The Leader’s Secret (Chapter 5)

wpid-wp-1440532290100

Bina Ferina Storyline

Kwon Jiyong (GD BigBang), Kim Taeyeon (GG) || Romance, Fantasy || PG 18

 

“The Leader’s Secret”

A/N     : Dear, ATSIT’s readers. Thank you so much karena udah support FF ini, yaaaa^^ baca comment  kalian semua jadi semangat buat lanjutin chap 5 ini hehehee.

Loveyousomuch~

Preview :

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4

 

~~~

 “Taeyeon-ah, tidak bisakah kau menolong uri Jiyong? Kali ini saja, Taeyeon-ah. Hanya kali ini,”

Kedua lutut Taeyeon lemas seketika. Tanpa sadar ia terduduk lemas di depan pintu kamar hotelnya saat mendengar permohonan dari Hyun-suk. Hal yang sudah Taeyeon duga dari awal. Ia sudah yakin Hyun-suk akan minta tolong seperti itu. Tapi apa dia sanggup untuk memenuhi permohonannya? Apa dia bisa melihat sendiri Kwon Ji Yong itu mengambil darahnya?

Taeyeon-ah?” panggil Hyun-suk pelan, membuyarkan lamunan Taeyeon. “Jebal, Tae. Setelah ini, aku pastikan kau tidak perlu menyumbangkan darahmu untuk Jiyong. Dan… Aku juga akan berjanji padamu, Taeyeon-ah. Aku berjanji akan mengabulkan apa saja sesuatu yang kau inginkan. Kumohon percayalah padaku. Sekali ini, Tae,”

Taeyeon terdiam seketika mendengar semua ucapan Hyun-suk yang begitu memelas, begitu memohon pada dirinya untuk mengabulkan permintaannya. Aku juga akan berjanji padamu, Taeyeon-ah. Aku berjanji akan mengabulkan apa saja sesuatu yang kau inginkan. Bukankah itu sesuatu yang sangat berlebihan? Taeyeon bisa meminta apa saja pada CEO YG Entertainment? Apa saja? Dan itu hanya demi Golden Boy-nya, G-Dragon.

“Kau pasti sangat menyayangi Jiyong-ssi, ahjussi,” gumam Taeyeon. “Dia pasti orang yang berharga untukmu,”

Hyun-suk diam untuk beberapa detik. “Dia masa depan YG Entertainment, Tae. Ketika suatu saat nanti aku memutuskan untuk pergi selama-lamanya dari dunia musik, apa yang aku miliki dari YG Entertainment ini, akan kuserahkan pada Jiyong. Semuanya. Dan aku tidak akan pernah ragu untuk itu. Itu sebabnya aku selalu berusaha menjaga dirinya, melindunginya dari apapun yang bisa membuatnya terluka. Terkadang aku kejam sekali padanya, kau tahu? Melarang dia berhubungan dengan seseorang, melarangnya melakukan sesuatu yang dia sukai. Aku tahu dia kesal sekali, bahkan kalau bisa dia benci padaku. Andai saja dia tahu aku lakukan itu semua hanya untuknya. Tapi biarkan saja. Dia akan merasakan apa yang kurasakan,”

Hyun-suk tertawa kecil sedangkan Taeyeon hanya diam mendengarkan. Masa depan YG? Hyun-suk benar-benar sudah merencanakan masa depan Jiyong sampai sebegitunya. Dan sekarang? Laki-laki itu bahkan tidak sanggup bernafas. Otak Taeyeon berputar dengan sangat kencangnya sekarang.

“Aku…,” ucap Taeyeon pelan. “Aku akan coba, ahjussi. Tapi hanya sekali ini saja,”

~~~

Taeyeon membuka pintu kamar hotelnya dengan jantung yang berdebar-debar begitu kencangnya. Ia menggigit bibir bawahnya dan bertanya-tanya dalam hati apakah langkah yang ia ambil ini tepat atau sama sekali salah. Namun, saat dirinya sudah memasuki kamar hotelnya sendiri dan melihat tubuh lemah Jiyong yang terkulai di atas tempat tidurnya, Taeyeon tahu dia tidak akan bisa untuk berbalik lagi. Ini keputusannya sendiri. Demi Hyun-suk, Dami, dan terlebih lagi Yuri.

Dengan sangat pelan, Taeyeon melangkahkan kedua kakinya menuju tempat tidur dan duduk di pinggirnya. Dilihatnya nafas Jiyong masih memburu dan keringat terus bercucuran di sekujur tubuhnya. Taeyeon begitu penasaran. Apakah laki-laki ini akan mati mendadak jika dibiarkan begini saja selama beberapa menit?

Terdengar derit tempat tidur dan Jiyong perlahan-lahan bangkit. Taeyeon, yang fikirannya masih kemana-mana, terlonjak kaget. Ia bahkan hampir memekik. Jiyong memposisikan dirinya duduk tegak dan menatap Taeyeon dengan pandangan marah.

“Kenapa kau masih di sini?!” tanya Jiyong geram. Suranya serak.

“A… Aku… Aku…,” jawab Taeyeon terbata-bata. Dia harus mulai dari mana? Kemudian, dengan tangan bergetar, Taeyeon melepas sweater-nya dan meletakkannya di lantai, membuka dua kancing kemeja putihnya sehingga memperlihatkan leher jenjang, putih dan mulus milik Taeyeon serta dada bagian atasnya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Jiyong heran. Kedua matanya berkilat dan Taeyeon berusaha untuk tidak melihat mata Jiyong yang menunjukkan rasa kelaparan tingkat tinggi.

“Aku tidak tahu di mana harus mencari perempuan yang bisa kau minum darahnya. Aku juga bingung harus minta tolong pada siapa. Untuk malam ini saja, untuk sekali ini saja, aku memperbolehkanmu minum darahku,” jelas Taeyeon dengan penuturan kata-katanya yang begitu cepat. Taeyeon tidak peduli kalau Jiyong menangkap dengan jelas maksud ucapannya.

Jiyong terdiam untuk beberapa detik sembari memandangi leher Taeyeon, membuat gadis itu tidak nyaman dan rasanya ingin ia lemparkan bantal-bantal yang ada di tempat tidur itu ke wajahnya. Tapi yang bisa Taeyeon lakukan hanyalah meremas ujung seprai dengan tangan kirinya, gugup.

“Tidak perlu,” jawab Jiyong singkat. Ia mengalihkan wajahnya dan hendak turun dari tempat tidur. Sayangnya, saat ia menggerakkan kakinya untuk turun, Jiyong merasakan kepalanya luar biasa pusing. Ia menggeram dan memegangi kepalanya yang sakit.

“Waeyo? Neo gwaenchanna?” tanya Taeyeon panik. Ia mendekati Jiyong dan duduk di hadapannya sambil mengecek keadaannya.

Jiyong menatap Taeyeon dan Taeyeon bersumpah dapat melihat mata Jiyong yang berkilat-kilat seperti melihat daging segar. Mata itu sudah daritadi menunjukkan warna keemasannya yang cantik, tapi baru ini Taeyeon lihat warna emas itu begitu kental.

Saat sedang terpesona dengan kedua mata Jiyong, Jiyong langsung mendorong tubuh Taeyeon ke belakang hingga ia terbanting di atas tempat tidur. Taeyeon menjerit kaget dan ia langsung membulatkan kedua matanya ketika tubuh Jiyong sudah berada di atasnya. Kedua mata mereka bertemu dan saling menyelami satu sama lain.

Dan Taeyeon tahu sudah terlambat baginya untuk lari dari situasi ini.

“Kau yang memaksaku,” ujar Jiyong pelan. Ia menurunkan wajahnya perlahan dan tetap tidak memutuskan kontak matanya dengan Taeyeon. “Aku tidak bisa…,”

“Ha… Hanya sekali ini saja,” gumam Taeyeon.

Gadis itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi sewaktu Jiyong sudah menenggalamkan wajahnya dalam-dalam di leher Taeyeon. Seluruh tubuh Taeyeon menegang otomatis dan ia memejamkan matanya erat-erat seraya mencengkeram seprai tempat tidur dengan tangan kiri dan kanannya begitu ia rasakan lehernya digigit oleh Jiyong.

Rasanya sangat sakit. Jiyong hanya menggigit leher mulusnya dengan sekali gigitan dan Taeyeon dapat merasakan darahnya mengalir deras. Tidak ingin menyia-nyiakan setetes saja darah itu, Jiyong langsung mengisapnya secara brutal, seakan-akan tidak ada lagi hari esok untuk mencicipi darah semanis itu. Ia mengisap darah Taeyeon seperti seorang bayi yang sangat kehausan. Sesekali laki-laki itu juga menjilati leher Taeyeon dan menggigitnya untuk mengeluarkan lebih banyak darah.

Tubuh Taeyeon menggelinjang dan jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Nafas gadis itu sesak dan ia tidak bisa untuk tidak mengeluarkan suara desahannya. Bukan berarti Taeyeon menikmatinya, tapi gadis itu merasa geli dengan gigitan-gigitan kecil, hisapan yang memburu dan jilatan lidah yang dilakukan Jiyong di lehernya, di daerah yang paling sensitive.

“Aarrggh,” erang Taeyeon ketika Jiyong kembali menggigit lehernya gemas.

Taeyeon membuka kedua matanya dan menggigit bibir bawahnya kuat. Nafasnya tersengal-sengal dan tanpa disadarinya, Jiyong sudah menimpa tubuh mungilnya dengan sempurna. Kedua tangan laki-laki itu juga sudah memeluknya dengan sangat erat. Seandainya tubuh Taeyeon pun bisa dia makan, Taeyeon yakin Jiyong juga akan memakan tubuhnya.

Merasakan liarnya hisapan Jiyong saat meminum darahnya, Taeyeon bertanya di dalam hati apakah laki-laki yang sedang menimpanya ini berniat menghabiskan darahnya. Karena sudah hampir lima belas menit lamanya Jiyong tidak kunjung selesai dengan aktifitasnya. Apa laki-laki itu tidak tahu kalau Taeyeon sulit bernafas, merasa sakit sekaligus geli di leher kanannya dan tubuhnya pun juga sakit karena menahan berat badan Jiyong. Setetes air mata akhirnya jatuh membasahi pipi kiri Taeyeon.

Beberapa detik kemudian, Jiyong mengangkat wajahnya dan menatap Taeyeon dalam-dalam, yang kini wajahnya sudah ikut mengeluarkan keringat. Taeyeon memejamkan kedua matanya dan menggigit bibir bawahnya. Ketika dia sudah tidak merasakan mulut Jiyong di leher kanannya, Taeyeon membuka mata dan bertemu pandang dengan mata Jiyong, yang masih berwarna keemasan. Heol, apa dia belum cukup kenyang?

“Apa… nggh,” erang Taeyeon lagi saat Jiyong kini menyerang leher kiri gadis itu. Taeyeon meremas belakang baju Jiyong dengan kuat.

Gigitan awal yang diberikan Jiyong memang terasa sakit seperti tadi. Hisapannya juga tidak kalah liar. Namun, ada yang berbeda. Kali ini Jiyong memberi kecupan-kecupan ringan di sekeliling leher kiri Taeyeon yang merupakan bekas gigitannya. Jiyong juga membelai lembut punggung Taeyeon, seakan-akan ingin menenangkannya. Dan Taeyeon merasa sedikit tenang.

Gadis itu memang masih merasa sakit. Tapi entah kenapa perlakuan Jiyong membuat Taeyeon melayang, nikmat, dan merasakan ekstasi yang luar biasa. Entah apa yang dilakukan Jiyong sampai membuat gadis itu sedikit rileks.

Merasa sudah cukup meminum darah Taeyeon, Jiyong menjilati seluruh leher Taeyeon dari kiri ke kanan untuk membersihkan lehernya yang masih ada sedikit darah. Setelah itu, laki-laki itu mengecupnya, menciumi dan menghirup dalam-dalam seluruh permukaan leher Taeyeon, membuat gadis itu merinding karena geli dan ia sedikit merasa tidak nyaman dengan sensasi di perutnya.

Sejak awal memang Jiyong sudah memberikan sensasi aneh di dalam diri Taeyeon dan gadis itu baru menyadarinya.

Jiyong melepas pelukannya di tubuh Taeyeon dan ia berbaring tepat di samping gadis itu. Taeyeon menatap kedua bola mata Jiyong yang warnanya sudah kembali normal. Sedetik kemudian, Taeyeon menutup kedua matanya dan tertidur. Wajahnya tidak sengaja berhadapan dengan wajah Jiyong, yang masih asyik memandanginya sambil mengingat kembali kejadian setengah jam yang lalu, di mana ia berhasil mencicipi, tidak, meminum dengan puasnya darah manis milik Taeyeon.

Darah itu memang luar biasa manis. Penciuman Jiyong memang tidak pernah meleset. Benar-benar manis, dan damn! Jiyong merasa ia begitu ketagihan dengan darah itu. Sekian banyak perempuan yang ia hisap darahnya, tidak ada yang membuatnya melayang seperti darah milik Taeyeon ini. Seharusnya ia cukup meminum darah Taeyeon selama sepuluh menit. Tapi entah kenapa ia kebablasan sampai setengah jam lamanya. Ketika darah Taeyeon membasahi kerongkongannya, ia merasa telah meminum darah paling lezat yang belum pernah ia rasakan selama ini.

Meminum darah gadis itu memberinya kekuatan yang lebih daripada yang biasa ia minum. Tubuhnya benar-benar kembali fit, fresh, dan bugar. Ia merasa bisa melakukan apa saja selama 24 jam setelah minum darah Taeyeon. Darah gadis itu memang berbeda. Sedikit lebih… special?

Hal terburuk yang akan Jiyong alami saat darah Taeyeon sudah menyentuh bibirnya adalah, dia akan selalu menginginkan darah itu. Bisa dibilang ketagihan. Jiyong tahu hal itu akan terjadi, itu sebabnya dia tidak pernah berani menyentuh Taeyeon. Ia tahu, sebanyak apapun ia minum darah biasa, dia akan selalu menginginkan darah Taeyeon. Tubuhnya tidak akan merasa puas sebelum mencicipi darah Taeyeon.

Mengingat itu membuat Jiyong frustrasi. Ia tidak menyesal minum darah Taeyeon, tapi bisa dipastikan gadis itulah yang akan terbebani. Kenapa gadis itu mau memberikan darahnya untuk dirinya yang jelas-jelas tidak dia sukai di antara member Big Bang yang lain?

Shit!” rutuk Jiyong.

Ia menghela nafas kasar dan berusaha mengusir rasa frustrasinya itu dengan cara tidur. Ia memejamkan kedua matanya lalu beberapa detik kemudian ia membukanya. Wajah bening Taeyeon terpampang di hadapannya dan hanya berjarak beberapa sentimeter, mengingatkan Jiyong kembali atas reaksi erotis yang diberikan Taeyeon selama Jiyong menggigiti dan menghisap lehernya. Lama ia memandangi wajah itu sebelum akhirnya Jiyong tertidur pulas.

~~~

“Kau saja yang bangunkan,”

“Mwo? Andwaeyo. Sepertinya mereka tidur pulas sekali, aku tidak berani membangunkannya, hyung,”

“Apa kemarin mereka melewatkan malam yang panjang dengan indahnya sampai-sampai tidak terbangun?”

“Biasanya Taeyeon eomma selalu bangun tepat waktu setelat apapun dia tidur,”

“Apa mungkin mereka begitu ‘lelah’nya?”

“Ya! Apa maksud dari seringaian bodohmu itu?! Byuntae!”

Mendengar bisik-bisik dan gumaman tidak jelas yang berada di dekat mereka membuat Jiyong dan Taeyeon mengerang dalam tidur mereka, menandakan mereka berdua akan terbangun. Taeyeon, yang merasa tubuhnya tidak bisa digerakkan dan mencium wangi parfum laki-laki yang dikenalnya, mulai menggerak-gerakkan pelupuk matanya agar terbuka. Sebaliknya Jiyong, laki-laki itu dengan perlahan-lahan membuka matanya karena ia merasa geli di bagian wajahnya dan ia juga mencium wangi tubuh seorang perempuan.

Begitu keduanya mengerjap-ngerjapkan kedua mata mereka masing-masing, Jiyong menangkap seorang gadis di hadapannya. Bukan, melainkan di pelukannya! Ya, ia melihat Taeyeon berbaring di sisinya, dan berada di pelukannya yang erat. Kedua tangan Jiyong dengan sempurna melingkar di pinggang ramping Taeyeon dan mendekapnya dengan begitu posesif.

Sedangkan Taeyeon, saat matanya terbiasa dengan cahaya sinar matahari di dalam kamar, ia menemukan dirinya tengah berpelukan begitu nyamannya dengan seorang laki-laki, Kwon Ji Yong. Tunggu, berpelukan? Jiyong?

Terkejut, mata Jiyong dan Taeyeon sama-sama bertemu dan berpandangan selama tiga detik. Kedua mata Taeyeon membelalak dengan sempurna, begitu juga Jiyong.

“KYAAAAA!!!” jerit Taeyeon. Ia segera melepas pelukan Jiyong dan bangkit dari tempat tidur, tidak menyadari dengan kehadiran empat members Big Bang di kamar hotelnya. “Kenapa kau tidur di sini?! Apa… Kau tidak melakukan apa-apa, ‘kan?!”

Jiyong juga bangun dan duduk di atas tempat tidur. Ia mengacak-acak rambutnya dan menatap Taeyeon dengan pandangan malas. “Aku ketiduran dan tidak sengaja tertidur di sini. Tenanglah, tubuhmu tidak kesakitan, ‘kan? Kau tidak merasakan sakit apa-apa, ‘kan? Kalau tidak, itu artinya aku tidak melakukan apa-apa padamu. Jadi, jangan berisik. Ini masih pagi,”

“Apa itu benar? Lain kali jangan sampai kau ketiduran di sini, eoh?! Bagaimana bisa kau memelukku saat aku sedang tidur? Kau mengambil kesempatan dalam kesempitan, ‘kan?!” seru Taeyeon lagi.

“Bukannya kau yang menyerahkan dirimu padaku kemarin?” tanya Jiyong kesal.

“Ehem,” deham Youngbae, memotong pertengkaran Jiyong dan Taeyeon, membuat keduanya menolehkan wajah mereka ke arah Youngbae dengan ekspresi terkejut. Lebih terkejut lagi ketika mereka mendapati members Big Bang yang lainnya berada di dalam kamar dan mendengar pertengkaran mereka. Yang lebih mengerikan lagi, mereka melihat adegan Jiyong memeluk Taeyeon di tempat tidur.

“Sejak kapan kalian di sini?” tanya Jiyong tenang pada Youngbae. Seungri, Daesung, dan Seunghyun memperlihatkan senyuman yang sangat sulit diartikan pada Jiyong dan Taeyeon.

“Sejak kalian masih terlelap dengan nyamannya di pelukan satu sama lain,” jawab Youngbae, sedikit memggoda. “Apa kami mengganggu?”

“Ti… Tidak ada yang bilang kalian mengganggu,” sanggah Taeyeon cepat. “Dan apa yang kalian lihat tadi sama sekali tidak seperti yang kalian bayangkan. Aku bisa menjelaskannya…,”

“Eung… Taeyeon-ah,” panggil Seunghyun, sedikit ragu. “Bajumu… Kurasa sebaiknya kau lihat dulu keadaanmu di cermin,”

Taeyeon menatap ke bawah dan ia menyadari kalau dua kancing atas kemejanya lepas dan memperlihatkan tubuh putih mulusnya. Sadar keadaannya sedang tidak pantas, Taeyeon minta izin untuk segera membersihkan dirinya dan ia segera melesat ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, Taeyeon bersandar pada pintu kamar mandi sambil memandangi lehernya dari cermin. Tidak ada bekas gigitan yang selama ini ia bayangkan. Padahal, ia masih ingat dengan sangat jelasnya saat Jiyong menggigit dan menghisap leher Taeyeon dengan rakusnya. Mana mungkin tidak meninggalkan bekas. Taeyeon sudah ketakutan setengah mati membayangkan dirinya akan dipenuhi oleh bekas-bekas gigitan Jiyong keesokan harinya. Apa yang akan dikatakan orang kalau melihat lehernya merah-merah begitu?

Nyatanya bekas itu tidak ada. Lehernya masih mulus seperti biasanya, dan ini membuat Taeyeon sedikit lega. Mengingat kejadian tadi malam membuat wajah Taeyeon merah padam. Ia tidak menyangka dengan beraninya dia mengizinkan Jiyong untuk meminum darahnya. Dan pelukan Jiyong, sentuhannya yang membuat Taeyeon rileks, dan kecupannya kembali terputar dalam benaknya, semakin membuat wajah imutnya merah membara.

“Aigoo, apa yang kau fikirkan, Kim Taeyeon?” rutuk Taeyeon dan ia segera membuka pakaiannya untuk mandi.

“Jadi, kau meminum darah Taeyeon?” tanya Youngbae blak-blakkan pada Jiyong setelah Taeyeon masuk ke dalam kamar mandi.

Jiyong bangkit dari tempat tidur dan ia menatap ke luar jendela kamar hotel, menatap matahari yang bersinar terang di luar. “Kalau tidak, kalian akan melihat bangkaiku di sini,”

“Kami tidak bisa menyalahkanmu atas kejadian kemarin karena kau tidak tahu kalau kau akan pergi ke gereja, ‘kan?” ujar Seunghyun. “Kami benar-benar terkejut bukan main saat Tuan Jang datang ke Camelot dan mengatakan kondisi Jiyong yang tiba-tiba memburuk. Dia menjelaskan semuanya dan kami langsung tahu apa yang terjadi. Kami begitu panik sampai-sampai tidak bisa menghubungi salah satu perempuanmu,”

“Lagipula saat itu sudah tengah malam, ‘kan? Tidak mungkin juga kita menyeret asal perempuan yang ada club kemarin,” sambung Seungri. “Dan Tuan Jang bilang kalau kau sudah ditangani oleh Taeyeon eomma, hyung. Untunglah Hyun-suk hyun saat itu menelepon Seunghyun hyung, mengatakan kalau Taeyeon eomma sudah menyerahkan darahnya,”

“Kalau Hyun-suk hyung tidak bilang, mungkin kami akan melihat sesuatu yang tidak senonoh,” canda Daesung, membuat Seungri terkikik geli.

“Aigoo, maknae ini,” rutuk Youngbae.

“Jadi itu benar?” tanya Seunghyun penasaran. “Darah Taeyeon benar-benar sangat manis dan berbeda dari darah biasa?”

“Kenapa kau tahu, hyung?” tanya Jiyong, dan ia menoleh memandang Seunghyun.

“Aku mengenalmu lebih dari sepuluh tahun, pabo,” jawab Seunghyun. “Dari gerak-gerikmu kelihatan sekali kau sama sekali tidak nyaman dengan keberadaan Taeyeon sejak awal dia menjadi asisten kita. Kau bahkan menghindari dia sebisa mungkin, menutupi hidungmu setiap kali dia berada di depanmu, dan terkadang kau berubah aneh saat Taeyeon berada di sekitar kita,”

“Berubah aneh, seakan-akan kau sedang berusaha mengontrol dirimu agar tidak menyerang Taeyeon secara tiba-tiba, ‘kan hyung? Apa aroma darah Taeyeon sehebat itu sehingga sekenyang apapun dirimu, kau tetap tidak bisa menahannya?” tanya Daesung. “Saat kau merasakannya, apa rasanya benar-benar manis? Apa benar-benar berbeda?”

“Berbeda sekali, seratus persen sangat berbeda,” jawab Jiyong dan ia tersenyum kecut. “Tidakkah kalian lihat betapa fitnya aku pagi ini? Betapa fresh-nya aku hari ini? Mood-ku juga sangat baik. Entahlah, tapi darah gadis itu memang begitu istimewa,”

“Kau berjanji padanya untuk sekali saja minum darahnya, ‘kan Ji? Maksudku, aku sangat tahu kalau seorang vampire yang sudah menemukan darah istimewa, dia akan sulit berpaling dari darah itu dan akan terus-menerus ketagihan? Seperti narkoba. Bagaimana dengan itu? Kau tidak mungkin minta darahnya lagi. Dia tidak akan mau memberikannya,” ujar Youngbae.

“Aku sudah memikirkannya kemarin malam, Bae dan aku sangat frustrasi. Otteokhae? Biarpun aku minum darah sebanyak apapun, tapi kalau sudah melihatnya, aku pasti tidak akan bisa menahannya, apalagi aku sudah mencicipinya. Pertahananku akan runtuh seketika. Dan aku bisa gila jika tidak mendapatkannya,” jawab Jiyong.

“Lalu, bagaimana?” tanya Daesung, cemas.

“Mau bagaimana lagi? Kau harus memikirkan segala cara agar tidak terjadi kesalahan, Ji. Karena kau tidak akan pernah bisa lepas dari gadis itu saat bibirmu sudah menyentuh darahnya. Percayalah padaku,” gumam Seunghyun, yang masih bisa didengar oleh members Big Bang yang lain.

‘Ketika sosok vampire sudah merasakan darah seseorang yang begitu manis untuknya, begitu istimewa, vampire itu tidak akan bisa lepas dari orang itu. Sebuah benang tak terlihat akan terus mengikat mereka berdua. Tidak ada yang tahu apakah ini merupakan sebuah benang takdir ataukah sebuah kesalahan besar. Hanya ada dua kemungkinan, dan itu merupakan kemungkinan yang paling baik dan juga paling buruk’ – Buku Vampire Academy, dan Taeyeon sama sekali belum membaca bagian penting itu.

~~~

Headline News

G-Dragon Big Bang dan Mizuhara Kiko Resmi Putus?

Posting Foto Galau, Benarkah Mizuhara Kiko Telah Mengakhiri Hubungannya dengan G-Dragon?

 

G-Dragon Big Bang Resmi Putus dari Mizuhara Kiko

Sibuk Berkarir, G-Dragon Big Bang dan Mizuhara Kiko Putus

Pihak YG Entertainment Enggan Komentari Perihal Putusnya G-Dragon – Mizuhara Kiko

 

“Mizuhara Kiko? Jiyong?” gumam Taeyeon sambil sibuk membaca-baca headline news di ponselnya. Kedua matanya bergerak cepat untuk membaca berita-berita yang tengah beredar di Internet itu. Berita putusnya Jiyong dan Kiko benar-benar menjadi perbincangan panas di antara para netizen. “Aku tidak tahu kalau mereka ternyata punya hubungan special,”

‘Pihak YG Entertainment Enggan Komentari Perihal Putusnya G-Dragon – Mizuhara Kiko

“Kenapa Hyun-suk ahjussi tidak mau berkomentar?” gumam gadis itu lagi.

‘Terkadang aku kejam sekali padanya, kau tahu? Melarang dia berhubungan dengan seseorang, melarangnya melakukan sesuatu yang dia sukai. Aku tahu dia kesal sekali, bahkan kalau bisa dia benci padaku,’

Taeyeon teringat dengan ucapan Hyun-suk kemarin malam, sebelum ia memberikan darahnya pada Jiyong. Apakah ucapan Hyun-suk kemarin ada hubungannya dengan Kiko? Apa Hyun-suk tidak pernah menyetujui hubungan asmara antara Jiyong dan Kiko? Tapi kenapa hubungan Youngbae dan Min Hyo Rin direstui olehnya? Apa bedanya? Apa karena Jiyong adalah seorang vampire?

Semua pertanyaan yang muncul secara mendadak di kepala Taeyeon terus menghantui fikirannya. Dan sebelum ia mencari tahu lebih lanjut di Internet tentang Jiyong dan Kiko, ponselnya berdering. Ada telepon dari Dami. Oh my.

“Yeoboseo, Eonni!” sapa Taeyeon ceria, setidaknya dia berusaha menyembunyikan kecemasan yang sekarang melanda dirinya. Bagaimana kalau Dami sudah mendengar berita-berita itu?

“Kapan kalian kembali ke Seoul?” tanya Dami langsung.

“Eh? Eung… Siang ini,” jawab Taeyeon. “Ada perlu apa meneleponku, eonni?”

Bagaimana keadaan Jiyong? Apa dia sekarang ini sedang mendramatisir kisah cintanya dengan berdiam diri di dalam bak kamar mandi, menenggalamkan dirinya dan berusaha membunuh dirinya sendiri hanya karena hubungannya kini benar-benar sudah berakhir?” tanya Dami bertubi-tubi.

“Ne? Apa maksud eonni?” tanya Taeyeon bingung.

Jangan pura-pura tidak tahu, Taeng. Dunia K-Pop pasti sudah tahu tentang putusnya dia dari Kiko. Dan aku tahu betapa cintanya dia pada gadis itu, betapa dia berusaha keras untuk mempertahankan hubungan mereka yang sama sekali tidak direstui oleh Hyun-suk oppa selama empat tahun lamanya,” jelas Dami.

“Mwo? Empat tahun? Dan sama sekali tidak direstui oleh Hyun-suk ahjussi?” tanya Taeyeon, terkejut. Tentu saja Taeyeon tahu betul bagaimana perasaan Kiko. Tidak direstui dan pacaran secara sembunyi-sembunyi merupakan hal yang sangat menyakitkan. Mereka berdua berada di negara yang berbeda dan harus sembunyi pula?

“Aku sudah berulang kali meneleponnya setelah kabar itu keluar tapi dia tidak mengangkat teleponku. Apa dia berniat untuk membuatku membunuhnya? Tidak biasanya dia tidak menjawab teleponku, Taeng. Kau tahu apa? Rasanya aku ingin terbang ke Jepang dan menasehatinya habis-habisan. Tidak bisakah dia membuka matanya dan mencari perempuan lain yang lebih mengerti dia? Yang lebih disetujui oleh Hyun-suk oppa dan VIPs. Gosh. Aku tidak tahu cinta bisa membuatnya buta,”

“Aku akan mencarinya, eonni. Akan kupastikan dia baik-baik saja,” ujar Taeyeon. “Aku akan segera mengabarimu,”

“Arraseo. Aku tunggu Taeyeon-ah,” ucap Dami, suaranya lebih tenang. “Gomawoyo,”

Dami memutuskan sambungan teleponnya dan tanpa buang-buang waktu, Taeyeon langsung keluar dari kamarnya, menuju kamar Jiyong. Sebelum sampai kamar Jiyong, Taeyeon mencoba menghubungi laki-laki itu tapi dia sama sekali tidak menjawabnya.

“Ck, menjengkelkan sekali. Di mana dia?” rutuk Taeyeon. Ia memutuskan sambungan teleponnya pada Jiyong ketika sudah sampai di depan kamarnya.

“Eoh? Taeng eomma? Sedang apa?” tanya Seungri di belakang Taeyeon.

Taeyeon terlonjak dan ia berbalik menatap maknae Big Bang itu.

“Mencari leader-mu. Dia ada di dalam kamarnya, ‘kan?”

“Aniyo. Selesai mandi, dia langsung pergi ke atas atap entah untuk apa dan sampai sekarang belum kembali,” jawab Seungri. “Kurasa dia mau menenangkan dirinya dulu. Berita putus dia dan Kiko heboh sekali di Internet. Dan biasanya kalau media sedang heboh membicarakan dirinya dan Kiko, dia akan ‘menghilang’ sesaat,”

“Ah, dia di atap? Tidak berniat untuk bunuh diri, ‘kan?” tanya Taeyeon.

Seungri tertawa. “Tentu saja tidak, eomma. Dia memang sangat mencintai Kiko-nya itu, tapi dia tidak akan sampai menghilangkan nyawanya. Coba saja check di atas,”

Taeyeon mengangguk. “Okay. Ah, ne. Tiga puluh menit lagi kita akan bersiap-siap ke bandara,”

Selesai berkata seperti itu, Taeyeon langsung melesat ke atas atap. Meskipun Seungri bilang Jiyong tidak akan mungkin bunuh diri, tapi bisa saja fikiran laki-laki itu lagi linglung dan gelap. Taeyeon tahu bagaimana perasaan Jiyong. Dia tahu betul. Dia mencintai kekasihnya selama empat tahun lebih dan terpaksa putus hanya karena tidak mendapat dukungan dari Hyun-suk dan penggemar. Pasti sakit rasanya.

Seperti dirinya. Dia mencintai mantan kekasihnya itu selama sembilan tahun ini. Dia jaga dengan baik perasaannya. Mereka berhubungan selama tiga tahun dan harus kandas di tengah jalan hanya karena masalah kesibukan dan pekerjaan? Heol, gadis mana yang bisa terima alasan itu?

“Ya, Kwon Ji Yong!” panggil Taeyeon dengan kencang saat dirinya sudah sampai di atas atap.

Taeyeon melihat Jiyong yang sedang berbaring nyaman di atas atap dan ketika mendengar suara nyaring Taeyeon, laki-laki itu terlonjak kaget dan bangkit untuk duduk dari posisi nyamannya dan menoleh ke arah Taeyeon. Taeyeon menghampirinya dan ikut duduk di sampingnya.

“Kau tidak perlu berteriak, ‘kan?” tanya Jiyong kesal.

Taeyeon menyunggingkan senyum bersalahnya. “Aku fikir jasadmu sudah di bawah. Lega rasanya kau tidak memutuskan untuk pergi selama-lamanya hanya karena media itu sedang berisik membicarakan kehidupan pribadimu,”

Air muka Jiyong yang awalnya kesal sekali, kini berubah mencair setelah mendengar alasan Taeyeon, yang ternyata sangat mengkhawatirkan dirinya.

“Aku bukan drama queen seperti dirimu,” jawab Jiyong.

“Mwo? Baiklah, terserahmu saja. Menyebalkan sekali. Kenapa kau tidak terjun ke bawah?” ujar Taeyeon kesal. Ia bangkit dan hendak pergi dari hadapan Jiyong. Tapi laki-laki itu langsung menahan kepergiannya dengan menggenggam tangan kiri Taeyeon dengan refleks.

“Aku sangat mencintainya,” ungkap Jiyong. Ia memulai cerita yang ia pendam sendiri di dalam hatinya, membuat Taeyeon batal pergi dan ia pun ikut duduk di samping laki-laki itu. “Dia tidak pernah tahu betapa aku mencintainya selama ini. Aku mungkin merasa cintakulah yang lebih besar daripada dia mencintaiku. Karena apa? Karena aku selalu memanfaatkan waktu senggangku hanya untuk berkomunikasi dengannya. Jadwalku dengan Big Bang luar biasa padat, kau tahu itu. Meskipun waktu istirahatku hanya satu jam, aku akan memakainya untuk menghubungi dia. Aku akan paksakan diriku untuk setiap hari mendengar dan melihat wajahnya, walaupun itu hanya melalui ponsel. Dia gadis yang baik dan pengertian sekali. Dia paham dengan kondisiku dan posisiku sebagai sosok idol. Aku tahu dia cemburu saat aku party dan hang out bersama perempuan lain, tapi dia tidak mengungkitnya. Dia tetap memahamiku, aku pun juga memahami dunia modeling yang digelutinya itu.

“Aku sangat mencintainya dan memutuskan untuk memberitahu Hyun-suk hyung untuk mengumumkan hubungan kami secara blak-blakkan di media. Beliau marah dan menolaknya mentah-mentah. Dia bahkan dengan seenaknya menyuruhku untuk tidak berhubungan lagi dengan Kiko. Aku tidak tahu apa alasannya dan semenjak itu, kalau aku dan Kiko berada di negara yang sama, kami akan bertemu secara sembunyi-sembunyi. Sangat tidak nyaman, dan aku tahu Kiko tersinggung dengan penolakan Hyun-suk hyung. Dia sempat kesal dan memintaku untuk break sebentar. Hubungan kami sering on and off, Taeyeon-ssi. Kami pernah ketahuan sedang kencan di Seoul oleh paparazzi dan berita itu begitu meluas detik itu juga, Hyun-suk hyung marah besar, Kiko dicaci maki oleh netizen dan VIPs. Aku ingin melindunginya, aku ingin memeluknya dan menjaganya saat itu. Tapi aku dengan bodohnya masih memikirkan Hyun-suk hyung. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain meneleponnya dan memintanya untuk bersabar lebih lama lagi.

“Dia merasa kecewa dan sakit hati dengan popularitasku dan menyalahkan pekerjaanku. Damnit! Aku sangat mencintai pekerjaanku melebihi apapun. Aku marah dan aku tidak berusaha untuk memperbaiki hubungan kami. Aku terlalu kecewa dengan ucapannya. Dia menjadi egois dan kekanak-kanakkan setelah apa yang selama ini VIPs lakukan padanya. Padahal, aku sudah coba yakinkan dia kalau suatu saat nanti aku akan menyelesaikan semuanya,”

Jiyong terdiam, begitu juga Taeyeon. Jujur saja, Taeyeon tidak tahu sama sekali harus bagaimana. Ia tahu perasaan sakit yang melanda Jiyong sekarang ini. Mereka berada di posisi yang sama. Masih mencintai orang itu tapi di waktu yang sama sekali tidak tepat. Mendengar penjelasan Jiyong, Taeyeon teringat dengan peristiwa di mana laki-laki itu memutuskannya di depan pohon natal, di hari jadi mereka yang ke-tiga tahun, dengan alasan pekerjaan. Alasan yang tidak logis.

“Hyun-suk ahjussi terlalu menyayangimu. Dia ingin pastikan kau selalu baik-baik saja dan tidak diganggu oleh media dan paparazzi,” ujar Taeyeon pelan.

“Itu hanya alasannya saja. Aku tahu dia tidak ingin aku melepaskan semuanya hanya demi Kiko. Dia tidak suka Kiko karena dia tahu aku bisa berikan apapun, aku bisa lepaskan segalanya hanya demi gadis itu. Dia takut aku akan tinggalkan Big Bang dan YG Ent. atas permintaan Kiko. Tapi seharusnya dia tahu, aku tidak akan melakukan itu. Bagaimanapun juga, musik adalah hidupku dan Big Bang adalah keluargaku,” jelas Jiyong.

“Sama saja,” potong Taeyeon. “Semua itu hanya untuk kebaikanmu,”

“Aku hanya merasa tidak adil. Youngbae direstui tapi kenapa aku tidak? Rasanya memang dunia ini suka sekali melihatku sendirian,” keluh Jiyong. “Aku lahir di dunia sebagai vampire, pun hanya seorang diri. Dami dan BoA noona, Yuri, mereka berdua tidak memiliki monster aneh di diri mereka. Mereka bebas ke manapun mereka mau, tanpa takut apa-apa. Mereka bebas dekat dengan siapa saja, tanpa takut seseorang akan celaka karena ulah mereka,”

Taeyeon diam. Ia menggigit bibir bawahnya mendengar keluh kesah Jiyong, yang sama sekali tidak diketahuinya selama ini.

Laki-laki ini merasa hanya seorang diri? Merasa kesepian? Entah kenapa, Taeyeon iba melihatnya.

Dan tanpa keduanya sadari, tangan hangat Jiyong masih menggenggam tangan kecil mungil gadis itu tanpa berniat melepaskannya. Taeyeon juga tidak sadar ia menggenggam erat tangan hangat Jiyong, untuk sekedar menenangkannya.

“Bersama dengan Kiko, aku lupa siapa diriku sebenarnya. Berdua dengan Kiko, aku hilang ingatan mengenai identitasku yang sebenarnya. Terkadang aku juga merasa seperti manusia biasa, seperti manusia pada umumnya. Aku sempat berfikir untuk melakukan pengobatan dan rehabilitasi selama lima tahun,” ungkap Jiyong sambil tersenyum kecut. “Selama lebih dari empat tahun, Taeyeon-ssi. Aku merasa sia-sia mencintainya jika ujung-ujungnya seperti ini,”

“Bukan seperti itu. Kalau kau merasa sia-sia itu artinya cintamu juga merupakan sebuah kebohongan. Aku yakin Kiko tidak merasa seperti itu. Aku yakin dia sangat menjaga masa-masa kebersamaan kalian berdua. Karena melewati waktu selama lebih dari empat tahun untuk orang seperti kalian adalah hal yang sangat luar biasa,” terang Taeyeon. “Kiko pasti gadis yang hebat, dia membuatmu mencintai dirimu sendiri. Jadi…,”

“Jadi?” tanya Jiyong.

“Kalau kau masih mencintainya, perjuangkanlah kembali. Kau juga sudah berjuang selama beberapa kali, ‘kan selama hubungan kalian on and off? Lalu, apa salahnya untuk berjuang lagi?” tanya Taeyeon dengan senyumannya yang merekah indah.

Jiyong menoleh memandang gadis yang berada di hadapannya itu. Ia membisu saat menatap wajah cantik milik Kim Taeyeon. Seperti malaikat. Dengan lekukan-lekukan di wajahnya yang hampir sempurna. Jiyong memerhatikan kedua mata hazel milik Taeyeon, hidungnya yang berukuran normal, kedua pipinya yang kemerah-merahan, dan bibirnya yang softpink membuat Jiyong tersadar betapa indahnya makhluk yang ada di depannya ini.

Kenapa dia baru menyadarinya? Ah, dia pasti sibuk menghindari aroma tubuh gadis ini, yang selalu membuatnya tergiur dan lupa diri.

Sadar telah dipandangi lekat-lekat oleh Jiyong, Taeyeon refleks menundukkan wajahnya yang merona merah. Ia merasa panas di sekitar wajahnya dan Taeyeon mengutuk dirinya sendiri kenapa wajahnya harus memerah hanya karena dipandang oleh Jiyong. Laki-laki ini pasti akan berfikir yang tidak-tidak.

Taeyeon juga baru sadar kalau daritadi tangannya terus digenggam Jiyong. Dengan kikuk, ia melepaskan genggaman laki-laki itu dan perlahan-lahan bangkit berdiri.

“Kurasa sudah saatnya untuk turun dan bersiap-siap berangkat ke bandara,” ujar Taeyeon dengan suaranya yang sangat pelan, tapi masih bisa didengar Jiyong. Setelah itu, ia membalikkan tubuhnya dan pergi dari atas atap.

Jiyong tidak tahu, sepanjang perjalanan Taeyeon menuju kamar hotelnya, gadis itu terus melamun memikirkan kejadian kemarin malam dan pandangan laki-laki itu di atas atap tadi, sambil memegangi tangan kirinya yang mengeluarkan aroma parfum khas dari tubuh Jiyong.

~~~

“Apa aku harus menelepon Hani untuk nanti malam?” tanya Taeyeon pada Jiyong, sesampainya mereka di Incheon International Airport.

Jiyong mengangguk sambil mengeluarkan sebuah topi kupluk dan memakainya sampai seluruh wajahnya tidak kelihatan. Ia juga tidak lupa memakai masker hitamnya. Laki-laki ini memang memiliki selera fashion yang cukup aneh dan unik.

g-dragon

Taeyeon tertawa kecil melihat penampilan Jiyong kala itu. Lucu, fikir Taeyeon. Jiyong sama sekali tidak mempertimbangkan tingkahnya yang aneh itu saat paparazzi sedang berkeliaran menunggu kepulangan mereka di Seoul.

“Kenapa tertawa? Ada yang aneh?” tanya Jiyong. Ia kembali menaikkan sedikit klupuknya sehingga matanya dapat melihat dan memandangi wajah Taeyeon.

“Eobseo,” jawab Taeyeon cepat. Ia menyembunyikan tawanya dan bergegas pergi menyusul Seunghyun yang jalan di depan bersama Daesung.

“Kita akan pergi ke apartemen atau ke gedung YG Ent.?” tanya Seunghyun, yang menyadari kalau Taeyeon sudah berada di sampingnya.

“Kalian langsung kembali saja ke apartemen. Hyun-suk ahjussi memintaku untuk bertemu, oppa,” jawab Taeyeon. “Ah, temanmu itu kembali mencuri perhatian public,”

“Siapa? Jiyong?” tanya Seunghyun.

Taeyeon mengangguk dan ia sedikit tertawa. “Apa dia bisa melihat kalau seperti itu caranya berpakaian?”

Seunghyun tersenyum. “Selera fashion-nya memang selalu unik, tidak jarang dia dijuluki raja fashion. Memang aneh, tapi entah kenapa semua orang suka,”

“Suka? Dia terlihat seperti Kaonashi,” ujar Taeyeon asal.

“Kaonashi? Kurasa memang lebih bagus dia mirip Kaonashi,” jawab Seunghyun. Ia sedikit menyunggingkan senyum manisnya dan menatap ke arah lain. “Bukankah kau suka Kaonashi, Taeyeon-ah? Aku lihat beberapa hari yang lalu aksesorismu kebanyakan Kaonashi selain Jack Skeleton dan Minions. Apa rasa sukamu pada Jiyong sudah sebesar seperti kau suka Kaonashi?”

“Ah? Oh, itu… Maksudku dia berbeda dengan Kaonashi-ku,” jawab Taeyeon gugup. “Lupakanlah ucapanku itu, oppa. Aku hanya salah bicara,”

Seunghyun tertawa kecil melihat tingkah aneh Taeyeon yang baru pertama kali dilihatnya. Wajah gadis itu merona dan ia terlihat salah tingkah. Biasanya gadis itu selalu menunjukkan sikap bad mood dan malas setiap kali ia diminta untuk menemani atau mengurus segala keperluan Jiyong. Sekarang, gadis ini lebih suka tidak banyak bicara dan saat Jiyong memandangnya, Taeyeon pasti memilih untuk menunduk atau menoleh ke arah lain, dengan wajah yang bersemu merah.

Seunghyun menoleh ke belakang dan menatap Jiyong, yang sibuk memainkan ponselnya tanpa peduli dengan segala kamera fans maupun media yang tertuju pada dirinya.

Seunghyun tersenyum dan ia kembali menoleh ke belakang. Jiyong juga sedikit berubah. Dia lebih sering memerhatikan Taeyeon sejak keberangkatan mereka dari Jepang sampai sekarang ini. Bukan pandangan lapar atau penasaran seperti biasanya. Kali ini pandangan Jiyong lebih mengarah ke ‘wanna get closer to her’.

“Kita istirahat sebentar, ya?” ajak Daesung. Ia menarik lengan kanan Taeyeon secara tiba-tiba dan masuk ke dalam sebuah restoran yang tidak jauh dari posisi mereka saat ini.

Beberapa pengunjung yang ada di restoran itu langsung memusatkan perhatian mereka pada kelima members Big Bang sekaligus kru-krunya yang sudah menempati restoran itu.

“Hyung, jangan iri, ya? Kami kenyang lebih dulu daripada dirimu,” ujar Daesung riang pada Jiyong saat ia menyantap makanan yang baru saja sampai.

“Ya, makanan saja sampai habis. Aku tidak selera,” ujar Jiyong dan ia dengan sengaja menyenggol lengan Daesung sehingga suapan laki-laki itu meleset dan makanan yang ada di sendoknya pun jatuh mengotori bajunya, membuat semua yang ada di meja itu tertawa kecil.

Taeyeon berdecak kesal melihat ulah Jiyong dan ia memberikan tissue-nya pada Daesung.

“Jiyong hyung belum merasa lapar, hyung,” sambung Seungri. “Bukankah dia pesta besar kemarin malam sampai pagi setelah melewati masa krisis?”

Taeyeon dan Youngbae tersedak dengan makanannya detik itu juga. Seungri dan Daesung tersenyum lebar dan kembali makan seakan-akan tidak terjadi apa-apa, walaupun jiyong memberikan mereka death glare. Sedangkan Seunghyun makan dengan santainya sambil tersenyum kecil, bisa dibilang ia berusaha keras untuk tidak tersenyum.

“Ehm,” deham Youngbae setelah ia meminum air mineralnya.

Taeyeon mengambil gelas berisi air mineral dan menenggaknya sampai isinya tinggal setengah. Lalu, ia menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah di kedua pipinya dan kembali makan, seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Diliriknya sekilas ke arah Jiyong, yang lebih memilih sibuk bermain dengan ponselnya. Laki-laki itu bersikap cool, tentu saja. Kenapa kau tidak bisa bertingkah biasa juga, Kim Taeyeon?

“Ah, hyung,” panggil Seungri, setelah mereka semua selesai makan dan suasana di meja itu kembali menghangat, walaupun Taeyeon lebih memilih diam saja untuk saat itu. “Kami bertemu Kiko kemarin malam. Dia bertanya di mana dirimu dan bagaimana kabarmu. Kau tidak ada berhubungan dengan dia lagi, ya?”

Mendengar nama Kiko disebut, Taeyeon langsung menolehkan wajahnya menatap Jiyong dan menunggu reaksi darinya.

Jiyong menatap Seungri dengan pandangan yang tak bisa ditebak. “Kenapa aku harus menghubunginya? Seperti biasa, dia memang sulit ditebak,”

“Setidaknya kau beritahu dia kalau kau sudah kembali ke Korea,” ujar Youngbae. “Dan jangan putuskan pertemanan kalian. Kalian dulu berteman sangat akrab sekali, ingat?”

“Ne~ Aku akan mengingatnya. Aku akan mengabarinya setelah kita sampai di apartemen,” jawab Jiyong dengan raut wajah serius.

Taeyeon memperhatikan ekspresi yang ditunjukkan Jiyong. Ada ekspresi bingung, kesal, sedih, dan bimbang. Tentu saja, ia pasti masih merasa sentiment dengan nama Kiko.

~~~

Gedung YG Entertainment~

TING!

Pintu lift yang tepat berada di hadapan Taeyeon terbuka dan ternyata isinya kosong. Taeyeon masuk ke dalam lift dan menekan tombol 5, untuk bertemu dengan Hyun-suk. Saat lift itu naik ke lantai 2, pintunya terbuka dan memperlihatkan sesosok wanita cantik dan anggun yang hendak masuk ke dalam lift. Goo Hye Sun.

“Annyeonghaseyo,” sapa Taeyeon ramah. Lagi-lagi ia gugup bertemu wanita itu.

“Annyeonghaseyo,” balas Hye Sun sambil tersenyum lebar. “Kita bertemu lagi, Taeyeon-ssi. Big Bang sudah kembali ke apartemennya?”

“Ye, baru saja, sunbae,” jawab Taeyeon kaku.

Hye Sun tertawa melihat ekspresi Taeyeon. “Waeyo? Jangan terlalu formal begitu padaku, Taeyeon-ssi. Kita sudah saling mengenal sejak lama, ingat?”

“Ah, gwaenchannayo,” jawab Taeyeon.

Hye Sun mengangguk. “Ah, ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu. Jae Hyun tadi datang ke sini,”

Taeyeon tersentak kaget. Darahnya membeku dan dengan kedua mata yang terbelalak, Taeyeon memandang Hye Sun. “La… Lalu? Benarkah dia datang ke sini? Dalam rangka apa?”

“Tidak ada. Dia hanya ingin tahu apakah Big Bang sudah kembali dari Jepang atau belum. Dia seperti fanboy Big Bang, ‘kan? Tapi aku tahu sebenarnya dia ke sini ingin bertemu dengan siapa. Aku katakan saja kau dan Big Bang belum pulang, dan menyuruhnya untuk ke sini lagi nanti malam,” jelas Hye Sun. “Dia bilang akan datang dan menghubungimu. Kau bisa, ‘kan Taeyeon-ssi?”

“Malam ini?” tanya Taeyeon, kaget bukan kepalang.

TING!

Sudah di lantai 5. Baik Taeyeon dan Hye Sun keluar bersama-sama dari lift. Namun, Taeyeon belum beranjak sama sekali dari hadapan Hye Sun. Jantungnya berdebar kencang sekali, menantikan ucapan yang akan disampaikan Hye Sun.

“Kau bisa, ‘kan? Dia ingin sekali bertemu denganmu untuk menjelaskan semuanya. Kuharap kau bisa, Taeyeon-ssi. Aku sudah menyuruhnya untuk memberitahumu sore nanti dan membuat janji denganmu. Karena setahuku sore ini dia ada photoshoot dan bisanya malam,”

“A… Aku akan pastikan aku bisa,” jawab Taeyeon.

“Baguslah,” ujar Hye Sun dengan senyuman cerianya yang langsung mengembang. “Semoga setelah ini hubungan kalian kembali lagi dan bisa bahagia seperti dulu, eoh? Seandainya kau tahu, Taeyeon-ssi sepanjang syuting drama bersamanya, dia selalu membanding-bandingkan perempuan lain dengan dirimu. Kau begitu sempurna di matanya,”

Taeyeon tersenyum sedih. Jantungnya berdenyut menyakitkan mendengar penuturan Hye Sun, mantan lawan main di drama sekaligus sahabat Jae Hyun, atau yang biasa Taeyeon panggil dengan ‘Jae’ oppa.

“Baiklah, aku pergi dulu, Taeyeon-ssi. Hyun-suk oppa juga sudah menunggumu,” pamit Hye Sun dan ia membungkuk sedikit pada Taeyeon sebelum akhirnya pergi dari hadapan gadis itu.

Begitu Hye Sun pergi, kedua kaki Taeyeon belum juga bergerak untuk melangkah menuju kantor Hyun-suk. Ia bahkan sudah tidak ingat lagi ke mana tujuan awalnya. Mendadak, ia ingin cepat-cepat menghubungi Jae Hyun dan mengatakan kalau dia sudah sampai di Seoul.

“Taeyeon-ah?” sapa seseorang yang suaranya sudah sangat tidak asing di telinga Taeyeon.

Taeyeon menoleh ke belakang dan mendapati Hyun-suk sudah berada di hadapannya dengan senyum yang tersungging di wajah manisnya.

“Ahjussi,” sapa Taeyeon. Ia membungkukkan tubuhnya untuk memberi salam.

“Kenapa berdiri lama sekali di sini?” tanya Hyun-suk.

“Ah, tidak apa-apa. Hanya saja, aku baru selesai bicara dengan Hye Sun sunbae, ahjussi,” jawab Taeyeon. “Lalu, apa yang ingin anda katakan padaku?”

“Itu… Mengenai kemarin malam, saat kau menolong uri Jiyong. Aku serius dengan perkataanku, Taeyeon-ah. Aku sangat berterima kasih sekali padamu dan berjanji akan mengabulkan permintaan apa saja yang kau minta padaku. Apapun itu, jangan sungkan padaku, minta saja. Sebagai ucapan terima kasihku padamu,” jawab Hyun-suk.

“Sepertinya untuk saat ini aku tidak bisa meminta apa-apa, ahjussi. Bolehkah aku menyimpannya untuk suatu saat nanti? Aku pasti akan memakainya, tenang saja,” ujar Taeyeon dan ia tertawa dengan renyahnya.

“Arraseo, arraseo. Aku akan tetap tunggu dan ingatkan aku lagi, Tae. Nah, kalau begitu pulanglah ke apartemenmu. Kau perlu istirahat. Tidak usah kembali ke apartemen Big Bang, mereka berencana mengadakan after party dengan beberapa teman akrab mereka. Atau kau mau ikut bersama mereka?” tawar Hyun-suk.

“Aku akan pulang,” tolak Taeyeon dengan halus. “Tapi sebelum itu, ahjussi. Ada hal yang ingin kusampaikan padamu. Ini mengenai Jiyong dan Kiko,”

Mendengar nama dua sejoli itu, Hyun-suk terdiam dan ia batal melangkahkan kakinya menuju pintu lift yang terbuka lebar.

“Apa itu?” tanya Hyun-suk.

“Jiyong merasa tertekan dengan caramu menjaganya, ahjussi. Dia hanya ingin hidup bahagia dengan mencintai seseorang dan dicintai oleh orang itu. Tidakkah kau lihat perjuangannya selama lebih dari empat tahun ini? Bagaimana kalau kau beri dia dan Kiko kesempatan untuk menunjukkan keseriusan dan ketulusan mereka? Aku pastikan Jiyong tidak akan meninggalkan pekerjaannya hanya deni seseorang. Dia cinta pekerjaannya, seperti yang ahjussi tahu,” terang Taeyeon. “Dan lagipula, setelah mendengar ceritanya dari mulut Jiyong, Kiko membuat Jiyong mencintai dirinya sendiri,”

Hyun-suk menghela nafas panjang sembari tersenyum kecil, senyuman yang Taeyeon tidak tahu apa artinya. “Apa Jiyong sudah mau menceritakan kisah cintanya padamu? Aku sudah memberikan dia banyak kesempatan, Tae. Dan ketika kesempatan itu sudah habis, pastinya aku tidak akan memberikannya lagi, ‘kan? Dia tidak mengerti karena dia belum berdiri di tempatku berdiri,”

Taeyeon mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan ucapan dan penjelasan yang diberikan Hyun-suk. Sudah diberikan kesempatan? Apakah ada sesuatu yang belum diketahuinya? Ah, masa bodoh dengan percintaan Jiyong dan Kiko. Kenapa ia mempermasalahkannya? Sedangkan kisah cintanya saja belum jelas.

“Satu lagi, dia tidak membuat Jiyong mencintai dirinya sendiri, Taeyeon-ah,” sambung Hyun-suk dan ia melengos pergi, meninggalkan Taeyeon yang masih termangu di tempatnya.

~~~

“Hani akan datang nanti malam pukul tujuh. Tunggu saja di apartemenmu dengan nyaman, karena dia bilang dia juga sudah tidak sabar bertemu denganmu,” ujar Taeyeon pada Jiyong lewat telepon sambil sibuk mengendarai mobilnya menuju apartemennya sendiri.

“Arraseo,” jawab Jiyong pelan.

“Kau tidak berencana makan siang, Jiyong-ssi? Tadi pagi kau juga tidak ada sarapan, ‘kan?” tanya Taeyeon.

“Aku sedang tidak mood sebenarnya,” jawab Jiyong. Taeyeon tidak tahu laki-laki ini sedang tidak mood dalam hal apa. Dari suaranya memang ia malas sekali bicara.

“Apa maksudmu kau tidak ingin minum malam ini? Jangan cari masalah dengan Hyun-suk ahjussi, arra? Aku tidak akan repot-repot memarahimu karena itu bagian ahjussi,”

“Ck, akan aku minum, okay?” ujar Jiyong.

“Baiklah,” jawab Taeyeon, yang merasa aneh dengan tingkah Jiyong. Apa karena Seungri tadi menyebut nama Kiko? “Sampaikan pada yang lain jangan pulang terlalu malam. Besok pagi kalian masih ada kegiatan. Kau juga, jangan minum alcohol banyak-banyak dan berhentilah merokok. Aku pastikan Seunghyun oppa mengawasimu di sana,”

“Hmm~,”

Taeyeon menatap ponselnya heran. Heran kenapa laki-laki ini terdengar dingin. Biasanya memang di telepon acuh tak acuh, tapi tidak seperti ini. Taeyeon berfikir ini mungkin dikarenakan hubungannya dengan Kiko yang kian santer dibicarakan.

Taeyeon memutuskan sambungan teleponnya dan ia keluar dari mobilnya setelah selesai parkir. Dengan cepat ia masuk ke dalam apartemen sambil memberi pesan pada seluruh member Big Bang terkecuali Jiyong untuk menjaga dan mengawasi laki-laki itu selama di club. Dia sedang stress, pasti maunya minum-minum, ‘kan?

Baru saja Taeyeon sampai di dalam apartemennya, ponsel gadis itu berdering menandakan ada telepon masuk. Taeyeon menatap ponselnya dan jantungnya langsung mencelos. Nomor Jae Hyun. Jae Hyun meneleponnya.

“Yeoboseo,” sapa Taeyeon pelan. Gadis itu duduk di sofa dan tersenyum begitu bahagia saat laki-laki di ujung telepon membalas sapaannya. Suaranya tetap terasa indah di telinga gadis itu.

“Kau sudah sampai dengan selamat, ‘kan?” tanya Jae Hyun

“Eoh. Sebenarnya sudah agak lama sampai di Seoul. Aku pergi ke gedung YG Ent. dulu sebentar,” jawab Taeyeon kikuk. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu kuku jarinya. Memperlihatkan kalau ia sedang menanti sesuatu dengan tidak sabaran.

“Bukan itu maksudku. Aku sudah tahu kalau kau sudah sampai di Seoul beberapa jam lalu. Aku tanya kau sudah sampai di apartemenmu, ‘kan?” tanya Jae Hyun.

“Ah, itu. Ne, aku sudah sampai,” jawab Taeyeon.

Hening sesaat.

“Apa aku mengganggu istirahatmu? Sebenarnya aku ingin mengajakmu bertemu malam ini. Tapi kalau kau merasa lelah, aku bisa menunggu sampai besok,” ujar Jae Hyun.

“A… Aku tidak merasa lelah,” jawab Taeyeon cepat. “Maksudku, aku takut besok belum tentu bisa bertemu. Karena besok malam aku akan berangkat ke Thailand. MADE Tour,

“Jinjjayo? Kau benar-benar bisa malam ini? Aku sangat senang mendengarnya,” jawab Jae Hyun. “Baiklah, aku akan menjemputmu pukul delapan malam nanti,

“Jemput?” tanya Taeyeon, sedikit kaget. Ia belum siap. Benar-benar belum siap. “Bagaimana kalau kita bertemu di depan gedung YG Ent.?”

“Begitu?” tanya Jae Hyun, suaranya sedikit memperlihatkan kekecewaan. “Arra, kita akan bertemu di depan gedung YG Entertainment. Setelah itu kau parkir saja mobilmu di sana dan kita akan pergi makan malam dengan naik mobilku,”

“Eung,” jawab Taeyeon dengan senyuman manisnya yang merekah indah.

Beberapa detik kemudian Taeyeon memutuskan sambungan teleponnya dan memandangi ponsel itu sambil senyum-senyum seakan-akan ponsel itu adalah Jae Hyun. Tidak lama kemudian, ia mengirimi pesan kepada ketujuh temannya tentang rencana makan malam bersama Ahn Jae Hyun, mantan pertama, cinta pertama, dan laki-laki pertama yang sampai saat ini masih singgah di hati Taeyeon.

 

Tiffany : Have fun, boo. Minta kejelasan sejelas-sejelasnya dan jangan berikan jawaban dulu kalau dia bertanya tentang kelanjutan hubungan kalian, kau harus konsultasi dengan kami! Fighting, Taengoo-ah!

SunKyu : *Re-Tweet Ppany* kekeke I love you, Taeng. Kuharap setelah ini kau tidak akan pernah tertekan lagi.

Yul : Kita akan bertemu di Thailand, ‘kan?! Aku akan datang ke konser MADE dan bertemu denganmu, Taeng! Aku ingin dengar semuanya langsung darimu. Bogoshippeo~

Hyo : MWO?! Aigoo, Yul. I wanna it, too TT.TT Ah, Taeng fighting, uri boo! Aku pastikan kau sudah berkaca-kaca saat ini

Sooyoung : Ini harus kali terakhir aku melihatmu menangis, eonni! Setelah kalian bertemu, apapun hasilnya aku ingin mengharapkan yang terbaik untukmu, meskipun aku berharap kau bisa mencari laki-laki lain dan membuka hatimu. Tapi aku tetap mendukungmu, eonni!

YoonA : Aku ingin tahu apa alasannya pergi waktu itu. Apa memang karena masalah pekerjaan? Aku juga ingin tahu apa alasannya kembali lagi setelah jeda waktu yang sangat panjang. Keep in touch with us, eonni! Aku tunggu kabar selanjutnya, bbuing~

JooHyun : Fighting, eonni! Aku ingin bertemu dengan eonni T.T Aku ingin kita berkumpul lagi~

 

Taeyeon tersenyum lirih membaca semua balasan dari ketujuh sahabat baiknya. Ia tersentuh dengan tanggapan mereka. Tentu saja, mereka adalah keluarga keduanya dan berhak tahu dengan semua kondisi satu sama lain, hal sekecil apapun itu. Mereka juga berhak untuk memutuskan apakah Taeyeon lebih baik melakukan ini atau itu. Karena merekalah yang tahu tentang dirinya lebih dari siapapun.

~~~

“Apa kalian sudah pergi ke club?” tanya Taeyeon pada Seunghyun di telepon.

“Kami baru saja pergi,” jawab Seunghyun santai.

“Eoh, kalau begitu have fun,” ujar Taeyeon. “Ah, jangan lupa awasi leader kalian itu,”

“Jiyong? Dia tidak ikut. Sepertinya dia sedang dalam mood yang tidak bagus. Hani saja sampai tidak puas dengan ‘permainannya’,” jawab Seunghyun sedikit bercanda.

“Biarkan saja dia seperti itu,” ujar Taeyeon. “Yang paling penting dia minum darah gadis itu, ‘kan?”

“Nado mollayo. Bukankah kalau setiap orang yang sedang dalam keadaan bad mood, pasti selalu berimbas untuk malas makan, ‘kan? Soalnya sebelum pergi tadi, Hani keluar apartemen kami dengan wajah masam, sama sekali tidak seperti biasanya. Dia juga cepat keluar dari kamar Jiyong. Youngbae yang melihatnya, tapi dia tidak berani tanya,” jelas Seunghyun.

“Kenapa dia sentiment sekali seperti perempuan?” rutuk Taeyeon. “Molla, kalau itu bermasalah, yang akan dihadapinya adalah murkanya ahjussi. Aku tidak tahu apa-apa, aku sudah menghubungi Hani dan selesai,”

“Kami juga begitu. Kalau dia malas makan juga, mau bagaimana lagi? Perempuannya sudah datang dan tidak mungkin kami awasi sampai dia masuk ke tahap meminum darah, ‘kan? Itu urusan Jiyong,” ujar Seunghyun acuh tak acuh. “Sepertinya malam ini kau sibuk, ya Taeyeon-ah?”

“Tidak juga,” jawab Taeyeon, yang sedang mencari-cari pakaian yang cocok ia kenakan untuk pertemuan pertamanya dengan Jae Hyun di dalam lemari. “Aku hanya pergi menemui teman lama,”

“Jinjjayo? Kenapa berbeda dengan yang diceritakan Yuri?” goda Seunghyun dan ia tertawa pelan.

“Ah, Ya! Jangan dengarkan perkataan gadis itu, aissh!” seru Taeyeon dengan wajah bersemu. “Aku tutup teleponnya, eoh? Pay~,”

Taeyeon melangkahkan kakinya menuju dapur dan meletakkan ponselnya di atas meja dekat ia sedang merajang daging dan sayur-sayuran untuk bahan memasak kimbab. Gadis itu memang sengaja memasak terlebih dulu sebelum bersiap-siap pergi menuju gedung YG Ent. dan bertemu Jae Hyun. Karena kimbab itu akan dia berikan pada members Big Bang untuk sarapan mereka.

Ketika gadis itu tengah sibuk memotong-motong daging, ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk dari “G-Dragon”.

Dibukanya pesan itu sambil tetap sibuk memotong.

 

From   : G-Dragon

Rasanya mau mati

 

“Mwo?!” seru Taeyeon. “Aww! Omo omo omo,”

Taeyeon mengerang kesakitan dan terus mengaduh pada jari telunjuk kanannya yang tertancap mata pisau yang tajam dan cukup dalam. Darah mengalir deras membasahi telapak tangannya. Buru-buru ia ambil hansaplast dan tanpa fikir panjang lagi gadis itu meninggalkan semua masakannya, mengambil ponsel dan kunci mobilnya lalu bergegas keluar dari apartemen.

“Apa maksud dia mau mati?” gumam Taeyeon pada dirinya sendiri, yang sedang sibuk mengeluarkan mobilnya dari parkiran. Fikirannya kalut dan ia teringat dengan ucapan Seunghyun di telepon tadi.

“Bukankah kalau setiap orang yang sedang dalam keadaan bad mood, pasti selalu berimbas untuk malas makan, ‘kan? Soalnya sebelum pergi tadi, Hani keluar apartemen kami dengan wajah masam, sama sekali tidak seperti biasanya. Dia juga cepat keluar dari kamar Jiyong. Youngbae yang melihatnya, tapi dia tidak berani tanya,”

“Aku akan membunuhnya kalau sudah sampai di sana. Ani, kalau dia tengah sekarat biarkan saja sampai mati!” gerutu Taeyeon. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi untuk sampai di apartemen Big Bang. “Kenapa ada laki-laki bertingkah kekanak-kanakkan begitu?!”

Sesampainya di depan gedung apartemen mewah itu, Taeyeon langsung turun dan naik menuju apartemen Big Bang. Rasa sakit di jari telunjuknya semakin menjadi-jadi, semakin berdenyut dikarenakan tidak diobati dengan benar. Namun, gadis itu membiarkannya. Ia acuhkan rasa sakitnya saat ia menekan tombol password pintu apartemen Big Bang.

Setelah terbuka, Taeyeon langsung masuk dan menutup pintunya dengan kuat.

“Ya, Kwon Jiyong!” panggil Taeyeon kuat.

“Kenapa kau teriak-teriak seperti itu?!” tanya Jiyong kaget. Awalnya ia sedang berbaring di atas sofa ruang utama dengan memakai headset. Saat mendengar teriakan Taeyeon, laki-laki itu bangkit duduk di atas sofa dengan wajah antara terkejut dan bingung.

“Kau kelihatan baik-baik saja. Kau tidak sekarat?” tanya Taeyeon heran. Ia duduk di samping Jiyong dan menatapnya dengan penuh selidik.

“Mwo? Kau ingin melihat aku sekarat seperti kemarin lagi?” tanya Jiyong semakin membuat Taeyeon bingung.

“Kau memberiku pesan kalau kau rasanya ingin mati! Dan Seunghyun oppa tadi memberitahuku kalau kau sedang dalam mood yang tidak bagus, jadi berimbas tidak selera makan. Lalu Hani keluar dari kamarmu begitu cepat dan dengan wajah masam. Apa maksudnya itu?” tuntut Taeyeon.

Holy shit!” rutuk Jiyong tiba-tiba. “Aku sedang memberikan arahan pada Taehyun tentang lagu baru yang akan segera mereka luncurkan untuk comeback mendatang. Nama kalian hampir sama dan awalnya aku salah kontak. Aku ingin menuliskan lirik lagunya dan sadar kalau itu bukan Taehyun. Tapi terlambat. Terkirim. Kufikir kau tidak akan peduli tentang itu,”

“Bagaimana bisa aku tidak peduli?!” potong Taeyeon kesal. “Setelah apa yang Seunghyun oppa katakan apa kau fikir aku bisa tenang di apartemen?”

“Seunghyun hyung? Aku merasa baik-baik saja. Aku minum darah Hani dan memang hanya sepuluh menit. Aku sedang malas melakukan apa-apa hari ini jadi kubangunkan dan kubiarkan dia pergi. Lagipula semuanya juga tahu aku sudah ‘makan’. Itu sebabnya mereka pergi dengan tenang. Sepertinya kau salah tangkap dengan ucapan Seunghyun hyung,” jelas Jiyong.

“Jadi seperti itu?” tanya Taeyeon dengan suara pelan. Ia menundukkan wajahnya, malu sendiri. Ia terlalu panik sehingga tidak bertanya pada Jiyong terlebih dahulu. Dia terlalu tergesa-gesa ambil keputusan dan itu membuatnya salah tingkah sendiri. “Paboya,”

Jiyong ikut diam memperhatikan Taeyeon. Gadis ini sepertinya malu sendiri. Apakah dia terlalu peduli pada Jiyong? Gadis ini memang benar-benar seseorang yang perhatian dan selalu dilontarkan oleh keempat members Big Bang yang lain. Jika tidak, tidak mungkin ia tiba-tiba muncul di hadapannya hanya untuk mengecek keadaannya. Setidaknya ini yang entah keberapa kalinya Taeyeon mencemaskan keadaannya.

Lamunan Jiyong mendadak buyar seketika ketika ia mencium sesuatu yang tidak asing di hidung dan dibenaknya. Wangi darah. Darah manis milik Taeyeon seorang. Wangi itu tentu saja masih melekat dalam ingatannya karena terlalu berharga untuk dilupakan, terlalu manis. Wangi itu menguar dari diri Taeyeon lebih kuat dan membekap indra penciuman Jiyong, membuat bulu kuduknya berdiri.

Tubuh Jiyong mengeras. Ia berusaha menahannya, takut membuat gadis itu ketakutan. Tapi membayangkan kembali saat-saat di mana ia meminum darahnya, membuat darah Jiyong meletup-letup tak karuan.

“Kalau begitu, aku pulang,” pamit Taeyeon.

Sebelum gadis itu bangkit, Jiyong menahan pergelangan tangan kanan Taeyeon, menyuruhnya untuk tetap di tempat. Taeyeon menatap Jiyong bingung. Dan Jiyong manatap telapak tangan Taeyeon yang merah bekas darah dan juga jari telunjuknya yang dibalut hansaplast. Laki-laki itu sadar kalau inilah yang mengganggu hidungnya.

“Kena…,”

“Ada apa dengan tanganmu?” tanya Jiyong tanpa melepaskan pandangannya dari tangan kanan Taeyeon.

“Teriris pisau,” jawab Taeyeon pelan. Ia sedikit curiga dengan gelagat Jiyong. Tidak mungkin, ‘kan? Tapi bola mata Jiyong mulai mengeluarkan warna berbeda. Tentu saja, Taeyeon bodoh, rutuknya dalam hati. Darahmu tidak kau cuci dulu.

“Aku akan menyembuhkannya,” ucap Jiyong pelan dan mulai membuka hansaplast itu.

“A… Tidak perlu…,” cegah Taeyeon.

Terlambat. Jiyong sudah menjilati semua sisi telapak tangan kanan Taeyeon yang bebercak darah dan mengulum lembut jari telunjuk itu di dalam mulutnya. Tubuh Taeyeon menegang. Darah mengalir deras di dalam tubuhnya dan jantungnya kembali berdetak lebih dua kali lebih cepat dari seharusnya. Sensasi yang sama seperti pertama kali Jiyong meminum darahnya kembali dirasakan Taeyeon.

Taeyeon menggigit bibir bawahnya dan memejamkan kedua matanya, tidak ingin melihat apa yang sedang dilakukan Jiyong. Ia merasakan tangan kanannya gemetaran di bawah genggaman tangan Jiyong.

Jiyong membuka kedua matanya ketika darah itu sudah berhenti keluar. Ia memandangi Taeyeon dengan tatapan lapar. Tanpa bisa dia tahan. Keinginannya begitu kuat, jauh lebih kuat dari pertama kali mencium aroma tubuh Taeyeon.

“Jika kau mencium darah yang aromanya lebih manis daripada darah yang lain, berhati-hatilah. Kalau kau sampai terikat dengannya, ada dua pilihan. Itu takdir atau masalah besar,”

Kata-kata ibunya terngiang kembali di benaknya. Jadi, ini yang dimaksud ibunya. Jadi ini yang pernah diperingati oleh Seunghyun? Tidak akan cukup sekali.

Jiyong menjatuhkan ponsel dan headset-nya ke lantai tanpa melepaskan tatapannya dari Taeyeon. Taeyeon, yang sadar tengah diperhatikan, membuka kedua kelopak matanya dan pandangan matanya bertemu dengan manik mata Jiyong.

Lari, Kim Taeyeon, gumam Taeyeon dalam hati.

Jiyong menghapus jarak di antara tubuh mereka berdua dan bibirnya mendekat ke daun telinga kanan Taeyeon seraya berbisik, “Mianhae,”

Dan detik itu juga, Taeyeon merasakan punggung belakangnya menyentuh sofa.

 

 

 

 

 

-To Be Continued-

 

 

Jangjangjangggg!!!! Kekekeke update lama, as usual-_-

Berhubung udah selesai ujian dan sekarang lagi holiday, diusahakan ya aku bisa update lebih ‘rajin’^^

Paiting!

NB : sorry if this story isn’t good enough :’)

 

 

 

New cast :

Ahn Jae Hyun :

Advertisements

182 comments on “The Leader’s Secret (Chapter 5)

  1. Huwaaaaaaa, akhirnya update, sekian lama menunguu…
    Kapan ini Jae Hyun bakalan berhadapan sama Taeng????Kalo perlu GD juga ikut pas ketemuan, wkwkwkwk
    Please update your story as soon as possible because I realy love this story….

  2. Daebak min!!!!! Seru banget!! Sebenernya sih agak ga suka sama cast barunya tapi moga” tambah seru ya min trs kalo bisa ngepostnya rada cepettan.. Kebelet banget pengen baca next chapt~

  3. Seru banget!! Astagahhh ternyata taeyeon mau juga yah donorin darahnya gmn yah kalo jiyong ketagihan terus -_- berabe..

  4. Lagi tegang malah TBC 😒
    Ceritanya makin seru aja,
    Gd akhirnya minum darah Taeyeon & GD pun ketagihan,,
    Gimana nasib Taeyeon selanjutnya,
    & Gimana kelanjutan hubungan Taeyeon dengandengan Ahn jae hyun,,
    Cepetan update iya saeng,
    Jangan lama”..
    Keep writing & Fightaeng 😘❤

  5. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 6) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. SUMPAAAAAH AAAAAAAH SAYANG SAMA AUTHORNYA DEH SERIUSAN KALI INI PUAS BANGET GILAAAAK BACA CHAPTER INI UWOOOOOO PANJANG BANYAK SKINSHIP NYA TAEYEON GD LAGI AAAAAAA AZEGHHH
    Sayanya selalu menyempatkan diri buat check atsit nungguin update an si author uwooooooooooo~ MAMPUS AJA DEH GILAK BACA SCENE TERAKHIRNYA SAYANYA MELAYANG ENTAH KEMANAAAAAAA UWOOOOOOOOOOO AZEEEEEG SKINSHIPNYA BANYAAAAAAK YEEEEEE!!!! UPDATE SOON THOR AILOPYU😘😘😘😘

  7. Keliatan nafsu banget ya jiyong. Tpi ya dianya vampire sih, jdi gak kaget juga. Kedua kalinya baca ni ff, bener2 gak ngebosenin 😁

  8. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 7) | All The Stories Is Taeyeon's

  9. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 8) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 9) | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  12. • Nanti Jiyong ketagihan darah Taeyeon, gimana? Haha….
    • Pada akhirnya Taeyeon mau mendonorkan darahnya pada Jiyong. Haha….
    • Jiyong melakukannya karena lapar tapi apa memang ada sesuatu pada Taeyeon, hm hm hm….
    • Kukira jika Jiyong jadi ikut after party nanti ketemu Jaehyun-Taeyeon di tempat yang sama, tapi Jaehyun-Taeyeon tidak mungkin bertemu di tempat seperti itu.
    • Iya, ternyata Ahn Jae-hyun adiknya Cheon Song-yi My Love From The Star (Jun Ji-hyun) & suaminya Goo Hye-sun, kupikir Jae Jae siapa & Jaehyun yang mana.
    • Kukira Jiyong bakal ngelak saat darah Taeyeon, tapi namanya juga vampir yang gak bisa ngelak sekuatnya seperti manusia.
    • Kalau ada tambahan cast cowok tidak masalah tapi kalau cewek agak bikin aku cemburu karena pasti dekat dengan Jiyong, kebanyakan. Hemmm… Jangan sampai ada Nana Komatsu, tapi FF ini dibuat sebelum ada gosip mereka, hehe… Baguslah.
    Diawali dengan adegan Banpo Bridge, mulai deh konflik GTAE.
    #GTAE #ROYALISTDREAMER #LEADERCOUPLE
    • Next chapter… See you. HWAITING All! 😀

  13. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  14. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

  15. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 13) | All The Stories Is Taeyeon's

  16. setuju banget sama Hyun suk ahjussi GD ngak mencintai diri sendiri kalo sama kiko justru dia lupa kalo dia itu vampire.

  17. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 14) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s