[FREELANCE] Moonlight (Chapter 7)

moonlight

[Freelance] Moonlight Chapter 7

Author: Alicya V Haiyeon

Rating: PG-16

Lenght: Multichapter

Genre: School Life, Romance, Family

Main Cast: Kim Taeyeon

Xi Luhan

Support Cast: Temukan sendiri.

Disclaimer:

This is just a FanFiction. All the cast it’s belong to God, them selves and the parents.

Please, don’t be a Plagiator.

Author Note:

Jika ada kesalahan, mohon komentarnya. Karna komentar anda semua yang bisa menentukan

FF ini dilanjut atau berhenti di tengah jalan. Typo dimana-mana. Thankyou.

Preview: Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5, Chapter 6

 

 

***

 

 

“apa kau melihat taeyeon?”

Luhan yang baru saja memasuki kelasnya langsung saja belari ke mejanya dengan Chanyeol yang terlihat sibuk dengan kertasnya itu, Luhan yakin jika kertas itu tak jauh lebih tampan darinya, tapi kenapa Chanyeol malah mengangapnya seperti orang yang tidak ada?

“yah Park Chanyeol, aku bicara dengan mu!”

Chanyeol menggeser kertasnya dan mengintip sekilas melihat Luhan yang menatapnya dengan pandangan tak sabarannya “wae? Kau kehilangan yeojjachingu mu? Woah daebak, pergi saja sana cari sendiri”

“jangan bilang kau merajuk padaku Chanyeol-ah! Aku serius. Biasanya aku selalu bersamanya ke sekolah, dengan bus yang sama dan… tadi dia tidak ada” Luhan serius, biasanya saat ia akan naik bus yang sengaja ia tunggu agar sama dengan taeyeon lewat di halte dekat rumahnya ia akan menaikinya dan bertemu dengan Taeyeon di dalam sana, tapi kali ini? Bahkan Luhan sudah menunggunya setengah jam di gerbang sekolah, dan menelponnya berkali-kali, namun sepertinya operator sialan itu selalu mengangkat panggilannya, membuat sumpah serampah mengalir dari mulut Luhan.

“kenapa tak kau lihat ke kelasnya? Kau menyebalkan, kau terlalu sibuk dengan taeyeon, aku tau kau menyukainya, tapi tak bisakah kau menyediakan waktu mu sedi…”

“ahhh ide bagus, na kalke!” Tas ransel yang ia tenteng kesana kemari ia lempar begitu saja ke kursinya dan berlari keluar kelas, beberpa menit lagi jam pertama akan dimulai, dan itu berarti Luhan tan punya banyak waktu untuk mencari taeyeon.

Baru saja Luhan akan memasuki kelas taeyeon, seluruh kelas sepertinya terlihat bahagia bak mendapatkan liburan gratis ke Eropa membuat Luhan penasaran dan berniat menguping di depan kelas. Emosinya naik saat dengan angkuhnya yeojja yang terlihat menor dengan makeupnya dan yah yang Luhan tau pasti sangat tak menyukai taeyeon berteriak dengan lantang.

“ANAK HARAM ITU TIDAK SEKOLAH HARI INI, YUHUUUUUUUU!” teriaknya penuh dengan semangat dan disambut hangat oleh semua orang di dalam sana, semuanya Luhan rasa walau ada 4 bangku yang kosong.

Sekali hentakan, pintu kelas terbuka dan dengan wajah datarnya Luhan berjalan ke arah yeojja yang baru saja berteriak di tengah kelas itu “kemana dia?”

“Luhan-ssi”

Mendadak keheningan menghampiri kelas taeyeon. Semua mendadak terdiam saat tau bahwa yang Luhan tanyakan adalah taeyeon. Seberapa menjijikannya Kim Taeyeon? Ada apa dengan kelasnya? Dan ah Luhan marah sekarang, bagaimana bisa selama ini taeyeon bertahan di kelas ini? Tak ada seorangpun yang menyukainya di sini dan ia masih saja masuk ke kelas ini? Astaga Tuhan, sekuat apa yeojja yang bernama Kim Taeyeon itu?

“KUTANYA SEKALI LAGI, KIM TAEYEON OEDINYA?”

Yeojja yang bernama Bung seol itu terdiam dan menatap Luhan dengan pandangan takutnya “na molla, aku hanya dengar oppanya datang… ah bukan, oppa tirinya yang tampan itu datang untuk meminta izin”

Luhan mengehela nafas kasar, dan mengacak rambutnya kesal, bagaimana bisa ia tak melihat oppanya taeyeon? Kemungkinan besar ia bisa tau kemana taeyeon pergi.

“kenapa kau sangat peduli padanya eoh?” tanya seorang namja yang baru saja terlihat menginjak nginjak kursi yang terletak paling sudut di belakang sana. Apa mungkin itu tempat taeyeon duduk?

“dimana. Taeyeon. Duduk. ?” tanya Luhan penuh dengan penekanan di setiap katanya. Dan matanya menatap tajam namja berbadan gembor itu dengan garangnya.

“yeogi!” ujar pria itu tanpa rasa bersalah sedikitpun ia turun dari kursi taeyeon dan berjalan kearah luhan. Ah terlihat wajah pria itu tak rela ditatap dengan tatapan tajam oleh Luhan. Sangat kentara sekali. “apa pedulimu eoh? Apa kau menyukai anak haram itu?”

Mendadak kelas yang tadinya diam mulai terdengar rius dengan bisikan bisikan, seperti ‘benarkah?’ ‘seorang Xi luhan?’ ‘apa bagusnya si jalang itu’ ‘lihatlah bahkan iya mewarisi sikap ibunya’ dan kalimat yang tak jauh lebih baik lagi dari itu masuk dan menyapa telinga Luhan. Astaga Taeyeon, inikah yang ia alami setiap hari? Luhan yang hanya mendengarnya 2 kali saja sudah membuatnya ingin meledak. Oh Tuhan, sedang apapun dan dimana pun ia, tolong lindungi Taeyeon.

“aku menyukainya, ada yang keberatan?”

Namja berbadan besar tadi mengangkat tangannya dan tersenyum meremehkan “ahhh anak haram dan anak yatim saling menyukai? Woah dunia benar benar lucu!”

Anak haram? Anak yatim? Dengan emosi Luhan langsung saja meraih kerah seraga pria itu dan memukul dengan keras wajah pria itu hingga mereka tersungkur kebawah dengan Luhan berada di atasnya, memukulnya tanpa ampun. Ah sesekali pria berbadan besar itu juga meninjunya hingga sudut bibir Luhan sedikit berdarah dan lebam diwajahnya.

“LUHAN OPPA”

“LUHAN-AH!”

Chanyeol dan Soojung yang baru saja beriniatif mencari Luhan pun, mengikuti Luhan ke kelas taeyeon dan yah yang kalian lihat, sekarang Chanyeol dan Soojung bahkan sudah ikut melerainya. Chanyeol tau itu, jika seorang Xi Luhan memukul seseorang itu artinya orang tersebut sudah lewat batas. Luhan terbilang sangat bisa menyimpan emosinya, dan penyabar. Dan jika melihat Luhan dengan mata dan wajah memerah memukul pria itu tanpa ampun membuat Chanyeol berfikir “ia sudah menyentuh batas kewajaran Luhan”

“keumanhae oppa!” soojung yang berusaha meleraipun menyerah saat Luhan sama sekali tak mau mendengarnya. Orang yang berada di dalam kelas pun mulai berdiri dan menggerumuni Luhan dan pria itu, hingga tangan luhan mulai mendingin, pukulannya berhenti dengan pria gembul itu terdiam dan mengusap darah di sudut bibirnya.

“jangan kerumuni Luhan, duduklah!” titah Chanyeol yang tau masalah Luhan. Ah bukan masalah, trauma Luhan. Dan yang benar saja, tak ada satupun yang mendengarkannya hingga Luhan mulai pusing, sebelum sebuah suara memasuki pendengaran Luhan, membuat semua siswa mendadak bubar menyisakan, Luhan, Si gembul, Chanyeol, dan Soojung yang berusaha memapah Luhan.

“XI LUHAN, KIM BUNGSEO! KEKANTORKU SEKARANG JUGA!”

Luhan selamat, setidaknya ia tak pingsan di saat itu juga, namun ah, ia berurusan dengan song seongsamnim lagi? Apa tak ada guru lain di sekolah ini?

 

***

 

“HAHHHHHH!!!”

Luhan menatap kesal kertas putih yang berada di tangannya. Kertas yang baru saja ia dapatkan dari song seongsamnim. Bukan surat cinta ataupun nilai ulangannya, Luhan bahkan tak peduli lagi dengan tuduhan song seongsanim tentang nilai ulangannya, masa bodoh dan apa pedulinya? Toh pada faktanya ia berusaha menjelaskan pria tua itu tetap tak mempercayainya kan?

Kertas yang di dalamnya tertulis bahwa Luhan tak boleh mengikuti pelajaran pada hari ini dan besok, yah hanya dua hari. Tapi bagaimana jika oemmanya tahu? Luhan tak mau mengecewakan oemmanya. Sungguh!

Rambutnya sudah di acak-acaknya dengan asal asalan, beberapa kaleng minuman soda pun sudah ia tendang, tak ada yang mampu mengembalikan moodnya. Mood luhan rusak. Ia hanya bisa menatap atap atap gedung lain dari atap sekolahnya. Tentu saja kemana lagi ia akan pergi? Tak ada yang bisa ia tuju? Rumah? Jangan gila! Oemma akan tau dari Bibi Han nanti dan Luhan tak mau oemmanya tahu hal itu.

Hingga deringan ponselnya membuat Luhan makin merasa bersalah saat sebuah nama tercetak disana, “Oemma?” gumam Luhan pelan.

“oemma? Yeoboseo?”

Terdengar helaan nafas lega saat Luhan mengangkat telponnya “Luhannie, oediya?”

“na? Atap sekolah” ahhhh bodoh bagaimana bisa ia berkata dengan jujur pada oemmanya. Ini jam pelajaran apa yang ia lakukan di atap. Hingga akhirnya Luhan bergumam “mianhae oemma”

“gwenchana, ia pasti sudah membuat uri Luhan marah, gwenchana!”

Luhan yakin seyakin yakinnya bahwa pihak sekolah pasti menghubungi oemmnya. Hingga yeojja paruh baya itu menelponya. “mianhae oe…”

“dwaeseo, pulanglah kerumah dan istirahat. Apakau terluka eoh?”

“aniya, gwenchanayeo oemma. Gomawo oemma!”

“oemma akan pulang lusa, uri Luhannie hati hati dirumah ne, saranghae”

Luhan menatap ponselnya bingung dan hendak memblasnya, namun sambungan terputus. Luhan bersyukur oemmanya tidak seperti ibunya shinchan yang akan memarahi anaknya hingga benjol beranak cucu tumbuh di kepalanya. Baiklah, sekalipun ia anak yatim, tapi eommanya benar benar membuatnya sama sekali tak kesepian.

Ponsel Luhan kembali berdering, hingga tanpa melihat si penelpon pun luhan langsung saja mengangkatnya dan mengomel “yah oemma, kenapa oemma menutup telponnya tanpa mendengarkanku? Eoh? Saranghae oe…”

“Luhan-ah…”

“Kim taeyeon?” Ujarnya secara bersamaan, hingga jika telinga Taeyeon rusak diseberang sana, ia mendengar kalimat saranghae eokimtaeyeon? Lucu sekali. Luhan benar benar membuat taeyeon yang baru saja menelponnya tersenyum manis saat mendengar suara Luhan yang mengira ia adalah ibunya.

“YAK! Neo ediya? Neo jinjja!”

“dasar manja” ejek taeyeon, bukan sepenuhnya mengejek, sejujurnya terdengar nada suara tak ikhlas dan sedikit tak rela dari nada suara taeyeon.

“kau tak belajar?”

“kau tau ini jam pelajaran kenapa menelponku eoh?” Luhan kesal dan lega disaat bersamaan. Ia kira taeyeon akan menghilang dan ia merasa menjadi teman tak berguna karna tak tau kemana yeojja itu pergi. “oppa bilang kau menelponku tadi”

“oppa?”

“ne!”

Luhan memberengut kesal, jika oppanya tau Luhan menelpon taeyeon kenapa pria itu tak mengangkatnya saja? “eodinyago?”

“na? Rumah sakit”

“jangan bercanda, aku serius Kim Taeyeon, aku rasanya akan mati merindukanmu!”

 

***

 

Taeyeon baru saja membuka matanya saat seorang pria tengah sibuk mengatur letak selimutnya dengan hati-hati, hingga taeyeon terbangun dari tidurnya dan membuka matanya menatap pria yang baru saja tersadar ternyata taeyeon sudah bangun.

“kau sudah bangun? Mau minum sesuatu?” Kibum dengan jas lengkap kantornya menatap taeyeon dengan lembut, sangat lembuh hingga taeyeon berfikir bahwa ia bermimpi. “o..op..pa?”

“ne? Kau perlu sesuatu? Katakan pada ku oeh?”

“aku tidak mimpi?”

“aniya taeyeon-ah, ini oppa! Oppamu! Minhae, oppa terlambat”

Taeyeon duduk dari tidurnya dan merentangkan tangannya, mengisyaratkan bahwa ia merindukkan pria yang ia yakini memeluknya degan erat saat usinya 2 tahun. Taeyeon melihat banyak fotonya dengan oppanya selama usianya 2 sampai 6 tahun. Namun setelahnya, semuanya berubah. Oppanya berubah, namun hari ini? Oppanya kembali?

Kibum tanpa ragu langsung memeluk erat tubuh taeyeon, menyandarkan kepala adiknya itu ke dada bidangnya, betapa ia sangat merindukan adik kecilnya ini, kenapa ia terjebak permainan appanya hingga ia menjauhi taeyeon? Ia bisa melindungi taeyeon dengan begini. Hingga kibum melepaskan pelukannya dan menatap mata taeyeon yang terlihat berair. Mau tak mau, mata Kim Bum pun perlahan mulai mengikuti alur mata taeyeon, hingga ia juga terlihat menangis, hingga tangisan pelan taeyeon pecah. Ini pertama kalinya selama beberpa tahun terakhir Kibum mendengar taeyeon menangis. Dan tangisannya ini benar-benar membuat hati Kibum perih hingga air mata jatuh di pipinya, namun dengan cepat ia mengahapus air matanya.

“aku tidak mimipi kan oppa?”

“aniya, hajima! Uljima, oppa tak bisa melihatmu menangis”

“menangis?” tanya taeyeon pelan. Ah yeojja ini bodoh atau apaa? Ia bahkan tak sadar bahwa ia menangis “mannae, air mata keluar dari mataku! Oppa aku bisa menangis”

Kibum yang tak mengerti kemana arah pembicaraan Taeyeon pun hanya mengeratkan pelukannya dan mengusap pelan rambut panjang taeyeon. Aroma bunga-bunga seperti sampoo baby taeyeon pun tercium oleh hidung Kibum. Apa yeojja ini masih menggunakan Shamppo saat ia masih kecil?

Pintu rawat inap taeyeon terbuka hingga menampilkan heechul dengan wajah kaget dan kesalnya sekaligus. “sudah menjadi oppa yang baik eoh? Kau sudah tak bajingan lagi kan?” Percayalah bahwa kibum ingin sekai memukul wajah menyebalkan Heechul, namun apa daya ia tak ada waktu banyak saat ini.

“palliwa, kau ada rapat dan aku ada kencan, mau aku antar atau tidak eoh?”

Kibum melepaskan pelukan taeyeon dan menatap sekilas adiknya itu “jika ada apa-apa telpon oppa ne?” taeyeon mengangguk patuh, Kibum mengeluarkan ponsel putih taeyeon dari sakunya dan memberikannya pada taeyeon. “namja yang bernama Luhan itu menelpon mu dari tadi!”

“oppa kalke”

Kibum menghilang di balik pintu, menyisakan heechul yang menatap taeyeon dengan senyum manisnya “aigooo, neo jinjja yeuputta! Annyeong, joneun Heechul. Kim heechul, panggil saja aku oppa, na kalke taeyeon-ah!”

Belum sempat taeyeon menjawabanya, heechul sudah pergi keluar dari kamarnya, meyisakan taeyeon dengan tatapan bingungnya hingga akhirnya ia memilih menghubungi Luhan.

 

***

 

“luhan tak seburuk yang kau fikirkan Kibum-ah!”

Kibum yang duduk dibangku kemudi hanya terdiam dan menatap jalanan datar, ia kibum dan heechul dari kesekolah taeyeon baru kerumah sakit, dan ia melihat bagaimana dengan marahnya luhan memukul teman sekelas taeyeon yang menghinanya anak haram. Yah ia melihat semuanya. Xi Luhan, membela adiknya. Tapi bagaimana bisa? Apa hubungan Luhan dan taeyeon sudah terlalu jauh?

“na arreo, keundae… kau tau ayah Luhan meninggal karna kecalakaan itu, dan menurut anak buahku, paman Luhan sampai saat ini masih meneliti penyebab kematiannya, ini akan menjadi sangat sulit untuk mereka”

Heechul yang berada di bangku kemudi hanya menghela nafas pelan melirik sekilas kibum “kau tau? Bukankah yang menabrak ayahnya luhan itu ayahmu bukan ayah taeyeon. Ayah kandung taeyeon itu Park Myung soo!”

“apa yang kau bicarakan heechul? Tidak, mulai sekarang taeyeon tetaplah adikku, anaknya Kim Jae Myung!”

“jangan menutup matamu lagi brother, taeyeon harus tau faktanya”

Kibum terdiam, ada benarnya juga kata-kata heechul. Dan tak bisakah sekali ini saja ia egois sebentar? Ia ingin menikmati waktunya dengan taeyeon, tanpa masalah yang selalu mengikuti mereka. Ya Tuhan, ampunilah dosa Kim Kibum.

 

***

 

Taeyeon hanya menatap Luhan yang tengah bernafas dengan tersenggal senggal di hadapannya. Bagaimana bisa pria ini sampai di hadapannya hanya dalam waktu 20 menit? Bukankah sekolah dan rumah sakit ini jaraknya sangat jauh? Haruskah ia memberikan tepuk tangan?

“woah” taeyeon menatap Luhan dengan takjub “dimana kau menyembunyikannya?”

“mw..hhh…ya?” jawan Luhan, masih dengan nafas tersenggal senggalnya.

Teyeon menyipitkan matanya saat sesuatu disudut bibir Luhan menarik perhatiannya “neo waegeurae?”

Luhan yang baru saja selesai dengan urusan pernafasannya pun duduk dipinggiran ranjang taeyeon, ruangan VVIP dimana taeyeon dirawat membuat Luhan sedikit bersyukur, karna yah hanya ada mereka dan ia bisa berbagi apapun dengan taeyeon tanpa ada yang mendengarnya.

“apa yang kau lakukan eoh?”

Taeyeon terkejut setengah mati saat dengan cueknya Luhan menidurkan dirinya di samping taeyeon. Apa ia tak sadar? Ranjang ini kecil. “yakk! Sempit!”

Luhan maraih tangan taeyeon dan dalam waktu beberapa detik, taeyeon tau. Luhan ketakutan. Tangannya mendingin. Dan taeyeon yakin jika ia pernah mendengar Luhan menyebutkan tangannya akan mendingin jika traumanya kambuh.

“apa yang terjadi?”

Dengan cepat, tangan taeyeon membungkus kedua tangan luhan, dan berbagi selimutnya dengan Luhan. Ayolah jangan berfikiran yang tidak tidak, mereka hanya anak sekolah menengah atas, bukan orang dewasa yang akan mencari waktu dalam kesempitan.

Taeyeon dapat merasakan tangan Luhan melingkar dengan pelan di pinggangnya. Hingga helaan nafas lega keluar dari mulut Luhan “aku takut kau pergi”

“wae? Aku akan hanya sakit Xi Luhan, apa kau mau aku mati eoh?”

Luhan mendongkaknya kepalanya dan menatap taeyeon yang tenagh menatapnya jengkel, taeyeon sudah memiliki selera humor sekarang “terjadi sesuatu padamu? Kulihat kau tidak sedingin biasanya” tanya Luhan, ia sama sekali tak ambil pusing dengan kecairan es taeyeon, hanya saja ia bahagia, taeyeon sudah mulai menerimanya dan tak canggung padanya lagi. Membuat Luhan menyandarkan kepalanya ke arah dada taeyeon. Matanya tertutup rapat, sangat rapat dan pelukannya semkain mengerat.

“byuntae!”

Taeyeon hendak memukul kepala Luhan yang dengan seenak jidatnya menempelkan kepalanya ke dada taeyeon, ah ini gila. Bisa bisa luhan mendengar degup jantung taeyeon. Tenang taeyeon, tenang.

“sebentar, biarkan seperti ini”

“arraseo”

Hingga beberapa menit berlalu, sebenarnya bukan hanya jantung taeyeon saja yang bergetar, Luhan pun juga demikian. Bahkan debaran jantungnya ini rasanya akan meledak dan mengeluarkan jantungnya di saat itu juga. Ide konyol melintas di dalam kepala luhan.

Luhan menjauhkan kepalanya dan menatap taeyeon yang menatapnya dengan tatapan bingung “dadamu benar-benar berukuran 28 kurasa!”

Dan detik berikutnya, Luhan mendapatkan pukulan pelan dikepalanya hingga ia memilih untuk mendudukkan dirinya dan tertawa penuh kemenangan “kau ingat? Saat kita bertemu kedua kalinya?”

“bagaimana bisa kau mengingat sesuatu berbau byuntae seperti ini, dan woah 28?”

“jangan marah aku hanya bercanda! Ah aku lupa, kau sakit apa sebenarnya?”

“hanya gangguan pencernaan”

“sampai dibawa kerumah sakit?” dan taeyeon hanya mengangguk pelan seadanya.

Luhan berdiri, mengambil tas ranselnya dan mengeluarkan plastik berisi buah-buahan. “aku ini pria bertata krama yang baik” dengan cepat ia mengeluarkan buah buahan dari dalam kantong plastik dan menyusunya di nakas disamping tempat tidur taeyeon. “mau buah apa? biar ku kupas”

“apel, kau bisa mengupasnya?”

“kau meremehkanku eoh?”

Beberapa menit berlalu, dan apel yang dikupas sudah terbuka dan tengah ditusuk oleh taeyeon untuk memasukkan ke mulutnya, namun naas tangannya di rampas dan dalam sekejap apel itu masuk ke dalam mulut Xi Luhan.

“waeyeo? Bukankah kau marah karna tak bisa buka apel? Kenapa memakan apelku?” yap benar, Luhan ternyata sama sekali tak bisa membuka apel dan ia marah karna taeyeon mengejeknya dari tadi. Tapi semarah apapun Luhan, Luhan tetaplah Luhan. Tak akan bisa marah ah sebenarnya bukan marah, hanya merajuk kepada taeyeon. Hanya.

“aku benar-benar marah padamu! Bagaimana bisa kau mem….”

“unnie!”

Taeyeon dan Luhan berbalik dan melihat seorang yeojja, bukan bukan. Nana tengah tersenyum manis ke arahnya membawa sebungkus kantong besar plastik.

“apa yang kau lakukan disini? Kka!”

Luhan yang hanya diam terkejut melihat taeyeon yang dingin kembali lagi. Fakta baru diketahui Luhan, ternyata taeyeon dan Nana saudara sepupu dan taeyeon terlihat sangat-sangat tak menyukai nana. Itu jelas dari sudut matanya.

“kenapa unnie menyuruhku keluar?”

Nana berjalan mendekat dan berdiri dihadapan Luhan yang terduduk di pinggir ranjang taeyeon “unnie bahkan membiarkan Luhan Sunbae duduk disini, diranjang unnie seperti yeojja murahan”

Luhan yang tak terima dengan ucapan Nana pun berdiri dan tersenyum sinis “ternyata benar, ada yeojja yeojja jahat seperti di drama itu dalam dunia nyata” Luhan bertepuk tangan singkat.

“mwoya? Kalian mengusirku?”

Taeyeon hanya mengangguk singkat menjawab pertanyaan nana, ah tatapan matanya masih sama tajamnya saat nana menampakkan batang hidungnya di hadapan taeyeon. Baiklah, taeyeon baru saja berbahagia, oppanya sudah kembali. Dan apa ini? Kenapa yeojja ini mengunjunginya? Apa ia ingin mencari simpati kepada oppanya lagi? Dan, taeyeon sangat suka dengan kalimat terakhir yang keluar dari mulut seorang Xi Luhan.

“aku tidak mengusirmu, tapi jika uri taeyeonnie, tidak suka padamu, maka kau harus keluar, kurasa” ujar Luhan tanpa rasa bersalah sedikitpun, bahkan pria bodoh seperti Luhan tak menyadari tatapan terluka dan penuh amarah yang di tujukan oleh Nana padanya. Apa hanya taeyeon yang merasa atau pria ini benar-benar tidak peka? “ingin ku panggilkan satpam?”

Nana, yeojja dengan tampang angkuhnya itu menggeleng singkat dan tersenyum sinis menatap taeyeon, baiklah. Nana akan pergi kali ini. Hanya untuk kali ini. Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun nana keluar dari ruangan itu, bahkan bingkisan yang ia bawa ia letakkan begitu saja di lantai kamar taeyeon. Persetan dengan bingkisan. Hatinya benar-benar remuk sekarang.

Luhan yang melihat kepergian Nana pun hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh, dan meraih ponselnya yang bergetar di dalam tasnya. Hingga senyum mengembang terpatri di wajahnya yang terlihat menipu usianya.

“oemma? Eoh jinjja? Sudah di bandara? Waeyeo? Bukankah oemma bilang lusa? Ahh arraseo!”

Langsung saja, Luhan membuka tasnya kembali dan mengelurkan 4 buah novel yang baru saja ia beli saat hendak kerumah sakit tadi, yah berharap agar novel itu bisa mengurangi rasa bosan taeyeon saat disini. “igeo, bacalah! Setelah kau baca novel ini, kembalikan padaku karna aku belum membacanya”

Taeyeon yang bingung melihat sikap Luhan yang mendadak semangat pun hanya menerima pasrah novel itu dan meletakkannya di nakas sampingnya. Matanya masih fokus pada kegiatan Luhan yang merapikan tasnya, bajunya dan lihat. Bahkan dengan pedenya ia memasukkan bajunya yang keluar di hadapan taeyeon tanpa rasa malu sedikitpun.

“kau bisa memasukkan baju mu di kamar mandi kurasa” ayolah, wajah taeyeon bisa memerah hanya melihat Luhan memasukkan baju seragamnya yang keluar itu. Jangan berfikir bahwa ia mesum, tapi bagaimana pun juga, taeyeon tetaplah taeyeon, ia akan malu jika melihat sesuatu yang tak pernah ia lihat. Dan beruntungnya, aksi memasukkan baju Luhan tak berlangsung lama, hingga membuat taeyeon menghela nafas lega.

“tidak, akan lama jika aku menggantinya disana, oemmaku sudah pulang dari China, aku benar-benar merindukan oemma, kurasa aku akan pulang, sampai jumpa besok taeyeon-ah” Luhan melangkah di depan pintu dan berbalik menatap taeyeon yang mendadak terdiam melihat Luhan.

Oemma? Ah taeyeon lupa bahwa Luhan berbeda dengannya, Luhan masih mempunyai oemma dan kelihatannya pria ini sangat sangat menyayangi oemmanya. Entah kenapa taeyeon merasa sangat tak pantas berteman dengan pria baik seperti Luhan, harus ia akui bahwa taeyeon bukanlah yeojja yang baik, ia bahkan tidak peduli dengan sekitarnya, hanya diam dan menjalankan hidupnya bak robot. Dan yah, itu dulu, sebelum ia mengenal Luhan.

“wae?” Luhan yang menyadari adanya perubahan pada raut wajah taeyeon bertanya dengan wajah bingungnya “jangan bilang kau cemburu pada oemmaku taeyeon-ah!”

Ahhh bukan Xi Luhan namanya jika ia bersikap serius dalam waktu yang lama, taeyeon tau pria itu menggodanya, tentu saja. “aku tidak cemburu pada oemmamu, aku cemburu padamu, kurasa!”

Taeyeon menunduk dan memegang erat selimut tebal yang menutupi kakinya dari dinginnya uadar lar, tapi rasanya itu percuma mengingat ruangan ini ada penghangatnya “waeyeo? Kau menyukai oemmaku? Keundae.. kenapa kau tak menyukaiku saja?” tanya Luhan dengan raut wajah bingungnya, namun seketika ekspresinya berubah, dengan senyum evilnya menatap taeyeon “kau mau jadi anak oemmaku eoh? Jadilah istriku, dan kau bisa menjadi bagian dari keluarga Xi!”

“neo chugeolae?”

“arraseo, yah aku hanya bercanda! Na kalke” Luhan keluar dari kamar taeyeon, dan baru beberapa menit kepalanya mengintip lagi dan berkedip genit ke arah taeyeon “aku serius dengan kata istriku, annyeong manura!”

Dan detik berikutnya, Luhan benar benar lenyap di balik pintu sana, menyisakan taeyeon yang tersenyum manis dan wajahnya yang memerah menahan malu, entahlah ia merasa wajahnya menghangat dan jangan lupakan jantungnya yang berdebar.

“mwoya? Apa yang terjadi padaku? Apa sakit ku tambah parah?”

 

***

 

“OEMMA!”

Luhan baru saja memasuki rumahnya beberapa menit yang lalu, namun orang yang ia cari belum juga menampakkan wajahnya, hingga teriakan Luhan tak bisa ia tahan. Namun tetap saja tak ada jawaban. Apa oemmanya berbohong? Ah jinjja!

Langkahnya terhenti saat ia melihat yeojja paruh baya tengah merungkuk, sepertinya oemmanya tengah membersihkan tanaman kesayangannya.

“oemma!”

Merasa terpanggil, Young Ji, oemma Luhan berbalik dan tersenyum mendapati putranya tengah berlari ke arahnya. Young Ji berdiri dan merentangkan tangannya, bersiap menerima pelukan hangat dari putranya. Tepat setelah itu, Luhan memeluknya dengan sangat erat, sangat erat hingga ia tersenyum lebar mendapati sikap Luhan yang masih saja manja padanya.

“yah, terlalu erat, Luhannie”

Luhan sedikit merenggangkan pelukannya, namun tetap saja memeluk oemmanya, menghirup dalam aroma yang beberapa waktu belakangan ini tidak ia cium “oemma, bogoshipeo!”

Young ji memukul pelan punggung anaknya “dasar anak nakal! Kenapa kau bisa di skor oeh?”

Luhan yang merasa bersalah pada oemmanya pun perlahan melepaskan pelukannya dan menatap wajah tua itu dengan binar binar dari matanya “mianhae oemma, jalmotaseo (aku salah)”

“tidak, jelaskan pada oemma bagaimana bisa kau memukul seseorang, karna setau oemma, anak oemma ini tidak seperti itu, keutchi?”

Baiklah, rasa bersalah Luhan semakin meningkat, oemmanya begitu percaya padanya, dan ia? Ah bahkan menahan amarahnya saja ia masih tak bisa “dia… menghina taeyeon dan aku”

“taeyeon?” seketika ekpsresi Young Ji berubah, yah bisa dikatakan ia mulai kaget mendengar nama taeyeon setelah kata-kata yang keluar dari mulut adik iparnya itu. “yeojja yang waktu itu?”

Anggukan young ji terima sesaat setelah Luhan menyeretnya untuk duduk di ayunan, hingga mereka berdua sudah terduduk dengan rapinya di ayunan kesukaan Luhan itu. “oemma, apa yang akan kau lakukan jika di kelas tempat oemma bersekolah tak ada seorang pun yang menyukai oemma?”

Pertanyaan macam apa itu? Apa luhan sedang bercanda dengannya “oemma sudah lulus berpuluh tahun yang lalu Luhan-ah”

“ani, jawab saja, kalau aku mungkin aku tak akan bersekolah lagi atau memilih pindah sekolah”

“arraseo, oemma akan melakukan hal yang sama dengan mu”

Luhan mengangguk mantap dan menghela nafas berat di kemudiannya “yeojja itu bahkan masih tetap ke sekolah setiap harinya”

“nugu? Kenapa dia bisa setahan itu? Dan kenapa tak ada orang yang menyukainya?”

“taeyeon oemma, dia benar benar membuatku tak bisa berkata kata, bagaimana bisa dia… ahhh”

Ingatan Young Ji berkelana, kembali saat ia mendapat telpon dari Luhan, bahwa taeyeon menginap di rumah dan yeojja itu berkata dengan santainya bahwa ia anak haram, jadi taeyeon bukan anak Kim Jae Myung?

“apa yeojja yang waktu itu menelpon?”

Luhan mengangguk “yah, dia bahkan seperti balok es berjalan, tapi…” senyum manis terkembang di wajah Luhan, saat ia mengingat akhir akhir ini taeyeon mulai berubah “dia sudah berubah, hanya padaku”

“musun?”

“dia terlihat sudah sedikit ceria, dan yah senyumnya sangat manis, wajahnya yang memerah.. ahh oemma ottokhae? Sepertinya aku menyukainya… bagaimana menurut oemma?”

Young ji terdiam, benar. Dugaannya benar. Luhan menyukai taeyeon. Bagaimana ini? Ia sudah menduga saat Luhan sering menceritakan tentang Taeyeon padanya. Senyuman manis terlukis diwajah young ji. “kau tak marah kan, Jeung Lie? Luhannie menyukai taeyeon” jujur saja, sepertinya young ji tak setuju dengan niat Jeung Yie untuk balas dendam pada taeyeon. Bukankah itu sedikit kekanakan? Bahkan taeyeon pun tak tau apa apa. tanpa Jeung Yie balas dendam pun hidup taeyeon sudah benar-benar menyedihkan. Rahasiakan ini dari Luhan, adalah satu satunya cara yang di ambil Young ji. Ia sudah berfikir semalaman tentang ini. Jika Luhan tau, ia tak jamin bahwa Luhan akan berteman dengan Taeyeon mengingat kata kata anaknya itu setiap tahun saat di pemakaman Appanya untuk peringatan kematian bahwa ia masih belum rela appanya diambil, dan yah….

“oemma, wae?”

“aniya, oemma hanya lelah. Oemma ingin bertemu dengan nya”

“taeyeon?”

“ne, oemma ingin melihat seberapa cantik rupanya hingga ia bisa menaklukkan hati anak oemma”

Luhan tersenyum manis, inagatannya soal taeyeon yang iri padanya pun terngiang di otakknya “dia iri padaku karna aku punya oemma, bahkan tadi ia terdiam lama saat akan ku tinggal”

“kau dari rumahnya? Bukankah anak oemma ini di skor eoh?”

“taeyeon sakit oemma, dia sendirian di rumah sakit”

Taeyeon sakit? Seorang diri? Kemana oemmanya? Iri? Young ji mengulang kalimat Luhan di kepalanya seperti kaset rusak, bagaimana bisa? Semuanya terkesan sangat menyedihkan untuk yeojja itu. Dan satuhal yang ada di fikiran young ji…

 

Bagaimana jika Luhan tau? Bukankah takdir begitu kejam?

 

***

 

Dingin. Jam baru saja menunjukkan angka 7 pagi. Namun sama sekali tak menurunkan niat taeyeon untuk turun dari atap rumah sakit ini. Berdiri di pinggir pembatas dan menatap kosong kedepan. Baju rumah sakit yang ia kenakan pun sama sekali tak membuat badannya menghangat. Wajahnya memucat dan jangan lupakan, bekas impus yang ia cabut dengan asal asalan hingga darah segar masih bersedia menitik dari tangannya.

Senyuman Luhan, tawa Luhan, dan segalanya tentang Luhan berkelebat di benaknya. Bagaimana suara pria itu yang merajuk padanya, menggodanya, dan bagaimana pria itu melindungannya. Pelukan hangat dan bahkan ciuman, ah bukan. Cara Luhan membersihkan sisa ice cream di bibirnya terbayang. Senyuman pahit menghiasi wajah taeyeon. Ia rasanya baru saja terbangun dari mimpi indahnya, dan sekarang…. kenyataan di depannya membuat tubuhnya bergetar. Dengan membayangkan kehidupannya tanpa Luhan, sebelum Luhan hadir dikehidupannya pun membuatnya tak sanggup. Bahkkan hanya untuk membayangkannya saja Taeyeon tak sanggup. Bolehkan ia jujur? Apakah di saat saat seperti ini ia boleh jujur?

 

“aku meyukaimu, Luhan-ah” Lirih taeyeon pelan, benar benar sangat Lirih.

 

Lihatlah seberapa kacaunya wajah Kim taeyeon saat ini, benar benar terlihat meneydihkan. Berkali kali ia menggelengkan kepalanya, berusaha mengingat sesuatu yang ia lupakan, namun tak kunjung juga ingata itu berpaling menghampirinya, hingga yang ia ingat adalah percakapannya dengan oppanya tadi malam, yah malam yang taeyeon tandai sebagai malam penuh kehancurannya…

 

*flashback*

 

“taeyeon-ah”

Taeyeon yang baru saja akan memejamkan matanya perlahan membuka matanya saat pria dengan style kantoran itu berdiri dan duduk di tepi ranjang rumah sakitnya, mengusap pelan rambutnya. Namun entah kenapa taeyeon merasakan hawa yang dibawa pria itu tidak baik.

“waeyeo oppa?”

“seminggu lagi, seminggu lagi. Kajja kita balik ke China hmm”

Tercekat, baiklah apa yang bisa taeyeon lakuakan? Apa karna ini sikap kibum berubah padanya? “woah aku hampir saja tertipu, apa oppa menggunakan cara baru? Kalau begitu aku lebih suka oppaku yang kejam”

“taeyeon-ah! Jebal!”

“shireo”

“keundae wae? Waeyeo? Oppa janji tak akan mengekangmu lagi disana, setidaknya ada Lay yang membantumu disana”

“disini ada Luhan, dia temanku”

Kibum terdiam, nama itu lagi. Dengan polosnya nama itu keluar dari mulutnya. Bagaimana bisa ia menjelaskan ini semua pada Taeyeon? Heechul benar benar kejam padanya, bahkan ia memaksanya untuk menceritakan hal ini disaat taeyeon tengah sakit. Dan apa? bahkan taeyeon mengiranya sikapnya hanya sebagai…

“jauhi Luhan”

 

DUAR!

 

Baiklah, taeyeon merasa akan ada petir yang akan memasuki gendang telinganya tepat setalah kibum berucap demikian. Jauhi jauhi? Apa ini? Apa ia benar-benar tak boleh bahagia “o..op..pa….” wajah taeyeon memucat, bayangan harinya tanpa Luhan saja membuatnya tak bisa bernafas dengan baik. Entah sejak kapan, namun sepertinya Taeyeon mulai bergantung pada Luhan. Tidak tidak, ia tak akan menjauhi Luhan. Pria yang sudah membuat harinya sedikit bersinar, ah bukan sedikit, banyak… sangat banyak.

“jebal taeyeon-ah, jangan paksa oppa menjelaskannya padamu! Oppa tak ma…”

“SHIROE!!! NA JINJJA SHIREO! KKA YEO OPPA! AKU MENGANTUK KKA!”

Kibum tak ada pilihan lain, bagaimana pun taeyeon harus tau segalanya, ia tak ingin menjadi oppa yang jahat lagi, dan yang terpenting ia harus membawa taeyeon menjauh dari Luhan, apapun caranya “dengarkan oppa”

Tangan taeyeon terangkat, ia mnutup telinganya, sudah cukup baginya hari ini terapi jantung “KKA!!”

“KIM TAEYEON!”

Teriakan kibum berhasil membuat taeyeon menurunkan tangannya dan menatap kibum dengan mata memerahnya, oh ayolah jangan menangis. “uljima… mianhae…”

Taeyeon menghapus kasar air matanya, wajah dinginnya kembali menyelimut wajahnya yang beberapa saat yang lalu mulai terlihat menghangat. Ah sial, wajah itu kembali “keurae, arraseo”

“kau ingat kecelakaan saat kau berusia 6 tahun?”

Seketika tangan taeyeon mendingin, apa lagi kali ini? Kenapa seakan oppanya berusaha membangkitkan luka lamanya. Bagaimana bisa ia lupa kejadian itu, saat ayahnya membawanya jalan jalan melihat bulan dan yah semuanya terjadi… taeyeon tak ingat. Yang ia ingat saat ia bangun kakinya tak bisa di gerakan, bahkan badannya kaku. Belum lagi fakta bahwa ia sadar tanpa seorang pun di sampingnya, yah yatim piatu. Taeyeon tau itu.

Mata taeyeon bergerak gelisah “aku salah, mianhae… aku… aku…” mendadak badannya kaku, Kim Kibum kau bodoh atau apa? kenapa kau melupakan trauma taeyeon? Bahkan hanya menanyakan kecelakaan itu taeyeon terlihat bak mayat hidup dalam seketika.

Perih, tentu saja. Hati kibum benar benar perih, seperti ditusuk ribuan pisau tajam, sangat perih. “taeyeon-ah” dengan cepat ia memeluk tubuh mungil itu “aniya, oppa yang salah”

“jalmotaeseo, nega!”

“aniya aniya. Kau tidak salah! Kau hanya mengajak appa pergi melihat bulan, kau bahkan tak tau soal kecelakaan dan rem blong itu… aniya…”

Seketika taeyeon terdiam, mulutnya terkunci “appa….”

“aniya taeyeon-ah, dengarkan penjelasan oppa” Kibum melepaskan pelukannya, bagaimana pun juga, hari ini taeyeon harus tau segalanya. Harus. Ia tak akan menunda lagi. Ini sudah melewati batas, yah tadi siang ia mendapatkan sebuah foto taeyeon dari seseorang yang tak ia kenal, foto dengan tulisan “anakku tumbuh dengan baik” membuat kibum terperangah. Yah Park Myung Soo. “bagaimana ini? Adikknya Xi Jeung Lie meminta ku membunuh anakku sendiri” sambungan tulisan di balik foto itu benar benar membuat kibum tak bisa menahanya lagi, ia harus segera menjauhkan taeyeon dari Myung soo, dan Jeung Lie? Ayah Luhan… ingin balas dendam? Luhan… Taeyeon….

“kau tau, saat kecelakaan itu, di dalam mobil yang terlibat kecelakaan dengan mobil appa… tabrak itu… ada seseorang di dalam sana… ia… ayah Luhan”

 

*flasback off*

 

“jangan halangi aku! Aku ingin mati disini!!!”

Taeyeon tertarik dari lamunanya, mentap ke arah kanannya. Tepat sejajar dengannya seorang yeojja tengah berusaha melompat dari pinggir sini, dengan pakaian rumah sakit sama dengannya dan seorang yeojja paruh baya yang berusaha menahannya.

“andwe, jangan gila seulgi ah”

“oemma, aku tak mau hidup tanpanya! Restui kami! Oemma!”

Yeojja paruh baya itu terlihat menghela nafas berat “arraseo, turunlah”

“jinjja? Oemma janji?” yeojja paruh baya itu mengangguk, dan menarik anaknya turun. Hingga ia menuntun anaknya itu kembali ke dalam lift dan membawanya pergi, entah kemana.

Taeyeon terus saja menatap kearah sana hingga senyum manis terpatri di wajahnya “bagaimana jika aku mencoba bunuh diri seperti tadi? Apa akan ada yang mencegahku?” tanya taeyeon tepatnya pada dirinya sendiri. Karna tak ada siapun di atap selain dirinya.

Bunuh diri? Apa benar taeyeon akan melakukannya? Ah ayolah, taeyeon tak sebodoh itu. Lagian jika ia matipun tak ada yang menunggunya di akhirat nanti.

“aku takut…. apa kau akan menajuhiku? Membenciku?”

Taeyeon merentangkan tangannya pelan, melirik sekilas kebawah sana. Benar-benar sangat tinggi. Dan taeyeon yakin tak ada jaminan ia akan selamat jika ia terjun dari sini. Rintik hujan mulai turun, menambah dinginnya pagi hari, suasana sunyi dan langit mendungpun seakan merestui taeyeon untuk mengakhiri hidupnya.

Apa salahnya mencoba? Bisikan terdengar di telinga taeyeon.

 

1 detik…

 

2 detik…

 

3 detik…

 

Belum sempat taeyeon memanjat pembatas dinding itu, sebuah tangan melingkar erat di pingganya yang kecil, benar benar erat hingga membuatnya sesak. Ingin rasanya taeyeon protes kepada seseorang yang dengan lancangnya memeluknya ini, namun mendengar suara itu, suara itu… taeyeon terdiam.

“neo michoseo?” bisiknya, tepat di telinga taeyeon.

“luhan-ah”

“KAU MAU MATI? APA KAU GILA?” teriakan Luhan membuat taeyeon bergetar hebat, matanya mengabur dan cairan mengalir keluar dari matanya.

Luhan yang berniat menemani taeyeon dari pagi pagi sekalipun terkejut saat sampai di kamar inap taeyeon, saat ia melihat impus taeyeon terlepas begitu saja, selimut di lantai… dan banyak barang yang berserakan disana. Bahkan novel yang diberikan Luhan pun tercecer di sana. Hingga Luhan memutuskan untuk ke atap gedung ini, sedikit menghirup nafas segar sebelum taeyeon kembali ke kamarnya, namun apa ia dapat? Ia mendapati punggung taeyeon di atas sini, seperti orang gila, Luhan berlari dan langsung memeluk taeyeon.

“hajima… jeongmal… jinjja hajima…” Luhan melunak, ia menyandarkan kepalanya ke bahu taeyeon, membuat pipinya bersentuhan dengan pipi dingin taeyeon. Luhan menutup matanya. Ia hampir saja kehilangan yeojja ini.

“kenapa kau… disini?”

Luhan mendengus kasar, menatap ke depan, banguan tinggi menjulang menjadi pemandangan yang harusnya Luhan lihat, bukan yeojja yang ia sukai yang akan mengakhiri hidupnya. “NEO APA YANG KAU FIKIRKAN? MENGAKHIRI HIDUPMU? APA KAU FIKIR SEMUA AKAN BERAKHIR? SEPAHIT APAPUN HIDUPMU JANGAN PERNAH MELAKUKAN HAL ITU, BANYAK ORANG DI LUAR SANA YANG INGIN HIDUP!”

“lepaskan aku!”

Ucapan dan tindakan taeyeon benar-benar bertolak belakang, bagaimana bisa ia berkata lepaskan sementara ia sama sekali tak melakukan perlawanan. Hingga berakhri dengan cairan bening keluar dari mata taeyeon, menuruni pipinya yang tengah bersandar dengan Luhan. Luhan terdiam, dan langsung saja melepaskan pelukannya, membalikkan badan taeyeon hingga menatapnya.

“kau… menangis?”

Dengan sigap, kedua jemari Luhan menangkup wajah taeyeon, menatap jauh kedalam mata yeojja itu. “apa sesakit itu?”

Taeyeon mengangguk pelan, dan entah kenapa air matanya justru mengalir lebih banyak. Secepat apapun Luhan menghapus air matanya secepat itu pula air mata taeyeon mengalir. “apa yang terjadi? Ceritalah padaku hmmm”

Bagaimana bisa ia bercerita pada Luhan? Jika masalahnya kali ini berhungungan dengan Luhan. “gwenchana”

Luhan mengela nafas pelan, hingga uap-uap kecil keluar dari mulutnya. Baiklah ia tak akan bertanya lagi. Ia bahkan menyesali kalimatnya yang menyuruh taeyeon menangis waktu itu karna pada nyatanya, ia sama sekali tak bisa melihat taeyeon menangis, sesak. Sangat sesak.

“uljima, aku fikir kau akan cantik saat menangis, namun entah kenapa hatiku sakit melihatmu menangis, uljima!”

 

 

 

“jangan membenciku… jebal!”

 

 

 

 

 

***To Be Continued***

 

 

 

Makin kacau? Mianhae… kenapa ceritanya jadi makin jelek gini yah? Aku udah pasrah sumpah. Kalo ga ada yang baca pun gapapa. Author ikhlas. Kenapa jadi ga jelas gini? Yang nungguin konfliknya, ini udah mulai intro nih konfliknya, #baruintroaja udh gaje gini, gimana mo klimaks ni ff!

Dan buat yang mempertanyakan kenapa judulnya ga ada kaitannya ama ff, maafkan akuT-T gatau deh kenapa dulu milih judul moonlight, mungkin karna suka lagunya-_-

Buat chapter 8 ditunggu aja yah, segera di post mudah-mudahan^^ semoga masih ada yang sedia menanti ff ini. Doakan semoga bisa segera dipost. #gaada yang nungguin!!! *BOW *KISSKISS *HUG

 

Advertisements

56 comments on “[FREELANCE] Moonlight (Chapter 7)

  1. uh daebak thor feelnya dapet banget, sedih banget hidupnya Taeyeon baru bahagia eh ada lagi masalah.
    seru thor
    next thor

  2. huhuhu T_T sedih banget
    kasihan taeng sama luhan
    luhan sayang banget ya sama taeng
    so sweet
    next chap hwaiting

  3. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  4. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s