ZUIVER / Chapter 10

zuiver

Tittle : ZUIVER
Cast : Kim Taeyeon , Oh Sehun , Xi Luhan
Other Cast : Lay , Tiffany , Jessica
Genre : Romance , Marriage Life
Rate : PG 17
Lenght : Chapter , [ 19 Page , 4+ K ]
Author : DorkySong

Preview →   (Chapter 1)      (Chapter 2)

  (Chapter 3)        (Chapter 4)

   (Chapter 5)    (Chapter 6)      (Chapter 7 A)

(Chapter 7 B)     (Chapter 8) 

(Chapter 9)

⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓

Hai…. saya cuma mau mengatakan Happy 1+K review  ⌊〈ˆ∇ˆ〉⌋ … saya sebagai author mengucapkan banyak – banyak terimakasih untuk Reader ATSIT yang masih bersedia meluangkan waktu kalian yang sangat sibuk untuk menulis di kolom komentar  ⌈’3’⌉ .. gak nyangka aja FF absurd saya bisa tembus 1+K review di chapter ke 9. Huhuhuhu… saya terharu T_T terimakasih sekali lagi.

ζζζ

WARNING..!! TYPO BERTEBARAN ALUR CERITA RUMIT

DON’T BASH DON’T PLAGIARISME
ff ini asli lahir dari otak saya , kritik dan saran sangat saya nantikan
^_^

.

.

∞∞∞∞∞∞ Ηα℘℘ϒ   ℜεαdιηg ∞∞∞∞∞∞

 

 

 

 

 

Tiffany bingung bukan main, pasalnya Taeyeon baru saja mengirimi dirinya pesan. Ia tidak tahu Taeyeon mendengar dari siapa yang jelas ia mau tak mau harus mengantarkan Taeyeon pergi mengunjungi Jessica besok.

 

 

 

Sebenarnya ia bukannya tidak mau, hanya saja ia tidak ingin bertemu dengan Jessica untuk sekarang ini, mengingat ia mulai membenci perempuan itu, bagaimanapun Tiffany sendiri telah menganggap Jessica seperti saudaranya sendiri, hanya saja ia tak habis fikir dengan tingkah dan perilakunya yang tanpa fikir panjang dan begitu serakah.

 

 

 

Hingga bisnis keluarga temannya sendiri hampir dia hancurkan, jika saja dirinya sendiri tidak bertindak mungkin saja bisnis yang Ayahnya bangun dengan susah payah akan hancur dalam hitungan hari.

 

 

 

Ponselnya bergetar, segera saja ia angkat begitu tertera nama Detektif Park di ponselnya.

 

 

 

“Ada Apa?” Tanyanya cepat

 

 

 

“………..”

 

 

 

“Baikah, aku akan segera kesana.”

 

 

 

…………………………………

 

Taeyeon buru – buru berlari menuju ke jalan raya, di seberang terlihat mobil hitam yang terparkir dengan seluruh kaca mobil yang tertutup. Ia hapal nomor plat mobil itu, itu adalah nomor mobil milik Jessica.

 

 

 

sahabatnya itu beberapa menit lalu menghubungi dirinya dan mengajak bertemu, padahal ia sudah berencana mengunjungi ke rumahnya besok bersama Tiffany.

 

 

 

Taeyeon melambai penuh antusias kearah mobil hitam itu, hingga beberapa detik kemudian kaca mobil di samping kemudi terbuka, terlihat sosok Jessica yang duduk di balik kemudi setir sahabatnya itu mengulas senyuman manis padanya.

 

 

 

Taaeyeon menoleh kekanan dan kekiri, tidak ada mobil yang lewat, tumben sekali biasanya didepan rumahnya ini sangat ramai kendaraan. Ia segera berlari menuju seberang.

 

 

 

Namun ia tak sadar jika ada mobil lain yang tengah berjalan kencang menuju arahnya, ia terlalu fokus pada Jessica yang terlihat aneh di dalam mobilnya. Sepertinya ia melihat ada orang lain di dalam mobilnya. Tidak jelas siapa namun ia yakin jika di kursi samping kemudi ada orang lain. Selain itu ekspresi Jessica terlihat agak pucat dan terlihat ketakutan.

 

 

 

“Jess—–“

 

 

 

BRUUKK

 

 

……………………………………

 

 

 

PRAAANGG

 

 

 

Seluruh Team yang berada di dalam ruangan itu terkejut, pasalnya Oh Sehun ketua Team mereka baru saja menjatuhkan piring yang ditata di meja makan, setelah melakukan Rehersal serta penataan panggung untuk acara fashion besok semua Team mengadakan makan bersama bersama seluruh Team dan orang – orang yang terlibat.

 

 

 

Mereka sengaja memasak makanan langsung di lokasi acara, tepatnya berada di samping kolam renang.

 

 

 

“Kau baik – baik saja?” Kai sahabat Sehun yang baru kembali beberapa waktu lalu dari Kanada berlari tergopoh – gopoh.

 

 

 

“Aku tidak apa – apa.” Jawabnya

 

 

 

Kai menyuruh beberapa Staff untuk membersihkan pecahan piring, serta menyuruh yang lain untuk melanjutkan acara makan mereka.

 

 

 

“Sebaiknya kau istirahat, wajahmu agak pucat.”

 

 

 

“Yah, sepertinya aku kelelahan, sudah jam berapa ini?” Tanyanya

 

 

 

Kai melihat arlojinya “Jam 20.00.” Jawabnya “Memangnya kenapa?.” Sambungnya penasaran.

 

 

 

“Aku pinjam ponselmu sebentar.”

 

 

 

“Untuk apa? Tumben sekali?” Tanyanya sembari merogoh ponselnya dari dalam saku jas.

 

 

 

Tanpa menjawab Sehun segera mengetik beberapa digit nomor, kemudian menempelkan ponsel itu ketelinganya, bunyi nada sambung terdengar namun tidak ada tanda – tanda dari sang pemilik menjawab panggilannya.

 

 

 

“Hey bung kau menelphone siapa? Istrimu? Atau Kakakmu?”

 

 

 

“Perasaanku tidak enak sekali, kuharap Taeyeon baik – baik saja.” Aduhnya gemetar “Kenapa ia tidak menjawab.” Gumamnya tak sabaran.

 

 

 

Kai yang melihatnya jadi terkikik sendiri “Aigoo… Kau ini mau mengejekku karena aku belum menikah bukan? Bilang saja kau hanya mau pamer karena telah memiliki istri.” Kai terbahak – bahak “Ah.. jangan lupa siapa orang yang dulu memperkenalkan si mungil itu padamu.” Sindir Kai jahil

 

 

 

“Ya..Ya..Ya.. Aku tahu, haruskan aku mengatakan ‘Terimakasih jika bukan karenamu aku tidak akan pernah bertemu dengan Kim Taeyeon’ ..Cihh jangan mimpi.” Tolaknya

 

 

 

“Dasar kau ini benar – benar.” Gerutu Kai kesal

 

 

 

“Kenapa Taeyeon belum menjawabnya juga. Aku jadi semakin khawatir.”

 

 

 

“Mungkin istrimu sudah tidur.” Tebak Kai

 

 

 

“Taeyeon tidak pernah tidur jam segini.”

 

 

 

“Mungkin dia sedang bercengkrama dengan keluarganya, sudahlah kau benar – benar terlihat seperti seorang Ayah ketimbang Suami. Nanti saat kita kembali ke Hotel kau bisa menghubunginya lagi, salah sendiri Ponsel kau tinggal.” Oceh Kai panjang Lebar

 

 

 

“Aku tidak sengaja bodoh.” Ucapnya tak terima

 

 

 

…………………………………..

 

 

 

Sakit….

 

 

 

Taeyeon hanya mampu pasrah, semua badannya seperti remuk. Darah segar tercium tajam, rasa hangat terasa mengalir dari ujung pelipis serta beberapa bagian tubuhnya. Kepalanya nyeri pandangannya semakin kabur, disaat – saat kritis seperti ini ia memandang kembali pada mobil yang ada diseberang jalan, disana Jessica masih duduk tenang di balik kemudi, ia berusaha berteriak meminta tolong agar Jessica datang dan menolongnya untuk pergi ke rumah sakit, namun apa yang ia dapat malah menjadi pukulan telak.

 

 

 

Pintu mobil itu tertutup dan mobil itu berjalan menjauh, ia fikir Jessica akan memutar balik mobilnya dan menghampirinya namun seberapa lamapun ia menunggu harapan itu sia – sia saja.

 

 

 

‘Apa yang terjadi?’

 

 

 

‘Kenapa Jessica pergi begitu saja?’

 

 

 

Kepalanya terasa semakin pening, ia ingin bangkit namun tidak bisa, tangannya sakit dan tak bertenaga.

 

 

 

“To—long.” Taeyeon melonglong kepada mobil yang menabraknya barusan. Namun sayang lagi – lagi tidak ada yang perduli, mobil berwarna merah itu memutar balik dan menjauh pergi tanpa memperdulikan keadaan manusia yang ditabraknya.

 

 

 

SEPI

 

 

 

Jalanan ini sepi sekali, tidak ada mobil atau orang yang berlalu lalang, bagaimana ini? Ia tidak bisa berjalan kemanapun. Padahal rumahnya ada didepan matanya, hanya berjarak beberapa meter saja namun rasanya sulit sekali.

 

 

 

“Haah… Siapapun tolong aku.”

 

 

 

“Sehun, Ibu, Ayah…. Luh—an.”

 

 

 

 

“TAEYEON.”

 

 

 

 

Taeyeon tidak tahu siapa yang kini menghampirinya, telinganya terasa berdengung dan pandangannya mengabur, ia merasakan sebuah tangan halus menyentuh pipinya. Dan setelah itu kesadarannya benar – benar hilang.

 

 

 

“Maafkan saya Nona, saya terlambat menolong Nona Kim.”

 

 

 

“Cepat panggil ambulance.”

 

 

 

“Baik.”

 

 

 

……………………………..

 

 

 

Sehun membanting tubuh lelahnya kesofa, kepalanya terasa pening dan entah kenapa perasaanya sedari tadi sangat tidak nyaman. Ia teringat akan ponselnya yang ia letakkan pada meja nakas samping tempat tidur.

 

 

 

Ada 4 pesan dari Taeyeon, 1 pesan dari ibu mertuanya, 1 pesan dan 4 panggilan tak terjawab dari Baekhyun serta 15 panggilan tak terjawab dari Tiffany.  Tiffany? Ada apa hingga si cerewet ini menghubunginya sampai 15 kali.

 

 

 

Ia membuka pesan yang dikirim Istrinya itu terlebih dahulu.

 

 

 

“Sehun Apa yang kau lakukan?”

“Kenapa tidak membalas?”

“Apa kau sangat sibuk?”

“Baiklah, nanti hubungi aku jika sudah selesai.”

 

 

 

Ia terkekeh kemudian membaca pesan berikutnya.

 

 

“Sehun, Hubungi ibu jika sudah selesai dengan pekerjaanmu, istrimu benar – benar seperti kucing kehilangan ayam. Kekeke… jangan lupa makan yang teratur.” Ibu Mertua

 

 

 

“Jika ada kesempatan datanglah kekantorku, aku akan menjelaskan detail dimana Luhan sekarang.” Baekhyun

 

 

 

Ekspresinya berubah serius, ia sebenarnya penasaran bagaimana Luhan namun hati kecilnya mengatakan untuk mengabaikan, ia tidak cukup siap untuk mengetahui dimana tepatnya Luhan. ia tidak cukup siap jika menyimpan rahasia lagi. Cukup terlalu banyak yang ia rahasiakan selama ini.

 

 

 

Lebih baik ia tidak tahu.

 

 

 

Ia penasaran dengan si cerewet, kiranya ada apa dengannya hingga menghubungi sebanyak itu. Ia akhirnya menghubungi Tiffany balik nada panggilan masuk terdengar dan langsung terdengar teriakan nyaring dari Tiffany. Terpaksa Sehun sedikit menjauhkan ponselnya.

 

 

 

“Bisakah kau ini bicara lebih pelan, telingaku bisa – bisa tuli menda—APA? Taeyeon? Dimana sekarang?Baik.. aku segera kesana.”

 

 

 

 

…………………………………….

 

“Sehun.” Nyonya Kim lantas menghampiri Sehun.

 

 

 

“Ibu, Taeyeon kenapa? Apa yang terjadi?” Tanyanya khawatir

 

 

 

Nyonya Kim menggeleng tanda tidak tahu. “Ibu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi Taeyeon tidak bilang jika ia mau keluar.” Ucap Nyonya Kim gemetaran.

 

 

 

“Ayah dimana?”

 

 

 

“Dia perjalanan pulang kemari.”

 

 

 

Ketiganya kini memilih untuk duduk, menunggu Dokter keluar namun hingga 1 jam ini masih belum ada tanda – tanda keluar, semuanya kini mulai gelisah tak terkecuali Sehun yang sekarang mondar mandir didepan pintu UGD. Lelaki jangkung itu tampak sekali tak sabaran menunggu hasil.

 

 

 

Bagaimana istrinya, apakah baik – baik saja? Apakah ia tidak apa – apa? Semua pertanyaan – pertanyaan itu tak bisa lepas sebelum sosok Dokter yang memang sedari tadi ia tunggu keluar.

 

 

 

“Sehun.”

 

 

 

 

Mata Sehun menangkap sosok Lay yang berlari menuju kearahnya, pria berdumple itu terlihat tergesah – gesah sembari menenteng kantong plastik dari supermarket.

 

 

 

“Hyung.”

 

 

 

“Bagaimana Taeyeon?” Tanyanya khawatir

 

 

 

Sehun menggeleng tanda tak tahu, ia hanya mampu tertunduk diam seribu bahasa, ekspresinya terlihat sangat putus asa Wajahnya pucat pasi dan tubuhnya berkeringat banyak.

 

 

 

“Taeyeon pasti baik – baik saja.” Ucapnya menguatkan, ia kemudian membawa tubuh Adiknya itu kedalam pelukannya, mengusap punggung sang adik agar lebih tenang.

 

 

 

Tiffany yang melihat interaksi itu hanya mencibir, entah kenapa ia sangat teramat jengah mellihat Lay didepan matanya sendiri, rasanya Tiffany ingin sekali merobek – robek mulut si bangsat itu agar tak membual terus menerus.

Muka malaikat tapi hati iblis ~ Cibirnya

 

 

 

…………………………………

 

 

 

Jessica berdiri termangu di depan cermin, wajah seputih embun miliknya nampak kusam, surai lembutnya tak beraturan seakan kehilangan kilau keindahan. Suaranya serak ringisan kesakitan lolos dari bibirnya yang terluka.

 

 

 

Ini sudah hari ke 4 dirinya disekap didalam kamar berukuran seperti kandang binatang, tak ada yang lebih buruk dari tempat ini jika ada orang mengetahui keberadaanya. Semalam ia bertemu dengan Taeyeon atas suruhan Lay.

 

 

 

Melakukan apapun yang diperintahkan lelaki itu padanya tanpa mampu ia tolak, entah bagaimana bisa ia melakukan hal semacam ini sehingga sesal berkepanjangan ia rasakan hampir setiap detik. Tubuhnya telah kotor ketika pertama kali Lay menyutubuhinya tanpa belas kasih, mengikat kedua tangan rantingnya pada kepala ranjang, menghujam kewanitaannya tanpa ampun hingga detik ini Jessica tak sanggup mengingat kejadian memilukan itu.

 

 

 

Pertama kali Jessica merasakan ketakutan luar biasa adalah saat Lay menyebut nama Ibunya. Jujur ia tidak pernah menyangka jika Lay pelaku atas kematian tragis Ibu kandungnya. Pria yang tidak pernah Jessica duga bahkan sangka bisa tega melakukan pembunuhan sadis.

 

 

 

Jika saja Tuhan memberikan kesempatan padanya untuk datang dan menemui Sehun, maka ia akan mengatakan semua kejahatan Lay tanpa melupakan satupun. Walaupun pada awalnya ia sangat amat membenci Sehun karena sikap bocah itu pada Luhan tetap saja ia tidak bisa mendiamkan serigala lapar yang bersembunyi dibalik wujud kelinci manis menggemaskan.

 

 

 

Lay adalah Iblis

 

 

 

Ia bersumpah akan mengembalikan iblis itu keneraka dengan segera.

 

 

 

“Jangan memandang cermin seakan kau ingin melahapnya.”  Suara yang entah sejak kapan begitu familiar ditelinga Jessica, walau tanpa berbalikpun ia sudah tau jika Lay datang.

 

 

 

“Bagaimana Taeyeon?” Jessica bertanya penuh ketegangan, tangannya mengepal tiap kali memori tentang Taeyeon yang tertabrak terngiang – ngiang seperti kaset rusak.

 

 

 

“Sedang koma kurasa.” Jawabnya enteng, Lay acuh tak acuh melihat kondisi Jessica yang semakin kacau tiap kali ia berkunjung.

 

 

 

“Kenapa kau begitu santai sekali mengatakan keadaan mantan tunanganmu?”

 

 

 

Lay menyeringai “Aku tidak perduli lagi pada gadis itu walaupun ia mati, heol… untuk apa meghawatirkan mantan tunanganku yang bahkan tidak ingat kalau pertuangannya itu pernah terjadi bersamaku.” Lay menyulut rokok dengan nikmat, asapnya yang banyak seketika mengepul memenuhi ruangan “Lagi pula, aku lebih suka melihat suaminya menangis dan terluka.” Lanjutnya

 

 

 

“Dia adikmu, bagaimana bisa kau sebegitu tega melakukan hal tak manusiawi macam itu?” Jessica duduk pada kursi yang sejak tadi ia anggurkan dibelakang tubuhnya.

 

 

 

“Adikku? Hah… dia terlihat seperti setan kecil yang haus perhatian.”

 

 

 

“Itu karena kau iri padanya yang jelas lebih disayang ketimbang dirimu—“

 

 

 

Bruuk

 

 

 

Jessica memekik kaget, matanya nyalang menatap pada Lay yang mendorong tubuh kurusnya ketembok, tangan besar Lay mencekik lehernya hingga oksigen seakan menjauh pada ia dan paru – parunya.

 

 

 

“Mulutmu ini benar – benar tidak bisa dibiarkan.” Lay menyeringai, Ekspresi ketakutan Jessica membuatnya begitu senang, jujur saja Lay sangat menyukai bila korbannya memohon belas kasihnya menandakan bahwa Lay adalah sosok kuat yang tidak mudah takluk. Perasaan seperti ia adalah seorang raja, Raja yang kuat dan angkuh terasa menyenangkan ketimbang mendapat puluhan koper berisi uang tunai.

 

 

 

“Seharusnya kau bisa menjaga mulutmu selama aku masih berbaik hati.” Ancamnya

 

 

 

Jessica menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Lay yang terasa  makin kuat dilehernya. Bahkan ia yakin beberapa detik lagi lehernya akan patah jika Lay belum mau melepas.

 

 

 

“La-y ku-moho-n” Pintanya putus asa, Jessica tak berhenti memukuli Lay yang masih tetap tak bergeming pada posisinya, seakan tak perduli jika nyawa seorang perempuan di tangannya kini akan lenyap.

 

 

 

“Seharusnya kau berterimakasih padaku jalang, karena hanya aku orang yang bersedia menampungmu.” Hinanya kemudian menjatuhan tubuh Jessica seperti pakaian kotor. Menepuk – nepuk kedua tangannya seperti habis menyentuh kotoran anjing.

 

 

 

“malam ini dan besok kau tidak akan mendapat makanan sedikitpun, itu hukumanmu keparat.” Ucap Lay bersungut marah..

 

 

 

.

.

 

 

Disinilah Sehun, dengan kepala tertunduk tanpa sepatah katapun keluar, mata tajam yang biasa terlihat kini begitu sayu bagai pohon tinggi yang tumbang, jelas sekali kesedihan yang terpancar disana. Namun pria itu tetap bersikukuh mengatakan bila ia baik – baik saja.

 

 

 

Tangan besar nan kokoh miliknya tak lepas memegangi tangan si mungil, air mata samar terlihat jelas walau beberapa kali Sehun mengusapnya untuk menghilangkan jejak. Bunyi alat pendeteksi jantung terdengar nyaring namun teratur, alat – alat bantu seperti infuse dan selang mengerubungi sekitar wajah istrinya yang masih belum sadarkan diri setelah operasi beberapa jam lalu.

 

 

 

“Sadarlah sayang buka matamu.” Gumamnya sembari mengusap punggung tangan istrinya. Jujur Sehun sangat merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Taeyeon, seandainya saja ia tidak pergi untuk bekerja mungkin Taeyeon tidak sampai mengalami kecelakaan parah seperti ini.

 

 

 

“Sehun.”  Tiffany memanggil , wanita bereyesmile itu masuk kemudian duduk pada kursi yang bersebarangan dengan Sehun.

 

 

 

“Apa ibu dan ayah sudah pulang?” Tanyanya

 

 

 

Pertanyaan Sehun dijawab anggukan, dan setelahnya Sehun kembali memandangi Taeyeon sementara Tiffany terdiam dengan fikirannya sendiri. lama dengan keheningan yang menyeruak baik Tiffany maupun Sehun seolah enggan membuka mulut sekedar untuk berbincang memecah kesunyian.

 

 

 

“Ayah dan Ibu Taeyeon tadi sempat tidak mau pulang.” Suara Tiffany terdengar, nampaknya si pirang mulai bosan dengan keadaan sunyi senyap yang hanya diisi suara detak jantung milik Taeyeon.

 

 

 

“Hm.” Jawab Sehun sekenanya, sejujurnya tanpa Tiffany mengatakannyapun ia sudah tahu.

 

 

 

“Sehun, ada yang harus kukatakan padamu tentang kecelakaan yang menimpa Taeyeon.”

 

 

 

Tidak ada respon berarti dari Sehun, Lelaki itu hanya menggumamkan ‘Hmm’ tanpa menoleh sedikitpun pada Tiffany yang sangat serius dengan apa yang akan diucapkan.

 

 

 

“Sebenarnya…” Ragu akan apa yang ingin dikatakan, Tiffany menatap pada Taeyeon yang masih terbaring lemah diatas kasur, rasanya ia begitu kesal sekali jika mengingat apa yang telah orang – orang jahat itu lakukan pada sahabatnya. Namun berbeda situasi jika kepala Tiffany beralih pada Sehun. Jujur ia sendiri tidak tega untuk mengatakan kebenaran akan semua permasalahan yang jelas makin hari makin runyam. Si tinggi amat terlihat jelas terluka dengan kecelakaan Taeyeon, tak bisa ia bayangkan bagaimana jika dengan mulutnya sendiri ia mengatakan bahwa Lay adalah dalangnya. Dengan beribu keraguan pada akhirnya kata “Tidak jadi.” Terucap.

 

 

 

Tiffany berdiri lantas beranjak pergi sesaat ia melirik pada Taeyeon dan Sehun, ada banyak sekali beban yang ia rasakan, setidaknya hingga saat ini peraasan takut dan merasa bersalah masih tetap Tiffany rasakan. “Aku akan membeli makan malam sebentar.” Pamitnya kemudian membuka pintu, perlahan kembali menutup pintunya dan pergi untuk membeli makan malam di restoran depan Rumah sakit.

 

 

.

 

 

“Hampir saja.” Dengusnya lega. Lay muncul dari balik persembunyian sesaat membenarkan dua kantong kresek berisi makanan yang ia bawa dikedua siku. Meniup poni rambut yang sedikit menghalangi pandangan matanya pada wanita berambut merah yang tampak makin jauh.

 

 

 

“Jadi dia dalangnya.” Ada banyak ancaman yang tertera jelas di kedua mata Lay, ujung matanya bahkan semakin menyipit untuk dapat memperjelas punggung wanita yang ia ketahui berstatus sebagai sahabat Taeyeon. “Baiklah… kita lihat saja siapa yang akan menang.” Ucapnya kemudian.

 

 

 

Menyeringai Lay terkekeh, kemudian membawa kantong – kantong berisi makanan itu masuk kedalam bersamaan tubuhnya juga. Dan beginilah kebahagiaan bagi seorang Lay, Ketika ekspresi Sehun yang sedih ditambah ketidak sadaran Taeyeon adalah sesuatu yang patut dibanggakan, bagaimanapun itu adalah hasil ulahnya.

 

 

 

Lay jadi penasaran kiranya akan seperti apa jika selang – selang ditubuh Taeyeon dicabut paksa, mungkinkah Taeyeon akan mati? Dan apakah Sehun akan jadi orang gila? Berteriak dan menangis tiap detik hingga dibatas kekuatannya memutuskan untuk bunuh diri? Wuah.. itu pasti luar biasa menyenangkan.

 

 

 

“Kau mau makan?” Lay bertanya penuh kelembutan, secepat mungkin Lay meletakkan dua kantong kresek keatas meja yang berada pada pojok kanan ruangan, disana tersedia meja beserta 4 kursi saling berhadapan, sengaja ada dikhususkan untuk para tamu yang datang menjenguk.

 

 

 

“Tidak Hyung, aku masih kenyang.” Tolak Sehun yang masih tak beranjak sedikitpun dari posisinya.

 

 

 

Lay berdehem, sesaat menatap wajah Sehun kemudian mengambil satu burger dan segelas bubble tea, berharap adiknya itu mau menerima dan sejenak mengisi perut kosong yang tak terisi apapun sejak tiba dirumah sakit.

 

 

 

“Kalau tidak mau makan, setidaknya camilan ini kau masukkan keperutmu.” Pintanya, dan menyerahkan kedua makanan minuman itu langsung ketangan Sehun, beruntungnya Sehun menerima walau hanya bubble tea saja, menolak roti burger yang terlihat lebih lezat dibanding sepiring pasta.

 

 

 

“Kau yakin hanya minum itu?” Lay mencoba meyakinkan.

 

 

 

Pertanyaan Lay dijawab anggukan sementara Sehun mulai menyeruput, memegang minuman favoritnya dengan tangan kiri, sedang tangan kanan tak melepas tangan istrinya.

 

 

 

“Istirahatlah setelah ini biar aku yang menjaga Taeyeon.” Tawarnya kemudian menjauh, menata sofa panjang dekat jendela meletakkan bantal dan selimut untuk bisa dijadikan tempat tidur Sehun.

 

 

 

“Jangan menolak.”

 

 

 

Terdengar jika adiknya itu mendesah tanda tak setuju, namun pada akhirnya ia tetap menurut sesaat matanya kembali menatap sang istri sebelum ia benar – benar beranjak dan memulai posisi tidur disofa. Tak dapat dipungkiri jika tubuhnya sangat amat membutuhkan tidur.

 

 

 

Lay mematikan lampu ruangan, menyisakan dua buah lampu mungil di tembok sebelah kanan kiri atas Taeyeon yang memang dipergunakan sebagai penerang saat tidur.

 

 

 

“Selamat Malam.”

 

 

……………………………..

Pagi itu bulu lentik Taeyeon bergerak beberapa kali sebelum sang empu berhasil membuka mata, Sehun yang memang telah menunggu istrinya sadar sejak kemarin tergopoh – gopoh memanggil dokter dan menghubungi keluarganya.

 

 

 

Dengan senyum sumringah Sehun duduk disamping Taeyeon, menggenggam erat tangan sang istri seolah takut kehilangan, beberapa kali mengucapkan ‘maaf’ karena lalai yang pada akhirnya berakhir dengan Taeyeon memeluk suami besarnya sembari mengucap ‘Tidak apa – apa’.

 

 

 

“Tidak lapar?”

 

 

 

Taeyeon menggeleng, menatap ogah – ogahan pada senampan makanan yang diletakkan pada meja nakas. Hari ini entah kenapa perutnya terasa mual, jika sudah begini jangankan memasukkan makanan pada perut melihat saja rasanya begitu malas.

 

 

 

“Kenapa apa masih sakit?”

 

 

 

“Tidak Sehun, sudah tidak sakit, hanya saja perutku terasa mual.” Adu Taeyeon, berharap suaminya itu mau mengerti dan tidak memaksanya lagi untuk menyentuh makanan seperti pagi tadi.

 

 

 

“Akan kupanggilkan Dokter, kurasa ada yang tidak beres dengan perutmu.”

 

 

 

“Tidak perlu, mungkin ini hanya maag.”

 

 

 

Bukan Sehun namanya jika tidak pergi, Lelaki itu tidak akan menyerah walau istrinya menangis bahkan marah padanya karena tidak mendengarkan penolakan Taeyeon, dalam benak Sehun ia tidak akan membiarkan penyakit apapun menghinggap dalam tubuh istrinya, cukup sekali ia lengah hingga kejadian penabrakan itu terjadi, dia tidak akan lalai untuk yang kedua atau bahkan ketiga kali. Taeyeon harus sehat. Sehun pastikan itu.

 

 

 

“Tidak ada penolakan.” Ucap Sehun tegas, Lelaki itu bergegas keluar untuk memanggil Dokter sedang Taeyeon hanya mendesah menunggu kedatangan Sehun beserta Dokter yang diseret paksa oleh suaminya itu.

 

 

Dasar Oh Sehun.

 

 

 

……………………………

 

 

 

 

 

 

Tiffany duduk dengan setumpuk berkas di tangan, segelas kopi expresso tersedia di meja dengan Byun Baekhyun yang hanya menunggu sampai Tiffany selesai membaca berkas yang ia miliki.

 

 

 

Lelaki cantik itu beberapa kali memeriksa ponselnya, menunggu Sehun membalas pesannya, sejak 3 hari lalu Sehun tidak membalas satupun pesan yang ia kirim, nomornya bahkan tidak aktif. Padahal Baekhyun memiliki informasi penting yang harus ia sampaikan sebelum Lay terlebih dahulu bertindak.

 

 

 

Sial kemana bocah itu!

 

 

 

Menelan kekecewaan karena tidak ada satupun notifikasi dari sehun, Baekhyun melempar ponselnya ke meja, ia benar – benar kesal sekali. Disituasi darurat begini Sehun malah menghilang. Awas saja jika setelah ini ia bertemu dengan bocah es balok itu. Baekhyun pastikan kepala bocah itu ia hadiahi karate.

 

 

 

“Kau menghubungi Sehun?”

 

 

 

Baekhyun menatap Tiffany sejenak kemudian mengangguk mengiyakan. “Apa kau tau kemana bocah itu?”

 

 

 

Tiffany tersenyum “Tentu saja, jadi apa kau tidak tahu jika Taeyeon kecelakaan dan sekarang orang yang kau panggil ‘bocah’ itu tengah berada di rumah Sakit menjaga istrinya bahkan hingga keinti – intinya.” Ucap Tiffany panjang lebar

 

 

 

“Astaga, muka tembok itu benar – benar sudah tak waras, menyeret Dokter hanya untuk memeriksa tangan Taeyeon yang tak sengaja tergores pisau buah yang lukanya saja tak lebih dari 1 centi, membuang makanan Rumah Sakit ketika Taeyeon bilang masakannya sedikit asin, meminta perawat mengganti pakaian Taeyeon yang terkena tumpahan Teh atau bahkan marah – marah karena perawat terlambat datang untuk mengganti infuse.” Lanjut Tiffany geli.

 

 

 

 

“Hah.” Baekhyun berkedip beberapa kali, apa benar Sehun seperti apa yang di ceritakan Tiffany, Bocah macam es batu itu melakukan hal – hal gila yang bahkan Baekhyun sendiri tidak pernah membayangkan akan dilakukan oleh Oh Sehun.

 

 

 

“Apa benar Sehun segila itu.” Baekhyun sejujurnya tak yakin, jika kalian tahu.

 

 

 

“Yah, aku bahkan baru kali ini melihatnya jadi orang tak waras.”  Tiffany berdehem kemudian menutup berkas yang ada ditangannya, meletakkan kembali pada meja kemudian meminum kopi buatan Baekhyun. “Jadi, Ibu Sehun sebenarnya sudah meninggal?” Ucapnya kemudian meletakkan kembali cangkir kopi ke atas meja. Suasana berubah serius.

 

 

 

“Yah, aku juga sempat terkejut, namun saat Lay menceritakan semuanya aku tahu jika dalangnya adalah Jessica.”

 

 

 

Terdengar sang wanita mendesah “Perempuan itu menghilang begitu saja setelah ibunya meninggal.” Ia menjeda, memijit pelipisnya yang semakin hari semakin berdenyut parah “Mengapa ini sangat rumit, sebenarnya apa yang direncanakan si brengsek itu”

 

 

 

Baekhyunpun mendesah tanda tak tahu, “Mengenai Luhan aku sudah menemukannya, hanya saja untuk bisa bertemu dengan Luhan itu sangat sulit.”

 

 

 

Tiffany berdecak “Apa Lay sebegitu hebatnya hingga pihak Rumah Sakit tidak memperbolehkan satu orangpun datang bertemu.”

 

 

 

Sang pria mengangguk “Kudengar ada satu perawat yang dibawa ikut dari Rumah Sakit lama, beberapa informan mengatakan jika perawat itu bernama Im Yoona.”

 

 

 

“Im Yoona? Sepertinya nama itu tidak asing.”

 

 

 

“Apa kau mengenalnya?”

 

 

 

“Aku tidak terlalu yakin, tapi sepertinya aku pernah mendengar nama itu, entah dimana.” Ucapnya kurang yakin.

 

 

 

………………………………

 

 

 

“Selamat tuan, istri anda hamil.”

 

 

 

Sehun diam membisu, wajahnya pucat pasi ditangannya ada hasil pemeriksaan yang baru keluar beberapa menit lalu. Saat ini Sehun bingung harus mengatakan atau berekspresi seperti apa.

 

 

 

“Usia kandungan istri anda sudah menginjak 3 minggu. Bersyukur sekali kecelakaan itu tidak mempengaruhi kandungan istri anda”

 

 

 

Sehun kembali diam, itu berarti Taeyeon hamil setelah ia dan Taeyeon melakukan seks yang pertama kali, jika ditanya apakah bahagia tentu saja ia bahagia hanya saja ini terlalu cepat, sejujurnya Sehun masih belum memikirkan untuk memiliki momongan.

 

 

 

“Saya sarankan istri anda jangan terlalu banyak melakukan pekerjaan berat, di awal – awal kahamilan masih agak rentan. Ini benar – benar berkah Tuan, saya ucapkan selamat untuk anda dan istri anda.”

 

 

 

Sehun tidak terlalu mendengarkan perkataan Dokter, dalam benaknya saat ini masih berkecamuk antara bahagia, bingung dan belum siap untuk menjadi seorang Ayah. Setelah dokter berbicara panjang lebar yang sama sekali tidak sehun dengarkan dengan seksama, ia segera bergegas pergi . kembali kekamar istrinya yang sekarang ini pasti sedang menunggu hasil pemeriksaan.

 

 

 

“Bagaimana hasilnya?”

 

 

 

Dan inilah yang Sehun fikirkan, apa yang harus ia katakan, apakah ia harus mengatakan jika ada kehidupan lain di dalam perut Taeyeon ataukah ia biarkan saja.

 

 

 

Jujur ia senang hanya saja ada satu titik dimana hatinya begitu ragu. “Kau benar, perutmu terkena maag.” Demi dewi fortuna hukum saja mulut ini yang dengan lancarnya berbohong.

 

 

 

“Benarkan apa kataku.” Seru Taeyeon. “Kau tidak perlu sekhawatir itu.” Ucapnya tersenyum manis.

 

 

 

Sehun jadi merasa bersalah, ia mendekat kemudian memeluk tubuh istrinya erat, rasanya ia ingin sekali menangis dengan apa yang barusan ia katakan.

 

 

 

Taeyeon yang tiba – tiba dipeluk hanya terbengong – bengong, kiranya ada apa hingga suaminya bertingkah seperti ini, bukankah ia hanya terkena maag lantas mengapa Sehun harus memeluknya seakan – akan ia terkena penyakit mematikan. Terkadang Taeyeon tidak paham dengan suaminya ini.

 

 

 

“Ada apa? Kenapa tiba – tiba begini eum?”

 

 

 

“Maaf.”

 

 

 

“Untuk?”

 

 

 

“Untuk semuanya.”

 

 

 

Senyum merekah tak lepas lagi dari bibir wanita cantik yang begitu nyaman berada dalam pelukan sang suami, serasa ada seribu kupu – kupu menggelitik perutnya. Ia ingin tertawa namun urung, takut membuat suasana yang terlihat romantis jadi rusak.

 

 

 

“Sudah kukatakan tidak apa, kau tidak salah”

 

 

 

“Tidak. Aku bersalah.”

 

 

 

Sang istri mendesah, lelah juga meyakinkan bahwa suami besarnya ini tidak bersalah sama sekali, ini jelas murni karena ia yang ceroboh saat di jalanan. Luka – luka ini jelas lah bukan Sehun penyebabnya. Sikap keras kepala suaminya ini butuh setidaknya palu agar lebih mudah terpecah.

 

 

 

“Baiklah kau bersalah.”

 

 

 

Pelukannya terlepas dengan wajah Sehun yang menatap lurus pada sang istri, ekspresinya jelas terkejut. Dan itu tanpa sadar membuat Taeyeon mati – matian menahan tawa.

 

 

 

“Tadi kau bilang aku tidak bersalah.”

 

 

 

“Bukankah itu yang kau mau” Balas Taeyeon tak mau kalah

 

 

 

“Hey.. aku tidak bersalah.”

 

 

 

“Aku tahu.”

 

 

 

“Lalu kenapa mengatakan aku bersalah.”

 

 

 

“Kau yang minta.”

 

 

 

“Apa?”

 

 

 

“Hahahaha… astaga kau seperti anak kecil.”

 

 

 

Sehun tertawa renyah, kelanjutan dari acara dramatis mereka adalah saling melempar candaan diselingi pertentangan Taeyeon maupun Sehun yang jika di teruskan tidak akan ada habisnya.  Jika sudah begini siapa yang tega memisahkan dua sejoli ini? Mereka terlalu sulit dikatakan ‘Tidak Cocok’ seberapa keras kepala menyebut mereka tak cocok maka akan segera terpatahkan dengan kekompakan serta keseriusan sang suami besar dan si istri mungil. Sehun adalah tulang rusuk Taeyeon begitupun sebaliknya.

 

 

 

Namun…….

 

 

 

Di dunia ini terlalu naïf bila mengatakan tidak ada rasa ‘iri’ apalagi dengan kemesraan Taeyeon dan Sehun yang seperti tidak ada habisnya. Faktanya lelaki berdumple yang sejak tadi berdiri di balik pintu terus mengawasi mereka dengan tangan mengepal serta rahang mengeras. Lay ~ dia cemburu

 

 

 

………………………….

 

 

 

 

Membingungkan—

 

 

 

Tiffany ingin membenturkan kepalanya ke tembok saja sekarang, terlalu rumit sekali apa – apa yang terfikir hingga memorinya terasa penuh dan hampir bocor bila saja fikiran itu berbentuk seperti pisau mungkin ia sudah mati menggenaskan dengan otak terbelah.

 

 

 

“Hufft..Apa yang bisa kita lakukan?” Tanyanya putus asa, jujur ia menyerah dengan Lay seandainya ini bukan menyangkut Taeyeon pasti ia sudah mundur memilih hidup tenang di kursi kerajaannya sebagai nona muda. Bukan menjadi detektif mendadak dengan berbagai taktik dan rencana yang berbahaya. Sial – ia ingin mengakhiri ini segera.

 

 

 

“Kita harus menemukan Jessica terlebih dahulu, aku curiga Lay menyekap temanmu itu.” Baekhyunpun tampak lebih frustasi, terbukti dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang semakin melebar. Hampir tiap malam lelaki manis itu lembur dengan berkas – berkas dan setumpuk pencarian informasi mengenai orang – orang yang ia curigai ada hubungan dengan Lay. Oh Tuhan! Demi wajahnya yang mulus ia ingin menggiring Lay kedalam penjara SEGERA.

 

 

 

“Yah.. aku juga curiga, detektif yang kusewa sempat melihat perempuan itu pada saat kecelakaan Taeyeon terjadi.” Serunya

 

 

 

“Seandainya kita bisa mengorek sedikit informasi dari Taeyeon mungkin ini tidak terlalu rumit, benarkan?” Tanyanya di susul desahan keputusasaan, Suami Taeyeon yang tidak lain tidak bukan adalah Oh Sehun tidak memberikan Baekhyun sedetikpun untuk menanyakan perihal kecelakaan itu.

 

 

 

Jangankan Baekhyun. Polisipun tidak dibiarkan melihat istri si bocah albino itu, Sehun seperti menyembunyikan sesuatu dan tentu saja itu sedikit mengganggu fikiran Baekhyun akhir – akhir ini.

 

 

 

Apakah ia salah bila mengatakan Sehun seperti ingin melindungi kakaknya? Walau Baekhyun sendiri belum yakin apa Sehun tahu mengenai masalah ini.

 

 

 

Ah….. bolehkah aku meminta ilmu sihir saat ini, misal ‘Dapat membaca fikiran manusia’ dengan begitu aku tidak perlu repot – repot menebak ini itu. Ini sungguh melelahkan.

 

 

 

“Aku jadi kasihan dengan Sehun, bagaimana reaksinya nanti bila mengetahui kakaknya yang berubah menjadi seorang bajingan?”

 

 

 

Baekhyun menggeleng “Aku tidak bisa membayangkannya. Asal kau tahu saja aku begitu menyayangi Sehun seperti adikku sendiri, aku yakin itu sangat melukai perasaannya.”

 

 

 

 

“Maka dari itu kalian berdua berhentilah dan diam ditempat kalian.”

Baekhyun serta Tiffany terkejut bukan main, mata mereka bahkan hampir melotot mendapati sosok yang tak asing tengah berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan dilipat dan tatapan tajam menusuk menandakan ada aura gelap yang menguar darinya.

 

 

“Tutup mulut kalian dan hiduplah dengan tenang.”

 

 

 

To Be Continued

Lupa -.- saya mau mengatakan minta maaf karena Luhan yang gak muncul selama beberapa Chapter ⌈(‘3’)⌉ tau kok si Luhan Main Cast disini, cuma terpaksa aja :v ngikutin alurnya.

Sttttt… Si Luhan udah muncul lagi loh di chapter depan ← *Plakkk

Spoiler WOYYY -_-

.

Pokoknya jangan bosen2 ya ngikutin FF gua yang alurnya belok – belok kayak film tersanjung ini :v . terimakasih sekali lagi. salam lophe lophe ♥♥ \〈ˆ∇ˆ〉/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

60 comments on “ZUIVER / Chapter 10

  1. Gw kesalllllllllll to maxxxxxxxz sama si Lay ! Kaka ixing yg imutz disini jd devil bngtz T_T
    Itu yg dtg pasti si Lay .. omg ! Gw kangen Lutae >,<
    nexttt dtungguu

  2. Pingback: ZUIVER / Chapter 11 (Last) | All The Stories Is Taeyeon's

  3. aduh sy sdh tdk br berkt apalagi… arrrggghhh lay sumph dy it bajingan tengik….spicopak memng dy.
    ah sehun jg knp hrs bhongi tae sih klo dy lg hamil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s