Skellington [Part 21]

SKELLINGTON Part 21 by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar with EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04 | Part 05 | Part 06 | Part 07 | Part 08 | Part 09 | Part 10 | Part 11 | Part 12 | Part 13 | Part 14 | Part 15 | Part 16 | Part 17 | Part 18 | Part 19 | Part 20

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik aku melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing.

.

.

.

.

.

Matahari di bagian barat memberitahuku bahwa hari yang panjang dan melelahkan ini akan segera berakhir. Sudah saatnya kembali ke apartment dan bersiap-siap untuk hari esok. Tapi itu tidak berlaku untukku. Sekarang aku sedang menemani seorang wanita yang sangat cantik berjalan-jalan di sekitar Sungai Han.

“Kau tidak minum?” tanyanya setelah baru saja duduk di rerumputan yang mempunyai sudut pandang terbaik untuk melihat matahari tenggelam. Tangannya menunjuk 3 minuman yang kupeluk di dadaku. Air mineral untuk aku dan Kai. Serta coca cola yang dipesan oleh Taemin.

Sebenarnya tadi aku bermaksud untuk segera kembali ke tempat Kai dirawat setelah membeli minuman-minuman ini. Tapi wanita ini menawariku –sebenarnya memaksaku—untuk menemaninya jalan-jalan dan dengan begitu aku bisa mengetahui kebenaran. Kebenaran tentang dirinya.

Wanita dengan rambut cokelat panjang bergelombang dengan paras yang anggun itu bernama Euijin. Kebenaran pertama yang dia berikan padaku adalah bahwa dia ibu kandung Kai. Seseorang yang sudah dicari Kai selama ini. Seseorang yang mengubah hidup Kai hingga saat ini. Seseorang yang sangat dibenci Kai hingga detik ini.

“Mengapa matahari belum tenggelam juga?” gumamnya dengan bibir turun ke bawah. Dia sangat cantik. Apa usianya masih muda? Karena dia tidak terlihat seperti wanita yang sudah mempunyai anak berumur 24 tahun. Wajahnya seperti anak-anak dan matanya berbinar-binar seperti remaja yang mencari tahu jati dirinya. “Sekarang jam berapa, Taeyeon?”

“Jam 3,” Jawabku cepat. Dalam perjalanan kemari aku berkali-kali melirik jam tanganku. Untuk memastikan bahwa waktu yang telah kuhabiskan di luar jangkauan Kai tidak selama yang aku kira. Nyatanya aku sudah pergi dari Rumah Sakit selama satu jam. Apa Kai khawatir padaku? Tapi sudah ada Taemin yang menemaninya.

“Kau dan Jongin sering kemari, ya…” ujar wanita yang memintaku memanggilnya dengan sebutan Euijin eonni itu. “Aku sering melihat kalian berdua sepulang sekolah jalan-jalan kemari dan duduk hingga matahari hampir terbenam.”

Apa yang dikatakannya memang benar. Aku dan Kai sering menghabiskan waktu berdua di pinggir Sungai Han. Bukan itu saja, saat masa kuliah –masa di mana kami sibuk dengan kegiatan masing-masing—jika aku atau Kai meminta untuk bertemu, kami pasti akan datang ke Sungai Han. Tempat ini adalah titik keberangkatan kami sebelum Kai menjemputku dengan mobil mewahnya.

“Hei, kenapa kau diam saja?” tanya Euijin eonni padaku. Dia menepuk rerumputan yang ada di sebelah kanannya. “Duduklah di sini, apa kau tidak lelah terus berdiri?”

Akhirnya aku duduk di sebelah Euijin eonni dan sama-sama melihat air Sungai Han yang begitu berkilau. Mungkin ada baiknya juga aku menemaninya jalan-jalan. Aku jadi bisa istirahat dari semua masalah dan kekacauan yang akhir-akhir ini terjadi. Kontrakku dengan Baekhyun akan berakhir 4 hari lagi. Solar yang mengidap penyakit kanker dan membuatku tidak bisa tidur tiap malam. Kai yang baru saja dibawa ke Rumah Sakit –meski kondisinya tidak parah.

Euijin eonni  menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku yang terkejut bisa merasakan tubuhku yang berubah kaku. “Katakan padaku, Taeyeon. Apa sekolahmu dan Jongin dekat dari sini?”

“Apa?”

“Kalian bersekolah di Klein High School, kan? Apa dekat dari Sungai Han ini? Butuh berapa lama untuk kesana?” tanya Euijin eonni membuatku bingung. Aku benar-benar tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi.

Eonni lihat gedung kaca tinggi yang ada di situ?” tanyaku sambil menunjuk tempat papa bekerja. “Di belakangnya ada sekolahku dan Kai. Dari sini kira-kira butuh waktu sekitar 20 menit dengan jalan kaki—“

“Kalau begitu ayo berangkat!” seru Euijin eonni sambil bangkit berdiri lalu mengulurkan tangannya padaku. “Sekolah pasti masih dibuka kalau sekarang memang jam 3. Mumpung masih ada waktu, ayo kesana!”

Apa orang ini bercanda? Dia mau membawaku pergi lebih jauh dari Rumah Sakit. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh Euijin eonni? Dia terus memandangku dengan tatapan yang menawariku genggaman tangannya. Akhirnya aku bangkit berdiri dengan bantuan tangannya, kemudian meninggalkan Sungai Han dengan perasaan cemas.

Perjalanan menuju Klein High School kami tempuh tanpa pembicaraan apapun. Eujin eonni  tidak pernah melepaskan tanganku, baik saat kami hampir ditabrak oleh anak kecil yang mengayuh sepedanya, atau saat aku mampir ke minimarket untuk meminta tas plastik yang kugunakan untuk menampung 3 botol minuman.

Klein High School tempatku bersekolah tidak berubah sama sekali. Yang berubah hanya hal-hal kecil seperti gerbang yang terbuka dan tertutup secara otomatis, pintu masuk yang dihiasi detail-detail dari zaman baroque serta beberapa fasilitas seperti papan tulis dan meja yang diganti menjadi yang lebih bagus.

Euijin eonni memintaku untuk menuntunnya ke kelas aku dan Kai menghabiskan tahun ajaran yang terakhir, tepatnya kelas 3 SMA. Aku dan Kai sekelas dengan Gongchan, Bora, dan Seungyeon di masa senior kami. Hanya Taemin yang beda kelas. Kelas kami terletak di lantai 3, kelas yang paling dekat dengan tangga.

Aku masih ingat beberapa hal yang kulakukan bersama Kai dan teman-teman di tahun terakhir itu. Selain belajar keras untuk menghadapi tes masuk perguruan tinggi, kami juga melakukan banyak hal seperti persiapan festival, pementasan drama, karaoke, dan lain-lain di kelas ini.

Aku berjalan perlahan menuju bangku yang dekat dengan jendela, urutan ketiga dari depan. Di situlah aku duduk. Terkadang saat pelajarannya membosankan, aku sering melamun menatap anak-anak kelas satu yang bermain di lapangan. Lalu orang yang selalu menyadarkanku adalah Kai, yang duduk tepat di belakangku.

“Ini tempat Jongin duduk, ya?” kali ini yang menyadarkanku adalah Euijin eonni. Dia berdiri persis di belakangku, menyandarkan punggung di kursi yang dulu di tempati Kai dan menatap langit yang warnanya semakin pucat. “Kalau dari sini pesawat akan terlihat jelas.”

Aku hanya mengangguk karena aku setuju. Bukannya aku setuju bahwa tempat duduk Kai memberikan pemandangan berupa pesawat melintas yang jelas, tapi aku setuju karena itu memang tempat duduk Kai. “Eonni tahu macam-macam, ya.”

“Hmm? Apa, Taeyeon?” tanyanya sambil tersenyum, masih menatap langit.

Eonni tahu segala hal tentang Kai padahal aku belum memberitahu eonni,” lanjutku dengan gugup. Mendengarku berkata seperti itu, Euijin eonni mengalihkan pandangannya dari langit, berganti memandang wajahku.

Euijin eonni tertawa kecil setelah mendengus padaku. “Aku tidak tahu segalanya kok, Taeyeon. Aku tidak tahu apakah dia berpartisipasi di setiap pekan olah raga saat SMA. Aku tidak tahu apakah dia pernah mengalami luka berat saat menjalani latihan sebagai stuntman. Aku tidak tahu apakah dia tahu bahwa aku masih hidup.”

“Dia tahu,” jawabku cepat. “Dia tahu bahwa eonni masih hidup. Beberapa hari yang lalu dia membawaku dan teman-teman pergi ke Busan untuk mencari anda.”

Kali ini Euijin eonni bertepuk tangan. “Jadi itu alasan kalian ada di Busan. Aku sampai kaget melihat kalian berdua ada di game centre. Karena gemas melihat kalian berdua, akhirnya aku sengaja menabrakmu. Jadi aku bisa melihat kalian berdua dari dekat.”

“Lalu setelah itu… Apakah eonni terus mengikuti kami?” tanyaku sekali lagi, kali ini aku berusaha agar terdengar yakin dan tegas. Dan Euijin eonni menjawabku dengan anggukan yang mantap. “Kenapa?”

“Kan sudah kubilang? Aku hanya ingin melihat kalian berdua dari dekat. Tapi pertemuan kita di toko kue itu benar-benar kebetulan. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu saat aku sedang mengawasi Jongin.” Jelasnya panjang lebar. “Lalu semua usaha penyelamatan itu, aku tidak merencanakannya. Sudah pasti sebagai seorang ibu aku akan menolong anakku, kan?”

“Ibu?” aku tidak percaya apa yang baru saja dikatakannya. Bagiku semua tindakan menyerupai pahlawan yang baru saja sekali dilakukannya itu tidak sebanding dengan apa yang sudah dia lakukan selama ini. “Eonni meninggalkan Kai selama hampir 20 tahun. Lalu sekarang eonni tiba-tiba datang dengan bangga sebagai ibu Kai padahal Kai tidak pernah menganggap eonni  sebagai—“

“Aku tahu,” jawab Euijin eonni cepat. “Karena itu setelah ini aku juga akan segera pergi. Aku akan segera pergi begitu menceritakan kebenarannya padamu.”

Pandangan matanya yang mendadak sayu membuatku sadar akan satu hal. Selama ini aku mengejek Euijin eonni dengan sebutan wanita berbau kematian. Sekarang aku sadar bahwa bau itu tidak berasal dari dirinya. Bau kematian itu mengelilinginya, seperti sebuah takdir. Mungkin aku sudah gila tapi siapapun yang memandangnya sekarang bisa tahu, bahwa hati Euijin eonni benar-benar bersih dan suci. Aneh.

“Cukup sampai di situ!” seru sebuah suara dari arah pintu kelas. Sang pemilik suara berlari menuju arahku dan segera menarik tanganku. Seketika saja aku sudah berdiri di belakangnya. Aku dilindungi oleh tembok kokoh bernama punggung. “Apa yang kau lakukan pada Taeyeon!?”

Euijin eonni sama sekali tidak terkejut dengan kehadirannya, dia hanya berkata, “Annyeong, Jongin-ah.”

“Kai!” seruku cukup keras dan lehernya langsung berputar, matanya bertemu dengan mataku. “Terima kasih… Aku tidak apa-apa, sungguh. Tapi kenapa kau ada di sini, bukankah seharusnya kau ada di Rumah Sakit—“

“Baekhyun dan Wheein datang ke Rumah Sakit. Mereka berpapasan denganmu di dekat Sungai Han. Katanya kau bersama orang yang menurut Baekhyun benar-benar menyebalkan…” Kai mempererat genggamannya. “Kau seharusnya berterima kasih pada Baekhyun.”

Mataku langsung menangkap sosok Wheein dan Baekhyun yang berdiri di pintu kelas. Mereka berdua berkeringat deras. Mungkin berlari sudah biasa untuk Kai yang hampir setiap hari menjalani training untuk perbekalannya sebagai stuntman tapi mereka berdua… Hanyalah seorang dokter dan tubuh mesin yang sedang kelelahan.

“Baekhyun!” kataku memanggilnya. “Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau ada di sini? Kenapa kau tidak segera kembali?”

“KAU BENAR-BENAR BERISIK, TAEYEON!” seru Baekhyun membentakku. “Bagaimana bisa aku diam saja saat aku melihatmu bersama wanita itu? Siapa pun pasti akan berpikir… Untuk segera menolongmu, kan!?”

“Apa—“

“Dia sudah mengantar kue ke tempat Solar.” Sahut Wheein dengan nada datar. “Tidak ada yang perlu kau cemaskan. Lagipula kalau aku menjadi Baekhyun… Aku pasti akan melakukan hal yang sama dengannya.”

“Aku juga akan melakukan hal yang sama jika menjadi Baekhyun.” Ujar Kai lalu berbalik menghadapku. “Taeyeon, mundurlah sedikit. Biarkan aku melindungimu.”

Aku mengangguk cepat dan mundur sebanyak satu langkah dari punggung Kai. Alasannya sederhana, karena aku juga ingin mendengarkan cerita dari Euijin eonni. Aku tidak bisa mendengarnya jika aku berdiri di tempat Baekhyun dan Wheein.

“Aku sudah dengar dari Taemin bahwa kemungkinan besar orang ini adalah… Yang menyelamatkanku. Kalau dugaanku benar…” Kai menundukkan kepala dan menarik napas panjang. Suaranya bergetar hebat, dia benar-benar ketakutan. “Kau ibu kandungku, yang bernama Lee Euijin, kan?”

Euijin eonni bangkit berdiri dari tempat duduknya, berdiri tegak menghadap kami. Tangannya mendekat menuju lengan Kai yang melindungiku. “Kau benar. Lama tak jumpa Jongin-ah.”

“Jangan sentuh aku!” Kai langsung mendorongku sedikit ke belakang. “Aku sempat mendengar pembicaraan kalian. Aku ingin tahu. Kebenaran apa yang akan kau ceritakan pada Taeyeon? Biarkan aku… Biarkan aku mendengarkannya juga!”

Suasana menjadi sangat menegangkan karena kami terus-terusan saling melempar pandangan. Aku dan Kai bukanlah orang yang pandai bicara juga bukan orang yang sabar. Aku menoleh ke tempat Wheein berdiri dan berpikir, kira-kira apa yang akan dilakukan Wheein dalam situasi seperti ini? Pergi begitu saja atau menelan mentah-mentah kebenaran yang akan diceritakan Euijin eonni?

“Kalau begitu akan kuceritakan. Kejadian 19 tahun yang lalu, di malam aku meninggalkanmu.” Euijin eonni terlihat lebih santai daripada aku dan Kai. Dia seperti sudah menghafalkan rangkaian pidato yang akan dibacakan. “Malam itu… Aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Hari itu aku bekerja seperti biasanya dan pulang lebih awal dari biasanya karena aku mau membelikanmu sesuatu.”

“Membelikanku… Sesuatu?” tanya Kai lalu Euijin eonni mengangguk.

“Aku ingin membelikanmu… Mainan yang membuat matamu berbinar saat menonton iklan di televisi.” Euijin eonni merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah mobil hitam kecil yang terlihat sangat kuno. “Kau masih ingat… Ini?”

Kai mendengus kesal. “Itu sebabnya aku mengganti warna mobilku dari hitam menjadi merah. Karena mobil hitam selalu mengingatkanku pada benda itu.”

Aku cukup terkejut dengan pernyataan Kai. Aku pikir dia mengganti warna mobil Mercedes Benz-nya menjadi merah karena dia menyukai warna merah. Ternyata warna hitam mengingatkannya pada kenangan masa kecilnya.

“Seperti biasa, permintaan aneh dari bocah berusia 5 tahun,” lanjut Euijin eonni. “Yah, aku menghabiskan uangku untuk mainan mahal ini. Aku bahkan tidak terlalu mengerti mengapa aku begitu bahagia begitu berhasil menggenggam benda ini di tanganku. Tapi… Kebahagiaan itu berubah menjadi kegelapan.”

“Apa… Maksudmu?” tanya Kai dengan suara bergetar yang terdengar ketakutan.

Euijin eonni menatap mainan mobil yang ada di tangannya, lagi-lagi dengan pandangan sayu. “Aku tertabrak mobil… Dalam perjalanan pulang. Aku langsung kehilangan kesadaranku dan begitu terbangun aku sudah berada di Rumah Sakit. Tubuhku dipenuhi perban, aku meringis kesakitan setiap detiknya. Aku mengalami kelumpuhan di sekujur tubuhku. Tapi yang paling utama adalah… Aku kehilangan ingatanku.”

DEG. Apa yang dikatakan Euijin eonni langsung menusuk ke dalam hatiku. Begitu juga dengan Kai yang sepertinya berusaha untuk tidak percaya dengan ceritanya dengan berkata, “Kau bohong. Kau mengarang cerita itu. Jangan lanjutkan cerita konyolmu.”

“Kau tidak percaya padaku, Jongin? Aku benar-benar mengalami amnesia. Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada dokter di Rumah Sakit Busan. Aku menjalani rehabilitasi selama 2 tahun di sana. Sampai akhirnya seluruh tubuhku dapat bergerak dengan lemas lagi.” Jelasnya panjang lebar. “Aku yang sudah kehilangan tujuan hidup, benar-benar tidak tahu harus kemana. Tapi tiba-tiba saat dokter menyerahkanku sebuah mobil mainan yang ada di genggamanku saat aku dibawa ke Rumah Sakit… Ingatanku samar-samar kembali.”

“Sudah kubilang jangan lanjutkan—“

“Lalu aku mulai serius mencaritahu identitasku. Mereka bilang suamiku sudah meninggal. Mereka bilang aku punya anak laki-laki. Aku mencarimu, selama berbulan-bulan, hingga mengetahui bahwa kau tinggal di Seoul. Tapi di saat aku menemukanmu…” Euijin eonni meremas mobil mainan yang ada di tangannya sampai rangkaiannya terpisah. “Kau terlihat sangat bahagia. Kau terlihat sangat senang tinggal bersama kakakku. Jadi kuputuskan untuk… Menjauh dari kehidupanmu.”

Tiba-tiba tubuh Kai terasa lemas dan hampir terjatuh, membuatku menahannya dengan seluruh tenagaku. Kai yang sadar langsung menegakkan tubuhnya. Tangannya yang tidak menggenggam tanganku menyentuh kepalanya dan sebuah erangan kesakitan keluar dari mulutnya.

“Kau sudah percaya sekarang, Jongin? Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi aku harus segera kembali ke Busan.” Euijin eonni berjalan melewatiku dan Kai. Aku tidak mencium bau kematian saat dia berdiri tepat di sebelahku dan berkata, “Terima kasih sudah menemaniku, Taeyeon.”

Begitu Euijin eonni pergi melalui pintu, Kai langsung terjatuh lemas di lantai kelas kami. “Ya Tuhan, Kai.” Ujarku panik. Langkah kaki yang berderap membuatku sadar bahwa Baekhyun dan Wheein berjalan menuju arah kami.

“Kau harus segera kembali ke Rumah Sakit.” Kata Wheein lalu membantu Kai berdiri bersamaku. “Atau aku tidak bisa menjamin kau akan keluar dari Rumah Sakit besok.”

Kai menggenggam bahuku dengan sisa tenaga yang dimilikinya. “Apa kau percaya… Kata-katanya tadi? Apa kau percaya seluruh ceritanya?”

DEG. Pertanyaan dari Kai membuat tubuhku membatu. Kai menanyakan pendapatku yang sedari tadi ikut mendengarkan. Aku tidak tahu apakah aku harus mengatakan yang sejujurnya aku pikirkan. Tapi begitu Kai menatapku dengan tatapannya yang sayu –yang mirip dengan Euijin eonni—aku menjawab, “Iya. Aku percaya.”

“Apa jika kau menjadi diriku… Kau akan memaafkannya?”

“Apa?”

Kai mendorongku pelan lalu air mata bercucuran di pipinya. “Aku tidak tahu, Taeyeon. Seberapa keras aku berpikir, aku tidak menemukan jawabannya. Apa aku harus percaya? Apa aku harus tetap membencinya? Apa pada akhirnya aku harus memaafkannya?”

Aku tidak tahu mengapa, tapi melihat Kai yang terlarut dalam kesedihan, membuat air mataku menetes. “Kai… Sebaiknya kau kembali ke Rumah Sakit… Kita bicarakan saja lagi besok—“

“KAU TIDAK MENGERTI, TAEYEON!” seru Kai membuatku mendapat serangan jantung. “Aku tidak tahu, aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya… Aku… Aku—“

Secepat kilat, Wheein mengeluarkan jarum suntik dari tasnya dan menusukkan isi cairannya ke lengan Kai. Akibatnya Kai langsung kehilangan kesadaran dan jatuh tersungkur di lantai. “Obat bius. Hanya bertahan sampai tengah malam. Aku akan segera memanggil ambulans, kau tetaplah di sini.”

Wheein meninggalkanku bersama Baekhyun yang sedari tadi diam saja. Tiba-tiba Baekhyun berada di sampingku dan dengan lembut berkata, “Maaf aku sudah membentakmu tadi.”

Aku mengangguk dan dengan cepat Baekhyun mengusap pipiku yang basah karena air mata. “Katakan padaku, Baekhyun… Apa aku salah?”

Baekhyun menggeleng. “Tidak sama sekali. Kai juga tidak salah. Dia hanya sedang melalui sebuah proses.” Sekali lagi dia mengusap pipiku dan memastikan tidak ada air mata yang keluar lagi. “Sebuah proses yang seperti menyembuhkan diri. Dia sedang sakit dan saat ini hanya dia yang bisa menemukan obatnya.”

Aku tertawa kecil mendengarnya. Rasanya tidak mungkin kalimat seperti itu keluar dari mulut Baekhyun, sekali pun dia berusaha menjadi seorang pria. “Kau terdengar seperti Wheein—“

“Taeyeon,” ujar Baekhyun lalu menyentuh hidungku dengan jari telunjuknya. “Mungkin memang hanya Kai yang bisa menemukan obatnya. Tapi sebagai pacarnya… Bukankah kau yang paling tahu apa yang harus dia lakukan?”

Baekhyun membalikkan badan dan memungut satu per satu rangkaian mobil mainan yang terjatuh di lantai. Dia mengumpulkan semuanya di telapak tangannya dan memperlihatkannya padaku. “Mobil ini sama seperti masa lalu Kai. Jika sekarang kau menganggapnya sebagai sampah, maka masa lalu itu pantas dilupakan. Tapi jika kau menganggapnya sebagai barang berharga, maka carilah pelajaran yang bisa kau dapatkan dari ini. Dukunglah dia Taeyeon, apapun keputusannya. Lalu kau juga… Harus mengawasinya.”

Rangkaian mobil mainan itu diletakkan kembali oleh Baekhyun dilantai lalu tangannya yang kotor berganti menggenggam tanganku. “Aku juga telah… Mendapatkan pelajaran. Sebagai temanmu, aku akan siap membantumu… Jika kau membutuhkan bantuan.”

DEG. Kata ‘teman’ entah mengapa membuat hatiku sedikit sakit. Meski aku tahu Baekhyun tidak menganggapku sebagai sampah, tapi tetap saja ada sesuatu di hatiku yang mengatakan bahwa aku ingin menjadi lebih dari sekedar teman baginya.

Tiba-tiba sebuah tangan memisahkan genggamanku dengan Baekhyun. Orang itu membuat Baekhyun tersenyum lebar seperti anak kecil yang telah melakukan suatu kesalahan. “Seenaknya saja kau meniru semua kalimat yang tadi kuucapkan padamu, Byun Baekhyun,” ujar Wheein membuatku melongo. Sudah kuduga.

.

.

.

.

.

 Obat bius yang diberikan pada Wheein telah membuat Kai bangun dalam kondisi segar di pagi hari sehingga dia bisa langsung meninggalkan Rumah Sakit. Dia terbangun seakan lupa akan semua ucapannya yang dia katakan padaku. Tapi entah mengapa itu membuatku sedikit lega.

“Aku sudah menghubungi orang tuamu. Bibi akan pulang lebih awal dari London karena mengkhawatirkanmu,” ujar Taemin saat aku, Kai, Baekhyun, dan Wheein berada di lift yang menuju lantai satu.

Kai tertawa kecil. “Sudah kubilang jangan menghubungi ibuku, bukankah kondisiku juga tidak parah?”

Taemin menggeleng cepat. “Tidak juga. Sepertinya bibi ingin pulang karena ada beberapa hal yang ingin disampaikan padamu. Mungkin bibi akan tiba nanti sore.”

“Berterima kasih lah padaku yang telah membuatmu tidur nyenyak dan pulas,” sahut Wheein membuat kami semua tertawa. Jika Wheein bukan dokter, dia pasti akan dimarahi oleh Taemin karena seenaknya saja memberi Kai obat bius.

Sebenarnya aku sudah bilang pada mereka –Baekhyun dan Wheein—bahwa sebaiknya mereka tidak ikut denganku untuk menjemput Kai di Rumah Sakit karena bisa saja Kai langsung bad mood, mengingat mereka berdua juga ada di sekolah dan menyaksikan sendiri seperti apa sosok ibu kandung Kai. Tapi syukurlah mereka cukup membantuku untuk mengarang cerita konyol.

Kami berusaha mencari alasan yang bagus untuk menyembunyikan kejadian kemarin pada Taemin. Bisa kau bayangkan betapa Taemin akan marah jika tahu Kai telah bertemu dengan ibu kandungnya. Dia mungkin akan berubah menjadi monster dan menghancurkan Seoul.

Jadi alasan yang kami yang berikan berupa, Kai pergi mencariku diikuti oleh Baekhyun dan Wheein lalu menemukanku yang sedang tidur di pinggir Sungai Han. Karena itu Kai menjadi panik dan gila dengan bergulung-gulung di rerumputan lalu Wheein menusukkannya obat bius agar dia juga ikut tertidur.

Pintu lift terbuka dan kami semua langsung keluar dari dalam. Baekhyun yang sedari tadi berdiri di depanku dengan santainya berkata, “Aku haus…”

Aku mengangkat alisku. “Apa mau kubelikan minuman? Aku tahu di mana tempatnya karena kemarin aku—“

“Biar aku yang beli!” seru Taemin tiba-tiba. “Bisa-bisa kau menghilang seperti kemarin dan membuat Kai jadi khawatir. Cepat katakan kalian semua mau apa!”

Baik aku, Kai, Baekhyun, dan Wheein tertawa mendengar ucapan Taemin. Akhirnya Taemin pergi setelah menghafal titipan kami semua. Seperti kemarin aku dan Kai ingin minum air mineral. Sedangkan Wheein memesan ice coffee dan Baekhyun meminta iced lemon tea.

Sambil menunggu Taemin, kami semua berfoto ria di lobby Rumah Sakit. Kai yang mengusulkan kami untuk berfoto karena bisa menjadi kenang-kenangan yang bagus untuk Baekhyun. Aku langsung teringat masa kontrak Skellingtonku yang hanya tersisa 3 hari. Aku harus melakukan sesuatu selama 3 hari ini. Aku sudah berjanji pada Baekhyun untuk membantunya mencari tahu apakah dia bisa berguna untuk orang lain.

Tiba-tiba Kai menggenggam tanganku erat. Tangannya yang satu lagi mengeluarkan ponsel dan sedang mencari fitur kamera. “Setelah ini ada yang ingin kubicarakan denganmu. Tapi sebelumnya ayo kita foto berdua dulu.”

Aku otomatis tersenyum dengan kepalaku di bahu Kai saat Kai mengarahkan angle kamera dengan tangannya. Berbagai ekspresi kami tunjukkan dan sesi foto kami ditutup dengan pose berupa Kai yang sedang mencium keningku. “Akan kukirim ke e-mailmu.”

Aku mengangguk lalu seketika mataku menangkap sosok yang aku kenal. Mata kami bertemu, membuatnya segera berjalan menuju arahku dan Kai. Orang itu adalah Solar. Dia terlihat lebih segar dari kemarin meski aku tahu bahwa kondisinya semakin memburuk.  “Annyeong, eonni.” Sapanya sambil tersenyum.

“Ada kemoterapi?” tanyaku lalu Solar mengangguk. “Mau kutemani?”

Solar menggeleng cepat. “Gikwang sudah mengosongkan jadwal prakteknya untuk menemaniku. Jadi eonni silakan bersenang-senang!” Aku langsung tahu apa yang dimaksud Solar. Rupanya Solar juga mengingat masa kontrakku yang hampir habis ini. Entah mengapa Solar selalu memastikan agar aku menghabiskan hari-hari Baekhyun yang tersisa dengan baik.

BRAK! Mendadak barisan polisi menerobos masuk ke dalam Rumah Sakit dan segera bersiaga di dalam lobby, membuat semua pengunjung menjadi panik. Aku bisa melihat ayah Taemin di antara mereka. Orang di sebelahnya segera berlari ke tempat resepsionis dan terlihat sedang berbicara dengan sedang serius.

“Ada apa, ya?” gumamku lalu Kai mengangkat bahunya.

“Gikwang!” panggil Solar lalu orang yang –mungkin—sedari tadi ditunggunya, Gikwang, muncul di antara kerumunan polisi. Dia terlihat bingung tapi tetap tersenyum sambil berlari menuju arah kami. “Kenapa ada banyak sekali polisi?”

“Ada hal gawat terjadi,” ungkap Gikwang. “Ada pasien dari Rumah Sakit Busan yang melarikan diri dan katanya pasien itu terlihat di Rumah Sakit ini kemarin, jadi polisi yang sudah memburunya langsung kemari untuk bertanya macam-macam.”

“Rumah Sakit Busan?” tanya Kai lalu Gikwang mengangguk. Aku tahu apa yang dipikirkan Kai. Dia pasti sedang memikirkan ibu kandungnya yang semalam kembali ke Busan. “Memangnya pasien itu… Anak pemerintah atau semacamnya?”

Kali ini Gikwang menggeleng. “Kudengar, dia melarikan diri dari Rumah Sakit padahal dia sedang menjalani perawatan intensif. Dia mengidap kanker otak dan menurut dokter yang menanganinya, umurnya kurang dari dua minggu lagi.”

Solar menundukkan kepala. Dia terlihat sedikit takut mengingat penyakit mereka sama, yaitu kanker. Yang membedakan adalah Solar mengidap kanker paru-paru.

“Siapa nama pasien itu?” tanya Kai membuatku terkejut. Sejak kapan dia tertarik dengan pengidap kanker otak?

Gikwang memejamkan mata, berusaha menarik semua informasi yang dia punya dari otaknya. Beberapa detik kemudian matanya terbuka lebar, seperti telah menemukan jawabannya. “Kalau tidak salah namanya Lee Euijin. Iya, tidak salah lagi. Namanya memang Lee Euijin.”

DEG. Seketika pikiranku menjadi kosong. Aku tidak percaya ini. Kemarin Euijin eonni terlihat benar-benar sehat, tidak ada tanda-tanda bahwa dia pengidap kanker seperti Solar. Tapi jika itu memang benar, itu artinya semua kebenaran yang kemarin dia ceritakan tidaklah suatu kebohongan. Karena dia datang jauh-jauh dari Busan hanya untuk menceritakannya padaku. Pada Kai.

“Dasar… Bodoh!” tanganku yang sedari tadi menggenggam tangan Kai kehilangan kehangatannya. Lalu yang terlihat selanjutnya adalah Kai yang berlari sekencang angin, menerobos kerumunan polisi dan aku tahu dia pergi keluar untuk mencari ibu kandungnya yang mungkin masih mengawasinya.

“Kai—“

Sebuah genggaman dari tangan yang berbeda menyelimuti tanganku. Baekhyun. Dengan matanya yang penuh tekad, dia menarik tanganku dan berkata, “Ayo, Taeyeon.” Dan kakiku segera berlari mengikutinya, keluar Rumah Sakit.

BERSAMBUNG

Annyeonghaseyo, scarlettkid di sini. Ya Tuhan, Skellington mendekati akhirnya. Sebelum terlambat, aku ingatkan pada pembaca untuk meninggalkan komentar di setiap part agar kalian bisa mendapatkan password untuk membaca part terakhir. Terima kasih sudah membaca sampai selesai, aku akan berusaha keras agar bisa menyelesaikan serial ini dengan indah!

Part 22 will be published April 16th 2016

Advertisements

63 comments on “Skellington [Part 21]

  1. Pingback: Skellington [Part 24] | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s