Skellington [Part 16]

SKELLINGTON Part 16 by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar with EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04 | Part 05 | Part 06 | Part 07 | Part 08 | Part 09 | Part 10 | Part 11| Part 12 | Part 13 | Part 14 | Part 15

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik aku melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing.

.

.

.

.

.

            Jika aku disuruh membuat daftar hari yang paling menegangkan dalam hidupku, maka hari ini pasti sudah berada di peringkat teratas. Bagaikan kau akan bertemu dengan sebuah binatang buas yang sudah mengetahui kelemahanmu. Katakan padaku apa kalian pernah berjumpa dengan hewan liar yang bisa dijamin bahwa mereka tidak akan memakanmu? Aku tak pernah.

“Kau gugup, ya?”

Tubuhku langsung beraksi seperti tertusuk duri saat mendengar suara perempuan dari sebelahku. Sebenarnya sejak awal aku ingin bertanya kenapa harus dia yang menemaniku hari ini. Entah mengapa karena hari ini pacarku, Kai, harus menghadiri syuting terakhirnya. Sedangkan Solar memiliki keperluan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Maka aku berakhir dengan Jung Wheein.

“Dia tidak seburuk yang kau kira, kok.” Lanjut Wheein saat kami baru saja masuk ke dalam lift yang akan membawa kami ke lantai di mana para Skellington dirawat.

Menurut penjelasan Jessica dan Dokter Yonghwa, saat aku dan Solar menghadiri rapat –yang terkesan seperti sidang—bersama para maniak sains lainnya di ruang pertemuan, Wheein lah yang menjaga Baekhyun. Tapi daripada menjaga, Wheein seperti membiarkan Baekhyun menjadi mandiri dan membiarkannya melakukan apa yang dia suka.

“Apa yang membuatmu ingin menjaga Baekhyun pada hari itu?” tanyaku dengan sedikit gugup pada perempuan yang berusia 2 tahun lebih muda dariku itu. “Aku mengerti kalau saja Kai yang menjaga Baekhyun, tapi kau…”

Kenyataannya Wheein tidak punya hubungan sama sekali dengan Baekhyun. Bahkan Wheein sendiri menganggap proyek Skellington ini sebenarnya adalah proyek konyol yang menghabis-habiskan waktu.

“Aku hanya ingin memastikan.” Jawab Wheein bersamaan dengan terbukanya pintu lift. Wheein tersenyum lalu melanjutkan, “Apa Baekhyun yang telah kembali ingatannya sama seperti yang kau deskripsikan saat kita dirawat di Rumah Sakit yang sama.”

Sembari membelokkan tubuhku di antara lorong-lorong dan melewati banyak orang yang memakai jas laboratorium dan jas dokter, pikiranku terbawa pada masa-masa 12 tahun yang lalu. Aku yang mengalami luka parah akibat sang pembunuh dirawat di Rumah Sakit selama 8 bulan dan pada bulan kedua, Wheein yang dipindahkan dari Rumah Sakit prefektur lain menjadi teman seruanganku.

Wheein dirawat karena tiga bulan sebelumnya, saat berwisata dalam rangka mengikuti Festival Salju, dia terjatuh dari tebing karena melihat secara langsung siapa pembunuh ayahnya. Beruntung tubuhnya dapat ditemukan dengan cepat setelah terkubur salju dan berada di antara batas hidup dan mati.

­­­Tiba-tiba Wheein yang sedari tadi berjalan di depanku menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pintu yang bertuliskan nama Byun Baekhyun. Seakan tahu aku belum siap untuk masuk, Wheein menawarkan sesuatu yang sama sekali tidak aku duga, “Mau aku temani selama di dalam?”

Aku mengangguk ragu-ragu karena rasanya aneh interaksiku dengan Baekhyun dilihat oleh orang yang sebenarnya sama sekali tidak punya hubungan dengan masalah kami. Akhirnya aku berkata, “Tapi buatlah seolah-olah dirimu tidak ada di belakangku.”

Wheein tersenyum lalu menggenggam kenop pintu. “Itu mudah.”

Begitu pintu terbuka, pandanganku tertuju pada sosok Baekhyun yang sedang bermain video game dari ranjangnya. Aku cukup lega karena mata kami tidak bertemu langsung –karena itu akan membuatku mendapat serangan jantung—tapi berita buruknya adalah aku merasa Wheein menghilang secara tiba-tiba dan hanya ada aku bersama Baekhyun di ruang inapnya.

“Hai.” Sapaku pelan dan otomatis tangan Baekhyun meletakkan game controller di sebelahnya. Aku jadi ingat bahwa sebenarnya Baekhyun juga menyaksikan apa yang aku lakukan selama berada di bawah pengaruh serum. Aku juga baru ingat bahwa sekarang ingatan Baekhyun sudah sepenuhnya kembali.

“Hai juga.” Jawab Baekhyun datar. Dia memberi gerakan tangan berupa mendekatlah karena mungkin suaraku tadi nyaris tidak terdengar olehnya. “Sudah berapa lama kita tidak bertemu, tepatnya?”

Aku menarik kursi terdekat ke ranjang Baekhyun dan duduk di atasnya. “Kita terakhir bertemu… Saat malam Festival Kembang Api?”

Baekhyun menggeleng dan jarinya bergerak mengikuti arah gelengannya. Sama seperti sebelumnya dengan datar Baekhyun menjawab, “Kita bertemu saat aku menyelamatkanmu dari pengaruh serum.”

Melihat reaksi Baekhyun yang tidak seperti biasanya –tersenyum atau tertawa—akhirnya dengan datar juga aku menjawab, “Yah, tindakanmu cukup keren untuk menjadi seorang pahlawan.”

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. “Apa barusan kau memujiku?”

“Menurutmu?”

“Kau sepertinya tidak yakin kalau aku yang menyelamatkanmu.”

“Karena aku tidak melihatnya dengan mataku sendiri.”

Aneh. Setelah sekian lama aku dan Baekhyun dapat berbicara sahut-sahutan tanpa adanya emosi yang terlibat. Seakan kami memang sudah berteman sangat lama. Seakan kami kembali menjadi anak berusia 10 tahun yang terus berbicara tanpa memperhatikan pertunjukan sulap yang ada di depan mata.

“Apa yang kau mainkan?” tanyaku dengan maksud mengganti bahan pembicaraan.

“Oh ini?” Baekhyun mengangkat kembali game controller dengan tangan kanannya. “Aku menjadi Luffy dan berpetualang di dunia One Piece saat Dressrosa Arc.”

Aku mengerutkan kening karena aku tidak mengerti istilah-istilah yang diucapkannya tapi hanya ada satu kalimat yang bisa aku katakan untuk membalasnya, “Kau masih suka berpetualang, ya?”

Baekhyun menggeleng pelan. “Petualanganku di dunia nyata sudah berakhir karena alkohol yang mengalir di seluruh tubuhku.”

Langsung saja aku mengerti apa yang dimaksud Baekhyun. Dia sedang membicarakan bagaimana dia tewas. Baekhyun tewas karena kecelakaan yang disebabkan dirinya yang menyetir mobil dalam keadaan mabuk sehingga menabrak truk. Kadar alkohol di dalam darahnya bahkan mencapai angka 0,20.

“Apa… Masih mengalir?” tanyaku ragu-ragu lalu Baekhyun menggeleng. “Baguslah.”

“Tapi kenyataannya aku masih berpetualang, Taeyeon.” Ujarnya dan ini pertama kalinya aku mendengar Baekhyun menyebutkan namaku dengan nada datar setelah sekian lama. “Aku masih berpetualang untuk mencari alasan mengapa aku hidup kembali.”

“Karena orang tuamu menginginkanmu.” Sahutku cepat.

“Mereka tidak memberitahumu, ya?”

“Memberitahu apa?”

Kali ini Baekhyun membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjawab pertanyaanku. Dia terlihat ragu-ragu tapi akhirnya dia dengan pelan berkata, “Bahwa aku adalah produk gagal.”

“Produk gagal?” ucapku mengulangi kemudian Baekhyun mengangguk. “Apa mak—“

Seakan tahu apa yang ingin aku tanyakan, Baekhyun dengan cepat membalikkan badannya dan mengangkat sebagian atasannya yang membuat bagian punggungnya terlihat jelas. Di bagian punggungnya terdapat ukiran kotak yang terlihat seperti pintu. “Bukalah.” Kata Baekhyun.

Dengan perlahan aku membuka kotak itu dengan menekan bagian tengahnya. Di dalamnya ada sebuah tombol berwarna merah darah yang membuat tanganku langsung menjauh.

“Itu tombol yang hanya bisa ditekan olehmu.” Ujar Baekhyun lalu secara otomatis pintu aneh itu ditutup oleh Baekhyun. “Aku produk gagal, Taeyeon. Aku adalah Skellington yang tak berhak untuk melanjutkan hidup dalam tubuh seperti ini.”

Entah kenapa mendengar kata ‘gagal’ kembali diucapkan, aku langsung mengerti maksud Baekhyun. “Apa ini ada hubungannya dengan… Serum ingatan?” tanyaku berusaha terdengar tenang.

Baekhyun mengangguk. “Kata Wheein serum itu belum sempurna. Serum ingatan dengan dosis yang besar serta diberikan padaku sementara fungsinya tidak sesuai yang diharapkan… Telah menjadi kanker di tubuh baruku ini.”

“Apa?”

“Itu sebabnya aku menemani Baekhyun.” Kata Wheein tiba-tiba dari belakangku dengan nada yang tidak kalah datar dengan Baekhyun. “Dia minta tolong padaku apakah aku bisa menjaga Baekhyun sementara kau tidak ada. Dia memohon padaku sambil menangis.”

Tentu saja aku tahu siapa ‘dia’ yang dimaksud Wheein. Orang itu adalah Solar, orang yang telah memberikan serum ingatan pada Baekhyun. Dia pasti merasa bersalah begitu tahu fakta bahwa Skellington Baekhyun adalah produk gagal dan hal itu terjadi karena perbuatannya. Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah dia memohon pada Wheein agar menggantikan tugas yang seharusnya dijalankan olehnya.

“Aku tidak tahan melihat air mata perempuan.” Lanjut Wheein lalu senyuman tipis terukir di wajahnya. “Apalagi dia mengingatkanku pada eomma.”

Seakan tugasnya sudah selesai, Wheein berjalan menuju pintu lalu keluar dari ruang inap, menyebabkan aku dan Baekhyun benar-benar berduaan di ruangan ini. Sebenarnya tanpa Wheein pun aku merasa hanya ada aku dan Baekhyun di tempat ini.

“Begitu kau tekan tombol tadi, seluruh tubuhku akan hancur tanpa tersisa sedikitpun.” Kata Baekhyun yang sudah kembali pada posisi semulanya. Dia menatapku dalam-dalam dan melanjutkan, “Aku memilihmu. Sama seperti saat aku memilihmu untuk menjadi pendampingku.”

“Apa tidak ada cara lain… Untuk mempertahankan hidupmu?”

“Ada sih.”

“Apa itu?” tanyaku cepat dengan nada berharap. “Kalau itu hal yang bisa aku lakukan, aku akan melakukannya. Aku akan membantumu untuk terus hidup. Lagipula aku sudah membuat semacam perjanjian dengan eommamu agar kau bisa kembali pada orang tuamu. Jadi—“

“Mustahil, Taeyeon.” Sahut Baekhyun lalu kepalanya terangkat sehingga pandangannya tertuju pada langit-langit ruangan. “Karena aku membutuhkan sesuatu yang tidak mungkin aku dapat darimu.”

“Katakan saja apa itu!” seruku dan kemudian aku menyesal karena sudah membiarkan Wheein keluar dari ruangan. Dia bisa saja meredakan emosiku. Saat ini semua orang bergantung padaku seorang untuk mendampingi Baekhyun. Aku harus sabar.

“Cinta.” Jawab Baekhyun. “Aku membutuhkan cinta, Taeyeon. Bukan cinta dari orang tua atau sahabat-sahabatku tapi cinta yang menyerahkan semua miliknya padaku di atas segalanya. Itu adalah cinta sejati.”

Tidak ada hal yang lebih baik untuk dikatakan. Aku seperti tertelan badai salju begitu mendengar pernyataan Baekhyun. Udara di ruangan ini terasa semakin berat setiap detiknya dan seseorang harus mencairkan suasana awkward ini.

“Aku pernah punya pacar saat aku SMA.” Kata Baekhyun tiba-tiba. “Tapi apa itu bisa disebut cinta sejati? Jika dia memang cinta sejatiku seharusnya dia berada di dekatku sekarang. Tak peduli meski kami berpisah menjelang upacara kelulusan.”

Satu hal yang aku mengerti dari apa yang dikatakan Baekhyun adalah bahwa sebenarnya Baekhyun dengan ingatannya yang telah kembali telah menganggapku sebagai orang luar. Dia terus hidup tanpa diriku begitu juga denganku. Tidak seperti saat kami berlibur ke Pulau Jeju di mana dia menyatakan –secara bodoh—bahwa dia adalah pacarku. Kali ini dia telah menerima statusku sebagai pacar Kai.

“Apa anak itu… Cantik?” ucapku tiba-tiba dan seketika aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Apa yang baru saja aku katakan? Kenapa aku bertanya hal seperti itu? Ada apa dengan diriku?

“Lumayan.” Jawab Baekhyun tanpa memandangku.

“Apa anak itu sekarang ada di Seoul?”

“Entahlah. Mungkin dia sudah di luar negri? Dia selalu bercerita bahwa dia ingin bergabung dengan orkestra besar di Austria.” Jelas Baekhyun dan dari wajahnya aku tahu bahwa dia sedang menceritakan masa lalunya yang jauh lebih baik dari sekarang.

“Dia… Pasti anak yang baik.” Kataku dan sekali lagi aku tidak mengerti kenapa kata-kata seperti ini bisa keluar begitu saja dari bibirku.

“Kau kan tak pernah bertemu dengannya? Kau tidak satu sekolah dengannya.” Ucap Baekhyun lalu aku mengangguk. “Kau bersekolah di Klein, kan? Apa itu tempat kau bertemu dengan Kai?”

“Begitulah.”

“Apa dia populer?”

“Tidak sepopuler dirimu.” Jawabku dan Baekhyun tertawa kecil. Aku cukup terkejut dengan reaksinya tapi entah mengapa jauh di dalam hatiku aku merasakan suatu kepuasan. “Apa? Aku berkata yang sejujurnya.”

“Kau berubah, ya? Rasanya kau yang terlahir kembali, bukan aku.” Ucap Baekhyun sambil tersenyum. “Boleh aku tahu?”

“Apa?”

“Tentang kehidupanmu setelah itu.” Kata Baekhyun tanpa memudarkan senyuman di wajahnya. “Aku ingin tahu apa saja yang telah kau lewati selama aku tidak ada di sisimu.”

Jadi sekarang tugasku adalah membacakan dongeng pada Baekhyun? Sebenarnya tidak cukup buruk tapi ada beberapa bagian yang tidak ingin aku beritahukan pada Baekhyun. Bukan karena aku membencinya –apa sekarang aku masih membencinya?—tapi karena ada saja pengalaman memalukan yang telah aku lalui.

“Tidak boleh, ya?”

“Ah, tidak apa-apa kok.” Sahutku cepat. Anehnya lagi entah kenapa hatiku ingin Baekhyun mendengarkan ceritaku. Apa serum memori telah mengubah kepribadianku? “Hanya saja aku bingung harus memulai dari mana…”

Baekhyun tersenyum lalu berusaha mencari posisi nyaman di ranjangnya. “Akan kutunggu.” Baekhyun jauh lebih dewasa dari saat terakhir aku berinteraksi dengannya. Aku jadi berpikir bahwa serum ingatan membawa pengaruh positif pada Baekhyun serta hubungan kami selanjutnya. Kami telah berkembang. Dan kami telah berjuang hingga hari ini tiba.

Akhirnya setelah mengumpulkan keberanianku, aku mulai bercerita tentang awal aku masuk ke Klein High School. Alasan terbesar aku tidak ingin melanjutkan sekolah di Seoul Memorial Private School adalah karena aku tidak ingin kembali bertemu dengan Baekhyun. Dan saat aku memberitahu hal tersebut pada Baekhyun, dia hanya tertawa dan menyuruhku melanjutkan.

Aku memberitahunya tentang diriku yang berusaha terlihat tegar, kuat, mandiri, dan keren di mata teman-teman baruku agar aku tidak diejek seperti sebelumnya. Memperoleh rasa kagum dari teman-teman tidak membuatku besar kepala tapi membuatku semakin sadar bahwa kadang kala mengeluarkan sedikit keberanian tidak ada salahnya.

Tapi ada satu orang yang sadar bahwa selama ini aku berpura-pura. Orang itu adalah Kai. Entah kenapa dia selalu tahu apa yang aku lakukan sebenarnya sama sekali tidak ingin aku lakukan. Dia tahu bahwa aku menyembunyikan sesuatu sehingga aku mengubah kepribadianku di depan teman-teman yang lain.

Itu semua karena aku dan Kai mempunyai nasib yang sama. Berbeda denganku yang berpura-pura menjadi orang lain karena tidak ingin mengalami hal yang sama –yaitu dibully—tapi Kai berpura-pura menjadi orang lain agar dia dikelilingi teman-teman dan tidak mengalami hal yang bernama kesepian.

“Memangnya seperti apa Kai di mata teman-temanmu?” tanya Baekhyun tiba-tiba dengan mata membulat.

“Dia cowok yang selalu tersenyum, dapat diandalkan, suka membantu orang lain, dan berusaha keras dalam segala hal.” Jelasku lalu Baekhyun mengangguk mengerti. “Sampai di mana tadi?”

Dari hari ke hari, aku dan Kai semakin dekat dan aku sadar bahwa aku menyukainya. Lalu suatu hari, aku berhasil menyatakan perasaanku padanya. Tapi yang terjadi justru tidak seperti yang aku harapkan. Kai mengatakan bahwa dia menyukaiku tapi dia tidak ingin berpacaran dengan siapapun sampai hatinya benar-benar siap untuk membiarkan orang lain memasuki hidupnya.

Saat itu kami memang belum sadar tapi pada akhirnya perasaan serta kondisi yang sama lah yang telah menyatukan kami. Kai yang sadar bahwa dia tidak bisa menyerahkanku pada siapapun serta aku yang sadar bahwa aku selalu khawatir jika Kai melakukan sesuatu seorang diri. Kedua perasan itu telah menyatukan kami 10 tahun yang lalu.

Kami berjuang bersama. Jika ada masalah, kami akan saling berbagi dan saling memberikan solusi. Perlahan orang yang bisa kupercaya tidak hanya Kai tapi semakin bertambah. Ada Gongchan yang sebelumnya pernah bertemu denganku di Rumah Sakit. Ada Bora yang menjadi teman perempuan pertamaku. Ada Seungyeon yang sedikit pendiam tapi nasihatnya selalu membantuku. Ada Taemin yang membuat hubunganku dan Kai semakin kuat setiap harinya.

“Lalu apa selama itu kau masih berhubungan dengan Solar?” tanya Baekhyun lagi kemudian aku mengangguk.

Semua hal yang aku alami semasa sekolah selalu aku ceritakan pada Solar. Kami saling berbagi tapi hal yang paling sering aku ceritakan padanya adalah masalah teman-temanku. Aku jarang menceritakan masalah yang aku alami karena Kai selalu ada untukku jika aku membutuhkannya. Mungkin terdengar jahat tapi memang begitulah kenyataannya.

“Kalian hebat, ya. Bisa bertahan sampai 10 tahun.” Kata Baekhyun lalu dengan senang hati aku mengangguk. “Memangnya apa saja yang kalian lakukan?”

Aku cukup terkejut dengan pertanyaan Baekhyun. Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan Kai pada Baekhyun tapi mengingat hanya tersisa 8 hari –7 hari jika hari dihitung mulai besok—waktuku bersama Baekhyun, aku berusaha mempercayainya.

“Aku dan Kai rutin kencan saat hari valentine dan natal. Kami akan menghabiskan waktu bersama teman-teman jika liburan musim panas. Kami juga tak pernah lupa merayakan ulang tahun.” Jelasku panjang lebar. “Aku dan Kai kuliah di universitas yang berbeda. Tapi karena Kai dan papaku akrab, Kai sering mampir ke apartmen untuk menonton pertandingan baseball bersama papa dan itu membuat kami sering bertemu. Lalu—“

“Bukan itu.” Kata Baekhyun memotong ceritaku. “Maksudku… Apa kalian sering berciuman?”

“Hah!?” seruku dengan wajah merah padam. “Kenapa kau… Penasaran?”

“Seberapa sering kalian bertengkar?”

“Memangnya itu penting, ya?” tanyaku kembali. Aku tidak tahu ungkapan apa yang harus aku berikan pada Baekhyun yang terus menanyakan hal-hal pribadi seperti ini. Tidak bisa dibilang polos, tapi tidak bisa dibilang pintar.

“Lalu apa kalian sudah pernah berhubungan intim?”

“BAEKHYUN!” seruku dengan suara keras dan aku baru saja terjebak perangkapnya. Sementara aku merasa dipermalukan dengan wajahku yang merah, Baekhyun tersenyum usil seakan berhasil mengerjaiku.

“Jadi… Apa jawabanmu?”

“Aku tidak akan menjawabmu.” Aku tidak ingin terjebak perangkapnya lagi. Jelas-jelas semua tingkahnya mulai dari aku memasuki ruangan bersama Wheein sampai sekarang adalah akting. Dan dia menggunakannya untuk memancing emosiku.

“Kalau aku dan pacarku…” kata Baekhyun memecah keheningan di antara kami. “Dia menjadi ciuman pertamaku. Kira-kira kami berciuman sudah sebanyak… Lebih dari sepuluh? Entahlah yang pasti tidak sebanyak kau dan Kai.”

Apa-apaan ini? Tanpa rasa bersalah sekarang dia yang mendongengkan cerita untukku. “Aku tidak menyuruhmu—“

“Kami sering bertengkar. Dan jumlah pertengkaran kami lebih banyak daripada seberapa sering kami berciuman. Aku dan dia bertengkar karena hal sepele. Tapi itu bukan karena aku dan dia sama-sama tidak mau mengalah. Itu karena sifat kami yang tidak cocok satu sama lain.” Jelas Baekhyun panjang lebar. “Aku pernah berhubungan intim dengannya. Tapi hanya coba-coba, sih. Tidak serius.”

Aku hanya berkata di dalam hati bahwa aku dan Kai sangat sering berciuman. Aku mencium Kai kapanpun aku mau, begitu juga dengan Kai. Bahkan saat acara prom night di sekolah, aku dan Kai disuruh berciuman di depan teman satu angkatan kami. Dan itu menjadi kenangan yang tak terlupakan bagiku.

Aku dan Kai jarang bertengkar. Tapi bukan berarti kami berbaikan dengan cepat. Aku —dan Kai—sedikit keras kepala jadi butuh waktu hingga satu minggu untuk saling introspeksi diri sampai akhirnya kami saling memaafkan. Terakhir soal berhubungan intim… Aku tidak perlu mengatakannya dalam hati. Aku takut bibirku mengeluarkan berbagai kalimat yang sebenarnya tidak ingin aku ucapkan.

Lalu selanjutnya Baekhyun mulai menceritakan beberapa pertengkarannya dengan sang pacar. Satu hal yang aku sadari, sepertinya Baekhyun sulit menjalin hubungan dengan perempuan. Ada sesuatu di hatinya yang tidak bisa menerima kehadiran perempuan, sama seperti Kai dulu. Tapi apa alasan Baekhyun?

“Siapa yang menyatakan perasaan? Kau atau… Dia?” tanyaku tapi aku tidak menyalahkan mulut maupun hatiku. Ini memang pertanyaan yang aku ingin tahu jawabannya.

“Dia.” Jawab Baekhyun singkat.

“Apa kau terpaksa menerimanya?”

“Apa?”

“Apa kau terpaksa berpacaran dengannya… Karena kau merasa bahwa kesempatan seperti itu tidak akan datang untuk kedua kalinya?”

Kali ini pertanyaanku tidak dijawab oleh Baekhyun. Itu berarti apa yang aku pikirkan benar. Baekhyun pasti membutuhkan waktu untuk memikirkan jawaban yang harus diberikan pada anak perempuan yang menyatakan perasaan padanya.

Alasannya mungkin sama dengan Kai saat aku menyatakan perasaan padanya. Bahwa dia belum siap menerima kehadiran orang lain dalam hidupnya karena takut menyakitinya. Aku selalu heran mengapa seorang laki-laki ingin melindungi perempuan yang dicintainya dengan mati-matian.

“Apa alasanmu?” tanyaku kembali tapi Baekhyun masih tidak menjawab.

Yang pasti alasan Baekhyun bukan karena harga diri. Tidak mungkin Baekhyun akan berpacaran dengan seseorang karena desakan temannya atau karena teman-temannya semua sudah punya pacar sedangkan dirinya belum.

“Kau kejam sekali, ya, bertanya hal seperti itu padaku?” ungkap Baekhyun setelah beberapa menit berlalu.

“Aku sudah menceritakanmu banyak hal tapi kenapa saat aku memintamu untuk menjelaskan—“

“Aku takut kau membenciku.”

“Apa?”

Sebuah kalimat keluar dari mulut Baekhyun. Sebuah kalimat yang sebenarnya tidak pernah aku pikir akan diucapkan olehnya. Aku takut kau membenciku.

Kenyataannya aku sudah membencinya. Setelah membiarkanku menantang bahaya dalam usaha menghentikan seorang pembunuh gila. Setelah membiarkanku disiksa oleh sang pembunuh karena aku tidak bisa dibuat pingsan olehnya. Setelah membiarkanku menunggu kehadirannya di Rumah Sakit selama 8 bulan tapi dia tidak pernah datang.

Aku membencinya karena dia telah membuatku menderita dan mengalami satu hal yang sebenarnya tidak ingin aku alami: kesepian. Memang ada Wheein yang menemaniku di Rumah Sakit bersama dengan Gongchan yang setiap hari datang selama dua jam. Tapi saat itu orang yang paling dekat denganku adalah Baekhyun. Tapi dia tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di Rumah Sakit untuk menjengukku.

Aku tidak butuh kehadiran papa yang mengunjungiku setiap mempunyai waktu untuk keluar dari pekerjaannya. Aku tidak butuh kehadiran Solar yang mengunjungiku diam-diam tapi pada akhirnya ketahuan oleh papa dan Solar dilarang untuk datang ke Rumah Sakit lagi. Bahkan aku tidak berharap bahwa orang yang pertama kali aku lihat begitu aku membuka mataku adalah mama.

Tapi aku butuh orang yang sudah aku percaya, orang yang bahkan sanggup meredakan tangisanku menjadi tawa. Byun Baekhyun orangnya. Tapi dia tidak pernah datang. Dia melarikan diri dan baru menampakkan diri dalam keadaan hilang ingatan setelah 12 tahun berlalu.

“Aku akan semakin membencimu jika kau tidak menjelaskannya padaku.” Kataku dengan gugup dicampur rasa takut. Aku berusaha terlihat berani. Aku berusaha terdengar menakutkan.

Baekhyun membalas kalimatku dengan menatapku dalam-dalam. Sinar di matanya telah menunjukkan bahwa dia telah siap untuk menjelaskannya padaku. “Baiklah. Aku akan bercerita. Tentang apa yang telah aku alami setelah aku kehilangan kesadaran di Namsan Tower. Tapi aku ingin kau berjanji padaku satu hal.”

“Janji?”

“Iya, janji.” Ulang Baekhyun. “Dan kau harus menepati janji itu. Setelah itu mari kita mengisi 8 hariku yang tersisa dengan berbagai hal.”

Aku langsung merasa bersalah begitu tahu bahwa Baekhyun akan menceritakan masa lalunya karena dia tahu waktunya untuk hidup di dunia ini sudah tinggal menghitung hari. Setidaknya aku bisa mengabulkan janjinya. “Apa yang harus aku janjikan?”

Dengan cepat Baekhyun mengangkat kakiku yang sebelah kanan dan meletakkannya di ranjangnya. Dia mengamati celana jeans yang aku pakai lalu menariknya ke atas dan memperlihatkan kakiku. “Apa yang kau laku—“

“Kau harus bercerita apa saja yang kau alami selama 8 bulan di Rumah Sakit. Serta bagaimana akhirnya kau harus memakai kaki palsu selama hidupmu.”

BERSAMBUNG

Annyeonghaseyo, scarlettkid di sini. Aku minta maaf karena tokoh lain seperti Solar dan Kai jadi jarang muncul. Aku minta maaf untuk penggemar tokoh-tokoh lain. Seperti biasa cantumkan saja kritik dan saran kalian di kolom komentar, siapa tahu part selanjutnya akan dipost lebih cepat. Terima kasih sudah membaca!

Part 17 will be published February 5th 2015

Advertisements

70 comments on “Skellington [Part 16]

  1. Pingback: Skellington [Part 22] | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: Skellington [Part 23] | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Hmmm kaki palsu, selama ini taeyeon pakai kaki palsu?
    apa ada bagian yang saya lewati yah…aku baru tahu?

  4. Pingback: Skellington [Part 24] | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s