The Leader’s Secret (Chapter 7)

wpid-wp-1440532290100

Bina Ferina Storyline

Kwon Jiyong (GD BigBang), Kim Taeyeon (GG) || Romance, Fantasy || PG 18

 

“The Leader’s Secret”

A/N     : Dear, ATSIT’s readers. Thank you so much karena udah support FF ini, yaaaa^^ baca comment  kalian semua jadi semangat buat lanjutin chap 7 ini hehehee.

Loveyousomuch~

 

Preview :

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6

~~~

Laki-laki itu kembali menarik paksa kepala Taeyeon untuk menyandar pada pundaknya seraya berkata, “Tidurlah,”. Dan sedetik kemudian, Taeyeon terlelap. Saking lelapnya, ia sampai bermimpi.

Bermimpi kalau laki-laki yang berada di sampingnya ini, laki-laki yang meminjamkan pundaknya untuk Taeyeon adalah Kwon Ji Yong.

 

~~~

Miss, Miss,” panggil seorang wanita dengan suaranya yang pelan dan lembut, yang tepat berada di telinga kanan Taeyeon.

Terusik dengan panggilan seseorang yang tidak ia ketahui siapa itu membuat Taeyeon sedikit mengerang kesal dalam tidurnya. Ia tidak ingin membuka kedua matanya dan lebih memilih membiarkan wanita itu terus-menerus memanggilnya sampai ia bosan. Hingga akhirnya gadis itu merasakan benturan kecil di kepalanya dan perutnya serasa mencelos ke bawah.

Miss, wake up, please. We’re landing now,”

Taeyeon membuka kedua kelopak matanya dengan berat hati dan beberapa detik kemudian, ia baru menyadari kalau dirinya tengah tertidur di pesawat. Kepalanya terasa sakit karena terbentur kaca jendela pesawat itu. Taeyeon berusaha mengumpulkan jiwanya yang masih melayang-layang di dunia mimpi dengan cara mengerjap-ngerjapkan manik matanya dengan lucu. Ah, benar. Dia sedang melakukan perjalanan ke Thailand untuk konser MADE Tour Big Bang.

I really am sorry,” ungkap Taeyeon pada seorang pramugari yang sedari tadi membangunkan dirinya.

Pramugari itu tersenyum manis dan ia menganggukkan kepalanya dengan singkat lalu pergi. Taeyeon menghela nafas panjang dan lagi-lagi ia baru menyadari satu hal. Paman yang duduk di sampingnya sejak awal keberangkatan tadi tidak ada lagi di sisinya. Barang-barangnya juga tidak ada. Ia menghilang.

Penasaran, gadis itu menengadahkan lehernya dan ia bisa melihat paman itu sudah duduk nyaman di depan. Taeyeon mengernyitkan dahinya, heran. Kenapa paman itu pindah? Masih teringat dengan jelas dalam benak Taeyeon sebelumnya paman itu sedikit membuat dirinya risih dengan beberapa sikapnya yang menurut Taeyeon ‘pervert’. Lalu Taeyeon memilih tidur agar paman itu tidak bertindak lebih jauh lagi.

Tiba-tiba saja ia teringat dengan mimpinya yang seperti kenyataan. Saat ia tertidur tadi, ia merasa mencium wangi parfum Jiyong dan tidur di pundak laki-laki itu. Dalam hatinya, Taeyeon merasa yakin itu bukan mimpi. Jelas-jelas hidungnya menangkap wangi khasnya dan ia mendengar laki-laki itu berkata ‘Tidurlah’. Sayangnya, waktu itu Taeyeon tidak langsung membuka matanya sehingga dirinya tidak tahu kalau itu kenyataan atau hanya mimpi belaka.

Taeyeon sedikit menolehkan wajahnya ke samping kanannya dan ia melihat Seunghyun juga memandangnya sambil tersenyum penuh makna. Taeyeon tidak tahu apa maksudnya dan ia hanya membalas dengan senyum lebarnya yang sangat manis. Setelah itu, ekor matanya menangkap Jiyong, yang sedang memandangi ponselnya dan Dara, yang baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya di pundak Jiyong.

Pabo Taeyeon,’ rutuk Taeyeon dalam hati. Tentu saja Jiyong akan tetap berada di sisi Dara. Dia tidak akan bergerak dari tempat duduknya ketika Dara dengan nyamannya tidur di atas pundaknya. Bodohnya Taeyeon karena sudah bermimpi dan berharap bahwa Jiyong datang untuk melindunginya dari paman pervert itu.

Wait, Taeyeon berharap? Heol, no! Laki-laki itu bahkan sudah memutuskan untuk menjaga jarak selebar-lebarnya dengan Taeyeon, tanpa suatu alasan yang pasti.

~~~

Bandara Bangkok Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand

 

“Sepertinya tadi kau tidur nyenyak sekali, Taeyeon-ah,” ungkap Daesung sembari memperlihatkan angelic smile-nya pada Taeyeon. Mereka semua sedang menunggu mobil yang akan mengantarkan mereka ke hotel bintang lima di Thailand.

“Eung, kemarin malam aku kurang tidur, Daesungie,” jawab Taeyeon.

“Wae? Ah, aku tahu kenapa. Kau dan Jaehyun tidak tidur semalaman, ya? Ah, ah, ah. Apa yang kalian lakukan? Bernostalgia tidak harus terus terjaga, Taeng. Kecuali ada satu aktifitas yang mengharuskan kalian tetap terjaga,” goda Daesung sambil melemparkan senyuman dan tatapan nakal pada Taeyeon.

Wajah Taeyeon merona merah. Ia tahu apa maksud Daesung. Ia tahu dan wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Merah sekali, membuat Daesung tertawa terbahak-bahak. Tentu saja semua yang ada di situ menyadari perubahan warna wajah Taeyeon yang kentara sekali.

“Ternyata benar!” pekik Daesung girang.

“Aniya!” bantah Taeyeon, tapi itu tidak membuat semua yang mendengar perbincangan mereka berhenti tertawa. Justru semuanya malah semakin menertawainya. Tingkah malu-malu Taeyeon begitu imut di mata mereka.

“Jangan mengelak, Taeyeonnie~,” goda Daesung.

Seunghyun tertawa pelan. Kedua ekor matanya langsung terarah pada Jiyong, yang sama sekali tidak memedulikan kejadian antara Taeyeon dan Jaehyun. Jiyong tetap memandang lurus ke depan, seakan-akan tuli. Ia bahkan memakai masker wajahnya, topi hitamnya dan memejamkan kedua matanya. Seunghyun juga menyadari rahang Jiyong mengeras. Dan Seunghyun hanya tersenyum kecil melihatnya.

“Sudah sampai itukah tahap hubunganmu dengan Jaehyun, Taeyeon-ah?” tanya Dara dengan wajah berbinar-binar.

“Tahap yang bagaimana?” Taeyeon balik bertanya, masih bertingkah malu-malu. “Kami hanya duduk di pinggir sungai Han dan melihat air mancur di Banpo Bridge,”

It’s so sweet,” ungkap Dara. “Aku yakin ia pasti memelukmu dari belakang, ‘kan? Dia benar-benar laki-laki idaman,”

Taeyeon hanya menyunggingkan senyum manisnya pada Dara. Tepat saat itu tidak sengaja matanya menangkap sosok Jiyong yang tidak menggerakkan seinci tubuhnya hanya untuk bergabung mengobrol dengan yang lain. Ia hanya menunduk, menghindari sinar matahari yang tidak terlalu menyengat.

“Kalian sama-sama beruntung mendapatkan satu sama lainnya,” sambung Youngbae seraya tersenyum lembut pada Taeyeon. “Aku dengar banyak hal dari Yuri mengenai hubungan kalian yang sempat putus dan kau yang masih setia menunggunya. Aku harap dengan kembalinya dia padamu, hubungan kalian berdua terus berjalan baik,”

“Aku belum berhubungan kembali dengan Jaehyun oppa,” sanggah Taeyeon lagi, kali ini ekspresinya berubah muram. Hatinya mendadak dalam keadaan tidak enak. Entah apa yang membuat mood-nya berubah dalam sekejap. “Dia memang ingin hubungan kami kembali lagi, tapi aku belum menjawabnya,”

“Waeyo?” tanya Seungri. Raut wajahnya menampilkan rasa penasaran luar biasa.

“Karena…,” jawaban Taeyeon menggantung begitu saja. Ia tidak tahu apa jawabannya. Sama sekali tidak tahu. Ia tidak tahu alasan apa yang membuatnya menyia-nyiakan kesempatan besar untuk kembali ke pelukan Jaehyun. Ia tidak tahu kenapa ia bimbang dengan Jaehyun, padahal sudah enam tahun lamanya ia menunggu laki-laki itu. “Aku tidak tahu,”

“Eh?” tanya Seungri dan Dara bersamaan.

“Taeng eomma, kau tidak berniat balas dendam pada Jaehyun, ‘kan? Atau kau tidak mencintainya lagi?” tanya Seungri.

“Bicara apa kau? Menunggu selama enam tahun itu bukan hal yang mudah, Ri. Kalau memang niat Taeyeon-nie seperti itu, Taeyeon pasti sudah menemukan pengganti Jaehyun. Jaehyun pasti laki-laki yang hebat di hati Taeyeon-nie, itu sebabnya belum ada yang bisa menggantikan posisi Jaehyun selama ini. Enam tahun itu tidak singkat. Sungguh,” ujar Dara sambil menatap Taeyeon dengan tatapan prihatin.

Ya, tidak singkat dan butuh perjuangan besar. Tapi kenapa saat bertemu dengan Jaehyun Taeyeon malah ragu? Kenapa perasaannya mendadak berubah saat orangnya sudah di depan mata?

“Sudahlah, Taeyeon pasti punya alasan sendiri yang tidak bisa dia ungkapkan pada kita,” lerai Seunghyun, membuat Taeyeon bernafas lega dalam hati.

“Benar juga,” sahut Dara. “Tapi ingat, Taeyeon-nie. Kalau kau butuh seseorang untuk mendengarkan curahan hatimu, datang saja padaku,”

“Hebat,” sindir Daesung. “Kau bahkan belum bisa menyelesaikan sendiri masalah percintaanmu, noona,”

Sebelum Dara sempat mengeluarkan sumpah serapahnya pada Daesung, dua buah mobil meluncur di hadapan mereka. Salah satu mobil tersebut membuka kaca jendelanya dan tampaklah sosok yang amat sangat dirindukan Taeyeon, sosok yang menyebabkan Taeyeon berada di posisinya sekarang ini, menjadi asisten members Big Bang. Kwon Yuri.

“Eonni!” seru Yuri girang pada Taeyeon. Senyumnya merekah lebar dan ia melepas kaca mata hitamnya. Beberapa detik kemudian, gadis berkulit eksotis itu meminggirkan mobilnya dan turun. Dengan cepat ia menghampiri Taeyeon lalu memeluknya erat.

“Bogoshippeo,” lirih Taeyeon pada sahabatnya itu.

Yuri melepaskan pelukannya. “Nado! Apa kabarmu, eonni? Kau baik-baik saja, ‘kan? Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu saat pertama kali aku menginjakkan kaki di Thailand ini, eonni. Dan aku juga ingin sekali rasanya mendengar cerita tentang Jaehyun oppa!”

“Kau datang ke sini untuk menjemput kami, ‘kan?” tanya Jiyong pelan dan dengan suara yang tampak berbahaya, membuat Taeyeon tidak jadi membuka mulutnya.

“Eh? Tentu saja,” jawab Yuri cepat. Ia menatap sekeliling dan menyadari members Big Bang yang lain tengah menatapnya seraya tersenyum. “Annyeonghaseyo, oppadeul. Ah, ada Dara eonni juga? Kudengar kau ada photoshoot CF di Thailand, ya? Itu sebabnya kau ikut dengan oppadeul?”

“Ani,” sela Jiyong, sebelum Dara sempat menjawabnya. “Dia memang datang untuk perkerjaannya, tapi noona datang bersama kami atas permintaanku sendiri. Karena sekarang dia menjadi asisten pribadiku,”

Perut Taeyeon serasa jatuh begitu saja mendengar penuturan tegas dari mulut Jiyong. Yuri terdiam. Senyum di wajah members Big Bang juga seketika memudar, bahkan Seunghyun terlihat menghela nafas pendek dan sedikit menggelengkan kepalanya. Atmosfer di antara mereka menjadi tidak mengenak. Entahlah, tapi ada sedikit penekanan yang aneh di setiap kata Jiyong, dan wajah laki-laki ini tampak kesal, walaupun tertutupi oleh masker putihnya.

Mendadak Yuri tertawa kecil dan ia menggelayut manja di lengan kanan kakak sepupunya itu. “Aku sudah tahu, oppa. Lagipula, aku juga tidak heran kalau Dara eonni ikut dengan oppadeul bahkan sampai menjadi asisten pribadimu. Kau tidak perlu kesal seperti itu. Seperti bukan Jiyong oppa yang biasanya. Wae? Mungkin oppa sedang kelelahan, eoh? Kalau begitu, kajja. Kita langsung pulang ke apartemenku,”

“Apartemenmu?” tanya Youngbae. “Tidak di hotel?”

“Di apartemenku saja. Lumayan besar untuk kita semua. Lagipula, aku sangat merindukan sahabatku. Aku tidak diizinkan membawanya ke mana-mana selagi bekerja sebagai asisten kalian. Aku juga tidak tahu kapan kembali lagi ke Seoul. Hyun-suk ahjussi sudah memberiku izin kalau kalian boleh menetap di apartemenku,” jawab Yuri dengan wajah berbinar.

“Mana kunci mobilmu? Biar aku saja yang mengendarainya,” ujar Jiyong. Yuri dengan senang hati menyerahkan kunci mobilnya pada Jiyong.

Setelah itu, Yuri membawa mereka semua ke mobilnya dan mobil seorang manager Yuri. Seunghyun, Youngbae, Daesung, dan Seungri memilih mobil yang dikendarai manager gadis itu. Sedangkan Jiyong, Taeyeon, dan Dara naik mobil Yuri.

Jiyong sedikit terhenyak ketika dilihatnya adik sepupunya yang sedikit jahil itu dengan cepat dan terkesan buru-buru menarik tangan kanan Dara untuk duduk bersamanya di kursi belakang. Sedangkan Taeyeon, gadis bertubuh mungil itu hanya diam. Ia tampak bingung dan sangat bimbang. Jiyong tahu kenapa. Otomatis Taeyeon akan duduk di sampingnya. Laki-laki itu segera berfikir keras bagaimana caranya agar Taeyeon tidak duduk di depan. Ia yakin gadis itu masih takut padanya.

Memikirkan ketakutan gadis itu membuat dada Jiyong sedikit nyeri. Dan ia tidak tahu alasannya apa.

“Eonni! Kau duduk di depan saja. Aku sedang ada perlu dengan Dara eonni,” ujar Yuri tanpa beban, dan Jiyong kesal sekali mendengarnya. Apa Yuri tidak tahu dengan keadaan canggung di antara Jiyong dan Taeyeon? Apa adik sepupunya itu tidak bisa membaca situasi kalau sekarang ia berusaha menciptakan jarak selebar-lebarnya dengan Taeyeon? “Oppa, ppaliwa!”

Laki-laki itu ingin protes. Namun, Yuri melemparkan death glare pada Jiyong lalu dengan cepat masuk ke dalam mobil, diikuti Dara. Dengan langkah berat, Jiyong membuka pintu mobil kemudi dan masuk ke dalamnya. Taeyeon juga begitu. Dia berusaha bersikap biasa saja ketika menduduki tubuhnya di samping Jiyong. Bukankah ia biasa duduk di samping laki-laki itu setiap kali ia mengendarai van bersama para members Big Bang?

Namun, kali ini berbeda, tentu saja. Awkward. Pasca kejadian malam itu, mereka berdua sama sekali tidak ada bicara empat mata dan Jiyong terkesan menjauhinya, bahkan menggeser tempatnya sebagai asisten pribadi dirinya dengan Sandara. Kelakuan Jiyong membuat Taeyeon marah sekaligus sakit hati.

Apa dirinya tengah bersalah pada laki-laki itu? Apa yang dilakukannya sehingga laki-laki itu bersikap dingin sekali padanya. Justru dialah yang seharusnya marah karena Jiyong seenaknya melanggar janji dan berbuat tidak senonoh padanya. Ingin sekali rasanya gadis itu memukul wajah Jiyong dan bertanya ‘apa maksudmu bersikap seperti itu padaku?’

Ketika Jiyong menghidupkan mesin dan melajukan mobilnya meninggalkan bandara, Taeyeon mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya dan memakai seat belt­-nya tanpa berfikir panjang. Ia pun juga tidak bisa berfikir apa-apa saat hidungnya tidak sengaja menghirup parfum Jiyong. Parfum yang sama persis, seratus persen sama dengan parfum yang dihirupnya di dalam pesawat, sebelum dirinya jatuh ke alam mimpi.

“Eung, Taeng eonni?” panggil Yuri.

Taeyeon tidak menjawab. Fikirannya masih bergelut dengan parfum Jiyong dan kejadian aneh di pesawat tadi. Parfum Jiyong kembali mengingatkannya dengan paman yang awalnya duduk di sampingnya itu. Ia tidak tahu kenapa paman itu bisa pindah kursi dan berencana bertanya pada Daesung atau Seunghyun yang duduk di sampingnya di pesawat tadi. Taeyeon begitu penasaran. Ada yang mengganjal di hatinya atas peristiwa itu.

Merasa tak ada jawaban dari Taeyeon, Yuri memilih untuk melanjutkan obrolannya bersama Dara dengan suara yang sangat pelan sekali dan hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. Sedangkan Jiyong dan Taeyeon hanya bisa diam sambil mendengarkan musik yang diputar di radio mobil Yuri. Jiyong berusaha semaksimal mungkin agar konsentrasinya tidak pecah saat aura tubuh Taeyeon terdeteksi dengan sangat jelas di otaknya sehingga alarm di kepalanya berbunyi menandakan ‘warning’.

Damn it!’ pekik Jiyong dalam hati. Makin hari kenapa aroma Taeyeon semakin menguat? Dan kenapa tubuhnya sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama dengan logikanya? Wajah Jiyong memang tampak tenang sekali di balik masker. Tapi, jauh di dalam dirinya, Jiyong begitu frustrasi menahan gejolak untuk tidak menyentuh gadis itu, untuk tidak menakutinya lagi.

Geez, sudah berapa kali dalam sehari ini Jiyong berusaha keras mengontrol monster buas dalam dirinya? Apalagi saat di dalam pesawat tadi.

Beep Beep Beep Beep

Dering ponsel Taeyeon terdengar begitu nyaring di pangkuannya, menandakan ada telepon masuk. Nama ‘Jaehyun oppa’ tertera di layar itu. Taeyeon sedikit terperangah mendapati Jaehyun meneleponnya di saat ia berada dalam keadaan yang sama sekali tidak memungkinkan untuk bicara satu patah kata saja.

“Yeoboseo, oppa?” sapa Taeyeon dengan suara lirih.

Mendengar Taeyeon menyapa orang yang ada di telepon itu adalah ‘oppa’, Yuri dan Dara sontak diam untuk mendengarkan lebih lanjut. Karena mereka berdua tahu, terlebih lagi Yuri, kalau ‘oppa’ yang dimaksud adalah Jaehyun.

“Ah, ye. Aku sedang dalam perjalanan menuju apartemen Yuri, oppa. Ne, dia melarang kami untuk menginap di hotel. Dia begitu merindukanku,” ungkap Taeyeon sambil tertawa kecil. “Mwo? Ah, oppa juga ada kerjaan di sini? Kalau begitu, beritahu saja kapan. Mungkin kita bisa bertemu. Eung, gomapta. Annyeong,”

“Mwo? Ya, Kim Taeyeon! Dia mau menyusulmu ke Thailand?” seru Yuri begitu Taeyeon sudah memutuskan sambungan teleponnya.

“Kurasa dia begitu ingin menunjukkan keseriusannya padamu, Tae sampai kau menerimanya kembali,” ungkap Dara.

Beberapa detik setelah Dara mengucapkan hal seperti itu, Jiyong mendadak memutar habis kemudinya ke arah kanan saat lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau. Aksi tiba-tiba yang dilakukan Jiyong ini membuat punggung belakang Yuri dan Dara terpental ke belakang. Sedangkan Taeyeon menjatuhkan ponselnya dan memegang erat seatbelt-nya. Dapat Taeyeon dengar dengusan kecil dari laki-laki yang ada di sebelahnya ini.

“Itu berbahaya, oppa! Apa yang kau lakukan?” seru Yuri kesal.

“Jiyong-ah,” panggil Dara lembut. Ia sedikit memajukan tubuhnya mendekati Jiyong dan menggenggam telapak tangan kanan laki-laki itu, yang berada di rem tangan mobil. “Apa yang terjadi?”

“Aku hanya menghindari mobil depan tadi. Tenanglah, aku tidak akan membunuh kalian,” jawab Jiyong pelan.

“Kita pelan-pelan saja, okay?” ujar Dara dan ia melepas genggamannya. Melihat hal itu, Taeyeon langsung mengalihkan wajahnya dan menatap ke luar jendela mobil. Pegangannya pada seatbelt semakin mengerat.

“Tapi tidak perlu seperti itu, oppa. Cara menyetirmu seperti kau ingin membunuh seseorang saja,” kata Yuri. Ia masih kesal setengah mati pada kakak sepupunya itu karena tindakannya yang tiba-tiba.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan gedung apartemen Yuri. Keempat members Big Bang yang lain turun dari mobil manager Yuri sambil membawa barang bawaan mereka. Yuri dan Dara ikut turun dan membantu mengangkat barang Jiyong dan Taeyeon. Mereka sama-sama bergegas masuk ke dalam gedung apartemen. Sedangkan Kim Taeyeon, gadis itu mendadak diam membeku.

Seatbelt yang ia kenakan tidak bisa dibuka.

Shit! Ini mobil lama Yuri, dan ia baru sadar kalau mobil lama gadis itu memiliki sedikit masalah dengan setiap seatbelt yang ada di mobil itu, kecuali seatbelt di tempat duduk pengemudi. Kenapa Yuri tidak mengingatkannya dari awal. Oh, ayolah Kim Taeyeon. Yuri sudah mengingatkanmu. Kau dan fikiranmu saja yang entah ke mana.

“Kau tidak turun?” suara baritone milik Jiyong menyentakkan isi perut Taeyeon dan membuat jantungnya berdetak tak terkendali. Jiyong masih menggunakan maskernya dan tidak berniat untuk melepasnya.

“Aku… Ingin menunjukkan tempat parkirnya,” jawab Taeyeon pelan sekali tanpa mau memandang laki-laki itu. Namun, Jiyong masih bisa mendengarnya.

“Aku tahu di mana tempat parkirnya,” tangkas Jiyong. Kedua matanya menatap jauh ke depan. Ia tampak sama sekali tidak berniat memandang ke arah gadis itu.

Duh. “Tempat parkirnya gelap dan luas sekali. Aku takut kau akan terjebak dan kelimpungan di dalamnya. Setidaknya, aku bisa sedikit membantumu,”

Mata elang Jiyong akhirnya menatap wajah cantik Taeyeon. Entah kenapa, begitu tatapan mereka bertemu, rona merah di kedua pipi Taeyeon muncul dan gadis itu merasakan sengatan listrik di setiap organ tubuhnya. Ia juga merasakan desiran-desiran halus. Perutnya bergejolak tidak menyenangkan ketika staring game di antara mereka berdua berlangsung satu menit penuh.

Tak ada yang berusaha untuk memecahkannya. Tak ada yang berusaha menghentikan game itu. Keduanya larut dalam tatapan mata di antara mereka.

Seakan-akan inilah yang mereka berdua tunggu satu sama lain.

“Apa kau sedang berusaha melucu?” tanya Jiyong, memecahkan kesunyian di antara mereka. Ia mengalihkan pandangannya dan kembali menerawang ke depan. Tangan kirinya mengepal kuat di atas kemudi dan dengan susah payah ia menelan ludahnya. Entah apa yang difikirkan laki-laki ini. “Katakan apa yang terjadi,”

Taeyeon menghela nafas kasar. Tentu saja Jiyong akan tahu. Ia bukan orang yang mudah dibohongi, apalagi dengan alasan ‘cerdas’ dari Taeyeon. “Seatbelt-nya tidak bisa kubuka. Aku lupa kalau ini sedikit bermasalah. Maksudku, aku bisa membukanya. Tapi butuh waktu. Itu sebabnya aku ingin ikut ke parkiran sembari berusaha membuka ini,”

Jiyong sedikit melirik seatbelt itu dan ia kembali menjalankan mobil Yuri menuju parkiran. Seperti yang dikatakan Taeyeon tadi, saat Jiyong sedang mencari tempat parkir, gadis itu berusaha dengan sangat untuk melepaskan seatbelt macet itu. Segala cara ia lakukan agar ikatannya lepas. Dari mulai dengan cara yang lembut sampai kasar sekalipun. Dan hasilnya nihil. Bahkan saat mobil Yuri sudah terparkir dengan rapi, pun seatbelt itu masih setia melingkar di tubuh Taeyeon.

“Apa masih belum bisa?” tanya Jiyong ketika mesin mobilnya sudah mati. Perlahan ia turunkan maskernya dan menatap seatbelt itu.

“Aku lupa bagaimana cara membukanya…,”

“Tapi kau bisa sendiri, ‘kan?” sela Jiyong cepat dan matanya menatap tajam Taeyeon.

“Apa?” Taeyeon balik bertanya dan seketika perasaannya terluka tanpa sebab.

Ia mengerti sekali maksud Jiyong. Ia memang tidak berharap agar laki-laki itu mau membantu membukakan seatbelt itu dari tubuhnya. Sama sekali tidak terbersit keinginan itu. Namun, kalau Jiyong memang berniat mau membantu, sebagai seorang laki-laki, itu artinya dinding tak terlihat yang ada di antara mereka akan pecah. Jika Jiyong mau membantu, Taeyeon akan menganggap Jiyong sudah menghapus ‘police line’ yang terjadi pada mereka berdua.

Nyatanya, laki-laki itu berkata sebaliknya. Seakan-akan ia tidak berminat membantu gadis itu. Seakan-akan ia tidak berkeinginan berdekatan dan menyentuh gadis itu lagi. Sepertinya Jiyong memang benar-benar ingin memutus contact dengan Taeyeon, dengan alasan yang sampai saat ini Taeyeon tidak tahu sama sekali.

Wajah Taeyeon sudah memerah. Ia menahan emosi sekaligus air matanya yang mendesak ingin keluar tanpa ia tahu apa sebabnya. Kesal, tentu saja saat ia teringat dengan mudahnya kulit Dara menyentuh kulit Jiyong. Sedangkan dirinya? Taeyeon ingat betul saat buku Vampires Academy itu mengatakan vampires tidak bisa sembarangan menyentuh kulit perempuan. Apa Dara bukan seorang perempuan? Atau, kulit Dara memang tercipta khusus untuk Jiyong? Sehingga pada akhirnya mereka akan bersama?

Fikiran menyebalkan itu terus menari-nari di kepala Taeyeon, membuat gadis itu ingin melegalkan hukum yang melarang manusia untuk membunuh sesamanya.

“Aku bisa sendiri,” jawab Taeyeon ketus. Ketus sekali, sampai-sampai Jiyong menaikkan salah satu alisnya, heran.

Tanpa banyak komentar, Jiyong membuka seatbelt-nya sendiri dan turun dari mobil. Jantung Taeyeon mencelos. Laki-laki bedebah itu memang pergi meninggalkannya sendiri dan air mata Taeyeon akan mengucur turun membasahi kedua pipinya jika pintu di sebelahnya tidak terbuka.

Gadis mungil itu membelalakkan kedua matanya, kaget dan heran bercampur menjadi satu saat ia mendapati sosok Jiyong ada di hadapannya, tengah menatapnya dengan ekspresi yang sangat sulit ditebak.

Wangi parfum Jiyong kembali memblokir fikiran Taeyeon begitu laki-laki itu mendekati tubuhnya dengan tubuh Taeyeon dan ia sedikit membungkuk untuk menyentuh seatbelt itu. Dengan tangannya yang terlihat manly, Jiyong menekan-nekan tombol push berulang kali dan hasilnya nihil. Sambil mendengus tak sabaran, ia menarik-narik talinya dan melakukan apa saja agar seatbelt itu bisa menunjukkan tanda-tanda mau melepaskan dirinya dari tubuh mungil Taeyeon.

Jiyong tidak tahu, atau lebih tepatnya pura-pura untuk tidak tahu kalau gadis yang ada di dekatnya ini tengah menyembunyikan rasa canggung, gugup, dan malunya. Tubuhnya tegang dan ia merasakan seperti ada sengatan listrik di setiap kulitnya yang tidak sengaja bersentuhan dengan kulit Jiyong. Dalam hati, Taeyeon sangat berharap agar laki-laki itu tidak mendengar suara jantungnya yang selalu berdetak lebih cepat saat hembusan nafas Jiyong membelai lembut permukaan lehernya.

Ada apa dengan dirinya? Gadis itu dengan polosnya bertanya-tanya dalam hati. Ini bukan dirinya yang biasa. Ia tidak pernah peduli dan acuh tak acuh saat Jiyong ada di dekatnya.  Ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Dan ia sadar, semuanya berawal sejak Jiyong meminum darahnya untuk pertama kali.

Ia sadar, tentu saja. Tapi ia tidak mau mengerti kenapa hal itu bisa terjadi pada dirinya. Ia hanya tidak mau mengerti saat ada seseorang yang lebih memerhatikan dan diperhatikan Jiyong daripada dirinya.

“Sudah selesai,” lirih Jiyong.

Taeyeon mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Lamunannya buyar seketika dan matanya jatuh di manik mata Jiyong yang berada beberapa sentimeter darinya. Mata itu berwarna cokelat. Cokelat yang memikat dan mau tak mau Taeyeon harus mengakui mata itu memiliki pesona yang sangat kuat. Selain mata, laki-laki itu memiliki paras yang hampir sempurna. Dengan tahi lalat yang ada di tulang pipi sebelah kiri, membuatnya tampak lebih sexy.

Nafas Taeyeon seperti tercekat di tenggorokan saat disadarinya nafasnya dan nafas Jiyong saling beradu. Taeyeon ingat betul jarak wajah mereka tidak terlalu dekat. Tapi kenapa semakin lama wajah Jiyong semakin dekat? Bahkan hidung mereka hampir bersentuhan. Entah apa yang difikirkan gadis itu, Taeyeon langsung menutup kedua matanya rapat-rapat. Kedua tangannya menggenggam erat bangku mobil.

Tanpa disadarinya, tanpa dia ketahui, Jiyong tersenyum kecil melihat tingkah gadis mungil yang ada di depannya ini.

“Turunlah. Sampai kapan kau mau duduk di dalam mobil?” tanya Jiyong ketus.

Taeyeon membuka kedua kelopak matanya perlahan dan wajahnya langsung merah padam. Ia sadar dengan kebodohannya. Apakah Jiyong juga menyadarinya? Apa yang dia harapkan sampai menutup kedua matanya segala?

Dilihatnya Jiyong sudah berdiri menjauh darinya, dan detik itu juga Taeyeon tahu, Jiyong menyadari tingkah konyolnya.

Taeyeon melepas seatbelt-nya dan turun dari mobil dengan tetap menundukkan wajahnya. Ia tidak berani memandang wajah Jiyong.

“Gamsahamnida,” ujar Taeyeon pelan sekali.

Jiyong hanya mengangguk kecil tanpa memandang ke arah gadis itu.

“Ah, aku…Jiyong-ssi,” panggil Taeyeon sebelum laki-laki itu kembali masuk ke dalam mobil. “Aku ingin tanya sesuatu,”

Belum sempat Jiyong membuka mulutnya, dering ponsel yang menandakan ada panggilan masuk terdengar nyaring. Jiyong buru-buru masuk ke dalam mobil dan mengecek ponselnya. Dering itu bukan berasal dari ponselnya.

“Kalau begitu nanti saja,” ucap Taeyeon cepat dan ia langsung membalikkan tubuhnya, pergi dari parkiran mobil.

Jiyong diam saja saat dilihatnya Taeyeon pergi. Ia penasaran sekali dengan apa yang ingin dikatakan gadis itu. Namun, ia malas memanggilnya lagi. Jiyong takut ia benar-benar kelepasan. Belasan menit duduk di samping gadis itu tanpa menyentuhnya bagaikan terkurung di neraka. Ia hampir gila kalau saja tidak memikirkan ketakutan gadis itu.

Dan batinnya kembali diuji lagi ketika seatbelt gadis itu mengulah. Sambil membantu melepas seatbelt-nya, Jiyong mengutuk Yuri terus-terusan karena mobilnya yang berulah. Bagaimana tidak? Wangi tubuh gadis itu benar-benar membuatnya tak waras dalam sekejap. Darahnya bergejolak dan jantungnya tidak kunjung tenang. Wajah Taeyeon yang bagaikan porselen itu membuat Jiyong hampir lupa diri dan ingin memangsanya detik itu juga

Dia hampir mewujudkan hasrat terlarangnya kalau saja Taeyeon tidak menunjukkan wajah imutnya. Jiyong tahu dan sadar ia akan mencium gadis itu dan ia juga tahu Taeyeon berfikiran apa. Dengan menunjukkan wajah canggungnya, gadis itu menutup matanya dan kelihatan lucu di mata Jiyong.

Semua hasrat itu mendadak sirna seketika. Entah kenapa Jiyong merasa senang sekali melihat wajah Taeyeon tadi. Begitu cantik dan ia tidak ingin ekspresi itu hilang karena kebodohannya lagi. Itu sebabnya Jiyong tersenyum dan berusaha sekuat tenaga mundur menjauhi Taeyeon.

Lamunan laki-laki itu buyar seketika saat ia mendengar ada deringan ponsel lagi di dalam mobil, dan itu bukan miliknya. Dilihatnya ponsel Taeyeon yang tergeletak di bawah bangku samping pengemudi dan diambilnya. Dapat Jiyong lihat nama ‘Jaehyun oppa’ muncul di layar ponsel Taeyeon.

“Yeoboseo?”

~~~

“Pabo pabo pabo,” rutuk Taeyeon pelan sembari melangkah menuju apartemen Yuri. Sesampainya ia di depan pintu apartemen, pintu itu terbuka bahkan sebelum Taeyeon memutar kenop pintunya.

“Taeyeon-ah,” sapa Dara sambil tersenyum sumringah. Gadis itu sudah berganti pakaian dan ia kelihatan sangat cantik seperti biasanya.

“Kau mau ke mana, eonni?” tanya Taeyeon.

“Ada syuting,” jawab Dara. “Katakan pada Jiyong kalau aku mungkin akan kembali pada malam hari. Jadi, yang kembali menjadi asisten pribadinya adalah dirimu,”

“N… Ne,” jawab Taeyeon pelan.

“Eonni, kau mau di antar manajerku?” tanya Yuri, yang baru saja keluar dari apartemen miliknya.

“Tidak usah. Biar Dara noona aku yang antar,” jawab suara berat dari belakang Taeyeon.

Taeyeon refleks membalikkan tubuhnya dan mendapati Jiyong, yang menatapnya sekilas lalu kembali lagi memandang Dara dan Yuri. Ekspresinya aneh.

“Oppa, sebaiknya kau istirahat saja dulu. Kau pasti lelah. Lagipula nanti malam bukannya ada rehearsal lagi? Jangan terlalu paksakan dirimu. Kau tahu aku benci sekali melihatmu yang selalu memaksakan diri seperti ini. Dara eonni sudah kutitipkan pada manajerku, kau tidak perlu khawatir,” tolak Yuri.

Jiyong menyunggingkan senyum, atau lebih tepatnya seringaian kecil pada Yuri. “Ani. Aku juga ingin keluar dan bertemu dengan beberapa temanku. Aku jarang kumpul dengan mereka. Dan ini adalah kesempatanku, ‘kan? Noona, kajja. Pergilah ke parkiran duluan,”

Dara mengangguk dan ia langsung turun menuju parkiran mobil. Sedangkan Jiyong, Taeyeon, dan Yuri hanya diam menantikan apa lagi yang akan dikatakan Jiyong. Taeyeon menggigiti kuku jari tangannya sembari menatap apapun yang bisa dia tatap selain menatap ke arah Jiyong. Entah kenapa ia merasa masih malu untuk menghadapkan wajahnya pada Jiyong. Dan ia merasa bodoh, kenapa dirinya bisa seperti ini?

“Oppa, kau harus ‘makan siang’ dulu,” bisik Yuri pada Jiyong saat ia yakin Dara sudah tidak terlihat lagi.

“Itulah alasanku kenapa aku mau pergi keluar bersama Dara noona. Aku akan bersenang-senang sebentar,” jawab Jiyong, yang kembali mengeluarkan seringaian kecilnya.

“Ya! Taeyeon eonni bisa menelepon perempuan-perempuan itu kalau kau mau,” ujar Yuri.

“Aku akan pulang setelah Dara noona pulang, annyeong,” pamit Jiyong. “Ah, sebelum aku lupa. Taeyeon-ssi, kau menjatuhkan ponselmu di bawah kursi mobil,”

Jiyong mengeluarkan ponsel milik Taeyeon dan menyerahkannya pada gadis itu. Taeyeon mengangguk dan mengambilnya seraya menggumamkan terima kasih, yang entah bisa di dengar Jiyong atau tidak. Setelah itu, Jiyong langsung berbalik dan menghilang dari pandangan mereka berdua.

“Bagaimana dengan members yang lain? Mereka sedang istirahat, ‘kan?” tanya Taeyeon, berusaha mengalihkan fikirannya dari Jiyong.

“Mereka sedang istirahat,” jawab Yuri. “Eonni, ada yang harus kau ceritakan padaku,”

~~~

“Mianhae, aku tidak memberitahumu soal ‘penyakit’ Jiyong oppa sejak awal. Aku merasa sangat bersalah padamu, eonni. Tapi mau bagaimana lagi? Saat itu orang yang bisa kuharapkan adalah dirimu. Aku benar-benar tidak berniat menjerumuskanmu atau membuatmu menjadi santapan Jiyong oppa. Aku tidak tahu dan fikiranku bahkan tidak sampai ke sana kalau kau akan tahu siapa sebenarnya Jiyong oppa. Dan lagi, aku tidak tahu, sangat tidak tahu, kalau darahmu begitu manis dan mampu menggelapkan mata Jiyong oppa,” oceh Yuri panjang lebar saat Taeyeon selesai bercerita pada Yuri bagaimana awal dirinya tahu semua tentang Jiyong bahkan memberikan darahnya.

Mereka bercerita tidak hanya berdua di dapur apartemen milik Yuri. Ada Seunghyun yang ikut mendengarkan. Meskipun dirinya sudah sangat tahu detail ceritanya, tetap saja Seunghyun merasa tertarik untuk ikut mendengarkan. Dan lagi, ada sesuatu yang harus ia pastikan dari Kim Taeyeon.

“Kau pasti ketakutan sekali,” lanjut Yuri, setengah berbisik. “Maksudku… Eonni, kau bahkan membenci bad boys. Dan ketika kau tahu dia adalah vampire, omo, aku tidak tahu seperti apa reaksiku jika aku berada di posisimu,”

“Reaksi Taeyeon berada di luar ekspektasiku,” potong Seunghyun. “Aku juga mengira Taeyeon akan segera mengundurkan diri dan memarahimu, Yuri-ah. Tapi kenyataannya? Dia bahkan sangat perhatian dan peduli pada kakak sepupumu itu,”

“Itu… Itu tidak seperti yang kau ucapkan, oppa. Aku hanya memikirkan Yuri dan menolongnya. Kalau sampai dia ketahuan, yang akan kena masalah bukan hanya Jiyong saja. Tapi Yuri, kau, Youngbae oppa, Daesungie, Seungri, Hyun-suk ahjussi. Aku hanya memikirkan hal-hal pahit kalau aku tidak waspada dengan gerak-gerik Jiyong yang bisa menimbulkan kecurigaan,” jelas Taeyeon, semburat rona merah muncul di kedua pipinya.

“Tapi itu justru membuat Jiyong kewalahan dan kau bisa saja membuatnya semakin ketahuan,” tawa Seunghyun.

“Mungkin saja,” lirih Taeyeon. Ia merasa bodoh jika mengingat hal itu. Saat dia begitu overprotective pada Jiyong, yang justru membuat semua orang keheranan.

“Tapi aku senang, kau tidak menganggap dia seperti yang kau anggap selama ini, eonni. Aku tidak perlu cemas lagi ketika kita berdelapan membicarakan dia,” ungkap Yuri.

“Yah… Dia memang bukan orang yang selama ini ku tafsirkan sendiri. Ternyata, penampilannya yang swag dan bad boys seperti itu hanya di atas panggung. Kakakmu adalah sosok yang penyayang, hangat, dan memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap orang-orang terdekatnya. Dia juga memiliki perasaan yang tulus pada setiap orang,”

Yuri dan Seughyun hanya diam mendengarkan penuturan Taeyeon tentang seorang Kwon Ji Yong di matanya dengan wajah berbinar. Mereka berdua bertukar pandang dan saling melemparkan senyum kecil. Seolah-olah, mereka berdua tahu suatu hal yang bahkan tidak disadari oleh Taeyeon sendiri.

“Apa kau tidak takut lagi pada kakakku, eonni?” tanya Yuri dengan nada hati-hati.

“Wae? Kenapa aku harus takut?” Taeyeon balik bertanya. Fikirannya kembali sadar saat sebelumnya ia memikirkan laki-laki itu. Memikirkan bagaimana keadaannya sekarang ini di luar, di negeri orang, bersama dengan teman-temannya. Jujur saja, Taeyeon cemas kalau laki-laki itu menyentuh alkohol tanpa bisa mengontrolnya.

“Kejadian terakhir antara kau dan Jiyong di apartemen kami, Taeyeon-ah. Aku tahu karena Jiyong menceritakannya padaku. Dia merasa bersalah sekali. Itu semua terjadi di luar kendalinya. Ia sama sekali tidak ingin membuatmu merasa tersakiti, Taeyeon-ah. Saat itu bahkan ia mengutuk dirinya sendiri sebagai seorang yang lebih dari bajingan,” jelas Seunghyun.

“Jinjjayo?” tanya Taeyeon dengan seringaian kecil di wajahnya. “Tapi aku berfikir dia tidak merasa bersalah atau semacamnya. Dia bahkan menciptakan jarak dan dinding di antara kami. Bahkan memilih Dara eonni sebagai asisten pribadinya tanpa persetujuanku. Aku merasa tidak dianggap. Padahal, jika saja malam itu ia minta maaf dan tidak bersikap seperti ini, aku akan langsung memaafkannya,”

“Jiyong sudah meyakini dirinya sendiri kalau kau sudah ketakutan sekali padanya, Taeyeon-ah. Itu sebabnya dia menciptakan jarak selebar-lebarnya agar dia tidak melakukan hal yang membuatmu lebih takut lagi. Selama kau berada di dekatnya, dia selalu berusaha menekan dirinya agar tidak lepas kontrol. Kau tahu? Karena darahmu yang sangat manis itulah, yang membuatnya kecanduan. Vampire itu, dia sangat suka darahmu dan akan selalu merasa kehausan walaupun dia sudah minum banyak darah dan tidak akan berhenti sebelum menelan darah manis.

“Dia melakukan semua hal itu untuk menjagamu juga. Dia tidak ingin kau semakin ketakutan. Ada sedikit perasaan terluka saat dirinya mengira kau ketakutan, Taeyeon-ah. Dia punya rasa traumatic yang tinggi sebelumnya,”

“Trauma?” tanya Taeyeon penasaran.

“Sebelum mengenal dan berhubungan dengan Kiko, Jiyong menaruh hati pada seseorang yang bernama Jinah. Seperti yang kau katakan, laki-laki itu tidak pernah main-main dengan perasaannya. Ia begitu mencintai gadis itu dengan tulus. Mereka berdua sangat dekat sampai suatu hari, Jiyong hampir kelepasan meminum darahnya. Darah Jinah memiliki rasa manis seperti dirimu, walaupun aroma manismu lebih kuat daripada Jinah. Jinah ketakutan dan dia tidak menyangka Jiyong adalah vampire. Ia mengatakan tidak ingin bertemu lagi dengan Jiyong karena Jiyong… seorang monster,”

Taeyeon memekik pelan. “Dia tidak pantas mengatakan hal seperti itu,”

“Kau benar, Taeyeon-ah. Dan kau bisa membayangkan betapa terpuruknya Jiyong saat itu. Apalagi saat ia dengan terpaksa harus menghilangkan ingatan Jinah tentang dirinya. Semua tentang dirinya, sampai Jinah tidak mengenali siapa Jiyong. Dan reaksimu ketika itu sama persis dengan reaksi Jinah. Ia teringat kembali, dan merasa sangat terpuruk,”

“Itukah sebabnya dia tidak ingin mengatakan apa-apa pada Kiko siapa dirinya dan…,”

“Dan ingin menjadi manusia normal pada umumnya demi Kiko, ya benar seperti itu, Taeyeon-ah. Dia begitu mencintai Kiko dan berencana merehabilitasi dirinya. Hyun-suk marah dan mengatakan kalau Kiko tidaklah membuat Jiyong mencintai dirinya sendiri,” sambung Seunghyun.

Ketiganya sama-sama terdiam, hanyut dalam fikiran masing-masing. Lebih tepatnya, Taeyeon-lah yang kembali hanyut dalam pemikirannya sendiri. Ia kembali memikirkan laki-laki itu, tentu saja. Kisah cintanya tidak semulus seperti yang dibayangkan orang. Dan lagi, Taeyeon merasa sangat simpati dengan keadaan Jiyong sebagai seorang vampire.

Laki-laki itu pasti merasa sendiri, merasa kesepian.

“Aku… Tidak takut pada Jiyong,” ujar Taeyeon pelan sekali. Ia memilin jari-jarinya dan lebih memusatkan perhatian pada kedua tangannya. “Meskipun tidak mengenalnya lebih dalam, tapi aku tahu dia orang yang sangat baik. Meskipun awalnya aku memang mengira dia adalah monster, tapi dia tidak seperti itu. Bukan kemauan dia, ‘kan menjadi satu-satunya vampire di keluarga Kwon? Dia merasa dirinya sendiri di dunia ini. Dia merasa kesepian dan rasanya tidak pantas kalau aku masih merasa ketakutan padanya. Karena memang aku tidak takut,”

Seunghyun tersenyum manis mendengar penjelasan Taeyeon. Semua yang dijelaskan Taeyeon sudah cukup menjawab semua pertanyaannya. Langkah terakhir adalah meluruskan.

“Ne, Dami dan BoA eonni bukanlah vampire, aku juga tidak. Di keluarga Kwon itu, hanya Mrs. Kwon dan Jiyong oppa saja yang memiliki darah vampire. Sejak dikatai monster oleh Jinah, Jiyong oppa mulai risih dengan identitas vampire-nya dan mulai merasa tidak adil. Kalau aku, aku pasti merasa sangat tertekan,” imbuh Yuri.

“Bukankah Jiyong sangat dekat dengan Dara eonni? Kenapa Dara eonni tidak tahu mengenai hal ini?” tanya Taeyeon.

“Mereka memang dekat, tapi hanya seperti kakak-adik saja dan itu bukan berarti Jiyong bisa menceritakan semuanya, ‘kan?” jawab Seunghyun dan ia mengambil sebatang rokok dari dalam saku jaketnya, yang langsung ditatap tajam oleh Yuri.

“Tapi, hanya dengan kulit Dara eonni yang bisa bersentuhan dengan kulit Jiyong…,”

“Nado,” potong Yuri cepat. “Dan Jieun eonni juga tidak merasa ada apa-apa saat tangannya bersentuhan langsung dengan kulit Jiyong,”

“Hanya dengan kulitmu yang bermasalahan jika bersentuhan dengan Jiyong, Taeyeon-ah. Hal itu tentu saja sudah diketahui sejak lama oleh Jiyong. Kenapa kau baru menyadarinya sekarang?” Seunghyun balik bertanya.

“Apa Jiyong oppa baru saja menyentuhmu?” tanya Yuri dengan menyipitkan kedua matanya, seolah-olah hendak menginterogasi Taeyeon.

“Y… Ya! Itu tidak seperti yang kau bayangkan!” seru Taeyeon gelagapan.

“Memang apa yang aku bayangkan? Eonni, aku tidak membayangkan hal yang ‘byuntae’ seperi kau,” ujar Yuri dengan seringaian licik yang tercetak jelas di wajahnya.

“Kenapa hanya dengan kulitku saja, oppa?” tanya Taeyeon pada Seunghyun.

“Mungkin… Hal itu memang sudah ditakdirkan,” jawab Seunghyun pelan. “Atau hanya sebuah kebetulan belaka saja. Who knows?”

“Keundae, oppa. Apakah Jiyong akan baik-baik saja? Dia pergi ke suatu tempat dan aku khawatir kejadian kemarin terulang lagi. Apa tidak sebaiknya kau suruh dia untuk kembali? Yuri akan menelepon teman-teman wanitanya dan dia akan aman minum darah di sini,” ucap Taeyeon.

“Dia tidak akan mengulang hal yang sama,” jawab Seunghyun enteng. “Itukah yang daritadi mengganggu fikiranmu?”

“Aniya, hanya saja… Dia akan menyusahkan banyak orang,” jawab Taeyeon pelan. “Ah, buat apa aku memikirkannya? Dara eonni pasti bisa mengatasinya. Maksudku, Jiyong pasti lebih mendengar Dara eonni,”

“Apa kau benar-benar mengikhlaskan Dara noona yang menangani semua urusan Jiyong? Apa dirimu sudah benar-benar yakin untuk menyerahkan semuanya pada Dara noona mengenai Jiyong? Otomatis Jiyong akan meminta Dara noona untuk tinggal di apartemen kami. Rumahnya sangat jauh dan aku yakin Jiyong tidak akan sampai hati untuk membiarkan Dara noona pulang larut malam dan pergi pagi buta hanya untuk Jiyong. Dia pasti menyuruhnya tinggal. Dan kamar di apartemen kami hanya lima. Kamar siapa lagi yang cukup besar untuk dua orang?” tanya Seunghyun dengan senyuman yang sangat sulit diartikan.

Kedua matanya menatap tajam Taeyeon, yang tengah menggigit bibir bawahnya dan menggigiti kuku-kuku jarinya tanpa sadar. Dia tampak sedang berfikir keras. Tampak sedang menimbang sesuatu yang amat sangat berat untuk diputuskannya.

Tinggal bersama di apartemen Bigbang dan satu kamar dengan Jiyong? Hubungan mereka sudah dekat bahkan sebelum Taeyeon menjadi asisten Bigbang. Dan jika hal itu sampai terjadi, apa yang akan terjadi dengan keduanya? Hati manusia siapa yang tahu?

Menunggu jawaban dari Taeyeon, Seunghyun terkikik kecil dan ia menghembuskan asap rokoknya. Wajahnya tampak sangat gembira. Sedangkan Yuri, ia memandangi Taeyeon dengan menyipitkan kedua matanya. Tampaknya dugaannya bena. Dugaan yang muncul dari fikirannya ketika ia mendengar seluruh cerita dari awal hingga akhir tentang Jiyong dan Taeyeon dari mulut Seunghyun.

“Jiyong yang menginginkan ini semua. Jika dia memang tetap bersikukuh untuk menjaga jarak denganku, tidak ada yang bisa dilakukan selain Dara eonni-lah yang menjadi asisten pribadinya,” jawab Taeyeon. Ia sadar suaranya agak bergetar.

“Aku bertanya pendapatmu, Taeng. Aku bertanya mengenai perasaanmu. Lupakan tentang keinginan Jiyong, karena kau benar-benar tidak tahu apa keinginannya yang sebenarnya,” sanggah Seunghyun.

“Aku…,”

Belum sempat Taeyeon mengeluarkan jawabannya, pintu apartemen Yuri terbuka dan hidung Taeyeon dapat mencium wangi khas parfum Jiyong. Benar saja, laki-laki itu muncul dari balik pintu sambil berbicara dan tertawa kecil di ponsel.

“Eoh, aku sudah sampai di apartemen Yuri, noona,” ujar Jiyong. Kakinya melangkah ringan menuju dapur, tempat Taeyeon, Yuri, dan Seunghyun duduk bersama. Ia mendatangi mereka hanya sekadar untuk menyapa. Dan Taeyeon merasakan aliran darahnya mengalir deras sedangkan jantungnya seperti berhenti berdetak.

“Wajahnya tampak segar. Kurasa dia sudah menemukan makan siangnya,” kata Yuri.

“Baik-baiklah di sana, noona. Kalau ada seseorang yang mengganggumu, hubungi saja aku. Aku tidak akan biarkan kulitmu disentuh oleh laki-laki hidung belang,” lanjut Jiyong, yang tengah membuka jaketnya dan meletakkannya asal di atas sofa ruang tamu.

“Sepertinya dia menelepon noona kesayangannya,” imbuh Seunghyun sambil lagi-lagi tersenyum kecil, senyuman yang hanya–dia–sajalah–yang–tahu–apa–maksudnya.

Taeyeon mengarahkan tatapannya ke Seunghyun, mencerna ucapannya dan memandang punggung laki-laki yang tengah menelepon itu. Noona kesayangan Jiyong? Fikiran Taeyeon berkelebat dan wajah Dara muncul di alam bawah sadarnya.

Ia tersenyum kecut. Noona kesayangan Jiyong siapa lagi kalau bukan Park Sandara? Bukankah Seungri dan Daesung selalu berkoar-koar hal itu?

“Aku mau istirahat dan setelah itu rehearsal. Kau yang tutup duluan teleponnya, noona,” sambung Jiyong. “Ah, sebelumnya. Aku ingin minta sesuatu,”

Ekor mata Taeyeon tetap memandang punggung Jiyong walaupun ia menundukkan wajahnya, jari-jemarinya menari di dalam gelas yang ada di hadapannya. Kedua telinganya terfokuskan pada pembicaraan yang dilakukan Jiyong daripada perbincangan yang dilakukan Yuri dan Seunghyun.

Kiss me, noona,” dan setelahnya Jiyong masuk ke dalam salah satu kamar apartemen Yuri

PRANG!!!

“Omo, otteokhae?!” pekik Yuri dengan suara nyaring.

Taeyeon tersentak kaget. Ia mengerjapkan kedua matanya, antara bingung dan baru kembali dari alam bawah sadarnya, seakan-akan baru tertampar oleh tangan yang tak terlihat.

Gelas yang sejak tadi dimainkan oleh tangan Taeyeon terjatuh begitu saja ke lantai, pecah berkeping-keping, menaburkan serbuk kaca bening di sekitar area dapur.

“Mianhae, mianhaeyo,” cicit Taeyeon. Ia mendorong kursinya dan langsung mengambil vacuum cleaner.

“Eonni, biarkan saja,” cegah Yuri. “Biar asistenku saja yang membersihkannya. Lebih baik kita menghindar saja,”

“Lihat apa ada pecahan kaca yang menempel di kulitmu, Taeng,” ujar Seunghyun dan ia langsung menuntun Taeyeon untuk duduk di atas sofa ruang tamu. Sedangkan Yuri menelepon asistennya untuk segera ke apartemen.

~~~

“Apa yang sebenarnya kau lamunkan, eonni?” tanya Yuri cemas bercampur kesal pada Taeyeon sembari mengobati luka di jari-jari Taeyeon yang tertancap pecahan kaca. Mereka berdua duduk di ruang tamu hanya berdua. Seunghyun permisi untuk main games bersama Seungri dan Daesung di dalam kamar.

“Eobseo. Tanganku agak licin,” jawab Taeyeon asal.

“Ck, kau ini sama sekali tidak bisa berbohong padaku, eonni. Kita sudah hampir sepuluh tahun berteman, jadi tidak ada gunanya kau menyembunyikan beberapa hal,” tangkas Yuri. Ia menatap tajam Taeyeon.

“Sepertinya ini sudah selesai, Yul,” ujar Taeyeon. Ia menatap jari-jarinya dan menghela nafas pelan. “Kapan mereka akan rehearsal? Sepertinya aku harus memejamkan mata dulu selama beberapa belas menit,”

“Eonni,” panggil Yuri pelan dan penuh penekanan. “Kau begitu peduli pada Jiyong oppa, keutchi? Saking pedulinya kau sama sekali tidak sadar kalau kau suka padanya,”

“Mwo?! Ya! Jangan sembarangan bicara, Yuri-ah. Apa yang kau katakan? Aku suka Jiyong? Heok, aniya. Aku peduli padanya karena dia adalah kakak sepupuku, karena dia adalah adik Dami eonni. Aku peduli karena aku memang peduli. Tidak ada alasan khusus apapun,” jelas Taeyeon cepat.

“Arayo. Tapi kau tidak tahu kalau pedulimu itu sudah tumbuh dan berkembang menjadi sesuatu yang tidak kau harapkan, eonni. Dan itu sangat jelas sekali. Oh, ayolah eonni. Aku sangat setuju kalau kau menyukai kakakku. Aku akan membantumu, eoh? Kau tidak ingin Yuri eonni mengambil alih posisimu, ‘kan? Katakan saja pada Jiyong oppa. Katakan semuanya. Katakan kalau kau sama sekali tidak takut,”

“Aigoo, kau terlalu mengkhayal yang tidak-tidak, Yuri-ah. Sangat jelas apanya? Geumanhae,” tangkas Taeyeon. “Lagipula, Jaehyun oppa…,”

“Geumanhae,” balas Yuri. “Tidak usah bawa-bawa Jaehyun oppa, okay? Hanya karena dia kembali, kau tidak perlu memikirkannya dulu. Yang terpenting adalah hatimu. Ke mana arah hatimu, eonni? Sebaiknya kau cari tahu itu dulu, sebelum kau menyesal. Tanyakan saja pada perasaanmu, kenapa kau tidak langsung menerima Jaehyun oppa kembali. Aku masih ingat benar kau rela menukar apa saja yang ada di hidupmu agar Jaehyun oppa kembali,”

Taeyeon diam tidak membalas perkataan Yuri. Ia menolehkan pandangannya, tidak berani menatap balik Yuri. Karena apa yang dikatakan Yuri, Taeyeon takut sekali kalau itu benar adanya.

~~~

“Apa kita akan melakukan fan service di bagian ini, hyung?” tanya Seungri pada Seunghyun sambil menunjuk script untuk penampilan mereka besok malam.

“Seharusnya kau dan Jiyong yang melakukannya. Nyongtory,” jawab Seunghyun. “Dan aku bersama bocah itu,”

Seunghyun menunjuk Daesung yang sedang sibuk membuka-buka hadiah yang diberikan oleh ratusan VIP untuknya.

“Aku takut Jiyong hyung akan benar-benar menciumku di atas stage nanti,” canda Seungri dan ia pura-pura bergidik ngeri. “Kalau aku mencium Youngbae hyung tidak ada masalah,”

“Kalau kau berani, kau akan mati di tempat,” ancam Youngbae langsung, membuat yang berada di sekitar mereka tertawa lepas. Bahkan, Taeyeon juga ikut tertawa.

“Oh, ya. Jiyong hyung eodiseo, eomma?” tanya Seungri pada Taeyeon.

“Ne? Ah, kurasa dia masih berada di dalam ruang ganti,” jawab Taeyeon. “Sedang menerima telepon,”

“Nugu? Tidak mungkin Kiko, ‘kan?” tanya Seungri pada Seunghyun dan Youngbae, yang langsung mendapat pukulan–agak–menyakitkan dari Seunghyun di kepalanya.

“Bisa tolong panggilkan, Taeng?” tanya Seunghyun.

Dengan segala keterpaksaan yang ada dalam dirinya, Taeyeon mengangguk dan langsung melangkahkan kakinya menuju ruang ganti. Belum sempat ia mengetuk pintu ruang ganti itu, sosok Jiyong sudah keluar dari dalam sambil melihat ponselnya dengan senyuman manisnya yang mengembang di wajah cassanova-nya.

Members lain sudah menunggumu. Kau sedanga apa?” tanya Taeyeon.

“Aku sedang menelepon seseorang,” jawab Jiyong sekenanya tanpa menatap Taeyeon. Ia lebih memilih mengotak-atik ponselnya.

“Ne~ Bersenang-senang saja dengan noona kesayanganmu,” gumam Taeyeon sinis, yang tentu saja bisa didengar oleh Jiyong.

“Ah, kau tahu aku menelepon noona-ku dari tadi siang? Dia memang sangat merindukanku,” ujar Jiyong. Ia menyimpan ponselnya di dalam saku dan memasukkan kedua telapak tangannya di saku celananya. “Dan dia titip salam padamu. Dia juga merindukanmu dan selalu menunggu karya-karya webtoon-mu,”

“Mwo? Merindukanku? Merindukan karyaku? Apa Dara eonni bilang begitu?” tanya Taeyeon dengan wajah tidak mengerti.

“Dara noona? Aku tidak membicarakan dia. Aku membicarakan Kwon Dami noona. Noona kesayanganku,” jawab Jiyong. Ia tersenyum menyeringai. “Sepertinya kau sudah salah mengerti,”

Selesai berkata seperti itu, Jiyong pergi melewati Taeyeon dan langsung menuju ke stage tempat rehearsal berlangsung. Taeyeon tercengang. Ia membuka mulutnya dan ia tahu saat ini wajahnya sudah seperti orang paling bodoh sedunia. Ya, dia memang bodoh. Pabo Taeyeon. Bukan Dara eonni. Melainkan Dami eonni.

“Aigoo, paboya,” rutuk Taeyeon dalam hati.

Pasca kejadian itu, Taeyeon mengirim pesan kepada Seunghyun kalau dirinya kembali ke apartemen Yuri dan tidak bisa menemani mereka selama rehearsal. Alasannya adalah ia merasa penat karena belum ada istirahat sesampainya mereka di Thailand. Dan tentu saja itu hanya sebuah ‘alasan’. Taeyeon merasa tidak akan bisa memandang wajah Jiyong untuk malam ini. Ia sudah terlanjur malu.

“Ne~ Bersenang-senang saja dengan noona kesayanganmu,”

Ucapannya pada Jiyong tadi benar-benar seperti seseorang yang cemburu. Ia yakin Jiyong mendengarnya dan berfikiran yang sama. Laki-laki itu juga pasti heran apa salahnya menelepon kakak sendiri sampai lupa waktu?

Sekitar pukul sebelas malam waktu Thailand, members Bigbang kembali dan Yuri menyuruh mereka untuk makan malam. Keempat members duduk di meja makan kecuali Jiyong, yang sibuk memakai jaket dan mengambil topi serta masker wajahnya.

“Hmm… Makanannya pasti enak, kelihatan dari baunya,” puji Daesung. Ia langsung mengambil potongan daging panggang yang ada di meja makan. “Taeyeon-nie memang pintar memasak,”

“Aniya, sebenarnya aku tidak tahu bagaimana cara memasak. Aku tidak begitu pandai. Hanya mengikuti resep dan hati naluri,” jawab Taeyeon setengah serius setengah bercanda.

“Oppa, mau ke mana?” tanya Yuri pada Jiyong.

Club. Aku sudah buat janji dengan ‘makanan’ku. Mungkin aku sekalian akan menjemput Dara noona,” jawab Jiyong.

“Dara eonni akan dijemput oleh manajerku, oppa. Dan kau tidak perlu pergi ke club, ‘kan? Aku bisa meneleponnya,” ujar Yuri.

“Kalau begitu katakan pada manajermu biar aku saja yang jemput,” sahut Jiyong. “Aku pergi,”

“Tidak bisakah kau mencegahnya pergi, Taeng? Tidak bisakah kau menjelaskan situasimu yang sebenarnya? Kau tahu? Ini negara orang dan dia adalah seorang idol. Dia benar-benar menempatkan dirinya dalam bahaya,” ujar Seunghyun dengan wajahnya yang mengeras, tampak cemas dan khawatir setelah Jiyong menutup pintu apartemen di belakangnya.

“Aku akan kembali,” ucap Taeyeon. Ia bangkit dari kursinya dan bergegas keluar dari apartemen Yuri, mengejar Kwon Ji Yong.

Seunghyun tersenyum menatap pintu apartemen Yuri yang beberapa detik lalu tertutup dan kembali menyantap makanannya tanpa ada beban. Youngbae hanya menggelengkan kepalanya sambil makan, sedangkan Seungri, Daesung, dan Yuri terkikik geli.

“Eonni, sikapmu jelas sekali,” ujar Yuri.

“Taeyeon eomma belum benar-benar mengenal uri Jiyong hyung atau rasa cemas dan cemburunya yang terlalu besar?” tanya Seungri. “Jiyong hyung sudah ahli dalam hal ‘bersembunyi’,”

“Aku tidak bisa membayangkan reaksi keduanya ketika bertemu,” sahut Youngbae.

“Ahh, rasanya aku ingin melihatnya. Taruhan, yang terjadi di luar pintu apartemen Yuri akan lebih sweet dari drama-drama Korea yang selama ini kau tonton, Ri,” sambung Daesung.

~~~

“Jiyong-ssi!” panggil Taeyeon keras pada Jiyong. Laki-laki itu sudah hampir masuk ke dalam lift yang pintunya terbuka. Taeyeon mempercepat larinya untuk menghampiri Jiyong walaupun nafasnya sudah hampir tercekat.

Mendengar teriakan seseorang yang ia kenal, Jiyong membalikkan tubuhnya dan membiarkan pintu lift itu tertutup. Taeyeon sampai di hadapannya dengan wajah memerah dan nafas yang terengah-engah.

“Jangan pergi,” ucap Taeyeon di sela-sela tarikan nafasnya yang panjang.

“Wae?” tanya Jiyong.

“Aku…,” ujar Taeyeon dengan seribu alasan yang berputar di dalam kepalanya, memikirkan kata-kata yang hendak disampaikannya. “Aku akan menelepon gadis-gadis itu, jadi kembali saja ke apartemen,”

“Tidak perlu repot-repot,” jawab Jiyong cepat. Dan ia kembali berbalik untuk menunggu pintu lift yang terbuka.

“Aku… Tidak pernah merasa takut padamu,” ujar Taeyeon cepat. Jiyong berdiri terdiam di depan pintu lift yang kembali terbuka di hadapannya. Jiyong mendengarkan, dan Taeyeon menarik nafas panjang untuk menetralkan jantungnya, ia harus segera mengatakannya. “Awalnya memang aku tidak menyukai style-mu di atas stage dan segala macam pemberitaan tentangmu. Sampai Yuri terus-menerus menyakinkan diriku kalau kau bukan seperti yang kubayangkan, aku tetap tidak memercayainya.

“Sampai akhirnya aku bertemu denganmu. kalau bukan karena Yuri, aku tidak akan mau bekerja bersama denganmu. Dan aku memang panik ketika tahu kau adalah vampire. Tapi aku sadar, rasa panikku didominasi oleh rasa kekhawatiran bagaimana kalau kau tertangkap? Bagaimana kalau kau ketahuan? Dan seiring berjalannya waktu, kau menunjukkan padaku perlahan-lahan dirimu yang sebenarnya. Kau… Kau orang yang baik. Begitu penyayang. Meskipun tidak mengenal dirimu terlalu dalam, setidaknya aku tahu kau itu berbeda dengan di atas stage. Aku rasa orang-orang yang tidak menyukaimu juga akan langsung jatuh hati jika mereka tahu kau yang sebenarnya.

“Jadi… Malam itu, aku tidak takut. Terlintas di fikiranku untuk takut padamu saja tidak. Aku hanya sedikit kecewa. Mungkin sangat. Ah, molla. Aku kecewa. Kau telah membuat seseorang menungguku terlalu lama dan… tidak ada kata ‘maaf’ yang keluar dari mulutmu. Kau hanya berdiri membeku dan memasang wajah seolah-olah itu bukan masalah besar. Seunghyun oppa jauh lebih perhatian padaku waktu itu. Aku kesal, bukan takut padamu,”

Taeyeon diam sambil menatap punggung Jiyong. Wajahnya sudah memerah sekali saat ia menjelaskan panjang lebar pada laki-laki itu. Kaki kanannya bergerak gelisah dan ia menggigit gigit bawahnya menunggu reaksi dari Jiyong.

Tanpa diketahui oleh Taeyeon, Jiyong menyunggingkan senyum kecil.

“Lalu?” tanya Jiyong.

Taeyeon membelalakkan kedua matanya. Lalu? Apakah tidak ada pertanyaan lain?

“Untuk apa kau menjelaskannya padaku? Apa Seunghyun hyung yang menceritakan semuanya dan memintamu melakukan ini?” sambung Jiyong.

“Aniya,” bantah Taeyeon langsung. “Dia memang menceritakannya padaku, tapi aku melakukan ini bukan karena perintahnya. Ini atas kehendakku sendiri. Karena…,”

“Karena…?” tanya Jiyong, sedikit tidak sabaran menunggu lanjutannya, karena gadis itu menggantungkan kalimatnya agak lama.

“Karena aku tidak ingin kau menjaga jarak denganku. Seolah-olah di sini akulah yang salah. Aku tahu maksudmu baik, agar bisa lebih berhati-hati padaku. Tapi dengan menggantikan posisiku tanpa meminta pertimbanganku membuatku sangat tersinggung. Aku suka kalau Dara eonni membantuku. Yang tidak bisa kupahami adalah kau yang tidak menganggapku ada. Aku sangat kesal. Aku tidak tahu kenapa, tapi maksud baikmu itu benar-benar membuatku tersinggung. Kenapa tidak sekalian saja kau memecatku? Itu juga kalau kau masih punya otak untuk tidak memecatku dengan alasan yang diluar nalar manusia,”

Jiyong menundukkan wajahnya dan senyumnya semakin lebar. Ia tidak bisa menahan senyumnya. Rasa kelegaan dalam dirinya membludak dan ia merasakan ada ribuan kupu-kupu beterbangan di sekitarnya juga di dalam dadanya.

“Aku juga sangat mencemaskanmu yang bepergian ke club di saat aku tidak menangani tugas meneleponku dengan para perempuan itu lagi. Kau tidak berani minta tolong pada Dara eonni, ‘kan karena takut ketahuan? Itu sebabnya… Tolong jangan bersikap seperti ini lagi. Bagiku ini tidak adil. Seharusnya kau melakukan klarifikasi. Sekarang sebenarnya siapa yang takut pada siapa?” jelas Taeyeon lagi. Entah dapat keberanian dari mana, gadis itu bisa mengeluarkan semua keluh kesahnya.

Akhirnya, Jiyong membalikkan tubuhnya menghadap Taeyeon dan menatap gadis itu lekat-lekat. Buru-buru Taeyeon mengalihkan pandangannya dan lebih tertarik menatap lantai. Ia merasa panas tubuhnya meningkat 1000 persen saat diberi tatapan tajam oleh Jiyong.

“Jadi… Kau tidak ingin aku menjadikan Dara noona sebagai asisten pribadiku dan berbagi tugas denganmu?” tanya Jiyong. Suara baritone yang ia miliki membuat jantung Taeyeon berdebar.

“Bukannya aku tidak ingin… Tapi… Aku hanya…,”

“Katakan kalau kau memang tidak ingin,” potong Jiyong pelan. Namun, Taeyeon masih bisa mendengarnya.

Taeyeon mengangkat wajahnya dan membalas tatapan tajam Jiyong. Secara perlahan, Jiyong melangkah maju mendekati gadis itu, yang mendadak saja merasakan kakinya melebur begitu saja sehingga ia tidak bisa melangkah mundur ketika Jiyong menghapus jarak di antara mereka. Ia berhenti tepat beberapa sentimeter dari Taeyeon. Keduanya sama-sama dapat merasakan wangi khas tubuh masing-masing dan itu membuat Taeyeon hampir kehilangan keseimbangannya.

Seakan-akan terhipnotis oleh tatapan mata Jiyong, Taeyeon terus membalas tatapan itu dan berusaha menyelami kehidupan di dalamnya.

“Katakan apa yang ada di dalam hatimu sekarang,” bisik Jiyong. “Katakan kalau kau memang tidak ingin aku menjadikan Dara noona sebagai asisten pribadiku. Katakan dan aku akan melakukannya,”

“Aku… Aku tidak ingin posisiku digantikan oleh siapapun. Sampai masanya berakhir,” jawab Taeyeon gugup.

Tatapan mata Jiyong melembut dan ia tersenyum amat sangat manis. Perlahan, jari-jari dingin laki-laki itu mengusap lembut pipi kanan Taeyeon yang merona, membuat Taeyeon tercekat dan menahan nafasnya. Tanpa aba-aba, Jiyong mendekatkan wajah dan bibirnya di telinga kiri Taeyeon.

“Kau membuatku berada dalam situasi yang sangat sulit saat ini,” bisik Jiyong. “Gomapta,”

Detik itu juga, Taeyeon merasakan matanya begitu berat dan semuanya mendadak gelap.

~~~

Taeyeon mengerang pelan dalam tidurnya dan ia membuka kedua kelopak matanya secara perlahan-lahan. Ia memandangi langit-langit kamar yang sedang ia tempati itu untuk membiasakan matanya terhadap cahaya lampu.

Ia tahu ia berada di dalam salah satu kamar apartemen Yuri. Tapi ia tidak tahu kamar siapa yang ia tempati. Karena kamar di dalam apartemen Yuri hanya ada lima dan satu kamar ada dua orang. Yuri tidak mengatakan ia akan sekamar dengan siapa. Sepengetahuan Taeyeon, seharusnya ia sekamar dengan Yuri, karena Dara sekamar dengan manajer Yuri. Dan tentu saja, yang mendapatkan satu kamar sendiri adalah Jiyong.

Taeyeon bangkit mendudukkan dirinya di tempat tidur dengan mata yang masih berat. Hidungnya mencium aroma citrus dari kamar mandi. Aroma ini…

Bukan aroma Yuri.

Tunggu.

Ingatan terakhir yang masih terekam jelas di otak Taeyeon adalah ia tengah berbincang dan melampiaskan semua isi hatinya pada Jiyong di depan lift apartemen. Ia ingat Jiyong membisikkan sesuatu di telinganya dan setelah itu semuanya gelap.

Apakah hanya mimpi?

“Sudah bangun?” tanya seseorang yang akhir-akhir ini mampu membuat Taeyeon merasakan emosi yang beragam-ragam dalam satu situasi.

Tentu yang ia ingat tadi bukan mimpi.

Karena Kwon Jiyong tengah duduk manis di sofa yang membelakangi jendela kamar. Ia menyilangkan kedua lengannya di dada dan menatap Taeyeon intens.

“Neo…” ujar Taeyeon terbata-bata. Ini kamar Jiyong. Refleks Taeyeon menutupi tubuhnya yang masih berbalut pakaian dengan menggunakan bedcover. “Kenapa aku bisa berada dalam kamarmu? Kau yang membawaku ke sini, ‘kan? Apa kau jatuh pingsan?”

“Ssshh,” desis Jiyong, menyuruh Taeyeon diam. Ia bangkit dari sofa dan kakinya dengan ringan mendekati tempat tidurnya yang king size itu. Dengan nyamannya ia mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur, membuat Taeyeon berjengit.

Taeyeon tidak takut, tentu saja. Ia hanya terlalu berdebar-debar dan fikirannya mulai ke mana-mana. Dengan susah payah ia menelan ludahnya. Sepertinya Taeyeon akan mati dengan cepat jika ia terus berada di dekat laki-laki ini.

“Mianhae, aku membuatmu tidak sadarkan diri,” aku Jiyong. Ia memandang ke arah jendela kamarnya. “Setelah semua pengakuanmu tadi, aku merasa luar biasa lega. Kau tidak tahu bagaimana rasanya sebuah beban besar terlepas dari pundakmu. Ne, rasa takutmu merupakan beban besar bagiku. Dan aku merasa seperti terbang ke surga saat mengatakan kau tidak takut padaku,”

“Lalu kenapa kau membuatku pingsan?” tanya Taeyeon kesal, lebih tepatnya menutupi rasa canggung dan salah tingkahnya.

Jiyong mengalihkan pandangannya pada Taeyeon. “Kau melarangku pergi ke club, melarangku untuk menjauhimu, dan tidak menginginkan aku untuk menjadikan Dara noona sebagai asisten pribadiku. Semua perkataanmu itu membuatku merasa kau ingin aku selalu berada di dekatmu, dan kau tahu betul aku tidak bisa lama-lama berada di dekatmu, apalagi saat perutku belum diisi. Jadi, kuputuskan lebih baik aku membuatmu tidak sadarkan diri daripada aku yang kalap karena ulahmu,”

“Ah, jadi seperti itu,” gumam Taeyeon. Wajahnya kembali memanas dan ia mengipasi dirinya sendiri menggunakan telapak tangannya tanpa berani membalas tatapan Jiyong. Padahal di dalam kamar itu, AC ruangan hidup dengan temperature paling tinggi.

“Dan aku menurutimu,” lanjut Jiyong. “Setelah kau pingsan, aku membawamu ke mobil dan menjemput Dara noona. Dara noona tidak terkejut, tentu saja karena ia fikir kau sedang tertidur. Aku tidak jadi pergi ke club. Ketika sampai di apartemen, pintu kamar Yuri sudah terkunci dan aku yakin sekali ia sudah tidur. Itu sebabnya aku menidurkanmu di sini,”

“Jadi, kau belum menyentuh darah malam ini?” tanya Taeyeon, shock. “Ini sudah larut malam, mana mungkin aku menghubungi gadis-gadis itu?”

Taeyeon bingung dan BAM! Ia sadar akan satu hal. Dari perkataan Jiyong barusan, bukankah Jiyong seperti memberi ‘kode’ untuk Taeyeon? Seketika tubuh Taeyeon membeku tak bisa bergerak. Ia menatap Jiyong dengan pandangan hati-hati. Sedangkan Jiyong balas menatapnya dengan tatapan… er lapar?

“Kau bilang kau tidak ingin posisimu digantikan, ‘kan?” tanya Jiyong pelan.

“N… Ne,” jawab Taeyeon dengan suara tak kalah pelan.

“Kalau begitu, lakukanlah tugasmu dengan baik dan jangan pernah mengecewakanku,” tambah Jiyong. Ia memandang Taeyeon dengan tatapannya yang mampu mengoyak-koyak ulu hati gadis manapun yang balas memandangnya. “Coba fikirkan, kalau kau tidak bisa memanggil mereka, apa yang akan kau lakukan setelahnya? Apa inisiatifmu?”

“Ah, aku bukan orang yang pemikir, Jiyong-ssi. Aku bisa memikirkannya besok pagi setelah bangun tidur. Bertahanlah. Atau kalau kau merasa tidak tahan lagi, kau bisa menelepon Yuri atau siapapun yang pemikirannya bisa menciptakan ide-ide brilliant. Kalau begitu, aku permisi ke kamar tidur Yuri, Jiyong-ssi,” jawab Taeyeon cepat.

Gadis itu buru-buru menyibakkan bedcover tempat tidur Jiyong. Sebelum tumit kakinya benar-benar menyentuh lantai kamar, Jiyong bangkit dan mendekati Taeyeon. Lalu, laki-laki itu dengan gesit mendorong kedua pundak Taeyeon dan membuat tubuh gadis itu kembali terbaring di atas tempat tidur.

Taeyeon memekik kaget. Semakin kaget lagi ketika wajah Jiyong tepat berada di atas wajahnya, tentu saja dengan spasi yang mampu membuat jantung Taeyeon tidak melayang seketika. Tubuh Jiyong juga tidak naik ke atas tempat tidur, ia hanya membaringkan kembali tubuh mungil Taeyeon.

“Tetap di tempatmu, tidak perlu pindah. Tetap tidur di sini saja. Aku tidak akan menyentuhmu,” ujar Jiyong. Nada bicaranya tidak dingin seperti yang kemarin-kemarin. Malah lebih lembut dan penuh perhatian, membuat Taeyeon tercengang seketika.

“Lalu? Bagaimana denganmu?” tanya Taeyeon.

“Aku bisa tidur di mana saja,” jawab Jiyong. Ia membenarkan bedcover tempat tidurnya agar bisa menyelimuti seluruh tubuh Taeyeon kecuali wajah meronanya. “Jalja,”

Taeyeon hanya mengangguk. Jiyong berbalik dan keluar dari kamarnya. Saat laki-laki itu sudah keluar, Taeyeon menarik bedcover itu sampai menutupi wajahnya yang merah padam.

“Otteokhae?”

Sedangkan Jiyong, ketika ia sudah keluar dari dalam kamarnya, ia segera melangkahkan kakinya menuju dapur dan duduk di bangku meja makan. Dikeluarkannya sebungkus minuman yang berlabel “tomato juice” itu kemudian dibuka dan diminumnya sampai habis layaknya seseorang yang kehausan sekali. Selesai meminum itu, diecapinya dan ia tersenyum sangat manis.

Darah hewan memang berbeda sekali dengan darah manusia. Tapi bagaimanapun juga, ia masih ingat perjuangan seseorang yang mendapatkan darah hewan itu agar tubuhnya tidak melemah. Masih terekam jelas di dalam otaknya bagaimana paniknya gadis itu saat dirinya ‘jatuh’ karena kebanyakan minum alkohol.

Mengingat hal itu membuat Jiyong menyunggingkan senyumnya. Karena hal itu mampu membuat dirinya terus terngiang nama ‘Kim Taeyeon’, sampai detik ini.

 

 

-To Be Continued-

 

Annyeonghaseyo^^

Udah berapa bulan? 1?2?3? atau 4? Kekekeke mianhaeyo T.T tugas kuliah menumpuk dan di semester ini ada banyak praktek hukum yang buat aku bahkan ngga bisa nyentuh laptop walaupun itu sekedar tulis satu kalimat T.T

Mianhae buat kalian yang menunggu lama TT.TT mianhae kalo alurnya rada ‘belok’ hekhek

Mianhaeeee TT.TT

Advertisements

162 comments on “The Leader’s Secret (Chapter 7)

  1. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Next-nya ‘kiss me’? Aduh, Kwon Ji-yong itu bikin penasaran.
    • Daraaa? Pribadi, aku suka Dara tapi gak mau jika dia sama G-Dragon. Maaf, Applers. 🙂 🙂
    • Suka deh gambar-gambar The Leader’s Secret. 😉
    • Yang di mobil untuk seatbelt, ternyata itu teka-teki ‘tanpa pikir panjang memakai seatbelt’, ternyata rusak seltbelt-nya, haha….
    • Kasihan Jiyong susah payah nahan diri selama duduk bersebelahan dengan Taeyeon.
    • Jangan-jangan Dara vampir karena saat menyentuh tangan Jiyong, Jiyong baik-baik saja. Sempet mikir itu, tapi tidak ah….
    • Kupikir Jiyong akan langsung nolong Taeyeon didalam mobil, tapi author membuatnya lebih romantis lagi.
    • Kasihannya saat Jiyong cerita di rooftop.
    #gtae #royalistdreamer #leadercouple
    • Next chapter… See you. HWAITING All! 😀
    HWAITING Author-nim! 🙂 😉 😀

  3. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  4. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 13) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 14) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s