[FREELANCE] Pearl Rain (Chapter 1)

[1st CHAPTER] – PEARL RAIN

1457538370040

Title: Pearl Rain | Author: Fearlessais_ and L.Kyo | Picture BaekYeon by Jungleelovely @ Poster Channel | Cast: Kim Taeyeon (SNSD), Byun Baekhyun (EXO), Kim Minseok / Xiumin (EXO) | Genre: Fantasy, Romance, Fluff, Sad | Genre: PG-17 | Lenght: Chaptered | Disclamer: This story is Baekyeon Fanfic Collaboration from Fearlessais_ and L.Kyo.Don’t plagiarize or copy without my permission.

 

Summary: Kau hanyalah sosok dua demensi, yang bisa kupandang dalam bentuk layar semu. Namun bisakah sosok semu itu menjadi nyata? Sebentar saja, sekali saja aku menatap dan menyentuhmu dengan tanganku.

 

H A P P Y   R E A D I N G

 

“…6…7…8…9..” Tangan putih pemilik nama Kim Taeyeon itu sedang berkonsentrasi menghitung titik hujan, menanti tiap setetes air jatuh dari dedaunan lebar bunga yang berada dihadapannya. Hazel matanya seakan enggan untuk menatap keadaan sekitar.

 

“Kim Taeyeon!”

 

Taeyeon tersentak kaget ketika mendengar seseorang memanggil namanya dengan lantang. “Ya! Xiumin-ah!” Tentu saja konsentrasinya buyar saat sang sepupu berhasil menghancurkan hitungannya.

 

Xiumin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi terkejut yang Taeyeon tunjukkan. Sepupunya itu sangat lucu ketika terkejut, lihat saja bola matanya membulat dan umpatan yang memang ia yakini sudah Taeyeon simpan rapat dihatinya.

 

Ahjumma menyuruhmu ke dalam” ujar Xiumin seraya mendekat ke arah Taeyeon, masih dengan senyum gelinya. “Lagipula, apa yang kau lakukan di sini sendirian?”

 

Xiumin berdiri di samping Taeyeon. Sama-sama menengadahkan telapak tangannya, lalu menampung rintik-rintik hujan yang jatuh melalui celah daun. “Tidak apa. Aku hanya bosan.” Taeyeon memandang Xiumin sekilas. Lalu, pandangannya ia alihkan pada hujan yang masih setia turun dengan derasnya.

 

“Rasanya menyenangkan.” Xiumin mencoba membuka percakapan yang sempat tertunda beberapa menit yang lalu. “Apa?” Alis Taeyeon terangkat, melihat Xiumin justru sIbuk dengan genangan air hujan ditangannya.

 

“Melihatmu tersenyum dibalik hujan. Seperti tadi. Sebelumnya kau tak pernah tersenyum seperti itu, semenjak ….” Xiumin terdiam, mencoba menggantungkan kalimatnya. Gadis disampingnya terdiam lalu pria itu bisa mendengar Taeyeon hanya menghela nafasnya malas.

 

“Aku akan masuk” Tanpa aba-aba, Taeyeon berjalan menjauh dari Xiumin. Ia terlalu malas untuk sekedar mendengar lanjutan dari ucapan Xiumin. “Taeyeon-ah” Merasa kata-katanya menyinggung, Xiumin menarik lengan Taeyeon untuk menghentikan lajunya.

 

“Apa? Kau bilang Ibu menyuruhku untuk masuk bukan? Sekarang aku ingin masuk. Ada yang salah?” Nada Taeyeon terdengar sinis. Merasa Taeyeon terlihat marah, Xiumin menggeleng lalu melepas genggamannya. Taeyeon tampak tidak peduli dan melanjutkan berjalan ke dalam kamar.

 

Kini tinggal Xiumin sendirian. Berada di balkon kamar milik Taeyeon. Bibirnya tersungging, menatap jauh dihalaman sana. “Terima kasih karena membuat Taeyeon kami tersenyum kembali. Aku berharap kau akan terus datang dan sebagai penyejuk hatinya” gumam Xiumin lirih.

 

***

 

Ya! Taeyeon-ah!” Taeyeon berdehem, masih terfokus pada buku tebal dihadapannya, tak mempedulikan panggilan yang sudah berkali-kali dilontarkan Yuri. “Taeyeon-ah!” Dan pada akhirnya, satu nada oktaf tinggi membuat Taeyeon berbalik dengan malas. “Ada apa? Kau tidak lihat aku sedang sIbuk?”

 

Namun Yuri tak peduli, justru menunjukkan beberapa kaset dengan gambar animasi tak kalah menarik “Ada animasi baru, kau mau lihat?” Ia sangat bersemangat untuk menunjukkan karakter utama animasi tersebut. Namun, Taeyeon yang tengah membaca buku, tampak menunjukan wajah malasnya.

 

“Aku tidak butuh itu Yuri-ya!” Yuri tampak cemberut mendengar ucapan Taeyeon. Sedangkan Taeyeon? Ia tampak tidak peduli dengan perubahan wajah Yuri. Ia terlalu asyik dengan buku yang ia baca sekarang. “Jika kau melihat ini, aku yakin kau akan jatuh cinta pada karakter utamanya.” Lanjut Yuri yang masih berusaha menyakinkan Taeyeon. Taeyeon hanya merotasikan bola matanya bosan.

 

“Aku tidak ingin melihatnya” Justru Taeyeon membalikkan badan, memunggungi Yuri yang masih sIbuk membolak balikkan kasetnya. “Oh ayolah Taeyeon-ah. Karakter anime ini bahkan lebih tampan dari Baekhyunmu” Bujuk Yuri lagi. Oh itu tidak seperti bujukan bagi Taeyeon, melainkan sebuah sindiran.

 

“Aku tidak peduli! Sudahlah.” Muak. Mungkin kata itu yang tepat bagi Taeyeon. Untuk pertama kalinya, Yuri sukses membuat Taeyeon marah. Tidak biasanya Yuri seperti itu. “Kau ingin pergi kemana?” Tanpa menjawab pertanyaan Yuri, Taeyeon berdiri dari duduknya, lalu menutup bukunya dengan keras. Berjalan melewati Yuri yang memandangnya heran.

 

Satu hentakan pintu tertutup membuat Yuri shock dan melemparkan tubuhnya kekamar Taeyeon. “Whoa gadis itu. Apa ia sedang marah sekarang? Bagaimana bisa ia tergila-gila pada Baekhyun? Bahkan Baekhyun hanyalah gambar dua dimensi. Ia benar-benar sudah gila.”

 

***

 

Hari minggu adalah hari yang paling dinantikan oleh Taeyeon. Pasalnya, ia bisa sepuasnya menonton Baekhyun di laptopnya. “Baekhyun-ssi! Kau benar-benar terihat tampan sekali.” Taeyeon bergumam dan menyentuh pipi Baekhyun dibalik layar dengan gemas.

 

Entah sudah berapa kali Taeyeon menonton anime Rain Man, namun gadis berusia 18 tahun itu tidak pernah merasa bosan. Terlebih ketika adegan seorang gadis yang tengah menghitung rintik hujan yang mengenai telapak tangannya. Dan dari butiran-butiran hujan itu, munculah sosok lelaki dengan wajah malaikatnya. Dia adalah Baekhyun.

 

“Baekhyun benar-benar tampan” Girang Taeyeon. Ia tak henti berteriak kala Baekhyun muncul dengan wajah super kerennya. “Wajahnya benar-benar seperti air hujan. Menyejukkan” gumam Taeyeon lagi.

 

‘Taeyeon-ah.” Karena terlalu fokus dan seriusnya, Taeyeon bahkan tidak sadar jika sedari tadi Xiumin meneriaki namanya. Merasa tak ada respons, Xiumin mendekatkan bibirnya disamping telinga sepupu Taeyeon Xiumin menarik nafas dalam-dalam dan ….

 

“Taeyeon-ah!!!” Dan pada akhirnya sasaran empuknya tersentak. Tatapan murka dari Kim Taeyeon sudah membuat Xiumin bergidik ngeri. “Ya!!” Taeyeon terlonjak kaget ketika seseorang menepuk pundaknya keras. Ia bahkan tersungkur ke lantai saking kagetnya.

 

“Hahaha.” Bukannya membantu justru Xiumin tertawa terbahak-bahak. Ayolah, itu adalah hal yang tidak disukai Taeyeon. ‘Xiumin lagi’ Batin Taeyeon. Taeyeon menghela nafas panjang seraya mengelus lututnya yang sudah berciuman dengan lantai.

 

“Taeyeon-ah, kau lucu sekali ….” Pletak! Satu pukulan mendarat bebas dikepala Xiumin, alhasil Xiumin terdiam dan sebaliknya sIbuk mengusap puncak kepalanya.“Apa yang kau lakukan?” Bukan sebuah senyuman yang kini bertengger di wajah tampan Xiumin, melainkan sebuah ekspresi yang sulit diartikan.

 

Taeyeon tertawa terbahak-bahak melihat Xiumin yang mengelus kepalanya dengan cepat. “Kau tahu? Wajahmu sangat jelek saat seperti itu.” Dan kini Taeyeon yang mulai bahagia saat Xiumin meratapi nasib sakitnya dikepala.

 

“Apa yang kau lakukan? Ini benar-benar menyakitkan!” Xiumin tak henti mengeluh, ia lalu duduk disamping Taeyeon, memperhatikan segurat animasi bergerak dihadapannya. Taeyeon terkikik pelan. “Maaf. Lagipula itu salahmu karena mengejutkanku tadi.”

 

Taeyeon tampak merasa bersalah pada Xiumin. Wajah Xiumin sekarang merah padam menahan sakit. “Lain kali, aku tidak akan memberikan anime buatanku.” Ancam Xiumin. “Tidak perlu. Masih ada Baekhyun. Itu sudah cukup bagiku” ujar Taeyeon santai. “Ya! Kau tidak bosan? Kau terus menonton Rain Man!

 

Taeyeon menggeleng. “Kalau begitu kau gila.” Ujar Xiumin disambut dengan tatapan murka Kim Taeyeon. “Kau yang gila Xiumin-ah! Ya! Kenapa kau bisa membuat anime sekeren ini?” Taeyeon menunjuk sesosok tokoh animasi berpakain biru yang sedang memerintahkan hujan turun.

 

Xiumin tersenyum bangga kala Taeyeon menyebutkan kata ‘keren’ untuk animasi yang ia buat. “Tentu saja ! itu karena aku tampan, apapun yang aku buat pasti akan terlihat keren.” Xiumin bangga, tentu saja. Animasi yang ia buat sudah membuat Taeyeon seakan tergila-gila dengan sang tokoh pria.

 

“Tapi, aku tidak suka dengan karakter wanitanya” Ujar Taeyeon dengan wajah berkerut. “Heol, jangan bilang kau … cem—buru Kim Taeyeon?” Dan yap! Benar yang dikatakan Xiumin, Taeyeon pun mengangguk polos.

 

“Astaga Taeyeon-ah! Itu bahkan hanya animasi. Dan kau cemburu?” Xiumin tak percaya. Baekhyun adalah tokoh ciptaannya yang datang dari otak amburadulnya, dan hasil karyanya itu benar-benar berhasil membuat Taeyeon terhipnotis.

 

Heum. Aku bahkan ingin merobek wajah cantiknya. Baekhyun bisa saja mencintainya bukan?” Taeyeon seakan ingin meremat layar komputernya jika sang tokoh wanita berhadapan dengan Baekhyun. Xiumin ternganga mendengar apa yang barusan Taeyeon katakan. Tangannya dengan refleks menyentuh dahi Taeyeon.

 

“Tidak demam” gumam Xiumin. Dan Taeyeon menghempaskan tangan Xiumin yang sempat mengecek dahinya. “Ya!! Aku tidak sakit!” Geram Taeyeon. “Ya, kau memang tidak sakit, tapi sepertinya jiwamu ….” Telunjuk Xiumin berputar mengarah pada kepalanya, namun …

 

Plak!

 

Untuk kedua kalinya. Lagi. Taeyeon memukul kepala Xiumin. Kali ini ia menggunakan penggaris. Xiumin tentu saja mengerang kesakitan. “Ough, Kim Taeyeon! Kau benar-benar tidak waras!” Teriak Xiumin seraya berlari meninggalkan Taeyeon yang tersenyum penuh kemenangan.

 

***

 

Taeyeon POV

 

“K—au datang? B—Baekhyun?”Aku tak percaya, sesosok itu. Sosok indah nan tampan berada didepan mataku. Dan lihatlah, sesuatu yang semu seakan menjadi nyata. Aku bisa merasakan dadanya bergerak, seakan menghirup oksigen sama sepertiku.

 

‘Eum. Bukankah kau memanggilku tadi? Sekarang aku benar-benar datang untuk menemui mu’ Lelaki itu tersenyum, melangkah mendekat. Rasanya tubuhku bergetar saking bahagianya.

 

Aku tidak percaya ini! Seseorang yang tersenyum di hadapanku sekarang adalah Baekhyun! Byun Baekhyun! Sesosok animasi yang kini menjadi sesosok manusia yang nyata.

 

“Kau asli?” Aku bertanya ragu. Takut jika ini hanyalah mimpi belaka. Baekhyun mengangguk. Ouh God, ia sangat tampan. “Bolehkah aku menyentuhmu?” Kuangkat tanganku dan seakan ingin menggapai tubuhnya.

 

Baekhyun mengangguk lagi. Rasanya begitu gugup. Bahkan kaki ku bergetar sedari tadi. Tatapan mata Baekhyun sungguh memikat. Seperti malaikat!! Kulitnya yang putih terasa sejuk ketika kusentuh. Bola matanya yang hitam sungguh menawan. Bibir mungilnya yang tipis, euw—bolehkah aku mengatakan ini?

 

Euw, sungguh menggoda.

 

“Kau sangat cantik Taeyeon-ssi” Dan suara lembut itu menyebut namaku. Seolah sistem kardiovaskuler terhenti, aliran darah berhenti mengalir. Apa barusan Baekhyun menyebutkan namaku? Baekhyun tahu namaku? Dan apa tadi aku tidak salah dengar? Baekhyun bilang aku cantik? Ouh, rasanya aku ingin terbang sekarang.

 

“Bagaimana kau tahu namaku?”Baekhyun tertawa pelan. Bahkan ketika tertawa, Baekhyun masih terlihat tampan! Bahkan sangat tampan! “Tentu saja” Langkah lelaki itu semakin mendekat, semakin sangat dekat.

 

“A … aku ingin memelukmu Baekhyun, boleh—kah?”Kembali kumeminta permintaan dengan ragu. Oke. Aku seperti gadis murahan sekarang. Tapi aku tidak peduli. Sekali lagi, Baekhyun mengangguk. Tanpa pikir panjang, aku berlari memeluknya dan …

 

Byur!

 

Heih? Baekhyun telah berubah kembali menjadi rintik hujan? Secepat itukah? Kenapa rasanya dingin sekali? “Ya! Gadis pemalas ! Ireona!! Ireona!” Suara nyaring berhasil membuat mataku terbuka. Oh, kenapa pandanganku berubah menjadi langit-langit kamar. Damn. Kenapa aku tiba-tiba berada di kamar? Dan siapa penyihir yang memukul bokongku dengan keras dan berhasil membuatku basah kuyup?

 

Wait. Kamar? Penyihir?“Sialan! Ternyata hanya mimpi!!”Ibu tampak terkejut melihatku yang terbangun sambil mengumpat murka. Aku tidak peduli jika Ibuakan memarahi ku. Andai saja tadi Ibu tidak membangunkanku, pasti aku …

 

Ibu! kenapa Ibu membangunkanku tadi? Ibu tidak lihat aku sedang bermimpi indah?” Aku berniat menarik selimutku karena udara dingin pagi serta tubuhku yang sudah basah kuyup karena ulah Ibu. Namun Ibu kembali menarik selimutku dan membuang asal dilantai.

 

“Lihatlah jam di dinding kamarmu itu! Dan ough—kau begitu menakutkan Taeyeon-ah. Sekarang cepatlah mandi!” Ujar Ibu seraya berlalu meninggalkan ku yang seperti orang gila.

 

“Aku masih mengantuk. Apa sebaiknya aku tidur lagi? Mungkin saja mimpi tadi bisa berlanjut” Senyum Taeyeon tersungging, kembali ia mengambil selimut dan menariknya sampai kepala. Sebelum ia menutup matanya, “Taeyeon-ah! Cepatlah ! Kau bisa terlambat sampai ke Sekolah!” Suara melengking Ibu terdengar ke segala penjuru. Terpaksa aku harus bangun sebelum Ibu menyeretku untuk bangun.

 

Ibu cerewet sekali. Lagi pula ini masih terlalu pagi untuk ke Se—“ Shit! 07.36 KST! “Sialan! Kenapa alarm ku sama sekali tidak berbunyi?” Taeyeon berteriak frustasi, ia segera turun dan mengambil handuk. Ia harus segera mandi sebelum ia mendapatkan hukuman lagi.

 

***

 

Author POV

 

Hujan mengguyur kota Seoul ketika Taeyeon baru selangkah meninggalkan pekarangan rumahnya. Dengan terpaksa Taeyeon berlari menerobos hujan. Ia terlalu enggan untuk berbalik mengambil payung yang lupa ia bawa tadi. Ditambah lagi ia terlambat. Baiklah, ini adalah hari tersialnya. Pintu gerbang sebentar lagi ditutup. Ditambah hujan gerimis yang sudah membuat seragam Taeyeon sukses basah kuyup.

 

“Paman, tunggu sebentar! Paman! Jangan tutup ….” Dan helaan kecewa Kim Taeyeon seakan membuat penjaga Sekolah tak peduli dengan nafas memburu Taeyeon. Terlambat. Padahal sedikit lagi Taeyeon sampai. Tapi Paman penjaga gerbang segera menutup gerbangnya.

 

‘Sial’ batin Taeyeon. “Maaf nona, sepertinya hari ini kau harus berurusan dengan Mrs. Jung.” Taeyeon tak terima, sungguh. “Paman Song! Mrs Jung tidak akan mengetahuinya, Paman Song! 5 detik saja! Sungguh, itu tidak akan membuat Paman dipecat. Jadi bantu aku, sekali … saja!”

 

Taeyeon mencoba beraegyo, namun sang Paman menggeleng lalu berjalan menuju Pos. Satu umpatan kembali meluncur dari bibirnya. “Sialan! Paman tua satu ini benar-benar tidak tahu pemikiran anak muda. Apa ia sama sekali tak punya hati naruni melihat seragamku. Kenapa orang-orang begitu menyebalkan!”

 

***

 

Di sinilah Taeyeon sekarang. Berdiri di samping kelasnya dan menghadap ke arah bendera. Sungguh, ini adalah hukuman yang paling kekanak-kanakan bagi Taeyeon. Namun, setidaknya ini lebih baik dibandingkan harus mengepel seluruh ruangan kelas.

 

“Menyebalkan sekali! Bahkan perawan tua itu tidak mengijinkanku mengganti seragamku? Ough, yang benar saja!” Gerutu Taeyeon. Ia berkali-kali meremas roknya yang sudah basah kuyup. Sinar matahari tak tampak, tak ada harapan untuk mengeringkan seragamnya lebih cepat.

 

Blush. Semerbit angin datang menerpa tubuh Taeyeon. Bukan hawa dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya, melainkan hawa hangat. Terpaan hangat itu seakan terasa seperti terpaan sinar matahari. Tapi, ini mendung, hujan gerimis. Lalu darimana datanganya hawa hangat itu?

 

“Angin tadi … entah kenapa serasa seperti pelukan Baekhyun.” Taeyeon memejamkan mata, merasakan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tak tahu dimana datangnya dan mungkin khayalan Taeyeon yang sudah semakin memuncak, harapan tinggi untuk bertemu Baekhyun dikala hujan. Bisa saja, perasaan yang ia rasakan nyata.

 

 

Flashback

 

“…6…7…8…9..1–”

 

Tes.

 

Itu adalah tetesan ke-10 yang jatuh mengenai telapak tangan Taeyeon. Xiumin yang berdiri di hadapan Taeyeon, tampak terkejut kala ia melihat bayangan seseorang yang Ia kenal.

 

‘B—aekHyun?’ batin Xiumin.

 

Xiumin tampak tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Namun ia berusaha bersikap biasa saja di depan Taeyeon.

 

“Ahjumma menyuruhmu ke dalam”Pinta Xiumin. Xiumin berusaha berbicara senatural mungkin. Namun tidak mengalihkan pandangannya pada sosok Baekhyun. Sesosok itu, tepat berada di belakang Taeyeon.

 

 

Baekhyun POV

 

Sebuah cahaya putih mendorong tubuhku ke suatu tempat. Aku ingin memberontak. Hanya saja, semakin aku memberontak, semakin aku terdorong lebih dalam. “Apa ini? Di mana ini?” Aku seakan terjungkal masuk dalam sebuah lubang, seperti black hole yang menghisap tubuhku      kedalam dunia lain.

 

Heih? Apa ini aku? Aku tidak percaya ini. Aku terlahir? Benarkah? Kutengadahkan tanganku, ini nyata. Aku bisa menyentuh daging dibalik kulitku. Kuraba dadaku, aku bernafas. Lihatlah, aku bisa menghirup udara yang dinamakan oksigen oleh manusia.

 

Ya! Xiumin-ah!” Sebuah suara berhasil membuatku tersadar dan seorang gadis didepanku yang sedang berteriak. Kuikuti arah matanya dan tanpa disengaja, tatapan mataku bertemu dengan mata orang lain, lelaki itu menatapku dengan kejutnya setengah mati.

 

Aku memandangnya heran. Namun lelaki itu masih bersikap biasa saja. Tetapi, ada sesuatu yang membuatku tertarik. Seorang gadis berada didepanku sekarang. Ia sedang fokus menatap genangan air hujan ditelapak tangannya yang putih pucat. Apakah ia yang melakukannya? Apakah ia yang membuatku terlahir kembali?

 

Aku tidak tahu. Tetapi, entah mengapa aku benar-benar yakin. Sekelebat, suara seseorang berdengung di indera pendengaranku. Dan suara itu seakan tak asing lagi untukku. Kututup mataku, mencoba mendengar suara yang tiba-tiba datang begitu saja.

 

‘Kau bisa terlahir. Namun untuk terlahir bukanlah hal mudah. Tetapi kau tidak perlu cemas. Suatu saat nanti, ketika ada seseorang yang benar-benar mempercayai keberadaanmu dan menganggap mu benar-benar ada, saat itulah kau bisa terlahir’

 

Kubuka mataku sejenak. Apakah suara itu yang dimaksud adalah gadis ini? Atau mungkin laki-laki yang barusan melihatku? Entahlah. Tapi rasanya aneh ketika aku melihat gadis itu. Didalam pikiranku, sungguh. Aku seakan pernah melihat gadis ini berjam-jam. Apakah aku mengenalnya? Siapa dia?

 

Flashback END

 

-TO BE CONTINUE-

 

Advertisements

59 comments on “[FREELANCE] Pearl Rain (Chapter 1)

  1. yaaaa baekyeon ♥
    cerita bener2 beda bnget sma ff yg pernah aku bacaaa,.
    bisa aja thor buat ceritanyaaa
    aku sukaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s