Let’s Love (Chapter 3)

let_s-love gambar

Let’s Love (Chapter 3)
Author :
Chaca Aprilia
Main Cast :
KIM TAEYEON
OH SEHUN
PARK CHANYEOL
Other Cast :
Find it by yourself
Genre :
FRIENDSHIP & ROMANCE
Rated :
PG-17

Length :
Multi chapter
Disclaimer :
All cast belongs their parents and God.
But this story is original from my thoughts.
Artworker :

jungleelovely @ poster channel

^Happy Reading^

chapter 1 | chapter 2

-o0o-

Taeyeon menggeliatkan tubuhnya. Perlahan ia membuka kedua matanya.
“Hm.. Pukul berapa ini?” Ujarnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Begitu ia melihat jam yang berada di atas nakasnya ia menghembuskan napasnya berat, “Baru pukul 7,” lanjutnya malas, lalu kembali menarik selimutnya. Ia kembali memejamkan matanya lalu meringkuk di balik selimut.
Tok. Tok.
Taeyeon hanya diam menghiraukan suara ketukan dari luar kamarnya.
Tok. Tok.
“Siapa?” Gumamnya pelan, tanpa beranjak dari ranjangnya. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada guling kesayangannya.
Tok. Tok. Tok.
“Siapa?” Ia mulai mengeraskan sedikit suaranya.
Tok. Tok. Tok. Tok.
Bukk.
“Nuguyaaaaa?!!” Taeyeon berteriak keras setelah melemparkan gulingnya ke pintu. Ia mendelik kesal ke arah pintu itu. Dengan cepat ia segera turun dari ranjangnya menuju pintu.
“Siapa yang berani membangunkanku sepagi ini? Hah. Apa Ia tidak tahu jika ini hari minggu? Mengganggu saja!” Ia menggerutu kesal.
Tok. Tok. Tok.
Taeyeon mendelik, “Ck. Apa dia tidak tahu sesuatu yang namanya sabar?” Ia segera membuka kunci lalu membuka pintunya.
“Siap– hei, apa yang kau lakukan sepagi ini di rumahku?” Ujar Taeyeon cepat, ketika menyadari siapa yang sejak tadi mengetuk pintu kamarnya. Ia menatap tajam pada orang itu.
Orang yang ditatap Taeyeon itu hanya memutar bola matanya, “Selamat pagi juga, princess,” ia berujar menyebalkan.
Taeyeon mendelik kesal lalu bersender di pintu kamarnya, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, “Katakan! Apa yang sedang kau lakukan sepagi ini di rumahku? Kau mau mencuri, heh?”
Orang itu lagi-lagi memutar bola matanya, “Mencuri kakakmu, iya,” ujarnya kalem.
“Kau mau mati?”
“Uh, aku takut,”
Taeyeon mendengus kesal lalu menatap bosan pada gadis yang sedang berusaha melihat-lihat isi kamarnya dari luar, “Apa?!” Ujarnya cepat lalu merentangkan tangannya ketika gadis itu berniat masuk ke dalam kamarnya.
“Hei, aku mau masuk!”
“Apa hakmu? Ini kamarku, bodoh!”
Gadis itu tersenyum menyebalkan lalu menyilangkan lengannya di depan dada, “Kau harus bersikap baik padaku, calon adik ipar. Aku akan menjadi kakak iparmu nanti,”
Taeyeon menatap gadis itu aneh, “Kau sudah bangun?”
“Apa maksudmu?” Ujarnya bingung.
“Kau sepertinya masih bermimpi,” ujar Taeyeon dengan wajah serius.
Gadis itu mendelik kesal, “Hah, sudahlah. Cepat bersihkan dirimu. Ayah dan Ibu sudah menunggu di meja makan,”
Taeyeon mendengus, “Siapa yang kau maksud Ayah dan Ibu? Apa yang kau maksud AyahKU dan IbuKU? Dan Siapa yang memberimu izin memanggil mereka Ayah dan Ibu?” Ujar Taeyeon sinis.
“Kau ini banyak sekali bicara. Pantas saja dulu sunbae mencampakkanmu,” ujar gadis itu santai.
Taeyeon menatap gadis itu tajam, “Dengar. Jika kau masih ingin hidup, maka berhentilah mengungkit-ungkit hal itu, bitch!” Desisnya pelan.
Air muka gadis itu dengan cepar berubah, kemudian ia bergidik, “Ce-cepatlah bersiap dan turun kebawah. A-aku duluan,” ujarnya gugup lalu menghilang dari pandangan Taeyeon.
Taeyeon menghembuskan napasnya kesal lalu masuk kembali ke dalam kamarnya.

-o0o-

Taeyeon menuruni anak tangga dengan santai, kedua tangannya sedang sibuk mengikat rambut hitam panjangnya. Ia menggunakan sweater berwarna putih dan celana jeans ketat berwarna biru.
“Kau sudah bangun sayang?”
“Hm,” jawab Taeyeon acuh menjawab pertanyaan dari Ibunya itu. Ia kemudian melangkah menuju meja makan dan duduk di kursinya.
“Tidurmu nyenyak, sayang?” Mrs.Kim bertanya penuh perhatian.
Taeyeon mengangguk malas, “Tidurku sangat nyenyak, eomma. Sampai ada orang yang mengetuk pintu kamarku dengan liarnya, sangat mengganggu,” ujar Taeyeon santai seraya mengambil roti yang sudah di olesi selai oleh Mrs.Kim, “Dan itu membuat mimpi indahku menjadi mimpi buruk,” lanjutnya lalu menggigit sepotong roti.
Mr.Kim berdeham mencoba menahan tawanya. Sedangkan Mrs.Kim hanya menggelengkan kepalanya, “Anak gadis itu tidak boleh malas, sayang. Kau seharusnya bangun pagi dan membantu Eomma membuat sarapan tadi. Yoona juga tadi bangun sangat pagi untuk membuat sarapan,”
Taeyeon memutar bola matanya, “Ini hari minggu, eomma,”
“Susunya sudah siap!” Seru seseorang dengan riang. Ia membawa nampan dengan 5 gelas susu putih di atasnya.
“Ini untuk Appa,” ia menaruh gelas itu di hadapan Mr.Kim, “Ini untuk Eomma,” ia kemudian menaruh gelas yang lain di hadapan Mrs.Kim.
“Terimakasih, sayang,”
Gadis iti tersenyum, “Ne, eomma. Ini untuk Kai oppa,” ia menaruh gelas yang lain di hadapan pria yang sedang tersenyum menatapnya.
“Terimakasih, Yoong,”
“Tentu, oppa,” ia kemudian memutari meja makan sambil membawa satu gelas yang lain, “Dan ini untuk.. Taeyeon-ie,” ia tersenyum lalu menyimpan gelas itu di hadapan Taeyeon yang sedang sibuk memakan rotinya.
“Hm,” Taeyeon berujar acuh.
“Taeng,” Mrs.Kim dan Kai berujar memperingati.
“Mwo?” Taeyeon mengangkat sebelah alisnya.
Mrs.Kim hanya menggelengkan kepalanya.
Taeyeon segera menatap Yoona yang sedang duduk di sampingnya, ia mengambil susu yang tadi di sajikan gadis itu untuknya, “Kau tidak meracuninya kan?”
Yoona menyeringai, “Kenapa kau tidak mencobanya dulu saja? Jika terjadi sesuatu berarti aku meracunimu,”
Taeyeon memutar bola matanya, “Nyawa ku terlalu berharga, kau tahu?” ujarnya kalem. Lalu menaruh kembali gelas susunya.
Mrs.Kim dan Kai lagi-lagi menggelengkan kepalanya, sedangkan Mr.Kim hanya diam memperhatikan.
“Dan, ah. Kenapa kau bisa berada disini sepagi ini?” Tanya Taeyeon datar.
“Yoona menginap disini, sayang,” jawab Mrs.Kim cepat.
Taeyeon mengerutkan keningnya, “Menginap? Bloody hell. Bukankah kemarin Kai oppa pergi untuk mengantarnya pulang?”
Kai berdeham, “Kami hanya jalan-jalan, Taeng. Dan lagi pula tadi malam sudah larut jadi Yoona menginap disini,”
“Memangnya siapa yang menyuruh kalian jalan-jalan sampai larut malam seperti itu,” ujar Taeyeon ketus, “Seakan-akan itu hal yang bagus,”
“Eomma yang meminta Yoona untuk menginap, sayang. Pamali anak gadis pulang larut seperti itu,” ujar Mrs.Kim. Yoona hanya diam mendengarkan, padahal dalam hati ia terus menyumpah serapahi calon adik iparnya itu.
“Nah, itu dia! Karena itu jangan jalan-jalan sampai tengah malam lagi. Nanti harus menginap lagi,” ujar Taeyeon kalem.
Kai hanya menghela napasnya, “Baik. Aku kalah,”
Taeyeon menggendikkan bahunya acuh, “Yeah, aku hanya mau mengingatkan. Bukankah tidak baik seorang gadis menginap di rumah kekasihnya?” Ia menatap -sok- serius ke arah Yoona dan Kai, “Dan juga aku belum mau punya keponakan,” lanjutnya acuh.
Mata Kai dan Yoona membulat. Sedangkan Mrs.Kim hanya tersenyum lebar mendengar perkataan putrinya itu dan Mr.Kim hanya menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.
Taeyeon lagi-lagi menggendikkan bahunya Lalu meminum susunya, “Kalau aku mati setelah ini, akan kupastikan kau berada di penjara!” Ancamnya pada gadis yang sedang menatapnya -sok- polos.
Dasar tukang cari muka! Rutuk Taeyeon dalam hati.
“Jangan seperti itu, Taeng,”
“Baik, Appa,” jawab Taeyeon lalu tersenyum manis. Tapi kemudian mendelik ke arah Kai. Pria itu hanya menghela napas melihat tingkah adiknya.
“Baik, aku selesai!” Ujar Taeyeon lalu bangkit berdiri.
“Kau mau kemana setelah ini, taeng?” tanya Mrs.Kim lembut.
Baru saja Taeyeon akan menjawab, kakak laki-lakinya tiba-tiba menyaut, “Jangan katakan kau mau tidur lagi?”
Taeyeon memutar bola matanya jengah, “Kenapa kalian senang sekali menghakimiku?”
Kai hanya tertawa lebar mendengarnya.
“Well..” Taeyeon berdeham, “Aku akan bersepeda. Cuacanya cukup bagus, kurasa,” ujarnya lalu berlalu meninggalkan ruang makan.
Mr.Kim menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putri kesayangannya, “Baiklah, aku juga akan ke kantor sebentar,” ujarnya lalu berdiri.
“Apa ada masalah, appa?” Tanya Kai khawatir. Mrs.Kim juga menatap suaminya itu khawatir. Tentu saja. Ini adalah hari minggu. Dan tidak biasanya Mr.Kim pergi ke kantor pada hari itu, kecuali jika ada hal yang memang benar-benar penting. Yoona hanya diam saja memperhatikan.
“Tidak. Tentu saja, tidak. Appa hanya harus menandatangani beberapa berkas,” ujar Mr.Kim seraya tersenyum hangat.

-o0o-

Taeyeon menuntun sepedanya menyusuri taman. Tidak ada niat sedikitpun untuk sekedar menaiki dan mengayuh sepedanya itu. Taeyeon mencibir dalam hati. Ia menyesal sudah keluar dari rumahnya. Cuacanya memang cukup bagus. Sangat bagus malah. Dan ia merasa kulitnya akan menjadi gosong setelah ini.
Hah.
Taeyeon mengusap peluh yang mengucur dari dahinya. Ia merutuk, “Mataharinya hanya satu saja sudah sepanas ini, apalagi dua!”
Ia terus mengumpat dalam hati. Cuacanya memang sangat panas. Bahkan Taeyeon merasa seperti ia sedang di panggang. Satu langkah, dua langkah.
“Argh!” Taeyeon menyerah. Ia segera menjatuhkan sepedanya begitu saja, “Aku tidak tahan!”
“Hei, apa yang sedang kau lakukan?”
Taeyeon tersentak kaget, ia segera menoleh ke sampingnya, dan ia kembali terkejut, “Astaga!” Ia mengusap-usap dadanya, “Hah. Anda membuatku terkejut, Park Songsaenim!” Seru Taeyeon tanpa sadar menaikkan suaranya.
Pria yang dipanggil Park Songsaenim iti hanya tersenyum lalu meraih sepeda Taeyeon yang tergeletak begitu saja.
“Kenapa kau harus terkejut, hm?” Pria itu masih tersenyum seraya menatap Taeyeon.
Taeyeon hanya terdiam. Ia memperhatikan salah satu gurunya yang sangat tampan itu. Pria itu memakai kaos putih dan jaket berwarna biru dan memakai celana training berwarna senada. Tanpa sadar ia terus memperhatikan gurunya itu dengan seksama. Kenapa pria itu bisa sangat tampan? Rambut hitamnya terlihat sedikit basah oleh keringat. Dan sungguh demi apapun itu membuatnya menjadi semakin tampan dan yeah.. sexy.
Chanyeol tersenyum melihat tingkah gadis itu yang tidak berkedip memperhatikannya, “Hei, ada apa?”
Taeyeon hanya diam.
Chanyeol semakin tersenyum lebar, dalam hati ia bersorak melihat Taeyeon yang sepertinya terpesona olehnya, “Taeyeon-ah?”
Taeyeon tersentak, “Huh?”
“Ah, tidak,” Chanyeol tersenyun lebar, “Cuacanya sangat panas, kan? Bagaimana jika kita makan es krim?” Ujarnya menawarkan.
Taeyeon menatap bingung ke arah pria itu, “Err..”
“Aku tahu kau tidak akan menolak,” seru Chanyeol lalu menarik pergelangan tangan kanan Taeyeon. Sementara tangan kanan pria itu masih memegang sepeda milik Taeyeon. Setelah meletakkan sepedanya di parkiran ia segera menarik gadis itu masuk ke dalam salah satu kedai ice cream yang berada di dekat taman.
Taeyeon hanya mengikuti pria yang sedang menyeretnya itu. Dalam hati ia terus berpikir, kenapa ia diam saja diseret-seret seperti ini? Tapi Taeyeon tidak perduli. Semua bebannya terasa hilang ketika merasakan sensasi dingin ketika masuk ke dalam kedai itu.
Pria itu menarik Taeyeon menuju sebuah meja yang berada di pojok. Ia kemudian menarik salah satu kursi lalu menyuruh Taeyeon untuk duduk.
Taeyeon tersenyum tipis lalu mengucapkan terimakasih. Setelah pria itu duduk di hadapannya Taeyeon mulai mengedarkan pandangannya pada sekeliling kedai itu. Kedai itu terlihat sangat ramai hari ini. Mungkin karena cuaca hari ini yang sangat panas. Tanpa sadar Taeyeon mengangguk-angguk.
“Taeyeon?”
Taeyeon segera menoleh, “Ah, ya, songsaenim?”
Pria itu terkekeh, “Tidak perlu se-formal itu. Lagipula ini di luar lingkungan sekolah. Kau bisa memanggilku Chanyeol saja,” kekehan pria itu berubah menjadi senyuman menawan, “Atau mungkin kau bisa memanggilku oppa,” lanjutnya lalu tersenyum lebar.
Taeyeon melongo mendengar itu, “Err, ya, baiklah, o-oppa,” ia tersenyum terpaksa.
Chanyeol tertawa, “Kau sangat lucu,” ia menjulurkan tangannya lalu mengacak-acak poni Taeyeon gemas yang membuat gadis itu kembali terdiam, “Jadi, kau mau pesan apa?”

-o0o-

Taeyeon dan Chanyeol berjalan beriringan menuju rumah Taeyeon. Tadi, ketika gadis itu pamit untuk pulang, Chanyeol memaksa untuk mengantarnya. Taeyeon menolak, tentu. Ia merasa sedikit canggung berdekatan dengan pria itu. Yah, meskipun ada sedikit rasa nyaman. Mungkin karena Chanyeol terlihat seperti oppanya, jadi ia merasa sedikit nyaman dengannya. Hanya sedikit, toling garis bawahi itu!
Tadi, Taeyeon terus mengatakan jika ia bisa pulang sendiri. Tapi pria itu malah meraih sepedanya kemudian menuntunnya, dan berjalan mendahului Taeyeon. Dan merasa tidak ada pilihan lain, Taeyeon pun membiarkan pria itu mengantarkannya pulang. Sungguh! Ia ingin tertawa mengatakan itu!
Taeyeon menghentikan langkahnya, yang kemudian diikuti oleh Chanyeol.
“Jadi, ini rumahmu?” Tanya Chanyeol. Ia menatap kagum ke arah rumah gadis itu.
Taeyeon mengangguk lalu mengikuti tatapan pria itu, “Yeah, begitulah,” jawabnya acuh. Well, sebenarnya rumahnya tidak semewah itu sampai harus mendapatkan tatapan kagum dari pria itu. Rumahnya hanya memiliki dua lantai, yang memang sudah sangat umum di kompleks ini. Dan bangunannya pun tidak se bagus itu-tapi bukan berarti bangunanya jelek. Dan, yeah. Ada banyak bunga-bunga di pekarangan rumahnya.
“Kenapa?”
Chanyeol langsung mengalihkan tatapannya menatap ke arah gadis itu, “Huh?”
“Tatapanmu,” lanjut Taeyeon.
Chanyeol terkekeh, “Yeah, well. Rumahmu terlihat sangat..hangat,” ujarnya pelan.
Taeyeon terdiam, ia tidak tahu kenapa tapi hatinya merasa sakit melihat pria itu yang terlihat sedikit murung setelah mengatakan hal itu, “Kau mau.. masuk?” tawarnya.
Pria itu sontak menggeleng, lalu tersenyum, “Tidak,” tolaknya halus, “Tapi aku akan melakukannya lain kali,” ia menyeringai.
Taeyeon melongo. Entah kenapa ia ingin sekali bersorak melihat seringaian pria itu. Siapapun itu, tolong tendang ia ke Mars sekarang juga!
“Uh, oke!” Ujar Taeyeon pelan. Ia kemudian meraih sepedanya yang sejak tadi di pegangi oleh Chanyeol.
“Terimakasih untuk ice creamnya,” Taeyeon tersenyum, “Dan, terimakasih telah mengantarku,” lanjutnya.
Pria itu mengangguk lalu tersenyum, “Tentu. Well, kalau begitu aku pergi dulu,”
Taeyeon mengangguk lalu menatap Chanyeol yang sudah berlari sambil sesekali menengok ke arahnya lalu melambaikan tangannya. Tanpa sadar ia terkekeh.
“Jatuh cinta, heh?” Ujar seseorang.
Taeyeon sontak terdiam, ia mendengus kesal mendengar suara itu. Ia kemudian membuka pagar rumahnya lalu meletakkan sepedanya.
“Kenapa kau belum juga pergi dari rumahku?” Tanya Taeyeon datar. Ia kemudian mendekati gadis yang sedang berdiri di ambang pintu sambil bersedekap dada, “Minggir!”
“Sejak kapan kau dekat dengan Park Songsaenim?” Tanyanya penasaran.
Taeyeon mendelik, “Memangnya apa urusannya denganmu?” Ia kemudian menubruk bahu Yoona dengan keras lalu masuk ke dalam rumahnya dengan santai mengabaikan pekikan kesal gadis itu.
“Kau sudah pulang, Taeng?” Tanya Kai tiba-tiba.
“Hm,” jawab Taeyeon acuh seraya berlalu menuju kamarnya.

-o0o-

Taeyeon berjalan dengan terburu-buru menuju kelasnya. Ia terus merutuk dalam hati. Ia jadi kesiangan seperti ini gara-gara Kai lebih memilih untuk mengantar Yoona pemotretan daripada mengantarnya. Karena itu ia jadi harus naik bus dan sialnya bus itu malah mogok. Jika saat itu jaraknya sudah dekat dengan sekolah, Taeyeon pasti sudah memilih untuk berlari. Sayang sekali jaraknya masih jauh sekali.
Ini gara-gara Kai oppa! Jika saja ia tidak memilih Im -sialan- Yoona itu, aku pasti tidak akan kesiangan seperti ini. Awas saja! Akan kuadukan pada Ayah jika Ayah sudah kembali dari Paris. Gerutunya dalam hati.
Ya, Mr.Kim memang pergi ke Paris kemarin sore. Ada beberapa hal yang harus Mr.Kim urus disana. Karena itu tadi Taeyeon tidak punya pilihan lain selain naik bus. Jika Mr.Kim ada, Ayahnya itu pasti akan dengan senang hati mengantarnya.
Taeyeon sedikit mempercepat langkahnya. Matanya terus melihat-lihat sekeliling takut jika ada yang melihat. Oh ayolah, ini sudah pukul 7.42, dan itu berarti ia sudah terlambat 12 menit. Oh gods, Taeyeon berharap jika tidak ada guru yang memergokinya terlambat saat ini. Ia tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan diterimanya.
Taeyeon bergidik. Ia berjalan dengan hati-hati saat akan berbelok, takut jika tiba-tiba saja ia berpapasan dengan guru. Ia menengok kesana kemari, kemudian menghela napas. Aman! Katanya dalam hati lega.
Ia mulai berjalan kembali menuju kelasnya. Hah, sepertinya Jung Songsaenim sedang sakit jadi ia tidak berkeliaran seperti biasanya, dan Demi Tuhan aku berharap ia benar-benar sakit! Ujarnya dalam hati.
“Kim Taeyeon-ssi?” Seru seseorang.
Shit!
Taeyeon sontak menghentikan langkahnya. Ia mencengkeram erat lengan tasnya. Ia bergidik ngeri. Kenapa Tuhan tidak pernah berpihak padanya?
Taeyeon masih belum berbalik ke arah seseorang yang sedang mendekatinya saat ini.
“Terlambat, Nona?” Seru orang itu.
Dengan gerakan lambat Taeyeon berbalik menatap seseorang yang memergokinya itu.
Taeyeon tersenyum tipis, kemudian membungkuk sopan, “Selamat pagi, Jung Songsaenim,” ujar Taeyeon tenang.
Jung Songsaenim melangkah dengan angkuh menuju ke arah Taeyeon, ia menyeringai, “Kau terlambat, Nona Ketua Murid?”
Taeyeon meringis dalam hati, tapi ia tetap berkata dengan tenang, “Apa maksud anda, Jung songsaenim?”
Jung songsaenim meletakkan tangannya di dada, “Aku tidak melihatmu di gerbang bersama Sehun tadi. Dan aku yakin itu karena kau belum datang,” ia tersenyum dingin.
Taeyeon mendengus, “Apa maksud anda, songsaenim?”
“Apa kau berfikir akan ada sebuah keringanan hukuman hanya katena kau adalah Ketua Murid?” Lanjutnya.
Taeyeon merutuk dalam hati. Perawan tua ini selalu saja mencari gara-gara denganku. Tidak adiknya, tidak kakaknya, semua sama saja!
“Menurutmu, hukuman apa yang harus aku berikan kepadamu?” Ia kembali menyeringai.
“Tidak perlu memikirkan hal itu, Songsaenim!”
Jung Songsaenim menatap tidak percaya pada seseorang yang berdiri di belakang Taeyeon. Taeyeon dengan perlahan berbalik ke arah orang itu, tapi sebelum ia berbalik dengan sempurna, seseorang itu dengan tiba-tiba melingkarkan lengannya di bahu Taeyeon, sehingga gadis itu tetap berdiri menghadap Jung Songsaenim. Mata gadis itu membulat. Ia mendongak menatap Sehun yang juga sedang menatapnya. Pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Taeyeon menelan ludahnya kasar ketika pria itu meremas bahunya pelan.
“Kim Taeyeon tidak terlambat, Songsaenim. Ia baru saja selesai berkeliling,” ujar Sehun tiba-tiba. Ia menatap lurus ke arah Jung Songsaenim.
“Uh, benarkah?” Tanya Jung songsaenim tidak percaya. Ia menatap tajam ke arah Sehun, kemudian ke arah Taeyeon.
“Ya, songsaenim,”
“Kau tidak perlu melindungi rekan ketua muridmu itu, Oh Sehun,” Jung Songsaenim kembali berkata dingin, “Jika ia terlambat, maka ia harus dihukum. Bukankah sangat tidak baik seorang Ketua Murid mencontohkan hal yang tidak-tidak kepada murid yang lain?” Lanjutnya sinis.
Taeyeon mendengus dalam hati. Sepertinya gurunya itu sangat ingin ia mendapatkan sebuah hukuman.
“Tapi, Kim Taeyeon tidak melakukan kesalahan apapun, Jung Songsaenim,” Sehun tetap berkata tenang. Ia masih tetap merangkul gadis itu.
“Kalau begitu bisa kau ceritakan kenapa, dia..” Jung Songsaenim menunjuk Taeyeon dengan dagunya, “..bisa tidak ada di gerbang tadi? Aku juga tidak melihatnya berkeliling,” ia tersenyum puas ketika melihat wajah masam Taeyeon dan Sehun uang hanya diam.
“Kim Taeyeon berada di Kantor Ketua Murid tadi. Aku menyuruhnya untuk tetap berada disana saat aku berjaga di gerbang,” Sehun berkata tenang, “Dan untuk masalah berkeliling mungkin anda sedang tidak beruntung jadi tidak bertemu dengannya. Kim Taeyeon berkeliling sekolah tadi. Sendirian,” lanjutnya dengan penekatan diakhir.
“Apa maksudmu?” Tanya Jung songsaenim tidak mengerti. Begitupun Taeyeon. Ia mendongak menatap pria yang hanya menampakkan wajah datarnya itu.
Sehun berdeham, “Well, kau bisa katakan jika aku membagi tugas kami,”
“Dan kau bisa katakan alasannya, Oh Sehun?” Kata Jung Songsaenim geram.
Sehun menggendikkan bahunya acuh, “Aku belum mengerjakan tugas Matematika ku. Jadi, aku membiarkan Taeyeon tidak ikut berjaga di gerbang, agar ia bisa berkeliling sekolah sendirian nanti. Sementara aku akan mengerjakan tugasku saat ia berkeliling” ujarnya lalu mengangkat buku yang entah sejak kapan berada digenggamannya.
Jung Songsaenim mendengus kesal mendengarnya.
“Well, bolehkah kami permisi? Kami sudah sangat terlambat masuk kelas,” ujar Sehun sopan, ia kemudian membungkukkan badannya dan melirik ke arah Taeyeon yang menatapnya tidak percaya. Ia segera mendorong kepala Taeyeon sedikit dan mendorong bahunya agar membungkuk. Taeyeon mendengus kesal diperlakukan seperti itu oleh Sehun.
“Kami permisi,” Tanpa menunggu jawaban Jung Songsaenim, Sehun segera menarik Taeyeon menuju ke arah kelasnya.
Taeyeon mengerutu kesal, apalagi ketika menyadari jika pria itu sedang menggenggam tangannya.
Tapi lebih dari itu, berbagai pertanyaan memenuhi pikiran Taeyeon.
Kenapa Sehun mau menolongku? Tanyanya heran.
Taeyeon mendadak berhenti ketika Sehun juga menghentikan langkahnya.
“Cepat masuk!” Titahnya.
Taeyeon hanya diam memperhatikan Sehun.
“Kim Taeyeon?”
“Kau gila?” Ujar Taeyeon tiba-tiba.
Sehun meringis, dengan cepat ia melepaskan tangan Taeyeon yang sejak tadi ia genggam, “Apa itu yang bisa kau ucapkan pada orang yang baru saja menolongmu?”
Taeyeon mendelik, “Memangnya aku yang memintamu melakukan itu?” Ujarnya cepat.
Sehun baru akan menjawab ketika Taeyeon kembali membuka mulutnya.
“Tapi Terimakasih,” lanjutnya cepat.
Sehun mengangkat sebelah alisnya, “Apa?”
“Apanya yang apa?”
“Aku tidak mendengar apa yang katakan,” ujar Sehun santai.
Taeyeon mendengus, “Terimakasih. Oh. Sehun. Sekarang kau mendengarnya?” Ujarnya panas.
“Sebenarnya.. tidak! Coba ulangi sekali lagi. Jika kau mengatakannya dengan manis mungkin aku bisa mendengarnya,” pria itu menyeringai.
Sialan! Gerutu Taeyeon dalam hati.
Taeyeon menghela napas. Baiklah, sekali ini saja.
Taeyeon dengan cepat segera menatap mata Sehun, “Terimakasih atas bantuanmu, Oh Sehun-ssi,” ujarnya halus lalu tersenyum terpaksa ke arah Sehun.
Senyum lebar mengembang di wajah Sehun, tapi sedetik kemudian ia menyeringai, “Baiklah, aku sudah bisa mendengarnya sekarang,” ujarnya puas, “Sekarang cepatlah masuk ke kelasmu,” titahnya lagi. Ia menunjuk pintu kelas dengan dagunya.
Taeyeon merutuk keras, bagaimana ia bisa tidak sadar jika itu adalah kelasnya? Astaga!
“Dan, ah!” Taeyeon segera menatap Sehun, “Karena aku sudah mau berbohong untukmu, kau harus mau berkeliling sendirian saat jam istirahat nanti,” ujar pria itu santai.
Taeyeon melongo, “Hei, kau itu sangat perhitungan sekali,” protesnya.
“Hei, apa kau tahu jika berbohong itu tidak menyenangkan? Aku sudah mau berbohong untukmu tadi, selain itu aku juga berjaga sendirian. Dan apa kau tahu jika aku juga berbohong pada Ahn Songsaenim? Hah, aku benar-benar jadi pembohong hanya untuk menyelamatkanmu. Bagus sekali,” cerocos Sehun panjang lebar.
Taeyeon hanya terdiam mendengar perkataan Sehun. Ia menatap pria itu bingung.
“Hah, sudahlah. Cepatlah masuk,” titah Sehun lalu memutar tubuh Taeyeon menjadi membelakanginya lalu mendorongnya menuju pintu, “Jam pelajaran sudah dimulai sejak tadi, jika kau lupa,” lanjutnya renyah.
“T-Tunggu!” Seru Taeyeon tiba-tiba. Dengan cepat ia segera berbalik menghadap Sehun, ia menatap mata pria itu dalam, “Kenapa kau mau melakukan semua itu untukku?” Tanyanya penasaran.
Sehun mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum, “Sudahlah! Aku pergi dulu!” Ujarnya riang, “Dan kau! Cepatlah masuk!” usai mengatakan hal itu, tangan Sehun terulur ke arah Taeyeon. Dengan cepat, ia segera mengacak-acak rambut gadis itu gemas. “Aku pergi dulu, dan jangan lupakan tugasmu nanti, sweetheart,” Katanya lalu tertawa renyah.
Ia segera pergi meninggalkan Taeyeon yang masih mematung akan perlakuannya.
Seakan baru tersadar, Taeyeon segera menatap horror Sehun yang sudah berjalan menjauh. “Ya! Oh Sehun! Apa yang kau lakukan?!!”
Samar-samar terdengar suara tawa Sehun. Ia kemudian mengangkat tangan kanannya yang membawa buku lalu melambaikannya tanpa berniat membalikkan badannya.
Taeyeon mendengus, “Oh Sehun gila! Apa yang baru saja ia lakukan padaku? Dan sweetheart? Astaga! Astaga! Dan hei, apa yang terjadi denganku? Apa aku memiliki penyakit jantung?” Cerocosnya lalu meletakkan tangannya di dadanya, “Ada apa dengan jantungku ini? Oh gods! Apa yang harus aku katakan pada Ayah dan Ibu? Bagaimana dengan reaksi mereka—”
“Kim Taeyeon-ssi?”
“Oh God!” Celetuk Taeyeon. Ia segera berbalik dan melihat ke arah pintu kelasnya dimana ada seseorang yang sedang berdiri disana, ia membungkuk lalu tersenyum lebar, “Annyeonghaseyo, Yoo songsaenim,”
“Kau tidak masuk kelas?” Ia mengangkat sebelah alisnya.
Taeyeon nyengir lebar, “Ah, ya,” ia segera melangkah menuju ke arah Yoo Songsaenim, “Permisi, Songsaenim,” katanya lalu segera masuk ke dalam kelas.
Yoo songsaenim hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku salah satu murid kesayangannya. Ia kemudian masuk ke dalam kelas itu lalu menutup pintunya.

To be Continued..

A/N

Hai, gimana chapter ini? aku harap kalian puas. aku tahu chapter kemaren bener-bener engga banget 😦

hehe, aku ngepostnya cepet yah? 😀 itu karena tanggal 10 april ini aku ulang tahun haha 😀 jadi, ya berbagilah ceritanya 😀 pret 😀 hahaaa..

semoga chapter ini memuaskan 😉 jujur aku juga kecewa banget sama chapter kemarin. yang komen bisa diitung jari jumlahnya, padahal yang ngebaca banyak 😦 tapi gak apa-apalah ^-^ mungkin mereka lagi pengen jadi silent readers 😀

Seeyou.

Advertisements

59 comments on “Let’s Love (Chapter 3)

  1. Aaaah, daebakk..
    Thor chaoter selanjutnya tolong panjangin dikit dooong, banyak juga boleh#plakk

    Oke, fighting ne!!!

  2. next nya diprcpat pliss Thorr
    ff nya keren bngat!
    *maaf ya, baru Comment di chap yg ini >.<
    Keep Writing & Fighting❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s