Skellington [Part 17]

SKELLINGTON Part 17 by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar with EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04 | Part 05 | Part 06 | Part 07 | Part 08 | Part 09 | Part 10 | Part 11| Part 12 | Part 13 | Part 14 | Part 15 | Part 16

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik aku melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing.

.

.

.

.

.

Baekhyun mengangkat kakiku yang sebelah kanan dan meletakkannya di ranjangnya. Dia mengamati celana jeans yang aku pakai lalu menariknya ke atas dan memperlihatkan kakiku.

“Apa yang kau laku—“

“Kau harus bercerita apa saja yang kau alami selama 8 bulan di Rumah Sakit. Serta bagaimana akhirnya kau harus memakai kaki palsu selama hidupmu.”

Aku langsung menarik kakiku ke posisi semula dengan nafas tersengal. Baru kali ini ada orang yang membuka celana yang aku pakai untuk melihat kaki palsuku. Apalagi sekarang aku harus membuat janji apakah aku akan menceritakan bagaimana kaki palsu ini menjadi akhir dari sebuah masalah.

“Aku tidak bisa.” Jawabku. “Aku tidak bisa menceritakan hal itu—“

“Kalau begitu aku juga tidak akan cerita.”

Aku ingin menyalahkan diriku sendiri. Karena aku begitu penasaran mengapa Baekhyun menerima pernyataan cinta dari seorang gadis yang sama sekali tidak dia cintai pada saat SMA. Aku begitu ingin tahu apa alasannya. Tapi sebagai gantinya aku harus menceritakan… Hal yang paling tidak ingin aku ceritakan.

“Darimana kau tahu aku memakai kaki palsu?”

“Wheein yang memberitahuku. Dia juga memakai kaki palsu, kan?”

Memang benar seharusnya aku tidak membiarkan Wheein keluar dari ruangan ini. Aku ingin memakinya dengan kata-kata kasar karena telah menceritakan hal seperti itu pada Baekhyun. Sekarang aku berada di ujung tanduk.

“Jadi itu sebabnya kau tidak pergi ke laut saat di Pulau Jeju?” tanya Baekhyun dengan nada datar yang dingin. “Karena kau memakai kaki palsu yang membuatmu cemas jika kau berenang?”

“Kau terlalu banyak tahu.” Sahutku ketus. “Kai juga tidak bisa berenang, tapi dia tidak memakai kaki palsu.”

“Karena dia seorang stuntman.” Jawab Baekhyun membantah pernyataanku. “Dia stuntman untuk adegan khusus di daratan saja. Dia pasti telah menerima semacam pelatihan keras yang membuatnya jadi takut masuk ke dalam air.”

Sayangnya yang dikatakan Baekhyun memang benar. Pada akhirnya apa yang harus aku lakukan? Diam saja dan pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya? Tidak, Kim Taeyeon. Kau jelas bukan anak berumur 10 tahun lagi. Kau jelas sudah tumbuh dewasa dengan melalui banyak hal. Dan kau tidak boleh merubah pendirianmu karena seorang Byun Baekhyun dalam tubuh Skellingtonnya.

“Baiklah. Aku berjanji.” Kataku datar.

Untuk menit-menit selanjutnya, bibirku terkatup rapat mendengarkan Baekhyun yang bercerita tentang kehidupannya setelah kecelakaan di Namsan Tower itu. Katanya begitu sadar, Baekhyun tidak berada di Rumah Sakit, namun rumah neneknya. Neneknya spesialis akupuntur yang mengobati Baekhyun dengan cara-cara tradisional.

Pengobatannya sangat manjur dan beruntungnya Baekhyun dapat kembali bersekolah seperti biasa di Seoul Memorial Private School di mana dia bertemu dengan Tiffany dan Chanyeol sekali lagi. Dia mengaku bahwa itu adalah masa-masa terberatnya karena tidak adanya kehadiranku di sisinya.

“Kau tidak mencari informasi apapun? Seperti di mana Rumah Sakit aku dirawat?” tanyaku lalu Baekhyun menggeleng.

“Sepertinya papamu melakukan banyak hal untuk merahasiakan keberadaanmu. Kau kan menjadi saksi mata sang pembunuh. Kau dilindungi dengan ketat agar keluarga sang pembunuh atau keluarga korban tidak datang ke tempatmu.” Jelasnya panjang lebar.

Lalu selanjutnya tahun-tahun Baekhyun lewati dengan banyak rasa bersalah. Sebenarnya Baekhyun ingin segera mencariku untuk minta maaf tapi apapun yang dilakukannya selalu diawasi oleh bayangan mengerikan.

“Dia mengirimiku surat peringatan.” Ungkap Baekhyun. “Aku tidak ingat tapi ada kalimat seperti Taeyeon baik-baik saja tanpamu atau seperti jangan pernah mencari Taeyeon.”

Aku tersentak mendengar pengakuan Baekhyun. Siapa yang kira-kira mengirim surat seperti itu pada Baekhyun? Apakah sang pembunuh? Tapi tidak mungkin karena sang pembunuh tidak tahu namaku. Mungkin orang yang dekat denganku dan tahu siapa Baekhyun. Serta orang yang tahu apa yang terjadi malam itu di Namsan Tower.

“Itulah asalan mengapa aku tidak pernah mengunjungimu meski kita bertetangga.” Ucap Baekhyun lalu aku mengangguk. Ternyata selama ini dia menghindariku, bukan menghilang lalu bersembunyi.

Baekhyun melanjutkan ceritanya dengan kepopulerannya yang berkurang. Dia bersikap ketus, jahat, dan sinis pada semua perempuan. Baekhyun mengaku takut untuk berdekatan dengan perempuan lagi karena tidak berhasil melindungiku dari sang pembunuh. Tapi seberapa gila tingkah Baekhyun, selalu ada Chanyeol dan Tiffany yang menemaninya. Meski terkadang Baekhyun merasa kesepian karena tidak ada orang yang bisa diajak untuk berbagi.

Yang paling kewalahan dengan tingkah Baekhyun adalah Tiffany. Berkali-kali Tiffany menyuruh Baekhyun untuk berubah karena tingkah Baekhyun telah membawa prestasinya turun, guru-guru serta teman-temannya takut padanya. Chanyeol bahkan menyuruh Baekhyun mengikuti banyak ekstrakurikuler untuk memperluas pergaulannya.

“Awalnya aku mengikuti Chanyeol bermain basket.” Ungkap Baekhyun lalu seulas senyum terukir di wajahnya. “Tapi aku payah banget. Kau tahu kan kalau aku pendek dan jelas mudah bagi Chanyeol untuk bermain basket dengan tubuh tingginya itu.”

Mau tidak mau aku ikut tersenyum. “Aku masih lebih pendek darimu.”

Baekhyun mengangguk cepat. Lalu dia mulai bercerita tentang ekstrakurikuler yang dipilihnya, yaitu Paduan Suara. Imejnya semakin memburuk karena bergabung di esktrakurikuler yang paling tidak diminati di sekolah. Tapi berkata dukungan Tiffany dan Chanyeol, Baekhyun berusaha untuk mulai bersosialisasi dengan orang lain.

Aku jadi teringat pada Tiffany yang pernah menasehatiku dengan berkata bahwa dirinya dan Chanyeol sangat kerepotan mengurus Baekhyun setelah kecelakaan itu terjadi. Rupanya ini yang dimaksud Tiffany. Kehilangan diriku seakan semua hal yang dimiliki Baekhyun telah direnggut darinya. Yang tersisa hanya bad attitude serta rasa kepercayaan diri yang sedikit.

“Sampai SMA-pun aku masih tidak bisa melupakanmu.” Kata Baekhyun.

Berbagai hal dilakukan Baekhyun saat SMA. Mulai dari menjadi pengurus kelas, ikut ekstrakurikuler broadcasting serta drama di sekolah, mencalonkan diri menjadi ketua OSIS serta mengasah potensinya di cabang atletik. Tapi semua itu malah membuatnya semakin merasa insecure. Semua kepopulerannya mengingatkannya padaku. Orang-orang yang mengelilinginya mengingatkannya padaku.

Tapi karena kepopulerannya itulah dia bertemu dengan seorang gadis manis yang terkadang ada di dekatnya. Awalnya Baekhyun memperlakukan gadis tersebut dengan dingin tapi tetap saja dia mengikuti Baekhyun. Dengan susah payah dia melakukan segalanya agar bisa menarik perhatian Baekhyun.

“Sampai ada gosip di sekolah yang mengatakan bahwa kami berpacaran.” Ungkap Baekhyun sambil mendengus. “Padahal aku jarang sekali berbicara padanya.”

Yang membuat Baekhyun bingung sekaligus ketakutan adalah saat gadis tersebut menyatakan perasaan. Baekhyun dengan spontan menolaknya dan minta maaf bahwa dia tidak memiliki perasaan yang sama seperti gadis itu. Tapi gadis itu berkata bahwa tidak apa-apa karena menjadi dekat adalah salah satu cara untuk mengenal satu sama lain. Akhirnya dengan sedikit terpaksa serta dipenuhi rasa bersalah, Baekhyun menerima pernyataan cinta gadis itu dan mulai berpacaran dengannya.

“Sejak saat itu aku merasa menjadi seperti orang lain.” Kata Baekhyun lalu mengacak-acak rambutnya. “Saat aku perhatian padanya, aku merasa bahwa seharusnya aku tidak melakukan itu. Saat aku memberikan kejutan padanya, aku tahu bahwa aku tidak bisa menjadi laki-laki yang romantis. Saat aku memberikan beberapa lelucon, aneh rasanya melihatnya tertawa padahal lelucon yang aku berikan sama sekali tidak lucu.”

Air mata menetes keluar dan membasahi pipi Baekhyun. Ini sudah diluar batas. Baekhyun telah menceritakan semua hal yang dia ingat padahal seharsunya hal seperti itu termasuk masalah pribadi. Dengan gugup dan takut aku membalas, “Sudah… Cukup…”

Baekhyun menggeleng cepat. “Bahkan setiap kali aku menggandeng tangannya, memeluknya, dan menciumnya… Aku selalu teringat pada malam di Namsan Tower di mana seharusnya aku menyelamatkanmu… Sesedikit apapun kesadaranku yang tersisa.”

“Kubilang sudah cukup, kan?” ulangku dengan mata berkaca-kaca. Aku tidak ingin menangis, aku tidak boleh menangis. Cukup Baekhyun yang menangis. Untuk apa aku merasa sedih karena masa lalu orang lain? Akulah yang telah menyebabkan semua itu. Aku akan punya giliranku sendiri untuk menangis. Yaitu saat aku menceritakan masa paling kelam dalam hidupku.

“Kau mungkin membenciku.” Lanjut Baekhyun mengacuhkanku. “Laki-laki lemah, laki-laki bodoh, laki-laki tak berguna yang tak pantas hidup. Karena itu… Aku tidak tahu… Apa yang harus kulakukan setelah ini? Apa yang harus kulakukan agar kau tidak membenciku? Apa yang harus kulakukan—“

“Kau… Tak perlu berbuat apa-apa.” Sahutku cepat. Karena semuanya sudah sangat terlambat. Ini memang keterlaluan. Hidup memang kejam. Pepatah siapa yang menabur dia yang akan menuai memang tidak terbantahkan.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara di antara kami. Aku tahu seharusnya sekarang adalah giliranku untuk bercerita. Tapi apa Baekhyun siap mendengarkanku? Apa aku harus menenangkan Baekhyun sekali lagi?

“Kau siap mendengarkanku?” tanyaku ragu-ragu. “Mungkin sebaiknya kita batalkan perjanjian ini.”

“Tidak.” Jawab Baekhyun cepat. Tangisannya berhenti dan matanya kembali fokus menatapku seakan dia siap untuk mendengarkan keseluruhan cerita. “Aku siap.”

Aku menarik napas panjang. Ini akan menjadi cerita yang sangat panjang. Bukan karena lamanya aku dirawat di Rumah Sakit saat itu. Tapi karena aku harus memutar balikkan waktu, mencari setiap detailnya, dan mencurahkannya lewat kata-kata.

.

.

.

.

.

12 tahun yang lalu

            “Taeyeon… Taeyeon…”

Sebuah suara yang lembut terdengar setelah sekian lama aku merasa telingaku tertutup. Suaranya seakan-akan berasal dari depan wajahku karena aku bisa mencium aroma parfumnya yang khas. Aku juga bisa merasakan nafasnya. Sepertinya aku tidak berada di dunia sana. Aku hidup. Aku selamat. Aku sadar.

“Mama…?” gumamku pelan. Seketika sebuah pelukan mendarat padaku dan kehangatannya menyelimutiku. Ternyata aku tidak salah. Semua yang aku rasakan sebelumnya memang tertuju pada satu orang, ibu kandungku yang sudah tidak aku temui selama hampir 3 tahun. “Ini benar mama? Kenapa mama—“

“Ini mama, sayang. Kau sudah tertidur selama satu minggu. Sekarang kau sudah aman, kau baik-baik saja.” Kata mama dan nada bicaranya membuat air mataku keluar. “Ya Tuhan, Taeyeon. Maafkan mama, ya?”

Aku menggeleng cepat. “Aku kira… Aku tidak akan sadar lagi.”

Mama mengangguk sambil tersenyum. “Kau telah melalui mimpi yang sangat panjang. Dan sangat buruk. Tapi kau sekarang sudah terbangun, kau sekarang—“

“Di mana Baekhyun?” tanyaku lalu mama membulatkan matanya. Benar juga. Mama tidak tahu siapa itu Baekhyun. “Anak laki-laki. Kecil dan pendek. Dia ada bersamaku di Namsan Tower—“

“Tidak ada siapapun selain kau di Namsan Tower.” Ungkap mama lalu aku benar-benar terkejut. Aku tidak terkejut karena pernyataan mama tapi karena kondisi kakiku yang terlihat mengenaskan. Sepertinya aku telah menjalani operasi yang sangat panjang.

Tiba-tiba seorang suster memasuki ruangan dan membuat mama menjauh dariku. Suster itu mengatakan bahwa jam jenguk sudah habis dan mama harus segera pulang. Sebelum pergi, mama mengatakan sesuatu dengan bisik-bisik di telingaku, “Jangan katakan pada papa kalau mama menjengukmu. Mama sudah berusaha yang sebaik-baiknya.”

Setelah itu mama menciumku di kening dan menghilangkan sosoknya dari hadapanku. Aku tidak percaya mama adalah orang pertama yang aku lihat saat aku membuka mataku. Lalu selama ini papa di mana? Apa yang papa lakukan sampai mama yang harus menungguku?

Kemudian aku berusaha memusatkan pikiranku di ruanganku dirawat. Ranjang sebelahku kosong tapi sepertinya sudah dipersiapkan untuk seseorang. Mungkin Baekhyun. Mungkin Baekhyun akan menempati ranjang itu. Tidak mungkin Baekhyun tidak mengalami luka parah setelah kejadian di Namsan Tower itu.

“Ada apa gadis kecil?” tanya suster yang sedari tadi tidak aku sadari kehadirannya.

Dengan segenap keberanianku, aku bertanya, “Siapa yang akan tidur di ranjang itu?” sambil menunjuk ranjang di sebelahku.

“Oooh, itu. Bulan depan akan ada pasien yang datang dari Gwangju. Dia anak perempuan, mungkin lebih muda darimu.”

Tentu saja itu membuatku shock. Mungkin Baekhyun dirawat di Rumah Sakit lain. Tapi pasti dia akan mengunjungiku, atau jika lukanya terlalu parah, setidaknya dia akan menghubungiku. Aku tentu tidak susah untuk dihubungi.

Hari-hariku diisi dengan kunjungan dari mama atau Solar yang datang diam-diam tanpa mengabari papa. Bukan berarti papa tidak bernah datang mengunjungiku. Papa justru mengunjungiku setiap malam dan terkadang menginap di Rumah Sakit. Tapi yang kutunggu-tunggu adalah Baekhyun. Sudah satu bulan, apa yang terjadi padanya? Jika lukaku sudah sembuh, aku pasti akan mengunjunginya.

Satu bulan kemudian, anak perempuan bernama Jung Wheein datang mengisi ranjang di sebelahku. Kondisinya sama denganku. Dia telah menjalani operasi di kakinya. Tapi tidak dengan kondisi lingkungannya. Ada anak laki-laki keren yang hampir setiap hari datang mengunjungi Wheein. Melihat mereka membuatku semakin rindu akan Baekhyun.

“Akan aku selidiki.” Ujar Solar suatu hari saat mengunjungiku di bulan ketiga aku dirawat di Rumah Sakit. Sambil mendorong kursi rodaku menyelusuri lorong, Solar melanjutkan, “Akan kucari tahu di mana Baekhyun.”

Gomawo…” ujarku. Tiba-tiba alarm ponselku berbunyi menandakan sekarang adalah waktuku untuk minum obat. Memang kondisi kakiku tidak akan pulih dengan minum obat tapi antibodi ini berfungsi untuk melindungi tubuhku dari penyakit-penyakit lainnya.

Begitu kami tiba di ruanganku, ada dokter dengan tatapan serius yang menyambut kami. Bukan hanya dokter tapi ada beberapa suster serta keluarga Wheein. Mama juga tidak ketinggalan, berada di dekat ranjangku dan segera menghampiriku begitu aku masuk.

“Ada apa?” tanyaku pada mama.

“Ada hal penting yang ingin dibicarakan dokter.” Jawab mama lalu segera membantuku menempatkan diri di ranjang dan dengan cepat aku mengambil obatku dan meminumnya di hadapan semua yang ada di ruangan. Aku menegakkan tubuhku dan bersiap mendengarkan penjelasan dokter.

Tepat saat aku membaringkan tubuh di ranjang, pintu ruangan terbuka dan orang yang tidak kuduga kehadirannya muncul begitu saja. Orang itu bahkan membuat mama dan Solar menjauh dari ranjangku. Orang itu adalah papa.

“Tuan Kim, silakan cari tempat yang nyaman.” Kata sang dokter lalu papa mengangguk. Papa terlihat lega melihatku tapi tatapannya yang tajam ditujukan untuk mama dan Solar. Papa sama sekali tidak terlihat senang melihat mereka berdua. Tapi kenyataannya mereka lah yang sudah menemaniku selama ini.

“Bisa kita mulai?” tanya sang dokter lalu semua yang ada di ruangan mengangguk. “Ini tentang cedera yang dialami pasien Taeyeon dan pasien Wheein. Dikarenakan kerusakan di tulang punggung, kaki mereka menjadi lumpuh. Sampai saat ini beberapa pengobatan sudah dilakukan dan jika pasien serta keluarga merasa siap, saya akan menyediakan pengobatan berikutnya.”

“Pengobatan apa?” tanya eomma Wheein.

“Saya akan menyediakan kaki palsu untuk mereka berdua.” Ungkap sang dokter. “Jika kalian setuju, kaki palsu akan dipasangkan ke tubuh mereka. Dan tentu saja mereka harus membiasakan diri dulu dengan kaki baru mereka. Di Rumah Sakit ini ada pusat rehabilitasi juga.”

Aku langsung memperhatikan kakiku yang sampai sekarang tidak bisa kurasakan. Jika aku memiliki kaki palsu, itu artinya aku bisa berjalan lagi. Aku bisa berlari lagi. Aku bisa berdiri tegak lagi. Lalu setelah itu aku bisa mencari Baekhyun. Kami bisa bertemu lagi. Ya Tuhan akhirnya.

Eomma Wheein terlihat khawatir. Apa beliau tidak bisa menerima kenyataan yang sebenarnya? Karena dengan pucat beliau bertanya, “Kira-kira berapa?”

“Paling lama 6 bulan untuk masa rehabilitasi—“

“Bukan itu!” serunya dengan nafas terengah. “Saya menanyakan biaya. Pasti mahal, kan? Kalau begitu apa yang harus saya lakukan jika anak saya, Wheein, tidak memakai kaki palsu?”

“So, soal itu…” Sang dokter menatap eomma Wheein dengan tatapan iba. Tentu saja kami semua tahu apa yang akan terjadi pada Wheein. Dia harus hidup selamanya menggunakan kursi roda. Berbeda dengan eommanya, Wheein terlihat siap dan tegar menghadapi takdirnya.

“Ini gara-gara kau.”

Sebuah suara yang biasanya lembut mendadak terdengar seperti pisau tajam. Suara itu berasal dari mama, yang sedari tadi menyandarkan punggung di tembok dan menunduk ke bawah.

“Kau menyalahkanku?” tanya papa dengan nada yang sama tajamnya. “Kau pikir Taeyeon bisa seperti ini karena aku?”

“Kalau saja… Kalau saja kau membiarkanku merawat Solar bersama Taeyeon… Hal seperti ini tidak akan terjadi!” seru mama lalu memukul tembok di belakangnya. “Apa saja yang kau lakukan? Kau sama sekali tidak berubah!”

“Aku bisa bertanggung jawab!” teriakan papa sangat menyakitkan telingaku. “Aku sudah membiayai hidup Taeyeon selama ini. Begitu juga dengan sekarang aku akan membiarkan dokter memasang kaki palsu pada Taeyeon. Kalau mau aku juga akan membiayai pemasangan kaki palsu pada Wheein.”

“Apa?” Eomma Wheein menatap keluarga kami dalam-dalam.

“Aku tidak bisa percaya padamu.” Ucap mama dengan ketus.

“Kalau begitu bagaimana kalau kau saja yang membiayai Taeyeon? Kau bersedia?” tanya papa lalu mama sekali lagi menundukkan kepalanya. Mama tidak punya uang yang banyak untuk membiayai pengobatanku. Lebih dari itu, pertengkaran mereka membuatku tidak tahan dengan udara di ruangan ini.

“Ayo.” Mama menarik tangan Solar dan berkata, “Kita pergi.”

Solar menatapku dan mama secara bergantian. Apa pada akhirnya kami harus terpisahkan lagi? Aku menikmati hari-hari ku di Rumah Sakit bersama Solar, sungguh. “Mama, tunggu—“

Pintu tertutup dan entah mengapa aku bisa bernapas dengan lega lagi. Begitu kusadari papa sudah mendiskuiskan segala hal tentang pengobatan aku dan Wheein bersama dokter dan eomma Wheein. Aku membaringkan tubuhku di ranjang dan aku mendapati Wheein melakukan hal yang sama.

“Kau pasti kesusahan, ya?” kata Wheein nyaris tidak terdengar.

Aku mengangguk karena kenyataannya takdirku benar-benar tidak sesuai dengan harapanku. Lalu untuk pertama kalinya, aku berkata pada orang lain bahwa, “Seharusnya aku mati saja di hari kecelakaan itu.”

.

.

.

.

.

            “Tidak boleh!” seru Baekhyun untuk pertama kalinya sekaligus memotong ceritaku. Matanya berkaca-kaca dan sangat terlihat bahwa dia berusaha menahan tangisannya. “Kau… Hanya karena begitu saja kau berharap kau… Mati?”

“Aku belum selesai bicara.” Ucapku tapi bagaimana juga ceritaku sudah berakhir. Yang akan kuceritakan selanjutnya sebenarnya tidak penting. Bagaimana aku akhirnya suatu hari sadar dengan kaki palsu sudah terpasang dan menjalani rehabilitasi selama 5 bulan hingga aku diperbolehkan keluar dari Rumah Sakit dan menjalani kehidupan seperti biasa.

Aku keluar lebih dulu daripada Wheein dan aku baru sadar saat masuk sekolah bahwa yang menjadi wali kelasku adalah eomma Wheein. Aku juga baru sadar beberapa tahun berikutnya bahwa Gongchan yang sering mengunjungi Wheein ternyata belajar di sekolah yang sama denganku.

“Tetap saja… Kau tidak ingin melanjutkan hidup, kan…” Baekhyun yang tidak bisa menahan tangisannya akhirnya melepas semua kesedihannya dengan air matanya yang tumpah menetes ke selimutnya. “Kau jangan pernah berpikir… Bahwa kau akan mati karena diriku… Sudah pasti aku akan… Membenci diriku sendiri, kan!”

Rasanya semua yang kuceritakan padanya salah. Melihat Baekhyun yang selama ini sudah menderita, tidak pantas rasanya jika pada akhirnya dia diberikan setumpuk rasa bersalah. Lagipula sejak awal mengapa aku membenci Baekhyun? Apakah karena dia membiarkanku dihajar sang pembunuh? Atau apakah karena dia tidak pernah mengunjungiku di Rumah Sakit? Atau apakah karena dia yang menyebabkanku harus menggunakan kaki palsu seumur hidup?

Tidak. Tidak ada satupun yang salah dari diri Baekhyun. Akulah yang salah karena saat itu aku hanya gadis cengeng, kesepian, tidak berpendirian, dan hanya bisa bergantung padanya. Pada akhirnya selama 12 tahun hidupku aku hanya bisa menanamkan semua kebencianku pada Baekhyun. Akulah yang paling jahat.

“Taeyeon… Aku ingin menjadi orang yang berguna.” Ungkap Baekhyun dengan nada tegas. Kilatan di matanya makin menegaskan keyakinannya. “Sebelum aku mati… Di tanganmu… Aku ingin melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain.”

Aku baru ingat bahwa 7 hari lagi, mungkin Baekhyun sudah tidak ada di dunia ini. Lalu yang akan mengakhiri hidupnya adalah aku. Ya Tuhan, Kim Taeyeon. Apa saja hal-hal yang sudah kau lakukan selama ini? Satu bulan yang sangat panjang ini apa saja yang kau lakukan? Memang benar penyesalan selalu datang diakhir. Kini yang bisa kulakukan hanya menatap Baekhyun yang sedang bertekad bulat.

“Aku ingin kau berjanji padaku.”

“Berjanji?” tanyaku pelan lalu Baekhyun mengangguk. Setelah beberapa saat akhirnya aku mengangguk karena lebih baik aku mengabulkan apapun keinginannya. Sudah cukup aku bertindak egois. Sudah cukup aku memberikan banyak rasa bersalah pada Baekhyun.

“Setelah aku melakukan satu hal yang berguna… Kau harus meninggalkan semua rasa bencimu padaku.” Ucap Baekhyun lalu tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya sangat erat. “Dan maafkan semua kesalahanku.”

Langsung saja semua air mata yang tidak tahu sejak kapan aku menahannya keluar begitu saja. Air mataku mendarat tepat di tangan kami yang saling menggenggam dan baik aku atau Baekhyun, tidak ada yang menghentikannya. Air mata adalah sesuatu yang mewakili perasaan di hatiku. Saat ini aku sedih, menyesal, dan terharu.

Baekhyun tiba-tiba tertawa. “Jangan lupa katakan bahwa aku adalah pahlawanmu, aku adalah ksatriamu, aku adalah prajuritmu yang paling berani.” Kemudian tawanya berganti menjadi senyuman. “Lalu cium aku… Untuk terakhir kalinya.”

Aku menggeleng cepat. “Mengapa kau harus menunggu?”

Ya, sudah cukup Baekhyun menunggu. Aku melepaskan genggamannya dan menyentuh tangan Baekhyun lembut. Aku mengarahkan kedua tangannya hingga mendarat di kedua rahangku. Baekhyun menatapku dengan mata membulat. “… Taeyeon?”

Aku tak peduli jika pipiku bersemu sekarang. Aku tak peduli jika aku terlihat seperti orang yang haus akan cinta. Hanya satu kalimat yang keluar dari mulutku, “Kau boleh melakukannya sekarang.”

“Tidak.” Kata Baekhyun lalu kedua tangannya tidak lagi menyentuh rahangku. “Aku tidak bisa melakukannya sekarang.”

“Ka… Kau tak harus menahan diri—“

“Aku harus menahan diri, Taeyeon.” Ucap Baekhyun memotong perkataanku. “Karena sudah ada seseorang di dalam hatimu. Dan juga… Aku ingin menjadi pria yang pantas untukmu sebelum aku menciummu.”

Pria. Pertama kalinya aku mendengar Baekhyun mengucapkan kata tersebut. Pertama kalinya aku berpikir bahwa mungkin suatu hari Baekhyun akan tampil gagah dengan sebutan itu. Pertama kalinya aku merasa bahwa kehadiran Baekhyun sungguh menenangkanku.

“Kau ingin jadi pria yang pantas?”

Sebuah suara terdengar tepat dari balik pintu yang ada di belakangku. Suara yang kukenal sampai aku tak butuh waktu sedetikpun untuk memikirkannya dan menunggunya membuka pintu. Benar saja, pintu terbuka dan dengan semua karismanya, dia masuk ke dalam ruangan.

Baekhyun menatapnya dengan tatapan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Tatapan penum kekaguman. “Kai…”

“Halo, Baekhyun.” Sapa Kai diikuti senyumannya. Aku berdiri dari tempatku duduk dan segera menghampirinya. Genggamannya, kehangatannya, detak jantung serta suhu tubuhnya. Dia memiliki semua yang aku butuhkan untuk membuat diriku kembali waras. “Taeyeon, aku punya ide bagus.”

Aku mengerutkan kening melihat pacarku yang dengan tenangnya tersenyum penuh percaya diri. “Ide apa?”

“Kegiatan yang mungkin bisa membuat Baekhyun merasa menjadi orang yang bernilai.” Jawab Kai lalu menatap Baekhyun dengan tatapan penuh keyakinan. “Kalau kau setuju. Bagaimana, Baekhyun?”

“Akan kulakukan.” Jawab Baekhyun cepat. “Apa itu bisa membuatku menjadi pria sejati?”

Kai tertawa mendengar pertanyaan Baekhyun. Tapi bukannya menjawab pertanyaan Baekhyun, Kai malah menatapku dengan tatapannya yang seperti biasa. Penuh dengan perhatian. “Apa kau ingat apa yang ingin aku lakukan begitu kita kembali dari Pulau Jeju?”

DEG. Bersamaan dengan suara detak jantungku yang keras, aku langsung mengetahui jawabannya. Sesuatu yang ingin dilakukan Kai. Sesuatu yang membuat Kai memohon padaku untuk ikut serta. Sesuatu yang mungkin bisa mengubah hubungan kami untuk ke depannya. “Tapi jika kau lakukan itu—“

“Aku tahu.” Ucap Kai dengan nada serius. “Sudah saatnya aku juga mengubah diriku menjadi pria sejati yang pantas untukmu.”

“Apa? Apa yang akan kita lakukan?” seru Baekhyun dari ranjangnya dan seluruh tubuhku menolak untuk ikut. Tapi hatiku memaksaku untuk ikut campur. Di saat aku tidak bisa memilih apa yang harus kuikuti dan kuyakini, Kai malah mendekat pada Baekhyun dan menunjukkan sebuah foto. Foto seorang wanita muda yang tidak pernah ditunjukkan padaku sebelumnya.

“Maukah kalian ikut denganku… Untuk mencari ibu kandungku?”

BERSAMBUNG

Annyeonghaseyo, scarlettkid di sini. Jujur sepanjang waktu saat aku membuat serial ini, part 17 adalah part yang memakan waktu cukup lama untuk pembuatannya. Aku harus memikirkan bahasa yang mudah dimengerti pembaca agar tidak bingung.

Cukup sampai di sini, jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar. Terima kasih sudah membaca!

Part 18 will be published February 20th 2016

Advertisements

55 comments on “Skellington [Part 17]

  1. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s