Skellington [Part 23]

SKELLINGTON Part 23 by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar with EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04 | Part 05 | Part 06 | Part 07 | Part 08 | Part 09 | Part 10 | Part 11 | Part 12 | Part 13 | Part 14 | Part 15 | Part 16 | Part 17 | Part 18 | Part 19 | Part 20 | Part 21 | Part 22

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik aku melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing.

.

.

.

.

.

2 hari tersisa sampai kontrak Skellingtonku berakhir.

Saat ini aku sedang berada di lobby Rumah Sakit bersama Wheein yang bekerja di sini tapi rela menemaniku sejak pagi. Aku datang kemari karena mendengar kabar terbaru dari Kai soal ibu kandungnya yang melakukan aksi bunuh diri dari jembatan Sungai Han –meski rencana itu digagalkan oleh Baekhyun dan Kai.

Kemarin, setelah diselamatkan oleh kami, ibu kandung Kai –yang kupanggil Euijin eonni—segera dibawa ke Rumah Sakit untuk menjalani pemeriksaan. Rupanya sebelum masuk ke dalam air, kepala Euijin eonni membentur bagian bawah jembatan yang membuatnya pingsan seketika.

Kai menghubungiku pagi-pagi sekali dan berkata bahwa dokter sudah berusaha untuk memberikan pertolongan agar dia bisa terbangun secepat mungkin. Dan rupanya usaha dokter tidak sia-sia karena Euijin eonni dinyatakan akan terbangun pagi ini, tepat setelah pengaruh obat bius yang mengalir di darahnya berakhir.

Kau mau datang ke Rumah Sakit dan berada di sampingku saat ibu kandungku membuka matanya, kan?” tanya Kai dalam pembicaraan telepon kami dan aku langsung menyetujuinya.

Lalu aku tidak lupa untuk mengajak Baekhyun karena dia penasaran setengah mati dengan kondisi ibu kandung Kai. Saat aku menawarinya untuk datang bersamaku ke Rumah Sakit, dia menolak dan berkata ingin mencoba ke Rumah Sakit dengan angkutan umum sendirian.

“Baekhyun lama, ya?” tanya Wheein yang sedari tadi asyik dengan ponselnya. “Apa perlu aku meminta Channie untuk mencarinya dan membawanya kemari?”

Aku menggeleng cepat karena hal seperti itu tidak diperlukan. Entah hanya aku yang tersadar atau tidak, tapi sejak kejadian kemarin, keberanian di dalam hati Baekhyun sepertinya bertambah. Dia terkesan sudah siap untuk menerima kematiannya. Misinya di dunia ini sudah selesai. Dan yang harus mengantar kepergiannya adalah… Aku.

“Oh ya, aku lupa memberitahumu tentang ini,” lanjut Wheein sambil mengibaskan rambutnya ke belakang. “Tuan Kim dan eommaku sepertinya sudah menyandang status suami-istri.”

Jinjjayo?” tanyaku lalu Wheein mengangguk. “Kapan mereka menikah?”

“Ya Tuhan, Taeyeon. Apa kau benar-benar anak dari papamu?” sahut Wheein kesal. “Mereka memutuskan untuk tidak menikah. Karena hubungan seperti itu terkesan lebih fleksibel. Tapi mereka akan saling menyayangi jadi… Tidak ada bedanya dengan suami-istri pada umunya. Hanya saja mereka tidak melaksanakan upacara pernikahan.”

Aku mengangguk sebanyak lima kali pada Wheein. Entah sudah berapa lama aku tidak bertemu dengan papa. Terakhir kali aku bertemu dengan beliau adalah saat aku diundang untuk makan malam bersamanya dan itu pun kami tidak berbicara banyak. Nona Seunghwi telah menggantikan posisiku di rumah itu. Dia pasti akan menjadi ibu tiriku yang baik.

“Berarti kau sekarang resmi menjadi saudara tiriku?” tanyaku pada Wheein.

Wheein mengerutkan keningnya kemudian menggeleng. “Tidak, kita hanya teman biasa. Kau adalah sahabat dari pacarku. Aku tidak mau memanggilmu dengan sebutan eonni. Rasanya tidak pantas jika kita melihat sudah berapa usia kita.”

Aku mengangguk karena apa yang dikatakan Wheein memang benar. Aneh rasanya memiliki anggota keluarga yang baru saat kami sudah menjadi orang dewasa. Seandainya saja pertemuan papa dengan eomma Wheein datang lebih cepat. Aku sadar bahwa pertemuan bukan sesuatu yang bisa aku atur.

“Aku sudah tinggal hanya bersama eommaku selama 12 tahun. Tapi sekarang eomma sudah melepaskanku. Rasanya aku kesepian…” gumam Wheein dan entah mengapa aku merasa bersimpati padanya.

“Bukankah kau sudah punya… Gongchan?” tanyaku ragu-ragu. Terkadang aku tidak mengerti apa yang dipikirkan, diucapkan, maupun dirasakan Wheein.

Wheein menggeleng dengan tatapan sayu. “Dia bukan orang yang harus aku urus. Maksudku, karena appaku sudah meninggal, aku harus menjaga eommaku seorang diri. Sekarang sudah tidak. Aku suka merawat orang, apalagi anak-anak. Jadi aku memutuskan untuk menjadi dokter.”

Tiba-tiba aku teringat beberapa kejadian yang berlangsung belakangan ini. Yang pertama adalah saat Wheein menggangtikan Solar dalam tugasnya menjaga Baekhyun. Yang kedua saat Wheein dengan santainya membawa Baekhyun pergi dari Rumah Sakit tempat kami bertemu dengan Solar seusai kemoterapi.

Yang ketiga saat Wheein tidak menolak untuk mengantar Baekhyun kembali ke apartment Solar hingga dia mengajak Baekhyun mencariku bersama-sama dengan Kai. Semua tindakan Wheein pada Baekhyun membuatku berpikir bahwa mereka sebenarnya sangat akrab.

Wheenie, apa arti kehadiran Baekhyun bagimu?” tanyaku setelah mengumpulkan seluruh keberanianku.

“Bukankah aku sudah pernah bilang? Bahwa aku hanya ingin memastikan apakah Baekhyun yang kau ceritakan saat kau baru saja mengalami kecelakaan, persis seperti Baekhyun yang sekarang? Aku hanya penasaran,” ungkap Wheein. “Tapi sepertinya kau salah, Taeyeon.”

“Apa?”

Wheein tersenyum sambil mengangguk. “Dia memang keras kepala, sering bertindak sembrono, dan sok keren dengan kalimat manis yang sering keluar dari mulutnya. Tapi dibandingkan semua itu aku bisa melihat bahwa… Dia rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menyelamatkan orang lain.”

Apa yang diucapkan Wheein kali ini seperti keluar dari lubuk hatinya. Terdengar sangat jujur, polos, dan apa adanya. Aku tidak pernah melihat Baekhyun seperti itu. Aku selalu mengecapnya sebagai laki-laki yang telah membuatku menderita.

“Mungkin di malam pembunuhan itu, dia berusaha untuk sadar dari pengaruh stun gun agar bisa menyelamatkanmu. Tapi dia tidak bisa. Itulah yang membuatnya hidup dalam penyesalan selama tahun-tahun berikutnya,” lanjut Wheein. Kemudian dia tertawa kecil sebelum berkata, “Rasanya aku tidak pantas berkata seperti ini tapi bicarakan baik-baik dengan Baekhyun dan sampaikan apa yang ingin kau katakan padanya. Kau tidak akan menyesal, kok.”

Apa masih ada waktu? Tentu saja masih ada 2 hari yang sangat berharga ini tapi apakah aku bisa mengatakan padanya tentang apa yang kurasakan? Akhir-akhir ini aku sering bertingkah aneh di depan Baekhyun. Aku mudah sekali menangis di depannya dan aku mudah sekali goyah saat bersamanya. Perasaan apa ini?

“Itu dia pangeranmu,” ujar Wheein sambil menunjuk sosok yang baru saja memasuki Rumah Sakit. Itu adalah Byun Baekhyun dengan pakaian terbaiknya yang pernah kulihat dengan snapback berwarna biru di kepalanya.

Lalu aku teringat apa yang dikatakan Wheein padaku. Aku menatapnya tajam dan berkata, “Pangeran? Kau bercanda, ya?”

Wheein tersenyum licik sambil melambaikan tangan pada Baekhyun yang semakin mendekat kemari. Anehnya setiap langkah Baekhyun terdengar seperti detak jantungku yang menambah adrenalinnya. Aneh. Mengapa aku ingin segera lari dari tempat ini?

“Di mana Kai?” tanyanya dengan polos begitu sampai di tempatku dan Wheein.

“Dia sedang bersama ibunya, maksudku ibu yang merawatnya selama ini. Ayo sekarang kita ke tempat mereka,” jawab Wheein lalu aku mengangguk.

Baekhyun tertawa kecil lalu memukul Wheein di bagian bahu. “Jadi kalian menungguku, ya? Wah, senangnya!”

DEG. Sejak kapan Baekhyun pandai bermain-main dengan orang lain seperti itu? Tidak seperti Wheein, aku diperlakukan seperti nona manis di depannya. Aku jadi teringat perjalanan kami menuju ke toko kue baru-baru ini di mana dia berusaha melindungiku di dalam bis. Aku juga ingin diperlakukan seperti Wheein.

Lalu menit-menit selanjutnya kami menuju lantai 10 tempat ibu kandung Kai beristirahat dan di depannya, bibi dan Kai duduk sambil berbincang, menunggu Euijin eonni yang kemungkinan sebentar lagi sadar.

Jarak kami cukup jauh tapi mataku langsung bertemu dengan mata Kai begitu dia menyadari kehadiranku. Dia tersenyum sangat lebar dan berjalan menuju ke arahku, memelukku dengan erat. “Gomawo, kau sudah mau datang.”

Aku menggeleng cepat lalu kembali menatap Kai. Rasanya aneh tapi pikiranku kosong saat melihatnya. Aku tidak punya satu kata pun yang ingin kuucapkan padanya. Dia segalanya untukku tapi aku tidak bisa memberikan segala milikku untuknya.

Pandanganku beralih pada bibi yang sedang berbicara dengan Wheein. Mereka terlihat seperti saling mengenal karena mereka berbincang-bincang tanpa berhenti. Seakan tahu bahwa aku sedang bingung, Kai berkata, “Kau tahu kan, kalau kakak perempuanku sudah memiliki anak? Ternyata dokter anak yang menanganinya adalah Wheein. Ibuku sering pergi ke Rumah Sakit untuk menemaninya imunisasi, dari situlah mereka menjadi dekat.”

Aku mengangguk mengerti lalu tanpa perasaan apapun aku menggenggam tangan Kai. Aku jadi teringat pada bibi yang berkata padaku bahwa dia akan bertanggung jawab. Setelah itu aku bertanya padanya, apa maksud dari perkataannya. Tapi bibi malah menggeleng dan berjanji akan menceritakan semuanya padaku saat kami bertemu lagi.

Kali ini mataku bertemu dengan mata bibi. Dia tersenyum ke arahku sebelum bangkit dari tempat duduknya dan mendekatiku. Dia ingat akan janjinya. Aku tahu karena tiba-tiba dia berkata, “Kau mau mendengarkanku, kan?”

Kai menatap ibunya dengan tatapan bingung. “Apa maksud ibu? Ada apa dengan Taeyeon?”

Bibi mengangguk sebelum mendaratkan tangannya di rambut Kai. Seketika aku tahu apa yang dipikirkan bibi. Dia pasti berpikir betapa miripnya Kai dengan ibu kandungnya. Tatapan mata yang mereka berikan sama. “Ibu tahu bahwa kau benar-benar membenci Euijin. Tapi seharusnya kau membenciku, Kai.”

“Apa?” ucapku dan Kai bersamaan. Baekhyun dan Wheein yang sedari tadi mendengarkan ikut menunjukkan perasaan kaget mereka melalui ekspresi wajah mereka.

“Akulah yang telah membuat… Euijin berubah menjadi wanita yang dingin seperti sekarang. Semuanya salahku,” ungkapnya lalu menundukkan kepala. “Aku ingin menceritakan semuanya pada Taeyeon karena mungkin kau mengerti… Bagaimana perasaan yang dimiliki seorang kakak perempuan.”

Aku mengangguk pelan lalu bibi tersenyum. Dia menarik nafas panjang sebelum bertanya, “Lalu apakah kau tahu rasanya… Menjadi kakak yang gagal?”

Bagaimana rasanya menjadi seorang kakak perempuan yang harus selalu menjadi panutan bagi adiknya? Aku tahu bagaimana rasanya. Karena selama 22 tahun hidupku, aku menyandang status sebagai kakak dari Kim Yongsun, adikku Solar. Aku tidak tahu apakah keberadaanku penting baginya. Yang pasti jika aku tidak ada, maka dia pun tidak akan ada.

Sifat kami bertolak belakang. Berbeda denganku yang tenang dan selalu berkata dingin, Solar terkesan suka panik dan selalu memaksa apa yang dia mau. Di saat aku hanya diam mendengarkan perkataan orang tuaku, Solar sering kali memotong ucapan mereka. Aku terlahir sebagai anak yang pintar dengan prestasi yang tinggi, sedangkan Solar harus belajar tiga kali lebih keras untuk bisa menjadi seperti aku.

Saat papa menyuruh Solar untuk menjadi lebih seperti diriku –saat itu orang tua kami belum bercerai—rasanya aku sangat senang. Sebagai kakak, aku bisa menjadi contoh untuk adikku. Sebagai kakak, aku bisa selalu mengawasi dan menuntun perkembangannya. Aku tidak pernah sekali pun merasa gagal sebagai seorang kakak.

Lalu bagaimana rasanya jika seorang kakak gagal melaksanakan tugasnya?

“Ini kejadian saat aku duduk di bangku kuliah sedangkan Euijin di bangku SMA. Dia masuk ke SMA yang sama denganku dan berniat mengincar universitas yang sama denganku. Tapi kakekmu, Kai… Selalu merendahkannya dan berkata bahwa dia tidak akan berhasil jika sikapnya terus seperti itu,” ujar bibi. “Lalu saat itu kakekmu menyuruhnya untuk meniruku.”

“Aku benar-benar senang karena setelah itu dia selalu menempel padaku. Dia selalu berbicara padaku tentang sekolahnya serta guru-gurunya yang baik. Saat itu aku tahu bahwa dia telah berubah. Dia telah berubah menjadi anak yang benar-benar penurut,” lanjut bibi masih dengan wajah tertunduk. “Aku berpikir bahwa jika dia terus bersikap seperti itu, pasti masa depannya akan cerah.”

Kai mengangguk karena dia mengerti bagaimana rasanya memaksakan diri menjadi anak yang penurut agar orang-orang di sekitarnya menyukainya dan menghargai keberadaannya. Tiba-tiba Kai mempererat genggaman tangannya. Saking eratnya aku sampai merasa sakit.

“Lalu suatu hari dia pulang dari sekolah pada saat hari sudah larut. Saat itu kakek dan nenekmu tidak ada, jadi hanya ada aku sendirian di rumah. Yang mengejutkanku adalah dia pulang dengan pakaian yang berantakan serta beberapa memar di sekitar leher, bibir, dan tangan,” ungkap bibi lalu menatap Kai tajam. “Kau mengerti apa maksudku, kan?”

Tidak hanya Kai, tapi aku dan Wheein juga mengangguk. Memar di tiga daerah itu hanya bisa timbul jika kita melakukan hubungan intim dengan seseorang. Mungkin ini tidak penting, tapi aku jadi memikirkan Baekhyun yang tidak ikut mengangguk. Aku harap dia tidak memecah suasana dengan pertanyaannya.

Seketika air mata membasahi pipi bibi yang merona. “Aku benar-benar terkejut dan marah di saat yang sama. Dia berusaha menjelaskan padaku bahwa dia sama sekali tidak tahu apa yang dilakukannya karena dia dipaksa masuk ke sebuah kamar oleh wali kelasnya. Dia meminta bantuanku karena bisa saja dia hamil dan keadaan akan semakin buruk. Dia menangis padaku tapi… Tapi aku malah melemparkan kata-kata kasar padanya.”

“Apa?” tanya Kai seakan dia tidak percaya.

“Aku tahu, Kai. Aku salah. Dia langsung menatapku dengan pandangan kecewa. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar dan pergi membawa semua barang-barangnya. Dia tidak pernah kembali ke rumah sejak saat itu,” lanjut bibi. “Lalu beberapa setelah kejadian itu, wali kelas yang melakukan kekerasan seksual padanya ditangkap dan ditahan oleh polisi karena menerima laporan dari murid lain. Saat itu aku benar-benar menyesal.”

Kata-kata tidak sanggup keluar dari mulut bibi lagi. Bibi terjatuh sambil menutup wajahnya di lantai Rumah Sakit, menggeleng berkali-kali seperti tidak ingin mengingat kembali kejadian yang sudah berlalu.

“Aku mencari-carinya. Aku ingin minta maaf padanya. Beberapa tahun kemudian aku mendengar kabar bahwa dia tinggal di apartment tua yang jauh dari rumah setelah melahirkanmu,” ujar bibi yang masih berlarut dalam kesedihan. “Lalu beberapa bulan kemudian tetanggaku yang polisi memberitahuku bahwa dia sedang menampung anak laki-laki Euijin di rumahnya. Aku berpikir, itu dia. Itu adalah satu-satunya cara agar aku bisa bertanggung jawab. Jadi aku memutuskan untuk merawatmu.”

Kai melepas genggamanku dan tangannya beralih ke bahu bibi. Dia memeluk bibi dengan erat, seakan-akan ingin berkata padanya bahwa ini bukan salah bibi. Rasanya aku mengerti apa yang dirasakan bibi. Karena saat aku bertengkar dengan Solar pun aku merasa benar-benar menyesal dan ingin segera minta maaf.

Tiba-tiba lampu di atas pintu kamar tempat ibu kandung Kai dirawat menyala. Sekumpulan suster dengan seorang dokter segera menerobos masuk bersamaan dengan terdengarnya teriakan Euijin eonni. “Lepaskan aku!”

Baekhyun yang penasaran segera berlari masuk ke dalam. “Dasar… Dia masih ingin bunuh diri juga? Padahal susah payah aku menyelamatkannya!”

“Baekhyun, tunggu!” seru Wheein lalu dengan cepat dia menarik Baekhyun. “Kita serahkan pada dokter! Jangan remehkan mereka yang sudah ahli!”

“Tapi Wheein—“

“Lepaskan aku!” sosok Euijin eonni yang memberontak dengan kedua tangan ditahan keluar dari ruangannya. Yang membuat kami terkejut adalah dia sedang menangis. “Aku harus segera pergi dari sini, kau tahu!? Aku harus segera pulang!”

“Nona Euijin, tenanglah!” seru salah satu suster dengan kedua tangan berusaha membawa Euijin eonni kembali masuk ke dalam ruangannya.

“AKU HARUS SEGERA PULANG KARENA ANAK LAKI-LAKIKU MENUNGGUKU DI RUMAH! AKU HARUS MENYERAHKAN… MAINAN ITU PADANYA!”

Bersamaan dengan Kai yang bangkit berdiri, dokter menyuntikkan kembali obat bius padanya. Tapi kesadarannya masih tersisa sedikit, membuat Kai mendekatinya dan menyentuh bahunya. “Aku akan menggantikan anda… Menemui anak itu.”

Euijin eonni menatap Kai dengan tatapan bingung. “Benarkah? Kau akan melakukannya untukku? Apa kau tahu di mana aku tinggal?”

Kai mengangguk sebanyak tiga kali sebelum berkata, “Aku tahu… Di mana Jongin sekarang berada.”

Euijin eonni berhasil melepas salah satu tangannya dari cengkraman suster lalu menyentuh bahu Kai lembut. “Terima kasih. Kau benar-benar baik.”

Lalu yang terjadi selanjutnya adalah Euijin eonni kehilangan kesadarannya sehingga para suster dapat dengan mudahnya membawa masuk tubuhnya kembali ke dalam ruangan. Kai terus tersenyum menatap Euijin eonni yang tertidur dengan pulas itu.

“Tidak mungkin…” gumam bibi dengan nada lega.

Baik aku, Baekhyun, dan Wheein mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ingatan Euijin eonni telah kembali. Ingatannya yang telah terkubur dalam-dalam telah kembali. Jika sekarang waktu di 19 tahun yang lalu, dia pasti akan segera pulang dan menyerahkan mainan mobil hitam itu pada Kai.

“Dasar ibu bodoh… Seenaknya saja membuatku khawatir!” ucap Kai diikuti tawa yang benar-benar menjadi khasnya. “Dia memang… Orang yang pantas untuk dibenci, ya?”

Mata Kai bertemu dengan mataku. Aku menggeleng sambil menahan tangisku. Aku tahu dia berkata seperti itu karena dia tidak ingin menunjukkan kebahagiaannya. Dia telah melihat sosok ibu kandungnya yang benar-benar khawatir pada dirinya saat kecil. Tidak ada hal yang lebih menggembirakan dari itu.

“Saya membutuhkan data pasien secepatnya,” ujar sang dokter yang sedari tadi kehadirannya tidak kami sadari lalu bibi bangkit berdiri. “Apa anda keluarganya?”

Bibi mengangguk mantap. “Saya kakaknya.”

“Baiklah, tolong ikut dengan saya,” sahut sang dokter kemudian bibi mengangguk.

Kai menatap bibi dengan tatapan penuh kasih sayang seakan ingin mengatakan terima kasih. Tiba-tiba bibi menggenggam tangan Kai dengan hangat. “Kai, aku tahu bahwa selama ini kau berusaha untuk menjadi anak baik agar tidak mengecewakan aku dan ayahmu. Aku benar-benar senang tapi terkadang aku merasa sedih karena kau tidak bisa menikmati hidupmu.”

“Apa maksud… Ibu?”

“Maksud ibu, setelah ini jalanilah hidup seperti yang kau inginkan. Tidak perlu berpura-pura lagi. Aku rela dengan apapun keputusanmu setelah ini,” bibi mengacak rambut Kai yang diraihnya dengan susah payah. “Kau… Kubiarkan bebas mulai sekarang.”

Kami memandang bibi yang pergi mengikuti dokter dengan tatapan penuh arti. Keheningan dipecah oleh Baekhyun yang bertanya, “Apa maksud bibi? Apa maksudnya membiarkan Kai bebas?”

Wheein mengangkat bahunya. Bersamaan dengan itu, Kai menarik tanganku ke arah yang berlawanan dari arah bibi pergi dan membawaku pergi menjauhi Baekhyun dan Wheein. Kami terus pergi menjauh sampai pada akhirnya aku hanya bisa melihat Wheein yang menahan Baekhyun agar tidak mengikuti kami. Akhirnya aku tahu apa yang akan dilakukan Kai. Dia ingin menyampaikan sesuatu padaku. Sesuatu… Yang akan sangat menyakitkan hatiku.

.

.

.

.

.

            Kai terus menggenggam tanganku meski kami sudah tiba di tempat yang menurutnya pas untuk saling berbicara. Kami berada di danau di belakang Rumah Sakit, di mana banyak pasien yang sedang bersantai menikmati pemandangan. Kebun bunganya sangat indah dan pengunjung yang masih anak-anak bermain di sekitar air mancur.

Rasanya tidak bisa dipercaya Rumah Sakit memiliki tempat seindah ini. Mereka berusaha membuat pasien mereka betah selama menajalani perawatan. Tapi tetap saja tempat yang paling menyenangkan dan menenangkan adalah saat kau berada di dekat orang yang kau sayangi. Setidaknya itu yang kupikirkan.

“Ibuku…” ujar Kai memulai pembicaraan setelah kami lama terdiam. “Ah, maksudku ibu yang sudah merawatku selama ini.”

“Iya,” sahutku lalu mengangguk. Sudah kuduga dia ingin membicarakan sesuatu. Hatiku terus merasa cemas, aku tidak siap untuk mendengar apapun yang akan keluar dari mulutnya.

“Ada-ada saja, ya. Aku tidak tahu apa yang beliau pikirkan,” kata lanjut Kai lalu dia tertawa kecil. “Dia pikir aku akan pergi.”

Aku mengangguk sekali lagi. Saat Euijin eonni keluar dari ruangannya, bibi tidak menatap adiknya tersebut. Beliau malah menatap Kai yang berdiri kaku seperti patung. Bibi pasti mengiranya sebagai sebuah pertanda bahwa sebentar lagi Kai akan pergi dari hidupnya.

“Padahal aku masih punya segudang pekerjaan,” lanjut Kai. Tangannya yang tidak menggenggam tanganku menyentuh batang pohon yang ada di sebelahnya. “Setelah ini filmku akan tayang dan aku harus menghadiri premiere. Aku juga masih ada pesta perpisahan dengan para kru.”

Kai terus tersenyum seakan ini bukan masalah besar. Dia masih meneruskan aktingnya. Aktingnya untuk tidak membuat orang-orang di sekitarnya khawatir. Padahal bibi sudah bilang bahwa dia tidak perlu berpura-pura. Mengapa dia masih meneruskannya?

“Lalu sebentar lagi kontrak Skellingtonmu akan selesai. Itu berarti kau akan menghabiskan banyak waktu bersamaku,” ucap Kai. “Kita bisa pergi kencan lagi. Atau berwisata ke Eropa yang selalu kau idam-idamkan. Ayo kita buat kenangan sebanyak mungkin—“

“Kai, cukup,” sahutku. Aku melepas genggaman tangannya dan Kai tidak bereaksi apapun. Meski aku menangis, air mataku sudah membasahi pipi, dia masih tidak merespon apapun. Sampai aku berkata, “Kau boleh… Pergi ke Busan bersama Euijin eonni.”

Mata Kai membulat seakan tidak percaya apa yang baru saja aku katakan. Kami kini saling berhadapan tapi mata kami tidak bertemu. Kami terus menerus menatap ke bawah, ke rerumputan. “Taeyeon…”

“Kau… Ingin menemaninya ke Busan sampai akhir hayatnya, kan? Aku mengerti. Pergilah, Kai. Aku… Tidak akan menahanmu,” aku tidak percaya aku mengatakan ini. Tapi aku tidak merasakan rasa penyesalan sedikit pun. Aku yakin ini adalah yang Kai inginkan. Ini adalah yang kuinginkan. Sebagai pacarnya aku harus bisa mendukungnya. “Lalu ajaklah aku… Bersamamu.”

Kai mengusap air mataku perlahan dengan jari-jarinya. “Terima kasih… Sudah mengerti, Taeyeon. Tapi kau tidak kubiarkan ikut denganku.”

“Apa?” balasku tak mengerti. “Kenapa—“

“Karena kau masih punya Baekhyun. Dan adikmu, Solar.” Kai menghela nafas panjang. “Solar pernah bilang bukan, kalau kita harus bisa memaafkan orang lain? Awalnya kupikir itu hal yang mustahil. Tapi akhirnya aku mengerti apa maksudnya… Dan bagaimana cara melakukannya.”

Aku merapatkan bibirku rapat. Tapi aku tidak tahan untuk bertanya, “Bagaimana?”

“Kita harus… Jatuh cinta dengan orang itu,” ujar Kai lalu dia tertawa. “Aku menyadarinya saat melihat kau dan Baekhyun. Akhir-akhir ini kau sering mengkhawatirkannya, sering menatapnya dengan tatapan kasih sayang. Saat itu aku sadar… Bahwa kau jatuh cinta sekali lagi dengan Baekhyun.”

“Apa?” gumamku tak percaya. Jadi inikah jawabannya? Apa yang kurasakan selama ini… Adalah perasaan cinta? Aku jatuh cinta dengan Baekhyun? Apa di mata orang lain aku terlihat seperti itu? Apa yang sudah kulakukan? Itu sama saja dengan aku mengkhianati Kai.

Itu sebabnya Wheein sering mengejekku. Dia menyebut Baekhyun sebagai pangeranku saat dia datang pagi ini. Jadi bukan hanya Kai, tapi Wheein juga mengetahuinya. Dia tahu apa yang kurasakan pada Baekhyun adalah perasaan cinta. Dia tahu sebelum aku menyadarinya sendiri.

“Kai, maafkan aku. Aku—“

Kai menggeleng cepat. “Tidak ada yang salah dengan itu, Taeyeon. Karena aku juga melakukan hal yang sama denganmu.”

Kali ini aku semakin tidak mengerti. Dia berkata bahwa jatuh cinta dengan Baekhyun itu bukan tindakan yang salah. Lalu apa maksudnya dia telah melakukan hal… Yang sama denganku? “Apa maksudmu?”

“Aku juga… Sudah jatuh cinta sekali lagi dengan ibu kandungku,” ungkapnya jelas. “Saat aku melihatnya sadar pagi ini dan dia berteriak bahwa dia ingin segera pulang… Rasanya aku ingin memeluknya. Aku ingin bersamanya. Aku ingin membahagiakannya. Bukankah itu yang disebut perasaan cinta?”

Apa yang dikatakan Kai memang benar. Saat Baekhyun mengatakan hal-hal manis padaku, aku ingin memeluknya. Saat dia berkata bahwa dia ingin mencoba transportasi umum seorang diri, aku ingin bersamanya. Saat mengetahui bahwa dia sebuah Skellington gagal yang pada akhirnya harus menghancurkan diri, aku ingin membahagiakannya.

Kenapa selama ini aku tidak menyadarinya? Aku jatuh cinta dengan Baekhyun. Untuk kedua kalinya. Ada pepatah di laut timur yang mengatakan bahwa cinta datang bagaikan badai. Akulah contoh nyata dari pepatah itu.

“Lalu Taeyeon… Kau belum menjawab apakah kau ingin menikah denganku atau tidak,” lanjut Kai membuat mulutku terbuka lebar tapi Kai langsung menutupnya dengan tangan kirinya. “Tunggu. Aku belum selesai. Aku ingin mengatakan bahwa, tunda saja jawabanmu. Karena sebentar lagi kita akan berpisah.”

Air mataku menetes semakin deras saat Kai mengucapkan kalimat itu. Aku tidak ingin berpisah dengannya. Tidak ingin. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa Kai. Dia selalu ada di dekatku kapan pun aku membutuhkannya.

“Taeyeon, perpisahan bukanlah akhir dari segala-galanya,” ujar Kai. “Perpisahan ini hanya sementara. Kita pasti akan bertemu lagi.”

“Kapan?” tanyaku cepat. “Kapan kita akan bertemu lagi?”

Kai tersenyum sebelum menarikku ke pelukannya. “Saat kita sudah siap untuk melupakan orang yang kita cintai. Aku akan kembali padamu… Setelah aku menerima kematian ibu kandungku dengan lapang dada. Jadi… Kau mengerti maksudku, kan? Kau mengerti apa yang harus kau lakukan, bukan?”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi tapi pada akhirnya aku mengangguk. Rasanya mungkin hari-hariku setelah ini akan menyakitkan. Aku akan bertemu Kai lagi jika aku sudah siap untuk memaafkan Baekhyun. Begitu juga dengan Kai. Dia akan kembali padaku jika dia sudah bisa memaafkan ibu kandungnya.

“Baiklah,” ucapku setelah keheningan menyelimuti kami selama beberapa saat. “Tapi berjanjilah padaku bahwa setelah ini… Kau akan hidup dengan teratur, makan semua makanan yang ada, rawatlah dirimu dengan baik, jangan sering keluar malam-malam… Lalu berikan aku kabar terbarumu jika ada.”

Kai mengangguk. “Iya. Aku janji.”

Aku menangis. Lalu Kai juga menangis. Tapi air mata yang keluar dari mata Kai sedikit berbeda dengan air mataku. Air matanya adalah kumpulan perasaan kesal, sedih, marah, dan benci yang selama ini dia tahan. Dan aku merasa terhormat menjadi orang yang bisa menerima semua itu saat dia mengeluarkannya.

Kai menciumku lembut. “Terima kasih… Taeyeon.” Lalu aku memeluknya erat, seperti aku tidak akan bisa memeluknya lagi selama hidupku.

BERSAMBUNG

It’s near the end, it’s near the end! Oh my God, I can’t believe this is happening! Part selanjutnya berisi hal yang dari dulu kalian minta: Baekyeon moment yang sangat banyak!

Jangan lupa inggalkan komentar di setiap part agar kalian bisa dapat password untuk part terakhir. Terima kasih sudah membaca, sampai jumpa di part 24~

Part 24 will be published May 14th 2016

Advertisements

55 comments on “Skellington [Part 23]

  1. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s