Skellington [Part 15]

SKELLINGTON Part 15 by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar with EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04 | Part 05 | Part 06 | Part 07 | Part 08 | Part 09 | Part 10 | Part 11| Part 12 | Part 13 | Part 14

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik aku melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing

.

.

.

.

.

Wahai pesulap yang maha agung.

Kau tidak tahu betapa berbahayanya pekerjaanmu.

Aku sarankan kau untuk berhenti.

Tapi aku tahu kau tidak akan bisa.

Nyatanya aku menemukan hal luar biasa.

Melalui trik-trik sulapmu, kau menginspirasiku.

Berkatmu mungkin aku bisa.

Aku merencanakan sebuah pembunuhan.

Aku tidak meminta kau menghentikanku.

Karena ini adalah masalah pribadiku.

Pada akhirnya aku akan menyerahkan diriku.

Pada polisi yang nantinya akan mengungkap kasus ini.

Tapi aku ingin memberimu memberitahumu sesuatu.

Tentang pembunuhan yang akan aku lakukan.

Di sebuah tempat yang mengharuskanmu untuk melayang.

Di bawah sinar bulan purnama pada bulan ke-3.

Tidak ada penerangan lain yang dapat menyinari jalanmu.

Tempat yang dikelilingi oleh janji dan kesepakatan.

Bukan dengan ledakan, bukan dengan senjata tajam.

Tapi dengan sebuah tali yang tidak akan pernah putus.

Tidak jika kau tidak mengguntingnya.

Berikan kejutan pada detik-detik sebelumnya.

Kuhilangkan kesadarannya dan kuberi kehangatan tubuhku.

Meski dia tidak bisa mendengar tapi aku akan menjelaskan padanya.

Bahwa ini bukan untuk dendam, bukan untuk kepuasan diri.

Tapi cinta kasih yang meluap-luap dalam tubuhku.

Mengakhiri hidupku jauh lebih mudah daripada mengakhiri hidupnya.

Entah apa yang akan terjadi selanjutnya.

Pada akhirnya hanya kau yang mengetahui kebenaran.

Terima kasih atas bantuanmu, pesulap agung.

 

Begitulah bunyi dari serangkaian petunjuk yang dikumpulkan oleh Baekhyun. Saat dia membacakannya untuk Taeyeon kecil, tidak ada reaksi apapun yang ditunjukannya. Aku yang sedari tadi hanya bisa menyaksikan mereka berdua ingin berkata bahwa semua itu tidak ada hubungannya dengan mereka. Mereka hanya perlu kembali ke apartmen masing-masing dan menjalani aktivitas umum yang dilakukan anak 12 tahun.

“Bulan ke-3 artinya bulan Maret. Dan sekarang adalah bulan purnama.” Kata Baekhyun memulai pembicaraan setelah keheningan sempat menyelingi suasana yang menegangkan tersebut. “Di sini dia menuliskan tempat, waktu, serta bagaimana dia akan membunuhnya. Juga siapa yang akan dibunuhnya.”

Taeyeon kecil dengan wajah pucatnya bertanya, “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Dia memberi petunjuk bahwa dia tidak akan membunuh dengan ledakan atau senjata tajam. Dan kau harus memberikan kejutan kecil sebelum membunuhnya.” Lanjut Baekhyun lalu berusaha membentuk senyuman di wajahnya. “Itu artinya dia tidak akan membunuh kekasihnya dengan bom atau pisau. Melainkan dia akan menghilangkan kesadarannya dengan stun gun terlebih dahulu.”

“Bagaimana kau bisa tahu bahwa dia akan membunuh… Kekasihnya?” tanya Taeyeon kecil lagi.

Baekhyun menunjuk 2 buah baris yang berderet dalam kertas yang berisi tulisan tangannya sendiri. “Dia bilang dia tidak melakukannya untuk dendam atau kepuasan diri, tapi karena cinta. Siapa lagi kalau bukan kekasih sendiri?”

Taeyeon kecil hanya bisa mengangguk kemudian lanjut bertanya, “Lalu apa maksud dari baris tali yang tidak akan pernah putus kecuali jika kita mengguntingnya?”

“Kau ingat bahwa orang ini penggemar sulap appaku? Seorang pesulap sering menggunakan tali yang tak terlihat oleh mata jika melakukan sebuah sulap yang menyebabkan seolah sebuah benda terangkat. Dan tali itu tidak akan putus seberapa beratpun benda yang diangkat.” Jelas Baekhyun panjang lebar. “Dan itu adalah senar gitar.”

“Senar gitar.” Ulang Taeyeon kecil.

Langsung saja aku teringat saat mereka –Taeyeon kecil dan Baekhyun—menonton pertunjukan sulap akhir tahun saat kelas 4 SD dan sewaktu Baekhyun berusaha merebut syal yang melingkari leher Taeyeon kecil yang duduk di sebelahnya, appa Baekhyun menjentikkan jarinya yang membuat kursi Baekhyun terangkat tinggi. Ternyata benda yang menyebabkan itu bisa terjadi adalah senar gitar.

“Sebenarnya senar piano juga bisa tapi appa lebih sering menggunakan senar gitar.” Ungkap Baekhyun. “Apa kau penasaran di mana dia akan melakukan pembunuhan ini?”

Sekilas Taeyeon kecil terlihat ragu-ragu tapi karena tidak tahan dengan kilatan mata Baekhyun, akhirnya dia mengangguk. “Sebuah tempat yang mengharuskanmu untuk melayang, ya? Apa maksudnya?”

“Maksudnya kita harus menaiki kereta gantung. Jadi lokasinya adalah tempat yang tinggi. Tempat tinggi yang tidak mempunyai penerangan saat sudah malam hari.” Jawab Baekhyun. “Dan itu adalah lantai tertinggi Namsan Tower. Tempat yang terkenal karena banyak pasangan yang memasang locker di pagarnya.”

“Yang penuh dengan janji dan kesepakatan.” Lanjut Taeyeon kecil lalu Baekhyun mengangguk. “Tapi dia memberi petunjuk bahwa tidak ada penerangan lain yang dapat menyinari jalan. Berarti… Namsan Tower akan gelap gulita?”

“Mungkin itu artinya orang lainpun tidak akan bisa melihat dia beraksi.” Jawab Baekhyun ragu-ragu. “Yang penting kita harus cepat ke Namsan Tower. Tujuan kita adalah menghentikannya.”

Justru kalian yang harus dihentikan, pikirku. Dua anak berusia 12 tahun berpikir bisa menghentikan seseorang melakukan pembunuhan. Apalagi ini malam hari. Aku tahu bahwa mereka akan menempuh bahaya dan aku ingin menghentikan mereka. Tiba-tiba saja aku mempunyai ide untuk mengunci pintu apartmen Taeyeon kecil. Kalau aku menguncinya, mereka tidak akan bisa keluar bukan?

Kau ingin mati, ya?

Tiba-tiba suara yang sedari tadi hanya diam mengawasi tingkahku, yang mengatur semua perjalanan kembali ke masa lalu ini, terdengar. Siapa lagi kalau bukan Sandara Park, pemimpin dari proyek Skellington yang telah memberiku serum memori.

Jika kau berbuat macam-macam, serum yang ada di tubuhmu akan langsung menewaskanmu.

Aku menggelengkan kepala dan menyadari bahwa waktuku semakin sedikit. Baekhyun dan diriku saat kecil akan berangkat sebentar lagi dan aku harus menghentikan mereka.

Kau tidak boleh melakukan itu, Taeyeon. Itu sama saja dengan kau mengubah masa depan. Bukankah sudah kubilang, bahwa jika kau melawan pengaruh serum itu, kau bisa mati seketika.

“Kau punya uang?” tanya Baekhyun pada Taeyeon kecil. “Kita bisa ke Namsan menggunakan taxi. Hanya butuh waktu sekitar 10 sampai 15 menit dari apartmen ini menuju Namsan Tower.”

Taeyeon kecil mengangguk. “Aku akan membayar saat kita menuju ke sana. Ongkos taxi saat kita pulang harus kau yang bayar.”

Baekhyun tersenyum lalu menggenggam tangan Taeyeon kecil dengan erat. “Terima kasih sudah mau menemaniku.”

Melihat senyuman Baekhyun yang terlihat bahagia, otomatis senyum juga mengembang di bibir Taeyeon kecil. “Kau benar-benar keren saat kau serius memecahkan misteri. Mungkin ada untungnya juga untukku karena aku bisa melihat sisi dirimu yang lain.”

Bersama-sama mereka keluar dari apartmen Taeyeon kecil, menuju lift dan menekan tombol untuk turun. Diam-diam tanpa disadari mereka aku juga masuk ke dalam lift dan berharap semoga pengaruh serum akan segera berakhir. Aku tidak tahan dan tidak mau mengulangi apa yang terjadi selanjutnya.

Tapi sepertinya Sandara Park tidak mempunyai rasa kasihan sedikitpun terhadapku. Dia bahkan membiarkanku mengikuti mereka hingga masuk taxi dan sampai ke tempat pemberangkatan kereta gantung yang akan membawa kami ke Namsan Tower.

Detak jantungmu tidak stabil, Taeyeon. Sudah kukatan jangan melawan pengaruh serum. Aku janji ini akan menjadi yang terakhir.

Kereta gantung yang menuju arah Namsan Tower hanya ada satu yaitu yang membawa Baekhyun, Taeyeon kecil, dan diriku yang entah mengapa tubuhku bergerak sendiri. Sepanjang perjalanan aku bisa melihat banyak orang yang kembali dari Namsan. Kuperhatikan jam dinding yang menempel di bagian dalam kereta gantung. Sekarang jam 9 malam. Mengapa tidak ada larangan berupa anak kecil dilarang mengunjungi Namsan di atas jam 6 atau apapun yang bisa menghentikan mereka berdua?

Pintu kereta gantung terbuka secara otomatis dan aku langsung disambut oleh angin malam yang dingin. Kami turun dari kereta gantung dan mendapati orang-orang yang sedang berbincang atau menikmati pemandangan Seoul dari ketinggian.

“Bagaimana kau akan menghentikan si pembunuh jika kau tidak tahu sosoknya?” bisik Taeyeon kecil pada Baekhyun yang nyaris tidak bisa didengar olehku.

“Kita harus mencari tempat yang sepi.” Jawab Baekhyun penuh dengan keyakinan kemudian sekali lagi dia menggenggam tangan Taeyeon kecil. “Ayo, ikut denganku.”

Baekhyun dan Taeyeon kecil berjalan melawan kerumunan yang sedang mengantri untuk kereta gantung yang akan membawa mereka pergi dari Namsan. Satu per satu orang pergi dan pada akhirnya setelah jam setengah 10 malam, hanya ada beberapa pasangan yang masih menetap di Namsan.

“Um, Baekhyun.” Kata Taeyeon kecil ragu-ragu.

“Apa?” tanya Baekhyun dengan nada yang seperti biasa seakan dia datang tidak untuk menghentikan sang pembunuh, melainkan berwisata untuk merayakan kelulusan mereka.

“Aku ingin ke toilet.”

Saat Taeyeon kecil menjawab seperti itu, tiba-tiba angin malam yang dingin menusuk tulang-tulangku. Aku ingin menghentikannya. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, sebuah peristiwa yang tidak mungkin bisa dihapus dari ingatanku. Tapi seakan bisa membaca pikiranku, tubuhku mematung seketika.

“Ukh… Biarkan… Aku pergi!” seruku tapi tidak ada satupun orang yang melihat ke arahku. Tentu saja aku tidak menunjukkan kalimat barusan pada siapapun yang berada di Namsan Tower, melainkan untuk Sandara Park yang kuyakini sebagai dalang yang membuat tubuhku tidak bisa bergerak.

Apa kau sudah tidak sayang pada nyawamu? Seandainya kau bisa melihat kondisimu sekarang yang tertidur dengan keringat dingin di depanku. Aku yakin kau akan segera mengurungkan niatmu.

“Hentikan!” seruku. “Hentikan. Hanya ini bagian yang tidak ingin aku lihat. Sudah cukup kau melihat ke masa laluku. Apalagi yang kau cari? Apalagi yang ingin kau pastikan? Biarkan aku bangun, dasar monster sialan!”

Sekali lagi kau menyebutkan kata-kata seperti itu, kau akan jatuh dan melihat darahmu mengalir dari tubuhmu. Kau tidak mungkin ingin mengakhiri hidupmu di sini, bukan? Sadarlah, Taeyeon.

Tolong aku. Siapapun tolong aku. Aku harus bisa terbangun dari mimpi buruk ini. Aku rela jika aku mati karena serum tapi aku yakin Sandara Park tidak akan membiarkanku. Seseorang tolong hentikan Sandara Park. Jebal.

Saat aku melihat ke sekeliling, sosok Taeyeon kecil sudah menghilang. Tubuhku langsung lemas dan aku jatuh tertunduk ke lantai. Tiba-tiba penerangan di Namsan Tower menjadi gelap bersamaan dengan tubuhku yang tidak bisa bergerak lagi.

Sebuah bayangan hitam mendekati Baekhyun yang berada tidak jauh dariku dan membuatnya pingsan dengan stun gun. Begitu juga dengan para pengunjung lain yang masih menetap di Namsan Tower entah untuk bersenang-senang atau yang sedang mengantri untuk kereta gantung.

Satu per satu orang terjatuh ke lantai dalam keadaan tak sadarkan diri. Yang masih berdiri tegak adalah sang pembunuh yang baru saja melihat sosok Baekhyun. Aku langsung merinding. Sang pembunuh pasti pernah melihat sosok Baekhyun yang sering menemani appanya di setiap pertunjukan sulap yang ada.

Benar saja firasatku karena sang pembunuh merogoh saku Baekhyun dan berhasil mendapatkan kertas yang berisi petunjuk-petunjuk pembunuhan yang sudah dikumpulkan oleh Baekhyun.

“Pesulap itu… Mengirim seorang bocah untuk menjadi saksi mata?” gumamnya lalu dengan cepat dia menghancurkan kertas tersebut dengan merobeknya menjadi bagian-bagian kecil dan membuangnya ke bawah bersama dengan stun gun yang tadi dia gunakan.

Sang pembunuh bangkit berdiri dan mendekati seorang wanita yang terbaring lemas. Dari sakunya sang pembunuh mengeluarkan tali dan mengikat tubuh wanita tersebut. Dia juga mengeluarkan sebuah tali yang tak terlihat yang menurut Baekhyun itu adalah senar gitar.

Sang pembunuh tidak langsung membunuh kekasihnya tersebut. Dia terlihat membisikkan sesuatu di telinga wanita itu dan aku langsung teringat akan kalimat-kalimat yang ada di kertas petunjuk Baekhyun. Kalimat itu berbunyi, Kuhilangkan kesadarannya dan kuberi kehangatan tubuhku. Meski dia tidak bisa mendengar tapi aku akan menjelaskan padanya. Bahwa ini bukan untuk dendam, bukan untuk kepuasan diri. Tapi cinta kasih yang meluap-luap dalam tubuhku.

            Lalu yang terjadi selanjutnya adalah sang pembunuh menggunakan senar gitar tersebut untuk menjerat leher sang wanita dan mencekiknya hingga tewas. Kini nafas yang terdengar hanya nafas sang pembunuh. Aku tidak tahu alasannya membunuh kekasihnya sendiri tapi jelas air mata menetes dan mengaliri pipinya. Membunuh seseorang memang berat. Menghapus seseorang dari hidupmu memang sesak rasanya.

“Kau siapa?”

Kepalaku menoleh bersamaan dengan sang pembunuh dan betapa terkejutnya diriku saat melihat sosok diriku saat kecil alias Taeyeon kecil yang berdiri tak jauh dari sang pembunuh. Dia baru saja kembali dari toilet dan langsung menyaksikan pembunuh yang berlangsung tepat di depan matanya.

“Kau penggemar appa Baekhyun? Kau yang memberi petunjuk bahwa kau akan melakukan pembunuhan malam ini?” tanya Taeyeon kecil dengan suara pelan. Dia mundur beberapa langkah untuk menjauhi sang pembunuh tapi sang pembunuh malah mendekatinya.

Sang pembunuh merogoh sakunya seakan mencari sesuatu tapi dia baru sadar bahwa dia sudah membuang stun gunnya. Dengan wajah pasrah sang pembunuh bertanya, “Jadi… Kau datang bersama bocah yang terbaring di sana?”

Melihat arah yang ditunjuk tangan sang pembunuh, Taeyeon kecil berseru, “Baekhyun!!”

Dengan cepat sang pembunuh menutup mulut Taeyeon kecil. Tubuh Taeyeon kecil yang mungil memudahkan sang pembunuh untuk mengangkat tubuhnya di udara. “Apa kau tahu anak kecil? Bahwa ada pepatah ‘kau terlalu banyak tahu’? Sepertinya kau lebih pintar dari anak pesulap itu. Apa kau yang menyusun petunjuk yang kuberikan?”

Taeyeon kecil menggeleng dengan mata berkaca-kaca.

“Jelas kau yang menyusun petunjuknya. Rupanya pesulap itu telah mengecewakanku. Dia mengirim bocah, seorang perempuan untuk melihat ini semua. Apa yang dia pikirkan? Atau kau datang kemari karena kau berpikir membunuh itu… Sesuatu yang sedap untuk dilihat?” tanya sang pembunuh dengan nada dingin sedangkan Taeyeon kecil terus saja menggeleng.

“JANGAN BERBOHONG PADAKU!”

Sang pembunuh menyeret tubuh Taeyeon kecil dan membantingnya ke lantai. Aku hampir putus asa karena selain tubuhku yang tidak bisa bergerak, tak ada satupun yang terbangun karena suara bantingan yang keras itu.

Tubuh Taeyeon kecil diseret lagi menuju pintu tangga darurat. Sang pembunuh membuka pintu tersebut dan melempar Taeyeon kecil ke dalam deretan tangga gelap dan segera menutupnya begitu selesai.

“SANDARA PARK!” teriakku dengan pipi yang basah karena air mata. “HENTIKAN SEMUA INI!”

Tiba-tiba saja tubuhku bisa bergerak bebas yang membuatku terdiam sesaat tapi aku langsung berlari menuju pintu tangga darurat dan berusaha membukanya. Anehnya pintu itu terkunci dan perlahan darah mengalir dari hidungku. Kemudian darah keluar dari dalam mulutku.

Seketika aku memuntahkan darah banyak sekali. Kepalaku pusing dan kesadaranku perlahan memudar. Sampai aku melihat sosok Baekhyun yang ada di atasku. Tapi itu bukan Baekhyun berusia 12 tahun. Itu adalah Baekhyun yang berusia 24 tahun dengan sosok Skellingtonnya.

.

.

.

.

.

            Bisikan-bisikan saling menyalahkan terus kudengar. Di antara bau karbol yang menusuk hidung, di antara suara lenguhan orang-orang, suara sengalan napas dari seseorang di ujung ruangan, suara deritan pintu besi yang berkarat, suara tangis perempuan berbaur dengan suara roda-roda kereta mayat yang didorong tergesa-gesa, suara langkah kaki-kaki para suster yang kerkecipukan, suara kepalaku yang mendengung menahan penat.

Semua itu masih kudengar. Pikiranku terasa penuh mendengarnya seperti genangan air kemih dalam tempolong yang minta segera dibuang ke kakus. Infus telah beberapa kali berganti mengaliri tubuhku dan aku tidak sanggup membuka kelopak mataku. Tubuhku terasa kaku tidak dapat bergerak seperti sebuah patung di taman. Sementara mulutku seperti disumpal seonggok daging tidak dapat membuka. Orang-orang mungkin mengira aku koma. Aku tidak sadar, sehingga dengan seenaknya mereka membicarakan aku. Padahal aku mendengar semuanya.

Dingin malam terasa menggigit lebih dari biasa, menusuk merembes lewat pori-pori dinding langsung menembus selimut lorengku dan perban yang melilit di sebagian tubuhku. Kemudian memasuki jantung yang kian terasa perih. Sangat perih. Aku ingin menjerit sekerasnya menahan sakit. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya mendesis lirih dalam mulutku yang tetap bungkam. Dalam keadaan seperti ini aku merasa begitu dekat dengan kematian. Seolah-olah rasa dingin itu adalah hembusan napas para malaikat maut yang siap menjemput ajal. Sementara malam merambat perlahan dalam pekatnya hitam mataku.

Dari ujung ruangan masih terdengar erangan dan sengal napas seseorang, juga keluh para perawat yang harus menghabiskan sisa malamnya. Sisanya Cuma terdengar suara dengkuran orang-orang yang terlelap dalam mimpi. Entah mengapa malam ini aku begitu gelisah. Mungkin karena aku merasa begitu dekat dengan kematian.

Baekhyun… Sebuah nama tiba-tiba berdengung di kepalaku.

Aku berusaha mengingat kejadian, entah apa yang terjadi beberapa jam atau beberapa hari sebelumnya, yang menyebabkan semua ini. Sebelumnya aku melakukan penjelajahan ekstrim dan tidak menyenangkan ke masa laluku. Semua itu karena satu orang yang seenaknya melihat ke dalam ingatanku sementara dia terus mengancamku bahwa aku bisa saja mati. Aku tahu aku pasti hampir mati. Karena petulangan itu berakhir dengan tubuhku yang terbaring lemas di lantai, menyaksikan darahku mengalir, dan aku tidak bisa membedakan apakah aku sudah terbangun dari mimpi atau belum. Lalu semuanya gelap.

Dan setelah beberapa waktu, entah berapa lama, aku tersadar oleh bau karbol rumah sakit ini. Aku tersadar oleh bisikan-bisikan orang-orang yang tadinya saling menyalahkan. Aku tersadar oleh kenyataan pahit ini. Tapi, Baekhyun, aku tidak menyalahkanmu atas semua ini. Aku tidak mampu menyalahkanmu. Betapa keparatnya jika aku menyalahkanmu.

Kau di sebelahku sekarang. Begitu dekat. Aku tahu itu. Walau aku tidak bisa melihatmu. Aku tahu. Aku tahu dari bisikan-bisikan orang yang mengelilingiku. Dari teman-teman kita, dari adikku sendiri, dari petugas laboratorium yang cerewet itu, dokter dingin, dan orang-orang yang datang untuk menjengukku. Baekhyun. Apakah yang ada dalam anganmu sekarang. Apakah sama denganku. Apakah kau memikirkan aku sekarang, seperti aku memikirkanmu. Ah… Tidak mungkin kau memikirkanku. Setelah apa yang telah kulakukan padamu. Setelah sikapku yang seperti orang tak berpendidikan di depanmu.

Aku tidak peduli berapa infus yang harus diganti. Aku tidak peduli walau aku hidup dalam gelap. Aku tidak peduli bercak-bercak merah yang terus membaur di tubuhku. Aku tidak peduli bau pesing air seni yang telah meninggalkan noda karat di sprei. Aku tidak peduli sampai dinding bangsal ruangan ini penuh sarang laba-laba. Aku tidak peduli dengan bisikan-bisikan yang terus saling menyalahkan.

Malam ini aku gelisah lagi seperti malam-malam sebelumnya. Tapi malam ini kegelisahanku berkurang karena status hidupku. Aku yang sebelumnya benar-benar takut akan kematian, tadi siang kudengar di antara bisikan-bisikan yang saling menyalahkan, kudengar bahwa sebentar lagi aku akan sadar. Mereka membicarakan hidupku yang bisa diselamatkan.

Seseorang, mungkin dokter, mengatakan bahwa tidak ada kerusakan parah yang dialami oleh tubuhku. Ya Tuhan… Aku baru tahu betapa manis rasanya bagi seseorang untuk mengetahui keselamatannya sendiri. Sebelumnya aku benar-benar takut. Awalnya aku tidak takut untuk mati. Tapi ternyata aku ingin hidup terus karena sedang mencinta. Aku mungkin ingin mati tapi tidak sekarang. Tidak, sebelum aku benar-benar bisa memaafkan Baekhyun. Sebelum orang-orang mulai membuat keputusan seenaknya.

Mimpi tetaplah mimpi, dan kenyataan menyajikan sesuatu yang lain, bahkan yang tidak pernah diharapkan. Malam kian kelam. Seseorang mengatakan pada seseorang lain bahwa sekarang jam 11 lewat 25 menit. Tubuhku kian hangat. Aku dapat mendengar suara gemeretak gigi dalam mulutku yang tertutup. Aku bisa merasakan sesuatu yang menutupi hidung dan mulutku, yang membuat napasku semakin teratur setiap detiknya. Sejenak bisikan-bisikan itu berhenti, berganti dengan suara setengah menjerit seorang perempuan begitu aku berusaha membuka mataku.

“Taeyeon! Kau sadar, chagiya. Ya Tuhan! Kau benar-benar sadar.”

Aku tidak bisa membuka mataku selebar yang aku inginkan tapi entah mengapa air mata menetes. Aku benar-benar lega dari dalam hatiku karena aku bisa melihat sosok yang benar-benar aku cintai dalam hidupku, berada di atas tubuhku yang membuatku ingin segera menjatuhkannya ke dalam pelukanku. Orang itu adalah Kai.

Eonni! Eonni ingat padaku, kan? Aku Solar. Aku Kim Yongsun. Adik perempuanmu!” seru suara perempuan yang terdengar pertama kali saat mataku terbuka.

Dengan sekuat tenanga, aku berusaha untuk mengangguk dan berhasil mendapat pelukan hangat dari Solar, adikku. Dia menubruk tubuhku yang masih kesakitan. Tangannya erat meraih tanganku. Diciumnya beberapa kali hingga basah oleh tetesan air amtanya. Rambutnya menusuk menyentuh wajahku dengan halus, seolah-olah berusaha membangunkan semua hasratku. Aku tetap diam. Tapi aku mengelus rambutnya dan menyeka butir bening yang keluar dari matanya.

Tidak hanya Kai dan Solar, ada Jessica, Dokter Yonghwa dan orang tak terduga yang mengunjungiku, Wheein. Tapi mataku tidak bisa lepas dari sosok Sandara Park yang berbaring di ranjang sebelahku. Tubuhnya mungkin tidak separah aku tapi jelas dia tidak sadarkan diri dan mengalami luka yang cukup besar di lehernya.

Seakan bisa membaca pikiranku, Wheein memulai pembicaraan dengan menjawab rasa penasarannnya, “Dia pantas mendapatkannya. Dia telah membuat hidupmu dalam bahaya. Sekarang mari kita tunggu kapan dia sadar dan apa kata-kata pertama yang akan keluar dari mulutnya.”

“Wheein.” Sahut Solar cepat lalu menggeleng. “Yang terpenting sekarang adalah Taeyeon eonni sadar dan dia baik-baik saja. Maukah kau keluar dan mencari dokter? Atau perawat yang sudah menemani eonni selama 3 hari ini?”

“3 hari?” tanyaku lalu Solar dan Kai mengangguk bersamaan dengan Wheein yang keluar dari ruangan. “Apa yang sudah terjadi?”

Seakan ragu untuk menjawab, Solar tersenyum dan menjawab dengan nada yang lembut, “Aku akan menceritakan semuanya pada eonni saat waktunya sudah tepat. Sekarang eonni baru saja sadar, apa ada hal yang eonni inginkan? Apa eonni lapar?”

Aku menggeleng cepat dan menatap Solar dengan tatapan memohon. “Kumohon. Ceritakanlah padaku apa yang terjadi. Itu satu-satunya hal yang aku ingin tahu.”

Kai dan Solar saling memandang satu sama lain. “Kau menyaksikannya sendiri, Solar. Ceritakan pada kakakmu.” Kata Kai lalu mengangguk ke arahku.

Solar menarik napas panjang sebelum tersenyum dan menatapku. Bibirnya yang lebar terbuka dan berbagai kalimat keluar dari mulutnya. “Apa yang eonni saksikan saat berada di bawah pengaruh serum memori, selain dilihat oleh Sandara Park, semua yang ada di ruang pertemuan juga menyaksikannya bersama-sama.”

Kenyataan yang diberikan Solar terlalu mendadak untuk aku terima. Selama ini aku pikir yang melihat masa laluku hanya Sandara Park seorang. Tapi ternyata orang-orang yang saat itu berada di ruang pertemuan seperti Jessica, Dokter Yonghwa, bahkan adikku sendiri melihat masa laluku di mana ada Baekhyun di dalamnya. Keterlaluan.

Karena Solar tidak kunjung melanjutkan ceritanya, Jessica yang sedari tadi diam maju beberapa langkah mendekati ranjangku dan berkata, “Biar kujelaskan. Pengamanan di lantai 9 memang ketat, tapi pengamanan di lantai lain justru menjadi longgar. Tidak hanya yang ada di ruang pertemuan, semua pekerja di gedung Skellington fokus melihat masa lalumu. Akibatnya ada satu Skellington yang berhasil kabur dari ruang inapnya.”

“Yang menemani Skellington itu adalah Wheein.” Sahut Dokter Yonghwa. “Tapi bukannya malah menghentikan Skellington itu, Wheein malah membiarkannya keluar dari ruang inapnya dan mengajaknya ke lantai 9 tempat Sandara Park mengawasimu selama kau berada di bawah pengaruh serum.”

Jessica mengangguk cepat. “Mungkin aku lupa memberitahumu tapi semua sensor yang diaktifkan di lantai 9 hanya bisa mendeteksi manusia. Jadi Skellington itu dengan mudahnya berhasil menembus pengamanan di lantai 9. Kemudian dia membuat Sandara Park pingsan dan menekan banyak tombol dengan sembrono tapi dia berhasil membangunkanmu dari pengaruh serum.”

Mata Kai membulat menatap Jessica. “Darimana kalian bisa tahu sedetail itu?”

“Ada kamera pengawas di seluruh gedung. Tentu saja kami bisa tahu.” Jawab Jessica dengan nada putus asa. “Lalu di sinilah kau, Taeyeon. Baru terbangun setelah 3 hari berlalu. Lakukan semua hal yang bisa kau lakukan untuk membalas apa yang dilakukannya. Kau punya waktu 8 hari.”

Tiba-tiba Wheein membuka pintu dengan membawa dokter yang segera memeriksaku. “Tunggu—“ tapi dengan cepat Jessica serta Dokter Yonghwa meninggalkan ruangan. Menurut dokter aku bisa segera pulang setelah merasa lebih baik dari sekarang. Pernyataan dokter membuat semua orang lega, terutama Solar.

“Aku tidak mengerti.” Kataku setelah dokter selesai memeriksaku dan pergi. “Apa maksud Jessica? Aku harus membalas perbuatan siapa? Dan kenapa harus 8 hari?”

Wheein yang kehadirannya tidak kusadari mendengus kesal. “Apa kau kehilangan ingatanmu? 8 hari adalah waktu yang tersisa sebelum kontrakmu dengan proyek Skellington berakhir. 8 hari adalah waktu yang bisa kau gunakan untuk menghabiskan waktu bersama Byun Baekhyun.”

Eonni harus membalas perbuatan Baekhyun selama waktu yang tersisa itu.” Lanjut Solar tanpa ragu-ragu. “Karena Skellington yang menyelamatkan eonni adalah Baekhyun.”

BERSAMBUNG

Annyeonghaseyo, scarlettkid di sini. Akhirnya flashback yang panjang telah selesai! Apa kalian sudah puas? Aku berusaha keras agar kalian mengerti jalan ceritanya dari sudut pandang Taeyeon yang menyaksikan kembali masa lalunya.

Setelah ini cerita akan fokus pada hari-hari Taeyeon yang tersisa sebelum kontrak Skellingtonnya selesai. Aku akan berusaha agar karakter lain tetap muncul, meski cerita akan fokus pada Taeyeon dan Baekhyun. Aku berharap kalian tidak bosan untuk terus membaca karena 8 hari selanjutnya adalah bagian terseru dari keseluruhan fanfic ini.

Seperti biasa aku meminta kritik dan saran dari kalian. Terima kasih sudah membaca dan sampai berjumpa lagi di part 16!

Part 16 will be published January 22nd 2016

Advertisements

61 comments on “Skellington [Part 15]

  1. Pingback: Skellington [Part 24] | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s