Almost Is Never Enough [Chapter 2]

almost is never enough

By Junsihye

Staring by:

Kim Taeyeon (Girls’ Generation) | Byun Baekhyun (EXO)

Romance, Hurt

Rating : PG-15

Disclaimer : This story based from author’s mind and inspired by Ariana Grande’s song Almost is Never Enough. I have not own the characters. Don’t be plagiarism.

Dengan sigap Seungri menarik tangan Taeyeon dan membawanya berlari menjauh dari tempat itu. Seungri memerintahkan Taeyeon untuk tidak melihat ke belakang, berjaga-jaga agar wajahnya tidak terpotret kamera. Gadis itu menurut dan mengikuti langkah Seungri kemana pun lelaki itu pergi. Mereka melalui beberapa belokan dan memasuki jalanan kecil. Entah kemana Seungri membawa Taeyeon. Napas Taeyeon semakin tersenggal, dia tidak terbiasa berlari. Namun kerumunan orang masih mengejar mereka. Pegangan tangan Taeyeon kepada Seungri semakin melemah. Lelaki itu menyadari bahwa gadis di belakangnya kelelahan. Dia menerawang jalan di depannya, mencari celah untuk bersembunyi. Mereka melewati pertigaan jalan dan mengambil jalan ke kiri. Disana ada jalanan yang sangat kecil karena diapit oleh dua buah gedung. Juga terdapat celah kecil untuk bersembunyi di balik tembok gedung.

Keduanya bersembunyi disana sembari menunggu orang-orang itu berlalu. Taeyeon mengatur nafasnya dan melepaskan tangannya dari Seungri. Gadis itu membutuhkan air sekarang. Tenggorokannya sangat kering. Seungri menyembulkan kepalanya, melihat keadaan diluar sana.

“Sepertinya mereka sudah pergi,” ucapnya. Taeyeon menghembuskan nafas lega. Udara jadi terasa panas di tengah musim dingin sekarang ini. Seungri melepas jaketnya, lalu memakainya lagi setelah membalikkan jaket itu sehingga warna jaketnya berbeda. Dia juga menerapkan kembali maskernya. Peralatan menyamar yang hebat.

“Tiffany! Dia pasti kebingungan mencari kita.”

“Dia sudah terbiasa dengan hal ini. Santai saja, Tiffany akan menunggu kita di café tempat kami biasa bertemu,” jelas Seungri.

Kajja!” ucap lelaki itu sambil meraih telapak tangan Taeyeon.

Gadis itu menggunakan tangan yang lainnya untuk meronggoh ponsel dari sakunya. Terdapat satu panggilan tak terjawab dari Baekhyun dan lima panggilan tak terjawab dari Tiffany. Kakinya dipaksa terus berjalan walaupun sebenarnya ia sudah sangat lelah. Tidak ingin sekali lagi Taeyeon mengalami kejadian seperti ini. Dia membayangkan jika saja hari ini ia memilih menemani Baekhyun, kejadian ini tidak akan terjadi.

“Apa kau lelah? Aku minta maaf, karena aku semuanya jadi begini,” ucap Seungri seakan dapat membaca pikiran Taeyeon.

Gwenchanayo.”

Suasana canggung menyelimuti keduanya. Walaupun biasanya Seungri selalu bisa mengatasi keadaan seperti ini. Tapi hari ini dia benar-benar kikuk. Dia bisa saja mencairkan suasana dengan membicarakan tentang orangtua Taeyeon. Namun melihat wajah Taeyeon yang merah dan juga nafasnya masih belum stabil karena kelelahan, rasanya tidak enak bagi Seungri mengajaknya berbincang.

Mereka berjalan beriringan tanpa mengeluarkan suara selama beberapa saat—hanya langkah kaki mereka yang menghasilkan bunyi.

Ne, Manager Kim?” ucap Seungri yang entah sejak kapan sudah meletakkan ponselnya di telinga. Otomatis membuat Taeyeon berhenti berjalan.

“Sudah aku bilang untuk mengosongkan jadwalku hari ini!” Seungri memalingkan wajahnya, tak ingin Taeyeon melihat raut kesalnya. “Arraseo, arraseo!

Lelaki itu memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket. Ia kembali berjalan mendahului gadis yang sejak tadi berdiri menunggunya.

“Taeyeon-ah! Aku harus pergi, katakan pada Tiffany aku akan menemuinya lagi nanti. Sampai jumpa, senang bertemu denganmu!” Seungri berlari dan benar-benar meninggalkan Taeyeon seorang diri disana.

Taeyeon tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun dari mulutnya. Padahal hatinya mengumpat, memakinya sebagai lelaki yang tidak bertanggung jawab. Dia hanya bisa merutuki nasibnya yang sial hari ini. Pokoknya Taeyeon tidak akan pernah mau menemani Tiffany menemui Seungri lagi.

Dengan hati yang kesal, ia melangkahkan kakinya, berjalan menuju tempat dimana Tiffany berada. Sementara dipikirannya tiba-tiba muncul nama Baekhyun. Segera gadis itu membuat panggilan pada Baekhyun melalui ponselnya.

Mianhae Baekhyun-ah, sepertinya aku tidak bisa menemanimu hari ini. Aku sangat lelah,” ucapnya begitu Baekhyun menerima telepon darinya.

“Tidak perlu meminta maaf begitu. Istirahatlah dengan tenang malam ini.”

Ne.”

*****

Tanpa persetujuan Tiffany, gadis bernama Kim Taeyeon itu meneguk habis teh hangat yang ada di atas meja. Terlalu lama menunggu pesanan Taeyeon datang. Gadis itu sudah terlalu haus dan tak ingin mati karena hal itu.

Aish, beraninya kau! Minumlah dengan perlahan,” ucap Tiffany kesal dan tidak ditanggapi oleh Taeyeon.

“Huh, lega sekali.” Taeyeon menyimpan gelasnya pada meja. Dia menyandarkan punggungnya pada kursi tanpa mengkhawatirkan Tiffany yang sedang kesal.

“Apa kau menikmati perjalananmu tadi, nona?” Tiffany mendesis. Ini sudah yang kesekian kalinya pertemuan Tiffany dan Seungri gagal. Padahal ia sudah yakin bahwa pertemuan hari ini akan berjalan dengan lancar. Tidak heran jika dia merasa kesal.

“Itu melelahkan, aku tidak mau mengalaminya lagi.”

“Apa wajahmu tertangkap kamera tadi?” tanya Tiffany mulai khawatir.

Molla, tapi aku harap tidak,” ucap Taeyeon pasrah.

*****

Keesokan harinya, setelah menerima mata kuliah Taeyeon berbelanja ke mini market yang letaknya tidak terlalu jauh dari universitas tempat Taeyeon menimba ilmu. Taeyeon harus mulai membuat cerita fiksi lagi, dan hal yang selalu dibutuhkannya ketika menulis fiksi adalah camilan.

Biasanya dia ditemani Tiffany, namun malam ini Chanyeol mengajak Tiffany berkencan. Terpaksa Taeyeon harus berbelanja sendiri.

Taeyeon memasukkan beberapa produk makanan ringan ke dalam keranjang belanjanya, mulai dari makanan ringan berupa keripik, wafer, dan coklat. Dia menyukai semua jenis makanan. Tak lupa dia juga menaruh beberapa botol minuman bersoda pada keranjangnya.

Setelah selesai belanja dan membayar semua produk yang dibelinya. Taeyeon menaiki mobil dan bergegas pulang karena hari sudah mulai malam.

Sial baginya, karena ditengah perjalanan mobil yang dikendarainya tiba-tiba berhenti. Mogok. Taeyeon tidak tahu apa penyebabnya dan terlalu malas untuk mencari tahu karena dirinya tidak mengerti apapun mengenai mesin kendaraan.

Jadilah dia berjalan kaki sambil membawa keresek putih berisi belanjaannya. Jarak rumahnya masih sangat jauh dan ia tidak bisa meminta bantuan orang lain karena ponselnya mati.

Pukk

Taeyeon berbalik merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang.

“Kau harus ikut denganku!”

Seungri.

Gadis itu tampak berpikir. Tentu saja dia tidak ingin mendapat masalah lagi seperti kemarin. Namun saat Taeyeon hendak menolak, Seungri terlanjur menarik tangannya.

“Maaf Seungri-ssi, tapi aku benar-benar harus pulang sekarang.”

Seungri tidak mengindahkan perkataan Taeyeon dan malah mengencangkan genggamannya pada tangan Taeyeon sambil menariknya paksa.

“Seungri-ssi, apa kau tidak mendengarku?”

“Diam! Jangan banyak bicara dan ikuti saja aku!” Seungri menatapnya tajam. Gadis itu menundukan kepalanya, takut. Bagaimana ia tidak takut? Seorang lelaki yang baru dikenalnya tiba-tiba menyeretnya entah kemana dan bersikap kasar seperti itu.

Kini Taeyeon memilih tak bersuara. Khawatir jika Seungri akan berlaku lebih kasar lagi padanya. Dia memegang erat kresek belanjaannya dengan telapak tangan yang berkeringat. Rencananya membuat cerita fiksi kemungkinan besar akan gagal. Ini kedua kalinya Seungri mengacaukan rencana yang dibuat Taeyeon.

Seungri membawa Taeyeon ke tempat yang sepi dan kumuh. Entah bagaimana Seungri, sang idola bisa mengetahui tempat sepi dan kumuh seperti ini. Taeyeon bahkan tidak tahu ada tempat seperti itu ditengah kota.

Lelaki itu menghempaskan tubuh Taeyeon pada tembok. Gadis itu merintih sakit karena kerasnya benturan yang dirasakan punggungnya. Kedua tangan Seungri menyentuh tembok, mengapit Taeyeon.

“Kau kenapa Seungri-ssi?” tanya Taeyeon dengan suara bergetar. Sementara lelaki dihadapannya hanya menatap tajam wajahnya. Dan Taeyeon terlalu takut untuk melihat bola mata Seungri.

“Sepertinya kau belum mengingatku walaupun jarak kita sudah sedekat ini,” ucapnya sinis. Taeyeon mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan apa yang dimaksud lelaki itu. Ia tidak menemukan apapun dalam otaknya setelah beberapa saat mengingat jikalau sebelumnya mereka pernah bertemu, selain pertemuan dengan Tiffany kemarin.

“Aku yang menyelamatkanmu saat kau tiba-tiba pingsan di taman beberapa bulan yang lalu, jika kau lupa.”

Lagi-lagi Taeyeon hanya terdiam. Ia tidak pernah merasa melihat Seungri saat itu. Taeyeon memang pernah jatuh pingsan saat sedang berjalan di taman, dia hanya ingat saat terbangun Tiffany adalah orang pertama yang muncul di depannya. Hanya Tiffany, tidak ada orang lain lagi.

“Sekarang adalah waktumu untuk balas budi.”

Kedua tangan Seungri memegang kepala Taeyeon. Wajahnya mendekat pada Taeyeon. Sementara gadis itu meronta dan berusaha menjauhkan Seungri darinya. Kresek belanjaannya terjatuh dan sebagian isinya keluar dari sana. Taeyeon sangat takut sekarang. Dengan sekuat tenaga, dia mendorong tubuh Seungri untuk menjauh. Namun tentu saja kekuatannya tak sebanding dengan lelaki itu.

“Brengsek!” teriak seseorang. Entah bagaimana tangan Seungri sudah melepaskan wajah Taeyeon. Dan sekarang lelaki itu sedang tersungkur.

Taeyeon mengalihkan pandangan ke sisi lain. Disana ada Baekhyun yang berdiri dengan gagahnya. Perlahan Seungri mulai bangkit dan meninju Baekhyun dengan sekuat tenaga, membuat Baekhyun mundur beberapa langkah. Namun Baekhyun segera membalas Seungri dan membuatnya tersungkur untuk kedua kalinya.

“Wah, aku tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Baru saja beberapa menit yang lalu aku melihat wajahmu terpampang di papan iklan dan aku berpikir bahwa kau memiliki charisma dan melihat perangaimu sepertinya kau orang yang sangat baik. Tapi melihat kejadian tadi semuanya hilang. Apa kau tidak takut popularitasmu menurun?” ucap Baekhyun dan hanya dibalas tatapan tajam oleh Seungri.

“Pergilah sekarang juga dan jangan pernah berani menemuinya lagi! Atau aku akan membocorkan kejadian ini pada media.” Baekhyun mengancam dengan raut wajah yang menyeramkan namun tetap terlihat tampan.

Seungri berdiri sambil merapikan pakaian yang dikenakannya. Tanpa mengatakan sepatah katapun lelaki itu pergi meninggalkan tempat itu. Baekhyun beralih pada Taeyeon yang sejak tadi hanya meringkuk sambil menggigit kuku.

“Jangan takut, kau sudah aman sekarang,” ucap Baekhyun.

“Baekhyun-ah, aku sangat ketakutan.” Taeyeon tidak bergerak dan perlahan air matanya menetes.

“Tenanglah, aku akan melindungimu.” Baekhyun membawa Taeyeon ke dalam pelukkannya. Tangan Baekhyun mengelus surai indah milik Taeyeon, berusaha membuatnya tenang. Sedangkan gadis itu menangis dalam pelukkan hangat itu.

“Ayo kita pulang, aku akan mengantarmu.”

Taeyeon menjauh dari tubuh Baekhyun. Gadis itu mengangguk, mengiyakan ajakan Baekhyun untuk pulang. Setelah membereskan barang-barang yang berceceran, Baekhyun menghentikan taxi dan mengantar Taeyeon pulang.

*****

Perlahan gadis itu membuka matanya. Hidungnya dimanjakan oleh aroma rempah yang menggugah selera. Ia menyingkirkan selimut dari tubuhnya. Berjalan menuju sumber aroma yang menggodanya.

“Kau sedang memasak apa Baekhyun?” tanya gadis itu sambil mendekati lelaki yang bergulat dengan bahan-bahan masakan.

“Sudah bangun?” Baekhyun mengalihkan perhatiannya sejenak pada Taeyeon.

“Seharusnya aku yang memasak,” ucap Taeyeon sambil merengut. Baekhyun tersenyum lembut sambil mengaduk sup yang sedang dibuatnya.

“Tak apa, kau duduklah sebentar lagi makanannya matang.”

Taeyeon mengangguk dan memposisikan dirinya di kursi makan. Ia teringat kejadian kemarin. Apa jadinya jika Baekhyun tidak datang menolongnya, mungkin dia sudah hancur. Kemarin adalah hari terburuk yang pernah dialaminya. Taeyeon merasa takut semalaman. Untungnya Baekhyun berbaik hati menemani Taeyeon.

Baekhyun membawa makanan yang baru dibuatnya. Ia duduk di depan Taeyeon. Lalu menyiapkan semangkuk sup untuk gadis itu.

“Ini, makanlah. Suhu tubuhmu sangat rendah semalam,” ucapnya sambil menyodorkan semangkuk sup pada Taeyeon.

“Baekhyun-ah…”

Lelaki itu menatapnya sambil tersenyum dan menunggu Taeyeon menyelesaikan kalimatnya.

Gomawoyo, kau sudah menolongku kemarin,” lanjutnya.

“Kau harus lebih berhati-hati lagi, arraseo?”

Ne.”

Baekhyun mengacak surai lembut Taeyeon.

“Apa kau mau ikut berkumpul hari ini?” tanya Baekhyun.

“Berkumpul?”

“Tiffany belum memberitahumu? Kami akan berkumpul sore ini, kebetulan Kyung Soo memiliki waktu luang jadi dia mengajakku dan Chanyeol untuk berkumpul. Tiffany juga akan ikut,” jelasnya.

“Aku ingin beristirahat hari ini.”

Baekhyun mengangguk mengerti. Taeyeon telah menjalani hari yang berat kemarin. Tak ada salahnya juga jika Baekhyun menemani Taeyeon lagi hari ini.

“Kalau begitu aku akan menemanimu,” ucapnya dengan cengiran.

“Tidak perlu, kapan lagi Kyung Soo memiliki waktu luang? Kau harus bertemu dengannya sore ini,” ujar Taeyeon. Dia merasa tidak enak karena terus menyusahkan Baekhyun.

“Tenang saja, aku bisa menemuinya nanti.”

“Baekhyun-ah, bagaimana dengan ingatanmu?” Taeyeon mengganti topik pembicaraan. Dia juga penasaran mengenai hal itu, jadi sekarang adalah waktu yang tepat untuk bertanya.

“Aku masih belum bisa mengingat apapun. Tapi untunglah kalian selalu ada bersamaku, yah walaupun aku belum mendapatkan ingatanku kembali.”

Taeyeon menunduk, memutar sendok yang sedari tadi dia pegang. Dirinya bertanya-tanya, apakah Baekhyun memiliki kekasih atau semacamnya? Jika ia bertanya pada Chanyeol, lelaki itu pasti akan menggodanya habis-habisan. Karena ini pertama kalinya Taeyeon tertarik pada seorang laki-laki.

Namun sejauh ini, orang yang selalu ada di dekat Baekhyun hanyalah Chanyeol, Kyung Soo, Tiffany, dan dirinya sendiri. Ya, tak ada perempuan lain selain dirinya dan Tiffany. Taeyeon bisa menyimpulkan bahwa kemungkinan besar Baekhyun tidak memiliki kekasih.

“Ternyata kau tidak terlalu pendiam ya?” ucap Baekhyun.

“Yah, begitulah. Selama ini aku asik dengan hidupku sendiri dan aku hanya berteman dengan Tiffany dan Chanyeol. Singkatnya aku jarang bergaul.”

“Mulai sekarang kau harus berteman denganku dan juga Kyung Soo.”

Ne.”

“Makanlah, supnya mulai dingin,” ucap Baekhyun sambil melirik mangkuk sup Taeyeon.

Gadis itu menurut, ia menyuapkan sesendok sup ke dalam mulutnya. Lalu mengulangnya lagi dan lagi. Sesekali Taeyeon melirik Baekhyun yang juga sedang memakan sup. Baekhyun pun melakukan hal yang sama. Sehingga mata mereka bertemu, dan suasana menjadi lebih canggung.

“Taeyeon-ah—“

Mata mereka masih saling menatap tanpa berkedip sekalipun.

“—Kau sangat cantik.”

Jelas saja kata-kata itu membuat pipi Taeyeon bersemu merah. Taeyeon tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun sekarang. Mulutnya mendadak kaku, namun dia merasa kedua pipinya menghangat. Oh ayolah Kim Taeyeon, ayahmu, ibumu, dan Tiffany sering mengatakan itu, mengapa reaksimu berlebihan begini ketika Baekhyun yang mengatakannya, rutuknya dalam hati.

“Seharusnya aku membenci keadaanku yang tidak bisa mengingat masa lalu sekarang. Disisi lain aku juga bersyukur karena kejadian itu membuatmu datang padaku,” ucap Baekhyun.

Pipi Taeyeon semakin memanas dan mungkin sudah terlihat seperti warna tomat yang merah. Ia sangat senang, namun ia terlalu kaku menghadapi keadaan ini. Sehingga yang bisa dilakukan Taeyeon hanyalah menurunkan kepalanya dan menghindari tatapan Baekhyun.

TBC

Hai!

Adakah yang menunggu kelanjutan FF ini? Maaf banget buat para readers karena updatenya lama. Untuk chapter selanjutnya diusahakan di update secepatnya 🙂

Jangan lupa like+komentarnya ya 🙂

Advertisements

28 comments on “Almost Is Never Enough [Chapter 2]

  1. Sehhh baekyeonnn kwkw
    Ag” lupa sm jln ceritany sih tpi dibca mkin kesni ny udh iget kok😂😂😂😂
    Next chap thor no lamalama wkwk
    Fighting

  2. KYAAAAKKK BAEKYEONN♥♥♥ ADUH LAGI SERU SERU TBC GANGGU BANGET### Suka banget ㅠ.ㅠ next xhapter updatenya cepetin thorrt… dan bikin endingnya happy ending ya. Aku sebel nih soalnya kalau baca jauh2 tapi sad ending huhu.. fighting thor!

  3. itu tanggung banget TBC nya hahaha tapi makin seru ceritanya, itu seungri emang jahat apa begimana — untung tadi ada baekhyun nolongin taeyeon. banyakin baekyeon moment nya lagi hihihi next chap ditunggu 🙂

  4. Seungri tega amat sih sama taeng.
    Untung aja ada baekhyun. Sosweett bgt mereka.
    Apa baek sama taeng udah mulai tumbuh rasa cinta ya?
    Next chp ditunggu^^.

  5. Pingback: Almost Is Never Enough [Chapter 3] | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s