True Love (Oneshoot)

TrueLove

Title
True Love
Author
DeliaAnisa
Genre
Angst, romance, and sad
Length
Oneshoot
Rating
PG-15
Main Cast
Kim Taeyeon and Xiou Luhan
Disclaimer
FF ini murni dan asli hasil dari imajinasi saya, bila ada kesamaan tentunya itu tanpa disengaja. Cast yang saya pakai bukan milik saya, hanya Ortu mereka dan Tuhan YME, saya hanya meminjam untuk berkarya dan berniat membuat reader merasa terhibur akan ff saya. And please, don’t plagiat.
Happy reading and enjoy ^^

.
.
“hidup itu sulit, tidak pernah mudah. Kenapa yah?”
Seorang anak perempuan dengan rambut diikat dua, memakai mini dress bergambar tokoh favoritnya –snow white, menjilat es krim vanilanya sembari duduk dibalkon rumahnya bersama dengan sahabat terbaiknya bertahun-tahun, seorang anak laki-laki bersurai kecoklatan, memakai pakaian khas seorang anak lelaki, batman. Ia membuka kertas yang membungkus es krimnya dan siap meluncurkan jawaban untuk sisahabat wanita yang baru saja bertanya, yang menurutnya pertanyaan yang tidak sesuai dengan usianya sekarang.
“hmm… karena…kare..na kau jarang belajar, makanya sulit.”
“aku belajar tiap hari denganmu, kenapa kau melupakannya? Aku bertanya tentang hidup, kenapa sangat sulit?Maksudku adalah kenapa setiap hari kita harus bangun pagi, bersekolah, belajar disana sampai sore hari, bermain game denganmu dan selalu berakhir kau yang memenangkan turnamennya. Itu sulit, aku tidak ingin sekolah dan belajar lagi.”Sibocah wanita melempar es krimnya dengan sengaja, cemberut dan melipatkan lengannya didada.
“kalau begitu hidup tidak akan menyenangkan jika tidak bersekolah dan belajar. Kau ingin menghabiskan banyak waktu dirumah?untuk apa? Bermain dengan semua bonekamu?Heii itu terlalu membosankan, itu bahkan lebih sulit dari saat kita belajar disekolah.”
Sibocah wanita menghela napas, sekelabat bayangan dalam memorinya tentang canda tawanya disekolah membuat ia menyerah. Ya, ia menyerah untuk tidak memikirkan bahwa hidupnya sulit.
Mungkin bukan pertanyaan itu yang seharusnya ia katakan pada silelaki. Melainkan sesuatu yang ia sebut ‘membosankan’.
“bagaimana kalau kau dan aku menjadi seperti ibumu dan ayahmu. Kita tidur bersama dan hidup dirumah yang sama.”
Sianak lelaki mengerut, sekaligus terkejut tentang pemikiran sisahabat wanitanya. “maksudmu, menikah?”
“ya,”
“bagaimana caranya?”
“kitapergi kegereja dan mengucapkan sesuatu disana. aku pernah melihat paman dan bibiku menikah digereja. Bibi memakai gaun putih seperti princess dan pamanku seperti pangeran, setelah mengucapkan ‘entah apa itu’ mereka langsung menyatukan bibir mereka.errr itu terlihat sangat menjijikan dan memalukkan menurutku.Kenapa harus begitu yah? Apa setelah menikah memang harus begitu?” siwanita menoleh tepat dibola mata silelaki, tampak kedipan berkali-kali dari kedua mata milik sibocah lelaki, yang menandakan sesuatu yang sukar ia cerna melalui otaknya. seperti, apa itu namanya ‘menyatukan bibir’ ? kenapa harus ada adat seperti itu? tampaknya pertanyaan mereka tidak kunjung menemukan jawabannya sendiri, mereka saling kebingungan dan hanya saling menatap bermaksud melempar jawaban kearah lawan.
“mau mencoba?” dengan polosnya sianak lelaki berkata, ia seolah-olah mengungkapan keinginannya untuk mencoba cokelat manis yang sering ia beli bersama taeyeon dikedai dekat sekolah mereka.
“heii, tidak boleh. Kalau kita mencobanya, itu berarti kita harus hidup bersama-sama, seperti yang kukatakan sebelumnya.Kita akan menikah.”Siwanita menggeleng, menciptakan goyangan-goyangan teratur rambutnya yang diikat.
“katamu, kau ingin menikah denganku?”
“aku tidak mau setelah aku tau kita harus menyatukan bibir kita, aku tidak ingin bibirku menempel denganmu. Aromamu itu sudah tidak sedap, bagaimana dengan air liurmu?Euwww menjijikan.”
“ya sudahlah, jangan menikah saja. Menikah dengan orang yang lebih wangi dariku.”Tertunduk dalam-dalam, menyiratkan kekecawaan yang kentara dimata siwanita.
“tentu, aku akan menikah dengan pria yang lebih wangi, tampan, keren, pintar darimu.”
Pisau yang semula tertusuk diluar, sekarang benda tajam itu seperti menembus sampai keulu hatinya, anak lelaki ini tidak mengerti apa yang dimaksud perasaan sakit dikecewakan oleh seorang perempuan seperti saat yang dialaminya saat ini. yang ia rasakan adalah hatinya tidak terima sahabatnya itu lebih memilih orang lain ketimbang ia sendiri yang notabane-nya sudah disamping gadis itu sejakia tinggal disamping rumah gadis itu 5 tahun silam.
Apakah siwanita benar-benar akan menjatuhkan pilihan hidupnya bersama dengan pria yang katanya lebih wangi, pintar, tampan, keren dari dirinya sendiri? ataukah takdir menyatukan mereka?
Sang pria kecil malas untuk memikirkannya, terlalu dini untuk usia yang masa-masanya berpikir memenangkan kejuaran kelas dan games, bukan memikirkan hal-hal yang berbau orang-orang dewasa.
Hei ia masih 8 tahun.
Dan gadis itu, lebih muda darinya satu tahun.
Ini tidak layak untuk ditiru.
.
.
.
.
14 tahun kemudian.
Luhan P.O.V
Yeayy, umurku genap berusia 22 tahun itu tandanya usiaku betul-betul sudah matang untuk menikah.Hm, maksudku harusnya sekarang aku sudah mempunyai lamaran untuk wanita dan melakukan pertunangan lalu menikah dipulau jeju –impianku.Tapi sayangnya, menikah tidak mudah seperti kita membalikan telapak tangan, membuka pintu, dan melempar dadu.Yang kutau menikah jauh lebih sulit ketika kita meminum obat dan mempelajari ilmu-ilmu fisika.Tentu saja itu sulit bagiku, karena aku belum memiliki calon pendamping wanitanya. Oh Tuhan, aku membocorkannya? Memalukannya diriku.
Mengenai kim taeyeon, gadis yang mengajakku menikah dan menolak menikah denganku 14 tahun yang lalu, ia pergi kejepang setelah kami duduk dibalkon, memakan ice krim, dan membicarakan hal yang tidak sepantasnya kita bicarakan. Benar, taeyeon pergi setelah percakapan kami perihal ‘menikah’ waktu itu. kami berpisah dan sampai detik ini, ia tidak kunjung kembali, atau paling tidak menghubungiku disana, sekedar menanyakan kabarku bagaimana, hari-hariku tanpanya bagaimana, senang atau sedihkah aku ditinggal ia pergi, aku menunggu ia memaparkan semua itu padaku.
Kemanakah ia sekarang?
Kau masih ingat, akankah kau menikah atau tidak?
Ataukah kau sudah melakukannya, menikah lalu yang beberapa tahun lalu kita tidak mengerti tentang ‘penyatuan bibir’ apakau sudah berciuman?Sungguh konyol bila aku mengingat betapa lucunya kita saat itu.
Rasanya sangat cocok, disaat suasana hatiku yang tengah merindukan kim taeyeon, diiringin alunan instrumental yang diputar dicafe favoritku begitu terasa, kerinduan itu semakin hari semakin dalam, semakin hari rasa sakitku semakin menyakitkan. Bagaikan tersiram garam diatas luka, sungguh itu adalah luka menyakitkan yang pernah kurasakan.
Menatap jauh kearah langit yang mendung, aku mencari-cari dirimu, mencari bayanganmu yang selalu terpatri jelas didalam sel-sel otakku. Kau tersenyum dengan 2 gigi depan yang berlubang, itu manis. Kau menangis dengan mengeluarkan cairan berlendir dihidungmu yang mampu menggelitiku untuk selalu menertawaimu, betapa manisnya dirimu, lucunya dirimu, dan lembutnya dirimu.Akankah aku dapat melihat itu lagi? Oh, aku tau itu semua jelas akan berubah. Kau akan semakin cantik, dan gigimu tidak ompong, kau tidak mengeluarkan cairan asin dihidungmu lagi saat kau menangis. Jelas sudah, kau akan berubah.
“luhan, berhentilah bersikap merenungkan sesuatu seperti didrama. Aku bosan melihat kau selalu seperti ini.Bisakah kau berubah? Tidak memikirkan gadis ompongmu itu lagi?” aku tersenyum halus mendengar pernyataan atau aku pikir itu seperti kalimat menasehatiku.Dia sahabat setiaku, oh sehun.dalam beberapa situasi dan keadaan, ia akan tetap berada disisiku, memberi petuah-petuah yang terkadang dapat membantu. Tapi, jika ia mulai memberi saran tentang ‘melupakan taeyeon’ dia tidak cukup membantu.
Dalam beberapa detik aku tidak bersuara, hanya suara-suara dentingan-dentingan gelas yang beradu dengan sendok yang sengaja kumainkan agar tidak terlalu menciptakan suasana hening.Didetik kira-kira 20 detik, aku mengangkat kepala dan menatap sahabatku.
“Hidup akan membosankan bila kita hidup tanpa tujuan.Aku hidup, dan tujuanku hidup adalah aku ingin kembali bertemu dengan gadis itu lagi.Itu tujuan dan alasan kenapa aku hidup, layaknya pemeran utama laki-laki yang ditinggal cinta pertamanya sementara.Aku membuat naskahku sendiri, disana aku ingin akhirnya cerita dari kisah ‘pangeran menunggu kebahagiaan bersama puterinya’ akan benar-benar berakhir dengan bahagia, aku benar-benar benci dengan kalimat ‘sad ending’. Danaku tak yakin itu akan terjadi padaku nanti.”Kedua belah bibirku membentuk menjadi senyuman melegakan hati, membayangkan kebahagiaan itu terjadi.
“Namun sayangnya, itu hanyalah naskahmu, keinginanmu.Belum tentu Tuhan memiliki naskah atau tertarik dengan naskah yang kau buat.Bisa saja, siapa yang tau bahwa mungkin akhirnya gadis itu sudah tidak lagi memliki ingatan mengenai dirimu.Ia mungkin telah memiliki kebahagiaannya sendiri.” aku menulan paksa ludahku, memasuki kerongkonganku dengan sulit, aku merasa sedang menelan kepedihan dan kepahatin yang bersarang disekujur tubuhku.
Rasanya, tidak memiliki daya untuk bergerak, terlalu lunglai karena sesuatu yang paling manusia benci didunia ini, yakni kesakitan atau aku bisa mengatakan hatiku sakit mengambil alih tubuhku.
Sehun benar, nyatanya memang begitu adanya. Taeyeon akan kembali padaku, bila pada kenyataannya ia memang punya alasan untuk berlari padaku.
Taeyeon, berbahagia disana, memiliki keluarga baru, dan… dan ia menepati keinginannya untuk menikah dari pria yang lebih-lebih dariku sendiri. Namun bodohnya, aku masih tetap dan selalu mengharapkan kedatanganmu.Tidak peduli kau datang dengan seorang pria yang menggandeng tanganmu, aku cukup bahagia melihat kembali senyummu. Itu melegakan dan sakit yang tak kunjung usai sekarang, akan berangsur-angsur pulih hanya dengan melihat wajahmu lagi. Aku perlu memastikkan bahwa kau tumbuh dengan baik.Mendengar kau menjalani hidupmu tanpa kesulitan, sungguh itu adalah sesuatu yang paling membahagiakan untukku. Jadi, dapatkah kau mendegar suara-suara hatiku disana?kembalilah, jangan membuatku mati karena terlalu lelah merindukanmu.
Suara instrumental, yang lebih dominan adalah suara biola yang lembut mengalun tenang ditelingaku.Aku memberhentikkan percakapanku dengan sehun, kembali bersama duniaku sendiri.Menatap jauh kelangit yang mulai menghitam, sesuram dan semendung hatiku saat ini.
Taeyeon..
Gadis ompong…
Gadis yang meledek air liurku menjijikan,
Gadis dengan ikatan dua seperti boneka dari cina yang kau berikan saat natal,
Gadis yang menyebalkan,
Mengapa kau membuat hidupku menjadi menyebalkan eoh?
.
.
.
.
Author P.O.V
“Eomma, apa kau melihat catatan kecilku?”
“astaga, kenapa bisa-bisanya kau melupakan catatan penting itu?kalau itu hilang, bagaimana jika kau tidak dapat melakukan rutinitasmu setiap hari?”
“nan molla, aku tidak ingat kapan aku meninggalkan catatan itu eomma.”
Sang ibu hanya bisa menatap penuh kesedihan pada puterinya, memperhatikan anak gadis satu-satunya memukul ringan kepalanya pada tembok yang kokoh didepannya, mencoba mengingat keras akan sesuatu. Namun kenyataan pahit yang harus lapang dada diterima sang anak ialah, kerja keras otaknya akan sia-sia. Seberapa keras ia mengingat, sang anak tetap tak akan bertemu dengan ingatannya yang sudah semestinya diingatnya.
Sang anak menderita anterograde amnesia.
Kejadian baru dalam ingatan jangka pendek tidak ditransfer ke ingatan jangka panjang yang permanen.Ia tidak akan bisa mengingat apapun yang terjadi setelah munculnya amnesia ini 5 tahun yang lalu, walaupun baru berlalu sesaat. Dengan kata lain, taeyeon mengalami ‘kelupaan permanen’ yang tidak dapat disembuhkan dengan cara terapi apapun.
Disaat ia terbangun, menghilangkan mimpi-mimpinya, ia cukup kesulitan dalam membiasakan dengan tempat, yang ia tidak tau bahwa setiap hari selalu ia tinggali. Tentu, bagi manusia normal yang tidak memiliki kelainan dalam sel-sel syaraf otaknya, akan segera beranjak dari tidurnya, melakukan rutinitas mereka sehari-hari.
Namun, kasus taeyeon berbeda.Ia tidak normal dalam ingatannya.Ia akan bingung dan bertanya-tanya, dimana ia? Apa saja yang ia lakukan dihari kemarin dan sebelum-sebelumnya? Apakah kemarin ia melakukan kesalahan?Taeyeon terdiam cukup lama ditempat, bergelut keras dengan otaknya.
Setiap kali ia terbangun, hatinya membeku. Perasaan senang maupun sedih, tidak pernah kembali datang dalam hatinya. Kerusakan salah satu syaraf otaknya, menyebabkan hidupnya seperti dijungkir balikkan menjadi taeyeon yang pendiam, penyendiri, dan tak pelak ia selalu menghindari kontak mata dengan orang-orang asing diluar ingatannya, selain ibunya -penyangga hidupnya.
Yang dapat direkam oleh ingatannya adalah, wajah ibunya, namanya, dan catatan kecil.
Entah mengapa ketiga hal itu sangat beruntung dapat tersimpan dengan baik didalam ingatannya. Namun sayang, ada banyak kenangan indah bersama dengan pria yang ia cintai harus terlelakan terbuang bagaikan barang sudah tidak berguna dalam kehidupan seseorang.
Kenangan hanyalah sampah, menurut taeyeon. Hari ini ia mengingatnya, dan besok akan terbuang. Akan sia-sia, jika ia memiliki sebuah kenangan indah dihari ini. lebih baik ia berdiam diri dirumah, menonton drama yang jarang dimengertinya, menunggu ibunya pergi bekerja disebuah toko roti, hingga sang fajar menutup diri diperaduan.
Namun, nyatanya taeyeon tidak melakukan kegiatan-kegiatan berdiam diri seperti itu.dibantu dengan sahabat karibnya, catatan kecil ia mampu melakukan pekerjaan dengan normal. Membantu sang ibu, tanpa mau mendramatisir keadaannya.
Melalui catatan kecilnya, taeyeon menuliskan perihal apa saja yang dilakukannya kemarin. Termasuk orang-orang yang ditemuinya, ia tidak segan menuliskan nama mereka dicatatan kecil berwarna merah muda, agar mereka tau bahwa dirinya adalah manusia dengan ingatan normal. Ya, tidak ada yang tau dengan penderitaannya setiap hari.
Sebelum kehilangan catatan itu, taeyeon bekerja ditoko bunga.Merangkai dan merawat bunga-bunga cantik yang disenanginya, membuat bebannya sedikit terangkat. Merasakan ketenangan dan titik-titik kebahagiaan bersama dengan para bunganya, belati menyakitkan yang menebas relung hatinya, berhasil membentengi rasa pedih itu hanya dengan memandangbunga-bunga yang teramat cantik dan segar dimata berhazel cokelat tersebut. Mengalirkan udara segar dan kejernihan kedalam hatinya, berkat para bunga-nya.
Namun, takdir adalah takdir. Sang sahabat, menghilang yang bodohnya ia tidak tau dimana terakhir kali ia melihat catatan itu? benda paling berharga dihidupnya, entah berantah menghilang kemana. Satu benda, seperti membawanya menuju gerbang kebahagiaan.
Ia akan teringat akan toko bunga, merangkai bunga, menyusunnya, dan menjaga bunganya. Itu adalah satu-satunya kebahagiaannya, tentunya dibantu dengan catatan pengingatnya. Sayang sekali ia melupakan keberadaan benda berharga itu, membuat taeyeon tidak mampu mengingat. Apa pekerjaan? Apa yang ia sukai? Apa saja yang telah membangkitkan semangatnya selama ini?
Ingatan taeyeon membatu, ia tidak tau apa-apa saja itu.
Yang membuat ibunya menyesal ialah, karena ibunya tak tau apa yang dilakoni taeyeon selama ia pergi. Ia kecewa pada dirinya sendiri, seharusnya ia selalu memantau setiap pergerakan anaknya, yang pada dasarnya tidak sama dengannya, juga para pemilik kehidupan yang biasa, normal.Sang ibu terus mengumpati untuk dirinya sendiri, merutuki kebodohan yang terlalu besar menurut asumsinya.
“Mianhae taeyeon, eomma begitu egois, tidak menyadari bahwa kau adalah prioritas pertama untuk eomma.Maaf telah menghancurkan duniamu, kebahagiaanmu, dan hidupmu. Eomma memang bukanlah ibu terbaik, eomma adalah ibu terburuk dimuka bumi ini.” sang ibu menangis, menutupi wajahnya yang banjir air mata dengan kedua tangannya. Kedua belah bibirnya, bergerak-gerak tidak teratur, bergetar hebat.
Sang anak ditemukan tersenyum lirih menatap sang eomma yang hanya dalam berjarak 3 langkah dari tempat ia berdiri kaku. Diraihnya tubuh sang eomma, mendekapnya, menyalurkan kehangatan yang diberikan sang anak terhadap ibunya. “Gwenchana, aku dapat melakukannya dari awal lagi.Membuat catatan baru dan kuharap, catatan baruku kali ini dapat memberikanku lebih banyak kebahagiaan dibandingkan catatanku yang sebelumnya.”Taeyeon memeluk ibunya yang masih mengeluarkan suara tangisan kecil. “Jangan memalukkan, ibu sudah tua tidak pantas menangis seperti anak TK. Uljima uh?” taeyeon meregangkan pelukannya, siap mengangkat sebelah tangannya dan terulurkan dengan lembut pada kedua pipi sang ibu yang sangat hebat mengeluarkan air mata begitu banyak. Beberapa detik berlalu, sang ibu tersenyum canggung pada taeyeon. sikap dan keibuannya, seperti tidak terbentuk dalam jiwanya yang cengeng.
“maafkan ibumu yang cengeng ini.”
“kalau begitu hentikkanlah tangisan jelekmu ini, aku akan memaafkanmu.”
Dalam keheningan, hanya terdengar suara perhitungan jarum jam, suara gemuruh angin malam, jendela yang belum sempat terkunci bergerak-gerak, keluar masuk-keluar masuk.Sang ibu dan anak, melempar tatapan sayu, kepedihan yang dominan dibandingkan mata berbinar-binar yang melambangkan kebahagiaan.
Keheningan pecah disaat taeyeon mengeluarkan suara, nyaris tak terdengar oleh seseorang yang beruban dan berkeriput didepannya. “aku ingin pergi…..”
Butuh berapa lama bagi sang ibu untuk dapat mencerna isi dan maksud dari kalimat anaknya yang menatap dirinya sedih saat ini. “apa yang sedang kau bicarakan?”
“aku ingin pergi keseoul, dimana hatiku mengatakan dan menginginkannya untuk kesana. Entahlah, namun rasanyaakan ada sesuatu yang menyenangkan disana. Aku seperti, rindu pada kota itu. meskipun aku tidak terlalu mengingatnya.Tapi, aku sungguh-sungguh ingin pergi. Apakah seoul banyak memberiku kenangan indah, eomma?” taeyeon memandang penuh jawaban pada eommanya.
Sang ibu, berpikir sejenak.Ia tengah menelusuri ingatan dirinya mengenai masa kecil taeyeon diseoul. Diumur ke7-nya, taeyeon gemar bermain dengan tetangga lelakinya, yang sangat diingatnya bernama xi luhan.Ibunya tak sadar nampak membuat garis dibibirnya, tersenyum bahagia merenungkan hal-hal bahagia anaknya.Namun, tersenyum pedih tatkala tatapannya kembali terpaku pada puterinya, yang sudah 5 tahun ini hidup dalam kerasnya sebuah takdir. Hatinya, berdebar sakit menerima kenyataan pahit bagi mereka, ia dan tentu sang anaklah yang lebih menyakitkan.
“setiap hari, diseoul. Kau selalu mendapatkan kenangan manis, bersama dengan teman-temanmu. Dengan inginnya kau kesana, memberikanku solusi baik.Ya, eomma juga berpikir sebaiknya kita hidup disana. Teman-temanmu pasti akan sangat senang dengan kedatanganmu, kau punya banyak teman yang mencintaimu.”Sang ibu menyunggingkan senyuman tulusnya, menyelipkan helaian rambut taeyeon kebalik telinganya.
Taeyeon beradu pandang dengan ibunya, kedua matanya tidak lagi segelap langit malam, memikirkan dan membayangkan seoul adalah sebuah kota yang akan membawanya kedalam lautan kebahagiaan, sungguh membuat ia senang bukan main. Beribu-ribu pengharapkan telah ia kumpulkan kedalam do’anya pada Tuhan, membuat taeyeon tak sabar untuk merasakan bagaimana hidup diseoul. Ia yakin, ia akan bahagia diseoul.
“besok pagi, kita akan kembali ke seoul.”
“jinjja eomma?”
“ne… jinjja.”

.
.
.
Taeyeon dan ibunya telah menyembulkan diri diseoul, disambut hujan deras ditengah hari.Rintik-rintik air hujan, membuat tubuh hangatnya bertranformasi menjadi dingin yang menancap pori-pori kulit. Taeyeon membuka payungnya dan lekas pergi menuju halte bis dari incheon bersama dengan ibu yang berbagi payung dengannya.
Sesampainya dihalte, mata taeyeon tampak bergerak menatap lajuan kendaraan yang lenggang, lalu menyapu beberapa toko disekelilingnya.Taeyeon menemukan dirinya tengah tersenyum penuh perhatian pada salah satu toko disebelah kanannya, toko bunga. Sampai akhirnya ia berhenti membuat karya manis dibibirnya ketika sang ibu menepuk pundaknya, dan segera taeyeon mengalihkan perhatian terhadap ibunya. Ia memandang ibunya dengan tatapan ‘ada apa?’
“taeyeon, bisakah kau menunggu disini sebentar? Eomma akan pergi kemini market diseberang sana, persediaan cemilan kita habis.” Taeyeon hanya menganggukan kepalanya tanpa menjawab.
“jangan pergi kemana-mana, oke.” Ibunya memberikan pandangan mengingatkan, sebelum sang ibu merogoh payungnya didalam koper, dan melenggang pergi kemini market diseberang mereka.
Taeyeon terus menatap ibunya, sampai sang ibu masuk kedalam mini market. Ia menghela napas dan kembali menyaksikan tetesan-tetesan air diatas yang tak kunjung juga berhenti. Warna bibirnya berubah menjadi keunguan, buku-buku jarinya memucat, ia sudah tidak dapat menahan rasa dingin ini lagi. Terlalu menyiksa dan membuat tubuhnya bergetar hebat.
Sepasang mata taeyeon bergulir-gulir dan berhenti ketika menangkap seorang pria dalam keadaan basah kuyup diseberang sana. Tangan kanan pemuda itu menggenggam tas ransel yang sengaja diletakkan diatas kepalanya, guna mengurangi derasnya hujan yang menerpa tubuhnya.
Waktu seolah menghentikkan mereka sejenak, saling mempertemukkan mata yang lebih mereka sebut magnet, tarik menarik satu sama lain dengan arah kutub yang berbeda.
Untuk pertama kalinya, selama hidupnya…. Luhan mengagumi orang asing, selain kim taeyeon tentunya.
Ditengah hujan mendera, langit kelabu, angin yang berhembus kencang, mereka terpana, terpaku, dan tertegun. Menikmati diamnya mereka, nyamannya mereka, dalam posisi seperti ini..tatap-menatap.
Taeyeon tidak habis pikir, mengapa pemuda itu begitu bodoh bermain dengan air hujan?Apa karena ia memang maniak dengan air hujan? ataukah… dirinya yang telah membuat pemuda itu lupa akan kondisinya saat ini? hey, taeyeon tertawa renyah dalam hati. Mengapa ia dijadikan alasan pemuda itu untuk tetap mengambil posisi tidak berubah seperti manikin? Memangnya ia siapa? Ia hanya… gadis biasa, tidak pantas bersanding dengan pemuda yang jauh lebih berstyle dibanding dirinya yang hanya memakai dress kuno, layaknya ia hidup ditahun 90-an.
Lalu, apa yang menyebabkan taeyeon berpikir ‘bersanding dengan pemuda asing’ ?apakah ia mengharapkan sesuatu? Taeyeon rasa, ia terlalu jauh.
Sampai ketika, saatnya pemuda itu mengalihkan tatapannya menuju arah lain. Menggerakan kepala kesisi kira dan kanan, dengan maksud ingin mengetahui… apakah ia aman untuk menyebrang? Dan taernyata, jalanan memang lenggang, tak ada satupun kendaraan yang melewati jalanan ini.Luhan dapat menyebrang jalan dengan tenang, berjalan tanpa terburu-buru menuju tempat dimana taeyeon berdiri seraya memegangi payung pelanginya.
Taeyeon mengerjapkan matanya dikala jarak mereka mulai menipis.Ia sulit mengambil oksigen, rasanya… tertahan.Dan penyebabnya adalah karena pria itu sekarang berdiri tepat disampingnya.Melirik kearahnya, dan tersenyum tipis. Itu indah !!
Untuk sekarang taeyeon tidak punya keberanian untuk membalas senyuman pria itu, ia hanya bisa membalas tatapan nya, dan tatapannya terlempar detail menuju tubuh basah kuyup milik lelaki disampingnya.Tidak perlu lama menimbang, taeyeon bergeser dan memberi naungan untuk pria itu dengan payungnya.
“aku tidak tega melihat seseorang tertimpa air hujan, jadi seharus nya aku membagi payung denganmu.” Suara lirih gadis itu, memasuki gendang telinga luhan. Lembut… yang mampu mengalahkan bunyi-bunyi hujan yang sama sekali tidak menenangkan telinganya. Jauh ketika ia mendengar suara gadis berfoni ini, darahnya nyaris berhenti mengalir, detak jantungnya 2 kali berpacu lebih cepat dari biasanya. Hati ini, jiwa ini, perasaan ini, secepat mungkin ia menepisnya.
Tidak, ia tidak akan pernah menoleh dan menyamakan perasaan yang sama terhadap taeyeon pada gadis lain.
Cintanya, tetap untuk gadis ompong yang telah lama ia nantikkan. Sampai langit membelah, matahari terbit diarah yang salah, luhan hanya akan tetap menyerahkan jiwa raganya pada taeyeon, cintanya.
“terimakasih.” Meskipun begitu, luhan tidak dapat membohongi perasaannya. Guncangan hatinya, yang ia sadari mengagumi sosok gadis yang telah melindungi tubuhnya dari derasnya hujan.
Taeyeon mengangguk dalam diam. Keheningan menyelimuti keduanya, saling beradu pendapat dengan hati mereka masing-masing.Perasaan tenang dan nyaman ketika lengan mereka tidak sengaja saling bersentuhan. Keduanya, tidak dapat mendefinisikan apa yang mereka rasakan sebetulnya saat sekarang?
Hanya yang jelas, keduanya berdiri dan saling berbagi payung, terlihat tidak ada kecanggungan dan pergerakan kaku. Mereka, merasakan sesuatu yang sama. Yakni, mereka merasa bukan hanya sekedar orang asing semata.Melainkan seperti seseorang yang mereka amat kenal sebelumnya.Atau jiwa yang hilang kini tiba-tiba kembali bersatu.
“kau menunggu bis?” luhan bertanya. Sebelum ia mengambil alih payung yang digenggam taeyeon dan membiarkan gadis ini terbebas dari rasa pegal karena terlalu lama menyatukkan jarinya dengan payung. Melihat hal itu, taeyeon tersentak sesaat dan selanjutnya ia menghela napas dalam kebisuan. Pemuda ini, memang baik dalam memperlakukan seorang gadis.
“Ya, sekaligus menunggu eommaku yang sedang pergi kemini market.Lalu bagaimana denganmu?”
“yah, aku juga menunggu bis datang. Kau tidak keberatan kita berbagi payung? Sisi kananmu basah, aku takut kau sakit karena penyebabnya adalah, ‘orang asing berbagi payung denganmu’..” taeyeon terkekeh, jelas itu adalah alasan terbodoh yang ia buat jika saja ia benar-benar akan sakit.
Lebih baik ia kedinginan, dari pada melihat lelaki itu jauh lebih menderita dibanding dirinya.
Lebih baik setelah ini ia sakit, dari pada ia tidak sama sekali berbagi payung dengan pemuda ini.
Dan ia rela sebagian tubuhnya basah, demi berdiri sedekat ini dengannya. Pemuda berparas manis, bermata rusa, bersurai madu, dan dengan senyumnya yang dapat menggoyahkan pertahanan tubuhnya kapan saja.
“Te-tentu saja aku tidak keberatan, dan kau… sangat berlebihan.Berbagi dengan seseorang tidak akan membuatmu sakit, percayalah.”Taeyeon tersenyum menenangkan.
Luhan tertegun.
Senyum itu, senyum itu… bukankah itu senyum manis yang hanya di miliki gadis ompong nya?
“kau… apakah.. ka-kau kim taeyeon?” Rasa penasaran menguasai dirinya, sehingga ia bertanya begitu saja.
Gadis itu menatap nya kosong. Sekuat apapun ia mengingat sesuatu, dia sudah tidak bisa lagi menggali masa lalu nya, termasuk..apakah ia mengenal pria ini?
“benar, aku.. kim taeyeon.”
Jika saja ini bukan di tempat umum, maka luhan tidak akan ragu lagi untuk berteriak sekeras mungkin. Ia ingin sekali mengeluarkan suaranya, mengatakan seribu kata pada taeyeon, bahwa ia menunggu nya, ia merindukan gadis itu, ia sangat menantikan kehadiran gadis itu, ia ingin taeyeon tau semua isi hatinya.
Tapi, begitu di hadapkan dengan taeyeon yang nyata, bukan lagi ilusinya.Ia hanya terpaku.Ia tidak tau dari mana ia harus memulainya. Taeyeon kembali seperti sebuah mimpi yang sulit untuk di percaya bahwa semua ini adalah kenyataan.
“apa.. aku mengenalmu?” Taeyeon bertanya, masih dengan pandangan kosong nya.
Bahu luhan jatuh, rasa senang yang semula menyelimutinya, kini tergantikan dengan rasa kecewa. Taeyeon yang tidak pernah sedetik pun ia lupakan, dan taeyeon yang selalu ia ingat, ternyata seseorang yang selalu ia kenang itu sama sekali tidak pernah mengingat nya, gadis itu..sudah melupakannya.
“aku xiou Luhan, kau tidak ingat?”
“Ahh, jadi kau luhan, senang bisa bertemu denganmu lagi.”Taeyeon memaksakan senyumnya. Wajah nya di landa kebingungan, dan ia merasa sangat gelisah entah karena apa.
Luhan tersenyum getir, raut wajah gadis itu mudah sekali untuk ia tebak. Gadis itu sedang berpura-pura mengingat nya.Ia terlalu mengenal gadis itu, jadi ia bisa membedakan mana kepura-puraan dan mana yang tulus.
“ya, aku juga. Aku selalu menunggu pertemuan ini. Aku mengira kau tidak akan kembali, tapi syukurlah, kau kembali lagi ke sini. Aku sangat senang, dan ku harap, kau..bisabetul-betul mengenaliku. Sekarang jangan terlalu memaksakan, aku tau kau sudah melupakanku, jadi… jangan lagi kau berpura-pura mengenaliku.” Dada luhan terasa sesak, dengan usaha yang kuat ia menahan kemarahannya. Entah kenapa ini begitu memilukkan. Rasanya seperti kau telah menyia-nyiakan hidupmu untuk orang yang sama sekali tidak peduli lagi padamu. Menunggu dan rasa rindu itu… sangat sia-sia, tidak berguna, dan sama sekali tidak berpengaruh pada gadis itu.
Sekarang, ia menyesal karena sudah menghabiskan waktu dengan hal-hal bodoh itu.
‘Aku akan belajar melupakanmu, seperti kau dengan mudah nya melupakanku.’
Luhan bermonolog perih dalam hati.
Bis datang dan berhenti tepat di depan luhan dan taeyeon. Sebelum luhan beranjak, tidak lupa ia menyerahkan kembali payung itu pada taeyeon yang masih tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tanpa menoleh dan tanpa berpamitan, ia melaju pergi ke dalam bis.
Setelah kepergian pria itu, separuh jiwa gadis itu seperti hilang. Kehangatan yang tadi ia rasakan sudah berlalu begitu saja. Hatinya bergemuruh.Kesesakan pada hatinya tiba-tiba saja terjadi.Ia tidak mengerti, kenapa setelah pertemuan dengan pria itu, ia menjadi sangat rapuh dan tak berdaya? Kenapa saat laki-laki itu pergi tangannya ingin sekali mencegah kepergian pria itu?kenapa? ada apa?
Lalu dengan segera ia merogoh catatan kecil dari saku jeans milik nya. Ia menorehkan tinta disana.
‘Hari ini aku bertemu dengan pria bernama xi luhan.Pria itu membuatku merasa hangat sekaligus dingin, pria itu membuatku ingin mendekap nya.Aku ingin kembali melihat dan bertemu dengan nya.
Waktu pertemuan: 3 sore
Tempat: di halte’
.
.
.
.
Ibu Taeyeon membawa taeyeon ke tempat di mana dulu ia tinggal, dan di mana dulu taeyeon sangat bahagia. Namun ibu nya kecewa karena tetangga dekat nya sudah pindah entah kemana.
“ibu.. apa kau mengenal luhan?”
Ibu nya tersentak saat ia sedang mendorong koper nya masuk ke rumah. Sang ibu berhenti dalam kegiatannya, ia memandang puteri nya senang.
“kau bertemu dengan pria itu? kapan? Dan dimana?”Ibu nya balik bertanya dengan nada penuh semangat.
Taeyeon menyodorkan catatan kecil milik nya pada sang ibu. Sang ibu langsung kembali menghujani nya dengan berbagai pertanyaan.
“kau tidak bertanya dimana dia tinggal sekarang? dan… apakah dia ingin bertemu lagi denganmu?”
Dengan polos taeyeon menggeleng.
“Apa kita sangat dekat?”ia mengabaikan pertanyaan sang ibu. Karena sejak tadi ia begitu penasaran dengan pria yang ia temui di halte tadi.
“tentu saja!! kalian sangat dekat dan nyaris tidak bisa terpisahkan. Kau dan dia bisa dekat karena dulu rumah kalian berdekatan.Setiap hari kau bermain dengan luhan, kau melewati masa kanak-kanakmu dengan sangat indah taeyeon.Tapi sekarang luhan dan keluarganya sudah pindah.Itu sebabnya ibu bertanya padamu tentang alamat pria itu.Tapi kau menghancurkan kesempatan emasmu itu.”
“Lalu untuk apa aku harus tau alamat rumah nya?”
Sang ibu mendekat ke arah puteri nya. Lalu ia memegangi kedua pundak taeyeon. “Kau harus percaya keajaiban taeyeon.Jika kau bertemu lagi dengan luhan, maka kau harus sembuh.Luhan sudah banyak memberikan kenangan indah padamu, jadi ibu percaya bahwa luhan bisa membuat keajaiban.Ia pasti akan membantu menyembuhkanmu.Dengan kenangan indah itu, mungkin penyakitmu akan kalah.”
“mustahil,” belahan bibir taeyeon bergetar, sesuatu yang ibu nya katakan membuat nya ingin menangis. “tidak ada yang bisa menyembuhkanku, ibu. Jangan membuatku berharap kalau pada akhirnya itu tidak akan pernah terjadi! terima saja kenyataan bahwa aku gagal ingatan. Aku… aku tidak ingin membebani siapapun. Sedekat apapun aku dan pria itu… pria itu pasti akan merasa terganggu dengan penyakitku. Dan pada akhirnya orang yang aku sayangi akan menjauh..”
“Kau pernah mengatakan pada ibu bahwa hatimu menginginkan ini. Kau ingin kembali ke seoul karena kau merasa ada banyak kenangan indah di sini. Bukankah itu pertanda bagus? Mungkin.. Kata hatimu benar, suatu saat disini kau akan menemukan kebahagiaan. Kau harus percaya pada ibu, juga kata hatimu, mengerti?!” sang ibu mendekap taeyeon sembari mengusap-usap rambut nya.
“Aku terlalu takut eomma, orang yang aku sayangi akan menghindariku.”ia terisak, kerapuhan yang sejak tadi ia tahan hancur sudah, ia sungguh tidak bisa untuk terlihat kuat.
“Eomma yakin luhan mampu mengatasi hal itu.Dia sangat menyayangimu, dia tidak akan melepaskanmu begitu saja.”
‘Dia sudah melepasku.’
Dia masih bisa mengingat pancaran mata luhan yang sarat akan kekecewaan dan kemarahan. Ketika dia tidak mengingat nya, luhan tidak sanggup menerimanya.
Jadi, apakah itu masih mungkin jika luhan menerima penyakit nya?
Ia meragukan hal itu terjadi.
.
.
.
Saat esok tiba, pagi-pagi buta ibu taeyeon memboyong puteri nya pergi ke kedai bubur milik sang kakak. Ia berniat untuk membantu pekerjaan kakak nya selama ia masih di seoul. Kali ini ia tidak akan gegabah lagi membiarkan taeyeon di rumah sendiri. Jadi kemana pun ia pergi, dirinya harus selalu membawa puterinya, satu-satu nya harta yang paling berharga untuk hidup nya.
Sesampai nya ia di sana, sang kakak langsung menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Pelukan rindu di berikannya pada mereka. Namun ketika sang kakak memeluk keponakan satu-satu nya, ia tercenung, termangu, karena taeyeon gadis yang dulu biasa nya berceloteh panjang lebar mengenai ini itu, kini bungkam seribu bahasa, tatapan nya sungguh kosong, seakan-akan dirinya adalah orang asing.
Menyadari situasi dingin ini, sang ibu segera berdehem dan menyeret sang kakak duduk. Lalu kemudian di jelaskanlah peristiwa mengenai rahasia memilukkan dari sang anak kepada kakak nya.
Tidak percaya,
Rasa kasihan,
Ketidakadilan,
Itulah yang kini di rasakan sang kakak, bibi dari kim taeyeon. Ia tidak menyangka bahwa gadis yang dulu banyak tertawa, banyak bicara, dan banyak bertingkah lucu, kini seolah-olah menjelma menjadi sosok yang muram, penuh tekanan, dan kebingungan.
Kita memang tidak bisa menebak, kapan dan di mana takdir kita berubah.
.
.
.
Matahari mulai terang benderang, keramaian di kedai bubur mulai bertambah.Ny.Kim dan kakak nya tidak pernah diam untuk melayani pelanggan. Ibu taeyeon sibuk mengantar ke sana kemari pesanan, sementara kakak nya berjaga di tempat kasir. Taeyeon tidak tinggal diam, ia membantu sebisa mungkin, dan beruntung ia dapat mengerjakan tugas nya dengan baik, seperti; mencuci piring, menyapu dan membuang sampah. Di samping kesibukannya, sang ibu pun tidak pernah letih untuk selalu mengawasi gerak-gerik puteri nya. Dan ketika waktu istirahat tiba, ia meminta dengan sangat pada kakak nya agar ia menjaga taeyeon.
“Aku harus pergi ke suatu tempat.” kata ny.kim sembari melepas celemek nya.
“Kemana?”kakak nya bertanya dengan nada mengintogerasi.
“Aku harus mencari keberadaan rumah keluarga xiou, mantan tetanggaku dulu.” jawab nya tergesa, ia pikir semakin cepat ia menemukan luhan, semakin cepat pula kemungkinan taeyeon sembuh.
“Aigoo, kau tidak tau?!Keluarga xiou sudah pindah ke china, 3 tahun yang lalu. Mereka sempat berpamitan padaku, dan mereka menyampaikan salam perpisahaan padamu. Karena waktu luangku sedikit, jadi aku melupakan pesan yang harus nya ku sampaikan padamu.akusangat minta maaf dan menyesal karena baru memberitahumu sekarang.”kepala sang adik terangguk-angguk, mengerti. Namun ia teringat pembicaraannya kemarin dengan puterinya mengenai luhan.
“Ahh, tapi..Bagaimana dengan luhan?Dia tidak pergi, kan?”
Sang kakak menggeleng pasti”Untung saja putera nya tidak pergi. Entah apa yang membuat nya betah di seoul. Aku rasa dia sedang menunggu sesuatu.”kim haneul, kakak nya, menjadi sibuk berasumsi sendiri.
“Kau tau alamat rumah nya?”
“Tidak, tapi aku tau dimana tempat ia bekerja.Sekarang dia memegang bisnis coffe, dia punya kedai yang cukup besar.Dan letak nya tidak begitu jauh dari kedaiku.Jika kau bertanya mengenai kedai besar itu, orang-orang seoul pasti akan tau.”
Ibu taeyeon tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi-gigi nya yang rapi dan bersih.”Ahh baiklah, sekarang aku harus pergi menemui nya, aku mempercayakan taeyeon padamu.”dengan terburu-buru ibu taeyeon keluar, baru setelah kepergian adik nya, ia teringat pertanyaan yang sejak tadi mengganggu nya.
“Hey, untuk apa kau mencari nya?”
Lalu ia sibuk, mencari jawaban nya sendiri.
.
.
.
“Apa kau tidak melihat debu di sana!Bersihkan sekarang juga!”
“Hey! Kau tau aturan tempat ini kan? Menelpon seseorang di jam kerja itu dilarang, sekarang kau dipecat?!”
Emosi luhan mudah tersulut dalam hal hal yang sepele.Para pekerja nya terheran-heran dengan perubahan sikap bos nya.Untuk pertama kali nya mereka menemukan seorang luhan yang sabar dan tenang, marah besar.Masalah yang sedang di hadapi bos nya pasti sangat berat, jadi mereka berusaha untuk memaklumi nya.
Luhan duduk di meja kerja nya dengan napas memburu, dan bahu yang naik turun. Kemarahan dan kekecewaannya tidak ia sangka bisa dirasakan sampai sekarang. Memori pertemuan pertama setelah bertahun-tahun terpisah, masih menghantui pikirannya.
Gadis ompong nya, berubah menjadi boneka yang menakutkan.
Gadis ompong nya, sudah bukan lagi gadis lugu nya.
Gadis ompong nya, nyatanya sudah pergi dan kini gadis itu berjiwa baru, bukan gadis yang selalu ia nanti-nantikan dulu.
Ia terlupakan, dan ia merasa terbuang seperti seonggok sampai yang pantas di buang dan di tinggalkan.
Pikiran yang menganggu nya terhenti sejenak kala sang pegawai caffe nya masuk ke dalam ruang pribadi nya.
“Ada yang mencari anda, dia ingin meminta waktu nya sebentar dengan anda.”
.
.
.
Luhan tidak menyangka bahwa yang mencari nya adalah nyonya kim sena, ibu nya taeyeon. Dia berusaha untuk bersikap ramah pada ny.kim, meskipun kemarahannya belum juga reda, jika ia bisa maka ia akan melampiaskan semua kemarahannya pada ibu taeyeon. Dia ingin menyeruakan isi dalam pikiran nya.Ia ingin ibu nya tau bahwa puteri nya telah mengecewakan nya. Tapi melihat ny.kim tersenyum lebar ke arah nya, ia mencoba menghilangkan perasaan itu. Mungkin, melampiaskan semua kekesalan tidak akanberdampak pada ibu nya.
Setelah puas berbasa-basi, luhan mengajak ibu taeyeon untuk duduk di salah satu meja yang letak nya sangat dekat dengan jendela, karena dirinya merasa bahwa kedatangan ibu taeyeon bukan sekedar berbasa-basi, melainkan ada hal yang penting untuk di bicarakan.
“Begini…”Ny.kim memulai, serius, dan ketegangan mulai terasa di sekitar mereka.
“Mengenai puteriku..Seharusnya bibi menceritakan semua yang terjadi padamu.Kau sahabat dekat nya, teman bermain nya, jadi kau harus tau.”
Mendengar permasalahan yang terjadi pada taeyeon, luhan menajamkan indra pendengarannya. Ia sengaja tidak menjawab, tapi ia menunggu, menunggu sesuatu yang pasti akan mengejutkannya. Ia siap menerima semua nya. Tiba-tiba terlintas di benak nya, bahwa mungkin saja taeyeon menikah, dan yang jadi masalah mereka lupa tidak mengundang ia ke pesta pernikahan itu.
Ia terlalu percaya diri,
Tapi,
Semua nyatanya di luar dugaannya, di luar tebakannya.
“Selama 5 tahun, taeyeon, puteriku menderita.Ingatan nya tiba-tiba saja terganggu. Kenangan di hari ini dan hari yang sudah ia lewati, ia akan melupakan semua itu besok dan hari-hari berikut nya. Ia menderita anteograde amnesia.”
Luhan terpaku.
Ketidak percayaan menguasai dirinya, ia memastikan bahwa yang ia dengar adalah salah, atau ia ingin sekarang waktu nya adalah bermimpi. Tapi.. Menggenggam tangan nya yang dingin, mencium aroma coffe, dan merasakan pusing teramat sakit, kemudian ia di hadapkan pada suatu kenyataan, bahwa ia tidak sedang bermimpi.
Dengan kekuatan yang ia bisa, ia mencoba untuk menahan tangis nya. Ia ingin memukul dirinya sendiri karena dirinya sudah terlalu bodoh telah berpikir yang tidak-tidak pada taeyeon. Sekarang bukan taeyeon yang sejak tadi ia tuduh sebagai manusia terkejam, tapi ia sadar bahwa ialah manusia terkejam di bumi ini.
“Bibi mohon, bantulah taeyeon, buatlah dia teringat masa-masa indah nya dulu.Bibi percaya bahwa kau lah satu-satu nya orang yang bisa membuat tawa taeyeon kembali. Untuk itu lah, bibi datang kemari untuk meminta bantuanmu.” tersirat jelas dalam mata ny.kim bahwa ia sangat memohon-mohon pada luhan.
Sepasang tangan nya yang mulai kembali hangat, lalu ia memegang kedua tangan ny.kim, meremas nya dengan erat.
“Tanpabibimemohonsepertiinipadaku,akusudahakanmelakukannya.Bagikumemberi taeyeonkebahagiaansudahmenjadikebahagiaanku juga.Taeyeonadalah seseorang yang sangatpenting dan berharga dalamhidupku.Jadi,bibi jangankhawatir,puterimu harusmerasakankebahagiaan itu.Kita seharusnyamelakukannya bersama bukan?Tentunyataeyeon juga tidak sedikitmerasakankenanganmanisdenganmu, jadi, ayo sama-sama kita buat ia kembali menjadi taeyeon yang cerah.Aku sangat yakin, taeyeon akansembuh jikaia di kelilingiolehorang-orang yang inginmemberinyakebahagiaan.”
senyuman luhan yang penuh dengan tekad, dan keyakinan, membuat ibu taeyeon merasakan kelegaan yang selama ini ia inginkan.
Tuhan akan mengabulkan doa’mu jika kita selalu berusaha.
Luhan dan ny.kim tidak akan menyerah membuat taeyeon kembali, atau paling tidak membuat taeyeon bahagia.
.
.
.
Luhan tidak biasanya sesemangat ini di jamakhir kerja. Di hari-hari biasanya, keletihan selalu menemani nya, jadi ia akan langsung pulang ke apartemen nya dan langsung menjatuhkan diri ke ranjang empuk nya.
Namun, hari ini 180 derajat berbeda dengan hari sebelum nya, kini, kebahagiaan yang ia nantikan sudah kembali ia rasakan.
Ia akan bertemu dengan gadis ompong-nya.Alasan utama kenapa ia masih di seoul, dan kebahagiaan terbesar nya.
Tidak memakan banyak waktu untuk bisa sampai ke kedai bubur milik bibi taeyeon.Di jam malam pun kedai bubur ini masih buka dan masih melayani pelanggan-pelanggan yang tidak pernah sepi.
Di dorong nya pintu masuk itu dengan terburu-buru, lalu ketika ia sudah menginjakkan diri ke dalam kedai, matanya langsung menjelajah mencari-cari kim taeyeon. Sudut bibir nya terbentuk ke atas membentuk sebuah senyuman yang cerah. Di sudut ruangan ia dapat melihat taeyeon yang sedang duduk sambil menahan rasa kantuk nya. Beberapa kali ia menguap, mata nya kadang terbuka, dan kadang juga tertutup. Tampak nya ia tidak ingin tertidur, tapi mata nya memaksanya untuk jatuh tertidur.
Pemandangan itulah yang selama ini luhan rindukan.Kekantukan taeyeon masih membuat nya gemas, dan luhan bersyukur karena taeyeon masih bisa selucu dulu.Taeyeon tidak sepenuh nya berubah.
Ia bahagia hanya dengan melihat taeyeon seperti itu.
Kemudian kedua kaki jenjang nya melangkah dan mendekat ke arah di mana taeyeon duduk. Luhan menjatuhkan pantat nya di atas kursi, tepat di depan taeyeon yang masih belum menyadari kedatangan nya. Taeyeon sudah kalah dalam pertarungan nya menahan kantuk, akhir nya dalam perjalanan luhan menuju tempat duduk taeyeon, taeyeon sudah tertidur dengan kepala tegak.
Mata luhan bergerak-gerak menelusuri lekuk wajah taeyeon. Dari jarak sedekat ini ia dapat dengan leluasa menyaksikan kecantikan gadis ompong nya. Tidak ada tontonan yang lebih menarik dari ini.
Bibi dan ibu taeyeon memperhatikan keduanya dari jauh.Bibi taeyeon semula kebingungan dengan kedatangan luhan kemari, lalu kemudian ibu taeyeon meredakan semua kebingungan itu dengan menjelaskan alasan mengapa luhan datang ke tempat ini. Reaksi pertama yang di lakukan bibi taeyeon adalah tersenyum penuh pengharapan pada luhan, sama seperti yang ibu taeyeon lakukan.
Mereka seperti memandang matahari yang siap memberi cahaya nya pada taeyeon.
Menjelang tengah malam, kedai bubur di tutup.Sejak tadi luhan menjadikan pundak nya sebagai bantal yang nyaman untuk taeyeon. Sembari menunggu ibu taeyeon selesai dalam pekerjaannya, ia lah yang selalu menjaga taeyeon, gadis nya yang masih tertidur dengan pulas. Baru setelah mengakhiri pekerjaannya, ibu taeyeon menghampiri luhan dengan taeyeon di samping nya.
“Di mana bibi tinggal sekarang?”tanya luhan masih belum sedikit pun merubah posisinya.
“Di tempat dulu aku pernah tinggal.”
“Kalau begitu aku akan membantu bibi membawa taeyeon.”Tanpa menunggu jawaban dari ibu taeyeon, dengan hati-hati luhan membawa taeyeon ke punggung nya. Lalu ia berdiri dengan posisi menggendong taeyeon.
Ibu taeyeon tersenyum geli.
“Terimakasih atas pengertian mu, xiou luhan.”
“Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai sahabat nya, bibi.”luhan tersenyum sopan.
Ada sedikit ketidak relaan dalam hati nya, ketika gelar ‘sahabat’keluar dari bibir nya. Tapi ia juga tidak bisa berterus terang pada ibu nya bahwa ia begitu tertarik terhadap puteri nya. Setidak nya tidak untuk sekarang, ia akan mengakui perasaan nya setelah taeyeon sudah mengenali nya.
.
.
.
.
Hari sudah berganti. Kegiatan luhan sudah berubah semenjak ia di pertemukan kembali dengan gadis impian nya. Dia tidak pernah absen mengunjungi kedai bubur.Ia selalu menyempatkan waktu nya pada jam-jam istirahat nya. Ketika arah jarum pendek mengarah ke 11, ia akan langsung melesat pergi ke kedai bubur.
Dihari kedua pertemuan mereka, luhan mendapati taeyeon sedang mencuci piring, dengan langkah secepat kilat, ia langsung menahan kedua tangan taeyeon. Dengan lembut luhan meminta taeyeon untuk duduk, dan ia sempat berkata pada taeyeon bahwa gadis itu hanya perlu memperhatikan diri nya saja.Lalu semua tugas taeyeon, ia yang menanggung semuanya.
Kedatangan luhan yang tiba-tiba, segera di sambut oleh taeyeon dengan keterkejutan dan kebingungan. Tapi tatapan pria itu seakan telah menghipnotis nya sehingga ia menurut ketika luhan menyuruh nya untuk diam, dan meminta dirinya untuk memperhatikan. Maka dengan polos nya taeyeon memperhatikan gerak-gerik luhan dari jarak yang cukup dekat.
Tanpa menoleh pun, luhan telah menyadari tatapan penuh perhatian yang di berikan taeyeon pada nya.Kedua mata bulat itu seolah telah menyuntikkan vitamin pada seluruh tubuh nya.Hidup nya yang terang telah kembali datang, berkat gadis itu.
Di sela-sela tangan nya tengah lincah membersihkan piring-piring yang kotor. Akhir nya setelah bisu sejenak, ia mengatakan sesuatu pada taeyeon.
“Aku xiou luhan, sahabat masa kecil mu, aku datang karena aku sangat merindukan mu. Terimakasih karena sudah kembali.” jantung nya berdebar setelah untaian kalimat itu ia ucap kan.
Sementara taeyeon sibuk menuliskan sesuatu mengenai luhan di catatan kecil yang selalu ia bawa kemana pun.
“Xiou luhan, sahabat kecil ku yang datang karena merindukan ku.Terima kasih juga karena telah merindukanku.”
Selesai.
Ia tuangkan perasaannya ke dalam catatan milik nya dengan senyum yang menghiasi wajah nya. Lalu, ia membalikkan halaman sebelum nya, ia mengerutkan kening nya begitu nama luhan ternyata pernah hadir di dalam catatan nya.
Ia ingin kembali bertemu dengan pria ini lagi. Diam-diam senyuman nya kembali tertera di wajah nya, harapan itu di kabulkan oleh Tuhan.
“Terima kasih karena sudah menghangat kan hati ku.” taeyeon berkata tanpa bisa di kendalikan, dan sejujur nya itu di luar kesadarannya. Jadi, ia menyembunyikan wajah nya dengan catatan kecil yang sejak tadi ia genggam.
Dari jarak sedekat ini, tidak akan heran jika luhan dapat mendengar nya, meskipun suara taeyeon teramat lirih. Luhan tersenyum senang, suara dengan rentetan kalimat manis itu seperti sebuah mimpi indah untuk nya.
Di hari ketiga, luhan kembali datang. Dengan langkah panjang ia lagi-lagi menghampiri taeyeon yang sedang menyapu. Setelah mendapat ijin dari ibu taeyeon, luhan membawa taeyeon pergi bersama nya.
Apapun yang di lakukan pria itu, tubuh nya seperti telah di rancang untuk menuruti semua kemauan nya. Meskipun ia tidak mengenali pria ini. Namun ketika mata mereka bertemu, ada suatu kehangatan yang menjalari seluruh tubuh nya, sehingga ia merasa betah berada di sisi pria ini.
Luhan sama sekali tidak terbebani dengan gangguan ingatan taeyeon. Tidak masalah bagi luhan jika taeyeon kembali tidak mengingat nya.Yang terpenting bagi diri nya adalah, taeyeon dapat menatap dan tersenyum ke arah nya.
Di waktu senja tiba, luhan memboncengi taeyeon dengan sepeda nya. Membawa taeyeon berputar-putar mengelilingi sungai han, mengajak taeyeon merasakan ketenangan dan kenyamanan.
Luhan tidak menyesal karena sudah membawa taeyeon kemari. Terbukti sepanjang ia mengayuh sepeda nya, taeyeon sudah beberapa kali berteriak bahwa ia menyukai nya.
Di tengah-tengah perjalanan taeyeon tidak pernah lupa untuk menuangkan setiap perasaan nya pada catatan yang sudah siap untuk ia isi kembali.
‘Aku suka udara yang menenangkan, aku suka menaiki sepeda dengan luhan, dan aku ingin selalu berada di samping luhan, sampai seterus nya.Ia mengingatkanku pada sinar matahari yang selalu menghangatkanku.’
“Taeyeon-ah.” di sela-sela sibuk mengayuh, luhan memanggil taeyeon dengan lembut.
“Ya?”
“Aku akan memberikanmu sebuah hadiah jika nanti kau bisa mengenali wajahku dan mengingat nama ku.”
“Hadiah?!Benarkah itu?”
“Ya, tentu saja! Sebaik nya kau tulis perjanjian ini di catatan kecilmu!itu akan menjadikan nya sebagai bukti.”
Buru-buru taeyeon menulis nya.
‘Janji luhan: akan memberiku hadiah kalau aku sudah bisa mengenali nya dan mengingat nama nya. Mulai sekarang, aku akan terus mengingat nya.’
Selepas menulis taeyeon kembali bersuara.”Uhmm.. Ta-tapi, hadiah nya.. Itu..Apa boleh kalau aku yang memilih nya?” pertanyaan polos dari taeyeonmembuat tawa luhan keluar.
“Haha ya tentu kau bebas memilih.Apapun yang membuat mu bahagia, aku akan memberikan nya padamu.”
Kedua pipi taeyeon bersemu merah, pria ini tak pernah habis membuat dirinya merasa senang.
“Bisa kau hentikan sepeda nya?” pinta taeyeon setelah ia menyadari sesuatu. Dengan raut bingung, luhan menurut. Lalu ia menghentikan laju nya, dan setengah berbalik menatap taeyeon di belakang nya. Taeyeon tidak balik memandang nya, namun gadis itu malah melompat turun dari sepeda nya.Setelah kaki nya berpijak pada tanah, kemudian mata nya bergulir menatap luhan yang masih kebingungan di tempat nya. Belum sempat luhan bertanya ada apa, taeyeon sudah lebih dulu membuat nya terperangah begitu sebelah tangan nya mengusap pipi luhan dengan amat lembut..Seolah itu adalah barang yang mudah hancur, pipi luhan terusap dengan penuh kehati-hatian dari taeyeon.
Luhan ternganga.
Sengatan listrik mendadak menguasai diri nya.
“Ku mohon, jangan bergerak, tetaplah seperti ini.”
Luhan tersenyum dan mengangguk, walaupun ia masih belum paham mengenai tindakan yang tidak pernah ia prediksi sebelum nya.
“Bukan karena hadiah itu aku belajar mengingatmu, bukan, kurasa itu alasan keduaku. Yang menjadi alasan utama ku adalah..Aku tidak ingin membuat mu kecewa, meskipun aku tau kalau kau memamg tidak memperdulikan itu. Tapi… Aku peduli padamu..A-aku tidak sanggup ketika kau harus kembali mengingatkanku lagi, tentang siapa dirimu, dan bagaimana kau mengenalku? Itu mungkin..Membuat mu lelah.Jadi, bisakah kau menunggu? Aku akan belajar mengingatmu, dari jarak sedekat ini mungkin… Besok aku tidak akan melupakan wajah mu.”jelas taeyeonsambil berusaha menahan tangis nya.
Luhan mengulurkan sebelah tangan nya ke arah taeyeon, lalu ia mengusap pucuk kepala taeyeon dengan lembut. Luhan menyalurkan ketenangan untuk taeyeon.
“Sampai kapan pun, aku akan terus menunggu hal itu terjadi. Jadi, jangan terlalu khawatir bila aku akan meninggalkan mu. Kau harus tau bahwa selama ini yang terpenting bagi ku adalah, bisa berada di sisi mu. Aku..Sedikit pun tidak pernah berpikir bahwa kau adalah beban ku.Dan kau benar, aku memang tidak peduli pada gangguan ingatan mu. Tapi jika itu membebani mu, aku akan membantumu untuk mengingatku-”
“Cara nya?” potong taeyeon penuh harap.Dia sangat berharap luhan bisa benar-benar membantu diri nya. Agar ia bisa lepas dari beban ini.
“Dengan selalu membuat mu berada di sisi ku.” luhan mengumbar senyuman percaya diri nya, dan jangan lupa tangan nya masih bertengker di pucuk kepala taeyeon.Sementara taeyeon sudah menjauhkan tangan nya dari pipi luhan. Dia baru sadar bahwa tindakan yang tidak ia pikir dulu itu membuat wajah nya memerah.
“Bukankah selama ini kau selalu berada di sisi ku?”tanya taeyeon heran.
“Tapi itu hanya sebentar, waktu yang aku habiskan dengan mu tidaklah panjang..”
“Jadi?”
“Kau harus ikut bekerja denganku. Maksud ku, bukan untuk membuat mu membantuku bekerja, tapi di sana kau hanya cukup..Memperhatikanku.Dengan begitu, bukankah itu akan memudahkanmu untuk mengenalku?” tatapan mata luhan di penuhi ke antusiasan.
“Ide bagus!” seru taeyeon dengan diiringi senyuman lebar dan mata yang berbinar-binar.
Luhan mengacak-acak rambut taeyeon gemas.”Aigoo, mata dan senyummu lucu sekali, lebih lucu dari seekor puppy.”Yang jadi sasaran pujian hanya tersenyum malu.”Kau ingin es krim?”tanya luhan begitu ia menyadari bahwa sejak tadi mereka belum makan apapun di sini.
Beberapa anggukan di lakukan taeyeon, lagi-lagi anggukan itu membuat luhan merasa ingin mencubit taeyeon. Taeyeon selalu tau apa yang menjadi titik keimutan nya.
“Kalau begitu, aku akan membeli es krim di seberang sana, kau tunggu di sini ya.”luhan sibuk turun dan mengunci sepeda nya. Lalu sekali lagi ia memandang taeyeon meminta jawaban.
“Aku ikut denganmu!”
Luhan tidak menghiraukan jawaban taeyeon.Kedua tangan nya memaksa taeyeon untuk duduk di salah satu bangku yang sudah tersedia di tempat ini.
“Tidak, aku tidak mau membuat mu lelah.Sekarang kau hanya berdiam diri di sini, jangan kemana-mana sampai aku kembali membawakanmu es krim, mengerti?!”kata luhan setengah tegas dan setengah lembut.
Seperti anak kecil yang di beri nasihat oleh orang tuanya, akhir nya ia menurut.
“Gadis pintar.”luhan mencubit pipi taeyeon sebelum akhir nya ia melangkahkan kaki nya pergi menuju kedai es krim yang letak nya di seberang jalan.
Di bangku panjang ini, taeyeon dengan sabar menunggu sambil sesekali ia menggoyang-goyang kan kedua kaki nya. Ia menoleh ke seberang jalan, tepat nya di mana luhan berada. Dia mendesah saat melihat banyak nya antrian di kedai es krim.Kaki luhan pasti sangat pegal, begitu pikir nya.
Suara gugukan anjing terdengar di telinga nya.Kemudian mata nya teralihkan ke asal sumber suara itu.Bibir nya tersungging membentuk senyuman ketika mata nya berhasil menangkap seekor anjing poodle yang tengah berlari-lari kecil.Seperti nya dia kabur dari majikan nya, karena anjing ini bebas dari tali yang biasa mengikat anjing.Akhir nya taeyeon mengikuti kemana arah anjing itu berlari. Anjing kecil yang lucu itu membuat nya lupa akan peringatan luhan sebelum nya.
Sebut saja ia cukup kenak-kanakan,
Sebut saja ia cukup mudah perhatian nya teralihkan,
Dan sebut saja dia tidak berkonsen pada marabahaya yang sebentar lagi akan mendekati nya.
Ya, dia, gadis itu, mengejar anjing sampai di tengah jalan, bahkan karena terlalu senang nya ia bisa menangkap anjing itu, sampai-sampai dia tidak sadar bahwa sekarang ia sedang berada di titik rawan kecelakaan.
Pada akhir nya,
Pada akhir nya…
Sebuah mobil sedan di sebelah kiri taeyeon, dengan kecepatan maksimal melaju ke arah taeyeon.Sang pengendara tak sempat mengerem mobil nya, karena dia tidak tau bahwa sebenar nya ada seorang gadis bersama anjing dalam pangkuan nya sedang berada di tengah jalan.
Kedua nya tidak sempat menyadari.
Lalu yang terjadi selanjut nya adalah, mobil itu telah berhasil menabrak seseorang.
Seseorang yang datang secara tiba-tiba.
Dia, xiou luhan.
Pria itu yang sudah menyelamatkan taeyeon dengan anjing dalam pangkuan nya,
Sementara diri nya tidak sempat untuk menghindar.
Luhan terpental cukup jauh, tubuh nya dalam sekejap bersimbah darah.
Namun ia masih bisa tersenyum,
Bukan senyuman yang menyakit kan, namun sebuah senyuman kelegaan.
Dia lega karena bisa menyelematkan gadis itu, gadis yang sepenuh hati ia cintai.
Apapun ia rela korbankan demi gadis itu, bahkan untuk nyawa nya sendiri.
Asalkan gadis itu selamat, ia sudah merasa baik-baik saja.
.
.
.
.
2 bulan kemudian.
Luhan selamat dari kecelakaan maut itu. Namun ia harus merelakkan kaki nya yang harus di amputasi karena ada kerusakan pada sistem syaraf nya. Sehingga sampai sekarang dia selalu bertumpu pada kursi roda nya, sama hal nya seperti taeyeon yang selalu bertumpu pada catatan kecil nya.
Mengenai gadis itu,
Setelah kecelakaan itu terjadi, dia sudah tidak punya keberanian lagi menemui gadis itu. Karena ia yang telah menyebabkan peristiwa menakutkan ini terjadi, hampir… Sedikit saja dia lengah nyawa taeyeon mungkin sudah tidak akan tertolong lagi. Jadi, biarlah dia menghukum dirinya sendiri, karena semua tidak akan terjadi jika bukan karena kecorobohan nya melepas taeyeon.
Jadi,
Selama 2 bulan ini, luhan hanya bisa memandang taeyeon dari jarak jauh seperti saat ini.
Taeyeon, gadis itu selalu menatap kosong walaupun ia sedang bekerja. Gadis itu, selama ini menjadi sosok yang pendiam, dan tidak pernah tersenyum lagi.Dia.. Tau apa yang jadi penyebab nya, tidak di ragukan lagi bahwa memang diri nya lah yang menjadi tersangka utama nya.
Mungkin,
Hati taeyeon merasa sangat marah pada dirinya karena di hari itu luhan begitu mudah melepas taeyeon. Jika saja luhan mengajak nya pergi, semua nya pasti akan baik-baik saja.
Sementara di sisi lain, hati taeyeon begitu dingin, hampa, dan kosong. Di catatan kecil nya di penuhi nama luhan, dan cerita-cerita mengenai sosok luhan.
Pria yang membuat hatinya hangat,
Dan kini pria itu tidak pernah muncul lagi.
Selama dua bulan hanya ini yang bisa ia tulis dalam note nya.
‘Aku menantimu, matahariku, cahaya yang tak pernah lelah menghangatkan hatiku.’
Ibu dan bibi taeyeon menatap gadis itu dengan tatapan prihatin, sedih, iba.Puteri nya dulu sudah hampir bisa menjadi seorang gadis yang ceria, sejak luhan selalu mendatangi nya.Tapi kemudian ketika kejadian naas itu terjadi, luhan hanya bisa menatap gadis itu dari jauh. Ibu taeyeon mulanya mengerti akan keputusan luhan itu. Tapi begitu melihat puteri nya tak kunjung juga memberi tanda-tanda perubahan.Akhirnya, ibu taeyeon memutuskan untuk memberi penjelasan pada luhan tentang kondisi taeyeon.
Ibu taeyeon datang, ke arah dimana luhan masih diam terpaku memperhatikan taeyeon yang kini sedang membuang sampah.
“Temui dia.” kata ibu taeyeon meminta.
Luhan terdiam, menghirup napas sedalam-dalam nya, lalu ia hembuskan dengan berat. Seperti menemui taeyeon adalah hal terberat bagi nya.
“Itu tidak sepenuh nya kesalahanmu.Meskipun aku adalah ibunya, tapi, aku sadar bahwa puteriku juga salah.Jadi, tidak seharus nya kau terus menyalahkan dirimu sendiri.”
Luhan terdiam sejenak.
“Dia.. Puterimu..Sudah tidak membutuhkanku lagi. Aku..Sudah tidak bisa menjaga nya lagi. Dengan keadaanku seperti ini-”
“Berhenti membuatmu lemah!Taeyeon selalu membutuhkanmu, bagi nya, hanya melihat dirimu, dia sudah merasa bahagia. Puteriku.. Pernah menulis sesuatu dalam catatan nya, ia menulis itu sejak dia tau bahwa kau kehilangan kakimu. Dia.. Di-dia berkata pada catatan nya bahwa..Dia bisa menjadi kakimu, dan kau bisa menjadi pengingat nya.Dia..Ingin kalian berdua bisa saling menjaga.”
Tangis sang ibu pecah, dia sudah tidak bisa lagi mengendalikan kesedihan nya.
Perkataan-perkataan yang keluar dari ibu taeyeon, begitu menyayat hatinya.Gadis itu, ingin menjaga, gadis itu ingin menjadi kaki nya.Mengapa ada gadis sebaik taeyeon ingin melakukan hal itu pada pria yang bahkan hampir mencelakai dirinya sendiri?!Tapi kemudian lambat laun dia menyadari satu hal, bahwa cinta, cinta yang sesungguh nya adalah cinta yang saling melengkapi, cinta yang saling menjaga.
Pada akhir nya, dia berani menemui taeyeon, menemui seseorang yang selalu ia rindukan.
Dia mendekati taeyeon yang sedang mencuci piring. Di amati nya gadis itu yang semakin kurus, ia ingin sekali mendekap gadis itu dan menangis di pelukan nya.
Betapa ia merindukan gadis itu,
Betapa ia ingin berterima kasih pada gadis itu,
Namun belum sempat ia memanggil, taeyeon sudah berbalik badan, dan menatap nya dengan sorot mata yang sulit untuk di tebak.
“Luhan.”
Ta-taeyeon, dia mengenalku?Dia sudah bisa mengingatku?! Dalam sesaat luhan terperangah, lidah nya mendadak kelu, apa yang ia dengar begitu sulit untuk di percaya.
“Kau luhan, benar kan?”
Seperti orang bodoh luhan hanya menganggukan kepala nya.
“Tidak ada orang selain dirimu yang bisa menghangatkan hatiku, dan seseorang itu bernama luhan, dirimu.Satu-satu nya penghangat hatiku. Aku..Merindukanmu, sangat, aku selalu menantikan kehadiranmu.Aku ingin kita kembali membuat kenangan-kenangan indah.” jelas taeyeon yang sukses membuat luhan meneteskan air mati.Kali ini, tangisan itu penuh kebahagiaan.
“Kau sudah mengingat semuanya?”
Taeyeon menggeleng, sedikit kecewa.”Tidak, tapi aku bisa mengenal wajahmu, dan mengingat namamu, seperti aku selalu mengingat ibuku.Karena kedua orang itu adalah orang yang sangat berarti untukku.Tapi, setiap kenangan yang pernah kita lalui, aku selalu menuliskan nya di catatan ini.Jadi, aku bisa mengingat semua itu melalui catatanku.” taeyeon tersenyum lagi, setelah selama 2 bulan dia merasa sedih.
“Bisakkah kau memelukku?” pinta luhan dengan tenggorokan yang tercekat.Bagi nya kembali melihat wajah taeyeon yang sedang tersenyum adalah sesuatu yang paling membahagiakan di dunia. Jadi, ia merasa ia ingin menangis di pelukan taeyeon, dia ingin membagi perasaan nya pada taeyeon.
Tanpa berpikir panjang, taeyeon mendekat dan memeluk luhan dengan erat.Bisa di rasakan kedua bahu luhan terguncang karena menangis.
“Aku menangisshh karena aku..Merasa sangat bahagia.” taeyeon tersenyum sambil mengusap-usap dengan lembut punggung luhan.
“Aku tau, menangislah sepuasmu dan selama yang kau mau, aku akan terus di sini, di sisimu.”
Sampai 15 menit, akhir nya tangisan luhan mereda.Luhan meregangkan pelukan mereka, dan di tatap mata taeyeon dengan mata nya yang sembab.
“Apa aku terlihat jelek?”
Mereka tertawa.
“Sangat.” jawab taeyeon dengan polos.”Jadi, jangan menangis lagi ya.” lanjut taeyeon dengan tangan yang menghapus sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipi luhan.
“Hmm taeyeon-ah,mengenai janjiku.. Itu..Tolong kau baca di catatanmu tentang perjanjian kita.”
Sesaat taeyeon memandang bingung luhan, namun ia rasa kebingungan itu akan sirna kalau ia menuruti apa yang di perintahkan luhan. Jadi, ia mencari-cari sesuatu yang berkaitan dengan ‘janji’ di catatan nya. Dan tidak butuh waktu lama bagi taeyeon untuk menemukan nya.Ahhh, jadi itu, taeyeon akhirnya mengerti.
Pandangan nya kembali tertuju pada pria itu, masih bersama senyuman yang tertera di wajah nya.”Uhmm.. Aku ingin..Menikah denganmu.”
Mata luhan hampir meloncat keluar.”MWO?!”Teriak nya tidak percaya.
Taeyeon mendesah kecewa lantaran hadiah yang di inginkan nya pasti di tolak oleh pria yang sudah mengajukan hadiah untuk nya.
“Kenapa? Kau..Tidak ingin menikah denganku?”tanya taeyeon dengan raut wajah marah, kesal, kecewa, dan jengkel.
Luhan segera mengubah reaksi nya. Untuk membuat taeyeon tidak salah paham, ia memberi taeyeon senyuman, yang memang selalu ampuh untuk meredakkan kekesalan taeyeon.
“Tidak, aku ingin menikah dengan mu, sangat.Bahkan aku selalu memimpikan nya.”
Taeyeon masih tidak percaya, ia bersedekap, seoalah ia tengah berhadapan dengan seorang penjahat.
“Lalu, kenapa tadi kau bereaksi seperti itu?”
Luhan tersenyum, ia mengambil sebelah tangan taeyeon, lalu ia menggenggam nya. “Kau tau?Pernyataanmu itu mengingatkanku pada dirimu yang dulu.Dulu, saat kita kecil, kau juga lah yang mengajakku menikah.Di balkon, tiba-tiba kau menceritakan sebuah pernikahan, lalu kau ingin aku menikah denganmu.Jadi, aku terkejut saat kembali mendengar pernyataanmu seperti dulu. Ini..Benar-benar deja vu.”
“Deja vu?Apa itu?”
“Kita seperti kembali mengulang kejadian masa lalu.”
Taeyeon mengangguk-anggukan kepala nya sembari ber’ah’ria.
“Besok..”Ucapan dan tatapan luhan di buat misterius dan tentu saja sasaran penasaran di tujukan kepada taeyeon.
“Besok apa?”
“Kita… Menikah.”
“Be-benarkah itu?”
Luhan tersenyum mengiyakan.Kebahagiaan langsung terpancar di wajah taeyeon.Kemudian luhan menyuruh taeyeon agar lebih mendekat ke arah nya. Karena ia dalam posisi terduduk, jadi taeyeon harus merunduk untuk menatap luhan dengan lekat-lekat. Kedua tangan luhan memegang pipi taeyeon, lalu ia menarik wajah taeyeon mendekat.
Dan,
Sebuah ciuman di bibir luhan berikan pada taeyeon.Ciuman yang penuh dengancinta dan kasih sayang.
.
Cinta sejati akan selalu tergenggam walaupun segala rintangan harus kau hadapi,
Cinta sejati…
Yang selalu menerima kita apa adanya.
.
.
The End

Advertisements

44 comments on “True Love (Oneshoot)

  1. Hweee mewek baca ff ini..
    Mereka saling melengkapi, dgn kekurangan mereka..
    Huh aku jd terharu..
    Ditunggu ff author yg lain..
    Fighting..

  2. Huaaaaa ff nya bikin mewek: ” ,ff nya seru thor romantisnya dapet + sad nya juga tapi kek nya alurnya kecepetan, tapi gpp ditunggu karya selanjutnya thor ^^

  3. Ahhhh daku terhura, taetae bersedia jd kaki bgi lulu dan lulu bersedia jd pengingat bg taetae….
    Awesome love story

  4. ahh sweet banget, akhirnya happy ending juga hahaha mereka saling melengkapi satu sam lain. dikira bakal ada cerita pas nikahannya haaha next ff ditunggu 🙂

  5. Duuh sempet nangis pas luhan kecelakaan duhh angst nya dapet :’) duhhh terharu banget baca nya wkwk,di tunggu next projectnya yaa,keep writing & imagine ! FIGHTING!

  6. Eomo LuTae .
    Thor ffnya bagus, keren .
    Kirain bakal Sad Ending pas tau Luhan kecelakaan tapi ternyata gk. Okeee ditunggu ff lainnya keep writing and Fighting!!!

  7. bener bener bikin mewekkkkkk 😥 😥 😥
    keren bgd,,,
    bener nyampek ke hati critanya,,,
    daebak pokonya,,
    dtggu project slnjutnya, fightaeng!!

  8. hiks hiks …mereka saling melengkapi saat kekurangan menjadi penghalang.. huuuuuu aku cemburu sama kalian berdua..Udah ahhh kenapa aku jadi begini? maklumi thor suana hati saya lagi kacau, trs bca ini jadi terharu . …

    semangat ya…. nulisnya ditunggu karya” yang lain

  9. lutae so sweet, setelah beberapa rintangan di lewati luhan ama taeng, keinginan masa lalu taeng jd kenyataan

  10. Daebakk!!! Bikin mewek terus😭 bikin baper
    Lutae so sweet banget huhuhu 😭😭😭
    Ditunggu karya karya selanjutanyaaa

  11. Daebak thor! ^^

    Dtanya nangis / tdak.. Jelas nangis:”
    Namanya juga jdoh, takdir…
    Dtnggu karya ff lainnya thor!! Fighting!! ^^

  12. haii saeng^^ late comment keke–
    akhirnya kamu comeback juga dgn ff oneshootmu, yah meskipun aku paling nunggu kamu endingin dulu ff kamu yg polkadot man. penasaran berat soalnya. hihihi masih sama cast selalu LuTae. suka sama cerita disini, awalnya gak bisa nebak kalau taeyeon bakal pnya penyakit kayak giitu yg buat dia lupa sama kenangannya. oke saeng fighting ditunggu ff kamu yg lain. semangat!!!

  13. Hiks, bagus banget!!
    Bikin sesek hati tau gak. Terharu banget pas aku sadar inti dari cerita ini. Bener2 bikin nyesekk
    Cinta yg saling melengkapi. Aku suka banget tema cerita kyk gitu.
    Tuh kan bener. Kalo castnya LuTae, pasti ceritanya bener2 bikin aku bahagia 😂
    Tetep berkarya thor! Semangat!

  14. so sweet bgt.
    Meski dgn kekurangan, mereka saling melengkari.
    Dengan taeyeon menjadi kaki untuk luhan dan luhan menjadi ingatan taeyeon yg hilang.
    Q terharu bgt bacax.

  15. aku bacanya sampai nangis. sedih ama terharu banget. ini ff yang pertama yang buat aku nangis. aku suka moment nya. ya ampun sedih banget. Luhan kasian Taeyeon juga kasian. penuh dengan kesedihan. walaupun berakhir bahagia. aku terharu banget endingnya.

  16. aku bacanya sampai nangis. sedih ama terharu banget. ini ff yang pertama yang buat aku nangis. aku suka moment nya. ya ampun sedih banget. Luhan kasian Taeyeon juga kasian. penuh dengan kesedihan. walaupun berakhir bahagia. aku terharu banget endingnya. keren author nya buat cerita yang sad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s