Skellington [Part 24]

SKELLINGTON Part 24 by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar with EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04 | Part 05 | Part 06 | Part 07 | Part 08 | Part 09 | Part 10 | Part 11 | Part 12 | Part 13 | Part 14 | Part 15 | Part 16 | Part 17 | Part 18 | Part 19 | Part 20 | Part 21 | Part 22 | Part 23

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik aku melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing.

.

.

.

.

.

1 hari tersisa sampai kontrak Skellingtonku berakhir.

Aku menatap lurus apartment Kai dari arah toko kue fleur de lies. Dua hari lagi aku tidak akan bisa pergi ke sana dengan leluasa. Karena besok Kai akan berangkat ke Busan untuk menemani ibu kandungnya selama perawatan kankernya. Memikirkan itu saja membuat hatiku sangat sakit.

Aku telah merelakannya. Sungguh. Kai tidak mengizinkanku untuk ikut bersamanya. Kai bahkan tidak mengizinkanku bertemu dengannya sampai kami bertemu lagi entah kapan. Tapi aku berhasil mendapat izin khusus untuk mengantar kepergiannya dari stasiun. Kami juga membuat kesepakatan lain seperti dilarang menelpon atau mengirim e-mail jika tidak ada yang penting.

Wheein menyebutnya sebagai proses penyembuhan diri. Baik aku dan Kai akan terluka setelah ini. Kai akan melihat secara langsung kematian ibu kandungnya. Begitu juga dengan aku yang pada akhirnya akan mengakhiri hidup Baekhyun dengan tanganku.

Bicara soal Baekhyun, dia adalah alasan mengapa aku datang pagi-pagi sekali ke toko kue yang pernah kudatangi bersamanya. Aku berdiri dengan memakai dress berwarna putih yang ditutupi green knit. Kakiku tertutup manis dengan black suede wedges dan kaos kaki berwarna krem. Aku juga tidak lupa menutupi leherku dengan lacey scarf karena udara sangat dingin.

Saat seorang perempuan berdandan manis dan menunggu dengan harap-harap cemas, hanya satu kalimat yang bisa mendeskripsikannya. Yup, apalagi kalau bukan sedang menunggu pasangan kencannya.

Jadi semuanya dimulai kemarin malam setelah aku, Baekhyun, dan Wheein pulang dari Rumah Sakit. Pertama-tama kami mengantar Wheein kembali ke apartmentnya, menyebabkan aku dan Baekhyun berduaan saja di jalanan Kota Seoul.

.

.

.

.

.

                “Terima kasih sudah mengantarku pulang, Taeyeon,” ujar Baekhyun begitu kami tiba di depan gedung Skellington. Di dekat pintu masuk, Jessica sudah menunggu dengan tatapan lega karena akhirnya Baekhyun kembali. Baekhyun yang sadar aku melihat Jessica bertanya, “Kau mau berbicara sesuatu dengan Jessica?”

Karena terkejut Baekhyun begitu memperhatikanku, aku menggeleng cepat dengan pipi bersemu. “Dia mengurusmu dengan baik, ya?”

Baekhyun mengangguk kemudian menggeleng cepat. Aku mengerutkan keningku seakan bertanya mengapa, lalu Baekhyun berkata, “Tidak sebaik kau.”

Entah mengapa aku tidak tahan dengan mulut manisnya jadi akhirnya aku tertawa lepas. Tiba-tiba Baekhyun menyentuh pipiku dengan tangan kanannya. Aku tidak percaya ini terjadi padaku. Aku mendongakkan kepala untuk menatap Baekhyun kemudian mata kami bertemu. “Um… Baekhyun?”

“Ah, maafkan aku,” ujarnya cepat lalu menjauhkan tangannya dari wajahku. “Hanya saja, kau cantik sekali. Aku jadi ingin menyentuhmu. Maaf, kau pasti merasa tidak nyaman.”

Aku menatapnya dengan pandangan kosong. Pikiranku terbawa pergi oleh angin, aku tidak bisa berkata apa-apa. Tiba-tiba ingatanku tentang Kai yang berkata bahwa aku telah jatuh cinta dengan Baekhyun, kembali diputar oleh otakku. Jika memang benar, apa yang harus kulakukan?

“Aku tidak tahu perasaan apa ini, tapi…” lanjut Baekhyun dengan wajah memerah. “Tapi aku ingin terus bersamamu. Karena aku tahu, kita sebentar lagi…”

Aku mengangguk cepat. Kelanjutannya hanya satu. Karena kami sebentar lagi akan berpisah. Kontrak Skellingtonku berakhir bersamaan dengan saat aku mencabut nyawa Baekhyun dengan tanganku. Aku lah orang yang dipilih Baekhyun untuk memisahkan jiwanya dari tubuh buatan bernama Skellington itu.

Tiba-tiba aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku pernah menyukai Baekhyun sebelumnya, tepatnya saat usiaku sekitar 9 atau 10 tahun. Jelas tampak bahwa Baekhyun memiliki perasaan yang sama terhadapku tapi dia tidak pernah mengatakan bahwa dia mencintaiku. Atau menyukaiku.

“Baekhyun,” panggilku lembut. Dia langsung menoleh dan mengangkat sebelah alisnya. “Apa besok… Kau mau pergi kencan bersamaku?”

Baekhyun menatapku dengan mata terbelalak. “Apa… Yang barusan kau katakan?”

“Apa besok… Kau mau pergi kencan bersamaku?” tanyaku lagi. “Mungkin kau bisa tahu perasaan apa yang sekarang sedang menyelimuti hatimu?”

Sudah lama aku tidak merasakan perasaan ini. Ya, perasaan untuk takut ditolak. Sama seperti saat aku menyatakan perasaan pada Kai. Perasaan ini terus menghantuiku tiap detik hingga aku menerima jawaban. Jawaban berupa ya atau tidak.

“Baiklah,” jawab Baekhyun pelan. Kepalanya menunduk ke bawah kemudian dia melanjutkan, “Jam berapa kau akan menjemputku?”

Seketika seluruh saraf di tubuhku tersambung dan menandakan sebuah sinyal yang bernama senang. Aku langsung tersenyum lebar dan berkata, “Aku tidak akan menjemputmu. Kita janjian di suatu tempat saja. Begini, aku akan menunggumu jam 7 pagi di depan toko kue fleur de lies. Kau masih ingat di mana tempatnya, bukan?”

Baekhyun mengangguk cepat. Setelah itu kami berbincang-bincang tentang tujuan kencan kami dan kami sepakat untuk pergi ke taman bermain. Taman bermain yang sama saat darmawisata SD. Akhirnya Baekhyun kembali setelah Jessica menghampiri kami. Tapi sebelum masuk ke dalam gedung, Baekhyun berbisik di telingaku dan berkata, “Aku tidak sabar menunggu hari esok.”

.

.

.

.

.

            “Taeyeon!”

Aku tersentak ke belakang begitu mendapati Baekhyun yang sudah berdiri di depanku. Sejak kapan aku melamun? Gara-gara melamun, aku jadi tidak siap akan kehadiran Baekhyun. “Ak… Akhirnya kau datang juga,” ujarku gugup.

“Ah, lama ya? Aku pergi dulu bersama Wheein untuk membeli baju yang sekarang sedang kupakai. Bagaimana? Bagus tidak?” tanyanya dengan senyum lebar. Pikiranku benar-benar kosong dan aku hanya bisa mendeskripsikannya dengan satu kata. Sempurna. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, dia sangat tampan.

“Tidak buruk juga,” jawabku lalu Baekhyun mengangguk. “Ayo cepat, kita ke stasiun. Kita akan ke Gyunggi-do, bukan?”

Tiba-tiba Baekhyun mendaratkan tangannya di tangan kananku. Aku melongo menatapnya tapi Baekhyun hanya tersenyum. Dia memperat genggamannya saat aku mulai berjalan dan dia berjalan di sebelahku. Gawat, aku tidak bisa menahan perasaan ini. Jarak kami terlalu dekat. Sedangkan perjalanan menuju stasiun masih sangat lama.

“Taeyeon, apa kau sakit?” tanya Baekhyun pelan lalu aku menggeleng cepat. Mengapa dia selalu memperhatikanku dengan cara yang salah? “Kalau sakit, cepat bilang. Aku benar-benar khawatir.”

Aku tidak berbicara dengannya hingga kami tiba di stasiun kereta. Di stasiun pun Baekhyun memperlakukanku sebagai tuan putri. Dia terus berkata untuk hati-hati saat melangkah di tangga, atau bertanya apakah aku haus karena dia akan membelikanku minuman. Tapi hal yang paring sering dia tanyakan adalah apakah aku sakit.

Puncaknya saat kami masuk ke dalam kereta. Kami menaiki kereta yang dipenuhi pegawai kantoran yang hendak pergi bekerja. Karena tempat duduk yang tersisa sudah tidak banyak, Baekhyun membiarkankn duduk di kursi penumpang, sedangkan dia berdiri sambil melindungiku.

“Taeyeon, apa kau kurang tidur?” tanyanya membuatku semakin heran. Dengan polosnya dia melanjutkan, “Kalau kau ngantuk, tidur saja. Akan kubangunkan saat kita sudah tiba di Gyunggi-do.”

Mana mungkin aku bisa tidur saat kau terus-terusan mengawasiku, dasar Byun Baekhyun. Lagipula apa-apaan sikapnya ini? Saat dia bersama orang selain aku, dia bersikap sangat wajar. Dia melontarkan lelucon dengan mudahnya dan menggoda orang-orang dengan santai.

Aku berdiri dari tempat dudukku kemudian berdiri di sebelahnya. Baekhyun menatapku dengan tatapan bingung. Aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku juga ingin diperlakukan seperti itu. Mengapa hanya aku yang berbeda? “Apa yang kau takutkan dariku?” tanyaku pelan.

“Hah?” gumam Baekhyun lalu aku mengangguk. “Ti… Tidak ada, kok—“

“Kalau begitu!” seruku membuat Baekhyun kaget. “Jangan memperlakukanku seperti nona manis dong, dasar bodoh! Aku tidak suka, tahu!”

Baekhyun menggeleng cepat. “Aku tidak bisa. Bukankah sudah kubilang kemarin bahwa aku sangat menantikan hari ini? Karena hanya di hari ini saja aku bisa menjadi pangeranmu, Taeyeon.”

“APA!?” seruku lalu semua penumpang yang ada di dekat kami memusatkan perhatian mereka padaku. Aku benar-benar malu. Tapi Baekhyun malah tertawa kecil seakan tahu bahwa ini merupakan hal yang benar-benar memalukan jadi aku memukul bahunya dengan tanganku. “Pokoknya, aku tidak suka! Jadilah Baekhyun yang seperti biasa di depanku!”

Akhirnya Baekhyun terus menggodaku sepanjang perlajanan menuju Gyunggi-do. Mulai dari rasa lipgloss yang aku pakai, warna kaos kakiku, hingga rambutku yang aku tata dengan susah payah tadi pagi. Sebenarnya dia benar-benar menyebalkan tapi aku menyukai sikapnya yang seperti ini. Daripada aku harus dibuat jantungan setiap detik olehnya.

Satu jam kemudian, kereta berhenti di stasiun Gyunggi-do. Kami keluar dari kereta sambil bergandengan tangan. Berbeda dengan sebelumnya, Baekhyun tidak memperingatkanku tentang permukaan lantai yang lebih tinggi jadi aku tersandung setelah aku baru saja melangkahkan kaki di luar kereta.

“Dasar!” gumamku lalu Baekhyun tertawa kecil. Dia seperti anak kecil yang pikirannya cepat sekali berubah. Tapi mungkin justru itulah bagian terbaik yang ada pada dirinya.

Begitu kami masuk ke dalam taman bermain, telinga kami disambut oleh teriakan para anak muda yang sedang menaiki wahana ekstrim. Mendengar itu, Baekhyun dan aku sama-sama tertawa. “Nah, Taeyeon. Kau mau naik wahana seperti mereka?” tanya Baekhyun sambil tersenyum lalu aku mengangguk. “Baiklah, ikut aku!”

Lalu selanjutnya kami mulai mencoba satu per satu wahana ekstrim yang ada di taman bermain yang pernah kami kunjungi saat darmawisata kelas 5 SD. Saat itu kalau tidak salah kami beda kelas tapi Baekhyun mengajakku untuk memisahkan diri dari rombongan kami. Semua itu gara-gara Chanyeol yang berteriak bahwa aku ingin berkeliling dengan Baekhyun, menyebabkan teman-teman mulai menggodaku.

Sudah 14 tahun berlalu sejak kejadian itu. Baekhyun membawaku berlari dan mencari tempat yang sepi agar tidak bisa ditemukan teman-teman yang lain. Kami berhenti di depan Bioskop 3D dan sambil menunggu bioskopnya buka, kami duduk di bench  yang tepat berada di seberangnya. Tanpa sadar sekarang aku berada di depan bench penuh kenangan itu.

“Apa kau ingat?” tanya Baekhyun lalu dengan cepat dia duduk di bench yang tua itu.

Aku mengangguk karena aku mengerti maksudnya. Di bench ini Baekhyun menceritakan padaku tentang kumpulan petunjuk yang dia dapat dengan memecahkan surat yang diterima appanya dari seorang penggemar. Mata Baekhyun berkilau-kilau saat menjelaskannya padaku.

“Saat itu aku sungguh-sungguh berpikir bahwa aku bisa melindungimu. Sungguh. Aku tidak ragu sedikit pun,” ungkap Baekhyun. Aku ingin berkata padanya untuk tidak membahas soal malam pembunuhan itu. Kaki palsuku saja menjadi sangat sakit begitu aku mendengarnya. “Tapi—“

“Cukup,” aku duduk di sebelahnya. “Aku tidak ingin mengingat-ingat hal itu lagi.”

Baekhyun menundukkan kepalanya. “Mianhae, aku hanya terbawa kenangan.” Ucapnya membuatku terpaksa menahan tawa. Baru kali ini aku mendengar ada yang berkata terbawa kenangan. Biasanya terbawa suasana. Baekhyun memang unik. “Baiklah, ayo kita cari wahana ekstrim lainnya. Kau ingin naik apa, Taeyeon?”

Baekhyun menghitung dengan jarinya sudah berapa wahana yang kami naiki. Karena di pintu masuk tertulis bahwa ada sebanyak 10 wahana ekstrim. Kami baru menaiki sekitar 3 sampai 4 wahana. Tapi entah mengapa minatku untuk menaiki wahana turun. “Ada yang ingin kulakukan saat ini juga,” ucapku tanpa sadar.

“Apa?” tanya Baekhyun lalu aku tersenyum. Dia benar-benar lupa, rupanya. Dia lupa bahwa di bench ini juga pertama kali aku memeluknya. Jadi tanpa isyarat dan peringatan apapun, aku lansung menarik tubuh Baekhyun dan mendaratkannya ke pelukanku. Aku lupa betapa hangatnya Baekhyun sampai dia balas memelukku.

Mungkin Kai memang benar. Alasanku akhir-akhir ini sering memperhatikan dan mengkhawatirkan Baekhyun adalah karena aku jatuh cinta lagi padanya. Aku pernah membaca di sebuah buku bahwa cinta adalah saat kau mulai peduli terhadap seseorang dibandingkan dengan kondisi diri sendiri.

“Apa maksud semua ini, Taeyeon?” tanya Baekhyun setelah aku melepaskan pelukanku. “Aku tidak ingin mengatakan hal ini, tapi aku merasa bahwa kau mengajakku kencan hanya karena besok adalah hari terakhirku hidup di dunia ini.”

Aku menatanya dengan pandangan tidak percaya. “Apa?”

“Aku belum memberitahumu, ya? Besok pagi-pagi sekali, di gedung Skellington, kau harus menekan tombol yang ada di punggungku,” ungkap Baekhyun dengan padangan mata sayu. “Kau mengajakku kencan karena kau kasihan padaku?”

Aku menggeleng cepat. “Tidak, tentu saja tidak.”

“Lalu apa alasanmu?” tanya Baekhyun dan kali ini pandangannya berubah drastis. “Kau pasti punya alasan tertentu, bukan?”

Seluruh tubuhku berubah menjadi kaku. Tidak mungkin aku akan bilang padanya bahwa karena Kai berkata aku jatuh cinta dengannya, aku mengajaknya kencan. Atau karena Kai sebentar lagi pergi dan dia satu-satunya hal yang bisa aku jangkau dan lindungi. Aku tidak mungkin bilang seperti itu padanya.

“Apa, Taeyeon?” tanyanya membuatku pasrah.

Mungkin aku harus mengatakan yang sebenarnya. Bukan apa yang sebenarnya terjadi di antara aku dan Kai, tapi aku harus mengatakan perasaanku yang sebenarnya terhadapnya. Akhirnya setelah mengumpulkan semua keberanianku, aku berkata, “Aku… Menyukaimu.”

“A… Apa?”

Aku mengangguk cepat. “Aku menyukaimu. Lagi. Aku telah mengkhianati Kai. Aku menyukaimu, Baekhyun. Dan aku benar-benar menyesal begitu menyadari hal ini. Aku—“

“Kau berbohong, Taeyeon.” Sahut Baekhyun. “Kau tidak mungkin bisa melupakan Kai begitu saja.”

Baekhyun memang benar. Aku masih tidak bisa melupakan Kai. Bahkan pagi ini saat aku menunggu Baekhyun di tempat kami janjian, aku masih saja memikirkan Kai. Pandanganku tidak lepas dari apartment Kai. Tapi perasaan ini juga tidak salah. Aku menyukai Baekhyun.

“Kau ingin bukti, Baekhyun?” tanyaku tapi Baekhyun tidak menjawab. Dia seperti menungguku mengatakan sesuatu. Tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang dia tunggu. Perasaan cinta ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. Jadi aku menarik tangannya, menjauh dari bench, menuju tempat yang benar-benar rahasia.

.

.

.

.

.

            Sambil menarik nafas panjang, aku menatap pintu kamar yang sudah aku sewa untuk malam ini. Sejenak aku lupa bahwa aku telah membawa Baekhyun ke hotel terdekat. Aku membuka pintu perlahan dan aroma ruangan yang benar-benar bersih dan rapi menyambut hidungku.

Aku masuk lebih dulu daripada Baekhyun semetara Baekhyun hanya diam dengan pipinya yang merona. Aku membalikkan badanku tapi kemudian, Baekhyun berdiri di hadapanku.

“Jadi kau ingin melakukan ini?” tanyanya menimbulkan rasa takut dalam hatiku.

Tapi, aku tidak takut pada Baekhyun. Aku melirik ke belakang. Mungkin ada sesuatu di belakangku yang harus kuwaspadai. Di belakangku hanya ada ranjang segiempat biasa. Baekhyun melangkah mendekatiku perlahan. Aku menatapnya. Badanku tak bisa bergerak. Dia tersenyum menatapku. Senyum yang manis. Senyum yang terasa begitu akrab.

Baekhyun menciumku dan aku membalas. Kupikir aku tak mungkin lupa bahwa aku lah yang mengajaknya ke tempat ini. Awalnya aku ingin menghabiskan waktu satu malam bersama Baekhyun dengan berbincang seperti biasa. Aku salah. Baekhyun membuat semuanya tidak beraturan.

Tangannya terulur dan melepaskan green knit yang kupakai. Oh. Cuma itu yang bisa kupikirkan, saat dia menciumku lagi. Oh. Aku takut bersamanya. Seumur hidupku aku selalu berhati-hati dengan segala bentuk kasih sayang, tapi aku tak menyadari seberapa dalam perasaan takutku itu. Meski aku sudah melakukan ini berkali-kali.

Tapi rintangan yang satu ini terasa berbeda dengan yang sebelumnya. Ini ketakutan yang berbeda –panik membuatmu gugup bukan sekedar teror biasa. Baekhyun menurunkan tangannya dan merangkul pinggangku. Aku merinding.

Perlahan tapi pasti kudorong dia dan kuletakkan tangan di dahiku. Aku tidak sedang demam atau sakit tapi rasanya aku pusing sekali. Ketakutanku meningkat saat Baekhyun mencium leherku lembut.

“Kau baik-baik saja?” ujarnya sambil menyentuh pipiku. Tangannya membelai sisi kepalaku. Jemarinya yang panjang menyusuri helai-helai rambutku. Baekhyun tersenyum lagi saat memegang kepalaku dan menciumku. Perlahan tubuhku terasa hangat. Dan, ketakutan itu bergetar seperti alarm di dadaku.

Bibirnya masih memagut dan dia melepas beberapa kancing dressku. Aku mengernyit saat dia membuatku berdiri tegak, berhadapan dengannya sekali lagi dan mendorongnya menjauh. Mataku terasa panas. Aku tak tahu kenapa aku merasakan hal ini. Aku tak merasakannya saat dia menciumku. Aku menutupi wajah dengan tangan, menutupi kedua mataku.

“Kenapa? Ada yang salah?”

Aku menggeleng.

“Jangan bilang tidak apa-apa.” Suaranya berubah dingin. Baekhyun meraih lenganku. “Hei, lihat aku.” Aku menurunkan tangan dari wajah dan mendongak menatapnya. Rasa sakit di matanya dan kemarahan yang terkumpul di rahangnya yang mengatup kencang membuatku terkejut.

“Sama seperti pertanyaanmu tadi,” ujarku setenang mungkin, “apa artinya ini semua. Apa pun yang telah kau lakukan padaku, Baekhyun.”

“Apa artinya untukku,” ulang Baekhyun. Dia mundur sambil menggeleng. “Kau ini bodoh, Taeyeon. Tentang seks ini? Kau tahu, kalau hanya ini yang kucari darimu, kau mungkin bukan orang pertama yang kucari.”

Rasanya seperti dia baru memukul perutku. Tentu saja aku bukan orang pertama yang dia cari –mengingat sikapku selama ini padanya, jelas aku tidak pantas untuk menjadi yang paling didambakan. Aku memegangi perut dan menatap di kejauhan. Aku bukan tipe cengeng. Aku juga bukan tipe histeris. Aku mengedipkan mata beberapa kali, menurunkan tangan, dan menatapnya. “Aku mau pergi,” ujarku pelan dan berbalik ke arah pintu.

“Jangan, Taeyeon.” Baekhyun memegangi tanganku dan menarikku kembali. Aku mendorongnya menjauh, mendorongnya keras, tapi Baekhyun menarik tanganku yang lainnnya. Tangan kami saling bertautan.

“Maaf tadi aku berkata seperti itu,” ujarnya. “Maksudku kau bukan seperti itu. Dan, aku tahu itu saat pertama kali melihatmu. Aku tidak tahu apa yang kau khayalkan, tapi ini juga hal baru untukku.”

“Khayalan?” ulangku. “Maksudmu, kau belum pernah—“ Baekhyun menciumku di antara kedua alis, kemudian di ujung hidungku. Seperti ada aliran listrik, bukan darah, menjalari pembuluh darahku. Aku ingin dia menciumku, tapi aku takut ke mana arah hubungan ini.

“Ini membuatmu takut, Taeyeon?” tanya Baekhyun lalu memandangku dalam-dalam. “Kupikir kita sudah membuat kesalahan dengan melakukan hal seperti ini. Ada cara lain untuk mengungkapkan rasa cinta, kau tahu?”

Aku memandangnya remeh. “Apa yang kau tahu? Kau bahkan tidak pernah berkata bahwa kau menyukaiku. Kau selalu membuatku bahagia tapi bagaimana pun juga aku ingin mendengar kau mengatakan—“

“Aku mencintaimu. Nah, sudah kukatakan.” Sahut Baekhyun. “Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu hingga sekarang. Perasaan ini tak pernah berubah. Meski aku dikelilingi banyak perempuan, meski saat aku bersama pacarku, aku menyukaimu. Perasaan ini untukmu. Seluruh hatiku milikmu.”

Bisa dibilang Baekhyun sangat jenius. Dia tahu kapan harus berkata manis dan meluluhkan perempuan di saat yang sama. Lalu seketika aku sadar apa yang harus kukatakan padanya. Kalimat yang mengungkapkan rasa cintaku padanya dan kalimat yang sedari tadi sudah ditunggu olehnya.

“Aku memaafkanmu. Atas segala perbuatanmu di masa lalu,” ujarku pelan. Iya. Ini pasti yang ditunggu oleh Baekhyun. Dia menungguku berkata seperti ini sejak dia membuka matanya sebulan yang lalu hingga sekarang.

Mata hitamnya menatapku sejenak. Baekhyun terdiam. Kemudian, dia menyentuh wajahku dan membungkuk. Mengecupku. “Bisa kau katakan sekali lagi?”

Aku mengangguk dengan susah payah. “Aku memaafkanmu.” Aku yakin akan diriku sendiri. Lalu Baekhyun menyentuh wajahku lagi. Tangannya begitu kokoh membelai kulitku. Dan, Baekhyun menciumku lagi. Aku merangkulnya. Tanganku menggantung di belakang leher dan rambut pendeknya.

Kami berciuman beberapa menit. Dan saat kami berdiri, saling berpegangan tangan, aku baru sadar. Cinta pertamaku adalah Baekhyun. Begitu juga dengan Baekhyun, cinta pertamanya adalah aku. Melakukan hal seperti ini dengan cinta pertama memang sedikit berbeda. Karena ada satu kenyataan besar di mana yang pertama tidak selalu bisa menjadi yang terakhir.

“Besok pagi,” ujar Baekhyun lembut. “Apa kau siap?”

Aku mengangguk. Kami berciuman lagi, dan kali ini, ciumannya terasa akrab. Aku tahu pasti bagaimana kami saling mengisi satu sama lain. Kami berdua akan sama-sama menyimpan kenangan ini. Selamanya.

.

.

.

.

.

Hari ini kontrak Skellingtonku berakhir.

Aku menatap wajah Baekhyun saat kami berjalan beriringan menuju gedung Skellington dari arah stasiun. Aku mencari adakah tanda-tanda kekecewaan. Kami menghabiskan malam bersama, ngobrol, berpelukan, dan akhirnya malah tertidur pulas sampai ponselku berbunyi karena Jessica menelponku untuk bertanya di mana Baekhyun berada.

Kalaupun ada sesuatu yang berbeda, Baekhyun yang sekarang kelihatan lebih tanpa beban daripada sebelumnya. Dan, senyumannya menjadi jauh lebih menyilaukan sekarang. Saat kami tiba di pintu masuk, kami berpisah. Baekhyun pergi bersama Jessica dan Dokter Yonghwa untuk melakukan persiapan terakhir sebelum tubuhnya dihancurkan.

Aku menemukan sosok Wheein dan Gongchan yang sedang berdiri dan mengobrol jadi aku mendekati mereka. Mereka menyambutku dengan senyuman. Untuk pertama kalinya aku berpikir bahwa mereka adalah pasangan yang serasi. Tanpa berpikir panjang aku langsung memeluk Wheein.

“Whoa, Taeyeon.” Ujar Wheein pelan. “Aku bukan Jongin-mu.”

Aku tertawa kecil. “Tidak kusangka Gongchan juga akan datang. Lama tidak bertemu,” sahutku lalu Gongchan tersenyum. “Apa kalian datang karena diminta oleh Jessica?”

Wheein mengangguk. “Ini tentang kau, Taeyeon. Kami sudah tahu bahwa kau yang akan menekan tombol di punggung Baekhyun. Masalahnya begitu kau menekannya, Baekhyun akan segera meledak beberapa detik kemudian. Jadi Gongchan ada di sini untuk menarikmu begitu kau menekannya.”

“Apa?” tanyaku tidak percaya. “Kenapa tidak Kai saja—“

Aku menutup mulutku bersamaan dengan anggukan kepala Wheein. Aku dan Kai sudah berjanji untuk tidak bertemu lagi. “Kai akan berangkat sore ini, bukan? Setelah ini kami akan langsung menemanimu ke stasiun. Taemin, Bora, dan Seungyeon juga akan menemani kepergian Kai,” jelas Gongchan lalu aku mengangguk.

Aku hampir lupa bahwa hari ini Kai akan berangkat ke Busan. Aku terlalu fokus untuk menghabiskan waktu bersama Baekhyun sampai-sampai aku hampir tak pernah memikirkannya hari ini. Aku mungkin masih punya Solar tapi Kai yang akan pergi ke Busan tidak punya seorang pun yang bisa diajak berbagi.

Lalu soal Gongchan yang nantinya akan menarikku. Jelas dia tidak akan secepat Kai yang sudah terlatih sebagai stuntman handal tapi daripada tidak ada yang menarikku sama sekali, aku berterima kasih pada Gongchan.

“Taeyeon,” ujar Jessica yang ada di belakangku. Aku cukup terkejut akan kehadirannya. “Sudah waktunya. Kalian semua ikuti aku.”

Tempat Baekhyun akan dimusnahkan olehku dilaksanakan di lantai teratas di gedung Skellington, lantai 12. Dalam perjalanan naik ke atas, Jessica berterima kasih padaku atas segala usaha yang telah kulakukan untuk menjadi sukarelawan yang mendampingi Baekhyun. Dia mengungkapkan bahwa Baekhyun adalah Skellington pertama yang gagal. “Kau ingat setelah kau lolos tahap seleksi aku berkata padamu bahwa mungkin kau bisa merubah arah penelitian ini? Ternyata aku tidak salah, bukan? Kau memberikan data yang berharga bagi kami.”

Aku sedikit kesal dengannya tapi tidak ada yang bisa aku lakukan. Seharusnya aku sadar bahwa sejak pertama kali aku memasuki gedung ini, aku telah dimanfaatkan oleh sekumpulan orang yang memakai jas laboratorium dan seenaknya mempermainkan nyawa. Aku tidak bisa membayangkan betapa sedihnya keluarga dari manusia yang sudah dihidupkan kembali itu.

Sampai aku melihat orang tua Baekhyun yang berdiri menunggu di depan ruang eksekusi Baekhyun. Appanya menatapku dengan rasa penuh hormat, eommanya memelukku erat dan membisikiku, “Terima kasih.” Mereka berdua tampak rela dengan kepergian anaknya.

“Masuklah,” ucap Jessica lalu membuka pintu ruangan yang dilapisi tembok baja. Di dalamnya, Baekhyun yang tidak mengenakan baju untuk menutupi tubuh bagian atasnya duduk di sebuah kursi tanpa sandaran dengan tangan dan kaki diikat. “Begitu kau menekan tombol itu, lari secepat mungkin mendekati pintu. Gongchan akan menarikmu.”

Aku melangkah pelan menuju Baekhyun yang tersenyum menatapku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati pintu yang terbuka lebar sebagai jalanku untuk keluar. Aku mengelilingi Baekhyun satu kali dan ketakutan saat melihat tombol yang ada di punggungnya. Jauh berbeda dengan saat terakhir aku melihatnya. Tombol itu terlihat menakutkan.

“Hei, Taeyeon,” ujar Baekhyun lembut. Tanpa pikir panjang, aku langsung melepas tali-tali yang mengikat tangan dan kaki Baekhyun. Aku bisa mendengar teriakan Jessica dari belakang yang menyuruhku untuk berhenti tapi aku tidak melakukannya. Baekhyun menatapku dengan heran lalu bertanya, “Kenapa?”

“Karena aku ingin memelukmu,” ungkapku lalu kami berdua tertawa. Untuk terakhir kalinya, aku memeluk Baekhyun. Sebenarnya aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. Tapi kematian bukanlah hal yang bisa dihindari. “Terima kasih telah hadir dalam kehidupanku.”

Begitu kami selesai berpelukan, Baekhyun dengan cepat menciumku di pipi. Dia tampak tegar dan benar-benar siap. Ciuman di pipiku telah membuatnya menjadi seorang pria sejati. “Aku bersyukur aku hidup kembali dan bertemu denganmu.”

Aku mengangguk sambil menahan tangisanku. Baekhyun membalikkan badannya, membuatku berhadapan langsung dengan tombol berwarna merah darah itu. Jarak kami terlalu dekat, mungkin saja aku juga bisa ikut hancur bersamanya. Tapi aku tidak peduli. Ini adalah jalan yang aku pilih. “Selamat tinggal… Baekhyun.”

Tapi ketika aku baru saja menyentuh pelan tombol itu, sebuah suara terdengar menerobos ruangan dan berkata, “TUNGGU!!”

BERSAMBUNG

Annyeonghaseyo, Scarlettkid di sini. Mungkin ini pengumuman terburuk yang pernah aku berikan. So, the next part will be the final. I can’t describe how happy I am. Dari dulu aku ingin membuat sebuah serial yang sangat panjang. Saat ini aku merasa ingin mengakhirinya.

Part beriktunya akan diberi password. Salah satu syarat agar kalian bisa memperolehnya adalah dengan meninggalkan komentar di setiap part sebelumnya. Lalu jika kalian sudah memberi komentar dari part 1 sampai part 24, silakan hubungi aku via whatsapp dengan nomor: 082331298855 atau line dengan id: swifttribute. Baiklah, aku undur diri. Terima kasih sudah membaca.

.Final part will be published May 28th 2016

.

.

.

Advertisements

61 comments on “Skellington [Part 24]

  1. Thorr give me the password pls😭😭🙏
    Bukan tidak mau comment saya baru tau gimana cara comment di wp😂😂😂

  2. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s