Skellington [Part 18]

SKELLINGTON Part 18 by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar with EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04 | Part 05 | Part 06 | Part 07 | Part 08 | Part 09 | Part 10 | Part 11| Part 12 | Part 13 | Part 14 | Part 15 | Part 16 | Part 17

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik aku melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing.

.

.

.

.

.

Rupanya Kai sudah melakukan berbagai macam penyelidikan. Dan Kai sendiri yang memilih orang-orang yang ingin dia ajak untuk perjalanan mencari ibu kandungnya.

Sebelum keputusan ini dibuat, aku menentang habis-habisan ide Kai karena kupikir dia tidak membuat segala persiapan yang diperlukan. Rupanya aku terlalu meremehkan pacarku. Dia sudah mengetahui di mana ibu kandungnya berada, yaitu Busan. Apalagi dia diam-diam sudah menyiapkan mata-mata rahasia di Busan untuk mengikuti kemanapun ibu kandungnya pergi.

Kini kami berempat pergi menuju Busan dengan mobil mewah Kai sekaligus kesayangannya. Apalagi kalau bukan Mercedes Benz merah yang sanggup berkendara dengan kecepatan tinggi. Yup, empat orang. Empat orang itu adalah Kai yang duduk di kursi kemudi, Baekhyun yang duduk di sebelahnya dengan jendela yang terbuka lebar, aku yang duduk di belakang Kai dan memastikan Kai melihat ke arah samping dengan baik, dan yang terakhir adalah Wheein.

Alasan Wheein ikut serta adalah karena dia kenal dengan baik topografi di daerah Busan. Dia menjalani pendidikan terakhir di salah satu universitas ternama di Busan sehingga dia mengerti beberapa tempat yang –mungkin—sering dikunjungi oleh seorang wanita. Meski aku sendiri tidak yakin akan hal ini.

“Beberapa hari yang lalu, temanku berhasil menemukan ibu kandungku di sebuah penginapan di Busan.” Jelas Kai sambil membanting setir ke arah kanan. “Lalu menurut temanku, beliau belum pindah tempat.”

Wheein mendengus sambil menatap pemandangan di sebelahnya. Jujur saja setiap kali Wheein ada di dekatku, aku jadi takut untuk menjadi diriku sendiri. Karena Wheein benar-benar orang yang bebas dan terbuka, berbeda denganku yang tertutup dan sering memendam perasaan.

“Aneh sekali kau masih memanggil ibu kandungmu dengan sebutan ‘beliau’ setelah apa yang dilakukannya padamu.” Kata Wheein lalu pernyataannya disambut tawa kecil dari Kai.

Yang menyarankan Kai agar menceritakan masa lalunya pada Wheein adalah aku. Kupikir Wheein adalah orang yang tepat untuk diajak berkonsultasi jika kita perlu solusi yang cepat dan tepat. Kenyataannya Wheein sama sekali tidak terkejut dengan masa lalu Kai dan berkata bahwa mencari ibu kandung Kai secepat mungkin adalah pilihan yang bagus.

19 tahun yang lalu, Kai yang berusia 5 tahun kehilangan ayah kandungnya dan membuat ibu kandungnya menjadi orang tua tunggal. Tapi kenyataannya ibu kandung Kai tidak membesarkan Kai dengan baik. Beliau selalu pulang ke rumah larut malam dan jarang mengajak Kai berbicara. Beliau selalu memperlakukan Kai dengan dingin karena tidak suka dengan Kai yang berpura-pura menjadi anak baik di depannya.

Hingga suatu hari, ibu kandungnya tidak kembali lagi ke rumah. Pada awalnya Kai pikir semua itu hanyalah mimpi buruk. Tapi rasa lapar, haus serta kedinginan yang dirasakannya menyadarkannya bahwa itu bukanlah mimpi. Dengan keadaan sekarat dan kelaparan serta oksigen di ruangan yang hampir menipis, Kai tertidur lelap dan menganggap bahwa dirinya sudah mati.

Beberapa hari kemudian, ayah Taemin yang bekerja sebagai polisi menemukan Kai dan segera menyelamatkannya. Selama beberapa saat Kai dirawat di rumah Taemin dan itu menyebabkan Kai dan Taemin menjadi akrab.

Satu bulan berlalu, bibi Kai, kakak perempuan dari ibu kandungnya datang menjemput Kai dengan pelukan yang hangat. Bibi Kai berjanji bahwa beliau tidak akan pernah membiarkan Kai menderita lagi dan mulai sekarang Kai akan mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan: sebuah keluarga hangat.

Maka sejak saat itu, Kai yang pindah ke rumah bibinya menjadi anak yang sangat baik dengan harapan agar ayah dan ibu barunya tidak akan meninggalkannya lagi. Kai berpikir jika dia membantah, jika dia berperilaku jelek, jika dia tidak menjadi anak yang penurut, maka perasaan terburuknya akan datang lagi. Perasaan berupa kesepian.

“Aku akan membuka atap.” Ujar Kai cepat lalu semua jendela tertutup bersamaan diganti dengan atap di atas kami yang terbuka. Anginnya tidak terlalu kencang daripada sebelumnya tapi kami mendapat sinar matahari yang terik secara langsung. “Baekhyun, apa kau pernah ke Busan sebelumnya?”

Baekhyun mengangguk cepat. “Seingatku, saat wisata sekolah aku pernah kemari bersama teman-temanku. Ah, tentu saja saat itu Taeyeon tidak satu sekolah denganku.”

“Kalau begitu apa kau mau bermain-main sebentar?” tanya Kai sambil tersenyum. “Mungkin ada beberapa tempat yang ingin kau kunjungi?”

Kali ini Baekhyun menggeleng. “Tidak perlu. Yang terpenting sekarang adalah mencari ibu kandungmu.” Sosok Baekhyun yang serius membuatku lega karena sudah mengajaknya kemari. Apa yang dikatakannya benar. Waktuku bersama Baekhyun sudah kurang dari satu minggu, tepatnya 6 hari. Dan dalam 6 hari ini aku harus bisa membantu Baekhyun untuk mencari jawaban dari pertanyaan terbesar dari benaknya: Apa dia pantas untuk dilahirkan?

.

.

.

.

.

            “Baru saja keluar?” tanya Kai pada sang resepsionis penginapan dengan nada terkejut. Ternyata teman Kai adalah sang resepsionis yang merupakan mantan pembantu di rumah Kai. Memang tepat untuk menempatkan mata-mata langsung di tempat ibu kandung Kai bermalam. “Lalu apa ada jaminan… Dia akan kembali kemari?”

“Itu dia masalahnya, Kai.” Ungkap sang resepsionis dengan nada cemas. “Kami baru memeriksa barang-barangnya dan tidak ada muatan sama sekali di dalam kopernya yang terlihat besar itu. Kurasa selama ini dia terus-terusan memakai baju yang sama.”

Jelas terlihat dari ekspresi Kai bahwa dia sangat kecewa. Kami sudah datang jauh-jauh dari Seoul dan hasilnya tidak sesuai yang kami harapkan. “Lalu selama ini seperti apa?” tanya Kai lagi.

“Seharusnya saat ini dia sudah kembali ke penginapan. Tapi hari ini… Dia terlihat mencurigakan.” Jelas sang resepsionis sambil menundukkan kepala. “Mianhae, Kai. Aku pasti akan mengabarimu begitu orang-orang menemukannya.”

“Orang-orang yang kau maksud itu… Polisi?” tanya Wheein dari belakangku, membuatku sangat terkejut. Dengan tatapan seriusnya Wheein mendekati sang resepsionis. “Aku melihat banyak sekali mobil polisi di depan penginapan ini. Apa mereka sedang mencari wanita yang sama dengan kami?”

“Polisi? Memangnya dia tawanan?” seru Baekhyun dan Wheein menggeleng kesal. Kai tidak pernah bercerita pada Wheein, Baekhyun ataupun aku bahwa ibu kandungnya melakukan tindakan kriminal.

Sang resepsionis menggeleng dengan tatapan seperti meyakinkan kami untuk tidak cemas dan khawatir. “Kudengar dia kabur dari suatu tempat. Bukan penjara sih, mungkin dia mogok kerja atau apalah. Kupikir tidak ada masalah yang serius.”

Akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari penginapan dan diam menunggu polisi yang sedang sibuk berkoordinasi. Memangnya ibu kandung Kai kabur dari mana? Dan apakah tempat itu cukup penting hingga polisi harus mengerahkan tenaga mereka?

“Aku akan coba menghubungi Paman Lee.” Kata Kai lalu tersenyum padaku. “Tunggu sebentar, ya?”

Aku mengangguk dan memperhatikan Kai yang segera berlari mencari tempat yang tenang untuk menghubungi seseorang yang tak lain adalah ayah Taemin. Baru aku ingat bahwa ayah Taemin adalah polisi dan mungkin Kai bisa memperoleh informasi tentang ibu kandungnya.

“Mungkin dia sudah tahu bahwa polisi mengejarnya.” Ucap Wheein sekali lagi berhasil membuatku terkejut. “Kalau begitu mana mungkin dia akan menghilangkan jejaknya?”

“Apa itu artinya dia kabur dari polisi?” tanya Baekhyun lagi lalu Wheein menggeleng.

“Kurasa dia ingin melakukan sesuatu sebelum kembali bersama para polisi itu.”

“Wow.” Ucap Baekhyun dengan nada kagum. “Kau terdengar seperti detektif.”

“Tapi aku dokter.”

“Tetap saja, kau seperti detektif.”

“Katakan itu sekali lagi dan aku akan… Membuat mulutmu tertutup rapat.” Ancaman Wheein berhasil membuat Baekhyun diam dan kaku. Aku jadi penasaran ada apa di antara mereka karena sepertinya mereka sudah sering berbicara. Wheein memang sulit untuk ditebak.

Tiba-tiba ponselku berbunyi dengan nada yang menandakan bahwa ada e-mail yang baru saja masuk. Ternyata itu berasal dari adikku, Solar, dengan attachment berupa fotonya yang sedang bersama Gikwang. Isi emailnya berbunyi, “Hari ini aku jalan-jalan ke taman bermain bersama Gikwang. Eonni tahu? Aku baru saja ditembak olehnya! Aku tidak percaya sih, tapi akhirnya aku menemukan pangeranku!

Aku hanya bisa tersenyum melihat ekspresi cerita Solar serta beberapa emoticon yang disertakan di emailnya yang jelas mewakili perasaan bahagianya. Tapi tatapanku tertuju pada warna wajah Solar. Wajahnya sangat pucat seperti mayat. Akhirnya aku membalas email Solar dengan isi yang berbunyi, “Setelah itu minta Gikwang mengantarmu ke rumah dan jangan lupa istirahat. Wajahmu sangat pucat.”

Balasan dari Solar tiba beberapa menit kemudian dengan isi yang cukup panjang dan berbunyi, “Siap, eonni. Oh ya, selamat hari peringatan jadian eonni dan Kai. Sudah 11 tahun ya? Huh, aku kesal sih tapi selamat ya. Sepertinya aku sudah menyerah untuk mengharapkan perpisahan kalian.”

DEG. Aku seperti baru saja terkena serangan jantung. Hari ini peringatan hari jadi aku dan Kai? Benarkah hari ini? Mengapa… Aku baru ingat? Ya Tuhan, aku sangat bodoh. Pantas saja saat berangkat tadi Kai menawariku untuk duduk di sebelah kursi pengemudi dan dengan entengnya aku menjawab tidak mau padahal setelah itu Kai terlihat sedikit kecewa… Dan mengatakan bahwa hari ini aku sedikit aneh.

Tentu saja aku aneh. Selama ini aku tidak pernah lupa hari jadi kami. Setiap tahun aku adalah orang bodoh yang paling bahagia akan kedatangannya hari ini. Mengapa aku bisa lupa? Kai pasti sekarang sangat kecewa padaku. Aku memang bodoh!

“Taeyeon?”

“Aaaaaah!” seruku sambil menutup mataku. “Mianhae, jebal, mianhae…. Mianhae!!!

“Taeyeon?” tanya Kai sekali lagi sambil mengguncang-guncangkan tubuhku. “Ada apa? Kau sakit? Apa kau mau istirahat sebelum kita melanjutkan perjalanan?”

Aku bisa merasakan tatapan jijik dari Wheein dan Baekhyun yang sedang menahan tawanya. Memangnya sudah berapa lama sejak Kai kembali setelah menghubungi ayah Taemin? Apa dari tadi aku terlihat seperti orang bodoh? Oh tidak. Aku memang orang bodoh sejak awal.

“Kita… Mau ke mana?” tanyaku dengan suara pelan.

Wheein menghela napas lalu mendorongku ke pelukan Kai. “Kalian berdua, pergi saja ke tempat yang kalian mau. Aku akan mengajak Baekhyun keliling kampus tempat aku sekolah dulu.”

“Haaaah?” seruku lalu dengan cepat Wheein dan Baekhyun menghilang dari hadapanku dan Kai. Apa jangan-jangan Wheein tahu hal ini? Tentang aku yang lupa akan hari jadianku?

Dan seakan sudah diatur, sebuah e-mail dari Wheein masuk ke ponselku dan isinya sangat singkat. Sekaligus menyebalkan. Bunyinya adalah, “Aku tak percaya adikmu lebih ingat akan hari jadianmu daripada kau sendiri.

“Kita mau ke mana, Taeyeon?” tanya Kai membuatku dengan cepat menutup ponselku dan tersipu malu seperti anak anjing. Ya ampun, apa yang aku pikirkan? Mengapa di saat seperti ini aku malah membayangkan anak anjing? Aku jelas tersipu malu seperti orang bodoh.

Aku menggeleng secepat dan sebanyak yang aku bisa. “Mengapa kita… Harus jalan-jalan? Bukankah kita kemari untuk mencari ibu kandungmu?”

Kali ini Kai yang menggeleng cepat. Tapi beda denganku, Kai tidak kehilangan karismanya sedikitpun saat menggeleng. “Kita cari lain kali saja. Menurut polisi, ibu kandungku sudah meninggalkan Busan. Lagipula masih banyak hal yang mungkin bisa membantu Baekhyun untuk sadar bahwa sebenarnya dia bisa menjadi orang yang sangat berguna.”

“Oke…” jawabku pelan. Apa jangan-jangan Kai sadar bahwa aku baru saja ingat tentang hari jadian kami? Ya Tuhan, aku benar-benar bodoh. Untuk pertama kalinya aku merasa menjadi orang yang tak berguna.

Tiba-tiba Kai mengulurkan tangannya dan tersenyum. “Ayo kita pergi kencan.”

.

.

.

.

.

Rasanya seperti kembali ke masa SMA di mana saat berbagai ujian serta tugas mengejarmu, kau bisa kabur bersama pacarmu dengan menghabiskan satu hari bersamanya. Kurasa itulah arti kencan yang sebenarnya. Bersama seorang pacar, kau bisa bersenang-senang tanpa merasakan kesepian.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku dan Kai kembali berkencan di game centre. Memang banyak sekali anak muda yang berusia sekitar 14 sampai 18 tahun yang kemari –dan hampir semuanya berpasangan—tapi aku merasa sudah menjadi pakar untuk urusan kencan di game centre.

Dulu di dekat sekolah aku dan Kai juga ada game centre yang sering kami kunjungi jika kami punya banyak uang untuk membeli koin dan tiket. Apalagi di dekat game centre itu ada toko buku yang sering dikunjungi Solar. Jadi ada kemungkinan saat aku dan Kai berkencan, kami bertemu Solar. Meski Solar selalu menatap kami tajam seolah-olah mengawasi kami.

Bicara tentang Solar, apa dia sudah istirahat? Terus terang saja aku sedikit cemas dengannya karena akhir-akhir ini wajahnya selalu pucat. Dia pasti menghabiskan banyak waktu di gedung Skellington bersama Jessica untuk menebus kesalahannya. Kesalahan besar berupa menggagalkan sebuah Skellington bernama Byun Baekhyun.

“Kau mau main ufo catch?” tanya Kai yang berdiri di sebelahku dan tangannya menunjuk sebuah mesin game dengan tumpukan boneka di bawahnya serta jangkar di atasnya yang siap meraup salah satu dari boneka tersebut. “Atau aku bisa mengambilkannya untukmu.”

Mungkin setelah ini aku harus berterima kasih pada Wheein karena sudah membiarkan aku dan Kai menghabiskan waktu bersama. Sejak aku bergabung di proyek Skellington… Aku dan Kai jadi jarang bertemu. Aku hanya bertemu dengannya jika aku membutuhkan tumpangan untuk pergi ke suatu tempat.

“Taeyeon?”

“Ah, baiklah. Ayo main.” Sahutku cepat. Akhir-akhir ini aku sering sekali melamun jika sedang bersama Kai. Entah ke mana pikiranku melayang jauh. Lalu pandanganku tertuju pada sepasang boneka kelinci kembar yang sama-sama memakai pita. “Lucu…”

“Yang itu? Sebentar, aku ambilkan.” Kata Kai lalu dia memasukkan sebuah koin dan tangan lincahnya segera menggerakkan tuas hingga mendapat boneka kelinci pertama yang memakai pita berwarna merah. Kai segera menyerahkannya padaku dan otomatis boneka itu jatuh dalam pelukanku. Dan dengan cepat juga dia memasukkan sebuah koin lagi dan berhasil mengambil boneka kelinci yang sama dengan warna pita berbeda. “Untukmu.”

Aku memeluk kedua boneka kelinci itu dengan kikuk. “Apa dua-duanya… Boleh untukku?”

Kai mengangguk sambil tersenyum lalu mendekatkan boneka kelinci yang ada di pelukanku. Kai tertawa kecil sebelum berkata, “Kasihan kalau sampai terpisah.”

Senyumku mengembang karena aku tahu apa yang dimaksud Kai. Kedua kelinci ini adalah aku dan adikku, Solar. Aku adalah kelinci yang lemah dan sering menangis jadi mungkin kelinciku adalah kelinci yang berpita biru muda –warna air mata—sedangkan Solar adalah kelinci yang penuh semangat dan ceria, kelinci berpita merah. “Gomawo…”

Kai yang seakan mengerti apa yang baru saja kupikirkan langsung mencium boneka kelinci berpita biru muda yang ada dalam pelukanku. Ya Tuhan, hari ini tidak bisa menjadi hari yang lebih indah lagi. Karena hari ini sudah terlalu menyenangkan.

“Sudah sore, ayo kita cepat mencari Wheein dan Baekhyun lalu kembali ke Seoul.” Ucap Kai sambil berjalan keluar game centre. “Bisa gawat kalau kita kembali terlalu larut.”

Kai terlalu baik. Bukan hanya padaku, tapi pada semua orang yang ada di sekitarnya. Aku tidak pernah melihat Kai menaruh dendam pada seseorang, Kai menghajar wajah seseorang, atau Kai memaki-maki seseorang dengan kata-kata kasar. Kurasa semua kebencian Kai telah mengalir dan dibenamkan pada ibu kandungnya. Jika Kai berhasil menemukan ibu kandungnya dan memaafkannya… Maka Kai akan menjadi manusia yang hampir sempurna.

“Kai, mianhae.” Ucapku pelan tapi berhasil menghentikan langkah kaki Kai. “Aku lupa kalau hari ini… Kalau hari ini adalah… Adalah…”

“Ya ampun, kau sampai berbicara seperti itu.” Balas Kai diikuti tawanya yang khas. “Tidak buruk juga kok menghabiskan satu hari denganmu tanpa rasa paksaan karena hari ini hari jadian kita. Sungguh.”

Aku menggeleng cepat. “Harusnya aku membuatkan kue… Atau memberimu kejutan… Harusnya kita bertukar kado atau semacamnya tapi…” aku menahan tangisku dan berharap air mataku tidak menetes karena tidak mungkin aku akan menangis di tempat umum seperti ini. “Kenapa tidak ada satupun… Yang berhasil aku lakukan?”

“Hei, hei, hei.” Kai segera memelukku dengan kedua tangannya. “Setiap kali bersamamu… Itulah waktu yang paling menyenangkan dalam hidupku. Kau juga berpikir seperti itu, kan?”

Aku mengangguk cepat. Kai segera melepas pelukannya dan berganti tangannya yang mendarat tepat di kepalaku untuk membelai rambutku. Semua rasa takut dan khawatirku hilang seketika.

Awalnya setelah mengetahui waktuku bersama Baekhyun sudah hanya kurang dari satu minggu… Pikiranku membayangkan hal-hal menakutkan dan hatiku terisi oleh rasa cemas. Apa aku bisa melaksanakan tugasku dengan baik? Jika tidak setelah itu apakah hatiku dipenuhi oleh rasa penyesalan? Tapi sekarang aku tidak memikirkan itu lagi. Karena Kai akan selalu ada untukku.

BRUK! Seorang wanita berambut cokelat panjang bergelombang menabrakku dari belakang dan menyebabkan salah satu boneka kelinci yang sedang kupeluk terjatuh. Wanita itu buru-buru mengambilkannya untukku sebelum Kai menjulurkan tangannya. “Maaf, ya?”

“Ah, kamsahamnida.” Jawabku cepat dan wanita itu langsung berbaur dengan orang-orang yang ada di sekitar dan menghilang dari hadapan kami. Aku tidak tahu apakah penciumanku salah tapi orang itu bau minuman keras. Sebenarnya parfumnya sangat wangi tapi wanginya bercampur dengan bau alkohol yang keluar dari mulutnya.

Seketika tangan Kai menggenggam lenganku dengan erat. Awalnya aku pikir dia ingin memastikan apakah aku baik-baik saja tapi ternyata bukan itu. Dia memegang lenganku dengan erat supaya tubuhnya tidak jatuh sedangkan tangan yang satu lagi memegang kepalanya dengan kesakitan. “Ukh…”

“Kai? Ada apa?” tanyaku lalu tubuh Kai langsung terjatuh ke lantai dengan tangan yang terus menggenggam lenganku sehingga aku ikut terjatuh. “Kau tidak tahan bau alkohol?”

Wajah Kai seakan seperti melihat hantu. Mungkin benar dia tidak tahan berdekatan dengan orang yang berbau alkohol. Jadi segera saja aku mengajaknya keluar dari game centre dan kembali ke tempat di mana kami janjian dengan Wheein dan Baekhyun. Tepat di depan mobil Mercedes Benz Kai.

.

.

.

.

.

Aku tidak bisa menahan tawa ketika Wheein menceritakan pengalamannya berkeliling ke kampus bersama Baekhyun. Bagaimana tidak, selain gaya bicara Wheein yang sangat menggemaskan, apa yang dialaminya hari ini memang merupakan pengalaman yang menarik.

Jadi semua dimulai saat mereka berdua sama-sama memasuki gedung fakultas kedokteran dan betapa Baekhyun ketakutan saat melihat para mahasiswa, karena semuanya memakai jas laboratorium. Para mahasiswa itu mengingatkan Baekhyun akan para petugas di gedung Skellington.

Lalu saat mereka mencoba mesin X-Ray pada Baekhyun, tentu saja tidak ada anatomi tubuh Baekhyun yang diketahui Wheein. Tubuh Baekhyun terdiri dari banyak kabel serta mesin dan beberapa benda seperti bola yang mungkin merupakan pengganti jantung, hati, dan organ-organ tubuh lainnya. Dan saat mereka berdua ingin mencetak hasil X-Ray, mesinnya otomatis menjadi error kemudian tidak bisa berfungsi lagi.

“Untung saja tidak ada yang melihat kami.” Ungkap Wheein sambil tertawa kecil. “Semoga saja mesin X-Ray itu memang sudah rusak sejak awal.”

“Memangnya kira-kira apa yang akan dilakukan mereka jika tahu mesin X-Ray mereka rusak?” tanya Kai begitu mobilnya berhenti karena lampu merah.

Wheein melipat tangannya di dada dan berkata, “Tentu saja mereka akan memburu Baekhyun.”

Wae? Waeyo? Kenapa aku saja!?” seru Baekhyun dan seisi mobil tertawa keras. Untung saja sebelumnya Kai sudah memastikan atap mobil tertutup. Jika tidak, semua yang melintasi jalanan bisa mendengar suara tawa kami. Dan alasan kami tertawa karena mungkin saja para mahasiswa berpakaian jas laboratorium itu ingin memburu Baekhyun untuk mempelajarinya lebih lanjut.

“Bagaimana? Kau tertarik dengan dunia dokter? Kalau mau kau bisa ikut bersamaku ke Rumah Sakit dan belajar macam-macam hal.” Ujar Wheein lalu Baekhyun menggeleng dengan cepat. Mungkin kejadian hari ini sudah cukup aneh untuk Baekhyun.

Bicara soal dokter, aku jadi teringat Gikwang yang sekarang adalah pacar Solar. Saat Wheein mengajak Gikwang untuk ikut serta dalam liburan kami ke Pulau Jeju, alasan Wheein memilih Gikwang karena dia satu-satunya teman dokter Wheein yang belum memiliki pacar. Tapi kira-kira di mana Gikwang dan Wheein bertemu?

Wheenie.” Sapaku lalu dengan cepat Wheein menoleh ke arahku. Aku terkejut karena pertama kalinya aku memanggil Wheein dengan sebutan seperti itu. Aku kira dia akan mengomel bahwa yang boleh memanggilnya seperti itu hanya pacarnya, Gongchan. “Aku boleh tanya sesuatu?”

“Ada apa?” tanya Wheein kembali yang berarti dia tidak keberatan aku menanyakan apapun padanya.

“Bagaimana… Kau bisa mengenal Gikwang? Apa jangan-jangan kalian kuliah di universitas yang sama—“ belum selesai aku bicara, Wheein sudah mengangguk. “Tapi bukankah jurusan yang kalian ambil berbeda?”

Kali ini Wheein menggelengkan kepalanya. “Aku mengambil jurusan dokter umum bersamanya. Bedanya, Gikwang tidak melanjutkan ke spesialis manapun, sedangkan aku melanjutkan belajarku ke spesialis anak.” Jelas Wheein panjang lebar. “Kenapa? Kau memikirkan adikmu?”

“Apa?”

Wheein mendengus. “Aku tahu kok kalau Gikwang sudah menembak Solar.”

Jinjjayo?” seru Kai yang bahkan aku tak mengira dia mendengarkan karena sedang menyetir. Dan detik-detik selanjutnya aku bisa mendengar dengan jelas kalau Kai sedang menahan tawanya. “Solar… Aku tidak salah dengar, kan?”

“Siapa?” tanya Baekhyun seakan dia baru saja hilang ingatan. Tapi beberapa detik kemudian dia langsung mengangguk karena sepertinya ingatannya sudah kembali. “Perempuan berambut panjang, bermulut lebar, dan berpipi chubby itu, ya? Kalau tidak salah, dia adikmu, kan?”

Aku langsung mengangguk karena Baekhyun memang bertanya padaku. Kemudian dengan cepat aku menoleh ke arah Wheein karena ada satu lagi pertanyaan yang terlintas di benakku. “Sepertinya kau dan Gikwang cukup dekat, ya? Apa dia menceritakan segalanya padamu?”

“Bukan hanya Gikwang.” Kata Wheein dengan cepat lalu tangan kanannya merogoh tas tangannya dan berhasil mendapatkan satu benda yang dicarinya. Ponsel. “Bahkan adikmu sendiri, Solar, sering mengirim e-mail padaku untuk berkonsultasi.”

Aku mengerutkan kening karena tidak mempercayai apa yang baru saja dikatakan Wheein. “Solar berkonsultasi padamu?”

Wheein mengangguk cepat sambil menggeser layar di ponselnya. “Kira-kira sejak kita kembali dari Pulau Jeju. Dia meminta alamat e-mailku dan sejak saat itu dia rajin mengirimiku berbagai pesan.”

Aku jadi semakin curiga dengan semua ini. “Memangnya… Solar punya masalah apa sampai dia berkonsultasi denganmu?”

“Kenapa kau tidak tanya sendiri?” balas Wheein lalu memasukkan ponselnya kembali. “Kau kakak kandung Solar, kan? Mengapa kau harus mengetahui segala hal tentang adikmu dariku? Apa kau takut?”

“Wheein.” Ujar Baekhyun datar. “Hentikan sikapmu yang menyebalkan itu.”

Untuk pertama kalinya aku mendengar Baekhyun berusaha menurunkan emosi Wheein. Terkadang Wheein bisa menjadi sangat menyebalkan tapi apa yang dikatakannya benar. Kalau aku memang kakak kandungnya, aku harus bertanya sendiri padanya. Aku tidak boleh takut dan menjadi pengecut.

“Baiklah.” Kataku tegas. “Aku akan mengirim e-mail untuk Solar.”

Dengan segera aku meraih ponselku yang ada di talam tas dan mencari kontak Solar secepat kilat. Aku juga mengetik isi pesanku dengan sangat cepat. Meski singkat, tapi bunyinya sangat langsung, “Aku dengar dari Wheein kalau kau sering berkonsultasi padanya. Apa kau baik-baik saja? Bisa kau kirimkan bukti bahwa kau baik-baik saja?

Aku berdoa agar balasan dari Solar datang lebih cepat dari biasanya. Dan ternyata Tuhan mendengarkan doaku karena Solar membalas e-mailku tepat satu menit setelah terkirim dengan attachment berupa fotonya yang sedang makan bubur di dalam kamar. “Aku baik-baik saja, eonni, jangan cemaskan aku. Oh ya, bagaimana perjalanan seharian penuh ke Busan? Pasti menyenangkan, bukan? Aku juga ingin menghirup udara segar di sana. Saat ini aku sedang mengisi baterai dalam tubuhku dengan bubur! Aku tak sabar untuk segera bertemu dengan eonni.”

Seperti biasa pesannya penuh dengan emoticon lucu dan limited yang Solar dapatkan dengan menghabiskan uang. Tapi yang menjadi perhatianku adalah foto Solar yang sedang memakan bubur. Rambutnya seperti baru saja dijambak karena yang aku lihat rambut Solar tipis sekali.

“Taeyeon? Ada apa?” tanya Kai dari balik kemudi karena aku terdiam sangat lama setelah mendapat e-mail dari Solar. “Apa kata Solar?”

“Wajah yang pucat, tulang pipi yang terbentuk jelas, dan rambut yang terus-menerus rontok karena efek dari kemoterapi.” Ujar Wheein tiba-tiba dengan nada yang dingin. “Hanya ada satu penyakit di dunia yang mempunyai tanda-tanda seperti itu. Penyakit itu adalah salah satu dari musuh terbesarku, musuh terbesar kami, musuh terbesar seluruh dokter di dunia.”

“Solar sakit?” tanya Baekhyun sambil menegokkan kepalanya ke bangku belakang tempat aku dan Wheein duduk. “Dia sakit apa?”

Aku bisa merasakan tanganku yang bergetar memengang ponsel. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Seakan-akan tidak mau memberitahuku, baik Wheein dan Kai sama-sama menatap jalanan yang ada di depan mobil. Baekhyun jelas tidak bisa memberikan jawaban tapi aku tetap ingin bertanya. “Apa kau ingin berkata padaku bahwa Solar… Terserang kanker?”

Wheein memberiku tatapan penuh belas kasihan. “Kalau iya, memangnya kenapa?”

Dan tanganku langsung menekan kata call yang ada di bawah nama Solar.

BERSAMBUNG

Annyeonghaseyo, scarlettkid di sini. Mungkin beberapa dari kalian akan mengira bahwa sebentar lagi serial ini akan selesai tapi kalian salah! Serial ini masih akan berlanjut melebihi 20 part. Oh ya sekedar informasi, cara membaca Wheein adalah “hwi-in” dan cara membaca Wheenie adalah “hwi-ni” ^^

Ada berita yang ingin aku sampaikan bersamaan dengan terbitnya part 18. My one of a kind group, Mamamoo akan segera melakukan comeback dengan merilis album pertama mereka yang diberi judul “Melting”. Aku harap kalian mulai menyukai Mamamoo karena mereka adalah grup yang sangat berbakat~

Terima kasih sudah membaca sampai akhir dan aku mengharapkan kritik serta saran kalian di kolom komentar.

Part 19 will be published 5th March 2016

Advertisements

50 comments on “Skellington [Part 18]

  1. Sii Wheein hebat bgt da…
    Dokter yg merangkap sbg detective hahaha…

    Ahh suka de moment KaiYeon nya 😍

    waa knp Tae jd lemot? 😂
    Pasti dia merasa bersalah pd adiknya sendiri 😔

  2. Coooolll!!!
    Kasian Solar yg udh rela kerja keras jagain skellington baek padahal dia lg sakit..
    Gimana nasib Taeyeon kalau solar meninggal, Taeng kan udh ditinggal Baek, masa ditinggal Solar juga?
    Atau jangan jangan Solar jadi Skellington juga nantinya??
    Hehe
    Ditunggu tanggal 5 maretnya thorrr

  3. Kasian taeyeon cobaannya banyak banget, udah dari kecil sampe skrg
    Apalagi menyangkut adik kesayangannya satu”nya pasti dia panik dan sedih banget
    Itu kai kenapa kok tiba” sakit kepala, emang bener yah karena gak suka ama bau alkohol atau karena wanita yg nabrak taeng??
    Makin kesini konfliknya makin berat aja yah jadi tambah suka, keren dehhh
    Next chapnya ditunggu thor dan tetap semangat^^

  4. solar kena cancer trus baekhyun bentar lagi bakal meninggal. knpa cast nya pada mau menghilang /? moga aja solar bisa sembuh, baekhyun juga gak jadi meninggal hahaha wheein keren banget disini hihi next chap ditunggu 🙂

  5. Hah?! Solar kanker? Gila thor omg knp jd begini;_;
    Kesian taeng;___________;
    Bekyun pergi solar pergi nanti jadimya sm kai dong ya/? Wekekekke
    Hidup kaiyeon!/?
    Ga percaya kl kai begitu cm krn gasuka bau alkohol;_; pasti ada sesuatu!/?
    Ah thor jangan gini2 amat alurnya knp si kesian taeng;________;
    Iih rasanya ini yg terpendek dr chapt2 sebelumnya ya thor.-.
    Tp ttp great as always!!!!!❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
    Next ditunggu bgt yathorrrrrrr❤❤❤❤👌👌💪💪💪💪

  6. ceritanya panjang banget. ide mu bener2 ga abis ya thor. aku jadi greget nih.
    aku setuju sama ucapan nya solar, kyk nya harapan nya tipis deh buat taeyeon kai putus. aduh nasib baekhyun gimana? disini fokusnya bukan ke baekhyun huhu
    jadi kapan baekhyun taeyeon bisa bersatu? hahaha

  7. solar ngapa jadi sakit gitu dah. oh wanita yg nabrak taeyeon kai itu emaknya kai bukan thor? hahha nebak mulu ya. aduh thor greget nih sama alur nya hahaha

  8. Thor~~ itu kenapa ada tulisan bersambung? ganggu tuh thor, hapus gih.. :3 .. Thor jangan matiin*/? si solar sama baekhyun ya? ane baca ni ff gegara baca tu cast ada solarnya, jd jangan di matiin ya . ..
    Thor ane baca ini gegara nonton immortal song pas mamamoo, lah ane terseponah langsung tu sama gbnya.. tpi ane langsung fokus ke solar .. Karena itu ane baca ni ff, soalnya suka sama cast cewenya.. kalo cast cowo sih biasa aja.. jujur ane sama sekali nggk ada bb yg ane suka..
    Yaudh gitu aja curhatan saya :3.. kapan2 sekalian konseling..
    .
    .
    Cie author yg tiba2 bertranformasi jadi superhero.. Xieee xiee :**:**
    thor~ thor~

  9. Jangan sampai solar kenapa napa. Atau nnt solar bakalan jadi Skellington juga ? :3 Aku berharap banyak Kai ama Taeyeon ♥

  10. cobaan apalagi buat taeyeon, setelah baek skrg solar yg sakit,,,
    smga happy ending please,,
    see you 5th March, fightaeng!!!

  11. Pingback: Skellington [Part 20] | All The Stories Is Taeyeon's

  12. Pingback: Skellington [Part 21] | All The Stories Is Taeyeon's

  13. Pingback: Skellington [Part 22] | All The Stories Is Taeyeon's

  14. Pingback: Skellington [Part 23] | All The Stories Is Taeyeon's

  15. Yahh…nggak ada tanda-tanda ending ya BaekYeon,
    tapi kenapa solar punya penyakit seperti itu? apa ini akan jadi sad ending?

  16. Pingback: Skellington [Part 24] | All The Stories Is Taeyeon's

  17. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  18. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s