Not Destined (Chapter 6 )

no-destined_selvi_melurmutia

Not Destined

Main Cast: Taeyeon ­– Kai || Genre: Romance, Sad || Length: Chapter || Rating: PG-13 ||

Author : Selvy

POSTER FF By Melurmutia@Cafeposter

^^^Chapter 1 & 2 pernah di upload di EXOSHIDAEFANFIC

Ps: Disini banyak penambahan adegan dan pengeditan. Tapi tidak ada perubahan cerita.

 

-____________-

 

Taeyeon memandangi gedung di hadapannya. Bangunan bergaya minimalis berlantai dua itu menarik minatnya. Galery Seni, apakah ada yang bisa ia lakukan disana? Entahlah. Taeyeon sangat suka melukis dan memberi warna pada gambar untuk itulah mengapa ia berada disini. Sebelumnya gadis itu tak pernah bekerja paruh waktu. Namun ia telah lama menginginkan hal itu, tapi eomma tak pernah mengijinkannya. Sekarang adalah kesempatan terbaiknya.

Pintu kaca ia dorong, seorang resepsionis cantik dengan rambut digulung tersenyum manis. Taeyeon membalas ramah, setidaknya ia harus menunjukkan bahwa ia adalah wanita baik- baik sekarang.

“Annyeong haseyo. Kim Taeyeon Imnida” Taeyeon memperkenalkan diri kemudian menyatakan keinginannya untuk bekerja paruh waktu di galery itu.

Wanita yang kira- kira berumur 20-an itu tersenyum teduh. “Kami memang sedang membuka lowongan. Namun pekerjaannya sedikit berat untuk seorang pelajar.”

Taeyeon tersenyum cerah, “Apapun itu aku akan menerimanya”

“Tugasmu membersihkan tempat dan lukisan- lukisan yang akan dipamerkan di malam hari. Kau harus bekerja setelah pulang sekolah sampai jam 10 malam dengan gaji 4000 won/ jam”

Taeyeon mendengarkan dengan seksama penjelasan dari wanita itu. Ia mangguk- mangguk sendiri, Taeyeon tak bisa memperkirakan apakah pekerjaan itu berat atau tidak karena ia sama sekali belum pernah mecoba sebelumnya.

“Bagaimana?”

“Hmmm, apakah tidak ada pekerjaan lain? Bukan aku tidak menyukai pekerjaan itu tapi aku sedang memerlukan uang yang banyak”

Resepsionis itu menjawab dengan tenang, “Sebenarnya ada, tapi itu adalah pekerjaan tetap. Dan seorang pelajar tidak boleh bekerja di bagian itu”

Taeyeon berhembus kesal, sepertinya ia harus mengambil pekerjaan tadi. Tak ada salahnya mencoba, toh namja itu mengatakan bahwa ia boleh mencicil kan? Tak ada yang harus dikhawatirkan.

“Baik aku akan menerimanya. Kapan aku bisa mulai bekerja?”

“Hari ini bisa? Karena galery sedang sibuk berhubung besok akan ada pameran besar. Rencananya pameran itu akan dihadiri pejabat dan para pengusaha sukses. Untuk itu kau harus bekerja ekstra mulai hari ini”

Taeyeon mengangguk mengiyakan. Segera ia menerima baju kaos berwarna merah beserta celana training kebesaran dari wanita itu. Taeyeon segera berganti pakaian, senyum terukir diwajahnya. Tak buruk, setidaknya ia merasa nyaman dengan baju yang ia kenakan.

Tidak banyak orang yang berdatangan ke galery hari ini. Taeyeon hanya membersihkan lukisan- lukisan dari debu dan membersikan lantai bersama pegawai paruh waktu lainnya. “Hai Sunmi imnida” Taeyeon menengok ke gadis yang lumayan tinggi berpakaian sama dengannya.

“Taeyeon” gadis itu menyambut uluran tangan Sunmi. Karena kesibukan membersihkan sebuah lukisan Taeyeon mengabaikan gadis itu. Sunmi memperhatikan pergerakan tangan Taeyeon yang sangat kaku.

“Pertama kalinya?” Taeyeon tersentak saat gadis itu menarik kain dari tangannya dan mengambil alih pekerjaannya.

Canggung Taeyeon mengangguk pelan, “Ne” Taeyeon menatap gadis yang berusaha mengajarinya dengan sabar.

Karena banyaknya jumlah lukisan yang harus dibersihkan hingga leher Taeyeon terasa rapuh. Berkali- kali yeoja itu memijat- mijatnya namun tetap tak ada perubahan. Melelahkan memang, bahkan lebih menyedot tenaga dibanding mengikuti kelas Taekwondo.

 

-____________-

 

Namja itu duduk memandangi langit gelap di balkon kamarnya. Desahan nafas kasar terdengar yang segera menyatu dengan hawa dingin Busan yang menusuk tulang. Entah apa yang difikirkannya sampai betah berlama- lama di luar sana. Tapi sesuatu mengganggu fikirannya.

‘Mengapa aku terus memikikannya?’ Tangan kekarnya mengacak rambut kesal. Ekspresi bingung terlihat jelas di wajahnya. Kai namja itu semakin hilang akal karena yeoja itu. Kai masih bingung pada apa yang ia lakukan. Meminta Taeyeon membayar ganti rugi sungguh diluar kebiasaannya.

“Apa yang mengganggu fikiranmu?” Kai tersentak namun segera memperlihatkan senyum manis saat melihat eommanya berdiri tepat di sampingnya. “Jangan bilang kau masih . . . . “

“Aniya” sela Kai mengerti maksud eommanya. Ia kembali menerawang, perkataan eommanya membuatnya lebih banyak berfikir. Beberapa hari ini ia terlalu sibuk berkutat seputar Taeyeon Taeyeon dan Taeyeon. Bayangan – bayangan dan rasa frustasi itu tak pernah lagi menghampirinya. Dan bodohnya dia baru menyadarinya.

Kai menatap eommanya lekat- lekat. “Eomma . . . . “

“Wae?” Eomma menyimak namun putranya itu malah mengalihkan pandangan seolah tak ingin melanjutkan kalimatnya. Alis Nyonya Kim bertaut, tak biasanya Kai bimbang seperti ini. “Ayo ceritakan pada eomma. Apa yang menggangu fikiran anak eomma ini? apa ada yang mengusikmu Jongin-ah?” eomma memegang pundak namja itu.

Kai menghembus untuk kesekian kalinya, kepalanya terasa penat karena terus beroperasi diluar kendalinya. “Sepertinya sesuatu yang tidak baik terjadi padaku eomma” Ucapnya sangat pelan namun masih dapat didengar oleh wanita di sampingnya.

Nyonya Kim semakin bingung, diperhatikan lekat- lekat wajah Kai berharap mendapat jawaban dari sana namun nihil. “Sesuatu apa Jongin-ah? Bagaimana eomma bisa membantumu kalau kau tak ingin berbicara dengan eomma?”

“Bukan tidak ingin eomma, tapi . . . ah aku terlalu bingung dia selalu muncul di mataku. Dan dengan bodohnya aku akan tertawa tanpa sebab. Apa aku mulai gila eomma?” Tanyanya kemudian dengan manja melingkarkan kedua lengannya di perut nyonya Kim yang disambut dengan hangat.

“Siapa? Apa seorang yeoja?” Tanya eomma, Kai menjauhkan kepalanya dari pundak eomma dan menatap wajah wanita paruh baya yang nampak berseri. “Kau akhirnya menyukai seorang wanita?” tambahnya yang sedikit menyinggung Kai.

“Ya! eomma! Memang sejak kapan aku menyukai namja?” Kai mengerucutkan bibirnya. Segera eomma melepas lengan Kai dan menatap wajah putranya lekat- lekat. Kedua tangan hangat itu diletakkan di kedua pipi Kai. Ia Nampak serius.

“Kau belum pernah seperti ini sebelumnya. Eomma penasaran seperti apa gadis yang membuat anak eomma seperti ini. kalau ada waktu bawa dia ke rumah. Eomma ingin bertemu dengannya, bisa?” Tanya Eomma dengan senyuman lembut.

Kai hanya tersenyum kaku, masih jelas dalam fikirannya bagaimana appa dan Taeyeon bertengkar hebat dan bagaimana mungkin ia membawa Taeyeon berkunjung? Eomma mungkin akan terkena serangan jantung mengetahui bahwa gadis yang membuat appa marah besar adalah gadis yang saat ini mereka bicarakan.

 

-____________-

“Annyeong” Namja dengan jejeran gigi putih melambai manis dihadapan Taeyeon. Gadis itu menatap dengan pandangan sadis. Chanyeol yang ditatap seperti itu berubah kaku dan menatap Lay yang terkikik kecil. Namja itu dibuat kesal.

“Ah kau Chanyeol dan Lay bukan?” Tanya Seulgi menunjukkan ketertarikan. Gadis itu berdiri diikuti Irene dari bangkunya. Kedua namja itu membalas dengan senyuman singkat kemudian mengalihkan pandangan ke arah Taeyeon.

Merasa diperhatikan Taeyeon menunjukkan wajah tidak sukanya. “Mengapa Kai berdekatan dengan gadis semenakutkan ini?” Bisik Chanyeol yang dapat terdengar jelas di telinga Taeyeon membuat Lay menyikutnya.

“Taeyeon Sunbae, kami ingin berbicara dengan sunbae sebentar saja” Pinta Lay sopan.

Taeyeon sebenarnya sangat malas berurusan dengan orang- orang yang bahkan ia tidak ingat siapa mereka. Tapi fikirannya sedikit berubah mengingat ia harus mempertahankan image baik yang baru saja ia bangun.

“Baiklah” Taeyeon berjalan ke luar kelas mengikuti kedua orang tersebut.

Kepalanya sedikit diangkat saat Chanyeol mulai berbicara, “Hmmm ini tentang Kai … “

“Aku tidak urusan dengan orang itu” Taeyeon menyela. “Jika kalian ingin berbicara tentangnya lebih baik tidak denganku” Ucapnya tanpa ada kesan ramah dan berjalan melewati Chanyeol yang sudah menampakkan wajah kaget.

“Wah daebak gadis itu memang sesuatu” Gumamnya.

Lay menatap langkah Taeyeon yang semakin menjauh. “Yah dia berbeda. Mungkin itu yang membuat Kai tertarik.”

“Tapi itu tidak mungkin, kau tahu ahjussi seperti apa? Aku jadi khawatir akan semuanya” Chanyeol mendengus.

Sementara Taeyeon berjalan tanpa arah. Moodnya hanya sedang tidak baik untuk berbicara dengan dua orang namja itu. Fikirannya kosong tak memikirkan apapun, ia hanya berharap tak diganggu oleh siapapun.

Bukk ..

“Ya! kau tak punya mata? Bagaimana mungkin kau tidak melihat seseorang sedang berjalan hah?” Taeyeon memaki namja yang baru saja menabraknya. Orang yang ditabrak menatap dengan pandangan kaget.

Beberapa kali terdengar umpatan jelas dibibirnya kemudian melangkah pergi. “Aiss Jinja oh Tuhan bagaimana agar moodku bisa kembali?”

“Baekhyun-ah apa yang kau lakukan?” Baekhyun tersentak dan beralih pada yeoja yang menyapanya.

“Ah noona gwenchana. Hanya saja aku bertemu dengan gadis yang kukenali barusan”

“Oh yah? Bagus kalau begitu setidaknya kau mengenal seseorang. Kamu sudah tahu dimana kelasmu? Atau perlu noona antar?”

“Joohyun noona tidak perlu. Gomawo” Baekhyun melempar senyuman manis pada Irene sebelum akhirnya melangkah pergi. Sesekali ia menengok ke belakang berharap bahwa gadis yang baru ditemuinya akan terlihat, entah apa yang membuatnya seperti itu padahal gadis itu sudah pernah menghajarnya habis- habisan.

 

-____________-

 

“Ya! apa yang kau lakukan berjalan sendirian? Kau tidak ke kantin?” Tanya Kai seraya menyamakan langkahnya dengan kaki mungil Taeyeon.

“Bukan urusanmu”

“Ya! itu menjadi urusanku sekarang. Kau harus mengganti rugi padaku dan jika kau sakit maka kau tak akan bisa mengganti uangku. Jadi ayo ke kantin” Kai menarik tangan Taeyeon walau hanya dalam hitungan detik sudah dihempas kasar.

“Sudah kubilang ini bukan urusanmu. Dan satu lagi masalah uangmu akan kukembalikan jadi tenang saja. Karena itu jangan mendekatiku” Taeyeon memperingatkan. Kai Nampak sangat shock, Taeyeon sebenarnya merasa bersalah tapi salahkan moodnya yang sedang tidak mendukung.

“Itu karena aku menyukaimu Kim Taeyeon, tidakkah kau tahu itu?” Ucapan Kai membuat langkah Taeyeon terhenti.

Yeoja itu berbalik menatap lekat- lekat mata sayu namja di hadapannya. Taeyeon tak pernah perduli, tapi ia menangkap sorot mata yang sangat tulus dari Kai. Dan entah apapun itu jantungnya tiba- tiba berdebar- debar.

Taeyeon mengalihkan pandangannya, ia memegangi dadanya sebentar. “Ya! apa yang terjadi padaku? Jangan bilang aku berdebar- debar karenanya? Ihh sangat tidak mungkin” Taeyeon bergidik ngeri kemudian kembali menatap Kai. “Ya! Kau manusia yang sangat tidak penting dalam hidupku. Aku tidak seperti gadis yang kau permainkan itu ara? Jadi jauh- jauhlah dariku”

“Aku tahu. Kali ini berbeda Taeyeon-ah. Aku tidak tahu mengapa ini terjadi, sejak kapan aku menyukaimu aku tidak tahu karena semuanya terjadi begitu saja. Aku juga tidak menyangka bahwa aku akan menyukai gadis seperti dirimu tapi itu semua diluar kendaliku”

Taeyeon mendengus kesal, ia menepuk- nepuk pipinya keras karena terasa panas padahal matahari tidak terlalu terik saat ini. “Yup kau tidak bisa menyukai gadis sepertiku seperti aku tidak bisa menyukaimu Kim Jongin. Untuk itu lebih baik kau lupakan perasaan itu”

“Kau fikir itu mudah? Aku sudah mencoba sebesar yang kubisa tapi tidak bisa. Apakah tidak mungkin untuk memberiku kesempatan?” Kai tampak memelas hilang asa. Untuk pertama kalinya ia mengemis cinta seseorang dan parahnya itu pada gadis yang sama sekali bukan tipenya.

Taeyeon memberanikan dirinya menatap mata Kai. Ia menatap sangat dalam dan beberapa saat mereka terdiam. Aliran panas menyebari dalam darah gadis itu, sensasi yang sangat berbeda saat ia benar- benar merasakan ketulusan dari namja itu. Tapi ia buru- buru menepisnya.

‘Kim Taeyeon ini bukan dirimu’

“Kau tak bisa memberiku kesempatan?”

“Tidak” Taeyeon menjawab tegas. Ia mengumpulkan seluruh kekuatannya. Ia menjadi lemah saat ini dan itu membuatnya kesal. “Aku harus bicara yang sebenarnya Kai-sshi. Pertama kita sangat tidak cocok dan kedua kau tidak boleh menyukaiku ataupun sebaliknya.”

“Aku akan berusaha mengalah Taeyeon-ah. Aku akan berubah, pertama aku akan menebus kesalahanku pada gadis- gadis yang telah kusakiti. Dan aku akan menjadi namja yang cocok denganmu. Asalkan aku dapat bersamamu” Bujuknya. Kai melangkah mendekati Taeyeon dan menggenggam sekali lagi tangan mungil itu.

Taeyeon bimbang. Ia tak mengira situasi ini akan menerpanya, ia lebih memilih Kai yang menjengkelkan dan membencinya daripada seperti ini.

“Aku tak tahu mengapa saat ini aku merasa bahwa ini bukan diriku Kai-sshi dan itu karenamu. Aku tidak bisa memberikan alasan kenapa kau tidak boleh menyukaiku, tapi aku lebih nyaman dengan Kai yang terus membuatku marah seperti kemarin daripada saat ini” Taeyeon berusaha jujur, meski ia tak menutup kemungkinan bahwa ia bisa saja membalas untuk menyukai Kai. Tapi tidak bisa. Karena ada Sehun. Sehun yang selalu ada disisinya. Sehun yang selalu menghibur dan mengisi kekosongannya namun selalu ia abaikan.

Dan ia tidak mau ia mengorbankan perasaan Sehun hanya untuk namja yang barus aja ia temui beberapa bulan terakhir.

“Baiklah mungkin ini terlalu cepat untukmu. Tapi aku akan membuktikan perkataanku bahwa aku akan berubah untukmu.”

“Tapi kau tidak boleh menyukaiku”

Kai menghembus kesal, “Tapi masalah itu kau tak bisa mengaturku Kim Taeyeon” namja itu berjalan menjauh dari tempat Taeyeon berdiri.

Taeyeon hanya bisa merututi dirinya sendiri. Marah karena menjadi lemah, marah karena hampir saja memberikan hatinya, marah karena sesuatu yang sulit ia kontrol akhirnya terjadi padanya. Dan dia benci dirinya yang lemah.

 

-____________-

 

Beberapa kali Taeyeon membungkuk hormat pada tamu- tamu yang datang. malam ini ini ia terlihat sangat menyedihkan. Memakai rok super ketat dengan kemeja putih dan membawa nampan berisi minuman.

“Sialan” umpatnya kesal menarik kesal roknya kebawa namun nyatanya tak ada perubahan sedikitpun disana.

“Terasa tidak nyaman?” Sunmi bertanya.

Taeyeon memandangnya sinis, “Apa kau masih perlu bertanya?” gadis itu diam mendapat jawaban ketus dari Taeyeon. Perasaan bersalah sempat hinggap di benak gadis itu, sayang lagi- lagi moodnya sedang tidak baik walau hanya mengatakan maaf.

“Kim Taeyeon sampai kapan kau akan berdiri disitu?” namja bertubuh besar itu memperingatkan. Taeyeon mengalah kali ini, tanpa mengatakan apapun ia segera menawarkan minuman di tangannya dengan wajah super malas.

“Sekarang aku tahu mengapa kau sangat kasar” suara itu mengganggu pendengarannya. Taeyeon berbalik dan melihat sosok yang sangat tidak disukainya. Segera ia buang wajahnya jauh- jauh dan melangkah pergi. “Jangan pernah mendekati Kai. Kau tidak pantas untuknya” ucapnya lagi.

Kali ini Taeyeon berhenti, menghirup nafas sebanyak yang ia bisa. Menstabilkan emosinya lalu tersenyum manis menatap Tuan Kim. “Tidakkah terbalik? Anakmu yang tidak pantas untukku” Perkataan sarkastik gadis itu membuat ekspresi Tuan Kim berubah gelap. Dia merasa direndahkan.

“Kau fikir kau siapa? Hanya seorang pelayan. Ck berani sekali kau berkata seperti itu”

“Lalu kenapa? Setidaknya aku tidak sepertimu yang sama sekali tidak memperdulikan anaknya”

Tuan Kim mendekat dan menarik keras lengan Taeyeon, namun gadis itu sama sekali tak terganggu. “Jangan pernah mengajariku anak ingusan.”

Taeyeon tersenyum mengejek lalu menghempaskan tangannya sampai remasan di lengannya terlepas dengan mudah. “Anak ingusan setidaknya lebih berfikir dewasa dari seorang pria Tua yang bersikap kekanak- kanakan?”

Tangan kekar namja itu terangkat namun tertahan mengingat saat ini mereka sudah menjadi pusat perhatian. Taeyeon hanya tertawa geli dengan pandangan menjatuhkan. “Menjaga image rupanya”

“Kau fikir masih bisa bekerja disini setelah ini?” Taeyeon lagi- lagi menahan langkahnya. Ia tertawa kesal.

“Ah kau menggunakan jabatanmu lagi? Kau fikir . .. . “

“Taeyeon?” Sela seseorang. Taeyeon menghentikan perkataannya lalu beralih dengan pandangan kaget. Oh Sehun. “Apa yang kau lakukan disini?” Sehun menatap gadis itu dari atas sampai bawah. Ia tak bisa menyembunyikan ekspresi kaget dan tidak senangnya.

Jas berwarna hitam yang ia kenakan seketika berpindah ke bahu Taeyeon. Nampan yang tadi berada di tangan gadis itu ia ambil dan berikan ke gadis lain. Semua orang terdiam memperhatikan mereka, termasuk tuan Kim.

Sehun mengangkat kepalanya dan menatap pria paruh baya yang baru saya mencaci pacarnya. “Apa yang tuan lakukan? Merendahkan seorang gadis dibawah umur? Saya tidak tahu tuan siapa atau apa jabatan tuan. Tapi walau presiden sekalipun anda tidak berhak melakukan ini. apalagi kepada tunaganku” Sehun berucap tegas, aura tidak senang sangat terpancar dari tatapannya.

“Negara kita akan hancur jika semua remaja seperti ini. apa kalian tidak punya sopan santun?” Setengah berteriak Tuan Kim habis kesabaran. Sekretarisnya bahkan berusaha meredam dengan membisikkan sesuatu.

“Ada apa ini? Kim Taeyeon apa yang kau lakukan disini? Cepat antarkan minuman- minuman itu” Pria bercelana ketat yang ternyata atasan Taeyeon berucap tegas. Taeyeon menunduk bukan karena takut. Tapi karena ada Sehun disampingnya, apa yang akan dikatakan namja itu setelah ini?

“Kenapa kau berkata kasar pada gadisku?” Taeyeon rasanya ingin menginjak kaki namja itu setelah mengatakan hal menjijikkan lagi. Tapi sebagian dari dirinya entah kenapa menikmati perlakuan Sehun.

Bagai tersedak namja itu terhenti dengan mata membulat. “Anda tuan muda Oh bukan? Ah maafkan atas kelancangan saya tuan” namja itu membungkuk hormat. Wajah Tuan Kim berubah merah, siapa yang tak kenal dengan keluarga Oh? Pengusaha kaya dengan perusahaan yang merupakan salah satu dari perusahaan terbesar di korea. Dan yang baru saja ia maki adalah putra tunggal dari keluarga itu.

Sehun tersenyum kecil melihat perubahan muka dari orang- orang disekitarnya. “Kalian menunduk hormat padaku tapi menghina gadis ini? kalian tidak tahu dia siapa?” Taeyeon menatap Sehun tajam mengisyaratkan untuk tidak melanjutkan perkataannya. Tapi Sehun sudah terlanjur mengucapkan kata sebelumnya.

“Kalian tahu bahwa orang ini. orang yang kalian rendahkan adalah Anak tunggal dari pengusaha tersukses korea K-I-M G-Y-U-R-A” Sehun berucap penuh penekanan. Sangat mengejutkan sampai tak ada yang dapat mentakan apa- apa. Gallery ini mungkin bisa ditutup setelah ini, mempekerjakan seoarang pewaris tunggal sebagai pelayan? HEOL.

Sehun menarik tangan Taeyeon tanpa memperdulikan mata- mata yang memandang mereka takjub. Taeyeon tak ada pilihan lain selain menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya. Sekarang ia tak bisa hidup normal lagi setelah ini, orang- orang akan memperlakukannya dengan segan sekarang. Dan semua itu karena Oh Sehun.

Sesampai di parkiran luar Taeyeon menghempas tangannya membuat Sehun berhenti dan melampar tatapan bingung. “Apa yang kau lakukan? Kau fikir kau siapa berkata seperti itu Oh Sehun? Aku bisa melakukan semuanya sendiri”

Taeyeon berucap kesal. Ia tak senang Sehun membongkar latar belakangnya. Terlebih lagi ia akan kehilangan perkerjaan setelah ini. Tidak. Ia tak boleh kehilangan pekerjaan ini. Ia harus mengganti kerusakan mobil Kai.

Sehun menatapnya dalam. Tak ada ekspresi marah atau kesal dengan kata- kata Taeyeon. Tangannya memegang lengan yeoja itu. Taeyeon ingin menghempaskannya sekali lagi, tapi tidak kali ini. Taeyeon dibuat kaget dengan kokohnya jemari yang sedang menggenggam tangannya.

“Aku siapa?” Sehun menunjukkan smirknya. Taeyeon merasakan aliran darahnya tersedat, orang ini seperti bukan Sehun yang ia kenal. Tangan namja itu menarik pinggang Taeyeon menghapus jarak keduanya.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Kau ingin mati?”

“Yah aku ingin mati. Kau bertanya aku siapa Kim Taeyeon? Kalau begitu kenalkan aku adalah Oh Sehun calon suami dari Kim Taeyeon. Puas?” Sehun berucap penuh penekanan sampai Taeyeon dapat mendengar suara detak jantungnya sendiri saking cepatnya benda itu berpacu.

“Kau Oh Sehun?” pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Taeyeon. Tapi namja itu benar- benar tak seperti Oh Sehun yang manja dan kekanak- kanakan. Tadi pagi Kai yang kasar berubah menjadi sangat manis. Dan sekarang Sehun pun bertingkah sebaliknya.

Sehun semakin mengeratkan tangannnya sampai lekuk tubuh Taeyeon terasa jelas di tubuhnya. Taeyeon merasa tidak nyaman dan meletakkan kedua tangannya di depan dada Sehun. “Sehun-ah apa yang kau lakukan?” Tanya Taeyeon. Ada kesan pasrah disana. Entah kenapa Taeyeon yang biasanya memiliki tenaga lebih menjadi selemah ini.

Taeyeon dibuat salah tingkah saat Sehun terus saja memandangi bibirnya. Namja itu mendekatakan kepalanya sedangkan Taeyeon mendorong dada namja itu dan berusaha menjauhkan kepalanya. Terlihat gila bagi Taeyeon. Tapi semuanya selesai saat salah satu tangan Sehun memegang bagian belakang kepalanya hingga bibir mereka benar- benar bertemu.

Mata yeoja itu seperti ingin lompat keluar, Sehun melumat bibirnya lembut namun semakin menuntut. Digigitnya bagian bawah benda kenyal itu sampai erangan kecil keluar dari mulut mungil Taeyeon. Sehun tersenyum di tengah aktifitasnya saat lidahnya berhasil memasuki rongga mulut yeoja itu.

 

-____________-

 

Kedua orang itu terdiam sejak beberapa menit yang lalu. Taeyeon dibuat pusing karenanya, suasana canggung benar- benar membuatnya keduanya tidak nyaman.

“Kau marah Changi?” Tanya Sehun dengan bibir merengut.

Taeyeon menatapnya, namja itu sepertinya normal kembali. Itu seperti kode yang membuat Taeyeon kembali percaya diri. “Apa yang baru saja kau lakukan hah?” Tanyanya dengan nada jengkel.

“Aku sekarang ingin menjadi namja dewasa untukmu yang bisa melindungimu bukankah itu keren? Aku bahkan mencium ….” Sehun menghentikan kalimatnya lalu menunduk malu sendiri yang membuat Taeyeon merotasi bola matanya.

Namun disisi lain ia bahagia, itu adalah Sehunnya yang polos. Sehun yang saking lugunya selalu menjadi sasaran amarahnya namun tidak pernah membalas sedikitpun. Dan walaupun untuk saat ini ia belum bisa memberikan hatinya tapi setidaknya ia sudah membuka jalan untuk namja itu.

“Mian” Gumam Taeyeon pelan namun masih dapat di dengar namja disampingnya.

“Untuk apa?”

“Bukan apa- apa. Aku hanya ingin meminta maaf”

Sehun memandang kaget, “Kau sakit Kim Taeyeon?” Tanyanya tak percaya.

Bukannya menjawab yeoja itu malah berdiri yang langsung diikuti oleh namja yang jauh lebih tinggi darinya. Taeyeon mengangkat kepala dan tersenyum tulus yang membuat nafas Sehun seperti tersedak.

Waktu terasa berhenti bagi namja bermarga Oh itu saat Taeyeon melingkarkan lengannya ke pinggang Sehun dan kepalanya menempel pada jantung Sehun yang berdetak sangat kencang. Membuat Taeyeon sempat terkekeh pelan.

“Hmmm kau memiliki dada yang bidang. Bagaimana mungkin seseorang sepertimu memiliki tubuh seperti ini?” Gumam Taeyeon seraya memejamkan matanya. Sehun masih sulit menggerakan tubuhnya yang kaku. Dengan ragu ia mengangkat kedua lengannya kemudian melingkar pada pundak dan kepala yeoja itu. Dihirupnya aroma fresh dari rambut yeojanya.

“Jika kau sakit aku berharap penyakit itu tak akan sembuh Changi-ya” Bisik Sehun. Taeyeon hanya tersenyum pelan.

Yah harusnya dari dulu ia melakukan ini. membuka hati, memulai hidup baru tanpa merasakan beban dari kedua orang tuanya. Melupakan masalah appa dan eomma dan hidup dengan baik bersama Sehun. Dia pasti bisa, namun mengapa ia baru menyadarinya disaat Kai sudah masuk kedalam kehidupannya?

“Sehun-ah mianhae”

 

-____________-

 

 

Kai berdiri di depan gerbang menunggu seseorang. Senyuman lebar terukir di bibirnya saat melihat orang yang sejak tadi ditunggu akhirnya datang juga. “Taeyeon-ah” teriaknya. Taeyeon memandangnya datar.

“Jangan karena belakangan ini kita sering bertemu, jadi kau fikir bisa memanggilku sok akrab seperti itu” Taeyeon berucap. Jujur Kai sakit hati mendengar itu, tapi ia mengusirnya dengan senyuman. Taeyeon memang seperti itu. Dan ia harus memahaminya.

“Kau harus ikut denganku”

“Tidak aku sedang sibuk” Taeyeon berjalan sedangkan Kai masih mengikutinya tanpa menyerah sedikitpun.

“Hyun Woo ?”

Kai tersentak kaget mendengar ‘nama’ itu lagi. Tak ada siapapun yang tahu identitasnya selain….

“Baek …. Hyun ?”

“Sampah”

“Kau fikir kau siapa?”

 

*To Be Continued . . .

 

Advertisements

55 comments on “Not Destined (Chapter 6 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s