My Pervert Boy (Oneshot)

Untitled

My Pervert Boy

Main Cast: Taeyeon ­– G- Dragon || Genre: Romance || Length: Oneshot || Rating: PG-17 ||

Author : Selvy

Author Note: Dimohon perhatikan rating readers…

Typo bertebaran

-____________-

Taeyeon POV

Cuaca sedang buruk beberapa hari belakangan ini di Seoul. Lihat saja langit yang hanya menampakkan gelap tanpa ada bintang karena tertutup awan pekat. Ditambah lagi suasana lembab karena gerimis yang sejak tadi mencoba menghalangi pandangan dari arah jalan.

“Hmmmp harusnya tadi aku mengajak Jaejoong, kenapa juga aku harus repot- repot pergi sendiri” Umpatku. Sejujurnya aku sedikit merinding bukan karena kedinginan tapi melewati area gelap dengan pepohonan dimana- mana.

Ini semua karena aku harus mengantar Tiffany ke bandara Internastional Incheon. Dan sekarang aku harus menyetir sendirian menuju Gangnam, apartement Jaejoong oppa.

Punggungku sedikit terpental saat kaki kananku menginjak rem. Kepalaku menggeleng kuat berusaha mengingkari apa yang baru saja dilihat oleh mata kepalaku. Dengan tangan bergetar aku menjalankan mobilku pelan ke depan. Melewati kerumunan berandalan yang sedang menghajar seseorang.

Aku sangat ketakutan sampai tak kusadari bajuku basah karena berkeringat. Entah keberanian darimana hingga aku membelokkan kepalaku mengintip ke arah orang itu. Dan nafasku tercekat saat melihat lelaki bermasker coklat itu babak belur.

“Taeyeon anggap saja tidak terjadi apa- apa” Yakinku pada diri sendiri.

Untuk beberapa detik aku terpaku saat mataku tak sengaja terkunci pada lelaki yang sedang mengerang kesakitan itu. Ia seperti meminta tolong padaku, tapi apa yang bisa dilakukan oleh wanita kecil seperti diriku?

Lelaki bertubuh besar dan berperut buncit mulai menyadari kehadiranku sebagai tamu tak diundang. Ia berjalan ke arahku dan dengan cepat mobilku melaju meninggalkan tempat itu.

Jiyong POV

Tubuhku sudah tak bisa kugerakkan, entah tulang rusukku sudah patah karena ulah para bajingan ini. tentu hal seperti ini tidak asing menimpa seseorang sepertiku. Banyak perusahaan saingan yang sangat menginginkan kematianku. Tapi aku tidak boleh mati konyol disini.

Aku tak bisa mengharapkan apapun selain keajaiban yang bisa menyelamatkanku, sampai akhirnya sebuah modil tertangkap oleh mataku yang mulai buram berhenti tak jauh dari kami. Seseorang dengan tatapan ketakutan  di dalam sana.

“Tolong panggil polisi” Gumamku pelan. Oh shit aku lupa akan masker yang menutupi mulutku. Pria gemuk itu menangkap pergerakan sang gadis. Oh tidak ia dalam bahaya, gadis itu harus pergi tapi sebelumnya paling tidak ia harus menelpon polisi. Sepertinya otakku sudah gila karena rasa sakit. Mana mungkin gadis seperti dia mempunyai keberanian untuk menelpon polisi.

Pria jangkung bertubuh kekar itu mengeluarkan sebuah benda yang tak ingin kulihat. Sekali saja ia menyayat leherku maka tak ada lagi pewaris dari Kwon Company.

Cekrek

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN?” Kudengar teriakan pria itu. Mataku perlahan terbuka melihat yang terjadi. Dan rasanya jantungku berhenti saat melihat seorang gadis dengan tangan bergetar sedang memegang HP memotret ke arah kami.

Aku merututi diriku sendiri. Gadis itu terlalu bodoh untuk masuk ke dalam masalah ini. bagaimana bisa dia datang seorang diri dengan tubuh bergetar seperti itu. Sama saja dia datang mengantarkan nyawanya sendiri.

“Le … lepaskan dia atau akan kubawa foto ini ke kantor polisi” Ucapnya tergagap. Harus kuakui ia cukup berani mengatakan itu. Tapi hanya tawa dari para brengsek itu yang terdengar. Tentu saja itu konyol untuk mengancam mereka.

Pria buncit itu berjalan mendekati si gadis aku berusaha menahan kakinya tapi tendangan mendarat di dadaku membuatku terpental ke tanah.

“Sudahlah jangan mengganggunya. Itu diluar perintah, kita akan mendapat masalah kalau menyentuh gadis itu. Kita hanya perlu menghabisi orang ini. sekarang kau gadis yang sok berani lebih baik menjauh dari sini selama masih kuberi kesempatan”

Pria yang tidak pernah bersuara semenjak tadi ikut memecah keheningan, aku tak bisa menyembunyikan raut lega di wajahku. Oh Tuhan padahal nyawaku sedang di ujung tanduk dan aku masih sempat mengkhawatirkan seorang wanita.

Taeyeon POV

Sungguh bodoh diriku. Kesempatan itu datang, aku hanya tinggal pergi dan hidup seperti semula. Tapi bagaimana dengan lelaki itu? Akhirnya aku menutup mataku mengumpulkan segara keberanian.

“Lihat ini jika aku memencet tombol Send maka kakakku akan menerima foto ini. Dan jikapun aku mati disini kalian akan menjadi buronan karena telah membunuhku dan pria itu. Jadi pilih mana? Bebaskan dia atau hancur bersama”

Bodoh bodoh bodoh. Kim Taeyeon untuk apa kau lulusan universitas bergengsi kalau mati sia- sia disini. Oppa maafkan adikmu yang bodoh ini.

Pria gendut itu mulai kelalapan, mukanya merah seperti ingin memakanku hidup- hidup membuat lututku terasa lemah. “Kau mengancam kami? Kau fikir kau siapa hah?”

Aku menarik nafas sekali lagi. Air mataku entah kapan sudah mengalir di wajah yang berusaha tetap stay cool

“Aku Kim Tayeeon adik dari Kim Jaejoong pewaris Kim Entertainment.” Wajah mereka mengerut tak percaya akan omonganku. Otakku mulai kehabisan akal sampai ide gila muncul di otakku. “Bodyguard disini Kim Taeyeon. OPPPAAA ada penjahat disini”

Aku berteriak ke arah dua mobil yang melaju ke arah kami. Aku tak berfikir ini akan berhasil sampai mereka mulai gelagapan dan berlari menjauh. Sepertinya mereka percaya. Dengan segera aku memapah orang itu sedikit ah tidak dia sangat berat.

“Cepat lari ke mobil. Tolong kuatkan dirimu atau kita akan mati konyol disini” Ucapku putus asa dengan muka pucat pasih. Dia terlihat mengumpulkan sisa tenaga dan ikut berlari kecil menuju mobil.

“HEI BERHENTI” Orang itu berteriak keras aku tak perduli dengan cepat mobil sport merahku melaju tanpa melihat apapun. Jika saja ada seseorang menyebrang pada saat itu mungkin aku akan menabraknya tanpa rasa bersalah dan kabur.

Aku menggigit bibir bawahku keras dengan tangan masih bergetar hebat. Lututku tak bisa kurasakan lagi bahkan  aku tak bisa berfikir apapun. Aku memang sudah gila, beberapa menit yang lalu aku hampir saja membunuh diriku sendiri.

 

-____________-

 

Mobil itu berhenti tepat di depan rumah sakit Gangnam. Taeyeon menatap kosong ke depan sementara security mengetuk mobil mereka karena parkir tepat di depan rumah sakit bukannya di tempat parkir. Ditambah lagi keributan karena mobil Taeyeon yang tadi terus melaju tanpa memerhatikan orang yang berlalu lalang di sekirar rumah sakit tersebut.

Jiyong yang sedari tadi hanya menatap Taeyeon semakin larut dalam wanita itu. Keringat dingin, wajah pucat dan tubuh bergetar hebat karena ketakutan entah kenapa menjadi sangat menarik di mata Jiyong.

Tak bisa dipungkiri ia kagum bahkan mungkin lebih dari itu kepada gadis yang sedang duduk tanpa bergerak seperti patung dihadapannya. Ia mungkin terlihat sangat jahat karena menikmati pemandangan itu tapi menatap wajah menawan milik wanita itu membuat ia melupakan rasa sakit yang ia rasakan.

“Hiks …. hiks …. “ Taeyeon akhirnya menunduk. Ia memukuli kepalanya sendiri,   “Pabo pabo Taeyeon. PABO” Ucapnya. Ia menundukkan kepalanya hingga menempel pada setir mobil. Sampai akhirnya kesadarannya teralihkan.

Jiyong membuka pintu yang langsung mendapat omelan dari orang- orang yang sejak tadi memukuli kaca mobil mereka. Tapi lelaki itu tak perduli, ia hanya berjalan dan membuka pintu kemudian mengeluarkan tubuh mungil gadis itu beralih kedalam dekapannya.

Ia berjalan ke arah suster dan membaringkan gadis itu di atas Brankar yang meraka bawa. Jiyong mengikuti arah suster itu tanpa memperdulikan darah yang sudah menetes dari kepalanya ataupun wajahnya yang babak belur.

“Sepertinya anda juga terluka. Sebaiknya luka anda dirawat dengan baik kemudian kembali lagi kesini” Ucap suster dengan senyum lebar. Jiyong mengangguk dan mengukuti intruksi suster lain yang membawanya di atas Bandar yang berbeda. Sebentar ia melirik gadis yang tertidur pulas di sampingnya sampai akhirnya sebuah gorden besar menghalangi pandangannya.

 

-____________-

 

Jiyong membuka mata di sebuah ruangan berbeda dari sebelumnya. Ia menatap sekeliling dan gadis itu tidak ada. Jarum infus masih tertancap di tangannya. Ia mulai bergerak dengan badan yang masih kaku.

“Anda sudah bangun Tuan?” Tanya suster yang masuk dan mengarahkan suntikan ke lengan Jiyong.

“Bagaimana keadaan gadis itu?”

Suster itu tersenyum kecil kemudian menatap Jiyong, “Gadis yang datang bersama anda hanya shock dan itu tidak apa- apa.”

“Lalu dimana dia?”

“Kemarin setelah sadar ia segera pergi dari rumah sakit. Ia sepertinya sangat ketakutan, tapi tenang saja kakaknya menjemputnya dan kurasa anda tak perlu khawatir” Suster itu menjelaskan dengan detail tanpa Jiyong perlu bertanya lagi.

Rasa kecewa hinggap di hati Jiyong, mengapa gadis itu tak menunggunya sadar? Ah kenapa juga dia harus menunggu Jiyong sadar. Bahkan mereka tidak saling kenal setidaknya itu yang ada di fikiran lelaki itu saat ini.

“Jadi saya sudah sehari tidak sadarkan diri sus?”

“Iya. Dan sekarang anda harus di rawat inap di rumah sakit. Oh saya hampir lupa gadis itu berpesan bahwa anda tak perlu memikirkan biaya dan juga tentang penjahat itu akan diurus oleh oppanya”

“Dia mengatakan itu?” Suster mengangguk dan kemudian meninggalkan Jiyong yang tersenyum penuh arti. Ini pertama kalinya dalam hidup seorang Kwon Jiyong ada orang yang mengatakan hal seperti itu padanya. Apakah gadis itu berfikir dia tidak mampu membayar rumah sakit? Wow lucu sekali.

Jiyong meraih telpon yang berada di atas meja kecil di sampingnya. “Sekretaris Oh, datang ke rumah sakit Gangnam Sekarang.” Ia kemudian menutup telpon.

Tangan Jiyong mengambil koran yang terletak tak jauh darinya.

J

Ia mulai membaca dan bibirnya tak berhenti tersenyum. Bukan karena isi koran itu, tapi karena gadis mungil yang menolongnya. Jiyong masih tidak habis fikir bagaimana gadis semungil itu bisa sangat berani melawan tiga orang pembunuh bayaran?

Dan mengapa ia harus repot- repot ikut campur pada masalah orang yang tidak ia kenal? Bukankah itu terlalu berbahaya? Padahal ia tak akan mendapatkan apapun. Selama ini Jiyong selalu dikelilingi gadis- gadis bahkan setiap malam gadis berbeda tidur di kasurnya. Tapi tak ada satupun yang menarik bagi Jiyong

Mereka hanya orang- orang yang mendekatinya karena uang, tahta dan wajah menawannya. Tapi gadis itu bahkan tidak tahu siapa dirinya dan bagaimana rupanya. Tapi tanpa ragu- ragu ia berani mengorbankan nyawa untuk menolongnya. Jiyong penasaran apa sebenarnya yang di fikirkan gadis itu.

“Tuan mengapa Tuan ada disini? Maafkan kami tak melapor polisi karena kehilangan Tuan. Kami hanya mengikuti perintah dari Nyonya Besar” Lelaki paruh baya itu menunduk hormat dengan penuh penyesalan di wajahnya.

“Tak apa Sekretaris Oh. Yang paling penting aku sudah selamat”

“Tapi apa yang terjadi? Apakah seseorang menculik tuan? Katakan siapa Tuan kami akan mencarinya walaupun sampai ke ujung dunia” Jiyong hanya tertawa mendengar itu. Sekretarisnya itu memang terkadang terlalu berlebihan menanggapi sesuatu.

Jiyong menaikkan alis mencoba mengingat- ingat sesuatu. “Boleh aku pinjam ponsel?”

“Tentu saja Tuan”

Jiyong membuka pencarian dan mengetikkan ‘Pewaris Kim Entertainment’ dan foto lelaki berwajah tegas muncul disana. “Ini Kim Jaejoong?”

DD

Tanya Jiyong dan dianggukkan oleh sekretaris Oh. “Apakah dia punya adik perempuan berumur 20-an?”

“Setahu saya ada, seorang gadis lulusan Gangnam University. Adiknya pintar seperti kakaknya, dari yang kudengar namanya Kim Taeyeon. Gadis itu sangat populer karena sering muncul di agensi keluarganya” Jelas sekertaris Oh panjang lebar. Bukan tanpa alasan ia menjalaskan dengan detail tapi karena Tuannya tidak pernah bertanya masalah gadis. Moment ini sangat langkah.

‘Kim Taeyeon’ Jiyong tersenyum begitu foto Taeyeon tersenyum ke arah kamera tepat di hadapnnya.

DDD

Wajah cantik, imut, dam polos. Ia terlalu sempurna, Jiyong membuka satu persatu artikel tentang Taeyeon. Wajahnya jauh lebih cantik saat tersenyum dibanding ketika ketakutan kemarin.

Seketika Jiyong merasa perih mengingat wajah polos dan cerah itu harus dinodai karena para brengsek yang tidak bertanggung jawab.

“Ehem Tuan muda. Sebenarnya Kim Entertainment menawarkan kerja sama dengan perusahaan kita” Perhatian Jiyong teralihkan. Ia sedikit kaget mendengar itu walaupun tersembunyi di balik wajah dinginnya.

“Aku akan memecat siapa saja yang menolak tawaran mereka”

 

-____________-

 

 

“Morning Beb” Jaejoong mendaratkan ciuman manis di bibir gadis yang berada dalam satu selimut yang sama dengannya.

“Nado” Masih dengan suara serak gadis dengan eye smile itu membalas kecupan singkap namjachingunya. Bukannya bergegas turun dari kasur dan lekas mandi mereka malah mengeratkan pelukan kedua tubuh polos mereka.

Pakaian berserakan dimana- mana yang akan membuat siapa saja tahu apa yang sedang dilakukan dua sejoli itu. Tiffany tersenyum dengan mata terpejam, semalam ia baru saja kembali dari Jepang dan di jemput oleh Jaejoong. Namun bukannya membawa Tiffany pulang, namja itu malah membanya ke apartement pribadinya.

“Tak ada yang mengucapkan morning padaku?” Hening. Baik Jaejoong maupun Tiffany membulat dengan mata saling menatap. Lalu keduanya menengok dengan kepala kaku. Disana tepat di sofa depan jendela seorang gadis mungil menyilangkan kaki dengan majalah di kedua tangannya tersenyum dengan santai.

“YA KIM TAEYEON” Teriak keduanya.

“Ya! Apa yang kau lakukan disini? Mana boleh kau masuk ke kamar orang lain tanpa izin Taeyeon-ah”

“Ini kamar oppaku bukan orang lain” Judes Taeyeon membuat Jaejoong yang hanya menggunakan celana celana pendek memijit kepalanya. Sementara Tiffany sibuk memakai pakaiannya.

“Ya! Tetap saja tidak boleh. Dan lagipula sejak kapan kamu disini?”

“Sejak tadi malam”

“APA?”

“Ya! Jaejoong, Fany-ya aku tidak mengintip kalian swear” Ucapnya dengan tatapan polos serta tangan membentuk Peace.

Tiffany dan Jaejoong hanya bisa mendengus kesal. Memarahipun tidak ada gunanya untuk seorang Kim Taeyeon. “Taeyeon-ah kau kan sudah oppa sediakan kamar. Jadi kalau main kesini tak bisakah kau tidur di kamarmu?”

“Andwe. Oppa aku masih ketakutan dengan kejadian hari itu. Oppa tidak khawatir padaku?”

“Ya! Itu hanya khayalanmu Kim Taeyeon. Mana ada cerita seperti itu, kau hanya terlalu banyak menonton drama”

“Tapi oppa”

“Sudahlah. Oppa antar aku pulang, eomma sudah khawatir mencariku” Tiffany memotong membuat Jaejoong segera memakai bajunya.

Tiffany segera mendatangi Taeyeon dan mencium kedua pipi sahabatnya. “Hmmm kau juga harus mencari pacar agar tidak menggaggu pacar orang lain” Goda Tiffany.

“Ya! Dia oppaku” Kesal Taeyeon yang hanya dibalas oleh kekehan kedua orang itu.

“Ya sudah oppa mengantar sobatmu pulang dulu. Segera sarapan dan mandi” Jaejoong mengecup kepala adiknya kemudian berlalu bersama Tiffany.

Taeyeon POV

Perutku mulai memperdengarkan suara- suara aneh. Ah aku kelaparan tapi di kulkas hanya ada daging, telur dan makanan lain yang harus diolah. Tak ada ramen ataupun makanan instan lainnya. Yup tidak heran karena ini adalah oppaku yang sangat menjaga otot- ototnya itu.

Akhirnya aku pun memutuskan untuk membeli ramen ke toko terdekat. Tapi sebenarnya penampilanku sekarang sangat tidak pantas untuk pergi keluar. Semalam aku pergi ke apartemen oppa karena appa dan oemma sedang perjalanan bisnis ke luar negeri. Dan sialnya aku lupa membawa baju, dan berakhirlah aku memakai kaos oppa yang panjangnya sampai lutut dengan kedua lengan yang tak memperlihatkan jariku.

Tapi yah sudahlah demi makanan semua akan kulewati.  Hari ini sangat cerah, langit biru tak tertutupi awan mendung lagi. Moodku sebenarnya sedang bagus- bagusnya walaupun semalam telingaku sakit karena harus mendengar lagu memakai headset dengan volume tinggi dikarenakan Jaejoong dan Tiffany.

Aku memencet Lift. Semuanya berjalan normal dan seperti biasa sampai akhirnya tatapanku bertemu dengan seorang pria yang berada di dalam ruangan kecil tersebut. Dia menatapku tanpa bisa kuartikan jenis tatapannya, dari tuxedo yang ia kenakan aku tahu dia bukanlah pria biasa. Paling tidak ia adalah pewaris seperti oppa.

“Annyeong haseyo” Sapaku ramah dengan senyuman kecil. Ia masih menatapku dari atas sampai bawah. Ah aku tidak nyaman sampai bergeser ke sudut. Kenapa dia menatapku seperti itu?

“Kau Kim Taeyeon?”

Tanyanya dengan pandangan lurus ke depan. Aku menghela nafas lega dia tidak menatapku seperti tadi lagi. “Iya, anda mengenal saya?” Tanyaku.

“Aku ada perlu dengan kakakmu, tapi aku tidak tahu lantai berapa apartementnya” Ucapnya membuatku mengangguk mengerti. Pantas saja dia menatapku seperti tadi. Aduh Kim Taeyeon kau memang selalu berfikiran negatif.

Aku mulai melangkah mendekatinya. “Oppa sedang keluar. Apartemen oppa di lantai 17 nomor 2”

“Kau tinggal disana?”

“Ani. Sebenarnya aku tinggal di rumah keluarga Kim. Tapi orang tuaku sedang keluar negri jadi aku memutuskan untuk tinggal di rumah oppa.”

“Bukankah Tuan dan Nyonya Kim selalu seperti itu. Lalu kau hampir setiap hari tinggal disini?”

“Hmmm bukan seperti itu. Belakangan ini aku selalu terbayang- bayang pada sesuatu yang menakutkan jadi aku tak bisa tidur sendiri. Singkatnya aku akan ketakutan” Jelasku.

Dia terdiam lama. Akupun ikut terdiam. Semuanya jadi terasa canggung, mengapa dia bertanya banyak hal padaku dan kenapa juga aku menjelaskan banyak hal tentangku padanya? Tapi aku seperti mengenal dia. Ada sesuatu dari dirinya yang tidak asing di mataku. Tapi apa?

Ting

Pintu lift terbuka. “Aku harus pergi anda mau saya menelpon oppa?”

“Tak usah bicara terlalu formal padaku”

“Oh mian” Ucapku singkat. Apakah dia tersinggung? Jangan- jangan dia lebih muda dariku?

“Aku tidak lebih muda darimu” Omo mengapa dia tahu apa yang kufikirkan. Dia bisa membaca fikiran.

“Aku tidak bisa membaca fikiran” Aku menjaga jarak dengan keluar dari lift diikuti olehnya. Entah bagaimana aku merasa melihatnya tersenyum. Ah mungkin itu hanya khayalan. “Aku tidak bisa membaca fikiran hanya saja cara berfikirmu terlalu sederhana dan mudah ditebak” Jelasnya.

Omo betapa malunya. Aku langsung menunduk, wajahku mungkin sudah memerah. Mengapa juga aku harus mengatakan hal- hal konyol seperti itu. Kalau seperti ini tak akan ada yang percaya aku lulusan Gangnam unversity.

“Kau mau kemana?”

“Membeli ramen. Aku sangat kelaparan sampai mau mati rasanya tapi di rumah oppa hanya ada makanan yang harus dimaska dulu dan aku tidak bisa memasak hehe” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

Tiba- tiba sesuatu menyentuh kepalaku lembut dan mengusapnya pelan. Kuangkat kepalaku dan pria itu sedang mengacak rambutku sembari tersenyum sangat manis.

Author POV

Kedua pipi Taeyeon seperti tomat matang yang siap panen. Debaran jantungnya tak bisa ia kontrol saat orang itu menyentuh rambutnya. Tak ada yang pernah menyentuh Taeyeon selain oppanya sendiri. Ia termasuk orang yang tertutup pada pria tapi orang itu adalah pengecualian.

“Kalau kau mau aku bisa memasak untukmu.” Taeyeon mendongak ragu. Jika membawa orang itu apakah Jaejoong tak akan marah padanya? Tapi toh pria itu adalah temannya mana mungkin Jaejoong akan marah.

“Baiklah” akhirnya mereka berdua kembali ke apartemen Jaejoong. Taeyeon memasukkan password. “Oke kau akan memasak apa untukku?”

“Jika itu sandwich daging. Kau menyukainya?” Taeyeon mengangguk semangat.

“Hmmm siapa namamu. Sedari tadi kau tak memperkenalkan namamu.”

Pria itu tak menjawab. Ia berjalan ke arah kursi tempat Taeyeon duduk. Tangannya melepas dasi kemudian beralih pada jas dan memberikannya kepada Taeyeon. Badannya condong ke arah Taeyeon membuat gadis itu menarik kepalanya kebelakang dengan nafas tercekat. Senyum tipis terlihat di wajah pria itu “Aku tak bisa memasak menggunakan stelan ini” Ucapnya pelan.

Lagi- lagi Taeyeon merututi dirinya. Mengapa ia selalu berpikiran jorok. Pasti orang itu mengira Taeyeon adalah gadis cabul dengan pikiran yadong akut.

“By the way namaku Kwon Jiyong. Jiyong” Taeyeon mengangguk mengerti. Kedua alis Jiyong bertaut, “Hanya itu? Kau tidak mengenalku Kim Taeyeon?” Tanyanya keheranan. Siapa gadis di negeri ini yang tidak mengenal pria yang paling diinginkan menjadi calon suami seperti dirinya.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya Taeyeon bingung.

Jiyong menyudahi aktifitasnya lalu menatap Taeyeon lekat- lekat membuat wanita itu gelagapan. “Kwon Jiyong pewaris Kwon Company” Jiyong menyombongkan diri. Padahal dia belum pernah seperti ini. Jiyong paling anti dengan orang yang sombong tapi sekarang itu terjadi padanya.

So?”

“Aku adalah pewaris kau tidak tertarik”

“Oppa dan aku adalah seorang pewaris. Lalu apa istimewanya?” Tanyanya membuat Jiyong menatap semakin tajam. Entah mengapa Taeyeon menangkap tatapan liar di dalam sana. Jiyong terlihat berbahaya berada disekitarnya. Seperti bisa melahapnya kapan saja.

Mereka berdua diam. Jiyong kembali sibuk dengan aktifitasnya. Beberapa menit kemudian sandwich isi daging sudah membuat liur Taeyeon hampir jatuh karena kelaparan. “Sudah selesai. Silahkan disantap”

Taeyeon segera menuangkan saus dan memakannya dengan lahap. Dia sangat lapar sampai melahap makanannya hanya dengan beberapa gigitan. Gadis itu tersenyum puas saat perutnya sudah terisi dengan sandwich lezat buatan seorang pewaris.

“Wow enak. Kalau seperti ini kenapa kau tidak jadi chef?” Taeyeon bertanya sementara Jiyong merapikan piring bekas sandwich.

“Bukankah masa depan kita sudah ditentukan?” Pertanyaan singkat dengan nada menegaskan.

Taeyeon mengangguk sambil melihat lelaki itu lekat- lekat. Tak ada yang aneh tapi Taeyeon selalu merasakan aura berbeda saat menatap matanya. “Hmm kau sudah lama kenal dengan Jaejoong?”

“Kau tidak memanggilnya oppa?” Jiyong duduk di depan Taeyeon.

Taeyeon menggeleng kemudian tersenyum manis, “Terkadang jika butuh sesuatu hehe”

“Kufikir kau tidak perlu tersenyum” Door tenggorokan gadis itu tak bisa mengeluarkan suara. Mengapa orang itu tiba- tiba berkata sekasar itu padanya? “Kau tahu betapa aku berusaha menahan diri?”

Taeyeon mengeryitkan dahi, “Kau orang yang aneh” Ucapnya to the point. “Baiklah aku akan menelpon oppa sekarang. Kau tunggu sebentar”

“Aku tidak membutuhkannya.” Taeyeon membulatkan mata. Ia mulai membuat jarak dengan pria itu dengan berjalan mundur. Beberapa kali matanya terpejam dengan wajah mengkerut menyesali tindakan cerobohnya. Jangan- jangan pria itu hanya berbohong dan ingin menculik dia untuk meminta tebusan.

Dengan wajah memelas Taeyeon menyatukan tangan di depan dada. “Tolong jangan menculikku. Aku tidak akan melaporkanmu ke polisi ataupun oppa. Kau bisa mengambil uangku. Jumlahnya sangat banyak aku punya banyak uang di ATM. Aku juga akan memberikanmu barang- barang oppa. Ambil saja semuanya tapi jangan apa- apakan aku”

Jiyong tersenyum membuat Taeyeon menatapnya tajam. ‘Senyuman semanis itu tak pantas untuknya’ rututnya.

Yang ditakutkan Taeyeon akhirnya benar- benar terjadi membuat oksigen yang ia hirup terasa panas dan berat. Lelaki penipu itu bangkit dari kursinya melangkah ke arahnya. Ia ingin lari sejauh- jauhnya tapi kakinya memilih diam hingga ia hanya bisa menutup mata untuk mengurangi rasa takut.

Beberapa menit berlalu, Taeyeon tak bisa memperkirakannya tapi cukup lama ia terpejam dan tidak ada sesuatu yang tejadi padanya. ‘Mungkin orang itu mulai mengambil barang- barang oppa.’

Merasa aman, kaki mungilnya mulai mundur tapi entah kenapa matanya masih tak ingin mengintip. Terlalu takut dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. ‘Oke Taeyeon sedikit lagi’

“Hmppp” Matanya membulat lebar saat pinggang rampingnya ditarik seseorang. Kepalanya mendongak tepat menghadap pria itu. Tak ada jarak diantara mereka. Jiyong terdiam begitu pula dengan Taeyeon yang bertarung dengan benak dan hatinya. Terlalu sulit untuk beralih dari mata indah sang pemilik.

Tak ada suara sedikitpun selain deru nafas dan debaran jantung yang berpacu cepat. Taeyeon merasakan dadanya sesak untuk pertama kalinya. Tapi entah kenapa jantung orang itu berpacu lebih cepat darinya walaupun wajahnya tetap datar dan sulit diartikan.

Entah sejak kapan hasrat mulai membelenggu keduanya. Jari lentik Jiyong menelusuri wajah seputih bayi Taeyeon membuat gadis itu sedikit merinding. “Le … lepaskan kumohon” Ucap Taeyeon dengan nada parau. Wajahnya pucat tak bisa menahan segala yang berkecamuk dalam jiwanya. Apa yang terjadi?

Jiyong berhenti, sebentar ia menatapi gadis yang terlihat ketakutan itu. Untuk beberapa saat ia ingin menghajar dirinya sendiri. Ia tak bisa menahannya lagi dan tak memikirkan gadisnya.

“Mian” Ucapnya melonggarkan dekapannya. Taeyeon sedikit bernafas lega. Ia melangkah jauh tapi sebuah tangan menahannya hingga ia menutup matanya lagi.

“Kau boleh mengambil segalanya tapi kau tidak boleh menyentuhku” Ucapnya menegaskan. Walaupun dia lemah dan ketakutan tapi Taeyeon tak akan memberikan sesuatu yang paling berharga untuk pria seperti itu.

“Kenapa kau berfikir aku menginginkan hartamu? Sudah kubilang aku seorang pewaris. Lihat ini” Jiyong menunjukkan kartu namanya. Taeyeon menatapnya setengah tidak percaya. Jika ia benar- benar pewaris mengapa sikapnya seperti itu?

“Ah harusnya aku tidak kaget. Begini tuan Jiyong-sshi sekarang aku mengerti maksudmu. Kau adalah seorang pewaris yang bisa mendapatkan segalanya. Mungkin kau melihatku di artikel dan ingin mendekatiku kan? Seperti kebiasaan para konglongmerat, tapi maaf aku bukan gadis seperti itu.”

“Yup aku memang brengsek. Tak terhitung jumlah gadis yang sudah berada di tempat tidurku. Tapi Kim Taeyeon kau adalah gadis pertama yang membuatku tertarik” Taeyeon melangkah mundur saat Jiyong kembali mendekatinya.

Tangan kanan namja itu memegang dagu Taeyeon. Sorot matanya memandangi benda mungil yang selalu membuatnya gagal fokus semenjak tadi. Jiyong menikmati saat ibu jarinya mengusap lembut benda itu sampai Taeyeon menghempas keras lengannya.

“Ya! Jika kau tertarik padaku karena fisik jangan dekati aku. Karena aku tidak tertarik pada orang sepertimu”

“Jika karena fisik, masih banyak yang lebih cantik di luar sana. Aku tertarik padamu sejak malam itu. Kau menolongku dengan mempertaruhkan nyawamu. Kau tahu seberapa seksi dirimu di mataku malam itu?” Jiyong berbohong. Taeyeon adalah wanita paling cantik yang pernah ia temui. Hanya saja ia harus meyakinkan.

Taeyeon memutar otakya. Malam itu? Ah orang yang menyebabkan mimpi buruk selalu datang padanya. Dan kenapa juga dia harus mengatakan kata seksi di saat keadaan terdesak seperti itu.

“Kwon Jiyong-sshi mungkin malam itu aku sedang khilaf karena sampai sekarang aku sangat mengutuk keputusanku. Tapi aku tak tahu siapa kau jadi ahh sudahlah katakan saja apa maksudmu melakukan ini padaku?” Ucap Taeyeon. Ia mengacak rambutnya frustasi membuat Jiyong mengedarkan pandangan nakalnya.

“Kau sedang menggodaku?”

“Mwo?”

“Aku menyukaimu dan sekarang kau milikku”

“Aku menolak”

“Aku tidak meminta pendapatmu. Itu hanya sekedar informasi”

“Ya Tuhan”

Jiyong meraih tangan Taeyeon dan meletakkannya di dada bidangnya. “Kau dengar?” Taeyeon mengangguk polos. “Pertama kali aku berdebar seperti ini ketika suatu malam seorang gadis datang menolongku. Dan yang kedua adalah hari ini. dengan gadis yang sama di waktu yang berbeda.”

Taeyeon tak bisa menyembunyikan bahwa ia terpukau. Entah berapa gadis yang sudah termakan rayuan orang itu tapi tetap saja ia tak bisa menutupi wajah meronanya. Bodoh memang tapi Taeyeon tetaplah gadis normal yang mudah termakan omongan lelaki.

“Aku ingin menciummu”

“M.. mwo?” Taeyeon tercekat.

“Bibirmu memintaku untuk menjamah dan mengigitnya” Nafas Taeyeon tertahan. Orang ini benar benar cabul. Mukanya serasa panas sepertinya telinga mungil di kepalanya akan mengeluarkan asap. “Kenapa? kau belum pernah berciuman?”

Door itu lebih memalukan. Taeyeon memang belum pernah sejauh itu. Ia belum pernah memulai hubungan karena menurutnya itu semua hanya pengganggu dan tidak penting dalam hidupnya. Tapi gengsi bukan harus mengakui itu?

“Aku pernah. Tentu saja pernah” Ucapnya berusaha yakin walaupun matanya tak bisa menatap manik mata Jiyong yang seperti tidak pernah berkedip itu.

“Buktikan”

Taeyeon gelagapan. Buktikan? Bagaimana caranya?

“Seperti ini”

Jiyong kembali menarik Taeyeon yang badannya semakin kaku. Lelaki itu seperti bisa membaca fikirannya. Jiyong Menghapus jarak,”Aku dapat merasakan bentuk tubuhmu Taeyeon-ah” Taeyeon merasa ditelanjangi karena Jiyong terlalu brutal memilih kata. Ia malu sampai harus menyembunyikan wajahnya walaupun harus merapatkan kepalanya ke dada lelaki itu.

“Aku senang kau memelukku tapi sekarang aku ingin menciummu” Taeyeon ingin mengeluh. Apakah Jiyong harus seterbuka itu? Jari lentiknya menyentuh kedua belah pipi Taeyeon. “Sebelumnya aku ingin mengatakan aku mencintaimu. Sejak pertama kali, sejak malam itu.”

Taeyeon mengangguk. Ia tak menginginkan itu tapi tubuhnya bergerak refleks begitu matanya menangkap ketulusan terpancar dari wajah pria itu. Ia yakin Jiyong tidak bermain dengan kata- katanya. Tapi bukankah apa yang mereka lakukan terlalu berani untuk ukuran dua orang yang baru saling mengenal.

Fikiran Taeyeon terhenti saat benda mungil menempel di bibirnya. Ia terpejam menikmati kuluman lemah dari Jiyong. Pertama kecupan kecil di bibir bawahnya beralih pada bagian atas.

Sangat lembut sampai Taeyeon mengangkat kedua lengannya melingkar di leher Jiyong membuat lelaki itu tersenyum penuh kemenangan. Ia semakin menarik pinggang Taeyeon dan menangkat gadis itu. Entah setan apa yang merasukinya sampai Taeyeon melingkarkan kedua kakinya di pinggang Jiyong.

Semuanya masih tenang sampai Taeyeon merasakan tubuhnya terbaring di atas benda empuk yang membuat matanya membelalak saat mengetahui ia di kasur. “Jiyong aku hmmp”

Tak ada kata. Jiyong tak melakukannya dengan lembut lagi. Taeyeon meringis saat gigi tajam itu mengigit bibir bawahnya. Dan sensasi berbeda saat lelaki itu bermain nakal dengan memasukkan lidahnya kedalam sana. Bertukar saliva, Taeyeon tak berani membalasnya sampai Jiyong menautkan kedua lidah mereka.

“Hmmm” Taeyeon mendesah yang tanpa sadar membangunkan Jiyong. Lelaki itu tak bisa menahannya lebih lama. Taeyeon bahkan membalas serangannya sekarang. Kakinya masih melingkar mengeratkan tautan mereka begitu pula kedua lengannya yang seolah membiarkan berat badan Jiyong menumpu padanya.

“Taeyeon-ah kau masih tidur?” Taeyeon terbelalak saat suara Jaejoong oppa terdengar. Ia menatap Jiyong yang masih masih menciumnya.

“Jiyong itu oppaku. Tolong ahh “Taeyeon mendesah tertahan saat Jiyong beralih pada lehernya. Membuat tanda cinta disana, membiarkan lidahnya menari.. “Jiyong kumohon”

Akhirnya Jiyong berhenti. Ia mengecup bibir Taeyeon singkat. “Ayo kita perlihatkan ke oppamu sesuatu yang menggairahkan”

“YA! OPPAAA!”

 

END

Advertisements

54 comments on “My Pervert Boy (Oneshot)

  1. Wah wah wah… Sama-sama chaebol Jiyong-Taeyeon 🙂
    Dan Jiyong jadi sangat mudah mencari jejak Taeyeon dengan modal kekayaan & ketampanannya. Terlebih Kim Entertainment meminta kerja sama dengan Jiyong, pastilah tidak akan ditolak olehnya 🙂
    Setelah ending apa yang akan mereka lakukan? Uuu… ssstt… 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s