[FREELANCE] Pearl Rain (Chapter 3/END)

[3rd CHAPTER] – PEARL RAIN | END

 1457538370040

Title: Pearl Rain | Author: Fearlessais_ and L.Kyo | Picture BaekYeon by Bkhyntyn | Cast: Kim Taeyeon (SNSD), Byun Baekhyun (EXO), Kim Minseok / Xiumin (EXO) | Genre: Fantasy, Romance, Fluff, Sad | Genre: PG-17 | Lenght: Chaptered | Disclamer: This story is Baekyeon Fanfic Collaboration from Fearlessais_ and L.Kyo.Don’t plagiarize or copy without my permission.

 

Summary: Kau hanyalah sosok dua demensi, yang bisa kupandang dalam bentuk layar semu. Namun bisakah sosok semu itu menjadi nyata? Sebentar saja, sekali saja aku menatap dan menyentuhmu dengan tanganku.

Preview: Chapter 1, Chapter 2

 

H A P P Y   R E A D I N G

 

Taeyeon POV

 

Orang Korea mengatakan, akan lebih bagus saat first snow pergi keluar bersama orang yang dicintai. Kunikmati tiap butir salju jatuh ditelapakku. Ini tak membuatku dingin, padahal aku memakai baju tipis. Langit diatas cerah ditambah dengan suasana yang begitu menyenangkan. “Pasti Baekhyun belum bangun.”

 

Hari minggu, jam menunjukkan pukul 10 pagi. Karena ia mungkin sedang masuk kerja di shift sore. Bukan hal tabu lagi jika ia malas untuk bangun pagi. Lagipula ini musim dingin, paling nikmat jika terus terusan bergelut didalam selimut. “Setelah Baekhyun bangun, aku bertaruh. Ia akan menghubungiku dan bertanya apa yang ia lihat.”

 

Aku bisa membayangkan bagaimana sang pangeran dua dimensi itu akan ketakutan saat melihat butiran salju. Akankah ia akan mengatakan bumi hancur? Bumi meledak? Dunia kiamat? Kuremat ponselku, berharap ia akan menghubungiku lebih dulu.

 

TOK! TOK! Aku mendongak dan menatap Xiumin mengetuk pintu balkon. “Ya! Kau tidak memakai baju hangat?” Xiumin membenarkan jaket tebalnya dan menatapku heran yang dengan masih baju tipis. “Aku tidak dingin. Lagipula matahari masih bersinar cerah. Kau kemana?” Aku menepuk bahu Xiumin.

 

“Tentu saja aku bekerja. Oh ya, bukankah hari ini Baekhyu libur? Kenapa kau tidak keluar saja? Lagipula sepertinya Baekhyun tak pernah tahu tentang salju”. Xiumin ikut menatap kedepan, menatap jalanan yang terlihat sepi, seakan banyak orang malas untuk keluar di salju pertama.

 

“Haruskah?” Tanya Taeyeon. Tapi lelaki itu menjentikkan jarinya, mengingatkan tentang karakter Baekhyun. “Aku ingat. Aku membuat karakter Baekhyun yang tidak suka berbau salju. Aku kira ia sedang tidak mau keluar”. Pernyataan Xiumin dipahami Taeyeon. Ia ingat karakter Baekhyun didalam animasi Rain Man. “Kau benar, tapi Baekhyun sekarang manusia. Bukankah itu tidak apa-apa?”

 

Xiumin hanya mengedikkan bahu. “Apa yang kau tahu sebenarnya? Kau yang membuatnya tapi kau tidak tahu sama sekali!” Taeyeon berjalan masuk dalam Kamar dan meninggalkan Xiumin yang masih terdiam mematung. “Ya! Keluar kau! Aku ingin ganti baju!” Taeyeon membuka pintunya dan berteriak pada Xiumin yang sama sekali tak meresponnya.

 

“Tck, aku tak akan melihatnya.” Xiumin justru menyandarkan tubuhnya ke pembatas balkon. “Keluar kau!” Dan bukan Kim Taeyeon jika ia menunggu lebih lama. Taeyeon menarik kerah belakang Xiumin tanpa ampun, mengabaikan Xiumin yang meronta-ronta untuk dilepaskan.

 

***

 

Author POV

 

Genggaman pada telepon Taeyeon mengartikan bahwa ia benar-benar khawatir. Sudah 30 menit ia menunggu didepan halaman rumah Baekhyun. Gadis itu sudah bertanya pada Bibi disebelah rumah Baekhyun, bahwa ia tidak melihat Baekhyun keluar dari rumahnya sejak pagi tadi.

 

Tentu saja, Taeyeon semakin cemas. Mengingat kata Xiumin yang mengatakan bahwa Baekhyun tak suka musim salju. Taeyeon mengigit kukunya, cemas jika saja Baekhyun sedang tak baik-baik saja didalam. Kembali Taeyeon mengetuk rumah Baekhyun sekali lagi. “Baekhyun-ah! Kau didalam? Buka pintunya! Aku Taeyeon!”

 

Nihil! Lelaki itu tak menyahut. Tak ada tanda-tanda bahwa ada aktivitas didalam. Pikiran yang sempat melayang dikepalanya seolah berputar kembali seperti film. Ia tidak ingin Baekhyun meninggalkanya, ia tidak mau. Genangan air mata Taeyeon sudah seakan ingin jatuh. Tapi tidak, Taeyeon yakin bahwa Baekhyun tak akan mudah meninggalkannya.

 

Selanjutnya Taeyeon menekan nomer ponsel Baekhyun untuk kesekian kalinya. “Byun Baekhyun, angkatlah!” Semua anggota tubuhnya benar-benar tak bisa dikontrol. Gadis itu berjalan tak karuan didepan halaman rumah Baekhyun, mencari celah untuk masuk kedalam.

 

Ia berjalan menuju halaman belakang. Sepi. Tak ada jemuran pakaian yang biasa Baekhyun lakukan. Benar-benar tak ada aktifitas sekalipun. Degup jantung Taeyeon meningkat seiring ia berjalan mendekat, mendekat pada sebuah jendela yang sedikit terbuka. Tanpa membuang waktu, Taeyeon berlari. Memegang jendela yang setengah terbuka.

 

“Terbuka? Aku harus masuk!” Tidak susah bagi Taeyeon untuk masuk terbilang tubuh Taeyeon yang mungil. Berhasil! Taeyeon berhasil masuk. Gadis itu merapikan bajunya dan matanya seolah menyapu semua ruang rumah Baekhyun. Gelap. Tak ada satupun jendela yang terbuka.

 

“Baek … baekhyun-ah! Kau dimana? Ka … kau sakit?” Taeyeon takut, takut jika terjadi pada Baekhyun. Gadis itu berlari menuju ruang tengah, nihil. Tapi, Taeyeon terdiam. Televisi itu menyala, lampu dalam panry juga menyala. Pikiran buruk pada Baekhyun seakan sudah membulat.

 

“Baek … baekhyun-ah!” Taeyeon semakin mempercepat laju larinya, ia menuju lantai 2. Sepi. Semua pintu tertutup. “Byun Baekhyun!!” Teriak Taeyeon. Gadis itu terus berteriak, membuka semua pintu dilantai 2. Dan sampailah ia dikamar Baekhyun.

 

Taeyeon menghentikan sesenggukannya. Ia ingin menangis. Sungguh. Kamar Baekhyun tak ada siapapun, bahkan kasurnya masih berantakan. Jendela atas milik Baekhyun terbuka, meninggalkan tirai yang terkena angin. Terasa hawa dingin menyelimuti tubuh mungil Taeyeon.

 

Tubuhnya lemas, bahkan ia tidak bisa untuk berdiri. Mata indahnya menatap sebingkai foto dinakas meja, menunjukkan betapa mesra mereka bersama. Satu tetesan airmata jatuh, semakin deras dan akhirnya ia tidak bisa menahannya. Sakit? Tentu saja. Gadis itu tertunduk, menatap layar ponselnya yang sedari berdering. Itu dari Xiumin. Dan akhirnya ia mengangkatnya. Diam, Taeyeon terdiam. Tak ingin menyapa lebih dulu panggilan diujung sana.

 

“Taeyeon-ah, kau sedang bersama Baekhyun? Kemarilah! Aku ada menu baru. Kalian pasti akan menyukainya.”

 

Diam. Taeyeon masih tetap diam, hingga akhirnya suara tangisannya lolos dari mulutnya. Membuat Xiumin yang berada disana menaikkan alisnya curiga. “Taeyeon-ah. Ada apa? Kau menangis?” Pertanyaan sederhana Xiumin membuat Taeyeon tak bisa mengontrolnya. Ia semakin menangis lebih keras.

 

“Xi … Xiuman-ah. Baek … Baekhyun ….” Tahu jika Taeyeon terdengar frustasi, Xiumin meletakkan beberapa berkas ditanganya dan segera mengambil mantal tak jauh dari mejanya. “Aku akan menjemputmu. Jangan kemana-kemana, okey?” Xiumin menutup sambungannya dan segera pergi menuju ke rumah Baekhyun.

 

Baekhyun meninggalkannya? Baekhyun menjauhinya? Bagi Taeyeon, ia merasa tak mempunyai kesalahan apapun didalam dirinya. Angin sepoi masuk melewati celah jendela yang terbuka. Namun Taeyeon terdiam, merasakan hawanya udara yang berbeda. Bukan dingin yang ia rasakan, melainkan hawa hangat yang seperti tak asing laginya. “Baekhyun!” Taeyeon menengok kebelakang. Tak ada satupun orang disini.

 

Didalam dirinya ia merasakan bahwa Baekhyun tak jauh dari dirinya. Sungguh, ia bisa merasakan Baekhyun ada didekatnya. “Aku tidak pergi”. Taeyeon terlonjak, merasakan bisikan lirih dari seseorang. Matanya kembali menyapu diseluruh penjuru ruangan. Itu pasti Baekhyun, itu pasti suara Baekhyun. “Kau disini?” Taeyeon mencoba memanggilnya, namun suara itu tak lagi terdengar.

 

“Apa kau akan kekembali menjadi sebuah ilusi? Lagi?” Taeyeon menutup kedua matanya, menahan airmatanya yang seakan kembali jatuh. “Pembohong. Manusia dua dimensi sepertimu mana tahu arti dari sebuah janji? Lihat! Kau sudah pergi. Tanpa mengatakan apapun padaku”. Taeyeon menghapus airmatanya kasar dan meninggalkan kamar Baekhyun.

 

Disisi pojok kamar Baekhyun, terlintas sekelebat bayangan lelaki yang menatap Taeyeon sendu. “Aku tidak pergi”. Itu Baekhyun. Ia tak menjadi manusia nyata lagi. Ia kembali seperti dulu. Sebuah ilusi. Lelaki itu menatap tangannya yang seakan hanya kabut. “Kau hanya perlu untuk sedikit menunggu Taeyeon-ah.“ Dan kemudian sosoknya hilang saat angin berhembus kencang mengenai tubuhnya.

 

***

 

“Makanlah!” Xiumin menyodorkan roti selai dan segelas susu coklat. Namun gadis itu hanya menatap ke luar, menatap jauh yang seakan kosong. “Kau hanya melihat Rain Man dikomputermu. Kau sama sekali tak ingin makan. Mana kita tahu jika ia harus kembali. Dia hanya dua dimesi Taeyeon-ah.” Sesungguhnya Xiumin menyesal dan tak tahu kenapa sebuah magic mengerikan ini jatuh didalam karyanya.

 

Ia hanya menggambarkan sesosok Baekhyun, manusia hujan, manusia yang takut akan salju karena ia akan membeku. Ia menggambarkan sosok Baekhyun seperti itu. “Seharusnya aku sudah menyiapkan semuanya jika hal ini terjadi. Dia hanya sebuah ilusi, sosok dua dimensi. Sungguh, aku benar-benar ingin tertawa kenapa aku bisa menyukainya”.

 

Taeyeon mencomot roti selainya beberapa gigit lalu meneguk susu coklat itu sampai habis. Marah? Sedih? Rindu? Perasaan campur aduk mana ia tak tahu yang lebih dominan. “Ia pasti kembali.” Taeyeon menghentikan aktivitas mengunyahnya dan menatap Xiumin yang sekarang menepuk puncak kepalanya lembut. “Seharusnya kau fokus dengan ceritanya, jangan fokus dengan ketampanan Baekhyun”.

 

Xiumin kemudian beranjak, meninggalkan Taeyeon yang masih penuh banyak pertanyaan. “Baekhyun tidak suka salju?” Ia menatap jauh langit keemasan, pandangannya kosong keatas. Angin sepoi mengenai surai rambutnya, udara di sekitarnya seakan melindungi tubuh mungil itu dari dingin yang menusuk. Taeyeon menutup matanya, merasakan suasana yang begitu nyaman.

 

“Entah kenapa, aku suka udara ini. Hangat. Seakan aku tidak asing merasakannya. Ini ….” Taeyeon membuka matanya perlahan, menatap sebuah bingkai foto tak jauh dari duduknya. “Ini seperti pelukan Baekhyun”.

 

***

 

Taeyeon POV

 

Ini sudah bulan ke 9 setelah Baekhyun pergi. Musim telah berganti. Musim hujan seperti ini memang enak jika tak bangun pagi-pagi untuk bersekolah. Aku sudah biasa jika Baekhyun tidak ada. Dia hanya ilusi, tak selamanya ia harus menjadi manusia nyata. Seperti biasa, aku melakukan aktifitas seperti biasanya, menatap layar komputer untuk melihat Baekhyun beraksi di Rain Man.

 

Aku berjalan menuju ke Sekolah, tak lupa membawa payung transparan untuk melindungiku dari hujan.

 

Tapi ada suatu hal janggal yang terus aku pikirkan selama ini.

 

“Aku ingat. Aku membuat karakter Baekhyun yang tidak suka berbau salju. Aku kira ia sedang tidak mau keluar”.

 

Kata-kata Xiumin seakan menjadi topik didalam pikiranku. Baekhyun memang tak suka salju. Yang aku simpulkan bahwa Baekhyun menghilang saat musim salju tiba. Ada satu hal lagi dengan apa yang dikatakan Baekhyun.

 

“Ada saatnya aku menjadi beku, ada saatnya aku akan mencair dan menunggumu memanggilku”.

 

Ada saatnya aku membeku ada saatnya aku mencair? Aku berulang kali memahami kata-kata Baekhyun. “Anak itu benar-benar membuatku penasaran”. Aku berjalan melewati jalan dan sampai pada penyeberang jalan. Selagi menunggu lampu hijau, aku mencoba berpikir.

 

Berpikir keras sampai seorang Bibi memanggil namaku berulang-ulang kali. “Hai nak”. Sentuhan lembut Bibi pada bahuku membuatku tersadar. “Iya Bibi?” Bibi itu menunjukkan lampu sudah hijau. Sialan, aku terlalu sIbuk memikirkan Baekhyun. “Ahh? Lampu hijau?” Namun Bibi itu menggeleng.

 

“Bukan. Jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih. Apa kau tidak terlambat?” Aku terdiam, menatap sang Bibi yang terhalang oleh derasnya hujan. “A … apa?” Shit! Mataku seakan mau keluar, apa yang aku pikirkan? Aku segera berlari, menerjang hujan yang semakin deras.

 

Hingga saja payung yang aku kenakan sudah tak bisa melindungiku dari hujan. Alhasil seragamku basah untuk kesekian kalinya. “Sialan. Apa aku harus berhadapan dengan perawan tua itu lagi?” Iya, perawan tua. Aku pasti akan berdiri didepan kelas lagi. Aku berlari semakin kencang karena Sekolahku semakin dekat.

 

Shit!” Dan gerbang Sekolah sudah tutup. Aku melihat Paman penjaga gerbang terlihat memperhatikanku dari kejauhan. Ku tegakkan payungku dan berjalan mantap menemuinya. “Semoga aku bisa meyakinkan tua bangka itu”. Gumamku dalam hati. Dan sampai didepan, Paman itu sudah merapatkan posisinya, menatapku seolah sudah menjadi ingatan karena aku memang sering terlambat.

 

“Bisakah Paman membukakan pintu untukku?” Paman tersebut hanya menaikkan alisnya, seakan sudah bosan dengan permintaan tiap pagi yang kuajukan. “Tidak bisa Nona. Seperti biasa, kau harus berurusan dengan Mrs. Jung lagi”. Tentu saja aku merengut setengah mati. Dari sekian banyak Guru, kenapa harus dia? “Bisakah aku sekali saja tidak berurusan dengan Mrs. Jung?”

 

Penawaran ku ditolak mentah-mentah. Dan pada akhirnya aku harus berurusan dengan Mrs. Jung. Dan hukumannya tak lain dan bukan adalah berdiri didepan kelas. ahh ya, bukankah aku merasa seperti kejadian Deja Vu? Mungkin saja aku pernah mengalami ini sebelumnya.

 

Hujan semakin deras, aku menatap lapangan yang seakan sudah bosan diterpa oleh berbagai musim. Dan saat itu pula, aku teringat Baekhyun. Kuremat rokku yang basah. Jika saja aku melakukan itu lagi, apakah ia akan datang dan muncul dihadapanku? Jika itu tidak berhasil, masih percayakah aku akan magic dari dunia ilusi?

 

Bisa saja itu tak akan terjadi untuk kedua kalinya. Aku merindukan Baekhyun, sungguh. Aku ingin merengkuh dan memeluknya erat. Merasakan pelukan hangat dan sentuhan bibirnya. Kuusap mataku yang sudah berair. Kuhela nafasku panjang. Menelan saliva pun aku susah. Bisakah aku mencobanya Baekhyun-ah?

 

“Ada saatnya aku menjadi beku, ada saatnya aku akan mencair dan menunggumu memanggilku”.

 

Deg! Suara Baekhyun seakan berbisik lagi ditelingaku. Kutengok dibelakang tubuhku, kosong. Pandanganku menatap kedepan. Bisakah aku meyakinkah diriku sendiri. Baekhyun-ah, apa kau akan datang? Bolehkan aku percaya padamu? Bolehkan aku mencoba sekali lagi?

 

Ku angkat kaki ku semakin dekat pada rintikan hujan. Kutengadahkan tanganku pada titik hujan yang jatuh pada selembar daun lebar. Sesaat aku merasakan hawa hangat menyentuh kulitku. “Baekhyun-ah! Aku sangat merindukanmu. Aku akan mencoba melakukan ini. Kau akan datang kan?”

 

Author POV

 

Taeyeon menelan saliva dalam-dalam. Ia akan mencobanya. Akan mencobanya untuk memastikan bahwa Baekhyun tak pernah berbohong. “Aku percaya padamu, Byun!” Kedua tangan Taeyeon mantap menampung air hujan yang sudah semakin deras. Lalu tangannya turun, memfokuskan titik hujan yang jatuh pada lembar daun lebar. Gadis itu menutup matanya, merasakan hawa hangat yang seakan menyelimutinya.

 

“Satu ….”

 

“Dua ….”

 

“Tiga ….”

 

“Empat ….”

 

“Lima ….”

 

“Enam ….”

 

“Tujuh ….”

 

“Delapan ….”

 

“Sembilan ….”

 

Taeyeon menghirup oksigen dalam-dalam. Angka terakhir dan ia harus menerima apapun hasilnya nanti. “Kau akan datang kan? Kau akan datang?” Gumam Taeyeon.

 

“Se … sepuluh ….”

 

Bola mata Taeyeon terbuka perlahan. Ia memandang lapangan masih terguyur hujan deras. Nihil? Tak ada apapun bereaksi disekitarnya. Taeyeon menurunkan tangannya, membiarkan genangan air hujan jatuh dari tangannya. Ia tahu, tak seharusnya ia terlalu mengharapkan Baekhyun yang hanyalah ilusi semata.

 

“Sadarlah Kim Taeyeon. Ia mungkin tak ada menjadi nyata lagi. Setidaknya aku bisa menyentuhnya secara nyata. Ini sudah cukup”. Taeyeon mengusap airmatanya. Seharusnya ia tidak menangis. Ia harus tahu bahwa Baekhyun bisa saja menghilang kapan saja. Ia tidak nyata.

 

Taeyeon berbalik dan kemudian pandangannya berhenti. Seseorang berada dihadapannya. Ia mendongak namun ia mendapati lelaki itu sudah menangkup bibirnya, tanpa memberikan waktu Taeyeon untuk melihat wajah lelaki itu secara utuh. Mata mereka bertemu dan tentu saja Taeyeon ingin pingsan rasanya.

 

“Baekhyun?” Ungkap Taeyeon dalam hati. Taeyeon bisa merasakan bibir Baekhyun tersenyum saat melumati bibirnya. Akhirnya ciuman dadakan itu terhenti, meninggalkan kesan tanda tanya bagi Taeyeon. Pria itu, pria itu tersenyum seolah ia tidak melakukan kesalahan apapun.

 

“Selamat pagi, sayang! Akhirnya aku mendapatkan bibirmu saat sekian lama kumenunggu. Akhirnya kau memanggilku!”. Baekhyun kembali mengecup bibir Taeyeon singkat. Namun gadis itu terdiam, rasanya ia ingin menangis, sungguh. “Kau … kau? Apa yang kau lakukan?”

 

Taeyeon memukul dada Baekhyun berulang kali, namun lelaki itu hanya tertawa renyah. Bahagia saat ia bisa kembali menatap langsung mata gadisnya leluansa. “Sudah kukatakan aku tak pergi. Selama kau percaya padaku, selama kau memanggilku. Aku datang.” Baekhyun memeluk tubuh Taeyeon erat, merasakan tubuh gadis itu dingin karena seragamnya basah.

 

Bagi Taeyeon, pelukan hangat Baekhyun tak akan pernah ada yang mampu menandinginya. Ia percaya, Baekhyun pasti akan kembali. “Bukankah Xiumin Hyung bilang, kau jangan fokus dengan wajah tampanku. Kau harus tahu semua karakterku!” Protes Baekhyun hingga Taeyeon melepas pelukan Baekhyun secara sepihak.

 

“Apa katamu?” Taeyeon tak terima. “Aku melihatmu terus-terusan tak ingin makan. Kau ingin membuatku marah? Baiklah, setelah kau pulang Sekolah, aku akan membuatmu makan lebih dari porsimu.” Baekhyun menarik tangan Taeyeon tapi gadis itu menahannya. “Aku sedang dihukum”. Bisik Taeyeon.

 

“Baiklah”. Baekhyun melepas tangan Taeyeon dan duduk disisinya. “Kau benar-benar tak suka salju, sampai kau pergi?” Baekhyun mengangguk, menatap jauh langit mendung sana. “Ahh, jangan bertanya hal itu. Bukankah kau harusnya senang karena aku kembali?” Senyum tampan milik Baekhyun seolah telah menenangkan hati Taeyeon.

 

“Terimakasih kau sudah kembali”. Taeyeon membalas senyuman Baekhyun. Pria itu memainkan tangan mungil Taeyeon. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya. Sebuah gelang dengan manik-manik seperti air hujan sudah tersemat cantik dipergelangan tangan Taeyeon. “Bukankah ini bagus? Ini adalah air hujan yang membeku. Aku menyebutnya pearl rain. Kau bisa mengingatku jika aku tidak ada saat musim salju. Aku akan berada disini”.

 

Jari telunjuk Baekhyun mengarah pada bekuan air hujan yang paling besar ditengan hiasannya. “Sangat bagus, sangat cantik.” Mereka terdiam, menikmati rintikan hujan yang sudah mereda. “Ini seperti mimpi. Aku kira aku sedang mengalami kejadian ulang yang kuyakini tak akan sama seperti sebelumnya.” Taeyeon mendongak, menatap Baekhyun yang sIbuk memainkan tangannya.

 

“Jangan mengatakan seperti itu”. Lalu mata mereka bertemu. Tangan Taeyeon terangkat dan kecupan singkat di punggung tangan Taeyeon menjadi suatu hal teromantis yang ingin Taeyeon ingat. “Darimana kau belajar mengecup punggung tangan seorang wanita? Kau sudah tahu banyak rupanya”. Taeyeon terkikik.

 

“Tentu saja aku banyak belajar, sebelum aku akan meminang calon istriku, aku harus bisa melakukan apa saja”. Baekhyun bersandar pada kedua tangannya. Senyuman nakal dari Baekhyun membuat Taeyeon membulat matanya. Tahu jika mendapatkan tatapan tajam, Baekhyun menegakkan tubuhnya. “Kenapa? Kau tidak ingin menjadi istriku. Kau yakin?”

 

Taeyeon menelan saliva nya dalam-dalam. Tentu saja pria ilusi nan dua dimensi ini sudah menjadi penggombal ulung. “Ya! Katakan sesuatu!” Baekhyun menggoyangkan tubuh mungil Taeyeon. “A … apa yang harus aku jawab!” Mata Taeyeon mengalihkan ke penjuru lain. Tapi apa hebatnya sang Byun Baekhyun. Ia sangat mudah mengetahui isi hati gadisnya.

 

Lelaki itu mengecup pipi gadisnya singkat. “Jangan malu-malu. Kau sembunyi kapanpun aku akan mengetahuinya”. Malu? Senang? Entahlah, yang jelas perasaan campur aduk membuat pipinya Taeyeon semakin panas saat Baekhyun tertawa dengan tingkah malu nya.

 

“Rasakan kau! Rasakan kau! Tahu apa kau tentang pernikahan?” Taeyeon memukul tubuh Baekhyun tanpa ampun. Sosok dua demensi, yang bisa dipandang dalam bentuk layar semu. Namun sosok semu itu telah menjadi nyata. Bahkan ia bisa menyentuh setiap tubuh Baekhyun tanpa ada nya rasa ilusi. Ia nyata, manusia hujan. Menjadi manusia nyata didalam hidupnya. “Tentu saja seperti istri dan anak-anak”.

 

Ya! Berhenti kau! Taeyeon gemas, sungguh. Lelaki ini pintar sekali menggombal. Apa yang ia pelajari selama ini? Mereka berhenti untuk sekedar mengambil nafas. “Berhentilah. Aku tidak suka rasa capek seperti ini. Apa kau tidak lelah?” Baekhyun menghirup nafas dalam-dalam, ia merasakan kantong paru-parunya habis.

 

Gadis itu mendekat lalu memeluk Baekhyun tanpa ragu. “A … ada apa?” Tentu saja Baekhyun terkejut. Apa ia akan mendapatkan kejutan saat Taeyeon melakukan hal manis setelah ini? “Aku mau. Tentu saja aku mau menikah denganmu!” Taeyeon memeluk tubuh Baekhyun erat. Tangannya tak berhenti memainkan gelang pearl rain pemberian Baekhyun.

 

Pria itu tersenyum, lalu membalas pelukan Taeyeon. Perasaan jatuh cinta membuatnya candu untuk melindungi gadisnya. Cinta memang ajaib. Bagi Baekhyun, perasaan itu seakan menjadi sebuah anugerah. Karena cinta, dunia yang disebut Bumi ini memang membuatnya tak akan lepas dengan mudah. Baekhyun mengecup puncak kepala Taeyeon lembut. “Tentu saja. Ayo kita menjalani hubungan kita bersama-sama”.

 

-END-

 

EDISI CUAP-CUAP!!

 

Fearleassais_ ::

Hai ! Fearlessais_ di sini ! 😀 maaf sebelumnya kalo ff kolaborasi ini agak ngebosenin. Sebenernya sih itu iseng-iseng aja buatnya, tapi semoga bisa menghibur readers semua ! dan yah ! ini pertama kali buat ff BaekYeon kolaborasi ! Thank You buat L.Kyo unni yang mau diajakin kolaborasi ff gajelas ini 😀 aku padamu :*. Jangan lupa buat kasih kesan-kesan kalian yang udah baca ff ini. See you~~ and Thank You all~~ Bye~~~

 

L.Kyo ::

Hi! Akhirnya FF Pearl Rain kelar juga yak. FF ini merupakan FF kolaborasi 2 author Baekyeon shipper yang tak kalah unyuk seperti Taeyeon Kim. Ini sebenarnya iseng-iseng aja buat begini. Dan ini pertama kalinya L.Kyo buat FF Baekyeon. AKKKKK!!! Malu ah malu!! *lap-ingus. Gajelas banget FF diatas. Kuharap kalian suka yak! Maafkan kalau ada typo diatas. Jangan lupa tinggalkan jejak. Semoga aku bisa mampir dan membuat FF Baekyeon disini lagi. Makasih juga buat Fearleassais_ yang sudah ajakin kolab FF Baekyeon. Bahagia!! *tebar-confetti! Ah itu aja deh cuap-cuap ku. Jangan lupa yang kangen bisa mampir ke blog ku yak!! àhttp://agathairene.wordpress.com/ . See you~~~~

 

Advertisements

25 comments on “[FREELANCE] Pearl Rain (Chapter 3/END)

  1. akhirnya happy ending kekeke~ baeyeon mau nikah wow wow wow kenapa gak dilanjut sampe mereka punya baby hahaha asli suka banget sama ff ini, simple tapi feel nya dapet banget. next ff ditunggu 🙂

  2. Wow romantis banget. Aku pengen tanya deh. Kok bisa ya author nya nemu ide sebagus ini wkwk. Ya ampun….baekyeonnya imut. Sayang banget kalo selesai. Coba ada konflik lagi, pasti seru hehe. Yang penting semangat ya untuk ff selanjutnya!!

  3. Happy ending sihhh tp kepikiran ktika musim salju tiba apkh baekhyun bkalan ninggalin taetae lg kahh, hahh poor taetae….

  4. Daebakk akhirnya Happy Ending
    Aku suka bgt sama ffny thor unik dan menarik .
    Baru tau klo bikin ff jg bisa kolaborasi ya ternyata.
    Okee ditunggu ff author yg lain.
    Keep writing and Fighting!!!

  5. Ga bosen koooooo!!!!
    Suka banget malahhhhhhhh
    Pokonya keren deh!
    Gaada satupun kata yang aku lewatin dari chapter 1-3
    Makasih banyak untuk kedua author yang mau luangin waktu buat ngebikin ff baekyeon yahh 😭
    ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️ Buat kedua author 👍👍👍👍

  6. Duhh klo di bayangin beneran berati baekhyun bakal g ad tiap musim dingin dong 😦 g bisa ya selamanya g ush pake ilang”an wkwk,btw daebbak!! Di tunggu next projectnyaa!! Keep writing & imagine! FIGHTING!

  7. syukur deh kalo happy ending. udah agak cemas kalo sampe sad ending
    keren thor kereeen banget
    next ff/sekuel di tunggu ^^

  8. akhirnya ngerti sama kata2 yg di ucapin baek dulu, ah taeyeon mah ga peka.
    tapi syukur lah kalo mereka happy ending, tp kasian taeng dong pas musim salju di tunggalin baek terus hahaha sayang bgt nih cuma 3 chapter.
    aku tunggi project dari kalian lagi author2nim atau projek dari masing2 tentang baekyeon lagiii hehehheh

  9. Wahhhh DAEBAK !!
    kren bnget ni ff , jd greget sndri bca.a , ap lgi sweet moment baekyeon ,hehehe dpet buanget !!
    tp syang.a hrus end ni ff.a !!
    huhuhu.hiks,hiks .sedih aku ,
    but di tnggu ya ff yg lain.a yg psti nggk klah keren jg psti.a ,hehehe !!
    ok ttp smngat ya thor !!
    Fighting..

  10. Happy Ending juga tetapi ga menutup kemungkinan baek ilang lagi kan ? ada sequel ga thor ^^
    Gimana cara mereka berhubungan kalo di musim dingin baek ngilang 😦

  11. Kasian taeyeon kalo musim salju 😦
    Taeyeon terlalu fokus sama ketampanan baek 😂
    Suka banget sama ff ini👍👍👍
    Ditunggu karya karya lainnyaa

  12. yeay happy ending,,,
    jadi mreka akan terpsah lg saat musim salju,,,
    kerennn..
    dtggu karya2 slnjutnya, fightaeng!!!

  13. wah keren
    akhirnya happy ending, konfliknya pas bgt
    alurnya gk trlalu cepet
    daebak thornim^^
    ditunggu ff yg lain
    hwaiting 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s