Skellington [Part 25]

SKELLINGTON Part 25 by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar with EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04 | Part 05 | Part 06 | Part 07 | Part 08 | Part 09 | Part 10 | Part 11 | Part 12 | Part 13 | Part 14 | Part 15 | Part 16 | Part 17 | Part 18 | Part 19 | Part 20 | Part 21 | Part 22 | Part 23 | Part 24

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik aku melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing.

.

.

.

.

.

Hari ini mungkin aku akan kehilangan mereka bertiga.

“TUNGGU!!” ujar sebuah suara yang berhasil menghentikan tanganku yang hendak menekan tombol yang ada di belakang punggung Baekhyun. Orang-orang mulai meneriakinya, melarangnya untuk masuk ke dalam ruangan yang seluruh dindingnya terbuat dari besi ini.

Aku ingin ikut meneriakinya. Aku ingin berkata padanya untuk apa dia kemari, untuk apa dia datang, untuk apa dia mencoba menghentikanku. Setidaknya itu yang aku pikirkan. Sampai dia menyentuh tanganku lembut dan berdiri di sampingku. Dia tersenyum.

“Syukurlah aku tidak terlambat,” ucapnya masih sambil menatapku yang masih bingung.

“Kau mau apa, Solar?” tanyaku saat jarinya menyentuh tombol dengan lembut, tepat di sebelah jariku.

Selama beberapa saat dia tidak menjawabku. Dia hanya menatap punggung Baekhyun lurus. Baekhyun tidak mengatakan apapun tentang kehadiran Solar tapi aku bisa melihat tangannya yang mengepal kuat. Sama sepertiku, dia pasti ingin Solar meninggalkan tempat ini.

Eonni masih ingat apa yang kuucapkan saat di Rumah Sakit setelah kemoterapi?” tanyanya balik dan tangan yang satu lagi membelai rambutnya yang tipis dengan perlahan. Solar menundukkan kepalanya, air matanya menetes. “Aku ingin mati sebelum semua rambutku rontok.”

Mataku terbelalak dan aku tidak percaya apa yang baru saja dikatakannya. “Kau bercanda, ya? Kau masih punya janji padaku. Kau berjanji bahwa setelah masa kontrakku habis, aku boleh menemanimu kapan pun aku mau. Tapi kalau kau mati di sini, itu saja saja—“

Solar mengangguk cepat lalu berkata, “Aku tahu. Itu sama saja dengan melanggar janji. Tapi justru itulah indahnya janji, eonni.” Solar menyembunyikan tangannya ke belakang dan mengeluarkan sepasang boneka kelinci.

Itu adalah boneka kelinci yang Kai ambilkan untukku saat kami bermain di sebuah game centre yang terletak di Busan. Sepasang boneka kelinci dengan warna pita berbeda yang melambangkan aku dan Solar. Kai berkata padaku bahwa boneka kelinci ini tidak boleh terpisah.

“Janji itu ada untuk diingkari,” lanjut Solar lalu menyerahkan kedua boneka itu di tanganku. “Dan setelah itu kita akan membuat janji yang baru.”

Aku menatap kedua boneka kelinci yang sekarang ada di pelukanku. Wajah damai yang terukir di kedua kelinci itu membuat hatiku sakit. Kenyataannya terlalu kejam. Solar menyerahkan kedua boneka ini agar aku tidak dapat menekan tombol itu. Dia akan menggantikanku menekannya dengan alasan dia ingin mati sebelum semua rambutnya rontok.

“Aku tidak akan membiarkanmu. Aku akan menekan tombol ini bersamamu,” jawabku tegas. Tidak akan kubiarkan dia menekan tombol itu sendirian. Ini adalah tugasku. Dan seharusnya Solar tidak berada di sini.

Solar menatapku kesal. “Eonni tahu, meski kita akan menekannya bersama, mustahil bagi Gongchan oppa untuk menarik kita berdua dari ruangan ini dengan cepat. Seseorang harus tinggal di dalam dan meledak bersama Baekhyun.”

“Solar, hentikan ide gilamu!” seru Baekhyun yang sedari tadi hanya diam. Terdengar kemarahan besar dari nada bicaranya. “Aku tidak akan membiarkanmu mengorbankan nyawa untukku!”

“Ini bukan bertaruh nyawa!” balas Solar tak mau kalah. “Ini adalah tindakan tulusku untuk menggantikan eonni. Memangnya kau mau jika Taeyeon mati gara-gara memusnahkanmu!? Apalagi dengan jarak sedekat ini, kemungkinan eonni selamat sangat kecil! Dia tidak akan bisa tiba di pintu sampai waktunya—“

“Aku bisa, Solar,” sahutku cepat. Aku melempar kedua boneka kelinci ke arah pintu. Memang, jaraknya cukup jauh sampai Wheein terpaksa masuk ke dalam ruangan untuk memungutnya. “Aku akan segera lari begitu menekannya. Dan jika kau masih ingin menekan tombol ini, maka larilah bersamaku.”

Aku mendapat pandangan putus asa dari Solar. Dia masih saja keras kepala di situasi seperti ini. “Jika… Salah satu dari kita tidak selamat, bagaimana?”

Aku menggeleng cepat. “Kita berdua pasti akan selamat,” balasku. Aku mengusap air mata yang membasahi pipinya dan entah mengapa setiap ujung jariku merasa berat melakukannya. Aku dihantui rasa takut. Padahal aku tidak boleh berpikir bahwa salah satu dari kami akan mati.

“Kalau begitu berjanjilah padaku satu hal,” ucap Solar. “Jika saja aku tidak selamat dan eonni selamat, maka hiduplah dengan bahagia. Hiduplah tanpa tekanan apapun. Sadarilah bahwa jalan hidup eonni masih sangat panjang. Sadarilah bahwa eonni masih mempunyai beragam hal yang jauh lebih penting dan lebih berharga untuk diperhatikan. Dan sadarilah bahwa eonni masih memiliki beberapa milik eonni yang tersisa.”

“Tapi—“

“Tidak ada tapi,” sahutnya tegas. “Berjanjilah padaku.”

Solar menglurkan jari kelingkingnya di hadapanku. Jari kelingkingnya yang menurutku terlihat lebih kecil dibanding saat terakhir kami membuat janji. Bukan hanya itu, pandangan matanya juga berubah. Dia terlihat yakin, berani, dan siap. Akhirnya dengan terpaksa aku melingkari jari kelingkingku di jarinya. Aku menatapnya dalam-dalam dan entah mengapa mataku terasa sakit dan perih. Bisa-bisanya dia mempertahankan sifat keras kepalanya. Dasar Solar bodoh.

“Hitung mulai dari tiga?” ujarku lalu Solar mengangguk.

3

Kami meletakkan jari kami dengan lembut di tombol. Senyum terukir di wajah Solar. Dan akhirnya terukir di pikiranku juga. Senyum yang secerah matahari, tiada bandingannya, dan sanggup membuatku jauh lebih tenang daripada sebelumnya.

2

Air mata menetes di wajahnya. Kemudian dengan cepat, tangan kirinya menarik jariku yang menyentuh tombol. Dia berteriak ke arah pintu dan meminta siapa saja untuk menarikku keluar dari ruangan.

1

Solar beranjak dari tempatnya, mendorongku menuju pintu dan yang berhasil menangkapku adalah Gongchan. Lalu Jessica menutup pintunya, memberikanku pemandangan terburuk yang pernah aku lihat. Adikku, sendirian di dalam, di ruangan tanpa penerangan, dengan mata tertutup. Dan menekan tombol itu.

0

Ruangan berdentum dahsyat, udara yang tidak enak keluar dari sela-sela pintu, dinding luar tidak mengalami kerusakan apapun. Dari jendela di atas terlihat sekilas sesuatu yang berwarna merah. Ada api. Jessica menekan beberapa tombol di sebelah pintu yang diikuti dengan suara air yang deras dari dalam.

Berakhir sudah. Aku telah membiarkan adikku bunuh diri. Sekali lagi senyuman Solar mengambang di pikiranku. Enyahlah. Kau hanya bayangan tak nyata yang dihasilkan otakku. Enyahlah. Tidak, aku saja. Aku ingin menghilang. Aku ingin lenyap. Aku ingin mati.

Kulihat di sekelilingku. Tidak ada yang bisa kugunakan untuk bunuh diri. Semuanya memandangku dengan tatapan menyedihkan. Kecuali sepasang boneka kelinci. Mereka memandangku dengan tatapan damai.

Kau akan baik-baik saja, Taeyeon.

            Tidak ada satu pun yang kumengerti dari kelinci itu. Kelinci dengan pita merah tampak berani sedangkan kelinci dengan pita biru muda tampak lemah. Mereka bertolak belakang. Tapi tak terpisahkan. Sekali lagi aku tak mengerti apa pun dari kelinci itu. Aku sudah berusaha membaca apa arti pandangan mereka tapi aku tidak bisa.

Yang mereka berikan padaku adalah luka batin. Bahwa aku dan Solar tidak bisa bersama, setelah 15 tahun kami berusaha. Melihat kedua boneka kelinci itu berdekatan membuat hatiku sakit. Aku harus memisahkan mereka. Dengan begitu aku akan tenang. Dengan begitu aku akan tidak menjadi gila. Dengan begitu aku tahu apa arti dari merelakan. Dengan begitu aku tahu apa arti dari memaafkan.

.

.

.

.

.

            “JANGAN PERGI!!”

Stasiun kereta bawah tanah Seoul. Bersama dengan teman-temanku saat masa sekolah, aku mengantar pacarku, Kai, yang hendak pergi ke Busan untuk menyusul ibu kandungnya yang sudah dipindahkan ke Rumah Sakit Busan. Kai ingin merawat Euijin eonni sampai penyakit bernama kanker berhasil merenggut nyawanya.

“Kau… Bisa berhenti, tidak?” kata Bora dengan nada kesal. “Tangisanmu adalah tangisan terburuk yang pernah aku dengar!”

Taemin menghentakkan kedua kakinya bergantian di tanah. “Kalian semua orang berhati dingin! Di saat Kai akan pergi sangat jauh, tidak ada satu pun dari kalian yang menangis!” kemudian Taemin berjalan menuju tempatku berdiri dan menunjuk wajahku. “Terutama kau! Ekspresi macam apa itu, hah!?”

Aku memandang Taemin dengan bingung. Sejak tadi aku hanya berdiri, tanpa berkata apa pun. Sesekali aku tertawa kecil saat Bora dan Seungyeon mengajakku berbicara. Lagipula seharusnya aku tidak boleh datang kemari. Karena aku dan Kai sudah berjanji untuk tidak saling bertemu sampai hati kami berdua sembuh dari yang namanya kehilangan.

Gongchan dan Wheein yang ikut mengantar sedang berbicara dengan Kai. Sebelumnya mereka menawarkan diri padaku untuk menceritakan semua yang terjadi hari ini. Tentu saja aku setuju karena hatiku sudah terlalu lelah untuk bercerita. Mungkin sekarang mereka sedang berbicara tentang bagaimana Baekhyun meledak dengan aksi super heroik dari Solar.

Tidak ada satu pun kata-kata dari teman-temanku yang menghiburku. Sejak kami tiba di stasiun, Bora dan Seungyeon terus mengajakku berbicara agar aku tidak terlalu sedih. Mereka mengkhawatirkanku yang akan ditinggal jauh oleh Kai. Padahal sebenarnya ini hanya sementara. Yang selalu ada di pikiranku adalah seberapa lama kah sementara itu.

“Kau belum menepati janjimu, Kai! Kau bilang kau mau mencarikanku perempuan cantik! Tapi kau malah pergi!” lanjut Taemin sambil merengek.

Taemin yang biasanya bisa membuatku kesal atau senang tidak membuatku merasa betah berada di sini. Aku ingin cepat pulang. Suasana ini tidak bisa kubilang sedih, tapi aku seperti tidak tahan dengan udara di sini. Apa yang ingin kulakukan sekarang adalah mengurung diri di apartment yang dulu merupakan tempat tinggal Solar. Sekarang aku tidak tahu aku harus… Bagaimana.

“Taeyeon,” sapa Kai dari belakangku. Aku tidak menyadari kehadirannya tapi berada di dekatnya membuatku murung. “Aku sudah dengar apa yang terjadi. Sepertinya karena kejadian tadi… Waktu kita untuk bertemu akan bertambah lama.”

Aku mengangguk cepat lalu berusaha untuk tersenyum. Lalu aku teringat akan tujuanku datang kemari. Aku tidak datang hanya untuk mengantar kepergiannya, tapi untuk menyerahkan sesuatu. Jadi aku mengambil tas besar yang ada di belakangku lalu mengeluarkan isinya.

“Kai… Aku ingin kau membawa ini,” ucapku lalu menodongkannya sebuah boneka kelinci dengan pita biru muda. Kai pernah bilang bahwa kelinci dengan pita biru muda ini adalah aku, sedangkan yang berpita merah adalah Solar.

Kai menerima boneka dengan tatapan ragu. “Tapi, Taeyeon… Bukankah ini barang berharga untukmu? Lagipula—“

“Um, aku sudah susah payah membawanya kemari, jadi…” tiba-tiba Kai menatapku dengan senyuman usil terukir di wajahnya. Aku menjadi semakin gugup dan salah tingkah. “Aku tidak memintamu untuk menjadikannya sebagai penggantiku, sih… Aku harap kau mau membawanya…”

“Baiklah.”

“Benarkah?” tanyaku lalu Kai mengangguk. Aku tersenyum selebar mungkin. Kumohon. Meski kau pacarku, meski kau orang yang tahu segalanya tentangku, kumohon kali ini saja. Jangan kau sadar bahwa senyum yang kuberikan ini adalah senyuman palsu. Senyuman yang berusaha aku buat agar kau pergi tanpa perasaan bersalah.

Kai mendekatkan boneka tersebut ke wajahnya dan mencium aromanya perlahan. Dengan cepat Kai mencium bibir boneka itu dan memeluknya. “Rasanya seperti kau menjelma menjadi kelinci kecil, ya!”

Ucapannya membuat wajahku merah padam. Dia tahu. Dia tahu aku memberikan senyum palsu padanya. Karena itu dia juga berusaha untuk menggodaku. “Kalau begitu kembali kan padaku, dasar!” seruku lalu Kai mengangkat boneka tersebut tinggi ke udara, membuatku harus melompat untuk berusaha meraihnya.

“Tidak mau! Kau kan sudah memberikannya padaku!”

Mungkin ini sebenarnya tidak cukup, tapi apa yang dilakukan Kai cukup menghiburku. Aku teringat kembali kata-kata Solar yang menyatakan aku harus sadar bahwa aku masih memiliki beberapa hal milikku yang tersisa. Setidaknya Kai adalah salah satunya. Wheein juga. Teman-temanku juga. Serta orang tuaku, yang baru maupun yang lama.

Kereta bernomor AJ450 dengan tujuan Busan sudah tiba di stasiun 4. Para penumpang diharapkan segera memasuki kereta tanpa berdesak-desakan. Unutk penumpang khusus, harap mencari petugas terdekat untuk diantar ke gerbong kelas pertama. Diulangi…

“Sudah waktunya ya,” ujar bibi dari belakang Kai. Aku tidak melihatnya sedari tadi. Tidak hanya bibi, paman juga ada. Mereka mengantar kepergian Kai yang berperan sebagai anak mereka selama hampir 20 tahun.

Kai mengangguk lalu menatap kami satu per satu. Menatap Gongchan dan Wheein, menatap Bora dan Seungyeon, menatap Taemin, menatap kedua orang tua angkatnya, dan menatapku. Lalu setelah keberaniannya terkumpul, dia berkata dengan pelan, “Aku berangkat.”

Pintu kereta terbuka dan dengan boneka di tangan kanan serta koper yang besar di tangan kiri, Kai memasuki kereta. Dia mengambil tempat duduk yang dekat dengan jendela. Mataku dan matanya bertemu. Dia melambaikan tangannya dan juga menggoyangkan kelinci yang kuberikan padanya.

Kereta bergerak perlahan dan aku mulai melambaikan tanganku. Biasanya jika di film, sang pacar akan berlari mengejar kereta sampai dia tidak bisa mengejarnya lagi. Tapi aku tidak akan melakukannya. Aku hanya akan memberinya senyuman. Aku tidak akan memberikannya ucapan selamat tinggal, atau sampai bertemu lagi, atau terima kasih atas segala bantuannya. Karena aku ingin kami bertemu lagi. Dan saling berbagi isi hati kami begitu kami siap.

Begitu Kai sudah tidak ada dalam jarak pandangku, tubuhku seketika lemas dan kujatuhkan diri ke lantai. Air mata yang selama ini kutahan keluar terus menerus, tidak mau berhenti. Padahal aku tidak ingin menangis. Padahal aku ingin menjadi kuat.

“Kerja bagus, Taeyeon,” ucap Taemin yang ada di belakangku lalu menyentuh bahuku pelan. “Kau sudah sangat bersabar.”

Lalu yang terjadi selanjutnya adalah aku menangis, bersama Taemin. Taemin berkali-kali menguatkanku dengan berkata bahwa menahan tangis adalah tindakan tercerdas yang pernah aku lakukan.

Wheein mendekatiku dan berkata, aku dan Kai adalah manusia lemah. Kami berdua sama-sama tidak mau menangis di depan orang yang kami cintai tapi begitu ada kesempatan, kami akan langsung menangis. Kami orang lemah. Dan justru perpisahan ini lah yang akan membuat kami semakin kuat. Dan saat kami sudah berubah menjadi orang yang lebih kuat… Di saat itulah kami harus segera bertemu.

.

.

.

.

.

            E-mail dari Kai datang seminggu kemudian saat aku berkunjung ke makam Solar bersama Gikwang dan Wheein.

Taeyeon, apa kabar? Maaf, akhir-akhir ini aku tidak memberimu kabar. Aku selalu berusaha untuk menghubungimu jika aku punya kesempatan dan ini lah kesempatanku.

            Keadaan berjalan sedikit merepotkan dari dugaanku. Euijin sangat susah untuk dirawat. Terkadang dia bertingkah seperti anak kecil. Dia sangat pilih-pilih dalam makanan. Dia akan memarahiku jika aku membacakan sebuah dongeng anak-anak padanya. Tapi dia paling senang saat aku mengepang rambutnya.

            Saat kita bertemu lagi, aku ingin mengepang rambutmu. Apa aku boleh melakukan itu?

            Aku tersenyum begitu selesai dan membalasnya dalam hati. Tentu saja, itulah jawabanku. Waktu berjalan sangat lambat setelah aku mengantar kepergian Kai. Aku tentu tumbuh dewasa dan makin bertambah tua hari demi hari. Dan aku merasa seperti orang yang sudah mati. Aku memiliki banyak hal yang bisa kulakukan tapi aku tidak memiliki hal yang ingin aku lakukan.

“Taeyeon nuna,” ujar Gikwang setelah menaruh bunga sweetpea di makam Solar. “Terima kasih sudah memberikanku kesempatan untuk bersama Solar.”

Mungkin rasa kehilangan yang dirasakan Gikwang sama besarnya denganku. Wheein berkata padaku bahwa Solar adalah cinta pertama Gikwang. Lalu aku teringat pada Solar yang sama sekali tidak bisa mempercayai laki-laki. Pertama, dia tidak percaya pada papa. Kedua, dia tidak percaya pada Baekhyun. Ketiga, dia tidak percaya pada Kai.

“Solar mempercayaimu, kau tahu?” balasku. “Dan itu artinya aku juga harus mepercayaimu. Harusnya aku lah yang berterima kasih.”

Gikwang mengangguk lalu meminta izin padaku agar pergi lebih dulu bersama Wheein karena mereka harus segera kembali ke Rumah Sakit. Aku menyentujui mereka dan menyaksikan pasangan dokter itu pergi. Aneh rasanya pergi ke makam ditemani oleh dokter yang seakan-akan berada di sampingku untuk menjagaku tetap waras.

Kai… Aku merindukanmu. Sangat sulit untukku bertahan menjadi orang yang sehat. Aku tidak bisa melakukan apa pun. Terkadang aku membenci kenyataan bahwa aku masih sehat dan normal. Aku tidak bisa tidur dengan memikirkan bahwa kau sekarang jauh dariku.

Dunia seakan menutup tirainya dariku. Mata orang-orang yang terus-terusan menatapku membuatku sadar bahwa sekarang aku adalah orang dewasa. Selama berada di dekatmu, aku selalu tenang karena kau akan melindungiku. Kai… Tanpamu, semuanya terasa berat. Malam yang gelap, dunia yang dingin, semuanya menyusahkanku. Tanpamu, aku kesepian. Seperti orang bodoh, aku terus menunggumu dan mempercayaimu. Padahal aku sendiri juga harus berubah.

“Taeyeon?”

“Apa itu kau?”

Aku hampir tidak percaya apa yang kudengar. Suara ini. Tidak salah lagi. Aku tidak pernah mendengar suara ini berkata hampir secara bersamaan. Aku ingin memarahi mereka berdua. Aku ingin memaki mereka berdua. Tapi jauh di atas semua itu, aku ingin memeluk mereka berdua. Jadi aku berlari menghampiri mereka dan dengan kedua tanganku, kutarik mereka berdua di sebelahku. “Papa… Mama…”

.

.

.

.

.

Taeyeon, ada kabar buruk yang harus kuberitahu padamu.

Euijin meninggal dunia. Dia telah menyerah pada kankernya. Sekarang… Aku sedang menghadiri pemakamannya. Dia akan dimakamkan bersama para penderita kanker lainnya. Di detik-detik terakhirnya, dia terus mengucapkan terima kasih padaku. Lalu aku menjawabnya dengan dua kata. Aku memaafkanmu.

Aku tidak tahu apa yang aku lakukan setelah ini. Waktu terus berjalan dan aku tidak bisa diam saja. Meski sakit, meski kesal, meski marah, meski menderita, aku akan terus berjalan ke depan. Karena itu Taeyeon, jangan mencemaskanku. Kau boleh menangis, untuk menutupi lubang di hatimu. Tapi setelah itu bangkitlah. Dan mari kita sama-sama menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

.

.

.

.

.

            “Ahyeon? Kau ada di mana?”

Aku berlari mengelilingi ruangan tempat anak-anak tidur. Dia paling senang bersembunyi di tempat ini. Jadi kurasa tidak akan sulit untuk menemukannya kali ini. Benar saja dugaanku. Saat aku memandangi tirai yang membatasi kamar tidur anak laki-laki dan perempuan, aku melihat bayangannya.

Aku menyikap tirai tersebut dan dengan cepat berkata, “Ahyeon! Ketemu! Jangan kira kau bisa bersembunyi dariku!”

Ahyeon, gadis kecil berumur 5 tahun menatapku dengan mata berkaca-kaca. Aku menggigit bibir bawahku. Gawat. Dia pasti akan melakukannya lagi. Aku harus cepat menutup telingaku. Tapi terlambat. Karena Ahyeon berteriak sangat kencang, “BUNDAAAAAAAA, TAEYEON EONNI AKAN MEMARAHIKUUUUU!!”

“Ahyeon!” seruku panik. Lalu langkah kaki terdengar dari belakangku. Seorang wanita separuh baya yang menatapku dengan wajah cemas. “Bunda, lagi-lagi Ahyeon tidak mau menjalani pemeriksaan gigi.”

Bunda menggelengkan kepala. “Kau sambut saja dokter yang sudah datang jauh-jauh. Aku yang akan mengurusi Ahyeon.”

“Baik, ma. Um, maksudku bunda.” Ujarku cepat lalu segera berlari ke arah pintu.

Bunda, itulah nama panggilan mama di tempat ini. Saat ini aku berada di sebuah penitipan anak yang didirikan oleh mamaku di rumahnya sendiri. Anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, semuanya berkumpul di sini karena orang tua mereka tidak bisa menjaga mereka di jam kerja. Sudah 2 tahun aku bekerja di sini untuk membantu mama.

Awalnya aku menolak karena aku tidak yakin apa aku bisa melakukan ini. Tapi mama terus memaksaku dan berkata bahwa ini adalah pekerjaan yang menyenangkan. Jadi aku menerima tawaran mama dan terus bekerja untuk melupakan kesedihanku di mana aku kehilangan 3 orang yang aku sayang di hari yang sama.

Beberapa bulan sekali, anak-anak di penitipan ini akan menjalani pemeriksaan oleh dokter yang sudah kami panggil dari Rumah Sakit. Anak-anak ini akan menjalani pemeriksaan mata, telinga, serta gigi, dan pengukuran berat badan dan tinggi. Anak-anak paling takut dengan pemeriksaan gigi dan itu membuatku kewalahan. Sampai saat ini aku berhasil menenangkan anak-anak seperti itu. Ahyeon sedikit berbeda karena dia baru saja dititipkan di sini bulan lalu.

“Wheein!” sapaku sambil tersenyum setelah membukakan pintu. “Masuklah!”

Benar. Dokter yang selama ini membantu penitipan ini adalah Wheein. Aku segera mengantarnya ke ruang tengah, tempat anak-anak sudah berbaris dan siap untuk diperiksa. Wheein dengan cepat mengakrabkan diri dengan anak-anak. Dia jauh lebih baik daripada aku dan bunda dalam menangani anak-anak. “Bunda di mana?”

Aku mencari sosoknya di sekitarku. “Mungkin sedang mengambil data pemeriksaan anak-anak yang paling terakhir,” jawabku lalu Wheein mengangguk.

Mata Wheein tertuju pada anak perempuan dengan mata sembab yang berdiri paling belakang. “Apa itu anak baru?” tanyanya padaku.

Aku mengangguk. “Namanya Kim Ahyeon. Dia—“

“Keponakan Kai?” tanya Wheein cepat lalu sekali lagi aku mengangguk. Memang benar, Ahyeon adalah anak perempuan dari kakak Kai –bukan kakak kandung—tapi sikapnya selalu mengingatkanku pada Kai. Dia berusaha kuat di depan yang lain tapi begitu sendirian, dia akan kebingungan sendiri.

Wheein tersenyum setelah mendengus padaku. “Sudah berapa tahun? Hampir 2 tahun, ya? Apa kalian tidak ada rencana untuk bertemu?”

Ini pertama kalinya Wheein bertanya seperti itu padaku setelah kunjungannya yang ke sekian kali ke tempat ini. Aku hanya ingin menjawab, entahlah. Aku sendiri tidak tahu apakah kami boleh bertemu sekarang.

“Melihat dari wajahmu… Sepertinya kau sudah lama tidak mengirim kabar padanya, ya?” tanya Wheein sekali lagi lalu aku mengangguk. Terakhir aku menghubunginya adalah 3 bulan yang lalu. Aku memberinya kabar bahwa Taemin akan menikah beberapa bulan lagi, dengan perempuan yang dia temui saat berjalan-jalan ke Jepang. Tapi seperti biasa Kai tidak membalas. “Haah… Aku benar-benar tidak mengerti.”

Aku mengertukan kening. “Apa maksudmu?”

“Setelah 2 tahun, aku tidak tahu apakah kalian sudah berubah atau belum. Yang kulihat, kalian sama-sama keras kepala. Kalau mau bertemu, kenapa tidak sekarang? Tidak ada yang tahu apakah kalian berubah jika tidak kalian sendiri yang memastikan…” jelas Wheein panjang lebar. “Kalau begini terus aku dan Gongchan akan mendahului kalian.”

Aku tertawa kecil bersamaan dengan bunda memasuki ruangan. Lalu beberapa menit berikutnya aku membantu Wheein dalam proses pemeriksaan seperti membawakannya timbangan dan alat untuk mengukur tinggi. Ada yang bertambah berat, ada yang bertambah tinggi. Melihat perkembangan mereka, aku tahu bahwa waktu terus berjalan.

Setidaknya itu yang kupikirkan sampai hari menjadi gelap. Wheein tidak segera pulang, melainkan membantu aku dan bunda membersihkan tempat penitipan. Satu per satu anak-anak dijemput oleh orang tua mereka. Hingga tersisa satu anak terakhir, Ahyeon.

“Ini sudah hampir jam 6,” ucap bunda cemas. “Apa sebaiknya aku menghubungi orang tuanya?”

Aku menatap Ahyeon yang masih asyik bermain dengan bonekanya. Mungkin sebenarnya tidak masalah, tapi tidak ada salahnya jika dia dijemput sekarang. “Baiklah, akan kuhubungi—“

“Tidak perlu!” seru Wheein yang baru saja kembali dari menyapu halaman depan serta menyiram bunga-bunga yang kami rawat. “Sudah ada yang datang menjemputnya.”

Aku menghampiri Ahyeon perlahan. “Um, Ahyeon, kau sudah dijemput. Ayo, akan kuantar kau ke depan.”

Ahyeon mendorongku menjauh. “Tidak mau. Ahyeon masih mau main!” serunya membuat bunda menggelengkan kepala. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus ke depan dan berbicara pada orang yang menjemputnya bahwa Ahyeon tidak ingin pulang. Lalu aku harus mengajak orang itu masuk agar dia bisa –dengan paksa—membawa Ahyeon.

Setidaknya itu lah yang kupikirkan. Sampai aku sadar siapa yang datang menjemputnya. Tidak. Dia tidak datang menjemput Ahyeon, dia datang menjemputku. Mungkin. Karena aku bisa melihat buket bunga mawar di tangan kanannya serta kotak kue di tangan kirinya. Senyumannya jauh lebih indah daripada matahari terbenam.

“Ahyeon tidak ingin pulang, kan? Aku tahu. Kalau begitu apakah kau mau menemaniku?” tanyanya lalu menghampiriku. Tiba-tiba saja dia membungkukkan badannya dan menciumku.

Aku tidak percaya ini. Aku tidak percaya dia saat ini berdiri di hadapanku. Penampilannya banyak berubah, dia bertambah tinggi, tapi kehangatan ini. Wanginya ini. Serta caranya menciumku tidak pernah berubah. “Kau akan mengajakku ke mana… Kai?”

Kai tersenyum dengan pipi merona. “Ke toko perhiasan,” dia menyerahkan bunga mawar padaku dan menggenggam tangan kiriku, menciumnya tepat di jari manis. “Dan mencarikan cincin yang pas untuk jari ini.”

TAMAT

So this is a goodbye. Aku tahu. Tamat. Sebuah kata yang mungkin tidak ingin kalian dengar, tapi pada akhirnya, kalian tahu bahwa ini akan terjadi juga. Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca dan mengikuti cerita ini sampai akhir. Di part terakhir ini, aku ingin menerima banyak apresiasi serta cinta dari kalian. Aku tahu bahwa beberapa di antara kalian ada yang belum puas. Karena itu tolong beritahu padaku kesan dan pesan kalian pada cerita ini di kolom komentar. Kurasa tidak ada salahnya kan, meminta kalian tetap mengisi kolom komentar di part terakhir? Aku sudah menyiapkan epilog untuk fanfic ini. Dan aku janji ini akan menjadi epilog yang manis untuk menutup cerita Skellington. Epilog juga akan diberi password dan cara mendapat password sama seperti sebelumnya.

I know you want it. I want you, all my readers, to be happy. So please make me happy. I’m full of regards and love but… Thank you. Scarlettkid.

Advertisements

35 comments on “Skellington [Part 25]

  1. berakhir dengan baekhyun dan solar yang meninggal 😦 sebenernya gak tega kalo baekhyun harus meninggal. karena masih ngarep baekyeon bakal bersatu. tapi yasudah lah yang penting happy ending kai sama taeyeon. epilog nya ditunggu 🙂

  2. bener bener gak nyangka kalo akhirnya baekhyun sama solar harus….
    kasian sama mereka. T_T
    tapi syukur deh taeng sm kai balik lagi.
    keren thor. keren banget.
    epilognya ditunggu ^^

  3. Wahh happy ending, lalu jasad baekhyun gimana ? gak nyangka solar bakal ambil keputusan yang seperti itu, kenapa chapter terakhir ini kerasa cepet banget dibaca, wahh, terima kasih sudah menyuguhkan ff yang menarik dan bikin penasaran ini, dan di post sesuai dengan yang ditetapkan. Jadi para readers cukup tenang karena ngerti kapan ff ini update. Terima kasih banyak. Author sudah bekerja keras. Cepet bikin ff baru yang ga kalah menarik yaa

  4. baek dan solar akhirnya damai di alam sana…
    dan akhirnya kai ama taeyeon…
    happy ending…
    keren bgd saeng,,,
    salut ama kerja keras author,,,
    dtggu karya2 selanjutnya,,
    FIGHTAENG!!!!

  5. pada akhirnya yg pergi harus ttp pergi agak ga rela sih ya baekhyunnya itu,. solar juga ya ampun sedihnya berkali” lipat ya,athor ditunggu ff kamu yg lainnya ya,.

  6. Ending nya seru
    Tapi baekhyunnya meninggal,kirain masih ada baekyeon moment
    Tapi gak apa lh,puas sama ffnya

  7. Sejak awal aku berharap ending bakal sama baekyeon, soalnya jujur ja q kurang suka kalao ada yg harus meninggal. FFnya memuaskan 😀

  8. waktu di pemakaman aku kira baekhyun yang manggil 😅 walaupun gak mungkin juga sih wkwk
    overall aku puas sama ff ini. waktu awal-awal kayaknya aku inget pengen kaiyeon ending, tapi pas ke beberapa part terakhir aku agak sedih kalau engga ngeliat baekyeon moment.
    epilog nya ditunggu yaaa dan semoga sukses selalu💕💕

  9. keren thor!
    akhirnya happy ending dan kai balik lagi sma tae
    ditunggu epilog sma ff selanjutnya
    fighting

  10. daebakk…. endingnya memuaskan banget, kaiyeon happy ending, but solar dan baekhyun nya mati :”(
    masa sempet mikir si ahyeon itu anaknya taeyeon kkkkk ternyata bukan..
    yup semangat buat epilognya thor fightaeng!!

  11. Wahhh, akhirnya. Setelah melewati berbagai macam rintangan.
    Akhirnya happy ending. Tetap suka walaupun gk sesuai ekspetasi.
    Kai sama Taeyeon langgeng ya…

  12. My goodness im crying;-;
    Such a happy ending tp nangis aja ttp😂😂
    Idk tp baper bgt dr awal solar ngomongin janji😭😭😭
    I cant😭😭
    Taeyeon kai kuat bgt😭😭
    Yaampun😭😭
    Endingnya sweeeeeeeeeeettt bgt😭😭
    Anddd thankyou for kaiyeon pairingnya thornimmm
    Epilog ditunggu bgtt
    Sequel jg/ggg
    Greatttttt!!!❤❤❤❤❤❤❤❤😂😂

  13. Wuah….
    Akhir yg menyedihkan, mengharukan karna hrus ada yg pergi.
    Serta menyenangkan dengan kedatangan seseorang stelah lama pergi.
    Dan merajut kisah yang baru dalam bahagia.

  14. Dan akhirnya Fanfiction ini berakhir 😭😭

    Dan perkiraan saya meleset ahaha 😂😂
    ga nyangka aja Baek sama Solar harus berakhir …. 😭😭
    Quotes yg ini “Janji dibuat untuk dilanggar, dan kita akan membuat janji yang baru” bikin baper 😢
    btw tubux baek hancur ya? duhh 😢😢

    Karakter KaiYeon strong banget yaa 😥😭 saya syuka 😍
    and endingnya itu loo 😄 bikin senyum2 sendiri 😁
    Love KaiYeon 😍😘

    And I Love Happy Ending yeyyy 🙌🙌🙌
    #ThankyouAuthor 🙏👌

  15. Yey happy end, tp kasian solar n baekhyun gk bisa ngerasain kebahagiaan bersama mereka..
    Ditunggu epilognya

  16. Sebenernya ga rela juga kalo akhirnya baekhyun ga sama taeyeon, tapi yg buat cerita udah nentui. kyk gini pembaca cuma ngikutin aja hihi
    jujur aja sih thor ini kurang greget, kyk bukan ending gitu haha apa gara2 mau ada epilig kali ya? tp kamu udah kerja keras buat ini, makasih ya udah buat cerita bagus kyk gini. ditunggu karya2 nya yg lain.. epilog nya jugaaa
    semangat!!!!

  17. Kasian bgt taeyeonharus berpisah sama ketiga orang yg dia sayangi pd hari yg sama…
    Tp pd akhirnya seengganya salah satu ada yang kembali
    Aku nitihin air mta sedikit pas taeyeon harus berpisah sama solar dan baekhyun
    Ditambah dia yg soktegar saat kai pergi….

  18. Mmm… Agak kecewa juga sama endingnya…
    gak sesuai harapan…
    tp aku tetep suka dn applause buat thorrnim…

  19. sad sekaligus happy ending ya thor jadi baper, such an amazing fanfiction love it, cant wait for the epilogue, semangat thor!!!!!

  20. Aaa nggak nyangka ff favorit aku udah end >< Thankyou thor udah bikin ff yg bagus ini. Alur dan bahasanya perfecto! Pokoknya aku tunggu karya karya berikutnya 😀 ga sabar nih nunggu epilognya, fighting thor!

  21. Endingnya seperti real sih..
    Memang harusnya seperti ini.
    Tapi kalo boleh berharap dari awal Skeellington,
    baekyeon yg bersama.. Happy ending.

    Thanks thor.. Atas karyanya yg luar biasa ini.
    Ditunggu next ff ny..
    Fightaeng!!!!

  22. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

  23. berakhir dengan solar ama baek yg meninggal
    kai datang melamar taeng, setelah berpisah hampir 2th lamanya

  24. Aku gak tau harus komentar apa… tapi, taeyeon emg rasanya gak trllu cinta banget ma kai kan ya? Aduh… tpi smoga mereka bahagia 😀

    Nice thor, good job abis!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s