[FREELANCE] Our First Love (Chapter 5)


Title : Our First Love
Author/twitter
 : HannaByun_ss (twitter :
@HannTaeng74)

Main cast : Kim TaeYeon SNSD Byun BaekHyun EXO Jung Jessica SNSD

Support cast : Yoon BoMi Apink Park ChanYeol EXO Kim JiWoong Kim JongIn(Kai) EXO EunJi Apink ChoRong Apink
Length
 : chapter
Rating
 : PG-16
Genre
 : School life, rommance, hurt (maybe)

Note : Readers, annyeong…!! aku nggak mau banyak bilang apa-apa.., only, dont be a silent readers, comment juseyo..

Preview: Intro, Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4

Oke Happy Reading… ^^

Part 5

Seoul Station, 18 Juli, 09:12.

BaekHyun POV.

Aku menarik ranselku dengan malas, menuruni kereta yang telah membawaku kembali ke Seoul, dengan meninggalkan ketujuh temanku di sana. Aku memang terlihat tidak tahu diri, pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih pada Kai dan BoMi yang sudah mengajakku berlibur dengan mereka. Tapi aku merasa keputusanku sudah benar. Meninggalkan liburan bodoh itu sebelum mereka bangun, tanpa pamit sekalipun sebelumnya.

Sejujurnya aku tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Liburan tak terduga dengan kejadian tak terduga pula. Tapi aku tidak peduli. Aku sungguh tidak peduli mereka akan marah padaku atau menganggap sikapku yang terlalu kekanak-kanakan. Aku tidak peduli Kai akan menganggapku seperti apa setelah pertengkaran kami semalam.

“Cih! Aku memang sudah menduga dari awal kalau dia akan mengincar TaeYeon! Kentara sekali kalau dia sudah merencanakannya! Ternyata dia memakai ini untuk membuatku cemburu di depannya!” umpatku sambil melangkah kasar keluar dari stasiun.

Flash back

“Sudahlah Kim TaeYeon! Sepertinya kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya. Asal kau tahu saja, Jessica sangat berarti bagiku! Dia bukan hanya sekedar sahabat yang selalu menemaniku kemanapun. Aku sangat menyayanginya!”

Ya, aku memang merasa sudah menyayangi Jessica sejak dulu. Aku juga mengetahui kalau diriku selalu nyaman jika sudah mengobrol dengannya. Sejujurnya, dia adalah teman yeoja pertama yang dapat sedekat ini denganku. Dia selalu punya solusi disetiap ceritaku mengenai TaeYeon. Dia selalu membantuku untuk bisa pergi dan menemui TaeYeon. Makanya aku sangat sangat menyayanginya. Aku merasa marah ketika melihatnya sendiri tanpa bisa melawan namja-namja brengsek itu. Aku kesal pada diriku sendiri karena tidak dapat melindunginya saat dia membutuhkanku. Tapi yang lain justru berbalik menyalahkanku. Yang tidak aku habis pikir, kenapa bisa yeoja yang aku cintai justru berpikir lain soal kejadian yang menimpa Jessica, dia malah menganggapnya hanya masalah biasa. Sungguh membuatku kesal saja! Aku memang sempat melihat air mata jatuh dipipinya setelah mendengar ucapanku, mungkin menyadari kalau ucapannya salah, sebelum seseorang di belakangnya memanggilnya.

“TaeYeon?”

Kai, dia terkejut setelah menangkap aku dan TaeYeon sedang bertengkar, lalu menghampiri TaeYeon dan dengan cepat memeluknya.

“Kau kenapa?! Apa yang telah terjadi?!”

Sontak aku terkejut dengan aksinya itu, memeluknya tiba-tiba di depanku seperti itu. Apa dia sengaja melakukannya?

“Ani! Kami hanya sedang menyelesaikan masalah di dalam.” jawabnya, terdengar berusaha tenang setelah melepaskan pelukan Kai.

Omo!! Bahkan mereka bisa-bisanya menyempatkan diri untuk bercakap, seperti tidak mempedulikan aku yang juga ada di tengah mereka. Apa mereka sudah merencanakan ini sebelumnya?!

“Ige mwoya? Apa semua kejadian ini sudah kalian setting sebelumnya untuk membuatku kesal dengan membuat drama menjijikan ini?!”

“Mwo?! Ada apa denganmu?! Sepertinya ucapanmu sudah mulai melantur, Byun BaekHyun! Kau hanya akan mempersulit masalah ini!”

Mwo?! Apa katanya?! Ya!!!

“Siapa yang mempersulit sekarang, eoh?!” balasku sudah kehilangan kendali.

“Cukup, BaekHyun! Kami tahu kau sedang kesal! Tapi benar yang diucapkan Kai, kau hanya akan membuat masalah jadi bertambah panjang dengan ucapanmu!”

TaeYeon akhirnya membentakku. Aku cukup terkejut mendengarnya berteriak seperti itu. Aku tidak percaya kalau dia akan membela Kai di hadapanku. Jadi begitukah, Kim TaeYeon?

“Sepertinya kau membelanya terus, Kim TaeYeon. Apa ini juga bagian rencanamu untuk memojokanku?” tanyaku menatapnya tajam. “Baik kalau kalian berpikir begitu! Aku akan pulang besok pagi agar kalian dapat menyelesaikan masalahnya tanpa aku.”

Dengan cepat aku berdiri dan memutuskan untuk meninggalkan mereka. Setelah dirasa langkahku sudah berada tepat di samping Kai, aku kembali berujar. “Gomawo sudah mengajakku ke tempat drama menyedihkan ini. Kalian berhasil membuatku cemburu.” lanjutku, lalu benar-benar pergi meninggalkan mereka.

“BaekHyun, tunggu!”

Aku mendengarnya berteriak memanggilku. Tapi kurasa kau sedang tidak berpihak padaku Kim TaeYeon.

Flash back off

Aku membuang napas kasar setelah mengingat pertengkaran semalam, yang sedetik kemudian, kurasakan ponselku bergetar dari dalam saku celana. Dengan cepat kuraih benda itu dan menggeser layar ponsel dengan ragu setelah tahu siapa yang menelponku.

“Yeoboseyo?”

“BaekHyun-ah!! Kenapa kau pergi meninggalkan kami, eoh?! Ada apa denganmu?!” tanya yeoja itu berteriak, membuatku menjauhkan ponsel dari telinga dengan cepat.

Jessica, yeoja itu yang menelponku. Aku berniat untuk mendiaminya lebih dulu, ingin mengatahui apa alasannya menelponku. Dirasa aku tidak kunjung membuka mulut, ia kembali berujar.

“Byun BaekHyun jawab aku!! Aku sudah tahu semuanya! Pertengkaranmu semalam dengan Kai dan TaeYeon! Sebenarnya ada apa denganmu?!”

Sudah kuduga ia akan menanyakan ini padaku. Memang, semalam dia tidak mengetahui pertengkaran itu. BoMi bilang dia sempat tak sadarkan diri, lalu tertidur di ruang tengah. Aku rasa Kai yang menceritakan kejadian itu padanya. Benar saja, sedetik kemudian Jessica berujar lagi di seberang sana.

“Kai yang menceritakannya padaku. Kau tahu, TaeYeon terlihat sedih sekali ketika Kai menceritakannya padaku.”

“Oh ya? Kukira malah mereka yang akan senang ketika melihatku sudah tidak ada di villa itu.” jawabku enteng, seakan tidak peduli dengan omelan Jessica.

“Ya! Kau ini bicara apa?! Aku tahu kau sangat marah saat itu, tapi bisakah kau tidak mengatakan omong kosong yang dapat menyakiti hati TaeYeon?!”

Mwo?! Menyakiti hati TaeYeon? Apa yang sedang ia bicarakan?!

“Maksudmu?”

“Kai bilang TaeYeon langsung menangis ketika kau bilang sangat menyayangiku. Apa kau tidak merasa kau telah menyakitinya?!”

Aku membuang napasku kasar; tidak percaya dengan apa yang ia katakan barusan. Jadi hanya karena ini ia menelponku? Bahkan kemarin aku sangat sangat menghawatirkannya, tapi masih saja dia menghawatirkan perasaan TaeYeon. Padahal kalau saja ia tahu yang sebenarnya, TaeYeon tidak menghawatirkannya saat itu, mungkin ia tidak akan menghujaniku dengan omelannya saat ini.

“Jadi dia mengaduh padamu? Jinja, aku tidak habis pikir padanya! Sebaiknya kau tanyakan dulu padanya, bagaimana perasaannya saat itu! Ia sama sekali tidak menghawatirkanmu, kau tahu?”

“Ani! Kau telah salah paham, BaekHyun! TaeYeon tidak seperti itu! Dia juga menghawatirkanku, yang lainpun begitu.”

“Ne, mungkin aku memang sudah salah paham padanya, tapi asal kau tahu, Sica-ah, walau dia bilang juga menghawatirkanmu, tapi ia menganggap kejadian yang kau alami kemarin adalah hal biasa! Apa masih bisa kau menghawatirkan perasaannya, eoh?!”

“Ani…….”

“Dan apa kau ingin mendengar langsung dari mulutku, kenapa aku bilang begitu padanya?!” ujarku memotong ucapan Jessica, “Ne, aku memang menyayangimu! Dan itu bukan hanya sekedar omong kosong! Aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri, Sica-ah! Aku sangat kesal ketika TaeYeon bilang masalahmu hanya masalah biasa, padahal kala itu aku sangat menghawatirkanmu!” ucapku akhirnya sedikit berteriak, membuat beberapa orang disekitarku menoleh ke arahku dengan tatapan aneh, tapi aku tidak peduli. Memang itu yang aku rasakan saat ini. Aku hanya ingin menyampaikannya saja padanya.

Aku tidak mendengar jawabannya lagi di seberang sana. Mungkin ia sedang mencerna ucapanku. “Jadi kuharap, kau tidak akan membahas ini lagi dengan ku.” lanjutku.

Sedetik kemudian, aku langsung mematikan sambungan secara sepihak, tidak peduli Jessica akan marah padaku nantinya. Lalu kumatikan ponselku agar yeoja itu tidak bisa menghubungiku lagi. Sungguh aku sangat frustasi dengan semua ini.

* * *

One month later, last holiday summer, 11:00.

“Aku rasa kau jangan hanya meminta maaf pada BoMi dan Kai, kau juga harus minta maaf pada TaeYeon.” ucap yeoja disampingku.

Kini aku dan Jessica sedang berjalan menuju rumahku setelah memutuskan untuk pergi bersama ke festival kembang api nanti malam sebelum liburan berakhir. Memang, aku sudah meminta maaf pada Kai dan BoMi setelah kejadian waktu itu. Jessica bilang, semua menghawatirkanku setelah mendapati diriku dan barangku sudah tidak ada di kamar. Dan seminggu berlalu setelahnya, aku memutuskan untuk pergi kerumah BoMi ditemani Sica. Tapi kala itu Kai tidak ada dirumah BoMi, jadi aku hanya menitip pesan maafku padanya lewat BoMi. BoMi bilang semua memaklumi keadaanku waktu itu, terutama Kai. Sejujurnya aku malas harus meminta maaf pada mereka, tapi Jessica selalu mendesakku. Jadi aku turuti saja kemauannya, dengan syarat dia tidak akan mengungkit masalah ini lagi denganku. Tapi sepertinya sekarang ia kembali mengungkitnya.

“Sudah berapa kali aku bilang padamu untuk tidak membicarakan ini lagi, eoh? Kau ingin membuat moodku hari ini jadi tidak enak?”

“Ani.., bukan itu maksudku. Tapi sampai kapan kau akan menjauhi TaeYeon seperti ini? Disini kau yang salah paham padanya, BaekHyun!”

Aku membuang napas kesal, “Biar saja!” jawabku ketus sambil mengalihkan pandanganku ke arah lain.

“Haaiishh, kau ini! Hubunganmu dengan yang lain bisa kembali pulih dengan mudah, tapi kenapa dengan TaeYeon tidak?! Kau seperti menutup dirimu untuk TaeYeon.”

“Aniyo.., aku tidak merasa begitu! Aku hanya masih kesal saja padanya!” jawabku enteng.

“Sebulan lamanya? Sebaiknya kau memberinya pesan lebih dulu, lalu temui saat dia pulang!”

“Pulang? Memangnya ia kemana?”

“Ne, dia selalu pergi ke Jeonju saat liburan panjang. Ia bilang akan terlalu sepi jika ia berdiam diri di rumah saat appanya pergi bekerja. Makanya ia pergi menemui saudaranya di Jeonju.” jelas Jessica.

“Lalu bagaimana dengan oppanya? Bukankah ia memiliki kakak laki-laki?”

“Terkadang JiWoong oppa akan menemani TaeYeon di Jeonju. Tapi entahlah, beberapa hari lalu aku masih melihatnya di rumah.”

“Kenapa ia harus ke Jeonju segala, padahal masih ada JiWoong hyung yang akan menemaninya di rumah. Apa dia selalu tidak memiliki kegiatan saat liburan? Ia bisa menemui teman-temannya kalau merasa bosan di rumah! Dia seperti tidak memiliki teman saja!” rutukku tanpa sadar.

“Ya! Kenapa kau merasa kesal?” timpal nya yang sedetik kemudian merubah ekspresinya. Tergambar jelas ia menampakan senyum penuh arti ke arahku. “Atau kau sebenarnya…..”

“Wae?”

Bukannya melanjutkan perkataannya, ia malah semakin menyeringai, seperti ingin menggodaku.

“Wae?!”

“Hahahaaha!! Kau tidak perlu berbohong, tuan Byun! Kau merindukannya kan?”

“Mwo?! Jadi kau sedang menggodaku, eoh?!”

“Menggoda?! Aku serius! Sudahlah akui saja, sebenarnya kau merindukannya, kan? Temuilah dia! Kurasa ia akan sedih kalau kau seperti ini terus.”

Merindukannya? Apa aku merindukannya? Sejujurnya ya, aku cukup merindukannya, walau sebenarnya aku masih terlalu kesal padanya. Lalu apa yang harus kukatakan jika sudah bertemu dengannya? Minta maaf padanya dan memeluknya? Kalau seperti itu justru aku tidak yakin ia akan memaafkanku dengan mudah.

“Entahlah.., aku hanya tidak ingin berhubungan dulu dengannya. Kurasa ini yang harus kulakukan saat ini.”

“Padahal dulu kau semangat sekali ingin mengejarnya dan menaklukan appanya. Tapi sekarang? Kau bukan BaekHyun yang kukenal kalau seperti ini!”

“Ck! Kau ini bicara apa?! Kau membahas ini benar ingin menggodaku, kan?”

“Aiishh! Sudah kubilang aku tidak menggodamu!”

Kembali kuhela napas panjang, lalu mengelus kepalanya sedikit kasar, membuatnya jadi sedikit kesal padaku. Aku hanya membalasnya dengan smirkku. Aku sedang malas harus berdebat dengannya. Mungkin dengan sedikit menggodanya akan membuatnya tidak membicarakan soal TaeYeon lagi.

” Tadi katanya kau ingin membeli minuman?” tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan ini.

“Kau bisa saja mengalihkan pembicaraan!” aku hanya bergidik malas. “Tapi aku ingin ke toilet dulu! Kau saja yang membeli minumannya di sana!” unjuknya pada sebuah toserba di sampingku. Aku menoleh melihat toko itu, dan segera memberi protes padanya.

“Aaiishh!! Jadi kau menyuruhku?!”

Belum sempat aku kembali menoleh melihatnya, ternyata ia sudah berlari menuju gang sempit dimana toilet berada. Dia sempat menjulurkan lidahnya meledekku sebelum menghilang di belokan gang itu, membuatku kembali merutuki dirinya.

“Kalau sudah seperti ini, akulah yang membayar minumannya! Lihat saja kau nanti, Sica-ah!”

Lalu aku memutuskan masuk ke dalam toserba itu untuk membeli minuman untukku dan Jessica.

BaekHyun POV end.

* * *

TaeYeon POV

Oppaku baru saja menjemputku dari stasiun dengan mobil yang ia pinjam dari appa. Mengingat aku membawa koper dan banyak oleh-oleh dari kampung halamanku, jadi oppa menggunakan mobil appa untuk menjemputku. Ya, aku baru sampai dari Jeonju setelah berlibur kurang dari satu bulan di sana. Dan selama itu pula, aku sama sekali tidak berhubungan dengan BaekHyun.

Setelah kejadian waktu itu, aku belum lagi mendengar kabar dari Jessica maupun yang lain, apalagi dari namja itu. Aku sempat menyesali liburan waktu itu, yang membawaku benar-benar menjauh dari BaekHyun. Aku rasa dia masih marah padaku.

Aku terkejut ketika Kai pagi itu menceritakan semua pertengkaran itu pada Jessica. Aku sempat menghalangi Kai, tapi dengan desakan Jessica yang kala itu ingin sekali mengetahui kejadian yang sebenarnya, jadi Kai memutuskan untuk menceritakannya. Aku hanya bisa menahan tangisku agar tidak terlihat oleh Jessica. Aku tidak ingin terlihat menyedihkan di depannya. Walau sampai sekarangpun aku masih sedih kalau mengingat ucapan BaekHyun malam itu.

Sampai di depan pertigaan jalan, mobil berhenti. Aku mengernyitkan dahi dan menoleh pada oppa. Pasalnya ini belum sampai di rumahku.

“Kenapa berhenti?”

“M.., TaeYeon-ah!”

Aku menangkap gelagat aneh dari oppaku. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi entah apa itu yang membuatnya canggung untuk mengatakannya.

“Wae?”

“Begini, aku ingin menemui pacarku dulu untuk memastikan pertemuan kita malam ini. Jadi maukah kau tunggu di sini dulu sementara aku menemuinya di rumahnya, otte?”

“Maksudmu? Aku harus turun dan menunggumu di luar sana, begitu?” tunjukku ke arah jalan yang terlihat panas sekali.

“Ne.” jawabnya sambil menggaruk tengkuknya.

“Mwo?! Kau tega sekali oppa! Aku kan bisa saja menunggu di dalam mobil dan membiarkanmu bertemu dengannya!” jawabku kesal.

“Andwae!” teriaknya cepat. Membuatku kaget saja, dia berlebihan sekali. “Kau pasti tahu maksudku!” rengeknya., sedangkan aku hanya kembali mengernyitkan dahi heran.

“Tidak mungkin, kan aku berhubungan dengannya di dalam rumah, jadi kami akan melakukannya di dalam mobil. Masa kau ada di dalamnya juga, itu bukan tontonan untuk anak di bawah umur sepertimu! Kau mengerti maksudku, kan?” lanjutnya sambil menaik-turunkan alisnya dengan bodoh.

Aiishh.., jadi karena ini ia bertingkah kikuk begitu. Bilang saja kalau kau ingin melakukannya dengan pacarmu! Aku membalasnya dengan tatapan jijik ke arahnya. Bahkan di saat seperti ini ia masih saja memikirkan pacarnya dibanding mengantar aku pulang lebih dulu kerumah.

“Kenapa kau tidak mengantarku pulang dulu, setelah itu kan kau bisa menemuinya sesuka hatimu!”

“Kalau saja appa memberi waktu lebih lama untuk aku meminjam mobilnya, aku akan melakukannya, Kim TaeYeon! Kalau harus mengantarmu dulu ke rumah, tidak akan sempat aku menemui pacarku!”

Aku hanya bisa mendengus kesal ke arahnya.

“Lagipula aku tidak akan lama! Kau bisa mampir ke toko itu dulu untuk membeli sesuatu.” katanya menunjukan toserba di luar sana. Lalu mengambil dompetnya dan mengeluarkan selembar uang untukku. “Ini! Kau gunakan saja uangku, tapi kau harus menurutiku!” lanjutnya. Kemudian dengan cepat membuka pintu mobil dan mengusirku keluar.

“Geez!! Oppa tega sekali! Apa kau akan membiarkanku menunggu sendiri di sini?!”

“Aku janji tidak akan lama! Sudah ya, aku pergi! Jaga dirimu baik-baik! Aku percaya kau sudah besar! Annyeong!!” ucapnya yang sedetik kemudian langsung menutup mobil dan melaju menjauh dari tempat aku berdiri sekarang.

Aku hanya menatap kepergiannya dengan kesal. Sungguh ia tega sekali padaku! Dia lebih memilih pacarnya ketimbang aku, adiknya sendiri. Haaiisshh!! Oppa macam apa dia itu?!

Dan sekarang, aku tidak tahu harus melakukan apa! Aku bahkan tidak tahu ini dimana. Tapi setelah aku melihat ke sekeliling, sepertinya aku pernah ke daerah ini sebelumnya. Seperti tempat komplek perumahan BaekHyun.

“Apa pacar oppa satu kompleks dengan BaekHyun? Kebetulan sekali.”

Aku memang masih mengingat daerah ini. Dulu aku sempat beberapa kali ke rumah BaekHyun waktu masih sekolah dasar. Tapi entahlah, bukan berarti aku berada di komplek perumahannya, aku akan bertemu dengannya di sini, kan?

Tanpa ingin melanjutkan pikiranku yang terus bergulat dengan BaekHyun, aku memilih untuk memutar tubuhku menghadap toserba di belakangku. Apa aku harus membeli sesuatu di sana untuk menunggu oppa?

“Tapi apa yang harus aku beli?”

Aku hanya bisa menghela napas pasrah dan mulai melangkah memasuki toko itu. Entah harus membeli apa di dalamnya.

.

.

.

Aku masih mencari-cari apa yang harus aku beli di sini. Makanankah? Minumankah? Atau apa? Aku sudah berjalan dari satu rak ke rak yang lain, tapi belum satupun barang yang aku inginkan. Sampai aku berjalan di rak terakhir, dimana tempat minuman kaleng dingin berada. Sepertinya tanganku mulai meraih minuman kaleng berwarna hijau yang terpajang di dalamnya. Tapi tiba-tiba sebuah tangan juga meraih minuman itu lebih cepat, membuatku malah menyentuh punggung tangannya. Menyadarinya, aku langsung menarik kembali tanganku dan mulai membungkuk 90 derajat ke arahnya.

“Ah.., joseonghamnida!! Kau boleh mengambilnya duluan!”

“TaeYeon?” malah jawaban itulah yang terdengar dari orang itu.

Seketika mataku melebar, terkejut dengan panggilan itu. Suara itu seperti miliknya, aku sangat mengetahui suaranya. Dan benar saja, setelah aku mengangkat wajah untuk melihatnya, aku dan dia menampakan ekspresi yang sama, terkejut. Baru saja aku menghawatirkan diriku karena takut bertemu dengannya, tapi orang itu nyatanya benar bertemu denganku di tempat ini. Kebetulan sekali bukan? Ya, orang itu BaekHyun.

“B-BaekHyun? S-sedang apa kau disini?” tanyaku gugup, masih dengan ekspresi yang sama.

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu? Sedang apa kau disini?”

Bodoh! Dia benar sekali, kenapa malah aku yang bertanya apa yang ia lakukan disini. Jelas saja toko ini dekat dengan rumahnya, pasti ia akan membeli sesuatu disini. Tapi aku? Aku harus menjawab apa padanya? Kalau aku hanya bilang ingin membeli minuman, dia akan curiga padaku. Dia pasti akan bertanya ‘kenapa tidak membelinya di dekat rumahmu saja, kenapa harus jauh-jauh ke sini?’

“A-aku.., aku hanya ingin membeli minuman itu saja.” tunjukku pada minuman kaleng itu.

Sungguh demi apapun itu, aku ingin sekali mengunci mulutku sekarang juga karena tidak bisa menjawab dengan benar! Kau jelas terlihat bodoh sekali, Kim TaeYeon!

Ia mengernyitkan dahinya menatapku, “Begitukah?”

Sudah kuduga, walau mulutnya berkata demikian, tapi ia pasti sudah berpikir kalau aku adalah yeoja terbodoh yang pernah ia temui. Memang terdengar berlebihan, tapi aku hanya takut kalau dia akan berpikir begitu.

“N-ne.” jawabku mengangguk.

Seketika kecanggungan menyelimuti kami. Aku mengangkat kepalaku berusaha keras untuk menatapnya. Ternyata ia juga masih menatapku, tapi matanya menyorot dingin ke arahku. Sepertinya ia masih marah.

“Kalau begitu aku duluan!” ujarnya kemudian, lalu dengan cepat meraih dua kaleng minuman yang tadi sempat tertunda.

Wae?! Kenapa cepat sekali? Kenapa ia terlihat buru-buru? Apa dia tidak ingin menanyakan dulu bagaimana kabarku sekarang, setelah satu bulan lamanya tidak bertemu?

Aku masih melihatnya sampai ia berjalan ke arah kasir untuk membayar barang yang ia beli. Wajahnya masih terlihat olehku dari samping kanan. Ia tertunduk sambil menyerahkan selembar kertas dari dompetnya. Bahkan sampai kasir itu menyerahkan sekantung barang yang ia beli, lalu meraih pintu masuk toko dan keluar dari sana, aku masih saja menatapnya.

Belum selesai kekecewaanku karena ia pergi begitu saja, ia kembali membuat hal yang sama. Tiba-tiba saja dari arah lain seorang yeoja datang dan tersenyum ke arahnya. Sebenarnya tidak mempermasalahkan senyuman yeoja itu, tapi lebih mengarah pada ‘siapa yeoja itu?’. Dia Jessica. BaekHyun seperti mengatakan sesuatu padanya dan menyerahkan satu kaleng minuman yang ia beli tadi pada Jessica. Lalu matanya sempat melirik ke arahku, terlihat ragu. Aku terkejut karena tatapannya yang tiba-tiba, membuatku mempalingkan wajah ke arah lain, canggung karena BaekHyun menyadari aku telah menatapnya terus. Hanya selang beberapa detik, kembali ku arahkan pandangan menatap mereka karena terlalu penasaran. Mereka sudah terlihat jauh, dan BaekHyun juga sudah tidak melihat ke arahku lagi.

Sampai sosok mereka tidak terlihat, aku hanya bisa tertunduk menatap kosong lantai toko. Pikiranku kembali bergulat pada namja itu, kini bukan hanya dia, tapi juga Jessica. Kenapa BaekHyun bersikap seperti itu? Kenapa ada Jessica disini? Apa mereka sedang pergi bersama? Tapi kenapa BaekHyun tidak bilang ada Jessica bersamanya sekarang? Apa ia sengaja melakukannya di depanku? Atau jangan-jangan….. dia sedang menjauhiku? Setidaknya pertanyaan-pertanyaan itulah yang mucul di benakku sekarang.

TaeYeon POV end.

* * *

Sore hari setelah TaeYeon mandi, ia keluar dari kamar masih sibuk mengeringkan rambutnya. Ia masih nampak lesu karena pertemuannya dengan BaekHyun tadi siang. Hampir saja ia tenggelam dalam bathup sendiri saat dirinya tengah berendam karena memikirkan namja itu. Sampai matanya menangkap sosok oppanya memakai pakaian rapi, siap untuk pergi ke suatu tempat.

“Kau mau kemana?” tanyanya sambil terus menggosok rambutnya.

Yang ditanya menoleh kearahnya dengan heran, “Apa kau lupa? Aku akan pergi ke festival kembang api malam ini.”

Ya, pasti karena terlalu kalut memikirkan BaekHyun, hal seperti ini saja ia sampai lupa. Padahal oppanya sudah sering kali bilang padanya akan pergi ke festival itu bersama pacarnya.

“Kau jadi pergi ke festival itu?”

“Geuromyo! Mana mungkin aku melupakan acara nanti malam. Bahkan kami sudah merencanakan ini sejak dua bulan terakhir. Aku sangat bersemangat untuk ini!” jawabnya antusias.

“Cih! Berlebihan sekali! Padahal festival itu setiap tahun diadakan.”

“Ya! Kalau orang sepertimu yang tidak memiliki pasangan pasti akan bilang begitu, lain halnya dengan orang yang sudah memiliki kekasih. Mereka pasti tidak akan melewatkan festival ini. Festival kembang api adalah tempat yang cocok untuk mengukir sejarah cinta mereka, asal kau tahu itu, Kim TaeYeon!” jelas JiWoong dengan bangga.

“Aiishh..!! Jadi maksudmu kalau orang sepertiku tidak akan cocok pergi ke sana, begitu?!” kesalnya lalu melempar asal handuk yang ia pakai untuk mengeringkan rambutnya. “Ne! Kalau begitu aku akan ikut! Akan aku buktikan padamu kalau festival kembang api itu juga tempat untuk orang sepertiku!!”

“Mwo?! Andwae!! Kau akan aku taruh mana? Aku akan membawa motorku, bukan mobil appa!”

“Ada apa ini? Bisakah kalian tidak ribut untuk satu hari saja?” tanya appa yang tiba-tiba muncul dari arah garasi mobil.

Serempak keduanya menoleh ke arah appa. “Appa sudah pulang?”

“Ne. Mereka bilang ini adalah libur musim panas terakhir, jadi semua karyawan boleh pulang cepat hari ini.” keduanya mengangguk paham. “Kau mau kemana, Woongie-ah?” tanyanya saat melihat putranya sudah rapi siap untuk pergi.

“Aku ingin pergi ke festival kembang api dengan pacarku, tapi TaeYeon malah ingin ikut bersama kami!” jelas JiWoong menunjuk TaeYeon dengan malas. Sedangkan yang ditunjuk merutukinya kesal.

“Yasudah, bawa saja sekalian adikmu!”

“Mwo?! Tapi dia akan ditaruh dimana, appa? Aku akan membawa motorku!”

“Kalau begitu pakailah mobil appa!” jawab sang appa yang kemudian melempar kunci mobil di tangannya ke arah JiWoong, dan JiWoong menangkapnya dengan sigap.

“Ah jinja, appa?! Aku boleh membawa mobilmu?!” tanya JiWoong mulai bersemangat setelah appa mengizinkannya membawa mobil. Appa hanya membalasnya dengan anggukan lalu pergi ke kamarnya. “Gomawo, appa!!” lanjutnya sedikit berteriak, mengingat appanya sudah berada di dalam kamar.

“Cha! Jadi aku boleh ikut, kan?” tanya TaeYeon lagi.

JiWoong menoleh ke arahnya dan membalas dengan senyum menyeringai. Perlahan ia melangkah mendekati TaeYeon. Sedangkan yang ditatap seperti itu hanya bisa mengernyitkan dahinya heran.

“Terserah kau saja. Awas saja kalau kau sampai menyerah karena melihat kami bersama.” bisiknya pelan di telinga TaeYeon.

Sedangkan TaeYeon membalas menatap tajam ke arahnya. “Apa maksudmu?!”

Namja itu kembali menampakan smirknya, “Lihat saja nanti!” lalu pergi menuju garasi dimana mobil appa terparkir di sana.

* * *

“Cha! Sudah sampai!”

Mobil berhenti tepat di depan rumah mewah milik pacar JiWoong. TaeYeon melihat ke arah rumah itu dengan tajam, entah karena terkagum atau apa. Karena nyatanya rumah itu memang cukup besar jika dilihat dari luar.

“Kau cepatlah pindah ke bangku belakang, sementara aku memanggilnya ke dalam.” suruh JiWoong yang membuat TaeYeon beralih menatapnya dan mengangguk paham. “Kau kenapa?” tanya JiWoong tiba-tiba setelah melihat wajah TaeYeon berubah panik.

“W-wae? N-nan gwaenchana.” jawabnya jadi gugup karena ditanya seperti itu. Ada apa dengan TaeYeon?

Kemudian JiWoong turun dari mobil tanpa memikirkan TaeYeon lagi. Ia memasuki pagar rumah itu dan menekan bel rumahnya tanpa ragu. Sepertinya ia sudah sangat akrab dengan si pemilik rumah.

Sedangkan TaeYeon di dalam mobil, ia masih menatap rumah itu dengan perasaan hawatir. Pikirannya seperti dilema. Pasalnya ia seperti pernah ke rumah ini, ini seperti rumah BaekHyun. Sebenarnya ia masih ragu untuk mengklaim kalau rumah ini milik namja itu, karena yang ia tahu rumah BaekHyun tidak sebesar ini. Atau BaekHyun sudah merenovasi rumahnya menjadi sebesar sekarang? Tatapannya tidak lepas dari rumah itu, sekedar untuk mengingat dan memastikan kalau rumah ini memang milik BaekHyun. Sampai seorang yeoja keluar dari rumah itu, dan langsung dibalas senyum oleh oppanya yang sudah menunggu di luar.

“Itu pasti pacar oppa. Apa dia adalah noona BaekHyun? Tapi setahuku BaekHyun hanya memiliki adik.” ucap TaeYeon menimbang-nimbang, lalu menatap oppanya kembali.

Keduanya terlihat berbincang sebentar sampai pada akhirnya berujung saat JiWoong mulai mendekat wajah yeoja itu dan mencium bibirnya. TaeYeon yang melihatnya dibuat canggung karena harus melihat adegan dewasa yang dilakukan oppanya dengan yeoja itu.

“Aaiishh!! Jadi ini maksudnya tadi menyeringai ke arahku? Bahkan dia berani melakukannya di depanku! Apa dia sengaja memamerkannya padaku? Asal kau tahu saja, oppa! Aku juga pernah melakukannya!”

Tanpa sadar, ia kembali mengingatkan dirinya pada BaekHyun, lebih tepatnya pada ciuman BaekHyun waktu itu. Itu adalah ciuman pertamanya, dan BaekHyun berhasil merebutnya. Walau saat itu ia tidak membalas ciuman itu, dan membuatnya ketahuan oleh guru karena tengah berciuman dengan BaekHyun. Itu adalah kenangan manis yang tak kan pernah ia lupakan.

Terlihat JiWoong dan yeojanya perlahan mendekati mobil setelah melakukan ciuman singkatnya. TaeYeon yang kini sudah berada di bangku belakang, menatap lurus yeoja itu yang tengah membuka pintu mobil depan. Ia merasa kalau yeoja itu memiliki paras yang sama seperti BaekHyun, imut, cantik, dan memiliki kulit putih yang mulus. Dan ini membuatnya semakin yakin kalau rumah ini adalah milik BaekHyun.

“Oh! Jadi ini adikmu, oppa?” tanya yeoja itu yang ternyata sudah duduk di kursi depan tanpa TaeYeon sadari.

“Ne.” JiWoong mengangguk. JiWoong memang sudah bilang pada yeojanya kalau ia bersama TaeYeon sekarang, dan yeoja itu tidak keberatan sama sekali mengetahui JiWoong membawa adiknya.

TaeYeon yang menyadari yeoja itu sudah berada di dalam, ia mulai tersenyum ke arahnya. “Joneun Kim TaeYeon imnida.” ucapnya lembut memperkenalkan diri.

Yeoja itu tak kalah manis membalas senyum TaeYeon. “Wooahh.., kau manis sekali! Aku jadi ingin memiliki adik yeoja sepertimu, TaeYeon!” celotehnya yang membuat TaeYeon cukup tersipu malu. “Joneun Byun DaRa imnida.”

Benar, tidak salah lagi, yeoja itu pasti noona BaekHyun. Buktinya mereka memiliki marga yang sama. Ini lebih dari cukup membuktikan kalau rumah ini milik BaekHyun. Tapi hati kecil TaeYeon masih ingin membuktikannya dengan langsung mendengar dari yeoja ini. Ingin sekali ia menanyakannya sekarang juga.

TaeYeon kembali tersenyum membalasnya, tapi pikirannya masih dengan pertanyaan itu.

“Kita berangkat sekarang, ne?” sahut JiWoong yang kemudian langsung menancapkan gas menjauhi rumah itu.

Seketika suasana menjadi hening, mereka seperti serempak untuk melakukan kegiatan masing-masing. JiWoong fokus menyetir, DaRa sibuk memainkan ponselnya, sedangkan TaeYeon masih bergulat dengan pikirannya. Sampai akhirnya yeoja itu dengan beraninya membuka mulut untuk mengetahui hal yang sedari tadi sudah membuatnya penasaran.

“M.., eonni!” panggil TaeYeon ragu, sedangkan yeoja bernama DaRa itu menyahuti dan tersenyum lembut ke arahnya. “A-apa kau memiliki adik bernama BaekHyun?”

Sontak dahi DaRag berkerut, tanda ia tidak mengerti pertanyaan TaeYeon barusan.

“BaekHyun?” TaeYeon mengangguk semangat, “Mungkin maksudmu Byun BaekHyun?” tanya DaRa memastikan.

“Ne! Kau mengenalnya?! Kau noonanya, kan?!” tanya TaeYeon lebih antusias. Ia sangat yakin kalau pacar oppanya pasti noona dari seorang Byun BaekHyun.

“Aniya! Dia bukan adikku. Kau pasti mengira dia adikku karena kami memiliki marga yang sama, bukan?”

Jedar! Pupus sudah! Padahal TaeYeon sangat berharap kalau pacar JiWoong adalah kakak BaekHyun. Mungkin saja dengan oppanya memiliki hubungan dengan kakak BaekHyun, akan membawa oppanya merestui hubungan mereka. Tapi nyatanya DaRa bukanlah kakak BaekHyun.

“Tapi bagaimana kau bisa mengetahui namanya?”

“Ahh.., BaekHyun adalah putra dari pemilik rumah kami sekarang, kami membeli rumahnya. Kebetulan sekali appa membeli rumah dari pemilik yang bermarga sama. Dan aku cukup kenal dengan keluarga BaekHyun.” jelasnya.

‘Oh! Jadi BaekHyun sudah pindah rumah?’ pikir TaeYeon kala itu.

“Keluarga BaekHyun pindah tidak jauh dari rumah kami. Mungkin kalian sempat melawatinya saat menuju rumahku.” lanjutnya.

TaeYeon hanya mengangguk mengerti, tapi pikirannya tak lepas dari kenangan waktu ia belajar bersama di rumah BaekHyun bersama teman lainnya waktu sekolah dasar. Waktu itu teman-temannya selalu meledeknya dengan BaekHyun.

Flashback

“TaeYeon-ah! Kurasa BaekHyun juga menyukaimu!” bisik seorang yeoja di samping TaeYeon. Tangannya terus saja membuka halaman demi halaman buku yang ia pegang, tapi matanya menatap kepergian BaekHyun ke arah dapur.

“Kau ini bicara apa? Jangan bicara omong kosong! Kita di sini untuk mengerjakan tugas, jangan bergosip!” balas TaeTeon juga dengan berbisik.

“Tapi kupikir begitu, yang lain juga berpikir demikian!”

“Geuraeyo?”

“Ne! BaekHyun kan ketua kelas, dia yang memilih anggota kelompok belajar. Dan kalian selalu berada di kelompok yang sama. Pasti BaekHyun selalu memilihmu, kan?”

Deg! Benar juga yang dikatakan temannya ini. Ia selalu berada di kelompok yang sama dengan BaekHyun. Apa BaekHyun selalu memilih TaeYeon untuk satu kelompok dengannya? Mungkinkah BaekHyun menyukainya?

“TaeYeon-ah, kau sudah selesai dengan nomor 17?” tanya BaekHyun yang ternyata sudah kembali dengan senampan minuman di tangannya. Sontak TaeYeon tersadar dari lamunannya. Ia baru ingat dengan tugas yang sudah BaekHyun bagikan kepada tiap anggota untuk mengerjakan soal-soal matematika.

“A-ah, ne?!” ia hanya bisa tergagap, sedangkan teman di sampingnya menahan tawa melihat tingkah konyol TaeYeon.

“Kau sudah mengerjakannya?” BaekHyun mengulang pertanyaannya.

Dengan sigap TaeYeon kembali memerhatikan buku yang sedari tadi berada di pangkuannya. Ia sangat panik ketika melihat bukunya masih kosong, belum ia corat-coret sama sekali.

“M-mianhae.., aku belum mengerjakannya!” jawabnya terbata. Ia takut BaekHyun akan memarahinya setelah ini.

BaekHyun mengerutkan dahinya, lalu berjalan ke arah TaeYeon setelah menaruh gelas-gelas yang terisi minuman di atas meja. Sedangkan TaeYeon semakin gugup menyadari BaekHyun semakin dekat dengannya.

“Apa kau merasa kesulitan menjawab soal itu?” tanya namja itu ketika dirinya sudah berada di hadapan TaeYeon.

“N-ne.” jawabnya berbohong.

“Kalau begitu biar aku yang mengerjakannya. Kau bisa mengerjakan soal berikutnya!” jawab BaekHyun lalu kembali ke tempatnya dan mulai mengerjakan soal TaeYeon.

TaeYeon jadi tidak enak karenanya. Padahal itu soal yang seharusnya ia kerjakan, bukan BaekHyun. Sebenarnya ia belum mengerjakan soal itu bukan karena ia tidak bisa, pasalnya soal itu tidak terlalu sulit untuk ukuran murid seperti TaeYeon. Ini semua karena teman di sampingnya yang mengajaknya bicara saat ia ingin memulai mengerjakan soal itu. Dan akhirnya ia hanya bisa berbohong pada BaekHyun.

‘Pasti BaekHyun mengira aku ini bodoh sekali! Soal seperti ini saja aku bilang sulit! Dasar Kim TaeYeon babo!’ rutuknya pada diri sendiri.

“Benar, kan dia menyukaimu!” bisik temannya lagi sambil menyikut lengannya.

TaeYeon meliriknya dengan tatapan tajam. Gara-gara temannya itu, ia harus dikira bodoh oleh namja yang sudah lama ia sukai. Tapi walaupun begitu, hati TaeYeon kegirangan di dalam sana. Mungkin yang dikatakan temannya benar kalau BaekHyun menyukainya.

Flashback end.

“Apa BaekHyun teman sekelasmu?” tanya DaRa yang sukses membuatnya tersadar dari lamunan.

“Aniya! Kami hanya berada di sekolah yang sama saat sekolah dasar. Tapi kami masih berteman.” jawabnya.DaRa mengangguk mengerti.

“Ya! Siapa yang sedang kalian bicarakan?” kini giliran JiWoong yang bertanya, yang sebelumnya hanya diam mendengarkan kedua yeoja itu berbincang.

“A-aniyoo! Itu hanya…..”

“BaekHyun! Ini kebetulan sekali ternyata adikmu juga mengenalnya!” jawab DaRa memotong ucapan TaeYeon.

“BaekHyun? Namja yang waktu itu?!”

“Ne! Wae? Kau juga mengenalnya?!” tanya DaRa jadi antusias.

“Sebenarnya tidak terlalu, tapi beberapa kali pernah bertemu dengannya. Ia juga mengenalku.”

“Oh ya?! Waahh.., kebetulan sekali, ne!” jawabnya senang, lalu kembali memandang TaeYeon di belakangnya. “Kami cukup dekat, dan kurasa kalian cocok, mau aku sampaikan salam padanya saat kami bertemu nanti?” tawar DaRa yang sukses membuat TaeYeon bersemu merah.

“Andwae, eonni!”

“Kau tidak perlu mengatakan itu pada BaekHyun, TaeYeon masih tidak boleh berhubungan dengan namja manapun oleh appanya. Jadi itu akan sia-sia saja.” timpal JiWoong tanpa mengalihkan pandangannya ke arah jalan.

“Oh ya?! Wah, sayang sekali kalau begitu!”

Sudah TaeYeon duga, JiWoong oppa pasti tidak akan membantunya meluluhkan hati appa. Kini ia hanya bisa mengerucutkan bibirnya pasrah. Hingga tanpa ia sadari ternyata mereka telah sampai di festival itu. Walaupun jam masih menunjukan pukul 7 dan kembang api masih akan dimulai sekitar 3 jam lagi, tapi pengunjung lain sudah memadati area festival. Banyak kedai-kedai makanan di kanan-kiri jalan, games kecil yang telah sesak oleh pengunjung, dan masih banyak lagi.

“Waahh.., sepertinya tahun ini akan ramai sekali, ne?” ucap DaRa lalu membuka pintu mobil dan keluar dari dalamnya. “Kajja kita makan kue beras di sana! Sepertinya enak!” lanjutnya antusias setelah melihat sebuah kedai yang telah ramai pengunjung.

Setelah kepergian DaRa, JiWoong menyusul yeojanya dan bermaksud ingin mengajak adiknya juga, tapi TaeYeon menolaknya dengan alasan ingin menunggu di dalam mobil saja sampai acara utama festival ini berlangsung. Tapi JiWoong malah membalasnya dengan tertawa, membuat TaeYeon mengernyitkan dahinya karena bingung.

“Hahahah!! Kau lucu sekali, TaeYeon-ah! Kau tidak perlu berbohong begitu! Aku tahu kau tidak mau keluar karena tidak memiliki pasangan, kan? Kau pasti tidak percaya diri kalau harus berjalan sendirian dan mengekori kemanapun kami pergi.” jawabnya yang kemudian tertawa lagi.

“Aiishh!! Siapa yang tidak percaya diri?! Ne, aku memang malas kalau harus mengikuti kalian, tapi bukan berarti aku tidak percaya diri!” kesalnya lalu melipat tangannya dan membuang pandangan keluar jendela.

“Aiishh, yasudah tidak perlu marah begitu! Aku hanya bercanda mengatakannya.”

TaeYeon masih dalam posisi yang sama, ia terlalu kesal pada oppanya karena mengejeknya terus.

“Aku pergi, ne? Kalau kau lapar, hubungi aku saja!” lanjutnya lalu pergi meninggalkan TaeYeon dan menyusul DaRa yang sudah berada di depan kedai kue beras.

Sementara itu TaeYeon hanya mengarahkan pandangannya ke sembarang arah setelah menatap kepergian JiWoong. Ia sedang mengkhayal jika dirinya yang berada di posisi DaRa dan berjalan mengelilingi tiap kedai makanan bersama BaekHyun. Sama seperti yang oppanya lakukan pada pacarnya. Sejujurnya, yang dikatakan oppanya memang benar, ia tidak cukup percaya diri setelah melihat banyak pasangan di festival ini. Apa festival ini benar untuk sepasang kekasih saja?

Ia menarik napasnya dalam dan membuangnya sedikit kasar. “Mengapa di saat seperti ini malah teringat eomma? Kenapa saat hatiku terasa perih bayangan eomma selalu menghantuiku?”

Tak terasa ia sudah menitikan air matanya. Tidak cukup deras, itu karena ia masih berusaha agar cairan bening itu tidak jatuh terlalu deras di wajahnya. Tapi hatinya sudah menangis sejak tadi.

Beberapa menit lamanya, akhirnya ia menyerah untuk keluar dari mobilnya. Mungkin dengan berjalan-jalan sebentar akan memulihkan pikirannya dari bayangan eomma, dan tentu saja BaekHyun.

Ia alihkan pandangan ke sekeliling area festival setelah berhasil keluar dari mobil. Belum sempat ia menutup pintu mobilnya, matanya tertuju pada satu objek. Bukan satu, melainkan sepasang. Air mukanya kembali berubah, kali ini cukup membuatnya tegang. Jantungnya seakan berhenti beberapa detik setelah melihat mereka. Ya, BaekHyun dan Jessica yang juga baru saja sampai di festival itu. Sebenarnya kata tegang terlalu berlebihan untuk menggambarkan apa yang TaeYeon lihat, tapi kali ini memang berbeda. Pasalnya namja yang ia lihat saat ini, juga tengah menatapnya. Sepertinya ekspresi keduanya sama, terkejut yang berusaha mereka tutupi.

Langsung saja, menyadari BaekHyun juga melihatnya, otot-ototnya dengan cepat menariknya kembali ke dalam mobil. Ia sudah tidak sanggup menahan matanya yang mulai mengeluarkan cairan bening itu. Seketika setelah ia kembali menutup mobil, cairan itu jatuh tak tertahankan. Tanpa isakan yang terdengar, hanya air itu saja yang terus jatuh di pipi mulusnya. Matanya tak bisa diajak kerjasama, ia masih menatap BaekHyun di luar sana, yang membuat air matanya tak kurun berhenti. Kalau saja tak ada penghalang kaca mobil di depannya, mungkin BaekHyun bisa melihatnya sedang menangis saat ini.

“Nan gwaenchana.., mereka pergi ke tempat ini hanya sebagai sepasang sahabat, tidak lebih!” gumamanya seperti menyemangati diri sendiri. Terlalu percaya dirikah ia mengatakan seperti itu?

“……, ya kan?”

Namja itu tidak mendengar ucapan yeoja di sebelahnya. Karena nyatanya ia masih menatap mobil di depannya sambil bergulat dengan pikirannya sendiri.

“BaekHyun? Kau kenapa?” tanya yeoja itu sekali lagi setelah menyadari namja itu tidak menjawab pertanyaan sebelumnya.

Tersadar Jessica menepuk lengannya, ia alihkan pandangan ke arah yeoja itu.

“Ah, ne?! Kau bertanya padaku?!” jawabnya sedikit gugup.

“Apa yang kau lihat?” Jessica, seperti tahu perubahan wajah BaekHyun, giliran ia yang melihat arah pandang BaekHyun sebelumnya.

“A-ani!”

Mobil itu yang ia lihat, Jessica tentu saja tahu siapa pemiliknya. Matanya seketika melebar, ia tersadar apa yang membuat BaekHyun tiba-tiba merubah ekspresi yang sebelumnya terkesan normal baginya. Yeoja itu-TaeYeon-, ternyata juga berada disini.

‘Ia melihat kami?’ setidaknya pertanyaan itulah yang muncul di benaknya pertama kali.

Lalu dengan cepat Jessica berjalan menghampiri mobil itu, tentu saja BaekHyun sudah berusaha menahannya.

“Sica-ah! Kau mau kemana?!”

Jessica tidak mempedulikan panggilan BaekHyun, karena ia harus bertindak sebelum semuanya terjadi kesalah pahaman. Ia tahu TaeYeon ada di dalam mobil itu. Segera ia ketuk kaca mobil TaeYeon setelah dirinya tepat berada di sampingnya.

“Aku tahu kau di dalam, TaeYeon-ah! Kumohon keluarlah!” ujarnya setengah berteriak agar TaeYeon mendengarnya dari dalam.

Sedangkan TaeYeon, ia sangat terkejut sekaligus panik di dalam sana. Ia ragu untuk sekedar membuka kaca jendela mobilnya, apalagi kalau harus keluar dari mobil itu yang membuat dirinya terlihat menyedihkan di hadapan BaekHyun dan Jessica. Ia tidak mau itu terjadi.

“TaeYeon-ah, keluarlah! Kurasa kau sudah salah paham pada kami!” ujarnya sekali lagi. Tapi tetap saja yeoja di dalamnya tetap bungkam.

Tanpa sadar, tangan Jessica meraih kenop pintu mobil dan berhasil membukanya. Menyadari kebodohannya sejak tadi, ia hanya memutar kedua bola matanya. Begitupun TaeYeon, ia yang lebih bodoh karena tidak sempat mengunci pintu mobil itu yang berhasil membuatnya kini ditatap langsung oleh Jessica setelah yeoja itu membuka pintu mobil lebar-lebar.

“TaeYeon-ah, aku dan BaekHyun hanya………”

“Ne!” dengan berani ia memotong ucapan Jessica tanpa memandang lawan bicaranya. Lalu kepalanya terangkat untuk menatap Jessica. “Aku tidak apa-apa, Sica-ah! Kenapa nada bicaramu seperti itu?” Ia berusaha tersenyum, senyuman pahit tentunya. Ia juga merasakan jantungnya mendesir hebat setelah mengatakan itu. Apa itu artinya ia baik-baik saja?

Jessica menggelengkan kepalanya, ia tahu TaeYeon tidak berkata jujur. Jelas sekali air mata itu masih membasahi pipinya.

“Kau menangis! Aku tahu kau pasti…….”

“Ani! Ini hanya air…….” ucapannya berhenti begitu saja setelah dirasa lengannya ditarik paksa. Membuat dirinya berhasil keluar dari mobil itu.

BaekHyun dengan cepat menutup mobil itu kembali tanpa melepas genggamannya dari lengan TaeYeon.

“A-apa yang kau lakukan?!”

BaekHyun menatap TaeYeon dalam, “Jelas-jelas kau cemburu!” jawabnya agak dingin. Lalu kembali menarik TaeYeon agar mengikuti langkahnya. “Ikut aku!”

“Omo! T-tapi, Jessica…….”

Tanpa peduli protes dari TaeYeon, BaekHyun semakin menggenggam lengan itu dan menariknya menjauh dari Jessica. Sedangkan yeoja yang ditinggal membalas keduanya dengan senyuman. Ia lega aksinya tadi berhasil membuat BaekHyun mau mulai bicara dengan TaeYeon. Semakin BaekHyun dan TaeYeon tidak terlihat, senyuman itu semakin memudar, dan mulai tertunduk. Ia menatap tanah di bawahnya. Rasa perih di hatinya kembali terasa di dalam sana. Sakit itu hingga terasa sampai bola matanya, membuat mata itu mengeluarkan airnya.

“Aku tahu aku senang, tapi aku……” seolah bibirnya beku seketika, hingga membuatnya sulit melanjutkan ucapannya. “Aku menyukainya!” Seketika itu juga tangisnya semakin pecah. Ia semakin terisak dalam posisi yang sama, berdiri tertunduk. Untung saja di sekitarnya tidak terlalu banyak orang berlalu lalang, sehingga ia tidak perlu khawatir jikalau kakinya sudah tidak kuat menahan beban tubuhnya, yang akhirnya terduduk sambil menopang wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

.

.

.

“Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?!” teriak yeoja itu berusaha melepaskan lengannya yang sudah terasa perih karena cengkraman BaekHyun yang begitu kuat.

BaekHyun berhasil membawa dirinya dan TaeYeon menjauh dari area parkir. Tidak sedikit sejak tadi orang-orang di sekitarnya melihat ke arah mereka karena teriakan TaeYeon. Seolah tidak peduli dengan sekitarnya, BaekHyun tidak terlalu menggubris tatapan-tatapan yang ia tahu menusuk ke arahnya dan TaeYeon.

“Ya! Apa yang kau lakukan, eoh?!” teriaknya lagi setelah BaekHyun melepas genggaman itu. Rasa perih di lengannya semakin terasa saat ini. “Ahh, appo!”

“Kau cemburu.” jelas itu bukan pertanyaan, juga ia tidak peduli rintihan TaeYeon yang kesakitan karena ulahnya.

TaeYeon memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan setelah mendengar ucapan BaekHyun.

“Apa katamu? Aku cemburu? Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?!”

“Jujur saja kalau kau cemburu!” kali ini nadanya mulai meninggi.

“Ani! Aku tidak cemburu!”

“Jujurlah atau aku akan……”

“Ne, aku cemburu!” akhirnya yeoja itu yang mengalah dan mengakui perasaannya yang sebenarnya. “Aku kesal saat kau pergi begitu saja! Aku kesal saat diriku terlihat bodoh di depanmu dan Jessica! Aku takut kalau kau sampai tidak menyu……..”

Tak terhitung sampai 2 detik, BaekHyun berhasil mengunci bibir TaeYeon dengan miliknya. Sontak TaeYeon melebarkan kedua matanya setelah merasakan bibirnya menyentuh benda halus milik BaekHyun. Tak terasa air matanya kembali jatuh seiring namja itu semakin menarik dirinya, menghapus jarak diantara mereka. Sedangkan orang di sekitarnya terlihat terkejut dan berusaha memalingkan wajah, tidak mau terlalu mencampuri urusan kedua orang ini.

TaeYeonpun tidak berusaha untuk melepas ciuman itu. Sejujurnya inilah yang ia inginkan. Menginginkan saat BaekHyun hanya memikirkan dirinya saja, tidak yeoja lain, Jessica sekalipun. Perlahan ia menutup kedua matanya, meniknati tautan bibirnya dengan BaekHyun, walau namja itu tidak sekalipun untuk mencoba memainkan bibirnya, hanya sekedar menempelkannya saja. Tapi TaeYeon bisa merasakan kehangatan BaekHyun yang seolah ia keluarkan untuk menenangkan hatinya. Perlahan BaekHyun melepaskan ciuman itu dan membawa yeoja dihadapannya ke dalam dekapannya.

“Hiks.., aku kesal saat kau pergi dengan yeoja lain. Aku memang cemburu saat tahu kau menjauhiku. Wae? Hiks.., kenapa kau pergi begitu saja meninggalkan kami?” TaeYeon terisak. Ia sudah tidak peduli jika BaekHyun menganggapnya sangat bodoh saat ini. Ia hanya ingin melampiaskan semua perasaannya pada namja itu.

“Aku sengaja menjauhimu. Menurutku itu benar!” seketika itu juga TaeYeon melepaskan pelukan itu setelah mendengar jawaban BaekHyun.

“Wae?” BaekHyun tidak menjawab, ia buang pandangannya ke arah lain, menjauhi tatapan mata TaeYeon yang menatapnya lekat. “Wae?!” tanyanya sekali lagi, kini dengan nada yang lebih tinggi.

“Aiishh.., babo! Kenapa bertanya lagi? Tentu saja aku juga kesal padamu! Aku kesal saat tahu ternyata aku salah paham saat membentakmu! Aku kesal saat melihatmu berada di dekapan namja lain! Aku sudah mengatakannya saat itu, kan?! Apa kau tidak memahaminya?! Aku cemburu, Kim TaeYeon! Aku cemburu pada Kai!”

Sontak matanya berhenti mengeluarkan air mata. Entah ia senang atau sedih saat ini. Senang karena ia rasa BaekHyun masih menyukainya. Tapi sedih karena ia kembali mengingat saat BaekHyun mengatakan kalau ia menyayangi Jessica. Ingin sekali ia menanyakan tentang perasaan BaekHyun yang sebenarnya. Siapa yang namja itu sayangi? Jessica atau dirinya? Tapi tak satupun pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Ia terus pendam, mungkin sampai ia berani menanyakannya pada BaekHyun. Sekarang ia tidak ingin membahas yeoja lain di depan BaekHyun. Ia hanya ingin dirinyalah yang ada dalam otak namja itu. Untuk saat ini sepertinya kurang tepat. Pikirnya saat itu.

“Sejujurnya aku sudah lama ingin mengatakannya, tapi kurasa malam ini memang saatnya.” lanjut BaekHyun dengan nada serius, membuat TaeYeon jadi memasang perhatiannya hanya pada namja itu. “Mianhae karena sudah salah paham padamu. Jebal.., jadilah yeojachinguku, Kim TaeYeon!”

God! TaeYeon tidak bisa berkata-kata lagi. Tidak tahu ia sedang mencerna ucapan BaekHyun atau apa. Tapi seketika ia terdiam.

“N-ne?!” mungkin hanya kata itu yang bisa ia keluarkan.

BaekHyun memutar kedua bola matanya. “Apa ucapanku tidak begitu jelas bagimu? Baik akan aku ulangi!” ia menarik napasnya dalam, “Kim TaeYeon, maukah kau menjadikanku namjachingumu?!”

BaekHyun kembali memintanya lagi. Apa kali ini ia harus menolaknya lagi? Atau haruskah ia tidak membuang kesempatan ini begitu saja dalam situasi perasaannya yang masih ragu terhadap perasaan namja itu? Dapatkah ia memiliki BaekHyun sepenuhnya jika ia menerima namja itu, walau ia tahu BaekHyun tidak bisa bersamanya setiap hari karena perbedaan sekolah mereka? Akankah semua ini menjadi baik jika ia menerimanya sekarang? Sungguh TaeYeon tidak tahu harus menjawab apa. Di sisi lain appa masih mengganggu pikirannya, tapi ia tidak ingin membuang kesempatan ini lagi dan membiarkan BaekHyun bebas tanpa ada status pada dirinya yang bisa memberi kesempatan yeoja lain mengganggu perasaan BaekHyun. Haruskah ia kembali merasakan kencan yang tertutupi dari keluarganya?

“M.., aku……”

“Aku tidak masalah jika kau tidak mengatakan hubungan ini pada keluargamu. Kita bisa menjalaninya seperti dulu!”

Benarkah? Benarkah BaekHyun tidak akan memutuskan hubungannya lagi jika TaeYeon memintanya untuk tidak menemuinya jika ada appa di rumah?

“K-kau serius dengan ucapanmu? Apa dengan ini tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu?”

BaekHyun tahu arah pertanyaan TaeYeon. Untuk kembali meyakinkan yeoja itu, perlahan ia kembali meraih TaeYeon ke dalam pelukannya.

“Aku tahu aku tidak bisa lepas dari yeoja yang aku kencani. Aku tidak bisa sekali saja untuk tidak merindukannya.” ia terdiam sesaat sebelum hal utama yang akan ia sampaikan pada TaeYeon. “Tapi aku akan berusaha untuk mendengarkan permintaanmu. Aku akan berusaha untuk menahan diriku dan tidak bersikap egois. Aku akan menunggu sampai appamu bisa menerimaku. Maka dari itu, kumohon terimalah aku, Kim TaeYeon!”

Sungguh untuk beberapa saat ini, TaeYeon kembali percaya pada ucapan namja itu. Ia sekalipun tidak memikirkan lagi keburukan apa yang akan menimpanya setelah ini. Yang akhirnya membawanya mengangguk dalam dekapan BaekHyun.

“Ne, aku mau!”

Seketika itu juga BaekHyun tersenyum puas tanpa melepas pelukannya, justru ia semakin mempererat pelukan itu. Perlahan tangannya mulai meraih wajah TaeYeon untuk menengadah ke arah wajahnya.

“Kumohon balaslah ciuman ini, aku tidak akan memakanmu!” bisiknya sebelum ia menempelkan bibirnya di atas bibir TaeYeon.

Dalam hitungan detik, mereka kembali menyalurkan kehangatan melalui tautan bibir mereka. Tapi kali ini berbeda dari sebelumnya. BaekHyun tanpa ragu menggigit bibir bawah TaeYeon agar yeoja itu memberikan akses baginya untuk menjelajahi seluruh mulut TaeYeon. Sedangkan TaeYeon, ia menuruti perkataan BaekHyun sebelumnya. Ia memang belum membalas ciuman itu, tapi ia membiarkan mulutnya terbuka dan merasakan BaekHyun menjelajahinya dengan lembut. Bukannya ia tidak mau membalasnya, ia hanya tidak tahu harus membalasnya seperti apa. Ciuman adalah hal yang masih asing baginya. Ia belum pernah melakukan sebelumnya selain dengan namja itu. BaekHyunlah yang pertama baginya. Dan ia menikmatinya sekarang. Tubuhnyapun sedikit bergetar setelah merasakan sensasi yang BaekHyun berikan padanya. Senang bercampur ragu yang saat ini ia rasakan.

Saat itu juga kembang api pertama tahun ini terdengar menyeruak memenuhi langit malam yang hitam, sebelum kembang api utama jam 10 malam dinyalakan. TaeYeon sedikit terkejut kala itu, membuatnya membuka mata dan melepaskan tauatan bibirnya dengan BaekHyun. Tapu belum sempat ia melihat kembang api di sampingnya, BaekHyun kembali menariknya dan menciumnya lagi. Kali ini bisa dikatakan lebih panas dari sebelumnya.

“Kumohon balaslah!” gumam BaekHyun disela ciumannya.

Tapi TaeYeon menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak mau menuruti ucapan BaekHyun.

“Wae?”

“Aku.. tidak tahu bagaimana caranya.” jawabnya yang kemudian tertunduk malu.

BaekHyun terkejut mendengar jawaban TaeYeon dan tersenyum setelahnya. “Kau itu lucu sekali!”

TaeYeon masih dalam posisi yang sama, tertunduk malu. Tapi kemudian BaekHyun meraih dagunya. “Baiklah kalau begitu. Beri saja aku kemudahan untuk melahapmu!” candanya, membuat TaeYeon melebarkan matanya karena ucapannya barusan. Sedangkan BaekHyun tertawa setelah melihat ekspresi yang TaeYeon tampilkan. Menurutnya itu sungguh lucu.

Walaupun kesal karena namja itu menertawainya, tapi TaeYeon sangat senang malam ini. Ia tidak akan melupakan malam ini. Malam ini adalah malam resmi yang menjadikannya seorang yeojachingu dari Byun BaekHyun.

* * *

Seorang yeoja mengenakan sweater hangat yang melekat pas di tubuhnya, berjalan gontai seiring langkah kaki yang terus membawanya setelah menuruni bus. Entah bagaimana kakinya bisa membawanya pulang sampai ke rumah, padahal pikiran dan jiwanya bisa dibilang tidak berada pada tubuhnya. Ia juga tidak mengerti kenapa hal ini bisa terjadi padanya. Setengah jam yang lalu ia masih berada di festival itu, menangis karena perasaannya yang kian hari semakin dalam. Salah ia sendiri membiarkan orang yang ternyata sudah melekat di hatinya sejak lama, ia berikan pada orang lain. Dan salahnya sendiri baru menyadarinya setelah ia berniat menyatukan namja itu dengan orang lain. Memang begitulah cinta, tidak tahu kapan datangnya, dan setelah kita menyadarinya, cinta hanya akan menyakiti saja.

Flashback

Sepasang matanya telah melihat pemandangan yang sebenarnya ia inginkan atau tidak, entahlah, ia sendiri tidak tahu. Tapi hatinya tidak bisa berbohong. Dia tidak menginginkan pemandangan ini. Terlalu sakit menurutnya.

Sepasang namja dan yeoja yang tentu ia kenal, kini sedang melampiaskan rasa cintanya masing-masing melalui tautan bibir mereka. Dan ia sendiri, hanya dapat mengeluarkan air itu lagi dalam diam. Diam mematung tanpa ekspresi, tapi air matanya telah membanjiri seluruh pipi pucatnya. Mungkin ia tidak tahu harus berekspresi seperti apa sekarang. Ia bahkan tidak mengedipkan matanya sekalipun.

Dan tanpa ia sadari, kakinya bergerak tidak tahu menuju arah mana. Sungguh ia seperti mayat hidup sekarang, berjalan dengan tatapan kosong sambil terus berderai air mata. Ia hanya sekilas menyadari kalau dirinya telah berada di sebuah halte dekat festival itu berada. Kemudian ia terduduk di bangku halte itu. Tak lama tangannya meraih ponsel di sakunya, mulai memijit beberapa tombol huruf pada layar itu. Ia memberi pesan pada seseorang.

To : BaekHyun

‘Maaf aku mengganggumu dengan pesan ini. Tapi aku hanya ingin memberitahu kalau kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Bersenang-senanglah dengannya. Tiba-tiba saja aku tidak enak badan, jadi kuputuskan untuk pulang lebih awal. Mianhae…’.

Ia tidak tahu apa pesannya terkesan terlalu percaya diri atau apa, tapi jari-jarinya membawanya untuk menulis seperti itu dan menyentuh tombol send setelahnya. Ia juga tidak berharap namja itu akan membalas atau sekedar membacanya saja. Tapi tak lama kemudian ponselnya bergetar di tangannya.

BaekHyun, begitu layar ponselnya menampilkan nama itu. Tanpa ragu ia menggeser tombol hijau di layar itu.

“Yeoboseyo?” sapanya masih dengan ekspresi yang sama.

“Sica-ah! Maaf aku melupakanmu! Tapi kau tidak perlu pulang sendiri, aku bisa mengantarmu!”

Wajahnya sedikit demi sedikit mulai berubah, seiring dengan ucapan namja itu di seberang sana. “Gwaenchana!! Aku sudah bilang tidak perlu menghawatirkanku. Mana bisa aku mengganggu kalian? Lagipula aku tidak sendiri, aku menelpon appa untuk menjemput.” jawabnya berbohong.

“Benarkah? Kalau begitu istirahatlah! Besok kau harus masuk, aku akan menceritakan sesuatu padamu!!” semangatnya di seberang sana. Sedangkan Jessica, ia tahu maksud perkataan BaekHyun. Pasti cerita soal dirinya dan TaeYeon. Ia hanya bisa mengulum senyum pahitnya.

“Ne! Aku jadi tidak sabar untuk mendengarnya!”

“Ye.., ucapkan salamku pada appamu, ne?”

“Geurae! Gomawo sudah mengajakku pergi seharian ini! Annyeong!”

“Ne, annyeong!”

Kemudian telepon singkat itu terputus. Dan wajahnya kembali memasang ekspresi semula. Kembali air mata itu jatuh, seolah ucapan terakhir namja itu seperti perpisahan baginya. Tidak tahu bagaimana selajutnya yang kemudian bisa membawanya sampai ke depan rumahnya sekarang.

Flashback end.

* * *

TaeYeon POV

“Ne, jalja! Annyeong!” ucap oppa setelah DaRa eonni keluar dari mobil kami.

Ia tersenyum membalasnya dan sekilas terlihat bibirnya mengucapkan kata ‘gomawo’. Aku melihat ke arahnya dan tersenyum sambil melambaikan tangan, ia juga membalas senyumku.

Tak lama oppa kembali melajukan mobil dalam diam, bahkan juga tidak menyuruhku untuk pindah duduk di sampingnya. Tanpa aba-aba darinya aku langsung saja pindah di samping tempatnya menyetir tanpa takut oppa terus melajukan mobilnya.

“Kau bersenang-senang?” sapaku membuka percakapan.

Ia hanya membalas dengan anggukannya tanpa melihat ke arahku. Entah aku saja yang merasakan hal ini atau apa, tapi aku rasa JiWoong oppa sangat berbeda sejak kembali dari kencannya dengan DaRa eonni. Seharusnya setelah berkencan cukup lama, ia merasa senang, seperti perasaanku saat ini. Setelah berjalan-jalan dan melihat kembang api utama dengan BaekHyun, aku lebih dulu kembali ke mobil sebelum JiWoong oppa dan pacarnya setelah menolak ajakan BaekHyun untuk pulang bersama. Dan kembalinya mereka ke dalam mobil, oppa jadi terlihat dingin jika menatapku. Padahal saat DaRa eonni kembali mengajaknya mengobrol, tatapan dingin itu tidak muncul, tapi saat aku yang menanyakan sesuatu padanya, ia kembali dingin. Ia sungguh aneh, ada apa dengannya?

Aku melihat layar ponselku yang sudah bergetar sejak tadi. Ini getaran yang ketiga kalinya mungkin. Aku menarik bibir membentuk senyum setelah membaca siapa yang mengirimi pesan itu.

‘Kau sudah sampai rumah?’

‘Aku baru saja sampai, bagaimana denganmu?’

‘Kenapa kau tidak membalas pesanku? Aku jadi merindukanmu sekarang. Selamat malam!’

Begitulah namja itu menulis pesannya padaku. Aku tidak tahu kenapa diriku mudah sekali menerimanya kembali.. Ia sungguh memiliki kata-kata manis yang membuatku bisa luluh padanya saat itu juga. Sekarang aku kembali menjadi kekasihnya. Jujur saja aku sangat senang. Rasanya tidak berubah sama sekali, sama seperti pertama kami menjadi sepasang kekasih. Aku masih teringat betul saat-saat dia memberi pesan dan menelponku. Aku selalu bersembunyi ke kamar jika ia menelpon, aku takut appa mengetahui kalau aku sudah memiliki namjachingu. Dan sekarang, aku kembali merasakannya saat oppa mulai membuka mulutnya.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanyanya masih dengan nada dinginnya.

Dengan cepat kusimpan ponselku agar oppa tidak mengetahui alasanku tersenyum saat melihat ponsel itu.

“Ani! Baru saja Tiffany mengirimkan pesan lucu padaku.” jawabku berbohong.

Dan masih sama, oppa masih menampakan wajah dingin itu padaku. Sesaat kemudian aku kembali diam dan meraih ponselku lagi untuk membalas pesan BaekHyun. Sebenarnya ada apa dengannya? Mengapa ia menjadi dingin begini? Dan apapun alasannya itu, aku tidak mau tahu. Mungkin saja ada sesuatu terjadi padanya di festival itu.

Tak terasa ternyata kami sudah sampai rumah. Oppa memasukan mobil sampai garasi dan mematikan mesin mobil. Dan ketika aku ingin membuka pintu mobil, oppa kembali berujar.

“Kau berkencan dengannya?” tanyanya yang sontak membuatku terkejut setengah mati.

Aku diam beberapa saat sampai aku memandang ke arahnya. Aku tahu arah pertanyaan itu. Dan aku takut ia mengetahuinya.

“A-apa maksudmu?” tanyaku gugup.

“Tidak perlu mengelak, aku melihat kalian!”

Sungguh?! Oppa melihatku dan BaekHyun?! Apa yang ia lihat?!

“Aku melihat semuanya.” seperti bisa membaca pertanyaan di benakku, tubuhku menjadi kaku seketika setelah mendengar ucapannya.

“Oppa……” aku menggantung kalimatku, tertunduk karena tidak kuat melihat tatapan oppa yang teramat tajam ke arahku. Sekarang aku tahu kenapa ia dingin padaku, ia melihatku dan BaekHyun…. ciuman? “Aku…….”

“Kalian berciuman, kan?!” seketika nada bicaranya menjadi semakin tinggi.

Aku mendongakkan wajah ke arahnya, mataku tidak bisa berbohong, air mataku rasanya sudah tidak bisa dibendung lagi.

“Bagaimana denganmu?! Kau bebas berciuman dengan semua wanitamu, eoh!”

“Jangan berkata seolah aku memiliki banyak pacar!”

“Kenapa kau jadi seperti appa?! Seharusnya kita sama-sama menjaga hubungan kita dengan pacar masing-masing! Bukannya seperti ini!”

“Aku ini seorang namja, TaeYeon. Berbeda denganmu! Kau itu yeoja!”

“Jadi kalau aku yeoja, aku tidak boleh memiliki pacar, begitu?!” dan saat itu juga, tangisku pecah dihadapannya. “Hiks.. Kau itu curang, oppa!” dengan cepat kuraih pintu mobil untuk segera berlari ke kamarku. Tapi telat, oppa masih tidak ingin aku pergi meninggalkannya dengan menarik tanganku kembali.

“Kau tidak tahu, kan kenapa aku dan appa bersikeras agar kau tidak berpacaran?! Memang appa yang memintaku! Karena kau adalah yeoja satu-satunya yang appa miliki sekarang! Appa tidak ingin kehilangan yeoja tersayangnya setelah eomma pergi meninggalkannya! Kau harus mengerti itu, Kim TaeYeon! Tunggulah sampai saatnya appa bisa melepasmu!” jelas oppa yang saat ini kupunggungi.

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar perkataannya. Aku memang mengerti kenapa appa begitu padaku, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk waktu yang lama dengan menunggu keikhlasan appa. Aku jadi merasa terkekang kalau appa melarangku terus, walau namja itu hanya temanku sekalipun. Setidaknya appa memberiku kebebasan sedikit untukku berteman dengan seorang namja. Aku juga akan selalu menjaga perasaannya kalau ia mengizinkanku.

Ingin rasanya aku berlari ke kamarku saat itu juga dan menangis keras di dalamnya tanpa harus oppa dan appa sekalipun mendengarnya. Dan saat dirasa genggaman oppa mulai mengendur, aku sempatkan untuk segera turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam.

“Kau harus memahami itu, Kim TaeYeon!”

Aku memang mendengar teriakannya dari dalam mobil, tapi aku tidak mengindahkan teriakan itu. Aku hanya ingin berlari menjauh darinya.

* * *

To be continue…

Readers annyeong!!!! Mianhae lama banget comebacknya. Tugas kuliah udah numpuk!!! Dan nggak bisa kasih lebih untuk kalian. Maaf kalo ceritanya nggak sesuai sama yang kalian mau..

Feedback me with your comments, ne? Kamsahamnida!!! Gomawooo!!!!

Advertisements

43 comments on “[FREELANCE] Our First Love (Chapter 5)

  1. gemes ama tae tae kamu baik bgt baekh kterlaluan mnurutku…
    dan tae terlalu memaafkan harus’y baekh dbri pelajaran dkit …
    oppa jiwong marah besar dududu gmana hub tae kdpan’y kai ga muncul nie
    dtggu next semangat

  2. gemes ama tae tae kamu baik bgt baekh kterlaluan mnurutku…
    dan tae terlalu memaafkan harus’y baekh dbri pelajaran dkit …
    oppa jiwong marah besar dududu gmana hub tae kdpan’y kai ga muncul nie
    dtggu next semangat…

  3. gemes ama tae tae kamu baik bgt baekh kterlaluan mnurutku…
    dan tae terlalu memaafkan harus’y baekh dbri pelajaran dkit …
    oppa jiwong marah besar dududu gmana hub tae kdpan’y kai ga muncul nie
    dtggu next semangat…@_-@

  4. omoooo o_o baekhyun oppa romantiiiiis ^^ seneng deh sma moment baekyeon 😉 d tunggu chap selanjutnya thor 🙂

  5. Terkadang sebel banget dengan sifat baekhyun yg perhatian banget ke sica, 😐 dan untuk taeyeon, terlalu polos, cepet di lanjut thor, dan beri jessica pasangan agar tak terlalu memikirkan baekhyun terkadang kasian melihat jessica seperti itu, tapi saya merasa campur aduk lah semuanya disini, 안냥 author fighting 😁

  6. funally baekyeon resmi pacaran haha kasian juga sama sica, kasih sica couple thor biar gak ganggu hubungan baekyeon. sedikit kesel juga sama baekhyun dia terlalu baik ke sica jadi sica suka sama baekhyun. moga aja sica gak jadi pho hahaha next chap ditunggu 🙂

  7. aishhh sempet kesel sih sm baekhyun krn kejadian di pantai itu, tp ya sudahlah toh akhirnya skrg mereka udh resmi pacaran.

  8. akhirnya moment baekyeon:D walaupun yg chapter kemarin baekhyun bikin kesal, tapi kasihan sama jess.. jessnya dikasih pasangan thor,..
    next thor,fighting:)

  9. sempet kesel ama baek waktu mengabaikan taeng begitu aja
    tp semuanya hilang setelah baek menyatakan cintanya ke taeng so sweet

  10. hehe akhirx baikan jg..
    appa dan oppa taeyeon protective banget…
    tp seru jg sih ad bumbu jealous… terutama baekhyun tuh lucu banget kelakuannya
    sok galak gitu…
    ditunggu updatex y g pake lama
    thank u

  11. kok aku baca ff ini greget ya.-. aku pengennya baekhyun ma taeyeon tapi kasian jessica.-. thor, buat jessica jatuh cinta ma namja lain kek….kayak chanyeol gitu misalnya/? :v

  12. Aihh, suka deh sama chapter ini T_T
    Tapi kasian Jessica. Si Baek nya padahal kesel sama Tae karena Tae nganggep halnya sica itu sepele, sedangkan si Baek malah ninggalin Sica, itukan sama aja ga peduli juga, dasar nih Baek.. haha
    Semoga Sica dapet pasangan yah disini thor (tapi Taeyeon tetep sama Baekhyun yah thor, hehe)
    Aku udh nunggu lama FF ini, akhirnya update juga. Ditunggu next chapter yah thorr~

  13. Trkadang kesel bgt sm sifatny baekhyun yg perhatian bgt sm smua cewek trtama sm sica, kn kasian taeng ny cemburu trs, sica ny jg pdhl udh suka sm baek dr dulu tp gk mau jujur, mlah dikasih ke taeng, kn nyakitin hati sndiri jess..
    So sweet sih moment baekyeon ny, tp ntah knp aku gk suka karakter baek, mlah aku sukany taeng sm kai..
    Lanjut thor..

  14. Kadang kasian banget yah jessicanya setidaknya kalo dia jujur mungkin dia sedikit merasa lega tapi di satu sisi mungkin baekhyun yg terbebani
    Taeng lucu banget sih apalagi pas dia grogi wkwkwkwk
    Semoga aja kakak ma ayahnya taeyeon lebih bersifat lunak/? sama pacarnya taeng
    Lanjut yah thor, semangat….

  15. Ngebayangi baekyeon kiss benera buat fly~~kekekeke
    g suka bc pass bagi baek sma sbt tersyg baekk ituu -_- dan sangat sangt tidak suka tpi gpp kok kn cuma cerita (ff) wkwkwk
    Fighting thor chap slanjutnya

  16. Kesel sama baekhyun yg terlalu perhatian sama jessica –” tapi akhirnya baekhyun bisa pacaran juga sama taeyeon ^^
    Jessica dicariin pasangan aja biar gk merusak hubungan baekyeon
    Next ditunggu! Fighting! 🙂

  17. Aku bingung thor , Baekhyun ngeselin Taeyeon kasian .Ahh padahal jangan dulu jadian panas2 in aja dulu biar gregetny nambah :v
    Oke next chap keep writing and Fighting!!!

  18. Daebak bnget thor!! ^^
    Smpat nangis malah saking dpat feelnya…
    Akhirnya mreka jadian juga:)
    Dtnggu bnget klanjutannya thor… Fighting!! ^^

  19. Feelnya dapet bangett 😥
    baekhyun terlalu perhatian sama jessica jadi sebel
    lah ini gimana, jiwoong oppa ngelarang taeyeon
    Ditunggu lanjutanyya

  20. bagus bgt deh thor. feel nya dapet banget.
    suka karakter taeng disini. tapi menurut aku biar greget tuh jangan di bikin jadian dulu .. kwkwkw kayak seumpama masih jauh jauhan eh taeng nya kecelakaan trus si baek nyesel gtu greget kayanye.. duh apa apaan gw ama bias sendiri. wkwkwkkwk
    btw udah maret blum update ya thor.. hmm

  21. Baekhyuunnn jgn terlalu perhatian kalik ama mbak Jess ntar mbak yeon Nya marah,ntar berantem mulu wkwkwk, update soon ya thoooor ,apa dah Gus komen gajelas bgt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s