[FREELANCE] Moonlight (Chapter 4)

moonlight

[Freelance] Moonlight Chapter 4

Author: Alicya V Haiyeon

Rating: PG-16

Lenght: Multichapter

Genre: School Life, Romance, Family

Main Cast: Kim Taeyeon

Xi Luhan

Support Cast: Temukan sendiri.

Disclaimer:

This is just a FanFiction. All the cast it’s belong to God, them selves and the parents.

Please, don’t be a Plagiator.

Author Note:

Jika ada kesalahan, mohon komentarnya. Karna komentar anda semua yang bisa menentukan

FF ini dilanjut atau berhenti di tengah jalan. Typo dimana-mana. Thankyou.

Preview: Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3

 

***

 

“apa tidurmu nyenyak Luhannie?” Oemma Luhan menyodorkan sepiring roti telur kehadapan Luhan berserta susu hangat.

 

Luhan tersenyum hangat dan melahap makanannya cepat, karna jika ia melahap makanannya selama kemarin, taeyeon pasti sudah meninggalkannya.

 

“oemma, aku pergi” Luhan berdiri dan menyampirkan tas nya dikedua tangannya

 

“mana ciuman pagi untuk oemma?” Oemma Luhan cemberut dan menatap anaknya kesal

 

“oemma, aku mencium ani mengecup yeojja yang aku sukai kemarin, aku tak mau kehilangan bibirnya dibibirku” Luhan menunjuk bibirnya

 

“kau kan hanya mencium pipi oemma, ohh ayolah kau kan masih bisa menciumnya lagi nanti?” Luhan tersenyum nakal dan mencium pipi oemmanya “arraseo oemma, aku pergi”

 

“hati-hati, oemma titip salam untuk yeojja yang kau cium”

 

Tepat setelah Luhan pergi, seorang namja paruh baya memasuki rumah Luhan dan langsung menghampiri oemma Luhan yang berada di dapur.

 

“noona!” sapa namja itu ringan

 

Oemma Luhan berbalik dan tersenyum “kau sudah sampai? bukankah aku bilang aku akan ke China nanti malam? kenapa kau kesini? Kebetulah Luhan baru saja berangkat” namja itu mengangkat alisnya “aku tak mencari bocah tengik itu!”

 

“aku sudah tau siapa orangnya…” namja itu tersenyum miris dan menatap dalam manik mata oemma Luhan

 

“nugu? orang apa?”

 

“yang menabrak hyung, maksudku suami noona!”

 

***

Namja itu pulang sekolah dan mengikuti seorang yeojja dihadapannya. yeojja yang tadi pagi menghindarinya, Luhan terus berjalan di belakang taeyeon tanpa mengucapkan kalimat sedikitpun. Ia terlalu canggung untuk sekedar menyapa atau menatap yeojja itu. yang bisa ia lakukan saat ini ialah menatap punggung taeyeon yang terus berjalan dihadapannya.

 

Bruk

 

“yakk kenapa tiba tiba berhenti?” Luhan memprotes taeyeon berhenti mendakakan dan membuat hidung luhan menempel pada rambut belakang yeojja itu.

 

“annyeonghaseo taeyeon sunbae, luhan sunbae” yeojja yang membuat taeyeon menghentikan langkahnya itu menatap mereka dengan senyum manis dan taeyeon tau makna senyunan itu.

 

Luhan yang mendengar namanya disebut sedikit bergeser berdiri disebelah taeyeon dengan wajah bingung, rasanya ia pernah melihat yeojja ini, namun anehnya ia lupa. ‘kenapa sekali bertemu taeyeon ia langsung ingat namanya?’

 

“naya, Kim Nana”

 

seakan mengingat nama itu, Luhan menatap Nana canggung dan entah kenapa melihat wajahnya ia jadi malas “ah majja, Nana-ssi”

 

Taeyeon yang mendengar Luhan membalas ucapan nana menatapnya dengan pandangan ‘kau-mengenal-nya-?’

 

Namja itu sedikit memajukan wajahnya tepatnya ke telinga taeyeon “ne, ayo kita pergi dari sini! sepertinya aku tak suka melihatnya” Luhan segera menjauhkan wajahnya dari telinga taeyeon dan menatap Nana canggung.

 

Taeyeon yang mendapat bisikan dari Luhan merasa senang karna namja itu tak menyukai Nana. Setidaknya ada 1 orang didunia ini tak menyukai Nana.

 

“Nana-ssi, aku dan taeyeon-ah akan pergi jalan jalan, kalau begitu aku akan pergi dulu. Annyeong!” usai berucap Luhan mengandeng pelan tangan taeyeon menjauhi Nana yang menatap mereka dengan pandangan tak suka.

 

“bahkan dia memanggil Kim Taeyeon dengan embel embel akrab? aishh yeojja jalang itu benar benar!” umpatan kesal keluar dari mulut Nana

 

Taeyeon dan Luhan terus berjalan beriringan tanpa melepaskan tautan tangan mereka. Luhan yang sedari tadi menaha tawanya sudah tak sanggup dan akhirnya tawanya pun meledak.

 

“wae?” tanya taeyeon yang jujur saja ia merasa aneh meliha Luhan sekarang.

 

“ani”

 

“oemma, oemma! andwee!” tiba tiba taeyeon menunjuk pada seorang anak kecil, berjenis kelamin perempuan tengah menangis di pinggir trotoar.

 

Luhan masih saja menggenggam ringan tangan taeyeon dan menuntun yeojja itu kehadapan anak kecil itu dan Luhan berjongkok “eoh? kenapa yeojja secantikmu menangis disini? wae geure?” Luhan mengusap pucuk rambut sebahu dan poni anak kecil lembut “uljima, gege ada disini” Luhan tersenyum menampakkan eye smilenya

 

Entah itu mantra ajaib atau apa pun itu berhasil membuat yeojja kecil itu terdiam dan menatap Luhan sendu “Jimin cehilangan oemma…”

 

“panggil oppa dengan nama gege saja, arraseo!” Jimin mengangguk “dimana oemma jimin?”

 

“jimin cidak cau, cibaciba oemma hilangg” adu bocah itu pada Luhan, dengan lembut namja itu membawa jimin kepelukannya hangat.

 

Taeyeon yang dari tadi memperhatikan gerak geriknya pun merasa terasingkan “namja ini penyanyang anak kecil” batin taeyeon, beberapa saat taeyeon mengangumi tingkah Luhan.

 

“baiklah, apa kau mau ice cream? gege, eh maksud gege teman gege akan mentraktirmu” Jimin segera mengalihkan wajahnya ke arah tujuk Luhan yang menunjuk Taeyeon

 

“na?” Taeyeon menunjuk dirinya sendiri bingung

 

“ahjumma itu teman gege?” yeojja itu mengerucutkan bibirnya

 

“mwo? ahjumma?” tanya Taeyeon geram

 

Luhan tertawa menatap ekspresi taeyeon “ohh ayolah taeng, dia itu masih kecil, paling umurnya baru 4 tahun” Luhan mencoba menangahi “ayolah traktir kami, dompetku ketinggalan, lain kali aku akan mentraktirmu” Luhan mengendong Jimin dan menarik taeyeon

 

Tak selang berapa lama, Taeyeon akhirnya luluh dan sekarang tengah mengantri dengan jengah ke arah konter ice cream ditaman, ohh ayolah mereka membawa anak kecil, tak mungkin diajak ke mall.

 

Sementara Luhan,sibuk memangku dan bercerita penuh mesra dengan jimin di bangku taman membuat taeyeon semakin cemberut “ada apa denganku? kenapa aku tak suka melihat luhan memperlalukan anak itu? ahh yakk taeyeon kembalilah kesikap normalmu, dingin,egois dan tak peduli”

 

“aghassi, anda mau pesan apa?” Lamunan taeyeon berhenti saat ahjumma paruh baya itu bertanya lembut padanya

 

“3 cup ice cream, 1 rasa vanila, 1 stawberry dan 1 coklat” Ahjumma itu tersenyum menatap taeyeon “kebanyakan yeojja itu memang tak harus diet”

 

Taeyeon yang sadar kemana arah pembicaraan yeojja itu menatap ahjumma itu canggung “y..ye? aniyo ahjumma aku membeli sebanyak itu untuk mereka” taeyeon menunjuk kearah Luhan dan jimin yang tersenyum

 

“ohh? kau sudah menikah? bukankah ini seragam sma? dan suami mu itu juga masih sma? dan kalian sudah punya anak? aigoo aigoo lihatlah kalian sangat serasi”

 

“mw..o? anniyo ahjumma”

 

ahjumma itu menyodorkan kantung plastik kepada taeyeon dan tersenyum”tidak usah malu malu,semoga kau bahagia”

 

Taeyeon tak menjawab lagi dan kembali mendekati Luhan dan jangan lupakan jimin yang masih betah dipangkuan luhan

 

“ige” taeyeon segera mengambil posisi disebelah Luhan dan mengambil ice cream strawberry kesukaannya.

 

“kau memberikanku rasa coklat? yakk aku kurang suka coklaat” Luhan memberenggut tapi tetap membuka cup ice cream itu dan memakannya. sementara jimin, dia tetap duduk dipangkuan Luhan dan memakan icenya.

 

Taeyeon membulatkan matanya dan menatap Luhan tak mengerti “kenapa membuka mulutmu dan menghadapku?” Luhan membuka mulutnya dan menghadap ke arah taeyeon, seperti seseorang anak yang minta di suapi ibunya.

 

“suapi aku, aku suka ice cream strawberry”

 

“andwe”

 

“gege mau ice clem jimin?” jimin menyendokkan ice creamnya ke arah mulut Luhan dan diterima Luhan dengan senang hati. lalu menatap taeyeon dengan tatapan “kau lebih pelit dari anak kecil” mendapat tatapan tak mengenakkan dari Luhan, Taeyeon bergindik ngeri dan menatap ice creamnya dan Luhan bergentian.

 

hembusan nafas pasrah keluar dari mulut taeyeon diiringin dengan sendok berisikan ice cream penuh kearah Luhan, Luhan tersenyum menang dan melahapnya.

 

“lepaskan sendoknya” gerutuan taeyeon sambil menarik sendoknya dari mulut Luhan, Luhan melepaskannya “ini ice cream strawberry ter enak yang pernah aku makan, sinjja mashitta”

 

“ice clem jimin tak enak ya gege?”

 

Luhan menatap jimin dan tersenyum “aniya, punya jimin juga enak! sudah habis icenya?” Jimin mengangguk dan menghadap Luhan dengan mulut berlepotan “medekat sini, biar gege bersihkan”

 

seakan teringat akan kejadian tadi malam taeyeon segera merogoh sakunya dan menyodorkan saputangan nya kearah Luhan “pakai saja ini untuk membersihkannya”

 

“wae? aku bisa membersihkannya”

 

“apa kau berfikir ingin mencabuli bocah kecil?”

 

“apa kau fikir aku akan menciumnya? yakk aku takkan menciumnya aku akan membersihkannya dengan tangan ku lalu mencuci tanganku kesana” Luhan menunjuk keran air umum yang berdiri tak jauh darinya “dan kau jangan cemburu, hanya kau yang akan ku cium nanti” Luhan mengerlingkan matanya nakal menatap taeyeon

 

“jangan coba coba, Luhan-ssi”

 

mendengar Taeyeon menyebut namanya dengan embel embel membuat Luhan sedikit kesal “jangan memanggilku Luhan-ssi”

 

***

 

Menit berlalu terlalu cepat, hingga mereka berhasil menemukan oemma jimin dan segera mengendong anaknya itu dan membungkuk terimakasih pada taeyeon dan Luhan. “kamshamida sudah menolong anakku, mianhamida sudah menganggu kencan kalian” ahjumma itu tersenyum menatap mereka

 

sementara taeyeon hanya menggeleng kepala berniat protes “ne ahjumma, kita bisa kencan di lain hari. anakmu yeojja yang menyenangkan” Luhan menatap jimin menunduk meratakan tingginya dengan jimin “annyeong jimin, jangan jauh jauh dari oemmamu lagi, arra?”

 

jimin mengangguk “ne gege, annyeong gege” dengan cepat jimin memajukan.wajahnya dan mengecup pipi Luhan penuh sayang “gege, saranghae”

 

“nado jimin-ah”Luhan hanya membalas nya dengan usapan lembut dirambut jimin. selesai dengan Luhan, jimin mendekati taeyeon dan menggenggam tangan yeojja itu agar menunduk lalu mendekatkan mulutnya ketelinga taeyeon “unnie, mianhae tadi jimin memanggil oenni ahjumma, jimin hanya tidak suka saat gege menatap unnie, mianhae unnie. ahh cham, unnie, gege menyukai unnie, katanya gege unnie itu princess nya dan gege princenya seperti dongeng dibuku jimin, annyeong unnie” sama halnya dengan Luhan, jimin juga mengecup pipi taeyeon.

 

dan segera berlari menjauhi mereka “jimin-ah, tunggu oemma” ahjumma itu membungkuk singkat dan mengejar jimin. sekarang tinggalah Luhan dengan senyumnya dan taeyeon dengan pipi meronanya menahan malu.

 

“kau kenapa taeng? kenapa pipi memerah? aigooo kyeopta”Luhan mencubit pipi taeyeon kanan kiri dengan kedua tangannya membuat taeyeon memberengut singkat “yakkk! lepaskan”

 

“aku tidak akan melepaskannya sampai kau mau memohon padaku”

 

taeyeon mengangkat alisnya tak mengerti “Luhan-ah, palii! akhh pipiku sakit”

 

“….” Luhan hanya terdiam dan menatap taeyeon tak percaya “aishh lepaskan, aku sudah melakukan hal yang paling menjijikkan”

 

Luhan melepaskan tangannya dari pipi taeyeon dan menggenggam lengan taeyeon. Tak ada yang terjadi selain keheningan. mereka terus berjalan hingga akhirnya Luhan kembali angkat suara

 

“kita seperti sepasang kekasih, matcho?”

 

taeyeon menatap Luhan binggung “mwo?”

 

“kekasih, ahh sialnya kita belum pernah berkencan!” seakan baru teringat sesuatu, Luhan menghentikan langkahnya dan menghadap taeyeon penuh tanda tanya “taeng, apa kau punya namjachingu?”

 

Taeyeon tertawa hambar “jangan bilang kau benar benar mencintaiku, Luhan-ssi”

 

“nwoya? aniyooo! jinjjayo! aku hanya memastikan saja, kita sering pulang bersama dan melakukan hal bersama belakangan ini, jika kau punya namjachingu nanti dia akan…”

 

“oppseo” taeyeon kembali melanjutkan langkahnya ringan dan membiarkan Luhan terpaku ditempat hingga mereka sampai di halte bus. taeyeon jadi berfikir kenapa dia tak naik bus di halte depan sekolahnya tadi? pasti dia sudah sampai dari tadi dirumah dan tak perlu berjalan jalan dengan Luhan “pabbo!” rutuknya

 

Luhan yang ditinggal sendiripun perlahan menyunggingkan senyum manisnya dan berjalan menghampiri taeyeon yang sudah duduk di halte bus. Ia merasa senang dan puas dengan jawaban taeyeon.

 

“ahh matta! mana ada yang mau dengan yeojja dingin sepertimu” Luhan tertawa lebar “mendekatimu saja mereka tak berani”

 

“jangan mengejekku” seru taeyeon

 

“aku tak mengejekmu! hanya saja bukankah hal itu benar? jadi aku tak perlu takut kau akan selingkuh nantinya”

 

Taeyeon terdiam “selingkuh?”

 

Luhan yang baru sadar atas apa yang diucapkannya menepuk pelan dahinya. Ia benar benar bodoh “bukankah dipertemanan ada selingkuh?” lagi Luhan kembali merutuki pertanyaannya ‘pertemanan’

 

“Chingu? ahh iya kita hanya teman, apa yang kau harapkan Kim taeyeon!”

 

“hari ini aku merasa senang memerankan tokoh di drama bergendre romance” Luhan menatap ke depan dengan pandngan lurus tanpa menoleh kearah taeyeon “bertemu anak kecil yang tersesat dan berjalan jalan bersama bukankah itu hal yang sering terjadi didrama?”

 

“kalau begitu drama kita benar benar basi! dan kau!” taeyeon menunjuk luhan dengan pandangan menyelidik “bukankah yang suka menonton drama itu yeojja? heol!”

 

“apa salahnya? namja juga suka drama, aku suka drama yang berakhir bahagia. bagaimana menurutmu?”

 

Taeyeon mengayunkan kakinya bosan mendengar ocehan luhan tentang dramanya “kurasa drama yang berakhir sad ending lebih pas untukku!”

 

“MWO?!!” tanya luhan kaget tak percaya dan jawaban yang tak sesuai dengan harapan Luhan “bukankah semua orang ingin hidup bahagia?”

 

“Xi Luhan, apa kau tak bisa membedakan kehidupan nyata dengan drama? ini dunia nyata. tak segalanya bisa berjalan selancar dan semulus didrama yang kau bilang itu”

 

“tau dari mana kau taeng? bukankah kau bilang padaku tak pernah nonton drama?” tanya Luhan yang masih belum paham kenapa yeojja itu memilih sad ending.

 

“movie, aku pernah nonton movie dengan berakhir sad ending, drama dan movie semuanya sama sama cerita bukan? tak ada yang kebetulan terjadi didunia nyata seperti di cerita-cerita”

 

“tapi tetap saja! yahh lalu apa yang kita lakukan tadi sama seperti yang didrama drama”

 

Taeyeon yang kesal dengan Luhan yang masih saja menyamakan kehidupan nyata dengan drama pun mulai kesal dan menendang kakinya yang mengayun lebih cepat hingga sepatunya terbang ke jalanan.

 

“awas taeng!” taeyeon yang baru saja berdiri dari halte dan berjalan ke trotoar mengambil sepatunya yang lepas terperangah kaget saat sesuatu yang berkilau memasuki retina matanya, membuatnya tak bisa menatap dengan jelas apa yang ada di hadapannya.

 

Luhan segera memeluk taeyeon dan membalikkan posisi tubuhnya, ia yang berada di posisi taeyeon sekarang dan memeluk yeojja itu erat seraya menariknya kepinggir trotoar

 

Tepat setelah itu sebuah mobil melaju dengan kecepatan diatas rata rata. Deruan nafas mengiringi kepergian mobil itu. Luhan masih terdiam memeluk taeyeon yang sedikit bergetar “neo gwenchana?” Luhan mengelus kepala belakang taeyeon dengan sayang.

 

Hingga Luhan sadari, bahu seragamnya perlahan bergetar, namja itu perlahan melepaskan pelukannya dan menatap Taeyeon. Terlihat jelas diwajah yeojja itu ketakutan yang mendalam diiringi wajah tegangnya dan yang membuat Luhan terperangah heran..

 

“kenapa yeojja ini tidak menangis?”

 

***

 

“sudah mendingan? apa kau mau ku antar pulang?”

 

Luhan menatap sekitar, mereka tengah berada di kedai ramyeon yang tak jauh dari kejadian mereka tadi. Kedai ini sangat sepi hanya ada dirinya dan Taeyeon ditambah satu orang ahjussi penjual ramyeon ini. Seusai menyantap ramyeon yang dipesannya tadi, Ia masih terus menatap taeyeon heran. sikapnya berubah hanya karna mobil yang hampir menabraknya

 

Taeyeon menggeleng kuat “ani, aku tidak mau pulang”

 

Luhan membentuk kerutan bingung didahinya “lalu? sekarang sudah malam”

 

“masih jam 7, kalau kau mau pulang, pulanglah”

 

“kenapa kau tak mau pulang?” akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari mulut seorang Luhan. Penasaran akan apa yang dipikirkan yeojja itu dan penasaran dengan mobil itu. Taeyeon pasti tau sesuatu.

 

Taeyeon menghela nafas pelan dan menatap mangkuk ramyeon yang tadi dimakannya “karna aku tau pelaku yang akan menabrakku tadi adalah suruhan oppaku” batin taeyeon.

 

“kajja” Luhan menarik tangan Taeyeon dan berdiri. Dengan cepat taeyeon menghempaskan tangannya “lepas, aku tidak mau pulang kerumahku”

 

“siapa bilang kau akan pulang kerumahmu? kau akan pulang kerumahku” Taeyeon mnatap Luhan dengan pandangan apa-maksud-mu?

 

namun berselang beberapa menit kemudian Taeyeon mengerti apa yang dimaksud Luhan. Namja itu benar benar membawanya kerumahnya.

 

“kenapa kau membawaku kemari?”

 

“lalu kau akan tidur dimana? kau tak mau pulang kerumahmu kan? yasudah pulang kerumahku saja malam ini”

 

“m..mwo? bagaimana dengan oemmamu?”

 

Luhan tersenyum “kau membawa seorang yeojja pulang kerumah? waahh daebak aegy oemma, buatkan oemma cucu saat oemma sudah kembali dari China ya Lu” Luhan berbicara cepat sesuai dengan intonasi dan suara sang oemma saat ia menelpon dan meminta izin tadi lewat ponsel.

 

mendengar penuturan Luhan, wajah taeyeon tiba tiba memerah dengan wajah yang tertunduk “yak tidak usah bohong, oemmamu mengusirku kan? sejauh ini tak ada yang mau menerima anak haram sepertiku”

 

Luhan tertegun sejenak mendengar kalimat terakhir taeyeon, sedikit demi sedikit akhirnya Luhan mulai mengetahui tentang kehidupannya “apa kau mengira oemmaku jahat? seperti ibu tirinya cinderella? baiklah akan aku buktikan” dengan cekatan Luhan menarik tangan Taeyeon hingga yeojja itu terduduk dikursi ruang tamunya, dan akhirnya ia juga mendudukan pantatnya tepat disebelah taeyeon dan merogoh saku celananya mengeluarkan ponselnya. menekan sesuatu hingga terdengar nada sambung dengan loudspeaker

 

Taeyeon semakin membeku saat nada sambung dari ponsel itu berakhir hingga terdengar suara lembut yang diyakini taeyeon adalah oemma Luhan.

 

“yeoboseo aegy-ah? waeguere?” sapa orang di balik ponsel tersebut

 

terdengar dengusan sebal di hidung luhan “oemma, jangan memanggilku seolah olah aku masih sekolah dasar, memalukan oemma”

 

Cekikikan oemma Luhan sedikit menghangatkan hati taeyeon yang hanya terdiam menyimak percakapan oemma Luhan “ne Luhan-ah wae? kenapa menelpon oemma? kau sudah makan? bukankah tadi oemma sudah menelpon mu?”

 

“aku sudah makan ramyeon tadi oemma, oeh temanku yang mau menginap disini tidak percaya padaku bahwa oemma mengijinkannya menginap”

 

Taeyeon menatap manik mata Luhan dengan mata membesar “yak! apa yang kau lakukan!” bisiknya pada Luhan berharap oemma Luhan tidak mendengarkannya.

 

“wae? oemma sudah mengijinkannya”

 

“sekalipun ia anak haram?” tanya Luhan tothepoint sambil melirik taeyeon yang masih saha menundukkan wajahnya.

 

“yak Luhannie, apa yang kau bicarakan oeh? sejak kapan anak oemma membedakan status orang? ia temanmu, kau anak oemma, temanmu anak eomma juga, jadi jangan bicara status keluarga” terdengar raut kekecewaan disuara oemma Luhan, namun helaan nafas lega keluar dari mulut taeyeon “setidaknya ‘ia’ tak akan menjauhiku” batin taeyeon

 

“ani, temanku tidak percaya pada oemma, ini dia”

 

Luhan tiba tiba menyodorkan ponselnya dihadapan Taeyeon yang mendadak gelagapan. “n..ne? annyeonghaseo oemmoni”

 

“ne annyeonghaseo, wahh suaramu bagus sekali pasti wajahmu juga cantik, siapa namamu?”

 

“n..ne? kim…t..taeyeon imnida oemmonie”

 

“wahh nama yang bagus untuk orang yang bagus, kau temannya Luhan? kalau mau menginap menginaplah, tak usah sungkan sama oemma,anggap saja rumah sendiri, ne kim taeyeon-ah? oehh tak apa akan aku memanggilmu seperti itu?”

 

“ne oemmoni, khamsamida”

 

Taeyeon segera menyodorkan ponselnya kehadapan Luhan yang tengah tersenyum senyum genit “ayo kita daftarkan penikahan kita ke kantor resmi korea sekarang, kurasa oemma sudah setuju jika kita menikath” Luhan mengambil ponselnya dan segera mengakhiri panggilan dengan oemmanya tanpa mengalihkan tatapan dari yeojja yang tengah menatapnya tajam.

 

“jangan macam macam padaku, Luhan-ssi”

 

***

 

“tuan muda, nona muda belum pulang sekolah dari tadi”

 

Kibum yang baru saja pulang dari rumahnya menatap Hwang ahjumma dengan pandangan tak percaya “n..ne? kemana dia?” kegelisahan mulai menghampirinya tatkala ia mengangkat tangannya melihat angka 11 malam melingkar pada jam di pergelangan tangannya

 

“saya tidak tau tuan, nona tidak bilang apa apa tadi pagi, sebelum berangkat sekolah matanya terdapat lingkaran hitam dengan wajah pucatnya ditambah dengan nona muda tidak makan apa apa dari tadi pagi” Kibum mendesah kasar dan melempar tas kerjanya begitu saja.

 

dengan cepat ia mengangkat ponselnya lalu menelpon seseorang yang langsung menjawab panggilannya

 

“Kim Heechul, neo oediga?”

 

“na? di belakang mu!” Kibum menoleh dan mendapati Heechul tersenyum kearahnya “what’s up bro? kenapa dengan wajahmu?” heechul menepuk pelan bahu Kibum saat ia sudah berdiri disampingnya.

 

“taeyeon, belum pulang! bantu aku mencarinya! aku benar benar takut dia kenapakenapa”

 

Heechul melongo menatap Kibum “benarkah? tapi tadi aku rasa aku melihatnya di halte dekat taman” jemari lentiknya ia gerakkan kesana kemari jelas sekali ia sedang berfikir keras “ah matta! aku melihatnya hampir ditabrak mobil”

 

“MWO!!!” Kibum benar benar murka sekarang, wajahnya memerah dan kelihatan sekali jika ia benar benar kaget dan marah.

 

“ne, saat aku berjalan jalan di taman aku melihatnya bersama seorang entah itu namja atau yeojja, wajahnya benar benar manis sepertiku tapi ia berpakaian seragam namja, saat itu sepatu taeyeon terlempar ke jalanan dan ia hendak mengambilnya. tepat saat itu sebuah mobil dengan kecepatan tinggi akan melintas dan aku rasa mobil itu benar benar berniat menabrak taeyeon, namun saat aku akan berlari menolongnya, orang yang bersama taeyeon tadi sudah menyelamatkannya dan memeluknya, lalu apa gunanya aku? setelahnya aku langsung pergi. Keut”

 

Mendengar penuturan panjang heechul, membuat Kibum terdiam. Pandangan matanya benar benar kosong dan bahkan kakinya sudah mulai merosot hingga ia terduduk tak berdaya di lantai. Heechul segera memapah sahabatnya ini menduduki kursi ruang tamu.

 

“d..dia… Kim Myung Sul… kembali” seru Kibum pelan dan nyaris berbisik.

 

“namja yang kau ceritakan padaku?” Kibum mengangguk lemah dan menatap Heechul penuh penyesalan “semuanya salahku! harusnya aku lebih tegas mengawas taeyeon. ottokhae?”

 

***

 

Malam semakin larut dan cuaca semakin dingin sama sekali tidak menyurutkan niat seorang yeojja yang masih betah berada di balkon kamar yang tengah ia tempati saat ini. Baju kaus lengan panjang kebesaran bermerk yang menempel dibadannya hingga menutupi pahanya. Jelas sekali baju yang dipakai bukan bajunya, melainkan punya namja bernama Xi Luhan. Taeyeon, yeojja yang tengah menginap dikamar tamu temannya “teman?” taeyeon tersenyum tipis saat hatinya bergumam kata teman.

 

tepat sejam yang lalu ia memasuki ruangan ini, sangat luas untuk ukuran kamar tamu tapi tidak seluas kamarnya yang berada dirumahnya.

 

Lagi, terpaan angin mengenai wajah lembutnya dan mengiringi rambutnya menari bak music yang indah untuk alunan dansa. Wajahnya menongkak dan melihat cahaya besar dengan sinar lebar menghampiri penglihatannya. Sangat sangat jauh dari tempatnya berdiri tapi sinarnya sama sekali tak buram. bahkan sinarnya mampu menerangi gelapnya dunia ditinggal mentari. Bulan.

 

Langit malam bertabur bintang disinari bulan menambah kesan damai sekalipun ini berada di tengah kota seoul. Taeyeon beruntung karna bisa menikmati pemandangan yang indah ini sekalipun bukan dikamarnya sendiri ia merasa nyaman dan hangat. tidak seperti rumahnya. mungkin karna rumah ini dipenuhi rasa cinta. dan kenyataan rumah ini berbeda 180 derajat dari rumahnya membuat taeyeon menghela nafas lemah.

 

Taeyeon melirik sekilas pergelangan tangannya. benda berdetak ditangannya dengan merk’baby g’ tengah menunjuk angka 1 pas.

 

Cklek

 

Taeyeon mengalihkan tatapannya dari jam tangannya kearah balkon sebelah kamarnya yang baru saja terbuka dan menampilkan seorang namja dengan rambut acak acakan, kaus oblong kebesaran berwarna putih dibadannya dipadukan dengan celana panjang dengan dasar tipis berwarna hitam lengam dan ditambah dengan mata menyipit, tangan yang berada di depan mulutnya dan mulut yang terbuka, namja itu menguap

 

“taeyeon-ah?” ucap namja itu dengan suara serak dan terselip nada tak percaya didalamnya “kau belum tidur? wae? apa kamarnya tidak nyaman? atau kamarnya dingin? ahh bukannya oemma sudah menyuruh orang memperbaiki pemanas ruanganan dikamar itu 2 bulan yang lalu? apa rusak lagi?” Luhan berjalan mendekat kearah pembatas balkonnya dan balkon taeyeon.

 

Yeojja itu tersenyum singkat, yah tersenyum “aniya”

 

Luhan terdiam, ini pertama kalinya ia melihat yeojja itu tersenyum. sangat manis. “l..lalu?” entah kenapa tiba tiba luhan sedikit kikuk malam ini

 

“sayang saja aku harus melewatkan malam ini” Taeyeon mengalihkan pandangan dari arah luhan hingga menatap benda bulat bercahaya itu.

 

Luhan mengalihkan tatapannya kearah yang dilihat Taeyeon dan tersenyum miris “kau suka bulan?”

 

Taeyeon mengangguk pelan meskipun luhan tak melihatnya tapi ia tau itu “moonlight. manhi johaa”

 

“moonlight?”

 

“ne, aku hanya suka cahaya bulan saat bulan bulat seperti ini, tidak semua bulan”

 

“wae?”

 

taeyeon memberengut bingung “wae? apa maksudmu? ini indah. apa kau tak suka?”

 

Luhan menatap taeyeon sendu “ne, aku tak suka” jawabnya lirih “aku tak suka jika aku terbangun pada malam hari seperti ini dan tanpa sadar kakiku menyeretku ke balkon dan mataku mendongkak menatap bulan, aku tak suka”

 

“apa ini mengingatkanmu pada seseorang? lalu kenapa kau membenci bulan?” Taeyeon tak bisa lagi menahan rasa penasarannya yang muncul.

 

“ya, seseorang yang sangat ku sayang didunia ini” jawaban singkat mengalir dari mulut luhan, tak seperti luhan yang biasanya selalu mengoceh padanya. Luhan dihadapannya terlihat begitu menyedihkan dan ‘rapuh?’

 

“apa dia sahabat kecil mu? siapa yeojja itu?”

 

Luhan menatap taeyeon lekat tak percaya “kau cemburu?”

 

Taeyeon menggeleng cepat “a..aniya. bukankah didrama seperti itu?” tanyanya kikuk

 

Luhan tersenyum lembut “kau cemburu taeyeon-ah, ahh igeo bwaa, lihatlahh wajahmu memerah dan oeh? sejak kapan kau nonton drama? bukannya tadi kau bersikeras jika kau menonton movie bukan drama?”

 

Taeyeon mendelik kan matanya kesal dan menyesal, harusnya ia tak banyak bicara tadi, lihatlah namja ini begitu bahagia sekrang menggodanya. “drama?” batin taeyeon. ia jadi teringat saat 2 hari yang lalu dimana ia nekat menghidupkan tv diruang tv dan duduk santai sambil menonton drama yang entah apa judulnya. ia hanya panasaran kenapa Luhan sering menyebut drama. dan tindakannya berakhir saat hwang ahjumma menegurnya “nona muda sejak kapan nonton drama?” dengan cepat taeyeon mematikan tv dan beranjak ke kamarnya tanpa menghiraukan ucapan hwang ahjumma.

 

“oeh? kau melamun huh?”

 

Suara bass luhan membuat taeyeon kembali dan menatap luhan dengan tatapan ‘ada-apa?’

 

“kenapa kau menyukai bulan?” tanya Luhan akhirnya

 

Taeyeon terdiam sejenak “uri oemma. oemmaku sangat menyukai bulan. dan kenapa kau membenci bulan?”

 

“aku tidak membenci nya, hanya saja aku tidak suka. appa ku dulu sangat suka mengajakku ke bukit perbatasan seoul ditengah malam untuk melihat bulan dengan alat-alatnya. dan berkat kecintaanya bersama bulan aku kehilangannya”

 

Taeyeon kembali terdiam “mianhae” gumamnya pelan

 

“wae? kenapa minta maaf? mau mendengar ceritaku selanjutnya? tunggu aku sebentar” selesai dengan ucapannya Luhan menghilang dibalik pintu penghubung kamar dan balkonnya.

 

“mungkin ke toilet” batin taeyeon. baru 5 menit Luhan kembali membuat taeyeon membelalakkan matanya tak percaya

 

“apa yang kau lakukan di sini?” tanya taeyeon tak percaya. Ia melihat Luhan tersenyum dengan polosnya di sampingnya dengan tangan menjinjing sebuah kain kotak kotak.

 

“mari berbagi cerita”

 

dengan cepat Luhan mengembangkan kain yang dibawanya dari kamarnya menuju kamar taeyeon, ani balkon yang berada dikamar taeyeon. Selesai mengembangkannya Luhan mendudukan pantatnya dan menepuk bagian sebelah kirinya mengisyaratkan agar taeyeon duduk disini. Taeyeon hanya membeku menatap Luhan ragu.

 

“tenanglah, aku tak akan macam macam”

 

Tarikan tangan Luhan berhasil membuat taeyeon terduduk disebelahnya. “baiklah aku akan mulai bercerita, tapi kau harus janji, selesai aku bercerita, kau harus menceritakan kisahmu kepadaku? otte?”

 

“shireo, kau yang mau bercerita kepadaku, kenapa aku harus berbagi padamu?” Luhan memberegut mendengar jawaban taeyeon “ayolah, bukankah kita berteman? kita bahkan pernah berciuman dan berpelukan wak..”

 

Mendadak pipi Taeyeon memerah “arra, arra. mulailah ceritamu”

 

“waktu itu dimusim panas libur sekolah, aku orang berkewarganegaraan China, dan saat libur aku tengah berlibur ke seoul dan mengunjungi appaku yang tengah mengurus pekerjaannya menemui klien nya di seoul….”

 

*flasback on*

 

“appa.. appa” Luhan yang waktu itu berusia 6 tahun berlari memeluk appanya.

 

“oehh? Luhannie kenapa belum tidur? mana oemma?” tanya pria paruh baya berusia sekitar 39 tahun itu balas memeluk luhan lembut

 

“oemma sudah tidur, appa bogoshipoe, neomu!”

 

Appa Luhan memeluk hangat anaknya dan mengelus pelan kepalanya “klien appa hari ini benar benar menyebalkan, makanya appa pulang terlambat, kajja kita pergi”

 

“oediga? ke bukit itu lagi? aishh appa, shireo. aku bosan. lebih baik appa segera tidur agar besok badan appa segar dan bisa kembali bekerja lagi”

 

“anak appa sudah besar rupanya” Appa Luhan melepaskan pelukannya dan menatap anaknya bangga

 

“appa cepatlah pergi tidur”

 

“tapi appa benar benar tak bisa melewatkan malan ini begitu saja, sekarang bulan purnama dan itu sangat indah Luhan-ah, tak mungkin appa melewatkannya” ucap Appa luhan diiringan dengan senyuman manis dan gerakan lembut mengusap kepala anaknya.

 

“ay ay captain, cepatlah pergi melihat anak keduamu dan cepat pulang. Luhan pergi tidur dulu” Luhan mengecup pipi appanya “jalja appa”

 

Appa Luhan tersenyum hangat “ne, jaga oemmamu. appa menyayangi mu Luhan, Luhannie saranghae” appanya mengangkat tangannya membentuk hati membuat Luhan terkekeh geli lalu menirukan apa yang appanya buat “ne appa, neomu neomu neomu saranghae appa, appa jjang!” kalimat terakhir Luhan diakhiri dengan dua jempol yang membuat senyum appanya semakin membesar sampai Luhan menghilang dibalik kamarnya.

 

Tuan Xi mulai melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan istrinya. terduduk diam diranjang istrinya yang tengah terlelap. mengecup pelan kening sang istri hinga ia terbangun

 

“yeobeo? kau sudah pulang? aku akan siapkan air panas bu..”

 

“aniya, aku hanya mau bilang aku akan kebukit”

 

“bulan lagi?” nyonya Xi cemberut

 

“ayolah yeobeo, sekarang bulan purnama, aku tak mau kehilangan momen ini”

 

Nyonya Xi hanya mengangguk pasrah dan menghela nafas berat, sekuat apapun ia menahan, Suaminya tetap akan pergi kesana jika sudah menyangkut bulan.

 

“baiklah, hati hati ne”

 

“ne, saranghae, Xi Young Ji”

 

“nado saranghae Xi Jeung Lie”

 

Dua jam berlalu hingga bunyi telepon rumah yang memekakan telinga membangunkan Young Ji yang keluar kamarnya dan meraih ganggang telpon itu.

 

“Yeobeoseo?”

 

“ne, ini keluarga Xi Jeung Lie”

 

Luhan yang baru saja keluar kamarnya terdiam kaget saat mendapati oemmanya terduduk lemah dilantai sembari menggenggam erat telpon itu.

 

“tidak.. tidakk.. jangan mengada ngada, suami ku masih hidup hiks.. tidakk.. hiks andwee”

 

Mengerti kemana arah pembicaraanya, air mata mendadak meluncur dari mata Luhan dan dengan badan bergetar, bocah ini berjalan mendekati oemmanya dan memeluk erat sang oemma yang histeris.

 

*flasback off*

 

“andai saja… a..aku tau.. appa akan meninggalkanku… aku pasti akan menemani appa melihat bulan hingga kejadian itu tidak akan terjadi” Luhan menundukkan wajahnya kebawah seusai bercerita

 

Taeyeon menatap Luhan sendu, tatapan taeyeon berubah kaget saat menyadari tubuh namja yang tengah terduduk disampingnya ini bergetar.

 

Luhan menghembuskan nafas berat tanpa mengangkat wajahnya sedikitpun “aku kehilangannya karna kebodohanku, aku anak yang jahat.. a…aku…bodoh”

 

Dengan pelan, taeyeon mendekati Luhan mengangkat tangan kananya menyentuh bahu luhan dan tangan kirinya yang menuntun luhan ke arah dadanya. Memeluk namja itu hangat dengan tangan kiri yang mengelus pipi Luhan dengan lembut. Hingga taeyeon menyadari pipi itu basah. pipi yang selama ini selalu tertarik keatas tersenyum, mengodanya itu tertarik kebawah dengan air yang mengalir. Luhan menangis.

 

Taeyeon mempererat pelukannya saat sadar namja itu semakin bergetar dipelukannya. Di tanamkan dagunya ke rambut luhan membuat posisinya senyaman mungkin dengan pelukan ini.

 

“a..ak..aku… bo..do..hh” Suara lirih kembali menusuk telinga taeyeon, dan entahlah hatinya sakit melihat luhan selemah ini.

 

“aku tidak akan memaafkan siapapun yang membuat appaku begini, aku belum bisa menerima semua ini, taeyeon-ah” luhan kembali bergumam

 

“sudahlah Lu, berhenti menyalahkan dirimu. ini bukan salahmu, ini takdir. mungkin terkadang takdir ini terasa mempermainkan kita, tapi kita bisa apa? masih banyak orang yang diluar sana yang sama sekali tak pernah melihat wajah appanya, setidaknya kau mempunyai kenangan indah dengan appamu. sudahlah, mana Luhan yang aku kenal, ayolah hidup terus berjalan. tidak hanya dirimu yang susah didunia ini”

 

Tangan Luhan yang sebelum nya diam terangkat meraih pinggang taeyeon dan memeluk erat yeojja ini.

 

“kau membuatku nyaman, aku benar benar menyukaimu, Kim Taeyeon” batin Luhan

 

Luhan menghirup aroma parfum yang dipakai taeyeon dalam. benar benar membuatnya nyaman. dan mulai detik ini parfum ini akan masuk ke list favoritnya

 

Pelukan taeyeon merenggang, membuat luhan mau tak mau harus melepaskan pelukannya dan menatap Taeyeon intens.

 

Dengan cekatan Taeyeon mengusap dengan kedua jempolnya bekas air mata dipipi Luhan, sekalipun ia tidak menangis terisak isak tapi melihatnya seperti ini benar benar membuat taeyeon sesak.

 

Luhan menutup kedua matanya, merasakan lembutnya tangan yeojja yang tengah membelai lembut wajahnya ini. Seketika pikiran evil muncul dalam pikirannya.

 

Luhan memajukan bibirnya seperti bebek, membuat taeyeon berhenti mengusap pipinya dan menatap Luhan bingung.

 

“Tak ada ciuman romantis untukku? biasanya di drama selalu ada bagian seperti itu” Luhan membuka matanya dan melihat taeyeon menatapnya tajam

 

“arghhh!” Luhan meringis saat siku taeyeon menyikut perutnya pelan. Luhan bahkan lupa kapan yeojja itu melepaskan tangannya.

 

“kau kembali menjadi orang yang menyebalkan” taeyeon segera menggeser posisi duduknya sedikit menjauhi taeyeon.

 

“ohh? bukankah kau tadi bilang ‘mana Luhan yang aku kenal'” Luhan mencoba menirukan suara taeyeon tadi dan tersenyum lebar “dan apa itu? kau memanggilku Lu? apa itu panggilan sayang mu untuk ku, taeng?”

 

Blush. Lagi pipi taeyeon memerah dan mendadak ia menjadi kikuk lagi.

 

“aku mengantuk, aku akan tidur dulu, annyeong Luhan-ssi” dengan cepat taeyeon berdiri dan berjalan memasuki kamar dengan muka yang memerah ia segera menidurkan dirinya diranjang dan menutup semua badannya dengan selimut tebal.

 

“Luhan-ssi? yakk aku lebih suka kau panggil Lu, Taeyeon-ah” gumam Luhan seraya membereskan kain yang mereka gunakan untuk duduk tadi “atau setidaknya hilangkan kata ssi dibalik namaku” Luhan mempoutkan bibirnya dan masuk menutup pintu jendela balkon kamar ini dan berbalik menatap taeyeon yang tengah tertidur dengan seluruh badannya dibawah selimut, luhan yakin bahwa yeojja itu belum tidur.

 

“mau tidur bersama?”

 

akhir kalimat Luhan mendapatkan lemparan bantal dari arah taeyeon tepat mengani wajahnya yang membuatnya meringis.

 

“arra arra aishh jangan melempar bantal padaku. arraseo kita akan tidur bersama 9 tahun lagi, usiaku masih 18 dan aku akan menikah diusia 27 kalau bisa. dalam artian kata disaat kita menikah 9 tahun lagi Taeyeon-ah, jalja” Luhan segera berlari keluar kamar. tepat setalahnya bantal kembali terlempar mengenai belakang pintu yang baru saja tertutup.

 

 

 

 

 

 

***To Be Continued***

 

Mohon maaf buat reader semua! Jujur saja, saya kecewa dengan diri saya sendiri pas baca komen di part 3 banyak yang bilang harus baca lagi dari part 1 karna lupa dan karna updatenya sangat lambat. Saya sempat down karna tidak bertanggung jawab dan mengalami writer block bahkan saya berniat tak ingin mempost ff lagi. Jadwal kuliah yang menggila ditambah tugas yang tiada henti membuat saya tidak bisa menulis ff, bahkan buat tidur saja saya susah-_- tapi akhirnya, saya berfikir, saya harus menyelesaikan ff ini dan tidak membuat reader kecewa #alay yah saya!^^ terimakasih buat author yang masih mau ngepost ff abal abal ala kadar ini, gomawo. Dan terimakasih buat temen saya, kalo bukan karna dia saya mungkin ga akan ngepost ff lagi, celotehannya sebagai reader ff membuat saya sadar, gomawoyeo ante-ah^^

Untuk cerita, terlalu panjang ya? Saya tidak tau harus dibagi kemana lagi, kalau terlalu panjang kalian bisa membacanya disaat ga ada kerjaan, jadi ga terlalu ngebosenin #saran aja sih. Jika ceritanya makin kacau dan jelek, makin gaje dan kurang dipahami, sekali lagi mianhae, saya tak tau harus bagaimana lagi *BOW

Kritik dan saran selalu ditunggu. Buat Chapter 5 akan segera di post, dan konflik yang rumit akan muncul di chapter ini. Gomawo *BOW *KISSKISS *HUG

 

Advertisements

57 comments on “[FREELANCE] Moonlight (Chapter 4)

  1. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 7) | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 8) | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 9) | All The Stories Is Taeyeon's

  4. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. eh ternyata kibum sayang sama taeyeon.

    luhan-taeyeon sweet & saling melengkapi walaupun gak pacaran. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s