Love, That One Word (Chapter 11)


NADIA’s PROUDLY PRESENT:

Title : Love, That One Word

Author : Nadia S. Pajriati

Ratting : PG-17

Genre : Romance, Family, Friendship, Marriage Life, Sad

Length : Multi-Chapter

Main Cast : Kim Taeyeon, Byun Baekhyun, Xi Luhan, Bae Irene

Other Cast : Find it by yourself

Disclaimer : I own nothing here except the plot/storyline. If you see any similarities from this story with another/your story, it’s definitely a coincidence. This is purely from my imagination and i never intended to plagiarize any work. Please, DO NOT plagiarizing OR re-publish my story without my permission.

Credit poster ArtFantasy @leesinhyo art

Preview : Teaser & Introducing Cast, Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5, Chapter 6, Chapter 7, Chapter 8, Chapter 9, Chapter 10

Preview of chapter 10

Bibir Baekhyun bergetar, saat itu juga entah kenapa dia ingin menangis. Menangis karena bahagia tentu saja. “Kau hamil, itu berarti aku akan menjadi seorang Ayah.”

Taeyeon mengangguk. “Dan aku akan menjadi seorang Ibu.” Ujarnya. “Apakah oppa senang?.”.

“Tentu saja. Apakah ada suami yang tidak senang ketika istrinya memberi tahu jika dirinya sedang hamil?.” Tanya Baekhyun. Tangannya menangkup wajah Taeyeon, lalu menghujani bibir gadis itu dengan sebuah ciuman.

“Oppa, geumanhae.” Gadis itu tertawa kecil, tangannya mencoba menghentikan pergerakan wajah pria itu. Namun dia gagal, kecupan Baekhyun terus berlanjut. Bahkan sekarang bukan hanya kecupan yang pria itu berikan. Melainkan sebuah ciuman dalam, seakan ciuman itu mengekspresikan rasa bahagianya terhadap Taeyeon.

Beberapa menit kemudian ciuman itu berhenti. Baekhyun menjauhkan wajahnya dari Taeyeon, namun kedua tangannya masih setia menangkup wajah itu.

“Yeon-ah, aku sangat mencintaimu.”

Mendengar itu Taeyeon tersenyum lembut. Jika tadi Baekhyun-lah yang mencuri kesempatan untuk mengecup bibirnya, kali ini terbalik dan justru dirinya yang mengecup bibir pria itu cukup lama.

“Aku juga mencintaimu, oppa.”

Dan mereka kembali saling menyatukan bibir mereka. Berciuman di bawah sinar rembulan, ditemani dengan suara kembang api di bawah bukit sana. Sungguh malam yang sangat sempurna.

Chapter 11

Words that my heart says
I love you more than myself
I want to love you

7 Bulan kemudian. . .

Yuri dan Chanyeol menatap seorang gadis yang tengah makan lahap di depannya. Kim Taeyeon, bukan, Byun Taeyeon, ini merupakan piring makanan kedua yang hampir dihabiskannya. Entah karena lapar atau dia memang menyukai masakan Lay, sampai-sampai untuk mendapatkan piring kedua ini dia harus mengeluarkan jurus aegyo-nya.

Mereka bukan tidak mau memberikan Taeyeon kembali makanan tadi, hanya saja, sebelum dia makan di Restoran Lay, dia juga sempat makan banyak di apartemennya bersama Yuri.

“Baru kali ini aku melihat wanita hamil makan sebanyak ini.”

Lay memasuki ruangan khusus miliknya dengan tangan memegang sebuah gelas berisi air teh hangat. Sesampainya di tempat Taeyeon duduk, pria itu meletakkan gelas itu tepat di depannya.

“Cepat habiskan makannya, dan minumlah ini.” Ujar Lay dimana dibalas dengan anggukan oleh Taeyeon. Dia mengambil tempat duduk di samping Chanyeol, menghadap Taeyeon. Dan sama seperti Yuri dan Chanyeol, Lay juga menatap Taeyeon kagum.

“Kau akan menunggu di sini sampai Baekhyun kembali dari Busan?.” Tanya Lay.

Taeyeon mengangguk menjawab pertanyaan Lay. “Emm, tadi pagi aku sudah memberitahu oppa kalau aku akan menunggunya di sini. Dan kemungkinan oppa sampai di sini malam nanti.”

“Taengoo-ah, apa Yuri tidak memberimu makan tadi pagi sampai-sampai kau makan sebanyak ini? Atau jangan-jangan semalam kau juga tidak diberi makan olehnya?.” Tanya Chanyeol masih dengan mata terfokus pada Taeyeon.

Yuri yang duduk di samping kanannya memukul kepala pria itu keras, membuatnya meringis kesakitan. “Yak, kenapa kau memukulku?.” Omelnya.

Yuri memutar kedua bola matanya malas. “Habisnya kau menyebalkan.”

“Menyebalkan apa? Aku hanya bertanya.”

“Justru itu, pertanyaanmu sungguh menyebalkan. Asal kau tahu, aku tidak mungkin tidak memberinya makan. Baekhyun akan membunuhku jika aku tidak menjaga istrinya dengan baik.” Sanggah Yuri.

Ya, selama dua hari ini Baekhyun berada di Busan bersama ayahnya untuk urusan pekerjaan. Berhubung Boa sedang sibuk dengan launching desain produk terbarunya, dan Ny. Byun yang juga ikut sibuk membantu anaknya, Baekhyun akhirnya meminta Yuri untuk meluangkan waktunya untuk menjaga Taeyeon.

Awalnya Taeyeon menolak dan meyakinkan Baekhyun kalau dia akan baik-baik saja. Toh, hanya dua hari Baekhyun meninggalkannya ‘kan? Namun, Baekhyun yang sejak mengetahui Taeyeon sedang hamil, dia berubah menjadi sangat over protective. Dia benar-benar tidak ingin sesuatu terjadi terhadap istrinya. Dan pada akhirnya Taeyeon ‘pun menyerah dan membiarkan Baekhyun melakukan apa yang dia mau.

“Kalian ini kenapa suka sekali bertengkar?.” Lay menatap Yuri dan Chanyeol bergantian, keningnya mengkerut heran. Yuri dan Chanyeol adalah sepasang kekasih. Ya, mereka kembali menjalin hubungan empat bulan lalu. Terima kasih kepada Taeyeon dan Baekhyun, karena berkat mereka Chanyeol dan Yuri kembali sering bertemu.

Namun saat itu Yuri juga cukup kesal, ketika Taeyeon dan Jongin menggodanya. Bagaimana tidak, sebelumnya ‘kan Yuri sempat bilang jika sampai kapanpun dia tidak akan kembali jatuh ke pelukan Chanyeol si playboy.

“Kalau kalian bertengkar terus, kapan kalian akan menyusulku dan Baekhyun oppa?.” Taeyeon, yang telah menghabiskan makanannya mengalihkan perhatian kepada sahabatnya yang kini pipinya tengah bersemu merah.

“Menyusul apa, Taeng? Maksudmu menikah?.” Tanya Yuri dengan mata membulat.

“Menurutmu? Memang apa lagi selain menikah? Apa jangan-jangan kau ingin hamil terlebih dahulu baru menikah, begitu?.”

“Yakk, kau gila?! Tentu saja tidak!!.” Yuri menjawab dengan nada suara yang cukup tinggi. Di sampingnya, Chanyeol tersenyum geli sedangkan Lay tak kuasa menahan tawanya.

“Apa aku mengganggu?.”

Sebuah suara terdengar dari arah pintu. Mereka menoleh melihat siapa yang datang.

“Luhan oppa!!.” Taeyeon adalah yang paling semangat ketika mengetahui siapa yang muncul dari balik pintu. Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum menatap Luhan.

“Tentu saja kau tidak mengganggu, masuklah Luhan.” Ujar Lay.

“Sebenarnya aku tidak akan lama-lama hyung, hanya ingin membawa Taeyeon sebentar ke suatu tempat. Apa tidak apa-apa?.” Tanya Luhan.

Taeyeon menatap Luhan bingung. Di kepalanya sekarang terdapat pertanyaan besar, Luhan ingin membawanya kemana? Sedangkan Chanyeol, Lay dan Yuri yang sudah tahu alasan Luhan ingin membawa Taeyeon pergi menganggukan kepala mereka.

“Tentu saja oppa.” Ujar Yuri. “Asalkan oppa membawa Taeng kembali kesini dengan cepat. Oppa tidak mau ‘kan jika Baekhyun oppa mengamuk nanti kalau tahu oppa membawa Taeyeon pergi? Haha.” Lanjutnya.

Mereka semua tertawa mendengar ujaran Yuri. Sedangkan Taeyeon menundukkan kepalanya malu. entah kenapa jika mereka membicarakan tentang ke-over protectif-an Baekhyun dan juga kecemburuan pria itu, dia suka malu sendiri.

“Araseo, kajja Taeng.” Luhan berjalan mendekati Taeyeon yang sudah berdiri dari duduknya. Tangannya dia ulurkan untuk memegang pergelangan tangan gadis itu.

“Jangan lupa, kembalilah dengan cepat.” Chanyeol berteriak ketika Luhan dan Taeyeon sudah keluar dari ruangan itu.

Love, That One Word

Cuaca siang kota Seoul hari ini tidak terlalu panas dari biasanya. Mungkin dikarenakan musim dingin sebentar lagi akan datang. Itulah mengapa saat ini di alun-alun kota terdapat banyak sekali pengunjung. Dari mulai anak-anak, para remaja, sampai para lansia ‘pun memenuhi alun-alun kota ini.

Mereka datang ke sini sekedar untuk mencuci mata, apalagi tempat ini yang begitu strategis dan indah, membuat mereka yang datang benar-benar betah dan ingin menghabiskan waktu seharian mereka di taman ini.

Sama seperti Luhan dan Taeyeon. Sejak beberapa menit lalu mereka sampai di sini, mereka belum mengucapkan satu katapun untuk memecah keheningan. Bukan karena canggung, tetapi Taeyeon terlalu sibuk mengamati para pengunjung yang tengah bercanda satu sama lain.

Ditambah matanya menangkap sebuah keluarga kecil, dimana di dalam keluarga itu terdapat Ibu, Ayah, dan anak kecil yang dia perkirakan berusia 4 tahun sedang tertawa riang. Taeyeon tersenyum memperhatikannya, dia perlahan mengelus lembut perutnya yang buncit. Ah ingin sekali dia cepat melahirkan, dia tidak sabar ingin menggendong anaknya nanti.

Melihat ini, Luhan ikut tersenyum seolah mengerti dengan apa yang ada di fikiran gadis yang duduk di sampingnya itu.

“Ahh, tidak terasa usia kandunganmu sudah 7 bulan. Dua bulan lagi dan aku akan segera menjadi paman.”

Taeyeon mengangguk sekaligus tertawa mendengar ucapan Luhan. Gadis itu menoleh ke samping kanannya, dimana di tepat di samping itu Luhan duduk.

“Aku juga tidak menyangka oppa, sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu. Perasaan baru kemarin aku dan Baekhyun oppa menikah.” Ujar Taeyeon, dia menghirup udara perlahan. “Huh, waktu berjalan cepat sekali.” Lanjutnya.

Luhan mengangguk mengiyakan ucapan Taeyeon. Ya, waktu berjalan sungguh sangat cepat sampai-sampai dia baru sadar jika waktunya di Seoul hanya sebentar lagi.

Dulu, ketika Luhan pergi ke Seoul, Ayahnya menolak keras. Apalagi Luhan adalah penerus satu-satunya perusahaan Xi Group. Keluarganya takut jika Luhan melupakan kewajibannya untuk meneruskan perusahaan keluarga.

Namun Luhan berjanji jika dia akan kembali ke China secepatnya, tentu saja dengan membawa Taeyeon yang akan dia perkenalkan sebagai calon istrinya nanti. Namun takdir berkata lain, sepertinya dia harus pulang ke China sendiri. Tidak mungkin kalau dia membawa paksa Taeyeon dari Baekhyun ‘kan? Apalagi, Luhan sudah mengetahui jika dirinya benar-benar kalah. Tidak apa-apa, asal Taeyeon-nya bahagia, dia juga akan ikut bahagia. Meskipun pada kenyataannya dia tetap merasakan sedikit sakit, tepat di hatinya.

“Taeng-ah?.”

“Hmm?.”

“Aku besok akan kembali ke China.”

Mendengar ujaran Luhan, Taeyeon secepat kilat menolehkan kepala dan menatap Luhan dengan mata yang membulat. “Apa?!.”

“Apanya yang apa? Aku tahu kau mendengarnya dengan jelas tadi.” Luhan tertawa kecil dengan tangan mengacak-acak rambut atas Taeyeon lembut.

“Tapi, apa alasannya? Kenapa oppa kembali ke China? Aku fikir oppa akan menetap di sini.” Suara Taeyeon mulai bergetar, entahlah, moodnya yang tadi baik berubah menjadi sangat buruk setelah mendengar jika Luhan akan kembali ke China.

“Haha, tidak mungkin aku menetap di sini selamanya, Taeng. Kau ‘kan tahu, kalau aku juga harus melanjutkan jejak Ayah untuk mengurus perusahaan keluarga.” Luhan menghapus air mata yang entah sejak kapan sudah turun dari kedua kelopak mata indah Taeyeon. “Uljima, Taeng.”

Taeyeon menggelengkan kepalanya pelan, dia lalu duduk menyampir lalu merentangkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh Luhan. Luhan tersenyum, lalu mendekat dan membalas pelukan Taeyeon. Meski tangannya tidak sepenuhnya melingkar di leher gadis itu, dikarenakan besar perut Taeyeon yang menghalanginya, namun Luhan tetap senang merasakan Taeyeon kembali berada di dalam pelukannya. Ahh sungguh dia merindukan saat-saat seperti ini, dan entah kenapa mata Luhan juga sedikit berkaca-kaca. Mungkin karena dia tidak tega meninggalkan Seoul, terlebih Taeyeon. Och, sadarlah Xi Luhan, Taeyeon-mu itu sudah bersuami, dan kurang lebih dua bulan lagi Taeyeon-mu itu akan menjadi seorang ibu. Sadarlah!.

“Taeng-ah, jebal, jangan menangis.” Ujar Luhan kembali menangkan. Tangannya mengusap rambut Taeyeon lembut.

Bukannya berhenti, tangisan Taeyeon malah semakin menjadi, membuat beberapa orang yang berada di dekat mereka memandangnya heran.

“Oppa harus janji kalau oppa tidak akan melupakanku. Oppa juga harus datang ketika nanti aku melahirkan anak pertamaku. Kalau tidak, aku akan benar-benar membenci oppa!.”

Luhan tertawa. “Kemana perginya Taeyeon yang dewasa? Aku fikir sikap manjamu akan hilang selamanya, namun ternyata prediksiku salah. Nyatanya sekarang kau kembali merajuk.”

“Oppa!!.”

“Araseo, araseo, aku berjanji ketika kau melahirkan anak pertamamu nanti, aku akan berusaha meminta ijin dari Ayah untuk menengokmu ke sini.”

Mendengar jawaban Luhan, Taeyeon melepaskan pelukannya. Tangisannya sedikit mereda dan sedikit ada perasaan lega di dalam dirinya.

“Janji?.” Taeyeon mengangkat jari kelingkingnya dan mengarahkannya tepat di depan Luhan.

“Janji.” Dan Luhan membalas mengangkat jari kelingkingnya dan menempelkannya dengan milik Taaeyeon.

Mereka berdua tersenyum.

Jujur saja, rasa sayang Luhan terhadap Taeyeon tidak berkurang sedikitpun sampai sekarang. Namun Luhan harus menyerah, karena sampai kapanpun, takdir telah berbicara jika jodohnya bukanlah gadis cantik yang duduk di sampingnya ini.

Dengan kembalinya Luhan besok ke China, dia berharap sedikit demi sedikit perasaannya terhadap Taeyeon bisa berkurang. Dia harus bisa sepenuhnya melupakan perasaan terlarang itu dan merelakan Taeyeon bahagia bersama Baekhyun.

Love, That One Word

Perjalanan dari Busan menuju Seoul hanya membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam. Namun jalanan yang sedikit kosong dari kendaraan yang berlalu lalang, membuat mobil yang dikendarai Baekhyun dan Tn. Byun sampai ke Seoul lebih cepat.

“Kalau bisa kau dan Taeyeon tidur dirumah ayah, kalau tidak ayah akan benar-benar kesepian malam ini.” Ucap Tn. Byun dengan nada bercanda setelah mobil yang dikendarai Baekhyun terparkir tepat di depan pekarangan rumah Tn. Byun.

Baekhyun tertawa mendengar ujaran Tn. Byun. Lalu dia mengangguk menjawab pertanyaannya. “Baiklah ayah, aku akan kembali bersama Taeyeon nanti.”

“Hati-hati di jalan, jangan terlalu cepat mengendarai mobilnya.”

“Araseo.”

Setelah Tn. Byun keluar dari mobilnya, Baekhyun kembali menghidupkan mesin mobil dan menjalankan mobilnya menuju ke tempat dimana Taeyeon-nya sedang menunggu, Restoran Lay.

Tak lama kemudian dia sampai di tempat tujuan. Setelah selesai memarkirkan mobil, Baekhyun dengan cepat melepas seatbelt-nya. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan Taeyeon. Bertemu dua hari cukup membuatnya rindu setengah mati.

Selama di Busan, tak pernah sekalipun Baekhyun tidak menghubungi Taeyeon. Mungkin satu kali dalam tiga jam dia menghubungi Taeyeon lewat ponsel. Meski berkesan berlebihan, namun dia tidak peduli. Karena hanya dengan mendengar suara istrinya lewat telpon, rasa rindunya sedikit terobati.

Baekhyun berjalan memasuki Restoran itu, dan tanpa ragu dia berjalan menuju ruangan khusus Lay. Dimana dia yakin jika istrinya sedang berada di sana. Namun, ketika Baekhyun sampai di sana, dia hanya mendapati Yuri, Lay dan Chanyeol. Dimana Taeyeon?

“Yuri-ah, Taeyeon dimana?.”

Tidak peduli jika Baekhyun dianggap tidak sopan oleh mereka, namun yang pasti dia ingin tahu dimana Taeyeon secepatnya. Bukankah dia sudah meminta Yuri untuk menjaga Taeyeon? Tapi kenapa dia hanya mendapati Yuri sendiri tanpa istrinya di sini?.

Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut mendengar suara Baekhyun. Merekapun menolehkan kepalanya untuk menatap pria itu.

“Oh, Baek, kau sudah kembali. Tapi bukankah kau akan kembali nanti malam?.” Tanya Lay.

“Aku dan ayah memutuskan untuk pulang lebih cepat, hyung. Jadi, dimana Taeyeon?.”

“Astaga Baek, kau benar-benar melupakan kami semenjak Taeyeon memasuki hidupmu. Aku merasa sudah tidak dianggap teman lagi olehmu.” Ujar Chanyeol setengah bercanda.

Tapi itu memang fakta. Semenjak sosok Taeyeon memasuki hidup Baekhyun, pria itu seakan-akan lupa tentang hal yang lain selain tentang gadis itu. Menurut Lay, bahkan ketika Baekhyun pura-pura tidak peduli akan sosok Taeyeon dulu, tapi dia tahu jauh dalam lubuk hatinya pria itu sangat peduli. Hanya saja menurutnya, Baekhyun terlalu gengsi dan takut untuk mengakui. Dan sekarang semuanya telah terbukti.

“Aku tidak melupakan kalian, sungguh. Aku hanya khawatir, apalagi Taeyeon sedang hamil.” Ujar Baekhyun. “Lagipula aku juga merindukannya, dua hari tidak bertemu dengan Taeyeon benar-benar membuatku tidak semangat hidup.”

Chanyeol dan Yuri tertawa geli mendengar ungkapan jujur yang keluar dari bibir Baekhyun. Awalnya aneh memang mendengar Baekhyun yang beucap polos seperti itu, karena biasanya pria itu tidak pernah mengungkapkan apa yang dirasakannya kepada orang lain. Namun mereka mulai terbiasa dengan sifat Baekhyun yang menurut mereka ‘baru’ itu.

“Aigoo, kau lebay sekali. Sebentar lagi Taeyeon juga datang, sabarlah menunggu sebentar lagi.”

Baekhyun mengambil tempat duduk di samping Lay, wajahnya menatap lekat Chanyeol. “Memangnya istriku dimana? dia pergi kemana? Kenapa kau tidak menemaninya, yuri-ah?.” Tatapannya tertuju kepada Yuri kali ini.

“Entahlah, tadi dia diajak oleh Luhan oppa keluar.”

“Apa?!!!.”

Seperti dugaan Yuri sebelumnya, reaksi Baekhyun ketika mendengar jika Taeyeon pergi bersama Luhan, pria itu sangat terkejut. Perasaan marah dan cemburu langsung mengambil alih pikiran Baekhyun.

Lay yang menyadari perubahan wajah Baekhyun, mencoba menjelaskan apa yang terjadi untuk mengurangi rasa cemburu pria itu.

“Luhan besok pulang ke China, Baek. Dan dia mengajak Taeyeon keluar untuk memberitahunya tentang ini.”

“Kau terlalu berlebihan cemburu terhadap Luhan. Kami tahu jika dulu mereka saling menyukai, tapi kau sudah tahu kalau Taeyeon mencintaimu sekarang. Kami mohon, kurangi rasa cemburumu terhadap Luhan.” Chanyeol ikut berbicara menimpali ucapan Lay.

“Chanyeol benar, apalagi Luhan merupakan teman masa kecilnya bersamaku dan Jongin oppa.” Kali ini Yuri yang angkat bicara. “Kau tidak mungkin selamanya mengekang Taeyeon untuk bertemu dengan Luhan oppa ‘kan?.”

Baekhyun terdiam, otaknya sedikit mencerna perkataan mereka. Diantara Chanyeol, Lay, Jongin dan Luhan, Baekhyun sangat tidak suka jika Taeyeon berdua bersama Luhan. Entahlah, mungkin benar karena dulunya mereka saling menyukai. Apakah Baekhyun terlalu berlebihan? Apakah dia terlalu mengekang Taeyeon untuk bergaul dengan orang-orang?.

Tapi hati nuraninya tidak bisa dibohongi. Meskipun beberapa kali dia mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak cemburu jika Taeyeon dekat dengan pria lain, namun dia tidak bisa. Baekhyun terlalu mencintai gadis itu sampai tidak rela jika melihatnya dengan pria lain selain dirinya.

Lama Baekhyun terdiam sampai pada akhirnya sebuah suara pintu terbuka membuatnya sadar dan mengalihkan pandangannya kearah pintu. Di sana dia melihat Taeyeon yang terlihat terkejut melihat dirinya. Mungkin karena sebelumnya Baekhyun memberitahu Taeyeon kalau dirinya akan sampai di Restoran Lay malam nanti, sedangkan pukul 17:10 dia sudah berada di sini.

Taeyeon yang berdiri di dekat pintu sedikit takut melihat Baekhyun. Bukan tanpa alasan, Baekhyun melihatnya bersama Luhan, dan dia takut jika Baekhyun salah faham.

Tubuh Taeyeon menegang menyadari Baekhyun berjalan ke arahnya. Mata indah Taeyeon sedikit melirik ke sampingnya, dimana Luhan sekarang berada. Sama seperti dirinya, pria itu juga sedikit merasa takut ketika Baekhyun datang menghampiri mereka.

Namun jauh dari dugaan mereka, Baekhyun justru tersenyum. Pria itu tersenyum lembut ke arah Taeyeon, sedang tangannya mengusap puncak kepala gadis itu lembut. “Apa kabar?.” Tanya Baekhyun.

Melihat Taaeyeon di depannya, membuat Baekhyun lupa akan segala hal. Rasa lelah yang sebelumnya dia rasakan, juga rasa khawatir ketika mengetahui Taeyeon pergi tanpa ditemani Yuri, semuanya hilang.

“Aku merindukanmu, yeon-ah.” Ujar Baekhyun, ingin rasanya dia menenggelamkan gadis itu ke dalam pelukannya, namun dia menunggu waktu yang tepat, di sana masih ada Lay dan yang lainnya. Dia takut, dia takut kehilangan kendali jika dia memeluk gadisnya itu sekarang di hadapan mereka. Bagaimana jika tiba-tiba dia ingin menciumnya? Menciumnya dia hadapan mereka?

Tidak, dia tidak ingin Taeyeon marah seperti dulu. Ketika Baekhyun menciumnya di depan Jongin dan Yuri. Gadis itu marah karena dia merasa malu, dan tak disangka, satu hari penuh setelah kejadian itu Taeyeon mendiamkannya.

“Aku juga, oppa.” Balas Taeyeon tersenyum.

Tatapan mata Baekhyun kini beralih kepada Luhan. Dia memang cemburu tadi, mengetahui jika Taeyeon diajak oleh Luhan keluar โ€“entah kemana-. Namun setelah Yuri berbicara tadi, dan setelah dia fikirkan matang-matang, untuk apa dia cemburu kepada Luhan?.

Taeyeon sudah menjadi istrinya, jadi bagaimana mungkin Luhan merebut gadis itu darinya. Apalagi, benar kata Yuri, Luhan dan Taeyeon berteman sejak kecil, dan Baekhyun tidak ingin jadi penyebab jauhnya hubungan pertemanan antara mereka.

Byun Baekhyun, kau sudah dewasa, kau harus ingat itu.

“Yah, Xi Luhan.”

Luhan mengangkat alis sebagai jawaban dari seruan Baekhyun. Semua orang yang ada di ruangan itu was-was setelah mendengar Baekhyun menyebut nama Luhan. Nafas Chanyeol tercekat, dia takut Baekhyun melakukan hal yang buruk terhadap Luhan. Dia hendak berdiri dari duduknya dan menghampiri mereka, namun tangan Lay menghentikannya. Pria tertua diantara mereka itu menggelengkan kepalanya kepada Chanyeol, melarang pria itu menghampiri mereka.

Pada awalnya Chanyeol ingin protes, namun kembali Lay meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja dengan sebuah anggukan.

Dan benar saja, seruan Baekhyun berikutnya mampu mebuat wajah Chanyeol yang tadinya tegang sedikit melembut. Begitupun dengan Yuri yang duduk di sampingnya.

“Terima kasih sudah mengajak istriku jalan-jalan keluar dan mengantarnya kembali dengan selamat.”

Luhan mengangguk dan tersenyum kecil mendengar ucapan Baekhyun. “Hmm.”

Luhan, selama ini, meskipun dia sering bersikap tidak bersahabat terhadap Baekhyun, bukan berarti dia membencinya. Dia hanya cemburu, karena Baekhyun berhasil merebut Taeyeon darinya. Namun meskipun begitu, melihat Taeyeon bahagia jika bersama dengan Baekhyun itu juga sudah cukup membuatnya ikut bahagia. Sehingga tidak alasan untuk Luhan membenci Baekhyun.

Sore itu, Baekhyun dan Taeyeon lebih lama menghabiskan waktu di tempat Lay. Mereka semua bercanda satu sama lain. Dan tepat pukul 7 sore, barulah Baekhyun mengajak Taeyeon pulang.

“Apakah lebih baik kalian makan malam dulu di sini?.” Usul Yuri yang sedang membantu Taeyeon memakaikan sweaternya.

“Yuri benar, aku akan menyuruh chef-ku untuk memasak makan malam yang special untuk kita. Baekhyun-ah, bagaimana?.” Kali ini Lay yang memberi tawaran.

Baekhyun tersenyum. “Terima kasih atas tawarannya Yuri-ah, hyung, tapi maaf, aku dan istriku harus pulang sekarang. Ayah memintaku untuk pulang lebih awal ke rumah.” Jawabnya.

“Baiklah, kalau begitu, hati-hati di jalan.” Ujar Lay.

“Gomawo semuanya untuk hari ini.” Taeyeon tersenyum dan menatap semua orang yang ada di ruangan itu. Dia menoleh ke arah kanan ketika merasakan tangan Baekhyun menggenggamnya erat seraya tersenyum.

“Kami pamit pulang.”ujar mereka.

Sesampainya di tempat parkir, Baekhyun membantu Taeyeon untuk masuk ke dalam mobil. Pria itu juga bahkan membantu istrinya untuk memasang seatbelt dengan penuh hati-hati, takut tangannya akan menyakiti perut sang istri yang sudah membesar.

“Apa kau lapar?.” Tanya Baekhyun, posisi pria itu masih membungkuk di luar samping pintu mobil dimana Taeyeon duduk tersenyum sekarang. “Jika kau lapar, kita bisa kembali ke dalam lalu menerima tawaran Lay hyung.” Tangannya dia letakan di atas kepala Taeyeon, mengusapnya lembut.

“Aniya, aku masih bisa menahannya sampai di rumah nanti. Bukankah tadi oppa bilang kalau Ayah sedang menunggu di rumah untuk makan malam bersama?.”

“Iya, memang. Tapi-,” taeyeon menghentikan ucapan Baekhyun dengan sebuah kecupan kecil di bibirnya. Agak susah memang untuk menjangkau bibir Baekhyun dengan kondisi tubuhnya yang sudah terpasang seatbelt, ditambah dengan ukuran perutnya yang sudah besar.

“Gwaenchana, Ayah akan kecewa kalau kita makan di luar sedangkan Ayah makan sendiri di rumah. Kajja, kita pulang saja oppa.” Baekhyun tersenyum, tangannya mengacak lembut poni Taeyeon.

“Baiklah, kajja kita pulang.” Kali ini Baekhyun yang mencium Taeyeon. Pria itu sedikit membungkukkan tubuhnya. Kepalanya dia miringkan untuk mendapatkan akses yang lebih baik untuk mereka berciuman. Namun, baru saja ciumannya berlangsung selama lima detik, Taeyeon menghentikannya. Gadis itu tertawa kecil. “Oppa, jangan di sini.”

Baekhyun tersenyum dan mengusap kedua pipi Taeyeon menggunakan tangannya. “Maafkan aku, aku terlalu merindukanmu, yeon-ah. Kita lanjutkan nanti di rumah?.”

“Yakk!!.” Taeyeon memukul dada Baekhyun dengan semburat merah di wajahnya. Dia paling tidak suka jika Baekhyun menggodanya seperti ini, dia merasa malu.

“Haha, araseo. Aigoo, kau lucu sekali dengan pipi merahmu itu. Membuatku ingin menciumu lagi di sini.” Ujar Baekhyun kembali menggoda Taeyeon. Berbeda dengan Taeyeon yang tidak suka digoda, justru Baekhyun sebaliknya. Pria itu sangat sering menggoda Taeyeon, membuatnya salah tingkah adalah hal yang paling Baekhyun sering lakukan. Entahlah, menurutnya ketika Taeyeon salah tingkah itu sangat lucu, apalagi dengan pipi gadis itu yang memerah seperti sekarang ini.

Love, That One Word

Makan malam dengan Tn. Byun sudah selesai sejak tadi. Kini Taeyeon berada di dapur, bersama dua orang wanita yang sudah cukup tua, pembantu rumah Byun. Awalnya dia ingin membantu mereka membereskan meja makan dan membersihkan piring yang kotor, namun mereka melarangnya. Karena mereka yakin, jika nanti Baekhyun melihat Taeyeon melakukan pekerjaan rumah, pria itu pasti marah besar.

Selain mereka bekerja di sini, setiap hari mereka juga sering datang ke apartemen Baekhyun untuk melakukan pekerjaan rumah. Itu berawal ketika usia kandungan Taeyeon menuju 4 bulan. Sejak saat itu Baekhyun tidak ingin jika Taeyeon terlalu kecapek-an.

Taeyeon sedikit kesal saat itu, dia protes kepada Baekhyun. Usia kandungannya baru empat bulan, lagipula pekerjaan rumah di apartemen tidak terlalu berat untuk dia kerjakan sendiri. Namun Baekhyun kekeh tidak ingin Taeyeon melakukan pekerjaan rumah itu. Dan alhasil, yang bisa dia lakukan untuk memenuhi tugas sebagai istri Baekhyun hanya memasak dan menyiapkan pakaian yang akan dipakai Baekhyun untuk bekerja.

“Bi, aku bosan.” Rengek Taeyeon untuk yang kesekian kalinya. Dia memang sudah menikah, bahkan terhitung dua bulan dari sekarang dia akan segera menajdi seorang Ibu. Namun sipatnya yang seperti anak kecil belum sepenuhnya hilang. Kebiasaannya bermanja-manja, entah itu bersama temannya, Ny. Byun, Boa ataupun Baekhyun masih kerap dia lakukan.

“Kenapa nona tidak pergi saja ke ruang keluarga? Bukankah di sana ada Tuan muda dan Tuan besar?.” Salah satu pembantu yang memakai apron berwarna hijau, Bibi Park Jimin mengusulkan. Dia sedikit terawa kecil melihat raut muka Taeyeon sekarang. Sungguh seperti anak kecil.

“Duduk di sana sambil mendengarkan mereka membicarakan tentang pekerjaan, begitu? ayolah, itu sungguh tidak mengasikkan.”

“Aigoo nona, kalau begitu pergilah ke kamar dan beristirahat. Karena meskipun nona memohon untuk membantu kami di sini, kami tidak akan pernah mengijinkannya.” Ujar Pembantu satunya lagi, Bibi Kim Seunhee sambil tersenyum.

“Kami lebih baik capek bekerja berdua dari pada dibantu oleh nona, yang ujungnya malah Tuan muda memarahi kami nantinya.” Ucap Bibi Park. “Nona harus banyak istirahat, dan jangan terlalu kelelahan. Tuan muda melarang nona melakukan ini dan itu bukan tanpa alasan, tuan muda melakukannya karena dia peduli pada nona. Dia tidak ingin sesuatu yang tidak dia inginkan terjadi pada nona.”

“Aku tahu, tapi ini berlebihan bi. Aku tidak harus setiap hari berbaring di kamar ‘kan? Wanita hamil juga butuh beraktifitas.”

Kembali dua wanita tua itu tertawa mendengar rengekan sang majikan. Bibi Park berjalan mendekati kulkas, dia membukanya dan mengeluarkan beberapa macam buah-buahan di dalamnya.”Baiklah, kalau begitu. Daripada membantu kami di sini, bagaimana kalau nona memberikan buah-buahan saja untuk tuan? Bibi akan mengelupasnya, dan nona yang memberikannya kepada mereka, bagaimana?”

Taeyeon mendongakkan kepalanya. Dia menatap buah-buahan yang baru saja Bibi Park keluarkan. Di sana ada anggur dan buah mangga. Saat tangan Bibi Park bergerak untuk mulai mengelupas buah mangga, Taeyeon dengan suara sedikit keras menghentikannya. “Bibi tidak perlu mengelupasnya.”

“Wae?.”

“Untuk kali ini saja, aku mohon biarkan aku memegang pisau. Aku tidak seceroboh dulu Bi, biarkan aku yang mengelupas buah mangga itu. Ya? Ya?.” Dengan mengeluarkan aegyonya Taeyeon berucap. Membuat Bibi Park mau tak mau menyerah.

“Kita tidak akan menang jika melawan nona yang keras kepala ini Jimin-ah.” Bibi Kim yang memperhatikan merekaa ikut bersuara. Tawa kecil keluar dari bibirnya.

“Yup, Bibi benar. Maka dari itu, bisakah Bibi berikan pisaunya padaku?.” Taeyeon yang telah berdiri di hadapan Bibi Park menjulurkan kedua tangannya di depan dada, meminta wanita tua itu untuk memberikan apa yang dia mau.

“Pastikan kau tidak melukai tanganmu dengan pisau ini, mengerti?.”

“Iya, iya, aku mengerti.”

Bibi Park tersenyum melihat respon menggemaskan gadis yang berada di depannya itu. Siapapun tidak akan tidak jatuh cinta kepada pesona seorang Kim Taeyeon, bahkan hal kecilpun yang gadis itu lakukan mampu membuat orang yang berada di dekatnya merasa senang.

Love, That One Word

“Jadi, kapan kau berencana membawa Taeyeon untuk pindah ke rumahmu? Ah ani, bukan rumahmu, tapi rumah kalian. Rumah Byun Baekhyun dan Byun Taeyeon.” Tn. Byun bertanya disela-sela pekerjaannya mengetik sesuatu di laptop. Dia menatap anak bungsunya itu tersenyum.

Baekhyun terlihat memutar kepalanya ke belakang, tepatnya ke arah dapur. Yakin jika Taeyeon masih di sana, dan tidak akan mendengarkan perbincangan mereka Baekhyun-pun menjawab pertanyaan Tn. Byun. “Sepulang dari bandara besok, aku akan pergi ke Seodaemun sendiri dan mengecheck apakah semua properti rumah sudah dibereskan oleh Pak Im atau belum. Jika sudah, mungkin sekitar tiga hari lagi aku akan mengajak Yeonie pindah. Ayah ‘kan tahu, akhir-akhir ini Taeyeon sering memaksaku untuk membiarkannya melakukan aktifitas yang akan membuatnya kelelahan, seperti tadi. Jadi sebelum kita pindah, aku akan memastikan keadaan rumah itu bersih dan rapi.”

Tn. Byun menjauhkan jari-jari tangannya dari keyboard laptop, dan menatap Baekhyun kagum. “Apakah Taeyeon tahu kalau kau telah menyiapkan tempat tinggal baru untuk kalian tempati?.”

Baekhyun menggeleng dan berbisik kepada Tn. Byun. “Aku ingin memberinya kejutan, ayah. Jadi, sampai hari dimana aku membawa Taeyeon pindah, Ayah jangan dulu memberi tahu soal rumah baru itu. Termasuk kepada Ibu dan Boa nona, aratchi?.”

“Apa-apan kau ini, kau mengancam Ayah-mu sendiri, eoh?.” Baekhyun tertawa melihat reaksi Ayahnya yang pura-pura marah. Apakah terbayang, Tn. Byun yang sudah memasuki usia ke 56 tahunnya mengerucutkan bibir bersamaan dengan dahi yang berkerut? If you wanna trying to be cute, you can’t dad.

Tawa Baekhyun terhenti ketika mendengar suara langkah kaki dari arah belakangnya. Dia menoleh, dan keningnya seketika berkerut melihat Taeyeon datang dengan dua piring buah-buahan penuh di kedua tangannya. Pria itu berdiri menghampiri Taeyeon, dan mengambil alih kedua piring itu dari tangan sang istri, membuat sang istri mengerucutkan bibirnya lucu.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak menyuruh bibi Kim untuk mengantarkan buah-buahan ini ke sini?.”

“Aku yang memintanya, oppa.”

Baekhyun berdecak. “Sudah kubilang jangan membuat dirimu kelelahan, yeon-ah. Kau-,”

“Oppa, hanya mengelupas mangga dan membawanya kesini, itu adalah hal kecil dan tidak membuatku lelah. Lagipula aku bosan dari tadi memperhatikan bibi Kim dan Park di dapur.” Ujar Taeyeonmemotong ucapan Baekhyun.

“Kalau kau bosan, kau bisa pergi ke kamar dan tidur, yeon-ah.” Saran Baekhyun membuat Taeyeon sedikit kesal. Ugh, sipat overprotective yang menyebalkan.

Tanpa membalas ucapan Baekhyun, gadis itu malah merebut kembali piring yang berada di tangan pria itu. Dia melenggang berjalan melewati Baekhyun yang terlihat sedikit marah, namun Taeyeon mengabaikannya. Gadis itu malah berjalan mendekat ke arah Tn. Byun yang sekarang tengah tersenyum menatapnya.

“Ayah, apa kau mau? Buah-buahan ini masih sangat segar, kata Bibi Park buah mangga ini baru di petik tadi siang dari kebun. Coba Ayah cicipi.” Tawar Taeyeon. Dia duduk di sebelah Tn. Byun, lalu tangannya menyodorkan piring yang berisikan mangga segar yang sebelumnya telah di potong-potong tadi.

Dengan senang hati Tn. Byun mengambil satu potong mangga dan memasukannya ke dalam mulutnya. Dia bergumam seraya tersenyum. “Wahh, mangga adalah buah kesukaan Ayah, terima kasih sudah membawakannya ke sini, Taeyeon-ah.”

Taeyeon dan keluarga Byun memang sangat dekat. Mereka bahkan tidak hanya menganggap Taeyeon sebagai menantu mereka, namun juga sebagai anaknya. Sipat baik dan ramah keluarga Byun sangat membuat Taeyeon nyaman, sehingga membuatnya juga mudah akrab dengan mereka.

“Baek-ah, kau tidak mau?.” Tawar Tn. Byun.

Dengan dahi yang berkerut dan tanpa menjawab pertanyaan Tn. Byun, Baekhyun ikut mengambil satu potong buah mangga dan memakannya dengan diam. Dapat Taeyeon pastikan jika pria itu sedang marah sekarang, dalam hati dia sedikit menyesal dan juga kesal di saat yang bersamaan.

“Yah, kau marah pada istrimu, eoh? Hanya karena dia tidak menuruti perintahmu?.”

Baekhyun tidak menghiraukan pertanyaan Tn. Byun. Pria itu malah kembali duduk di kursinya, tepat di hadapan Taeyeon dan kembali fokus dengan pekerjaannya yang sempat tertinggal tadi.

“Aigoo, anak ini. Taeyeon-ah, jangan hiraukan Baekhyun. Meskipun dia marah padamu, tapi marahnya tidak akan berlangsung lama. Kalau perlu kau balas marah saja padanya, salahnya sendiri kenapa mengekangmu bahkan untuk melakukan hal kecil sekalipun kau tidak boleh.”

“Aku seperti ini karena ada alasannya, Ayah.”

“Iya, Ayah mengerti. Tapi kau terlalu berlebihan Baek, kau dengar sendiri tadi ‘kan kalau Taeyeon juga sedang bosan? Lagipula melakukan hal kecil seperti ini tidak akan langsung membuatnya jatuh sakit, Taeyeon kita ‘kan orang yang kuat.” Tn. Byun tersenyum menatap Taeyeon, mencoba meyakinkan gadis itu kalau semuanya akan baik-baik saja.

Taeyeon juga sepertinya tidak terlalu mempermasalahkan kediaman Baekhyun. Karena meskipun pria itu marah padanya, marahnya tidak akan berlangsung lama dan berakhir dengan Baekhyun yang meminta maaf karena sudah mengacuhkannya. Makanya saat ini gadis itu terlihat santai-santai saja di sana.

Love, That One Word

Sepertinya Taeyeon harus kembali menarik semua ucapannya tadi. Karena kenyataannya setelah setengah jam dia dan Baekhyun diam di kamar, pria itu belum sedikitpun membuka suara. Biasanya, hanya butuh waktu 15 menit untuk pria itu memulai membuka suara, dan meminta maaf meskipun Taeyeon yang melakukan kesalahan. Namun anehnya, sekarang pria itu malah masih mengabaikannya. Apakah semarah itu?.

Taeyeon ingin bertanya, namun ketika matanya melihat ke arah Baekhyun yang sedang duduk di kursi kerjanya keberaniannya sedikit berkurang. Baekhyun sungguh menakutkan dengan ekspresi dingin seperti itu, dan sepertinya pria itu benar-benar marah. Rasakan kau Byun Taeyeon.

Merasa terlalu lama diacuhkan, Taeyeon yang sedari tadi duduk di atas tempat tidur dengan punggung bersandar ke dashboard menurunkan tubuhnya sehingga tubuh itu telah sempurna berbaring. Dia menaikkan selimut yang tadinya hanya mencapai lutut, sehingga sekarang berhasil mencapai setengah kepalanya. Dia harus melakukan sesuatu agar Baekhyun mengalihkan perhatiannya padanya. tapi bagaimana? Dia tidak mau jika Baekhyun lama-lama marah kepadanya.

Lama dia berpikir sampai akhirnya dia mengingat ucapan Tn. Byun tadi. Kalau Baekhyun marah, kau juga harus marah. Tapi, apakah cara ini akan berhasil? Bagaimana kalai pria itu justru lebih marah padanya?.

Dengan menghilangkan rasa takut dalam dirinya, Taeyeon bangun dari posisi tidurnya. Dia turun dari ranjang, lalu berjalan santai menuju meja rias dengan kening berkerut pura-pura marah. Ia mengambil jaketnya yang tersampir di kursi meja rias, melirik Baekhyun sekilas lewat kaca, dia bersorak dalam hati melihat sekarang semua perhatian pria itu tertuju padanya.

“Kau mau kemana?.”

Tidak dijawab. Taeyeon malah berjalan mendekati pintu, namun sebelum tangannya meraih gagang pintu, suara berat pria itu kembali menghentikannya.

“Byun Taeyeon, kau mau kemana? Apa kau tidak lihat pukul berapa sekarang ini? Sekarang waktunya tidur, bukan keluar dari kamar.”

“Aku juga berniat ingin tidur, tapi tidak di sini.”

Jawaban yang keluar dari mulut Taeyeon membuat Baekhyun sedikit kesal. Oh ayolah, jangan membuat dirinya semakin marah Byun Taeyeon.

“Apa maksudmu, Yeon?.” Tanya Baekhyun, pria itu berjalan mendekati Taeyeon dan menarik pelan tangan Taeyeon menuntunnya untuk kembali berbaring di tempat tidur namun Taeyeon menahannya. “Berbaringlah kembali dan tidur.”

“Aku tidak mau. Aku tidak ingin tidur di sini.”

“Byun Taeyeon kau jangan membuatku semakin marah!.” Baekhyun mengerjapkan matanya, sadar dia salah karena tanpa sengaja dia telah meninggikan nada suaranya.

“Itulah mengapa aku tidak ingin tidur di sini oppa. Melihatmu marah dan mengabaikanku seperti tadi malah membuatku sakit dan susah tidur. Aku tidak ingin oppa terlalu lama marah padaku, aku ingin oppa seperti biasanya, minta maaf padaku secepatnya meskipun semua ini aku yang salah.”

Taeyeon memberanikan diri menatap Baekhyun dengan mata memelas. Dapat dia lihat jika Baekhyun sekarang masih menatapnya dengan mata tajam yang sedikit membuatnya ketakutan. Namun dia tidak boleh menyerah, sebentar lagi. Sebentar lagi Baekhyun pasti akan mengalah.

“Tapi aku pantas marah, Yeon-ah. Aku marah karena kau selalu membuatku khawatir.” Ujar Baekhyun.

Wajahnya boleh terlihat seperti sedang marah, namun siapa yang tahu jika jauh dari dalam lubuk hatinya pria itu sedang menahan dirinya untuk tidak memeluk Taeyeon. Sebenarnya dia tidak marah, memang tadi dia berniat ingin marah, namun rasanya susah bagi pria itu untuk marah pada Taeyeon.

Selama ini, asal kalian tahu, setiap Baekhyun marah sebenarnya semuanya hanya pura-pura. Itu hanya bentuk formalitas seorang suami, agar sang istri menuruti semua keinginannya. Dan tentu saja semua itu demi kebaikan Taeyeon. Namun siapa duga, setiap akhirnya justru semua itu tidak berjalan sesuai dengan keinginannya dan malah berakhir dengan Baekhyun yang meminta maaf, seolah-olah kesalahan yang Taeyeon lakukan adalah kesalahannya. Lucu bukan? Begitu besarnya cinta Baekhyun terhadap Taeyeon.

“Astaga Byun Taeyeon, kenapa kau selalu melakukan ini? Aku ingin marah padamu, tapi aku tidak bisa. Kenapa kau selalu membuatku tidak berdaya melihat wajah memelasmu? Bisakah kau berhenti melakukan semua itu dan membiarkanku sekali saja untuk marah, eoh?.”

Taeyeon tersenyum kecil, sepertinya usahanya berhasil. “Aku tidak ingin oppa marah.”

“Kau tahu kalau aku tidak bisa marah padamu ‘kan? Kemarilah.” Baekhyun menarik Taeyeon mendekat dan memeluknya. “Maafkan aku karena mendiamkanmu tadi, maafkan aku.”

Taeyeon mengangguk dan balas memeluk Baekhyun. Dia membenamkan kepalanya di dada bidang pria itu, hidungnya bahkan bisa mencium wangi maskulin Baekhyun yang sangat Taeyeon sukai.

“Maafkan aku juga, oppa. Tapi serius, oppa terlalu over melarangku melakukan ini itu, sehingga membuatku sedikit terbebani.”

“Tapi itu demi kebaikanmu dan juga calon anak kita, kau jangan lupa kalau kau itu tipe gadis yang ceroboh ketika melakukan sesuatu. Bahkan meskipun kau telah mahir dalam hal memasak, tidak jarang kau membuat tanganmu sendiri terluka.” Ujar Baekhyun. “Dan ketika kau terluka, entah mengapa secara tidak langsung aku merasakan luka yang kau rasakan itu. Kalau kau tidak ingin aku bersikap over terhadapmu, kau harus menunjukkan kalau kau bukan lagi gadis ceroboh, araseo?.”

Taeyeon mengangguk dalam pelukannya. Kedua tangan kecil Taeyeon sedikit melonggar di pinggang Baekhyun, membuat kepala pria itu tergerak dan menunduk untuk melihat Taeyeon.

“Ayo kita tidur, aku sudang mengantuk.” Ujar Taeyeon seperti anak kecil. Astaga, kau sudah tujuh bulan hamil dan sipat anak kecilmu tidak pernah berkurang sedikitpun. Baekhyun jadi penasaran, nanti setelah Taeyeon melahirkan, mungkin dirinya akan sekaligus mengurus dua anak. Istrinya dan calon anaknya yang masih berada di dalam perut Taeyeon. Haha

“Tidurlah lebih dulu, aku masih harus mengerjakan berkas perusahaan yang belum kuselesaikan tadi.” Baekhyun mencium lembut bibir Taeyeon.

Namun, bukannya tersenyum karena perlakuan manis Baekhyun, gadis itu malah mengerucutkan bibirnya. “Tidak mau. Aku ingin tidur bersama, tinggalkan dulu pekerjaan oppa. Lagipula besok juga masih bisa dilanjutkan ‘kan?.”

Baekhyun menggeleng gemas melihat kelakuan gadis di depannya itu. Memangnya siapa yang berani menolak permintaan istrinya itu?.

“Ara ara, aku akan mematikan dulu laptopnya. Kau berbaring lebih dulu, aku akan menyusul.”

“Aku ingin digendong.” Taeyeon merentangkan kedua tangannya ke atas, lagi-lagi Baekhyun tersenyum gemas.

“Aigoo, kau ingin di gendong? Kau itu berat Taeyeonie.” Tangannya mencubit pelan puncak hidung Taeyeon. Dan detik berikutnya, kedua tangan kekarnya sudah berhasil menggendong tubuh Taeyeon dengan tangan gadis itu yang melingkar di lehernya.

Setelah berhasil menempatkan Taeyeon di atas tempat tidur, pria itu mencium kening Taaeyeon lembut dan kembali beranjak menuju meja kerjanya. Dia mematikan laptopnya, dan memberekan beberapa lembar kertas yang berserakan di atas meja itu.

Selesai membereskannya, dia kembali menuju tempat tidur. Berbaring menyamping di samping gadis itu dengan tangan memeluk perutnya.

“Selamat tidur, mimpi yang indah istriku.”

“Selamat tidur, mimpi yang indah suamiku.” Seru mereka bersamaan, dengan diakhiri tawa dari masing-masng bibir mereka.

Love, That One Word

Keesokan harinya, setelah Baekhyun dan Taeyeon mengantarkan Luhan ke bandara, Taeyeon diantar pulang oleh Baekhyun ke apartemen mereka. Taeyeon sedikit aneh, karena setelah mereka sampai di apartemen, Baekhyun pamit untuk kembali ke kantor karena ada urusan mendadak, padahal seingatnya hari ini tidak ada jadwal Baekhyun untuk bekerja.

Namun Taeyeon mengijinkan Baekhyun pergi, mungkin ada sedikit masalah di kantornya sehingga membuat hari libur pria itu diganti kembali menjadi hari kerja.

Dan sekarang, di sinilah Taeyeon. Duduk di depan televisi, menonton sebuah drama yang tidak begitu Taeyeon sukai. Tidak ada pekerjaan yang bisa dia lakukan untuk menghilangkan rasa bosannya. Sedangkan menunggu untuk Baekhyun pulang masih lumayan lama, sekitar empat jam lagi. Uh, betapa dia ingin mempercepat waktu.

Drrt

Sebuah suara yang berasal dari handphone-nya menghentikan lamunannya. Dia sedikit mengernyitka dahi melihat nomor yang tidak diketahui tertera di layar ponselnya. Dengan sedikit ragu, dia menggeser layar berwarna hijau ke sebelah kanan, menerima panggilan masuk itu.

“Halo?.” Ujarnya.

“Halo, Taeyeon-ah.”

“Maaf, ini dengan siapa?.” Tanya Taeyeon. Dia sedikit bingung, si penelepon mengetahui namanya, sedangkan dirinya, bahkan mengenal suara si penelepon ‘pun tidak tahu.

“Ini aku, Irene.”

Hening. Taeyeon tidak bersuara setelah mendengar orang di sebrang sana menyebutkan namanya. Hatinya berdebar, kejadian beberapa bulan lalu kembali terngiang di otaknya. Kejadian dimana kesalah pahaman antara dirinya dan Baekhyun terjadi sehingga membuat mereka terpisah sementara.

Setelah kejadian itu, dia tidak pernah mendengar lagi kabar Irene. Setahunya, Baekhyun menghentikan paksa Irene dari pekerjaannya tepat setelah dia tahu kebenaran dari semua masalah dulu. Dan sekarang, setelah berbulan-bulan berlalu, dan setelah nama Irene hilang dari kehidupan mereka, dia kembali dengan menelepon dirinya. Apa yang diinginkan wanita itu?.

“Taeyeon-ah, apa kau masih di sana?.”

“Ah, ya, aku masih di sini. Umm, boleh kutahu, untuk apa Irene-ssi menelponku?.” Dia berusaha sekuat mungkin untuk berbicara lembut kepada orang di sebrang sana.

“Apakah Baekhyun sedang bersamamu?.”

Taeyeon mengernit, Baekhyun?. “Anieyo, oppa sedang di kantor. Ada apa?.”

“Apa kau hari ini bisa keluar untuk bertemu denganku sebentar? Aku, aku ingin meminta maaf padamu tentang perbuatan yang telah aku lakukan padamu dulu. Aku tahu sudah telat jika meminta maaf sekarang, tapi, sungguh aku benar-benar menyesali semua perbuatanku.”

Taeyeon terdiam beberapa saat, Irene mengajaknya bertemu. Tidak bisa, Baekhyun tidak akan mengijinkannya. Apalagi sebelumnya pria itu menyuruh dirinya untuk tidak keluar apartemen sendirian, mau itu bertemu Yuri ataupun Jongin.

“Maaf eonni, tapi aku tidak bisa.”

“Baekhyun melarangmu?.”

“Hmm, oppa melarangku pergi keluar sendiri.” Jawabnya. “Lagipula, eonni tidak perlu memintaku untuk bertemu dan meminta maaf, karena sejak dari dulu aku sudah memaafkanmu.”

Terdengar helaan napas keluar dari mulut Irene. “Tapi aku ingin meminta maaf padamu secara langsung. Aku mohon, untuk kali ini saja, kau mau kan bertemu denganku? Tidak akan lama, lagipula aku sudah di sini. Di kafe dekat apartemen kalian, dan aku tidak akan pergi sebelum kau datang ke sini. Aku mohon, datanglah.”

Taeyeon kembali diam, otaknya kembali berdebat. Apakah dia harus bertemu Irene dan kembali melanggar perintah yang sebelumnya dibuat Baekhyun? Tapi bagaimana kalau dia marah? Lagipula Taeyeon tidak ingin kembali membuat Baekhyun kecewa. Namun, jika dia tidak datang ke kafe yang dimaksud Irene, Irene tidak akan beranjak pergi sebelum Taeyeon datang bukan?

“Taeyeon? Bagaimana?.”

“Baiklah 20 menit lagi aku sampai di sana, eonni.”

“Jinjja? Astaga, terima kasih kau sudah mau menerima tawaranku. Baiklah, aku akan menunggu di sini. Berhati-hatilah di jalan.”

Taeyeon tersenyum mendengar ujaran Irene. “Baik eonni.” Dan sambungan telepon mereka terputus.

Taeyeon mendongak, memandang kosong atap putih di atasnya. Sepertinya dia akan kembali mengecewakan Baekhyun, tapi dia tidak akan melakukannya jika pria itu tidak mengetahui apa yang akan dilakukannya sekarang. Dan dia berharap, Baekhyun tidak akan mengetahuinya.

Love, That One Word

Sudah 15 menit Taeyeon menunggu Irene di kafe dekat apartemennya. Dia sedikit bingung, bukankah Irene bilang jika dia sudah berada di sini tadi? Tapi kenapa setelah Taeyeon sampai, dia tidak melihat tanda-tanda Irene berada di sana. Dia berniat menelponnya, namun sepertinya dia tidak perlu melakukannya karena handphonenya bergetar menandakan sebuah pesan masuk, dan dia sedikit bernapas lega melihat siapa yang mengiriminya sebuah pesan singkat. Irene.

Tadi ketika menunggumu, salah satu temanku yang kebetulan tinggal tidak jauh dari tempatmu tinggal menghubungiku, dan memintaku untuk bertemu sebentar. Saat ini aku sedang berada di kompleks B, bisa kau datang ke sini? Maaf jika aku tidak memberitahumu dari awal, aku menunggumu di sini.

Taeyeon mengrutkan kening sedikit kesal, kenapa Irene seenaknya memintanya untuk melakukan sesuatu? Lama-lama rasa respect-nya terhadap gadis itu hilang. Bukankah dia yang ingin meminta maaf? Tapi kenapa harus Taeyeon yang capek menghampirinya.

Namun meskipun begitu, dia menuruti permintaan Irene. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kasir untuk membayar milkshake yang tadi dia beli.

Taeyeon merapatkan jaketnya yang dia pakai ditubuhnya. Udara di luar semakin dingin, dia beruntung tidak lupa memakai jaket tebal tadi. Karena kalau sampai dia lupa, mungkin dia sudah mati kedinginan di sini. Haha lucu.

Taeyeon mengetikkan sesuatu di handphone-nya. Mengirim Irene sebuah pesan dan menanyakan dimana posisinya sekarang. Namun setelah lima menit dia menunggu balasan dari Irene, hasilnya sia-sia. Irene tidak membalas pesannya.

Sungguh, dia sangat kesal saat ini. Apakah Irene hanya bermain-main dengannya?.

Terlewat kesal, Taeyeon berjalan menyebrangi jalan, berniat untuk segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke apartemennya yang terletak beberapa blok dari kompleks dimana sekarang dia berada. Namun, tepat dirinya berada di tengah jalan, sebuah mobil dari arah kiri melaju cepat kearahnya. Dia membulatkan mata, dia ingin menghindar, tapi entah kenapa kakinya membeku tidak bisa digerakkan. Dapat dia perhatikan, mobil yang sedang melaku cepat itu sedikit oleng seperti hilang kendali, mungkin pengendara itu sedang mabuk, pikirnya.

Taeyeon hanya bisa memejamkan mata ketika jarak mobil itu semakin mendekat. Detik berikutnya, sesuatu yang cukup keras, yang dapat dia prediksi itu adalah sisi depan mobil menabrak sisi tubuh kanannya. Sentuhan itu membuatnya terpental ke sisi jalan, kepalanya yang pertama mendarat di atas trotoar cukup keras membuat kepalanya terluka dan mengeluarkan darah.

Bukan hanya itu, bahkan bau amis juga tercium di bawah kakinya. Cairan kental berwarna merah juga turun dari arah selangkangannya menuju tungkai bawahnya. Rasa sakit tidak bisa dia tahan lagi, dia benar-benar kesakitan. “Maafkan aku, oppa.” Bisiknya sebelum akhirnya matanya tertutup rapat.

Love, That One Word

“Yak, Bae Joohyun, sampai kapan kita akan menunggu temanmu di sini? Apa jangan-jangan dia tidak akan datang? Kenapa kau tidak telepon saja dia.” Seorang gadis berambut pirang tidak hentinya mengomel sejak tadi. Dia manatap kesal sahabatnya yang duduk di kursi pemudi dengan mata terpokus ke arah jalan.

“Tunggulah sebentar lagi, dia pasti akan datang. Aku baru saja mengirimnya pesan.” Jawab wanita yang duduk di kursi pemudi, Bae Joohyun Irene. “Yak, kau mau kemana?.” Tanya Irene ketika melihat temannya, Wendy berniat membuka pintu mobil.

“Tentu saja keluar dari mobil, bukankah kau bilang temanmu akan datang sebentar lagi?.”

“Tidak, kau tidak perlu turun dari mobil. Lagipula aku hanya ingin melihatnya saja, dan setelah itu melakukan apa yang sudah kurencanakan jauh-jauh hari. Aku tidak berniat bertemu dengannya, sungguh muak sekali jika aku sampai harus bertatap muka dengannya.”

Wendy mengerutkan kening, ada apa dengan Irene? Rencana ? Rencana apa? Sungguh, niatnya menemani Irene hari ini karena wanita itu bilang jika dia ingin bertemu dengan teman lamanya, namun tentang rencana yang Irene maksud barusan, dia sungguh tidak tahu.

“Rencana? Rencana apa? Apa temanmu sedang berulang tahun sehingga kau ingin memberinya kejutan?.”

“Anieyo, Wendy-ah kau cukup diam saja dan lihat apa yang akan aku lakukan nanti pada orang itu. Orang yang telah menghancurkan hidupku.”

“Yak, aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu. Apa sebe-,”

“Pertunjukan akan segera dimulai. Wendy-ah, kecangkan seatbeltmu, dan lihatlah ke depan.”

Wendy menuruti apa yang Irene perintahkan. Wanita itu melihat ke depan, dan tepat detik itu juga matanya membulat melihat seorang wanita hamil berada tiga ratus meter di depan mobil mereka. Wanita itu, Wendy tahu siapa wanita itu. Kim Taeyeon, wanita yang sangat Irene benci. Wanita yang kurang lebih dua bulan lalu hampir saja Irene bunuh, persis seperti sekarang ini, menggunakan mobilnya.

Wendy menggeleng, dia mengalihkan perhatiannya kepada sahabatnya yang menurut Wendy sudah sangat berubah. “Kau gila?!! Kau benar-benar tidak pernah menyerah?!! Yak Bae Joohyun, hentikan mobilnya sekarang juga.”

Irene tidak menjawab ujaran Wendy, wanita itu hanya tertawa melihat mobilnya semakin mendekat ke arah seorang wanita hamil yang begitu membuat hidupnya menderita. “Mati kau Kim Taeyeon. Jika aku tidak bisa mendapatkannya, maka tidak boleh ada satu orangpun juga yang bisa mendapatkannya.”

“Tidak, Bae Joohyun hentikan mobilmu sekarang juga!!!.” Wendy berteriak kencang. Tangannya terjulur berusaha menggapai kemudi mobil, membuat mobil itu oleng seketika karena gerakan tubuh Wendy mengenai tangan Irene.

“Yak Son Wendy apa yang kau lakukan, singkirkan tanganmu dan nikmati saja pertunjukan yang sebentar lagi akan dimulai!!.”

Kali ini giliran Wendy yang tidak mendengarkan perintah Irene, tangannya terus berusaha menggapai kemudi mobil. Setelah berhasil dia menyentuh kemudi, dia membelokkan mobilnya ke arah kiri, menjauhkan mobil itu sehingga tidak menabrak Taeyeon. Namun sepertinya dia terlambat, karena meskipun Wendy telah berhasil membelokkan mobil, sisi kanan depan mobilnya masih bisa mengenai sisi tubuh Taeyeon, membuat gadis itu terpental sedikit jauh dari tempatnya berdiri.

Belum berhenti sampai di situ, mobil yang mereka kendarai tidak bisa terkendali dengan baik. Dengan posisi kaki Irene masih menginjak gas, kecepatan mobil itu tidak berkurang sedikitpun. Mereka bahkan tidak sempat menghindar ketika mobilnya menabrak sebuah pagar besi rumah yang sangat tinggi dengan sangat keras.

Love, That One Word

“Semuanya seudah selesai sesuai dengan perintah anda Tuan.”

Seorang laki-laki tua berujar dengan senyum mengembang di bibirnya. Baru saja, dia mengerjakan perintah Tuan-nya, Byun Baekhyun memindahkan sebuah lemari kecil untuk di simpan di ruang tengah rumah yang masih baru.

“Terima kasih Pak Jang, saya benar-benar puas dengan hasil kerja Pak Jang dan para pekerja yang lainnya. Rumah ini, sungguh indah. Istri saya pasti sangat menyukainya.”

“Saya senang jika Anda menyukainya, kalau begitu saya permisi pulang. Jika ada apa-apa, Tuan bisa menghubungi saya kapanpun.”

Baekhyun mengangguk. “Baiklah, hati-hati di jalan Pak Jang, dan sekali lagi terima kasih.”

Setelah Pak Jang keluar dari rumah itu, Baekhyun mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah yang sebentar lagi akan dihuni oleh dia dan istrinya. Rumah mewah, rumah impiannya sejak dari kecil. Dan dia sangat bangga, kerena dia membangun rumah ini dengan uang hasil kerja kerasnya selama ini. Tanpa sedikitpun dibantu oleh kedua orang tuanya.

“Yeonie-ah, kuharap akau suka dengan rumah kita ini.” Gumamnya masih dengan senyum yang belum sepenuhnya hilang dari bibirnya.

Love, That One Word

Baekhyun mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Matanya melirik sebuket bunga yang dia simpan di kursi penumpang di sampingnya. Bunga lily, bunga kesukaan Taeyeon. Tadi saat di perjalanan pulang, tepat diperempatan jalan dia melihat sebuah toko bunga. Dan tanpa pikir panjang Baekhyun turun dari mobilnya untuk membeli sebuket bunga untuk istrinya yang sedang menunggunya di apartemen mereka.

Baekhyun merindukan Taeyeon. Padahal baru saja beberapa jam yang lalu mereka bertemu, namun rasa rindunya terhadap Taeyeon setiap detik semakin membesar. Baekhyun tertawa kecil, mengingat tadi betapa kesalnya Taeyeon ketika dirinya memberi tahu akan pergi ke kantor karena ada urusan mendadak. Oh, Byun Baekhyun, kau telah membohongi istrimu. Tidak apa-apa, kebohongannya akan segera dia ungkapkan nanti, setelah Baekhyun resmi membawa Taeyeon ke rumah baru mereka.

Drrttt

Baekhyun melirik handphone-nya yang berdering di atas dashboard mobil. Tangannya terulur mengambil handphone itu. Di layar ponselnya tertera jelas nama Yuri. Baekhyun mengerutkan kening, dia tahu kenapa gadis itu menghubunginya. Dia pasti ingin meminta ijin padanya untuk mengajak Taeyeon keluar, seperti biasanya.

Tapi tidak untuk kali ini Yuri, hari ini dia ingin menghabiskan waktu sorenya full dengan sang istri. Jadi maaf, dengan berat hati Baekhyun akan menolaknya.

“Baekhyun-ah, cepatlah ke rumah sakit. Taeyeon mengalami kecelakaan serius!.”

Belum sempat Baekhyun menjawab, suara panik Yuri kembali terdengar. “Sekarang dia sedang berada di UGD Rumah Sakit Pusat Seoul. Palli, cepat kemari.”

“Kwon Yuri apa yang kau bicarakan? Leluconmu sungguh tidak lucu.” Ujar Baekhyun, dia berusaha berpikir positif dan tidak terlalu menghiraukan ucapan Yuri. Taeyeon kecelakaan? Lelucon macam apa itu.

“Aku tidak berbohong, kau akan tahu semuanya setelah kau datang ke sini dan melihat keadaan Taeyeon sekarang dengan mata kepalamu sendiri. Ayahmu juga sedang berada di sini.”

Baekhyun terdiam, tubuhnya tiba-tiba lemas. Keringat dingin muncul di dahinya. “Araseo, aku akan segera ke sana.”

Sepertinya Yuri tidak berbohong. Suara panik gadis itu tidak seperti dibuat-buat. Ya tuhan, apa yang terjadi?. Dia masih berharap jika sekarang Yuri dan teman-temannya sedang mengerjainya. Tapi, apakah itu mungkin?.

Love, That One Word

Suasana lorong rumah sakit dekat ruang UGD tampak lengang. Tidak banyak orang berlalu lalang di lorong itu. Hanya terdapat beberapa orang yang terlihat sedang menangis dan merenung di sebuah kursi panjang.

Jongin, Lay dan Tn. Byun tengah duduk di atas kursi panjang itu dengan pikiran kosong. Sedangkan Yuri, sejak tadi tak hentinya menangis di pelukan Chanyeol yang tengah menenangkannya. Sudah sekitar satu jam mereka menunggu kepastian dokter yang sedang menangani Taeyeon di ruang operasi, namun tanda-tanda kedatangan dokter itu belum terlihat sampai sekarang.

Suara langkah kaki terburu-buru seketika membuat mereka memalingkan kepala, melihat siapa orang yang baru saja datang mendekat ke arah mereka.

Baekhyun, dengan wajah khawatirnya berlari menghampiri mereka. Wajah pria itu tampak dipenuhi keringat dingin sejak dalam perjalanan menuju rumah sakit.

“Dimana Taeyeon?.” Tanya Baekhyun langsung.

“Dokter masih memeriksanya di dalam, Baek.” Jawab Tn. Byun sambil memunjuk sebuah ruangan tempat Taeyeon berada dengan menggunakan tangannya.

“Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja? apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai dia kecelakaan?.”

Lay berdiri dari duduknya. Dia berjalan mendekat ke arah Baekhyun dan menepuk-nepuk punggung pria itu. “Duduklah dulu, aku akan menjelaskannya.”

Baekhyun menuruti perintah Lay, dengan kaki yang bergetar dia duduk di kursi yang kosong dibantu oleh Lay.


“Irene yang melakukannya?!.” Baekhyun menggepalkan tangannya setelah mendengar penjelasan Lay mengenai apa yang terjadi kepada Taeyeon dan siapa yang melakukannya. Raut mukanya berubah keras karena menahan amarah.

“Ya, bahkan kejadian dua bulan lalu di dekat kafe Jongin hyung, sebuah mobil yang hampir menabrak Taeyeon itu juga perbuatan Irene.” Ujar Chanyeol.

“Bagaimana kalian tahu?.” Tanya Baekhyun.

“Wendy, teman Irene memberitahu Yuri dan Chanyeol tadi sebelum wanita itu menghembuskan napasnya yang terakhir.”

“Dia meninggal?.”

“Hmm. Irene juga meninggal. Mobil yang Irene gunakan untuk menabrak Taeyeon hilang kendali, sehingga menabrak pagar besi besar milik tetanggamu.”

Baekhyun menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Lay. Dia tidak percaya ada manusia hidup sejahat Irene. Wanita yang benar-benar tidak punya hati. Dan, apakah dosa Baekhyun karena saat ini hatinya bersyukur Irene telah meninggal?.

Suara pintu membuyarkan lamunannya. Baekhyun menoleh, melihat seorang pria memakai seragam berwarna biru muda yang merupakan dokter keluar dari ruangan di mana sekarang Taeyeon berada. Ia berdiri, dan berjalan cepat menuju Dokter itu.

“Bagaimana keadaan istri dan anak saya dok? Mereka baik-baik saja ‘kan?.”

Raut muka ragu tergambar jelas dari wajah sang Dokter, membuat mereka yang berada di sana terutama Baekhyun harap-harap cemas menunggu jawaban pria berseragam itu.

“Keadaan istri Anda saat ini sangat kritis. Kepalanya sedikit terbuka karena terbentur trotoar, sedangkan untuk kandungannya, saya tidak yakin apakah calon anak Tuan akan selamat atau tidak, benturan itu juga membuat Ny. Byun mengalami pendarahan hebat.”

Baekhyun menggeleng keras mendengar jawaban Dokter yang berada di hadapannya, air mata yang tadinya terkumpul di pelupuk matanya perlahan turun. Di belakangnya Tn. Byun menepuk-nepuk punggungnya mencoba menenangkan.

“Selamatkan mereka Dok, saya mohon selamatkan anak dan istri saya. Saya akan membayar berapapun asalkan Dokter berjanji akan menyelamatkan mereka.” Ujar Baekhyun.

“Kami akan berusaha semampu kami, tapi itu akan sulit. Kita harus menyelamatkan salah satu dari mereka. Anak kalian, atau istri Anda.”

Baekhyun membulatkan kedua bola matanya.

“Ma-maksud Dokter?.” Yuri bersuara di belakang Baekhyun.

“Kita harus menyelamatkan salah satu di antara mereka, karena sulit untuk menyelamatkan keduanya.” Ujar Dokter itu.

“Pilihan apa itu Dok? Kami mohon selamatkan Taeyeon kami dan bayinya.” Yuri kembali histeris di pelukan Chanyeol. Sungguh, saat seperti ini tidak pernah terbayangkan oleh Yuri sebelumnya.

“Kita tidak bisa menyelamatkan keduanya. Seperti yang kalian tahu, usia kandungan Ny. Byun bahkan baru 7 bulan.” Dokter itu, Dokter Park kembali berujar. “Kita harus menggugurkan bayinya jika ingin Ny. Byun selamat, sebaliknya, jika kita memaksakan untuk mengeluarkan bayinya secara prematur, nyawa Ny. Byun yang akan terancam.” Lanjutnya.

“Kami tidak punya waktu banyak lagi, Tn. Byun Baekhyun, semua pilihan ada ditanganmu. Siapa yang ingin kau selamatkan?.”

“Apa saya tidak salah dengar, Dok? Anda menyuruhku memilih untuk menyelamatkan istri atau anak saya? Tidak dok, saya ingin keduanya selamat!.”

Benar-benar gila. memangnya ada seorang Ayah yang menginginkan anaknya meninggal? Atau seorang suami yanag ingin istrinya meninggal? Ya Tuhan, kenapa kau memberi Baekhyun cobaan seberat ini? Jika dia bisa memilih, dia lebih memilih dirinya sendiri yang mati sedangkan istri dan anaknya selamat.

“Tn. Byun saya mohon, saya tidak ingin berdebat dengan Anda. Di dalam, istri Anda sedang membutuhkan pertolongan. Saya mohon untuk Anda segera menentukan pilihan.”

Baekhyun kembali menggelngkan kepala dengan mata yang terpejam erat. Air matanya sudah banyak keluar, ia menangis.

Dia kembali membuka kedua matanya, lalu mengerjapkannya beberapa kali. Ia menoleh ke arah Ayahnya yang berdiri di sampingnya, lalu menoleh ke arah Lay, Chanyeol dan Yuri, meminta bantuan mereka untuk menentukan pilihan. Namun, mereka hanya menatap Baekhyun pasrah. Mereka tidak punya hak untuk menentukan, semua ada di tangan Baekhyun.

Baekhyun mendesah kasar, dia mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab, “Saya mohon, selamatkan keduanya. Saya yakin Anda dan Dokter yang lain bisa menyelamatkan Istri dan Anak saya.”

Love, That One Word

Beruntung ketika Dokter Park kembali ke ruang operasi, salah satu asistennya yang berada di ruangan itu memberitahunya jika Taeyeon telah siuman. Setelah dia sadar tadi, mulutnya tidak berhenti bergerak, seolah gadis itu ingin mengucapkan sesuatu. Namun, kondisinya yang kritis tidak memungkinkan untuknya bersuara.

“Apakah kita akan membiusnya sekarang, dok?.” Tanya salah satu asisten Dokter Park, tangannya memegang sebuah alat suntik.

“Tidak, tidak perlu. Yang harus kita lakukan sekarang adalah membuat Ny. Byun untuk tidak tertidur selama operasi.”

“Maksud Dokter, kita juga akan menyelamatkan bayinya?.” Tanya salah satu asistennya.

“Iya, itu permintaan Tn. Baekhyun.” Dokter Park mengangguk menjawabnya.

“Tapi, kondisi Ny. Byun sangat lemah. Untuk menyel-,” Ucapan sang asisten terhenti, ketika sebuah suara parau terdengar di ruangan itu. Mereka semua menoleh ke arah Taeyeon.

“Ba-baek op-oppa.” Beberapa kali Taeyeon mengucapkan nama Baekhyun dengana terbata.

“Cepat panggil Tn. Baekhyun ke sini.” Titah Dokter Park.

“Baiklah.” Salah satu asistennya keluar dari ruangan itu.

“Ny. Byun, kau harus bertahan. Kami akan mengerahkan seluruh tenaga kami untuk menyelamatkan Anda dan Bayi Anda. Tetapi Anda harus berjanji, selama operasi berlangsung, Anda jangan tertidur, araseo?.”

“Bae-khyun opp-a.”

“Anda ingin suami Anda di sini untuk menemani Anda selama operasi?.”

Dengan mengerahkan sisa tenaganya, Taeyeon mengangguk lemah menjawab pertanyaan Dokter Park.

“Sebentar lagi suami Anda akan datang, mohon tunggu sebentar Nyonya.”

Dan tepat setelah itu, Baekhyun datang dengan memakai seragam khusus rumah sakit. Taeyeon dapat melihatnya, mata suaminya penuh dengan air mata, sama seperti dirinya. Tangannya berusaha terangkat, namun sulit. Tangannya seperti tertahan oleh benda yang sangat berat sehingga menyusahkan si pemilik untuk menggerakannya.

“Kami tidak menyuruh Anda ke sini untuk berdiri mematung di sana Tn. Baekhyun. Mendekatlah, dan pastikan untuk tetap membuat istri Anda tidak tertidur. Karena kalau sampai dia tertidur dan tidak merespon operasi yang kami lakukan, istri dan anak anda tidak akan selamat.”

Dan Baekhyun menurut. Ia dengan kaki yang bergetar berjalan mendekat ke tempat dimana sekarang Taeyeon berbaring. Tangannya menggenggam tangan Taeyeon erat. Tangan gadis itu sangat dingin, berbeda dengan tangannya yang hangat. Dan dia berharap dengan menggenggam tangan Istrinya dia bisa menyalurkan kehangatan tangannya.

“Yeon-ah, aku mencintaimu.” Baekhyun mencium bibir Taeyeon lembut.

‘Aku juga mencintaimu, oppa.’ Balas Taeyeon dalam hati. Mata gadis itu kembali berair. Melihatnya, Baekhyun menghapus air mata itu dari mata indah Taeyeon.

“Maafkan aku karena meninggalkanmu sendiri di apartemen tadi. Aku sungguh menyesal, semua ini tidak akan terjadi jika aku tidak meninggalkanmu sendiri.” Ujar Baekhyun sambil beberapa kali bibirnya mengecup punggung tangan Taeyeon. Matanya sedikit melirik ke arah para Dokter yang sedang melakukan sesuatu di ujung kasur.

‘Oppa tidak perlu meminta maaf, aku yang salah karena lagi-lagi tidak menuruti perintahmu’. Taeyeon menjerit dalam hati. Kenapa dia susah sekali mengeluarkan suara? Dia sangat ingin meminta maaf kepada Baekhyun, sehingga pria itu tidak menyalahkan dirinya sendiri. Namun dia tidak bisa.

Tubuhnya terasa begitu lemah dan tidak berdaya. Matanya juga terasa sangat berat, dia ingin tidur. Tapi tidak, sudah jelas tadi Dokter yang sedang mengoperasinya mengatakan agar dia tidak boleh tertidur selama operasi jika ingin dirinya dan bayinya selamat.

Tetapi, sungguh dia merasa sangat mengantuk. Dia ingin memejamkan matanya. Dan tepat saat dia ingin melakukannya, suara Baekhyun yang lembut menghentikannya.

“Aku punya kejutan untukmu, kau ingin tahu apa itu?.” Tanya Baekhyun. “Aku akan memberitahumu nanti, setelah kau dan anak kita keluar dari rumah sakit ini. Tentu saja setelah kau sembuh, Yeon-ah.”

‘Tapi oppa, aku benar-benar sudah tidak kuat. Aku ingin tidur, kepalaku sungguh sakit.’

Baekhyun menatap Taeyeon dengan mata sendunya. Tangan kirinya yang bebas terangkat menyingkirkan helai rambut Taeyeon yang jatuh dengan hati-hati. Melihat ekspresi wajah istrinya saat ini benar-benar membuat Baekhyun sakit. Dia dapat merasakan bagaimana sakitnya Taeyeon saat ini. Ya Tuhan, andai saja dia bisa meminta untuk mengalihkan semua rasa sakit yang Taeyeon rasakan kepada tubuhnya. Dia sungguh tidak tega melihat Taeyeon dalam kondisi seperti ini.

“Yeon-ah, Byun Taeyeon, jangan tutup matamu. Aku mohon, bertahanlah.” Baekhyun berujar panik ketika melihat Taeyeon perlahan menutup matanya. Genggamannya terhadap tangan Taeyeon semakin erat.

Pria itu menatap Dokter Park dan Taeyeon bergantian. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang, melihat Taeyeon yang semakin menutup matanya membuat lutut Baekhyun melemas. Telinganya dapat menangkap ujaran Dokter Park yang lagi-lagi menyuruhnya untuk membuat Taeyeon tetap membuka matanya. Tapi bagaimana caranya?.

“Yeon-ah, bertahanlah untukku, jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu.”

To Be Continued

Teaser of Chapter 12 (END)

No teaser. Lol


Jauh dari prediksiku, ternyata chapter 11-nya bukan ending haha tapi untuk chapter selanjutnya sudah dipastikan akan menjadi akhir dari cerita ff LTOW :* maaf ya kalau agak sedikit aneh sama cerita di chapter 11-nya, soalnya ngetik sama idenya muncul mendadak :v

Oh ya, sekedar pemberitahuan, karena chapter selanjutnya dipastikan menjadi chapter terakhir. Itu berarti ff-nya bakalan di protect. Syarat untuk mendapatkan passwordnya, yaitu kalian harus sudah komen dari part awal sampai part 11 ini, setelah itu kunjungi deh page “How To Get a Password” ๐Ÿ˜€

Ditunggu komentar kritik dan sarannya yah :*

Kiss&Hug from me for all my lovely ATSIT fam, see you ^_^

Advertisements

197 comments on “Love, That One Word (Chapter 11)

  1. luhan nya sama saya aja authornim๐Ÿ˜‚๐Ÿ”ซ
    si irene emang bener psycho ๐Ÿ˜  untung meninggal eh ๐Ÿ˜‚๐Ÿ”ซ

  2. thor cepetan ya?chap 12
    klau chap 12 di pw
    aku minta pw nya eonii
    pliss….aku janji klau dikasih pw
    aku bkal koment semua dari chap 1-11

  3. Please taeyeon selamat please๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ NOOO taeyeon Aja dah yg selamat ,kan kalo baby bisa bikin lagi kalo taeyeon selamat #okeakukonyol #maapkan aku ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚โœŒ๐Ÿป๏ธโœŒ๐Ÿป#jgn serius

  4. Kapan update thoor ? Aku komen kok dari pengenalan tokoh sampe ke chapt 11 walaupun telat gegara baru baca ff ini, lanjutin thor plis happy ending kasian baek ditinggal mulu kalau taeyeon mnggal

    fighting !!!!

  5. gaak dilanjutin kah?
    aku cariin part 12 kok gaada
    pdhl udh comment dari part awal smpai 11
    bagusss bangett min.. penasaran hppy end atau sad end

  6. Oohhh terharu bgt sama ceritanya..
    Bakal happy ending ato sad ending nih?
    Ayo lah thor bagi pw yaa.. kepo nihh.
    Jebal ^โ€ข^

  7. Authoorrr.. Ini kapan mau diupdatenyaa,, mungkin author gak akan percaya, tapi aku setiap hari selama setaun ini terus ngecek ff ini,, ohh iya happy new year thor,, maaf telat,, aku harap author bisa update ff ini secepatnya,, saranghae author ๐Ÿ’–๐Ÿ’–

  8. thor masih lanjutkah? aku masih penasaran nih dengan ending nyaaaaa..
    semoga aja dipart selanjutnyya taeyeon daan anak nya tetep bisa selamat..
    oh iya thor, kalo ini dah tamat.. buat ff lutae dong, dah lama ga baca lutae dan topik nya tentang rumor luhan udah punha anak dan istri orang korea itu kalo bisa

  9. Astaga knpa irene itu jahat bgt..
    Taeyeon dan bayi nya pasti selamat kan??
    Oh ayolaahh happy ending please..
    ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

  10. Baru bca lnjutan ff ni thor.. Sdikit lupa jga sma alur cerita.ny.. Tpi te2p seru thor crita.ny ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

  11. Waaaaaa ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ jadi deg degan ginii, dari awal sampe chapter ini ga pernah bosen2 nya buat ga baperin hehe..
    Ketika ada adegan yang sad udh kebawa suasana dluan huhu..
    Love it!! Suka banget thorโคโคโค

  12. Bodo amat aku bela belain setor komen dari chap 1 -11 dalam sehari demi baca part terakhir karena udah nungguin dari lamaaa banget ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s