Skellington [Part 22]

SKELLINGTON Part 22 by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar with EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04 | Part 05 | Part 06 | Part 07 | Part 08 | Part 09 | Part 10 | Part 11 | Part 12 | Part 13 | Part 14 | Part 15 | Part 16 | Part 17 | Part 18 | Part 19 | Part 20 | Part 21

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik aku melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing.

.

.

.

.

.

3 hari tersisa sampai kontrak Skellingtonku berakhir.

“KAI!” seruku sambil berlari dengan kepala yang menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok yang sudah melepaskan tanganku begitu saja. Aku tidak tahu apakah tindakan yang dilakukannya benar, tapi dia baru saja keluar dari Rumah Sakit. Sekarang dia berkeliaran di jalanan, mencari sosok yang mungkin sedari tadi mengawasinya.

Tiba-tiba tangan yang terus kugenggam menarikku sedikit ke belakang, sehingga langkahku terhenti. Yang ada di belakangku adalah Byun Baekhyun, yang berusaha mengatur nafasnya tapi jelas terlihat bahwa dia sudah tidak kuat berlari. Padahal belum ada waktu hingga 10 menit sejak kami keluar dari Rumah Sakit.

“Taeyeon… Istirahat dulu… Sebentar…” ucapnya terengah-engah lalu aku menggeleng.

“Tidak bisa, Baekhyun. Kita harus cepat menyusul Kai. Atau kita menemukan Euijin eonni lebih cepat dari Kai. Ayo berdirilah, kau pasti bisa.” Sahutku tapi Baekhyun tidak memberikan respon apapun.

Saat ini aku dan Baekhyun sedang dalam perjalanan untuk mencari ibu kandung Kai, seorang wanita cantik –yang nyaris tidak terlihat seperti orang yang telah memiliki anak—bernama Lee Euijin. Menurut Gikwang yang mendapat informasi dari polisi, dia telah melarikan diri dari Rumah Sakit Busan dan aku tahu alasannya.

Alasannya melarikan diri adalah untuk memberitahu semua kebenaran tentang malam di mana dia meninggalkan Kai, mengingat usianya tinggal menghitung hari karena dia mengidap kanker otak.

“Kita harus mencarinya dengan kepala dingin,” usul Baekhyun. “Coba kau ingat-ingat, Taeyeon. Kemarin kau bersama wanita itu, kan? Apa dia menceritakan padamu kemana dia akan pergi setelah menemui Kai di Seoul? Atau kira-kira tempat yang mungkin akan didatanginya?”

Apa yang dikatakan Baekhyun benar. Aku harus tenang dan lebih mengandalkan otakku. Aku memutar kembali memoriku tentang apa yang aku lakukan bersama Euijin eonni kemarin. Kemarin dia memberitahuku dan Kai semua kebenarannya di Klein High School, tempatku bersekolah dulu.

Tunggu… Kalau tidak salah sebelum kami pergi ke Klein High School, kami sempat mampir ke suatu tempat. Tempat itu tidak jauh dari Rumah Sakit. Tempat itu… Tempat itu… “Sungai Han,” gumamku seperti baru saja mendapat seberkas cahaya. “Ya. Sungai Han. Euijin eonni pasti ke Sungai Han.”

“Kau yakin?” tanya Baekhyun membuatku berpikir sekali lagi. Apa mungkin dia mampir ke Klein High School? Tapi sekarang Hari Minggu, jadi pasti sekolah ditutup.

“Iya, tidak salah lagi. Euijin eonni mungkin ada di Sungai Han,” jawabku lalu Baekhyun mengangguk. Kali ini tanpa saling menawarkan, kami saling menggenggam tangan masing-masing dan berlari pelan menuju Sungai Han.

Mengingat ini Hari Minggu, banyak orang menikmati pagi harinya di pinggir Sungai Han. Ada sekelompok anak muda yang sedang bernyanyi, atau keluarga yang menggelar alas untuk berpiknik. Sangat susah mencari Euijin eonni di keramaian seperti ini. Tapi justru karena tempat ini ramai, mungkin Euijin eonni bisa bersembunyi dengan mudah.

“Taeyeon?” mendengar namaku dipanggil, aku langsung sadar dari lamunanku. Terkadang aku tidak mengerti mengapa Baekhyun bisa sepolos ini. Apa dia tidak mengerti bahwa ada ratusan bahkan ribuan orang di tempat ini? Sungai Han itu sangat panjang dan sekarang di sekelilingnya terdapat banyak orang. Bagaimana kami bisa menemukan Euijin eonni dengan cepat?

Entah mengapa aku kembali menjadi perempuan yang lemah dan cengeng. Air mataku menetes setelah kusadari bahwa tidak ada yang bisa kulakukan saat ini. Aku tidak mungkin bisa mencari Euijin eonni yang bisa menyembunyikan diri dengan mudah.

“Taeyeon!” seru Baekhyun lalu tangannya segera menyentuh pipiku untuk mengusap air mataku. “Ada apa denganmu? Kau mudah sekali menangis…”

Aku menggeleng dengan pelan. Secepat apapun jari-jari Baekhyun bergerak di wajahku untuk mengusap pipiku yang basah, air mataku malah menetes lebih deras. “Mianhae, Baekhyun. Kurasa sebaiknya kita menyerahkan masalah ini pada polisi. Sekarang ayo kita hubungi Kai dan memintanya untuk kembali—“

“Tidak.”

“Apa?”

Baekhyun menjauhkan kedua tangannya dari wajahku lalu melangkah mendekati kerumunan orang-orang. “Kau pergi saja. Tapi aku tetap akan mencari wanita yang kau sebut Euijin eonni itu.”

“Tapi—“

“Bagaimana bisa… Aku diam saja saat nyawa seseorang berada di ujung tanduk, Taeyeon!?” seru Baekhyun membuat orang-orang yang ada di sekitar kami memusatkan pandangan mereka ke Baekhyun. “Aku akan mencari Nona Euijin. Tak peduli walau itu akan makan waktu seumur hidupku.”

Baekhyun bodoh. Dia bisa semudahnya mengatakan hal itu karena waktunya untuk hidup hanya tersisa 3 hari. Bukan hanya itu, dia sama sekali tidak berubah. Dia adalah Baekhyun yang sama dengan Baekhyun di usianya yang ke-12. Dia sama sekali tidak bisa berhenti untuk menolong orang lain. Aku ingin memberitahunya bahwa menjadi pahlawan dan nekat adalah dua hal yang berbeda.

“Taeyeon, carilah Kai.” Ucap Baekhyun pelan lalu menatapku tajam. “Sekarang… Carilah orang yang paling kau cintai.”

Aku ingin menghentikan Baekhyun, tapi aku tahu dia tidak akan bisa dihentikan. Dia akan merasa puas jika dia berhasil mencapai apa yang diinginkannya. Akhirnya aku mengangguk dan dengan cepat mengeluarkan ponsel, mencari kontak Kai dan menghubunginya. Tersambung. “Annyeonghaseyo, Kai? Kau ada di mana?”

Taeyeon?” ujar Kai dari seberang telepon. “Kau ada di mana? Mengapa aku tidak bisa mendengarmu dengan jelas… Saat ini aku ada di stasiun kereta, ada apa?

Stasiun kereta. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Sungai Han. Kai mungkin bisa kemari dan membantu Baekhyun mencari Euijin eonni. “Kai, cepat kemari. Aku ada di Sungai Han dan jika dugaanku benar, Euijin eonni ada di tempat ini.”

Kai tidak memberi jawaban. Aku bisa merasakan tubuhnya yang tidak bergerak setelah mendengar kalimat yang aku ucapan. Tapi beberapa detik kemudian, nafasnya kembali terdengar, disusul suara yang berkata, “Baiklah. Aku segera kesana. Taeyeon, periksalah semua jembatan.

“Jembatan?” tanyaku lalu aku bisa merasakan anggukan Kai.

Iya. Kemungkinan besar dia akan bunuh diri. Jadi periksa semua jembatan yang melintasi Sungai Han.” Pernyataan Kai membuat kakiku tidak bisa bergerak dari tempat. Apa yang dikatakannya benar-benar mengejutkanku. “Taeyeon? Kau bisa melakukannya, kan?

Seketika kata-kata Wheein yang diucapkan oleh Baekhyun padaku kemarin terngiang-ngiang di telingaku. Bahwa saat ini Kai sedang mengalami proses yang bernama penyembuhan. Dan obat itu hanya bisa ditemukan oleh Kai. Lalu aku sebagai pacarnya… Harus bisa mendukungnya serta mengawasinya.

“Baiklah. Akan kulakukan. Cepatlah kemari,” ujarku lalu percakapan kami berakhir. Ini bukan saatnya untuk diam. Aku harus segera bertindak. Mataku mencari sosok Baekhyun yang sedang keliling tidak jauh dari tempatku lalu aku berteriak, “Baekhyun! Kita harus mencari jembatan! Itu yang dikatakan Kai padaku!”

Baekhyun segera berlari ke tempatku lalu bertanya, “Jembatan?” tanyanya polos lalu aku mengangguk. Dengan cepat dia menghampiri salah satu pengunjung dan bertanya di mana jembatan terdekat dari tempat ini. Memang benar, kalau Euijin eonni sedari tadi mengawasi Kai, dia pasti pergi ke jembatan yang tidak jauh dari Rumah Sakit.

Setelah mengetahui bahwa jembatan terdekat hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat ini, aku dan Baekhyun langsung berlari sambil mencari sosok ibu kandung Kai yang mungkin saja melintas. Selain itu aku juga mencari sosok Kai yang datang dari arah stasiun kereta.

“Itu dia!” seru Baekhyun sambil menunjuk seseorang yang berdiri di pinggir jembatan. “Itu pasti Nona Euijin!”

“Kau benar. Ayo cepat,” balasku lalu kami mempercepat langkah kaki kami. Ini mungkin pertama kalinya aku berlari dengan kencang dan serius dalam hidupku. Selama ini aku tidak pernah mencoba untuk berlari kencang karena aku takut akan kaki palsuku. Saat pekan olah raga sekolah pun aku tidak berani mengikuti cabang atletik berlari.

Apa yang dikatakan Baekhyun benar. Orang yang sedang menyandarkan punggung di pagar jembatan sambil menghisap sebuah batang rokok adalah ibu kandung Kai, Lee Euijin. Anehnya dia sama sekali tidak terkejut menyadari kehadiranku. Dia malah membuang rokoknya ke dalam sungai lalu berkata, “Annyeong, Taeyeon-ah. Tidak kusangka kita bisa bertemu secepat ini.”

Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Dia sama sekali tidak seperti orang yang sedang mengidap penyakit mematikan bernama kanker otak. Tidak ada kecacatan sedikit pun di tubuhnya dan juga wajahnya yang cantik anggun.

“Nona Euijin, kumohon… Kembalilah ke Rumah Sakit!” seru Baekhyun tiba-tiba. “Maksudku… Nona Euijin sudah ditunggu oleh polisi di Rumah Sakit jadi sebaiknya anda segera kembali—“

“Taeyeon, di mana Jongin?” tanyanya mengabaikan permintaan Baekhyun. “Apa dia sudah keluar dari Rumah Sakit?”

Euijin eonni benar-benar tidak peduli akan kehadiran Baekhyun. Tubuh serta pandangannya, semuanya mengarah padaku yang sedang berdiri dengan kaku. Dia menunggu jawabanku. Jawablah, Taeyeon. Jawab. “Iya. Dia sedang mencari Euijin eonni.”

“Dia mencariku?” tanya Eujin eonni lagi lalu Baekhyun mendorongku mundur.

“Dia mengatakan bahwa anda orang bodoh. Nona Euijin, aku benar-benar tidak mengerti apa yang anda pikirkan,” ujar Baekhyun dengan suara lantang. “Apa yang membuat anda… Mempunyai hati yang dingin seperti ini? Anda bahkan tidak memeluk Kai, tidak berbicara padanya dengan nada yang lembut… Anda pasti tahu sendiri kondisi kesehatan anda, kan? Kalau begitu—“

“Aku tahu bocah,” sahut Euijin eonni kali ini memandang Baekhyun. “Aku tahu arti dari kematianku… Yang sudah ada di depan mataku.”

“Aku tidak peduli seberapa dekat jarak antar kematian dengan anda,” lanjut Baekhyun. “Anda tidak tahu rasanya meninggal dengan menyisakan setumpuk rasa bersalah. Karena itu tolong… Setidaknya temuilah Kai sekali lagi dan kali ini… Minta maaf lah padanya.”

Euijin eonni mengerutkan keningnya. “Bocah tampan, apa maksudmu dengan aku tidak tahu rasanya meninggal…?”

“Ah,” gumam Baekhyun lalu dengan cepat dia menutup mulutnya. Baekhyun bodoh. Euijin eonni tentu tidak tahu bahwa Baekhyun adalah Skellington, sebuah tubuh yang terbentuk kembali dengan DNA dan otak yang terbentuk dari ingatan yang perlahan pulih. Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu.

“Euijin eonni tidak akan mati dengan tenang jika tidak menuntaskan masalah yang ada,” sahutku tiba-tiba. Aku hanya berkata seperti ini karena Wheein pernah mengatakannya pada Solar. Seandainya aku sekuat Wheein. Seandainya aku setegas dan seberani Wheein. “Karena itu kumohon, kembalilah.”

“Aku akan segera kembali,” ucap Euijin eonni sambil tersenyum. Kemudian tubuhnya bergerak dan seketika tubuhnya sudah duduk di pagar jembatan dengan punggung yang berhadapan langsung dengan Sungai Han jika dia terjatuh. “Ke tempat seharusnya aku berada.”

“Tidak—“

“Anda pikir aku akan membiarkan anda bunuh diri!?” seru Baekhyun lalu menarik tangan Euinji eonni. “Kumohon, pikirkan lah baik-baik, arti dari kematian. Mungkin tidak ada masalah dengan anda, tapi anda akan meninggalkan bekas luka yang dalam pada orang-orang sekitar anda—“

“Bocah tampan, aku tidak punya seseorang yang peduli padaku—“

“ADA!” seru Baekhyun dengan suara lantang, yang terdengar seperti membentak. “Ada aku, ada Taeyeon. Ada Kai yang sedang menuju kemari. Ada orang-orang di pinggir Sungai Han. Semua orang itu… Akan terluka hatinya saat melihat anda bunuh diri. Karena itu… Hentikan tindakan bodoh anda!”

Euijin eonni memandang Baekhyun dengan tatapan heran. Jika aku menjadi Euijin eonni, aku pasti akan sangat bingung. Sebenarnya ada apa dengan laki-laki satu ini? Mengapa dia tidak bisa membiarkan orang yang menyerahkan diri pada kematian?

“Taeyeon,” panggil Euijin eonni tiba-tiba. “Kau tidak akan keberatan jika aku bunuh diri, bukan? Kau pasti senang karena setelah ini Kai akan hidup tanpa beban, bukan?”

Apa? Mengapa Eujin eonni bertanya hal seperti itu padaku? Apa terlihat jelas di wajahku bahwa aku menginginkannya untuk bunuh diri? Apakah aku setega itu? Apakah seperti itu diriku di mata orang lain? Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku.

“Kalau kau menerima kematianku, cepat lepaskan tangan bocah tampan ini dariku. Dan biarkan aku bunuh diri.” Lanjut Euijin eonni dengan santai.

“Jangan dengarkan dia, Taeyeon! Pikirkan apa yang harus kau lakukan!”

Aku harus segera bertindak. Aku harus memilih. Apa aku akan menyelamatkan orang yang paling dibenci oleh Kai? Orang yang paling kubenci selama ini adalah… Baekhyun. Tapi sekarang Baekhyun berada di depanku, aku membiarkannya tetap hidup. Aku jelas tidak akan mengatakannya secara langsung, tapi kehadirannya membuat hidupku berubah.

Aku sudah menghubungkan kata benci dengan nama Baekhyun selama 12 tahun terakhir hidupku. Solar pernah berkata bahwa dengan bersamanya, semakin hari aku akan mendapatkan pelajaran yang berharga. Dia berkata padaku bahwa aku harus belajar memaafkan.

GREP! Aku menggenggam tangan Euijin eonni dan menahannya dengan sekuat tenaga. “Mianhae, eonni, tapi aku tidak akan membiarkan eonni bunuh diri. Itu sama saja dengan aku membiarkan Baekhyun mati.”

Euijin eonni menatapku dengan kesal. Lalu yang terjadi selanjutnya adalah dia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tangannya dari tanganku dan Baekhyun. Tenaganya luar biasa untuk orang yang mengidap penyakit mematikan. Mungkin karena aku dan Baekhyun sama-sama jarang berolah raga, kami kesulitan menahannya.

“LEPASKAN AKU!” seru Euijin eonni dengan suara keras yang sangat mengganggu telinga kami. Aku dan Baekhyun saling memandang. Kami sama-sama tahu bahwa kami harus bisa menahannya, setidaknya sampai Kai datang.

Tapi itu tidak berjalan sesuai yang kami harapkan. Euijin eonni berhasil melepaskan diri dari kami. Punggungnya menabrak pagar jembatan dan tubuhnya berputar ke belakang dan terjun bebas menuju Sungai Han. Aku dan Baekhyun yang terjatuh di tanah hanya bisa mendengar suara air yang menampar telinga kami, tanda bahwa Euijin eonni mendarat.

“Taeyeon, panggil polisi!” serunya lalu aku mengangguk. Segera aku mengeluarkan ponselku dan menekan angka-angka yang ada di layar sampai tanganku berhenti karena melihat seseorang yang berenang di tengah-tengah Sungai Han yang dalam. “Taeyeon? Ada apa? Hubungi polisi!”

“Kai…” gumamku lalu sekali lagi aku memusatkan perhatianku pada orang yang tadinya ada di pinggir sungai, sekarang perlahan-lahan bergerak menuju tengah tempat Euijin eonni tenggelam. Aku segera berlari kencang ke  bawah jembatan. Yang membuatku panik adalah fakta bahwa Kai tidak bisa berenang.

Aku menemukan sepatu Kai di bawah jembatan, itu artinya memang Kai yang barusan masuk ke dalam air. Mataku menangkap sosok Kai yang berusaha sekuat tenaga untuk berenang. Aku terus berdoa semoga Kai selamat, semoga Kai berhasil, semoga Kai tidak ikut tenggelam.

Tiba-tiba satu orang lain melepas sepatunya dan masuk ke dalam air. Orang itu adalah Byun Baekhyun, manusia –sebenarnya dia bukan lagi manusia—paling bodoh sejagat raya. Tapi di luar harapanku, ternyata Baekhyun bisa berenang. Dia segera menyusul Kai dan membantunya mengangkut Euijin eonni ke pinggir sungai.

“Ada apa? Ada apa?”

“Ada orang tenggelam!”

“Tenggelam? Kenapa bisa?”

“Kudengar bukan tenggelam, tapi wanita itu sendiri yang terjun ke sungai!”

Orang-orang di sekitarku mulai membuat keributan setelah menemukan 3 orang yang sedang mengapung di tengah-tengah Sungai Han. Tentunya insiden ini menyisakan luka di hati semua orang. Entah itu luka batin atau perasaan yang timbul karena takut atau kasihan.

“Taeyeon! Hubungi polisi!” seru Baekhyun yang berteriak di tengah-tengah sungai lalu aku mengangguk.

Kali ini tanpa ragu-ragu aku menghubungi satu-satunya polisi yang aku percaya, yaitu ayah Taemin. Meski aku takut menghubunginya karena dia akan cemas dengan kondisi Kai tapi aku yakin jika Kai menjadi diriku, dia akan menghubungi orang yang sama.

Ternyata ayah Taemin sudah tahu bahwa aku, Baekhyun, dan Kai berada di luar Rumah Sakit untuk mencari Euijin eonni. Dan aku langsung tahu siapa yang menceritakannya. Tidak lain orang itu adalah Wheein. Di saat seperti ini Wheein benar-benar bisa diandalkan. Tidak seperti diriku yang bisa berubah menjadi perempuan lemah kapan saja.

Beberapa menit kemudian, Kai yang dibantu Baekhyun berhasil kembali ke pinggir sungai. Tubuh mereka basah kuyup tapi yang membuatku cemas adalah Kai yang terbatuk-batuk karena sepertinya dia sudah menelan air sungai dalam jumlah yang besar. “Kai—“

Baru saja aku memanggil namanya, Kai bergerak dengan cepat menuju Euijin eonni yang berwajah tenang, menggenggam kerah bajunya dengan erat seperti hendak menghajarnya. Sampai aku mendapati bukan air sungai yang membasahi pipinya, melainkan air mata yang timbul karena luka di hati.

“KAU PERGI SESUKAMU. LALU KAU MENEMUIKU SESUKAMU. AKU TIDAK SUKA SEMUA ITU. JADI JANGAN MATI SESUKAMU, DASAR IBU BODOH!”

Semua yang mendengarkan apa yang barusan Kai katakan hanya bisa melongo dan sebagian dari kami meneteskan air mata. Tidak terkecuali aku yang benar-benar tidak percaya apa yang baru saja dikatakannya. Dia memanggil Euijin eonni dengan sebutan ibu. Entah seberapa besar keberanian yang dibutuhkannya untuk berkata seperti itu.

.

.

.

.

.

            Kami kembali ke Rumah Sakit dengan mobil polisi yang datang beberapa saat setelah Kai dan Baekhyun menyelamatkan Euijin eonni. Saat kami tiba di Rumah Sakit, semua yang ada di lobby memandang kami dengan tatapan bingung. Mengapa dua dari kami basah? Dan mengapa satu-satunya yang perempuan membawa dua pasang sepatu di kedua tangannya?

“Taeyeon eonni!” seru sebuah suara yang kukenal memanggilku. Pemilik suara itu adalah adikku, Solar. Dia memelukku dengan erat sampai kedua tanganku menjatuhkan sepatu-sepatu yang aku pegang. “Ya Tuhan, aku benar-benar mencemaskan eonni. Aku sampai tidak menjalani kemoterapi karena cemas!”

Aku membelai dengan pelan rambut Solar yang masih tersisa. Kehangatannya membuat semua rasa lelah dan penatku pergi. Dia adalah malaikat sesungguhnya di dunia ini. “Mianhae sudah membuatmu khawatir. Tapi aku tidak bisa memaafkanmu karena lebih mementingkanku daripada kesehatanmu.”

Solar menatapku dengan tatapan bersalah. Saat mataku sudah mengering karena menangis, sekarang giliran mata Solar yang basah karena air mata. “Habisnya… Aku sangat khawatir. Aku takut terjadi sesuatu pada eonni…

“Aku baik-baik saja. Aku tidak melakukan apapun, Solar. Sungguh.” Sahutku berusaha membuat Solar lebih tenang. “Sekarang pergilah menemui doktermu. Taklukan semua sel-sel kankermu saat kemoterapi. Kau mengerti?”

Dengan pipi basah, Solar mengangguk dan segera mencari sosok Gikwang. Begitu menemukannya, Solar langsung pergi dari pandanganku. Kini semua kehangatan itu telah pergi dari tanganku.

“Operasi penyelamatannya sukses, ya?” tanya sebuah suara dari belakangku. Pemiliknya adalah Wheein. Tapi yang menjadi perhatianku adalah Taemin yang berdiri di belakangnya dengan tatapan menyeramkan. “Oh, mianhae tapi aku sudah menceritakan semua kejadian kemarin pada Taemin. Aku tidak bisa diam saja, kau tahu?”

Aku yakin wajahku memucat hanya karena melihat Taemin. Sekarang dia melangkah mendekatiku dengan tangan yang terkepal. Apa dia akan memukulku? Memukulku yang seorang perempuan? Aku benar-benar ketakutan sampai tangannya mendarat di bahuku dan mencengkramnya dengan erat. “Hah?”

Gomawoyo, Taeyeon-ah… Kau membawa Kai kembali dalam keadaan selamat. Gomawoyo…” ujar Taemin lalu yang membuatku semakin terkejut adalah karena dia mendaratkan sebuah pelukan di tubuhku. Ini pertama kalinya aku dipeluk oleh Taemin. Tubuhnya tidak kalah hangat dengan Solar. Tapi dia lebih kuat. “Mulai sekarang akan kulakukan apa pun yang kau perintahkan! Sungguh!”

Aku tertawa kecil lalu menggeleng pada Taemin. “Seharusnya kau berterima kasih pada Baekhyun. Dia yang berhasil menyelamatkan Euinji eonni dan juga Kai.”

Taemin berjalan cepat menuju tempat Kai dan Baekhyun yang sedang mengeringkan diri dengan mesin pengering. Dia duduk di lantai lobby Rumah Sakit lalu membungkuk hormat di depan Baekhyun. “Kuucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya… Karena telah membawa Kai kembali dalam keadaan selamat. Aku benar-benar… Berterima kasih!”

Kai dan Baekhyun saling memandang dengan tatapan bingung. Mereka seperti ingin menghilang dari tempat itu karena apa yang dilakukan Taemin benar-benar memalukan. Semua yang ada di lobby jelas mengarahkan pandangan mereka pada Taemin.

“Um, Taemin—“

“Lalu maafkan aku… Karena aku telah bersikap menyebalkan padamu! Aku akan bersedia… Membelikanmu kue yang enak, sebanyak yang kau mau!” seru Taemin masih dengan kepala tertunduk. Aku jadi teringat kemarin saat Taemin meminta kue dan dengan sukarela Baekhyun memberikan chocolate macaroon miliknya.

“Angkat kepalamu, Taemin-ssi,” ucap Baekhyun malu-malu. “Aku tidak melakukan sesuatu yang luar biasa. Tubuhku bergerak sendiri karena aku ingin menolong Kai. Aku sama sekali tidak pantas menerima perlakuan seperti ini darimu—“

“TIDAK!” ujar Taemin bersamaan dengan kepalanya yang terangkat. “Kau benar-benar orang paling baik yang pernah kutemui! Aku benar-benar berterima kasih. Jika saja kau seorang perempuan, aku pasti akan menaruh hatiku padamu!”

“Menjijikkan,” gumam Wheein lalu aku mengangguk setuju. “Tidak apa tuh, cowokmu direbut oleh Taemin?”

“Apa?”

“Tidak apa,” sahut Wheein cepat. Sebenarnya apa yang dipikirkan gadis ini? Apa dia pernah berpikir sebelum mengatakan sesuatu? Sepertinya dia berbicara melalui otak, bukan melalui hati. Karena sepertinya segala hal yang ada di pikirannya terucap begitu saja.

Lalu mataku kembali memandang Taemin yang terus-terusan memuji Baekhyun seakan dia adalah komandan yang berhasil membawa kemenangan pada pasukan perangnya. Aku tidak tahu akan menyebut Baekhyun rendah hati atau rendah diri, tapi jelas dia tidak menerima pujian dari Taemin begitu saja.

“Tapi apa yang dikatakan Taemin memang benar,” sahut Kai dengan suaranya yang lembut. “Kau berhasil mengulur waktu sebelum ibu kandungku bunuh diri. Kau berhasil menyelamatkan nyawaku. Kau benar-benar seorang pahlawan.”

Baekhyun memandang Kai dengan tatapan tidak percaya. “Apa kau sungguh-sungguh… Berpikir seperti itu?” tanyanya lalu Kai mengangguk mantap. Lalu pandangan Baekhyun beralih padaku dan dengan gembira dia berkata, “Taeyeon! Aku berhasil!”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Sepertinya Baekhyun benar-benar lemah dengan kata ‘pahlawan’ sehingga baru sekali saja Kai mengatakannya, dia sudah gembira setinggi langit. Seandainya Solar ada di sini aku ingin berkata padanya bahwa aku berhasil. Aku berhasil membuat Baekhyun merasa bahwa dirinya berguna bagi orang lain.

Aku berhasil memenuhi janjiku pada Baekhyun. Dengan hari yang tersisa, aku berhasil membuat Baekhyun menjadi sosok yang bernilai selama hidupnya. Kalau kupikir-pikir, akhir-akhir ini hari-hariku dengan kehadiran Baekhyun terasa menyenangkan. Segala hal yang dimilikinya membuatku sangat nyaman, seakan kembali ke masa 15 tahun yang lalu.

“Taeyeon! Aku berhasil!” seru Baekhyun sekali lagi lalu aku mengangguk. Tiba-tiba air mataku menetes. Aku langsung menutup wajahku dari hadapan Wheein, Kai, Taemin, maupun Baekhyun. “Taeyeon, kau menangis lagi—“

“Aku tidak apa-apa,” sahutku cepat lalu aku berusaha tersenyum. “Ini air mata kebahagiaan. Aku benar-benar senang dan air mata ini… Keluar karena aku merasa senang.”

Aku dan Baekhyun saling memandang untuk beberapa saat sampai akhirnya Baekhyun tersenyum. Aku ingin berkata padanya bahwa tidak apa-apa untuk menangis. Bukankah ini hal yang kau inginkan, Baekhyun? Nikmatilah. Rayakanlah. Kenanglah baik-baik.

Make-upmu luntur tuh,” kata Wheein lalu menunjuk sebuah ruangan yang terletak cukup jauh dari lobby. “Bagaimana kalau kau ke toilet sekarang?”

Aku mengangguk cepat. Aku melambaikan tangan pada Baekhyun sebelum aku berjalan menuju toilet perempuan. Rasanya memalukan karena hari ini aku banyak sekali menangis. Apa yang kulakukan hanya menangis dan menangis. Aku tidak tahu kenapa tapi menangis membuatku sedikit lega.

Dengan cepat aku merogoh tasku dan mengambil kosmetik yang kubawa di dalam tas tanganku. Aku membersihkan make-upku yang sebelumnya dengan cleanser. Aku mengusapkan foundation dan bedak ke wajahku dan kemudian memberi sentuhan terakhir berupa blush on berwarna jingga, mengoleskan bibirku dengan cherry chap stick serta memakai mascara dan eye shadow favoritku.

Tidak lupa aku juga memakai parfum dari frilly lily. Dengan begini aku tidak terlihat seperti orang yang menghabiskan waktunya seharian dengan menangis. Aku keluar dari toilet perempuan dengan wajah tersenyum sampai seseorang memanggilku, “Taeyeon?”

Aku menoleh padanya dan mendapati sosok orang yang cukup denganku berdiri tak jauh dariku. Orang itu adalah ibu Kai. “Bibi? Bukannya bibi ada di London?”

Bibi menggeleng dengan cepat. “Aku mendapat telepon dari Taemin. Di mana Kai sekarang? Apa dia baik-baik saja? Dia sudah bertemu Euijin, ya?”

Aku mengangguk sebanyak dua kali. Pertama, karena Kai baik-baik saja. Kedua, karena Kai sudah bertemu dengan ibu kandungnya. Entah apa yang ada di pikiran bibi  yang merupakan kakak dari ibu kandung Kai, tapi beliau menarik tanganku dengan cepat. “Um… Bibi?”

“Taeyeon… Bibi akan bertanggung jawab.”

BERSAMBUNG

Annyeonghaseyo, scarlettkid di sini. Percaya atau tidak, aku membuat part 22 ini di hari yang sama dengan aku mengerjakan part 21. Keduanya menghabiskan waktu sekitar 2 jam. Ini rekor tercepatku dalam membuat fanfiction. Mungkin karena jalan ceritanya sudah aku tentukan di otakku, jadi aku menulisnya dengan lancar.

Oh ya, apa aku sudah bilang bahwa sebentar lagi serial ini berakhir? Jangan lupa tinggalkan komentar di setiap part ya, agar kalian bisa mendapat password untuk part terakhir yang akan diprotect.

Aku sudah mendapat dan menyimpan ide untuk serial berikutnya jadi aku akan cepat-cepat mengakhiri Skellington. Terima kasih sudah membaca sampai selesai, sampai jumpa di part 23!

P.S: tolong berikan dukungan untuk lagu terbaru Mamamoo Wheein, Narcissus, hasil kolaborasi dengan Super Junior Heechul dan TRAX Jungmo 🙂

Part 23 will be published April 30th 2016

Advertisements

46 comments on “Skellington [Part 22]

  1. Kan baekhyun udh tau tuh di berguna, apa 3 hari waktu taeyeon sama baekhyun dihitung berakhir?? Jadi Taeyeon gaharus ngurus baekhyun lagi??
    Endingnya masih gabisa ditebak si taeyeon bakal sama siapanya…. Apa tetep bakal setia sama Kai atau sama teman kecilnya yaitu Baekhyun?
    Aku tunggu chapter selanjutnyaaa

  2. Keberanian Baekhyun disini memang harus di acungi jempol karena dia menolong tanpa berpikir dan tanpa ragu, untuk kai, kau sungguh berbesar hati semoga mudah untuk maafkan ibumu. Untuk Taeyeon kau sudah melakukan yang terbaik.
    Hahaha untuk Taemin lucu banget hahahah sayang banget kaya nya sama si Kai.

    Dilihat di percakapan terakhir kayanya bibi kai sedikit ada sangkut pautnya dengan masalah ini, semoga d chapter selanjutnya kebenarannya terbuka, dan apakah setelah beberapa hari kemudian dia gak ada didunia lagi ㅠㅠ kenpa aku pengen banget Baekhyunnya sama Taeyeon sampai akhir 😂. Cepet di lanjut Fighting karena ini salah satu ff yang selalu saya tunggu 👍👍

  3. akhirnya baekhyun berguna juga buat orang lain. tapi apa baekhyun bakal tetep hidup atau meninggal karena waktu dia kan 3 hari lagi. itu bibi kai mau tanggung jawab soal apa? ko bingung.
    masih penasaran ending nya bakal sama kai atau baekhyun ya. next chap ditunggu 🙂

  4. Aku suka sekali karakter Baekhyun di episode ini. Akhirnya dia bisa menjadi orang yang berguna buat orang lain. Keren banget begitu dia bergerak menyelamatkan Kai dan juga ibunyaa. Ah, Luv with B deh ^^
    Taeyeon juga sudah mulai berani yaa, Pertahankan terus, Tapi sayangnya tinggal 3 hari lagii. Kumohon Baek jangan mati. Dia harus terus berada disamping orang – orang yang dia kasihi.
    Pokoknya untuk episode ini kereen banget deeh.
    Kaa, Kasih tau aku passwordnya yaa wkwkwkwk 🙂
    Keep Fighting dan Writing! I’m always waiting :*

  5. Ah aku brhrap endingnya Baekyeon bersama thor..

    Ff ini mungkin memng bukan full romance..
    Tp selalu ada romntisme sndiri saat mmbacanya.
    Ide cerita yg g pasaran..
    Good job thor..
    Ditunggu nexy chapter!! !

  6. Aku suka karakter Baekhyun…
    Dan Kai, akhirnya dia bisa membuka hati untuk ibunya 🙂
    dan Weehin seperti pemegang kendali ya hehe..

    Bibi nya Kai mau bertanggung jawab untuk apa?

  7. keren banget baek mau nolongin kai,,,
    tp gmn dg sisa waktu dia yg cuma 3 hari???
    makin penaran ama endingnnya nanti,,
    fightaeng!!!!

  8. Iiiiiiiih tanggung jawab apa niiiih? Bibi kenapaaa
    Bekyun pahlawan bgt😍😍😍 wekekeke
    Baekhyun ga rusak ya nyemplung air gt?.-.
    Pas baca yg nyebur2 itu ngebayangin bgt chaos nya gmn😂😂😂😂
    Tp pendek ah thorrrr;_; cm sebentar momen nya;__;
    Tp gapapa yg penting update❤❤❤ hihi
    Great thornimmmmmm🎉🎉🎉
    Next ditungguuuuuu bgt
    Gapapa deh pendek2 biar endingnya bs lama😂😂😂😂
    Iiih seneng bgt wheein kolaborasi sm m&d 😂😂 yg sebelumnya ga terlalu kenal sm wheein skrg kayanya jd suka😂 thankyou member mamamoo uda dihadirin disini ya thor😂

  9. Baekhyun pahlawan hmm😍
    paling suka kalo ada momen’nya baekyeon😍 sweettttt gimana gitu😂
    loh kok bibinya mah tanggung jawab? ada apa emang?😱
    penasaraaannnn….
    lanjut ya thor😊

  10. Wah, keren. Kira kira taeyeon sama siapa ya? Apakah sama kai atau baekhyun? Ah belum terpecahkan teka tekinya. Semoga aja sama baekhyun. Semoga happy ending thor. Next thor, keep writing~

  11. Yes masalah kai udah selesai, dan misi baekhyun juga udah tercapai sekarang tinggaldetuk2 sebelum masa skellington nya taeyeon berakhir. Semoga part selanjutnya lebih ke nyeritain tentang baek dan tae. Karena ini udah mau part terakhir dan aku blm liat tanda2 kalo baekhyun bakal sama taeyeon, jd aku pasrah aja deh. Yang penting ending nya happy tetus ga mengecewakan ya thorrr

  12. FF terbanyak yang aku baca! Amazing Fanfiction! Maaf baru bisa komentar di Chapter 22 ini >.<
    Gak tau kenapa, kalo baca ini kaya lagi baca Novel Fantasy. One more again i want to say '감사' author nim!

  13. Pingback: Skellington [Part 23] | All The Stories Is Taeyeon's

  14. Bukan nya Baek harus disinari oleh senter…semacam X-Ray gitu, sebelum Baek mau berenang? kalu tidak Baek bisa rusak kan?

  15. Pingback: Skellington [Part 24] | All The Stories Is Taeyeon's

  16. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  17. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s