[FREELANCE] Darkness Of Love (Chapter 2)

darkness of love

Darkness Of Love Chapter 2

Title : Darkness Of Love

Author : Yeon Chan

Rated : M

Genre : Romance, Sad

Main Cast : Kim Taeyeon, Byun Baekhyun dan Xi Luhan

Other Cast : Jessica Jung dan Kim Jongin

Poster By :Mutia.R @ Poster Channel

Desclaimer : Ini ff hasil dari pemikiran dan imajinasi saya yang tidak karuan(?) dan terinspirasi dari novel dan film-film.

Author’s Note : Masih banyak typo dan kata-kata yang tidak jelas. Jadi maafkan author. Selamat menikmati(?)

Preview: Prolog, Chapter 1

“Suatu saat nanti, kau akan mencariku dan memohon padaku untuk membuka penawaranku kembali nona. Ingat itu!” dan pintu lift itupun tertutup. Luhan menatap lift itu dan menyeringai lebar.

“Akan aku pastikan kau akan memohon kepadaku Kim Taeyeon.”

@Darkness of Love chapter 2              

Taeyeon terus melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit dengan tergesa-gesa menuju tempat dimana ibu-nya berada. Terlihat dokter bersama bibi Jung sedang membicarakan sesuatu di depan ruangan itu, dan segera mungkin gadis itu mendekati mereka.

“Dokter, bagaimana keadaan eomma? Apa dia baik-baik saja?” Sambar Taeyeon setelah dirinya sudah berada di antara sang dokter dan Jung ajhumma. Jujur saja, gadis itu sangat cemas sekali.

“Ah, Taeyeon-ah. Eomma-mu saat ini masih bisa kami tangani, tetapi segera mungkin kau harus menandatangani persetujuanmu untuk mengoperasi eomma-mu kembali.” Jelas dokter Song dengan menatap serius ke arah Taeyeon. Taeyeon hanya menundukkan kepalanya mendengar perkataan dokter Song padanya, dirinya sudah tidak sanggup dengan keadaan sekarang. Gadis itu sama sekali tidak memiliki uang sebanyak itu.

“Ba-baiklah dokter. Saya segera mungkin akan menandatanganinya, setelah saya mendapatkan uang yang cukup untuk biaya operasi eomma.” Jelas Taeyeon. Dokter Song menganggukkan kepalanya mengerti, lalu meminta ijin untuk kembali ke ruangannya.

Setelah dokter Song pergi, Jung ajhumma menatap gadis itu dengan tatapan sedih dan kasihan. Wanita paruh baya itu sangat ingin membantu Taeyeon, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, dirinya juga tidak memiliki uang sebanyak itu.

“Taeyeon-ah?” panggil Jung ajhumma pelan

“Ne, ajhumma? Ada apa?” jawab Taeyeon pelannyaris seperti bisikan. Dengan air mata yang berlinang dirinya menatap Jung ajhumma. Jung ajhumma memeluk gadis itu dengan erat saat dirinya melihat kedua mata Taeyeon yang sudah berlinang air mata.

“Ajhumma… Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan untuk eomma?! Apa yang harus kulakukan ajhumma?! Aku tak bisa kehilangannya. Tuhan, apa yang kau lakukan kepadaku?! Kau telah mengambil semuanya. Tuhan, aku mohon jangan ambil eomma-ku sekarang. Hanya eomma yang kupunya saat ini, hanya dia satu-satunya keluarga yang kupunya. Tuhan, jika aku memiliki kesalahan kepadamu, tolong hukum aku, jangan eomma-ku Tuhan. Ajhumma, apa yang harus kulakukan?! Kumohon jawab ajhumma! Ajhumma, tolonglah jawab! Apa Tuhan tidak menyayangiku lagi?! Ajhumma… Hiks” histeris gadis itu dengan air mata yang terus saja mengalir deras dari pipinya.

Jung ajhumma hanya bisa memeluk Taeyeon dengan sangat erat, berharap gadis itu tenang dalam pelukannya. Jung ajhumma sangat menyayangi Taeyeon dan eomma Taeyeon. Wanita paruh baya itu sudah menganggap mereka adalah keluarganya. Jadi, apa yang terjadi di antara mereka, wanita paruh baya itulah yang siap menolong mereka berdua. Tetapi, untuk sekarang, dirinya tidak bisa menolong apapun untuk mereka.

“Taeng-ah, uljimayo.” Hibur Jung ajhumma.

“Ajhumma… Apa yang harus kulakukan sekarang?” isak Taeyeon. Jung ajhumma mengelus rambut Taeyeon dengan sayang.

“Taeng-ah, dengarkan ajhumma. Kau tidak bisa menyalahkan Tuhan. Ini adalah sebuah ujian untukmu Taeng-ah, hadapilah dengan semampumu. Dan ajhumma akan membantumu sebisa ajhumma. Ajhumma juga akan menjual sesuatu yang bisa menghasilkan uang agar membantu membiayai ibumu. Sekarang, kau harus fokuskan pekerjaanmu. Ajhumma tidak ingin kau memikirkan ini sekarang. Arraseo?” ujar Jung ajhumma. Taeyeon, gadis itu hanya mampu menganggukkan kepalanya tanpa berbicara sepatah katapun lagi.

“Baguslah, sekarang kita harus bertemu eomma-mu. Aku yakin, eonnie sangat merindukanmu.” Ucap Jung ajhumma tersenyum sambil menuntun Taeyeon masuk ke dalam ruangan, dimana Ny. Kim terbaring lemah di sana.

Saat memasukki ruangan itu, gadis itu menatap pedih ke arah ibunya. Sungguh, dirinya tidak mampu untuk menatap sang ibu yang sedang terbaring lemah di sana.

“Eomma…” panggil Taeyeon dengan suaranya yang parau dan pelan seperti bisikan. Langkah demi langkah gadis itu tempuh untuk menuju ibunya terbaring.

“Eomma…” panggil gadis itu sekali lagi saat dirinya tepat berada di dekat ibunya. Dengan pelan Taeyeon mulai menggenggam tangan kanan sang ibu, dan dengan lembut dirinya mengelus kemudian mencium tangan sang ibu.

“Eomma, cepatlah sembuh. Taeng ingin sekali melihat senyum eomma setiap pagi. Melihat eomma memasak makanan untukku lalu aku akan memeluk tubuh eomma dari belakang dan melihat eomma kaget saat aku memeluk dirimu tiba-tiba. Merindukan ciuman eomma saat aku ingin tertidur dan saat aku akan berangkat bekerja. Aku ingin melakukan segala hal dengan eomma kembali. Eomma, Taeng mohon untuk tetap bertahan. Aku akan mencari uang untuk menyembuhkan eomma, hanya eomma yang aku punya. Dan aku sangat tidak ingin eomma meninggalkan aku sendiri di sini. Aku menyayangimu eomma.”

Taeyeon kembali mencium tangan ibunya dengan lembut. Jujur saja, dirinya merindukan sosok ibunya yang penuh kasih sayang kepadanya. Setelah mencium tangan ibunya yang lembut itu, gadis itu beralih mencium kening sang ibu dan membisikkan sebuah kata, “Saranghaeyo eomma.”

***

Taeyeon, gadis itu terlihat memikirkan sesuatu. Ya, kalian benar! Bayang-bayang yang terjadi di rumah sakit itu bermunculan, perkataan dokter Song membuatnya kalang kabut. Pernyataan bahwa kondisi ibunya semakin hari semakin memburuk, membuat dirinya harus segera bertindak untuk melakukan operasi. Gadis itu bingung, dimana ia harus mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang cepat?

Tiba-tiba saja ia mengingat perkataan presdir Xi yang menawarkan sejumlah uang yang dapat ia gunakan untuk operasi dan perawatan ibunya. Haruskah dirinya menjual kehormatannya dan harga dirinya begitu saja hanya untuk mendapatkan uang itu? Jawabannya tidak. Tapi, dirinya sungguh tidak bisa berbuat apa-apa. Gadis itu membutuhkan uang itu segera, dia tidak ingin kehilangan orang yang dicintainya dan disayanginya. Ibunya adalah keluarga satu-satunya yang dia punya.

Gadis itu dulu adalah orang yang penuh berkecukupan. Semenjak ayahnya meninggal, ibunya bekerja sebagai penjual makanan di sepanjang jalan kota Seoul. Dan karena penghasilannya yang pas-pasan, Taeyeon dan ibunya menjual rumah dan harta benda miliknya untuk membeli sebuah apartement kecil tetapi nyaman untuk mereka berdua. Taeyeon dan ibunya juga harus berhemat dalam menggunakan uang.

Taeyeon telah bekerja dan menyuruh ibunya untuk kembali menjadi ibu rumah tangga seperti sebelumnya. Tetapi, ibunya cukup keras kepala dan lebih memilih untuk tetap berjualan. Gadis itu tidak bisa melawan lagi dan membiarkan ibunya bekerja, dan mengingatkan kepada ibunya tidak perlu bekerja keras-keras karena Taeyeon sudah mendapatkan gaji yang cukup untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Seminggu menjalankannya berjalan dengan lancar, tetapi keesokkan harinya ibu Taeyeon jatuh sakit.

Awalnya Taeyeon berpikir penyakit ibunya hanya kelelahan saja, tetapi saat diperiksa oleh dokter. Dokter menyatakan bahwa ibunya mengidap penyakit jantung yang cukup parah. Dan ternyata selama ini ibunya menyembunyikan penyakit jantungnya itu kepada Taeyeon. Taeyeon menangis kala itu. Jika gadis itu mengetahui penyakit ibunya, pasti Taeyeon akan menantang dan melawan ibunya untuk tidak bekerja dan beristirahat saja di rumah.

Sekarang ibunya benar-benar harus segera dioperasi, dan dirinya tidak memiliki uang sama sekali. Apakah cara itu adalah cara satu-satunya yang bisa Taeyeon lakukan untuk ibunya? Taeyeon benar-benar tak punya jalan keluar sekarang, untuk mengumpulkan uang sebanyak itu gadis itu memerlukan waktu yang banyak dan ibunya membutuhkannya sekarang. Tidak mungkin operasi itu harus menunggu lagi, bisa-bisa ibunya sudah tidak bisa terselamatkan.

Taeyeon telah sampai di dalam apartement miliknya. Bayangan ibunya yang selalu tersenyum tulus menyambut dirinya pulang, membuat gadis itu lagi-lagi menangis. Hidup sendiri tanpa ibunya saja sudah membuat dirinya kesepian, apalagi jika ibunya sudah tidak ada di dunia ini. Tidak! Taeyeon tidak ingin itu terjadi. Taeyeon memantapkan hatinya dan besok adalah hari dimana kehidupan seorang Kim Taeyeon akan berubah.

***

Author POV

Seperti biasa, gadis itu berangkat ke kantornya. Disambut dengan sapaan dari teman-teman sekantornya, kemudian harus rela telinganya panas mendengar sahabatnya yang cerewet itu bercerita. Setelahnya, Taeyeon disibukkan dengan kertas-kertas yang sudah menantinya untuk segera dikerjakan.

Jam makan siang untuk para karyawan telah tiba dan terlihat seorang gadis berjalan menuju taman yang selalu menjadi tempat favorite-nya untuk menenangkan pikiran. Gadis itu mendudukkan dirinya di sebuah bangku yang menghadap kearah bunga-bunga indah yang menyambut hangatnya mentari. Dengan pohon yang menjadi payung untuk dirinya berlindung agar tidak terlalu terkena cahaya matahari yang terlalu menyilaukan mata. Dengan ditemani lagu-lagu kesukaan dirinya, Taeyeon mulai menarik napas dalam-dalam dan menghelanya dengan pelan agar pikiran yang sedang berada di otaknya kembali jernih.

“Tuhan, jika ini tidak berhasil, tolong maafkan aku. Aku harus melakukan ini semua demi eomma. Eomma, tolong tunggu Taeng sebentar saja.”

***

Taeyeon menghela napasnya kembali, sudah beberapa kali ini, gadis itu menarik dan membuang napasnya untuk menetralkan jantungnya yang bekerja dua kali lebih cepat.

Krek~

Suara pintu yang telah gadis itu buka. Dan tampaklah pria paruh baya yang sedang merapikan kertas-kertas di atas meja. Pria paruh baya itu, yang diketahui adalah manager Lee mengalihkan pandangannya ke arah Taeyeon yang sedang membungkukkan badannya.

“Ada apa Taeyeon-ssi?” tanya manager Lee.

“Sa-sajang-sajangnim, An-annye-annyeonghaseo. M-ma-maaf me-meng-ganggu A-anda. S-saya in-ingin ber-bicar-berbicara de-dengan Anda.” Ujar Taeyeon gugup sambil menundukkan kepalanya.

“Ada yang ingin kau bicarakan Taeyeon-ssi?” tanya manager Lee.

“Sa-sajang-sajangnim, beg-begini… Sa-saya in-ingin me-meminjam u-ua-uang per-perus-ahaan ke-kembali. Bo-bolehkah sa-saya me-meminjam 10 ju-ta won?” Tanya Taeyeon gugup, sampai dirinya ingin menelan ludah saja tidak bisa. Manager Lee yang mendengar hal itu membuang napasnya kasar dan menatap Taeyeon dengan pandangan kecewa, dan ini membuat gadis itu menundukkan kepalanya lebih dalam.

“Nona Kim, saya tidak bisa memberikan pinjaman uang kembali kepada Anda. Jika saya menyetujuinya, pasti presdir Xi akan memecat saya. Apalagi Anda meminjamnya tanpa alasan yang jelas. Saya benar-benar tidak bisa membantu Anda.” Mendengar jawaban dari manager Lee membuat gadis itu sudah tidak bisa mempunyai cara lain.

“Ta-tapi sa-sajangnim, sa-ya benar-benar mem-bu-tuhkan uang itu secepatnya.” Mohon Taeyeon.

“Tidak bisa Taeyeon-ssi, tapi saya benar-benar tidak bisa meminjamkannya kembali. Jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, silahkan keluar.” Jawab mananger Lee dengan tegas. Taeyeon hanya bisa membuang napasnya kecewa, kemudian gadis itu meminta ijin untuk keluar dari ruangan tersebut.

Frustasi… Itulah yang dirasakan gadis itu sekarang, tak ada jalan keluar. Rasanya gadis itu ingin menangis sekencang-kencangnya agar mengurangi beban yang ia tanggung sendiri. Tetapi, ini masih tempat umum. Tidak mungkin ia menangis dan berteriak tidak jelas di tempat umum begini, jika dirinya tidak ingin dicap orang gila bukan?

Taeyeon merenung, menatap kosong pantulan dirinya yang sangat berantakan sekarang. Tiba-tiba saja memori dalam dirinya tentang kejadian semalam terulang di dalam cermin. Dimana ibunya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dan seorang laki-laki yang sangat terhormat di perusahaannya menawari dirinya hal gila dan tidak manusiawi.

***

Hari sudah mulai malam, ini waktunya untuk semua karyawan yang bekerja pulang dan beristirahat. Tetapi, tidak untuk gadis yang sedang berkutat dengan setumpuk kertas di mejanya. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam, rasanya dia sedang di dalam tempat yang sangat sesak sekali.

Oh, salahkan gadis itu yang lupa akan satu tugas yang diberikan manager Lee untuknya. Dia lupa jika berkas-berkas itu harus diselesaikan hari ini, dan dirinya malah asyik berperang dengan otaknya

“Oh, akhirnya sedikit lagi selesai. Dan besok pagi sekali akan kuantarkan ke ruangan manager Lee.” Gumam gadis itu. Suara ketikan demi ketikan terdengar, gadis itu hanya tinggal menambahkan sedikit saja kata-kata yang sudah tertulis di sebuah kertas, maka tugasnya untuk hari ini akan selesai.

“Selesai.” Ujar gadis itu senang bukan kepalang. Pasalnya, perjuangan dirinya di depan komputer saat ini tidak sia-sia karena pekerjaannya telah selesai dengan kurung waktu yang cukup cepat.

Gadis itu melirik jam di tangannya, “Sekarang jam sudah melewati angka 9 malam dan aku harus cepat pulang, sebelum hujan mulai turun.” Dengan cepat Taeyeon merapikan meja kerjanya dan membawa kertas-kertas yang harus dibawanya pulang.

Taeyeon berjalan dengan sedikit tergesa-gesa. Gadis itu tidak ingin terjebak hujan nanti. Kalian pasti bertanya-tanya, bagaimana gadis itu tahu bahwa kota Seoul akan turun hujan nanti. Jawabannya adalah, gadis itu sempat melihat awan yang terlihat hitam tidak biasanya. Dan gadis itu sempat membaca artikel perkiraan cuaca hari ini di sebuah koran.

Baru saja Taeyeon melangkahkan kakinya keluar dari perusahaan itu, tiba-tiba saja air hujan turun deras menyelimuti malamnya kota Seoul. Gadis itu mendesah kecewa, sudah diduga jika dirinya akan terjebak hujan nanti.

Bagaimana gadis itu pulang nanti? Dirinya sama sekali tidak membawa payung. Haruskah dirinya berlari menerobos hujan deras menuju halte bus yang cukup jauh dari Xi Company?

“Ck, kenapa harus turun sekarang? Kenapa tidak nanti saja saat diriku sudah mimpi indah di rumah? Akh, menyebalkan sekali.” Kesal Taeyeon. Mendengar perkataan Taeyeon, membuat laki-laki yang berada tidak jauh dari tempatnya sedikit terkekeh pelan.

Tunggu dulu! Laki-laki? Sejak kapan ada laki-laki di sana?

Laki-laki itu baru saja keluar dari lift dan menuju parkiran. Saat dirinya sudah berada hampir dekat dengan mobil sport hitam miliknya, dia melihat seorang gadis berdiri di depan parkiran sambil berteduh dan menatap jalanan yang sedang diguyur oleh air hujan. Laki-laki itu mencoba mendekati gadis itu, tetapi saat dirinya sudah hampir dekat, gadis itu tiba-tiba saja bergumam dengan nada yang sangat lucu menurut laki-laki itu.

“Ekhm, kau butuh tumpangan nona?” ujar laki-laki itu. Taeyeon sedikit terkejut dengan suara itu, dirinya memutar kepalanya untuk menghadap kepemilik suara itu.

“Eoh, presdir. Tidak perlu presdir Xi, saya akan menunggu hujan berhenti.” Ujar Taeyeon.

“Kau yakin? Padahal aku dengar rumahmu jauh dari sini dan harus menaiki bus, tetapi bus terakhir akan datang jam 10 malam, sedangkan ini sudah hampir jam 10 malam dan hujan belum berhenti. Kalau begitu…”

“Presdir tunggu! A-apa saya bo-leh men-menum-pang? Ma-maksud sa-ya, apa saya boleh me-minjam pa-yung Anda?” Jawab Taeyeon ragu. Luhan yang mendengar itu tersenyum penuh kemenangan. Lalu menarik tangan Taeyeon dengan lembut dan membawanya ke dalam mobil sport miliknya.

***

“Chagiya!” teriak seorang laki-laki yang sedang tersenyum sambil melambai ke arah seorang gadis yang menyeret kopernya putih kesayangannya.

“Jong In oppa!” jawab gadis itu girang. Jong In, laki-laki itu tersenyum saat wanita yang sangat dirindukannya berjalan menghampirinya.

I really miss you my babySica.” Ujar Jong In sambil memeluk erat gadis blonde itu. Jessica tersenyum mendengar perkataan Jong In.

I miss you too oppa.” Jawab Jessica. Jong In yang mendengar itu kemudian mengecup pucuk kepala Jessica.

“Bagaimana saat di sana? Apa ada pasien yang mendekati princess-ku?” tanya Jong In.

“Banyak sekali oppa. Bahkan ada yang melamarku terang-terangan di rumah sakit. Kau tahu oppa, dia sangat tampan sekali.” Jawab Jessica dengan jahil. Jong In yang mendengar itu cemberut, membuat Jessica yang melihatnya tertawa.

“Sayangnya, aku sudah memiliki pangeran yang selalu menunggu-ku di Seoul.” Jawab Jessica yang membuat laki-laki di sebelahnya tersenyum dan tiba-tiba saja mencium pipi gadis itu.

“Ya oppa!” ujar gadis itu dengan pipi yang merona merah menahan malu. Bagaimana tidak malu, mereka sekarang diperhatikan oleh orang-orang yang berlalu-lalang di bandara tersebut, tatapan iri dan seperti menggoda kedua pasangan tersebut. Kalian pasti tahu rasa malu yang dirasakan gadis cantik itu.

Jong In tertawa melihat tingkah gadis yang sudah bersamanya selama 2 tahun 5 bulan dan gadis yang sangat dirindukannya selama 1 tahun ini. Rasanya dunia hanya milik mereka berdua.

“Oppa, bagaimana dengan Luhan? Apa bocah itu masih bermain dengan wanita-wanitaone night stand itu?” tanya Jessica, setelah mereka telah berada di dalam mobil.

“Sama seperti sebelum kau pergi ke Amerika, bocah itu masih bermain dengan wanita-wanita itu.” jawab Jong In dengan menghela napas berat.

“Aish anak itu benar-benar tidak bisa dibilang lagi.” Kesal Jessica.

“Sudahlah chagi, ada waktunya Luhan akan meninggalkan kelakuannya yang buruk itu.” ujar Jong In sambil mengelus rambut Jessica dengan lembut.

“Semoga saja.” Harap Jessica.

***

Tok Tok Tok

Suara ketukan pintu terdengar dan mengusik sang empunya yang sedang tertidur pulas.

“Tuan muda, makanan Anda sudah siap.” Ujar seseorang di balik pintu sang pemilik kamar tersebut sambil setengah berteriak untuk membangunkan pria itu. Luhan mengerang kesal, tidurnya yang nyaman harus terganggu oleh pelayan itu.

“Ya.” Jawab Luhan singkat sambil mengacak rambutnya dengan kasar. Sungguh mengganggu ketenangannya. Laki-laki itu dengan segera membersihkan dirinya untuk bersiap-siap pergi dan mengawali harinya dengan kesibukkan yang sudah menantinya.

Luhan menuruni tangga dan menuju meja makan, memakan sarapan yang telah disediakan oleh pengurus rumah tangganya. Luhan memakannya dengan suasana yang sangat sepi dan sungguh menyebalkan baginya. Pasalnya, rumahnya yang besar dan mewah, dan yang dapat menampung banyak orang untuk tinggal di sana hanya menjadi tempat tinggalnya sendiri bersama para pengurus rumahnya.

Kedua orangtuanya mengurusi perusahaan mereka di China, dan kadang mereka akan berada di Korea untuk berlibur saja. Luhan sudah terbiasa akan semua ini, jadi dia tidak terlalu pusing akan hal semacam ini. Cukup bersenang-senang sedikit, maka semua kejenuhannya akan menghilang begitu saja.

Beep~ Beep~

Suara deringan yang mampu membuat memecahkan keheningan yang terjadi pada dirinya. Tertera nama “Appa” di layar I-phone-nya yang membuat pria itu mengkerutkan keningnya. Tanpa menunggu lama, pria itu mengangkatnya.

Halo.” Jawab Mr. Xi dengan suara tegasnya.

Halo, baba.”(Halo, Ayah,) Jawab Luhan dengan logat Mandarinnya.

“Luhan, ni hao ma?” (Luhan, bagaimana kabarmu?) Tanya Mr. Xi.

Wo hen hao. Baba, mama ni ne?” (Saya sangat baik. Ayah dan Ibu, bagaimana?) Ujar Luhan sambil merapikan pakaiannya dan melangkahkan kakinya menuju keluar rumahnya.

Women dou hen hao.” (Kami semua sangat baik.) Jawab Mr. Xi. Luhan yang mendengarnya tersenyum kecil.

“Luhan, ayah dan ibumu akan berlibur ke Korea untuk sementara waktu ini. Ayah dan ibumu akan berangkat lusa pagi, dan ibumu menginginkan kau menjemput kami. Bagaimana? Apa kau sibuk?” lanjut Mr. Xi. Luhan berpikir sejenak, kemudian menjawab, “Aku akan melihat jadwalku terlebih dahulu. Jika aku tidak sibuk, aku akan menjemput kalian di bandara nanti.”

“Baiklah, ayah akan menutup sambungannya. Dan kau, bekerjalah dengan baik.” Ujar Mr. Xi. Kemudian sambungan mereka terputus, saat Luhan menjawabnya dengan jawaban yang cukup singkat.

Pria itu menghela napasnya perlahan-lahan, kemudian menancap gasnya dengan kencang dan dirinya telah meninggalkan rumahnya dan menuju perusahaannya.

***

Terlihat seorang gadis tengah larut dalam kertas-kertas yang berada di hadapannya. Dalam beberapa jam yang lalu, setelah dirinya memberikan dokumen yang telah diselesaikannya, Manager Lee kemudian memberikan kertas-kertas penting yang membanjiri meja kerja miliknya. Dan pria paruh baya itu menyuruhnya untuk menyelesaikannya dalam sehari dan besok pagi akan langsung ditanda tangani oleh presdir Xi. Mau tidak mau, gadis itu harus segera menyelesaikannya dalam sehari. Dan harus meminta tanda tangan sang presdir.

Otomatis gadis itu harus berada di dalam ruangan Luhan selama beberapa menit. Dan Taeyeon sama sekali tidak menyukai akan hal itu semua.

“Taeyeon-ah, kau ingin pergi ke cafe bersama kami? Atau kau ingin kami memesan sesuatu untukmu?” Tanya Minah kepada Taeyeon.

“Aniya, aku akan memesannya nanti. Sekitar beberapa menit lagi kerjaanku akan selesai. Kalian duluan saja, aku akan menyusul.” Jawab Taeyeon yang masih fokus dengan pekerjaannya.

“Baiklah, kami duluan. Bye Taeyeon-ah.” Pamit Minah, diikuti dengan sahabatnya yang lain. Taeyeon hanya membalasnya dengan anggukkan, tetapi matanya masih terfokuskan ke dalam pekerjaannya.Tanpa dirinya sadari, seseorang menatapnya dengan intens dan terlihat terjaga.

***

“Ahh, perutku lapar sekali.” Gumam Taeyeonsambil memegang perutnya. “Pekerjaanku belum selesai, dan aku harus menyelesaikan ini semua dengan cepat.” Lanjutnya.

Taeyeon menatap pekerjaannya, hanya 1 dokumen lagi yang tersisa dan dirinya akan benar-benar selesai dengan pekerjaannya. Untuk hari ini saja gadis itu ingin melewatkan makan siangnya.

***

Taeyeon menghela napasnya yang berat.Dirinya tidak menyangka dapat menyelesaikan pekerjaan itu hanya dalam kurung waktu setengah hari. Akhirnya, tugasnya sudah selesai dan dirinya akan benar-benar selesai setelah meminta tanda tangan presdir Xi.

Gadis itu melangkahkan kakinya menuju ruangan Luhan dengan membawa dokumen-dokumen yang akan ditanda tangani pria itu nanti.

Taeyeon mengetuk pintu beberapa kali, hingga terdengar suara yang menyuruhnya untuk masuk. Gadis itu membuka pintu, kemudian menampilkan setengah badannya untuk melihat situasi yang ada di dalam sana. Dari sana Taeyeon melihat Luhan yang sedang fokus dengan kertas-kertas yang berada di mejanya.

“Ada apa kau datang kemari? Mau menyerahkan dirimu?” Tanya Luhan sambil tetap fokus pada kertas-kertas di mejanya.

“Maaf presdir, manager Lee memberikan perintah pada saya untuk mengerjakan dokumen-dokumen ini untuk Anda tanda tangani. Pekerjaan saya sudah selesai, jadi saya mohon permisi dahulu.” Balas Taeyeon, tanpa menghiraukan perkataan Luhan yang membuatnya sangat kesal.

Luhan yang mendengar itu tersenyum miring. Pria itu mendapat penolakan kembali oleh Kim Taeyeon. Sungguh! Pria itu tidak akan menyerah begitu saja. Dirinya akan berjuang untuk membuat gadis itu memberikan tubuh gadis itu padanya. Sial! Pikirannya sudah tidak lagi pada tempatnya.

“Berikan dokumen itu padaku.” Ujar Luhan tanpa melihat kearah Taeyeon. Mendengar hal itu, Taeyeon segera memberikan dokumen itu, kemudian berjalan keluar dari ruangan Luhan. Yakin gadis itu telah pergi, Luhan mengusap wajahnya yang sedikit gusar.

“Hah! Sial! Kenapa otak mesumku masih bisa bekerja disaat gadis itu berdiri di depanku.” Gumam Luhan kesal. Daripada dirinya terus memikirkan hal aneh, sebaiknya ia memeriksa pekerjaan gadis itu.

Luhan tersenyum, ternyata dirinya tidak sia-sia memberi pekerjaan untuk Kim Taeyeon, hitung-hitung pria itu membantu pekerjaan sahabatnya itu. Setelah merasa cukup puas dengan pekerjaan Taeyeon, pria itu menanda tanganinya. Kemudian kembali menyibukkan dirinya dengan kertas-kertas yang sempat ia abaikan.

***

Taeyeon POV

Aku berjalan keluar dari ruangan presdir Xi menuju kantin. Ah, rasanya perutku tidak tahan lagi berlama-lama kosong seperti ini. Sambil menunggu lift yang akan membawaku turun dari lantai atas ini, aku mengeluarkan ponselku. Aku akan menanyakan kabar eomma sekarang. Aku menunggu Jung ajhumma mengangkat telpon dariku. Sampai akhirnya,

“Yeobosseo.” Jawab Jung ajhumma.

“Yeobosseo ajhumma. Ajhumma, bagaimana kabar eomma?” tanyaku. Aku berharap eomma baik-baik saja.

“Kabar eomma-mu masih seperti kemarin, belum ada perubahan Taeng-ah.Tapi, kita harus segera menjalankan operasi untuk eomma-mu, lebih cepat lebih baik. Ajhumma takut jika tiba-tiba eomma-mu harus kambuh kembali. Kita berdoa saja untuk eomma-mu.” Jelas Jung ajhumma.

“Akupun juga sangat berharap seperti itu. Dan mungkin malam ini aku akan mencoba berbicara kembali kepada presdir Xi.” Kataku. Ya, hanya inilah jalan satu-satunya yang kupunya. Meski berat dan sangat tidak rela, demi eomma sembuh aku akan berjuang untuk mendapatkannya.

“Semoga kau berhasil Taeng-ah. Ajhumma selalu berdoa yang terbaik untukmu.” Jawabnya.

“Ne ajhumma. Gomawo.” Balasku dengan suara parau. Oh tidak! Air mataku akan keluar dan aku harus bisa menahannya agar tidak menangis di sini. Kau harus bertahan Taeng.

“Ne, kau fokuskan pada pekerjaanmu. Arraseo?”

“Ne, arraseo. Kalau begitu aku akan tutup telponnya ajhumma. Annyeong.” Kataku. Dan menutup panggilan itu, setelah Jung ajhumma membalas perkataanku. Aku menghapus jejak yang sudah kubuat. Ternyata aku tidak bisa menahannya lagi, dan tanpa sadar aku telah mengeluarkannya.

Setelah selesai dengan menghapus air yang berada di pipiku, secara bersamaan lift pun terbuka dan aku segera keluar dari sana menuju kantin. Oh perutku! Mereka terus berontak untuk meminta diisikan makanan. Dan aku juga harus cepat menuju kantin.

Setelah melangkah memasukki kantin, aku segera memesan makanan dan mengambil tempat duduk di sudut ruangan yang berada di dekat sebuah kaca. Belum beberapa menit aku duduk di sana, seseorang menghampiriku sambil membawa makanan.

“Annyeong. Boleh aku bergabung denganmu di sini?” Tanyanya. Aku memandang bingung kearah pria itu, masih banyak tempat yang kosong dan inikan sudah jam kerja kembali. Untuk apa pria itu bergabung denganku?

“Bolehkah aku bergabung denganmu di sini?” ulangnya. Aku tersadar, lalu mengangguk untuk menyetujui dirinya bergabung denganku. Aku menatapnya dengan pandangan bingung, mencoba mengingat sesuatu. Tunggu dulu, kuperhatikan wajahnya, seperti tidak asing bagiku.

Seperti membaca pikiranku, dirinya menjawab, “Ternyata kau gampang melupakan seseorang dalam sehari ya?” Aku mengerutkan keningku ketika mendengar perkataannya.

“Baekhyun. Kau melupakan nama itu?” ujarnya. Ah ya! Aku baru mengingat dirinya. Dengan segera aku berdiri dan membungkuk dengan hormat.

“Hei, sudahlah. Ini bukan lingkungan perusahaanku, jadi kau bisa menganggapku seorang teman. Bagaimana?” tanya Baekhyun sajangnim.

“Tapi sajangnim, tetap saja…” belum selesai aku berbicara, Baekhyun sajangnim memutuskannya.

“Panggil Baekhyun. Aku tidak suka dengan tambahan sajangnim di sana. Itu seperti aku sudah berumur 40 tahun keatas. Kau tahu, aku baru saja berumur 23 tahun.” Ujarnya sambil memajukan bibirnya. Oh astaga, pria ini imut sekali. Tunggu Taeyeon! Kau berpikir apa sekarang?

“Baiklah sa- maksudku Baekhyun-ssi.” Balasku dengan senyuman ramah. Pria itu mambalas senyumanku dan dia sungguh terlihat tampan jika tersenyum seperti itu. Taeyeon, sadarlah bodoh!

***

Luhan POV

Aku keluar dari kantorku. Sepi. Hanya aku yang ada di ruangan ini, Jong In sialan itu sedang menemani Jessica noona untuk berkeliling Seoul seharian ini dan aku ditinggalkan sendiri olehnya dengan pekerjaan yang sangat banyak ini.

Jika bukan karena Jessica noona yang memintaku, kupastikan dirinya tak akan selamat. Jam menunjukkan angka 3, dan aku sudah melewatkan makan siangku hari ini karena pekerjaan yang banyak dan pikiranku yang kacau karena memikirkan gadis itu. Sial! Bahkan aku tak bisa melupakan bagaimana dirinya berpenampilan seksi hari ini dan berdiri di hadapanku tadi.

Drrttt…. Drrttt….

Ponselku berbunyi dan menandakan pesan telah masuk. Aku mengambilnya dan menatap ponselku. Satu pesan masuk yang kuterima, aku mengerutkan dahiku saat melihat nama yang tertera di sana. Byun Baekhyun.

Ada apa rupanya pria itu mengirim pesan untukku? Aku membukanya dan membacanya. Ternyata anak ini ingin bertemu denganku. Aku dengan segera melangkahkan kakiku menuju cafè yang berada tidak jauh dari kantorku. Saat lift telah berhenti, aku melihat gadis itu di hadapanku. Ya, Taeyeon. Kim Taeyeon.

***

Author POV

Taeyeon terkejut saat melihat sang presdir berada di hadapannya sekarang. Pria itu menatap Taeyeon dan memperhatikan gadis itu dengan wajah datar. Dengan perlahan, Luhan mengalihkan perhatiannya dan berjalan melewati gadis itu. Taeyeon memasang wajah bingung, tapi beberapa detik kemudian dirinya kembali dengan raut lelahnya. Memasukki lift yang terbuka untuknya dan menuju ruangan karyawannya dan melanjutkan pekerjaannya yang lain.

Sedangkan Luhan yang telah berjalan menjauhi Taeyeon, dengan cepat melangkahkan kakinya menuju mobil miliknya.

***

“Jadi, apa tujuanmu menyuruhku untuk kemari Baekhyun-ah?” ujar Luhan tanpa basa-basi. Pria yang berada di hadapannya menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. Dirinya tahu bahwa Luhan bukanlah pria yang suka berbasa-basi.

“Hyung, kau sudah mendapat telepon dari samchon bukan?” tanya Baekhyun. Luhan menaikkan sebelah alisnya, pria itu bingung dengan perkataan saudaranya itu.

“Lalu?” jawabnya singkat.

“Kau menerimanya?” tanya Baekhyun penasaran. Tunggu. Apa maksud laki-laki ini?

“Menerima? Apa maksudmu?” tanyanya kembali. Baekhyun mengerutkan dahinya mendengar jawaban Luhan yang seperti tidak mengetahui apapun.

“Maksudku, kau sudah mendapat kabar bukan dari samchon?” tanyanya sekali lagi. Hanya untuk memastikan apa benar Luhan telah menerimanya apa belum.

“Ya, aku sudah mendapat kabar bahwa appa dan eomma akan segera kembali, dan kabar mereka juga sangat baik. Hanya itu.” Jawab Luhan santai sambil menyeruput kopi pesanannya.

‘Hyung belum tahu apapun dari samchon, dan aku tidak bisa memberitahunya sebelum samchon sendiri yang mengatakannya.’ Batin Baekhyun sambil menatap Luhan ragu

“Jadi, samchon sudah memberitahumu hyung?” Luhan menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan pria itu. Mereka terdiam sebentar, menyelami pikiran mereka masing-masing. Hingga terdengar suara dari salah satu dari mereka,

“Aku harus kembali ke kantor, pekerjaanku belum selesai dan Jong In sedang tidak ada di sana. Jadi, aku kembali ke kantor sekarang.” Ujar Luhan sambil menyeruput kembali.

“Memangnya Jong In hyung kemana? Apa dia sakit?” tanya Baekhyun, Luhan menggeleng kepalanya.

“Jessica noona telah kembali dan kau tahu maksudku.” Jawab Luhan, lalu berdiri meninggalkan Baekhyun yang menatap kepergiannya.

“Jessica noona tidak memberitahuku tentang ini.” desis Baekhyun kesal, kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.

***

Taeyeon menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan. Entah kenapa, jika dirinya berada di tempat ini jantungnya selalu bekerja lebih cepat melebihi batas normal. Dan selalu saja perasaan takut melandanya, jika berada di tempat ini.

Ruangan Xi Luhan. Ruangan yang menurutnya sangatlah menyeramkan dan perlu dihindar olehnya.Oh gadis ini sama sekali tidak takut dengan hal-hal mistis yang sering didengarnya. Tetapi, dirinya takut dengan… Hm, kau mungkin dapat menebaknya. Gadis itu memantapkan hatinya, kemudian tangannya mengetuk pintu ‘Neraka’-menurutnya- dengan perlahan.

“Masuk.” Suara yang dapat membuat Taeyeon ketakutan, dengan ragu gadis itu masuk ke dalam ruangan Luhan. Pria itu menatap objek gadis itu dengan pandangan yang err… sangat mengerikan bagi dirinya.

Dengan kedua tangan yang terlipat di dada dan menyenderkan punggungnnya pada singgasananya, pria itu menyunggingkan senyumnya. “Ada apa nona Kim? Ada yang ingin kau sampaikan kepadaku. Sehingga kau repot-repot kemari pada jam pulangmu?”

“A-anu, s-sa-saya ingin m-meminta ba-bantuan ke-kepada An-Anda presdir.” Ujar Taeyeon susah payah. Sungguh, gadis itu merutuki rasa ketakutannya yang dominan saat pria yang berada di hadapannya menatapnya dengan intens seperti itu.

“Bantuan? Kau ingin aku membantumu tentang apa?” Tanyanya dengan nada dingin. Taeyeon ragu untuk menyampaikan hal ini pada Luhan. Sungguh, jika bukan karena sosok ibunya, gadis itu tidak akan mau datang ke tempat ini dan memohon kepada pria itu.

“Sa-saya me-membutuhkan u-uang 10 ju-juta w-won. Da-dan sa-saya ingin me-meminjam kembali. Bisakah?” Jawabnya. Luhan yang mendengarnya terkejut. Hanya ada satu yang menjadi pertanyaannya. Untuk apa uang itu?

“Jika aku memberikanmu, apa yang ingin kau lakukan dengan uang yang kuberikan?” Pria itu ingin tahu akan kemana uang sebanyak itu.

Taeyeon bingung, apa alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan sang pemilik perusahaan. Gadis itu berniat tidak akan memberitahu siapapun. Alasannya adalah gadis itu tidak ingin merasa dikasihani oleh siapapun. Dengan ragu gadis itu menjawab,

“Un-untuk membeli barang mahal yang saya inginkan, dan saya sangat membutuhkan barang-barang mahal itu sekarang.”

“Jika alasanmu seperti itu, kau pikir aku akan memberikan uang sebanyak itu untukmu? Tidak sama sekali nona.” Ujar Luhan dengan santai sambil berjalan mendekati gadis itu. Memandang dan menerawangnya sungguh membuat pria itu tersenyum. Bukan senyuman manis, tetapi senyuman yang siapapun melihatnya akan sangat takut.

Taeyeon terdiam, menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Luhan yang sangat intens. Luhan mendekatkan kepalanya pada telinga Taeyeon dan mengatakan,

“Tapi, jika kau menerima penawaranku beberapa hari yang lalu, kau akan mendapatkan uangmu bahkan lebih. Itupun jika kau mau.” bisiknya dengan smirk yang masih melekat padanya. Menjauh dari gadis itu dan kembali pada mejanya. Menatap kembali sosok yang dari tadi hanya memandang lantai ruangannya.

Taeyeon terlalu bingung, perkataan Luhan membuatnya berpikir kembali. Sungguh, dia tidak ingin menjual kewanitaannya. Harga dirinya begitu saja. Dia bukanlah seorang pelacur, dan dirinya sangat menjaga miliknya dengan baik. Tapi, apa sampai di sini saja perjuangannya untuk melindungi miliknya?

“Apa tidak ada yang lain dari menjual tubuh?” ujar gadis itu pelan.

“Tidak ada nona. Dan memang hanya itu yang kuinginkan.” Ujar pria itu santai. Hilang harapan gadis itu, tak ada jalan keluar lain untuk mengatasi masalahnya ini. Jalan keluar satu-satunya adalah dirinya, menjual dirinya kepada sang presdir.

“Jadi, apa jawabanmu setelah ini nona? Ya atau tidak.” Katanya. Taeyeon menatap Luhan dengan pandangan kesal, marah, benci. Semuanya bercampur menjadi satu di dalam hatinya.

Taeyeon memejamkan matanya. Hati dan pikirannya bersaing di dalamnya untuk memperebutkan keyakinan gadis itu. Bayangan ibunya masuk begitu saja pada pikirannya. Membuat gadis itu akhirnya mengikuti pikirannya, dan memilih kata ‘ya’ untuk menjawab pertanyaan Luhan.

Sekali lagi gadis itu menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Lalu, menatap mata pria yang berada di hadapannya dan menjawab, “Ya.”

Jawaban yang sangat sederhana yang membuat Luhan tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya. Akhirnya gadis itu datang kepadanya dan menyerahkan diri padanya. Bahagia. Itulah yang dirasakan olehnya.

“Akhirnya, kau datang padaku Kim Taeyeon. Aku mendapatkanmu sekarang.” gumam Luhan pelan sambil terus mengeluarkan senyuman penuh kemenangan. Sedangkan gadis itu hanya mampu mengepalkan tangannya dan mengucapkan selamat tinggal pada dirinya sendiri.

 

 

 

 

 

 

TBC

 

Okehh, kali ini maafkan author yang sering banget buat kalian PHP.

Readers : /pukul author/

Author : Aww, hidungku berdarah/plakk

Readers : lebay lu thor -_-

 

Cerita ff ini mulai ga jelas dan membosankan. Mianhae ne, jika kalian kecewa sama author. Mianhae L

Okey, ff ini sebenernya udah siap untuk di post, dan saat aku baca ngulang ternyata aku ga sreg sama ceritanya. Maka dari itu author harus ngedit kembali dan mengganti jalan cerita yang ada dan jadilah seperti ini. dan kalian pasti kecewa kenapa ga ada nc disini? Karena author merasa kalo di taruh nc di chapter ini alurnya bakal kecepatan dan ngebet banget, makanya author kasih nc di chapter 3. Kalian udah liat kan tanda-tanda bencana di ff ini?/? okeh deh, author banyak cincong nih, jadi kita sudahi dulu. Bye chingu, see you di chapter 3. Muah :*

Advertisements

125 comments on “[FREELANCE] Darkness Of Love (Chapter 2)

  1. love my luhan tapi luhan kayak psikopat aja tapi suka ama luhan love lutae pliss endingnya lutae dong

  2. Aaaaaaahhhhh~
    EOTTEOHKE??? TAEYEON MENERIMA TAWARAN KEJI(?) LUHAN??
    OH MY GOD LUHAN NEO JINJJA MICHEOSSEO??

    Btw.. balas email aku yaaa~
    gomawoooooooooooo :*

  3. aduh..
    taenggo eonnie terima tawaran luge..
    aduh penasaran ma lanjutannya..
    wkwkwkwkwkwkwk..
    mhon dblas email aku..

  4. Anyeong eonni hehehe,maaf baru komen atau aku udah komen aku lupa semenjak hp aku ilang oh oke lupakan wkwk.. ceritanya seru bingitzzzz ,aku baru mau baca chapter 3 tapi diprotect aku minta pss lwat email … oke, trs ditingkatkan lagi eonni cerita .. daebak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s