Skellington [Part 20]

SKELLINGTON Part 20 by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar with EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04 | Part 05 | Part 06 | Part 07 | Part 08 | Part 09 | Part 10 | Part 11 | Part 12 | Part 13 | Part 14 | Part 15 | Part 16 | Part 17 | Part 18 | Part 19

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik aku melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing.

.

.

.

.

.

4 hari tersisa sampai kontrak Skellingtonku berakhir.

Taeyeon… Tolong!

DEG. Aku langsung menjatuhkan ponselku. Mengapa tiba-tiba aku merasa lemas? Aku sudah memastikan bahwa aku sudah sarapan sebelum pergi ke toko kue bersama Baekhyun. Tapi yang membuatku lemas adalah suara Kai yang terdengar ketakutan. Setelah menghilangkan keraguanku, aku mengambil kembali ponselku yang terjatuh, “Kai? Ada apa? Aku akan segera kesa—“

“Kau mau kemana, Taeyeon?” tanya sebuah suara tepat di belakangku. Baekhyun, dengan wajah polosnya menatapku dengan rasa ingin tahu yang besar. Apa yang harus kukatakan padanya? Apa yang harus kulakukan? Lagipula, apa yang sedang aku lakukan? Seharusnya aku tidak diam saja.

Taeyeon?” suara Kai terdengar sekali lagi dari seberang telepon.

Mianhae, aku akan segera ke tempatmu—“

Tidak perlu,” Sahut Kai cepat. Kali ini suaranya terdengar tenang, seperti suara Kai yang biasanya. “Kau sedang bersama Baekhyun, kan? Tidak seharusnya aku mengganggu kalian berdua.

Tidak ada keraguan sedikit pun yang terdengar dari suara Kai. Lalu kemana perginya suara bergetar yang penuh rasa ketakutan itu? “Tapi mengapa kau tadi minta tolong? Ceritakan padaku. Katakan padaku bahwa kau baik-baik saja.”

Aku baik-baik saja,” jawab Kai lembut. “Aku akan menjelaskan semuanya padamu lewat e-mail. Maaf sudah mengganggu waktumu.”

“Kai, tung—“ panggilan diputus oleh Kai dan membuatku semakin bingung. Sekali lagi aku mendongakkan kepalaku ke tempat Kai tinggal. Lantai 9 Phantom Apartment. Tapi sama sekali tidak ada sosok Kai di balkon. Mungkin dia ada di dalam. Tapi mengapa ruangannya terlihat sangat gelap?

“Taeyeon?” kali ini suara yang berbeda memanggilku dari belakang dengan nada datar. Pemiliknya adalah Byun Baekhyun, satu-satunya manusia –oh ya dia bukan lagi manusia—yang menungguku untuk masuk ke dalam toko kue fleur de lies. “Yang tadi telepon… Kai, ya?”

Aku menganggukkan kepalaku. Tapi pikiranku kembali lagi pada analisa-analisaku tentang kondisi Kai saat ini. Mobilnya ada di parkiran apartment, berarti dia tidak pergi kemana-mana. Tidak ada siapapun di balkon dan jendelanya tertutup rapat. Ruangannya gelap. Apa yang terjadi pada Kai?

“Bagaimana kalau Kai juga kita ajak kemari? Kita makan kue bersama Kai!” usul Baekhyun sambil tersenyum tapi aku tidak menghiraukannya. Aku hanya sedang menunggu satu hal. E-mail. Aku butuh e-mail dari Kai seperti aku kecanduan karenanya.

Tidak ada satu pun dari kami yang masuk ke dalam toko kue. Mengapa Baekhyun tidak meninggalkanku saja dan masuk ke dalam toko itu lebih dulu? Dia malah berdiri tegak seperti seorang butler. Untuk menghilangkan rasa bosannya, Baekhyun mulai bermain dengan lonceng yang ada di pintu toko. Bersamaan dengan suara lonceng itu, ponselku berbunyi menandakan ada e-mail yang masuk.

Maaf aku tidak cerita padamu sebelumnya, tapi kemarin aku pulang terburu-buru dari Rumah Sakit karena ayah dan ibuku pergi ke London untuk urusan pekerjaan. Aku membantu mereka berkemas dan mereka baru saja berangkat tadi pagi. Saat ini aku sedang menjaga rumah dan kupikir akan menyenangkan jika kau ada di sini bersamaku. Maaf sudah membuatmu khawatir, tapi aku baik-baik saja.”

            Begitulah isi e-mail dari Kai. Dasar pembohong. Dia pasti tidak baik-baik saja. Kai sudah pernah berkali-kali menceritakan padaku betapa besar rasa takutnya akan kesepian. Ini pertama kalinya Kai menjaga rumah. Dia pasti tidak terbiasa. Dia pasti ketakutan. Dia pasti tadi menghubungiku untuk memintaku menemaninya.

Dengan jari yang bergerak secepat kilat, aku mengirim balasan yang berbunyi, “Kau membuatku benar-benar khawatir. Aku akan segera ke tempatmu. Bukakan pintu untukku.”

Saat Baekhyun sekali lagi bermain dengan lonceng, balasan dari Kai masuk ke ponselku. “Tidak perlu. Aku akan coba menghubungi Taemin, mungkin dia mau menemaniku lagi. Terima kasih, Taeyeon.

Sepertinya hari ini otakku sensitif sekali. Aku langsung bisa mengetahui apa yang terjadi sebelumnya. Jadi pagi ini, orang tua Kai berangkat ke London. Kai ditugaskan untuk menjaga rumah sampai mereka kembali. Tadinya dia ditemani Taemin tapi sekarang dia sendirian karena mungkin Taemin ada urusan. Dia bermaksud untuk menghubungi Taemin dan bertanya apakah Taemin bisa menemaninya seharian.

Bunyi lonceng yang dimainkan Baekhyun terdengar lagi. Aku langsung menemukan ide yang bagus. Mungkin sebaiknya aku membeli kue secepatnya dan mampir langsung ke tempat Kai untuk menyerahkannya. “Baiklah. Tapi kau tidak akan keberatan jika aku mampir membawa kue, bukan? Aku akan membelikan milk crepe kesukaanmu.”

Baiklah. Akan kutunggu.” Jawab Kai singkat. Melihat balasannya yang selalu datang cepat, dia pasti terus-terusan memegangi ponselnya. Itu artinya dia benar-benar kesepian. Aku harus segera membeli kue.

“Baekhyun, ayo masuk ke dalam,” Ujarku cepat lalu Baekhyun mengangguk.

Saat tangan Baekhyun menyentuh kenop pintu, tiba-tiba pintu terbuka dari dalam, membuat Baekhyun terbentur pintu dengan sangat keras. Bunyinya seperti kau baru saja tertabrak tembok. Terdengar sakit bagi yang mendengarnya. “Aaaaw!” seru Baekhyun sambil memijat dahinya yang merah.

“Maafkan aku,” Kata sebuah suara yang tidak terdengar asing di telingaku. Aku pernah mendengar suara ini sebelumnya. Bukan hanya suara, tapi aku juga mengenal bau ini. Ini bau minuman keras. Bau yang sama dengan orang yang menabrakku di game centre Busan. Seorang wanita berambut cokelat panjang bergelombang.

“Hati-hati dong!” seru Baekhyun kemudian wanita itu membantunya berdiri tegak.

Gwechannayo? Mianhae, aku sedang buru-buru. Aku harus segera pergi.” Sahut wanita itu kemudian dia meundukkan kepalanya pada Baekhyun dan juga aku lalu berlari menuju jalan yang melintasi apartment Kai.

Aku tidak melihat dengan jelas wajahnya tapi kemungkinan besar dia wanita yang aku dan Kai temui di Busan. Aku hanya berpikir seperti itu karena baunya. “Baekhyun, apa kau mencium sesuatu dari wanita itu?”

Baekhyun terus memijat dahinya yang merah. Jujur, baru kali ini aku melihat Baekhyun –yang merupakan sebuah Skellington—meringis kesakitan hanya karena kepalanya membentur pintu kaca. Baekhyun mengangguk-angguk dan menjawab, “Bau kematian.”

Jelas Baekhyun masih kesal dengan wanita itu jadi aku hanya memutar bola mataku sebelum menarik tangannya dan masuk ke toko kue bernama fleur de lies itu. Interior tokonya benar-benar manis, seperti kau berada di negeri dongeng. Temboknya dihiasi wallpaper seperti di dalam hutan tempat peri-peri tinggal.

“Selamat datang!” sahut salah satu maid yang menyadari kehadiran kami lalu dengan segera, para pelayan yang lain menyahut dengan kata-kata yang sama. “Meja untuk dua orang, ya?”

“Kami akan segera pergi,” Ucapku cepat. Seakan bingung dengan perkataanku, sang maid mengangkat salah satu alisnya. “Ah, maksudku kami akan membeli beberapa kue untuk dibawa pulang.”

Sang maid mengangguk mengerti. Dia tersenyum sebelum berkata, “Mari ikut dengan saya.” Baekhyun jelas terlihat kecewa dengan pernyataanku. Mungkin dia ingin menikmati suasana di hutan peri sambil memakan kue-kue yang manis. Tapi sebenarnya tidak ada waktu untuk itu. Aku harus segera ke tempat Kai. Dan tentu saja aku tidak bisa meninggalkan Baekhyun sendirian jadi dia harus ikut denganku.

Sang maid yang kami ikuti membawa kami ke tempat kue-kue dipajang di dalam lemari kaca dengan suhu yang rendah. Dengan beragam macam kue yang ada di depanku, aku ingin membeli semuanya. Tiba-tiba aku langsung teringat akan pesan dari Solar. “Um, saya kemari atas nama Solar. Maksud saya Kim Yongsun.”

“Aaah, jadi anda tamu yang dikatakan oleh boss saya,” Ucapnya lalu tersenyum. “Boss saya dihubungi oleh Nona Yongsun tadi pagi dan berkata bahwa dia akan membeli beberapa kue dengan diwakili oleh seseorang. Boss saya berpesan pada kami bahwa perwakilan itu boleh mengambil sepuasnya tanpa membayar.”

Jinjjayo?” tanyaku lalu sang maid mengangguk cepat. “Kamsahamnida. Kalau begitu saya akan beli, ah maksudku saya akan ambil beberapa. Baekhyun juga, cepatlah pilih.”

“Oke, oke.” Jawab Baekhyun. Beberapa menit kemudian aku dan Baekhyun sudah memilih kue-kue yang akan dibawa pulang. Solar menitipkan cinnamon roll dan strawberry tart yang selalu dibelinya jika mampir kemari. Baekhyun yang polos memilih banyak kue tapi setelah aku membatasinya, akhirnya dia memilih cupcake, pound cake, yoghurt mousse, dan chocolate macaroon.

Minatku untuk makan kue berkurang setelah datangnya rasa cemasku terhadap Kai jadi pada akhirnya aku hanya membeli milk tea gelato. Aku juga tidak lupa membeli milk crepe untuk Kai. “Totalnya 8 kue, ya. Mohon tunggu sebentar.” Kata sang maid sambil membawa kue-kue pilihan kami.

Aku menatap Baekhyun yang masih terkagum-kagum dengan desain toko kue. “Sejak kapan kau menjadi maniak kue? Kau membuatku malu di depan maid itu.”

Baekhyun tertawa kecil. “Habis, mungkin ini kesempatan terakhirku bisa memakan kue-kue enak.” Jawab Baekhyun yang membuat hatiku sedikit perih. Seakan tahu bahwa dia telah memberi jawaban yang menyakitkan hati, Baekhyun mengedipkan mata kanannya dan berkata, “Tapi oreo pudding buatanmu paling enak, kok.”

Seperti diberi sesuatu yang manis, tubuhku reflek mundur beberapa langkah ke belakang dan wajahku bersemu merah. Byun Baekhyun keterlaluan. Bisa-bisanya dia mengatakan hal semanis itu padahal hatiku dipenuhi perasaan cemas dan khawatir. Sejak kapan dia menjadi pandai bicara? Aku jadi tidak tahu apakah dia serius atau tidak.

“Sudah selesai!” seru sang maid yang segera menghampiri kami dengan membawa kotak kue berwarna putih dengan logo toko kue fleur de lies. “Terima kasih sudah mampir dan kami akan menunggu kedatangan anda yang selanjutnya!”

Baekhyun menyambut kotak kue itu dengan tepuk tangan dan menerimanya dengan senang hati. “Terima kasih banyak, aku pasti akan menghabiskan kue-kue ini. Semangat terus kerjanya! Fighting!”

Tanpa membuang waktu, begitu keluar dari toko aku langsung menjelaskan segala hal pada Baekhyun yang intinya adalah kami harus segera menuju apartment Kai karena bisa gawat kalau Kai dibiarkan sendirian saja. Dia memang tidak akan berbuat macam-macam tapi Kai takut akan yang namanya kesepian.

Dengan segera kami berjalan menuju Phantom Apartment yang ada di sebelah toko kue. Sang resepsionis mengenalku dengan baik dan menyapaku dengan senyumannya. Tapi karena kami buru-buru, aku hanya menundukkan kepala sebelum menuju lift dan menekan tombol naik.

Lift yang turun terbuka beberapa menit kemudian dan yang ada di dalamnya adalah wanita yang tadi menabrak Baekhyun di toko kue. Aku tidak berusaha memikirkan alasannya berada di apartment ini. Yang menjadi perhatianku adalah jari-jari tangan kanannya yang mengeluarkan darah.

Aku segera masuk ke dalam lift bersama Baekhyun begitu wanita itu keluar. Tiba-tiba wanita itu menepuk bahuku dengan tangan kirinya yang bersih tanpa darah dan berkata, “Untuk selanjutnya kuserahkan padamu, ya.”

“Apa?” pintu lift tertutup begitu aku berucap. Apa maksudnya? Apa yang diserahkan padaku? Apa dia mau aku memanggil ambulans untuknya atau mengobati lukanya? Aku mengalihkan pandanganku pada Baekhyun setelah menekan angka 9 yang ada di deretan tombol. “Kau benar, Baekhyun. Wanita itu bau kematian.”

Kami tiba di lantai 9 dengan lancar. Di lantai 9 ada tempat untuk 4 keluarga. Keluarga Kai tinggal di kamar yang paling ujung, yang sekarang pintunya terbuka. Tunggu. Pintunya terbuka. Aku memang menyuruh Kai membukakan pintu, tapi yang membuatku cemas adalah pecahan kaca yang tersebar di dekat pintu itu.

“Apa… Yang terjadi?” gumam Baekhyun lalu aku segera berlari menuju pintu tersebut. Aku memperhatikan dengan teliti setiap pecahan kaca yang tersebar dan mendapati beberapa jejak darah di antaranya. Jadi wanita itu yang datang kemari. Mau apa dia memecahkan kaca?

“Kai.” Kataku pelan. “Di mana Kai?”

Tanpa memedulikan kondisi lantai yang benar-benar kotor, aku langsung masuk ke dalam untuk mencari sosok Kai. Yang pertama ditangkap oleh mataku adalah jendela balkon yang pecah. Mungkin pecahan kaca di depan tadi berasal dari jendela balkon itu. Kemudian mataku menangkap sosok Kai yang tergeletak di dekat pagar balkon.

“KAI!” aku segera berlari untuk menghampirinya. Kai pingsan, napasnya tidak teratur, keringatnya bercucuran deras, tapi yang paling penting, dia tidak mengalami luka apapun. Tubuhnya bersih tanpa lecet, memar, atau darah. “Ya Tuhan, syukurlah.”

“Taeyeon? Kau di ma… Wuah, Kai!?” seru Baekhyun dari belakangku.

Aku segera mengambil ponselku dari tas dan menyerahkannya pada Baekhyun. “Hubungi ambulans. Hubungi polisi juga. Dan yang terakhir, hubungi Taemin. Kau bisa melakukannya, kan?”

Baekhyun mengangguk cepat dan dengan gugup dia meletakkan kotak kue di bawah dekat kakinya dan menjauhi jendela balkon, mencari tempat yang tenang untuk menghubungi 3 nomor yang aku perintahkan.

Untuk selanjutnya kuserahkan padamu, ya.

Suara wanita yang tadi terngiang-ngiang di kepalaku. Jadi ini maksudnya? Dia menyerahkan Kai padaku setelah membuatnya seperti ini? Aku tidak mengerti. Siapa wanita itu? Apa maunya? Mengapa dia berkeliaran di dekatku, di dekat Kai?

.

.

.

.

.

Sebenarnya Kai tidak perlu dibawa ke Rumah Sakit tapi gara-gara kepanikanku, terpaksa Kai menghabiskan malamnya di ruangan yang serba putih ini. Menurut dokter, kondisinya fisiknya baik-baik saja tapi yang menjadi masalah adalah kondisi mentalnya.

“Pasien kekurangan oksigen di detik-detik terakhir.” Ungkap dokter. “Kau bilang kau menemukan jendela dalam keadaan pecah? Mungkin ada seseorang yang tahu dia tersekap di dalam dan memecah jendela untuk memberikannya udara.”

“Apa kau melihat orang yang memecah jendelanya?” tanya ayah Taemin yang menemaniku dan Baekhyun kemari. Beliau seorang polisi yang dulu pernah menyelamatkan Kai saat kecil. Dia tidak kalah panik dariku begitu aku menjelaskan kondisi Kai yang kutemukan dalam keadaan tak sadarkan diri.

Aku menggeleng cepat. Bukannya aku ingin melindungi wanita itu, tapi aku sendiri tidak yakin apakah wanita itu yang melakukannya. Darah di jari-jarinya tidak cukup untuk menjadi bukti. Lagipula aku tidak ingin dia berada di dekat Kai lagi. Seperti kata Baekhyun, dia bau kematian.

“Sebentar lagi pasien akan sadar. Besok pagi pasien sudah bisa meninggalkan Rumah Sakit.” Lanjut sang dokter. “Saya akan mengunjungi pasien lain. Jika membutuhkan sesuatu, tolong hubungi suster.”

Kamsahamnida, Seosangnim.” Ujar ayah Taemin sambil menundukkan kepala lalu aku dan Baekhyun melakukan hal yang sama. “Taeyeon, kau bisa menemani Kai di sini, bukan? Aku harus segera kembali ke TKP untuk mencari beberapa petunjuk.”

Ne. Terima kasih atas bantuan paman.” Balasku lalu ayah Taemin berlari dengan tergesa-gesa. Di saat seperti ini, Kai hanya mempunyai aku seorang. Ayah dan ibu angkatnya tidak berada di sisinya, aku harus menemaninya. Aku harus membuat dirinya tenang.

Tiba-tiba sebuah tangan memukul kepalaku dengan sedikit keras. Saat aku menoleh untuk mencari tahu siapa yang melakukannya, orang itu sudah duduk di bangku yang ada di sebelahku. “Dasar kau bodoh!”

“Taemin!” seruku lalu matanya menatapku tajam. Dia pasti sangat marah padaku. Sebagai teman pertama Kai setelah dirinya diselamatkan, Taemin sangat protektif terhadap Kai. Dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Kai. Seharusnya dia datang lebih cepat dan mendengarkan penjelasan dokter tadi.

“Kau ini sebenarnya siapa, sih? Kau benar-benar pacar Kai, bukan?” tanya Taemin dengan nada ketus. Setiap kali dimarahi Taemin, keberanianku langsung menciut. Aku kembali menjadi anak perempuan yang lemah dan pemalu. Dulu dia sangat menentang hubunganku dengan Kai. Aku berjanji tidak akan mengecewakannya, nyatanya aku melakukannya. “Hmm? Kok ada wangi manis?”

“Ah, ini ada kue.” Ujar Baekhyun sambil memperlihatkan kotak kue yang sedari tadi dibawanya. “Kalau kau mau, kau boleh ambil chocolate macaroon punyaku.”

Taemin mengerutkan kening. “Kau… Kau juga ada saat kita pergi ke Pulau Jeju, kan? Kalau tidak salah namamu Baekhyun—“ dengan segera aku menarik tangan Taemin dan menjauhkannya dari Baekhyun. “Kau mau apa?”

“Ikut denganku sebentar!” seruku lalu membawa Taemin beberapa meter jauhnya dari ruang inap Kai. Aku menjelaskan semuanya pada Taemin. Bagaimana aku menemukan Kai, bagaimana analisaku yang ternyata tepat sesuai perkiraan dokter juga kondisi Kai yang saat ini tidak perlu dikhawatirkan.

Taemin mendengus begitu aku selesai menjelaskan. “Jadi? Kau sekarang mau menyalahkanku yang tidak menemani Kai waktu itu? Dengar, aku juga punya pekerjaan, lagipula kau sebagai pacarnya—“

“Aku tahu siapa yang memecah jendela itu.”

“Apa?”

Aku mengangguk sambil menatap Taemin dalam-dalam. “Aku tahu siapa yang memecah jendela itu. Aku bertemu dengannya saat mau masuk ke dalam lift. Bukan hanya itu, tadi yang sudah ketiga kalinya kami bertemu.”

“Mengapa kau tidak mengatakannya pada ayahku?” tanya Taemin terlihat serius. Sepertinya aku berhasil mengembalikan kepercayaanku padanya. Dia jelas sama penasarannya denganku dengan sosok yang –bisa dibilang—telah menyelamatkan Kai.

“Karena aku sendiri tidak yakin siapa dia dan untuk apa dia melakukan itu.” Jawabku sambil menundukkan kepala. Dia memang sudah mencurigakan sejak kami pertama kali bertemu dengannya di game centre Busan. Tunggu. Busan. Ibu kandung. Jangan-jangan… “Taemin, apa kau tahu di mana ibu kandung Kai sekarang?”

“Ibu kandung Kai?” tanya Taemin kembali. “Mengapa kau bertanya—“

“Kalian berdua!” seru Baekhyun yang berlari ke arah kami. “Kai sudah sadar.”

Taemin segera menuju kamar inap Kai, lebih cepat dariku. Aku tahu dia mencemaskan Kai tapi tindakannya terlalu berlebihan. Begitu masuk ke dalam, aku langsung mendapat senyum dari Kai yang duduk tegak di ranjangnya. Dia terlihat segar, cerah, dan beberapa istilah lain yang berarti dia benar-benar sehat.

“Hai, Taeyeon. Aku mencium wangi milk crepe.” Ujar Kai lalu aku langsung tertawa. Aku menghampiri Baekhyun dan seakan mengerti maksudku, Baekhyun segera menyerahkan kotak kue fleur de lies padaku. “Dan wangi-wangi manis lainnya.”

“Kau benar.” Sahutku lalu menarik kursi terdekat agar aku bisa berada di dekat ranjangnya. Aku membuka kotak tersebut dan ajaibnya isinya benar-benar utuh, tidak ada kerusakan sedikit pun akibat guncangan. “Kau mau makan sekarang?”

Kai mengangguk sambil tersenyum. Aku segera membuka rak di samping ranjangnya dan mengeluarkan piring beserta sendok dan garpu. Tiba-tiba Taemin menghampiriku dari belakang dan berkata, “Mana chocolate macaroon milikku?”

“Memangnya Baekhyun sudah memberikannya padamu?”

“Dia sendiri yang menawarkannya padaku.” Ujar Taemin cepat lalu Baekhyun yang berdiri di belakangnya mengangguk. “Ngomong-ngomong kalian beli kue banyak sekali, ya. Strawberry tart itu punya siapa?”

“Itu punya adikku, Solar—“ seketika aku langsung teringat apa tujuan awal kami membeli kue-kue ini. Solar lah yang pertama kali menginginkan kue dan meminta kami untuk membelikannya. Aku telah membuat Solar menunggu sangat lama untuk cinnamon roll dan strawberry tart miliknya. “Baekhyun—“

“Iya, aku mengerti.” Dengan cepat Baekhyun mengeluarkan piring-piring lainnya dan mengeluarkan milk crepe milik Kai, gelato milk tea milikku dan chocolate macaroon yang diberikannya pada Taemin. Lalu dia menutup kembali kotak itu dan menentengnya sambil tersenyum. “Aku akan kembali ke apartment Solar.”

“Tidak apa-apa kalau sendirian?” tanyaku lalu Baekhyun mengangguk cepat. Sejujurnya aku sedikit cemas jika Baekhyun kembali sendirian ke apartment. Aku takut dia tersesat karena salah naik bis atau turun dari halte yang salah. Seketika sebuah ide cemerlang terlintas di benakku. “Aku akan menghubungi Wheein dan memintanya menemanimu.”

“Aku saja yang telepon.” Ujar Baekhyun lalu aku menyerahkan ponselku padanya. Tidak sampai 5 menit, Baekhyun kembali setelah menghubungi Wheein. Dia memutuskan untuk menunggu di depan Rumah Sakit agar Wheein tidak perlu repot untuk menemukannya.

“Hati-hati, ya.” Ucapku lalu melambaikan tangan pada Baekhyun. Begitu aku kembali menatap ranjang, Taemin sudah menghabiskan chocolate macaroon miliknya. Kai sedang berusaha memotong milk crepe dengan garpu kecilnya. Aku langsung meraih tangannya dan berkata, “Akan kusuapi.”

“Cih, pamer kemesraan.” Sahut Taemin dengan nada kesal. “Sekali lagi kalian bermesraan di depanku, aku akan memakan gelato milk tea punyamu, Taeyeon. Jujur saja, aku tidak kenyang. Baekhyun pelit sekali memberiku macaroon kecil.”

Aku langsung menatap Taemin dengan pandangan cemberut. Entah sejak kapan minatku terhadap kue kembali lagi dan aku tidak ingin menyerahkan gelato milk tea milikku padanya. Sambil memotong milk crepe aku membalas, “Kau beruntung karena kau diberi kue itu secara gratis.”

“Jadi aku harus membayar padamu?” tanya Kai sambil tersenyum membuat pipiku bersemu merah. Senyumnya begitu menyilaukan, aku tidak tahan ditatap olehnya. Aku bahkan tidak sanggup melihat matanya. Kai tertawa kecil lalu melanjutkan, “Bercanda.”

Aku menusukkan garpu ke potongan milk crepe dan memasukkannya ke mulut Kai yang terbuka lebar. Sudah lama aku tidak melakukannya. Baru kemarin bertemu, entah mengapa aku ingin lebih lama bersamanya. Aku menyukainya. Aku menyukai Kai seperti anak-anak menginginkan gulali kapas.

Kai mengambil garpu dari tanganku. Dengan perlahan dia memotong milk crepe dan mengarahkannya ke mulutku. Mau tidak mau aku membuka mulut dan membiarkan kue manis itu menjadi santapan lezat lidahku. “Enak.” Ucapku.

DEG. Entah sejak kapan aku berhasil menatap matanya. Mata Kai menyipit karena dia tersenyum. Mungkin dia sedang menahan tawa karena tanganku yang memegang piring dengan milk crepe sedang bergetar hebat. Jantungku menambah pacu adrenalinnya, yang berarti pertanda.

Dengan cepat Kai mencium bibirku lembut. Aku bisa merasakan milk crepe di lidahku yang manisnya menjadi berkali-kali lipat. Seakan tidak mau berhenti begitu saja, Kai menyentuh rahangku dan menarik wajahku sedikit. Aku berusaha meletakkan piring di rak dekat ranjangnya dan setelah berhasil kedua tanganku langsung menyentuh rambut Kai.

Ciuman kami berhenti karena suara Taemin yang sangat keras berseru, “Ah dasar! Padahal sudah kuperingatkan untuk tidak bermesraan di depanku.”

Aku dan Kai sama-sama tertawa. Jantungku tadi memberikan pertanda bahwa rekor saat-saat romantisku bersama Kai sebentar lagi akan pecah. Benar saja. Ini mungkin pertama kalinya kami berciuman dilihat oleh Taemin seorang. Ya, Taemin yang awalnya tidak setuju dengan hubungan kami.

Saking bahagianya, aku mencium Kai, membuat kami berada di masa-masa romantis kami sekali lagi. Aku bahkan tidak peduli dengan suara Taemin yang berkata bahwa dia akan melahap habis gelato milk tea milikku. Karena semua rasa yang kubutuhkan sudah kudapatkan dengan mencium bibir Kai yang masih menyisakan manisnya milk crepe.

“Sudah, sudah! Berhenti kalian berdua pasangan norak!” seru Taemin yang kali ini berhasil membuat kami menyerah di hadapannya. “Kai, setelah keluar dari Rumah Sakit tolong carikan aku perempuan cantik, ya? Kalau begini terus lama-lama aku akan menikah dengan gelato milk tea dan kue-kue lainnya!”

“Itu kalau Taeyeon mengizinkanku.” Jawab Kai yang membuatku tertawa kecil karena aku tidak mengerti maksudnya. Seharusnya hal seperti itu tidak perlu meminta izin dariku, kan? Tapi kira-kira apa reaksi Taemin seandainya aku tidak mengizinkan Kai mencarikan perempuan untuknya?

Ya, Taeyeon! Beri Kai izin untuk mencari jodohku.” Ujar Taemin dengan mata berbinar-binar yang sukses membuat aku dan Kai tertawa. “Ya ampun kalian berdua menatapku seolah aku tidak akan pernah bertemu dengan jodohku.”

Aku tersenyum. “Entahlah, Taemin. Kau kan sudah menghabiskan gelato milk tea-ku.” Ujarku lalu Kai mengedipkan sebelah matanya arti bahwa dia setuju. “Aku ingin beli minum. Kai, apa kau mau titip sesuatu?”

“Air putih saja.” Jawab Kai lalu aku mengangguk.

Pandanganku teralih pada Taemin yang sedang menunjukkan muka masamnya. “Taemin, apa kau mau ikut denganku?”

“Tidak, terima kasih. Aku akan tetap di sini, merayu Kai agar dia mau mencarikanku pacar.” Jawabnya lalu sekali lagi aku dan Kai tertawa. “Tapi kalau kau tidak keberatan, tolong belikan aku coca cola.”

Aku mengangguk dan segera berjalan menuju pintu lalu keluar dari ruang inap Kai. Sebelumnya aku memastikan bahwa aku tidak meninggalkan tas tanganku yang berisi ponsel dan dompet di dalam. Begitu suster memberitahuku bahwa aku bisa membeli minuman di lantai satu, aku langsung menuju lift untuk turun 7 lantai.

Begitu aku masuk lift dan hendak menutupnya karena tidak ada satu orang pun yang akan turun bersamaku, tiba-tiba terdengar langkah kaki yang sangat cepat menuju kemari dan masuk ke dalam lift. Pemilik langkah kaki tersebut adalah wanita dengan bau kematian yang tersenyum padaku. Wajahnya mengingatkanku pada seseorang.

“Terima kasih, ya? Aku percaya kau pasti akan membawa anak itu kemari.” Ujarnya, masih sambil tersenyum. “Namaku Euijin. Kau mau menemaniku jalan-jalan?”

Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti apa yang diinginkan wanita ini. Sejak awal siapa yang menjadi targetnya? Bukankah jika dia menolong Kai berarti selama ini dia mengawasi Kai? Lalu mengapa sekarang seolah-olah aku terjebak menjadi mangsanya? “Maaf?”

Wanita itu mengibaskan rambut cokelat panjangnya ke belakang dan tersenyum. “Aku akan menceritakanmu beberapa hal menarik jika kau mau menemaniku jalan-jalan. Bagaimana? Kau penasaran, bukan? Kim Taeyeon-ssi?”

“Bagaimana anda tahu nama—“

“Itu hal mudah. Tapi aku tidak akan memberitahukannya padamu jika kau tidak mau menemaniku.” Dengan terpaksa aku mengangguk. Wanita itu terlihat sangat senang. Dia bersandar pada dinding lift dan menatapku dengan tajam. Aku berusaha mengalihkan pandanganku darinya.

“Bagaimana kalau aku mulai dengan berkata bahwa aku adalah ibu kandung Kim Jongin?” tanya wanita itu bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. “Ah, maksudku Kai.”

BERSAMBUNG

Annyeonghaseyo, scarlettkid di sini. Tidak terasa sudah sampai part 20. Apakah aku berhasil memberikan cerita yang bagus pada kalian sejauh ini? Di part ini terungkap bahwa wanita misterius itu adalah ibu kandung Kai. Aku menamainya Euijin. Cara membacanya adalah “Yujin.” Aku mendapatkan namanya dari karakter yang diperankan GG Sooyoung di sebuah drama.

Oh ya bisa kalian usulkan padaku dua tokoh laki-laki yang pantas dibuat fanfiction bersama Taeyeon? Kalau bisa bukan member exo atau anak sm ent yaa 🙂

Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, ya!

Part 21 will be published April 2nd 2016

Advertisements

56 comments on “Skellington [Part 20]

  1. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s