[FREELANCE] Moonlight (Chapter 6)

moonlight

[Freelance] Moonlight Chapter 6

Author: Alicya V Haiyeon

Rating: PG-16

Lenght: Multichapter

Genre: School Life, Romance, Family

Main Cast: Kim Taeyeon

Xi Luhan

Support Cast: Temukan sendiri.

Disclaimer:

This is just a FanFiction. All the cast it’s belong to God, them selves and the parents.

Please, don’t be a Plagiator.

Author Note:

Jika ada kesalahan, mohon komentarnya. Karna komentar anda semua yang bisa menentukan

FF ini dilanjut atau berhenti di tengah jalan. Typo dimana-mana. Thankyou.

Preview: Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5

***

 

 

“wae?”

Luhan tersenyum tipis dan kembali berpaling menatap ke arah lain, ah mereka masih di atap sekolah. Tentu saja. Dan kenapa luhan tersenyum? Ayolah ini sudah masuk jam ke 3 pelajaran, itu artinya di kelas luhan sedang ada pelajaran dengan song seongsangnim, dan ingat? Luhan dan song seongsamnim tidak pernah akrab, dan ah Luhan bahagia karna ia bolos dari jam pelajaran matematika itu. Jujur saja, luhan mulai muak dengan ocehan nya yang tak pernah percaya dengan nilai ulangan Luhan.

“kenapa kau tersenyum seperti itu?”

Taeyeon yang duduk diam di samping Luhan hanya mengangkat alisnya aneh, sikap aneh Luhan kembali kumat dan ini benar-benar menyiksa taeyeon. Oh ayolah, senyuman Luhan benar benar membuat jantungnya ingin keluar dan menertawakannya yang terpesona hanya melihat Luhan tersenyum dari samping.

“anieyeo, keunyang…” luhan berbalik dan menatap taeyeon disebelahnya “kita bolos, dan aku bahagia”

“apa kau benar-benar siswa berprestasi? Ah aku bahkan tak lupa jika kau mengajariku matematika”

Luhan cemberut dan menatap taeyeon jengkel “yah, jangan mengataiku, ahhh kau mulai sama dengan song seongsamnim eoh!”

“song seongsamnim annyeonghaseo” Taeyeon menatap jauh kearah punggung Luhan dan membungku sopan membuat Luhan tertawa keras “kau mengerjaiku? Mana mungkin pria jahat itu datang kemari? Seberapa besar cintanya padaku sampai ia kesini untuk mencariku huh?”

“aku benar-benar mencintaimu Xi Luhan!”

Luhan membeku, itu bukan suara taeyeon, dalam hitungan detik, luhan berbalik dan mendapati seorang pria dengan style gurunya tengah berdiri dengan angkuhnya dibelakang Luhan dan menatap luhan dengan tatapan membunuhnya “APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI EOH?”

“chogi… aku…” ayo berfikir luhan, bagaimana bisa pria ini mempercayaimu jika kau terus saja terlihat bodoh di hadapannya “ahhh aku mengajarkan Kim taeyeon tentang pelajaran semalam yang ia lupakan! Aku guru privatnya!”

Song seongsamnim tertawa “jinjja? Apa kalian pacaran disini? Wahhh saya bahkan tak lupa dengan kata kata anda Xi Luhan bahwa aku telah mewarnai hidupmu hanya karna aku menyuruhmu menjadi guru privat Kim Taeyeon”

Baiklah, saat ini Luhan benar benar ingin membungkam mulut pria tua itu yang dengan seenak hatinya membuatnya malu di depan taeyeon, bagaimana jika taeyeon jadi ilfeel padanya? “aniya, taeyeon-ah. Jinjja!”

Taeyeon hanya terdiam melihat perdebatan sengit antara Luhan dan Song seongsamnim hingga pemenang sesungguhnya keluar, yah song seingsamnim keluar sebagai pemenangnya dan berakhir dengan Luhan dan taeyeon yang sudah terduduk dengan malasnya di halaman belakang sekolah, hukuman karna ketahuan membolos.

“ahh aku kira kau hanya bercanda”

Taeyeon hanya diam, jujur saja. Ia sebenarnya mulai menikmati hari dan waktu yang ia lewati bersama Luhan. Sekalipun di kelas, tak ada siapapun yang berbicara dengannya. Tak masalah jika ia dihukum. Jika luhan berada di sampingnya ia akan merasa aman, dan yang pasti kata sendiri menjauh darinya di saat yang sama.

“ahhhh! Aku benar-benar frustasi”

Luhan berteriak histeris, ia paling malas berada di taman ini, alasan pertama karna cuaca panas dan alasan kedua, karna Luhan takut, ia takut sebentar lagi akan istirahat makan siang, dan tentu saja taman ini akan ramai seketika, jangan lupaka bahwa Luhan benar-benar tak suka keramaian.

Deringan ponsel yang berada di tas taeyeon berhasil mengintrupsi mereka berdua, hingga Luhan dan taeyeon sama sama berhenti mencabut rumput dan menatap ponsel yang baru saja taeyeon keluarkan dari dalam tasnya horor. Taeyeon takut jika yang menelpon oppanya. Namun ternyata…

“lay? Nugunde?” tanya Luhan yang berusaha mendekat untuk melihat layar ponsel taeyeon, mereka terduduk di rerumputan tanpa peduli seragam mereka yang akan terlihat kumal setelah, masa bodoh dengan seragam. Luhan hanya penasaran dengan Lay. Dan siapa itu Lay?

“mwoya igeo? Video call huh?” Luhan mulai menatap taeyeon sengit.

Tanpa memperdulikan Luhan, taeyeon mengangkat ponselnya dan menatap layar ponselnya dengan penuh minat “lay!!!” teriaknya. Bahkan Luhan yang berada di samping taeyeon pun terlonjak kaget, yeojja ini bisa berteriak hanya karna pria bernama lay itu? Batin luhan kesal.

Terlihat seorang pria di layar sana tengah tersenyum dengan lesung pipitnya, terlihat manis, dan sialnya Luhan mengakui bahwa Lay benar-benar mempesona, apa dia pacar taeyeon? Bukankah taeyeon bilang padanya ia tak punya namjachingu?

“annyeong taeyeong-ah! Wah apa yang kau lakukan ditempat hijau itu? Kau sendirian? Tidak belajar huh?”

“woahhh bahasa koreamu boleh juga, sudah lumayan! Kau tak lihat? Aku dihukum!” taeyeon hendak menjawab pertanyaan lay yang bertanya tentang ia sendiri dan taeyeon melirik Luhan yang menatapnya dengan kesal tepat disebalhnya, bedanya Luhan tak masuk ke dalam kamera depan taeyeon hingga lay tak bisa menatapnya.

“kurasa saat ini aku sendiri” dan tebak bagaimana reaksi Luhan? Ia melongo kaget dan hendak berdebat dengan taeyeon, namun ia urungkan saat taeyeon menyambung kalimatnya. “aniya, aku dengan pria bodoh disini yang terus saja menekuk wajahnya saat ponselku berdering!”

Luhan tersenyum puas dengan jawaban taeyeon dan usilnya ia mencabut rumput liat dan mengarahkannya ke kamera taeyeon. “pria bodoh yang kau maksud rumput? Apa otakmu bergeser taeyeon-ah!”

“aniiiiii!” elak taeyeon “yakkk Xi Luhan! Hajima!”

“andweee! Selesaikan telponmu dan kita lakukan hukuman ini! SEGERA!” tekan luhan. Ia tak sanggup lagi melihat taeyeon yang tersenyum manis untuk lay disana, tidak tidak. Kalian bisa bilang bahwa Luhan cemburu karna pada kenyataannya memang begitu, ia cemburu, sangat cemburu!

“apa dia pacar mu eoh? Obsesive sekali!”

“ani! Na keunnaseo, annyeong!” taeyeon melambaikan tangannya kerah kamera dan menutup ponselnya, memasukkan benda persegi itu kedalam tas.

Taeyeon mengangkat wajahnya dan mencari kemana Luhan pergi. Yang taeyeon ingat pria itu berdiri dan pergi meninggalkannya saat ia akan memutuskan ponselnya dengan Lay tadi. Hingga botol mineral dingin mengejutkannya. Botol yang sengaja di tempelkan Luhan ke pipi taeyeon. “yah! Dingin!”

“dingin eoh? Jika kau biarkan botol ini dibawah sinar matahari berlama-lama  ia akan menghangat dan dinginnya akan berkurang! Dan kau…”

Taeyeon menatap Luhan bingung “apa hubungannya aku dengan botol minuman ini?”

“kau itu dingin! Sangat dingin! Bagaimana bisa, aku selalu berlama-lama dengan mu tapi kau sama sekali tak pernah menghangat padaku, ahhpernah sekali kurasa!”

“jadi? Kau tak mau berteman dengan ku lagi? Arraseo!” uajr taeyeon pelan. Ah taeyeon merutuki kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya, bagaimana jika Luhan benar-benar meninggalkannya? Pabboya!

“anieyeo! Aku…”

 

“sunbae!”

 

Luhan dan taeyeon berpaling dan menatap yeojja dengan senyum manisnya menatap Luhan dan taeyeon bergantian. Taeyeon tau siapa yeojja itu, dan ah senyuman busuk itu membuatnya mual. Taeyeon berdiri dan hendak meninggalkan Luhan, namun tangan Luhan mencegahnya hingga Taeyeon menatap Luhan sengit “wae? Bicaralah dengan ‘dia’ aku akan pergi!”

“shireo!”

Namun dengan tegasnya, taeyeon menghempaskan tangan Luhan, membuat Luhan membelalakkan matanya kaget “yah taeyeon-ah!” teriaknya.

“chogi…”

“wae? Ahhh kau datang disaat yang tidak tepat nana-ssi! Na kalke!” ujar Luhan ketus dan mulai berlari meninggalkan Nana menyusul taeyeon yang menghilang dibalik kerumunan orang orang. Luhan baru menyadari jika sekarang sudah waktunya istirahat.

“keurae? Apa kau akan mengejarnya jika kau tau bahwa yeojja jalang itu…. biang masalah di dunia ini!” seru nana kesal, ia ditinggalkan Luhan. Dan yang lebih menyakitkan lagi, nada suara Luhan padanya beberapa saat yang lalu sangat ketus, dan yah belum lagi dengan fakta bahwa Luhan mengejar taeyeon.

Dengan gerakan cepat, nana meraih ponselnya dan menelpon seseorang, seseorang yang ia panggil dengan nama…

“Kim Bum Oppa!”

 

***

 

Taeyeon melangkah dengan pelan hendak keluar dari kelasnya, jam pelajaran sudah berakhir beberapa menit yang lalu, tapi selalu begini. Taeyeon akan membiarkan teman ahh bukan siswa yang satu kelas dengannya pulang lebih dahulu. Pernah saat itu taeyeon ingin pulang lebih awal, saat ia berdiri, bahkan tak ada satu orangpun di kelas ini yang mau keluar bersamanya, mereka hanya duduk diam dan taeyeon rasa kalimat kutukan mereka tujukan untuknya. Maka mulai dari hari itu, taeyeon selalu menunggu semuanya keluar atau setidaknya bersisa beberapa orang di kelas baru ia melangkahkan kakinya keluar kelas.

Langkahnya terhenti saat ponsel yang berada di genggamananya berdering singkat, ada pesan masuk. Taeyeon menaikkan alisnya heran saat membaca pesan yang ternyata dari Luhan, ah pria itu terus saja merajuk padanya dan bertanya siapa Lay hingga jam pelajaran mulai dan mereka berpisah.

“masih ada yang kurang kau pahami soal matematika? Ah song seongsamnim mencabut izin mengajarku! Aku tak bisa mengajarmu lagi TT”

Taeyeon tersenyum singkat saat beberapa saat ia membaca pesan Luhan, wajah Luhan yang tengah merajuk terbayang di ingatannya.

“arraseo, neo chigeum eodinya?” balas taeyeon, yah singkat dan terkesan tak peduli, tapi kalian lihat bukan? Tadi taeyeon tersenyum hanya karna membaca pesan luhan. Ia hanya masih menjaga egonya yang masih ingin terlihat tak peduli pada Luhan, pria yang menemainnya akhir akhir ini. Apa boleh taeyeon menyebutnya teman? Ah jujur saja taeyeon bahkan ingin menyebutnya lebih dari sekedar teman, bukan saudara tapi….

“KIM TAEYEON! CHOGIE CHOGIE!!!”

Taeyeon yang baru saja melewati lapangan basket indor yang berada di tengah antar jalan ke kelasnya dan jalan ke koridorpun menoleh saat suara yang ia kenal, baiklah. Itu suara Luhan. Dan pria itu dengan senyum lebarnya melambaikan tangannya dan sedikit lompat lompat di tengah lapangan menatap taeyeon.

“apa yang kau lakukan disana?”

“AKU TIDAK MENDENGAR MU! PALLIWA!”

“shireo!” baiklah, taeyeon bodoh atau apa? Ia ingin Luhan mendengarnya tapi ia sama sekali tak ingin berteriak. Lelah mungkin? Ah bukan bukan. Taeyeon hanya tak suka berteriak.

“MWOYA?” teriak Luhan

Taeyeon yang mulai kehabisan akal mengambil ponselnya dan menghubungi Luhan, hingga ia melihat senyum kecil Luhan saat mengangkat telpon darinya.

“na shireonde! Na kalke, annye….”

“chankammannyeo! Wae? Neo eodi? Jinjja! Semua orang sudah pulang, jika yang kau takutnya siswa dengan perilaku tak bermoralnya maka lupakan, saat ini sekolah ini milik kita, ah bukan…. sekolah ini hanya ada kita berdua, astaga aku melupakan satpam di luar dan song seongsamnim yang baru saja berlari melintasi lapangan ini ke kantornya!”

Taeyeon menggeleng “na jinjja shireo! Na ka…”

“jika kau pergi aku akan mengejarmu dan menciummu! Kau tau kan? Aku banyak menonton drama… dan yah adegan seperti itu sangat banyak di drama. Kurasa tak masalah jika aku mempraktekkannya padamu, otte?” terlihat Luhan di tengah sana tengah tersenyum dengan jahilnya melihat taeyeon yang mendadak panik seketika, dengan pasrah taeyeon menutup ponselnya dan berjalan pelan… sangat pelan hingga Luhan mendengus kesal.

“woah kau berbakat memainkan peran di drama…. sebagai siput yang lambat” sindir Luhan saat taeyeon baru saja berdiri dihadapannya.

“arraseo, mian”

Luhan mengelap mukanya dengan kedua telapak tangannya “taeyeon-ah, bagaimana bisa kau menjadi yeojja tanpa selera humor? Jinjja!”

“aku rasa… “ taeyeon terlihat berpikir keras sebelum sebuah alasan yang terdengar sangat logis muncul di dalam benaknya “humor dan aku tak bersahabat!”

“omongan macam apa itu?” Luhan segera meraih bola basket yang ia abaikan beberapa menit yang lalu. “aku kehilangan teman bermainku, mau bermain denganku?”

“nugu? Shireo!”

“Park Chanyeol! Dia sibuk dengan soojung. Dan kau tau? Saat di kelas ia sering menghilang karna ingin melihat bagaimana soojung melewati hari pertamanya di kelas, dan heol…” Luhan mengambil nafas sejenak dan mulai melempar bola dengan asal ke arah ring, hingga bola tersebut masuk dengan tepat ke arah Lubang dengan jaring-jaringnya itu.

“apa ada kalimat lain selain shireo? Seperti…”

“aku tidak bisa?” tanya taeyeon dengan nada ragu

“ani, bogoshipeo, saranghae… kurasa itu lebih baik jika kau mengucapkannya lebih sering”

“orang akan mengira aku gila!”

“padaku saja! Jangan dihadapan orang lain!”

Taeyeon mengangkat alisnya bingung, namun kebingungannya hilang saat bola basket itu terlempar kearahnya, untung saja taeyeon mempunyai gerak reflek yang baik. Baiklah gerak refleknya memang baik, tapi taraf kepekaannya benar-benar sangat miris. Ia bahkan dengan santainya merebahkan badannya di tengah lapangan dengan bola yang ia letakkan di sampingnya. Membuat Luhan melongo, ia berencana mengajak Taeyeon bermain bola basket, kenapa ia malah tidur disana.

Pasrah, Luhan berjalan mendekat dan menidurkan dirinya dengan posisi terlentang menatap langit langit ruangan itu. Jangan lupa jika mereka berada di ruanagan indor, hingga yang namanya panas, musuh bebuyutan luhan tak akan menganggunya kali ini.

“kenapa kau tak ikut tim basket?”

“wae? Agar aku terkenal? Percayalah bahwa aku sama sekali tak suka di kerumuni oleh orang-orang… kau tau… trauma” ujar Luhan dan penuh penekanan di kalimat terakhirnya.

“wae?”

Luhan menghembuskan nafas nya pelan. “kau curang! Kau mengetahui tentangku, kenapa aku tak tau apa apa tentang mu!”

“kau tau aku anak haram” jawab taeyeon asal dan berhasil membuat Luhan membalikkan kepalanya menatap taeyeon “hajima! Jika kau bicara itu aku… ah sudahlah padahal aku ingin mengajakmu main basket, tapi jika kau ingin tau traumaku… baik akan ku ceritakan”

“andwe, kau akan menangis lagi nanti, na shireo!” tolak taeyeon, memiliki ingatan yang kuat akan sesuatu hal dan sulit dilupakan memang membuat taeyeon agaknya masih sedikit takut, ia ingat bagaimana nyeri di dada nya hanya karna melihat orang menangis. Baikla, selama ia tinggal di China, taeyeon hanya bermain dengan bibi yang membersihkan rumahnya, guru privatnya dan jangan lupakan lay. Ketiga kandidat itu tidak pernah menangis dihadapan taeyeon, dan taeyeon baru saja ingat bagaimana caranya menangis ketika ia menonton movie, hanya ingat. Bukan mempraktekkan. Karna ia tak tau, mana hal yang paling menyedihkan dalam hidupnya yang pantas ditangisi. Bahkan taeyeon ingin mencemooh hidupnya sendiri, hidupnya bahkan sangat menyedihkan! Hingga ia tidak tau mana yang paling menyedihkan karna semuanya sama. Oppanya yang menjauh, fakta bahwa ia anak haram, tidak punya teman, dan ah taeyeon bahkan tau soal ayahnya kadungnya. Bagaimana ia bisa tau? Nana lah yang membuatnya tau, nana nana nana!!!

“waeyeo? Kau tak penasaran dengan traumaku? Tak masalah jika kau belum mempercayai ku. Aku tau kita baru saja berteman, mungkin sudah…” Luhan menghitung jarinya dengan polos “aku tak ingat” dan berakhir dengan cengirannya. “semua orang penasaran dengan traumaku!” tukas Luhan mencoba mengalihkan pembicaraan.

“aku tidak!” tolak taeyeon lagi, baiklah ia masih bersikukuh dengan tingkat ke kerasan kepalanya.

“keurae?” lagi Luhan membalikkan kepalanya menatap taeyeon yang juga tengah terbarik menatap langit-langit atap dengan tatapan kosongnya “neo gwenchana?” hidung yang tak terlalu mancung, mata indahnya yang selalu terlihat menarik untuk Luhan, kulitnya yang pucat, dan bibirnya yang manis itu.

Taeyeon membalikkan kepalanya menghadap Luhan. Gelengan ia berikan dan matanya menatap lurus ke mata luhan, sangat lurus. Mereka bertukar tatapan, dan berusaha menyelami tatapan masing masing. Jarak yang tak terlalu jauh membuat Luhan, kembali bisa menatap kepedihan yang mendalam di mata itu.

“apa hidupmu semenyedihkan itu?” bisiknya pelan. Baik, Luhan tak mengharapkan jawaban dari taeyeon, bahkan hanya melihat matanya saja Luhan tau bahwa yeojja itu benar benar…

Luhan membelalakkan matanya saat taeyeon lagi lagi mengangguk kan kepalanya pelan, tak ada kata yang keluar dari mulutnya, namun dengan anggukan kepala saja sudah membuat Luhan bahagia, taeyeon sudah mulai membuka dirinya untuk Luhan. “himnaeseyeo!”

“gomawo” balas taeyeon, sangat pelan bahkan terdengar seperti hembusan angin yang sangat pelan.

“mwoga?”

“kau sudah membuat salah satu masalah hidupku menghilang, gomawo Luhan-ah”

Luhan-ah? Luhan-ah? Luhan mengulang kata kata itu di dalam hatinya. Taeyeon memanggilnya Luhan-ah! Perngorbanannya mendekati taeyeon ternyata sudah mulai membuahkan hasil. “aku tak punya teman selama aku disini, dan berkat kau… kurasa aku mulai merasakan enaknya sekolah”

“sstttttt, jangan bicara begitu! Sejujurnya aku juga kurang suka sekolah, kau tau… sekolah ini ramai, dan aku tak suka tempat ramai, tanganku akan dingin saat aku berada di tempat ramai, dan kau ingat saat di taman? Aku baru pertama kalinya semenjak sekolah menengah atas ke sana, karna kau. Kau disampingku dan entah kenapa membuat rasa takutku hilang” tutur Luhan “aku hanya ingat saat hari dimana ayahku kecelakaan, kau tau? Semua wartawan mengerumuniku, dan bertanya dengan ahhh seperti sesuatu yang besar tak terjadi padaku, aku yang hanya berusia 6 tahun tak bisa menerobos kerumunan itu hanya untuk melihat ayahku hidup atau mati”

“mianhae”

“wae? Ahhh kau jangan sering mengucapkan gomawo mianhae padaku, aku jadi teringat gendre romance dan ahh darama yang banyak kalimat gomawo dan mianhae yang aku tonton itu berakhir dengan sad ending! Ingin rasanya aku menjambak rambut writer nimnya! Aigooooo”

Taeyeon menghembuskan nafasnya, baiklah bukan Xi Luhan namanya jika ia berlama-lama berdiam di suasana menyedihkan yang baru saja ia buat, ia menceritakan masa lalu dan taeyeon tau, tatap takut Luhan masih terseimpan rapat di mata itu, masih.

“tak semua yang kau inginkan berakhir dengan happy ending Xi Luhan!”

“oooh ohhh kau mulai mendebatku lagi eoh? Aku sudah happy ending!”

“kurasa happy ending cocok dengan mu dan sad ending cocok untukku, kau puas?”

“shireo! Kita berdua harus berakhir happy ending!!! Harus!” tekan Luhan, dan tiba tiba niat jahil Luhan kembali “dan sekarang aku Lihat? Kita terlihat seperti sepasang kekasih yang menghabiskan sisa waktu di sekolah bersama, basket, dan kau. Woah ini benar benar membuat ku merinding”

“XI LUHAN! KIM TAEYEON! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SANA?”

Senyuman Luhan mendadak luntur saat suara itu memasuki gendang telinganya, suara siapa lagi, guru yang tadi pagi bilang bahwa ia mencintai Luhan dan kata sangat terngiang ngiang di telinga Luhan “waeyeo? Aku tidak membolos lagi! Dan apa? Nilai ulangan ku tinggi lagi? Kenapa kau tak pernah sekali saja…”

“YAK XI LUHAN! INI SUDAH SORE! KALIAN BERDUA PULANG ATAU AKU AKAN MENGUNCI KALIAN DI DALAM RUANGAN INI SAMPAI BESOK!”

Luhan bangun dari tidurnya diikuti taeyeon, seperti bocah kecil. Luhan menghentak hentakkan kakinya berjalan keluar, saat sampai di depan pintu, dimana pria tua itu berdiri Luhan berhenti sebentar, namun taeyeon berlalu dan memilih berjalan dahulu “aku lebih suka opsi kedua seongsamnim, na kalkeyeo. Annyeong”

“XI LUHAN! KAU SANGAT TAK SOPAN PADA GURUMU!”

Luhan yang berjalan menajuh melambaikan tangannya “kenapa kau selalu berteriak padaku eohh?”

 

***

 

“ini bahaya Kim Kibum!”

Kimbum yang masih sibuk dengan berkasnya mendongkaknya kepalanya menatap Heechul yang baru saja masuk ke ruangannya dengan tatapan serius, membuat kimbum penasaran dan menatap Heechul meminta jawaban lebih.

“lihat ini!”

Heechul melempar ponselnya ke hadapan kibum, kibum yang penasaran pun melihat apa yang ada di dalam ponsel pria itu dan menatap datar layar ponsel itu. Seorang namja dengan yeojja yang tadi pagi ia lihat. Berjalan dengan beriringan dengan pria tersenyum manis dan yeojja disebelahnya, terlihat membelalakkan matanya karna kesal. Yah kedua orang di dalam foto itu terlihat seperti baru pulang sekolah.

“apa masalahnya?” tanya Kibum cuek, jujur saja ia sedikit waswas saat melihat Luhan tadi pagi di sekolah, rasanya ia pernah melihat namja itu, entah dimana dan entah kapan.

“adikmu berteman dengan pria jadi jadian, bagaimana bisa dia terlihat lebih cantik dari ku? Dan heol…ia terlihat menyukai uri taeyeonnie”

Kibum mendelikkan matanya kesal “percayalah bahwa ia pria, suara sangat bass dan dia tak secantik yang kau lihat!”

“kau sudah menemuinya? Eodi?”

“aku ke sekolah taeyeon tadi pagi, dan dengan polosnya namja ini memperkenalkan dirinya padaku”

“woahhhh” heechul bertepuk tangan riang “kau sudah membiarkan adikmu bebas eoh?”

“apa maksudmu?”

“tentu saja, kau membiarkannya berteman dengan orang lain selain Lay, dan kurasa…”

“tidak tidak, aku akan segera membawa taeyeon kembali ke China, dan bebas? Kau gila? Mana mungkin aku membebaskan taeyeon setelah adik ku itu hampir di tambrak hah?”

Heechul mendengus kesal “kukira kau akan melepaskan burung dari sangkarnya, ternyata.. sangkar yang mewah sekalipun, tetap saja burung ingin lepas, menikmati dunia”

“predator buas seperti elang yang jauh lebih kuat darinya tengah berkeliaran, dan mana bisa….”

“kau bisa melidunginya tanpa harus mengurungnya Kim Kibum!” persetan dengan kibum yang akan memarahinya, jujur saja heechul sudah mulai muak dengan drama yang diperankan oleh kibum, “jadilah oppa yang baik, karna aku tau… kau sangat menyayangi adik mu itu! Lebih dari apapun karna ia satu satunya keluar yang dekat denganmu itu”

Kibum menundukkan kepalanya, dalam hati ia memberanikan dirinya tapi sisi jahatnya masih saja berkata bahwa ia tak bisa dan ia terlalu pengecut untuk itu “aku takut”

“kau semakin melukai taeyeon, kau lihat? Aku dari rumahmu dan kau tebak apa yang kulihat? Nana menjambak rambutnya taeyeon dan apa yang taeyeon bilang? Kau tau huh? BAJINGAN APA KAU TAU PERASAAN ADIK MU ITU HUH?”

 

*flashback*

 

Heechul yang terus saja menjalankan mobilnya dengan pelan mengikuti taeyeon pun mendengus saat melihat taeyeon yang berhenti di depan rumahnya sendiri, menghela nafas kuat dan terlihat ragu itu, namun akhirnya melangkah masuk ke gerbang rumah mewahnya itu, ah bagi heechul itu terlihat seperti sangkar emas.

Hingga akhirnya ia memilih keluar dari mobilnya dan memasuki rumah itu dengan diamnya, bahkan satpam yang bekerja disana sudah mengenalnya pun membiarkan heechul dengan tingkah anehnya memasuki rumah itu.

Heechul melongo di depan pintu saat dengan kerasnya terdengar teriakan di dalam sana, ah bukan teriakan taeyeon. Bukan. Teriakan yeojja yang bernama nana.

“kau pulang dengan XI Luhan? HAH!! NEO JINJJA!”

Mereka berdiri berhadapan di tengah rumah dengan taeyeon yang masih diam menatap nana yang tengah memarahinya. “APA KAU BISU DAN TULI EOH? AKU BILANG JAUHI LUHAN!”

Taeyeon tetap memilih diam dan tak menajwab sedikitpun, namun deringan ponselnya membuat taeyeon terlihat berfikir keras, namun dengan cepat ia mengangkatnya dan menggunaka loudspeaker.

“kau sudah sampai di rumah mu? Aku sudah di rumahku sekarang, oemmaku masih belum pulang, dan ahh aku merasa kehilangan…” suara luhan, yah luhan yang baru saja menghubungi taeyeon.

“sudah, kehilangan ku? Ah bagaimana jika besok aku menjauhimu?”

“kau ingin mati huh? Jangan gila! Ahh jinjja, kau membuat ku menyesal menelponmu! Na keunnaseo, annyeong!” baru saja taeyeon hendak menggeser tanda hijau itu, Luhan dengan cepat berteriak “JANGAN LAKUKAN ITU KIM TAEYEON!” dan sambungan benar benar berakhir, membuat taeyeon mengangkat bahunya acuh tak acuh menatap nana yang masih melongo mencerna apa yang baru saja terjadi.

“YAK!” emosi, Nana menampar pipi taeyeon dengan sekali tamparan, hanya sekali dan selanjutnya diikuti dengan jambakan rambutnya. Taeyeon hanya meringis kecil dan selebihnya ia hanya diam. Bahkan ia rasa tamparan nana sangat keras dan karna cincin berlian yang ia kenakan itu menggores pipi taeyeon sedikit, ah tidak sepanjang satu sentimeter. Beberapa detik berlalu dan taeyeon masih saja diam tak membalas sedikitpun membuat Nana semakin jengah dan memilih melepaskannya.

Heechul yang bersembunyi di balik pintu masuk pun hendak melerai, namun semua selesai saat ia akan bertindak.

Terlihat taeyeon dengan santainya merapikan rambut panjangnya yang ditarik nana tadi. “yeojja jalang, neo jinjja!!! Kenapa kau tak membalasku eoh? Kau takut padaku huh?”

Taeyeon menggeleng dan tersenyum sinis “mana mungkin aku membalasmu, kau kesayangan oppaku. Tak mungkin aku melukai sesuatu yang menjadi kesayangan oppa, jadi tak masalah jika hanya aku yang terluka”

Taeyeon melenggang pergi menaiki tangga rumahnya dan berbalik  menatap nana yang terdiam kaku dengan posisi yang sama. “lukai saja dirimu sendiri, dan bilang pada oppa jika aku yang melakukannya, kurasa kau bisa menang dari ku jika begitu, oppa akan mencemaskanmu dan memarahiku, ah cham, jujur saja. Aku merindukan wajah oppaku. Jadi dengan begitu oppa akan mendatangi kamarku dan memarahi ku. Akan ku tunggu, nana-ssi”

 

*FLASHBACK OFF*

 

“kau tau! Ah si bodoh itu adik mu brengsek” heechul masih belum puas memaki temannya ini, sangat bodoh. Taeyeon selalu menganggapnya sebagai oppa, dan kenapa pria ini masih saja betah dengan sikap keras kepalanya membuat dirinya terlihat jahat di hadapan taeyeon? Disuruh mendiang ayahnya? Bahkan heechul yakin Jae Myung ahjussi akan sedih jika sampai mati mereka tetap seperti itu. Persetan dengan kata Jae Myung ahjussi jika ia harus menjauhi taeyeon dan membuat taeyeon terlihat seperti anak yeojja jalang perebut suami orang, itu sudah berlalu, dan tak bisakah Kibum memperbaiki hubungannya dengan Taeyeon?

“taeyeon, apa ia terluka?”

“ah bajingan ini bahkan masih berani bertanya hal itu padaku! Pulanglah kerumahmu!”

***

 

Kibum melangkah dengan pelan ke arah ruang makannya, dimana ia mendengar suara dentingan alat makan dari arah sana, dan benar saja. Kedua yeojja dengan diamnya duduk menikmati makan malamnya. Menghampiri meja itu hingga membuat kedua yeojja yang tengah duduk disana menolah bersamaan, dengan nana yang memasangan senyum manis, yang Kibum ketahui senyuman busuknya seperti biasa. Kibum sudah tau jika nana tak menyukai taeyeon tapi ia baru tau jika nana dengan beraninya memukul adiknya, itu diluar batas kesabarannya. Taeyeon yang tadi menatapnya dengan cueknya kembali memakan makanannya dan perlahan menutup goresan luka yang ada di pipinya dengan rambut panjangnya. Dan kibum tau, taeyeon berusaha menutupi lukanya agar ia tak memarahi dan bilang ia yeojja kuranga ajar.

“oppa wasseoyeo!” ujar nana girang, ia mulai menepuk nepuk kursi yang ada di sebelhnya. “aku kira oppa melupakan janji makan malam kita, aku menelpon oppa tadi siang”

Kibum menghela nafas pelan dan melangkah duduk di samping nana, ia ragu harus bagaimana “siapakan makanan untukku hwang ahjumma!” perintahnya. Matanya masih sibuk menatap taeyeon yang terlihat mempercepat makannya, hingga ia mengahabiskan makannya dengan cepat, ‘apa ia tak tersedak?’ batin kibum

Baru saja ahjumma hwang meletakkan nasi untuk Kibum, dan kibum yang baru saja memegang sumpitnya, taeyeon berdiri, meminum airnya dengan sekali tegukan, dan mengisinya kembali. Sepertinya taeyeon akan membawa gelas itu ke kamarnya “ahjumma, bersihkan mejaku, aku sudah selesai”

“noona muda, bukankah anda baru saja menyantap makanan anda? Nana saja bahkan belum selesai, jangan cepat cepat memakan makanan noona, pencernaan noona akan bermasalah lagi nanti”

Apa? Pencernaan taeyeon akan bermasalah? Dan ada kata lagi? Apa taeyeon sering mengalami masalah pencernaan? Karna kibum? Ah kibum tak lupa dengan kata bahwa ia tak sudi makan dengan taeyeon, dan ternyata? Taeyeon menuruti kalimatnya? Pantas saja taeyeon selau selesai makan saat ia datang, atau bahkan tak memakan makanannya saat ia makan “sejahat itukah aku?”

Taeyeon berjalan menuju kamarnya dan menghilang di sudut tangga atas, memasuki kamarnya. Baik, taeyeon rasa nana tak senekat itu melukai dirinya dan bilang bahwa itu karna taeyen. Ah taeyeon sedikit menyesal karna oppanya tak akan memarahinya, padahal ia merindukan wajah oppanya.

Taeyeon mendudukkan dirinya dikursi meja belajarnya, membuka buku pelajarannya dan hendak belajar. Ayolah, ia akan ujian kelulusan dan segera tamat sebentar lagi. Namun niatan gagal saat dengan polosnya ponsel di sampingnya berbunyi. Bukan sekedar telpon atau sms seperti biasa. Tapi sebuah video call. Dan nama yang tertera diatasnya membuat taeyeon mendengus dan tersenyum singkat setelahnya.

“kenapa lama sekali mengangkat nya huh? Aku hampir mati menunggu” terlihat wajah cemberut luhan memenuhi layar ponsel taeyeon.

“jangan berlebihan, xi Luhan”

Luhan tersenyum lebar dan menggaruk tengkuknya singkat “aku bosan! Apa yang sedang kau lakukan?”

“belajar”

“belajar? Ah untuk ujian? Belajar apa, kurasa kita bisa belajar bersama sama, chamkamman!” terliha Luhan yang berdiri dari duduknya, dan taeyeon juga melihat taman dengan ayunan seperti tempat tidur di belakang Luhan dengan rerumputan disana, luhan berjalan namun masih tetap menatap taeyeon dan sesekali melirik ke bawah memperhatikan langahnya. Taeyeon tau, Luhan baru saja berada di tamannya, dan mungkin saja ia akan ke kamarnya? Dan yang benar saja, Luhan sudah berada di kamarnya di meja belajarnya, dan meletakkan ponsel disudut bukunya.

“baiklah, belajar apa kita duluan? Bahasa inggris? Hangeul? Kimia? Fisika?” tanya luhan penuh dengan semangat. Jujur saja, luhan sangat malas belajar, namun melihat taeyeon diseberang sana membuat niat belajarnya meningkat, kalian tak lupa jika Luhan pintar bukan?

“matematika, kurasa”

“arraseo, halaman berapa? Ah aku paling tidak suka membuka buku matematika ini, kenapa? Karna di dalam buku ku ini ada wajah song seongsamnim” keluh Luhan namun tetap sibuk membolak balik bukunya. “halaman berapa ta…” tak mendapat jawaban dari taeyeon, luhan melirik sekilas taeyeon yang terlihat tertawa kecil di seberang sana.

DEG

DEG

DEG

“kau tertawa?”

Taeyeon yang menyadari kebodohannya mencoba menetralkan wajahnya “wae? Apa aku terlihat jelek dan bodoh saat tertawa?”

“ani, jinjja yeoputta” bisik Luhan pelan, dan ia yakin taeyeon tak mendengarnya, terlihat kerutan di dahi yeojja itu “waeyeo? Kau bilang apa?”

“aninde, apa yang kau tertawakan eoh?”

“aku membayangkan wajah song seongsamnim saat menatapmu, kuarasa guru itu menyukaimu Luhan, hanya saja caranya memperlihatkan terlihat berbeda, ia sangat peduli padamu”

“jinjja? Peduli padaku dan membuatku terlihat bodoh di hadapan siswa lainnya? Jangan membelanya taeyeon-ah”

“arraseo, hal 145”

Hingga sejam kemudia mereka selesai membahas soal yang mereka cari dengan berbagai macam perdebatan, soal rumus yang salah ataupun hasil jawabannya yang salah, dan yah. Taeyeon harus mengakuinya jika jawaban Luhan selalu benar.

“baiklah, jalja taeyeon-ah!” terlihat Luhan yang berjalan ke arah ranjangnya, merebahkan dirinya disana dan menguap sebesar-besarnya hingga taeyeon lagi lagi dibuat tertawa hanya karna melihat tingkah bodohnya Luhan, dan selamatnya. Kali ini Luhan tak menyadarinya.

“annyeong!”

“mimpikan aku ne, annyeong!” dan sambungan berakhir dengan luhan yang memajukan bibirnya ke depan dan terdengar bunyi muah dari speaker taeyeon, hingga wajah Luhan menghilang. Membuat taeyeon terdiam. Dan tersenyum setelahnya. Taeyeon rasa ia yang akan ke psikiater sebentar lagi. Bayangkan saja, sudah berapa kali ia tersenyum? Dan ini berbanding terbalik dengan dirinya dan fakta…

 

“aku nyaman bersama Luhan”

 

***

Kibum terlihat panik saat sebuah amplop baru saja sampai di depan meja kerjanya dirumah, saat ini tengah malam, dan kibum sama sekali belum terlelap karna amplop ini. Keringat dingin mulai menghampiri dahinya. Hingga kibum berdiri dan mencari kardus yang selalu ia bawa kemana-mana. Kardus tentang berita di koran yang selama ini ia kumpulkan.

Berita tentang kematian ayahnya, dan kasus bahwa ayahnya yang menabrak mobil seorang namja hingga namja itu juga tewas. Dan yang membuat kibum tersenyum miris, ternyata anak dari orang itu adalahnya Xi Luhan, Xi Jeung Lie. Seseorang yang kibum ketahui dari penolong kala itu bahwa ia penyelamat taeyeon, berkat ia menyuruh orang itu agar menjauhinya dan menolong taeyeon.

Kibum baru saja mendapatkan amplop dengan data lengkap keluarga Luhan, dan hasil diagnosanya menunjukkan bahwa benar, luhan anak itu, anak yang waktu di rumah sakit menangis di hadapannya karna ayahnya meninggal. Anak yang waktu itu juga menguatkannya karna ia masih punya seorang adik…

*flashback*

“hyung, himnaeseyeo, ne!” bocah dengan umur 6 tahun itu menatap Kibum yang saat itu berusia sekitar 20 tahun itu hanya terdiam dan menatap bocah yang berusaha menghapus air matanya. “ayah ku juga sudah berangkat ke surga!”

“mwo?” kibum menatap luhan yang sekarang tengah menundukkan kepalanya “apa appaku jahat? Kenapa ahjussi itu menabrak mobil appaku? Appa hanya ingin pergi melihat bulan!”

Kimbum yang tak tau ahjussi yang dimaksud bocah ini hanya terdiam, saat seorang dokter baru saja keluar, membawa dua berita duka dan satu berita bahagia untuk kibum, ia berdiri dan mengahmpiri dokter itu.

Kimbum baru saja sampai beberapa dua jam yang lalu dirumah sakit, membawa oemmanya dan oemma taeyeon yang sudah dalam keadaan darurat karna daerah vitalnya, ah jantungnya lebih tepatnya ditusuk dengan pisau oleh seorang ahjussi yang ia yakini ayah taeyeon itu saat ia baru saja menginjakkan kakinya kerumah. Kibum masih berusahan tegar saat kedua yeojja kesayangannya itu tengah meregang nyawanya diruang operasi dan berakhir dengan berita duka, kibum maish bisa bertahan karna ia rasa taeyeon dan appanya akan segera kesini, memeluknya dan menengangkannya. Dan mereka akan selalu bersama sama. Namun beberapa ambulan yang dengan lantangnya mengeluarkan bunyi dengan kerasnya itu membuat kimbum tersadar, dan menoleh saat kasur dorong itu membawa ayahnya dan juga taeyeon yang tak sadarkan diri. Namun detik berikutnya, kibum melihat perawat menutup wajah ayahnya. Hanya taeyeon yang di dorong menuju ruang operasi. Dan ayahnya? Ia kehilangan lagi untuk ketiga kalinya.

“waeyeo hyung?”

Dengan pelan, kibum memeluk erat bocah kecil itu dan menagis dengan sekeras kerasnya. Tak peduli jika image nya sebagai anak kuliahan rusak, tapi ayolah. Hidup benar-benar mempermainkannya. Bagaimana bisa ia kehilangan tiga orang yang sangat ia sayangi di dunia ini dihari yang sama, belum lagi taeyeon adiknya yang hanya bisa selamat namun tak bisa mengingat kejadian apapun, ditambah jika kemungkinan taeyeon akan kehilangan kakinya.

“hiks, jinjja appayeo…. na… hiks”

Luhan yang tak tau apa yang terjadi hanya membalas pelukan kibum “yang kaut hyung!”

“oemmaku, oemmaku dan appaku…. hiks….. mereka! Arhgggggggg mengapa… wae? Dunia … apa salah keluargaku…. pria gila itu…”

Luhan yang mulai paham pun ikut menangis merasakan berapa sesaknya menjadi pria ini, ia hanya kehilangan appanya saja sudah membuatnya sesak, pingsan dan ingin ikut appanya. Apalgi jika pria ini? 3 orang sekaligus?

 

*flashback off*

 

“bocah kecil dirumah sakit itu Luhan? Namanya Luhan? Dan dan… ayahnya meninggal karna appa? Appa yang menabrak mobil itu? Andweee andwe…”

 

PRANG

 

Kibum terperanjat kaget, mendengar bunyi sesuatu pecah. Bergegas ia keluar dari ruang kerjanya dan berjalan kedapur. Menghidupkan lampu dapur dan ia terkaget saat melihat taeyeon dengan wajah pucat dan keringan di dahinya tengah mencoba mengumpulkan potongan gelas yang baru saja pecah.

“taeyeon-ah”

Panik, kibum langsung saja mendekat dan memegang lengan taeyeon, menatap khawatir yeojja yang tengah menatapnya dengan mata sayunya.

“oppa?”

“ne, oppa disini, jangan bersihkan. Neo gwencahana oeh? Oedi appo?” mata Kibum menatap tangan taeyeon yang menegluarkan darah segar, luamayn besar karna sepertinya tangannya menyentuh benda tajam itu sedikit dalam, ceroboh.

“perutku sakit…aku minum obat, dan… jatuh” keluh taeyeon, dan dalam hitungan detik, kibum langsung mengangkat taeyeon ala bridal stylenya. Membawa yeojja itu kembali ke kamarnya, dan mengambil obat p3kya.

“Oh Tuhan, bagaimana darahnya bisa sebanyak ini?” Kibum mencoba membersihkan darah yang mengalir ditangan taeyeon, taeyeon yang merasa sakit diperutnya semakin menjadi pun hanya terdiam berusaha menahan sakitnya. Ia heran, bukankah biasanya sakitnya akan hilang jika ia minum obat sakit perut seperti biasanya? Namun kali ini? Sakitnya bahkan tak berkurang sedikitpun.

Taeyeon yang terduduk diranjangnya hanya menatap wajah panik kibum dengan wajah pucatnya, senyum kecil keluar dari mulutnya. Yah taeyeon tersenyum.

Perlahan, tangan kanannya yang tak terluka menyentuh wajah Kibum yang baru saja selesai membersihkan lukanya. Kibum menegang, ia merasa kaku sekarang saat tangan kecil dingin itu menyentuh wajahnya, mata, hidung dan pipinya secara bergantian.

“oppa mannae” taeyeon tersenyum dan detik berikutnya, kesadaran mulai terengut, hingga semua menjadi gelap dan tak ada cahaya yang memasuki telinga, namun telinga taeyeon masih mendengar teriakan oppanya, yah oppanya.

“TAEYEON-AH, IRREONAYEO! PABBOYA IREONA!”

Tanpa ada yang menyadari, setetes. Yah hanya setetes air mengalir di sudut mata taeyeon. Fakta yang membuatnya entah kenapa bisa menangis, fakta yang membuatnya teringat akan luhan  yang tak percaya bahwa ia juga manusia dan ia bisa menangis.

 

 

 

“luhan-ah… lihat… aku… bisa… menangis….”

 

 

 

***To Be Continued***

 

Preview:

 

“ANAK HARAM ITU TIDAK SEKOLAH HARI INI, YUHUUUUUUUU!”

 

“KUTANYA SEKALI LAGI, KIM TAEYEON OEDINYA?”

 

“jangan kerumuni Luhan, duduklah!”

 

“Kim taeyeon?”

 

“YAK! Neo ediya? Neo jinjja!”

 

“jangan bercanda, aku serius Kim Taeyeon, aku rasanya akan mati merindukanmu!”

 

“aku tidak mimpi?”

 

“jangan menutup matamu lagi brother, taeyeon harus tau faktanya”

 

“sebentar, biarkan seperti ini”

 

“aku lelah!”

 

 

Kalau masih ada yang bilang ini sedikit, kemari kemari. Biar aku gebukin bareng Heechul oppa. Mataku sudah bengak semalam sampe pagi bikin ginian. Semakin mengecewakan ff nya? Mianhae. Tapi hargai usaha aku untuk bikin ff. Masa iya komen cuman 1 kata doang “nxt?” susah amat ya ngetik komennya? Okelah aku apalah daya, terimakasih buat yang komen. Yang ga komen, apa perlu aku protect?

Dan yg bilang chapter 4 bahasanya kurang baku, mian. Sepertinya aku salah kirim ke adminnya. Yang kekirim yang belum aku edit #hadeuh-_- dan yang minta moment Lutae banyakin, oke kali ini aku kabulin, namun di chap selanjutnya…. #ketawaevil. Gamungkin momentnya mulu kan, kapan konfliknya bakalan muncul? Pisahin ga ya Lutaenya? Pisahin ga ya? Ah Lay kasian juga noh, jomblo mulu. Luhan keknya kudu bagi-bagi taeyeon ke Lay dulu yah momentnya HAHAHA

Buat chapter 7 ditunggu aja yah, belum tentu kapan di post, semoga masih ada yang sedia menanti ff ini. Doakan semoga bisa segera dipost.

Waduh, author notenya kepanjangannya, mian. Tetep panjangan ff kok ya –v

Gomawo *BOW *KISSKISS *HUG

Advertisements

67 comments on “[FREELANCE] Moonlight (Chapter 6)

  1. akhirnya setelah sekian lama baca ff ini lagi
    alurnya bagus, itu kibum baikan aja thor sama taeyeon
    lutae the best coupleee
    di tunggu nextnyaa

  2. kerennnn…
    selalu suka moment luhan-song seonsaengnim hahaha
    Kocakk..
    Heechul jg kocak, semoga kibum bisa sadar krn denger kata2 heechul..
    Nampaknya Tae bisa nangis krn ngliat oppa nya akhirnya peduli sama dia..
    Hhuhu sedih bgt jd Tae..
    Semoga keluarga Luhan gajadi balas dendam yaa,,
    Semoga Tae jg ga lama2 pisah sama Luhannya.
    Pokonya ditunggu next chapternya..
    Semangatt author!!

  3. huhuhu 😥
    sedih thornim knpa pas tegang2 nya baca tbc ganggu mulu
    uwah gak sbar baca next chap thornim spertinya mkin bgusss
    ksiham taeng jd korban bullying
    next chap thornim hwaiting !!! ♡♥ 🙂

  4. Thor next chap kapan di update ? Udah lama nunggu ff ini tapi next chap belum ada juga hiks..
    ditunggu next chapnya thor tapi jangan lama-lama ya thor.. fighting author-nim

  5. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 7) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 8) | All The Stories Is Taeyeon's

  7. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 9) | All The Stories Is Taeyeon's

  8. kebawa feelnya sampai nangis
    akhirnya Kimbum perhatian juga ke Taeyeon
    keren thor, next thor

  9. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s