Skellington [Part 19]

SKELLINGTON Part 19 by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar with EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04 | Part 05 | Part 06 | Part 07 | Part 08 | Part 09 | Part 10 | Part 11| Part 12 | Part 13 | Part 14 | Part 15 | Part 16 | Part 17 | Part 18

Poster by Gitahwa @ Home Design

Desclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik aku melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing.

.

.

.

.

.

            5 hari tersisa sampai kontrak Skellingtonku berakhir.

Saat ini aku benar-benar marah, kesal, dan tidak tahu harus melampiaskan emosiku ke mana. Kenyataannya selama ini adikku sendiri telah menyembunyikan sebuah fakta besar di belakangku. Aku tahu bahwa setiap orang memiliki rahasia tapi jika rahasia itu menyangkut nyawa, itu sudah bukan rahasia lagi.

Harus kuakui bahwa Solar pandai berbohong. Dia telah berhasil membuatku menjadi kakak perempuan paling payah di dunia. Aku, Kim Taeyeon, kakak dari Kim Yongsun, tidak mengetahui penderitaan adikku sendiri. Apanya yang saling berbagi susah dan senang? Apanya yang saling mendukung dan melengkapi? Kami bahkan tidak mendekati huruf S dari kata Saudara.

Setelah kami semua kembali dari Pulau Jeju, ditemani Wheein dan Gikwang, Solar memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Awalnya Solar berpikir bahwa penyakitnya adalah flu biasa karena saat di Pulau Jeju dia hanya mengalami demam. Ternyata masalahnya lebih dari itu.

“Kanker paru-paru.” Kata sang dokter begitu aku menanyakannya pagi ini. “Dia telah menghirup gas-gas beracun dan berbahaya dalam jumlah yang sangat besar. Tubuhnya tidak membentuk kekebalan secara otomatis terhadap gas-gas itu.”

“Dia selalu tersenyum.” Ucap Wheein saat menemaniku masuk ke gedung Rumah Sakit. “Setiap kali aku datang menjenguk, dia selalu tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.”

“Kesempatan Solar untuk hidup memang tidak besar.” Ungkap Gikwang saat aku bertemu dengannya di ruang tunggu Rumah Sakit. “Tapi apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di sisi Solar. Kenyataannya terlalu pahit tapi senyumannya terlalu menyilaukan. Dia tidak pantas mendapat takdir seperti ini.”

Sekarang aku berada di ruang tunggu Rumah Sakit di mana aku diam-diam datang tanpa sepengetahuan Solar. Kemarin saat dalam perjalanan kembali ke Seoul dari Busan, Solar tidak mengangkat panggilan teleponku. Akhirnya aku memaksa Wheein untuk membeberkan semua yang dia ketahui.

Wheein mengungkapkan bahwa sejak mengetahui soal penyakitnya, Solar sangat berhati-hati jika melakukan kemoterapi. Dia berusaha agar tidak ada yang tahu akan kunjungannya ke Rumah Sakit. Yang selama ini tahu hanyalah Gikwang dan Wheein. Lalu yang mengejutkan, semua foto yang selama ini dikirim dari Solar untukku adalah foto-foto lama Solar yang dia persiapkan jika aku menanyakan kabarnya.

“Tapi dia… Bisa hidup kembali, bukan?” tanya Baekhyun. Baik Gikwang maupun Wheein tidak ada yang menjawab. “Mengapa kalian putus harapan? Bisa saja pengobatannya berhasil, bisa saja sel-sel kankernya tidak berkembang, bisa saja—“

“Kondisi mental Solar sudah sangat buruk.” Sebuah suara terdengar dari belakang kami semua. Orang itu tidak berpenampilan seperti biasanya, dia melepaskan jas laboratoriumnya dan mengurai rambut panjangnya ke belakang. Orang itu adalah Jessica. “Setelah apa yang telah dilakukannya, Solar sering menyalahkan dirinya sendiri dan kehilangan tujuan hidup. Besarnya rasa penyesalan yang diterima Solar… Sama kuatnya dengan sel-sel kanker yang ada di paru-parunya.”

Secara realistis dan ilmiah –aku tidak pandai sains sebenarnya—yang patut disalahkan adalah Jessica. Gas-gas beracun yang dihirup Solar berasal dari gedung Skellington, tepatnya di bagian pabrik bawah tanah. Solar yang diajak Jessica untuk bekerja bersamanya dalam proyek Skellington menyebabkan Solar harus sering berada di tempat gelap dan tipis udara.

Sebenarnya Solar sudah melengkapi prosedur keamanan. Dia sudah memakai jas laboratorium, selalu memakai masker, dan goggle glass yang melindungi mata dari iritasi. Tapi tetap saja gas-gas yang ada di sana dapat dengan mudahnya dihirup oleh Solar. Yang membuat sel-sel kanker tumbuh di paru-parunya adalah karena Solar tidak terbiasa dengan gas-gas tersebut.

Selama ini dia tumbuh dan berkembang di lingkungan yang benar-benar bersih. Dia jarang menghirup udara kota yang tercemar karena sepulang sekolah dia akan segera pulang ke rumah. Solar jarang beraktifitas di luar. Tubuhnya benar-benar sehat dan damai. Sampai gas-gas beracun itu masuk ke dalam paru-parunya.

“Jadi kau ingin menyalahkan Baekhyun?” tanya Kai pada Jessica. Siapapun yang mengetahui keadaan yang sebenarnya mengerti bahwa kemungkinan Solar putus asa dalam hidup karena tindakan gegabahnya –memberikan Baekhyun serum ingatan—telah menyebabkan proyek Skellington serta hidup Baekhyun berada di ujung tanduk.

CKLEK! Pintu terbuka dan dengan santainya sosok perempuan yang sedari tadi kami bicarakan keluar sambil tersenyum. Tapi matanya yang tenang dan sayu seketika membulat karena kehadiran beberapa orang yang tidak diharapkannya. “Eonni? Kai… Sampai Baekhyun juga? Mengapa kalian semua ada di sini?”

“Cukup bermain rahasianya, Solar.” Sahut Baekhyun cepat lalu maju dan menempatkan diri beberapa langkah dari Solar. “Kami semua sudah tahu tentang penyakitmu. Termasuk kakakmu.”

Solar mengalihkan pandangannya dari tatapanku. Dia menatap Gikwang yang tadi langsung berdiri begitu Solar muncul dari balik pintu. “Gikwang… Apa kau yang memberitahu eonni?”

“Aku yang memberitahunya.” Wheein berdiri dengan cepat dan berdiri di samping Baekhyun. “Asal aku beritahu, kau tidak akan mati dengan tenang jika kau menyembunyikan hal seperti ini dari kakakmu sendiri. Jangan jadikan penyakit sebagai penghalang antar kalian berdua.”

“WHEEIN!” seru Baekhyun dengan tatapan tajam yang mengarah pada Wheein. “Jangan bicara seperti itu, Solar tidak akan mati!”

“Hentikan, Baekhyun.” Sahut Solar lalu senyum mengembang di wajahnya. “Aku tidak bisa menghindari kematian yang sudah ditakdirkan untukku.”

Kali ini aku lah yang mengalihkan pandanganku dari sosok Solar. Sebagai gantinya aku menatap Kai yang sedari tadi menggenggam tanganku erat. Aku hanya bisa berpikir, Mengapa kau masih saja tersenyum? Mengapa kau tidak berteriak saja lalu menangis? Mengapa kau tidak menamparku dan berkata bahwa semua ini salahku?

Aku adalah manusia paling hina. Seandainya saja aku tidak membenci Baekhyun, aku tidak perlu mengikuti program sukarelawan percobaan. Seandainya saja aku tidak mengikuti program sukarelawan percobaan, Solar tidak perlu mengajukan diri untuk bekerja di gedung Skellington. Seandainya Solar tidak mengajukan diri, dia pasti tidak akan menghirup gas-gas beracun yang mematikan itu.

Intinya, semua salahku. Dan sekarang aku baik-baik saja, berdiri tegak dengan kedua kaki palsuku, seperti orang yang tidak melakukan kesalahan apapun. Apa hal baik yang terdapat pada diriku? Tidak ada. Aku hanyalah perempuan egois, tak berguna, cengeng, lemah, dan seperti sampah. Aku seperti sampah.

“Apa yang mengajak eonni kemari juga kau, Wheein?” tanya Solar dengan suara pelan tapi aku masih bisa mendengarnya.

“Tidak. Dia mengikutiku atas kehendaknya sendiri.” jawab Wheein dengan nada datar tapi sangat tegas. “Seharusnya kau berterima kasih karena aku sudah melakukan hal yang tidak bisa kau lakukan.”

Suasana hening untuk beberapa saat. Aku hanya memikirkan kalimat yang diucapkan Wheein. Aku sudah melakukan hal yang tidak bisa kau lakukan. Jadi selama ini bukannya Solar tidak ingin memberitahuku. Tapi dia tidak bisa memberitahuku. Mengapa kau masih mengkhawatirkanku di saat kondisimu sendiri yang perlu dikhawatirkan? Solar bodoh.

“Apa ada sesuatu yang kau inginkan?” tanya Gikwang pada Solar. Jawaban Solar ternyata sebuah anggukan kecil yang membuat wajah Gikwang sedikit cerah. “Apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin semua yang tidak berkepentingan pulang sekarang.” Ujar Solar dengan nada yang sangat dingin. Begitu dingin sampai aku merinding. “Kemoterapiku sudah selesai dan aku butuh istirahat. Aku tidak bisa istirahat dengan kalian semua memandangiku.”

“Kalau begitu aku permisi.” Ucap Jessica cepat lalu kami semua membungkuk padanya. Tiba-tiba Jessica mendekatiku dan berkata dengan pelan di telingaku, “Maafkan aku, Taeyeon, sungguh. Semoga keberuntungan menyertai Solar.”

Setelah Jessica pergi, tidak ada yang bergerak dari tempatnya. Gikwang pasti ingin menemani Solar. Wheein mungkin mempunyai beberapa hal yang ingin dibicarakannya dengan Solar. Baekhyun sama sekali tidak akan pergi jika dia tidak mendapat kepastian akan keselamatan Solar. Lalu ada aku dan Kai yang masih ragu-ragu dan berpikir apa kami pantas untuk berada di sini atau sebaiknya kami pergi.

“Kenapa kalian tidak pergi juga?” tanya Solar sekali lagi dengan nada dingin. Sekarang aku yakin bahwa senyuman Solar sebelumnya mungkin hanya akting. “Baekhyun, pergilah dari sini.”

“HAH!?” seru Baekhyun membuat semua yang berada di lorong Rumah Sakit menoleh ke tempat kami. “Tapi—“

“Ayo kita pergi, bocah robot!” Wheein segera menarik tangan Baekhyun dan mereka berdua langsung menghilang di antara kerumunan yang berlalu-lalang. Mungkin saat ini yang bisa menghadapi sifat keras kepala Baekhyun hanya Wheein. Aku sangat menghargainya tapi aku harap lain kali dia tidak akan memanggil Baekhyun dengan sebutan bocah robot lagi.

“Gikwang juga pergilah.” Ujar Solar lembut. “Kau masih harus bekerja, bukan?”

Gikwang menggigit bibir bawahnya kemudian menghela nafas panjang. Lalu dengan cepat dia mencium Solar di kening dan berkata, “Aku akan menemuimu lagi nanti.”

Seiring dengan kepergian Gikwang, suasana awkward menyelimuti aku, Kai, dan Solar yang berdiri membentuk sebuah lingkaran. Tidak ada satupun dari kami yang saling memandang. Aku dan Kai sama-sama takut untuk berbicara.

Tiba-tiba dengan perlahan Solar bergerak mendekatiku dan melepaskan genggaman tanganku dari tangan Kai. Sebagai gantinya dia menggenggam tanganku erat dan berkata, “Tetaplah di sini, eonni.” Pandangannya berganti ke Kai. “Kau kupersilakan untuk pergi.”

.

.

.

.

.

Aku membelai rambutnya dengan lembut. Rambutnya jauh lebih tipis dari terakhir kali aku menyentuhnya. Aku tidak bisa membayangkan rambutnya yang semakin hari semakin sedikit dan yang tersisa hanyalah sebuah kepala tanpa pelindung. Aku tahu, itu sangat mengerikan. Tapi seberapa mengerikan itu, aku tetap harus tersenyum di depannya.

“Terima kasih sudah membiarkanku menemanimu.” Ucapku lalu mata Solar menyipit. Senyumnya tidak berubah. Senyumannya tetap secerah matahari. “Kapan… Kau akan datang untuk kemoterapi lagi?”

Solar menglurkan tangannya dan mulai menghitung jari-jarinya. “Kira-kira sekitar 3 kali lagi sampai dokter akan mencoba sebuah pengobatan baru untukku. Rasanya sama seperti Hazel Grace.”

Aku mengerutkan kening. “Hazel Grace?” tanyaku lalu Solar mengangguk cepat.

“Dia tokoh utama di novel The Fault in Our Stars karya John Green. Aku mempunyai penyakit yang sama dengannya.” Jelas Solar lalu dia tertawa kecil. “Kukira eonni sudah membaca buku itu. Apa akhir-akhir ini eonni selalu sibuk sampai tidak sempat untuk mampir ke toko buku lagi?”

Harus kuakui, aku memang suka mengoleksi novel. Tapi aku tidak pernah membeli dan tidak akan pernah suka dengan novel yang menceritakan tentang kanker. Membaca sinopsisnya saja sudah membuatku mual. Apalagi jika aku membaca seluruh isi buku itu. Mungkin aku akan menelan buku itu mentah-mentah.

“Aku tidak sesibuk yang kau kira.” Kataku tegas. “Karena mulai sekarang aku akan selalu menemanimu.”

Solar tertawa dan entah kenapa tawanya terdengar sedikit serak di telingaku. “Eonni ngomong apa? Aku bukan anak kecil yang harus selalu dijaga. Lagipula sudah ada Gikwang jika aku membutuhkan bantuan.”

“Kau benar.” Jawabku cepat. “Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Bukankah eonni sekarang harus menemani Baekhyun?” balas Solar bertanya. “Tidak baik menitipkan Baekhyun terus-terusan di tangan Wheein. Bisa-bisa Wheein memberikan Baekhyun pelajaran yang tidak terlupakan—“

“Ka, kalau begitu…” aku menggigit bibir bawahku sambil berdoa supaya aku tidak menangis. Aku harus tetap tersenyum. Setidaknya di depan Solar. “Setelah kontrakku berakhir, apa aku boleh menemanimu setiap saat?”

Solar terlihat merenungkan keputusannya. Dia jelas terlihat tidak mau merepotkanku. Harusnya Solar tahu bahwa hanya dia orang yang benar-benar kuanggap keluarga di dunia ini. “Baiklah. Eonni boleh menjadi stalkerku.”

Aku segera mengacungkan jari kelingkingku di depan Solar. “Janji?”

Solar tersenyum simpul dan melingkarkan jari kelingkingnya dengan jariku. “Aku janji.”

Untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun berlalu, aku membuat janji dengan Solar. Kami jarang berjanji. Karena tanpa janjipun kami pasti akan memenuhi permintaan satu sama lain. Aku pernah dengar bahwa janji hanya akan dibuat jika salah satu pihak merasa tidak yakin. Lalu untuk sekarang, siapa yang terdengar tidak yakin? Apakah aku? Apakah Solar?

Eonni, harus kuakui hidupku tidak akan lama lagi.” Ungkap Solar tiba-tiba. “Dokter bilang aku adalah pasien dengan kanker paru-paru pertama yang disebabkan oleh gas-gas beracun yang berasal dari gedung Skellington. Kemungkinan aku selamat… Sangat kecil.”

Ya Tuhan, kumohon berikan aku kekuatan. Berikan aku kekuatan agar aku bisa menahan senyumku lebih lama lagi. Setidaknya sampai Solar selesai menjelaskan masalahnya. Kumohon. “Tenang saja, aku akan terus menemanimu—“

“Aku ingin mati sebelum semua rambutku rontok.” Sahut Solar cepat. Dia tertawa lagi tapi kali ini tawanya sungguh tidak terdengar merdu di telingaku. “Aku tidak ingin pergi ke Surga dengan kepala botak.”

“Rambutmu… Tidak akan rontok selamanya.” Ucapku dengan kepala menunduk. Aku akan melakukan apapun. Untuk mempertahankan satu helai rambut saja dari kepala Solar. “Dan aku tidak akan membiarkanmu mati muda.”

“Jahat.” Ucap Solar lalu dia tersenyum lebar. “Kalau aku mati muda, apa semua orang yang ada di Surga akan terpikat padaku?”

Aku mengangkat bahu. “Entahlah.” Jawabku. Sebenarnya aku berbohong. Tentu saja Solar akan memikat semua orang selama senyum itu masih terukir di wajahnya. “Setelah ini kau mau ke mana?”

“Aku akan kembali ke apartment, aku tahu aku harus istirahat tapi rasanya menyebalkan hanya berbaring di kasur.” Jelas Solar panjang lebar. “Apa eonni mau ikut?”

Aku mengangguk cepat. “Kalau kau mau, kita bisa memasak bersama-sama.”

Jinjjayo?” tanya Solar lalu aku mengangguk. “Baiklah, kalau begitu kita beli bahan-bahan dulu. Setelah itu kita langsung ke apartment dan memasak. Dokter tidak melarangku memasak, kok.”

Dan selanjutnya kami berdua langsung ke supermarket terdekat untuk membeli bahan-bahan yang akan kami pakai untuk memasak. Tema memasak kami adalah makanan yang kami sukai, jadi Solar akan membuat cheese pancake, makanan favoritku. Sedangkan aku akan membuat strawberry parfait kesukaan Solar.

Saat kami keluar dari supermarket, tiba-tiba Solar bertanya padaku, “Oh ya, besok apa yang akan eonni lakukan bersama Baekhyun? Apa kalian sudah membuat janji?”

Seketika itu aku teringat akan masa kontrakku. Aku sudah bertekad akan membantu Baekhyun mencari tahu arti hidupnya sebelum hidupnya berakhir. Tapi belum ada rencana untuk besok, jadi aku menggeleng. “Mungkin besok kami akan jalan-jalan biasa.”

“Kalau begitu…” Solar merogoh sakunya dan mengeluarkan secarik kertas yang memuat gambar denah menuju suatu tempat dari apartmentnya. “Besok kalian berdua pergilah ke toko kue ini.”

Aku mengamati denah itu dengan tajam. “Fleur de lies?” tanyaku karena aku tidak pernah mendengar toko kue dengan nama seperti itu. “Untuk apa aku dan Baekhyun ke tempat ini?”

“Aku ingin makan kue besok, jadi kalian berdua pergi ke sana untuk membelikanku kue. Kalian juga beli kue saja. Pemilik toko kue itu adalah temanku, bilang saja kalian membeli kue atas namaku.” Jelas Solar panjang lebar. “Ingat, kata dokter aku tidak boleh banyak beraktifitas di luar.”

.

.

.

.

.

Keesokan harinya aku menjemput Baekhyun pagi-pagi sekali di gedung Skellington lalu kembali ke apartment Solar untuk menghindangkan Baekhyun sepiring oreo tasted pudding. Begitu Solar berkata jika dia datang ke toko kue bernama fleur de lies dia akan menemukan banyak kue, Baekhyun langsung bersemangat untuk pergi.

Jadi sekarang aku bersama Baekhyun sedang menuju ke toko kue itu dengan berjalan kaki dari apartment Solar. Yang membuatku sedikit terganggu adalah betapa Baekhyun terkagum-kagum dengan pemandangan sekitar. “Ya ampun, Seoul sudah sangat berkembang.”

Aku teringat bahwa Baekhyun meninggal saat usianya baru 18 tahun, tepatnya 6 tahun sebelum dia terbangun dengan wujud Skellington. Aku tidak ingat pasti apa saja yang telah berubah dari kota ini tapi di mata Baekhyun semua itu terlihat sebagai sebuah kecanggihan. “Dari sini kita harus naik bis.” Ujarku sambil menunjuk halte yang berjarak beberapa langkah dari tempat kami.

“Oke.” Jawab Baekhyun kemudian dia berlari menuju halte dan duduk manis di kursinya sementara aku melihat jalur bis yang ada di papan pengumuman. “Apa kau punya uang?” tanya Baekhyun tiba-tiba.

“Maksudmu kartu pelanggan bis?” tanyaku balik lalu Baekhyun mengangguk. “Aku punya kok, tenang saja. Um… Kita harus turun setelah melalui 3 halte…” Tiba-tiba aku kehilangan sosok Baekhyun yang tadinya duduk di kursi halte dengan manis. Aku langsung panik dan tidak bisa berpikir apa-apa. Kemana lagi dia berpetualang?

“Taeyeon!” seru Baekhyun dari belakangku. Kaki kirinya sudah menginjak tangga di bis sedangkan tangan kanannya menjulur padaku seakan memintaku untuk memegangnya. “Ayo cepat naik!”

Awalnya aku ingin menolaknya karena bis yang menunggu kami itu diisi oleh banyak penumpang. Tapi melihat kaki kanan Baekhyun yang sudah tidak sabar untuk naik, aku segera meraih tangannya dan masuk ke dalam bis bersama Baekhyun. Pintu bis tertutup dan bis berjalan lagi.

Saking penuhnya bis ini aku terpaksa berdiri di tangga masuk dan menempelkan tanganku di pintu. Dari jendela kecil yang terdapat di pintu aku bisa memastikan berapa halte yang telah kami lewati. Seketika rasa panik menjulur di tubuhku lagi karena aku telah kehilangan tangan Baekhyun.

“Baekhyun?” panggilku pelan lalu aku bisa merasakan nafasnya di belakangku, yang juga berdiri di tangga. Aku sedikit takut dengan kondisi Baekhyun yang mungkin tidak bisa bernafas dengan lega di tempat yang sesak. “Apa kau baik-baik saja?”

“Iya.” Jawab Baekhyun dan bersamaan dengan itu pintu bis terbuka, membuat tubuhku secara reflek menjulurkan diri ke luar. Lalu tangan yang sangat kuat menarikku dari belakang dan memelukku erat. Pemiliknya adalah Byun Baekhyun. “Hati-hati, Taeyeon.”

DEG. Ada apa dengan diriku? Kenapa di saat seperti ini aku malah berdebar? Aku berdebar karena sikap Baekhyun yang benar-benar seperti seorang pria. Apalagi saat dia tadi dengan sigap menarikku yang hampir keluar dari bis. Tindakannya telah memicu suatu perasaan dalam hatiku. Tapi perasaan apa ini? Perasaan apa yang membuatku lebih memilih untuk berada di pelukannya daripada memperhatikan orang-orang yang satu per satu keluar dan masuk bis?

Setelah pintu tertutup lagi, dengan perlahan aku berusaha menyandarkan punggungku. Tapi dengan cepat Baekhyun menarikku sedikit dan berkata, “Kemarilah.” Ujarnya lembut. Saat aku menengok ke atas, mata kami bertemu. Jarak kami terlalu dekat. Bibir kami hampir bersentuhan. “Pegangan saja padaku.”

Dengan sedikit ragu-ragu akhirnya aku memberanikan diri untuk memegang erat kaos yang dipakai Baekhyun. Padahal hanya menyentuh bajunya saja tapi entah kenapa seluruh otot di tubuhku menjadi kaku. Baekhyun melindungi tubuhku agar aku tidak tergencet. Lengan dan punggungnya terbentur setiap kali bis berguncang.

Baekhyun benar-benar seorang laki-laki. Bukan berarti selama ini aku menganggapnya bukan laki-laki. Maksudku dia benar-benar tinggi, kokoh, dan tegap… Seperti laki-laki pada umumnya. Dia sama sekali tidak rapuh, seperti kesan pertama saat aku bertemu dengannya setelah sekian tahun.

Pintu bis terbuka lagi dan bersamaan dengan itu udara dingin masuk ke dalam. Tapi aku sama sekali tidak merasa dingin. Kehangatan yang tercipta dari tubuh Baekhyun perlahan menjalari tubuhku. Sekalipun sudah menghela nafas pendek dan berusaha membuang kehangatan itu keluar, tetap saja tidak berhasil. Ini sama sekali tidak seperti diriku. Bahkan aku tidak bisa mengendalikan pikiranku sendiri.

“Taeyeon?” bagaikan dipukul, kesadaranku langsung kembali begitu Baekhyun memanggil namaku. Sepertinya, entah sejak kapan aku terus menatap Baekhyun. Aku langsung memalingkan wajah dan dengan berat hati kutinggalkan wajah Baekhyun yang terbilang tampan itu. Entah kemudian gerakan itu diartikan seperti apa, tiba-tiba saja wajah Baekhyun menjadi muram.

Mianhae, aku sudah membebanimu. Kau… Sampai harus melindungiku.” Kataku berusaha mencari alasan yang tepat yang mungkin bisa mencairkan suasana ini.

“Tidak apa.” Jawaban Baekhyun yang singkat membuatku merasa sangat lega. Karena itu berarti Baekhyun sama sekali tidak menyadari apa yang sedari tadi aku pikirkan. Walau dalam hatiku aku sedikit kesal dengan kepolosan Baekhyun yang seperti itu. “Semoga cepat sampai, ya.”

“Iya.” Aku berpikir keras sebelum menyetujui ucapan Baekhyun. Ada apa denganku? Aku bahkan tidak mengerti apa yang aku inginkan. Ingin cepat sampai atau ingin tidak segera sampai. Apa aku segitunya ingin lepas dari kepedihan ini atau aku ingin terus bersama Baekhyun.

Ketika diam-diam aku sedang menderita dibalik wajahku yang tenang, tiba-tiba saja bis berbelok dengan sangat tajam. Tubuh seluruh penumpang langsung miring, bahkan badan bi situ sendiri pun juga jadi ikut miring, begitu pula dengan tubuhku dan Baekhyun. “Taeyeon!”

Dengan segera Baekhyun memeluk kepalaku dengan satu tangan dan tangan yang satu lagi diulurkan ke depan. Telapak tangan yang terulur itu pun langsung membentur pintu bis. Sehingga bagian belakang kepalaku tidak terbentur badan bis. Lagi-lagi dia berhasil melindungiku. Aku pikir, apa-apaan ini? Dia hanya seorang Baekhyun tapi tingkahnya benar-benar sok pahlawan.

“Apa kau baik-baik sa—“ tiba-tiba tanpa kami sadari pintu bis terbuka, menyebabkan tangan Baekhyun yang tadinya ada di pintu langsung beralih ke punggungku dan mendaratkanku di dada Baekhyun.

“Ah, gomawo—“ ucapanku terhenti karena tanpa sadar nafasku berhenti. Bibir Baekhyun berada tepat di depan bibirku. Jangankan beberapa senti, jaraknya hanya tinggal satu senti. Bahkan nafas yang dihembuskan Baekhyun juga sampai terasa menggelitik di wajah. Mata kami bertatapan di jarak yang sangat dekat.

Tiba-tiba tangan Baekhyun yang tadinya memegang kepalaku langsung menggenggam tanganku erat dan mengajakku keluar dari bis. Kami sudah tiba di halte ke-3 sejak kami menaiki bis ini. Di hadapanku, bis pergi dengan cepat setelah beberapa penumpang masuk dengan terburu-buru.

“Taeyeon!” seru Baekhyun memanggilku entah sudah berapa kali sejak kami berangkat dari apartment. “Setelah ini kita harus kemana?”

Pertanyaan Baekhyun membuatku teringat akan tujuan kami pada awalnya. Kami harus ke toko kue bernama fleur de lies yang menyediakan kue-kue enak yang dipesan oleh Wheein. Aku langsung merogoh saku dan mencari denah yang digambarkan Wheein untukku. “Dari sini kita harus ke arah barat. Jalan terus dan tokonya ada di sebelah Phantom Apartment.

Tunggu. Phantom Apartment. Itu adalah apartment tempat Kai dan keluarganya tinggal. Tidak kusangka. Padahal aku sering mengunjungi Kai dan keluarganya tapi aku sama sekali tidak tahu bahwa ada toko kue di sebelahnya. Benar-benar mengejutkan.

“Baiklah, ayo kita berangkat!” seru Baekhyun dan dengan semangat dia belok ke kiri dan berjalan selangkah demi selangkah mendekati apartment besar yang menjulang tak jauh dari tempat kami sekarang. Dengan cepat aku segera menyusul langkahnya dan berjalan di sampingnya. “Apa kau baik-baik saja?”

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu.” Balasku cepat. “Apa lengan dan punggungmu baik-baik saja? Kau berkali-kali membentur tiang dan kursi penumpang.”

Baekhyun dengan cepat tersenyum seakan-akan ingin memberitahuku bahwa dia baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sekali lagi aku berpikir, apa-apaan ini? Mengapa dia bersikap sok keren dan sok pahlawan? Rupanya dia tidak berubah sedikitpun. Dia selalu memikirkan orang lain daripada memikirkan dirinya sendiri. “Hmm… Wangi.”

“Apa?” tanyaku sambil memandang Baekhyun.

“Taeyeon pakai parfum, ya? Kau wangi kue.” Jawab Baekhyun. Aku memutar bola mataku sambil menunjuk toko kue yang kami cari hanya berjarak beberapa langkah dari kami. “Oh ya, kau benar. Ini memang wangi kue.”

Entah kenapa aku sempat berharap. Jika memang benar dia mencium bau parfumku barusan, itu artinya dia tidak mencium bau parfumku saat di dalam bis. Itu artinya dia sama sekali tidak tertarik padaku selama di dalam bis. Lagipula mengapa aku berharap dia menyadari bau parfumku? Ini benar-benar bukan seperti diriku.

“Taeyeon?” panggil Baekhyun lalu dengan cepat aku menyadarkan diri. “Ah, itu mobil Kai. Rupanya dia tinggal di apartment ini?”

Baekhyun menunjuk mobil Mercedes Benz merah yang ada di parkiran depan apartment. Aku langsung teringat pada Kai. Apa akhir-akhir ini dia tidak sibuk? Apa akhir-akhir ini tidak ada pekerjaan yang datang padanya? Tapi saat kemarin Solar menyuruh Kai untuk pergi dari Rumah Sakit, dia terlihat buru-buru.

“Kau mau membelikan kue untuk Kai juga, ya?” tanya Baekhyun sekali lagi berhasil menyadarkanku dari lamunanku. Setelah aku memaksakan diri untuk menatap wajah Baekhyun, tiba-tiba seulas senyum terbentuk di wajahnya. Senyum yang benar-benar cerah. Senyum yang bahkan mengalahkan senyum milik Solar. “Kai beruntung sekali, ya. Dia benar-benar mendapat semua perhatianmu.”

DEG. Hatiku sakit mendengar Baekhyun berkata seperti itu. Aku tidak tahu lagi perasaan apa yang terus memacu adrenalin jantungku. Perasaan apa ini? Penyakit apa ini? Kutukan apa lagi ini? “Apa maksudmu—“

Tiba-tiba ponselku berdering nyaring, membuatku segera memasukkan tanganku ke dalam tas tangan dan meraihnya. Sebuah panggilan di siang hari yang terik ini. Hatiku sama sekali tidak siap untuk menerima panggilan sampai aku membaca nama orang yang menghubungiku. Kai.

Taeyeon?” kata Kai begitu aku mengangkat panggilan. Suaranya terdengar tidak stabil. “Taeyeon, apa kau sekarang bisa ke apartmentku?

Aku segera mengalihkan pandanganku ke lantai 9 apartment. Tidak ada sosok Kai di balkonnya. “Kebetulan sekarang aku ada di dekat apartmentmu. Ada apa?”

Taeyeon… Tolong!

BERSAMBUNG

Annyeonghaseyo, scarlettkid di sini. Akhir-akhir ini aku membutuhkan waktu yang lama untuk membuat fanfic. FYI Taeyeon dan Solar memanggil orang tua mereka dengan sebutan papa-mama. Baekhyun memanggil orang tuanya dengan sebutan appa-eomma. Sedangkan Kai dengan sebutan ayah-ibu. Mungkin selama ini ada yang bingung jadi sekarang aku jelaskan.

Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Berikutnya adalah part 20 yang akan benar-benar membuat kalian tidak bisa berhenti membaca!

Part 20 will be published March 19th 2016

Advertisements

59 comments on “Skellington [Part 19]

  1. Please, Solar lagi sakit. Kai jangan ikut – ikutan sakit atau malahan kena musibah. Taeng kasiiaan T.T
    Untuk chapter ini suka Baekyeonnya banget ^^
    Lanjut kakaa!

  2. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s