Nothing Like Us (Chapter: 1)

New Adobe Photoshop Image

Title
Nothing Like Us
Author
DeliaAnisa
Genre
School Life, little sad, and romance
Length
Three Shoot
Rating
PG-17
Main Cast
Kim Taeyeon and Oh Sehun
Disclaimer
FF ini murni dan asli hasil dari imajinasi saya, bila ada kesamaan tentunya itu tanpa disengaja. Cast yang saya pakai bukan milik saya, hanya Ortu mereka dan Tuhan YME, saya hanya meminjam untuk berkarya dan berniat untuk menghibur para pembaca. And please, don’t plagiat.
Happy reading and enjoy guys ^^


Oh sehun.
Tampan,
Beringas,
Ganas,
Di takutkan,
Dan di puja-puja.
Di SMA hyeosin, mustahil jika tidak ada yang mengenal nya. Parasnya yang tampan, tubuh nya yang ideal mampu memikat gadis-gadis yang ada di sana. Selain kedua itu dia mempunyai keahlian yang makin membuat para penggemarnya tergila-gila dengan nya, keahlian itu adalah; bermain basket, bermusik, jago bela diri, dan lain sebagainya. Sejak SD dia memang sudah terbiasa di elu-elukan seperti ini, dan ia sangat menikmati teriakan-teriakan para gadis dan tatapan terpana mereka.

Tapi sejak tragedi itu sehun sudah tidak lagi bisa dengan santai menikmati kesenangan itu. Di kehidupan nya yang sekarang dia merasa pujian dan teriakan itu begitu mengganggu nya. Semua itu bagaikan parasit yang hidup di tubuh seorang oh sehun. Dia tidak suka. Dia benci. Dan pribadi sehun sekarang adalah pribadi yang cinta akan ‘kesendirian’. Di samping itu dia berubah menjadi sosok yang kasar. Dia tak tanggung-tanggung membolos, membangkang perkataan guru, dan bertingkah sesuka hatinya.

Semua guru di Hyeosin hanya bisa menggeleng-geleng dan mengelus dada mereka. Awal nya mereka sering menghukum sehun, berbagai hukuman sudah mereka terapkan pada oh sehun. Dari mulai hukuman ringan sampai hukuman berat sekalipun. Tapi oh sehun sama sekali tidak pernah jengah. Jika di skors dia merasa senang, dia pikir jalan-jalan sendiri dan menikmati ketenangan lebih mengasyikan di bandingkan harus berhadapan dengan papan tulis yang sedetik saja membuat nya merasa jenuh. Jadi, yah, dia memanfaatkan skors itu dengan main-main, tanpa memikirkan untuk berintropeksi diri. Kalau hukuman fisik seperti push up, lari, membereskan kelas dan toilet, dia terima dengan senyuman dan semangat. Menurut nya hukuman fisik itu seperti olahraga, dengan semua itu otomatis tubuh nya bisa lebih terbentuk lagi. Tidak perlu lagi perlu ke gym untuk membentuk nya, begitulah pikiran aneh seorang oh sehun. Jadi, semua guru di sana hanya bisa membentak oh sehun tanpa lagi mengeluarkan ancaman hukuman untuk sehun, karena semua itu percuma, sehun malah menikmati hukuman mereka. Di samping kekesalan mereka, para guru juga memaklumi tingkah sehun yang lebih bisa di sebut ‘brandalan’. Mereka tidak sepenuhnya menyalahkan sehun, setelah para guru mendengar cerita mengharu biru dari ibu nya.
.
.

Tapi, ada satu orang gadis yang menganggap bahwa sehun bukan seorang brandalan, dia punya sisi yang lembut dan baik. Gadis itu telah membuktikan nya ketika ia sedang berada di bus, berdesak-desakan, dan tangan-tangan nakal pun nyaris ingin menyentuh nya, tapi harga diri nya terselamat kan begitu ada sehun yang menyelamatkan nya. Sehun memang di samping nya, tapi dia tak mengira sehun menghajar orang yang hampir membuat dirinya ternoda. Setelah menghajar pria itu dengan satu kali pulukan yang mendarat mulus di pipi, sehun membawa pria berkumis itu pergi ke luar bis. Gadis itu memperhatikan nya dari balik jendela, sehun sangat kalap, ia menghajar habis-habisan, sampai ada polisi yang menghentikan aksi brutal sehun.
Dia… Pria yang peduli pada wanita.
Saat itu lah gadis itu mulai tertarik pada oh sehun. Bukan karena fisik yang sempurna yang ia kagumi, tapi, sikap nya, sikap yang gentle menurut nya. Dan sikap… Misterius nya. Tapi lebih penting lagi, sorot mata yang terkadang menyimpan kepedihan itu, selalu mengingat kan diri nya akan masa lalu.

Sebelum bel jam pertama berbunyi, gadis itu menyempatkan untuk menceritakan peristiwa di bis tadi kepada teman sebangku nya. Saat seorang oh sehun dengan tanpa kenal takut maju menghadapi pria yang sudah berumur tapi mesum itu. Dia mengucapkan dengan nada menggebu-gebu, seolah oh sehun sudah menyelamatkan bumi dari serangan alien. Sang sahabat hanya bisa menggeleng. Dia tidak menyangka perasaan seseorang akan begitu mudah berubah. Seorang kim taeyeon awal nya tidak pernah merasa setertarik ini pada sehun, beda lagi dengan para gadis yang ada di hyeosin. Hanya dengan melihat tampang nya pun mereka langsung mencap diri mereka sebagai ‘penggemar oh sehun’. Itu artinya ketertarikan taeyeon pada sehun tergolong sangat langka. Jarang-jarang ada yang mengaku mereka tertarik pada sehun karena sikap nya.

“Kau jangan dulu tertipu. Bisa saja dia menolong mu karena ada tujuan jahat nya.” ucap tiffany mengira-ngira.
Taeyeon langsung merengut. Lagi-lagi ini dia yang di pikirkan orang-orang mengenai tindakan sehun. Meskipun mereka penggemar, tapi tidak jarang mereka selalu menuding sehun sebagai pria jahat. Namun taeyeon selalu menekankan dirinya sendiri bahwa oh sehun tidak sejahat yang orang lain pikirkan.
“Dia menolong ku dengan tulus, hwang tiffany!? Lagi pula dia tidak punya tujuan buruk apapun. Karena.. Kau taukkan?! Dia itu sama sekali tidak mengenalku!” ucap nya kesal, karena tidak terima dengan tuduhan yang di lontarkan oleh sahabat nya.

Tiffany di sebelahnya menghela napas kasar. “Seumur hidup ku, aku baru mendengar seorang oh sehun tulus, ckk. Kau sudah terjerat dalam pesona nya jadi kau tidak bisa berpikir realistis. Dia-punya-rencana-jahat. kau harus memikirkan itu, jadi hati-hati jangan sampai kau masuk dalam jebakan nya.” Tiffany menekankan sederet kalimat yang secara tidak sadar sudah membangunkan macan yang tertidur.
“TAPI APA?! APA YANG DIA RENCANAKAN?!” Teriak taeyeon kesal. Dia merasa sudah tidak tahan dengan penghinaan yang di lontarkan oleh sahabat nya. Ia juga tidak habis pikir, kenapa tiffany begitu sangat membenci oh sehun? padahal wanita di luaran sana begitu mengelu-elukkan sehun di samping citranya yang sangat buruk.
Semua orang di sana sontak memandang kedua orang yang sedang beradu argumen tentang sehun. Mereka tidak menyangka bahwa mereka yang selalu adem ayem kini bertengkar hanya karena satu orang lelaki.
Taeyeon tidak menghiraukan belasan pasang mata yang sedang menonton nya. Tapi, dia mulai menurunkan oktaf nya, karena dia tidak ingin orang-orang akan salah paham.
“Tiffany, kau boleh memiliki pendapat, dan itu hak mu. Tapi, kau tidak boleh mempengaruhiku. Dia baik, itu menurut pendapatku. Dan tolong… Jangan hancurkan pikiranku mengenai kebaikan nya, oke!” taeyeon melembut, dan tiffany menyerah.
“Baiklah, jika itu maumu. Aku.. Akan tutup mulut dan tidak akan pernah membantumu untuk membukakan pikiranmu yang terlalu sempit.”
“Tiffany?!” taeyeon geram, sungguh. Dia ingin membalas dengan emosi nya lagi, tapi terhenti kala seorang guru bahasa masuk.
Akhir nya mereka berdua kompak menutup mulut mereka dan mulai menyimak pembahasan dari guru kang dalam diam.
.
.
.

Pergantian jam pelajaran kedua di mulai, sosok guru kang yang di kenal dengan ketegasan nya sudah mulai menghilang dari pandangan para murid yang sudah terlihat suntuk. Selama menunggu guru berikut nya, siswa kelas 2-1 melakukan aktifitas berbeda-beda. Ada yang langsung membuat kerumunan dan berceloteh sana-sini, ada yang hanya melamun sambil menggigit bolpoin mereka, ada yang tertidur dengan buku yang di letakkan di depan wajah, bahkan yang lebih ekstrim ada beberapa pasangan yang tidak tahu malu nya menunjukkan kemesraan mereka di depan umum. Gosh, taeyeon yang sejak tadi memerhatikan keadaan sekitarnya hanya bisa meringis seperti biasa. Dia tidak tau kenapa dia begitu, apa dia iri ataukah jijik melihat adegan itu? tapi yang jelas jika taeyeon nanti punya kekasih, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah bertingkah memalukkan atau menghebohkan seperti teman-teman nya.
“Kau terlihat pucat.” Tiffany memandang taeyeon dengan cemas. Dia ingin bersikap seolah hal tadi tidak pernah terjadi.
“benarkah?” Taeyeon pura-pura tidak menyadari.
“Apa kau merasa tidak enak badan? Mau ku temani ke uks?” Taeyeon tersenyum, rasa kesal nya sirna begitu saja. Kalau sudah mendapat perhatian sebesar ini, mana bisa hatinya tidak tergerak?
“Aku sedikit pusing, tapi bisa ku atasi tanpa harus pergi ke UKS.” Taeyeon memberi tiffany senyuman menenangkan.
“Sekarang Matematika, kau yakin bisa mengatasi itu?”
Taeyeon langsung lemas, kepalanya seketika menempel pada meja, helaan napas ia keluarkan berkali-kali. Matematika. Dia benci sekali dengan pelajaran yang satu ini. Jika saja hari ini tidak ada matematika, pasti dia bisa melewati hari ini dengan kuat. Tapi ini matematika! Dalam kondisi sehat pun dia sudah merasa mual saat harus berhadapan dengan angka-angka, di tambah guru kim yang selalu memberi siswa banyak soal di banding harus mendengar penjelasan.
Akhirnya dia angkat tangan, dia menyerah. “baiklah, aku akan pergi.” Taeyeon berdiri sambil menatap kosong ke arah sekitarnya. Dia merasa seperti seorang pengecut yang lari dari kenyataan.
Tiffany dengan sigap langsung berdiri dan memegang lengan taeyeon. “aku antar, oke!” Taeyeon hanya bisa mengangguk pasrah.
Kapan dia cinta matematika?
.
.
.
“Kau tidak perlu mengantarku sampai ke dalam ruang kesehatan, guru kim bisa-bisa mengira kita bolos bersama lagi. Sebaiknya kau cepat kembali. Dan terimakasih sudah mengantarku.” Keduanya sudah sampai di depan ruang kesehatan. Tiffany dengan berat hati meninggalkan taeyeon yang sedang mati-matian menahan rasa sakit nya.
Di tengah perjalanan tiffany melambaikan tangan dan tersenyum pada taeyeon. Taeyeon balas tersenyum, beruntung sekali dia bisa mendapatkan sahabat sebaik dan sepeduli ini padanya. Walaupun tadi pagi gadis itu membuatnya naik pitam. Tapi sekarang dia sadar bahwa tiffany melakukan itu semata-mata karena ia sangat mengkhawatirkan dirinya. Sekarang taeyeon merasa sangat bersalah pada tiffany karena sudah membentak dan marah pada tiffany.
Setelah tiffany menghilang dari pandangan nya. Kedua kaki yang di balut sneakers itu mulai melangkah masuk ke dalam ruangan kesehatan. Mendadak matanya berkunang-kunang, kepalanya luar biasa sakit. Kalau saja tadi dia menyempatkan bersarapan, sudah pasti dia tidak akan mengalami keadaan buruk ini. Langkah nya menuju ranjang begitu sempoyongan, mirip seperti seseorang yang sedang mabuk berat. Dengan susah payah dia menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Dia menghela napas panjang sambil sesekali memijat kening nya yang sakit.

“Pusing, pusing, pusing…” gumam nya setengah sadar.
“Aku ingin obat, tolong. Kepalaku sakit sekali.” masih gumamannya memenuhi ruangan sepi ini.
Dia tidak sadar bahwa rintihan sakit nya yang berisik itu mengganggu ketenangan seseorang di balik tirai, tepat nya di samping taeyeon. Dia, oh sehun. Mata nya yang semula tertutup rapat kini terbuka lebar. Dia bangun dari tidurnya, lalu mengacak-acak rambut nya dengan gusar.
“Gadis ini benar-benar…”
Dia kesal, tentu. Dia benci orang yang suka mengganggu ketenangan dirinya. Dengan melompat turun dari ranjang, sehun mencari-cari dokter yang biasa menjaga. Tapi, nihil dokter itu tidak ada di sana. Dengan terpaksa dia yang memberi gadis itu obat, ia mengambil obat khusus untuk pereda pusing itu dari kotak p3k. Setelah mengambil obat ia menuangkan air hangat dari dispenser yang sudah di sediakan di ruangan ini. Lalu, dia melangkah menghampiri gadis yang terpejam tapi bibirnya tidak pernah berhenti mengeluarkan suara-suara tidak jelas.
“Bangun!” sehun menyentak taeyeon dengan setengah berteriak.
Tapi, taeyeon tidak menghiraukan, ia masih memejamkan matanya. Menurut dirinya di saat kita sedang pusing, memejamkan mata adalah cara terbaik untuk meringankan rasa sakit nya.
Karena tak di hiraukan, dengan sangat kesal sehun memasukkan obat nya langsung ke dalam mulut taeyeon. Setelah itu dia kembali lagi tidur di ranjang nya.
Beberapa saat kemudian taeyeon membuka matanya setelah menyadari kepahitan mendera mulut nya. Di balik sana sehun segera bergumam. “Kalau kau merasa pahit, air minum sudah tersedia di atas nakas, di sampingmu.”
Setelah mendengar itu taeyeon langsung mengambil gelas yang sudah ada di samping. Ia meminum nya sampai setengah gelas. Lalu dia mengernyit, suara itu.. Suara berat yang hanya di miliki.. Seorang oh sehun. Deg. Jadi, selama ini yang berteriak padanya, yang memberi nya obat, dan yang menyuruh nya minum adalah.. Oh sehun??? Benar-benar sulit di percaya.
Kedua kalinya, sehun membantu nya. Untuk saat nya sekarang dia harus mengucapkan rasa terima kasih.
“Ehmm.. Pertama aku ingin berterima kasih saat dibis kemarin, ketika kamu menolongku dari orang jahat, kedua aku juga ingin berterimakasih padamu untuk hari ini. Obat dan air hangat sangat membantuku, terimakasih… Dan-”
“CUKUP!!!”
Taeyeon tersentak dan buru-buru mengunci bibir nya rapat-rapat. Di balik sana ia dapat melihat sosok bersiluet itu mulai beranjak dari ranjang nya, dan berakhir dengan melangkahkan kaki nya keluar dengan langkah yang di hentak-hentakkan.
Taeyeon berpikir keras, apa tadi dia mengatakan sesuatu yang salah?
Dia mengingat-ingat lagi kalimat yang baru saja ia sampaikan, takut nya ada kata yang menyinggung perasaan pria itu, jadi pria itu sangat marah padanya.
Tapi, dia rasa… Kata-kata yang ia ucapkan tidak ada yang salah, justru ia berkata benar.
Tapi, ada satu hal yang ia sadari sekarang, sehun… Benci ketenangan nya di ganggu. Atau… Dia pria yang kesepian yang tidak biasa di temani.
Ini.. Lagi-lagi mengingatkan nya pada diri nya yang dulu, kejadian pahit di masa lalu, membuat dirinya menjadi sosok yang beda. Mungkinkah… Pria itu sama seperti dia yang dulu terguncang??
Entahlah.
Sekarang rasa penasaran lebih mendominasi raga taeyeon. Ia sudah tidak merasakan pusing lagi. Ajaib sekali, lelaki itu bisa menyembuhkan sakit nya hanya dengan sisi misterius nya. Kini, taeyeon melompat turun dari ranjang nya. Ia mulai melangkah menjauhi ranjang nya. Tapi tiba-tiba ekor mata nya menemukan sesuatu yang langsung menarik perhatian nya. Sebuah buku berwarna hitam, seperti diary.
Dengan penasaran taeyeon melangkah mendekati buku diary yang ada di atas ranjang bekas sehun tempati. Taeyeon yakin itu milik pria itu. Setelah berhasil mengambil nya, taeyeon membaca sampul buku nya.
‘SECRET’
Rahasia?
Taeyeon ragu. Antara harus membukanya atau tidak. Dia tau itu adalah benda sehun yang paling di rahasiakan nya, tapi, seorang kim taeyeon adalah seseorang yang tidak bisa mengendalikan rasa penasaran nya. Pada akhir nya, ia lebih memilih untuk… Membuka.
“Maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa menahan nya.” bisik taeyeon entah pada siapa.
Tangan nya dengan pelan-pelan mulai membuka buku berwarna hitam itu. Dia bisa melihat di halaman pertama, ada foto sehun dan ibu nya, tapi ada seseorang yang sengaja ia potong, sehingga foto itu tidak berbentuk rapi. Siapa itu? Apakah itu ayah nya?
Pertanyaan nya terjawab saat taeyeon melihat keterangan di bawah foto.
‘Kebahagiaan telah di hancurkan oleh seseorang yang hilang dari foto itu. Dia.. Ayahku.’
Taeyeon masih belum mengerti, dia butuh penjelasan lebih lanjut. Jadi, dia kembali membuka halaman kedua.
Tidak ada foto, tapi hanya tulisan tangan sehun.
‘Ayah pergi saat aku berumur 10 tahun, dia meninggalkan aku dan ibuku. Dia menghilang beberapa tahun, sampai 2 tahun lalu ayah kembali dengan keluarga baru nya. Dia memilih wanita lain di banding ibuku. Dia memilih anak lain di banding diriku. Dia lebih menyukai keluarga barunya dari pada keluarga lama nya. Dunia sangat tidak adil. Mengapa pria itu berpikir seperti itu di saat aku dan ibuku selalu menunggu nya kembali, selalu mendoakannya, dan selalu mencintainya. Tapi balasannya, neraka. Sekarang, setelah melihat ibuku menderita, aku membencinya.’
Dada taeyeon terasa sakit, ia bisa sangat merasakan sebagai seorang anak yang ditinggalkan ayah nya. Mendadak ia menjatuhkan air mata nya. Pria itu.. Pria di balik kebengisan nya, ternyata menyimpan sejuta kepedihan, luka, dan tangis. Sungguh, taeyeon ingin sekali memeluk sehun, merangkul nya, dan memberinya kekuatan.
Sehun memikul beban yang berat, dan taeyeon tau bahwa kenakalan pria itu adalah cara untuk meringankan beban dirinya.
Selanjut nya taeyeon kembali membalik halaman-halaman yang makin ke sini, tulisan tangan sehun semakin bernada menyakitkan. Terutama saat sehun menulis:
‘Dulu ayahku adalah sumber kekuatanku, sekarang dia jadi sumber kelemahanku. Mengingat pria itu, selalu terkenang memori indah dulu, saat kita masih bertiga. Dan jika itu teringat lagi, aku akan marah, marah pada kenyataan yang sudah tidak sama lagi.’
Entah sudah berapa banyak taeyeon menjatuhkan air mata nya, dan entah sudah berapa kali dia membaca tangisan seorang oh sehun lewat catatan rahasia nya.
Hingga di tengah-tengah rasa sedih yang tadi menggerogotinya mendadak berganti dengan keterkejutan.
Ada foto krystal, teman sekelas nya. Dia membuat tanda silang pada foto itu. Seakan ia sedang memburu gadis itu, dan kemungkinan sehun menargetkan gadis itu untuk menjadi bahan mainannya. Itu… Sesuatu yang berbahaya.
Benar saja, di bawah nya ada penjelasan dari sehun.
‘Gadis ini… Incaranku. Dia tidak mengenalku, karena dulu kami tidak sempat bertemu. Untungnya.’
Incaran?
Apa maksud nya?
Kalimat sehun terlalu mengambang, kurang sedikit lagi penjelasan. Taeyeon sangat yakin, yang menjadi incaran di sini bukanlah benar-benar ingin di kencani. Dia percaya bahwa sehun akan membuat gadis itu terancam.
“YAKK?!!”
Taeyeon terlonjak kaget luar biasa, buku yang ia pegang langsung jatuh begitu saja. Tubuh nya seketika bergetar hebat saat sehun mendadak muncul dan memergoki dirinya yang sedang mencuri-curi rahasia pria itu. Dia tidak tau harus berkata apa dan bagaimana.
Dengan hidung kempang kempis, mata yang runcing, dan langkah-langkah panjang yang perlahan mulai mendekati taeyeon. Sehun menatap taeyeon dengan tatapan nyalang penuh dengan amarah.
“Kau?! Kau tau apa yang sudah kau lakukan?!! Berusaha mengetahui privasi orang lain, bukankah itu tindakan yang memalukkan?! Apa orang tuamu tidak mengajarkan etika padamu?! Ataukah kau.. Bukan orang yang selalu menghargai kehidupan pribadi orang lain?!” Sehun berteriak di depan wajah taeyeon. Yang di teriaki hanya menunduk ketakutan. Tapi ia sadar bahwa sehun berkata buruk pada orang tua nya. Jadi dia tidak bisa diam begitu saja.
“Maafkan tentang itu, aku benar-benar menyesal. Tapi.. Bisakah kau tidak menyebut kata ‘orang tua’ dalam permasalahan ini? Jika mereka tau, sudah di pastikan mereka akan terluka. Karena yang kau bicarakan sama sekali tidak benar! Mereka selalu mengajarkan sesuatu yang baik padaku, jadi mengenai etika ku yang buruk, jangan salahkan mereka, tapi salahkanlah aku!!” emosi taeyeon tersulut. Kata orang tua, terutama jika ada yang menghina mereka, taeyeon benar-benar akan menjadi sensitive.
Sehun pura-pura tenang, dan tidak bersalah. Namun jauh di lubuk hati nya, ia sangat menyesali perkataannya. Dan jika saja ucapan adalah benang maka sehun tidak perlu ragu untuk menarik nya kembali.
“Selesai, masalah kita selesai, kita sudah impas sekarang.” sehun berusaha menenangkan atmosfer ketegangan di antara mereka.
Taeyeon membuang napas kasar. Ia tau bahwa sehun sedang meminta maaf dengan cara tidak langsung. Dia memang sudah mulai memaafkan. Tapi, tetap saja ia masih sangat kesal.
“Kau harus memperbaiki cara bicaramu.” sehun ternganga, ia tidak percaya, seorang OH SEHUN, orang yang paling di takuti oleh seantero sekolah ini, di gurui oleh gadis kecil yang bahkan tidak pernah saling kenal itu?!
“Kau tidak tau siapa yang kau ajak bicara ini? Aku-”
“Oh sehun, seseorang yang paling di takuti. Gelar itu sama sekali tidak mempengaruhiku. Justru yang aku lihat sekarang adalah oh sehun yang lemah, yang penuh dengan luka.”
Dengan marah sehun membenturkan tubuh taeyeon ke tembok. Sehun mengunci tubuh gadis itu di antara pembatas dinding dan dirinya. Ia memandang taeyeon tajam-tajam.
“Memang nya kau siapa? Kenapa senang sekali mencampuri urusan orang lain, huhh?! Apakah kau tau ucapanmu itu sudah mencapai batas kewajaran? Kau benar-benar…”
“Karena aku tertarik padamu.” potong taeyeon tegas.
Sehun menyeriangi sesaat, namun beberapa saat kemudian dia kembali dengan wajah datar dan mata bak pisau tajam yang siap menebas kapan saja.
“Karena kau tertarik dengan wajahku, jadi sudah berani mencampuri urusanku ya? Ckk, benar-benar tidak memiliki harga diri.”
Taeyeon berusaha menjawab dengan tenang. “Bukan karena ketampananmu, tapi… Kepedihan di matamu, aku menjadi tertarik.”
Sehun memukul dinding pembatas dengan geram. Untuk kali pertama nya, ada seseorang yang berani masuk ke jalur kelemahan nya.
“Karena buku itu, kau jadi kasihan padaku, kan?”
“Bisa jadi. Tapi rasa kasihan padamu hanya berlalu sesaat. Sekarang, setelah ku pikir-pikir, aku tertarik dengan kepedihanmu, bukan karena aku kasihan. Maksudku adalah, kau dan aku punya kepedihan yang sama. Jadi aku tau persis bagaimana rasanya melalui kepedihan yang membuat kita lupa jadi diri sendiri. Aku sudah melewati rasa sakit nya, rasa sakit yang berhasil mengubah jati diriku. Dan sekarang aku sudah hidup tanpa topeng ku lagi, karena aku… Mencoba menghapus rasa sakit ku. Dan yang membuatku tertarik padamu adalah, apakah kau akan berhenti atau terus hidup dengan topengmu?” ucapan taeyeon memberi pukulan telak pada sehun. Pria itu kehabisan kata-katanya. Ia sibuk mencerna kalimat per kalimat yang di lontarkan gadis yang bahkan tidak di ketahui namanya.
Topeng?
Gadis itu, tepat sasaran.
Selama ini dia memang memasang topeng. Demi menyembunyikan kepedihan hati nya dia bersikap seolah dunia adalah milik nya. Ia berkelahi, membangkang, dan bolos, itu adalah topeng bagaimana dia ingin berubah menjadi seseorang yang tidak kenal takut.
Tapi, sebenarnya dia.. Pria yang banyak di landa rasa takut.
Dia takut…. Kebahagiaan tidak akan kembali hadir dalam hidup nya, dan ia takut.. Terjebak dalam rasa kecewa dan sakit yang membuat ia berubah menjadi monster, topeng nya.
Jadi, sikap ganas nya bukanlah oh sehun yang sesungguh nya. Dia hanya ingin mencari perhatian. Dia sedang butuh di perhatikan.
“Hidup dalam topeng, tidaklah mudah. Aku harap.. Kau bisa melepas topeng mu.” kata taeyeon lagi.
Mata pria itu meredup. Sinar laser yang menyorot tajam taeyeon mulai melembut. Tanpa memperdulikkan gadis itu, dia berbalik dan membawa buku hitamnya yang tergeletak di lantai. Lalu dia melangkah pergi menuju pintu keluar. Tanpa menoleh dan tanpa membalas perkataan taeyeon.
Taeyeon menghela napas nya, ia sama sekali tidak menyesal sudah mengatakan hal itu pada sehun. Karena ia ingin… Sehun bisa meruntuhkan dinding yang biasa menjadi tempat sembunyi nya. Seperti dulu ia berhasil menghancurkan topeng nya, ia juga ingin melihat sehun seperti itu.
Dia ingin membantu sehun bergerak ke jalan yang benar lagi.
.
.
.
Kondisi taeyeon sudah membaik, jadi dia sudah bisa kembali ke kelas nya. Ketika dia memasuki kelas nya, dia terkejut karena oh sehun ada di dalam nya. Pria itu sedang asyik mengajak bicara teman sekelas nya, krystal.
Incaran,
Target,
Pria itu sedang menjalani misinya.
Rencana awal sehun memang sangat baik, dia memulai pendekatan dengan menghampiri krystal. Dia pintar memanfaatkan waktu di saat jam pelajaran kosong.
Semua perhatian tertuju pada kedua makhluk itu. Gadis-gadis yang di sana menunjukkan rasa cemburu dan tidak percaya nya. Sementara taeyeon di tempat duduk nya, sedang berpikir keras, apa tujuan pria itu mendekati krystal? Gadis itu bahkan tidak sepopular yoona dan jessica. Gadis itu sangat pendiam dan penyendiri. Sehingga sangat sulit untuk menemukan alasan mengapa sehun memangsa krystal?
Tiffany yang masih syok melihat kejadian di depan mata nya ini. Masih belum sadar bahwa sahabat sebangku nya itu sudah ada di samping nya. Baru setelah bel istirahat jam pertama, dia mengalihkan perhatian ke yang lain. Dan dia terkejut begitu melihat taeyeon sudah berada di sisi nya.
“Kau sudah merasa sehat?” tanya tiffany, tapi tidak di hiraukan oleh taeyeon. Dia menemukan taeyeon sedang menatap ke arah yang sejak tadi menjadi pusat perhatian.
“Kau percaya, sehun menyukai krystal?” tanya tiffany lagi, dan kali ini taeyeon langsung menoleh ke arahnya. Telinga nya sangat intens jika sudah mendengar nama pria itu.
“Bagaimana menurutmu?” taeyeon bertanya balik.
Mata tiffany kembali memperhatikan kedua sejoli yang sedang asyik mengobrol itu. “Aku masih tidak percaya. Sehun tiba-tiba saja datang mendekati krystal, bukankah itu aneh? Dia mengenal gadis yang bahkan tidak terlalu mencolok seperti kita.”
Taeyeon mengangguk menyetujui. Pasti ada sesuatu di balik ini semua. Dia harus tau apa yang jadi tujuan sehun, agar ia bisa tau caranya untuk menjauhkan krystal dari pria itu.
“Dia memang mengincar gadis itu. Tapi aku belum tau maksud dan tujuannya.”
“Kita harus cari tahu.”
“Ya, kau benar, kita harus tahu semuanya.”
.
.
.
TBC
Hai hai saya kembali dengan ff teranyar sayaa hehe, adakah yang suka? Kalau ada bakal aku rampungin sampai tamat deh hehehe. Udah sampai di buat tamat kok, Cuma tergantung kalian aja, kalo banyak pengen di lanjut aku lanjut, kalau komentarnya kurang dari sepuluh terpaksa aku cancel.

Budayakan komen setelah baca yaa ^^
Pay pay

Advertisements

56 comments on “Nothing Like Us (Chapter: 1)

  1. Ahhh daebak(n˘v˘•)
    Ayo taeyeon bantu sehun melepaskan topengnya
    Sedih lihat sehun kayak gitu▰︶︹︺▰
    kenapa sehun mengincar krystal?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s