Nothing Like Us (Chapter: 2)

New Adobe Photoshop Image

Title
Nothing Like Us
Author
DeliaAnisa
Genre
School Life, little sad, and romance
Length
Three Shoot
Rating
PG-17
Main Cast
Kim Taeyeon and Oh Sehun
Disclaimer
FF ini murni dan asli hasil dari imajinasi saya, bila ada kesamaan tentunya itu tanpa disengaja. Cast yang saya pakai bukan milik saya, hanya Ortu mereka dan Tuhan YME, saya hanya meminjam untuk berkarya dan berniat untuk menghibur para pembaca. And please, don’t plagiat.
Happy reading and enjoy guys ^^


Sepulang sekolah taeyeon menunggu sehun di pintu gerbang. Sementara tiffany sudah lebih dulu pulang ke rumah, dia punya janji dengan ibunya, entah janji apa itu. Tidak lama sehun muncul dan mulai melewati gerbang. Taeyeon langsung datang menghampiri sehun. Dia menghadang jalan sehun, tepat seperti seorang preman yang minta beberapa lembar uang.

Sehun memandang taeyeon datar.

“Ada apa?”

“Gagalkan rencana jahatmu pada krystal.” desis taeyeon tajam.
Sehun melipat lengan nya di dada. “Apa maksudmu dengan ‘rencana jahat’?”

Taeyeon berdecih, dan memandang sehun tajam-tajam. “Kau ingin menyakiti perasaan gadis itu, kan? Berhenti memuaskan dirimu sendiri.”

Sehun mencengkram kedua pundak taeyeon. “Mau ku apakkan gadis itu, tidak ada untung dan rugi nya bagimu, jadi berhenti bersikap sok peduli.”

“Kau ingin gadis itu merasakan apa yang ibumu rasakan, bukankah begitu? Kau… Melampiaskan kemarahanmu pada seseorang yang tidak tau akar permasalahan nya.” taeyeon merasa puas karena tebakan nya ternyata tepat sasaran. Kini, sehun mati kutu, dia kembali kehilangan kata-kata nya.

Gadis itu selalu tau, dan yang membuat nya tidak percaya adalah, gadis yang belum sempat ia cari tau nama nya itu… Selalu mengerti dirinya.

Dan tiba-tiba ia merasa hatinya menghangat.

Sebelumnya tidak ada seorang pun yang mampu mengerti dirinya. Bahkan ibunya sekalipun. Tapi, tiba-tiba dia di pertemukan dengan gadis yang kemungkinan bernasib sama, begitu sangat memahami dirinya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia seperti mendapat kembali perhatian yang tulus.

Inilah cara perhatian yang paling di inginkan nya.
Tanpa bertanya ‘kenapa’, gadis itu sudah langsung memahami.

“P-pria itu.” perhatian taeyeon kini teralihkan menuju seorang pria berkumis yang dulu hampir menyentuh nya di bis. Lelaki berumur itu sedang berjalan ke arah sehun, sekarang pria berkumis itu datang bergerombolan.

Sadar perhatian gadis itu teralihkan, akhir nya dia menoleh ke belakang. Dia tersenyum sinis, ternyata pria yang tempo hari ia pukuli habis-habisan itu datang dengan membawa teman segeng nya, yang jumlah nya 5 orang.

Pria berkumis itu mendekat ke arah sehun. Dia menyeriangi. “Apa kabar, anak kecil? Kau siap bertarung kali ini?”
Dengan gagah berani sehun maju, sementara taeyeon menatap mereka takut-takut. “Oke, aku siap, siapa takut. Menangani kalian adalah hal yang mudah.”

“Katakan sekali lagi, bocah ingusan?!” Pria berkumis itu mencengkram kerah sehun sampai sehun harus bertatap muka dengan ahjussi itu.

“Menangani kalian adalah hal yang mudah, apalagi kau, pria-mesum.” 2 kata terakhir itu mampu membuat pria berumur di depan nya melepas cengkraman nya.

“Kurang ajar!” Dengan emosi yang sudah naik ke ubun-ubun, pria berkumis itu melayangkan tangan nya ke arah pipi sehun, tapi dengan secepat kilat sehun menangkis nya dan berganti memelintirkan tangan itu sampai pria itu berteriak kesakitan. Setelah mencium aroma kekalahan dari bos mereka, kaki tangan pria berkumis itu akhirnya maju menghadapi sehun yang sedari tadi tidak ada tampang takut nya. Ekspresi itulah yang membuat mereka semua semakin geram. Mereka mengepung sehun dengan membuat lingkaran, taktik mereka cukup membuat sehun bingung. Jika sehun melawan yang di depan, yang di belakang dan sisi kanan kiri nya pasti akan begitu mudah memberi hadiah pukulan pada sehun. Tapi sehun bukan pria dengan tipe ‘mudah menyerah’, sampai titik darah penghabisannya pun dia tidak akan pernah lari.
Mata sehun bergerak kesana kemari, dia sudah memasang kuda-kuda, dan siap untuk melawan mereka satu persatu. Namun baru saja tangan kanan nya melayang hampir memukul orang di depan nya, tangan kiri nya tiba-tiba saja di tarik oleh seseorang. Akhirnya dia gagal memberi pukulan pada lawan nya. Dia terperangah begitu menyadari bahwa gadis itu lah yang membawa tangan nya pergi menjauh dari orang-orang yang mengepung nya tadi.

Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Sehun ingin berhenti menjadi pengecut, ia ingin menghadapi dan menghabisi mereka semua. Tapi, tangan taeyeon tetap mencegah nya, ia memegang tangan sehun dengan erat. Perjuangan gadis itu dalam berlari pun tidak tanggung-tanggung. Jadi lebih baik dia ikuti kemuan gadis ini.
Dengan napas terengah-engah sehun dan taeyeon berlari menuju mall, jarak mereka dengan berandalan itu terpaut cukup jauh. Mereka dengan mudah nya bersembunyi di tempat karaoke. Sementara yang mengejar saling menyalahkan dan sudah sangat kebingungan mencari-cari taeyeon dan sehun.

Sehun dan taeyeon akhirnya masuk ke tempat karaoke dan terpaksa mereka harus memesan tempat dan lagu.

Kemudian keduanya menempati ruangan yang cukup besar. Di sana mereka di suguhkan tv berukuran besar, beberapa mic, dan juga ada sofa besar beserta meja kaca di tengah-tengah nya.
Lalu keduanya dengan kompak menjatuhkan diri di sofa, dengan menghela napas lega.

“Kenapa kau membawaku pergi?” tanya sehun setelah berhasil mengatur napas nya.
“Kau akan kalah.” jawab taeyeon santai.
“Dari mana kau tau aku akan kalah? Kau tau, aku adalah seorang petarung hebat.” ucap nya berbangga diri.
“Mereka mengepungmu, mustahil kau bisa menang. Kecuali kalau kau punya senapan. Kau bisa menang dengan menembak mereka satu persatu.” jelas taeyeon yang di sambut tawa kecil dari sehun. Taeyeon terperangah, baru kali ini ia mendengar tawa sehun selepas itu.
“Haha, ternyata kau punya pikiran pshyco juga ya. Mulai besok aku akan membawa senapan. Aku tidak mau kalah.” ucapan sehun membuat taeyeon melongo. “K-kau jangan macam-macam ya. Senapan sangat berbahaya, dan kau bisa di tuntut karena kepemilikan senapan ilegal.”

Lagi-lagi sehun tertawa, dia tidak menyangka reaksi gadis ini ternyata akan menjadi seserius itu. “Kau tidak tau aku hanya bercanda ya? Aku tidak akan sebodoh itu.”
Taeyeon menghela napas lega. “Lalu, bagaimana jika mereka kembali menyerangmu? Apa yang akan kau lakukan?”
Sehun terdiam sesaat, lalu menatap lurus ke arah tv berukuran besar di depan nya. “Melawan nya.”

“Aku akan membantumu. Semua ini terjadi karena kau menolong ku. Itu berarti aku di ikutsertakan dalam masalah ini.” sehun langsung menoleh ke arah taeyeon yang berada tepat di samping nya, kemudian menyeriangi. “Kau tidak akan sanggup melawan mereka.” nada nya terdengar sangat meremahkan, dan menurut taeyeon itu sudah menjatuhkan harga diri seorang wanita.

“Kau hanya tidak tau saja kemampuan ku seperti apa. Jika kau tau, kau akan terkejut.” taeyeon bersedekap, seolah ia ingin menantang sehun.

Sehun tersenyum kecil. “Oh ya? Tunjukkan kemampuanmu padaku.”
Taeyeon menatap kuku-kuku nya. “Nanti saja, aku sudah mengecat kuku-kuku ku, aku tidak ingin merusak art ku.”
Sehun tertawa mengejek. “Ha! Itu hanya alasanmu.”
Taeyeon memandang sehun dengan jengkel. “Akan ku buktikan saat aku sudah siap. Dan.. Segera telepon aku jika kau bertemu lagi dengan mereka.”

Sehun meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku. “Ahh.. Tidak usah. Aku tidak butuh kepahlawanmu.” matanya mulai terpejam, ia lelah.
“YAKKK?!!!!!” Taeyeon berteriak kesal dengan menggunakan mic. Sontak sehun langsung membuka matanya dan memandang taeyeon marah. “AKU SUNGGUH-SUNGGUH.” Lanjutnya masih dengan mic di depan bibirnya.
Sehun menenangkan jantung nya dan berusaha untuk kembali menghangatkan suasana. “Oke oke baiklah. Aku akan menelponmu nanti.”

Taeyeon tersenyum puas. Tapi mendadak dia teringat sesuatu, ya, bahkan sampai sekarang mereka belum resmi saling berkenalan.

“Aku.. Kim taeyeon.”
“Oh.” jawab sehun singkat, tapi kemudian dia melanjutkan. “Kau tau namaku, kan? Jadi tidak perlu ku beri tau lagi.”
“Seorang murid pembawa masalah selalu di kenal semua orang.” taeyeon tersenyum mengejek.

Sehun tidak merasa harus marah, karena kenyataan nya memang begitu. Dan dia merasa senang karena taeyeon selalu berani tampil apa adanya, tanpa ada rasa takut sama sekali.
Dan tanpa di sadari sehun, dirinya menjadi sehun yang sesungguh nya di depan taeyeon. Ia melepas topeng di depan taeyeon.
.
.
.
Keesokan harinya di sekolah langsung heboh dengan pemberitaan ‘sehun dan krystal berpacaran’. Mereka memasang headline itu di mading. Orang-orang bergumul berusaha untuk saling mencari kejelasan. Dan akhirnya tokoh utama nya datang dengan terheran-heran. Krystal, dia memandang sekolompok orang dengan pandangan bingung.

“A-ada apa ini?”
Mereka memberi jalan untuk krystal. Gadis itu di persilahkan untuk membaca pemberitaan yang menyudutkan diri nya. Dia langsung membekap mulut nya sendiri, tidak percaya.
“Krystal, kami disini butuh penjelasanmu.”
“Ya, betul. Jelaskan pada kami, apa berita itu benar?”
“Kenapa kau tetap diam? Katakan sesuatu pada kami!”
“Kami memang berpacaran.” tokoh utama laki-laki nya akhirnya muncul dari belakang. Serentak semuanya menoleh ke arah sehun.
Mereka tidak pernah berani bertanya-tanya pada orang yang paling mereka takuti di sekolah ini. Mereka hanya diam, dan menunggu penjelasan nya sendiri.
“Kami memang pacaran, dan aku yang memasang berita ini di mading, untuk mengejutkan banyak orang, dan untuk mengumumkan peresmian hubungan kami kepada semua orang.” jelas sehun sambil merangkul pundak krystal yang sejak tadi tertunduk malu.
Krystal sangat bahagia. Ketika sehun menembak dirinya lewat telepon ia tidak ragu lagi untuk mengatakan ‘iya’. Karena ia benar-benar sudah terjerat akan pesona maut seorang oh sehun. Siapapun tidak akan bisa menolak nya.

Dan semua gadis di sana langsung patah hati, ada yang menangis, marah, dan bahkan sampai ada yang pingsan. Semuanya menjadi kacau.
Sementara dari jauh taeyeon sejak tadi memperhatikan situasi menghebohkan di depan mading. Dia tidak menyangka sehun melanjutkan misi nya, ia sangat kecewa.

Dari jauh pula sehun bisa memperhatikan seorang gadis bertubuh mungil sedang menatap penuh amarah ke arah nya. Mendadak hati nya tiba-tiba menjadi sakit. Tapi kemudian dia mencoba untuk menahan nya, ini adalah misi yang harus ia selesaikan. Dia sudah mempersiapkan ini sudah sangat lama.
.
.
.
“Kau sudah mendengar berita itu?” tiffany langsung bertanya begitu taeyeon mulai terduduk di bangku nya.
Taeyeon menenggelamkan wajah nya di antara lengan nya. “Aku tidak peduli dengan berita itu. Aku tidak peduli.”

Tiffany mengernyit bingung. “Yak! kau ini kenapa? Kedengaran nya kau tidak terima. Sudah ya kau lupakan saja pria itu, dia memang pandai sekali memberi harapan palsu pada gadis-gadis di sini. Sekarang kau cari saja pria yang tidak buaya seperti dirinya.”
Taeyeon menghela napas. Tiffany sudah salah paham dengan nya. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan dirinya, yang jadi masalah nya adalah krystal, gadis itu tidak lama lagi akan mengalami luka dari sehun.

Dia ingin menceritakan semuanya mengenai sehun pada tiffany. Tapi ia urungkan mengingat dia ingin menjaga rahasia sehun. Cukup dirinya saja dan Tuhan yang tau, dia tidak ingin melibatkan banyak pihak. Masalah nya pasti akan runyam.

Keheningan langsung heboh saat krystal datang dengan sehun yang mengantar gadis-nya ke kelas. Setelah gadis-nya terduduk, pria itu memberi krystal seulas senyuman manis yang lagi-lagi membuat orang-orang di sana berkasak kusuk.

“Bagaimana ini? aku masih ingin tetap denganmu. Tapi mungkin.. kau tidak ingin aku di hukum gara-gara aku ikut belajar di sini. Dengan sangat tidak rela aku harus kembali ke kelasku yang membosankan, aku pasti akan merindukanmu, sayang.” krystal merona, ia hanya bisa tertunduk malu.

Setelah pria itu berbalik, ia memandang taeyeon yang sedang menenggelamkan wajah di antara lengan nya. Beberapa detik. Sampai akhirnya langkah panjang nya membawanya pergi keluar kelas.
Krystal langsung di sambut teman-teman nya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
.
.
.
Di jam istirahat pertama, sehun mengirimi taeyeon sms. Kemarin mereka memang saling bertukar nomer. Untuk taeyeon meminta nomer sehun adalah dalam rangka ingin membantu sehun kalau-kalau pria itu kembali di kepung seperti tadi. Jadi, sehun wajib menghubunginya. Meskipun sebenarnya ia tidak yakin bisa membantu menyelesaikan masalah itu.

“Temui aku di atap sekolah.”

Mau tidak mau dia menuruti permintaan sehun. Lagi pula sekarang dia ingin mencaci maki sehun sepuasnya. Setelah beralasan pergi ke toilet pada tiffany, akhirnya ia pergi menuju atap sekolah, yang memang sangat jarang di datangi para murid yang ada di sini.

Setelah berjuang melewati tangga yang panjang. Dengan lega taeyeon bisa sampai juga di atap, tanpa harus ada adegan dimana dia pingsan karena kelelahan. Dia bisa melihat seseorang dengan tinggi yang menjulang itu sedang berdiri di depan pagar pembatas. Terlihat kepulan-kepulan asap di dekat sehun. Setelah taeyeon berada di samping sehun, dia menyadari sehun sedang menikmati nikotin.
Pria itu menoleh dan menatap gadis di sebelah nya dengan datar. “Kau terkejut?” tanya nya bermaksud pada kebiasaan nya dalam merokok.
Taeyeon menggeleng. “Tidak, sama sekali tidak aneh bagimu.”

Sehun tersenyum. Kemudian dia kembali mengisap rokok nya kuat-kuat dan mengembuskan nya ke udara, sampai membentuk gelembung-gelembung asap. “Jika kau keberatan, aku akan berhenti.” kata sehun retoris.
“Aku tidak punya hak untuk menyuruhmu. Sebaiknya kau jelaskan, kenapa kau memanggilku kemari?” tanya taeyeon dengan nada menuntut.

Tadinya taeyeon ingin berteriak marah pada sehun karena sudah mempermainkan krystal. Tapi begitu melihat mata sehun yang memancarkan kepedihan, dan asap berbahan nikotin itu adalah caranya untuk meredakan kepedihan dalam hati nya. Ia harus menelan kata-kata sumpah serapah nya.

“Karena dia adik tiriku, aku melakukannya.” Taeyeon langsung menoleh ke arah sehun yang sama sekali tidak menyadari raut wajah bingung nya.
“a-apa maksudmu? Dia.. siapa?”
“krystal.”

Taeyeon kontan membulatkan matanya tak percaya, kedua matanya terus menatap mata sehun, meminta penjelasan lebih.

“Aku tidak ingin merasakan kepahitan ini sendiri. Sebagai kakak aku harus membaginya dengan adikku. Terdengar jahat, tapi sekali saja… Aku ingin dunia adil padaku.”

Taeyeon menatap sehun dalam-dalam. Kepahitan itu sudah terlalu mencolok dalam mata nya. “Tapi.. Bagaimana bisa dia tidak mengenalmu?”

“Kita belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi… Aku sendiri yang mencari tau. Sementara dia sama sekali tidak peduli dengan kehidupan kakak tiri nya.” Sehun tertawa pahit.

“Setelah kau berhasil melakukan pembalasan itu, tidak ada jaminan kau bisa bahagia. Itu hanya rasa puas… Sesaat.” jelas taeyeon hati-hati.

Sehun tersenyum, lebih pada senyuman mengejek untuk dirinya sendiri. Kalimat yang selalu keluar dari bibir gadis itu, sama sekali tidak pernah melesat dari sasaran.

“Aku tau itu hanya rasa puas sesaat. Tapi setidak nya aku ingin mencoba.” sehun merenung.

Taeyeon yang tadi pagi kecewa pada sehun, sekarang ia mengerti, ia memaklumi alasan sehun. Pria itu sebenarnya ingin membagi rasa sakit nya dengan saudara tiri nya, tapi cara yang ia tempuh adalah jalan yang salah. Dan pria itu tidak begitu pintar dalam mengekspresikan perasaan nya.

“Apa kau akan memberitahu krystal mengenai hubungan asli kalian?”
“Ya, suatu saat nanti. Setelah dia bisa merasakan kepedihan, baru aku akan memberitahu kejutan nya.” ujar sehun tanpa ragu. Sehun sudah menyusun rencana nya dengan baik.

Taeyeon menghela napas berat. Jujur saja, ia ingin sekali menghentikan rencana sehun. Tapi, dia tau, dia tidak berhak. Ini hidup sehun, dan sehun tidak suka seseorang mengatur hidup nya. Jadi, untuk sekarang, taeyeon membiarkan pria itu hidup dengan rencana nya.

“Ckk kau memang penuh drama, oh sehun.” taeyeon menjulingkan mata nya ke arah sehun.

Sehun tertawa kecil. “Haha, drama penuh komedi, kan?!” sindir nya. Keduanya kompak tertawa.

Suara dering ponsel yang berasal dari saku sehun, sontak menghentikkan aktifitas ‘tertawa’ mereka. Sehun merogoh ponsel nya, lalu tertera di layarnya ‘krystal’. Gadis itu menelpon nya, dengan buru-buru ia mengangkat nya.

“Aku sedang di atap, ya ya, dalam setengah menit aku akan datang ke sana, tunggu aku ya, bye, saranghae.”

Setelah menutup ponsel nya, sehun memberi taeyeon pandangan ‘aku harus pergi’. Tanpa mengatakan apapun taeyeon mengangguk.

Taeyeon tidak langsung bergerak turun ke bawah begitu sehun sudah menghilang dari pandangan nya. Dia kembali menghadap ke arah pagar pembatas. Pandangannya menyapu langit dengan matahari di tutupi oleh awan-awan, jadi langit kali ini tidak secerah kemarin. Helaan napas keluar dari bibir mungil nya. Sejujurnya tadi ia terkejut bukan karena pernyataan sehun, tapi lebih kepada sehun memberitahu lagi suatu rahasia padanya. Itu artinya sehun tidak butuh topeng di depan nya, dia sudah mulai terbuka padanya. Tapi, apakah dia sanggup seperti sehun? Apakah dia bisa seterbuka itu?

.
.
.
Taeyeon membereskan berbagai alat tulis yang berserakan di lantai. Adik nya, satu-satu nya anggota keluarga yang ia miliki sekarang, sedang tertidur pulas di atas sofa. Dia, sebagai kakak, merasa wajib untuk membantu adik nya mengerjakan soal-soal, dan menjelaskan apa yang tidak di mengerti oleh adik nya. Dia mengajari adik nya sampai adik nya itu tertidur, dan seperti biasa dia akan membereskan semua nya.

Ketika sedang menyimpan peralatan tulis itu di meja belajar, ia mendengar suara ketukan pintu dari luar. Ia mengernyit, tidak biasanya ada seseorang datang ke rumah nya di jam malam seperti ini. Akhirnya dia mencoba melihat seseorang itu dari jendela sebelum dia benar-benar membukanya. ia harus memastikan orang yang mengetuk pintu itu bukan orang jahat.

Dia mengintip di balik jendela. Sontak dia kaget bukan main. Sosok di balik pintu itu ternyata oh sehun. Dia benar-benar tidak pernah mengira orang itu akan mendatangi rumah nya.

Dengan air muka yang di liputi kebingungan, taeyeon akhirnya memutar kenop pintu nya dan munculah di depan nya sosok berwajah malaikat. Pria itu tersenyum nakal ke arah nya.

“Ada apa?” tanya taeyeon to the point, tanpa memerdulikan kalau sehun sedang menggigil karena kedinginan.
“Harus ada alasan ya?” sehun bertanya balik.
“Ya harus. Kalau tidak kau boleh kembali pergi.” kata taeyeon dingin.
Sehun mengangkat alis nya. Air muka gadis itu terlihat sangat dingin, tidak seperti biasa. Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu di rumah nya, sesuatu yang sebenar nya ingin ia tahu.
“Aku akan mengatakan maksud dan tujuan ku kemari, kalau kau mengijinkanku masuk dulu.” kata sehun merasa menang.

Taeyeon mengangkat bahu nya, pasrah. Setidak nya dia masih punya etika yang baik terhadap tamu nya. Meskipun ia enggan sekali memberi jalur tamu nya untuk memasuki rumah yang sejak dulu ia sembunyikan pada teman-teman nya. Dan ia penasaran bagaimana bisa pria itu tau keberadaan rumah nya?

Setelah taeyeon dengan setengah hati mempersilahkan sehun masuk dan duduk. Taeyeon langsung memindahkan adik nya ke kemar nya. Kemudian gadis itu kembali ke ruang tamu dan duduk di hadapan sehun.
Sedari tadi sehun memerhatikan rumah yang cukup luas itu dengan perasaan yang tidak asing. Rumah itu terasa dingin, dan hampa. Dia jadi teringat akan keadaan rumah nya.
“Cukup mengagumi keindahan rumahku. Sekarang kau berhutang penjelasan padaku.” ucapan taeyeon langsung menyadarkan sehun dari segala lamunan nya.

Sehun kembali fokus pada taeyeon. Ia mengalihkan seluruh perhatian nya pada taeyeon. “Aku sudah dengar banyak informasi tentang dirimu. Kau menyembunyikan alamat rumahmu pada mereka dan kau menyimpan rapat-rapat rahasia keluargamu. Padahal yang aku tau, di sekolah kau sangat ramah pada siapapun, kau bukan termasuk seseorang dengan pribadi ‘introvert’ (selalu menutup diri), kau di kenal dengan pribadi terbuka di sekolah. Tapi… Kenapa kau sembunyikan ini semua? Apa yang sebenarnya terjadi di rumahmu?” tanya sehun bertubi-tubi.

Taeyeon terpaku. Di lain sisi dia merasa tersanjung karena pria itu ternyata diam-diam memperhatikan dirinya, mencari tau semua informasi dirinya. Tapi di lain sisi juga, pertanyaan sehun membuat luka itu kembali terbuka. Dia merasakan dadanya berdentum nyeri, bahkan ia sedang menahan tangis nya, yang pastinya sebentar lagi akan meledak.

Taeyeon memandang sehun setengah marah dan setengah sedih. “Ke-kenapa kau peduli padaku? Masalah itu, sama sekali bukan urusanmu. Aku tidak berhak menjelaskan semua itu padamu.” suaranya bergetar, rasanya… Sesak, ia ingin lari dari situasi seperti ini. Tapi tenaga nya sudah terkuras habis dengan kembali merasakan rasa sakit itu di dada nya.

Sehun memandang taeyeon lembut. “Karena aku tertarik padamu.”
Taeyeon mendadak diam. Pernyataan itu sangat sama seperti yang dulu pernah ia nyatakan pada sehun.
“Aku.. Tertarik pada kepedihanmu.” lanjut sehun, yang lagi-lagi kembali meniru kata-kata yang pernah taeyeon sampaikan.
Sebisa mungkin taeyeon mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri. “Aku sudah berhasil melewati kepedihan itu, jadi, jangan berkata seakan aku masih hidup dalam topeng.”
“Tidak sepenuh nya kau lepas dari topeng itu. Buktinya kau… Menyembunyikan identitas aslimu. Kalau kau sudah benar-benar menjadi dirimu sendiri. Mengapa kau harus menyembunyikan rumah dan keluargamu?” pertanyaan sehun menyudutkan nya, ia seperti di sadarkan bahwa dia memang.. Seperti itu

“Orang tuaku… Sudah tiada.” Ungkapnya pada akhirnya. Dia sudah lelah menutup-nutupi segala rahasianya, terlebih lagi pada orang yang selalu memancing dirinya untuk bercerita.

Hati taeyeon seakan di hantam ribuan ton batu. Kepedihan itu sudah berada di puncak nya. Kemudian hanya tangislah yang bisa menyeruarakan isi hatinya. Ia menangis dengan terisak. Air mata itu sudah tidak bisa lagi ia bendung.

Sehun segera meluncur mendekat ke arah taeyeon. Lalu, ia dekap gadis itu. Punggung nya yang lemah, ia usap dengan lembut.
“A-aku berpura-pura memiliki orang tua yang masih ada pada teman-temanku. Aku membohongi mereka semua… Hiks… Karena aku tidak ingin orang-orang mengasihaniku, aku tidak ingin melihat tatapan sedih orang-orang padaku. Se-semua itu semakin membuatku terpuruk. Ja..di aku menyembunyikan identitas keluargaku pada mereka, agar kebohonganku tidak tercium oleh mereka. Tapi.. Kau.. Menghancurkan benteng kepalsuan yang sudah ku bangun, aroma kebohongan itu tercium olehmu.” kalimat yang penuh emosi bercampur tangis itu di sampaikan dengan terisak pada sehun.

Sehun menulan ludah nya dengan berat. Gadis itu…. Nyatanya lebih rapuh dari dirinya. Bahkan masalah yang ia hadapi tidak semudah yang harus gadis itu jalani.

Sehun meregangkan pelukan nya, ia menatap taeyeon lekat-lekat. “Kau hanya belum bisa menerima kepergian mereka. Jadi, kau selalu hidup dengan kepura-puraan. Memasang topeng bahagia, padahal hatimu sangat hancur. Sampai kapan kau bisa bertahan? Sampai kapan kau bisa membenci kenyataan? Jika hidupmu di penuhi rasa ketidakterimaan, ayah dan ibumu tidak akan pernah tenang hidup di sana. Kau ingin mereka tidak merasa bahagia di sana? Jadi, aku mohon, jadilah dirimu yang sesungguhnya. Aku tau, aku tidak berhak mengatur hidupmu, tapi setidak nya kau jangan lagi merasakan kepedihan yang sama denganku. Orang sepertimu… Berhak untuk bahagia.”

Hati taeyeon sedikit tenang. Tidak ada yang salah dengan kalimat sehun. Pria itu tiba-tiba mengubah pandangan hidup nya. Ia langsung teringat nasib ayah dan ibunya di alam sana. Pria itu benar, bagaimana bisa selama ini ia membiarkan ayah dan ibu nya tidak tenang di alam sana? Anak macam apa dia ini?

Sekarang, ia benar-benar telah menyesal.

Akhirnya setelah ia reda dari tangis nya. Ia dengan berani menjelaskan peristiwa sebenarnya pada sehun. Sejak kematian ibu dan ayah nya, ia sama sekali tidak berani mengungkit-ungkit kematian mereka, karena saat itu ia tidak akan pernah bisa menerima nya. Tapi sekarang dia sudah sadar, ia harus menghadapi sebuah kenyataan pahit, dia harus melalui itu semua agar ibu dan ayah nya bisa lebih tenang di sana.

2 tahun yang lalu, orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil tunggal. Mobil yang di tumpangi mereka menabrak tembok besar. Keadaan ayah nya saat itu sedang mengantuk, jadi dia tidak bisa mengendalikan mobil nya.

Kecelakaan itu merenggut nyawa orang tuanya. Pada awalnya dia sangat terpuruk. Dia sempat mengunjungi club malam dan minum-minum alkohol. Semua itu ia lakukan untuk meredakan rasa sakit di hatinya. Dan dia selalu melakukan keributan besar di club itu. Kadang ia melampiaskan kekecewaan nya pada orang yang sama sekali tidak di kenal nya. Akhirnya ia selalu bersikap uring-uringan.

Tapi, seminggu kemudian dia mulai menyadari bahwa dia masih bisa kuat demi adik nya yang kini duduk di kelas 2 sekolah dasar. Adik perempuan nya selalu tersenyum, dan menikmati hari-hari nya seperti biasa. Adik perempuan nya mengerti kalau ayah dan ibunya sudah pergi. Tapi, dia tau, jika dia menangis, dia akan membuat ayah dan ibunya menangis di sana. Jadi, gadis berusia 7 tahun itu, rela berbahagia demi membuat ayah dan ibu nya bahagia di alam sana.
Jadi, sampai saat ini taeyeon bisa menjalani hari-hari nya dengan kuat demi adik nya, seseorang yang kini menjadi sumber kekuatan nya.
Meskipun saat itu dia masih belum menerima sebuah kenyataan. Tapi setidak nya dia bisa menjadi gadis kuat.

Dia bisa mencari uang untuk kebutuhan mereka dengan bekerja paruh waktu di salah satu cafe. Tanpa adik nya, dia mungkin… Akan mengakhiri hidup nya.

Dan… Kedatangan pria itu, sampai pria itu memberikan kalimat yang langsung menampar dirinya keras-keras. Pria itu berhasil menyadarkan dirinya. Seorang sehun sudah membantu nya untuk melepaskan topeng yang selama ini menutupi kepedihan nya.

Sehun sendiri merasa sangat lega. Gadis itu sudah bisa tersenyum, melepas semua kepedihan nya. Dengan tulus sehun mengusap air mata taeyeon yang masih berkeliaran di sekitar pipi nya, meakipun gadis itu sudah mulai tenang dan bisa kembali tersenyum. Sehun melakukan nya dengan sepenuh hati.

“Lega? Beban yang selama ini kau pikul, sudah berkurang?” tanya sehun di sela-sela menyeka air mata taeyeon.
“Berkat dirimu, aku jadi merasa kembali menjadi taeyeon yang dulu. Tanpa topeng, tanpa kepalsuan, dan tanpa kepedihan. Terimakasih.” taeyeon tersenyum penuh rasa terimakasih. Dia tidak tau, sampai kapan dia bisa memakai topeng, kalau tanpa pria itu yang membantu melepas nya.
“Kau sudah menerima kenyataan. Untuk saat nya kau bahagia, jalani kehidupan yang baru, yang lebih baik.” ucap sehun yang sekarang sudah menurunkan tangan nya dari pipi taeyeon yang mulai tampak merona.
“Bukan aku, tapi kita. Tidak bisakkah kau juga menerima kenyataan?”

Pertanyaan itu mendadak membuat sehun merenung. Dia menertawakan dirinya dalam hati. Bisa-bisa nya dia berbicara seperti itu, kalau dirinya saja masih tidak sanggup menerima kenyataan yang pahit? Dia hanya terus marah dan membenci kenyataan yang sedang ia hadapi.

“Kita pasti bisa menerima kenyataan itu. Ini semua takdir yang di gariskan Tuhan pada kita. Kita seharusnya bisa melewati perjalanan pahit itu kan? Tuhan pasti sedang merencanakan sesuatu yang indah setelah ini.” lanjut taeyeon dengan perasaan penuh harap.

Sehun yang beberapa saat tertunduk, sekarang mendongak, menatap dalam ke arah mata taeyeon yang sedang berkedip-kedip. Hanya menatap. Beberapa detik. Sampai akhirnya dia berdiri dan pergi begitu saja. Tanpa ada kata perpisahan yang keluar dari bibir tipisnya.

Semuanya menjadi dingin dan hening setelah kepergian pria itu. Taeyeon sengaja tidak mengejarnya, dia hanya terus berdiam diri di tempat nya. Karena ia paham, sehun perlu waktu, lukanya terlalu besar, jadi mungkin sehun masih terlalu sulit untuk menerima kenyataan di hidup nya.

Beda seperti dirinya, ia hanya membuat kepedihan sendiri, luka di hati nya, ia yang telah membuatnya. Kalau saja dia merelakkan orang tuanya dari dulu, mungkin lukanya hanya sebentar. Tapi kadang manusia menganggap nya menjadi tidak adil, karena Tuhan telah memisahkan kita dengan orang yang kita cintai. Hanya… Itu tergantung pada kita, kita yang harus memilih, antara harus menerima dan tidak.

Kalau kita menerima, luka kita akan sembuh dalam sebentar. Jika kita menolak itu, kita hanya terus memperpanjang luka.

Dan dulu taeyeon salah melangkah, ia telah menyesal karena sudah memilih menolak dari pada menerima. Tapi itu menjadi pelajaran hidup bagi taeyeon. Setelah belajar arti dari ‘menerima’ sekarang dia berjanji akan selalu menghadapi tantangan berat sekalipun. Bukannya lari dari kenyataan.
.
.
.
TBC
.

Sebelumnya makasih ya buat yang udah nyempetin komen di chapter 1, dan buat siders di harapkan untuk ikut komen ya hehe :v
Di chapter ini rasa penasaran kalian terjawabkan yaa, dan aku salut banget sama yang udh nebak-nebak hubungan krystal sm sehun. Keren deh tebakan kalian pada bener bener hehe :v
.
.
.
Budayakan komen setelah baca ya, biar belajar jadi orang jujur ?/ wkwk 😀

Advertisements

51 comments on “Nothing Like Us (Chapter: 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s