The Leader’s Secret (Chapter 6)

wpid-wp-1440532290100

Bina Ferina Storyline

Kwon Jiyong (GD BigBang), Kim Taeyeon (GG) || Romance, Fantasy || PG 18

 

“The Leader’s Secret”

A/N     : Dear, ATSIT’s readers. Thank you so much karena udah support FF ini, yaaaa^^ baca comment  kalian semua jadi semangat buat lanjutin chap 6 ini hehehee.

Loveyousomuch~

 

 

18 +

Preview :

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5

~~~

 “Jika kau mencium darah yang aromanya lebih manis daripada darah yang lain, berhati-hatilah. Kalau kau sampai terikat dengannya, ada dua pilihan. Itu takdir atau masalah besar,”

Jiyong menjatuhkan ponsel dan headset-nya ke lantai tanpa melepaskan tatapannya dari Taeyeon. Taeyeon, yang sadar tengah diperhatikan, membuka kedua kelopak matanya dan pandangan matanya bertemu dengan manik mata Jiyong.

Lari, Kim Taeyeon, gumam Taeyeon dalam hati.

Jiyong menghapus jarak di antara tubuh mereka berdua dan bibirnya mendekat ke daun telinga kanan Taeyeon seraya berbisik, “Mianhae,”

Taeyeon membelalakkan kedua matanya, takut. Kedua tangan Jiyong secara posesif meremas kedua bahu Taeyeon dan dengan cepat membanting tubuh gadis itu untuk berbaring di atas sofa. Taeyeon mengaduh pelan dan ia memejamkan matanya erat. Hidungnya dapat menciumi aroma tubuh Jiyong yang mengeluarkan wangi kayu-kayuan, rempah, amber, serta mint semuanya menjadi satu. Tubuhnya kembali menanggung beban tubuh Jiyong.

Dan sensasi itu kembali hadir. Sensasi saat pertama kali Jiyong meminum darahnya. Belum apa-apa Taeyeon mulai merasakan ekstasinya. Laki-laki itu belum mengisapnya tapi Taeyeon mulai merasa kepalanya pusing, seperti mabuk kepayang.

‘Inikah alasannya kenapa gadis-gadis itu pasti merasa sempoyongan setelah dihisap oleh Jiyong?’ gumam Taeyeon dalam hati. Ada satu magic dalam diri Jiyong dan Taeyeon takut terlalu tenggelam dalam sihir itu.

Taeyeon membuka kedua kelopak matanya dan dengan berani dia memandang mata Jiyong. Seperti biasa, mata itu kembali berubah warna. Lebih mengilat kali ini. Pandangannya juga lebih lapar dari kemarin.

“Lepaskan, Jiyong-ssi,” erang Taeyeon. Kedua tangannya yang bebas mendorong bahu laki-laki itu untuk menjauh. “Lepaskan sebelum kau menyesal,”

Dengan kesal Jiyong melepas cengkeramannya pada bahu Taeyeon dan menahan kedua pergelangan tangan Taeyeon dengan kuat, sampai membuat gadis itu meringis. Tidak hilang akal, Taeyeon menggeliatkan tubuhnya kesana-kemari untuk melepaskan diri dari kepungan tubuh Jiyong. Mereka berdua tentu tahu, Taeyeon takkan bisa menang melawan kekuatan Jiyong. Karena Jiyong semakin menindih tubuh kecil itu, membuat Taeyeon semakin sesak.

Jiyong menatap gadis yang ada di bawahnya dengan pandangan emosi yang menyala-nyala. Antara gairah, nafsu, dan memelas.

“Aku membutuhkanmu,” desis laki-laki itu pelan sekali.

Taeyeon terdiam dengan nafas yang tersengal-sengal. Dadanya naik turun untuk mencari oksigen dan itu semakin membuat aura di sekeliling keduanya bertambah panas.

“Wae?” rintih Taeyeon pelan. “Aku hanya memberimu satu kali, ingat? Dan itu hanya kemarin malam. Kau berjanji waktu itu. Ani, aku membuat janji kalau itu adalah pertama dan terakhir kalinya. Tapi…,”

“Aku tidak bisa,” keluh Jiyong, frustrasi. “Darahmu beda dari yang lain, Taeyeon-ssi. Aku suka. Aku sangat suka. Aromamu itu juga punya khas sendiri dan aku tidak bisa menolaknya,”

“Mwo?” bisik Taeyeon.

Kata-kata yang manis, sangat manis didengar. Tapi justru membuat Taeyeon semakin takut. Bisa dibilang laki-laki ini… Ketagihan? Apa dia menjadi kecanduan pada seorang Kim Taeyeon saat ini? Tidak! Taeyeon tidak ingin jadi candu bagi siapapun. Apalagi kalau itu menyangkut darahnya.

“Andwae,” tolak Taeyeon lagi. Ia menggelengkan wajahnya dan berusaha mendorong kembali tubuh laki-laki itu untuk menjauh darinya.

Percuma saja, Jiyong tidak mendengarkan. Ia menenggelamkan wajahnya ke dalam lekukan leher putih Taeyeon dan menghirup dalam-dalam aroma gadis itu. Wangi lavender. Makin lama gadis ini semakin wangi di hidung Jiyong dan ia merasa terkurung di dalam wangi itu.

“Jadilah milikku hanya untuk malam ini, Kim Taeyeon,” bisik Jiyong. Wajahnya perlahan turun dari leher ke dada Taeyeon. Wangi lavender itu sangat kuat di dada gadis itu dan Jiyong menghirupnya dalam-dalam seakan-akan aroma lavender itu adalah oksigennya. Laki-laki itu juga dapat merasakan dan mendengar debaran jantung Taeyeon yang berpacu lima kali lebih kuat daripada jantung orang normal.

Setelah puas menciumi wangi tubuh Taeyeon, Jiyong menelusuri garis leher gadis itu dengan bibirnya yang lembut, membuat Taeyeon menegang dan ia menggigit bibir bawahnya saat sensasi aneh itu menggelitiki perutnya. Bibir laki-laki itu seperti sedang mencari-cari sesuatu di leher Taeyeon, mencari titik sensitive Taeyeon lebih tepatnya. Kali ini ia ingin melakukannya dengan perlahan-lahan. Tidak seperti kemarin. Kemarin malam ia kalap karena benar-benar membutuhkan tenaga.

“Aahh…,” erang Taeyeon tanpa bisa ia kontrol saat Jiyong mulai menggigit lehernya pelan.

Ia berhasil menemukannya. Digigitnya leher itu dan dihisapnya darah Taeyeon secara perlahan-lahan. Setiap darah yang diteguk Jiyong dan melewati kerongkongannya merupakan kenikmatan surga dunia yang sulit dia dapatkan. Laki-laki itu merasa melayang. Ia seperti menemukan obat penenang. Ia seperti menemukan apa yang selama ini ia cari-cari.

Sedangkan Taeyeon kembali merasa sakit luar biasa. Nafasnya memburu dan ia terus-menerus mengerang sakit setiap kali Jiyong menggigiti lehernya di tempat yang berbeda. Semakin lama hisapan dan gigitan yang dilakukan Jiyong semakin tidak terkontrol. Di kanan dan kiri leher Taeyeon sudah dihabisi Jiyong tanpa ada yang terlewatkan. Monster yang ada pada diri Jiyong kini mulai tampak, membuat laki-laki itu semakin buas dan liar.

“Arrghh! Appoyo… Ji,” isak Taeyeon pelan, saat laki-laki itu menggigit geram leher kirinya dan menghisap serta mengulumnya dengan tidak sabaran.

Mendengar rintihan Taeyeon, Jiyong mengecup pelan dan lembut leher yang habis dilumatnya itu. Diciuminya, digigitnya dengan pelan dan dihisapnya dengan penuh kehati-hatian, membuat Taeyeon mendesah. Taeyeon tidak tahu kenapa ia bisa mengeluarkan desahannya. Ia bahkan tidak mengerti apa arti desahan itu. Apa ia menikmatinya?

Jiyong mengeluarkan seringain tajamnya saat mendengar desahan Taeyeon.

Kali ini berbeda. Malam ini benar-benar berbeda. Ia tidak hanya menginginkan dan membutuhkan darah gadis itu. Ia tidak hanya ingin mengecap darahnya saja. Entah kenapa malam ini Jiyong merasa ingin memiliki semua yang ada di dalam diri Taeyeon, ingin mengecap tubuh gadis itu dan melumatnya seperti hewan melumat mangsanya.

Malu sekaligus heran karena tanpa sadar terus-menerus mendesah tak karuan, Taeyeon memilih menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai darah di bibir itu keluar. Dan Jiyong melihatnya.

F*ck! Jiyong semakin frustrasi. Gadis ini benar-benar tidak membuatnya lebih baik. Apa dia tahu kesalahan apa lagi yang diperbuatnya?

“Mmmmphhhh!” lenguh Taeyeon. Kedua matanya terbuka ia memperlihatkan pancaran ketakutan yang amat sangat.

Jiyong tidak hanya menghabisi lehernya. Ia juga menghabisi bibir mungil Taeyeon. Ya, ia menciumi bibir itu dengan kasar, tidak terkontrol dan tidak sabaran. Dilumatnya kuat-kuat bibir itu, digigitnya atas dan bawah, lalu dihisapnya dengan kuat. Begitu terus sampai saliva keduanya bercampur baur dan membasahi seluruh permukaan bibir keduanya. Begitu terus sampai Taeyeon rasanya mau mati saking kehabisan udara.

“Ji… Berhen… Nti,” ujar Taeyeon di sela-sela ciuman panas mereka. Kedua tangan Taeyeon mendorong pelan dada Jiyong, menyuruhnya berhenti sejenak.

Jiyong melepas tautan bibir mereka. Ia memandangi wajah cantik Taeyeon sambil terengah-engah. Wajah gadis itu penuh peluh, bibirnya membengkak dan semakin terlihat sexy, lehernya sudah penuh dengan tanda kepemilikan Jiyong. Gadis ini benar-benar mengagumkan di mata Jiyong. Dan ia hanya mengizinkan gadis itu mengambil nafas selama beberapa detik. Selanjutnya, ia kembali menyerang bibir bengkak Taeyeon tanpa ampun.

Jiyong melupakan tujuan awalnya. Ia melupakan kebutuhannya. Ia lupa kalau urusannya dengan Taeyeon harusnya sudah selesai. Ia sedikit melenceng dan persetan dengan semuanya. Monster lain sudah mengambil alih dirinya dan memutuskan saraf akal sehatnya.

Kepala Taeyeon sudah sangat sakit. Luar biasa sakit. Tubuhnya sudah lemas karena darah yang diambil Jiyong. Sekarang, tubuhnya kembali ‘dicambuk’ dengan serangan tiba-tiba di bibirnya.

Kenapa Jiyong menciumnya? Satu pertanyaan yang mengusik fikiran Taeyeon. Namun, gadis ini belum berani menyuarakannya. Ia masih dibuai dengan belaian kasar oleh Jiyong, tepatnya di bibirnya.

“Ah!” seru Taeyeon. Ia merasakan sakit di bibir bawahnya saat Jiyong menggigitnya kuat-kuat. Bibir Taeyeon terbuka setelah ia mati-matian menjaga agar bibirnya tetap pasif, tidak mengikuti arah permainan Jiyong.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, lidah Jiyong masuk ke dalam mulut Taeyeon dan bergumul dengan lidah Taeyeon yang diam saja. Lidah itu saling mengikat satu sama lain, bergumul di dalam rongga mulut Taeyeon. Jiyong menghisap lidah Taeyeon dan ia kembali melayang. Manis. Semua yang ada pada diri Taeyeon terasa manis.

“Ngghh… ngghh,” erang Taeyeon. Dapat dirasakannya pinggangnya diremas kuat oleh Jiyong. Sinyal bahaya sudah mulai berbunyi di dalam otak Taeyeon ketika pinggulnya dinaikkan dengan paksa oleh laki-laki itu, membuat gesekan di antara kedua selangkangan paha Taeyeon dengan milik Jiyong.

Nafas Taeyeon tercekat. Ia mulai sadar. Mereka akan memasuki tahap ‘bahaya’ dan gadis itu semakin menggelinjang hebat saat dirasakannya dry humping yang dilakukan Jiyong makin menggila.

“Oh, shit!” desah Jiyong dan ia membebaskan bibir Taeyeon yang sudah terasa kelu akibat terus dikulum oleh laki-laki itu.

“Jebal… Hentikan… lah,” isak Taeyeon dengan suara parau.

Gadis itu kembali menangis. Dan Jiyong baru menyadarinya. Ia baru tersadar dengan kelakuan tak terkendalinya, ia baru terbangun dari kelakuan binatangnya. Melihat air mata yang jatuh membasahi kedua pipi Taeyeon membuat Jiyong terdiam, membeku di tempat. Tubuhnya lumpuh seketika.

Gadis itu ketakutan. Gadis yang tengah ditindihnya itu terlihat begitu ketakutan.

Oh f*ck, f*ck, f*ck! F*ck you, Ji!

“Taeyeon-ssi,” panggil Jiyong pelan.

Taeyeon diam. Wajahnya yang memerah menghadap ke samping kiri. Kedua matanya terpejam. Meskipun nafasnya tidak teratur, tapi Jiyong dapat melihat gadis itu tengah tertidur.

Bloody Hell!! Kau benar-benar monster buas, ganas, dan menjijikkan Kwon Jiyong!

Jiyong bangkit dari atas tubuh tak berdaya milik Taeyeon dengan perlahan. Ia duduk di samping gadis itu dan meremas telapak tangan kanannya dengan penuh perasaan menyesal. Ia menyesal setengah mati dan berharap gadis ini terbangun dan langsung membunuhnya.

Bagaimana bisa ia membiarkan monster dalam dirinya mengambil alih raganya hanya untuk menuntaskan nafsunya belaka? Kenapa ia tega membuat takut gadis yang sudah selama dua minggu belakangan ini menolong dan selalu peduli padanya? Ia sudah merusak kepercayaan gadis itu. Tidak, dia sudah membuat Kim Taeyeon semakin membencinya.

Ekspresi ketakutan Taeyeon masih terbayang jelas dalam benak Jiyong. Ekspresi yang sama dengan yang ditunjukkan Jinah beberapa tahun yang lalu, dan itu semakin mengoyak luka hati Jiyong yang sudah ia kubur dalam-dalam.

~~~

“Keparat,” desis laki-laki yang tengah berdiri bersandar pada mobil sport-nya yang berwarna hitam mengkilat. Tangan kirinya mengepal sangat kuat, siap memukul apa saja yang ada di hadapannya. Sedangkan tangan kanannya menggenggam erat ponsel miliknya. Wajahnya yang putih bersih mendadak memerah karena menahan amarah dalam dadanya.

Kedua mata lelaki itu berkilat marah. Tidak, matanya berwarna merah manyala, berkobar bagaikan api yang meletup-letup. Warna mata yang tidak biasa itu sangat cantik dan menawan. Siapa saja pasti akan terpesona sekaligus takut untuk memandang kedua mata langka itu. Namun, entah apa yang terjadi, warna itu seketika hilang, berganti menjadi warna cokelat tua, saat seorang wanita berambut hitam panjang keluar dari gedung YG Ent..

“Jaehyun-ah?” sapa gadis itu dengan wajah terkejutnya. Gadis itu adalah Goo Hye Sun.

“Ah? Noona?” balas laki-laki yang dipanggil Jaehyun itu. Ia tersenyum lebar, menunjukkan seribu pesonanya yang memang tidak pernah sengaja ia perlihatkan.

“Sedang apa di sini malam-malam begini?” tanya Hyesun heran. “Bukankah kau bilang ingin bertemu dengan Kim Taeyeon?”

“Aku sedang menunggunya,” jawab Jaehyun santai.

“Mwo? Chakkaman, kau dan dia janjian pukul berapa? Ini sudah hampir pukul sebelas malam. Apa kau gila mengajak seorang gadis manis seperti dia malam-malam begini, eoh? Atau jangan-jangan kau sengaja agar kalian bisa menginap di apartemenmu?” tuding Hyesun dengan memicingkan kedua matanya, membuatnya semakin imut.

“Aigoo, noona. Kau tahu aku tidak akan seperti itu,” ujar Jaehyun sambil tertawa renyah. “Kami janji bertemu pukul delapan malam. Aku tidak tahu kenapa dia belum datang. Dia juga tidak ada mengabariku. Ketika kutelepon, ponselnya mati. Jadi, aku hanya bisa menunggu sampai dia benar-benar datang, ‘kan?”

Hyesun diam saking tercengangnya. Dia tahu seberapa besar dan tulus perasaan Jaehyun pada sosok yang bernama Taeyeon itu. Tapi ia tidak tahu kalau Jaehyun akan begitu setia menunggunya, dalam keadaan cuaca yang sangat dingin pula.

“Kau yakin dia menyetujui pertemuan kalian ini untuk pertama kalinya selama enam tahun? Maksudku… Ya! Jika dia terlambat, dia akan menghubungimu dan tidak akan membiarkanmu menunggu di sini. Sudah terlambat tiga jam dan dia tidak ada kabar! Apa kau terlalu berharap dia mau menemuimu? Apa kau yakin dia sudah setuju?” tanya Hyesun, sedikit khawatir.

“Dia sudah setuju untuk bertemu denganku, noona. Bahkan dia yang memintaku untuk bertemu malam ini saja. Soalnya besok dia sudah terbang ke Thailand,” jawab Jaehyun.

“Tapi ini sudah hampir tiga jam. Cuaca sedang tidak bagus. Apa tidak apa-apa? Kalau kau bersikeras tetap menunggunya, lebih baik menunggu di dalam gedung, ‘kan?” tawar Hyesun. “Atau kau bisa mengiriminya pesan dan bertemu di lain waktu. Aku tidak begitu yakin dia akan datang,”

“Dia akan datang, noona. Percayalah,” ujar Jaehyun tegas. Wajahnya berubah serius dan sedetik kemudian ia mencoba tersenyum. “Ini masih tiga jam kurang aku menunggunya. Bagaimana dengan dia? Dia sudah menungguku selama enam tahun, lho. Dia sama sekali tidak berbalik dan tetap berdiri di tempatnya, menungguku. Aku tidak akan pulang sampai aku yakin dia benar-benar tidak memperlihatkan wujudnya. Aku akan tetap tunggu,”

Hyesun tersenyum lirih mendengar penuturan dari laki-laki yang sudah dia anggap sebagai adiknya ini. Sifat tegas dan tulus yang mendalam memang satu kelebihan besar di diri Jaehyun. Ia salut pada hubungan Jaehyun dan Taeyeon ini. Rasanya dia ingin memiliki kisah cinta seperti itu.

“Kalau begitu, tunggulah dia,” ujar Hyesun sambil menepuk-nepuk pundak kanan Jaehyun dan tersenyum memberikan semangat. “Mungkin dia sedang dalam perjalanan ke sini sehabis after party bersama Big Bang,”

“Apa dia ikut after party?” tanya Jaehyun langsung.

“Molla. Yang kutahu hanya Jiyong yang tidak ikut. Kau tahu? G-Dragon,” jawab Hyesun. “Ah, aku akan menghubungi Jiyong sebentar. Aku akan tanya di mana Taeyeon sekarang. Aku bisa minta tolong Jiyong untuk memberitahu dia mengenai janji kalian berdua. Taeyeon bisa tidak ikut juga dan memilih di apartemen Big Bang, menemani Jiyong,”

Jaehyun mengalihkan pandangannya ke langit malam yang sedang kosong tanpa bintang. Ia mendengus kesal. Wajahnya kembali mengeras, tangannya kembali mengepal kuat, dan sekali lagi, kedua matanya berubah merah manyala.

~~~

Jiyong memutuskan sambungan teleponnya dan membuang asal ponselnya ke lantai. Ia tidak peduli kalau ponsel mahal itu akan pecah atau hancur. Ia bisa membelinya lagi, lagi, dan lagi kapanpun dia mau. Yang dia butuhkan sekarang adalah sesuatu yang bisa melampiaskan amarahnya. Suatu benda, yang bisa dia hancurkan dengan sekali pukulannya.

Awalnya, perasaannya diselimuti rasa bersalah dan penyesalan yang teramat dalam saat melihat Taeyeon begitu ketakutan akibat ulahnya. Namun, beberapa menit yang lalu, mood-nya berubah menjadi sebuah emosi yang bergejolak liar dalam dirinya saat Hyesun meneleponnya dan memintanya untuk mengingatkan Taeyeon kalau dia punya janji dengan teman lamanya.

Teman lama? Si bajingan itu? Entah kenapa saat mendengar namanya Jiyong siap meledak. Laki-laki brengsek itu pasti sudah tahu keberadaan Taeyeon di apartemen Big Bang, berduaan bersamanya, dan berusaha untuk memisahkan mereka dengan meminta bantuan Hyesun.

Memisahkan? God, apalagi yang sekarang ini tengah Jiyong rasakan? Rasanya ada perasaan aneh yang baru saja menyusup hatinya agar tidak ingin berpisah dengan Taeyeon barang satu menit saja. Perasaan yang egois. Dia tidak mau Kim Taeyeon pergi menemui dan disentuh oleh laki-laki lain. Dia merasa tidak rela. Dan semakin benci saat tahu Taeyeon akan bertemu dengan ‘teman lamanya’.

Laki-laki itu pasti akan menyentuhnya. Memeluknya, menciumnya. ‘Andwae!’ erang Jiyong. Dia tidak ingin siapapun menyentuh ‘Kim Taeyeon’-nya.

Monster dalam diri Jiyong tertawa terbahak-bahak. Ada apa, Ji? Kenapa seakan-akan gadis malang yang kau sakiti itu adalah milikmu?

Jiyong menghela nafas kasar dan ia menyisir rambut hitamnya ke belakang, frustrasi lagi. Kepalanya terkulai di atas kepala sofa dan ia mencoba memejamkan matanya. Tepat saat itu, didengarnya suara erangan dari bibir Taeyeon dan hati Jiyong mencelos. Gadis ini mulai terbangun.

Jiyong batal memejamkan matanya. Ia duduk tegak dan menatap Taeyeon was-was. Gadis itu menghela nafas panjang dan perlahan-lahan ia membuka kedua kelopak matanya yang indah. Damn! Ia begitu cantik di mata Jiyong saat ini. Wajahnya merona, bibirnya merah membengkak, dan tubuhnya yang mungil itu terlihat sexy.

“Taeyeon-ssi?” panggil Jiyong pelan.

Tubuh Taeyeon sedikit terlonjak saat telinganya dengan jelas menangkap suara seseorang yang sangat dia kenal. Mendengar suaranya memori yang ada di kepala Taeyeon langsung berkelebat muncul dan kembali memutar kejadian beberapa jam lalu di atas sofa tempat dia tengah berbaring saat ini.

Pelan-pelan Taeyeon bangkit dari sofa dan matanya langsung tertuju pada Jiyong. Ia sedikit merapikan baju dan rambutnya. Pandangannya pada Jiyong sangat sulit diartikan.

“Aku tidak melakukan apa-apa saat kau tidur tadi,” ujar Jiyong dengan pemilihan kata yang hati-hati. Ia tidak tahu harus mulai dari mana dan gadis yang ada di hadapannya ini diam saja. Jiyong masih bisa melihat pancaran ketakutan di kedua mata Taeyeon. “Aku tidak bermaksud untuk melakukan hal yang lebih jauh. Tolong jangan salah paham. Aku tidak pernah mengambil kesempatan ketika aku mengisap darah seseorang. Kau tahu? Semua terjadi di luar dugaanku,”

Jiyong bangkit dan dia melangkah mendekati Taeyeon. Refleks gadis itu mundur ke belakang. Jiyong terkesiap dan ia menghentikan langkahnya, shock.

“Kalau begitu jangan sentuh aku lagi,” ucap Taeyeon parau. “Neottaemune, aku tidak bisa bertemu dengan seseorang. Aku membatalkan janji dengannya secara sepihak. Apa kau tahu betapa pentingnya janji itu?!”

Jiyong diam. Ia tidak bisa berkata apa-apa dan hanya memandangi wajah Taeyeon, yang mengalihkan pandangannya dari Jiyong karena ada setetes air mata jatuh membasahi pipi kanan gadis itu. Dan Jiyong dapat melihat tubuh gadis itu sedikit gemetaran. Lengan kanannya menyilang dengan bahu kirinya, seakan-akan dia takut Jiyong mendekati dan menyentuhnya kapan saja.

Gadis ini kembali menganggapnya sebagai monster.

“Aku sudah menghubungi Seunghyun hyung. Kau akan diantarkannya ke gedung YG dan bertemu dengan temanmu itu,” ucap Jiyong. Suaranya kini lebih dingin dan tampak lebih berbahaya dari sebelumnya. Tapi Taeyeon tidak peduli. Dia masih merasa kecewa dengan apa yang telah terjadi dengannya. Terutama pada Jiyong.

Beberapa detik kemudian, terdengar pintu apartemen Big Bang terbuka dan parfum Seunghyun langsung tercium oleh hidung Taeyeon. Taeyeon menoleh menatap Seunghyun dan rasanya ingin sekali ia memeluk laki-laki itu, hanya untuk sekedar menumpahkan semua kekesalan, kesedihan, dan kekecewaan di hatinya.

“Taeyeon-ah,” panggil Seunghyun, sedikit terengah-engah. “Ji…,”

Jiyong menatap Seunghyun dan ia masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu kamar dengan sedikit kuat. Seunghyun menatap pintu kamar Jiyong dan ia langsung mengalihkannya ke arah Taeyeon, yang masih menundukkan wajahnya ke lantai, dengan kedua pundaknya yang sedikit berguncang.

“Kajja,” ajak Seunghyun lembut. Ia membelai pundak kiri Taeyeon penuh sayang dan menatapnya iba. “Aku akan mengantarkanmu ke gedung YG. Jaehyun sudah menunggumu,”

Taeyeon mengangguk pelan. Dengan tetap menundukkan wajahnya, gadis mungil itu mengikuti langkah Seunghyun menuju parkiran mobil. Selama perjalanan menuju parkiran, Taeyeon selalu berada di belakang Seunghyun. Seunghyun tidak mempermasahkan itu. Ia tahu Taeyeon butuh sedikit waktu untuk menenangkan dirinya. Apalagi setelah kejadian yang menimpa dirinya karena Jiyong.

Pabo Jiyong, gumam Seunghyun.

“Mianhaeyo, Taeyeon-ah,” lirih Seunghyun, tanpa menoleh ke belakang.

Taeyeon bisa mendengarnya dan ia hanya diam. Semakin kecewa.

~~~

“Sudah agak tenang?” tanya Seunghyun pada Taeyeon. Mobil Seunghyun berhenti ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merahnya yang terang.

Taeyeon mengangguk dan ia hanya bisa memainkan ponselnya di tangan. Ponsel itu mati. Ia tidak ingin mengaktifkannya sekarang karena takut Jaehyun akan menghubunginya. Ia belum bisa bicara apa-apa saat suaranya masih terdengar sengau.

“Mianhae atas kebodohan Jiyong. Dia berada di luar kendalinya. Aku tahu kau tahu itu, Taeng. Jiyong tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh pada seorang perempuan, apalagi jika perempuan itu menolak. Aku tahu Jiyong tidak akan melakukannya. Tapi, kenapa…?” ujar Seunghyun dengan suaranya yang pelan dan menandakan kalau ia ikut menyesal.

“Kau tidak salah apa-apa, oppa. Tidak perlu minta maaf,” jawab Taeyeon setelah jeda yang cukup lama. Dan mobil Seunghyun pun kembali melaju.

“Kau pasti ketakutan,” ujar Seunghyun. “Akhir-akhir ini kau baik-baik saja jika di dekat Jiyong. Aku senang karena kau mulai percaya kalau dia itu sosok monster yang baik. Aku takut kau kembali menjadi Kim Taeyeon yang dulu, yang takut dan tidak suka dengan Big Bang,”

“Aniya!” bantah Taeyeon, sedikit keras. “Kalian semua baik dan aku sangat tahu itu,”

“Lalu, apa kau kembali takut pada Jiyong?” tanya Seunghyun.

Taeyeon terdiam. Ia tidak bisa menjawabnya. Takut? Ia memang takut saat pertama kali bertemu dengan Kwon Ji Yong. Takut saat tahu laki-laki itu adalah vampire. Tapi semua itu berubah ketika ia mengenal sosoknya lebih jauh. Dan jujur saja, Taeyeon sangat suka dengan sifat Jiyong yang peduli pada semua orang, yang humble, yang pengertian, penuh kasih sayang, dan sifatnya yang down to earth. Semenjak itu dia tidak pernah menganggap laki-laki itu sebagai seorang monster ataupun sebagai G-Dragon. Dia menganggap laki-laki itu sebagai Kwon Ji Yong.

Yang membuat Taeyeon terluka dan kecewa adalah sikap Jiyong malam ini. Dia baru tahu kalau darahnya membuat candu bagi laki-laki itu. Seandainya saja Jiyong memintanya dan menjelaskannya dengan pelan-pelan, Taeyeon tidak akan semarah ini. Taeyeon pasti akan memberikannya, karena dia percaya pada Jiyong. Tapi tidak malam ini. Malam di mana ia sudah berjanji pada Jaehyun untuk bertemu. Taeyeon tidak suka membuat siapapun menunggunya. Ia merasa bersalah pada Jaehyun yang tetap setia menanti kehadiran Taeyeon.

Dan satu hal lagi yang benar-benar membuat Taeyeon kecewa adalah Jiyong tidak mengucapkan kata ‘maaf’ padanya. Ia hanya bilang itu di luar kendalinya dan tidak berniat melakukannya. Taeyeon merasa shock hebat melandanya saat laki-laki itu menciumnya dan melakukan dry humping padanya. Tidak pernah Taeyeon melakukan kontak fisik sedekat itu dengan laki-laki kecuali ciuman dan hal-hal kecil lainnya. Tapi laki-laki itu? Bahkan ia tidak minta maaf.

Apakah dirinya terlihat seperti para perempuan yang ada di list itu? Apa laki-laki itu mulai menganggapnya seperti itu? Hati Taeyeon kembali sakit mengingatnya.

Dan satu hal yang pasti : Ia tidak merasa takut sama sekali dengan Jiyong.

“Aku sangat terkejut saat Jiyong menceritakan semuanya dan menyuruhku untuk kembali ke apartemen dan membawamu ke gedung YG,” lanjut Seunghyun. Raut wajahnya sedikit kecewa karena Taeyeon tidak menjawab pertanyaannya. “Dia benar-benar menyesal, Tae,”

Benarkah? Gumam Taeyeon dalam hati. Ia tersenyum kecut.

Seunghyun menghela nafas panjang saat Taeyeon tidak juga menggubris perkataannya. Seunghyun mengira Taeyeon masih ketakutan pada Jiyong dan speechless.

“Kita sudah sampai,” ujar Seunghyun. Ia menatap Taeyeon dan tersenyum lembut.

Taeyeon melihat ke arah depan dan ia dapat menemukan seorang laki-laki yang sangat ia kenal sedang bersandar di mobilnya sambil memainkan ponselnya. Taeyeon tersenyum pahit dan penuh kerinduan. Ahn Jae Hyun. Sama sekali tidak berubah. Tetap tampan, tetap memesona. Gelora kerinduan yang selama enam tahun dia pendam ini akhirnya memberontak minta segera dibebaskan. Rasanya ia ingin memeluk pria itu lagi. Pelukannya selalu hangat dan Taeyeon masih bisa merasakannya.

“Keluarlah, Jaehyun sudah ingin sekali bertemu denganmu,” ujar Seunghyun pelan.

“Oppa, gomawoyo,” ungkap Taeyeon senang. “Ah, mengenai masalah hari ini jangan difikirkan, jebal. Aku tidak ingin hubungan kita semua jadi renggang,”

“Arra,” jawab Seunghyun dan ia tersenyum lebar. “Hubungi aku saja kalau ada apa-apa,”

“Eung. Hati-hati, oppa. Annyeong,” pamit Taeyeon.

Sebelum Taeyeon membuka pintu mobil Seunghyun, Seunghyun kembali memanggil gadis itu dan berujar, “Jangan pernah merasa takut jika berdekatan dengan Jiyong lagi, jebal Taeng,”

Taeyeon tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. Ia keluar dari mobil Seunghyun sambil melambaikan tangan pada mobil yang sudah melaju kencang menjauhi gedung YG.

Ketika mobil Seunghyun sudah tidak kelihatan dalam jarak pandang Taeyeon, gadis itu berbalik dan mendapati Jaehyun sudah berada di hadapannya. Taeyeon tersentak. Mereka saling pandang. Pandangan Jaehyun pada Taeyeon menunjukkan kalau dia sangat merindukan gadis itu. Seribu perasaan tergambar di kedua matanya dan Taeyeon hanya tersenyum kecil pada Jaehyun. Dia juga merasakan hal yang sama dengan laki-laki itu. Ia sangat merindukan Jaehyun, sampai sakit rasanya.

“Oppa…,” panggil Taeyeon. Suaranya serak.

Sebelum Taeyeon melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba saja Jaehyun menarik tubuh kecil Taeyeon dan mendekapnya erat, seakan-akan yang ia ingin memastikan kalau yang ada di hadapannya ini adalah Taeyeon, dan bukannya baying-bayang yang selama ini ia mimpikan. Jaehyun memeluknya erat untuk mencegah gadis itu pergi menjauh darinya, walaupun selama ini ialah yang menjauhi gadis itu.

Jaehyun ingin menyalurkan semua perasaannya pada Taeyeon melalui pelukan hangat dan nyaman milik laki-laki itu. Ia ingin Taeyeon tahu kalau hatinya belum berubah. Ia ingin Taeyeon tahu kalau belum ada satu orang pun yang bisa menggantikan posisi gadis itu di dalam hatinya.

“Mianhae,” bisik Jaehyun, yang masih belum melepaskan pelukannya. Jaehyun memejamkan kedua matanya yang berair. Ia menyesal sekali. Ia merasa menyesal.

Sejujurnya Jaehyun tahu apa yang baru saja dialami oleh Taeyeon. Ia marah, kecewa, dan terluka pada dirinya sendiri karena sama sekali tidak bisa melindungi gadis yang dicintainya. Ia menyesal karena sudah melepaskan tangan gadis ini dan jatuh pada tangan yang salah. Seandainya ia tidak meninggalkan Taeyeon dan tetap berada di sisinya, kejadian seperti malam ini tidak akan menimpa dirinya.

Tidak ada yang boleh menyentuh gadisnya. Siapapun dia. Mulai sekarang Jaehyun bersumpah akan selalu menjaga Taeyeon.

“Oppa?” panggil Taeyeon heran. Ia membalas pelukan Jaehyun dengan sama eratnya. Hangat serta wangi tubuh laki-laki ini masih sama dengan yang dulu. Malah lebih hangat dan Taeyeon dapat merasakan kasih sayang terpancar dari dalam peluknya. Ia merasa nyaman, aman, dan terlindungi. “Wae geurae?”

“Kau pasti merasa terluka. Mianhae, Taengie-ah. Aku berjanji akan selalu menjagamu. Aku sudah di sini,” jawab Jaehyun dan ia mengelus rambut indah Taeyeon penuh sayang.

Meskipun Taeyeon tidak mengerti maksud ucapan Jaehyun, tapi Taeyeon tetap merasa bahagia. Ia semakin mengencangkan pelukannya dan memejamkan kedua matanya, terhanyut dengan kenyamanan yang dimiliki oleh Jaehyun. Untuk sekali ini saja, Taeyeon tidak ingin memikirkan apapun. Detik-detik di pelukan Jaehyun ini ingin sekali Taeyeon manfaatkan untuk menentramkan hati serta perasaannya.

~~~

Man, jadi kau tetap tidak mengerti dengan apa yang telah kau lakukan tadi pada Taeyeon?” tanya Youngbae dengan nada frustrasi pada Jiyong di dalam apartemen mereka.

Keempat members Big Bang sudah pulang dari after party mereka setelah dijemput oleh Seunghyun. Seunghyun menceritakan semuanya pada mereka dan kini mereka berlima duduk di ruang tengah untuk bertanya ada apa dengan Jiyong.

“Kau tidak pernah kelepasan, Ji,” sambung Youngbae. “Kecuali ada hal-hal khusus,”

“Darahnya membuatmu kecanduan tapi tidak berarti itu membuatmu juga kecanduan akan tubuhnya, ‘kan hyung? Ani, kau tidak pernah seperti ini sebelumnya,” ujar Daesung. “Seseksi apapun perempuan yang kau hisap darahnya, kau tidak akan menyentuh tubuhnya, hyung,”

“Taeng eomma tidaklah seksi,” cetus Seungri. “Ada yang salah, hyung. Kenapa hanya dengan Taeng eomma jiwa monster buasmu kelihatan? Kurasa sudah saatnya kau harus konsultasi dengan ibumu. Kau sudah lama tidak bertanya-tanya tentang vampire dengan ahjumma, ‘kan?”

“Ani, eomma belum boleh tahu kalau aku sudah mencicipi darah manis seseorang, apalagi sampai membuatku mabuk,” tolak Jiyong. Ia menghela nafas kasar. “Kalau dia tahu, aku pasti sudah mati di tangannya. Tidak ada yang boleh tahu untuk saat ini. Bahkan Dami noona dan Yuri…,”

“Yuri sudah tahu, ingat?” sela Seunghyun. “Tapi aku sudah memberitahukannya untuk tidak bilang siapa-siapa dan aku juga sudah meyakinkan dirinya kalau Taeyeon baik-baik saja dengan itu,”

“Sekarang ia sudah tidak baik-baik saja,” sambung Jiyong dan ia tersenyum getir.

“Lalu sampai kapan kau akan menyembunyikan semua ini dari ibumu, hyung? Karena hanya dia yang tahu,” tanya Seungri.

Jiyong diam tidak menjawab. Otaknya sedang bekerja sangat cepat sekarang. Dan perkataan ibunya, lebih tepat peringatan, kembali terngiang di benaknya.

“Jika kau mencium darah yang aromanya lebih manis daripada darah yang lain, berhati-hatilah. Kalau kau sampai terikat dengannya, ada dua pilihan. Itu takdir atau masalah besar,”

“Kita tidak akan tahu sebelum kau bertindak, Ji. Kaulah yang menentukan dan memutuskan segalanya,” ungkap Seunghyun penuh tanda tanya.

Jiyong menatap Seunghyun dengan pandangan bertanya-tanya. Sebelum ia akhirnya memutuskan untuk bersuara, Seunghyun memotongnya dengan menawarinya sebuah rokok.

“Obat stress-mu,” tawar Seunghyun.

“Aku sedang tidak mood, hyung,” tolak Jiyong malas. Sebenarnya Jiyong tidak pernah merasa malas untuk merokok atau sebagainya. Dia hanya tiba-tiba ingat sesuatu, kalau Taeyeon sama sekali tidak suka melihatnya merokok. Dan ia akan marah besar jika Jiyong tetap melakukannya.

Seunghyun menganggukkan kepalanya dan ia menyeringai. Sesuatu sedang berputar dalam otaknya dan ia memikirkan itu dalam-dalam sambil menyesap rokoknya.

“Bagaimana menyembuhkan rasa ketakutannya kalau begitu?” tanya Daesung.

“Dia tidak takut pada kalian, tenang saja. Bersikap cool saja dan abaikan aku,” jawab Jiyong tenang. “Aku juga tidak akan berada di dekatnya kalau dia masih merasa ketakutan. Aku benci melihat ekspresi itu,”

“Sepertinya kau kembali mengingat Jinah,” tuding Youngbae.

Jiyong mengangkat kedua bahunya. Ia mengambil ponselnya dan tampak sedang berfikir. Beberapa detik kemudian, muncul sebuah ide brilliant dalam kepalanya. Ia sedikit tersenyum dan sibuk mencari nama kontak yang ada di ponselnya.

“Aku akan meminta bantuan seseorang,” ungkap Jiyong. Ia meletakkan ponselnya di telinga kanannya, sedang menghubungi ‘seseorang’ itu. “Yeoboseo, noona,”

~~~

“Kau kedinginan. Pegang ini erat-erat,” ujar Jaehyun sembari memberikan segelas cokelat panas pada Taeyeon. Sangat panas, bahkan asapnya masih mengepul di udara.

Saat ini mereka berdua sedang duduk di atas rumput di depan sungai Han sambil makan ramyun dan minum cokelat panas. Taeyeon sama sekali tidak heran kenapa Jaehyun membawanya ke sini daripada makan di restoran mewah seperti kebanyakan pasangan lainnya. Itu dikarenakan kencan pertama mereka adalah di sungai Han sambil menikmati semangkuk ramyun. Seperti sekarang ini. Sudah sembilan tahun yang lalu kejadian itu ada di benak Taeyeon, dan sekarang Jaehyun berusaha untuk membongkarnya kembali.

“Gomawo, oppa,” ujar Taeyeon menerima cokelat panas itu sambil tersenyum manis pada Jaehyun. Ia memang sedikit kedinginan, apalagi ia hanya memakai sweater berwarna cream yang tidak terlalu tebal. Namun, ia tidak mengatakannya pada Jaehyun. Jaehyun sadar sendiri kalau tubuh Taeyeon menggigil kedinginan. Ia memang selalu memerhatikan Taeyeon sedetail mungkin.

Jaehyun mengelus sayang poni Taeyeon dan ia kembali memakan ramyunnya, sedangkan Taeyeon menyeruput cokelat panas itu sedikit-sedikit sembari melihat Jaehyun memakan makanannya. Jaehyun, yang merasa diperhatikan, tersenyum ke arah Taeyeon dan ia hendak menyuapi Taeyeon.

Say ‘aah’,” ucap Jaehyun.

Taeyeon terkikik geli dan ia membuka mulutnya, membiarkan Jaehyun memasukkan ramyun itu ke dalam mulutnya. Taeyeon memakannya dengan lahap dan sesekali ia menyeruput mie itu dengan sekuat tenaga, membuat kuah ramyunnya terciprat ke mana-mana mengenai wajah mulus gadis itu.

Jaehyun tertawa. Ia meletakkan mangkuk ramyun itu di samping tubuhnya dan ia mendekatkan dirinya pada Taeyeon seraya menangkupkan wajah Taeyeon dengan kedua tangannya. Mata mereka beradu pandang dan Jaehyun sama sekali tidak berkedip menatap dalam-dalam kedua manik mata Taeyeon. Berbeda dengan Taeyeon, gadis itu merona. Ia tidak pernah bisa menang jika melakukan staring game dengan Jaehyun.

“M… Mwo?” tanya Taeyeon gelagapan. Ia ingin menundukkan wajahnya tapi Jaehyun tetap menahannya agar kontak mata di antara mereka tidak putus.

“Kotor sekali. Aigoo, my little kid Taengoo,” lirih Jaehyun. Ia menghapus cipratan kuah yang ada di sekeliling bibir Taeyeon dengan kedua ibu jarinya. Setelah itu, secepat kilat Jaehyun mengecup bibir softpink Taeyeon dan melepaskan wajahnya.

Gadis yang baru saja dikecup manis tadi, hanya bisa terdiam dengan rona merah di wajahnya yang semakin menjadi-jadi. Panas di tubuhnya meningkat dua kali lipat sehingga Taeyeon meletakkan cokelat panas itu di sampingnya.

“Aish, pegang saja. Tetap hangatkan tubuhmu, okay?” gerutu Jaehyun. Ia mengambil gelas itu dan memberikannya pada Taeyeon.

Taeyeon mengangguk pelan dan ia kembali memegang dua sisi gelas itu. Jaehyun tersenyum. Ia juga menggenggam kedua tangan Taeyeon, sehingga Taeyeon merasakan dua kehangatan sekaligus dalam dirinya. Satu dari cokelat panas itu dan satu lagi dari suhu tubuh Jaehyun. Semburat rona merah kembali muncul di kedua pipi Taeyeon. Ia tersenyum malu-malu pada Jaehyun. Jaehyun yang melihat itu rasanya ingin sekali mencubit pipi Taeyeon dengan gemas.

“Tapi, oppa…,” mulai Taeyeon. Senyum dan rona bahagianya seketika menghilang saat ia ingat sesuatu.

“Mwonde?” tanya Jaehyun penasaran.

Taeyeon menggigit bibir bawahnya dan dengan berani menatap Jaehyun. “Sikapmu ini sangat manis. Mirip sekali dengan saat kita pacaran selama tiga tahun dulu. Sekarang kita bukanlah siapa-siapa. Dan untuk seorang teman sekalipun, sikapmu ini terlampau romantis. Aku hanya tidak ingin membuat orang lain salah paham,”

“Aku sudah kembali, Taengie-ah. Tentu itu artinya hubungan kita kembali lagi, ‘kan?” tanya Jaehyun.

Taeyeon mengerutkan dahinya. Semudah itukah? “Mudah sekali oppa bicara begitu. Kau memutuskan hubungan kita dan pergi seenaknya lalu membiarkan aku menunggu selama enam tahun, berharap yang tidak pasti. Sekarang? Kalau kau kembali apa itu artinya dengan mudahnya aku mengiyakan ajakan oppa? Kau harus menjelaskan semuanya. Aku mau menemuimu karena ingin menagih janji,”

Taeyeon melepaskan genggaman Jaehyun dan ia kembali meletakkan cokelat panas itu di atas rumput. Gadis itu bangkit berdiri dan memandangi sungai Han lekat-lekat. Perasaannya sedikit terluka dengan perkataan Jaehyun.

Jaehyun menghela nafas panjang. Ia kesal pada dirinya karena membuat Taeyeon kecewa lagi. Laki-laki itu ikut bangkit dan berdiri di belakang Taeyeon. Kedua mata Taeyeon terbelalak dan tubuhnya tersentak kaget saat kedua lengan Jaehyun melingkar erat di tubuhnya, mengepung tubuhnya di pelukan hangat laki-laki itu. Taeyeon dapat mencium wangi maskulin tubuh Jaehyun dan ia merasakan ubun-ubun kepalanya dicium.

Tepat saat itu, Banpo Bridge mengeluarkan Rainbow water-nya secara bersamaan, dengan warna yang berbeda tentu saja. Indah sekali. Orang-orang yang ada di sekitar sungai Han pun ikut berdiri dan memandangi air itu dalam jarak yang dekat.

“Aku akan menjelaskannya sampai tiba waktunya, Taeng. Percayalah padaku, jebal. Aku pasti akan menceritakan semuanya. Alasanku pergi darimu dan kenapa baru datang sekarang. Aku akan menjelaskannya secara mendetail. Aku berjanji. Tapi tidak sekarang, chagiya,” ujar Jaehyun sambil sedikit merengek, jurus ampuh Jaehyun untuk membujuk Taeyeon agar gadisnya itu tidak cemberut lagi.

Tidak sekarang saat kau baru saja mengalami kejadian buruk, gumam Jaehyun dalam hati.

Taeyeon tersenyum dalam diam melihat tingkah Jaehyun. Ia menutup kedua matanya dan mecoba menikmati udara malam dingin yang romantis ini. Berada di pelukan Jaehyun di depan Banpo Bridge, hal yang sangat dinantikan Taeyeon sejak mereka berpisah. Wangi air pelangi bercampur dengan parfum Jaehyun membuat Taeyeon berada di atas angin.

“Biarkan sungai Han ini menjadi saksi bisunya. Maukah kau kembali menjadi kekasihku, Kim Taeyeon?” bisik Jaehyun penuh harap.

Taeyeon membuka matanya, sedikit terhenyak. Akhirnya pertanyaan itu keluar. Pertanyaan yang sama sekali tidak ingin didengar Taeyeon untuk sekarang ini. Dulu, dia akan membayar berapa saja agar Jaehyun kembali dan mengucapkan kalimat itu. Namun, perasaan Taeyeon kini berubah. Entah kenapa ia belum siap mendengarnya, bahkan menjawabnya. Taeyeon tidak ingin kalimat itu keluar dari bibir Jaehyun.

Ada apa dengan perasaannya sekarang? Kenapa hatinya mudah sekali berubah? Padahal sudah enam tahun lamanya dia menunggu dan kenapa hatinya malah seenaknya berjungkir balik? Taeyeon tidak ingin memercayainya tapi hati kecilnya berkata kalau dia menemukan secuil rasa yang baru, rasa yang masih hangat dan bersarang di hatinya. Rasa yang membuatnya nyaman.

Dan itu bukan berasal dari Ahn Jae Hyun.

~~~

Taeyeon menarik nafas dalam-dalam sebelum ia mengetikkan password pintu apartemen mereka. Namun, ketika tangannya hendak menyentuh gagang pintu apartemen itu, ia mengurungkan niatnya.

“Kenapa aku merasa baru pertama kali bertemu dengan mereka?” gumam Taeyeon kesal. Ia kembali menghembuskan nafasnya kasar dan menyentuh gagang pintu apartemen itu lalu membukanya.

Betapa terkejutnya Taeyeon saat gadis itu melihat siapa yang juga ikut membuka pintu apartemen Big Bang dari dalam. Seorang gadis yang sangat cantik dengan postur tubuh idealnya. Gadis itu mengenakan dress hitam putih yang lucu, mengenakan topi warna merah marun dan rambutnya yang panjang berwarna pirang kecokelatan. Gadis itu tersenyum manis pada Taeyeon.

“Kau pasti Kim Taeyeon seperti yang diceritakan oleh members Big Bang. Annyeonghaseyo, Park Sandara imnida,” sapa gadis itu dengan senyuman lebarnya.

“Annyeonghaseyo, Kim Taeyeon imnida,” balas Taeyeon dan ia membungkukkan badannya 90 derajat. “Nuguseyo?”

Belum sempat gadis yang bernama Sandara itu menjawab, Seungri keluar dari dalam kamarnya dan ia terbelalak melihat kedatangan Taeyeon. “Taeng eomma!”

“Riri, kau baru bangun? Bukankah sudah diperingatkan Jiyong kalau kalian akan berangkat pukul delapan?” tanya Sandara dengan kening berkerut.

“Mian, noona. Aku akan mandi dengan kecepatan kilat dan tidak akan membiarkan siapapun menungguku,” jawab Seungri sembari mengedipkan sebelah matanya. “Lagipula aku menunggu kedatangan Taeng eomma. Kenapa lama sekali datangnya? Aku belum sarapan,”

Taeyeon tersenyum dan ia menyerahkan satu kotak besar makanan pada Seungri. “Aku membuatkan kimbap untuk kalian semua. Mandilah dan kita akan sarapan bersama di perjalanan,”

“Kim Taeyeon jjang!” seru Seungri dan ia mengambil kimbap itu. “Ah, kalian berdua sudah saling kenal? Eomma, ini adalah Dara noona, noona kami yang paling hebat. Satu management dengan kami sebagai seorang aktris dan model. Paling dekat dengan Jiyong hyung. Dan Dara noona, ini adalah Taeyeon, asisten Big Bang untuk satu bulan penuh,”

“Aku sudah tahu tentang Kim Taeyeon,” jawab Dara dengan mata berbinar-binar. “Webtoon’s author. Aku sangat suka dengan semua ceritamu, Taeyeon-ssi. Aku juga mengagumi keahlian gambarmu. Aku dan Dami eonni sering sharing tentang webtoon dengan cerita yang berkualitas dan dia sangat suka dengan ceritamu,”

“Jeongmalyo? Gamsahamnida, gamsahamnida,” ungkap Taeyeon dengan wajah tersipu. Taeyeon sedikit iri dengan gadis yang ada di hadapannya ini. Selama bekerja bersama Dami, Taeyeon tidak pernah mendengar semua pendapat Dami tentang dunia webtoon, bahkan ia jarang banyak cerita dengan karyawannya. Dan betapa beruntungnya gadis yang bernama Dara ini bisa mendapat kepercayaan penuh dari Dami. Sepertinya Jiyong dan Dara adalah dua orang yang benar-benar dekat.

“Riri, cepat bersiaplah sebelum Jiyong memarahimu lagi. Aku dan Taeyeon-ssi akan mengobrol sebentar,” ujar Dara dan ia menarik lembut pergelangan tangan kanan Taeyeon untuk menuju ke sofa ruang tengah.

~~~

“Kulihat kau sudah cukup akrab dengan Dara noona,” ujar Youngbae saat Taeyeon sedang memilihkan jaket untuk dipakai Youngbae di atas stage.

“Dia gadis yang baik hati dan periang sekali. Setiap orang yang pertama kali bertemu dengannya pasti akan terpesona,” jawab Taeyeon. Ia menarik salah satu jaket berwarna hijau lumut dan mengamatinya. “Pakai ini saja, oppa. Terlihat cocok untukmu,”

“Ne, dia sangat dekat dengan kami, terutama Jiyong. Itu sebabnya Jiyong memanggil Dara noona untuk menjadi…,” Youngbae berhenti bicara karena ia masih ragu-ragu apakah ia bisa mengatakannya sekarang pada Taeyeon.

“Menjadi asisten pribadi Jiyong,” sambung Seunghyun dengan suara pelan sekali sembari tengah merapikan dasinya di depan cermin. “Jiyong lakukan itu untukmu karena ia fikir suasana hatimu masih kurang baik dengan kejadian kemarin. Jadi, dia bilang tidak ada salahnya minta tolong pada Dara noona,”

Taeyeon mengangguk sambil berusaha tersenyum dan membantu Seunghyun merapikan dasinya. Ia sudah tahu itu, tentu saja. Sebelum mereka pergi menuju salah satu stasiun tv, Jiyong meminta bantuan Dara. Ia selalu memanggil Dara, Dara, dan Dara. Hanya Jiyong yang melakukannya. Keempat members Big Bang yang lain tentu saja memanggil Taeyeon.

Taeyeon tidak tahu apakah ia harus merasa senang atau kesal dengan tingkah Jiyong. Laki-laki itu sama sekali tidak memandangnya dari awal dia keluar dari kamar. Taeyeon yakin Jiyong tahu dengan keberadaannya tapi sebisa mungkin dia menghindari kontak mata dengan Taeyeon. Perubahan sikap Jiyong benar-benar 180 derajat, seakan-akan yang bersalah di sini adalah Taeyeon.

Apa laki-laki itu mencoba menghindarinya dan menganggapnya tidak ada? Pertanyaan itu muncul di kepala Taeyeon dan membuatnya semakin keki. Ia benci diacuhkan. Benci sekali. Terkhusus jika laki-laki itu yang mengacuhkannya.

Taeyeon merengut kesal dengan perkataan Seunghyun. Jiyong melakukan itu karena dirinya? Yang benar saja! Apakah dengan mengacuhkan Taeyeon membuat suasana hati Taeyeon kembali damai? Pabo namja.

“Kau diam saja seharian ini, Taeng,” ujar Seunghyun. “Di mobil juga. Ada apa? Kau masih takut dengan kejadian kemarin?”

Taeyeon memutar kedua bola matanya. “Aku sama sekali tidak berfikiran untuk takut pada apapun, oppa. Kenapa kalian begitu khawatir sekali?”

“Pada Jiyong maksudku,” ralat Seunghyun.

Taeyeon ingin menjawab kalau dia tidak takut pada Jiyong. Sama sekali tidak takut. Ia ingin menceritakan semua perasaannya yang sejujurnya pada Seunghyun tapi percakapan mereka terhenti saat Dara masuk ke dalam ruang ganti Big Bang. Dan saat itulah Taeyeon melihat Jiyong juga sudah keluar dari sebuah ruangan kecil yang biasa digunakan untuk mengganti pakaian.

Pakaian Dara jauh lebih modis sekarang. Ia memakai kemeja hitam dengan paduan blazer hitam putih, menggunakan topi lebar berwarna hitam dan rambutnya diwarnai dengan warna pirang keemasan. Wajahnya yang putih tampak semakin menyilaukan dan Taeyeon akui, ia seperti melihat bidadari saking terpesonanya.

Jiyong sedikit terkekeh geli melihat Dara. Ia mengambil sebuah sisir dan menyisiri rambut pirang Dara yang sedikit berantakan. Beberapa crew YG yang ada di ruang ganti itu bersiul, menggoda dua insan itu. Jiyong hanya tersenyum lebar dan Dara diam saja.

Melihat perhatian lebih dari seorang Jiyong pada Dara, membuat Taeyeon reflek mengalihkan pandangannya. Entah kenapa. Dan hal itu disadari oleh Seunghyun.

“Apa noona hari ini ada pemotretan?” tanya Daesung pada Dara.

“Eoh, dan sepertinya aku minta izin pada kalian semua, terutama pada Jiyong untuk tidak bisa menemanimu sampai selesai. Kurasa hari ini aku akan pulang malam. Bukankah sore ini kalian akan langsung terbang ke Thailand?” Dara balik bertanya.

“Aku bisa menjemputmu, noona,” jawab Jiyong cepat. “Ikutlah ke Thailand. Lusa juga kau akan ada pemotretan di sana, ‘kan? Sekalian saja. Aku bisa mengurusi semuanya agar kau bisa pulang lebih awal. Atau kau tidak tulus menjadi asistenku untuk sementara?”

“Bukan begitu,” sanggah Dara cepat. “Lagipula, aku tidak enak pada Taeyeon. Kulihat Taeyeon begitu telaten mengurusi semuanya. Kenapa kau harus minta bantuanku lagi?”

“Mengurusi empat orang saja sudah melelahkan. Aku mencoba membantu meringankan pekerjaannya, noona. Taeyeon-ssi juga senang kalau kau bantu dia,” jawab Jiyong, membuat Seungri, Daesung, dan Youngbae saling pandang. Sejak kapan Jiyong minta persetujuan Taeyeon?

Kau bahkan tidak tanya padaku da nasal bicara, gumam Taeyeon.

“Eonni, sepertinya Jiyong benar-benar membutuhkanmu. Tetaplah disampingnya sampai manager mereka kembali. Dia benar, aku senang kau bantu. Aku jadi tidak merasa kerepotan,” jawab Taeyeon. Nadanya terdengar ceria tapi perkataannya sedikit menyinggung Jiyong. Berarti selama ini dirinya selalu merepotkan Taeyeon? Apa karena dia selalu menyuruh Taeyeon menelepon para perempuan yang akan menjadi santapannya?

Jiyong menoleh menatap Taeyeon dengan pandangan datar. Ini untuk pertama kalinya ia berani memandang gadis itu setelah selama berjam-jam ia menahan dirinya untuk tidak menatap Taeyeon. Ia takut, takut sekali jika tatapannya pada Taeyeon membuat gadis itu kembali ketakutan. Ia hanya ingin, mulai dari sekarang, menjaga jarak dengan gadis itu. Demi keamanan mereka berdua.

Karena ia juga belum mengerti sama sekali makna perasaannya yang selalu menggelora dan berkecamuk di dadanya setiap kali ia memandangi Taeyeon. Seakan-akan Taeyeon adalah barang berharga miliknya dan tidak boleh disentuh orang lain. Perasaan itu begitu overprotective, begitu posesif, yang tidak dimengerti Jiyong.

~~~

“Untuk makan siangmu, siapa yang harus aku hubungi?” tanya Taeyeon pada Jiyong saat mereka turun dari stage.

“Dara noona sudah mengurusi semuanya,” jawab Jiyong cepat tanpa menoleh pada Taeyeon. Ia terus melangkahkan kakinya menuju ruang ganti dan mengacuhkan Taeyeon yang sudah berhenti jauh di belakangnya.

“Baiklah, aku tidak akan peduli lagi padamu!” sentak Taeyeon geram.

“Ada apa, Taeng?” tanya Youngbae, yang sudah berada di sampingnya, membuat Taeyeon sedikit terlonjak.

“Ti… Tidak ada apa-apa,” jawab Taeyeon gelagapan.

“Kalau begitu, kajja. Kita pergi ke bandara. Penerbangan menuju Thailand dipercepat,” ajak Youngbae.

“Jinjja?”

~~~

To : Yul

Aku sudah berada di pesawat. Aku akan menghubungi kalau kami sudah sampai di sana. Pay~

 

“Apa semuanya sudah berada di dalam pesawat?” tanya salah seorang stylist YG, Gee Eun.

Taeyeon menoleh dan ia menatap sekeliling orang yang ada di pesawat itu. Semua members Big Bang ada, kecuali Jiyong. Ah, Jiyong sedang menjemput Dara dan beberapa menit yang lalu ia mengatakan sedang berada di jalan menuju bandara. Berulang kali Taeyeon menyuruh Youngbae atau Seunghyun untuk memperingati Jiyong kalau pesawat akan segera take off.

“Apa Jiyong belum juga datang, Taeng?” tanya Gee Eun pada Taeyeon.

“Eh? Eung…,”

“Itu Jiyong hyung,” ujar Daesung, yang duduk di samping Seunghyun dan tidak jauh dari kursi Taeyeon.

Jiyong datang bersama Dara. Mereka membungkukkan badan dan mengucapkan maaf karena sedikit terlambat. Lalu, mereka sibuk mencari tempat duduk.

Saat Jiyong dan Dara melewati bangku Taeyeon, Dara berhenti dan tersenyum pada gadis itu. “Taeyeon-ah, apa di sampingmu kosong?”

Jiyong tidak berhenti, tentu saja. Ia duduk di belakang, tepat di belakang bangku Daesung dan Seunghyun.

“Ah, eonni menemani Jiyong saja. Kebetulan, bangku di sampingku sepertinya tidak kosong,” jawab Taeyeon asal.

“Jinjjayo?” tanya Dara. Lalu, ia pamit dan duduk di samping Jiyong, di dekat jendela pesawat.

Taeyeon sedikit mengerling ke arah mereka berdua dan mendapati keduanya tengah bercanda tawa. Jiyong juga menunjukkan sesuatu di ponselnya pada Dara. Walaupun Dara lebih jauh usianya dari Jiyong, tapi mereka berdua kelihatan sangat serasi. Apalagi Jiyong selalu tersenyum setiap Dara di sampingnya. Ia tidak seperti Kwon Ji Yong yang dingin dan sok cool.

“Ahgassi, apakah ada seseorang yang duduk di sampingmu?” tanya seorang paman yang umurnya berkisar 30-an. Suara paman itu menyadarkan Taeyeon dari lamunannya.

“Eoh? Ah, tidak ada, ahjussi,” jawab Taeyeon. Ia menggeser tubuhnya ke dalam, lebih tepatnya di dekat jendela dan membiarkan paman itu duduk di sebelahnya.

“Gomawo, tidak ada lagi kursi di depan. Sedangkan aku sama sekali tidak bisa kalau duduk di belakang,” ujar paman itu dan ia tersenyum hangat pada Taeyeon.

“Ye, ahjussi. Tidak masalah,” jawab Taeyeon, balas tersenyum dengan manisnya pada paman yang ada di sampingnya ini.

“Kenapa seorang gadis cantik sepertimu terbang ke Thailand seorang diri?” tanya paman itu, ketika pesawat sudah mulai take off.

“Ahh, aku tidak sendirian, ahjussi. Yang ada di sekitar sini adalah teman-temanku. Kami akan mengadakan konser MADE Tour Big Bang. Apakah ahjussi tahu?” Taeyeon balik bertanya.

“Tentu aku tahu Big Bang. Tapi aku tidak tahu kalau mereka akan mengadakan konser. Apakah belum terlambat untuk membeli tiketnya?”

Sold out, ahjussi. Ahjussi kurang cepat dari para VIPs,” jawab Taeyeon dengan setengah bercanda.

Paman itu tertawa dan mereka kembali terdiam. Lalu, kedua mata paman itu melihat Taeyeon yang tidak mengenakan sabuk pengaman pesawatnya.

“Kau tidak mengenakan seatbelt-mu, ahgassi?” tanya paman itu.

“Ah, benar juga…,”

Sebelum Taeyeon sempat memasang sendiri seatbelt-nya, paman itu menyondongkan tubuhnya ke dekat Taeyeon dan memasangkan seatbelt-nya di perut Taeyeon. Taeyeon shock sekali. Bagaimana tidak? Paman ini baru dikenalnya beberapa menit yang lalu, tidak sampai 30 menit dan ia dengan beraninya memasangkan seatbelt pada Taeyeon tanpa meminta persetujuan gadis itu. Tangan paman itu pun entah kenapa, seperti sengaja menyentuh tubuh Taeyeon.

“Ga… Gamsahamnida, ahju… ssi,” lirih Taeyeon.

Taeyeon merinding ketakutan. Kali ini ia benar-benar ketakutan. Firasatnya tidak enak dengan paman yang duduk di sampingnya ini. Ingin sekali ia pindah ke belakang. Tapi tubuhnya tidak bisa digerakkan. Dan yang membuat Taeyeon semakin takut adalah saat ia menyadari tubuh paman ini sedikit menempel padanya, padahal kursi pesawat ini sangatlah luas.

Taeyeon menggeser tubuhnya dan merapat pada jendela pesawat. Sebisa mungkin ia menjaga jarak dengan paman yang ada di sampingnya ini. Namun, semakin Taeyeon merapat dengan jendela pesawat, semakin menempel tubuh paman di sampingnya ini, membuat tubuh Taeyeon terkekang. Keringat dingin mulai keluar dari tubuh Taeyeon dan ia ingin sekali berteriak minta tolong pada siapa saja.

Digenggamnya ponselnya dan ia berpura-pura untuk memainkan game di ponselnya sambil memasang earphone. Dan hasilnya sama saja. Taeyeon tetap tidak merasa nyaman. Dengan tubuhnya yang terjepit, ia juga merasakan paman itu sedang menatap ke arahnya. Atau ke arah yang lain? Karena Taeyeon baru saja menyadari, ia hanya memakai dress selutut berwarna putih. Kalau saja Taeyeon tahu keadaannya akan begini, tentu ia akan memakai pakaian yang jauh lebih aman.

Tolong, siapa saja, rintih Taeyeon dalam hati. Ia menyandarkan kepalanya ke jendela pesawat dan memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Ia berusaha menghilangkan ketakutannya seraya memohon dalam hati agar ada seseorang yang mau menyelamatkannya dari kandang singa.

Dan fikiran Taeyeon tiba-tiba saja melintas tertuju pada Jiyong.

Buat apa memikirkan dia? Dia sedang bermesraan dengan kakak tersayangnya, rutuk Taeyeon dalam hati dan hatinya sedikit tergores tanpa sebab.

Beberapa detik Taeyeon memejamkan matanya, Taeyeon merasa kepalanya terkulai jatuh di pundak seseorang. Ah, ya. Dia pasti sedang tertidur di pundak paman pervert itu. Taeyeon hendak mengangkat kepalanya dan ingin kembali menjauhi tubuh paman itu tapi kepalanya ditahan. Ditahan dengan paksa agar kepalanya tetap bersandar di bahu itu. Taeyeon mengerang dalam tidurnya. Apakah paman ini akan melakukan sesuatu pada dirinya?

Namun, indera penciuman Taeyeon mendadak merasakan wangi kayu-kayuan, rempah, amber serta mint dipadukan menjadi wangi parfum seseorang yang tidak asing lagi di hidung Taeyeon. Parfum yang sering Taeyeon cium. Parfum siapa…? Wangi parfum itu sangat dekat di hidungnya., dan jelas paman tadi tidak memiliki wangi seperti ini.

Parfum Jiyong.

Tidak mungkin, ‘kan? Tidak mungkin ini parfum laki-laki itu. Laki-laki itu sedang duduk bercanda tawa dengan Dara. Tidak mungkin ia duduk di samping Taeyeon saat ini. Dan bagaimana dengan paman itu?

Taeyeon membuka sedikit kelopak matanya. Ia ingin meyakinkan siapa yang duduk di sampingnya. Meskipun rasa kantuk yang dahsyat melandanya, tapi Taeyeon tetap bersikeras bangun dan mengangkat wajahnya.

Pandangan gadis itu kabur karena sebagian jiwanya masih melayang ke alam mimpi. Tapi dengan pandangan kabur itu, Taeyeon bisa melihat dengan jelas, seorang laki-laki duduk di sampingnya. Laki-laki yang tidak asing, dan dia bukan paman itu. Dia adalah…

Laki-laki itu kembali menarik paksa kepala Taeyeon untuk menyandar pada pundaknya seraya berkata, “Tidurlah,”. Dan sedetik kemudian, Taeyeon terlelap. Saking lelapnya, ia sampai bermimpi.

Bermimpi kalau laki-laki yang berada di sampingnya ini, laki-laki yang meminjamkan pundaknya untuk Taeyeon adalah Kwon Ji Yong.

 

 

 

 

-To Be Continued-

 

 

Kekekeke update cepet yeay!

Speechless, deh-,- ngga tau lagi mau buat ide yang gimana. Udah stuck banget, udah heng-_-

Kritik dan saran ditunggu^^

Next chappie, akan ada sweet #GTae atau #DaraGon moments?? Heumm… #pikirkeras

 

 

 

-Next Chappie-

“Bersenang-senang saja dengan kakak tersayangmu,”

 

“Kiss me, noona,”

Advertisements

271 comments on “The Leader’s Secret (Chapter 6)

  1. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 13) | All The Stories Is Taeyeon's

  4. Hello There. I found your blog using msn. This is a very well written article.
    I will be sure to bookmark it and come back to read more of
    your useful info. Thanks for the post. I’ll certainly return.

  5. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 14) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s