu novel yang waktu itu Luhan berikan. Asataga, apa tak ada satu haripun yang bisa ia lalui tanpa Luhan? Kenapa semuanya terasa asing? Bukankah ia dulu bisa hidup sekalipun tanpa Luhan?

“kau lihat luka di wajahku eoh? Pria tengik itu memukulku! Dan sepertinya aku harus balas dendam. Bagaimana menurutmu?”

Taeyeon mengalihkan tatapan ke hadapan bungsoo dan menatap pria itu datar, sebelum berakhir dengan cairan yang berwarna putih di lemparkan bungsoo dari dalam kota berukuran persegi yang berada di tangan kirinya. Baunya benar benar busuk. Dan taeyeon sangat yakin bahwa cairan yang baru saja di lemparkan ke wajahnya dan membuat blazernya sedikit basah itu bau susu busuk pemberian sekolah saat jam istirahat.

Helaan nafas kesal mengalir dari sudut bibir taeyeon, dengan senyum sinisnya ia menatap Bung soo yang masih menatapnya dengan kesal “kau benar benar tak punya otak!”

“MWO?” mendengar perkataan kasar taeyeon, bungsoo membelalakan matanya merasakan darahnya yang mendidih. Tempramen bung soo sangat buruk dan semua orang di kelas tau itu, kenapa taeyeon malah berniat melawannya?

“kau berurusan dengan Luhan, kenapa melempar kotak susu yang kau curi di tong sampah itu kepadaku?”

Bungsoo tertawa pelan dan menggeram di detik berikutnya. Mulut taeyeon benar benar tajam. “ia memukulku karna mu”

“aku? Kau tau aku tak sekolah hari itu bung soo-ssi”

“Xi Luhan bodoh itu mencari mu ke kelas ini, melihatku menginjak kursimu dan menghina kalau orang sombong dan dingin yang ada di hadapanku saat ini adalah anak haram dan dia seorang anak yatim, kemudian ia memukulku hingga wajahku menjadi seperti ini” taeyeon menatap wajah bungsoo, yah sangat menggerikan dengan bengkak dan luka darah kering yang masih saja menempel di wajahnya, dan juga… taeyeon ingat saat hari Luhan berlari ke rumah sakit dengan sedikit memar di wajahnya, memeluknya, dan bilang ia takut taeyeon pergi. Yah taeyeon yakin pasti hari itu hari dimana ia memukul Bung soo.

Taeyeon terdiam. Luhan membelanya? Lagi? Dan bahkan ia yang tak tau terimakasih pun memperlakukan Luhan dengan dingin tadi?

“dia di skor 2 hari begitu juga dengan ku!!! Aku tak terima itu!”

Di skor? 2 hari? Ah hari dimana Luhan memergokinya di rumah sakit saat itu? Ah taeyeon ingat lagi hari dimana ia ingin mengakhiri hidupnya di pagi hari yang jelas bukan hari libur dan Luhan menemaninya seharian. Yah tak banyak yang ia lakukan selain duduk diam dan mengganti chanel televisinya. Sampai taeyeon tertidur karna obatnya dan malam menyapa. Besoknya Luhan tak berkunjung dan malamnya ia pulang kerumah di jemput heechul. Astaga Luhan, jangan buat taeyeon semakin susah menajauhimu! Percayalah kau akan bahagia nantinya saat tau taeyeon menajuhimu, anak dari seorang pembunuh yang membunuh ayahmu!

Dengan cepat, taeyeon langsung berdiri dari duduknya dan melangkah meninggalkan kelasnya, yah ia harus menemui Luhan saat ini juga. Dan membuat Luhan membenci dan menjauhinya. Taeyeon bahkan lupa dengan bau susu busuk yang melekat padanya hingga ia sampai di atap sekolah, tempat yang pernah ia kunjungi dengan Luhan.

Luhan berdiri di seberang sana dan menatap taeyeon dari atas hingga bawah, merasa ada yanga aneh dengan taeyeon, luhan hendak melepas blazernya dan berjalan mendekat sebelum suara pelan taeyeon memasuki gendang telingnya.

“hajima”

Langkah Luhan terhenti dan jarak ia dan taeyeon tak lebih dari satu meter pun bisa membuat Luhan mencium bau susu busuk dari arah taeyeon. Luhan hendak melangkah lagi sebelum taeyeon kembali berbicara.

“hajima! Jangan mendekat dan tetap disana, jebal”

Terdengar nada suara tenang, dingin dan gemetarnya. Yah itu suara taeyeon saat pertama kali ia melihatnya, saat pertama kali ia menabrak taeyeon. Ah lagi lagi ada nama susu di pertemuan dingin nya dengan taeyeon. Baiklah, Luhan menyerah. Ia memilih diam dan menatap taeyeon dalam. Taeyeon berubah. Apa salah nya? Apa ia melakukan kesalahan pada taeyeon?

“apa salahku? Kenapa kau menajuhiku?”

Luhan tak sabar lagi, ia sudah terlanjur menderita menjalani harinya tanpa taeyeon, dan ia bahkan sempat berbahagia saat tau taeyeon balik ke sekolah namun semua pudar saat taeyeon berubah. Ia bukan lagi taeyeon yang Luhan kenal. Yah taeyeon yang Luhan kenal memang berwajah sama dengan taeyeon yang berdiri di depannya ini, hanya saja sikapnya berbeda. Ini bukan taeyeon. “taeyeon-ah?”

“luhan-ssi, dengarkan aku!” baiklah, dalam hati taeyeon menjerit dengan sekuat tenaga. Biasakah ia melewati bagian ini dalam hidupnya? Ia tak sanggup berhadapan dengan Luhan. Ia tak sanggup menjauh dari Luhan, boleh kan ia egois? Taeyeon tak tau bahwa dalam hati Luhan meringis sakit dan nyeri saat taeyeon kembali memanggil namanya dengan embel embel ssi.

“semua salah, tak seharusnya kita berteman. Aku… tak mau menambah beban di hidupku lagi, aku lelah dengan semuanya. Jadi kumohon, jangan pernah berbicara atau muncul di hadapanku. Bukankah ini terlihat lelucon bagimu? Aku…” “aku tidak mau kau membenciku”

“beban? Kau menganggap ku beban?” Luhan tersenyum miring dan membuang mukanya sejenak. Sakit. Luhan menyadari satu hal, ia sepertinya terlalu dalam menyukai Kim Taeyeon, bukan sebagai teman… “geurae?”

“aku… biarkan aku menjalain kehidupanku seperti semula” taeyeon melongos dalam hatinya “apa boleh aku menyebutnya kehidupan?”

“apa menjadi yeojja dingin kehidupan yang kau maksud?”

Taeyeon terdiam, menunggu jawaban lebih panjang dari Luhan, ia mencoba mengisi semua ingatannya tentang suara Luhan agar kelak ketika ia merindukannya ia tak akan berlari mengejar luhan dan memeluknya.

Sakit. Bagaimana bisa yeojja di hadapannya ini mengangapnya sebagai beban? Baiklah. Luhan menyerah. Ia tak bisa memaksa taeyeon selalu berada di hadapanya. Dalam jangkauannya.

“semua ini salah, tak seharusnya kita berteman dan…”

“hentikan, arraseo. NEGA… tidak akan menambah bebanmu lagi” penuh penekanan di kalimatnya  luhan berjalan mendekat dan melepas blazernya, berjalan mendekat menghampiri taeyeon yang masih saja beku di tempatnya. Jika ia boleh berharap, ia ingin waktu berhenti di saat ini juga. Namun nyatanya, dengan cueknya waktu masih berjalan, dan blazer Luhan terpasang dengan manis di punggung taeyeon. Bahkan wajah mereka sempat beradu, ah hanya pipinya saat Luhan menyampirkan blazernya dari depan. Dan detik berikutnya Luhan memundurkan badannya. Mengeluarkan sapu tangan hitam yang berada di sapunya.

Luhan merutuki dalam hati, bagaimana bisa saputangan ini mewakili perpisahannya? Tangannya beranjak memegang pipi kiri taeyeon dan tangan kanannya mengelap dengan pelan bekas susu yang menempel di wajah taeyeon.

Taeyeon yang tak bisa berbuat apa apa hanya diam dengan matanya menatap sepasang sepatu putih Luhan yang berdiri tepat di depan sepatunya.

“selesai, kau boleh pergi” ujar Luhan pelan dan kembali menyimpan saputangannya ke dalam sakunya. Bahkan dinginnya cuaca di musim gugur sama sekali tak menyapa tubuh luhan yang hanya menggunakan kemeja putih. Yah blazernya ia berikan untuk taeyeon.

Tanpa banyak berkata, taeyeon membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan Luhan yang masih saja betah menatap punggung kecil itu menjauh. Masih terekam jelas, wajah pucat yang dingin itu ia pegang beberapa menit yang lalu, sekarang… punggungnya saja bahkan tak bisa ia peluk. Dan luhan merasa, berhalusinasi bahwa punggu taeyeon bergetar sebelum menghilang di balik pintu kecil itu.

Tidak, luhan tidak berhalusinasi. Ini nyata. Taeyeon kembali menitikkan air matanya…

 

 

Yah, yeojja itu kembali menangis….

 

 

***

 

Nyaringnya panggilan bel pulang sekolah membuat beberapa siswa yang tengah menikmati jam terakhir di kelas berteriak bahagia. Jujur saja, kalian semua pasti sangat menantikan jam itu? Begitu juga dengan Park Chanyeol. Sudah 6 jam berlalu dari pagi dan ini pertama kalinya ia terlihat cemas saat bel pulang berbunyi. Yah bukan karna bimo –mobil kesayangannya- menginap di bengkel atau SooJung –yeojja kesayangannya- yang marah padanya. Bukan. Ini karna Luhan –namja bodoh sahabatnya- itu belum juga menunjukkan batang hidungnya sampai saat ini. Ia menghilang saat pagi menjelang mencari taeyeon dan bahkan sampai pulang tak kembali. Dengan berat hati Chanyeol harus berbohong kepada guru yang mengajar kemana Luhan, alasan yang bagus yang mendatangi otak chanyeol saat menjawab pertanyaan guru Xi Luhan kemana adalah ‘Luhan diare seongsamnim, bahkan tadi keluar di celana’ dan berkat alasan chanyeol, guru itu percaya saja tanpa banyak bertanya lagi.

Kelas mulai sepi hingga Chanyeol memutuskan untuk membawa tas Chanyeol dan mengantarnya kerumah, siapa tau pria yang memang sedikit gila itu sudah menapakkkan kakinya di rumah, ayolah, chanyeol tidak bercanda, luhan memang pernah seperti itu saat oemmanya sakit. Kabur dari sekolah dan pulang kerumah.

“YAH PABBOYA!”

Chanyeol mendengus kesal saat sang pemilik tas yang baru saja ia angkat itu masuk ke dalam kelas dengan cueknya. Ah bukan seperti Luhan yang selalu mendengus kesal atau apa, Luhan yang berjalan memasuki kelasnya terlihat sedikit berbeda. Wajahnya kusut, tatapannya sedikit dingin bahkan berhasil membuat bulu kuduk chanyeol merinding dan jangan lupakan baju kemeja putihnya yang tampa blazer itu terlihat sangat acak acakan dan kotor.

Sampai di depan Chanyeol, Luhan mendengus pelan, memejamkan matanya sekilas lalu angkat suara “tasku, aku mau pulang”

“waegeurae? Kau terlihat berbeda hari ini” Chanyeol melempar tas rigan Luhan yang chanyeol yakini hanya berisi satu buah buku catatan di dalam sana. Merangkul sahabatnya itu dan berjalan beriringan keluar kelas.

“Luhan-ah, kau belum menjawab pertanyaanku, neo gwenchana eoh?”

Luhan hanya diam dan melanjutkan langkahnya, kali ini lebih aneh lagi. Mata Luhan terus menatap lurus kedepan. Dan di detik berikutnya, langkahnya berhenti. Entah apa yang ia lihat hingga akhirnya Chanyeol mengalihkan penglihatannya dan melihat apa yang berhasil membuat Luhan berbeda hari ini.

Taeyeon. Yeojja dengan rambut separuh basahnya itu baru saja keluar dari toilet yang berada di sudut koridor sana, tepat 4 meter di hadapan Luhan. Chanyeol yang menyadari adanya tatapan aneh yang Luhan tujukan untuk taeyeon pun berhasil menebak apa yang terjadi setelah tatapan yang sama taeyeon tujukan untuk Luhan.

Seperti pada saat bermain game saling tatapan tatapan yang membuat Chanyeol tak tahan pun akhirnya buka suara “apa yang kau lakukan? Tak menyapa taeyeon oeh?”

Luhan menggeleng singkat menjawab bisikan Chanyeol dan kembali melanjutkan langkahnya. Chanyeol terdiam dan berjalan mengikuti Luhan yang berjalan tanpa menoleh ke arah taeyeon yang masih saja terdiam di tempatnya. Luhan dan Chanyeol melalui taeyeon tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mereka hanya berselisih tanpa saling sapa layaknya orang tak kenal. Hingga akhirnya, chanyeol muak dan beteriak kepada Luhan yang berdiri di depannya, langkah Luhan terhenti.

“YAH! NEO WAEGEURAE EOH?”

“park chanyeol” geram Luhan. Oh Chanyeol yang malang. Bagaimana bisa ia sebodoh itu? Luhan tau saat ini koridor tidak terlalu ramai, tapi tak bisakah ia tak bertanya dengan berteriak? Luhan sedang dalam mood yang tidak baik saat ini, sadarilah Park Chanyeol.

“WAE? KAU ANEH XI LUHAN! NEO GWENCHANA EOH?”

Baiklah, seperti biasa, berbicara dengan Chanyeol memang bisa membuat moodnya semakin buruk. Luhan hanya ingin pulang dan tidur menjernihkan otaknya. Ia tak tau apa yang terjadi tapi hari ini ia merasa dirinya sedikit aneh.

“ANIYEO! NA ANGWENCHANA! NA! JIBI KAJJA EOH?”

Chanyeol yang mendapat teriakan dari Luhan yang masih saja memunggunginya pun terdiam di tempat. Yah chanyeol semakin yakin, saat ini Luhan benar benar ada masalah. Apa masalahnya sebesar itu hingga merubah sikap Luhan? Tuhan, kembalikan Luhan tengilnya yang dulu.

Chanyeol yang masih berdiam di tempat pun membuat Luhan mendengus kesal dan berbalik ke belakang. Hanya separuh tubuhnya yang berbalik hingga matanya menangkap Chanyeol yang tengah menatap punggungnya dengan tatapan seolah olah punggunya bahan pelajaran yang payah. Senyuman miring keluar dari mulut Chanyeol dan ia mulai berjalan kembali merangkul Luhan. Luhan yang mendapat rangkulan pun masih terdiam dengan mata menatap ke arah chanyeol berdiri tadi, ah bukan… tepat di belakang chanyeol berdiri tadi.

Taeyeon masih berdiri dengan kaku di sana.

 

 

 

***

 

 

“ani, aku akan menculiknya beberapa hari lagi! Tidak usah berlebihan, kupastikan taeyeon akan mati ditanganku, jangan lupa siapkan uangnya segera. Kau tau, pilihanmu sangat tepat, nyawa di bayar dengan nyawa. Kurasa tak buruk”

Pria dengan wajah tuanya itu masih saja penuh dengan senyum licik di wajahnya berbicara dengan ponsel yang tersambung dengan seseorang. Yah, dengan segelas alkhol di tangan kirinya yang baru saja lolos memasuki kerongkongannya itu mengakhiri pembicaraannya.

“Myungsoo!”

Park Myung soo, membalikkan badannya dan menatap pria botak yang ia beri nama jack itu. Senyum sinis lagi lagi terlukis di wajahnya yang tua. Bayangkan saja, diusinya yang sudah tak muda ia masih saja terlibat hal hal terlarang. Menjual narkoba bahkan membunuh orang. Lihat, tempat bak markas penyeludupan dimana ia berada pun terkesan menggerikan dengan ruangan bekas tak pakai dengan perlatan se adanya.

“jack, aku pinjam truk kecil mu besok, arra?”

Jack hanya menagngguk singkat “untuk apa? bukankah kau sudah tak akan menggunakan truk itu lagi?”

“aku akan mencuri seseorang lagi kurasa”

“seseorang? Nuguya? Bukankah kau sudah tak membunuh orang lagi huh? Umurmu itu sudah tua hyung, jangan membunuh lagi”

Myungsoo menenguk segelas alkhohol yang baru saja diisikan jack itu dan menyalakan api rokoknya, menyesapnya dan meniupkan asapnya ke atas langit. Ughhhh benar benar terlihat seperti seseorang yang tak bermoral. “ani, ini yang terakhir. Aku janji! Aku akan membalaskan dendamku dan daebak seseorang membayarku untuk itu, ini sangat mengguntungkan”

“siapa yang akan menjadi korban terakhir mu itu?”

“Kim Taeyeon”

Jack terbelalak kaget dan tersentak di tempat duduknya. Ayolah, ia tau taeyeon siapa, tentu saja. Ia sudah 25 tahun berteman dengan jack, dan tentu saja ia tau taeyeon siapa. “mwo? Kau mau membunuh anak mu? Kau gila!”

“jack jack jack, jangan menyebutnya anakku karna dia bukan anakku!” Myungsoo melempar gelasnya yang kosong dan menatap jack garang, seolah olah hal yang baru saja di ucapkan jack adalah hal yang salah.

“dia anakmu dengan Shin Min Ji, hyung!”

“ternyata kau belum sadar juga ternyata…” Park Myung Soo mendengus kesal dan kembali menyesap rokoknya. Sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan kalimatnya.

 

 

 

“dia bukan anakku, dia anak Shin Min Ji, bukan anakku!!!”

 

 

 

***To Be Continued***

 

Hallo ha hallo? Ada yang masih ingat ff ini? Ahh ffnya makin kek sinetron cinta **** season 100 yah-_- ada yang ga ngerti dengan ceritanya? Tenang tenang, kalo ga ngerti klik close aja gapapa, gatau musti jelasin gimana lagiTT

Salah dan janggal mohon di maafkan, maklum ini udah tengah malem *BOW *KISSKISS *HUG

Advertisements

49 comments on “[FREELANCE] Moonlight (Chapter 8)

  1. wow wow wow makin seru ajah ni thor…aku penasaran gimana nanti kalo luhan udah tau kirakira dia bakal benci sama Taeyeon gan ya??
    FIGHTING buat chap selanjutnya

  2. sedih sedih sedih huhuhu ㅠㅠㅠㅠ kenapa ini semakin complicated ㅠㅠya ampunnn gak tega bangettt kesihann luhan ama taeng kisah cinta mereka sulit bangetttt hueeee taeng menderita bangetttt sedihhhhh tak sadar baca ini air mata ku menitik keluar dengan bebas nya dari pelupuk mataku 😩😩😩😩😩 heleh lebay dramatisir pisan diriku teh kekeke 😂😂

    ya ampunn seneng banget updatenya cepet love youuuu author wo aini maaa love youu too admin yang udah ngepost ff nyaaaa sarangeee 😍😍😍😍

  3. makin kepo nih sama luhan, gmn ya reaksinya saat dia tau penyebab kematian papahnya?.. psti mkin sdih ceritanya, itu park myungsoo jahat amat, masa ank sndri mau dibunuh😱?!. 😡 gk pnya otak kli ya?!

    next thor, smngat ya nulis nya..
    n jgn lma2 update nya..

  4. myungsoo jahat banget!!! huhhh
    lutae pasti baikan kan thor?
    setelah sedih2an baca chapter ini, gatau knpa chanyeol malah bkin ngakak haha
    Ditunggu selalu lanjutannya, semangattt!!

  5. Kasian si taeyon, dia gak salah apapun dan ga ngerti apapun, tapi dia terkena dampak dari semua tragedi ㅠ ㅠ apakah luhan akan membencinya jika mengetahui nya ?

  6. Sumpah ini bener” dramatis bgt idupnya taeng, mewek trs klo baca stiap chapter ny, LuTae saling jauh”an, taeng mau ke china, ya ampun gk tega thor, author kejam ih sm mereka apalg taeng, smoga ayah taeng yg brengsek itu segera mati, benci gua klo punya ayah begitu..
    Semoga LuTae baikan lg, amin..
    Next chap ditunggu, fighting..

  7. Knapa myungso terlihat benci ama taeyeon yang lain adalah anak kandungx ndiri yah.
    Penasaran bgt jdx.
    Krang hubungan taeyeon ama luhan jg memburuk.
    Kasian taeyeon…

  8. Yeay update
    Semakin seru cerita nya, kasian luhan. Taeyeon, ayolah jgn menyalahkan diri sendiri, you, strong girl. Hehe #apaan sih 😂😂
    Chanyeol lucu bgt haha
    Suka bromance luhan chanyeol disini, lucu lucu suka suka
    Next ya, update soon

  9. disini taeyeonnya menderita batin bgt ya,. sedih bgt klo ngerasaiin jafi karakter dia disini,. luhan ayo jgn nyerah n jgn biarin dia benci sama taeyeon ya,. duuuhhh aku ga sabar nunggu kelanjutan cerita ini gimana next” chapt updatesoon ditunggu bgt

  10. Thorrrr keren banget beneran deh!!! Seneng banget pas iseng iseng nge check wp ini ehhh gataunya ff ini udh update chap 8 nyaaa seneng banget thorr yaampunnn =)) *maafkanalaytapigapapadeh dapet baget feel nya thorrr, sangat ditunggu nexf chap nya ya thorrr dan semoga cepat kaya gini lagi, amin o:) hehehehe 😀

  11. Yaampun, kasian si Luhan wehh… Dia patah hati bangett itu… Trus papanya si Taeyeon bener” kejam, dia berambisi banget buat bunuh Taeyeon padahal Taeyeon itu anaknya… Sebenernya aku bertanya”, apa tujuan Park Myungsoo buat bunuh keluarganya.. Apa dia punya kelainan jiwa atau gimana sih? Pokoknya dilanjut yaa… Semangat

  12. Cepet juga update nya,,semoga chapter selanjutny jga cepet,,penasaran sma nasib taeyon gmana??..ya ampun papa nya jahat bnget ihh..jalan ceritany bagus thor,,ini slah satu ff favoritku..semangat ya lanjutinya..fighting ^^

  13. wah updatenya cepet bgd,,,
    seneng bgd,,
    tp miris bgd ama hubungan huntae…
    rasa ikut rasain skit mreka..’kereeennnnnn!!!
    next dtggu, fightaeng!!!

  14. Buka buka blog, eh akhirnya ff ini cepet diupdate. Uuu~ sedih banget thor. Ah jahat sekali myung soo mau membunuh anaknya sendiri. Thor jangan pisahin lutae pliss. Kasihan taeyeonnya T.T Udahlah thor, aku gk bisa komen apa apa lagi, pokoknya nih ff bagus banget dan bisa bikin orang nangis. Next ya thor, update soon

  15. Karakter2 dlm fanfiction pun mengindikasikan bhwa dunia bntar lg kiamat dah, masak bapaknya mau ngebunuh anak kandungnya sendiri, awhhh poor uri taetae…..

  16. Next thor,, jgn pisahkan luhan n taeyeon.
    Smga mereka bisa berakhir bahagia,,
    G sbr ngu chapter slnjutx.
    Smgat nulisx thor,
    Hwaiting!!

  17. Aaahh part ini bikin baperrrr paraaahhh.
    Tau sih niatnya kibum baik tapi tetep aja bikin kesel,hhhmm.
    Apa kalo taeyeon ngomong jujur ke luhan,luhan masih bisa nerima taeyeon?
    Jgn smpe mereka pisaaahh dong,huuuaaaa.
    Jahat bgt sih ayah kandungnya taeyeon.
    Next chp ditunggu^^

  18. Please LuTaenya jangan dipisahin , duh sedih 😢
    Akhirny Taeng tau klo oppanya sayang bgt sama dia and Appa nya bejat bgt .
    Next chap keep writing and Fighting!!!

  19. Gila gila gila…
    Segitu amat masalahnya…
    Baca masalahnya tae aja rasanya kaya mau mual 😵
    Apalagi waktu ama si luhan…
    Ngenes tbor…
    Ceritanya muter di situ.. antara tae ama luhan…
    Cuman 2 orang aja..
    Tapi sumpah…
    Masalahnya kaya udah 1000 tahun aja mulainya…
    Mulek bin njlimet…
    Lanjut thor…

    ~FIGHTING~

  20. kasian lutaenya, konfliknya…..ckckck
    kibumnya juga kasian ampe segitunya ama taeyeon, ihhh bikin iri deh punya kakak kayak dia….
    ditunggu lanjutannya ya thor….

    Fighting

  21. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 9) | All The Stories Is Taeyeon's

  22. kasihan banget sih Taeyeon, baru aja bahagia dikit eh udah sedih lagi. bapaknya Taeyeon itu manusia bukan sih, jahat banget daebak thor makin keren aja. next thor

  23. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  24. Daebak thor
    Chapter ini bikin baper thor hingga aku sedih dan feelnya dapat thor.. 😥
    Next chapter ditunggu thornim… 🙂
    Fighting.. 😉

  25. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s