[FREELANCE] The One and Only (Chapter 1)

photostudio_1460561604764

TITLE : THE ONE AND ONLY #1

Created by. Kakak Peri

Main Cast :

– Kim Tae Yeon

– Cho Kyu Hyun

    Support Cast :

– Son Seung Wan / Wendy (Red Velvet)

– Kim Jong Dae / Chen (EXO)

– Kim Jun Myeon / Suho (EXO)

– Lee Dong Hae (Super Junior)

– Kang Min Kyung (Davichi)

Genre : Romance – Universe

Rated : PG – 17

Lenght : Twoshot

♡♡♡ 안니사 마우리다 ♡♡♡

 

“Eonni… apa kau akan membawa foto-foto Donghae oppa dan Daejun?” tanya Seungwan.

 

Taeyeon tertegun.

 

Seungwan sedang membantu Taeyeon mengepak semua perabotan dirumahnya, karena sebentar lagi Taeyeon akan pindah rumah, ia tidak akan lagi tinggal di rumah yang penuh kenangan indah bersama suami dan juga puteranya. Lee Dong Hae merupakan suami Taeyeon dan Lee Dae Jun merupakan putera mereka yang baru berusia 2 tahun. Suami dan puteranya meninggal dalam kecelakaan pesawat sekitar 2 bulan yang lalu.

 

20 Februari 2014

 

Taeyeon dan Seungwan baru saja pulang dari supermarket, mereka berbelanja bahan makanan. Son Seung Wan merupakan adik sepupu Taeyeon yang baru saja kembali dari Ontorio, Canada. Gadis itu baru saja menyelesaikan studinya disana. Seungwan cukup sering mengunjungi Taeyeon, seperti sekarang ini. Taeyeon membutuhkan bantuan orang lain untuk masak besar karena akan ada acara makan malam keluarga untuk menyambut kepulangan Donghae dan Daejun. Suami dan putera Taeyeon sore ini akan kembali dari New Zeland.

 

Donghae dan Daejun sudah sekitar 2 minggu tinggal di New Zeland. Ada proyek yang harus Donghae kerjakan. Awalnya Taeyeon tidak mengijinkan Donghae membawa Daejun bersamanya, namun Donghae berusaha meyakinkan Taeyeon bahwa ia benar-benar bisa merawat Daejun. Lagi pula proyek yang harus Donghae kerjakan bukan sebuah pekerjaan yang menyita banyak waktu, ia bisa mengerjakannya dengan santai, jadi tidak masalah jika Daejun ikut bersama Donghae. Yang paling Taeyeon ingat dari perkataan suaminya adalah, “Kita tidak pernah mengajak Daejun berlibur ke luar negeri, lagi pula aku bisa mengerjakan pekerjaanku dengan santai, disamping itu aku bisa mengajak Daejun bersenang-senang disana. Oh.. ayolah sayang… ijinkan aku membawa Daejun, hm? Kau kan tahu selama ini aku bisa merawat Daejun dengan baik sekalipun tanpa bantuanmu…” begitulah yang dikatakan Donghae ketika membujuk Taeyeon. Ya… pria tampan itu memang sangat mahir merawat putera semata wayangnya sehingga Taeyeon mengijinkan Donghae mengikutsertakan Daejun dalam perjalanan bisnisnya.

 

Waktu menunjukan pukul 14.30 KST

 

Taeyeon yang dibantu Seungwan baru menyelesaikan beberapa hidangan untuk makan malam nanti. Masih ada 2 hidangan lagi yang belum Taeyeon siapkan. Bulgogi dan kimchi jigae.

 

“Eonni, kau mandilah dulu, sebentar lagi Donghae oppa dan Daejun akan sampai, kan? Bulgogi dan kimchi jigae biar aku yang buat, kau harus cantik dan wangi ketika menyambut suami dan puteramu,” ujar Seungwan.

 

“Kau bisa saja.”

 

“Aku serius, eonni, cepat mandi!”

 

“Oh baiklah, Seungwan-ku!” Taeyeon melepaskan celemek yang ia kenakan, dan menggantungkannya disudut ruang dapur.

 

***

 

Waktu menunjukan pukul 18.00 KST

 

Semua makanan yang Taeyeon dan Seungwan buat sudah tersaji sejak satu jam yang lalu di atas meja makan, kedua orang tua Donghae dan Taeyeon pun sudah berkumpul disana, namun Donghae dan Daehan belum juga pulang. Seharusnya mereka sudah dirumah sekitar 2 jam yang lalu

 

Taeyeon mulai gelisah, sejak tadi pagi sebenarnya ia merasa tidak enak hati. Tampaknya bukan hanya Taeyeon semua orang yang telah berkumpul dirumah Donghae dan Taeyeon terlihat gelisah.

 

“Aku ingin menjemput Donghae oppa ke bandara, mungkin ada keterlambatan, aku harus menanyakannya pada petugas bandara,” ujar Taeyeon.

 

“Kim Jong Dae sudah pergi ke bandara untuk memastikannya, kau tidak perlu cemas, sayang,” ucap Nyonya Kim, ibu Taeyeon. Kim Jongdae merupakan adik Taeyeon.

 

“Bagaimana aku tidak cemas, bu? Suami dan puteraku yang seharusnya pulang 2 jam yang lalu, sampai saat ini belum pulang dan aku tidak bisa menghubungi suamiku. Aku benar-benar mencemaskan mereka,” ujar Taeyeon ia sudah gak kuasa menahan tangisnya.

 

“Eonni…” Seungwan memeluk kakak sepupunya yang sedang menangis, berusaha menenangkannya meski hasilnya nihil, karena Kim Jong Dae datang dengan wajah piasnya.

 

Taeyeon adalah orang pertama yang menghampiri Jongdae dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

 

“Mana suami dan puteraku? Ibu bilang kau yang menjemput mereka ke bandara. Donghae oppa dan Daejun baik-baik saja, kan?” tanya Taeyeon pada Jongdae.

 

Jongdae menggeleng lemah.

 

“Apa maksudmu? Katakan dengan benar, Jongdae!”

 

“Pesawat yang ditumpangi Daejun dang Donghae hyung mengalami kecelakaan…”

 

“Apa? Jangan bercanda, aku sedang serius, Jongdae!”

 

Lelaki bernama Kim Jong Dae itu memeluk kakaknya dengan erat.

 

“Kau harus sabar, nuna.”

 

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memeluku? Katakan dengan benar! Aku serius, jangan membuat lelucon seperti ini, Kim Jong Dae!”

 

“Aku serius, nuna. Aku benar-benar serius!”

 

Tangisan Taeyeon kembali pecah, kali ini tak hanya Taeyeon yang menangis, tapi semua orang yang ada dirumah ini menangis.

 

“Mana mungkin? Donghae oppa berjanji padaku akan pulang dengan selamat, dia akan pulang sebelum hari jadi pernikahan kami, dan ia berjanji akan membuat pesta kecil untukku, Donghae oppa tidak mungkin tidak menepati janjinya…” ujar Taeyeon sembari terus menangis dan memukul-mukul punggung adiknya. “Jongdae-ah… kau tidak boleh membohongi nuna-mu…”

 

Jongdae mengusap-usap punggung kakaknya dengan lembut. Ia tak tahu harus berkata apa lagi untuk menenangkan kakaknya yang sedang menangis. Memang akan sia-sia menenangkan seseorang yang sedang menangis karena kehilangan orang yang benar-benar dicintai.

 

Tubuh Taeyeon melemah, wanita itu hampir terjatuh, namun Jongdae yang sedari tadi sedang memeluk kakaknya segera menahan tubuh kakak perempuannya itu. Taeyeon pingsan, wanita itu pasti sangat shock. Jongdae segera menggendong tubuh mungil Taeyeon dan membawanya kekamar.

 

“Seungwan-ah… temani nuna-ku, aku harus menjelaskan semuanya kepada kedua orang tua Donghae hyung,” ujar Jongdae setelah membaringkan tubuh Taeyeon diatas temoat tidur.

 

Seungwan mengangguk mengiyakan.

 

Kini Jongdae kembali keruang keluarga, disana kedua orang tua Donghae dan Taeyeon sudah berkumpul.

 

Jongdae menghela nafas berusaha menetralisir perasaannya, jujur Jongdae sendiri merasa shock dan tidak percaya jika kakak ipar dan keponakannya menjadi salah satu korban dalam kecelakaan pesawat.

 

“Donghae hyung dan Daejun menjadi korban dalam kecelakaan pesawat. Saat ini tim sar sedang berusaha mengevakuasi jasad korban kecelakaan pesawat, petugas bandara mengatakan pesawat itu jatuh di perairan…… aku melupakan nama perairannya, yang jelas pesawat itu jatuh kedasar laut sebelum benar-benar sampai ke bandara Incheon.”

 

“Kapan jasad putera dan cucuku akan ditemukan?” tanya Nyonya Lee -ibu Donghae.

 

Jongdae menggeleng lemah. “Petugas bandara tidak bisa memastikan kapan semua korban bisa ditemukan. Yang jelas untuk saat ini… sebaiknya kita mendoakan yang terbaik untuk Donghae hyung dan Daejun. Kemungkinan mereka masih hidup sangat kecil, meskipun kita semua sangat mengharapkan akan datang keajaiban agar Donghae hyung dan Daejun selamat dalam kecelakaan itu. Tapi kalaupun mereka harus meninggal, kita berdoa agar jasadnya dapat segera ditemukan.”

 

***

 

22 Februari 2014

 

Taeyeon duduk diantara Seungwan dan Jongdae, saat ini seluruh keluarga telah berkumpul dirumah Taeyeon, bukan hanya keluarga, bahkan rekan-rekan Donghae dan Taeyeon berdatangan kerumah Taeyeon. Kabarnya jasad Donghae dan Daejun sudah ditemukan, kepolisian akan mengantarkan jasad Donghae dan Daejun.

 

Taeyeon tampak begitu pucat dan lemah, demamnya belum juga mereda, bahkan semalam suhu tubuh Taeyeon sangat tinggi. Begitu banyak orang yang menguatkan Taeyeon tapi apa daya, siapapun akan merasa frustasi jika ditinggalkan orang yang dicintai. Jongdae merangkul tubuh kakak perempuan kesayangannya itu, dan Taeyeon bersandar di dada Jongdae sembari terisak, suaranya bahkan telah habis, untuk berbicarapun rasanya sangat berat bagi Taeyeon.

 

Kepolisian pun datang membawa dua peti mati, dan kini peti mati itu telah berada dihadapan Taeyeon.

 

Jongdae, dibantu oleh Seungwan memapah Taeyeon agar lebih dekat dengan peti mati yang didalamnya telah ada jasad Donghae dan Daejun.

 

Keharuan kembali menyeruak, isak tangis yang semula samar bahkan nyaris tak terdengar kembali menggelegar.

 

Taeyeon hendak membuka peti mati yang berukuran agak besar, tentu itu peti mati Donghae. Tapi salah seorang polisi melarangnya.

 

“Maaf nyonya, anda tidak diperbolehkan membuka peti mati ini, Keadaan jasad sudah sangat sulit dikenali, kami khawatir jika anda melihatnya, anda akan sangat shock, ini demi kebaikan anda dan keluarga anda,” ujar salah seorang polisi.

 

“Aku ingin memastikan yang didalam peti mati ini suamiku atau bukan. Bagaimana bisa kalian yakin bahwa jasad ini adalah jasad Lee Dong Hae, suamiku?!”

 

Kemudian polisi itu menyerahkan dompet milik Donghae. “Didalam dompet ini ada tanda pengenal milik suami anda, Tuan Lee Dong Hae, dompet ini kami temukan didalam saku celana yang dikenakan suami anda.”

 

“… tapi aku ingin melihatnya… aku ingin mencium suami dan puteraku untuk terakhir kalinya. Kumohon…” ujar Taeyeon sembari terisak.

 

“Maafkan kami, tapi anda tidak bisa melakukannya.”

 

“Kumohon……..” ucap Taeyeon lirih, ia menjatuhkan tubuhnya, dihadapan polisi yang melarangnya. Polisi itu menggelengkan kepalanya. Taeyeon hanya bisa memeluk peti matinya saja tanpa bisa melihat bagaimana keadaan jasad suami dan puteranya. Tangisan Taeyeon terdengar sangat lirih dan menyakitkan, membuat semua orang yang melihat keadaan Taeyeon tak mampu lagi membendung air mata.

 

Jongdae merendahkan tubuhnya disamping Taeyeon, ia memeluk kakaknya dengan erat sembari menangis, Jongdae benar-benar tak tega melihat Taeyeon. Ini pertama kalinya bagi Jongdae melihat kakaknya begitu menyedihkan dan terpukul. Mungkin ini merupakan titik tersulit dalam kehidupan Taeyeon yang mau tidak mau harus rela ditinggal pergi oleh suami dan puteranya untuk selamanya.

 

***

 

22 Februari 2016

 

“Jongdae-ah… turunkan aku didepan cafe tea itu,” ucap Taeyeon. Taeyeon yang diantar Donghae baru saja pulang dari rumah duka, tempat abu kremasi Donghae dan Daejun dikebumikan. Hari ini tepat 2 tahun peringatan kematian Donghae dan Daejun.

 

“Nuna tidak akan pulang?”

 

“Aku sedang ingin minum sesuatu yang segar.”

 

“Aku tidak bisa menemanimu-”

 

“Aku tahu kau harus pergi bekerja, lagi pula aku tidak memintamu untuk menemaniku. Aku bisa sendiri. Kau pergilah, bukankah kau hampir terlambat. Aku akan pulang naik taxi.”

 

“Oh baiklah, hati-hati…” ucap Jongdae.

 

“Kau juga hati-hati.” Taeyeon pun keluar dari mobil Jongdae, ia melambaikan tangannya pada Jongdae sebelum mobil itu benar-benar berlalu.

 

***

 

Kyuhyun hendak keluar dari ruangannya, namun saat ia baru saja menutup pintu ruangan kerjanya, ia melihat sesosok wanita bertubuh mungil mengenakan mini dress berwarna biru navy sedang memesan sesuatu.

 

Kim Jun Myeon menghampiri Kyuhyun, Junmyeon merupakan teman Kyuhyun yang Kyuhyun percaya untuk mengurus salah satu cabang cafe miliknya. “Hyung, kau sudah siap-”

 

Kyuhyun meletakan telunjuk dibibirnya, memberi isyarat pada Junmyeon untuk tidak bersuara.

 

“Jika aku sudah siap, aku akan memanggilmu,” ujar Kyuhyun setengah berbisik sembari terus menatap Taeyeon yang saat ini sudah duduk disudut cafe menunggu pesanannya datang.

 

Kyuhyun menghampiri pegawainya yang bekerja dibagian pemesanan.

 

“Wanita yang tadi memakai mini dress berwarna biru navy itu memesan apa?” tanya Kyuhyun.

 

“Wanita itu memesan papermint tea.”

 

“Hanya itu?”

 

Pegawai itu mengangguk mengiyakan.

 

“Beri dia cup cake matcha, katakan padanya, dia salah satu pelanggan yang beruntung mendapat bonus cup cake.”

 

“Baik, Tuan.”

 

***

 

Pesanan Taeyeon datang, ia mengernyitkan keningnya ketika pelayan itu meletakan cup cake juga diatas meja.

 

“Aku tidak memesan cup cake ini,” ucap Taeyeon.

 

“Memang nona tidak memesannya, tapi nona merupakan salah satu pelanggan yang beruntung bisa mendapatkan cup cake terenak di cafe kami secara gratis.”

 

“Ah~ baiklah… terima kasih,” ucap Taeyeon seraya tersenyum pada pelayan itu.

 

Kyuhyun tersenyum memperhatikan Taeyeon yang sedang duduk disudut cafe miliknya sembari menatap keluar dari arah jendela.

 

“Oppa!” seru Taeyeon ketika melihat Kyuhyun terjatuh dari sepedanya.

 

“Oh~ Taeyeon-ah… tolong bantu aku,” ringis Kyuhyun kesakitan.

 

“Sudah ku bilang, jangan terlalu kencang, lihat! Sekarang kau jadi jatuh,” omel Taeyeon sembari membantu Kyuhyun berdiri. “Berapa usiamu? Kau terlihat seperti orang bodoh ketika jatuh tadi.”

 

Kyuhyun tertawa geli melihat Taeyeon mengomel tidak jelas.

 

“Kenapa tertawa?” tanya Taeyeon.

 

“Tidak.”

 

Taeyeon membawa Kyuhyun duduk dibangku taman. Ia menyiramkan air minum miliknya ke sikut Kyuhyun yang terluka, kemudian membungkus luka itu dengan saputangan milik Taeyeon.

 

“Oppa, kemarin aku ulang tahun, kau hanya memberiku selamat, kau tidak berniat memberiku sesuatu?” tanya Taeyeon yang kemarin baru saja menginjak usia 22 tahun.

 

“Memang sesuatu seperti apa yang kau inginkan?” tanya Kyuhyun.

 

“Taeyeon-ah!!” panggil nyonya Kim dari halaman rumahnya.

 

“Ibumu memanggilmu,” ucap Kyuhyun

 

“Ya, bu!!” seru Taeyeon

 

“Cepat pulang, seseorang datang untuk menemuimu!”

 

“Baik!!” Taeyeon membantu Kyuhyun berdiri. “Kau bisa berjalan sendiri?”

 

Kyuhyun mengangguk.

 

Sesampainya dirumah, Taeyeon memarkirkan sepedanya di samping mobil milik ayahnya. Ia mengajak masuk Kyuhyun kedalam rumahnya lewat pintu belakang.

 

“Jongdae-ah… bantu aku, ambilkan kotak P3K,” ucap Taeyeon pada Jongdae yang baru saja selesai makan.

 

“Taeyeon-ah, apa yang kau lakukan?” tanya Nyonya Kim.

 

“Kyuhyun oppa terluka, tadi dia jatuh dari sepeda.”

 

“Ya Tuhan.. biar ibu yang mengobati Kyuhyun, kau temui seseorang yang sudah menunggumu di ruang tamu sejak tadi.”

 

“Baik, bu.”

 

“Jongdae-ah… ambilkan alkohol dan kapas,” ucap Nyonya Kim. “Bagaimana kau bisa jatuh?” lanjutnya.

 

“Donghae oppa!” seru Taeyeon kegirangan, sampai terdengar keruang dapur dimana Kyuhyun sedang berada. Kyuhyun terlihat kecewa ketika mendengar bahwa Donghae adalah orang yang datang menemui Taeyeon.

 

“Kyuhyun-ah, kau mendengarku?” tanya Nyonya Kim lagi.

 

“Oh ya… tadi, aku kurang berhati-hati, jadi aku terjatuh,” jawab Kyuhyun.

 

“Aigo… kau dan Taeyeon bukan anak kecil lagi, kenapa kalian masih sangat suka bermain sepeda bersama. Kau bahkan sudah menyelesaikan studimu di KAIST dan Taeyeon sebentar lagi akan menghadapi ujian sidang, tapi kalian masih seperti anak kecil, sangat gemar bersepeda,” ujar Nyonya Kim seraya tertawa kecil.

 

“Bersepeda termasuk olahraga juga, bi. Lagi pula bersepeda sangat menyenangkan. Bibi tahu sendiri, 3 bulan lagi aku akan pergi ke London untuk melanjutkan studiku di Oxford. Jadi jangan larang aku jika setiap hari aku mengajak puterimu bersepeda, aku harus banyak-banyak menghabiskan waktu dengannya sebelum aku pergi ke London.”

 

“Baiklah, aku mengerti. Kalian akan sangat sulit dipisahkan karena sejak kecil kalian selalu bersama.” ucap Nyonya Kim sembari membereskan kotak P3K.

 

“Terima kasih sudah mengobati lukaku, aku akan pulang sekarang.”

 

“Kau tidak akan menunggu Taeyeon?”

 

“Sepertinya akan lama, besok aku akan kembali kemari jika sempat.”

 

“Baiklah… hati-hati.”

 

Kyuhyun mengacungkan jempolnya kearah Nyonya Kim sebelum ia benar-benar keluar dari rumah Taeyeon.

 

***

 

Taeyeon terlihat sedang menunggu taxi didepan cafe tea milik Kyuhyun, melihat itu Kyuhyun segera bergegas keluar.

 

“Hyung, kau akan pergi tanpa aku?” tanya Junmyeon.

 

“Nanti ku hubungi jika aku membutuhkanmu, ada urusan yang harus segera ku selesaikan,” ujar Kyuhyun sembari berlalu meninggalkan Junmyeon dengan tergesa.

 

“Ada apa dengannya?” gumam Junmyeon heran.

 

***

 

Kyuhyun menghentikan mobilnya didepan Taeyeon, gadis itu tampaknya masih menunggu taxi. Taeyeon mundur beberapa langkah ketika melihat sebuah mobil berhenti tepat didepannya.

 

Kyuhyun membuka jendela mobilnya.

 

“Taeyeon-ah, lama tidak berjumpa…” sapa Kyuhyun.

 

“Oh! Kyuhyun oppa,” ujar Taeyeon dengan senyum cerahnya yang khas, yang tak pernah sedikitpun Kyuhyun lupakan.

 

“Kau akan kemana?”

 

“Aku akan pulang.”

 

“Naiklah, aku akan mengantarmu.”

 

“Bolehkah?”

 

Kyuhyun mengangguk. “Lagi pula ini pertemuan pertama kita setelah 5 tahun tidak bertemu, memangnya kau tidak merindukanku?”

 

Taeyeon tersenyum. Kyuhyun tidak banyak berubah, cara bicara dan penampilannya masih tetap sama seperti 5 tahun yang lalu. Kyuhyun tidak terlalu suka mengenakan pakaian formal dengan tuksedo dan dasi. Tapi style berpakaiannya masih sama seperti dulu, casual, semi formal.

 

Taeyeon masuk kedalam mobil Kyuhyun.

 

“Dimana rumahmu sekarang?”

 

“Aku sedang tinggal sementara dirumah ibuku.”

 

“Ah~ baiklah…” Kyuhyun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. “Bagaimana kabarmu?”

 

“Seperti yang kau lihat, kabarku sangat baik,” jawab Taeyeon. “Kapan kau kembali dari London?”

 

“Sekitar satu tahun yang lalu,” Kyuhyun melirik Taeyeon. “Sulit dipercaya, gadis yang 5 tahun lalu masih sangat cuek dengan penampilannya, kini semakin cantik. Tampaknya setelah menikah kau semakin pandai merawat diri dan memperhatikan penampilanmu.”

 

“Kau bisa saja, aku masih sama seperti dulu, tidak terlalu memperhatikan penampilanku. Tapi karena aku baru saja menemui orang penting jadi tentu saja penampilanku harus lebih baik dari biasanya.”

 

“Ah, bagaimana kabar suamimu? Ku dengar kau sudah memiliki putera, berapa usia puteramu sekarang?”

 

Taeyeon tak langsung menjawab, ia sedikit menundukan kepalanya ketika Kyuhyun menanyakan suami dan puteranya.

 

“Mereka sudah pergi,” jawab Taeyeon.

 

“Maksudmu?”

 

“Donghae oppa dan puteraku Daejun, sudah meninggal.”

 

“Oh maafkan aku, aku tidak bermaksud-”

 

“Tidak apa-apa,” ucap Taeyeon seraya tersenyum.

 

“Kapan?”

 

“Dua tahun yang lalu, mereka menjadi korban kecelakaan pesawat.”

 

“Ya Tuhan… tidak ada yang memberi kabar padaku soal kematian suami dan puteramu. Maaf… aku sungguh tidak tahu tentang hal itu.”

 

“Tidak apa-apa. Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Semuanya memang terjadi secara tiba-tiba.”

 

“Jadi itu alasanmu tinggal kembali dirumah orang tuamu?”

 

Taeyeon mengangguk.

 

“Bagaimana kabar bibi, paman serta Jongdae.”

 

“Kabar ibu dan ayahku baik, mereka sehat. Jongdae sudah menjadi orang yang sukses, sekarang dia bekerja di kantor kejaksaan. Cita-citanya menjadi seorang pengacara akhirnya terwujud.”

 

“Syukurlah, aku senang mendengarnya.”

 

Kyuhyun menghentikan mobilnya didepan rumah orang tua Taeyeon. Rumahnya masih bersebelahan dengan rumah orang tua Kyuhyun. Hanya saja saat ini kedua orang tua Kyuhyun sedang berada di Taiwan mengurusi cabang perusahaannya disana.

 

“Aku sudah tidak tinggal bersama orang tuaku, aku tinggal di apartement di kawasan Gwanghwamun, lain waktu kau harus berkunjung ke apartementku,” ujar Kyuhyun.

 

“Baiklah… Kau tidak akan mampir dulu?”

 

“Sebenarnya aku ingin menemui orang tuamu, terutama ibumu, tapi aku harus bertemu dengan client-ku. Mungkin lain waktu, jika ada waktu luang akan ku sempatkan mengunjungi mereka.”

 

“Baiklah kalau begitu, terima kasih atas tumpanganmu.”

 

Taeyeon pun keluar dari mobil Kyuhyun. Ia balas melambaikan tangannya ketika Kyuhyun terlihat melambaikan tangannya pada Taeyeon.

 

“Siapa?” tanya Seungwan tiba-tiba.

 

“Aigo, kau mengagetkanku!”

 

“Hehe maaf… siapa pria itu? Dia kekasihmu?”

 

“Jangan asal bicara, dia sahabat lamaku. Dulu dia tinggal dirumah itu,” ucap Taeyeon sembari menunjuk rumah besar disamping rumah orang tuanya.

 

“Lalu?”

 

“Dia sudah tidak tinggal bersama orang tuanya, dia sudah memiliki tempat tinggal sendiri.”

 

“Ah~ begitu…”

 

“Darimana kau dengan pakaian seperti itu?” tanya Taeyeon heran ketika melihat Seungwan memakai pakaian olahraga di siang hari seperti ini.

 

“Aku baru kembali dari tempat fitness… aku harus menghilangkan lemak ditubuhku yang semakin hari semakin menjadi. Aku tidak ingin gemuk lagi!”

 

“Aigo! Kau ini,” ucap Taeyeon sembari memukup bokong adik sepupunya, “ayo masuk…”

 

***

 

Hari ini Kyuhyun dan Taeyeon berjanji akan bertemu, Kyuhyun menunggu Taeyeon di taman dekat cafe tea milik Kyuhyun.

 

Dua hari yang lalu, saat pertemuan pertama Kyuhyun dan Taeyeon setelah 5 tahun tidak bertemu membuat perasaannya pada Taeyeon kembali merekah. Ia sempat putus asa ketika Taeyeon menikah dengan Donghae dan mereka dikaruniai seorang putera, jujur itu membuat Kyuhyun bersedih, Kyuhyun tak menampik bahwa perasaannya pada Taeyeon sejak dulu sampai saat ini belum berubah sedikitpun. Sebagai bukti, ia tak pernah sekalipun menjalin hubungan spesial dengan wanita manapun sampai detik ini, berniat memiliki kekasihpun tak pernah sedikitpun terlintas dalam benaknya.

 

Ketika mendengar Donghae meninggal, Kyuhyun agak terkejut namun disisi lain, ia merasa bahagia karena itu merupakan sebuah peluang baginya untuk meraih hati Taeyeon. Mungkin terdengar agak kejam. Namun, tak dapat Kyuhyun pungkiri ia merasa ini adalah kesempatan besar baginya untuk memiliki Taeyeon.

 

“Kau sudah datang?” tanya Kyuhyun ketika melihat Taeyeon datang dengan sepedanya sembari terengah.

 

“Apa aku membuatmu menunggu lama?” tanya Taeyeon khawatir.

 

Kyuhyun menggeleng sembari tersenyum hangat. Besok pagi, ia harus berangkat ke London, mungkin malam ini akan menjadi malam terakhir bagi Kyuhyun dan Taeyeon untuk bertemu sebelum Kyuhyun pergi ke London. Kyuhyun berencana melamar Taeyeon sebelum ia meninggalkan negara kelahirannya ini. Sebenarnya sudah sangat lama Kyuhyun ingin mengungkapkan perasaannya pada Taeyeon, namun baru kali ini ia memiliki cukup nyali untuk mengungkapkan padanya. Kyuhyun bahkan sudah menyiapkan cincin didalam saku celanannya untuk ia berikan pada Taeyeon.

 

“Ada yang ingin kusampaikan padamu!” ucap Taeyeon dan Kyuhyun bersamaan.

 

“Baiklah, kau boleh lebih dulu menyampaikannya,” ujar Kyuhyun mengalah.

 

“Malam ini benar-benar menjadi malam yang membahagiakan bagiku, tapi sekaligus juga akan menjadi malam yang menyedihkan bagiku, karena besok pagi kau harus pergi ke London dan aku tidak bisa mengantarmu, besok adalah hari dimana aku menghadapi ujian sidang. Kemungkinan malam ini adalah malam terakhir kita bertemu…” Taeyeon menatap Kyuhyun dengan sedih, namun tiba-tiba sorot matanya kembali bersinar. “Kabar bahagianya… Donghae oppa baru saja melamarku!” seru Taeyeon sembari memamerkan cincin yang sudah melingkar di jari manisnya.

 

Seperti ada petir yang menyambar hati Kyuhyun, perkataan Taeyeon seketika membuat Kyuhyun membeku, lidahnya bahkan terasa kelu. Rangkaian kata-kata manis yang sudah Kyuhyun hafalkan untuk melamar Taeyeon hilang begitu saja.

 

“Setelah aku resmi di wisuda, Donghae oppa akan segera menikahiku, bahkan besok sepulang ujian sidang ia mengajakku memilih gaun pengantin dan menemui wedding organizer untuk membicarakan pernikahan kami. Kau tahu, ini benar-benar mendadak, tapi membuatku begitu bahagia sampai membuat jantungku tak hentinya berpacu dengan cepat, aku hampir terkena serangan jantung karena saking bahagianya! Aku tidak menyangka Donghae oppa akan melamarku secepat ini…”

 

“Se-selamat… aku… aku senang mendengarnya…” ucap Kyuhyun terbata. Ia tak mungkin mengungkapkan perasaannya pada Taeyeon, gadis itu bahkan terlihat sangat sangat bahagia… jika Kyuhyun tetap akan menyatakan perasaannya tentu itu merupakan sesuatu yang konyol. Sudah pasti Taeyeon akan menolak Kyuhyun mentah-mentah.

 

“Kyuhyun oppa!” seru Taeyeon membuyarkan lamunan Kyuhyun.

 

Kyuhyun menoleh, ia melambaikan tangannya pada Taeyeon.

 

“Apa aku membuatmu menunggu lama?” tanya Taeyeon. Wanita itu selalu saja merasa khawatir membuat orang lain menunggunya.

 

“Tidak…” jawab Kyuhyun sembari tersenyum hangat. “Kita pergi sekarang?” tanya Kyuhyun.

 

Taeyeon mengangguk mengiyakan. Kyuhyun menghela tubuh mungil Taeyeon untuk masuk kedalam mobilnya.

 

***

 

“Ibu, nuna tidak ada di kamar, kemana dia?” tanya Jongdae yang baru saja pulang bekerja.

 

“Kau menyakiti ibu, sepulang bekerja seharusnya kau memberiku ciuman, bukannya langsung mencari keberadaan nuna-mu. Sepertinya jika kau diberi pilihan untuk memilih ibu atau Taeyeon, kau akan memilih Taeyeon,” protes nyonya Kim. Jongdae memang begitu menyayangi kakak perempuannya. Sejak Taeyeon ditinggalkan Donghae dan Daejun, Jongdae menjadi lebih perhatian pada Taeyeon. Bahkan Jongdae berjanji akan menggantikan Donghae untuk menanggung biaya hidup Taeyeon sampai Taeyeon menikah lagi dan mendapatkan suami baru. Bagi Taeyeon, Jongdae terlalu polos, dengan berkata seperti itu, itu berarti Jongdae berharap Taeyeon segera menikah kembali. Namun Taeyeon sangat menghargai kebaikan Jongdae. Nyonya Kim yang memaksa Taeyeon menerima tawaran Jongdae, untuk menanggung biaya hidupnya karena Jongdae tidak mengijinkan Taeyeon bekerja diluar.

 

“Ibu bicara apa? Ah~ baiklah, maafkan aku,” ucap Jongdae seraya memeluk tubuh ibunya, kemudian mengecup kening ibunya. “Aku membawakan spicy chicken dan cheese roll kesukaan nuna,” lanjut Jongdae.

 

“Nuna-mu kemungkinan akan makan malam diluar bersama Cho Kyu Hyun,” ujar Nyonya Kim membuka bungkusan yang dibawa Jongdae.

 

“Kyuhyun hyung?”

 

Nyonya Kim mengangguk.

 

“Aigo! Kenapa oppa membeli banyak makanan enak ketika aku sedang berusaha untuk mengurangi berat badanku!” seru Seungwan seraya mengambil 1 potong spicy chicken dan memasukannya kedalam mulut. “Hmm~ ini benar-benar enak!!”

 

“Makanlah…” ujar Jongdae sembari berlalu meninggalkan Seungwan dan Nyonya Kim diruang makan.

 

Seungwan membuka pesan diponselnya. Saat ia membuka pesan itu… “Wooaaa Daebaaak!!” serunya.

 

“Ck, ada apa? Kau membuat bibi terkejut!” ujar nyonya Kim.

 

“Bibi, lihat ini!” Seungwan memperlihatkan layar ponselnya pada Nyonya Kim.

 

“5 juta won? Kau mendapat uang sebanyak itu dari mana?”

 

“Buku yang ku terbitkan mencapai target- ah tidak lebih tepatnya melebihi target. Aku tidak menyangka tulisanku akan disukai banyak orang. Pihak penerbit mentransfer honor dari penjualan buku ku, mereka mentransfer juga bonusnya.”

 

“Kau hebat… otakmu memang sangat cemerlang,” ucap nyonya Kim seraya mengusap kepala keponakan kesayangannya itu.

 

“Besok kita akan pergi berbelanja, aku akan mentraktir bibi,” ujar Seungwan bersemangat.

 

***

 

Taeyeon memperhatikan Kyuhyun yang sedang menyiapkan makan malam.

 

“Kau perlu bantuan?” tanya Taeyeon.

 

“Tidak, kau duduk saja. Makan malam yang ku buat, sangat sederhana jadi sebentar lagi akan selesai.”

 

“Oppa, setelah menyelesaikan studimu di Oxford apa kesibukanmu?”

 

“Aku mengelola beberapa cafe di Seoul. Mungkin sebentar lagi akan membuka cabang lain di Gangnam.”

 

“Jangan-jangan cafe tea itu milikmu?”

 

Kyuhyun mengangguk sembari tersenyum.

 

“Kenapa kau tidak bilang? Jadi kau yang memberi bonus cup cake matcha saat aku pertama kali datang ke cafe itu.”

 

“Em… tidak… aku tidak tahu dengan bonus cup cake matcha yang kau dapatkan dari cafe ku. Cafe ku setiap bulannya memang memberi bonus cup cake pada pelanggan yang beruntung,” tutur Kyuhyun berbohong.

 

“Ah iya… aku hampir lupa. Sebenarnya aku sudah lama ingin meminta kejelasan darimu. Kenapa sejak kau pergi ke London kau tidak pernah sekalipun memberi kabar padaku. Saat aku menikahpun kau tidak memberiku selamat, padahal ayah dan ibumu datang kepernikahanku, memangnya mereka tidak memberitahumu?”

 

Kyuhyun meletakan dua piring pasta diatas meja pantri.

 

“Makanlah…” ucap Kyuhyun sembari duduk dihadapan Taeyeon.

 

“Terima kasih…” Taeyeon menyendok pasta itu dan memasukannya kedalam mulut. “Hm… ini enak, sejak kapan kau pandai memasak?”

 

“Sejak aku tinggal sendirian di London. Mau tidak mau aku harus belajar memasak.”

 

“Soal pertanyaanku tadi, apa penjelasanmu…?”

 

Kyuhyun tak langsung menjawab, ia berpikir sejenak. “Apa aku harus mengatakan semuanya dengan jujur pada Taeyeon? Tapi mungkin ini akan terlalu cepat, jika Taeyeon mengetahuinya sekarang.” batin Kyuhyun.

 

“Oppa…”

 

“Hm?”

 

Taeyeon menatap Kyuhyun menanti kalimat yang akan keluar dari mulut pria tampan itu.

 

“Aku tidak yakin kau akan siap mendengar penjelasanku.” Alih-alih memberi penjelasan pada Taeyeon, Kyuhyun malah menggoda Taeyeon dan membuatnya semakin penasaran.

 

“Aish~ oppa!”

 

Kyuhyun menyimpan sendok dan garpu yang ia pegang diatas meja, ia memfokuskan dirinya pada Taeyeon. “Mungkin aku harus mengatakannya sekarang,” batin Kyuhyun.

 

“Oppa~!” desak Taeyeon.

 

“Tapi setelah aku menjelaskan semuanya padamu, kau jangan marah padaku. Kau berjanji?”

 

Taeyeon mengangguk mengiyakan.

 

Kyuhyun mengulurkan jari kelingkingnya kearah Taeyeon.

 

“Apa-apaan ini?” tanya Taeyeon sembari tertawa geli. Ia menyambar kelingking Kyunhyun, menautkan kelingkinya yang berukuran lebih mungil pada kelingking Kyuhyun. “Sangat kekanak-kanakan,” gumam Taeyeon dengan sisa-sisa tawanya.

 

“Sebelumnya aku minta maaf padamu. Karena menghilang begitu saja, tidak pernah sekalipun memberi kabar padamu. Semua pesan yang kau kirimkan padaku lewat email semuanya sudah ku terima, tapi aku menahan diri untuk tidak membalasnya.”

 

Taeyeon menatap Kyuhyun dengan tatapan penasaran yang semakin menjadi. Namun wanita itu tak mengeluarkan sepetah katapun dari mulutnya, ia memilih mendengarkan penjelasan Kyuhyun lebih lanjut.

 

“Kau tahu betapa aku merindukanmu selama aku berada di London. Aku seperti orang bodoh setiap saat memikirkan wanita yang sudah bersuami, memikirkan wanita yang sudah lebih dulu dilamar pria lain sebelum aku benar-benar melamarnya.”

 

“Maksudmu?”

 

“Kau ingat malam terakhir kita bertemu saat aku akan pergi ke London?”

 

Taeyeon mengangguk.

 

“Sebenarnya malam itu aku berniat melamarmu… tapi dengan bangganya kau mengatakan bawa Donghae baru saja melamarmu…”

 

“Ya Tuhan…” gumam Taeyeon, ia benar-benar tak menyangka jika Kyuhyun sudah sejak lama memendam perasaan cinta padanya.

 

“Jika saat itu aku yang lebih dulu melamarmu, apa kau akan menerimanya?” tanya Kyuhyun.

 

Taeyeon tak menjawab, ia hanya menatap Kyuhyun.

 

Kyuhyun tersenyum miris. “Tentu tidak, karena saat itu kau begitu mencintai Donghae, sekalipun aku melamarmu lebih dulu kau tetap akan menolakku, kan…”

 

“Oppa…”

 

Kyuhyun menggenggam tangan Taeyeon. “Tidak apa-apa, Taeyeon-ah… mungkin dulu aku masih terlalu naif.”

 

“Jadi itu alasanmu menghilang begitu saja tanpa pernah memberi kabar dan juga tidak memberiku ucapan selamat saat aku dan Donghae oppa menikah?”

 

Kyuhyun mengangguk. “Mungkin itu terdengar seperti aku adalah orang yang sangat egois, tapi-”

 

“Aku mengerti. Maaf…”

 

“Tidak perlu minta maaf, kau tidak melakukan kesalahan apapun. Mulai sekarang aku akan jujur. Sebenarnya jauh sebelum Donghae melamarmu, aku sudah memiliki perasaan yang lebih padamu dari hanya sekedar sahabat. Hanya saja… aku tidak ingin merusak persahabatan kita, kupikir dengan aku memendamnya sendiri hubungan persahabatan kita akan terus berjalan dengan baik… Aku terlalu takut jika kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku.”

 

Taeyeon menghela nafas berat. “Aku tidak tahu harus bicara apa…”

 

“Saat ini aku sedang menyatakan perasaanku padamu. Kau tidak harus menjawabnya sekarang. Kau boleh memikirkannya matang-matang. Yang perlu kau tahu, perasaanku padamu sejak dulu hingga detik ini tak pernah berubah sedikitpun.”

 

“Kyuhyun oppa… aku pernah menikah dan mempunyai seorang putera. Aku bukan gadis lagi, sekarang statusku adalah seorang janda.”

 

“Aku tidak akan mempermasalahkan statusmu saat ini. Dimataku, kau tetap Taeyeon yang ku kenal dulu,” ujar Kyuhyun sembari meremas tangan Taeyeon dengan lembut. Kyuhyun benar-benar berharap Taeyeon menerima cintanya. Kyuhyun hanya perlu sedikit bersabar sebelum ia benar-benar mendapatkan hati Taeyeon.

 

***

 

Didalam mobil Jongdae, tidak seperti biasanya. Taeyeon benar-benar membisu dan terlihat agak murung. Taeyeon memang pulang dijemput Jongdae, ia menolak tawaran Kyuhyun ketika Kyuhyun akan mengantarkannya pulang. Taeyeon butuh waktu menjernihkan pikiran dan hatinya tanpa melihat sosok Kyuhyun dihadapannya. Maka dari itu ia menolak diantar pulang oleh Kyuhyun dan malah menghubungi adiknya untuk menjemputnya pulang.

 

“Ada apa?” tanya Jongdae heran.

 

Taeyeon menggelengkan kepalanya.

 

“Terjadi masalah antara kau dan Kyuhyun hyung?”

 

Lagi-lagi Taeyeon menggelengkan kepalannya.

 

“Lalu kenapa? Melihat raut wajahmu tidak mungkin jika tidak terjadi apa-apa antara kau dan Kyuhyun hyung… aku bukan anak kecil lagi yang tidak mengerti apa-apa, aku sudah dewasa sekarang, katakanlah…” bujuk Jongdae.

 

“Kyuhyun oppa, menyatakan perasaannya padaku…” ucap Taeyeon. Ia menceritakan semua yang Kyuhyun ungkapkan pada Jongdae, dan Jongdae pun mendengarkannya dengan seksama seolah tak ingin melewatkan satu patah katapun dari mulut kakaknya.

 

Ketika Taeyeon selesai menceritakan semuanya pada Jongdae, Jongdae melirik kakaknya sejenak lalu tersenyum hangat.

 

“Lalu apa masalahnya?” tanya Jongdae.

 

Taeyeon tak menjawab. Memang tidak ada yang salah dari semua yang Kyuhyun ungkapkan pada Taeyeon.

 

“Kurasa Kyuhyun hyung tidak ingin mengulang kesalahannya, maka dari itu dia segera mengungkapkan perasaannya padamu. Tidak mudah memendam rasa cinta pada seseorang selama bertahun-tahun. Kyuhyun hyung sangat tulus mencintaimu sampai mampu bertahan menunggumu selama bertahun-tahun, meski mungkin awalnya mustahil baginya karena kau sempat menikah dengan Donghae hyung. Lalu apa lagi yang kau ragukan?”

 

Taeyeon masih membisu. Jongdae sangat mengerti perasaan kakaknya saat ini.

 

“Tanya pada hatimu. Apa nuna memiliki perasaan yang sama dengan Kyuhyun hyung. Jika nuna masih ragu, nuna pikirkan matang-matang, bukankah Kyuhyun hyung memberi nuna kesempatan untuk memikirkannya? Tidak ada yang perlu nuna khawatirkan…” ujar Jongdae seraya tersenyum hangat. Ia berbicara seolah sedang menasehati adiknya.

 

***

 

“Apa mungkin aku terlalu cepat?” gumam Kyuhyun khawatir.

 

“Tidak, hyung. Kau melakukan dengan baik. Itu tidak terlalu cepat, apa yang kau ungkapkan padanya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penantianmu selama ini. Aku yakin dia akan mengerti,” ujar Junmyeon seraya menepuk punggung Kyuhyun.

 

***

 

“Sudah dua tahun Donghae meninggal, sudah waktunya kau mencari pendamping hidup. Bukan berarti ibu menyuruhmu untuk melupakan mendiang suamimu. Tapi, kau ini masih cukup muda, Keluarga Donghae akan mengerti jika kau ingin menikah lagi. Meski Donghae sudah meninggal, kita yang masih hidup masih harus terus berjalan kedepan,” ujar Nyonya Kim saat menyiapkan makan malam dibantu Taeyeon dan Seungwan. “Donghae mungkin juga akan merasa senang jika kau bisa hidup bersama orang yang tepat, yang bisa menggantikan perannya sebagai suami yang baik untukmu.”

 

Taeyeon hanya mendengarkan perkataan ibunya tanpa meresponnya.

 

“Kim Tae Yeon, kau dengar ibu tidak?”

 

“Iya bu, aku mendengar semua perkataan ibu.”

 

“Bagaimana dengan Kyuhyun?”

 

“Kenapa ibu tiba-tiba menanyakan Kyuhyun?”

 

“Bukankah akhir-akhir ini kau berhubungan lagi dengannya.”

 

Jongdae datang keruang makan. Taeyeon segera mendekati Jongdae.

 

“Kau bilang pada ibu soal kemarin malam?” bisik Taeyeon.

 

“Soal kemarin?”

 

“Soal Kyuhyun oppa..”

 

“Ah~ tidak, aku tidak mengatakan apapun pada ibu. Memangnya kenapa?”

 

“Ayo cepat makan, Jongdae-ah panggil ayahmu,” ujar Nyonya Kim.

 

“Baik, bu.”

 

*** to be continue ***

 

Author Note :

Sebelumnya aku mau minta maaf sama readers yang mungkin nunggu-nunggu kelanjutan FF “My Immortal”. Aku malah muncul mem-publish FF dengan judul baru bukannya ngelanjutin “My Immortal”. Mohon maaf sekali… sepertinya FF “My Immortal” tidak bisa aku lanjutkan, karena FF itu akan aku kirimkan ke penerbit. Mohon maaf sekali lagi, dan mohon doa restunya agar FF aku bisa di terima penerbit dan diterbitkan. Terima kasih…

 

Advertisements

27 comments on “[FREELANCE] The One and Only (Chapter 1)

  1. Keren ceritanya.. tpi kalo boleh saran buat flashback kalo bisa dikasih # atau hurufnya dibedain biar ga binggung..
    Ditunggu kelanjutannya.. 😉

  2. Taetae hrs ngebuka hatinya buat kyupil, toh udh 2 thn taetae ditinggal mati ama suami n anaknya…

  3. kalo menurut gue ya thor donghae sama anaknya masih hidup disuatu tempat, terus kalo taeng udh sama kyu nah itu si donghae sama anaknya muncul,,itu perkiraan gue sih wkwkk lanjut thorr

  4. asik kyutae lagi hahaha suka suka. kasian taeyeon ditinggal meninggal sama suami dan anaknya. edan kyuhyun kuat gitu setia sampe gak pernah pacaran sama sekali. daebak!!!!
    next chap ditunggu 🙂

  5. aku salah fokus ke Junmyeon haha
    he’s my bias 😁
    tp nampaknya ceritanya bakal seru!!
    semangat terus yaa thor!! ^^

  6. Kyaaa!!! Bagus banget ceritanya. Lanjutnya jangan lama-lama ya hehe maksa nih wkwk. Aduhh buat Wendy punya pasangan dong, jadi nantinya bisa double date deh sama taeng-kyuhyun hehe. Yang penting dilanjut deh ffnya ya!! Fighting~

  7. Yaampun itu si Kyuhyun setia banget ya… Taeyeon kasian ya.. Tpi lebih kasian Kyuhyun… Sebenernya aku penasaran sama perasaan Taeyeon ke Kyuhyun waktu mereka masih muda.. Ditunggu deh kelanjutannya.. Semangat!!!

  8. hwaaa.. my immortal gk lanjut lagi?? huhu.. padahal itu ff yg ditunggu” .. tp smoga lncar ya thorr.. fighting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s