Almost Is Never Enough [Chapter 1]

almost is never enough

By Junsihye

Staring by:

Kim Taeyeon (Girls’ Generation) | Byun Baekhyun (EXO)

Tiffany Hwang (Girls’ Generation) | Park Chanyeol (EXO | Do Kyung Soo (EXO)

Other Cast : Seungri BigBang

Romance, Hurt, Friendship

Rating : PG-15

Disclaimer : This story based from author’s mind and inspired by Ariana Grande’s song Almost is Never Enough. I have not own the characters. Don’t be plagiarism

[Teaser]

Chapter 1

“Kenapa kau tidak bilang jika kemarin kau pergi menjenguk Baekhyun?” tanya Chanyeol pada Tiffany dengan nada yang tegas. Mereka mulai lagi. Seperti biasa aku selalu menjadi penonton. Dan kadang-kadang menjadi orang yang menyudahi adu mulut mereka jika aku sudah muak.

“Aku hanya menjenguknya, kau berlebihan sekali!” Tiffany membalas

“Apa? Berlebihan katamu?!”

Kulirik jam dinding yang ada di ruang tengah rumah Chanyeol. Pukul 9, Baekhyun pasti sudah menunggu. Aku bangkit dari sofa empuk milik Chanyeol, lalu dengan sengaja berdiri di tengah-tengah mereka.

“Sudahlah! Kalian meributkan hal yang tidak penting. Sekarang kalian mau ikut aku menjemput Baekhyun atau tidak?”

“Aku ikut!” seru Tiffany sambil mengangkat tangannya.

“Wah, wah, bagaimana bisa kau sangat bersemangat seperti itu?!”

Tak ada waktu lagi untuk mendengarkan celoteh mereka. Aku menarik tangan mereka berdua, membawa sepasang kekasih itu masuk ke dalam mobil. Mereka saling diam dan membuang wajah satu sama lain di kursi belakang. Sementara aku mengemudikan mobil. Baguslah, setidaknya aku dapat menyetir dengan tenang.

Harusnya Kyung Soo yang menjemput Baekhyun. Kemarin ketika kami akan pulang Kyung Soo menelepon ponsel Baekhyun dan bilang bahwa dia tidak bisa menjemputnya karena ada pertemuan penting. Mendengar hal itu, secara spontan aku mengajukan diri untuk menjemputnya hari ini.

*****

Kami berada di depan gedung rumah sakit. Chanyeol membantu Baekhyun untuk memasuki mobil. Sementara aku dan Tiffany berdiri di samping pintu mobil. Barang-barang milik Baekhyun sudah ada di dalam bagasi. Setelah Baekhyun masuk, Chanyeol merebut kunci mobil dari tanganku.

“Biar aku yang mengendarai mobilnya, kau tidak tahu tempat tinggalnya kan?” tanyanya.

“Ne,” balasku.

Aku masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang bersama Baekhyun. Karena sudah pasti tempat disamping kemudi itu milik Tiffany seorang. Aku sedikit gugup duduk dekat Baekhyun. Mungkin ini karena aku jarang bergaul dengan lelaki sebelumnya, Chanyeol adalah sebuah pengecualian. Tanpa Tiffany aku tidak akan pernah mengenal lelaki, sepertinya.

Baekhyun adalah lelaki pertama yang menatapku sambil tersenyum dan mengatakan bahwa dia senang bisa menjadi teman dekatku. Aku berlebihan. Tapi memang begitulah kenyataannya.

“Kita seperti sedang reuni, ya?” Tiffany menolehkan kepalanya ke belakang. “Dulu Taeyeon adalah siswa paling pemalu dan pendiam, sampai sekarang pun begitu. Dan Baekhyun, kau adalah laki-laki paling cerewet di kelas,” lanjutnya.

Seharusnya Tiffany menjelaskan juga, bahwa aku bukanlah gadis pendiam dan pemalu jika sedang bersamanya.

“Benarkah? Aku dapat merasakannya,” ucap Baekhyun lalu tertawa.

“Baekhyun-ah, aku beritahu wanita itu lebih suka pria yang cool dan berkharisma seperti aku, benarkan Fany-ya?” ucap Chanyeol dengan sombongnya. Dia sering sekali membanggakan dirinya pada orang lain.

“Lalu, kenapa aku tidak menyukaimu Chanyeol-ah?” tanyaku meledek.

“Kalau kau itu…, tidak normal.” Chanyeol tertawa puas.

“Jika Chanyeol tidak menarik dimatamu, lantas bagaimana tipe idealmu?” tanya Tiffany dengan wajah yang sumeringah.

Aku tidak tahu harus menjawab apa sekarang. Tidak pernah terpikikan akan ada orang yang menanyakan tipe idealku.

“Jangan bilang kau suka pria pendiam, culun, kutu buku, dan pemalu. Aku tidak bisa membayangkan rumah tanggamu nanti Taeyeon-ah.” Chanyeol tertawa lagi, Tiffany juga ikut tertawa sekarang. Aku melirik Baekhyun, dia juga tertawa. Walaupun tidak terlalu keras seperti Chanyeol dan Tiffany.

Bagus sekarang Baekhyun menertawakan aku.

“Aku pikir kau butuh pasangan yang banyak bicara, konyol, dan menyenangkan,” ucap Tiffany setelah berhenti tertawa.

“Banyak bicara, konyol, dan menyenangkan itu adalah sifat Baekhyun.”

“Chayeol benar! Sebaiknya kalian mencoba untuk berkencan.”

Kurasa Baekhyun sedang melihatku. Mengapa pembicaraannya menjadi seperti ini. Baekhyun pasti merasa tidak nyaman. Entah dorongan darimana, kepalaku menoleh ke arahnya, membuat kami saling bertatapan. Sorot matanya tidak bisa ku mengerti. Oh, ini akan membuatku tidak bisa tidur.

“Hentikan ini, okay?” tegasku sebelum pembicaraannya semakin parah. Lagi pula, pipiku mungkin akan memerah jika mereka terus membahas hal itu.

“Kenapa kita harus menghentikan pembicaraan ini, kapan lagi kita bisa menggoda Taeyeon,” ucap Chanyeol membuatku kesal.

“Sudahlah, apa kau tidak ingat bagaimana terakhir kali dia marah pada kita?”

Tiffany bilang aku sangat menyeramkan ketika sedang marah. Terakhir kali aku marah adalah ketikat Tiffany dan Chanyeol menumpahkan kopi hitam pada tumpukan kertas berisi fiksi yang aku tulis selama bertahun-tahun. Dan itu terjadi setelah aku kehilangan semua data yang ada di laptop kesayanganku. Mungkin fiksi yang aku tulis sudah diterbitkan hari ini jika saja itu tidak terjadi. Aku jadi sedih mengingatnya.

Setelah sampai di kediaman Baekhyun. Tiffany dan Chanyeol segera turun dan mengeluarkan barang dari bagasi. Aku berniat membantu mereka, namun ketika hendak keluar dari mobil, Baekhyun menahan lenganku. Kutolehkan kepalaku dan menunggunya mengatakan sesuatu.

“Bisakah kau membantuku? Kepalaku terasa sakit lagi setelah melewati polisi tidur tadi,” ucapnya.

“Oh, ne.”

Aku keluar dari mobil dan menghampiri bagian pintu mobil lain, lalu membukanya. Sejenak aku memikirkan bagaimana cara membantu Baekhyun untuk masuk ke rumah. Apa aku hanya perlu memegangi tangannya? Ataukah aku harus memegang kedua sisi tubuhnya? Namun ditengah kebingungan itu, Baekhyun mengalungkan tangan kanannya pada leherku. Jantungku berdetak hebat. Baekhyun terlalu dekat. Dan tubuhnya terlalu berat untukku.

Dengan sekuat tenaga aku memapahnya ke dalam rumah. Jaraknya terasa sangat jauh, padahal hanya beberapa meter saja.

“Baekhyun-ssi, dimana kamarmu?” tanyaku.

Lelaki itu terdiam, tidak menjawab. Sementara bahuku sudah pegal dan tidak bisa bertahan lama lagi untuk menahannya. Aku memukul kepalaku sendiri ketika menyadari sesuatu. Baekhyun mengalami amnesia, dia tidak akan ingat apapun tentang rumah ini.

“Ah, aku lupa! Mianhae Baekhyun-ssi.”

“Aku ingin berbaring di sofa itu saja.”

Dengan sisa tenaga yang aku miliki, aku membantu Baekhyun berbaring di sofa itu. Lega sekali rasanya. Aku memukul-mukul bahuku pelan, berharap dengan cara ini rasa pegalku akan hilang.

“Maaf, karena aku merepotkanmu.”

Aku menggeleng. “Tidak, aku senang membantumu,” kataku sambil membubuhkan senyum di bibir. “Aku akan membuat makan siang,” lanjutku.

Sambil berjalan ke dapur, aku melihat-lihat keadaan rumah Baekhyun. Ku temukan dua kamar tidur, dan sebuah ruangan berisi piano di dalamnya. Alat musik selalu berhasil mengingatkan aku pada appa. Saat aku kecil appa setiap hari memainkan alat musiknya, dan terkadang ketika ia memainkan piano eomma mengiringinya dengan bernyanyi.

“Taeyeon-ah, kau merindukan orangtuamu?” Tiffany menepuk bahuku, membuyarkan kenangan masa lalu yang sedang berputar di kepala ini.

“Temui mereka, sudah lama sekali sejak terakhir kali kau mengunjungi rumah orangtuamu,” lanjut Tiffany.

“Mau membantuku memasak?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

*****

Author’s POV

Taeyeon merebahkan tubuhnya di kasur. Seharian ini dia menghabiskan waktunya di rumah Baekhyun. Ia merasa senang sekaligus heran. Rasanya aneh, mereka bertemu setelah sekian lama karena Baekhyun mengalami kecelakaan dan kehilangan sebagian ingatannya. Jika saja orang itu bukan Baekhyun, pasti hubungan mereka akan kaku. Apalagi dengan sifat pendiam sekaligus pemalu yang dimiliki Taeyeon pada orang yang tidak terlalu dikenalnya.

Gadis itu teringat dengan perkataan Tiffany yang menyuruhnya untuk mengunjungi orangtua. Taeyeon tidak memiliki masalah dengan orangtuanya. Mereka juga tidak bercerai atau mengalami keretakan rumah tangga. Namun dia merasa malu datang kesana. Taeyeon merasa dirinya telah mengecewakan orangtua. Mereka telah mengeluarkan banyak uang untuk Taeyeon, tapi dia belum menghasilkan apapun. Setidaknya dia harus mendapat peringkat ke 5 dalam ujian, namun hal itu sangat sulit terwujud.

Ponsel disampingnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Tiffany. Taeyeon segera mengangkat telepon itu tanpa mau merubah posisi berbaringnya.

“Taeyeon-ah, besok temani aku ya bertemu dengan Seungri.”

“Kenapa harus ditemani?”

“Chanyeol akan memarahiku jika dia tahu aku bertemu dengan lelaki lain, setidaknya aku memiliki alasan jika pergi bersamamu.”

“Baiklah.”

Bip.

Tak lama setelah memutuskan sambungan telepon, ponsel itu kembali bergetar.

“Yeoboseyo.”

“Baekhyun-ah, ada apa?”

“Apa jadwalmu kosong besok? Aku ingin keluar rumah dan berkeliling Seoul.”

“Berkeliling Seoul? Kau kan masih sakit.”

“Aku akan lebih sakit jika terkurung terus di dalam ruangan.”

Taeyeon menghela napas. Ia sangat ingin menemani Baekhyun, tapi ia sudah setuju untuk menemani Tiffany.

“Tapi…, besok aku akan menemui Tiffany. Coba kau ajak Kyung Soo dan Chanyeol.”

“Aku sudah menghubungi mereka. Kyung Soo sangat sibuk dengan pekerjaannya dan Chanyeol ada kelas besok.”

“Mungkin aku bisa menemanimu saat sore atau malam, tapi aku tidak berjanji.”

“Gwenchana, kau mungkin akan lelah setelah menemui Tiffany, jangan memaksakan dirimu.”

“Ne.”

“Kalau begitu, aku akan menutup teleponnya. Selamat malam Taeyeon-ah.”

*****

Taeyeon dan Tiffany sudah berada di sebuah taman yang lumayan sepi. Mereka duduk di salah satu bangku sambil menunggu seseorang datang. Sudah hampir tiga puluh menit mereka menunggu. Namun Seungri belum menunjukkan keberadaannya sampai saat ini. Tiffany tidak merasa keberatan harus menunggu Seungri selama itu. Wajar saja karena Seungri adalah seorang idol, dia pasti sangat sibuk.

“Cepat hubungi dia! Aku harus segera pulang,” ucap Taeyeon.

Tiffany mengeluarkan ponselnya lalu mencari kontak Seungri disana.

“Seungri, kau dimana?”

“Aku dibelakangmu.”

Seseorang menepuk bahu Tiffany. Dia adalah Seungri dengan segala alat penyamarannya. Taeyeon membayangkan apakah dulu eomma-nya juga selalu berpenampilan seperti itu jika ingin keluar rumah. Pasti dia sangat menderita.

“Seungri-ah!”

“Maaf membuatmu menunggu lama, hyung tidak mengizinkan aku untuk keluar tadi.”

“Aku sudah biasa menunggumu.” Tiffany memutar kedua bola matanya.

“Perkenalkan, ini temanku, Kim Taeyeon. Dia adalah anak dari Song Tae In dan Kim Yoo Chul.”

Taeyeon menoleh ke belakang lalu tersenyum. Sementara lelaki bernama Seungri itu tampak kaget dengan ucapan Tiffany.

“Benarkah? Aku sangat menyukai eomma-mu,” katanya sambil tertawa.

“Kalian tunggu dulu disini ya, aku akan membeli kopi,” ucap Tiffany sambil beranjak dari bangku taman. Seungri mengangguk lalu mengambil posisi duduk di sebelah Taeyeon.

“Apa kau ingin menjadi penyanyi juga?” tanya Seungri setelah Tiffany benar-benar pergi.

“Tidak.”

“Sayang sekali, kau pasti memiliki suara yang cantik seperi Tae In sunbae dan wajahmu sangat cantik,” ucap Seungri sambil membuka maskernya karena merasa tidak nyaman.

“Terima kasih.”

“Bukankah itu Seungri oppa?” teriak seseorang sangat kencang. Dia menunjuk ke arah Seungri. “Dia bersama seorang wanita?” seru yang lainnya.

Dengan sigap Seungri menarik tangan Taeyeon dan membawanya berlari menjauh dari tempat itu.

TBC

Hai hai! Semoga di updatenya ga kelamaan ya.

Jangan lupa like dan komentarnya 🙂

Advertisements

40 comments on “Almost Is Never Enough [Chapter 1]

  1. Tbc nya ituloh 😠😠😠😠😠
    No comment deh, bingung mau ngomong apa 😂 intinya ff nya seru (?) Tapi aku lagi ngeship kaiyeon jadi lumayanlah
    Next thor

  2. yes chap pertamanya dah keluar
    ceritanya asyik wkwkwk, dan keseluruhan udah bagus thor gak ada typo atau cacat sedikitpun^^
    masih penasaran sama pemikiran pertamanya baekhyun ke taeyeon
    wiihhh apalagi ada tambahan tokoh seungri kira” dia jadi pengganggu hubungan baekyeon atau sebagai teman barunya taeng?
    next chapnya ditunggu thor, semangattt!!!^^~

  3. wuidihhh si seungri kyaknya terkenal abis, bru buka masker sbentar langsung ketahuan ama fans nya, dan taetae pun hrus ikut berlari krna seungri, hahhahhhh

  4. Woaaah chap 1 keluar , bagus bgt thor aku suka bahasany enak dibaca. BaekYeon momentny jg, ehh jadi Taeng anak artis ceritany .Taeng sama Seungri gimana?

  5. bagus bagus tapi kependekan. wah bakal jadi skandal nih antara seungri sama taeyeon. kurang greget nih baekyeon moment nya harus banyakin baekyeonnya ya hahaha next chap ditunggu 🙂

  6. wah kpendekan thornim tbc nya ganggu bgt -_-”
    tp ceritanya keren
    knp seungri menemui tiffany??? apa mau dipasangkan sm taeng
    argh!!kepo
    next thornim^^
    hwaiting

  7. wah seru seru :3 tapi next chapter panjangin dong thor :3 chap ini kepndekan..
    sama kek komenan yg lain banyakin baekyeon momentnya ya thor next chap nanti.. 😀
    next chap ditnggu 🙂

  8. Pingback: Almost Is Never Enough [Chapter 3] | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s